Anda di halaman 1dari 31

NYERI LOKAL

Makalah
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
SWAMEDIKASI

Disusun Oleh

Abhiseka Putra Wilaga (1061711001)


Adella Febriana Mufliha (1061711002)
Ajeng Wida (1061711003)
Ajie Norman Desantas (1061711004)
Aldila Desma Ayuda (1061711005)
Alfin Ilaikha Windiati (1061711006)
Alvian Dumingan (1061711007)
Alvilia Kusuma Nias (1061711008)
Ammar Mukhlis (1061711009)
Anang Bagus Setiawan (1061711010)
Ananta Devi Hargiyanti (1061711011)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI YAYASAN PHARMASI
SEMARANG
2017
I. PENDAHULUAN

Nyeri/pain (dalam bahasa inggris) berasal dari kata peone (latin) atau poine (yunani)
yang berarti pinalti atau hukuman. Menurut Aristoteles nyeri merupakan suatu perasaan
nafsu dari jiwa dimana jantung merupakan sumber utama dari nyeri tersebut. Menurut
Descartes, Galen, dan Vesalius, nyeri adalah sensasi yang ditimbulkan oleh otak yang
memegang peran utama. Menurut Muller, Van Frey dan Gold scheider (abad 19) mengaitkan
nyeri dengan neuroreseptor, nociseptor dan input sensorik. Teori- teori tersebut akhirnya
berkembang dalam definisi nyeri yaitu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak
menyenangkan yang berhubungan dengan adanya kerusakan jaringan baik aktual maupun
potensial atau keadaan yang menggambarkan kerusakan tersebut. ( ISO Farmakoterapi, 2008
: hal 517 ). Pada dasarnya nyeri adalah suatu gejala yang berfungsi untuk melindungi dan
memberiksn tanda bahaya tentang adanya gangguan-gangguan pada tubuh seperti
peradangan, infeksi-infeksi kuman, dan kejang otot ( Dipiro,Sixth edition : hal 989).

Intensitas nyeri, gambaran seberapa parah nyeri yang dirasakan dan pengukuran
intensitas nyeri sangat subjektif dan individual. Nyeri dalam intensitas yang sama dapat
dirasakan sangat berbeda oleh dua orang berbeda. Tidak ada penanda objektif yang memadai
untuk mengukur sebuah rasa nyeri. Hanya pasien sendiri yang bisa mendeskripsikan
bagaimana intensitas nyeri yang dirasakannya.

Nyeri merupakan gejala paling umum yang membuat seseorang menemui jasa
pelayanan kesehatan. Berdasarkan penelitian Deyo et al. (2002), dalam kurun waktu 3 bulan,
kira-kira 1 dari 4 orang dewasa di Amerika Serikat mengalami nyeri punggung bawah yang
bertahan sekurang-kurangnya selama 1 hari. Nyeri punggung bawah merupakan perasaan
nyeri di daerah lumbosakral dan sakroiliakal. Mobilitas punggung bawah sangat tinggi, selain
itu punggung bawah memiliki fungsi untuk menyangga beban tubuh. Bagian punggung
bawah juga berdekatan dengan organ-organ yang bilamana mengalami perubahan patologik
akan menyebabkan nyeri punggung bawah.

II. PATOFISIOLOGI NYERI

Patofisiologi nyeri diawali dengan pengeluaran mediator-mediator nyeri inflamasi,


seperti bradikinin, prostaglandin, histamin, serotonin yang akan merangsang ujung-ujung
saraf bebas. Stimulus ini akan diubah menjadi impuls listrik yang dihantarkan melalui syaraf
menuju ke sistem syaraf pusat.
Berdasarkan lamanya nyeri, dibedakan menjadi 2 yaitu :
1. Nyeri Akut
Nyeri akut adalah nyeri dengan durasi sampai 7 hari yang biasanya terjadi secara tiba-
tiba. Penyebabnya mungkin diketahui atau tidak. Gejala-gejalanya dapat berlangsung
selama berjam-jam, berhari- hari, sampai 1 minggu dihubungkan dengan luka jaringan,
inflamasi, suatu prosedur yang berhubungan dengan pembedahan, proses kelahiran bayi,
atau suatu gangguan penyakit yang singkat dan bias juga diikuti dengan kecemasan atau
tekanan emosional (Ikawati, 2011).
2. Nyeri Kronis
Nyeri kronis adalah nyeri dengan durasi lebih lama bahkan bisa berbulan-bulan atau
bertahun-tahun dan sering dianggap sebagai penyakit itu sendiri. Nyeri ini bisa menjadi
memburuk jika ada faktor lingkungan dan psikologis yang mempengaruhi. Nyeri kronis
umumnya tidak mempan terhadap pengobatan dan hal ini bias menyebabkan gangguan
yang berat bagi pasien. Pada beberapa kasus dapat terjadi serangan nyeri akut pada
problem nyeri kronis. Contoh nyeri kronis antara lain nyeri rematik, nyeri tulang belakang,
nyeri diabetes neuropati, neuralgia post herpes, multiple sclerosis, dll (Ikawati, 2011).

KARAKTERISTIK NYERI AKUT NYERI KRONIK


Peredaan nyeri Sangat diinginkan Sangat diinginkan
Ketergantungan terhadap obat Tidak biasa Sering
Komponen Psikologis Umumnya tidak ada Sering merupakan masalah utama
Penyebab organic Sering Sering kali tidak ada
Kontribusi lingkungan dan
keluarga Kecil Signifikan
Insomnia Jarang Sering
Tujuan pengobatan Kesembuhan Fungsionalisasi
Depresi Jarang Sering

Berdasarkan asalnya, nyeri dibagi menjadi 2 yaitu :

1. Nyeri Nosiseptif

Nyeri nosiseptif adalah nyeri yang disebabkan oleh stimulasi langsung pada reseptor
nyeri (nosiseptor) baik secara mekanis atau melalui rangsang kimia atau panas. Nyeri
nosiseptif dapat dibedakan lagi menjadi 2 berdasarkan lokasinya, yaitu :
A. Nyeri Somatik

Nyeri somatik adalah nyeri yang disebabkan karena adanya kerusakan


jaringan yang menyebabkan pelepasan berbagai mediator nyeri dan inflamasi yang
kemudian memicu nyeri melalui aktivasi nosiseptor yang banyak dijumpai pada kulit,
otot, atau jaringan lunak. Umumnya nyeri digambarkan sebagai nyeri tajam,
menusuk, dan berdenyut-denyut yang relative mudah diketahui lokasinya (Ikawati,
2011).

B. Nyeri Visceral

Nyeri visceral disebabkan oleh stimulasi pada system saraf otonom dan sering
terjadi pada rongga dalam tubuh seperti jantung, paru-paru, saluran cerna, atau
saluran urugenital. Sering kali nyeri samar-samar, menyebar, dan sulit dipastikan
lokasinya. Penyebab nyeri somatik antara lain adalah nekrosis/iskemia, inflamasi,
peregangan ligament, kontraksi otot polos, peregangan kapsula organ, dll.
Contohnya kontraksi secara ritmik otot polos dapat menyebabkan rasa tidak
nyaman/kram perut. Karena melibatkan system saraf otonom maka tanda-tanda
nyeri visceral juga bisa meliputi mual/muntah, hipotensi, bradikardi, berkeringat
(Ikawati, 2011).

