Anda di halaman 1dari 18

BAB 1

PERKEMBANGAN DAN PENGEMBANGAN IPA

1.1 SEJARAH PERKEMBANGAN IPA


Dengan bertambah majunya alam pikiran manusia dan makin berkembangnya
cara-cara penyelidikan, manusia dapat menjawab banyak pertanyaan tanpa
mengarang mitos. Dengan akalnya yang berkembang, informasi yang didapat
disimpan dan diajarkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Penambahan
informasi yang baru menyebabkan pengetahuan yang ada juga bertambah dari
generasi ke generasi.
Ilmu ini terus berkembang sejalan dengan sifat manusia yang merasa selalu
ingin tahu akan sesuatu yang baru, terutama tentang benda yang berada di
sekelilingnya, alam semesta beserta isinya bahkan dirinya sendiri. Rasa ingin tahu
tersebut mendorong manusia untuk dapat memahami dan menjelaskan gejala
alam, baik secara makroskopik maupun mikroskopik. Dorongan rasa ingin tahu
dan usaha untuk memahami serta pemecahan masalah yang dihadapi tersebut
mendatangkan pengetahuan baru. Pengetahuan tentang suatu masalah akan
mendatangkan satu pertanyaan lain yang memerlukan jawaban. Dengan demikian
rasa ingin tahu terus berkembang baik untuk kebutuhan praktis hidupnya maupun
kepentingan ilmu.

Rasa ingin tahu

Pengalaman-pengalaman

Pengetahuan

Ilmu Pengetahuan

Ilmu Pengetahuan Alam


2

A. PENALARAN DAN AWAL PENGETAHUAN


Berkat pengamatan yang sistematis, kritis dan makin bertambahnya
pengalaman yang diperoleh, lambat laun manusia berusaha mencari jawab secara
rasional dengan meninggalkan yang irasional. Pemecahan secara rasional berarti
mengandalkan rasio dalam usaha memperoleh pengetahuan yang benar. Kaum
rasionalis mengembangkan paham yang disebut rasionalisme. Dalam menyusun
pengetahuan, kaum rasionalis menggunakan:
1. Penalaran Deduktif (rasional)
Penalaran deduktif ialah cara berpikir yang bertolak belakang dari pernyataan
yang bersifat umum untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan
simpulan secara deduktif ini menggunakan pola berpikir yang disebut silogisme.
Silogisme itu terdiri atas dua buah pernyataan dan sebuah simpulan. Kedua
pernyataan itu disebut premis mayor dan premis minor. Simpulan atau konklusi
diperoleh dengan penalaran deduktif dari kedua premis tersebut. Metode ini
merupakan perkembangan pola berpikir dalam memperoleh kebenaran
berdasarkan logika yang dikemukakan oleh Aristoteles.
Contoh:
(1) Semua benda bila dipanaskan dalam keadaan kering akan berubah menjadi
api.
(2) Kayu ialah benda.
(3) Kayu bila dipanaskan dalam keadaan kering akan berubah menjadi api.
Keterangan :
(1) disebut premis mayor, yakni sesuatu yang berlaku umum
(2) disebut premis minor, sesuatu yang khusu
(3) simpulan
Dengan demikian, jelaslah bahwa penalaran deduktif itu pertama-tama harus
mulai dengan pernyataan yang sudah pasti kebenarannya. Aksioma dasar inilah
yang dipakai untuk membangun sistem pemikirannya yang diturunkan atau
berasal dari ide yang menurut anggapannya jelas, tegas, dan pasti dalam pikiran
manusia. Namun dalam kenyataannya, sering ide yang menurut seorang cukup
jelas dan dapat dipercaya, tidak dapat diterima oleh orang lain.
3

Lingkup pengertan dan pengetahuan semakin luas. Hal itu dimungkinkan


karena manusia sebagai homo faber mampu membuat peralatan yang sehingga
keterbatasan kemampuannya dapat diatasi. Dalam pentahapan perkembangan
wawasan manusia dibedakan atas lima yakni antroposentris, geosentris,
heliosentris, galaktosentris, dan asentris.

