Anda di halaman 1dari 15

HIJAUAN PAKAN TERNAK (HPT)

RUMINANSIA
Hijauan Pakan Ternak Ruminansia

Keberhasilan dalam usaha peternakan khususnya Sapi, Kerbau, Kambing tidak pernah lepas
dari efisiensi kualitas dan kuantitas pakan ternak. Hijauan Pakan Ternak atau sering disebut
juga dengan singkatan HPT merupakan bahan pakan yang sangat penting bagi ternak
ruminansia terutama untuk Sapi, Kerbau, Kambing dan Domba. Hijuan merupakan pakan
yang sangat disukai oleh ternak Ruminanasia, maka ketersediaannya harus tercukupi setiap
saat demi keberhasilan bidang peternakan.

Dalam bidang usaha peternakan sering kita mangalami kendala dalam penyediaan Hijauan
Pakan Ternak (HPT) apalagi ketika musim kemarau. maka dari itu kita harus sejak awal
untuk mempersiapkan segala hal sebagai antisipasi kemungkinan-kemingkinan yang akan
terjadi yaitu dengan menyediakan lahan untuk memelihara atau budidaya hijauan pakan
ternak tersebut.

LAHAN-HIJAUAN-PAKAN-TERNAK

Hijauan yang merupakan sumber makanan ternak terutama ternak ruminansia selain
merupakan kebutuhan pokok untuk pertumbuhan dan sumber tenaga, juga merupakan
komponen yang sangat menunjang bagi produksi dan reproduksi ternak.Jenis hijauan seperti
rumput maupun kacang-kacangan (leguminosa) dalam bentuk segar atau kering haruslah
tersedia dalam jumlah yang cukup sepanjang tahun karena jenis hijauan ini umum
dikonsumsi oleh ternak. Pada prinsipnya hijauan yang disajikan pada ternak perlu memiliki
sifat-sifatyaitu disukai (palatable), mudah dicerna, nilai gizinya tinggi dan dalam waktu
yang pendek maupun tumbuh kembali. Hijauan pakan ternak dibagi kedalam dua bagian
yaitu bangsa rumput-rumputan dan leguminosa (semak dan pohon).

Kebutuhan hijauan akan semakin banyak sesuai dengan bertambahnya jumlah populasi ternak
yang dimiliki. Kendala utama di dalam penyediaan hijauan pakan untuk ternak terutama
produksinya tidak dapat tetap sepanjang tahun. Pada saat musim penghujan, produksi hijauan
makanan ternak akan melimpah, sebaliknya pada saat musim kemarau tingkat produksinya
akan rendah, atau bahkan dapat berkurang sama sekali (Sumarno, 1998).
Ketersediaan hijauan makanan ternak yang tidak tetap sepanjang tahun, maka diperlukan
budidaya hijauan pakan, baik dengan usaha perbaikan manajemen tanaman keras atau
penggalakan cara pengelolaan penanaman rumput unggul sehingga mutu setiap jenis hijauan
yang diwariskan oleh sifat enetic ene dipertahankan atau ditingkatkan. Dengan cara demikian
kekurangan akan hijauan pakan dapat diatasi, sehingga nantinya dapat mendukung
pengembangan usaha ternak ruminansia yang akan dilakukan (Kanisius, 1983).

Makanan hijauan merupakan semua bahan makanan yang berasal dari tanaman dalam bentuk
daun-daunan. Kelompok tanaman ini adalah rumput (graminae), leguminosa dan tumbuh-
tumbuhan lainnya. Kelompok hijauan biasanya disebut makanan kasar. Hijauan yang
diberikan ke ternak ada dalam bentuk hijauan segar dan hijauan kering. Hijauan segar adalah
makanan yang berasal dari hijauan dan diberikan ke ternak dalam bentuk segar. Sedangkan
hijauan kering adalah hijauan yang diberikan ke ternak dalam bentuk kering (hay) atau
disebut juga jerami kering (Edo, 2012).

Hijauan segar dan hijauan kering dapat dibudidayakan dengan memperhatikan mutu hijauan
tersebut yaitu sifat enetic dan lingkungan (keadaan tanah daerah, iklim dan perlakuan
manusia) agar dapat memenuhi kebutuhan gizi makanan setiap ternak dan membantu
peternak mengatasi kesulitan dalam pengadaan makanan ternak. Dalam mengusahakan
tanaman makanan ternak untuk mandapatkan hijauan yang produktivitasnya tinggi maka
perlulah tanaman makanan ternak diusahakan secara maksimal mulai dari pemilihan lokasi,
pemetaan wilayah, pengelolaan tanah, pemilihan bibit, penanaman, pemupukan,
pemeliharaan, panen dan usahausaha untuk memepertahankan dan meningkatkan mutu
(pascapanen) sampai dengan penanganan hijauan sebelum dikonsumsi ternak (Anonim,
2010).