Penghantaran nyeri nosiseptif melibatkan proses stimulasi, transmisi, modulasi, dan


persepsi.

A. Stimulasi

Stimulasi dan transduksi sebagian besar jaringan dan organ dalam tubuh
diinervasi reseptor khusus nyeri yang disebut nosiseptor yang berhubungan dengan
saraf aferen primer dan berujung di medulla spinalis. Reseptor ini terdapat pada
struktur somatik maupun visceral. Proses transduksi dimulai ketika suatu stimulir
(kimiawi, mekanik, panas) datang dan diubah menjadi sinyal elektrik pada reseptor
di perifer. Berbagai mediator kimiawi sebagai hasil adanya kerusakan jaringan
seperti histamin, bradikanin, aerotonin, dan prostaglandin dapat mengaktifkan dan
meningkatkan sensitivitas reseptor tersebut.
B. Transmisi

Sinyal elektrik tersebut kemudian ditransmisikan sepanjang sel membran sel


saraf aferen primer. Caranya stimulus tadi akan menyebabkan terjadinya perubahan
permeabilitas pada membrane sel, membuka kanal Na+ yang ada disepanjang
akson, sehingga kemudian menyebabkan depolarisasi yang diperlukan dalam
transmisi impuls saraf. Impul saraf dihantarkan menuju korda spinal melalui 2 jenis
saraf aferen primer yaitu : serabut A tereliminasi (A fiber) dan serabut C
tereliminasi (C-fiber). A fiber bertanggung jawab terhadap penerusan sinyal
yang cepat yang berkaitan dengan stimulus termal dan mekanik. Serabut A ini
melepaskan asam amino eksitatorik yaitu glutamate, yang akan mengaktifkan
reseptor AMPA didorsal horn saraf. Transmisi sinyal melalui serabut ini
menghasilkan sensasi nyeri yang tajam atau menusuk yang merupakan alarm bagi
seseorang terhadap adanya cidera atau kerusakan jaringan. Nyeri dikenal sebagai
first pain. Sementara itu serabut C berespon terhadap stimulus mekanik panas,
mekanik, kimiawi dan menghantarkan sinyal nyeri ke korda spinal dengan
kecepatan yang lebih kecil dibandingkan serabut A. Serabut ini yang juga
berujung didorsal horn pada korda spinal, melepaskan asam amino eksitatorik
glutamat dan aspartat. Namun berbeda dengan serabut A, C juga melepaskan
senyawa peptida seperti substansi P, neurkinin A, somatotastin, galanin, dan
calsitonin, gene-related peptida (CGRP). Transmisi sinyal melalui serabut C ini
menghasilkan nyeri tumpul dan panas. Nyeri jenis ini disebut second pain karena
dirasakan setelah sensasi nyeri pertama. Sekali reseptor pada dorsal horn teraktifasi
maka signal elektrik akan diteruskan lagi menuju thalamus melalui saluran
spinotalamus. Dari thalamus signal dikirim ke cortex dan bagian lain di otak yang
bertugas memproses dan mengiterpretasi signal.

C. Modulasi

Tubuh akan memodulasi nyeri melalui sejumlah proses yang kompleks. Saraf
dari thalamus dan batang otak akan melepaskan berbagai neurotransmitter inhibitor
seperti norepinefrin, serotonin, GABA, glisin, endorphin, dan enkefalin yang akan
memblok substansi P dan neurotransmiter eksitatori pada serabut saraf aferen
primer.
D. Persepsi

Persepsi atau kesadaran akan rasa nyeri merupakan hasil akhir dari rangkaian
penghantaran impuls diatas. Persepsi nyeri tidak hanya meliputi proses nosiseptif
tetapi merupakan respon fisiologis dan emosi yang akan dirasakan seseorang
individu. Persepsi ini juga dipengaruhi oleh pengalaman atau kondisi individu
seseorang sehingga bersifat subyektif. ( Ikawati, 2011).

Secara singkatnya nyeri nosiseptik terjadi karena perangsangan pada ujung saraf bebas
yang dikenal dengan istilah nosiseptor merupakan tahap pertama yang mengawali
timbulnya rasa nyeri. Reseptor ini dapat ditemukan baik di struktur visceral ataupun
somatik serta teraktivasi oleh rangsangan mekanis, termal (panas), dan kimiawi.
Pelepasan bradikinin, K+ ,prostaglandin, histamine, leukotrin, serotonin, dan substance
P dapat menimbulkan kepekaan dan aktivasi nosiseptor. Aktivasi reseptor menimbulkan
potensi aksi yang dihantarkan sepanjang serabut saraf aferen ke spinal cord (sumsum
tulang belakang). Potensial akut berlanjut dari tempat rangsangan ke dorsal horn (ujung
seperti tanduk) dari spinal cord (sumsung tulang belakang) dan kemudian secara asenden
kearah pusat yang lebih tinggi. Thalamus bereaksi sebagai pemancar dan meneruskan
rangsangan ke struktur pusat yang akan memproses rasa nyeri lebih lanjut (Sukandar
dkk, 2008).

2. Nyeri Neuropatik

Nyeri neuropatik mengimplikasikan adanya cedera pada struktur saraf yang


menyebabkan fungsi yang menyimpang pada system saraf, baik pusat maupun perifer.
Contoh penyimpangan tersebut adalah sensitisasi saraf yang berkaitan dengan kerusakan
pusat fungsi penghambatan system saraf dan interaksi abnormal antara system saraf
somatik dan simpatik. Nyeri digambarkan seperti rasa panas/terbakar,geli, mati rasa,
menusuk, atau pedih seperti tersengat listrik. Kadang rasa nyeri dirasakan jauh dari
tempat cedera. Pada pemeriksaan biasanya pasien menunjukan alodina (meningkatkan
kepekaan nyeri), hypoalgesia atau hyperalgesia atau hyperpatia (respon nyeri yang
berlebihan) yang disebabkan oleh sensitisasi serabut C, terjadinya segera dalam wilayah
cedera. Sifat nyerinya biasanya lebih persiten/menetap dan sulit diobati dan cenderung
hanya responsif sebagian saja terhadap terapi obat. Contoh nyeri neuropati adalah nyeri
diabetes neuropati, AIDS, multiple sclerosis, nyeri radiasi dan kemoterapi (Ikawati,
2011).
Nyeri neuropatik terjadi akibat pemprosesan input sensorik yang abnormal oleh
system saraf pusat atau perifer. Terdapat sejumlah besar sindroma nyeri neuropatik yang
sering kali sulit diatasi (misal: nyeri punggung bawah, neuropatik diabetic, postherpic
neuralgia, nyeri akibat kanker, luka pada spinal cord (sumsung tulang belakang).
Kerusakan saraf atau rangsangan terus-menerus dapat menyebabkan sirkuit/lintasan
nyeri untuk menimbulkan rangsangan saraf secara spontan, rangsangan nyeri saraf
otonom dan meningkatkan pelepasan bahan-bahan dari saraf dorsal horn yang progesif
(Sukandar dkk, 2008).

