Anda di halaman 1dari 24

1 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

MAKALAH
PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perbaikan Tanah
Dosen : Achmad Zultan, ST.,MT. dan Fuad Harwadi, ST., MT.

Oleh :
Ardy Fajar Saputro
14301010024

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
2017

ARDY FAJAR SAPUTRO


14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
2 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT. Yang telah
melimpahkan rahmat dan karuniaNya pada kami, salawat beserta salam semoga
Allah limpah curahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, beserta keluarga,
sahabat, dan umatnya sampai akhir zaman.
Upaya maksimal telah saya lakukan untuk menyelesaikan tugas makalah
Perbaikan Tanah Dengan Geosintetik ini dengan harapan dapat mencapai hasil
sebaik mungkin. Saya menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih kurang
dari harapan mengingat kemampuan yang dimiliki terbatas.
Sehingga, kritik dan saran saya harapkan untuk kemajuan pengetahuan serta
kemampuan saya untuk kedepannya. Makalah ini juga tidak akan berhasil tanpa
berbagai pihak yang telah rela membantu pembuatannya. Maka saya
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu.
Akhirnya, saya berharap makalah ini dapat memberikan manfaat dan
sumbangan pemikiran bagi saya khususnya dan para pembaca pada umumnya.

Tarakan, 22 Mei 2017

Penulis

ARDY FAJAR SAPUTRO


14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
3 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

DAFTAR ISI

JUDUL .................................................................................................................. 1
KATA PENGANTAR ......................................................................................... 2
DAFTAR ISI ......................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 4
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 4
1.3 Maksud dan Tujuan................................................................................. 4
BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................... 5
2.1 Pengertian dan Pembahasan Umum ...................................................... 5
2.2 Klasifikasi Geosintetik ......................................................................... 5
2.2.1 Geotekstil ..................................................................................... 5
2.2.2 Geogrid ........................................................................................ 8
2.2.3 Geomembran ............................................................................... 8
2.3 Identifikasi Geosintetik.......................................................................... 9
2.4 Fungsi Geosintetik ................................................................................. 10
2.5 Aplikasi dan Dasar Perencanaan ........................................................... 12
2.5.1 Aplikasi pada timbunan di atas tanah lunak ............................... 12
2.5.2 Aplikasi pada perkuatan lereng ................................................... 16
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 22
3.1 Kesimpulan ............................................................................................ 22
DAFTAR PUSTAKA

ARDY FAJAR SAPUTRO


14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
4 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam ilmu rekayasa teknik sipil seperti geoteknik salah satu permasalahan
yang terjadi adalah daya dukung tanah yang tidak sesuai dengan harapan.
Dimana kondisi ini dapat membahayakan struktur yang ditopangnya. Untuk itu
perlu dilakukan perbaikan atau perkuatan tanah agar daya dukung tanah bisa
meningkat.
Banyak hal yang bisa dilakukan untuk melakukan hal tersebut. Seperti
compaction, sand drain, geosintetis dan lain-lain. Salah satu yang sering
digunakan adalah dengan geosintetis.

Geosintetis Istilah umum untuk produk berbentuk lembaran yang terbuat


dari bahan polimer lentur, digunakan dengan tanah, batuan, atau material
geoteknik lainnya, sebagai suatu kesatuan pekerjaan buatan manusia, struktur,
maupun sistem (ASTM D 4439)

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam makalh ini adalah sebagai berikut :
a. Pengertian dan gambaran awal geosintetik.
b. Klasifikasi dan identifikasi geosintetik.
c. Fungsi Geosintetik.
d. Aplikasi dan dasar perencanaan geosintetik.