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan dari isi yang akan dibahas dalam makalah ini maka dapat dituIis poin poin
masalah, yaitu sebagai berikut:
1. Apa itu rumput dan jenis-jenis rumput ?
2. Apa itu leguminosa dan jenis-jenis leguminosa ?

MAKSUD DAN TUJUAN

Adapun maksud dan tujuan dari pembutan makalah ini yaitu:


1. Untuk mengetahui rumput dan jenis-jenisnya
2. Untuk mengetahui leguminosa dan jenis-jenisnya.

TINJAUAN PUSTAKA

Rumput rumputan (Gramineae)


Rumput adalah tanaman yang paling efisien untuk merubah sinar matahari menjadi biomassa
dan pada saat yang sama mengkonversi karbondioksida menjadi oksigen. Ternak ruminansia
mampu mengubah biomassa ini, yang umumnya tidak dapat dicerna oleh manusia, menjadi
protein berkualitas tinggi melalui aktifitas mikroorganisme dalam rumen mereka. Rumput-
rumput memberikan tutupan tanah yang baik untuk mengurangi erosi sementara akar yang
sangat halus akan membentuk bahan organik dan membantu penyusupan air ke dalam tanah
(Sutaryono dan Partridge, 2002).

Leguminosa

Leguminosa termasuk dicotyledoneus dimana embrio mengandung dua daun biji/cotyledone.


Famili legume dibagi menjadi 3 group sub famili, yaitu: mimisaceae, tanaman kayu dan
herba dengan bunga regular, caesalpinaceae, tanaman dengan bunga irregular dan
papilonaceae, tanaman kayu dan herba ciri khas berbentuk bunga kupu-kupu (Susetyo, 1980).
Hijauan pakan jenis leguminose (polong-polongan) memiliki sifat yang berbeda dengan
rumput-rumputan, jenis legume umumnya kaya akan protein, Ca dan P. Leguminose
memiliki bintil-bintil akar yang berfungsi dalam pensuplai nitrogen, dimana di dalam bintil-
bintil akar inilah bakteri bertempat tinggal dan berkembang biak serta melakukan kegiatan
fiksasi nitrogen bebas dari udara. Itulah sebabnya penanaman campuran merupakan sumber
protein dan mineral yang berkadar tinggi bagi ternak, disamping memeperbaiki kesuburan
tanah (AAK, 1983). Kebanyakan tanaman pakan dan tanaman ekonomi penting termasuk
dalam papiloneceae group. Legume ada yang mempunyai siklus hidup secara annual, biennial
atau perennial (Soegiri et al., 1982).

Leguminosa memegang peranan penting sebagai hijauan pakan ternak dan rumput-rumputan
untuk ternak herbivora (Lubis, 1992). Dijelaskan lebih lanjut bahwa leguminosa mempunyai
sifat-sifat yang baik sebagai bahan pakan dan mempunyai kandungan protein dan mineral
yang tinggi. Tanaman leguminosa meskipun mempunyai kandungan nutrisi cukup tinggi
tetapi hanya dapat digunakan sebagai campuran pakan hijauan paling banyak 50% dari total
hijauan yang diberikan (Susetyo, 1980).

PEMBAHASAN

Hijauan merupakan sumber pakan utama untuk ternak ruminansia, sehingga untuk
meningkatkan produksi ternak ruminansia harus diikuti oleh peningkatan penyediaan hijauan
pakan yang cukup baik dalam jumlah maupun kualitas. Hijauan pakan ternak yang umum
diberikan untuk ternak ruminansia adalah rumput-rumputan yang berasal dari padang
penggembalaan atau kebun rumput, tegalan, pematang serta pinggiran jalan.

Peranan hijauan sebagai pakan adalah:


1) Mengandung hampir semua zat yang diperlukan hewan;
2) Khususnya di Indonesia, bahan pakan hijauan memegang peranan sangat penting, karena
bahan tersebut diberikan dalam jumlah yang besar.

Masing-masing ternak ruminansia, setiap harinya membutuhan konsumsi pokok berupa


hijauan pakan ternak 10% dari beratnya. Dalam ransum ternak ruminansia, rumput lebih
banyak digunakan. Hal ini dikarenakan selain harganya lebih murah juga untuk
memperolehnya relatif lebih mudah. Di samping itu, produktivitas rumput relatif lebih tinggi
dan lebih tahan terhadap tekanan defoliasi (pemotongan dan renggutan).

Beberapa faktor yang menghambat penyediaan hijauan pakan, yakni terjadinya perubahan
fungsi lahan yang sebelumnya sebagai sumber hijauan pakan menjadi lahan pemukiman,
lahan untuk tanaman pangan dan tanaman industri. Untuk mengatasi kekurangan rumput
ataupun hijauan pakan lainnya salah satunya adalah pemanfaatan limbah pertanian sebagai
pakan. Berdasarkan sumbernya hijauan dapat digolongkan dalam 2 golongan yaitu :

1. Graminae (rumput)
2. Leguminosa (kacang-kacangan)

Jenis Bahan Pakan Asal Hijauan

Hijauan pakan dapat dikelompokkan menjadi 2 macam, yakni jenis rumput-rumputan dan
jenis daun-daunan. Hijauan pakan rumput-rumputan dapat berupa rumput lapangan atau
rumput unggul. Hijauan pakan daun-daunan yang gizinya paling baik adalah daun
leguminosa. Jenis leguminosa umumnya memiliki kandungan protein yang lebih tinggi
dibandingkan dengan rumput-rumputan.

