Anda di halaman 1dari 31

HALAMAN JUDUL

LAPORAN PENELITIAN

Studi Praklinik Ramuan Jamu


Untuk Dermatitis Atopik

Oleh :
drh. Galuh Ratnawati, dkk

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
BALAI BESAR LITBANG TANAMAN OBAT DAN OBAT TRADISIONAL
Jl. Raya Lawu No. 11 Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah 57792
Telp: 0271-697010, Fax: 0271-697451
Website: www.b2p2toot.litbang.depkes.go.id, Email: b2p2toot@litbang.depkes.go.id
2015
1
RINGKASAN EKSEKUTIF

Dermatitis atopik (DA) adalah penyakit inflamasi kronis pada kulit dengan lesi
eksimatous khas dan sensasi gatal yang terus-menerus (Ring, 2015). DA merupakan
pintu masuk dari penyakit alergi berikutnya antara lain asma dan rhinitis alergi
(Eichenfield et.al, 2003). Faktor penyebab dermatitis atopik merupakan kombinasi
faktor genetic (keturunan) dan lingkungan seperti kerusakan fungsi kulit, infeksi, stress,
dan lain-lain (Natalia dkk, 2011). DA mempengaruhi orang dewasa dan anak-anak
dengan tingkat prevalensi di seluruh dunia 1-20%. (Kim, 2013).Dermatitis atopik
umumnya tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikontrol. Pengobatan DA
menggunakan kortikosteroid topikal maupun sistemik untuk jangka panjang harus
diamati efek samping yang mungkin terjadi karena perjalanan penyakit DA bersifat
kronik dan residif. Untuk mengurangi kerugian penderita karena penggunaan
kortikosteroid jangka panjang, masih diperlukan pengembangan pengobatan alternatif
yang efektif dan lebih aman. Pengobatan menggunakan tanaman obat saat ini menjadi
salah satu alternatif pengobatan yang dipilih oleh penderita alergi. Tumbuhan Obat
yang secara empiris telah digunakan diantaranya adalah sembung (Blumea
balsamifera), rumput teki (Cyperus rotundus), cabe jawa (Piper retrofractum), jahe
(Zingiber officinale).

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan model


dermatitis alergi dengan induksi ovalbumin pada permukaan kulit tikus. Parameter
yang diukur adalah total Ig E, analisis sitokin dan histologi kulit. Ramuan jamu juga
dilakukan uji toksisitas akut dan subkronik untuk melihat keamanan penggunaannya.

Hasil menunjukkan pemeberian jamu untuk dermatitis atopik dosis 1250, 2500
dan 5000 mg/kg bb tidak menyebabkan gejala keracunan dan kematian selama 14
pengamatan pasca pemberian secara oral, didukung oleh hasil pemeriksaan kimia darah
terutama untuk fungsi ginjal dan hati. Begitupun pada uji toksisitas subkronik,
pemberian selama 90 jamu dengan dosis 1350, 2700, 5400, dan 10800 mg/kg bb
menunjukkan hal yang sama dengan hasil uji toksisitas akut.

2
ABSTRAK

Dermatitis atopik (DA) adalah penyakit inflamasi kronis pada kulit dengan lesi
eksimatous khas dan sensasi gatal yang terus-menerus (Ring, 2015). DA merupakan
pintu masuk dari penyakit alergi berikutnya antara lain asma dan rhinitis alergi
(Eichenfield et.al, 2003). Faktor penyebab dermatitis atopik merupakan kombinasi
faktor genetic (keturunan) dan lingkungan seperti kerusakan fungsi kulit, infeksi, stress,
dan lain-lain (Natalia dkk, 2011). DA mempengaruhi orang dewasa dan anak-anak
dengan tingkat prevalensi di seluruh dunia 1-20%. Studi Internasional epidemiologi dan
variabilitas geografis pada prevalensi AD telah dilakukan dalam tiga tahap dengan
1.000.000 subyek dalam penelitian tahap ketiga. Prevalensi terus bervariasi dan telah
berubah di berbagai wilayah dunia (Kim, 2013).

Dermatitis atopik umumnya tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikontrol.


Pengobatan DA menggunakan kortikosteroid topikal maupun sistemik untuk jangka
panjang harus diamati efek samping yang mungkin terjadi karena perjalanan penyakit
DA bersifat kronik dan residif. Untuk mengurangi kerugian penderita karena
penggunaan kortikosteroid jangka panjang, masih diperlukan pengembangan
pengobatan alternatif yang efektif dan lebih aman. Pengobatan menggunakan tanaman
obat saat ini menjadi salah satu alternatif pengobatan yang dipilih oleh penderita alergi.
Tumbuhan Obat yang secara empiris telah digunakan diantaranya adalah sembung
(Blumea balsamifera), rumput teki (Cyperus rotundus), cabe jawa (Piper retrofractum),
jahe (Zingiber officinale).

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Penelitian untuk mengetahui


khasiat jamu untuk mengobati dermatitis atopik dan keamanan jamu tersebut. Model
dermatitis atopik dengan induksi ovalbumin secara intraperitonial dan pada permukaan
kulit tikus. Parameter yang diukur adalah total Ig E, analisis sitokin dan histologi kulit.
Uji toksisitas akut dan subkronik dilakukan sesuai dengan Research Guidelines For
Evaluating The Safety and Efficacy of Herbal Medicine (WHO, 1993).

Hasil menunjukkan pemeberian jamu untuk dermatitis atopik dosis 1250, 2500
dan 5000 mg/kg bb tidak menyebabkan gejala keracunan dan kematian selama 14
pengamatan pasca pemberian secara oral, didukung oleh hasil pemeriksaan kimia darah
terutama untuk fungsi ginjal dan hati. Begitupun pada uji toksisitas subkronik,
pemberian selama 90 jamu dengan dosis 1350, 2700, 5400, dan 10800 mg/kg bb
menunjukkan hal yang sama dengan hasil uji toksisitas akut.