Tubuh mengatur rasa nyeri melalui beberapa proses. System opiat endogen terdiri dari
neurotransmiter (misal: enkepalin, dinorfin, dan -endorfin) dan reseptor (missal: , , )
yang ditemukan diseluruh system saraf pusat. Opioid endogen terikat pada reseptor opioid
dan menghambat penghantaran rangsangan nyeri. Susunan saraf pusat juga mengandung
suatu system desending untuk mengontrol penghantaran rasa nyeri. System ini berawal di
otak dan dapat menghambat penghantaran nyeri simpatik pada dorsal horn.
Neurotransmiter penting meliputi opioid endogen serotonin, norepinefrin, GABA (-
amino butirat) dan neutrotensin (Sukandar dkk, 2008).

Tanda dan gejala nyeri (Dipiro dkk., 2009)


1. Gejala
Nyeri akut dapat digambarkan seperti rasa tajam atau tumpul, terbakar, terkejut,
kesemutan, rasa seperti tertembak, radiasi, intensitas yang berfluktuasi, bervariasi
dalam lokasi, dan terjadi berhubungan dengan ketepatan waktu dengan stimulus
berbahaya yang jelas. Nyeri kronis memiliki gejala yang sama, dan sering terjadi
tanpa hubungan tepat waktu dengan stimulus berbahaya. Seiring waktu, presentasi
nyeri kronis dapat berubah (rasa tajam sampai tumpul, yang jelas hingga samar-
samar).
2. Tanda
Nyeri akut dapat menyebabkan takikardia, diaforesis, midriasis, dan pucat, tapi
tanda-tanda ini tidak diagnostik. Tanda-tanda ini jarang hadir dalam rasa sakit
kronis.
Pada nyeri akut, kondisi komorbiditas biasanya tidak terlihat, dan hasil pengobatan
umumnya dapat diprediksi. Pada nyeri kronis, kondisi komorbiditas sering hadir,
dan hasil pengobatan sering tak terduga.
Nyeri selalu subjektif; sehingga nyeri terbaik didiagnosis berdasarkan keterangan
pasien, sejarah, dan pemeriksaan fisik. Penjelasan dasar nyeri dapat diperoleh
dengan menilai karakteristik (faktor paliatif dan provokatif, kualitas, radiasi,
tingkat keparahan, dan faktor temporal). Perhatian harus diberikan untuk faktor
mental yang dapat menurunkan ambang nyeri (kecemasan, depresi, kelelahan,
marah, takut), faktor perilaku, kognitif, sosial, dan budaya juga dapat
mempengaruhi pengalaman nyeri.
Nyeri neuropatik sering kronis, dan tidak mudah diobati dengan analgesik
konvensional. Dapat terjadi respon menyakitkan untuk rangsangan biasanya
berbahaya (hiperalgesia) atau tanggapan menyakitkan untuk rangsangan biasanya
non berbahaya (allodynia).
Respon perilaku terhadap nyeri dapat mencakup:
1. Pernyataan verbal (Mengaduh, Menangis, Sesak nafas, Mendengkur)
2. Ekspresi wajah (Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir)
3. Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot, peningkatan gerakan jari & tangan
4. Kontak dengan orang lain/interaksi sosial (Menghindari percakapan, Menghindari kontak
sosial.
5. Penurunan rentang perhatian, fokus pada aktivitas menghilangkan nyeri.

MEKANISME NYERI

Kornu dorsalis
Transmisi melalui
Transduksi stimuli medula spinalis,
serabut syaraf
korteks serebri

Persepsi,
diskriminasi nyeri
setelah mengalami Rangsangan Nyeri
modulasi sepanjang
CNS dan PNS
Perangsangan pada ujung saraf bebas yang dikenal dengan istilah nosiseptor
merupakan tahap pertama yang mengawali timbulnya rasa nyeri. Reseptor ini dapat
ditemukan baik di struktur viseral ataupun somatik serta teraktivasi oleh rangsangan
mekanis, termal (panas), dan kimiawi. Adanya noksius akan menimbulkan kerusakan
jaringan atau gangguan metabolisme, yang akan memacu pelepasan mediator nyeri
dimana mediator nyeri tersebut akan menimbulkan aktivasi nosiseptor. Aktivasi reseptor
menimbulkan potensial aksi yang dihantarkan sepanjang serabut saraf aferen ke spinal
cord (sumsung tulang belakang). Potensial akut berlanjut dari tempat rangsangan ke
dorsal horn (ujung seperti tanduk) dari spinal corn (sumsum tulang belakang) dan
kemudian secara asenden ke arah pusat yang lebih tinggi. Thalamus bereaksi sebagai
stasiun pemancar dan meneruskan rangsangan ke struktur pusat yang akan memproses
rasa nyeri lebih lanjut.
Adapun mediator-mediator nyeri yang dilepaskan adalah :
1. Pembebasan H+ (Ph <6), K+(>20 mmol/L), asetilkolin, serotonin, histamine.
2. Pembentukan kinin dan bradikinin (bradikinin adalah polipeptida yang dibentuk dari
protein plasma)
3. Prostaglandin (mirip strukturnya dengan asam lemah dan dibentuk dari asam
arachidonat) yang selanjutnya akan mensensitisasi reseptor nyeri lama.

Mekanisme pemberantasan rasa nyeri :

1. Merintangi pembentukan rangsangan dalam reseptor nyeri perifer, oleh


analgetika perifer atau anestetika lokal.

2. Merintangi penyaluran rangsangan nyeri dalam saraf-saraf sensorik oleh


anestetika lokal.

Faktor-faktor yang mempengaruhi respon nyeri :


1. Usia
Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji respon
nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis
dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang
dialami, karena mereka menganggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan
mereka takut kalau merupakan penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksa.
2. Kultur
Orang belajar dari budayanya bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap nyeri,
misalnya seperti suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang
harus diterima karena mereka melakukan kesalahan jadi mereka tidak mengeluh jika
ada nyeri.
3. Jenis Kelamin
Laki-laki dan wanita tidak berbeda signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih
dipengaruhi faktor budaya (misalnya: tidak panas kalau laki-laki mengeluh nyeri,
wanita boleh mengeluh nyeri).
4. Makna Nyeri
Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap nyeri dan
bagaimana mengatasinya.
5. Perhatian
Tingkat seseorang klien memfokuskan perhatianya pada nyeri dapat mempengaruhi
persepsi nyeri. Perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat,
sedangkan upaya distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun.
6. Ansietas
Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa menyebabkan seseorang
cemas.
7. Pengalaman Masa Lalu
Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau dan saat ini nyeri
yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasinya. Mudah tidaknya
seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman dimasa lalu dalam mengatasi nyeri.
8. Support Keluarga dan Sosial
Individu yang mengalami nyeri sering kali bergantung kepada anggota keluarga atau
teman dekat untuk memperoleh perhatian dan perlindungan.