1.3 Maksud dan Tujuan


Maksud dari penulisan makalah ini adalah agar pembaca memahami apa itu
geosintetik dan apa saja yang bagian bagian dari geosintetik , serta fungsi
dan aplikasi pemasangan geosintetik itu sendiri

ARDY FAJAR SAPUTRO


14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
5 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian dan Pembahasan Umum

Geosintetik merupakan Istilah umum untuk produk berbentuk lembaran


yang terbuat dari bahan polimer lentur,digunakan dengan tanah, batuan, atau
material geoteknik lainnya, sebagai suatukesatuan pekerjaan buatan manusia,
struktur, maupun sistem (ASTM D 4439).
Geogrid adalah Produk geosintetik yang terdiri dari jaringan yang beraturan
dan terhubung satu samalainnya, dengan ukuran bukaan lebih besar dari 6,35
mm sehingga memungkinkanuntuk saling mengunci dengan tanah, batuan
ataupun struktur lain di sekitarnya sertamemiliki fungsi primer sebagai
perkuatan (ASTM D 4439).
2.2 Klasifikasi Geosintetik
Klasifikasi geosintetik pada dasarnya, geosintetik terbagi menjadi dua
yaitu tekstil dan jaring (web). Berdasarkan bahannya, kedua jenisgeosintetik
dibagi menurut bahan sintetik dan alami. Sebagian besar geosintetikterbuat dari
polimer sintetik seperti polipropilena (PP), poliester (PET) atau
polietilena(PE). Material polimer tersebut sangat tahan terhadap degradasi
biologis dan kimiawi.Jenis lain yang jarang digunakan adalah poliamida (PA)
atau nilon dan serat kaca.Bahan alami (seperti serat kapas, rami) juga dapat
digunakan seperti geotekstil,terutama untuk aplikasi yang bersifat sementara.
2.1.1 Geotekstil
Berdasarkan sifat permeabilitas, geosintetik terbagi menjadi kedap air
dan lolos air.Geotekstil adalah jenis geosintetik yang lolos air yang berasal
dari bahan tekstil.Geomembran merupakan jenis geosintetik kedap air
yang biasa digunakan sebagai penghalang zat cair.
Dalam proses pembuatan geotekstil, elemen tekstil seperti serat-serat
atau beberapauntaian serat (yarn) dikombinasikan menjadi struktur tekstil
lembaran. Elemen tersebutdapat berupa filamen (serat menerus) berbentuk

ARDY FAJAR SAPUTRO


14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
6 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

benang polimer tipis dan panjangatau serabut serat (staple fiber) berbentuk
filamen pendek dengan panjang antara 20-150 mm.

Gambar. 2.1 klasifikasi geosintetik


Elemen tekstil tersebut juga dapat dibuat dengan memotong suatu
lembaranplastik atau film untuk membentuk pita tipis datar. Pada filamen
ARDY FAJAR SAPUTRO
14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
7 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

dan potongan film (slitfilm), proses pengeluaran atau penarikan akan


memanjangkan polimer dalam arahpenarikan sehingga meningkatkan
kekuatan filament.
Jenis geotekstil kemudian dibagi berdasarkan metode yang digunakan
untuk mengkombinasikan filamen atau pita menjadi struktur lembaran. Jenis
geotekstil yang utama adalah tak-teranyam (non-woven)

Gambar. 2.1.1 geotekstile non-woven


dan teranyam (woven). Geotekstil teranyam terbuat dari monofilamen,
multifilamen, fibrillated yarns atau dari potongan film danpita. Proses
penganyaman untuk geosintetik teranyam sama dengan pembuatan
tekstilbiasa. Geotekstil tak-teranyam dilakukan dengan teknologi canggih
dimana seratpolimer atau filamen didesak keluar dan dipuntir secara
menerus, ditiup atauditempatkan pada suatu sabuk berjalan. Kemudian
massa filamen atau serat tersebut. Disatukan dengan proses mekanis dengan
tusukan jarum-jarum kecil atau disatukandengan panas dimana serat
tersebut dilas oleh panas dan/atau tekanan pada titikkontak serat dengan
massa teksil tak-teranyam.

Gambar. 2.1.2 geotekstil woven (Teranyam)


ARDY FAJAR SAPUTRO
14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
8 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

2.1.2 Geogrid
Geogrid merupakan suatu contoh dari jenis geosintetik yang
berbentuk jaring (web).Fungsi geogrid yang utama adalah sebagai
perkuatan. Geogrid dibentuk oleh suatu jaring teratur dengan elemen-
elemen tarik dan mempunyai bukaan berukuran tertentu sehingga saling
mengunci (interlock) dengan bahan pengisi di sekelilingnya.
Saat ini terdapat material yang secara teknis tidak dapat disebut
tekstil, misalnya jaring, grid, net, jala (mesh) dan komposit. Geotekstil dan
produk-produk tersebut,seperti net dan grid, dapat dikombinasikan dengan
geomembran atau bahan sintetik lainnya untuk mendapatkan karakteristik
terbaik dari setiap bahan.