Rumput (Gramineae)

Rumput merupakan hijauan pakan yang memiliki ciri perakaran serabut, bentuk dan dasar
sederhana, perakaraan silindris, menyatu dengan batang, lembar daun terbentuk pada pelepah
yang muncul pada buku-buku (nodus) dan melingkari batang (Soedomo, 1985).

Rumput tergolong dalam Famili Gramineae yaitu tanaman monokotiledon (bijinya terdiri atas
satu kotiledon atau disebut juga berkeping satu). Struktur rumput relatif sederhana, terdiri
dari akar yang bagian atasnya silindris dan langsung berhubungan dengan batang. Batangnya
berbuku, helai daunnya keluar dari pelepah daun (sheath) pada buku batang. Malai rumput
terdiri atas beberapa bunga yang nantinya menghasilkan biji. Hampir semua rumput adalah
tanaman herba (tidak berkayu) sedangkan ukuran, bentuk dan pola tumbuhnya sangat
beragam.

Hingga saat ini dikenal tiga kawasan sebagai asal dari jenis-jenis rumput budidaya yaitu
kawasan Ero-Asia, Afrika Timur dan Amerika Selatan. Kawasan Ero-Asia tengah dan
Mediteran dikenal sebagai asal-usul berbagai species rumput temperate (empat musim).
Sedangkan rumput-rumput tropika yang dikenal berasal dari Afrika meliputi species-
species Adropogon, Brachiaria, Cenchrus, Chloris, Cynodon, Dichantium, Digitaria,
Eragrostis, Hyparrhenia, Melinis, Panicum, Pennisetum, Setaria, Sorghum dan
Urochloa. Sedangkan species-species yang dikenal berasal dari Amerika Selatan
adalahAxonopus, Paspalum, Tripsacum dan Zea.
Diantara berbagai species itu, yang paling populer di Indonesia adalah rumput gajah
(Pennisetum purpureum). Rumput dibedakan menjadi dua golongan yaitu rumput potong dan
rumput gembala (Soegiri et. al, 1982). Syarat rumput potong adalah produksi per satuan luas
cukup tinggi, tumbuh tinggi secara vertikal, banyak anakan dan responsif terhadap
pemupukan. Syarat rumput gembala adalah pendek atau menjalar (stolon), tahan renggut dan
injak, perakarannya kuat dan dalam, serta tahan kekeringan.

Rumput Sebagai Bahan Pakan

Tidak banyak dari belasan atau puluhan ribu species rumput yang kemudian terpilih menjadi
jenis-jenis rumput budidaya. Untuk tujuan memperbaiki padang rumput alam, membangun
pastura ataupun untuk keperluan pemuliaan hijauan pakan ternak terdapat karakteristik yang
diharapkan dari jenis-jenis rumput ataupun leguminosa yang akan diseleksi. Karakteristik
harapan itu dapat bersifat umum atau spesifik.

Kemampuan Produksi dan Kualitas Tinggi. Artinya, bahwa hijauan mampu menghasilkan
bahan kering yang tinggi, toleran terhadap cekaman air, temperatur tinggi ataupun rendah,
mempunyai tingkat kecernakan dan palatabilitas tinggi sehingga dapat dikonsumsi ternak
dalam jumlah tinggi pula.

Persisten

Berbeda dengan tanaman pangan maka hijauan pakan ternak, rumput atau leguminosa,
diharapkan untuk lebih permanen pada pastura. Untuk itu maka mereka diharapkan untuk
tahan terhadap pemotongan normal ataupun penggembalaan, mampu menghasilkan biji,
tahan kekeringan, temperatur ekstrim dan api serta tahan terhadap penyakit dan serangan
hama.

Mampu Berasosiasi Dengan Species Lain


Berbagai pasture seringkali dibangun dengan mencampur rumput dan leguminosa dengan
tujuan menyediakan hijauan berkualitas tinggi secara kontinyu, menyediakan ransum
seimbang dalam hal protein, energi dan mineral serta menekan kebutuhan pupuk nitrogen
dengan memanfaatkan transfer nitrogen dari leguminosa pada rerumputan. Terkait dengan hal
ini, beberapa faktor yang relevan dengan kemampuan ber-asosiasi yang perlu diperhatikan
adalah sifat tumbuh tanaman (membelit, merayap atau vertikal), kemampuan berkompetisi
atas unsur hara ataupun sinar matahari, mempunyai palatabilitas baik dan mempunyai respon
yang positip terhadap pemotongan.

