Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM


FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN FAHTUL MEKKAH
TAHUN 9 H

Di susun oleh : KELOMPOK VIII


HIKMAH M

AMALIA

AINUR RIZKIAWATI

AHMAD RIFQI S

KELAS : X IPS 2

MADRASAH ALIYAH NEGERI KAPUAS

TAHUN 2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perjalanan dakwah Rasulullah saw. Dalam menyiarkan agama dan ajaran Islam dilalui dengan
proses yang begitu panjang dan berliku. Tentangan dan perlawanan dari kaum kafir yang
menyembah serta mengagungkan berhala sebagai sesepuh dan penerus keyakinan nenek moyang
tak dapat dihindari, cacian, makian, intervensi, dan siksaan yang dilontarkan kaum kafir seakan
menjadi menu harian bagi Rasululllah saw.
Kerasnya perlawanan kaum kafir makkah memaksa Rasulullah saw. untuk berhijrah, bermigrasi
ke negri lain yang lebih aman untuk menyelamatkan diri dan kaumnya yang sudah memeluk
Islam agar terhidar dari bahaya yang ditimbulkan kaum kafir serta mencari tempat untuk
membangun kekuatan, yang dikemudian hari menjadi pendukung bagi syiar Islam dan tegaknya
kalimat La Ilaha illallah Muhammad rasulullah.
Hijrahnya Rasulullah ke Madinah, beberapa peperangan yang terjadi antara kaum muslim
dengan kafirun, dan perjajian-perjajian diantara keduanya, serta peristiwa penjatuhan kota
Mekkah ke tangan kaum muslimin secara damai adalah merupakan gamabaran kegigihan
Rasulullah dalam mengislamkan kaumnya dan menebarkan rahmat lil alamani.
Adalah Fathul Makkah atau penahlukan kota Makkah ke tangan kaum muslimin sebagai tonggak
awal atau momentum kemenagan kaum Muslimin terhadap kafirun.

B. Rumusan Masalah
1. Hakikat Fathul Makkah ?
2. Arti kemenangan bagi kaum muslimin?
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian
Fathu dalam bahasa arab dari madhi fatacha yang artinya membuka.
Mekkah adalah kota suci umat Islam, selain kota kelahiran nabi Muhammad dikota ini terdapat
bangunan Kabah, tempat umat Islam sedunia melaksanakan ibadaha haji yang merupakan rukun
Islam yang ke lima. Secara astronomi terletak 39o-28o BT dan 21o-27o LU dan diketinggian 330
meter diatas permukaan laut.[1]
Fathu Makkah (bahasa Arab: , Pembebasan Mekkah) merupakan peristiwa yang terjadi
pada tahun 630tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, dimana Muhammad beserta 10.000
pasukan bergerak dari Madinah menujuMekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara
keseluruhan, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar
Ka'bah.[2]