Gambar. 2.1.3 Geogrid


Produk tersebut dikenal sebagai geokomposit dan produk ini dapat
berupa gabungan dari geotekstil geonet, geotekstil-geogrid, geotekstil-
geomembran, geomembran-geonet, dan bahkan struktur sel polimer tiga
dimensi. Kombinasi bahan-bahan pembentuk geokomposit tersebut sangat
banyak dan hampir tidak terbatas. Selain itu terdapat juga tipe-
tipegeosintetik lain seperti geosynthetic clay liner maupun geopipa
(Koerner, 2003).
2.1.3 Geomembran
Geomembrane adalah permeabilitas yang sangat rendah
membran sintetik yang sering di gunakan untuk kapal sebagai
penghalang yang terbuat dari bahan rekayasa geoteknik terkait untuk
mengontrol cairan (atau gas) migrasi dalam proyek buatan manusia,
struktur, atau sistem. Geomembrane terbuat dari lembaran relatif tipis
ARDY FAJAR SAPUTRO
14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
9 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

polimer, tetapi geomembrane juga dapat terbuat dari impregnasi


geotextile dengan aspal, elastomer atau Polymer semprotan, atau aspal
sebagai lapisan geocomposites.
Pembuatan geomembrane dimulai dengan produksi bahan baku,
yang meliputi resin polimer itu sendiri: berbagai adiktif seperti
antioksidan, plasticizers, pengisi, karbon hitam, dan pelumas sebagai alat
bantu pengolahan. Bahan-bahan baku (yaitu, "formulasi") yang kemudian
diolah menjadi lembaran geomembrane berbagai ukuran dan mengental
dengan salah satu dari tiga cara, ekstrusi, calender, dan pelapisan
menyebar.

Gambar. 2.1.4 Geomembran

2.3 Identifikasi Geosintetik


Pada umumnya geosintetik dapat diidentifikasi berdasarkan:
Tipe polimer (definisi deskriptif, misalnya polimer
berkepadatan tinggi, polimerberkepadatan rendah);
Tipe elemen (misalnya filamen, tenunan, untaian, rangka,
rangka yang dilapis);
Proses pembuatan (misalnya teranyam, tak teranyam dan
dilubangi dengan jarum, tak teranyam dan diikat dengan panas,
diperlebar atau ditarik, dijahit, diperkeras,diperhalus);
Tipe geosintetik primer (misalnya geotekstil, geogrid,
geomembran);

ARDY FAJAR SAPUTRO


14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
10 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

Massa per satuan luas (untuk geotekstil, geogrid, geosynthetic


clay liner, dangeosintetik penahan erosi) dan atau ketebalan
(untuk geomembran);
Informasi tambahan atau sifat-sifat fisik lain yang dibutuhkan
untukmenggambarkan material dalam aplikasi tertentu;

2.4 Fungsi Geosintetik


Geosintetik memiliki fungsi primer dan fungsi sekunder yang
biasanya lebih dari satu fungsi. Kedua fungsi tersebut menjadikan
geosintetik dapat berkontribusi secara total pada saat penerapannya.
Dengan demikian, kedua fungsi ini perlu dipertimbangkan pada saat
perhitungan dan pembuatan spesifikasi perencanaan.
Geosintetik memiliki enam fungsi sebagai berikut:
a. Filtrasi: bahan geosintetik digunakan untuk mengalirkan air ke
dalam system drainase dan mencegah terjadinya migrasi partikel
tanah melalui filter. Contoh penggunaan geosintetik sebagai
filter adalah pada sistem drainase porous.

Gambar 2.3 Sistem Drainase posous


b. Drainase: bahan geosintetik digunakan untuk mengalirkan air
dari dalam tanah.Bahan ini contohnya digunakan sebagai
drainase di belakang abutmen atau dinding penahan tanah.