III. TATALAKSANA TERAPI

1. Tujuan terapi
a. Mengurangi intensitas dan durasi keluhan nyeri
b. Menurunkan kemungkinan berubahnya nyeri akut menjadi gejala nyeri kronis
yang persisten
c. Mengurangi penderitaan dan ketidakmampuan akibat nyeri
d. Meminimalkan reaksi tak diinginkan atau intoleransi terhadap terapi nyeri
e. Meningkatkan kualitas hidup pasien dan mengoptimalkan kemampuan pasien
untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
2. Pendekatan umum
Orang berusia lanjut dan belia (anak-anak) mempunyai resiko terbesar untuk
mengalami undertreatment (pengobatan tidak memadai) oleh karena salah memahami
patofisiologi rasa sakit yang mereka derita.
3. Sasaran terapi
Sasarannya adalah rasa nyeri
4. Pengukuran skala nyeri
Sebelum dilakukan penatalaksanaan terapi nyeri, perlu dilakukan penilaian terhadap
keparahan nyerinya. Nyeri sebaiknya dinilai, baik dalam keadaan istirahat maupun
beraktivitas. Penilaian tentang nyeri juga harus meliputi informasi tentang lokasi,
kualitas atau karakteristik nyeri (seperti :apakah nyerinya tajam, tumpul,
berdenyut,dll), intensitas, onset, durasi, frekuensi nyeri, dan tidak kalah pentingnya
adalah faktor-faktor yang memicu dan menghilangkan nyeri. Untuk nyeri pada anak-
anak dapat dilakukan penilaian dengan beberapa cara pengukuran nyeri dapat
dlakukan denan beberapa cara :
a. Skala nyeri menurut bourbanis Numerik rating scale (skala intensitas nyeri
numeric)

Keterangan :
0 : tidak nyeri
1-3 : nyeri ringan (secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik).
4-6 : nyeri sedang (secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan
lokasi nyeri, dapat mendeskripsikan, dapat mengikuti perintah dengan baik).
7-9 : nyeri berat ( secara obyektif klien kadang tidak apat mengikuti perintah tapi
masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukan lokasi nyeri, tidak dapat
mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan
distraksi).
10 : nyeri sangat bert (pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul)

b. Numeric rating scale ( skala intensitas nyeri numeric)

Skala penilaian numeric (numerival rating scales, NRS) lebih digunakan sebagai
pengganti alat pendiskripsi kata. Dalam al ini, klien menilai nyeri dengan
menggunakan skala 0-10. Skala paling efektif digunakan saat mengkaji
intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik. Apabila digunakan
skala untuk menilai nyeri, maka direkomendasikan patokan 10cm.
c. Face pain rating scale

Face pain rating scale yaitu dari 6 wajah kartun mulai dari wajah yang t
ersenyum untuk tidak ada nyeri hingga wajah yang menangis untuk nyeri
berat
d. Visual analog scale

Skala analog visual (visual analog scale, VAS) adalah suatu garis lurus yan
mewakili intensitas nyeri yang terus-menerus dan pendiskripsian verbal pada
setiap ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan penuh untuk
mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran keparahan
nyeri yang lebih sensitive karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik pada
rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata ( Ikawati,2011 : hal 33-34 ).
5. Strategi Terapi
a) Terapi Non Farmakologi

Beberapa terapi non farmakologi yang dapat dilakukan meliputi :


