Anda di halaman 1dari 4

Pengertian Investigasi Ilmiah

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003), investigasi diartikan sebagai penyelidikan
dengan mencatat atau merekam fakta dengan melakukan peninjauan, percobaan, dan
sebagainya dengan tujuan meperoleh jawaban atas pertanyaan, sedangkan ilmiah secara
ilmu pengetahuan memenuhi syarat ( kaidah ) ilmu pengetahuan. Jadi investigasi ilmiah
merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh seorang ataupun beberapa orang peneliti
untuk mengupas inti permasalahan dengan tujuan untuk menemukan jawaban dari apa yang
sedang diteliti sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan . investigasi ilmiah cenderung
bersifat objektif daripada subjektif, dan menolong manager untuk menyoroti faktor yang
paling genting di situasi yang memerlukan perhatian khusus untuk dihindari, diperkecil, atau
diselesaikan. Investigasi ilmiah dan pengambilan keputusan managerial merupakan aspek
aspek integral dari pemecahan masalah yang efektif.

Karakteristik Penelitian Ilmiah


Menurut buku Metode Penelitian Praktis karangan (Suparmoko,1999), Penelitian Ilmiah
mempunyai 8 ( delapan ) karakteristik utama yaitu :
a. Adanya tujuan
Penelitian harus mmpunyai tujuan yang pasti, harus berkisar disekeliling masalah
yang ingin dipecahkan. Sebagai contoh : suatu penelitian dimaksudkan untuk data
meningkatkan komitmen karyawan suatu perusahaan. Peningkatan komitmen
karyawan berarti sedikit jumlah karyawan yang keluar masuk perusahaan, frekuensi
ketidakhadiran yang rendah, kinerja karyawan meningkat yang semuanya akan
menguntugkan perusahaan. Jadi penelitian yang bersangkutan mempuyai actu yang
jelas dan terarah.
b. Keseriusan
Keseriusan dalam penelitian berarti ada kehati hatian, ada ketelitian dan ada
kepastian. Untuk itu diperlukan adanya dasar teori yang bagus dan rancangan
penelitian yang mantap, sehingga keseriusan penelitian meningkat pula. Utuk itu
peneitian harus didasarkan pada jumlah sampel yang cukup yang dipilih dengan
metode yang benar, dan daftar pertanyaan harus disusun secara tepat.
c. Dapat diuji
Suatu penelitian sebaiknya menampilkan hipotesis yang dapat diuji dengan
menggunakan metode stat itik tertentu. Pengujian ini didasarkan atas pengalaman
pengalaman lembaga lain dan juga atas dasar hasil penelitian sebelumnya. Dari
hasil uji hipotesis itu dapat ditemukan jawaban apakah hipotesis itu ditolak atau
tidak ditolak.
d. Dapat direflikasikan
Hasil dari suatu penelitian tercermin dari hasil uji hipotesis, hasil uji hipotesis yang
merupakan penemuan penelitian itu harus berkali-kali didukung dengan kejadian
yang sama apabila penelitian itu dilakukan berulangulang dalam kondiisi yang
sama. Kalau hal itu terjadi, maka kita mempunyai keyakinan bahwa penelitian kita
itu bersifat ilmiah. Dengan kata lain hipotesis kita itu tidak ditolak bukan hanya
karena kebetulan.
e. Presisi dan keyakinan
Presisi menjukan berapa dekat penemuan kita terhadap realita ( atas dasar sampel
yang kita gunakan). Dengan kata lain presisi mencerminkan drajat kepastian dari
penemuan kita terhadap gejala yang kita pelajari. Sebagai contoh kalau kita
memperkirakan jumlah ratarata hari yang hilang karena tidak hadir kerja berkisar
antara 30 dan 40 hari, dan terbukti angka ketidakhadiran kerja yang sebenarnya
adaah 35 hari. Maka perkiraan kita akan lebih tepat ( precise ) dibandingkan
perkiraan rata rata hari hilang karena ketidakhadiran antara 20 dan 50 hari
pertahun. Angka perkiraan ini disebut dengan confidence interval, dan inilah yang
dimaksud dengan presisi. Keyakinan menunjukkan kemungkinan dari kebenaran
estimasi kita. Hasil estimasi tidak hanya perlu tepat tetapi perlu juga dikatakan
bahwa 95% dari seluruh kesempatan yang ada , kita akan bahwa hasil penelitian kita
benar dan hanya 5% dari seluruh kesempatan itu yang salah. Inilah yang disebut
derajat keyakinan.
f. Objektivitas
Kesimpulan yang diambil oleh suatu penelitian harus bersifat objektif. Artinya, harus
didasarkan pada fakta yang diperoleh dari data actual dan bukan atas dasar
penilaian subjektif dan emosional. Misalnya, jika kita mempunyai hipotesis bahwa
partisipasi yang lebih besar dalam pengambilan keputusan akan meningkatkan
komitmen organisasi, dan hal tersebut tidak didukung oleh hasil penelitian. Artinya
tidak ada gunanya sama sekali melakukan penelitian ini, sebab hasil keputusannya
itu tidak didasarkan pada data yang faktual, melainkan pada opini subjektif peneliti.
g. Berlaku umum
Artinya, penerapan hasil penelitian dalam berbagai keadaan. Semakin luas cakupan
penerapan yang dapat ditimbulkan oleh hasil penelitian itu maka akan semakin
berguna penelitian itu bagi mereka yang menggunakannya.
h. Efisien
Kesederhanaan dalam menjelaskan gejala-gejala yang terjadi dan aplikasi
pemecahan masalahnya seringkali lebih disukai daripada kerangka penelitian yang
kompleks yang menunjukan sejumlah variabel yang sulit dikelola. Dengan
pemahaman yang baik terhadap masalah yang sedang dihadapi, maka sifat efisien
ini akan tercapai. Misalnya, bila dua atau tiga variabel spesifik dalam situasi kerja
diidentifikasi, yang jika diubah meningkatkan 45% komitmen organisasi karyawan.
Hal tersebut akan lebih berguna dan berharga bagi manajer dibandingkan
rekomendasi ia harus mengubah 10 variabel berbeda untuk meningkatkan 48%
komitmen organisasi.