ARDY FAJAR SAPUTRO


14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
11 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

Gambar 2.3.1 Sistem drainase vertikal


c. Separator: bahan geosintetik digunakan di antara dua material
tanah yang tidak sejenis untuk mencegah terjadi pencampuran
material. Sebagai contoh, bahan ini digunakan untuk mencegah
bercampurnya lapis pondasi jalan dengan tanah dasar yang
lunak sehingga integritas dan tebal rencana struktur jalan dapat
dipertahankan.

Gambar 2.3.2 Geosintetik sebagai separator


d. Perkuatan: sifat tarik bahan geosintetik dimanfaatkan untuk
menahan tegangan atau deformasi pada struktur tanah.

Gambar 2.3.3 Geosintetik Sebagai Perkuatan


e. Penghalang: bahan geosintetik digunakan untuk mencegah
perpindahan zat cair atau gas. Fungsi geosintetik ini contohnya
adalah geomembran untuk menjaga fluktuasi kadar air pada
tanah ekspansif atau digunakan pada penampungan sampah.

ARDY FAJAR SAPUTRO


14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
12 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

Gambar 2.3.4 Geosintetik Sebagai Penghalang Zat Cair


f. Proteksi: bahan geosintetik digunakan sebagai lapisan yang
memperkecil tegangan lokal untuk mencegah atau mengurangi
kerusakan pada permukaan atau lapisan tersebut. Sebagai
contoh, tikar geotekstil (mat) digunakan untuk mencegah erosi
tanah akibat hujan dan aliran air. Contoh lainnya, geotekstil tak-
teranyam digunakan untuk mencegah tertusuknya geomembran
oleh tanah atau batu disekelilingnya pada saat pemasangan.

Gambar 2.3.5 Sebagai pencegah erosi tanah


2.5 Aplikasi dan Dasar Perencanaan
2.5.1 Aplikasi pada timbunan di atas tanah lunak
Tanah lunak didefinisikan sebagai tanah lempung atau gambut
dengan kuat geserkurang dari 25 kN/m2 berdasarkan Panduan Geoteknik 1
No. Pt T-08-2002-B (DPU,2002a). Jika menggunakan korelasi dari
AASHTO M288-06 (CBR30 cu), maka nilaikuat geser ini setara dengan
nilai CBR lapangan kurang dari 1.
Timbunan yang dibangun di atas tanah lunak memiliki
kecenderungan untuk menyebar secara lateral akibat tekanan tanah
horizontal yang bekerja di dalam timbunan.Tekanan tanah ini
menimbulkan tegangan geser horizontal pada dasar timbunan yangharus
ditahan oleh tanah pondasi. Apabila tanah pondasi tidak memiliki tahanan
geseryang cukup, maka akan terjadi keruntuhan.

ARDY FAJAR SAPUTRO


14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
13 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

Gambar 2.4 Pada timbunan tanah lunak


Pemasangan geotekstil atau geogrid berkekuatan tinggi yang
direncanakan dengan tepat akan berfungsi sebagai perkuatan untuk
meningkatkan stabilitas serta mencegah keruntuhan. Geotekstil atau
geogrid juga akan mengurangi pergeseran horizontal danvertikal tanah di
bawahnya, sehingga dapat mengurangi penurunan diferensial.

Perlu diperhatikan bahwa perkuatan geosintetik tidak akan


mengurangi besarnya konsolidasi jangka panjang atau penurunan sekunder
timbunan. Oleh karena itu apabila kriteria kinerja utama dari suatu
bangunan (timbunan) adalah penurunan,maka penanganan dengan
geosintetik tidak sesuai untuk dipilih.
Fungsi perkuatan pada konstruksi timbunan adalah sebagai berikut:
Meningkatkan faktor keamanan rencana;
Menambah tinggi timbunan;
Mencegah pergeseran timbunan selama pelaksanaan;
Memperbaiki kinerja timbunan karena penurunan pasca
konstruksi yang seragam.
Perkuatan timbunan yang dibangun di atas tanah lunak umumnya
akanberada dalamdua kondisi, yaitu:
Timbunan dibangun di atas deposit yang seragam;
Timbunan dibangun di atas zona lemah lokal.