3
TIM PENELITI

Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Balai Besar Penelitian dan


Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Badan Litbang Kesehatan No.
LB.02.01/VI.3/4672/2015 tentang Uji Keamanan dan Khasiat Ramuan Jamu Untuk Alergi,
maka susunan tim peneliti adalah sebagai berikut:

Ketua Pelaksana : drh. Galuh Ratnawati


Anggota tim : Prof. Dr. Agung Endro Nugroho, M.Sc., Apt.
Saryanto, S.Farm., Apt
Awal Prichatin Kusuma Dewi, M.Sc., Apt
Asri Wuryani, A.Md
Rochmiatun, A.md
Suparno
Kusworini, SE

4
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................................. 1
RINGKASAN EKSEKUTIF ................................................................................................ 2
ABSTRAK ............................................................................................................................ 3
TIM PENELITI ..................................................................................................................... 4
DAFTAR ISI ........................................................................................................................ 5
I. LATAR BELAKANG ................................................................................................. 6
a. Masalah Penelitian ................................................................................................ 6
b. Topik Penelitian.................................................................................................... 8
c. Pertanyaan Penelitian ........................................................................................... 8
d. Pertimbangan Fokus Penelitian ............................................................................ 8
II. MANFAAT PENELITIAN ......................................................................................... 9
III. TUJUAN PENELITIAN ............................................................................................. 9
IV. METODE PENELITIAN .......................................................................................... 10
1. Kerangka Konsep Penelitian .............................................................................. 10
2. Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................................ 10
3. Jenis penelitian ................................................................................................... 11
4. Desain Penelitian ................................................................................................ 11
5. Populasi dan Sampel........................................................................................... 11
6. Cara Pemilihan dan Estimasi Besar Sampel ....................................................... 11
7. Instrumen dan Cara Pengumpulan Data ............................................................. 11
8. Bahan dan Prosedur Kerja .................................................................................. 12
9. Prosedur kerja ..................................................................................................... 12
10. Analisis data ....................................................................................................... 19
V. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................................. 20
VI. KESIMPULAN ......................................................................................................... 25
VII. UCAPAN TERIMAKASIH ...................................................................................... 26
VIII. DAFTAR KEPUSTAKAAN .................................................................................... 27
IX. PERSETUJUAN ATASAN YANG BERWENANG ............................................... 29

5
I. LATAR BELAKANG

a. Masalah Penelitian
Alergi merupakan keadaan hipersensitif yang diperantarai oleh kondisi
imunologis dan allergen. Alergi dapat dilihat di hampir setiap organ, paling sering di
kulit dan selaput lendir. Alergi bukanlah penyakit itu sendiri, tetapi
mekanisme yang mengarah ke penyakit. Dalam praktek klinis, alergi dimanifestasikan
dalam berbagai bentuk seperti kondisi anafilaksis, urtikaria, angioedema,
rhinoconjunctivitis alergi, asma alergi, serum sickness, vaskulitis alergi, hipersensitif
pneumonitis, atopik dermatitis (eksim), dermatitis kontak dan reaksi granulomatosa
(Ring, 2014).
Dermatitis atopik (DA) adalah penyakit inflamasi kronis pada kulit dengan
lesi eksimatous khas dan sensasi gatal yang terus-menerus (Ring, 2015). DA
merupakan pintu masuk dari penyakit alergi berikutnya antara lain asma dan rhinitis
alergi (Eichenfield et.al, 2003). Faktor penyebab dermatitis atopik merupakan
kombinasi faktor genetic (keturunan) dan lingkungan seperti kerusakan fungsi kulit,
infeksi, stress, dan lain-lain (Natalia dkk, 2011). DA mempengaruhi orang dewasa dan
anak-anak dengan tingkat prevalensi di seluruh dunia 1-20%. Studi Internasional
epidemiologi dan variabilitas geografis pada prevalensi AD telah dilakukan dalam
tiga tahap dengan 1.000.000 subyek dalam penelitian tahap ketiga. Prevalensi terus
bervariasi dan telah berubah di berbagai wilayah dunia (Kim, 2013).
Dermatitis atopik umumnya tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat
dikontrol. Pengobatan DA menggunakan kortikosteroid topikal maupun sistemik
untuk jangka panjang harus diamati efek samping yang mungkin terjadi karena
perjalanan penyakit DA bersifat kronik dan residif. Untuk mengurangi kerugian
penderita karena penggunaan kortikosteroid jangka panjang, masih diperlukan
pengembangan pengobatan alternatif yang efektif dan lebih aman. Pengobatan
menggunakan tanaman obat saat ini menjadi salah satu alternatif pengobatan yang
dipilih oleh penderita alergi. Oleh karena itu eksplorasi mengenai efektivitas dan
keamanan beberapa tanaman obat perlu dilakukan.
Sembung (Blumea balsamifera) merupakan tanaman asli Amerika, namun
sekarang tersebar secara pantropik. Secara empiris sembung telah digunakan oleh
masyarakat, antara lain di Jawa akar sembung dimasukkan dalam resep untuk
pengobatan nyeri pinggang, pasta daun ditapalkan pada dahi untuk mengobati sakit
kepala. Di Malaysia daun sembung digunakan untuk rematik dan nyeri pinggang,

6
dekok akar sembung digunakan sebagai obat untuk perawatan setelah melahirkan. Di
Afrika, air perasan daun sembung digunakan dengan ditapalkan untuk penurun panas
pada anak, atau langsung dibalurkan pada tubuh orang dewasa (Lemmens and
Bunyapraphatsara, 2003). Dalam Bahasa Cina biasa disebut "Ainaxiang" dan
"Dafeng'ai" dan digunakan sebagai dupa karena memiliki tingkat tinggi dari minyak
atsiri. Seluruh bagian tanaman atau daunnya digunakan sebagai bahan obat minyak
mentah tradisional Cina untuk mengobati eksim, dermatitis, beri-beri, sakit pinggang,
menorrhagia, rematik, kulit cedera, dan sebagai insektisida (Pang, et.al, 2014).
Salah satu dari banyak klaim kesehatan dikaitkan dengan jahe (Zingiber
officinale) adalah kemampuannya diakui untuk mengurangi peradangan,
pembengkakan, dan nyeri. Jahe juga dikenal untuk mengobati penyakit terkait seperti
sakit tenggorokan, sembelit, muntah, hipertensi, demensia, demam, penyakit menular.
Aktivitas farmakologi utama jahe dan senyawa yang diisolasi dari itu meliputi;
imunomodulator, anti-tumorigenik, anti-apoptik, anti-hiperglikemia, tindakan anti-
lipidemik dan anti-muntah (Shallangwa et.al., 2015). Penelitian secara in-vivo
menunjukkan bahwa ekstrak rimpang jahe secara oral menurunkan edema pada
tangan tikus. Potensi ekstrak sebanding dengan asam asetilsalisilat. Senyawa (6)-
shagaol menghambat induksi karagenan penyebab edema pada tangan tikus dengan
menghambat aktivitas siklooksigenase (Depkes RI, 2000). Kasus dermatitis terkait
dengan reaksi inflamasi, sehingga jahe dimasukkakn ke dalam ramuan sebagai
antiinflamasi.
Rumput teki (Cyperus rotundus) pada umumnya yang digunakan sebagai
bahan obat adalah bagian rimpang yang telah dibersihkan dari serabut yang melekat.
Dalam keadaan segar, dimemarkan dan dibubuhkan ke dalam minuman sebagai obat
busung air, kencing batu. Ekstrak cair 5% dapat mengurangi kontaktilitas "uterus
terisolir" kucing dan anjing (baik yang hamil maupun yang tidak hamil). Efek ekstrak
etanol yang diberikan dengan takaran 100 mg/kg BB secara intra peritoneal dapat
menghambat timbulnya pembengkakan yang disebabkan karena carragenin atau
formaldehida. Efek tersebut lebih nyata bila dibandingkan dengan 5-10 mg/kg
hidrokortison (8 kali lebih kuat) (Anonim, 2012). Secara tradisional rimpang teki
digunakan sebagai obat baik untuk penggunaan dalam (minum) maupun luar.
Penggunaan secara eksternal rimpang teki antara lain untuk mengobati luka, ulser,
sakit kepala, scabies, eksim, obesitas, dan konjunktivitis (Sofia, 2014).