Metode Hipotesis-deduktif
Metode Penelitian karangan Nazir (2005), Metode Hipotesis-deduktif itu cara memberi
alasan dengan berpikir dan bertolak dari pernyataan yang bersifat umum dan menarik
ksimpulan yang bersifat khusus atau spesifik. Menurut Sekaran ( 2014 ), berikut langkah-
langkah yang dilakukan dalam Metode Hipotesis-deduktif :
a. Pengamatan
Pengamatan adalah tahap pertama, dimana seseorang merasakan bahwa adanya
perubahan dalam keaadaan, sikap, ataupun perasaan dalam lingkungan. Misalkan,
keuangan perusahan yang biasanya dalam keadaan stabil menjadi kurang stabil,
maka manajer harus mengamati apa yang sedang terjadi dalam keuangan
perusahaan yang sedang dipimpinnya.
b. Pengumpulan informasi awal
Artinya, supaya mendapatkan solusi yang benar-benar tepat untuk memecahkan
masalah yang sedang terjadi, tentu perlu menggali informasi yang lebih dari
lingkungan yang paling dekat ataupun berhubungan dengan apa yang sedang kita
amati. Biasanya dengan wawancara informal lebih bisa terbuka atau bahkan
mungkin bisa menemukan solusi dari narasumber langsung. Bagi peneiti,
kekurangan data atau informasi bukan merupakan persoalan kecil, karena dapat
menjadi sumber kegagalan penelitian yang dilakukan.
c. Perumusan teori
Setelah masalah diidentifikasi, kemudian dari segi pengumpulan informasi pun
sudah lengkap, maka kita perlu melalukan kegiatan yang dimana kegiatan itu
bertujuan untuk menarik faktor-faktor yang berkaitan dengan masalah sehingga
dapat dikonseptualisasi dan diuji.
d. Penyusunan Hipotesis
Dalam mengadakan penelitian, kita harus mulai dengan gejala-gejala yang ada
dalam masyarakat atau alam yang biasanya gejala-gejala ini merupakan gejala
umum. Sebagaimana diketahui, hipotesis yang baik adalah hipotesis yang dinyatakan
dengan jelas dan ringkas, menyatakan hubungan antara dua variabel dan
menjelaskan variabel tersebut dalam terminologi operasional yang terukur.
Hipotesis memberikan petunjuk mengenai macam data dan teknik yang diperlukan
bagi analisis. Misalnya, seseorang mungkin menyusun hipotesis bahwa jika sejumlah
item diletakkan di rak-rak, ketidakpuasan konsumen akan sangat berkurang. Hal
tersebut merupakan sebuah hipotesis yang dapat diuji untuk menentukan apakah
pernyataan tersebut akan terbukti.
e. Pengumpulan data ilmiah lebih lanjut
Pengumpulan data tidak lain dari suatu proses pengadaan data untuk keperluan
penelitian. Pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting dalam
penelitian, karena pada umumnya data yang dikumpulkan digunakan untuk menguji
hipotesis yang telah dirumuskan. Akan lebih baik lagi, bila kita mengumpulkan data
ilmiah bukan hanya sekali saja melainkan lebih lanjut lagi. Semakin banyak data yang
dikumpulkan dalam penelitian, akan semakin memperkuat hipotesis yang telah
dirumuskan. Misalnya, untuk menguji hipotesis bahwa menyediakan item yang
memadai akan mengurangi ketidakpuasan konsumen, seseorang perlu mengukur
tingkat kepuasan konsumen saat ini dan mengumpulkan data lebih lanjut mengenai
tingkat kepuasan konsumen kapanpun sejumlah item yang memadai disimpan dan
tersedia bagi konsumen. Data pada setiap variabel dalam kerangka teoritis dimana
hipotesis dihasilkan juga harus dikumpulkan. Data tersebut kemudian menjadi dasar
untuk analisis data lebih lanjut.
f. Analisis data
Menurut Nazir (2005 ), analisis data merupakan bagian yang penting dalam metode
ilmiah. Data mentah yang telah dikumpulkan yang perlu dipecahkan sehingga data
tersebut mempunyai makna untuk menjawab masalah dan bemanfaat untuk
menguji hipotesis.
Analisis adalah mengelompokkan membuat suatu urutan, memanipulasi, serta
menyingkatkan data sehingga mudah untuk dibaca. Step pertama dalam analisis
adalahmembagi data atas kelompok atau kategori-katagori. Katagori tak lain dari
bagian. Beberapa ciri dalam membut kategori adalah sebagai berikut;
Kategori yang harus dibuat harus sesuai dengan masalah dan tujuan
penelitian.
Kategori harus lengkap (exhaustive)
Kategori harus bebas dan terpisah
Tiap kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi.
Tiap kategori harus dalam satu level.