B. Terjadinya Penaklukan
1. Penyebab
Perjanjian Hudaibiyah membolehkan setiap kabilah Arab manapun untuk menggabungkan diri
ke dalam barisan Nabi saw. atau ke dalam barisan kaum kafir Quraisy. Bani Bakar memilih
menggabungkan diri ke dalam barisan kaum Quraisy, sementara Bani Khuzaah ke dalam
barisan Rasulullah (Islam). Pada tahun 628, Quraisy dan Muslim dari Madinah menandatangani
Perjanjian Hudaybiyah. Meskipun hubungan yang lebih baik terjadi antara Mekkah dan Madinah
setelah penandatanganan Perjanjian Hudaybiyah, 10 tahun gencatan senjata dirusak oleh Quraisy
dan sekutunya. Orang-orang dari Banu Bakar meminta bantuan personil dan senjata kepada para
pemimpin Quraisy guna menyerang orang-orang Khuzaah. dimana Bani Khuza'ah telah
bergabung ikut dengan Nabi Muhammad dan sejumlah dari mereka telah memeluk islam (sesuai
perjanjian Hudaibiyah), sedangkan Bani Bakr bergabung dengan musyrikin Quraisy.
Permintaan bantuan ini disambut oleh Quraisy dengan mengirim sejumlah militer Quraisy
kepada mereka dengan cara menyamar. Di antara mereka terdapat Shafwan bin Umayyah,
Huwaithib bin Abdul Izzi dan Makraz bin Hafsh. Kemudian mereka bertemu dengan Banu Bakar
di sebuah tempat bernama al-Watir lalu mengepung selama semalam Banu Khuzaah yang
tengah tidur dengan tenang. Akhirnya mereka membunuh 20 orang lelaki dari Khuzaah. Setelah
peristiwa ini, Amer bin Salim al-KhuzaI bersama 40 orang dari Khuzaah berangkat dengan
menunggang kuda menemui Rasulullah saw guna melaporkan apa yang baru saja terjadi. Setelah
mendengarkan laporan tersebut, Nabi saw berdiri dengan menyeret selendangnya seraya
bersabda :
Aku tidak akan ditolong jika aku tidak membantu Banu Kaab sebagaimana aku menolong
diriku sendiri.
Ditegaskan pula : Sesungguhnya awan mendung ini akan dimulai hujannya dengan kemenangan
Banu KaabQuraisy menyesali tindakannya kemudian mengutus Abu Sofyan kepada Rasulullah
saw guna meminta perpanjangan dan perbaruan "gencaran senjata. Abu Sofyan menemui dan
berbicara dengan Rasulullah saw tetapi beliau tidak menjawab sama sekali. Kemudian Abu
Sofyan pergi menemui Abu Bakar meminta bantuannya untuk membicarakan persoalan yang
dibawanya kepada Rasulullah saw tetapi Abu Bakar menjawab: Aku tidak bisa melakukannya.
Ia lalu pergi menemui Umar bin Khattab untuk tujuan yang sama. Umar ra menjawab: Apa?
Aku harus membantumu menghadapi Rasulullah saw? Demi Allah, sekiranya aku tahu engkau
berbuat kesalahan walaupun sebutir pasir, tentu engkau kuperangi.. Abu Sufyan pun pulang
dengan tangan kosong.[3]
2. Penaklukan Kota Mekkah (Fat-Hu Makkah)
Rasulullah saw telah melakukan persiapan secara diam-diam seraya berdoa : Ya Allah,
tutuplah mata-mata Quraisy agar mereka tidak melihatku kecuali secara tiba-tiba.
Setelah Nabi saw mengumpulkan pasukan, Hatib bin Abi Baltaah mengirim surat kepada
Quraisy yang isinya memperingatkan mereka dari ancaman serangan kaum Muslimin. Ali ra
berkata: "Kemudian Rasulullah saw mengutusku bersama Zubair dan Miqdad. Nabi saw
berpesan: Berangkatlah sampai kalian tiba di kebun Khakh, karena di kebun itu ada seorang
wanita yang sedang membawa surat. Ambillah surat itu darinya! Ali ra melanjutkan:
Kemudian kami berangkat dengan menunggang kuda dan setibanya di tempat itu kami jumpai
serang perempuan yang dimaksudkan oleh Nabi saw. Kami katakan kepadanya: Keluarkanlah
surat yang kamu bawa. Wanita itu menjawab: Aku tidak membawa surat. Akhirnya kami
tekan: Keluarkan surat itu, kalau tidak engkau akan kami telanjangi. Ali ra berkata: "Kemudian
wanita itu terpaksa mengeluarkan surat yang dibawanya dari gelungannya. Kami kemudian
segera pulang menyampaikan surat itu dari Hatib bin Abi Baltaah kepada kaum Musyrikin yang
mengabarkan sebagian rencana ynag hendak dilakukan oleh Nabi saw, Hatib kemudian dipanggil