Pekembangan Wawasan Manusia

No Tingkatan Perkembangan Contoh


1 Antroposentris Manusia yang menjadi Kelahiran dan kematian
pusat segala-galanya orang penting
mempengaruhi kondisi
alam (nabi, Raja)
2 Geosentris Bumi yang menjadi Matahari, bulan, dan
pusat segala-galanya bintang berputar
mengelilingi bumi
(ptolomeus)
3 Heliosentris Matahari yang menjadi Matahari memiliki
pusat sistem tata surya sejumlah planet dan planet
memiliki satelit (revolusi,
rotasi)
4 Galaktosentris Galaksi yang menjadi Bima sakti menjadi pusat
pusat dari sejumlah tata galaksi dalam tata surya
surya
5 Asentris Tidak ada yang menjadi Hal-hal yang belum
pusat semua beredar terjangkau oleh akal
dalam konstelasi alamiah manusia dipulangkan
kembali kepada kekuasaan
Tuhan
Sumber: Supartono W, dkk, Ilmu Alamiah Dasar, hal 31
4

2. Penalaran Induktif (empiris)


Penganut empirisme menyusun pengetahuan dengan menggunakan penalaran
induktif. Penalaran induktif ialah cara berpikir dengan menarik simpulan umum
dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus. Dengan penalaran
induktif (metode induksi), makin lama dapat disusun pernyataan yang lebih umum
lagi dan makin bersifat fundamental. Dengan kata lain, metode induksi merupakan
dasar dari perkembangan metode ilmiah sekarang, karena pengambilan simpulan
dilakukan berdasarkan data pengamatan atau ekperimentasi yang diperoleh.
Contoh:
a. Pengamatan atas logam besi, tembaga, aluminium, dan sebagainya. Jika
dipanasi ternyata bertambah panjang. Dari sini dapat disimpulkan secara
umum, bahwa logam jika dipanasi akan bertambah panjang.
b. Kucing bernafas, kambing bernafas, sapi, kuda, dan harimau juga bernafas.
Dapat disimpulkan secara umum bahwa semua hewan bernafas.
c. Hewan dapat bernafas. Manusia dapat bernafas. Jadi dapat disimpulkan,
bahwa semua makhluk hidup dapat bernafas.
Dengan cara induktif, dapat diperoleh prinsip-prinsip yang bersifat umum
sehingga memudahkan dalam hal memahami gejala yang beraneka ragam. Namun
demikian, ternyata pengetahuan yang dikumpulkan berdasarkan pengalaman
induktif ini, masih belum tentu bersifat konsisten atau bahkan mungkin bersifat
kontradiktif. Demikian pula fakta yang berkaitan belum dapat menjamin
tersusunnya pengetahuan yang sistematis.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan yang diperoleh
hanya dengan penalaran deduktif, tidak dapat diandalkan, karena bersifat abstrak
dan lepas dari pengetahuan. Demikian pula pengetahuan yang diperoleh hanya
dari penalaran induktif, juga tidak dapat diandalkan, karena kelemahan panca
indra. Karena itu himpunan pengetahuan yang diperoleh belum dapat disebut ilmu
pengetahuan.

B. PENGERTIAN ILMU PENGETAAHUAN ALAM (IPA)


H.W. Fowler dan kawan-kawan (1951) mendefinisikan IPA sebagai ilmu
yang sistematis dan dirumuskan. Ilmu ini berhubungan dengan gejala-gejala
5

kebendaan dan terutama didasarkan atas pengamatan dan induksi. Sedangkan


Nokes didalam bukunya Science in Education menyatakan bahwa IPA ialah
pengetahuan teoritis yang diperoleh dengan metode khusus. Jadi IPA ialah suatu
pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun dengan cara yang khas, yakni
dengan melakukan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori,
eksperimentasi, observasi dan seterusnya berkaitan antara cara yang satu dengan
cara yang lain. cara untuk memperoleh ilmu secara demikian ini terkenal dengan
nama metode ilmiah.