7
Ekstrak cabe jawa dilaporkan mengurangi kontraksi ileum tikus terisolir
dan menghambat aktivitas asetilkolin. Ekstrak metanol kulit kayu Piper retrofractum
yang diberikan pada tikus dan mencit dengan dosis 125, 250 dan 500 mg/kg bb
dengan metode yang umum digunakan, dilaporkan memberi efek signifikan
(tergantung pada dosis) sebagai analgesik, antiinflamasi, antidiare, penurun motilitas
saluran cerna, dan hipnotik. Cabe jawa yang berpengaruh normal sebagai diuretik
hanya terjadi pada dosis tinggi (Taufikurrahman, 2005).
Meskipun secara tunggal belum ada penelitian yang mengungkapkan
khasiat tumbuhan obat diatas sebagai anti alergi namun secara empiris tumbuhan-
tumbuhan diatas telah digunakan sebagai obat untuk alergi. Eksplorasi tumbuhan obat
sebagai pilihan lain terapi pada alergi diperlukan mengingat penggunaan
kortikosteroid dalam jangka panjang banyak memiliki efek samping yang tidak
diinginkan slah satunya menekan kekebalan tubuh. Penelitian ini diharapkan dapat
memberikan informasi ilmiah mengenai penggunaan tumbuhan obat diatas sebagai
obat alergi. Penelitian mengkhususkan untuk terapi pada model alergi dermatitis
atopik.

b. Topik Penelitian
Studi praklinik ramuan jamu untuk dermatitis atopik.

c. Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah ramuan jamu untuk alergi berpengaruh terhadap model alergi dermatitis
atopik?
2. Apakah ramuan jamu untuk dermatitis atopik aman dikonsumsi?

d. Pertimbangan Fokus Penelitian


Penelitian ini perlu dilakukan sebagai sumber informasi mengenai aktivitas dan
toksistas akut maupun subkronis ramuan jamu untuk alergi.

8
II. MANFAAT PENELITIAN
Mendapatkan informasi mengenai aktivitas dan toksistas akut maupun subkronis
ramuan jamu untuk alergi.

III. TUJUAN PENELITIAN

Umum : Mengetahui pengaruh ramuan jamu terhadap model alergi dermatitis atopik.
Khusus :
1. Mengetahui pengaruh ramuan jamu untuk alergi terhadap model alergi
dermatitis atopik.
2. Mengkaji toksisitas akut ramuan jamu untuk alergi dermatitis atopik.
3. Mengkaji toksisitas Subkronik ramuan jamu untuk alergi dermatitis atopik.

9
IV. METODE PENELITIAN

1. Kerangka Konsep Penelitian

Penyakit yang disebabkan lingkungan

Toksisitas Hipersensitivitas
bahan individu

Diperantarai
Non imun
imun

iritasi,
intoksikasi, Reaksi Psiko-
Intoleran Idiosinkrasi Alergi
kerusakan neurogenik
kronis

2. Kerangka Teori

Alergen

Kulit
Sel Langerhans
Ramuan jamu

Limfosit Th2 IL 4, IL 5, IL 13,


IL 10

Sel B

Ig E

Ramuan Jamu

Sel Mast

Eosinofil
Histamin Dermatitis Atopik
Makrofag

10
3. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Terpadu Balai Besar Litbang TO & OT,
Tawangmangu. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret Desember 2015.

4. Jenis penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental.

5. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 7 perlakuan untuk uji
aktivitas dan 4 perlakuan untuk masing-masing uji toksisitas.

6. Populasi dan Sampel


Sampel yang digunakan adalah tikus galur Wistar. Hewan berasal dari
Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
Kriteria Inklusi :
a. Jenis kelamin jantan dan betina
b. Umur 2,5-3,5 bulan
c. Bobot badan antara 180-250 gr
d. Keadaan tikus sehat atau normal, ditandai dengan gerakan-gerakan tikus
yang lincah, mau makan, minum, tidak terdapat luka atau cacat tubuh.

Kriteria Eksklusi :
a. Bunting
b. Menyusui

7. Cara Pemilihan dan Estimasi Besar Sampel


Penentuan jumlah sampel digunakan rumus Frederer:
RAL. T(n-1)>15
T: jumlah kelompok perlakuan
n: besar sampel
Jumlah tikus yang digunakan:
a. Uji Aktivitas
7(n-1)>15, n= 4
b. Uji Toksisitas Akut
4(n-1)>15, n= 5
c. Uji Toksisitas Subkronik
11
5(n-1)>15, n= 4
Jadi total tikus yang digunakan dalam penelitian sebanyak 136 ekor (toksisitas
akut dan subkronis), karena tikus yang digunakan adalah jantan dan betina.

8. Instrumen dan Cara Pengumpulan Data


1. Uji aktivitas jamu dermatitis atopik
Parameter uji yang diukur meliputi pemeriksaan analisis histologi biopsi
kulit, analisis sitokin, dan pengukuran IgE plasma.
2. Uji toksisitas akut dan subkronis
Pengamatan uji toksisitas akut meliputi kesehatan hewan/gejala klinis, berat
badan, jumlah kematian dan gross pathology (patologi makro) untuk hewan coba
yang mati pada waktu pengamatan. Pengamatan dilakukan selama 14 hari, setiap
dua hari sekali bobot badan ditimbang, dicatat terjadinya gejala klinik/toksik. Pada
akhir penelitian hewan coba yang masih hidup diotopsi, dilakukan pengamatan
secara makroskopis organ hepar, ginjal, lien dan jantung. Apabila ada kecurigaan
dilakukan pemeriksaan histopatologi. Penentuan LD50.
Selama penelitian uji toksisitas subkronis diamati kesehatan hewan antara
lain gejala-gejala umum atau kelainan yang dijumpai misalnya diare, mutah,
tremor, dsb. Penimbangan bobot badan dilakukan sebelum pemberian bahan uji,
kemudian setiap minggu selama masa pemberian bahan uji. Pengujian dan
pengukuran gambaran darah normal meliputi : gambaran darah normal (Hb, jumlah
sel darah merah dan sel darah putih, hematokrit), biokimia darah (SGOT, SGPT,
ureum, kreatinin) Pemilihan organ untuk pembuatan preparat histopatologi yaitu
hati, ginjal, jantung, paru, lien, lambung. Sebelum dibuat preparat histologi organ-
organ tersebut ditimbang terlebih dahulu.