dan ditanya oleh Nabi saw: Hai Hatib, apa maksud suratmu itu? Ia menjawab: Wahai
Rasulullah saw, jangan buru-buru menghukum diriku. Aku mempunyai hubungan erat sekali
dengan Quraisy (yakni aku bagian dari mereka). Di antara orang-orang Muhajirin yang bersama
anda banyak yang mempunyai sanak famili di mekkah yang menjaga keluarga harta benda
mereka. Sekalipun orang-orang Quraisy itu tidak mempunyai hubungan silsilah denganku,
namun aku menginginkan supaya ada beberapa orang di antara mereka yang mau menjaga kaum
kerabatku. Aku berbuat demikian itu sama sekali bukan karena aku telah murtad dan bukan pula
karena aku ingin menjadi kafir, setelah aku memeluk Islam. Kemudian Rasulullah saw
bersabda: Sesungguhnya dia telah mengatakan yang sebenarnya kepada kalian. Akan tetapi
Umar ra berkata: "Sesungguhnya dia pernah turut serta perang Badar! Apakah engkau tahu,
kalau-kalau Allah meninggikan martabat orang yang turut serta dalam perang Badar, lalu Allah
bertitah : berbuatlah sekehendak kalian, kalian kuampuni .
Sehubungan dengan peristiwa tersebut turunlah firman Allah : Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai teman-teman setia yang kalian
berikan (keterangan-keterangan mengenai Muhammad) berdasarkan perasaan kasih sayang.
Sesungguhnya mereka itu mengingkari kebenaran yang datang pada kalian, dan mereka telah
mengusir Rasul serta kalian karena kalian beriman kepada Allah, Rabb kalian. Jika kalian benar-
benar hendak keluar berjuang di jalan-Ku (janganlah kalian berbuat sedemikian itu). (Janganlah)
kalian memberitahukan secara rahasia (keterangan-keterangan tentang Muhammad) kepada
mereka karena kasih sayang. Aku Maha Mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang
kalian nyatakan (secara terang-terangan). Dan barangsiapa di antara kalian melakukannya, maka
ia telah sesat dari jalan yang lurus. (QS Muhammad : 1 )
Rasulullah saw menunjuk Kaltsum bin Husain sebagai wakilnya di Madinah. Beliau berangkat
pada hari Rabu tanggal 10 Ramadhan setelah Ashar. Rasulullah saw memberikan kepada orang-
orang Arab di sekitar Madinah yang terdiri dari suku : Aslam, Ghiffar, Mazinah, Jahinah dan di
Zhahran tempat antara Mekkah dan Madinah. Jumlah kaum Muslimin mencapai 10.000 orang.
Kendatipun orang-orang Quraisy belum mengetahui berita sama sekali tetapi mereka sudah
memperkirakan berdasarkan kegagalan misi Abu Sofyan, Hakim bin Hazzam dan Badil bin
Warqa untuk mencari berita tentang sikap Rasulullah saw. Mereka berangkat menjalankan
misinya sampai ketika di dekat Zahran mereka menyaksikan obor api yang sangat besar, seraya
bertanya-tanya sesama mereka tentang api besar tersebut. Ketiga orang ini diketahui oleh para
pengawal Rasulullah saw kemudian ditangkap dan dibawa menghadap kepada Rasulullah saw,
saat itulah Abu Sofyan menyatakan diri masuk Islam.
Ketika Rasulullah saw bergerak menuju Mekkah, beliau berkata kepada Abbas ra: "Tahanlah
Abu Sofyan di mulut lembah sampai ia menyaksikan tentara-tentara Allah lewat di depannya.
Abbas melanjutkan kisahnya: Kemudian aku tahan Abu Sofyan di tempat yang diperintahkan
oleh Rasulullah saw. Tak lama kemudian pasukan Muslimin bergerak melewati jalan itu kabilah
demi kabilah dengan panjinya masing-masing. Setiap melihat kabilah lewat, Abu Sofyan
bertanya: "Hai Abbas, siapakah ini? Jawabku: Kabilah Sulaim. Ia menyahut: Ah, aku tidak
punya urusan dengan kabilah Sulaim! Begitulah seterusnya sampai Rasulullah saw lewat di
tengah-tengah pasukan yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar. Ia menatap satu persatu
dengan penuh kekaguman. Ia bertanya: Subhanallah, hai Abbas, siapakah mereka itu?
Kujawab: "Itulah Rasulullah saw di tengah-tengah kaum Muhajirn dan Anshar.! Ia berkata:
"Tak ada orang dan kekuatan yang sanggup menandingi mereka! Demi Allah, hai Abu Fadhal,
kemenakanku kelak akan menjadi maharaja besar: Aku menjawab: Hai Abu Sofyan, itu