C. TERBENTUKNYA ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA)


Fakta-fakta tentang gejala kebenaran alam diselidiki dan diuji berulang-ulang
melalui percobaan-percobaan (eksprimen). Kemudian berdasarkan hasil
eksperimen itulah dirumuskan keterangan ilmiahnya (teori). Teori ini pun masih
harus diuji kemantapan atau kesaktiannya. Artinya, bilamana diadakan penelitian
ulang, yang dilakukan oleh siapapun dengan langkah-langkah yang serupa dan
kondisi yang sama maka akan diperleh hasil yang konsisten.
Metode keilmuan itu bersifat objektif, bebas dari keyakinan, perasaan, dan
prasangka pribadi serta bersifat konsisten, artinya dapat diuji oleh siapapun dan
dengan demikian simpulan yang diperoleh lebih dapat diandalkan dan hasilnya
lebih mendekati kebenaran. Secara lengkap dapat dikatakan bahwa suatu
himpunan pengetahuan dapat disebut IPA bilamana objeknya ialah pengalaman
manusia yang berupa gejala-gejala alam, kemudian dikumpulkan melalui metode
keilmuan serta mempunyai manfaat untuk kesejahteraan manusia.
Dengan rasioalisme dan empirisme yang dikembangkan, ilmu pengetahuan
maju dengan pesat, sehingga dikatakan sebagai revolusi ilmu pengetahuan
(scientific revolution). Ilmu yang dipikirkan untuk kesejahteraan manusia
(antologi) dan lahirnya ilmu terapan memungkinkan terjadinya revolusi teknologi.
Terjadinya revolusi industri ialah sebagai jawaban manusia untuk memenuhi
akan hasil industri setelah kebutuhan pangan tercapai. Dengan berkembangnya
jumlah penduduk, soal pangan kembali masih menjadi masalah serius.
Bioteknologi dikembangkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,
sedangkan elektronika saat ini juga maju pesat.
6

D. RUANG LINGKUP IPA DAN PENGEMBANGANNYA


Ilmu pengetahuan ialah siklus ilmu dengan penelitian sebagai intinya yang
tidak pernah terputus bahkan akan semakin membesar dan meluas. Inti dari
perkembangan ilmu ialah penelitian yang dikelilingi atau didukung oleh landasan-
landasan atau strata ilmu. Adapun landasan atau strata ilmu dibagi menjadi 3
yaitu:
1. Hipotesis ialah strata ilmu yang paling rendah, yang merupakan dugaan yang
diambil berdasarkan pengetahuan atau teori yang sudah ada untuk menjawab
masalah penelitian yang sedang dilakukan.
2. Teori ialah strata yang lebih tinggi dari hipotesis. Teori merupakan landasan
ilmu yang telah teruji kebenarannya. Namun demikian, teori masih mungkin
untuk dikoreksi dengan teori baru yang lebih tepat
3. Hukum atau dalil ialah strata yang paling tinggi.hukum atau dalil, berasal dari
teori yang telah diuji terus menerus dan diketahui tidak ditemukan adanya
kesalahan.
Banyak yang berpendapat bahwa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkembang
dari IPA klasik ke IPA modern. Pakar fisika mendefinisikan bahwa yang
dimaksud dengan IPA klasik adalah perkembangan ilmu fisika sebelum abad XX
yakni sejak awal sampai batas munculnya Teori Relativitas. Sedangkan IPA
modern adalah perkembangan fisika setelah abad XX yang dimulai sejak saat
munculnya Teori Relativitas dari Einstein (1905).
Konsep IPA klasik telaahannya mengikuti kaidah ilmu tradisional dan bersifat
makroskopik, sedangkan IPA modern bersifat mikroskopik. Sehingga
penggolongan IPA menjadi klasik dan modern sama sekali bukan berkaitan
dengan waktu, maupun klasifikasi bidang ilmu. Penggolongan ini lebih mengacu
kepada konsepsi yaitu cara berpikir, cara memandang, dan cara menganalisis
suatu fenomena alam.
1. IPA Klasik
Contoh secara umum antara lain:
a. Pembuatan ragi tempe dan ragi tape, meskipun hanya berdasarkan
pengalaman petani, namun tanpa disadari petani tersebut telah berkecimpung
7

dalam bidang mikrobiologi, mikologi dan tentu saja tidak lepas dari ilmu
fisika yang mendasarinya
b. Pembuatan gula kelapa merupakan proses fisika bersama-sama kimia yang
telah tinggi tingkatannya.
2. IPA Modern
IPA modern diperoleh atas dasar penelitian dengan menggunakan metode
ilmiah disertai pengujian-pengujian berulangkali sehingga diperoleh ilmu yang
mantap, baik untuk terapan maupun ilmu murni.
Contoh IPA Modern:
a. Pemanfaatan energi matahari untuk kegiatan yang berkaitan dengan listrik
untuk transportasi, industri maupun rumah tangga, yang merupakan
pemanfaatan foto untuk menimbulkan aliran muatan listrik (elektron), karena
perbedaan panas sehingga terbentuklah sel pembangkit tenaga listrik.
b. Tungku sinar matahari telah banyak digunakan yang hanya berprinsip pada
titik fokus lensa cekung
3. Klasifikasi IPA
Sacara garis besar ilmu pengetahuan dibagi menjadi dua bidang ilmu utama
sebagai berikut.
1. Ilmu sosial dan budaya
Ilmu ini secara umum mempelajari tingkah laku manusia (humaniora)
sebagai makhluk sosial. IPS dibagi lagi menjadi beberapa cabang ilmu antara lain
sebagai berikut:
a) Psikologi yaitu ilmu jiwa yang sasarannya ialah otak atau pikiran.
b) Bahasa yaitu cabang ilmu yang mempelajari tentang komunikasi verbal.
c) Sejarah yaitu cabang ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa masa lalu.
d) Antropologi yaitu cabang ilmu yang mempelajari sejarah dan perkembangan
kebudayaan manusia.
e) Etnologi yaitu cabang ilmu yang sasarannya ialah manusia sebagai satuan
suku bangsa.
f) Ekonomi yaitu cabang ilmu yang mempelajari tentang kesejahteraan dan
media tukar menukar.
8