Stimulasi saraf transkutan listrik (TENS)
Digunakan dalam mengatasi nyeri akut dan kronis (misalnya : bedah,
trauma, rendah kembali, arthritis,neuropati, fibromyalgia, dan oral vacial).
Dengan menggunakan TENS, transkutan (melalui kulit) stimulasi saraf
listrik, fungsi saraf penting dapat diaktifkan secara efektif. Frekuensi
gelombang merangsang tubuh untuk dapat menyembuhkan rasa sakit.
Dengan cara ini, pemicu penyembuhan rasa sakit dapat dilakukan dengan
tepat dan juga meningkatkan aliran darah dalam tubuh.
Teknik relaksasi
Relaksasi otot skeletal dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan
merilekskan ketegangan otot yang menunjang nyeri. Hampir semua orang
dengan nyeri kronis mendapatkan manfaat dari metode relaksasi. Periode
relaksasi yang teratur dapat membantu untuk melawan keletihan dan
ketegangan otot yang terjadi dengan nyeri kronis dan yang meningkatkan
nyeri.
Stimulasi dan masase kutaneus.
Masase adalah stimulasi kutaneus tubuh secara umum, sering
dipusatkan pada punggung dan bahu. Masase tidak secara spesifik
menstimulasi reseptor tidak nyeri pada bagian yang sama seperti reseptor
nyeri tetapi dapat mempunyai dampak melalui sistem kontrol desenden.
Masase dapat membuat pasien lebih nyaman karena menyebabkan
relaksasi otot.
Terapi es dan panas
Terapi es dapat menurunkan prostaglandin, yang memperkuat
sensitivitas reseptor nyeri dan subkutan lain pada tempat cedera dengan
menghambat proses inflamasi. Penggunaan panas mempunyai keuntungan
meningkatkan aliran darah ke suatu area dan kemungkinan dapat turut
menurunkan nyeri dengan mempercepat penyembuhan. Baik terapi es
maupun terapi panas harus digunakan dengan hati-hati dan dipantau
dengan cermat untuk menghindari cedera kulit
b) Terapi Farmakologi
Ada Beberapa golongan obat yang dapat digunakan untuk Terapi Farmakologi
dari Nyeri, diantaranya:
A. Obat Nonopioid
Obat Nonopioid merupakan analgesik yang paling efektif dengan efek
samping yang paling rendah. Obat-obatan dalam kelompok ini memiliki target
aksi pada enzim, yaitu enzin siklooksigenase (COX), COX berperan dalam
sintesis mediator nyeri, salah satunya adalah prostaglandin. Mekanisme umum
dari analgesic jenis ini adalah mengeblok pembentukan prostaglandin dengan
jalan menginhibisi enzim COX (kecuali paracetamol) pada daerah yang terluka
dengan demikian mengurangi pembentukan mediator nyeri. Mekanismenya
tidak berbeda dengan NSAID dan COX-2 inhibitor.
Obat-obat nonopioid :
1. Asam asetilsalisilat (Asetosal, Aspirin, Cafenol, Naspro)
Obat ini mempunyai kemampuan menghambat biosintesis
prostaglandin. Kerjanya menghambat enzim sikloogsigenase secara
irreversible, pada dosis yang tepat obat ini akan menurunkan
pembentukan prostaglandin maupun tromboksan A2.
Efek samping : iritasi mukosa lambung dengan resiko tukak lambung
dan pendarahan samar. Penyebabnya adalah sifat asam dari asetosal yang
dapat dikurangi melalui kombinasi dengan suatu antasidum (MgO,
Alumunium hidroksida, CaCO3) atau digunakan garam kalsiumnya
(carbasalat). Asetosal juga dapat menimbulkan efek spesifik seperti reaksi
alergi kulit dan tinnitus pada dosis lebih tinggi, kejang-kejang bronchi
hebat.
Kontra indikasi : jangan digunakan pada anak-anak dibawah 12 tahun
karena dapat menyebabkan ReyeSyndromedan pada wanita hamil pada
triwulan ketiga dan sebelum persalinan karena dapat menyebabkan
memperpanjang waktu kelahiran dan meningkatkan resiko pendarahan.
Interaksi : asetosal memperkuat daya kerja anti koagulan, anti diabetic
oral, dan metroteksat. Dapat menurunkan efek dari obat encok probenesid
dan sulfinpirazon, diuretika furosemide serta spironolakton. Kerjanya
diperkuat oleh kodein dan d-propoksifen. Hindari penggunaan bersama
alcohol karena dapat meningkatkan pendarahan ( Tjay Hoan,2006 : hal
316 ).
2. Paracetamol (Acetaminophen)
Obat ini menghambat prostaglandin yang lemah pada jaringan perifer
dan tidak memiliki efek anti inflamasi yang bermakna. Obat ini berguna
untuk nyeri ringan sampai sedang seperti nyeri kepala, myalgia, nyeri
pasca persalinan dan keadaan lain. Peningkatan ringan enzim hati. Pada
dosis besar dapat menimbulkan pusing, mudah terangsang, dan
disorientasi.
Efek samping : yang paling umum adalah gangguan lambung-usus,
kerusakan darah, kerusakan hati dan ginjal dan juga reaksi alergi kulit.
Efek samping ini terutama terjadi pada gangguan lama atau dalam dosis
tinggi. Oleh karena itu penggunaan analgetika secara kontinyu tidak
dianjurkan. Wanita hamil dapat menggunakan paracetamol dengan aman,
juga selama laktasi walaupun mencapai air susu ibu ( Tjay Hoan, 2006:
hal 318).
Interaksi : kebanyakan analgetika memperkuat efek antikoagulasinya,
kecuali paracetamol dan glafenin. Kedua obat ini pada dosis biasa dapat
dikombinasi dengan aman untuk waktu maksimal 2 minggu. Pada dosis
tinggi dapat memperkuat efek antikoagulasinya (Tjay Hoan, 2006: hal
314).
3. Asam mefenamat
Meskipun mempunyai efek analgetika, antiinflamasi, dan antipiretika,
namun daya antiinflamasinya tidak sekuat aspirin. Asam mefenamat
bersifat asam sehingga dapat menyebabkan gangguan lambung. Sebaiknya
jangan diminum pada saat perut kosong atau pada pasien dengan riwayat
gangguan saluran cerna atau lambung.
Efek samping : diare, trombositopenia, anemia hemolitik dan ruam
kulit. Tidak direkomendasikan untuk penggunaan pada anak-anak dan
wanita hamil, sebaiknya tidak digunakan dalam jangka waktu lebih dari
seminggu dan pada pemakaian lama perlu dilakukan pemeriksaan darah.
Kontraindikasi : yang paling umum adalah gangguan lambung-usus,
kerusakan darah, kerusakan hati dan ginal dan uga reaksi alergi kulit. Efek
samping ini terutama terjadi pada penggunaan lama atau dalam dosis
tinggi. Oleh karena itu penggunaan analgetika secara kontinyu tidak
dianurkan.
Interaksi :kebanyakan analgetika memperkuat efek antikoagulasinya,
kecuali paracetamol dan glafenin. Kedua obat ini pada dosis biasa dapat
dikombinasi dengan aman untuk waktu maksimal 2 minggu. Pada dosis
tinggi dapat memperkuat efek antikoagulansia ( Iso Farmakoterapi hal
520).
4. Antalgin ( metampiron, metamizol, dipiron )
Antalgin merupakan obat lama namun masih cukup banyak dipakai di
Indonesia. Obat ini memiliki efek analgetika, antipiretika, dan
antiinflamasi yang kuat.
Efek samping yang cukup berbahaya yaitu leukopenia dan
agranulositosis yang dapat berakibat kematian (5%) sehingga di Amerika,
Inggris, dan Swedia sudah ditarik dari peredaran. Penelitian perlu
dilakukan untuk mengkaji apakah efek samping tersebut memang tidak
dijumpai pada ras bangsa Asia, termasuk Indonesia.
5. Obat-obat NSAID lain (Na. Diklofenak, Ibuprofen, Piroksikam,
Tenoksikam, Meloksikam, Indometasin )
Memiliki efikasi yang relatif sepadan, tetapi memiliki efek samping
bervariasi, utamanya terhadap saluran gastrointestinal. Karena itu obat-
obat ini tidak boleh digunakan oleh mereka yang sudah memiliki riwayat
gangguan intestinal. Di bawah ini adalah perbandingan resiko relatif
beberapa NSAID dalam efeknya terhadap lambung. Semakin besar
angkanya menunjukkan semakin besar resikonya terhadap lambung. Tabel
perbandingan resiko relatif beberapa NSAID dalam menyebabkan
gangguan lambung.
Macam-macam obat NSAID Resiko relatif gangguan G.i
Indometasin 2,25
Naproksen 1,83
Diklofenak 1,73
Piroksikam 1,66
Meloksikam 1,43
Tenoksikam 1,24
Ibuprofen 1,19

6. Golongan inhibitor COX-2


Obat golongan inhibitor COX- merupakan alternatif dari obat golongan
NSAID yang dirancang untuk lebih aman terhadap lambung, karena
bersifat menghambat secara lebih spesifik terhadap COX-2, yang
merupakan enzim indusibel yang terekspresi tinggi pada kejadian
inflamasi. Obat ini memiliki aktifitas antiinflamasi dan analgetik yang
cukup baik. Namun perlu dipakai dengan hati-hati pada pasien yang
memiliki riwayat penyakit kardiovaskuler karena meningkatkan resiko
penjedalan darah akibat kurang terhambatnya pembentukan tromboksan,
sehingga dapat memicu serangan stroke iskemia atau iskemia antung.
Contoh obatnya : celecoxib dan refecoxib. Namun refecoxib sudah ditarik
dari peredaran (Ikawati.2011 : hal 45)
Mekanisme kerja obat nonopioid disajikan pada bagan berikut :

Stimulus

Kerusakan Membran Sel

Fosfolipid
Kortikosteroid Fosfolipase A

Asam Arakidonat
Inhibitor
NSAID
Lipoxygenase

Lipoxygenase Cyclooxygenase

Leukotrien Prostaglandin

Tromboksan

Prostasiklin

Daftar Obat Analgesik Nonopioid yang Mendapat Ijin FDA untuk Orang Dewasa
Golongan dan nama Rentang dosis lazim (mg) Dosis maks (mg/hr)
generik
Salisilat
Asam asetil salisilat (aspirin) 325-650 tiap 54 jam 4000
Kolin 870 tiap 3-4 jam 5220
Magnesium 650 tiap 4 jam atau 1090 tiga 4800 dalam dosis tertinggi
X sehari
Natrium 325-650 tiap 4 jam 5400