bukan kerajaan, melainkan kenabian. Ia menyahut: Kalau begitu, alangkah mulianya.
Selanjutnya Abbas ra berkata kepadanya :Selamatkanlah kaummu! Kemudian Abu Sofyan
segera pergi ke Mekkah sebelum Rasulullah saw memasukinya. Dengan suara keras Abu Sofyan
berteriak :Wahai orang-orang Quraisy, Muhammad datang kepada kalian membawa pasukan
yang tak mungkin dapat kalian atasi. Karena itu, barangsiapa yang masuk rumah Abu Sofyan ia
selamat. Ketika mendengar ucapan Abu Sofyan seperti itu, istrinya yang bernama Hindun binti
'Utbah mendatanginya lalu memegang kumisnya seraya berkata: Bunuhlah Al Humait Ad
Dasam Al Ahmas! Alangkah buruknya perbuatanmu sebagai pemimpin!
Abu Sofyan menegaskan lagi: Celakalah kalian kalau bertindak menuruti hawa nafsu.
Muhammad datang membawa pasukan yang tak mungkin dapat kalian tandingi! Barangsiapa
yang masuk rumah Abu Sofyan ia selamat.
Orang-orang Quraisy mencemoohkan teriakannya: Celakalah engkau, hai Abu Sofyan! Apakah
gunanya rumahmu bagi kami?
Abu Sofyan menyahut: Barangsiapa menutup pintu rumahnya ia selamat! Dan barangsiapa yang
masuk ke dalam masjidil Haram ia selamat.
Orang-orang Quraisy kemudian berpencaran, sebagian pulang ke rumah masing-masing dan
sebagian lainnya pergi ke Masjidil Haram.
Ibnu Ishaq merawikan dari Abdullah bin Abu Bakar ra dan Al Hakim dari Anas ra, bahwa
Rasulullah saw ketika sampai di Dzi Thua beliau berada di atas untanya, mengenakan sorban
berwarna hijau tua dan menundukkan kepada dengan sersikap tawadhu kepada Allah, demi
melihat kemenangan (fat-h) yang dikaruniakan Allah kepadanya. Beliau duduk membongkok
sampai janggut beliau hampir menyentuh punggung ontanya. Bukhari meriwayatkan dari
Muawiya bin Qurah ra, ia berkata: Aku pernah mendengar Abdullah bin Mughaffal berkata:
Aku melihat Rasulullah saw pada waktu fat-hu Makkah berada di atas untanya, seraya membaca
surat Al-Fath berulang-ulang dengan bacaan yang merdu sekali. Sabda beliau: Seandainya orang-
orang tidak berkerumun di sekitarku niscaya aku akan membacanya berulang-ulang."
Nabi saw memasuki Mekkah langsung menuju Kabah. Di sekitar Kabah masih terdapat 360
berhala. Kemudian Nabi saw menghancurkannya satu persatu dengan sebuah pentungan di
tangannya seraya mengucapkan: Kebenaran telah tiba dan lenyaplah kebathilan. Kebenaran
telah tiba dan kebathilan tak akan kembali lagi. Di dalam Kabah juga terdapat beberapa berhala
sehingga Nabi saw enggan memasukinya sebelum berhala-berhala itu dihancurkan. Kemudian
berhala-berhala itu dikeluarkan. Di antaranya terdapat patung Ibrahim dan Ismail di kedua
tangannya memegang Azlam (anak panah untuk berjudi). Sabda Nabi saw: Celakalah mereka,
sesungguhnya mereka tahu bahwa keduanya (Ibrahim dan Ismail as) tidak pernah berjudi sama
sekali. Setelah itu Nabi saw masuk ke dalam Kabah dan bertakbir di sudut-sudut Kabah
kemudian keluar dan tidak melakukan shalat di dalamnya.
Nabi saw memerintahkan Ustman bin Thalhah (termasuk pemegang kunci Kabah) agar
memberikan kunci kepada beliau. Dengan kunci tersebut Nabi saw membuka Kabah kemudian
masuk ke dalamnya. Setelah keluar Nabi saw memanggil Ustman bin Thalhah dan
mengembalikan kunci itu kepadanya seraya berkata: Terimalah kunci ini untuk selamanya.
Sebenarnya bukan aku yang menyerahkannya kepada kalian, tetapi Allah yang menyerahkannya
kepada kalian. Sesungguhnya tidak seorang pun akan mencabutnya (hak memegang kunci
Kabah) kecuali seorang yang zhalim. Dengan ucapan ini beliau mengisyaratkan kepada firman
Allah: Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar menyampaikan amanat-amanat itu
kepada para ahlinya.
Rasulullah saw juga memerintahkan Bilal naik ke atas Kabah mengumandangkan adzan shalat.
Kemudian orang-orang berduyun-duyun masuk ke dalam agama Allah. Ibnu Ishaq berkata:
Setelah orang-orang berkumpul di sekitarnya, Nabi saw sambil memegang kedua penyanggah
pintu Kabah mengucapkan khutbahnya kepada mereka : "Tiada Ilah kecuali Allah semata. Tiada
sekutu bagi-Nya. Dialah (Allah) yang telah menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya
(Muhammad) dan mengalahkan musuh-musuh sendirian. Sesungguhnya segala macam balas
dendam, harta dan darah semuanya berada di bawah kedua kakiku ini, kecuali penjaga Kabah
dan pemberi air minum kepada jamaah haji. Wahai kaum Quraisy! Sesungguhnya Allah telah
mencabut dari kalian kesombongan jahiliyah dan mengagungkannya dengan keturunan. Semua
orang berasal dari Adam dan Adam itu berasal dari tanah. Kemudian Nabi saw membacakan
ayat : "Hai manusia sekalian! Sesungguhnya Kami (Allah) telah menjadikan kamu sekalian dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan. Dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku,
agar kamu saling mengenal antara satu dengan yang lain. Sesungguhnya yang paling mulia
diantara kamu dalam pandangan Allah adalah yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah itu
Maha Tahu dan Maha Mengerti. (QS Al-.Hujurat : 13).
Selanjutnya Nabi saw bertanya : "Wahai kaum Quraisy! Menurut pendapat kalian, tindakan
apakah yang hendak kuambil terhadap kalian? Jawab mereka : "Tentu yang baik-baik! Hai
saudara yang mulia dan putra saudara yang mulia. Beliau lalu berkata : "Pergilah kalian semua!
Kalian semua bebas. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Syuraih al-Adwi bahwa Nabi
saw bersabda di dalam khutbahnya pada waktu fat-hu Makkah: "Sesungguhnya Mekkah telah
diharamkan oleh Allah, bukan manusia yang mengharamkannya, tidak boleh bagi seorang yang
beriman kepada Allah dan hari akhir menumpahkan darah dan mencabut pohon di Mekkah.
Seandainya ada orang yang berdalih bahwa Rasulullah saw pernah melakukan peperangan di
mekkah, maka katakanlah kepadanya: Sesungguhnya Allah mengijinkan bagi Rasul-Nya tetapi
tidak mengijinkan kepadanya (Nabi saw) hanya sebentar. Sekarang "keharaman telah kembali
lagi sebagaimana sebelumnya. Hendaklah yang menyaksikan menyampaikan kepada yang tidak
hadir.
Kemudian orang-orang berkumpul di Mekkah guna berbaiat kepada Rasulullah saw untuk
senantiasa mendengar dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Setelah membaiat kaum lelaki,
Rasulullah saw membaiat kaum wanita. Maka berkumpullah para wanita Quraisy di hadapan
Nabi saw. Di antara mereka terdapat Hindun binti Utbah yang ikut hadir dengan menyamar
karena mengingat kekejamannya yang pernah dilakukannya terhadap Hamzah ra (di perang
Uhud). Setelah mereka mendekat untuk menyatakan baiat, Rasulullah saw bersabda:
Hendaklah kalian berbaiat kepadaku untuk tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu
apapun. Hindun binti Utbah berkata: Demi Allah, engkau ambil baiat dari kami yang tidak
engkau ambil dari kaum lelaki tetapi kami akan memberikannya kepadamu. Lanjut Nabi saw:
Dan tidak akan mencuri. Hindun menyergah lagi: Demi Allah, aku dulu sering mengambil
uangnya Abu Sofyan. Aku tidak tahu apakah hal itu dihalalkan atau tidak? Jawab Abu Sofyan
yang saat itu hadir di majelis itu: Aku halalkan semua hartaku yang pernah kau ambil. Nabi
saw bertanya: "Apakah engkau Hindun binti 'Utbah. Kata Nabi saw kepada Abu Sofyan:
Maafkan ia atas perbuatannya yang telah lalu, semoga Allah memaafkanmu. Selanjutnya
Nabi saw menyatakan: Dan kalian tidak akan berzina. Hindun berkomentar: Wahai
Rasulullah adakah seorang yang merdeka akan berzina ? Kemudian Nabi saw melanjutkan:
Dan kalian tidak akan membunuh anak-anak kalian.. Hindun menukas: Kami pelihara putra-
putri kami di waktu kecil tetapi setelah besar engkau bunuh di Badr, dan kamu mengetahui
mereka. Umar ra yang juga ikut hadir di Majelis ini tersenyum mendengar ucapan Hindun
