Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

OPEN FRAKTUR 1/3 DISTAL CRURIS DEXTRA

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. I
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 36 tahun
Alamat : Jl. Seruni Gg.III No.9 RT 9 RW I, Sukabumi, Mayangan, Probolinggo
Pekerjaan : Satpam
MRS : 1 Juni 2013
KRS : 13 Juni 2013

II. ANAMNESA
A. Keluhan Utama : nyeri pada kaki kanan post KLL
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Kronologisnya : pukul 04.00 WIB pasien olahraga di pinggir jalan, tiba-tiba dari
belakang ada pengendara sepeda motor yang secara tiba-tiba menabrak kaki
kanannya. Pasien tidak pingsan, tidak muntah, ada luka robek 6 cm pada kaki
kanan 7cm dibawah lutut, tampak tulang. Pada punggung kiri sampai pinggul
kiri, serta pada lengan atas kiri bagian belakang sampai siku terdapat luka lecet.

1
(Gambar.1,2,3,4 punggung kiri sampai pinggul kiri, serta pada lengan atas kiri bagian belakang
sampai siku terdapat luka lecet)

C. Riwayat Penyakit Dahulu


- Tidak pernah mengalami seperti ini sebelumnya
- Tidak pernah MRS sebelumnya
- Tidak mempunyai riwayat hipertensi, diabetes mellitus serta asma
D. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga tidak ada yang sakit seperti ini.
E. Riwayat Alergi
Tidak ada alergi terhadap obat maupun makanan
F. Riwayat Pengobatan Sebelumnya
Sebelumnya pasien dibawa ke RS.Dringu Wonolangan, dilakukan rawat luka dan
pembidaian pada kaki kanan lalu dirujuk ke RSUD dr.Moh.Shaleh.

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. Keadaan Umum : cukup
B. Kesadaran : compos mentis
C. Tanda Vital
1 Juni 2013 (IGD)
- Tekanan darah : 130/80 mmHg
- Nadi : 84 x / menit
- Suhu : 36,5 C
3 Juni 2013 (Bougenvile)

2
- Tekanan darah : 120/70 mmHg
- Nadi : 86 x / menit
- Respirasi : 24x / menit
- Suhu : 36,7 C
D. Status Generalis
1. Kepala Leher
- kepala : bentuk simetris, deformitas (-)
- mata : konjungtiva : anemis (-). sclera : ikterus (-)
- leher : pembesaran KGB (-)
2. Thorax : bentuk simetris, jejas (-), sikatrik (-)
Jantung
- inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
- palpasi : iktus kordis tidak teraba
- perkusi : batas jantung : kesan normal
- auskultasi : S1S2 tunggal regular, murmur (-), gallop (-)
Paru
- inspeksi : gerakan nafas : simetris, retraksi (-)
- palpasi : fremitus suara : simetris
- perkusi : sonor diseluruh lapang paru
- auskultasi : suara nafas : vesikuler, wheezing (-/-), rhonki (-/-)
3. Abdomen
- inspeksi : distensi (-)
- palpasi : defans muscular (-), nyeri tekan (-), hepar-lien : tidak
teraba
- perkusi : hepar, lien redup ; usus timpani
- auskultasi : bising usus (+) normal
4. Ekstremitas
edema -/- sianosis -/-
E. Status Lokalis cruris dextra 1/3 medial :
Look : - terbungkus oleh tensocrap dan kasa
- tidak terlihat darah yang merembes pada tensocrap

3
Feel : - nyeri tekan (-)
- avn distal normal
Movement : ROM genu (+), ROM jari kaki (-)

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Pemeriksaan Laboratorium ( 1 Juni 2013 )
Pemeriksaan darah lengkap :
- HB : 14,2 g/dl
- Leukosit : 15.000/cmm ()
- Diff.count : 3/-/11/62/21/3 % ()
- Trombosit : 214.000/cmm
- Hematokrit : 40 %
- GDA sewaktu : 108 mg/dl
Pemeriksaan faal hemostasis :
- KPTT : 40,8 det
- PTT : 15,7 det ()
RFT
- BUN : 10,1 mg/dl
- Creatinin : 1,0 mg/dl
- Urid acid : 8,3 mg/dl
2. Foto rontagen cruris dextra AP & lateral :