Diflunisal 500-1000 pada awal 1500


250-500 tiap 8-12 jam
Para-Amino fenol
Paracetamol 325-1000 tiap 4-6 jam 4000
Fenamat
Meklofenamat 50-100 tiap 4-6 jam 400
Asam mefenamat Awal 500 1000
250 tiap 6 jam (maks 7 hari)
Asam pianokarboksilat
Etodolak 200-400 tiap 6-8 jam 1000
Hanya untuk pelepasan
segera
Asam asetat
Kalium diklofenak Pada beberapa pasien, awal 150
100,50 tiga X sehari
Asam propionat
Ibuprofen 200-400 tiap 4-6 jam 3200
1200
Fenoprofen 200-400 tiap 4-6 jam 3200
Ketoprofen 25-50 tiap 6-8 jam 300
12,5-25 tiap 4-6 jam 75
Naproksen 500 saat awal 1000
500 tiap 12 jam atau 250 tiap
6-8 jam
Natrium naproksen Pada beberapa pasien 440 660
saat awal 220 tiap 8-12 jam
Naproksen, delayed release 500 tiap 12 jam 1000
Naproksen, controled release 500-1000 tiap 24 jam 1500
Asam pirozolin karboksilat
Ketorolak (parenteral) 30-60 (dosis i.m tunggal saja) 30-60
15-330 tiap 6 jam (max 5 120
hari)
Ketorolak (oral) Pada beberapa pasien, dosis 40
(indikasi hanya untuk awal 20
lanjutan/setelah parenteral 10 tiap 4-6 jam (max 5 hari,
saja) termasuk dosis parenteral)
Penghambat siklooksigenase-2
Selekoksib Awal 400 diikuti dengan 200 400
pada hari yang sama, lalu
200 dua X sehari
Valdekoksib 20 dua X sehari 40
B. Obat Opioid
Analgetik opioid diberikan pada nyeri sedang sampai berat, sesuai dengan
intensitas nyeri dan kekuatan analgetika obatnya. Mulai kerja analgetik oral sekitar
45 menit dan efek puncak terlihat antara 1-2 jam. Pemberian golongan opiat
langsung ke dalam sistem syaraf pusat (melalui rute epidural dan intratekal)
memerlukan pemantauan cermat karena dilaporkan terjadi sedasi hebat, depresi
pernafasan, pruritis (gatal), mual, muntah, retensi urin, dan hipotensi. Sifat dari
analgesik opioid yaitu menimbulkan adiksi, habituasi dan ketergantungan fisik.
Oleh karena itu, diperlukan usaha untuk mendapatkan analgesik ideal :
1. Potensi analgesik yang sama kuat dengan morfin.
2. Tanpa bahaya adiksi.
Obat golongan opioid :
1. Morfin
Pada sistem syaraf pusat, morfin memunculkan perasaan mengantuk, sedatif
sehingga tidak merasakan nyeri. Dosis awal mengakibatkan mual yang
diakibatkan leh stimulasi langsung kepada kemoreseptor di medula oblongata
dan mengakibatkan sensitivitas vestibular. Morfin dapat diberikan secara oral,
parenteral, dan rektal. Kombinasi analgesik opiat dengan alkohol atau depresan
sistem syaraf pusat yang lain akan menguatkan depresi nafas dan berpotensi
bahaya yang dapat mengakibatkan kematian. Morfin dapat menyebabkan
dilatasi vena dan arterior, sehingga dapat menyebabkan hipotensi ortostatik.
2. Meperidin dan struktur sejenisnya (fenilpiperidin)
Meperidin merupakan turunan morfin yang kurang poten dibandingkan
morfin. Morfin kurang poten sebagai spasmodik dan tidak dapat menekan batuk.
Lama kerja meperidin lebih singkat dibandingkan dengan morfin. Pada dosis
tinggi atau pada gagal ginal metaboliknya normeperidin menumpuk,
menyebabkan tremor, hentakan otot, dan keang. Meperidin tidak boleh
dikombinasikan penghambat MAO karena kemungkinan menyebabkan depresi
atau eksitasi nafas berat, delirium hiper pirexia (tidak sadar akibat panas tinggi)
dan konvulsi.
Fentanil adalah opiot sintetik mirip meperidin. Sering kali digunakan
sebagai tambahan bagi anestesi umum, fentanil lebih poten dengan lama kera
analgetik lebih singkat dibandingkan meperidin. Fentanil transdermal dapat
digunakan untuk pengobatan nyeri kronis yang memerlukan analgetik opiat.
3. Metadon dan struktur sejenisnya
Metadon lebih efektif digunakan peroral, lama kerja panjang dan
kemampuan untuk menekan gejala putus obat pada ketagihan heroin. Pada
dosis berulang lama kerja metadon sebagai analgetik diperpanjang, tetapi
mungkin juga timbul sedasi berlebihan. Walaupun efektif untuk nyeri akut,
namun umumnya digunakan untuk terapi nyeri kronis.
Dosis berulang lama kerja metadon sebagai analgetik diperpanjang,
tetapi mungkin juga timbul sedasi berlebihan. Walaupun efektif untuk nyeri
akut, namun umumnya digunakan untuk terapi nyeri kronis.
4. Antagonis Opiat
Naloxon merupakan antagonis opiat murni yang terikat secara
kompetitif pada reseptor opiat, tetapi tidak menghasilkan respon analgesik.
Antagonis opiat digunakan untuk mengatasi efek toksik dari opiat agonis-
antagonis.
5. Analgesik Sentral
Tramadol, analgetik yang bekerja secara sentral untuk nyeri sedang
sampai agak berat, bekerja ke reseptor N opiat dan secara lemah menghambat
reuptake norepinerfin dan serotonin. Walaupun kurang menyebabkan depresi
pernafasan dibandingkan morfin pada dosis terapi tramadolmempunyai profil
efek sampingserupa dengan analgetik opiat yang lain. Mungkin juga
meningkatkan resiko kejang. Dapat berguna untuk mengobati nyeri kronis
terutama yang bersifat neuropatik, tetapi hanya sedikit bermanfaat
dibandingkan analgetik opiat lain untuk nyeri akut.
Efek samping umum obat golongan opioid

Efek Manifestasi
Perubahan mood Disforia, euforia
Kesadaran Lemah, mengantuk, apatis, tidak
bisa konsentrasi
Stimulasi chemoreseptor tringer Mual, muntah
zone (CTZ)
Depresi pernafasan Kecepatan respirasi turun
Menurunkan motilitas GI Konstipasi
Meningkatkan tonus spinkter Kontraksi saluran empedu, retensi
urin
Pelepasan histamin Asma urikaria, pruritus
Toleransi Perlu dosis lebih besar untuk
mencapaiefek yang sama
Dependency (ketergantungan) Terjadi gejala putus obat jika
dihentikan secara tiba-tiba