g) Arkeologi yaitu cabang ilmu yang yang mempelajari benda-benda kuno atau
antik.
h) Sosiologi yaitu cabang ilmu yang mempelajari kemasyarakatan.
i) Pendidikan yaitu cabang ilmu yang mempelajari masalah pendidikan dan
latihan.
j) Teologi yaitu pengetahuan tentang keagamaan.
k) Filsafat naturalistik atau filsafat pengetahuan alam yaitu ilmu yang
mempelajari tentang gejala-gejala alam.
2. Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu ini memperlajari makhluk hidup (biologi) dan benda mati. IPA dibagai
menjadi beberapa cabang ilmu sebagai berikut:
a) Fisika (Physics) yaitu cabang ilmu yang sasaran utamanya ialah materi dan
energi.
b) Kimia yaitu cabang ilmu yang mempelajari komposisi materi.
c) Meteorologi yaitu cabang ilmu yang mempelajari iklim dan cuaca.
d) Biologi yaitu ilmu yang mempelajari makhluk hidup dan gejalanya.
Biologi dibagi lagi menjadi beberapa cabang yaitu:
Zoology ialah cabang ilmu yang mempelajari tentang hewan.
Botani ialah ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk tumbuhan.
Morfologi ialah suatu studi yang mempelajari bentuk atau struktur luar
dari makhluk hidup.
Fisiologi yaitu suatu ilmu tentang fungsi bagian tubuh atau organ dari
makhluk hidup.
Anatomi ialah ilmu yang mempelajari tentang struktur atau bentuk dalam
suatu tubuh.
Histologi yaitu ilmu yang mempelajari jaringan tubuh atau organ makhluk
hidup yang merupakan serentetan sel yang sejenis.
Sitlogi yaitu studi yang mempelajari tentang struktur molekuler.
Higiene yaitu ilmu pengetahuan tentang kesehatan.
9

3. Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa (IPBA)


IPBA adalah ilmu yang membahas tentang keberadaan bumi sebagai salah
satu bagian dari tata surya dan juga membahas tentang ruang angkasa beserta
benda angkasa lainnya.
IPBA dibagi lagi menjadi beberapa cabang ilmu sebagai berikut:
a) Astronomi ialah ilmu yang membahas tentang benda-benda ruang angkasa
yang ada di alam semesta.
b) Geologi yaitu illmu yang mempelajari tentang struktur bumi. Ilmu ini dibagi
menjadi:
Petrologi yaitu ilmu yang membahas tentang batu-batuan.
Vulkanologi yaitu ilmu yang membahas tentang gempa bumi.
Mineralogi yaitu ilmu yang mempelajari tentang mineral atau bahan
galian.
Kristalografi yang mempelajari tentang bentuk-bentuk kristal dan mineral.
c) Geografi yaitu ilmu yang mempelajari tentang permukaan bumi serta sosio
ekonomi dari makhluk yang ada di situ (terutama manusia)

E. PEMFOKUSAN DAN PEMBENTUKAN MULTI DISIPLIN ILMU


1. Pemfokusan Ilmu
Pengembangan ilmu yang terus menerus dan begitu cepatnya, terutama mulai
awal abad ke-20 menyebabkan klasifikasi ilmu berkembang ke arah disiplin ilmu
yang lebih spesifik. Selanjutnya subdisiplin ilmu terus berkembang menjadi
spesialisasi tertentu. Sebagai contoh ialah dalam subdisiplin kimia organik, ada
yang terfokus ke arah kimia organik bahan alam. Kimia bahan alam pun dapat
terbagi lagi berdasarkan sumber dari bahan alam itu sendiri diambil atau juga
berdasarkan kelompok senyawa kimianya.