4
Open fraktur os tibia 1/3 distal dan os fibula 1/3 medial

V. ASSESMENT
Open fraktur cruris dextra 1/3 distal

VI. TERAPI
- Debridement
- Inj.Ceftriaxon 2x1
- Inj.Ketorolac 3x1
- Inj.Ranitidin
- Inj.ATS 1500 IU (sudah di wonolangan)

VII. PROGNOSIS
Dubia at bonam

VIII. FOLLOW UP
Tanggal Subyektif Obyektif Assesment Planing
Senin, - nyeri yang hilang KU : cukup Post -
3-6-2013 timbul saat istirahat KS : CM debridement
pada luka (+) TTV : Open
- kesemutan yang -tensi: 120/70 mmHg fraktur
hilang timbul pada -nadi: 86 x/menit cruris dextra
kaki yang luka (+) -suhu: 36,7 C 1/3 distal
- panas pada luka (-) -RR : 24x/menit
- pusing (-) Status lokalis cruris
- mual (-) dextra 1/3 distal :
- muntah (-) Look : - terbungkus
- BAK lancar oleh tensocrap dan
- BAB terakhir 2hr kasa, tidak terlihat
yll darah yang merembes

5
- Ma/mi cukup pada tensocrap.
Feel : - nyeri tekan
(-),avn distal normal.
Movement :
ROM genu (+), ROM
jari kaki (-)
Selasa, - nyeri saat kaki KU : cukup Post -Rawat luka
4-6-2013 kanan digeser secara KS : CM debridement -Ceftriaxon 2x1
pasif (+) TTV : Open -Ketorolac 3x1
- kesemutan yang -tensi: 120/70 mmHg fraktur -Ranitidin 3x1
hilang timbul pada -nadi: 80 x/menit cruris dextra -Ondansetron
kaki yang luka (+) -suhu: 36,3 C 1/3 distal 3x1
- panas pada luka (-) -RR : 20x/menit
- pusing (-) Status lokalis cruris
- mual (-) dextra 1/3 distal :
- muntah (-) Look: terbungkus
- BAK lancar oleh tensocrap dan
- BAB terakhir 3hr kasa, tidak terlihat
yll darah yang merembes
- Ma/mi cukup pada tensocrap.
Feel :- nyeri tekan (-)
Movement: ROM
genu (+), ROM jari
kaki (-)
Rabu, - nyeri saat kaki KU : cukup Post -Rawat luka
5-6-2013 kanan digeser secara KS : CM debridement -Ceftriaxon 2x1
pasif (+) TTV : Open -Ketorolac 3x1
- kesemutan pada -tensi: 110/70 mmHg fraktur -Ranitidin 3x1
kaki kanan yang -nadi: 84 x/menit cruris dextra -Ondansetron
hilang timbul (+) -suhu: 36,7 C 1/3 distal 3x1
- panas pada luka (-) -RR : 20x/menit
- pusing (-) Status lokalis cruris

6
- mual (-) dextra 1/3 distal :
- muntah (-) Look: terbungkus
- BAK lancar oleh tensocrap dan
- BAB terakhir 4hr kasa, tidak terlihat
yll darah yang merembes
- Ma/mi cukup pada tensocrap.
Feel :- nyeri tekan (-)
Movement: ROM
genu (+), ROM jari
kaki (-)
Darah Lengkap :
HB : 12,6 g/dl
Leukosit :
8.900/cmm
Diff.count:
3/-/7/63/23/4 % ()
Trombo :
250.000/cmm
Hematokrit : 36 %
Kamis, - nyeri saat kaki KU : cukup Post -Rawat luka
6-6-2013 kanan digeser secara KS : CM debridement -Ceftriaxon 2x1
pasif (+) TTV : Open -Ketorolac 3x1
- kesemutan pada -tensi: 110/80 mmHg fraktur -Ranitidin 3x1
kaki kanan yang -nadi: 86 x/menit cruris dextra -Ondansetron
hilang timbul (+) -suhu: 36,1 C 1/3 distal 3x1
- panas pada luka (-) -RR : 20x/menit
- pusing (-) Status lokalis cruris
- mual (-) dextra 1/3 distal :
- muntah (-) Look: terbungkus
- BAK lancar oleh tensocrap dan
- BAB terakhir 5hr kasa, tidak terlihat