tersebut. Nabi saw melanjutkan: Dan kalian tidak berbohong untuk menutup-nutupi apa yang
ada di depan atau di belakang kalian: Hindun berkata: Demi Allah berbohong adalah perbuatan
yang sangat buruk dan melebihi batas itu serupa. Kemudian Rasulullah saw berkata kepada
Umar ra: Baiatlah mereka (wanita-wanita yang telah dimintakan amnesti kepada Rasulullah
saw). Lalu Umar ra pun membaiat mereka.
Dalam pembaiatan Rasulullah saw tida berjabatan tangan ataupun menyentuh wanita, kecuali
wanita yang telah dihalalkan Allah kepadanya.
Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata: Adalah Nabi saw membaiat kaum wanita
secara lisan (saja) dengan ayat ini: Tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.
Selanjutnya Aisyah ra menjelaskan: Tangan Rasulullah saw tidak menyentuh tangan wanita
sama sekali kecuali wanita yang telah halal baginya. Muslim meriwayatkan hadits yang serupa
dengan ini dari Aisyah ra. Pada hari Fat-hu Mekkah ini Ummu Hani binti Abu Thalib
memberikan jaminan perlindungan kepada seorang Musyrik tetapi Ali ra, bersikeras ingin
membunuhnya. Ummu Hani berkata : Kemudian aku datang kepada Nabi saw. Ketika aku
datang, beliau sedang mandi dan Fathimah, anak beliau, menutupinya dengan kain. Kemudian
aku ucapkan salam kepada beliau. Beliau bertanya: "Siapakah ini? Kujawab: Ummu Hani
binti Abu Thalib. Nabi saw menyambut: "Selamat datang Ummu Hani. Setelah selesai mandi,
beliau lalu shalat delapan rakaat dengan berbungkus satu kain kemudian meninggalkan
tempatnya. Kutanyakan: "Wahai Rasulullah saw, anak ibuku, Ali ra, bersikeras ingin membunuh
seorang yang telah kujamin keamanannya (lelaki itu adalah Ibnu Hubairah)." Kemudian Nabi
saw bersabda: Kami telah melindungi orang yang engkau lindungi wahai Ummu Hani.
Adapun orang-orang yang telah diperintahkan Rasulullah saw untuk membunuhnya, diantara
mereka ada yang telah dibunuh dan sebagian yang lain telah masuk Islam. Huwairits, Abdullah
Ibnu Khathal dan Muqis bin Hubabah tewas dibunuh. Demikian pula salah seorang diantara dua
orang penyanyi wanita, sedangkan wanita penyanyi yang satu telah masuk Islam. Kepada
Abdullah bin Saad bin Abu Sarah telah diberi syafaat (ampunan) dan telah membuktikan
dirinya sebagai seorang Muslim yang baik. Demikian pula kepada Ikrimah, Hubar dan Hindun
binti Utbah.
Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa Fadhalah bin Umair al-Laitsi bermaksud ingin membunuh
Nabi saw pada saat beliau sedang thawaf di Kabah di hari Fat-hu Makkah. Ketika Fadhalah
mendekat tiba-tiba Rasulullah saw mengatakan: Apakah ini Fadhalah? Ia menjawab: Ya, saya
Fadhalah wahai Rasulullah saw. Nabi saw bertanya: Apa yang sedangkau pikirkan? Ia
menjawab: Tidak memikirkan apa-apa, aku sedang teringat Allah kok. Sambil tersenyum
Rasulullah saw berkata: Mohonlah ampun kepada Allah Kemudian Nabi saw meletakkan
tangannya di atas dadanya sehingga hatinya menjadi tenang. Fadhalah berkata: Begitu beliau
melepaskan tangan dari dadaku, aku merasa tak seorang pun yang lebih aku cintai daripada
beliau.
Kemudian Fadhalah kembali ke rumahnya melewati seorang ynag pernah dicintainya. Wanita itu
memanggil dan mengajaknya bicara, tetapi kemudian dari mulut Fadhalah keluar untaian bait-
bait ini :
Dia Berkata : Marilah kita ngobrol! Tidak, jawabku. Allah dan Islam telah melarangku Aku baru
saja melihat Muhammad Di hari penaklukan, hari dihancurkannya semua berhala Agama Islam
itu sangat jelas dan nyata Sedang kemusyrikan adalah kegelapan.
Menurut riwayat Bukhari dari Ibnu Abbas, Nabi saw berada di Mekkah selama 19 hari dengan
menqashar shalat.
Dari Al-Hajun Nabi Muhammad memasuki Mesjid Al-Haram dengan dikelilingi kaum Muhajirin
dan Anshar. Setelah thawaf mengelilingi Ka'bah, Nabi Muhammad mulai menghancurkan
berhala dan membersihkan Ka'bah. Dan selesailah pembebasan Mekkah.[4]