Mudah Dikembangbiakkan
Meskipun diketahui berbagai jenis rerumputan ataupun leguminosa dapat dikembangbiakkan
dengan stek ataupun sobekan rumpun (secara vegetatip) tetapi kemampuannya untuk
menghasilkan biji perlu mendapatkan perhatian. Hal tersebut untuk memastikan adanya
regenerasi tanaman seandainya terjadi keadaan alamiah yang tidak diharapkan seperti musim
kering yang panjang dan memungkinkan pembuatan padang rumput baru melalui cara
generatip. Apabila kemampuan hijauan pakan ternak menghasilkan biji adalah buruk maka
kemungkinan akan menimbulkan beberapa masalah seperti mahalnya harga biji tanaman itu
dan kegiatan seleksi serta pemuliaan dapat terhambat karena biji yang tersedia untuk evaluasi
hanya sedikit.

Jenis-jenis Rumput

Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)

PEMOTONGAN-RUMPUT-GAJAH

Rumput gajah berasal dari Afrika daerah tropik, perennial, dapat tumbuh setinggi 3 sampai
4,5 m, bila dibiarkan tumbuh bebas, dapat setinggi 7 m, akar dapat sedalam 4,5 m.
Berkembang dengan rhizoma yang dapat sepanjang 1 m. Panjang daun 16 sampai 90 cm dan
lebar 8 sampai 35 mm (Sutopo, 1988). Rumput gajah mempunyai perakaran dalam dan
menyebar sehingga mampu menahan erosi serta dapat juga berfungsi untuk menutup
permukaan tanah (Soegiri et. al, 1982).

Rumput gajah adalah tanaman tahunan, tumbuh tegak, mempunyai perakaran dalam dan
berkembang dengan rhizoma untuk membentuk rumpun (Soedomo, 1985). Adaptasi rumput
ini toleran terhadap berbagai jenis tanah, tidak tahan genangan, tetapi responsif terhadap
irigasi, suka tanah lempung yang subur, tumbuh dari dataran rendah sampai pegunungan,
tahan terhadap lindungan sedang dan berada pada curah hujan cukup, sekitar 1000 mm/tahun
atau lebih. Kultur teknis rumput ini adalah bahan tanam berupa pols dan stek, interval
pemotongan 40 60 hari, responsif terhadap pupuk nitrogen, campuran dengan legum seperti
Centro dan Kudzu, produksinya 100 200 ton/ha/th (segar), 15 ton/ha/th (BK), renovasi 4 8
tahun (Reksohadiprodjo, 1985). Rumput Gajah toleran terhadap berbagai jenis tanah, tidak
tahan genangan, tetapi respon terhadap irigasi, suka tanah lempung yang subur, tumbuh dari
dataran rendah sampai pegunungan, tahan terhadap lingkungan sedang dengan curah hujan
cukup, 1000 mm/th atau lebih (Susetyo, 1985).
Rumput Raja (Pennisetum purpupoides)

RUMPUT-RAJA

Rumput raja pertama kali dihasilkan di Afrika Selatan, termasuk dalam famili Graminae, sub
famili Poanicoidea dan tribus Paniceae. Rumput raja termasuk tanaman perennial, beradaptasi
dengan baik di daerah tropis, tanah tidak terlalu lembab dengan drainase yang baik
(Widjajanto, 1992).

Rumput raja tumbuh tegak membentuk rumpun, tumbuh dengan baik di dataran rendah
sampai tinggi dengan curah hujan sekitar 1000 1500 mm/th, tidak tahan naungan dan
genangan air, hidup pada tanah dengan pH sekitar 5. Tanaman ini tidak dapat diperbanyak
dengan menggunakan stek dengan panjang sekitar 25 30 cm atau 2 ruas (Reksohadiprodjo,
1985).

Rumput Raja mempunyai ciri-ciri antara lain: tumbuh berumpun rumpun, batang tebal,
keras, helaian daun panjang dan ada bulu serta permukaan daunnya luas. Produksi rumput
Raja segar dapat mencapai 40 ton /hektar sekali panen atau antara 200 250 ton/hektar/tahun
(Rukmana, 2005). Tanaman rumput raja dapat dikombinasikan dengan tanaman legum agar
karakternya lebih meningkat. Rumput raja berfungsi mencegah kerusakan tanah akibat erosi
yang melanda permukaan tanah akibat sapuan air pada musim penghujan (Syarief, 1986).
Bahan tanaman rumput raja ada dua macam yaitu dengan stek dan robekan rumpun yang
dapat tumbuh pada tempat sampai ketinggian 1500 meter dari permukaan air laut (Sukamto,
2006).