9. Bahan dan Prosedur Kerja


Bahan :
a. Tikus galur Wistar
b. Simplisia Sembung, Rumput teki, Jahe dan Cabe Jawa
c. Aquadest
d. Ovalbumin
e. Aluminium hidroksida
f. Reagen kimia darah untuk ureum, kreatinin, SGPT, SGOT
g. pentobarbital

12
h. Formaldehid
i. Formalin
j. ELISA kit
Alat
a. Pipa kapiler
b. Mikropipet
c. Tabung conical
d. Mikroskop
e. Kapas
f. Minorset
g. Alat sentrifus
h. Jarum oral
i. ELISA reader

10. Prosedur kerja


A. Pembuatan Bahan Uji
Bahan segar setelah dipanen dicuci dengan air mengalir hingga bersih, selanjutnya
dilakukan pengubahan bentuk, rimpang diiris dengan ketebalan sekitar 0.3 cm. Bahan
selanjutnya dikering anginkan dan dilanjutkan pengeringan menggunakan oven pada
suhu 30-40 oC hingga kadar air 10%. Setelah seluruh bahan kering selanjutnya
dibuat ramuan dengan komposisi sembung, jahe, rumput teki, cabe jawa.
Tabel 1. Perhitungan dosis berdasarkan dosis penggunaan lazim pada manusia
No Simplisia Dosis Manusia Dosis Tikus* Dosis Mencit**
(g/ 70 kg bb) (mg/ 200 g bb) (mg/ 20 g bb)
1 Daun Sembung 10 180 26
2 Rimpang Jahe 5 90 13
3 Rimpang Rumput Teki 7 126 18.2
4 Buah Cabe Jawa 8 144 20.8
Jumlah 30 540 78
*Faktor pengali 0.018, ** Faktor pengali 0.0026 (Laurence & Bacharach, 1964)

Berdasarkan tabel 1 maka diperoleh perbandingan sembung: jahe: rumput teki: cabe
jawa adalah 26:13:18,2:20,8 dan dosis sebesar untuk tikus 540 mg/200 g bb tikus atau
dapat ditulis 2700 mg/kg bb. Penelitian ini menggunakan 4 peringkat dosis ramuan
simplisia yaitu:
1. D1: 1350 mg/kg bb tikus
2. D2: 2700 mg/kg bb tikus
3. D3: 5400 mg/kg bb tikus
13
4. D4: 10800 mg/kg bb tikus
Dosis ramuan simplisia tersebut kemudian dibuat infusa. Penelitian ini menggunakan
stok sari infusa 10%, sehingga rumus volume pemberian adalah: (Dosis/10) x
volumen stok. Pembuatan infusa sesuai Farmakope Indonesia, dengan perbandingan
10% b/v. Ramuan dipanaskan dalam pot infus berisi air suhu 90oC selama 15 menit.
Infus didinginkan kemudian disaring dan diuapkan diatas waterbath agar volumen
pemberian tidak terlalu besar.

B. Uji Aktivitas dan Toksisitas


Perlakuan sebelum uji
Sebelum percobaan dimulai, seluruh hewan uji diaklimatisasi selama 7 hari, dipelihara
di laboratorium pada ruangan berukuran 3x3 m pada temperatur 23oC dan kelembaban
60%. Selama penelitian tikus ditempatkan dalam kandang berbahan polipropilen,
berukuran 40x25x15 cm, beralaskan sekam, setiap kandang diisi 3 ekor. Minum
diberikan secara ad libitum dan diberikan makan berupa pellet 20 g/ hari. Sekam
diganti setiap hari senin dan kamis.

Tahap Pelaksanaan
a. Uji aktivitas

Model alergi dermatitis atopik

Penelitian ini mengadopsi metode yang digunakan Kim et.al, 2012. Prosedur
pengujian secara skematis dijelaskan pada gambar 1. Untuk mendapatkan model
dermatitis atopik dengan induksi OVA (ovalbumin), tikus uji disensitisasi secara
intraperitoneal dengan 140 g OVA sekali seminggu selama 3 minggu. Setelah 3
minggu punggung tikus dicukur menggunakan pisau cukur listrik dan secara
kutaneus ditantang dengan 2x2 cm sterile patches yang berisi OVA (700 g) selama
2 minggu. Jamu diberikan secara oral selama sensitisasi minggu ke-2 dan ke-3
dengan OVA. Patches diganti 2 kali seminggu selama sensitisasi. Setelah akhir
penelitian tikus dikorbankan dengan sodium pentobarbital dosis 100 mg/ kg bobot
badan secara intraperitoneal (Kim, 2012).

14
Pencukuran
Pengorbanan
rambut pada area
Pemberian ramuan jamu untuk alergi Biopsi kulit
punggung

Sensitisasi Sensitisasi Sensitisasi Sensitisasi Sensitisasi


Injeksi i.p Injeksi i.p Injeksi i.p
kulit kulit kulit kulit kulit
OVA 140 OVA 140 OVA 140
OVA 700 OVA 700 OVA 700 OVA 700 OVA 700
g g g
g g g g g

Induksi Dermatitis Atopik dengan OVA

Hari
0 Hari 7 Hari 14 Hari 21 Hari 28 Hari 31 Hari 35 Hari 39 Hari 42 Hari 43

Gambar 1. Protokol induksi dermatitis atopik

Tikus dikelompokkan menjadi 7 kelompok (@ 8 ekor, terdiri dari 4 ekor jantan dan
4 betina). Sebelum diperlakukan sesuai kelompok, mencit diambil sampel darahnya
untuk pemeriksaan IgE plasma.

Tabel 2. Dosis pemberian dosis dan perlakuan

No. Kelompok Perlakuan


1 Kontrol(+) Model dermatitis atopik
2 Kontrol (-) 10 l larutan fisiologis
3 Kontrol Obat Model dermatitis atopik, deksametason 1,26 mg/kg bb po
4 Dosis 1 Model dermatitis atopik, infusa jamu alergi 1350 mg/kg bb
5 Dosis 2 Model dermatitis atopik, infusa jamu alergi 2700 mg/kg bb
6 Dosis 3 Model dermatitis atopik, infusa jamu alergi 5400 mg/kg bb
7 Dosis 4 Model dermatitis atopik, infusa jamu alergi 10800 mg/kg bb

Semua kelompok diberikan pakan dan minum seperti biasa. Pengambilan dan
pengukuran parameter dilakukan seperti dibawah ini.