3. Pertumpahan darah
Disampaikan kepada Rasulullah saw bahwa ketika Saad bin 'Ubadah melewati Abu Sofyan di
mulut lembah, ia berkata : Hari ini adalah hari pembantaian. Hari ini dibolehkan melakukan
segala hal yang dilarang di Kabah.Kemudian Nabi saw membantah dengan sabdanya :
"Bahkan hari ini adalah hari kasih sayang, di hari ini Allah mengagungkan Kabah. Nabi saw
memerintahkan para panglima pasukannya agar tidak memerangi kecuali orang yang memerangi
mereka dan enam orang lelaki serta empat wanita. Nabi saw memerintahkan membunuh mereka
dimana saja mereka didapatkan. Mereka itu adalah : Ikrimah bin Abu Jahal, habbar bin Al
Aswad, Abdullah bin Saad bin Abu Sarah, Muqis bin Dhababah al Laitsi, huwairits bin Nuqaid,
Abdullah bin Hilal, Hindun binti 'Utbah, Sarah mantan budak Amer bin Hisyam, Fartanai dan
Qarinah (kedua wanita terakhir ini di masa dahulu selalu menyanyikan lagu-lagu penghinaan
kepada Nabi saw).
Nabi saw memasuki Mekkah dari dataran tinggi "Kida dan memerintahkan Khalid bin Walid
bersama pasukannya agar memasuki Mekkah dari dataran rendah "Kida. Akhirnya kaum
Muslimin memasuki Mekkah sebagaimana diperintahkan Nabi saw tanpa mendapatkan
perlawanan kecuali Khalid bin Walid. Ia menghadapi sejumlah kaum Musyrikin yang di antara
mereka terdapat Ikrimah bin Abu Jahal dan Shofwan bin Umaiyah. Khalid memerangi mereka
dan berhasil membunuh 24 orang dari Quraisy dan 4 orang dari Hudzail. Rasulullah saw melihat
kilatan pedang dari kejauhan kemudian nampak beliau tidak menyukainya. Dikatakan kepadanya
bahwa kilatan itu adalah Khalid bin Walid yang diserang kemudian membalas serangan, sabda
Nabi saw: "Ketentuan Allah selalu baik.
4. Pemimpin pasukan
Ketika sampai di Dzu Thuwa, Nabi Muhammad membagi pasukannya, yang terdiri dari tiga
bagian, masing-masing adalah:
1. Khalid bin Walid memimpin pasukan untuk memasuki Mekkah dari bagian bawah,
2. Zubair bin Awwam memimpin pasukan memasuki Mekkah bagian atas dari bukit Kada',
dan menegakkan bendera di Al-Hajun,
3. Abu Ubaidah bin al-Jarrah memimpin pasukan dari tengah-tengah lembah hingga sampai
ke Mekkah.