Rumput Setaria (Setaria sphacelata)

Rumput setaria dikenal dengan sebutan rumput Goden Timothy atau Setaria sphacelata,
berasal dari Afrika tropik dan memilki siklus hidup parenial. Rumput setaria merupakan
tanaman yang dapat membentuk rumpun yang lebat, kuat, dengan atau tanpa stolon dan
rhizoma (Reksohadiprodjo, 1985). Rumput Setaria daunnya lebar dan agak berbulu pada
permukaan atasnya. Pangkal batangnya berwarna cokelat keemasan. Setaria sphacelata
biasanya dikembangbiakkan dengan pols (Soegiri et. al, 1982).

Rumput ini ketika dewasa dapat mencapai ketingian 180 cm, tahan kering dan genangan,
hidup pada ketinggian 1000 kaki, dan pada curah hujan 25 inchi pertahunnya
(Reksohadiprodjo, 1985). Rumput setaria yang dipotong pada umur 43 56 hari mempunyai
kandungan bahan kering, lemak kasar, serat kasar, BETN, protein kasar, dan abu masing-
masing sebesar 20,0%; 2,5%; 31,7%; 45,2%; 9,5%; dan 2,2 %. Pada kondisi optimum,
Setaria memiliki kandungan protein kasar lebih dari 18 % dan serat kasar 25 % (Soedomo,
1985). Rumput setaria tumbuh baik pada curah hujan 750 mm/th atau lebih, toleran terhadap
berbagai jenis tanah tetapi lebih suka pada tanah tekstur sedang, tahan genangan dan kering
apabila lapisan olah dalam. Kultur teknisnya adalah bahan tanam berbentuk pols, biji (2 5
kg/ha), jarak tanam 70 x 90 cm, responsif terhadap pupuk nitrogen, pemotongan 35 40 hari
(musim hujan) dan 60 hari (musim kemarau) (Reksohadiprodjo, 1985).

Rumput Benggala (Panicum maximum)

Panicum maximum atau rumput Benggala atau disebut juga Guinea grass berasal dari Afrika
tropik dan sub tropik. Rumput jenis ini dapat berfungsi sebagai penutup tanah,
penggembalaan, ataupun diolah dalam bentuk hay dan silase (Reksohadiprodjo, 1985). Ciri
tanaman ini adalah tumbuh tegak membentuk rumpun, tinggi dapat mencapai 1 1,8 m, daun
lebih halus daripada rumput gajah, buku dan lidah daun berbuku, banyak membentuk anakan,
bunga tersusun dalam malai dan berwarna hijau atau kekuningan, serta akar serabut dalam
(Setyati,1980).

Sifat hidup dari Panicum maximum adalah perennial, tumbuh baik pada daerah dataran
rendah sampai 1959 dari permukaan laut, curah hujan yang sesuai untuk rumput jenis ini
adalah 1000 2000 mm/thn, rumput jenis ini tahan kering tetapi tumbuh baik jika cukup air
walaupun tidak tahan genangan (Setyati, 1980).

Panicum maximum juga tahan naungan, responsif terhadap pupuk nitrogen, dan juga tahan
penggembalaan sehingga dapat dijadikan rumput potong ataupun pastura Pengelolaan
tanaman ini dapat dilakukan dengan budidaya total, untuk perbanyakan tanaman ini dapat
menggunakan biji 4 12 kg/ha atau dengan menggunakan sobekan rumput, jarak tanam yang
sesuai adalah 60 x 60 cm (Soegiri et. al, 1982). Panicum maximum dapat ditanam bersama
leguminosa Centrosema dengan perbandingan 4 6 kg Panicum per ha dan 2 3 kg Centro
per ha atau dalam baris-baris berseling Pemotongan dapat dilakukan 40 60 hari sekali atau
dengan kata lain pemotongan pertama dapat dilakukan 2 3 bulan. Pembongkaran kembali
dapat dilakukan setelah 5 7 tahun (Widjajanto,1992). Panicum maximum mampu
menghasilkan produksi biji 75 300 kg/ha dan menghasilkan produksi hijauan sebanyak 100
150 ton bahan kering per ha per tahun.

Legum (Leguminoceae)
LEGUM ( LEGUMINOCAE)

Leguminosa adalah tanaman dikotilledon (bijinya terdiri dari dua kotiledon atau disebut juga
berkeping dua). Famili tanaman leguminosa terbagi atas tiga sub-famili yaitu Mimosaceae,
Caesalpinaceae dan Papilionaceae.

Mimosaceae adalah tanaman perdu berkayu dengan bunga biasa sedangkan Caesalpinaceae
mempunyai bunga irregular. Adapun Papilionaceae adalah tanaman semak berkayu dengan
bunga papilionate atau berbentuk seperti kupu. Antar jenais leguminosa terdapat perbedaan
morfologi. Umumnya, sistem perakaran leguminosa terdiri atas akar primer yang aktif dan
mempunyai cabang-cbang sebagai akar sekunder. Akar primer (tap root) tumbuh jauh
kedalam tanah. Sistem perakaran itu umumnya terinfeksi oleh bakteri dari species Rhizobium
sehingga terbentuk bintil-bintil atu nodul-nodul akar. Famili legume dibagi menjadi 3 group
sub famili, yaitu: mimisaceae, tanaman kayu dan herba dengan bunga
regular, caesalpinaceae, tanaman dengan bunga irregular danpapilonaceae, tanaman kayu
dan herba ciri khas berbentuk bunga kupu-kupu (Susetyo, 1980).