Pengukuran IgE Plasma

Sampel darah diambil sebelum sensitisasi dan hari ke-14, 21, dan 28 setelah
sensitisasi melalui pleksus orbitalis dibawah anestesi phenobarbital 20 mg/kb bb i.p.
Darah disentrifus pada 2500 rpm selama 15 menit. Serum dipisahkan. Kadar IgE
diukur menggunakan ELISA kit, sesuai dengan petunjuk produsen. Plat yang dibaca
pada 490 nm menggunakan mikroplate reader (Abril et.al., 2012).

Analisis Histologi

Pada akhir penelitian hewan dikorbankan menggunakan phenobarbital 100 mg/kg bb


i.p. selanjutnya dilakukan pengambilan sampel biopsi kulit. Sampel biopsi kulit
15
difiksasi dalam 4% PFA, selanjutnya dilakukan pembuatan preparat histologi dengan
pewarnaan HE (hematoksilin eosin) untuk pengamatan sel radang dan dengan
pengecatan toluidine blue untuk pengamatan sel mast. Preparat diamati dibawah
mikroskop dengan perbesaran 400x (Kim, 2012). Peningkatan sel piala, kongesti
vaskular, proliferasi pembuluh darah, infiltrasi sel inflamasi, infiltrasi eosinofil, dan
derajat hipertrofi dalam kondrosit dievaluasi di setiap bagian. Perubahan setiap
parameter yang dinilai sebagai 0, tidak ada perubahan; 1, perubahan ringan; 2,
perubahan moderat; atau 3, perubahan berat. Semua analisa histomorphologikal
dilakukan oleh dua histologists yang tidak memiliki pengetahuan sebelumnya dari
kelompok perlakuan (Avincsall et.al., 2014).

Pengukuran Level Sitokin

Hewan yang telah dikorbankan ditelentangkan pada papan bedah untuk dilakukan
pembedahan. Kelenjar getah bening aksila diisolasi. Selubung peritoneum dibuka
kemudian buka kulit pada daerah aksilaris, kemudian kelenjar getah bening aksila
diangkat dan diletakkan pada cawan petri steril diameter 50 mm yang telah diisi 5
mL medium RPMI, kemudian medium disemprotkan ke dalam kelenjar getah bening
untuk mendapatkan suspensi sel tunggal. Setelah itu, dimasukkan ke dalam tabung
sentrifus 10 mL untuk disentrifus pada 1200 rpm 4C selama 10 menit. Pelet yang
didapat diresuspensikan dalam 2 mL Tris Buffered Ammonium Chlorid untuk
melisiskan eritrosit. Sel dicampur menggunakan pipet dan didiamkan pada suhu
ruangan selama 2 menit. Suspensi tersebut disentrifus pada 1200 rpm 4C selama 10
menit, dan supernatannya dibuang. Pelet dicuci dengan RPMI 2X dengan cara
dipipet berulang-ulang dan disentrifus pada 1200 rpm 4C selama 5 menit.
Supernatan dibuang dan pelet yang didapat diresuspensikan pada 2 mL medium
komplet. Sel dihitung menggunakan hemositometer dan ditentukan viabilitasnya
dengan trypan blue sehingga didapat suspensi sel dengan kepadatan 106 sel/mL. Sel
limfosit dikultur pada mikroplate 96 dengan volume 100 L/sumuran, selama 72 jam
dalam inkubator CO2 5%, 37C (Wijayanti, 1996). Setelah masa inkubasi,
supernatan budaya dikumpulkan. Jumlah interleukin (IL) -5, IL-13, IL-4 dalam
kultur supernatan ditentukan dengan menggunakan ELISA murine kit (Yamamoto
et.al, 2007).

16
b. Uji Toksisitas Akut

Prinsip uji toksisitas akut adalah pemberian dosis tunggal suatu bahan uji secara oral
kemudian diobservasi adanya gejala toksik/ keracunan dan kematian hewan coba.
Uji toksisitas akut bertujuan menentukan nilai LD50 dan mengamati organ dalam
tubuh yang mungkin rusak sebagai efek toksis. Tikus dibagi menjadi 4 kelompok (@
10 ekor, 5 jantan dan 5 betina). Sebelum perlakuan seluruh tikus diperiksa kadar
serum SGOT, SGPT, ureum dan kreatinin. Tiap kelompok diberikan ramuan secara
oral untuk sekali pemberian dengan dosis sebagai berikut:

No Kelompok Perlakuan
1 Kontrol Aquadest
2 Dosis 1 Infusa jamu alergi 12,5 g/kg bb
3 Dosis 2 Infusa jamu alergi 25 g/kg bb
4 Dosis 3 Infusa jamu alergi 50 g/kg bb

Sebelum pemberian bahan uji dilakukan penimbangan bobot badan untuk


penentuan besaran dosis. Infus formula antiasma diberikan sekali pada hari pertama
kemudian dilakukan observasi selama 14 hari.
Observasi
Pengamatan uji toksisitas akut meliputi kesehatan hewan/gejala klinis, berat badan,
jumlah kematian, biokimia darah dan gross pathology (patologi makro) untuk
hewan coba yang mati pada waktu pengamatan. Pengamatan dilakukan selama 14
hari, setiap dua hari sekali bobot badan ditimbang, dicatat terjadinya gejala
klinik/toksik. Pengamatan yang dilakukan meliputi perubahan kulit dan bulu, mata
dan membran mukosa, gerakan tubuh, tremor, konvulsi, salivasi, diare, dan
pernapasan. Hewan uji yang mati dilakukan pembedahan dan otopsi.

Cara pembedahan adalah sebagai berikut: tikus diinjeksi secara intraperitoneal


dengan 100 mg/kg bb phenobarbital, diambil sampel darah dari pleksus orbitalis
untuk dilakukan pemeriksaan biokomia darah (SGPT, SGOT, ureum dan kreatinin).
Selanjutnya tikus didiamkan. Setelah menunjukkan kematian, tikus ditelentangkan
pada papan bedah. Pembedahan diawali insisi pada bagian abdomen bawah
menggunakan gunting dan pinset bedah. Setelah rongga perut terbuka dilakukan
pengambilan organ hepar, pankreas, ginjal dan lambung dilanjutkan membuka
rongga dada untuk mengambil paru-paru dan jantung. Dilakukan pengamatan rongga

17
abdomen, rongga dada dan diafragma terhadap adanya perubahan. Selanjutnya organ
dibersihkan dengan larutan dapar, ditimbang dan dimasukkan dalam larutan
formalin.