5. Islamnya Abu Sofyan


Ibnu Ishaq berkata diriwayatkan dari Abbas tentang rincian Islamnya Abu Sofyan menghadap :
Keesokkan harinya aku bawa Abu Sofyan menghadap Rasulullah saw dan setelah melihatnya
Rasulullah saw berkata: Celaka wahai Abu Sofyan, tidakkah tiba saatnya bagi anda untuk
mengetahui sesungguhnya tidak ada Illah kecuali Allah? Abu Sofyan menyahut: Alangkah
penyantunnya engkau, alangkah mulianya engkau dan alangkah baiknya engkau! Demi Allah
aku telah yakin seandainya ada Ilah selain Allah niscaya dia telah membelaku. Nabi saw
bertanya lagi: Tidakkah tiba saatnya bagi anda untuk mengetahui bahwa aku adalah Rasul
Allah? Abu Sofyan menjawab: Sungguh engkau sangat penyantun, pemurah, dan suka
menyambung keluarga. Demi Allah, mengetahi hal yang satu ini sampai sekarang di dalam
diriku masih ada sesuatu yang mengganjal. Abbas ra menukas: "Celaka! Masuk Islamlah dan
bersaksilah tiada Ilah kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, sebelum lehermu
dipenggal. Kemudian Abu Sofyan mengucapkan syahadah dengan benar dan masuk Islam.
Abbas ra melanjutkan: "Kemudian aku katakan, wahai Rasulullah saw, sesungguhnya Abu
Sofyan adalah seorang yang menyukai kebanggaan dirinya. Nabi saw menjawab: Ya,
barangsiapa yang masuk rumah Abu Sofyan, ia selamat, barangsiapa yang menutup pintu
rumahnya ia selamat, dan barangsiapa yang masuk ke dalam Masjidil Haram ia selamat.
BAB III
ANALISA

Melihat dari penyebab terjadinya Fathul Mekkah, hal ini terjadi akibat terjadinya penghianatan
terhadap perjanjian Hudaibiyah yang telah disepakati oleh semua pihak baik muslim dan non-
muslim, bukan karena ekspansi militer dan nafsu Rasulullah yang ingin menuntut balas atas
kekejaman yang dilakukan kafir baik kepada Rasulullah ataupun kepada orang-orang yang
menjadi pengikutnya. Dalam peristiwa ini Rasulullah saw pun memperlihatkan kerahmatan
Islam dimana meskipun sebenarnya memungkinkan sekali terjadi pembataian dilakukan akan
tetapi hal itu tidak dilakukan, kemenangan dalam fathul Mekkah dengan cara begitu damai,
takluknya para kafirun pun karena simpati terhadap sifat belas asih, dan kasih sayang yang
ditunjukkan kepada musuh-musuhnya, sama sekali tidak ada kebencian yang ditunjukkan kepada
mereka yang dahulu bengitu ganas menyiksa Rasulullah dan kaum muhajirin sewaktu masih di
Mekkah.
Sejak saat itu Islam benar-benar merasakan kemenangan yang sejati. Kaum muslimin begitu
leluasa menjalankan ibadah disekitar Baitul Haram, melaksanakan ibadah haji, shalat berjamaah,
hubungan silaturrahmipun terjalin begitu erat tidak ada lagi kecemasan dan kekhawatiran
dikalangan mereka. Dakwah Islampun mulai secara terbuka dilingkungan Mekkah yang
kemudian menjadi pusat kajian Islam. Baitul Haram benar-benar telah haram (suci) karena sudah
tidak ada lagi patung-patung berhala yang selama ini menjadi sesembahan dan sumber kekafiran.
Kaum muslimin merayakan kemeredekaannya, kemerdekaan secara lahiriyah dari ancaman
peperangan dan siksaan, dan kemenagan secara batiniyah diterima dan diyakininya Islam oleh
para musuh mereka sebagai agama yang benar dan ampunan Allah yang dilimpahkan kepada
mereka semua yang telah diberi hidayah.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari terjadinya Fathul Mekkah kaum muslimin bisa mengambil beberapa ibrah (pelajaran),
bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin, Islam membolehkan perang angkat senjata melawan
orang kafir yang memang memusuhi secara nyata (harby), Islam yang menebar perdamaian akan
lebih mudah diterima karena mendapat simpati, dalam melakukan perjanjian apapun hendaknya
supaya kaum muslim amanah da tidak melanggar dari perjanjian tersebut, kemengan pada fathul
mekkah adalah bukti kebenaran Islam dan juga janji Allah SWT.

B. Penutup
Demikianlah sedikit dari pemaparan kami terhadap momentum fathul mekkah dan makna
kemenangan bagi kaum muslimin. Semoga dari sini dapat diambil sebuah manfaat yang
mengantarkan kepada kebaikan.

________________________________________
[1] Ensiklopedi Islam
[2] Wikipedia.org
[3] Sirrah Nabawiyyah
[4] Ibid