ARDY FAJAR SAPUTRO


14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
14 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

Aplikasi perkuatan timbunan yang paling umum untuk kondisi


pertama adalah timbunan jalan, tanggul, atau bendungan yang dibangun di
atas lapisan lanau,lempung atau gambut jenuh air yang sangat lunak. Pada
kondisiini, arah terkuat dari geosintetik biasanya ditempatkan tegak lurus
terhadap garistengah timbunan. Perkuatan tambahan dengan arah terkuat
yang ditempatkan sejajardengan garis tengah timbunan dapat juga
dibutuhkan pada ujung timbunan.

Gambar 2.4.1 Geosintetik pada tanah lunak persawahan


Aplikasi kedua adalah konstruksi timbunan yang berada di atas
tanah yang mempunyai zona lemah lokal atau tanah berongga. Zona atau
rongga ini dapat diakibatkan oleh lubang amblasan (sink hole), aliran
sungai tua, atau kantung lanau, lempung atau gambut. Untuk aplikasi ini,
fungsi perkuatan adalah sebagaijembatan di atas zona lemah lokal atau
rongga, dan perkuatan tarik yang dibutuhkandapat lebih dari satu arah.
Oleh karena itu, arah terkuat dari geosintetik harus ditempatkan dengan
arah yang benar terhadap garis tengah timbunan.
Perkuatan geotekstil atau geogrid dapat dipasang satu lapis atau
lebih tergantung besarnya gaya geser yang akan ditahan.

Gambar 2.4.2 Timbunan diatas tanah lunak


ARDY FAJAR SAPUTRO
14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
15 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

Gambar 2.4.4 Timbunan diatas tanah zona lemah setempat


Landasan pendekatan perencanaan timbunan yang diperkuat adalah
perencanaan terjadi pada timbunan yang diperkuat. Ketiga kemungkinan
keruntuhan tersebut memberikan indikasi jenis analisis stabilitas yang
dibutuhkan. Selain itu, penurunan timbunan dan potensi rangkak pada
perkuatan juga harus dipertimbangkan.untuk mencegah keruntuhan.

Gambar 2.4.5 Mode keruntuhan pada perkuata tanah

ARDY FAJAR SAPUTRO


14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
16 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

Stabilitas timbunan di atas tanah lunak lazimnya dihitung dengan


menggunakan metode analisis tegangan total. Analisis ini cukup
konservatif karena pada analisis ini diasumsikan tidak terjadi
peningkatan kekuatan pada tanah dasar.
Metode analisis tegangan efektif dengan menggunakan parameter
efektif juga dapat dilakukan, akan tetapi dibutuhkan estimasi tekanan air
pori lapangan yang akurat.Selain itu dibutuhkan pula pengujian triaksial
terkonsolidasi-tak terdrainse (CU) untuk mendapatkan parameter efektif
untuk analisis. Karena estimasi tekanan air pori lapangan tidak mudah
dilakukan, maka selama konstruksi harus dipasang pisometer untuk
menghitung kecepatan penimbunan. Dengan demikian prosedur
perencanaan yang digunakan pada pedoman ini menggunakan analisis
tegangan total, karena dianggap lebih sesuai dan lebih sederhana untuk
perencanaan perkuatan timbunan.

2.5.2 Aplikasi pada perkuatan lereng


Lereng tanah yang diperkuat merupakan suatu bentuk
stabilisasi tanah secara mekanis dengan menggunakan elemen
perkuatan sebidang dalam suatu struktur lereng yang mempunyai
kemiringan muka kurang dari 70. Sedangkan struktur tanahyang
distabilisasi secara mekanis dengan kemiringan muka 70 sampai
dengan 90 diklasifikasikan sebagai dinding penahan.

Gambar 2.4.2.1 Perkuatan lereng

ARDY FAJAR SAPUTRO


14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
17 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