Pedoman penentuan dosis


Nama Obat Dosis Keterangan
(dinaikkan atau diturunkan sesuai
respon pasien)
AINS / Dosis sampai maksimum Gunakan pada nyeri ringan sampai
Parasetamol / sebelum diganti dengan obat lain sedang.
Aspirin Dapat digunakan bersama obat opiod
untuk mengurangi dosis masing-masing.
Konsumsi alcohol secara teratur dan
parasetamol dosis tinggi dapat
menyebabkan toksisitas pada liver.
Hindari kemungkinan overdosis jika
obat tersebut digunakan bersama.
Morfin po 5-30 mg tiap 3-4 jam Obat Pilihan pada nyeri hebat
im 5-10 mg tiap 3-4 jam
iv 1-2,5 mg tiap 5 menit jika Kombinasikan produk sustained release
perlu dengan lepas berkala untuk mengontrol
nyeri berat pada pasien kanker
Tersedia produk yang dapat tiap 12 jam
Sustained Release 15-30 mg diberikan tiap 24 jam (mungkin bisa tiap
rectal 10-20 mg tiap 4 jam 8 jam pada pasien tertentu)
Hidromorfon po 2-4 tiap 3-6 jam Gunakan pada nyeri hebat
im 1-4 tiap 3-6 jam Lebih poten daripada morfin : selain hal
itu tidak ada keuntungan lain
iv 0,1-0,5 mg tiap 5 menit jika Kombinasikan dengan immediate-
perlu release dengan lepas berkala untuk
mengontrol nyeri berat pada pasien
rectal 3 mg tiap 6-8 jam kanker
Gunakan hanya bentuk sediaan
Sustained-release pada pasien yang
menunjukan toleransi terhadap opioid
tersedia kapsul lepas berkala 12 mg, 16
mg, 24 mg dan 32 mg dan harus
diberikan tiap 24 jam
Oksimorfin im 1-1,5 tiap 4-6 jam Gunakan pada nyeri hebat
iv 0,5 pada awal Tidak ada kelebihan dibandingkan
rectal 3 mg tiap 6-8 jam morfin
Levorfanol po 2-3 mg tiap 6-8 jam Gunakan pada nyeri hebat
im 1-2 mg tiap 6-8 jam Waktu paruh yang diperpanjang dapat
berguna untuk pasien kanker pada nyeri
kronis, tunggu 3 hari sebelum
menyesuaikan dosis
Kodein po 15-30 mg tiap 3-6 jam Gunakan pada nyeri sedang
im 15-30 mg tiap 3-6 jam Analgesik lemah, gunakan dengan
iv 15-30 mg tiap 3-6 jam (maks AINS, atau parasetamol atau aspirin
360mg per hari)
hidrokodon (po) po 5-10 mg tiap 3-6 jam Gunakan pada nyeri berat/sedang.
Paling efektif jika digunakan bersama
dengan AINS atau parasetamol atau
aspirin
Oksikodon po 5-10 mg tiap 3-6 jam Gunakan pada nyeri sedang/berat
(po) Controlled release, 10-20 mg Paling efektif jika digunakan bersama
tiap 12 jam dengan AINS atau parasetamol ataun
aspirin
Kombinasikan produk immediate-
release dengan sustained-release untuk
mengontrol nyeri berat pada pasien
kanker
Meperidin Im 50-150 mg tiap 3-4 jam Gunakan pada nyeri hebat
Iv 5 10 mg tiap 5 menit jika Oral tidak dianjurkan
perlu Jangan digunakan pada gagal ginjal
Dapat menimbulkan tremor, mioklonus
atau seizure (kejang)
Penghambatan MAO dapat
menyebabkan dan/seizure (kejang) atau
gejala overdosis opioid
Fentanil iv 25-50 mcg/jam Gunakan pada nyeri hebat
im 0,05-0,1 mcg tiap 1-2 jam Jangan digunakan secafra transdermal
pada nyeri akut
transdermal 25 mcg/jam tiap 72 Transmukosal untuk kanker
jam
transmukosal 200 mcg dapat
diulang satu kali, 30 menit
setelah dosis pertama lalu
dititrasi/disesuaikan secara
bertahap
Metadon po 2,5-10 mg tiap 3-4 jam (akut) Efektif pada nyeri kronis yang berat
im 2,5-10 mg tiap 3-4 jam (akut) Sedasi dapat menjadi masalah utama
po 5-20 mg tiap 6-8 jam (kronis) Pada beberapa pasien kronis dapat
diberikan tiap 12 jam
Kesetaraan dosis analgesic metadon
akan menurun secara progresif seiring
semakin tingginya dosis opioid yang
digunakan sebelumnya, jika
dibandingkan dengan opioid yang lain
Propoksifen po 100 mg tiap 4 jam (napsilat) Gunakan pada nyeri sedang
po 65 mg tiap 4 jam (HCL) Analgesic lemah, paling efektif jika
(maks tiap hari 600 mg napsilat, digunakan dengan AINS atau
390mg HCL) parasetamol atau aspirin dapat
menyebabkan kadar karbamazepin
meningkat 100 mg garam Napsilat = 65
mg garam HCL
Pentazosin po 50-100 mg tiap 3-4 jam Obat pilihan ketiga untuk nyeri sedang
(maks 600g/hari) sampai berat
Dapat menimbulkan gejala putus obat
pada pasien ketergantungan. Dosis
parenteral tidak dianjurkan
Butorfanol im 1-4mg tiap 3-4 jam Obat pilihan kedua untuk nyeri sedang
iv 0,5-2 mg tiap 3-4 jam sampai berat
intranasal 1 mg (1 spray) tiap 3- 4 Dapat menimbulkan gejala putus obat
jam jika adekuat, dapat diulang pada pasien ketergantungan
pada lubang hidung yang lain
satu kali dalam 30-60 menit maks
2 semprotan (1 semprotan tiap
lubang hidung) tiap 3-4 jam
Nalbufin im/iv 10 mg tiap 3-6 jam Obat pilihan kedua untuk nyeri sedang
(maks dosis 20 mg, 160 mg/hari) sampai berat
Dapat menimbulkan gejala putus obat
pada pasien ketergantungan
Buprenorfin im 0,3 mg tiao 6 jam Obat pilihan kedua untuk nyeri sedang
iv lambat 0,3 mg tiap 6 jam sampai berat
Dapat menimbulkan gejala putus obat
pada pasien ketergantungan
dapat diulang satu kali, 30-60 Nalokson tidak efektif untuk mengatasi
menit setelah dosis pertama depresi nafas
Dezosin im 5-20 mg tiap 3-6 jam Obat pilihan kedua untuk nyeri sedang
sampai berat
iv 2,5 10 tiap 2-4 jam Dapat menimbulkan gejala putus obat
pada pasien ketergantungan
Nalokson iv 0,4-1,2 mg Saat mengatasi efek samping opiate
pada pasien yang memerlukan
analgesic, encerkan dan titrasi dosis
(0,2-0,4 mg tiap 2-3 menit) agar efek
analgesic tidak hilang
Tramadol po 50-100 mg tiap 4-6 jam Dosis maksimum 400mg/24 jam
jika mula kerja (onset) obat yang Turunkan dosis pada penderita
cepat tidak tercapai, gangguan ginjal dan lanjut usia
mulailah dengan 25 mg/hari dan
dititrasi/disesuaikan dosisnya
dalam waktu beberapa hari

C. Kombinasi Opioid dan Nonopioid

Kombinasi analgesik oral opioid dan non opoid sering lebih efektif
dibandingkan dengan monoterapi dan memungkinkan untuk mengurangi dosis obat
masing masing. NSAID ditambah opioid dengan jadwal tertentu seringkali
efektif untuk nyeri kanker tulang metastase.
Algoritma Nyeri

Identifikasi Sumber Nyeri dan Obati penyakit yang


menyebabkan nyeri/trauma jika mungkin

Tdk
Apakah Nyeri? Monitoring
pasien
Ya
Kaji Tingkat Keparahan
Nyeri

Tdk Tdk
Ringan Sedang Berat

Ya Ya Ya

Paracetamol atau NSAID Kombinasi Opioid dan Analgesik Opioid


Paracetamol/ NSAID

Tdk? Tdk?
Tambahkan/ Tambahkan/
Ganti Ganti
Apakah Apakah Apakah Tdk
Cek
Nyerinya Nyerinya Nyerinya
Lab
Berkurang? Berkurang? Berkurang?