Penentuan LD50 (dosis yang menyebabkan kematian 50% hewan uji) menggunakan
analisa probit. Apabila tidak terjadi kematian maka hasil toksisitas akut dapat
ditentukan dosis terbesar yang masih dapat diterima hewan coba dan dinyatakan
sebagai LD50 semu.

c. Uji Toksisitas Subkronis

Uji toksisitas subkronis bertujuan untuk melihat efek toksik bahan uji yang
diberikan sekali setiap hari selama 3 bulan (90 hari) terhadap adanya perubahan
karena akumulasi, toleransi, metabolisme dan kelainan khusus pada organ tertentu.
Tikus dibagi menjadi 5 kelompok (@ 8 ekor, 4 jantan dan 4 betina). Sebelum
perlakuan seluruh tikus diperiksa kadar serum SGOT, SGPT, ureum dan kreatinin.
Tiap kelompok diberikan ramuan secara oral untuk sekali pemberian dengan dosis
sebagai berikut:

No Kelompok Perlakuan
1 Kontrol Aquadest
2 Dosis 1 Infusa jamu alergi 1350 mg/kg bb
3 Dosis 2 Infusa jamu alergi 2700 mg/kg bb
4 Dosis 3 Infusa jamu alergi 5400 mg/kg bb
5 Dosis 4 Infusa jamu alergi 10800 mg/kg bb

Sebelum pemberian bahan uji dilakukan penimbangan bobot badan untuk penentuan
besaran dosis. Bahan uji diberikan selama 90 hari sesuai dengan dosis. Selama
penelitian diamati kesehatan hewan antara lain gejala-gejala umum atau kelainan
yang dijumpai misalnya diare, mutah, tremor, dsb. Penimbangan bobot badan
dilakukan sebelum pemberian bahan uji, kemudian setiap minggu selama masa
pemberian bahan uji. Parameter yang diukur adalah biokimia darah (SGOT, SGPT,
ureum, kreatinin) dan histopatologi organ penting. Pemilihan organ untuk
pembuatan preparat histopatologi yaitu hati, ginjal, jantung, paru, lien, lambung.
Pemeriksaan kadar SGOT, SGPT, ureum, kreatinin dilakukan pada hari ke-0, ke-45
dan ke-90 pemberian bahan uji. Hewan dipuasakan selama 8 -12 jam.

18
Prosedur Setelah Perlakuan

Sisa bangkai hewan uji yang telah dikorbankan dibakar dalam incinerator. Sisa abu
pembakaran dimasukkan dalam tanah dengan kedalaman 1 m, dilapisi dengan
kapur kemudian baru ditimbun dalam tanah.

11. Analisis data

a. Data kuantitas dianalisi statistik dengan cara: uji kenormalan menggunakan


metode distribusi frekuensi. Apabila data yang diperoleh terdistribusi normal, dan
variasai homogen dilakukan analisis sidik ragam (anova). Apabila data tidak
normal dan atau variasi tidak homogen maka data dianalisis secara statistik non
parametrik yaitu dengan metode Friedman dan dilanjutkan uji berganda
Friedman.
b. Penentuan LD50 (dosis yang menyebabkan kematian 50% hewan uji)
menggunakan analisa probit. Apabila tidak terjadi kematian maka hasil toksisitas
akut dapat ditentukan dosis terbesar yang masih dapat diterima hewan coba dan
dinyatakan sebagai LD50 semu.

19
V. HASIL DAN PEMBAHASAN

a. Toksisitas Akut
Pemberian jamu untuk dermatitis atopik dengan dosis 1250, 2500, dan 5000 mg/kg bb
pada tikus uji tidak menunjukkan gejala klinis selama 14 hari pengamatan. Tidak ada
kematian pada seluruh dosis dari 24 jam setelah pemberian infus formula sampai
akhir hari ke-14. Pertambahan bobot badan normal, penurunan bobot badan terjadi
pada hari ke-8 pada seluruh kelompok perlakuan namun naik lagi pada hari ke-12.
Walaupun terjadi penurunan namun ecara statistik tidak menunjukkan perbedaan
nyata (: 0,05) (Gambar 1). Tidak ada perbedaan pertambahan bobot badan Antara
tikus kelompok dosis 1250, 2500, dan 5000 mg/kg bb terhadap kontrol.

Gambar 1. Bobot badan tikus pada uji toksisitas akut

Pemeriksaan biokimia darah meliputi ureum, kreatinin, SGOT dan SGPT.


Pemeriksaan dilakukan untuk menilai ketoksikan formula jamu kesuburan terhadap
organ ginjal (ureum, kreatinin) dan hati (SGOT, SGPT).

Uji Fungsi Ginjal


Ureum dan kreatinin merupakan produk akhir metabolisme nitrogen.Ureum
merupakan produk sisa dari pemecahan protein, terkait dengan konsumsi pakan dan
kemampuan tubuh untuk memecah kemudian mendistribusikannya. Sedangkan
kreatinin merupakan produk sisa katabolise kreatin otot. Keduanya biasanya
dikeluarkan melalui urin. Hasil pemeriksaan uji fungsi ginjal tercantum dalam Tabel
1.

20
Tabel 1. Nilai Ureum dan kreatinin pada Kelompok Toksisitas Akut

Ureum Creatinin

H0 H14 H0 H14
Kontrol 53,675,65 39,002,10 0,420,06 0,410,08
Dosis 12,5 g/kg 50,503,02 41,176,18 0,620,03 0,490,02
Dosis 25 g/kg 48,173,82 45,006,23 0,500,05 0,480,04
Dosis 50 g/kg 52,835,56 42,173,60 0,510,08 0,470,04

Hasil uji statistik menunjukkan berbeda tidak nyata antara kelompok dosis dan
kelompok kontrol, dan tidak ada perbedaan antara sebelum dan sesudah pemberian
jamu baik dosis rendah, sedang, maupun tinggi ( 0.05). Kadar ureum yang terukur
masih dalam batas normal. Nilai normal BUN (Blood Ureum Creatinin) yaitu 5.0-
29.0 mg/dl (Mitruka, 1981), sedangkan nilai ureum dihitung dengan rumus 60/28 dari
BUN. Dengan kata lain nilai normal ureum adalah 10,7-62,06 mg/dl. Uji statistik nilai
kreatinin juga menunjukkan berbeda tidak nyata antara kelompok dosis dengan
kontrol dan antara sebelum dan sesudah pemberian jamu. Kadar kreatinin masih
dalam batas normal yaitu 0.2-0.8 mg/dl (Mitruka, 1981). Dari data diatas
menunjukkan bahwa pemberian jamu untuk dermatitis atopik baik pada sekali dosis
pada dosis rendah, sedang maupun tinggi tidak membahayakan fungsi ginjal.