Fungsi utama dari lereng tanah yang diperkuat adalah:


a. Meningkatkan stabilitas lereng, terutama jika diinginkan sudut
kemiringan lereng lebih besar tetapi tetap aman dibandingkan
dengan lereng yang tidak diperkuat,atau setelah terjadinya
keruntuhan (lihat Gambar 2.5). Jenis drainase yang dipakai
adalah pipa berlubang (perforated pipes) yang dibungkus
dengan material granular dan dihubungkan dengan saluran
drainase dari agregat kasar dan dilapisi dengan geotekstil
filter. Dapat pula digunakan sistem geokomposit untuk
saluran. Kriteria drainase ini tidak dibahas rinci dalam
pedoman ini.
b. Fungsi dari geosintetik yang ditempatkan di tepi lereng
timbunan yang dipadatkan adalah untuk memberikan tahanan
lateral selama pemadatan timbunan, meningkatnya tahanan
lateral memungkinkan terjadinya peningkatan kepadatan tanah
dan meningkatkan pengurungan (confinement) lateral untuk
tanah di muka lereng. Perkuatan tepi tersebut juga
memungkinkan beroperasinya alat berat secara aman di tepi
lereng. Untuk timbunan dengan tanah kohesif, dapat
digunakan geosintetik tak-teranyam yang sebidang dengan
perkuatan sehingga dapat mendisipasi tekanan pori di dalam
timbunan yang dipadatkan.

ARDY FAJAR SAPUTRO


14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
18 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

Gambar 2.4.2.2 Perkuatan untuk meningkatkan stabilitas lereng

Gambar 2.4.2.3 Perkuatan untuk meningkatkan kepadatan di kaki


lereng dan stabilitas permukaan lereng
Keuntungan ekonomis dari perkuatan lereng ini diantaranya:
Mengurangi pemakaian lahan karena lereng dengan perkuatan
dapat lebihtegak;
Mengurangi volume bahan timbunan;
Memungkinkan digunakannnya timbunan dengan kualitas
yang lebih rendah;
Mengurangi biaya untuk elemen-elemen penutup (facing)
seperti yang diperlukandalam dinding yang distabilisasi secara
mekanis
Lereng yang diperkuat diantaranya diaplikasikan pada
pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut (lihat Gambar 2.4.2.4)
a. Konstruksi timbunan jalan baru;
b. Pelebaran timbunan jalan lama;
c. Perbaikan keruntuhan lereng
ARDY FAJAR SAPUTRO
14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
19 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

Gambar 2.4.2.4 Aplikasi Lereng Tanah yang Diperkuat


Lereng tanah yang diperkuat dapat pula diaplikasikan dalam
konstruksi berikut ini:
a. Stabilitas permukaan di hulu/hilir dan peningkatan tinggi
bendung;
b. Konstruksi tanggul permanen dan struktur pemantau banjir
sementara;
c. Semakin tegaknya timbunan abutmen dan pengurangan bentang
jembatan;
d. Pelebaran jalan sementara untuk pembuatan jalan memutar;
e. Konstruksi timbunan menggunakan tanah berbutir halus yang
jenuh air

Pemilihan sifat-sifat teknis tanah dasar harus difokuskan untuk


penentuan daya dukung, potensi penurunan, dan posisi muka air
tanah. Penentuan kapasitas dayadukung membutuhkan parameter
kohesi (c), sudut geser () dan berat isi () serta posisi muka air tanah.
ARDY FAJAR SAPUTRO
14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
20 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

Untuk penentuan penurunan tanah dasar diperlukan parameter


koefisien konsolidasi (cv), indeks kompresibilitas (Cc) dan angka pori
(e).
Pemilihan kriteria tanah timbunan yang diperkuat harus
mempertimbangkan kinerjajangka panjang struktur, stabilitas masa
konstruksi dan faktor degradasi lingkungan yang terjadi terhadap
perkuatan.
Pengetahuan dan pengalaman dengan lereng tahan yang
diperkuat dan dinding penahan tanah yang distabilisasi secara
mekanis selama ini hanyalah dengan menggunakan tanah timbunan
berbutir (non-kohesif). Oleh karena itu pengetahuan tentang distribusi
tegangan internal, tahanan cabut, dan bentuk bidang keruntuhan
terbatas pada sifat-sifat teknis unik dari jenis tanah tersebut.
Setiap tanah yang memenuhi syarat sebagai timbunan dapat
digunakan dalam system perkuatan lereng. Akan tetapi material
dengan kualitas tinggi akan memudahkanpemadatan dan
meminimalkan kebutuhan perkuatan
Persyaratan perencanaan untuk lereng yang diperkuat pada
intinya sama denganperencanaan lereng tanpa perkuatan: faktor
keamanan harus memenuhi untuk jangkapanjang dan jangka pendek
terhadap mode-mode keruntuhan yang dapat terjadi.
Tiga mode keruntuhan yang dapat terjadi adalah :
a. Keruntuhan internal, dimana bidang keruntuhan memotong
elemen perkuatan;
b. Keruntuhan eksternal, dimana bidang keruntuhan melewati
bagian belakang dandi bawah massa tanah yang diperkuat;
c. Keruntuhan gabungan, dimana bidang keruntuhan melewati
bagian belakang danjuga memotong massa tanah yang
diperkuat.