Dalam mengadakan analisis data, perlu diingat bahwa data yang diperoleh hanya
menambah keterangan terhadap masalah yang ingin dipecahkan. Data tersebut
dapat diihatdari berbagi sudut, sehingga analisisyang diberikn dapat pula berjenis-
jenis. Informasi yang diperoleh dapat menjawab sebagian atau semua masallah,
dapat menjawab juga secara spesifik, dapat pun bersifat sangat umum.

g. Deduksi
Deduksi adalah proses tiba pada kesimpulan dengan menginterpretasikan arti dari
hasil analisis data. Misalnya, jika ditemukan dari analisis data bahwa meningkatkan
persediaan berkorelasi positif dengan (peningkatan) kepuasan konsumen (misalnya
0,5), orang dapat menarik kesimpulan bahwa untuk meningkatkan kepuasan
konsumen, rak-rak harus menampilkan persediaan yang lebih baik. Kesimpulan lain
dari analisis data tersebut adalah bahwa persediaan di rak berkontribusi pada (atau
menjelaskan) varians sebesar 25% dalam kepuasan konsumen (0,5). Berdasarkan
deduksi tersebut, peneliti dapaat mengajukan rekomendasi mengenai bagaimana
masalah ketidakpuasan konsumen dapaat dipecahkan.

Disini yang akan kita bahas adalah metode hipotesi-deduktif dan hipotesis-induktif. Hipotesis
deduktif itu suatu penjelasan yang menggunakan perluasn logika dari penemuan-penemuan
yang telah ada, atau didasarkan pada hal-hal yang bersifat umum yang telah diterima
kebenarannya. Dengan kata lain, hipotesis deduktif itu adalah bergerak dari hal-hal yang
bersifat spesifik. Misalnya, kita mengetahui semua orang yang berkinerja tinggi adalah
sangat menguasai pekerjaan mereka. Bila john berkinerja tinggi, kita kemudian
menyimpulkan bahwa ia sangat menguasai pekerjaanya. Kemudian hipotesis induktif, akan
menyusun generalisasi berdasarkan observasi. Hal ini sangat berguna, namun memiliki
keterbatasan dalam bidang terapan ilmu dalam arti belum tentu hasil generalisasi ini benar-
benar dapat digunakan dalam bidang yang lebih luas. Artinya , hipotesi induktif membuat
sebuah proposes umum berdasarkan fakta yang diamati. Misalnya , kita melihat bahwa
proses produksi merupakan ciri utama dari pabrik manufaktur. Karena itu, kita
menyimpulkan bahwa pabrik eksis untuk tujuan produksi. Baik deduktif maupun induktif ,
prosesnya digunakan dalam investigasi ilmiah.