Uji Fungsi Hati


Uji fungsi hati dilakukan dengan pemeriksaan enzim hati di dalam darah, yaitu SGOT
(Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) dan SGPT (Serum Glutamic Pyruvic
Transaminase). Pada kondisi normal SGOT diproduksi oleh hati, otot jantung, ginjal,
otak, dan sel darah merah. Enzim ini dilepaskan ke dalam aliran darah ketika jaringan-
jaringan ini rusak. Sebagai contoh, tingkat SGOT darah meningkat dalam kondisi
cedera otot dan serangan jantung. Oleh karena itu, peningkatan enzim ini di dalam
darah tidak dapat diartikan bahwa terjadi kerusakan jaringan hati karena dapat
meningkat pada kondisi selain kerusakan hati. Berbeda dengan SGOT, SGPT
merupakan indikator spesifik kerusakan sel hati. Enzim ini juga diproduksi dalam
jumlah yang kecil oleh ginjal dan otot lurik. SGOT dan SGPT menggambarkan
kerusakan sel hati apabila nilainya lebih besar atau sama dengan 3 kali nilai normal.
Hasil pemeriksaan SGOT dan SGPT pada serum darah ditampilkan pada Tabel 2.

21
Tabel 2. Nilai SGOT dan SGPT pada Kelompok Toksisitas Akut

SGOT SGPT

H0 H14 H0 H14
Kontrol 97,006,90 75,007,85 52,004,77 78,0016,61
Dosis 12,5 g/kg 108,1711,79 85,505,50 59,338,07 83,8310,68
Dosis 25 g/kg 81,0011,37 86,677,50 48,679,33 83,3310,71
Dosis 50 g/kg 89,334,72 85,0011,26 47,008,85 86,837,25

Nilai normal SGOT tikus adalah 45,7-80,8 IU/l. Data yang tersaji menunjukkan nilai
telah melebihi normal sejak sebelum pemberian bahan uji. Ada kecenderungan kadar
SGOT turun 14 hari setelah pemberian jamu. Uji Statistik menunjukkan beda nyata
antara nilai sebelum dan sesudah pemberian jamu (: 0,05). Nilai SGPT secara
statistik menunjukkan berbeda tidak nyata antar kelompok perlakuan dan antara
sebelum dan sesudah pemberian jamu. Nilai normal SGPT adalah 17,5-30,2 IU/l. Dari
data diatas menunjukkan nilai yang jauh melebihi normal. Namun antara sebelum dan
sesudah perlakuan secara statistik berbeda tidak nyata, sehingga faktor penyebab
tingginya kadar belum dapat disimpulkan karena pemberian jamu.

b. Toksisitas Subkronik

Pemberian jamu untuk dermatitis atopik dengan dosis 1350, 2700, 5400 dan 10800
mg/kg bb pada tikus uji tidak menunjukkan gejala klinis selama 90 hari perlakuan dan
pengamatan.

Gambar 2. Bobot badan tikus pada uji toksisitas Subkronik

22
Tidak tampak perubahan pada pernapasan, warna tubuh dan tingkah laku serta tidak
terjadi kematian pada seluruh kelompok tikus uji dari hari pertama pemberian infus
formula sampai akhir hari ke-90. Dari gambar 3 terlihat kecenderungan bobot badan
tikus naik dari hari-ke hari selama periode pengamatan.

Uji Fungsi Ginjal


Hasil pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin dalam sampel serum darah tikus uji
disajikan dalam Tabel 3. Baik ureum maupun kreatinin mengalami kecenderungan
meningkat seiring lama waktu pemberian jamu dan pengamatan. Baik sebelum
perlakuan, 45 hari setelah perlakuan maupun pada akhir perlakuan kadar ureum
cenderung hampir sama diantara kelompok kontro dan kelompok dosis. Perhitungan
secara statistik menunjukkan berbeda tidak nyata (: 0,05) baik antara kelompok
kontrol dg kelompok dosis maupun antar waktu pengambilan sampel. Kadar ureum
juga masih dalam batas normal (10,7-62,06 mg/dl). Kadar kreatinin juga memiliki
kecenderungan yang sama dengan ureum, semakin meningkat dan hampir sama antar
kelompok pada waktu pengambilan sampel yang sama. Namun terlihat bahwa nilai
sebelum dan pada akhir perlakuan, kenaikan hampir mencapai 2 kali lipat. Akan tetapi
hasil perhitungan secara statistik menunjukkan berbeda tidak nyata (: 0,05) baik
natar kelompok maupun antar waktu pengambilan. Kadar ureum juga masih dalam
batas normal yaitu 0,2-0,8 mg/dl.

Tabel 3. Nilai Ureum dan kreatinin pada Kelompok Toksisitas Subkronik


Ureum Creatinin
H0 H45 H90 H0 H45 H90
Kontrol 36,904,12 48,202,78 43,905,02 0,430,16 0,650,13 0,820,17
Dosis 1350
mg/kg 33,005,03 48,907,69 43,8010,34 0,440,06 0,660,11 0,750,37
Dosis 2700
mg/kg 35,504,06 47,203,79 44,903,98 0,410,05 0,690,12 0,830,30
Dosis 5400
mg/kg 33,704,22 49,104,25 43,566,56 0,410,06 0,600,08 0,710,13
Dosis 10800
mg/kg 38,103,93 44,506,42 42,404,65 0,440,07 0,530,04 0,830,21

Hasil pemeriksaan diatas menunjukkan bahwa konsumsi jamu selama 90 hari tersebut
tidak membahayakan fungsi ginjal.

23
Uji Fungsi Hati
Nilai SGOT seluruh kelompok menunjukkan nilai yang sangat tinggi sejak sebelum
perlakuan yaitu lebih dari 120 IU/l, sedangkan nilai normal adalah 45,7-80,8 IU/l.
Nilai cenderung lebih tinggi pada hari ke-45 dan turun ke nilai awal pada hari ke-90.
Uji secara statistik menunjukkan berbeda tidak nyata (:0,05) baik antar kelompok
maupun antar periode waktu. Demikian dengan SGPT, nilai telah sangat tinggi
mencapai 3-4 kali nilai normal (17,5-30,2 IU/l). Nilai juga cenderung naik pada hari
ke-45 dan turun ke nilai awal pada hari ke-90. Uji secara statistik menunjukkan
berbeda tidak nyata (:0,05) baik antar kelompok maupun antar periode waktu.