Hijauan pakan jenis leguminose (polong-polongan) memiliki sifat yang berbeda dengan
rumput-rumputan, jenis legume umumnya kaya akan protein, Ca dan P. Leguminose
memiliki bintil-bintil akar yang berfungsi dalam pensuplai nitrogen, dimana di dalam bintil-
bintil akar inilah bakteri bertempat tinggal dan berkembang biak serta melakukan kegiatan
fiksasi nitrogen bebas dari udara. Itulah sebabnya penanaman campuran merupakan sumber
protein dan mineral yang berkadar tinggi bagi ternak, disamping memeperbaiki kesuburan
tanah (AAK, 1983).

Peran penting dari leguminosa tropika sebagai hijauan pakan untuk pastura maupun pakan
ternak ruminansia baru mendapatkan perhatian sejak tiga dekade yang lalu. Sebelum kurun
waktu itu, ilmuwan lebih memperhatikan jenis-jenis leguminosa temperate seperti species-
species dari genus Medicago, Trifolium, Vicia dan Melilotus. Melalui riset maka dari benua
Afrika mulai dikenal manfaat jenis-jenis leguminosa tropika seperti dari genus Glycine,
Vigna, Indigofera, Dolichos dan Alysicarpus. Sedangkan dari kawasan Amerika tropis
dikenal jenis-jenis leguminosa pakan ternak seperti dari genus Calopogonium, Centrosema,
Desmodium, Leucaena, Phaseolus, Stylosanthes dan Teramnus.

Jenis jenis Leguminosa

Sentro (Centrosema pubescens)

Centrosema pubescens berasal dari Amerika selatan tropis dan memiliki fungsi sebagai
tanaman penutup tanah, tanaman sela, dan pencegah erosi. Legum Centrosema pubescens
termasuk sub familia Papiloniceae dari famili Leguminoceae (Soedomo, 1985). Batang
Centro panjang dan sering berakar pada bukunya, tiap tangkai berdaun tiga lembar, berbentuk
elips dengan ujung tajam dan bulu halus pada kedua permukaannya. Bunga berbentuk tandan
berwarna ungu muda bertipe kacang ercis dan kapri. Polong berwarna coklat gelap, panjang
12 cm, sempit dengan ujung tajam terdiri dari 20 biji (Widjajanto, 1992).

Centrosema pubescens tumbuh dengan membelit pada tanaman lain atau menjalar di pagar
dan juga menjalar bersamasama dengan rumput menutupi permukaan tanah. Batang
panjang, sering berakar pada bukunya, daun dengan tiga anak daun yang berbentuk telur
dengan ujung tajam, berambut, panjangnya 5 12 cm dan lebar 3 10 cm (Susetyo, 1985).

Kalopo (Calopogonium mucunoides)

Calopogonium muconoides berasal dari Amerika Selatan Tropik bersifat perennial, merambat
membelit dan hidup di daerah daerah yang tinggi kelembabannya (Reksohadiprodjo, 1985).
Pertumbuhan kalopo menjalar, merambat, tidak tahan terhadap penggembalaan, tidak tahan
naungan yang lebat akan tetapi dapat tumbuh dengan baik didaerah yang lembab (Sukamto,
2006).

Kalopo memiliki batang lunak ditumbuhi bulu-bulu panjang berwarna cokelat dan daunnya
ditutupi oleh bulu halus berwarna cokelat keemasan, sehingga kurang disukai oleh ternak
(Soegiri et. al ,1982). Kalopo biasa dikembangbiakkan dengan dengan biji dan mampu
tumbuh baik pada tanah sedang sampai berat pada ketinggian 200 1000 m diatas permukan
laut dan membutuhkan curah hujan tahunan sebesar 1270 mm (Reksohadiprodjo, 1985).

Gamal (Gliricidia sepium)


RUMPUT-GAMAL

Gamal adalah sejenis legum yang mempunyai ciri-ciri tanaman berbentuk pohon, warna
batang putih kecoklatan, perakaran kuat dan dalam (Syarief, 1986). Gamal merupakan
leguminosa berumur panjang, tanaman ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan
dengan temperatur suhu antara 20 30 oC dengan ketinggian tempat antara 750 1200 m.