2. Multidisiplin dan Interdisiplin Ilmu


Multidisiplin ilmu merupakan ilmu pengetahuan dan cakupan pembahasannya
menggunakan lebih dari satu kelompok disiplin ilmu. Misal kelompok IPA dan
IPS. Contoh ilmu multidisiplin yang paling popular ialah ilmu lingkungan.
Pembahasan ilmu lingkungan dapat dilihat dari berbagai disiplin ilmu sosial
10

maupun IPA. Pendekatan IPA pun dapat dilihat dari berbagai disiplin ilmu seperti
kimia (kimia lingkungan), fisika (fisika lingkungan), biologi (ekologi,
biodiversitas), hidrologi (pencemaran air), geografi (pencemaran udara, perubahan
iklim), pertanian dan banyak lainnya.
Sedangkan interdisiplin ilmu merupakan pengetahuan yang cakupan
pembahasannya menggunakan satu kelompok disiplin ilmu saja. sebagai contoh
ialah ilmu komputer dikembangkan dari disiplin IPA yang mencakup ilmu bahan
untuk pembuatan prosesor, semi konduktor, elektronika (fisika, kimia, dan elektro
material), rancang bangun dan jaringan (teknik elektro) serta pemrograman
(matematika)

F. APLIKASI IPA BAIK SECARA MONO MAUPUN INTERDSIPLIN

Pengembangan mono dan multidisplin ilmu serta aplikasinya

Abad 15 Abad 16 Abad 19 Abad 20


Lambat Sedang Cepat Sangat cepat
Pseudo Awal IPA Revolusi industry IPA modern
science sekarang Penemuan mesin Alat riset
Mitos Heliosentris modern: mesin canggih
Logika Liberalisme uap, kertas, cetak, Telaah
Penemuan dan sebagainya mikroskopik
alat bantu Penemuan alat Penemuan
bantu lebih baik anomali teori
sebelumnya
Konsep baru
(modern)

Sumber: Sumi Hadiyono Makalah Pelatihan Sifat:


Dosen IAD di Surabaya mikrokopik,
analisis tinggi,
abstraksi dalam
11

1.2 METODE ILMIAH DAN IMPLEMENTASINYA


A. METODE ILMIAH
Marilah kita mengingat kembali, bagaimana sejarah memperoleh
pengetahuan melalui pendekatan sains semu (pseudo science), antara lain sebagai
berikut:
1. Mitos
Mitos merupakan gabungan dari pengamatan dan pengalaman, namun
sebagian lainnya berupa dugaan, imajinasi, dan kepercayaan. Mitos muncul
karena keterbatasan alat indra manusia (sebagai alat bantu utama)
2. Wahyu
Wahyu merupakan komunikasi Sang Pencipta dengan makhluknya dan
merupakan pengetahuan yang disampaikan kepada utusannya. Wahyu
merupakan kebenaran mutlak dan tidak dapat dipertanyakan dan
diperdebatkan kebenarannya dengan akal saja.
3. Otoritas dan Tradisi
Pengetahuan yang telah ada dan mapan sering digunakan oleh pemimpin
(sudah tradisi) untuk menyatakan kebenaran. Sebagai contoh sampai abad
pertengahan manusia menganggap bahwa bumi ialah pusat dari semesta alam
(geosentris), sehingga pada saat Copernicus menyatakan bahwa bumi bukan
sebagai pusat alam semesta dan hanya merupakan satelit dari sistem tata
surya (heliosentris)
4. Prasangka
Prasangka yakni suatu anggapan yang benar, padahal baru merupakan
kemungkinan benar atau kadang-kadang malah tidak mungkin benar. Dengan
prasangka, orang sering mengambil keputusan yang keliru. Prasangka hanya
berguna untuk mencari kemungkinan suatu kebenaran. Contoh Pada Zaman
Babylonia, orang percaya bahwa hujan turun dari surga kebumi melalui
jendela-jendela yang ada dilangit.
5. Intuisi
Intuisi yakni suatu pendapat seseorang yang diangkat dari pendaharaan
pengetahuan yang terdahulu, melalui suatu proses yang tidak disadari. Jadi,
seolah-olah begitu saja muncul, pendapat itu tentu saja tanpa dipikirkan lagi.
12

Pengetahuan yang dicapai dengan demikian sukar dipercaya. Ungkapan-


ungkapannya sering masuk akal, namun belum tentu cocok dengan
kenyataanya.
6. Trial and Error
Trian and Eror yakni metode coba-coba atau untung-untungan. Pengetahuan
manusia yang diperoleh dari cara ini Banyak sekali, sejak zaman manusia
purba hingga kini. Banyak pula penemuan hasil trial and error yang sangat
bermanfaat bagi manusia. Misalnya dengan ditemukannya rendaman kulit
kina untuk obat malaria. Penemuan dengan cara coba-coba ini jelas tidak
efisien sebagai suatu cara untuk mencari kebenaran.