Tabel 4. Nilai SGOT dan SGPT pada Kelompok Toksisitas Subkronik


SGOT SGPT
H0 H45 H90 H0 H45 H90
Kontrol 141,8027,88 179,5022,72 145,2056,62 74,3012,11 121,8026,89 68,5016,76
Dosis 1350
mg/kg 128,3020,93 201,609,67 126,7021,78 53,6013,75 119,8013,98 70,1012,11
Dosis 2700
mg/kg 132,2011,16 201,7016,10 139,3046,89 54,508,81 122,4019,36 61,9016,45
Dosis 5400
mg/kg 125,3017,20 207,2016,47 100,7822,02 63,709,39 107,304,03 59,6712,25
Dosis 10800
mg/kg 126,3013,98 177,605,40 137,8056,90 59,907,56 104,2010,77 61,606,55

Jamu tidak dapat dikatakan merusak fungsi dan organ hepar/ hati meskipun kadar
SGOT dan SGPT terukur sangat tinggi yang menjadi penanda baik atau buruknya
fungsi hepar seorang individu. Hali ini didukung oleh hasil pemeriksaan histologi
hepar (tabel 5)
Tabel 5. Pemeriksaan histopatologi organ hati pada kelompok toksisitas subkronik
Rusak
Normal
Piknotik Karioreksis Kariolisis Total
Kontrol 96,31,7 3,81,7 0,00,0 0,00,0 3,81,7
Dosis 1350
mg/kg 95,87,8 1,52,4 0,00,0 2,85,5 4,37,8
Dosis 2700
mg/kg 97,02,4 0,51,0 0,30,5 2,32,6 3,02,4
Dosis 5400
mg/kg 97,51,9 1,01,2 0,00,0 1,51,0 2,51,9
Dosis 10800
mg/kg 98,81,7 0,81,5 0,00,0 0,81,5 1,51,7

Dari tabel terlihat bahwa kondisi sel masih bagus dan hanya sedikit yang mengalami
kerusakan. Dari 100 sel yang diamati hanya 1-4 sel saja yang mengalami kerusakan.
Kondisi kerusakan sel kebanyakan dikarenakan sel mengalami piknotik. Piknotik

24
merupakan kondisi dimana inti sel mengalami penyusutan dan menjadi padat, secara
mikroskopik inti yang piknotik berwarna lebih gelap karena intik sel yang telah mati
tersebut lebih menyerap warna ketika proses pewarnaan jaringan.
VI. KESIMPULAN

1. Berdasarkan uji toksisitas akut ramuan jamu untuk dermatitis atopik aman,
tidak menyebabkan gejala keracunan maupun kematian.
2. Uji toksisitas subkronik menunjukkan pemberian jamu selama 90 hari tidak
menyebabkan munculnya gejala keracunan dan kematian.

25
VII. UCAPAN TERIMAKASIH
Terimakasih kami sampaikan kepada rekan-rekan tim atas selesainya kegiatan
penelitian ini dan Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional sebagai
penyandang dana kegiatan penelitian melalui DIPA 2015.

26
VIII. DAFTAR KEPUSTAKAAN

1. Abril-Gil, Mar; Massot-Clader, Maln; Prez-Cano, Francisco J.; Castellote,


Cristina; Franch,ngelsa; Castell, Margarida. A diet enriched with cocoa prevents
IgE synthesis in a rat allergymodel. Pharmacol Res. 2012. 65(6):603-8
2. Acuan Sediaan Herbal. 1 ed. 2000, Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat
dan Makanan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
3. Kim, Jin-Wou. Animal Models in Atopic Dermatitis. KAPARD-KAAACI and
West Pasific Allergy Symposium Joint International Congress. 2013: 120-122.
www.allergy.or.kr/journal/abst/2013s/17/pdf, diunduh pada tanggal 24 Februari
2015
4. Kim, Soon Re; Han-Seok Choi; Hye Sook Seo; Youn Kyung Choi; Yong Cheol
Shin; and Seong-Gyu Ko. Topical Application of Herbal Mixture Extract Inhibits
Ovalbumin- or 2,4-Dinitrochlorobenzene-Induced Atopic Dermatitis. Hindawi
Publishing Corporation, evidence Based Complementary and Alternative Medicine.
Vol.2012, Article ID 545497.
5. Lansida Herbal Technology. Rumput Teki (Cyperus rotundus L.). Cited on
February 21, 2012. Available from URL:
http://lansida.blogspot.com/2010/09/rumput-teki-cyperus-rotundus-l.html
6. Mehmet Ozgr Avincsal1, Seda Ozbal, Ahmet Omer Ikiz, Cetin Pekcetin, Enis
Alpin Gneri. Effects of Topical Intranasal Doxycycline Treatment in the Rat
Allergic Rhinitis Model. Clinical and Experimental Otorhinolaryngology Vol. 7,
No. 2: 106-111, June 2014
7. Pang, Yuxin et.al., Review: Blumea balsamifera A Phytochemical and
Pharmacological Review. Molecules 2014, 19, 9453-9477; dio: 10.3390/molecules
19079453
8. Ring, Johannes. What is Allergy in Global Atlas of Allergy. European Academy of
Allergy and Clinical Immunology. 2014: 2-3. www. eaaci.org
9. Ring, Johannes and Ulf Darsow. Eczema (E), Atopic Eczema (AE), and Atopic
Dermatitis (AD). World Allergy Organization.
www.worldallergy.org/public/allergic_disease_center/atopiceczema, diunduh pada
tanggal 5 Maret 2015
10. Sofia, Nalini, H., et. al., An Overview of Nut Grass (Cyperus rotundus) with
Special Reference to Ayush. World Journal of Pharmaceutical Research Vol. 3
Issue 6, 1459-1471.
11. Taufikurrahman,M., Shilpi,J.A., Ahmed,M.,Faiz Hossain,C., 2005, Preliminary
pharmacological studies on Piper chaba stem bark, J.Ethnopharmacol., 99(2),203-
209
12. Van Valkenburg, J.L.C.H. Conyza sumatrensis (Retz) E.H.Walker. In: Lemmens,
R.H.M.J dan Bunyapraphatsara, N. (Editors). Plant Resources of South-East Asia
No. 12(3). Medicinal & Poisonous Plants 3. Prosea Foundation, Bogor, Indonesia.
2003. pp. 134-135
13. Wijayanti, M. A., 1996. Peranan makrofag dalam imunitas terhadap infeksi
malaria: kajian kemampuan fagositosis dan sekresi Reactive Oxygen Intermediates
makrofag peritoneum mencit yang diimunisasi dan tidak diimunisasi In Vitro
[thesis]. Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

14. Mitruka, B dan Rawnsley, H. Clinical Biochemical and Hematological Reference


Values in Normal Experimental Animals an Normal Humans, 2nd ed. Masson
Publishing, USA. 1981.

27
15. WHO, 1993. Reserach Guidelines for Evaluating the Safety and Efficacy of Herbal
Medicine.

28
IX. PERSETUJUAN ATASAN YANG BERWENANG

Tawangmangu, Februari 2016

Menyetujui
Ketua PPI Ketua Pelaksana

Drs. Slamet Wahyono, M.Sc. Apt. drh. Galuh Ratnawati


NIP. 19650215 199503 1 001 NIP. 19840821 200812 2 001

Mengetahui
Kepala B2P2TO-OT Tawangmangu

Dra. Lucie Widowati, M.Si., Apt.


NIP. 19571121 198603 2 001

29