Tanaman ini mampu hidup di daerah kering dengan curah hujan 750 mm/thn dan tahan
terhadap genangan. Perkembangan tanaman ini dengan stek, dengan banyak cabang dan
responsif terhadap pupuk N (Soedomo, 1985). Penanaman gamal yang harus diperhatikan
yaitu jarak tanaman dibuat 2 2,5 m antar baris. Tanaman gamal tinggi menjulang dengan
batang lurus panjang. Kulit batangnya mudah sekali lecet atau terkelupas. Bunga gamal
tersusun dalam rangkaian dengan warna merah muda keputihan. (Reksohadiprodjo, 1985).
Komposisi nutrisi daun gamal terdiri atas bahan kering 23%; protein kasar 25,2%; lemak
4,9%; BETN 55,5% (Rukmana, 2005).

Fungsi Tanaman:

Tanaman pelindung,pagar,makanan ternak,dan penahan erosi.Dapat diperbayak dengan


menggunakan stek ataupun biji. Gamal ditanam sebagai penahan angin, bank protein, pakan
ternak dan pagar hidup. Tanaman yang diperbanyak dengan setek sudah dapat dipanen
perdana pada usia di bawah 1 tahun. Biasanya 8-10 bulan. Sedangkan pada tanaman biji,
hasil biomasa baru dapat diperoleh pada usia sekira 2 tahun.Penanaman setek lebih baik
berasal dari batang bawah tanaman yang cukup usia (diatas 2 tahun), diameter batang cukup
besar (diatas 4cm) dengan panjang setek bervariasi mulai dari 40cm sampai 1.5m. Jarak
tanam juga bervariasi, antara 40 -50cm sampai dengan 1.5 5m tergantung
kebutuhan. Gamal mengandung nilai gizi yang tinggi. Protein kasar berada diantara 18-30%
dan nilai ketercernaan 50-65%.

Walaupun sangat bermanfaat bagi ternak, tingkat racun dalam Gamal juga sudah dikenal
sejak lama. Sekurang-kurangnya ada beberapa jenis komponen racun dalam
Gamal,diantaranya dicoumerol, suatu senyawa yang mengikat vitamin K dan dapat
mengganggu serta menggumpalkan darah.
Kaliandra (Calliandra calothrysus)

KALIANDRA

Tinggi tanaman (pohon) kaliandra dapat mencapai 8 m. tanaman kaliandra dapat tumbuh di
dataran rendah hingga ketinggian 1500 m dpl, toleran terhadap tanah yang kurang subur,
dapat tumbuh cepat dan berbintil akar sehingga mampu menahan erosi tanah dan air.Manfaat
kaliandra pada makanan ternak adalah sebagai bank protein. Penanaman kaliandra pada
tanah-tanah yang kurang produktif dapat menekan pertumbuhan gulma. Selain itu tanaman
ini dapat digunakan sebagai tanaman penahan erosi dan penyubur tanah. Daun kaliandra
mudah dikeringkan dan dapat dibuat sebagai tepung makanan ternak kambing.

Turi ( Sesbania grandiflor)

Berasal dari daerah srilangka.Tumbuh pada dataran rendah sampai dataran tinggi (1.200m),
dengan curah hujan 2.000 mm/tahun.Termasuk sejenis tanaman semak.Di Indonesia banyak
ditanam di pematang sawah. Sifat khusus dari tanaman turi adalah pertumbuhannya yang
begitu cepat, tinggi tanaman bisa mencapai 10 meter, dan bunga besar berbentuk seperti
kupu-kupu berwarna merah muda,putih atau ungu. Berdaun keci-kecil dan bulat,buahnya
berbentuk polong yng panjang.Turi dapat beradaptasi pada tanah asam yang tidak subur,tanah
kapur, kadang-kadang juga tumbuh subur pada tanah yang tergenang air.

Digunakan sebagai makanan ternak karena :


1. Merupakan sumber vitamin,terutama pro vitamin A,Vitamin B,C,E.
2. Sumber mineral,terutama Ca,dan P.

Lamtoro Gung (Leucaena leucocephala)


LAMTORO-GUNG

Leucaena leucocephala atau lamtoro merupakan leguminosa yang berasal dari Amerika
tengah, Amerika selatan dan Kepulauan Pasifik. Tanaman ini tumbuh tegak, berupa pohon
dan tidak berduri (Sutopo, 1988). Lamtoro dapat tumbuh pada daerah dataran rendah sampai
dengan 500 m di atas permukaan air laut dengan curah hujan lebih dari 760 mm/th (Soedomo,
1985). Lamtoro dapat tumbuh baik pada tanah dengan tekstur berat dengan drainase yang
baik dan sangat responsif terhadap Ca dan P pada tanah masam (Susetyo, 1985).Berasal dari
amerika tengah dan selatan.Tumbuh pada ketinggian 0-1200 m dpl,dengan struktur tanah
sedang sampai berat,dan dapat tumbuh pada tanah yang kurang subur.Curah hujan 700-1.650
mm/tahun,temperature 20-30oc. Tanaman ini berbentuk pohon yang bisa mencapai
ketinggian 10 m dan memiliki akar yang cukup dalam.Daunnya kecil-kecil,bentuknya
lonjong,bunganya bertangkai.