Pengetahuan yang didapat dengan cara-cara tersebut diatas, termasuk pada


golongan pengetahuan yang tidak ilmiah (kebenaran yang dianut ialah yang
masuk diakalnya). Jadi, pengetahuan disebut sebagai ilmu pengetahuan ilmiah
apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Logis atau masuk akal, sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan yang
telah diakui sebenarnya.
2. Objekfif, artinya pengetahuan itu sesuai dengan objeknya, yakni kesesuaian
atau kebenarannya dibuktikan dengan hasil pengindraan atau empiris.
3. Metodik, yakni suatu pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan cara-
cara tertentu, teratur dan terkontrol.
4. Sistematik, yakni pengetahuan ilmiah itu tersusun dalam suatu sistem, tidak
berdiri sendiri. satu dengan yang lain saling terkait, saling menjelaskan
sehingga menjadi suatu kesatuan yang utuh.
5. Berlaku umum, yakni pengetahuan itu tidak hanya berlaku atau dapat diamtai
oleh seseorang atau beberapa orang saja, tetapi oleh semua orang, dengan
cara eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama pula atau
konsisten.
6. Komulatif, berkembang dan tentative, sesuai dengan khasanah ilmu
pengetahuan yang selalu bertambah dengan hadirnya ilmu pengetahuan yang
baru. Ilmu pengetahuan yang terbukti salah harus diganti dengan ilmu
pengetahuan yang benar.
13

B. KRITERIA METODE ILMIAH


Jika suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode ilmiah,
maka metode tersebut harus mempunyai kriteria, antara lain sebagai berikut :
1. Berdasarkan fakta
Keterangan-keterangan yang ingin diperoleh dalam peneliitian, baik yang
akan dikumpulkan dan dianalisis haruslah berdasarkan fakta-fakta yang nyata,
janganlah penemuan atau pembuktian didasarkan pada daya khayal, kira-kira,
legenda-legenda atau kegiatan sejenis.
2. Bebas dari prasangka
Metode ilmiah harus mempunyai sifat bebas prasangka, bersih dan jauh juga
dari pertimbangan subjektif. Penggunaan suatu fakta haruslah dengan alasan
dan bukti yang lengkap serta dengan pembuktian yang objektif.
3. Menggunakan prinsip-prinsip analisis
Dalam memahami serta memberi arti terhadap fenomena yang kompleks,
harus digunakan prinsip analisis. Semua masalah harus dicari sebab-sebabnya
serta pemecahannya dengan menggunakan analisis yang logis. Fakta yang
mendukung tidaklah dibiarkan sebagaimana adanya atau hanya dibuat
deskripsinya saja, tetapi harus dicari sebab akibatnya dengan menggunakan
analisis yang tajam.
4. Menggunakan ukuran yang objektif
Kerja penelitian dan analisis harus dinyatakan dengan ukuran yang objektif.
Ukuran tidak boleh dengan merasa-rasa atau menuruti hati nurani.
Pertimbangan-pertimbangan harus dibuat secara objektif dan dengan
menggunakan pikiran yang waras.
5. Menggunakan teknik kuantitatif
Dalam metode ilmiah lazim digunakan kecuali untuk atribut-atribut yang
tidak dapat diidentifikasi. Ukuran seperti ton, mm, per detik dll. Jauhi ukuran-
ukuran seperti sejauh mata memandang, sehitam aspal, sejauh sebatang
rokok, dan sebagainya.
14

C. LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL METODE ILMIAH


Salah satu syarat ilmu pengetahuan ialah materi pengetahuan tersebut
haruslah diperoleh melalui metode ilmiah. Metode ilmiah adalah prosedur dalam
mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Senn berpendapat bahwa metode
ilmiah ialah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui segala sesuatu dengan
langkah-langkah yang sistematis, bersifat objektif dan konsisten. Sedangkan
metodologi ialah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam
metode tersebut.
Alur berfikir yang tercakup dalam metode ilmiah dapat dijabarkan dalam
langkah-langkah yang mencerminkan tahapan kegiatan ilmiah. Kerangka berfikir
ilmiah pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah yang disebut langkah-langkah
operasional metode ilmiah, sebagai berikut:
1. Perumusan Masalah
Perumusan masalah disini ialah pertanyaan-pertanyaan apa, mengapa ataupun
bagaimana objek yang hendak diteliti itu. Masalah itu harus jelas batas-
batasnya serta dikenal factor-faktor yang mempengaruhinya.
2. Penyusunan Kerangka Berpikir dalam Pengajuan Hipotesis
Kerangka berpikir merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan
yanag mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling berkait dan
membentuk konstelasi permasalahan. Kerangkan berpikir ini disusun secara
rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah diuji kebenarannya
dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan
permasalahan.
3. Perumusan Hipotesis
Hipotesis ialah suatu pernyataan yang menunjukkan kemungkinan-
kemungkinan jawaban untuk memecahkan masalah yang telah ditetapkan,
sutu dugaan yang didukung oleh pengetahuan yang ada, suatu jawaban
sementara dari permasalahan yang harus diuji kebenarannya dalam sutu
observasi atau eksperimentasi.
15

4. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis ialah berbagai usaha pengumpulan fakta-fakta yang
relevan dengan hipotesis yang telah diajukan untuk dapat memperlihatkan
apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak.
5. Penarikan Simpulan
Penarikan simpulan didasarkan atas penelilaian melalui analisis dari fakta-
fakta (data), untuk melihat apakah hipotesis yang diajukan itu diterima atau
tidak. Hi[potesis diterima apabila data yang terkumpul mendukung
pertanyaan hipotesis dan bila tidak mendukung maka hipotesi tersebut
ditolak. Hipotesis yang diterima merupakan sutau pengetahuan yang
kebenarannya telah diuji secara ilmiah dan merupakan bagian dari ilmu
pengetahuan.

D. SIKAP ILMIAH
Metode ilmiah menuntun dan menuntut pembentukan para ilmuan
mempunyai sikap ilmiah, antara lain sebagai berikut:
1. Jujur
Ilmuan wajib melaporkan dan mendesiminasikan hasil pengamatan dan
penelitian secara objektif dan jujur sehingga bila hasil pengamatan atau
penelitian tersebut bila diuji kembali oleh peneliti lain akan memberikan hasil
yang sama.

2. Terbuka
Peneliti harus mempunyai pandangan yang luas, terbuka pada pendapat orang
lain, jauh dari praduga dan menghargai gagasan baru orang lain meskipun
untuk menerimanya harus melakukan pengujian terlebih dahulu.
3. Toleran
Seorang ilmuan harus bersedia belajar dari orang lain atau membandingkan
pendapatnya dengan orang lain serta tidak memaksakan pendapatnya pada
orang lain.
16

4. Skeptis
Ilmuan harus bersikap hati-hati, meragukan sesuatu dan skeptis, tetapi kritis
sehingga akan menyelidiki dahulu buktu-bukti (informasi) yang mendasari
sutau simpulan, keputusan atau pemecahan masalah.
5. Optimis
Seorang ilmuan tidak akan mengatakan bahwa sesuatu tidak dapat dikerjakan
sebelum memikirkan dan mencoba mengerjakan terlebih dahulu.
6. Pemberani
Seorang ilmuan yang selalu mencari kebenaran, akan berani melawan
ketidakbenaran, kepura-puraan yang menghambat kemajuan, meskipun harus
merugikan diri sendiri.
7. Kreatif dan inovatif
Seorang ilmuan harus selalu ingin mendapatkan, menciptakan,
memvariasikan sesutau yang baru, guna mendapatkan nilai tambah.

E. KETERBATASAN DAN KEUNGGULAN METODE ILMIAH


1. Keterbatasan
Pengetahuan yang ilmiah dihasilkan dengan menggunakan metode ilmiah.
Kita telah mengetahui bahwa data yang digunakan untuk mengambil simpulan
ilmiah itu berasal dari pengamatan. Kita mengetahui pula bahwa pancaindera kita
juga mempunyai keterbatasan kemempuan untuk menangkap sutu fakta, sehingga
tidak disangsikan lagi bahwa data yang dikumpulkan ialah keliru sehingga
simpulan yang diambil pun akan keliru.
Jadi kemungkinan keliru atau salah satu simpulan ilmiah tetap ada. Oleh
karena itu, semua simpulan ilmiah atau dengan kata lain kebenaran pengetahuan
termasuk IPA bersifat tentative, artinya sebelum ada kebenaran ilmu yang dapat
menolak simpulan itu, maka simpulan tersebut dianggap benar. Sebaliknya,
simpulan ilmiah yang benar tersebut dapat menolak simpulan ilmiah terdahulu,
sehingga menjadi kebenaran ilmu yang baru.
17