ARDY FAJAR SAPUTRO


14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
21 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

Gambar 2..4.2.5 Moda Keruntuhan Tanah Lereng yang Diperkuat

ARDY FAJAR SAPUTRO


14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
22 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Geosintetik merupakan Istilah umum untuk produk berbentuk lembaran
yang terbuat dari bahan polimer lentur, digunakan dengan tanah, batuan, atau
material geoteknik lainnya, sebagai suatu kesatuan pekerjaan buatan manusia,
struktur, maupun sistem (ASTM D 4439).
Geotekstil adalah Produk geosintetik yang terdiri dari jaringan yang
beraturan dan terhubung satu sama lainnya, dengan ukuran bukaan lebih besar
dari 6,35 mm sehingga memungkinkan untuk saling mengunci dengan tanah,
batuan ataupun struktur lain di sekitarnya serta memiliki fungsi primer
sebagai perkuatan (ASTM D 4439).
Pada dasarnya, geosintetik terbagi menjadi dua yaitu tekstil dan jaring
(web). Berdasarkan bahannya, kedua jenis geosintetik dibagi menurut bahan
sintetik dan alami.
Geosintetik memiliki enam fungsi sebagai berikut:
a. Filtrasi: bahan geosintetik digunakan untuk mengalirkan air ke
dalam system drainase dan mencegah terjadinya migrasi partikel
tanah melalui filter. Contoh penggunaan geosintetik sebagai
filter adalah pada sistem drainase porous.
b. Drainase: bahan geosintetik digunakan untuk mengalirkan air
dari dalam tanah.Bahan ini contohnya digunakan sebagai
drainase di belakang abutmen ataudinding penahan tanah.
c. Separator: bahan geosintetik digunakan di antara dua material
tanah yang tidaksejenis untuk mencegah terjadi pencampuran
material. Sebagai contoh, bahan inidigunakan untuk mencegah
bercampurnya lapis pondasi jalan dengan tanah dasaryang lunak
sehingga integritas dan tebal rencana struktur jalan
dapatdipertahankan.

ARDY FAJAR SAPUTRO


14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
23 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

d. Perkuatan: sifat tarik bahan geosintetik dimanfaatkan untuk


menahan teganganatau deformasi pada struktur tanah.
e. Penghalang: bahan geosintetik digunakan untuk mencegah
perpindahan zat cair atau gas. Fungsi geosintetik ini contohnya
adalah geomembran untuk menjaga fluktuasi kadar air pada
tanah ekspansif atau digunakan pada penampungansampah.
f. Proteksi: bahan geosintetik digunakan sebagai lapisan yang
memperkecil tegangan lokal untuk mencegah atau mengurangi
kerusakan pada permukaan atau lapisan tersebut. Sebagai
contoh, tikar geotekstil (mat) digunakan untuk mencegah erosi
tanah akibat hujan dan aliran air. Contoh lainnya, geotekstil tak-
teranyam digunakan untuk mencegah tertusuknya geomembran
oleh tanah atau batu disekelilingnya pada saat pemasangan.

ARDY FAJAR SAPUTRO


14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
24 PERBAIKAN TANAH DENGAN GEOSINTETIK

DAFTAR PUSTAKA

DPU. 2002b. Pt T-10-2002-B. Panduan Geoteknik 4: Desain dan Konstruksi.


Departemen Pekerjaan Umum (DPU), Indonesia.
DPU. 2009. Perencanaan dan Perkuatan Tanah dengan Geosintetik. Departemen
Pekerjaan Umum (DPU). Indonesia

ARDY FAJAR SAPUTRO


14301010024
TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN