Anda di halaman 1dari 50

ANALISIS KUANTITATIF BESI (Fe), SENG (Zn) DAN MANGAN

(Mn) DALAM AIR SUMUR DENGAN METODE


SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

KARYA ILMIAH

LISYA YUANITA
062401012

PROGRAM STUDI DIPLOMA 3 KIMIA ANALIS


DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Universitas Sumatera Utara


ANALISIS KUANTITATIF BESI (Fe), SENG (Zn) DAN MANGAN (Mn) DALAM
AIR SUMUR DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

KARYA ILMIAH

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Dan Memenuhi Syarat Memperoleh Ahli Madya

LISYA YUANITA
062401012

PROGRAM STUDI DIPLOMA 3 KIMIA ANALIS


DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Universitas Sumatera Utara


PERSETUJUAN

Judul : Analisis Kuantitatif Besi (Fe), Seng (Zn) dan Mangan


(Mn) Dalam Air Sumur Dengan Metode Spektrofotometri
Serapan Atom
Kategori : Karya Ilmiah
Nama : Lisya Yuanita
NIM : 062401012
Program Studi : Diploma 3 Kimia Analis
Departemen : Kimia
Fakultas : Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)
Universitas Sumatera Utara

Diluluskan di
Medan, Juni 2009

Diketahui/Disetujui Oleh
Departemen Kimia FMIPA USU Komisi Pembimbing:
Ketua, Pembimbing,

Dr.Rumondang Bulan Nst, MS Cut Fatimah Zuhra,S.Si,M.Si


NIP. 131 459 466 NIP. 132 240 151

Universitas Sumatera Utara


PERNYATAAN

ANALISIS KUANTITATIF BESI (Fe), SENG (Zn) DAN MANGAN (Mn) DALAM
AIR SUMUR DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

KARYA ILMIAH

Saya mengakui bahwa karya ilmiah ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali
beberapa kutipan dan ringkasan yang masing masing disebutkan sumbernya.

Medan, Juni 2009

LISYA YUANITA
062401012

Universitas Sumatera Utara


PENGHARGAAN

Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas Rahmat dan Karunia-
Nya berupa kesehatan dan kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan karya
ilmiah ini dengan baik.

Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada: Ibu Cut Fatimah Zuhra, S.Si,
M.Si, selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu dan pikiran untuk
memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan karya ilmiah
ini. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Ibu DR.Rumondang.Bulan.MS selaku
Ketua Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Ibu
DR.Marpongahtun.M.Sc selaku Koordinator Program Diploma 3 Kimia Analis. Bapak
Chairul Azhar, dosen serta seluruh staf pengajar FMIPA USU yang telah membagi
ilmu dan pengetahuannya kepada penulis. Bapak Martias di Baristan Industri Medan,
tempat penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang telah memberikan
masukan dalam penyusunan karya ilmiah ini. Seluruh staf pegawai Departemen Kimia
FMIPA USU, yang telah membantu mengurus segala administrasi yang diperlukan.
Papa, Mama, Adik adik serta keluarga tercinta yang telah memberikan dukungan
baik moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan studi ini.Rekan
rekan seperjuangan di PAKA, khususnya Rana, Yani, Jashinta, Apep, Fiji, Arsad,
Andre, Jatu, Kikie dan seluruh mahasiswa/i Kimia Analis angkatan 2004-2008 yang
telah memberi semangat dan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan karya
ilmiah.

Penulis menyadari bahwa dalam karya ilmiah ini masih terdapat kekurangan.
Untuk itu penulis menerima dengan lapang dada kritik dan saran yang bersifat
membangun demi sempurnanya laporan ini. Akhir kata penulis mengharapkan karya
ilmiah yang sederhana ini bermanfaat bagi pembaca, semoga kiranya Allah SWT
meridhoi kita semua dan senantiasa melimpahkan rahmad-Nya.

Medan, Juni 2009

Penulis

Universitas Sumatera Utara


ABSTRAK

Telah dilakukan analisis kadar logam Besi (Fe), Seng (Zn) dan Mangan (Mn)
dari sample air sumur dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) menggunakan
metode destruksi basah dengan penambahan HNO3 pekat sebagai pelarut dan
pembentuk suasana asam. Kemudian dilakukan pengukuran absorbansi pada panjang
gelombang () = 248,3 nm untuk analisis Besi, () = 213,9 nm untuk analisis Seng,
dan () = 279,5 nm untuk analisis Mangan. Dari hasil analisa yang dilakukan
deperoleh kadar logam Besi, Seng dan Mangan masing masing adalah 0,3621 mg/l;
0,0117 mg/l; dan 3,1567 mg/l. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa kandungan
logam Besi dan Seng dalam sampel air sumur yang dianalisis berada di bawah nilai
ambang batas standar yang ditetapkan dalam PPRI No. 82 tahun 2001 dan kandungan
Mangan jauh melebihi nilai ambang batas yang diperbolehkan dalam PPRI No.82
tahun 2001.

Universitas Sumatera Utara


QUANTITATIVE ANALYSIS OF IRON (Fe), ZINK (Zn) AND
MANGANESE (Mn) IN GROUND WATER USING
ATOMIC ABSORBTION SPECTROPHOTOMETRIC

ABSTRACT

An analysis have benn done to determine the concentration of Iron (Fe), Zinc
(Zn) and Manganese (Mn) in ground water sample which was measured by Atomic
Absorption Spectrophotometer using wet digestion method with concentrated HNO3
addition as solvent and to forming an acid condition. Then the absorbantion measured
at wavelength () = 248,3 nm for Iron; 213,9 nm for Zinc and 279,5 nm for
Manganese. The result of analysis showed the concentration of Iron, Zinc and
Manganese were: 0,3621 mg/l; 0,0117 mg/l and 3,1567 mg/l. Based of the result
analysis showed the Iron and Zinc concentration in ground water sample which was
analyzed were lower than maximum limit standard in PPRI No. 82. 2001, and the
concentration of Manganese was higher than maximum limit standard which was
allowed in PPRI No.82 .2001

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR ISI

Halaman

Persetujuan ii
Pernyataan iii
Penghargaan iv
Abstrak v
Abstract vi
Daftar Isi vii
Daftar Gambar ix
Daftar Tabel x
Daftar Kurva xi
BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Permasalahan 3
1.3. Pembatasan Masalah 3
1.4. Tujuan 3
1.5. Manfaat 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 4
2.1. Air Tanah 4
2.2. Syarat Air Minum 5
2.3. Logam Besi 7
2.4. Logam Seng 8
2.5. Logam Mangan 9
2.6. Spektrofotometri Serapan Atom 11
2.6.1. Prinsip Analisa 11
2.6.2. Instrumentasi 12
BAB 3 METODOLOGI DAN PERCOBAAN 15
3.1. Prinsip Analisa 15
3.2. Alat alat 15
3.3. Bahan bahan 16
3.4. Pembuatan Larutan Standar 16
3.4.1. Pembutan Larutan Standar Fe 16
3.4.2. Pembutan Larutan Standar Zn 17
3.4.3. Pembuatan larutan standar Mn 17
3.5. Prosedur Percobaan 18
3.5.1. Pembuatan Kurva Kalibrasi Larutan Seri Standar 18
3.5.2. Preparasi Sampel 19
3.5.3. Pengukuran Absorbansi Sampel 19
3.5.4. Instruksi Kerja Spektrofotometer Serapan Atom 20
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 22
4.1. Data Hasil Percobaan 22
4.2. Perhitungan 24
4.2.1.Perhitungan Persamaan Garis Regresi 24
4.2.2. Perhitungan Kurva Kalibrasi 27

Universitas Sumatera Utara


4.2.3. Perhitungan Konsentrasi Sampel 28
4.3. Pembahasan 30
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 32
5.1 Kesimpulan 32
5.2 Saran 32
DAFTAR PUSTAKA 33
LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1. Temperatur nyala dengan pelbagai gas pembakar 13


Tabel 4.1. Data Hasil Pengukuran Absorbansi Larutan Standar Fe dengan
Spektrofotometer Serapan Atom 22
Tabel 4.2. Data Hasil Pengukuran Absorbansi Fe dalam Sampel Air Sumur
dengan Spektrofotometer Serapan Atom 22
Tabel 4.3. Data Hasil Pengukuran Absorbansi Larutan Standar Zn dengan
Spektrofotometer Serapan Atom 23
Tabel 4.4. Data Hasil Pengukuran Absorbansi Zn dalam Sampel Air Sumur
dengan Spektrofotometer Serapan Atom 23
Tabel 4.5. Data Hasil Pengukuran Absorbansi Larutan Standar Mn dengan
Spektrofotometer Serapan Atom 23
Tabel 4.6. Data Hasil Pengukuran Absorbansi Mn dalam Sampel Air Sumur
dengan Spektrofotometer Serapan Atom 24
Tabel 4.7. Data Perhitungan persamaan garis regresi untuk analisis Fe dengan
Spektrofotometer Serapan Atom 24
Tabel 4.8. Data Perhitungan persamaan garis regresi untuk analisis Zn dengan
Spektrofotometer Serapan Atom 25
Tabel 4.9. Data Perhitungan persamaan garis regresi untuk analisis Mn dengan
Spektrofotometer Serapan Atom 25
Tabel 4.10. Harga y baru untuk larutan seri standar Fe 27
Tabel 4.11. Harga y baru untuk larutan seri standar Zn 27
Tabel 4.12. Harga y baru untuk larutan seri standar Mn 28
Tabel 4.13. Konsentrasi Besi, Seng dan Mangan dalam sampel air sumur 29
Tabel 1. Kriteria air minum berdasarkan kelas 35

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1. Sistem Peralatan Spektrofotometer Serapan Atom 12


Gambar.2 Kurva Kalibrasi Larutan Seri Standar Fe 38
Gambar 3. Kurva Kalibrasi Larutan Seri Standar Zn 38
Gambar 4. Kurva Kalibrasi Larutan Seri Standar Mn 38

Universitas Sumatera Utara


ABSTRAK

Telah dilakukan analisis kadar logam Besi (Fe), Seng (Zn) dan Mangan (Mn)
dari sample air sumur dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) menggunakan
metode destruksi basah dengan penambahan HNO3 pekat sebagai pelarut dan
pembentuk suasana asam. Kemudian dilakukan pengukuran absorbansi pada panjang
gelombang () = 248,3 nm untuk analisis Besi, () = 213,9 nm untuk analisis Seng,
dan () = 279,5 nm untuk analisis Mangan. Dari hasil analisa yang dilakukan
deperoleh kadar logam Besi, Seng dan Mangan masing masing adalah 0,3621 mg/l;
0,0117 mg/l; dan 3,1567 mg/l. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa kandungan
logam Besi dan Seng dalam sampel air sumur yang dianalisis berada di bawah nilai
ambang batas standar yang ditetapkan dalam PPRI No. 82 tahun 2001 dan kandungan
Mangan jauh melebihi nilai ambang batas yang diperbolehkan dalam PPRI No.82
tahun 2001.

Universitas Sumatera Utara


QUANTITATIVE ANALYSIS OF IRON (Fe), ZINK (Zn) AND
MANGANESE (Mn) IN GROUND WATER USING
ATOMIC ABSORBTION SPECTROPHOTOMETRIC

ABSTRACT

An analysis have benn done to determine the concentration of Iron (Fe), Zinc
(Zn) and Manganese (Mn) in ground water sample which was measured by Atomic
Absorption Spectrophotometer using wet digestion method with concentrated HNO3
addition as solvent and to forming an acid condition. Then the absorbantion measured
at wavelength () = 248,3 nm for Iron; 213,9 nm for Zinc and 279,5 nm for
Manganese. The result of analysis showed the concentration of Iron, Zinc and
Manganese were: 0,3621 mg/l; 0,0117 mg/l and 3,1567 mg/l. Based of the result
analysis showed the Iron and Zinc concentration in ground water sample which was
analyzed were lower than maximum limit standard in PPRI No. 82. 2001, and the
concentration of Manganese was higher than maximum limit standard which was
allowed in PPRI No.82 .2001

Universitas Sumatera Utara


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang banyak,

bahkan oleh semua makhluk hidup. Sehingga semakin naik jumlah penduduk serta

laju pertumbuhannya maka semakin meningkat pula laju pemanfaatan sumber-sumber

air (Slamet,1994). Seiring dengan berjalannya waktu, Perkembangan peradaban serta

bertambahnya jumlah penduduk akan menambah aktivitas kehidupan yang menambah

pengotor atau pencemaran air (Sutrisno,1996). Akibatnya, limbah sisa dari aktivitas

manusia dapat memasuki badan air yang salah satunya adalah air sumur sehingga

dapat mengakibatkan pencemaran terhadap sumber air tersebut.

Sebagian masyarakat Indonesia masih menggunakan air sumur untuk

memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air sumur diklasifikasikan sebagai air kelas satu,

yang artinya digunakan untuk air baku sebagai air minum dan atau peruntukkan

lainnya yang mempersyaratkan persyaratan yang sama dengan kegunaan air tersebut.

(PP No. 82 tahun 2001). Karena luasnya penggunaan air sumur sebagai air minum,

maka perlu diadakannya pemeriksaan terhadap air sumur tersebut.

Air yang dapat dikonsumsi sebagai air minum adalah air yang telah memenuhi

standar kesehatan. Di Indonesia, standar kualitas air minum diatur dalam Peraturan

Pemerintah No 82 tahun 2001. Di dalam air sumur terkandung ion ion logam, di

antaranya adalah Besi (Fe), Mangan (Mn) dan Seng (Zn) yang kadarnya harus

Universitas Sumatera Utara


memenuhi standar kesehatan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Besi dan Mangan

terkandung dalam air sumur sebagai unsur mikro, dan Zn sebagai unsur renik (Slamet,

1994).

Besi, Seng dan Mangan dibutuhkan oleh tubuh sebagai nutrient. Tubuh

membutuhkan 7 35 mg unsur besi tiap hari, 10 15 mg unsur Seng per hari dan 10

mg unsur Mn per hari (Sutrisno, 1996). Walaupun unsur unsur tersebut diperlukan

oleh tubuh, tetapi jika melebihi kebutuhan maka akan menimbulkan masalah bagi

kesehatan.Besi mengakibatkan kerusakan pada dinding usus halus. Seng yang

memiliki toxisitas rendah mengakibatkan muntaber. Mangan dapat mengakibatkan

insomnia (Slamet, 1994). Oleh karena itu diperlukan suatu analisa terhadap air

tersebut sehingga dapat diketahui apakah air sumur tersebut telah memenuhi standar

yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No 82 tahun 2001.

Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menentukan kandungan logam

Fe, Zn dan Mn adalah dengan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Analisis dengan

metode ini memiliki beberapa kelebihan. Diantaranya adalah sensitifitas yang tinggi,

teliti, cepat, dan pengerjaannya relatif sederhana.

Oleh karena itu, penulis tertarik membuat karya ilmiah yang berjudul

Analisis Kuantitatif Besi (Fe), Seng (Zn) dan Mangan (Mn) Dalam Air Sumur

dengan Metode Spektrofotometri Serapan Atom. Sehingga pada akhirnya dapat

diketahui apakah air sumur yang dianalisa telah memenuhi standar air minum atau

tidak.

Universitas Sumatera Utara


1.2. Permasalahan

Air sumur yang layak untuk dikonsumsi sebagai air minum, harus memenuhi

standar kualitas air yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No 82 tahun 2001.

Salah satu standar yang harus dipenuhi untuk air minum adalah kandungan ion logam

seperti Fe (Besi), Zn (Seng) dan Mn (Mangan) yang banyak terkandung dalam air

tanah. Oleh karena diadakan suatu pengujian terhadap air sumur tersebut. Apakah

kandungan logam Fe, Zn dan Mn di dalam air sumur tersebut telah memenuhi standar

Peraturan Pemerintah No 82 tahun 2001.

1.3. Pembatasan Masalah

Dalam hal ini penulis membatasi permasalahan dari penulisan karya ilmiah ini

hanya pada pemeriksaan logam Besi, Seng dan Mangan di dalam analisisnya.

1.4. Tujuan

Untuk menentukan kadar logam Besi, Seng dan Mangan pada air sumur

menggunakan metode Spektrofotometri Serapan Atom.

1.5. Manfaat

Diharapkan pada akhirnya pembaca mendapatkan suatu informasi apakah air

sumur yang diuji telah memenuhi standar air minum atau tidak dan diharapkan tulisan

ini dapat menambah wawasan pembaca.

Universitas Sumatera Utara


kimia (garam-garam terlarut) karena melalui lapisan tanah yang mempunyai unsur-

unsur kimia Yang berbeda untuk masing-masing lapisan tanah. Disamping itu,

pengotoran juga masih terus berlangsung. Terutama pada permukaan air yang dekat

dengan permukaan tanah, setelah menemui lapisan rapat air. Air akan terkumpul

merupakan air tanah dangkal dimana air tanah ini dimanfaatkan untuk sumber air

minum melalui sumur-sumur dangkal (Sutrisno, 1996).

2.2. Syarat Air Minum

Air minum ideal seharusnya jernih, tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak

berbau, air minum pun seharusnya tidak mengandung kuman pathogen dan segala

makhluk yang membahayakan kesehatan manusia, tidak mengandung zat kimia yang

dapat mengubah fungsi tubuh, tidak dapat diterima secara estetis, dan dapat

merugikan secara ekonomi. Air itu seharusnya tidak korosif, tidak meninggalkan

endapan pada seluruh jaringan distribusinya (Slamet, 1994). Parameter air secara

umum terbagi menjadi:

1. Paramater Fisik

Air minum yang berbau tidak akan disukai oleh masyarakat. Bau dari air dapat

memberi petunjuk akan kualitas air. Misalnya bau amis dapat disebabkan oleh

algae.

Air minum biasanya tidak memberi rasa/tawar. Air yang tidak tawar dapat

menunjukkan kehadiran berbagai zat yang dapat membahayakan kesehatan.

Efeknya tergantung pada penyebab timbulnya rasa tersebut.

Suhu air sebaiknya sejuk atau tidak panas terutama agar tidak terjadi pelarutan

kimia yang ada pada saluran pipa, yang dapat membahayakan kesehatan. Suhu

Universitas Sumatera Utara


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Air Tanah

Air tanah merupakan air yang berada di bawah permukaan tanah. Pergerakan air tanah

sangat lambat dan dipengaruhi oleh porositas, permeabilitas dari lapisan tanah dan

pengisian kembali air. Karakteristik utama yang membedakan air tanah dari air

permukaan adalah pergerakan yang sangat lambat dan waktu tinggal yang sangat

lama, yaitu dapat mencapai puluhan bahkan ratusan tahun. Karena pergerakan yang

sangat lambat dan waktu tinggal yang lama tersebut, air tanah akan sulit untuk pulih

kembali jika mengalami pencemaran (Effendi, 2003).

Pada dasarnya, air tanah dapat berasal dari air hujan, baik melalui proses

filtrasi secara langsung maupun secara tak langsung dari air sungai, danau, rawa, dan

genangan air lainnya (Effendi,2003). Secara umum, air tanah terbagi menjadi:

1. Air tanah dalam

Air tanah dalam adalah air yang terdapat pada kedalaman 100 300 m.

Kualitas air tanah dalam pada umumnya tergolong bersih dilihat dari mikrobiologis,

karena sewaktu proses pengaliran ia mengalami penyaringan alamiah dan dengan

demikian kebanyakan mikroba sudah tidak lagi terdapat di dalamnya.

2. Air tanah dangkal

Air tanah dangkal terdapat pada kedalaman < 15 m. Terjadi karena daya proses

peresapan air dari permukaan tanah. Lumpur akan tertahan, demikian pula dengan

sebagian bakteri, sehingga air tanah akan jernih tetapi lebih banyak mengandung zat

Universitas Sumatera Utara


rendah dapat menghambat reaksi-reaksi biokimia di dalam saluran pipa dan

mikroorganisme pathogen tidak mudah berkembang biak.

Air minum sebaiknya tidak berwarna untuk mencegah dari keracunan zat kimia

maupun mikroorganisme.

2. Parameter Kimia

Air minum tidak boleh mengandung racun, zat-zat mineral atau zat-zat kimia

tertentu dalam jumlah melampaui batas yang telah ditentukan.

3. Parameter Biologis

Air minum tidak boleh mengandung bakteri-bakteri penyakit (pathogen) sama

sekali dan tak boleh mengandung bakteri-bakteri golongan Coli melebihi batas

batas yang telah ditentukan.

Air yang mengandung golongan Coli dianggap telah terkontaminasi dengan

kotoran manusia (Sutrisno, 1996).

Di Indonesia, standar kualitas air minum diatur dalam Peraturan Pemerintah No

82 tahun 2001 berdasarkan kelas air. Yaitu:

Kelas satu, air peruntukkannya digunakan untuk air baku air minum dan atau

peruntukkan lainnya yang mempersyaratkan air sama dengan kegunaan air tersebut.

Kelas dua, air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana

rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi

pertanaman dan atau peruntukkan lain yang memprasyaratkan mutu air yang sama

dengan kegunaan tersebut.

Kelas tiga, air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk pembudidayaan

ikan air tawar, air untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukkan lain yang

memprasyaratkan air yang sama dengan kegunaan tersebut.

Universitas Sumatera Utara


Kelas empat, air yang peruntukkannya untuk mengairi pertanaman dan atau

peruntukkan lain yang memprasyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan

tersebut.

2.3. Logam Besi (Fe)

Besi adalah salah satu elemen kimiawi yang dapat ditemui pada hampir setiap tempat

di bumi, pada semua lapisan geologis dan semua badan air. Pada air permukaan jarang

ditemui kadar Fe lebih besar dari 1 mg/l tetapi di dalam air tanah kadar Fe dapat jauh

lebih tinggi (Alaerts dan Santika, 1984).

Keberadaan besi pada kerak bumi menempati posisi keempat terbesar. Besi

ditemukan dalam bentuk kation ferro (Fe2+) dan ferri (Fe3+). Pada pH sekitar 7,5 7,7

ion ferri mengalami oksidasi dan berikatan dengan hidroksida membentuk Fe(OH)3

yang bersifat tidak larut dan mengendap di dasar perairan membentuk warna

kemerahan pada substrat dasar (Effendi, 2003).

Kadar besi di perairan yang mendapat cukup aerasi hampir tidak pernah lebih

dari 0.3 mg/liter. Kadar besi di perairan alami berkisar anara 0.05 0.2 mg/liter. Pada

air tanah dangkal dengan kadar oksigen yang rendah, kadar besi dapat mencapai 10

100 mg/liter. Kadar besi > 1.0 mg/liter dianggap membahayakan kehidupan organisme

akuatik. Air yang dipergunakan bagi air minum sebaiknya memiliki kadar besi kurang

dari 0.3 mg/liter (Effendi,2003).

Universitas Sumatera Utara


Adanya unsur besi dalam air diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tubuh

akan unsur tersebut. Zat besi merupakan suatu unsur penting dan berguna untuk

metabolisme tubuh. Besi dibutuhkan tubuh dalam pembentukan haemoglobin. Untuk

keperluan ini tubuh membutuhkan 7 35 mg unsur tersebut perhari, yang tidak hanya

diperoleh dari air seperti dari sayuran yang mengandung banyak zat besi. Konsentrasi

unsur ini dalam air yang melebihi 2 mg/l akan menimbulkan noda-noda pada peralatan

dan bahan-bahan berwarna putih. Adanya unsur ini juga menimbulkan bau dan warna

pada air minum. Konsentrasi melebihi 1 mg/l dapat menyebabkan warna air menjadi

kemerahmerahan dan dapat menyebabkan endapan pada pipa logam (Sutrisno,1996).

Sekalipun Fe diperlukan oleh tubuh, tetapi dalam dosis besar dapat merusak

dinding usus. Kematian sering kali disebabkan oleh rusaknya dinding usus ini. Debu

Fe juga dapat terakumulasi di dalam alveoli dan menyebabkan berkurangnya fungsi

paru-paru (Slamet,1994).

2.4. Logam Seng (Zn)

Seng (zinc) termasuk unsur yang terdapat dalam jumlah berlimpah di alam. Kadar

seng pada kerak bumi sekitar 70 mg/kg. kelarutan unsur seng dan oksida seng dalam

air relatif rendah. Seng yang berikatan dengan klorida dan sulfat mudah terlarut,

sehingga kadar seng dalam air sangat dipengaruhi oleh bentuk senyawanya. Jika

perairan bersifat asam, kelarutan seng meningkat. Kadar seng di perairan alami < 0.05

mg/liter (Effendi,2003).

Universitas Sumatera Utara


Unsur ini penting dan berguna dalam metabolisme, dengan kebutuhan perhari

10-15 mg. pada konsentrasi 675 2280 mg/l dapat menyebabkan muntah. Dengan

garam-garam seng akan menjadi seperti susu pada konsentrasi 30 mg/l dan menjadi

berasa seperti logam pada konsentrasi 40 mg/l. Batas konsentrasi tertinggi sebagai

standar yang akan ditetapkan harus di bawah batas konsentrasi yang dapat

menimbulkan rasa. Dalam jumlah kecil merupakan unsur yang penting untuk

metabolisme, karena kekurangan Zn dapat menyebabkan pertumbuhan anak

terhambat. Dalam jumlah besar unsur ini dapat menimbulkan rasa pahit dan sepat

pada air minum (Sutrisno, 1996). Davis dan Cornwell (1991) mengemukakan bahwa

seng tidak bersifat toksik bagi manusia, akan tetapi pada kadar yang tinggi dapat

menimbulkan rasa pada air.

Kadar seng pada air minum sebaiknya tidak lebih dari 5 mg/liter. Toksisitas

seng menurun dengan meningkatnya kesadahan, dan meningkat dengan meningkatnya

suhu dan menurunnya oksigen terlarut (Effendi, 2003).

2.5. Logam Mangan (Mn)

Mangan (Mn) adalah kation logam yang memiliki karekteristik kimia serupa dengan

besi. Mangan berada dalam bentuk Mn2+ dan Mn4+. Di dalam tanah Mn4+ berada

dalam bentuk senyawa mangan dioksida. Pada perairan dengan kondisi anaerob akibat

dekomposisi bahan organik dengan kadar yang tinggi. Mn4+ pada senyawa mangan

dioksida mengalami reduksi menjadi Mn2+ yang bersifat larut. Mn2+ berikatan dengan

nitrat, sulfat, dan klorida, dan larut dalam air. Mangan dan besi valensi dua hanya

terdapat pada perairan yang memiliki kondisi anaerob (Cole,1988). Jika perairan

Universitas Sumatera Utara


kembali mendapat cukup aerasi, Mn2+ mengalami reoksidasi menjadi Mn4+ yang

selanjutnya mengalami presipitasi dan mengendap di dasar perairan (Moore,1991).

Kadar mangan pada perairan alami sekitar 0.2 mg/liter atau kurang. Kadar

yang lebih besar dapat terjadi pada air tanah dalam dan pada danau yang dalam.

Perairan asam dapat mengandung mangan sekitar 10 150 mg/liter (Mc Neely et al,

1979).

Mangan merupakan nutrien renik yang essensial bagi tumbuhan dan hewan.

Logam ini berperan dalam pertumbuhan dan merupakan salah satu komponen penting

pada system enzim. Defisiensi mangan dapat mengakibatkan pertumbuhan terhambat,

serta system syaraf dan proses reproduksi terganggu. Pada tumbuhan, mangan

merupakan unsur esensial dalam proses metabolisme (Effendi, 2003).

Meskipun tidak bersifat toksik, mangan dapat mengendalikan kadar unsur

toksik di perairan, misalnya logam berat. Jika dibiarkan di udara terbuka dan

mendapat cukup oksigen, air dengan kadar mangan (Mn2+) tinggi (> 0.01 mg/liter)

akan membentuk koloid karena terjadinya proses oksidasi Mn2+ menjadi Mn4+. Koloid

ini mengalami presipitasi membentuk warna cokelat gelap sehingga air menjadi keruh.

(Stauber dan Florence, 1985).

Universitas Sumatera Utara


2.6. Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)

Metode Spektroskopi Serapan Atom (SSA) adalah metode analisis yang

didasarkan pada prinsip absorbsi cahaya oleh atom - atom netral. Atom atom akan

menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya.

Spektroskopi serapan atom digunakan untuk analisa kuantitatif unsur unsur logam

dalam jumlah sekelumit (trace) dan sangat kelumit (ultratrace). Cara ini cocok untuk

analisis kelumit logam karena mempunyai kepekaan yang tinggi (batas deteksi kurang

dari 1 ppm), pelaksanaannya relatif sederhana, dan interferensinya sedikit. (Rohman,

2007).

2.6.1 Prinsip Analisa

Interaksi materi dengan berbagai energi seperti energi panas, energi radiasi, energi

kimia, dan energi listrik selalu memberikan sifat-sifat yang karakteristik untuk setiap

unsur (atau persenyawaan), dan besarnya perubahan yang terjadi biasanya sebanding

dengan jumlah unsur atau persenyawaan yang terdapat. Di dalam kimia analisis yang

mendasarkan pada proses interaksi atu antara lain cara analisis spektrofotometri atom

yang bisa berupa cara emisi dan cara absorbsi (serapan) (Rohman, 2007).

Pada cara absorbsi, jika pada populasi atom yang berada pada tingkat dasar

dilewatkan suatu berkas radiasi maka akan terjadi penyerapan energi radiasi oleh

atom-atom tersebut. Frekwensi radiasi yang paling banyak diserap adalah frekwensi

radiasi resonan dan bersifat karakteristik untuk tiap unsur. Pengurangan intensitasnya

sebanding dengan jumlah atom yang berada pada tingkat dasar (Rohman, 2007).

Universitas Sumatera Utara


Jika suatu larutan yang mengandung suatu garam logam yang dihembuskan ke

dalam suatu nyala, dapatlah terbentuk uap yang mengandung atom atom logam itu.

Beberapa atom logam dalam gas ini dapat dieksitasi ke tingkatan energi yang cukup

tinggi untuk memungkinkan pemancaran radiasi yang karakteristik dari logam

tersebut. Tetapi jumlah jauh lebih beesar dari atom logam bentuk gas itu normalnya

tetap berada dalam keadaan tak tereksitasi atau dalam keadaan dasar. Atom-atom

keadaan dasar ini mampu menyerap energi cahaya yang panjang gelombang

resonansinya khas untuknya, yang pada umumnya adalah panjang gelombang radiasi

yang akan dipancarkan atom atom itu bila tereksitasi dari keadaan dasar. Jadi jika

cahaya dengan panjang gelobang resonansi itu dilewatkan nyala yang mengandung

atom atom bersangkutan, maka sebagian cahaya itu akan diserap, dan jauhnya

penyerapan akan berbanding lurus dengan banyaknya atom keadaan dasar yang berada

dalam nyala. Inilah asas yang mendasari spektroskopi serapan atom (Vogel,1994)

2.6.2. Instrumentasi SSA

Sistem peralatan spektrofotometer serapan atom dapat dilihat pada gambar

berikut ini :

Monokromator
Sumber sinar Nyala Detektor

Tempat sampel
Gambar 2.1. Sistem Peralatan Spektrofotometer Serapan Atom

Universitas Sumatera Utara


1. Sumber sinar

Sumber sinar yang lazim dipakai adalah lampu katoda berongga (hollow

cathode lamp). Lampu ini terdiri dari tabung kaca tertutup yang mengandung suatu

katoda dan anoda. Katoda sendiri berbentuk silinder berongga yang terbuat dari logam

atau dilapisi dengan logam tertentu. Tabung logam ini diisi dengan gas mulia (Neon

atau Argon) dengan tekanan rendah (10 -15 torr). Neon biasanya lebih disukai karena

memberikan intensitas pancaran lampu yang lebih rendah.

2. Tempat Sampel

Dalam analisis dengan spektrofotometri serapan atom, sampel yang akan

dianalisis harus diuraikan menjadi atom atom netral yang masih dalam keadaan asas.

Ada berbagai macam alat yang dapat digunakan untuk mengubah suatu sampel

menjadi uap atom atom yaitu dengan nyala dan dengan tanpa nyala.

Tabel 2.1 Temperatur nyala dengan pelbagai gas pembakar:

Gas Bakar Temperatur


Udara Dinitrogen Oksida
Asetilen 2400 3200
Hydrogen 2300 2900
Propane 2200 3000
Gas kota 2100 -
Sumber:Vogel (1994)

3. Monokromator

Pada SSA, monokromator dimaksudkan untuk memisahkan dan memilih

panjang gelombang yang digunakan dalam analisis. Di samping system optic, dalam

monokromator juga terdapat suatu alat yang digunakan untuk memisahkan radiasi

resonansi dan kontinyu yang disebut chopper.

Universitas Sumatera Utara


4. Detektor

Detektor digunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang melalui tempat

pengatoman. Biasanya digunakan tabung penggandaan foton (photomultiplier tube).

ada 2 cara yang dapat digunakan dalam system deteksi yaitu : (a) yang memberikan

respon terhadap radiasi resonansi dan radiasi kontinyu; dan (b) yang hanya

memberikan respon terhadap radiasi resonansi.

Pada cara pertama, output yang dihasilkan dari radiasi resonansi dan radiasi

kontinyu disalurkan pada system galvanometer dan setiap perubahan yang disebabkan

oleh radiasi resonan akan menyebabkan peruabahan output. Pada cara kedua, output

berasal dari resonan dan radisiasi kontinyu yang dipisahkan. Dalam hal ini, sistem

penguat harus cukup selektif untuk dapat membedakan radiasi. Cara terbaik adalah

dengan menggunakan detektor yang hanya peka terhadap radiasi resonan yang

termodulasi.

5. Readout

Readout merupakan suatu alat penunjuk atau dapat juga diartikan sebagai

system pencataat hasil. Pencatatan hasil dilakukan dengan suatu alat yang telah

terkalibrasi untuk pembacaan suatu transmisi atau absorbsi. Hasil pembacaaan dapat

berupa angka atau berupa kurva dari suatu recorder yang menggambarkan absorbansi

atau intensitas emisi. (Rohman, 2007)

Universitas Sumatera Utara


BAB 3

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Prinsip Analisa

Analisis logam (Fe, Zn, Mn) dengan Spektrofotometer Serapan Atom

dilakukan melalui proses penyerapan energi radiasi oleh atom-atom yang berbeda-

beda pada tingkat tenaga dasar (ground state) pada panjang gelombang () = 248,3 nm

untuk analisis Fe, () = 213,9 nm untuk analisis Zn dan () = 279,5 nm untuk analisis

Mn.

3.2. Alat alat

a. Labu ukur 50 ml, 100 ml, 1000 ml terkalibrasi

b. Pipet volume 1 ml; 2 ml; 5 ml; 10 ml; 100 ml yang terkalibrasi

c. Buret 10 ml dengan ketelitian 0,01 ml dan terkalibrasi

d. Pipet takar 5 ml terkalibrasi

e. Spektrofotometer Serapan Atom GBC Avanta Ver1.33 yang telah

terkalibrasi pada saat digunakan.

f. Gelas piala 250 ml, terkalibrasi

g. Penangas air, terkalibrasi

h. Corong

i. Botol semprot

j. Tabung reaksi

k. Pipet tetes

l. Kertas saring Whatman 42

m. Kertas lakmus universal

Universitas Sumatera Utara


3.3. Bahan bahan

a. Sampel air sumur yang diambil dari salah satu rumah penduduk di daerah

Amplas

b. HNO3 pekat Pro Analysis

c. Aquabidest yang telah diasamkan dengan HNO3(p) (1,5 ml HNO3(p) dalam

1 liter aquabidest)

d. Larutan induk Fe 1000 mg/l

e. Larutan induk Zn 1000 mg/l

f. Larutan induk Mn 1000 mg/l

3.4. Pembuatan Larutan Standar

3.4.1. Pembuatan Larutan Standar Fe

a. Pembuatan larutan standar Fe 100 mg/l

Dipipet 5 ml larutan induk Fe 1000 mg/l dan dimasukkan ke dalam labu

ukur 50 ml, diencerkan dengan aquabidest yang telah diasamkan hingga

garis tanda, dikocok.

b. Pembuatan larutan standar Fe 10 mg/l

Dipipet 5 ml larutan standar Fe 100 mg/l dan dimasukkan ke dalam labu

ukur 50 ml, diencerkan dengan aquabidest yang telah diasamkan hingga

garis tanda, dikocok.

c. Pembuatan larutan seri standar Fe 0,2 ; 0,4 ; 0,6 ; 0,8 dan 1,0 mg/l

Dipipet masing masing 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml dan 5 ml larutan standar Fe

10 mg/l dan dimasukkan masing masing ke dalam labu ukur 50 ml,

diencerkan dengan aquabidest yang telah diasamkan hingga garis tanda,

dikocok.

Universitas Sumatera Utara


3.4.2. Pembuatan Larutan Standar Zn

a. Pembuatan larutan standar Zn 100 mg/l

Dipipet 5 ml larutan induk Zn 1000 mg/l dan dimasukkan ke dalam labu

ukur 50 ml, diencerkan dengan aquabidest yang telah diasamkan hingga

garis tanda, dikocok.

b. Pembuatan larutan standar Zn 10 mg/l

Dipipet 5 ml larutan standar Zn 100 mg/l dan dimasukkan ke dalam labu

ukur 50 ml, diencerkan dengan aquabidest yang telah diasamkan hingga

garis tanda, dikocok.

c. Pembuatan larutan seri standar Zn 0,2 ; 0,4 ; 0,6 ; 0,8 dan 1,0 mg/l

Dipipet masing masing 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml dan 5 ml larutan standar Zn

10 mg/l dan dimasukkan masing masing ke dalam labu ukur 50 ml,

diencerkan dengan aquabidest yang telah diasamkan hingga garis tanda,

dikocok

3.4.3. Pembuatan Larutan Standar Mn

a. Pembuatan larutan standar Mn 100 mg/l

Dipipet 5 ml larutan induk Mn 1000 mg/l dan dimasukkan ke dalam labu

ukur 50 ml, diencerkan dengan aquabidest yang telah diasamkan hingga

garis tanda, dikocok.

b. Pembuatan larutan standar Mn 10 mg/l

Dipipet 5 ml larutan standar Mn 100 mg/l dan dimasukkan ke dalam labu

ukur 50 ml, diencerkan dengan aquabidest yang telah diasamkan hingga

garis tanda, dikocok

Universitas Sumatera Utara


c. Pembuatan larutan seri standar Mn 0,2 ; 0,4 ; 0,6 ; 0,8 dan 1,0 mg/l

Dipipet masing masing 1 ml, 2 ml, 3 ml, 4 ml dan 5 ml larutan standar

Mn 10 mg/l dan dimasukkan masing masing ke dalam labu ukur 50 ml,

diencerkan dengan aquabidest yang telah diasamkan hingga garis tanda,

dikocok

3.5. Prosedur Percobaan

3.5.1. Pembuatan Kurva Kalibrasi Larutan Seri Standar

a. Diukur masing masing absorbansi larutan seri standar Fe 0,2; 0,4; 0,6; 0,8

dan 1,0 mg/l dengan Spektrofotometer Serapan Atom pada panjang

gelombang () = 248,3 nm.

b. Diukur masing masing absorbansi larutan seri standar Zn 0,2; 0,4; 0,6; 0,8

dan 1,0 mg/l dengan Spektrofotometer Serapan Atom pada panjang

gelombang () = 213,9 nm.

c. Diukur masing masing absorbansi larutan seri standar Mn 0,2; 0,4; 0,6;

0,8 dan 1,0 mg/l dengan Spektrofotometer Serapan Atom pada panjang

gelombang () = 279,5 nm.

Universitas Sumatera Utara


3.5.2. Preparasi Sampel

a. Dipipet 100 ml sampel ke dalam gelas piala 250 ml

b. Ditambahkan 5 ml HNO3 pekat ke dalam gelas piala yang berisi cuplikan

sampel

c. Didestruksi cuplikan pada penangas air hingga volumenya menjadi 5 ml

d. Diencerkan cuplikan ke dalam labu ukur 50 ml dengan aquabidest panas

e. Dibiarkan hingga suhu kamar lalu ditambahkan aquabidest hingga garis

batas

f. Disaring larutan dengan kertas Whatman 42 ke dalam tabung reaksi

g. Diasamkan larutan dengan HNO3 hingga pH 2

h. Buat blanko berupa 100 ml aquabidest yang diasamkan dengan HNO3 (p)

hingga pH 2.

3.5.3. Pengukuran Absorbansi Sampel

Hasil preparasi sampel di ukur dengan Spektrofotometer Serapan Atom pada

panjang gelombang () = 248,3 nm untuk analisis Fe, () = 213,9 untuk analisis Zn

dan () = 279,5 nm untuk analisis Mn.

Universitas Sumatera Utara


3.5.4. Instruksi Kerja Spektrofotometer Serapan Atom

a. Pastikan bahwa power switch dalam posisi Off

b. Hubungkan steker Voltage Regulator dan Kompresor ke stop kontak 220

volt

c. Hidupkan Voltage Regulator, komputer dan Exhaust System

d. Buka kran gas Asetilen / Nitrous Oxyde (sesuai keperluan) dan hidupkan

alat Spektrometer Serapan atom.

e. Klik program kerja AAS GBC pada layar monitor, sehingga terbuka

lembaran kerja.

f. Setelah itu, klik methode dan pilih unsur yang akan dianalisa, catat

deretan larutan standart yang digunakan sesuai dengan unsur yang dipilih.

g. Klik samples dan tuliskan sampel yang akan dianalisa pada label sampel.

h. Klik analysis untuk menentukian pemilihan metoda dan sampel yang

sesuai.

i. Klik instrument, klik properti pastikan posisi lampu sudah benar,

kemudian klik hardware set-up, sesuaikan model, asesoris, setting dan

communication, kembali close.

j. Klik report pilih apa saja yang diperlukan untuk pelaporan misalnya

grafik dan sebagainya

k. Klik result, dan gas flows optimatisation pada sudut kanan atas layar

monitor.

l. Pastikan alat sudah dalam keadaan instrument ready pada sebelah bawah

layar monitor.

m. Hidupkan flame dengan mengklik ignite flame pada gas flow

optimatitation atau memencet tombol warna kuning pada alat.

Universitas Sumatera Utara


n. Lakukan optimatisasi absorban dari salah satu larutan standart, dengan

menaikkan atau menurunkan fuel flow, pada gas flows optimatitation,

setelah itu klik perform instrument zero.

o. Buka lembaran result.Lakukan analisa dengan mengklik start pada

monitor, maka alat akan bekerja secara otomatis dan yang pertama

dilakukan adalah mengkalibrasi larutan standart, kemudian analisa sampel.

p. Hasil kalibrasi larutan standart serta hasil analisa sampel dapat dibaca pada

layar monitor.

q. Setelah analisa berakhir metikan flame dengan menekan tombol kuning

pada alat, tutup kran gas asetilen / nitrous oxyde.

r. Klik kembali gas flows optimatitation, keluarkan sisa gas yang masih ada

pada alat dengan mengklik bleed lines berulang kali sehingga sisa gas

dianggap sudah habis.

s. Hidupkan printer dan cetak laporan hasil analisa sesuai keperluan.

t. Matikan alat, komputer dan kompresor serta voltage regulator dan cabut

steker dari stop kontak.

Universitas Sumatera Utara


BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Data Hasil Percobaan

Tabel 4.1. Data Hasil Pengukuran Absorbansi Larutan Standar Fe dengan

Spektrofotometer Serapan Atom.

Sampel Konsentrasi Absorbansi Perulangan Pembacaan


(mg/l) Rata-rata Absorbansi
Blanko ---- 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000
Standard 1 0,2000 0,0045 0,0046 0,0044 0,0045
Standard 2 0,4000 0,0087 0,0087 0,0086 0,0089
Standard 3 0,6000 0,0135 0,0137 0,0135 0,0133
Standard 4 0,8000 0,0181 0,0180 0,0179 0,0184
Standard 5 1,0000 0,0234 0,0233 0,0235 0,0234

Tabel 4.2. Data Hasil Pengukuran Absorbansi Fe dalam Sampel Air Sumur

dengan Spektrofotometer Serapan Atom.

Sampel Absorbansi Perulangan Pembacaan


Rata-rata Absorbansi
Spl.Blank 0,0003 0,0010 0,0009 -0,0010
Air-a 0,0162 0,0159 0,0158 0,0169
Air-b 0,0170 0,0167 0,0172 0,0170
Spl.Blank 0,0011 0,0016 0,0008 0,0010

Universitas Sumatera Utara


Tabel 4.3. Data Hasil Pengukuran Absorbansi Larutan Standar Zn dengan

Spektrofotometer Serapan Atom

Sampel Konsentrasi Absorbansi Perulangan Pembacaan


(mg/l) Rata-rata Absorbansi
Blanko ---- -0,0001 -0,0001 0,0000 0,0000
Standard 1 0,2000 0,0273 0,0282 0,0270 0,0267
Standard 2 0,4000 0,0529 0,0530 0,0527 0,0530
Standard 3 0,6000 0,0784 0,0780 0,0789 0,0783
Standard 4 0,8000 0,1019 0,1018 0,1022 0,1017
Standard 5 1,0000 0,1237 0,1235 0,1240 0,1236

Tabel 4.4. Data Hasil Pengukuran Absorbansi Zn dalam Sampel Air Sumur

dengan Spektrofotometer Serapan Atom.

Sampel Absorbansi Perulangan Pembacaan


Rata-rata Absorbansi
Spl.Blank -0,0022 -0,0026 -0,0019 -0,0022
Air-a 0,0048 0,0049 0,0045 0,0052
Air-b 0,0050 0,0058 0,0049 0,0044
Spl.Blank -0,0029 -0,0031 -0,0031 -0,0025

Tabel 4.5. Data Hasil Pengukuran Absorbansi Larutan Standar Mn dengan

Spektrofotometer Serapan Atom

Sampel Konsentrasi Absorbansi Perulangan Pembacaan


(mg/l) Rata-rata Absorbansi
Blanko ---- 0,0000 0,0001 0,0000 -0,0001
Standard 1 0,2000 0,0142 0,0139 0,0141 0,0146
Standard 2 0,4000 0,0275 0,0273 0,0278 0,0275
Standard 3 0,6000 0,0422 0,0420 0,0425 0,0421
Standard 4 0,8000 0,0559 0,0560 0,0559 0,0558
Standard 5 1,0000 0,0687 0,0690 0,0688 0,0683

Universitas Sumatera Utara


Tabel 4.6. Data Hasil Pengukuran Absorbansi Mn dalam Sampel Air Sumur

dengan Spektrofotometer Serapan Atom.

Sampel Absorbansi Perulangan Pembacaan


Rata-rata Absorbansi
Spl.Blank 0,0005 -0,0008 0,0028 -0,0004
Air-a 0,0340 0,0327 0,0356 0,0337
Air-b 0,0361 0,0349 0,0381 0,0352
Spl.Blank -0,0004 0,0000 -0,0012 -0,0001

4.2. Perhitungan

4.2.1 Perhitungan Persamaan Garis Regresi

Untuk menentukan persamaan garis regresi dari kurva kalibrasi dapat

ditentukan dengan menggunakan metode Least Square sebagai berikut:

Tabel 4.7. Data Perhitungan persamaan garis regresi untuk analisis Fe dengan

Spektrofotometri Serapan Atom.

No x y xy x2
1 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000
2 0,2000 0,0045 0,0009 0,0400
3 0,4000 0,0087 0,0035 0,1600
4 0,6000 0,0135 0,0081 0,3600
5 0,8000 0,0181 0,0145 0,6400

( x) = 3,000 ( y ) = 0,0682 ( xy ) = 0,0504 ( x) = 2,2000


6 1,0000 0,0234 0,0234 1,0000
n=6
2

( x ) = 3,0000 = 0,5000
Dimana x = Konsentrasi Larutan Standar dan y =Absorbansi Larutan Standar

x=

( y ) = 0,0682 = 0,0114
n 6

y=
n 6

Universitas Sumatera Utara


Tabel 4.8. Data Perhitungan persamaan garis regresi untuk analisis Zn dengan

Spektrofotometri Serapan Atom.

No x y xy x2
1 0,0000 -0,0001 0,0000 0,0000
2 0,2000 0,0273 0,0055 0,0400
3 0,4000 0,0529 0,0212 0,1600
4 0,6000 0,0784 0,0470 0,3600
5 0,8000 0,1019 0,0815 0,6400

( x) = 3,000 ( y ) = 0,3841 ( xy ) = 0,2789 ( x) = 2,2000


6 1,0000 0,1237 0,1237 1,0000
n=6
2

( x ) = 3,0000 = 0,5 000


Dimana x = Konsentrasi Larutan Standar dan y =Absorbansi Larutan Standar

x=

( y ) = 0,3841 = 0,0640
n 6

y=
n 6

Tabel 4.9. Data Perhitungan persamaan garis regresi untuk analisis Mn dengan

Spektrofotometri Serapan Atom.

No x y xy x2
1 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000
2 0,2000 0,0142 0,0028 0,0400
3 0,4000 0,0275 0,0110 0,1600
4 0,6000 0,0422 0,0253 0,3600
5 0,8000 0,0559 0,0447 0,6400

n = 6 ( x) = 3,000 ( y ) = 0,2085 ( xy ) = 0,1526 ( x) = 2,2000


6 1,0000 0,0687 0,0687 1,0000
2

Dimana x = Konsentrasi Larutan Standar dan y =Absorbansi Larutan Standar

x=
( x ) 3,0000 = 0,5 000

( y ) = 0,2085 = 0,0348
n 6

y=
n 6

Persamaan garis regresi untuk kurva kalibrasi dapat diturunkan dari persamaan:

y = ax + b

Universitas Sumatera Utara


Dimana a = slope; dan b = intersept.

Harga a diperoleh dengan mensubstitusikan nilai-nilai yang terdapat pada Tabel 4.6.

n( xy ) ( x )( y )
Tabel 4.7. dan Tabel 4.8. ke dalam persamaan berikut:

( )
n x 2 ( x )
a= 2

Untuk Fe:

6(0,0504) ((3,0000)(0,0682))
a=
(
6 (2,2000) (3,0000)
2
)
a = 0,0232

Untuk Zn:

6(0,2789 ) ((3,0000 )(0,3841))


a=
(
6 (2,2000) (3,0000) )
2

a = 0,1240

Untuk Mn:

6(0,1526 ) ((3,0000 )(0,2085))


a=
(
6 (2,2000 ) (3,0000 ))
2

a = 0,0690

Sedangkan harga b adalah:

b = y ax

Untuk Fe:

b = 0,0114 ((0,0232)(0,5000))
b = 0,0002

Untuk Zn:

b = 0,0640 ((0,1240)(0,5000))
b = 0,002

Universitas Sumatera Utara


Untuk Mn:

b = 0,0348 ((0,0690)(0,5000)
b = 0,0002

Sehingga persamaan garis regresinya adalah:

Untuk Fe: y = 0,0232 x 0,0002

Untuk Zn: y = 0,1240 x + 0,002

Untuk Mn: y = 0,0690 x + 0,0002

4.2.2 Perhitungan Kurva Kalibrasi

Dengan mensubstitusikan harga harga x, maka diperoleh harga y baru, yaitu:

Tabel 4.10. Harga y baru untuk larutan seri standar Fe

No x y
1 0,0000 -0,0002
2 0,2000 0,0044
3 0,4000 0,0090
4 06000 0,0137
5 0,8000 0,0183
6 1,0000 0,0230
Dimana: x = Konsentrasi Larutan Standar dan y =Absorbansi Larutan Standar

Tabel 4.11. Harga y baru untuk larutan seri standar Zn

No x y
1 0,0000 0,0020
2 0,2000 0,0268
3 0,4000 0,0516
4 0,6000 0,0764
5 0,8000 0,1012
6 1,0000 0,1260
Dimana: x = Konsentrasi Larutan Standar dan y =Absorbansi Larutan Standar

Universitas Sumatera Utara


Tabel 4.12. Harga y baru untuk Mn

No x y
1 0,0000 0,0002
2 0,2000 0,0140
3 0,4000 0,0278
4 0,6000 0,0417
5 0,8000 0,0555
6 1,0000 0,0693
Dimana: x = Konsentrasi Larutan Standar dan y =Absorbansi Larutan Standar

Dengan menggunakan harya y ini dapat digambarkan kurva kalibrasi absorbansi ( y )

versus konsentrasi ( x ) yang terdapat dalam Tabel 4.10. , Tabel 4.11. dan Tabel 4.12.

4.2.3 Perhitungan Konsentrasi Sampel

Konsentrasi sampel dapat dihitung dengan mensubstitusikan harga y

(absorbansi) larutan ke dalam persamaan garis regresi y = ax + b , maka

y b
x= faktor. pengenceran
a

Persamaan garis regresi untuk Fe: y = 0,0232 x 0,0002

0,0162 ( 0,0002 ) 50ml


Konsentrasi (mg/l) Fe dalam perulangan I =
0,0232 100ml

= 0,3534 mg/l

0,0170 ( 0,0002 ) 50ml


Konsentrasi (mg/l) Fe pada perulangan II =
0,0232 100ml

= 0,3707 mg/l

Persamaan garis regresi untuk Zn: y = 0,1240 x + 0,002

0,0048 0,002 50ml


Konsentrasi (mg/l) Zn pada perulangan I =
0,1240 100ml

= 0,0113 mg/l

Universitas Sumatera Utara


0,0050 0,002 50ml
Konsentrasi (mg/l) Zn pada perulangan II =
0,1240 100ml

= 0,0121 mg/l

Persamaan garis regresi untuk Mn: y = 0,0690 x + 0,0002

0,4228 0,0002 50ml 25ml


Konsentrasi (mg/l) Mn pada perulangan I =
0,0690 100ml 2ml

= 3,0615mg/l

0,4487 + 0,0002 50ml 25ml


Konsentrasi (mg/l) Mn pada perulangan II =
0,0690 100ml 2ml

= 3,2518 mg/l

Tabel 4.13. Konsentrasi Besi, Seng dan Mangan dalam sampel air sumur

Konsentrasi (mg/l) Rata rata


No Logam
Perulangan I Perulangan II (mg/l)
1 Besi 0,3534 0,3707 0,3621
2 Seng 0,0113 0,0121 0,0117
3 Mangan 3,0615 3,2518 3,1567

Universitas Sumatera Utara


4.3. Pembahasan

Air yang dapat dikonsumsi sebagai air minum adalah air yang telah memenuhi standar

kesehatan. Di Indonesia, standar kualitas air minum diatur dalam Peraturan

Pemerintah No 82 tahun 2001. Di dalam air sumur terkandung ion ion logam, di

antaranya adalah Besi (Fe), Mangan (Mn) dan Seng (Zn) yang kadarnya harus

memenuhi standar kesehatan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.

Besi, Seng dan Mangan dibutuhkan oleh tubuh sebagai nutrient. Walaupun

unsur unsur tersebut diperlukan oleh tubuh, tetapi jika melebihi kebutuhan maka

akan menimbulkan masalah bagi kesehatan. Oleh karena itu diperlukan suatu analisa

terhadap air tersebut sehingga dapat diketahui apakah air sumur tersebut telah

memenuhi standar yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No 82 tahun 2001.

Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menentukan kandungan logam

Fe, Zn dan Mn adalah dengan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Analisis dengan

metode ini memiliki beberapa kelebihan. Diantaranya adalah sensitifitas yang tinggi,

teliti, cepat, dan pengerjaannya relatif sederhana.

Dari hasil pengamatan dan perhitungan diperoleh konsentrasi Besi (Fe) :

0,3621 mg/l, Seng (Zn) : 0,0117 mg/l, dan Mangan (Mn) : 3,1567 mg/l. Sedangkan

standar konsentrasi logam dalam air yang direkomendasikan dalam Peraturan

Pemerintah No. 82 tahun 2001 untuk air minum adalah: Besi (Fe) : 0,3 mg/l, Seng

(Zn): 0,05 mg/l dan Mangan (Mn) : 0,1 mg/l.

Universitas Sumatera Utara


Fe dan Mn terdapat secara alami sebagai unsur mikro sedangkan Zn terdapat

sebagai unsur renik (trace). Tetapi Dari hasil analisa terhadap air sumur, diperoleh

kadar Fe dan Zn berada di bawah ambang batas yang ditetapkan dalam Peraturan

Pemerintah No. 82 tahun 2001 sedangkah kadar Mn jauh melebihi ambang batas

tersebut. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh tingginya kandungan Mangan dalam

tanah di sekitar sumber air ataupun disebabkan oleh adanya aktivitas industri di sekitar

sumber air sumur tersebut.

Universitas Sumatera Utara


BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Konsentrasi logam yang diperoleh dari pengujian sampel air sumur adalah:

Fe : 0,3621 mg/l; Zn : 0,0117 mg/l; dan Mn : 3,1567 mg/l.

2. Konsentrasi logam Fe, Zn di dalam sampel air sumur masih berada di bawah

nilai ambang batas yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No. 82

tahun 2001. Akan tetapi konsentrasi Mn jauh melebihi nilai ambang batas

yang diperbolehkan dalam peraturan tersebut.

5.2 Saran

Sebaiknya diadakan pengujian terhadap jenis logam lain dari sumber sampel

air yang sama menggunakan metode analisa yang berbeda, sehingga dapat diketahui

kandungan semua jenis logam dalam air tersebut, terutama kandungan logam berat.

Dan sebaiknya data hasil percobaan tersebut dapat diinformasikan kepada warga

pengguna sumber air tersebut sebagai upaya untuk mengantisipasi timbulnya bahaya

keracunan bagi warga masyarakat.

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR PUSTAKA

Alaerts,G. dan Sri.S.S.1997.Metode Penelitian Air.Surabaya:Usaha Nasional.


Effendi,H.2003.Telaah Kualitas Air.Jakarta:Penerbit Kanisius.
Rohman,A.2007.Kimia Farmasi Analisis.Cetakan Pertama.Yogyakarta:Pustaka
Pelajar.
Sutrisno,C.T.1996.Teknologi Penyediaan Air Bersih.Cetakan Ketiga.Jakarta:Penerbit
Rineka Cipta.
Slamet,J.S.1994.Kesehatan Lingkungan.Yogyakarta:UGM-Press.
Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001.
Vogel.1994.Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik.Edisi Keempat.Jakarta:Penerbit
Buku Kedokteran EGC.

Universitas Sumatera Utara


Tabel 1. Kriteria air minum berdasarkan kelas
Parameter Satuan Kelas Keterangan
I II III IV
FISIKA
Temperatur C Deviasi Deviasi Deviasi Deviasi Definisi
3 3 3 5 temperatur dari
keadaan alamiah
Residu terlarut mg/l 1000 1000 1000 2000
Residu mg/l 50 50 400 400 Bagi pengolahan
tersuspensi air minum secara
konvensional,
residu tersuspensi
5000 mg/l
KIMIA ANORGANIK
pH 69 69 69 59 Apabila secara
alamiah di luar
rentang tersebut,
maka ditentukan
berdasarkan
kondisi alamiah
BOD mg/l 2 3 6 12
COD mg/l 10 25 50 100
DO mg/l 6 4 3 0 Angka batasan
mini mum
Total Fosfat mg/l 0,2 0,2 1 5
sebagai P
NO3 sebagai N mg/l 10 10 20 20
NH3-N mg/l 0,5 (-) (-) (-) Bagi perikanan,
kandungan
amoniak bebas
untuk ikan yang
peka 0,02 mg/l
sebagai NH3
Arsen mg/l 0,05 1 1 1
Kobalt mg/l 0,2 0,2 0,2 0,2
Barium mg/l 1 (-) (-) (-)
Boron mg/l 1 1 1 1
Selenium mg/l 0,01 0,05 0,05 0,05
Kadmium mg/l 0,01 0,01 0,01 0,01
Khrom (VI) mg/l 0,05 0,05 0,05 0,01
Tembaga mg/l 0,02 0,02 0,02 0,2 Bagi pengolahan
air minum secara
konvensional Cu
1 mg/l
Besi mg/l 0,3 (-) (-) (-) Bagi pengolahan
air minum secara
konvensional Fe
5 mg/l
Timbal mg/l 0,03 0,03 0,03 1 Bagi pengolahan
air minum secara
konvensional Pb
0,1 mg/l
Mangan mg/l 0,1 (-) (-) (-)

Universitas Sumatera Utara


Air Raksa mg/l 0,001 0,002 0,002 0,005
Seng mg/l 0,05 0,05 0,05 2 Bagi pengolahan
air minum secara
konvensional Zn
5 mg/l
Klorida mg/l 600 (-) (-) (-)
Sianida mg/l 0,02 0,02 0,02 (-)
Fluorida mg/l 0,5 1,5 1,5 (-)
Nitrit sebagai N mg/l 0,06 0,06 0,06 (-) Bagi pengolahan
air minum secara
konvensional
NO2-N 1 mg/l
Sulfat mg/l 400 (-) (-) (-)
Khlorin bebas mg/l 0,03 0,03 0,03 (-) Bagi ABAM
tidak
dipersyaratkan
Belerang sebagai mg/l 0,002 0,002 0,002 (-) Bagi pengolahan
H2S air minum secara
konvensional S
sebagai H2S
0,1 mg/l
MIKROBIO-
LOGI
Fecal Coliform Jml/100 100 1000 2000 2000 Bagi pengolahan
ml air minum secara
konvensional,
Total Coliform Jml/100 1000 5000 10000 10000 fecal coliform
ml 2000 jml/100 ml
dan total coliform
10000 jml/100
ml
RADIOAKTIVITAS
Gross-A Bq/l 0,1 0,1 0,1 0,1
Gross-B Bq/l 1 1 1 1
KIMIA ORGANIK
Minyak dan g/l 1000 1000 1000 (-)
lemak
Detergen g/l 200 200 200 (-)
sebagai MBAS
Senyawa Fenol g/l 1 1 1 (-)
sebagai Fenol
BHC g/l 210 210 210 (-)
Aldrin/Dieldrin g/l 17 (-) (-) (-)
Chlordane g/l 3 (-) (-) (-)
DDT g/l 2 2 2 2
Heptachlor dan g/l 18 (-) (-) (-)
heptachlor
epoxide
Lindane g/l 56 (-) (-) (-)
Methoxyclor g/l 35 (-) (-) (-)
Endrin g/l 1 4 4 (-)
Toxaphan g/l 5 (-) (-) (-)

Universitas Sumatera Utara


Sumber: PPRI No. 82 Tahun 2001
Keterangan:
mg = milligram
g = microgram
ml = mili liter
l = liter
Bq = Bequerel
MBAS = Methylene Blue Active Substance
ABAM = Air Baku untuk Air Minum

Logam berat merupakan logam terlarut.


Nilai di atas merupakan batas maksimum, kecuali untuk pH dan DO.
Bagi pH merupakan nilai rentang yang tidak boleh kurang atau lebih dari nilai
yang tercantum.
Nilai DO merupakan batas minimum.
Arti (-) di atas menyatakan bahwa untuk kelas termasuk, parameter tersebut
tidak dipersyaratkan.
Tanda adalah lebih kecil atau sama dengan.
Tanda < adalah lebih kecil.

Universitas Sumatera Utara


Gambar.2 Kurva Kalibrasi Larutan Seri Standar Fe

0.0250
0.0200 y = 0.0232x - 0.0002

Absorbansi (A)
R2 = 1
0.0150

0.0100
0.0050
0.0000
0.0000
-0.0050 0.5000 1.0000 1.5000

Konsentrasi (m g/l)

Gambar 3. Kurva Kalibrasi Larutan Seri Standar Zn

0.1400 y = 0.124x + 0.002


0.1200 R2 = 1
Absorbansi (A)

0.1000
0.0800
0.0600
0.0400
0.0200
0.0000
0.0000 0.5000 1.0000 1.5000
Konsentrasi (m g/l)

Gambar 4. Kurva Kalibrasi Larutan Seri Standar Mn

0.0800
y = 0.069x + 0.0002
0.0700
R2 = 1
Absorbansi (A)

0.0600
0.0500
0.0400
0.0300
0.0200
0.0100
0.0000
0.0000 0.5000 1.0000 1.5000
Konsentrasi (m g/l)

Universitas Sumatera Utara