2. Keunggulan
Ciri khas ilmu pengetahuan ialah bersifat objektif, metodik, sistematik dan
berlaku umum. Hal yang demikian akan membimbing kita pada sikap ilmiah yang
terpuji yakni:
a. Mencintai kebenaran yang objektif, bersikap adil dan itu semua akan
menjurus kea rah hidup yang bahagia
b. Menyadari bahwa kebenaran ilmu itu tidak absolut. Hal itu dapat menjurus
kerah mencari kebenaran terus-menerus
c. Dengan ilmu pengetahuan, orang tidak percaya pada tahayul, astrologi
maupun peruntungan, karena segala sesuatu dialam semesta ini telah melalui
proses yang teratur
d. Ilmu pengetahuan membimbing kita untuk ingin tahu lebih banyak.
Akibatnya, ilmu pengetahuan kita yang kita peroleh akan sangat membantu
pola kehidupan kita
e. Ilmu pengetahuan akan membimbing kita tidak berpikir secara prasangka,
tetapi berpikir secara terbuka dan objektif, suka menerima pendapat-pendapat
orang lain atau bersikap toleran
f. Metode ilmiah membimbing kita untuk tidak begitu saja percaya pada suatu
simpulan tanpa adanya bukti-bukti nyata
g. Metode ilmiah juga membimbing kita untuk selalu bersikap optimis, teliti,
dan berani membuat suatu pernyataan yang menurut keyakinan ilmiah kita
benar.

F. PERANAN MAREMATIKA TERHADAP ILMU PENGETAHUAN


ALAM
Sejak awal kehidupan manusia matematika itu merupakan alat bantu untuk
mengatasi sebagian permasalahan menghadapi lingkungan hidupnya. Sumbangan
matematika terhadap IPA sudah jelas, bahkan boleh dikatakan bahwa tanpa
matematika IPA tidak berkembang. Hal itu karena IPA tidak mengutamakan diri
pada metode induksi. Dengan metode induksi semata tak mungkin orang
mengetahui jarak antara bumi dengan bulan atu bumi dengan matahari, bahkan
18

untuk menyatakan keliling bumi saja hampir tidak mungkin. Ahli-ahli matematika
yang banyak sumbangannya dalam Ilmu Pengatahuan Alam, antara lain:
1. Pythagoras, mengadakan perhitungan terhadap benda-benda berbentuk segi
banyak
2. Apollonius, mengadakan perhitungan pada benda-benda yang bergaris
lengkung
3. Kepler (1609), berjasa dalam perhitungan jarak peredaran yang berbentuk
elips dari planet-planet
4. Galileo Galilei (1642), berjasa dalam menetapkan hukum lintasan peluru,
gerak dan percepatan
5. Huygens (1695), dapat memecahkan adanya teka-teki Cincin Saturnus,
perhitungan tentang bandulan, dan terkenal dengan perhitungan tentang
kecepatan cahaya, yakni 600.000 kali kecepatan suara (pada masa itu, orang
beranggapan bahwa cahaya tak membutuhkan waktu untuk memancar). Ini
semua hanyalah sekedar gambaran yang menunjukkan bahwa perkembangan
IPA selalu ditunjang atau secara mutlak membutuhkan tunjangan matematika.

G. ILMU PENGETAHUAN ALAM KUALITATIF DAN KUANTITATIF


Penemuan-penemuan seperti adanya gunung dibulan, Jupiter yang
mempunyai empat buah bulan, bercak hitam dimatahari yang dapat digunakan
untuk mengukur kecepatan rotasi matahri dan sebagainya, disebut ilmu
pengetahuan alam yang bersifat kualitatif. IPA yang kualitatif ini tidak dapat
menjawab pertanyaan yang sifatnya kausal atau hubungan sebab akibat, IPA
kualitatif itu hanya mampu memjawab pertanyaan tentang hal-hal yang aktual.
Simpulan yang dapat ditarik berdasarkan induksi (eksperimental) dan
dedukasi (perhitungan matematika atau statistik). Jadi IPA kuantitatif ialah IPA
yang dihasilkan oleh metode ilmiah yang didukung oleh data kuantitatif dengan
menggunakan statistic. IPA kuantitatif ini dapat disebut juga sebagai Ilmu
Pengetahuan Alam Modern.