Ya Ya Ya

Monitoring Monitoring Monitoring


Pasien Pasien Pasien

Algoritma Umum Nyeri


a. Nyeri Ringan
Obat: Dosis Maksimal per hari Prinsip Terapi Nyeri Ringan:
1. Cek frekuensi / lama sakit /
Analgesik nonopioid Paracetamol 4,0 g waktu timbulnya / penyebab
Anti inflamasi non Ibuprofen 3,2 g nyeri secara teratur
2. Jika terdapat nyeri tulang,
steroid (AINS) Naproksen 1,0 g pemakaian AINS harus secara
teratur
3. Selalu gunakan satu obat
Respon
sampai Dosis maksimum
tercapai sebelum
menggantikannya dengan obat
Baik Jelek lain yang lebih berkhasiat,
kecuali bila nyeri benar-benar
tidak dapat dikontrol
Lanjutkan Dosis 4. Jika nyeri bersifat terus-
menerus atau sering kambuh,
gunakan dosis pencegahan /
sebelum nyeri muncul.

Prinsip Terapi Nyeri


b. Nyeri Ringan/Sedang
Ringan/Sedang:
Obat: Dosis maksimal per hari 1. Cek frekuensi / lama sakit /
Paracetamol atau AINS Paracetamol 4,0 g waktu timbulnya / penyebab
nyeri secara teratur
kombinasi dengan opoid Amitriptilin 10-50 mg 2. Selama terdapat nyeri tulang,
Tambahan: Imipramin 10-50 mg pemakaian AINS bersama
opioid harus secara teratur.
Antidepresan trisiklik Doksepin 10-50 mg
3. Penatalaksanaan nyeri harus
Antikonvulsan Prednison selalu didahulukan dibanding
dengan terapi lainnya.
Steroid Deksametason
4. Tentukan tempat nyeri,
terutama pada tulang, harus
segera dievaluasi untuk
alternatif alergi
5. Pemeriksaan secara tepat dan
riwayat alergi opiat adalah
penting
6. Selalu gunakan satu obat
sampai dosis maksimum
tercapai
7. Jika nyeri bersifat terus
menerus atau sering kambuh,
gunakan dosis pencegahan
Respon Prinsip Terapi Nyeri
Ringan/Sedang:
1. Cek frekuensi / lama sakit /
waktu timbulnya / penyebab
Baik Jelek
nyeri secara teratur
2. Morfin sering kali menjadi
Lanjutkan Dosis pilihan pada kategori berikut:
tersedia berbagai produk,
banyak pilihan rute
pemberian, terdapat data
ekivalensi/ kesetaraan dosis
c. Nyeri Ringan/Sedang berbagai rute tersebut,
sehingga memudahkan untuk
Obat: Oksikodon
diganti-ganti
Opioid analgesik Morfin 3. Tidak ada batasan dosis opiat
dalam praktek sehari-hari.
AINS Hidromorfin
4. Gunakan semua terapi
Tambahan: Metadon tambahan untuk
AINS meminimalkan kenaikan
Antidepresan trisiklik
dosis.
Antikonvulsan Steroid 5. Kontrol nyeri pada awal
Steroid memerlukan dosis yang lebih
tinggi dari dosis pemeliharaan.
6. Kondisi khusus seperti nyeri
yang timbul tiba-tiba atau
mendadak hilang terutama
disepanjang jalur saraf atau
neuralgia, mungkin
Respon memerlukan tambahan berupa
anti konsulvan atau anti
depresan
Baik Jelek

Lanjutkan Blok saraf


Epidural Intratekal

Algoritma Nyeri Berdasarkan Tingkat Keparahannya


IV. KASUS NYERI

Ny. M 44 Th datang dengankeluhannyeri pinggang di rasakan terus menerus, nyeri


dirasakan seperti tertekan, nyeri tidak menghilang bila istirahat. Nyeri semakin dirasakan saat
beraktivitas, gerakan pasien menjadi terbatas. Pasien tidak mengeluhkan badan lemas atau
demam beberapa hari terakhir. BAK dan BAB juga tidak ada keluhan. Pasien memiliki
riwayat keputihan sejak 2 tahun yang lalu,keputihan yang keluar tidak terlalu banyak,
keputihan timbul tidak menentu, sebulan bisa 1 2 kali. Suami pasien juga pernah
mengalami ISK. Pasien belum pernah mengobati nyerinya dengan obat-obatan. Tidak ada
kelemahan pada kaki pasien ataupun rasa kesemutan.

ANALISIS SOAP

A. Subjektif :

Ny. M (44 th)


Keluhan : nyeri pinggang terus menerus, nyeri seperti tertekan, gerakan pasien
menjadi terbatas saat beraktifitas. Riwayat keputihan sejak 2 tahun yang
lalu,keputihan yang keluar tidak terlalu banyak, keputihan timbul tidak
menentu, sebulan bisa 1 2 kali.

B. Objektif

Tidak ada data laboratorium

C. Assessment

Berdasarkan keluhan yang di alami pasien, dapat diketahui Ny. M menderita nyeri
pinggang (low back pain). Berdasarkan informasi, pasien sudah mengalami keputihan
sejak 2 tahun yang lalu sehingga kemungkinan nyeri dapat disebabkan oleh infeksi.

D. Plan

Non farmakologi : Istirahat yang cukup dan menjaga kebersihan organ kewanitaan.

Farmakologi :

1. Untuk nyeri menyarakan menggunakan Natrium Diklofenak ( Voltaren) 50 mg


dengan pemakaian 2 x sehari satu tablet sesudah makan.
2. Bila dalam waktu kurang lebih satu minggu gejala nyeri masih terasa disarankan
untuk konsultasikan ke dokter.
3. Disarankan memakai antiseptik (betadine feminime hygiene) untuk
membersihkan organ kewanitaan.
4. Dan mengkonsumsi vitamin neurotropik (neurobion), untuk membantu
pemulihan nyeri.
DAFTAR PUSTAKA

Deyo RA, Mirza SK, Martin BL. 2006. Back pain prevalence and visit rates: Estimates from
U.S. national surveys, 2002. Spine; 31: 27242727.
Harsono, DSS. 2007. Kapita Selekta Neurologi. Yogyakarta: UGM Press.
Ikawati, Zullies. 2011. Farmakoterapi Penyakit Sistem Syaraf Pusat. Yogyakarta : Bursa
Ilmu.
Sukandar dkk. 2008. ISO Farmakoterapi. Jakarta : Badan POM RI.
Dipiro dkk. 2009. Pharmacotherapy Seventh Edition. New York : Mc. Graw Hill Medical.
Hadinoto, Soedomo. 1996. Pengenalan dan Penatalaksanaan Nyeri. Semarang : Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.