Tanaman ini toleran terhadap hujan,angin,kekeringan,serta tanah-tanah yang kurang


subur. Lamtoro lebih sesuai pada tanah yang tidak masam (pH 5,5-7,5) dan kurang baik
tumbuhnya apabila tanah masam (pH 4-5,5). Gliricidia mempunyai daya toleransi yang lebih
tinggi terhadap kemasaman tanah, tahan pangkasan dan cepat kembali bertunas sesudah
pemangkasan. Kaliandra mempunyai daya adaptasi yang cukup luas tetapi kalah populer
dibandingkan dengan gliricidia. Lamtoro dapat digunakan sebagai tanaman makanan ternak,
tanaman pelindung, mempertahankan kesuburan tanah dan mencegah erosi.Jarak tanam:180-
240 cm.pemotongan pertama dapat dilakukan pada waktu tanam berumur 6 9 bulan
kemudian pemotongan dapat diulangi 4 bulan sekali.

Bahan tanam dari lamtoro adalah berupa biji dan stek. Lamtoro dapat dipotong pertama kali
setelah mencapai tinggi 0,6 0,9 m yaitu sekitar umur 4 6 bulan, dengan interval
pemotongan 2 3 bulan (Soegiri et. al, 1982). Tanaman lamtoro dapat di tanam bersama
dengan rumput Guinea. Daun muda lamtoro terdapat racun mimosin (Sutopo, 1988). Lamtoro
berakar dalam, mempunyai ketinggian antara 6,5 sampai 33 ft. Daun daunnya berkurang,
berbunga dengan bentuk bola berwarna putih kekuning-kuningan atau merah muda. Lamtoro
dapat ditanam untuk makanan ternak, pemotongan pertama dapat dilakukan 6 9 bulan
sesudah penyebaran bijinya, pemotongan dilakukan sampai sisa tanaman adalah 2 sampai 4
inchi dari atas tanah dan kemudian pemotongan berikutnya dapat dilakukan tiap 45 bulan
sekali. Petai cina atau lamtoro ini dapat ditanam sebagai tanaman annual dan perennial
(Reksohadiprodjo, 1985).

Puero (Pueraria phaseoloides)

Puero (Pueraria phaseoloides) memiliki kultur teknis dikembangbiakkan dengan biji (Susilo,
1991). Puero termasuk tanaman jenis legum berumur panjang, yang berasal dari daerah
subtropis, tetapi bisa hidup di daerah tropik dengan kelembaban yang tinggi. Tanaman ini
tumbuh menjalar dan memanjat (membelit), bisa membentuk hamparan setinggi 6075 cm
(Sutopo, 1985). Puero berasal dari India Timur, siklus hidupnya perenial. Ciri-cirinya tumbuh
merambat, membelit dan memanjat. Sifat perakarannya dalam, daun muda tertutup bulu
berwarna coklat, daunnya berwarna hijau tua dan bunganya berwarna ungu kebiruan (Soegiri
et al., 1982).

Orok-orok (Crotalaria juncea)

Crotalaria juncea L, meruapakan species yang tinggi nilainya, karena bermanfaat sebagai
pupuk hijau, pakan ternak, dan produksi serat yang mempunyai peranan penting untuk
dipakai sebagai bahan untuk industri kertas (Bang, 1990). Ciri-ciri tanaman ini adalah
batangnya tumbuh tegak lurus, berbentuk bulat dan sedikit di atas permukaan tanah melebar.
Warna kulit batang hijau muda atau hijau kekuning-kuningan. Cabangnya tumbuh memancar
dan terdapat sepanjang batang dari pangkal sampai ujung. Tinggi batang, dari tanah sampai
ujung, berdaun tunggal dan letaknya tersebar. Tangkai daun pendek, sedangkan daunnya
berbentuk taji dengan tepi yang rata dengan ukuran panjang 3,5 sampai 5 cm dan lebar 0,75
sampai 1,95cm. Daun berwarna hijau muda berbulu halus seperti beludru, baik pada helaian
atas maupun bawah dan berakhir pada ujung helaian daun (Joenoes, 1978).

Kesimpulan

Sebagai makanan ternak, hijauan memegang peranan sangat penting, sebab hijauan
mengandung hampir semua zat yang diperlukan hewan ternak, khususnya di Indonesia, bahan
makanan hijauan memegang peranan istimewa, karena bahan tersebut diberikan dalam
jumlah yang besar. Kesemuanya ini dapat dibuktikan, bahwa ternak seperti kerbau, sapi,
domba dan kambing yang diberi makanan hijauan sebagai bahan makanan tunggal, masih
bisa mempertahankan hidupnya, bahkan mampu tumbuh dan berkembang biak dengan baik.
Namun demikian penyediaan hijauan pakan ternak harus diperhatikan ketersediaannya
dengan cara
membudidayakannya pada lahan yang luas, dengan cara menanam dan memeliharanya
dengan baik dan benar agar terpenuhi pakan tersebut baik ketika musim penghujan maupun
ketika musim kemarau.