7
yll darah yang merembes
- Ma/mi cukup pada tensocrap.
Feel :- nyeri tekan (-)
Movement: ROM
genu (+), ROM jari
kaki (-)
Jumat, - nyeri saat kaki KU : cukup Post -Rawat luka
7-6-2013 kanan digeser secara KS : CM debridement -Ceftriaxon 2x1
pasif (+) TTV : Open -Ketorolac 3x1
- kesemutan pada -tensi: 120/70 mmHg fraktur -Ranitidin 3x1
kaki kanan yang -nadi: 84 x/menit cruris dextra -Ondansetron
hilang timbul (+) -suhu: 36,5 C 1/3 distal 3x1
- panas pada luka (-) -RR : 20x/menit
- pusing (-) Look: terbungkus
- mual (-) oleh tensocrap dan
- muntah (-) kasa, tidak terlihat
- BAK lancar darah yang merembes
- BAB terakhir 6hr pada tensocrap.
yll Feel :- nyeri tekan (-)
- Ma/mi cukup Movement: ROM
genu (+), ROM jari
kaki (-)
Darah Lengkap :
LED BBS : 42/90
Sabtu, - nyeri berkurang KU : cukup Post Ceftriaxon 2x1
8-6-2013 saat kaki kanan KS : CM debridement -Ketorolac 3x1
digeser (+) TTV : Open -Ranitidin 3x1
- kesemutan -tensi: 120/80 mmHg fraktur -Ondansetron
berkurang pada kaki -nadi: 80 x/menit cruris dextra 3x1
kanan yang hilang -suhu: 36,7 C 1/3 distal
timbul (+) -RR : 20x/menit
- panas pada luka (-) Status lokalis cruris

8
- pusing (-) dextra 1/3 distal :
- mual (-) Look: -terbungkus
- muntah (-) oleh tensocrap dan
- BAK lancar kasa, bleeding
- BAB terakhir 7hr sampai merembes ke
yll tensocrap (-)
- Ma/mi cukup Feel :- nyeri tekan(-),
avn distal (+),
Movement: ROM
genu (+), ROM jari
kaki (+)
Senin, - nyeri berkurang KU : cukup Post Ceftriaxon 2x1
10-6-2013 saat kaki kanan KS : CM debridement -Ketorolac 3x1
digeser (+) TTV : Open -Ranitidin 3x1
- kesemutan -tensi: 120/80 mmHg fraktur 1/3 -Ondansetron
berkurang pada kaki -nadi: 80 x/menit distal cruris 3x1
kanan yang hilang -suhu: 36,7 C dextra
timbul (+) -RR : 20x/menit
- panas pada luka (-) Status lokalis cruris
- pusing (-) dextra 1/3 distal :
- mual (-) Look: -terbungkus
- muntah (-) oleh tensocrap dan
- BAK lancar kasa
- BAB terakhir 7hr Feel :- nyeri tekan(-),
yll avn distal (+),
- Ma/mi cukup bleeding sampai
merembes ke
tensocrap (-)
Movement: ROM
genu (+), ROM jari
kaki (+)
Selasa, - sudah belajar jalan KU : cukup Post -Rawat luka

9
11-6-2013 tapi masih sedikit KS : CM debridement - Pasang .
nyeri saat kaki kanan TTV : Open -Ceftriaxon 2x1
digerakkan -tensi: 110/70 mmHg fraktur 1/3 -Ketorolac 3x1
- kesemutan pada -nadi: 100 x/menit distal cruris -Ranitidin 3x1
kaki kanan sudah -suhu: 35,6 C dextra -Ondansetron
berkurang -RR : 22x/menit 3x1
- panas pada luka (-) Status lokalis cruris
- pusing (-) dextra 1/3 distal :
- mual (-) Look: -terbungkus
- muntah (-) oleh tensocrap dan
- BAK lancar kasa
- BAB terakhir pagi Feel :- nyeri tekan(-),
ini avn distal (+),
- puasa dari pukul bleeding sampai
23.30 merembes ke
tensocrap (-)
Movement: ROM
genu (+), ROM jari
kaki (+)
Rabu, - terasa cekot-cekot KU : cukup Post internal -Rawat luka
12-6-2013 pada luka KS : CM fiksasi Open Ceftriaxon 2x1
- tadi malam TTV : fraktur 1/3 -Ketorolac 3x1
mengigil dan -tensi: 110/70 mmHg distal cruris -Ranitidin 3x1
keringat dingin tapi -nadi: 96 x/menit dextra -Ondansetron
pagi ini sudah tidak -suhu: 36,7 C 3x1
- panas pada luka (-) -RR : 24x/menit
- pusing (-) Status lokalis cruris
- mual (-) dextra 1/3 distal :
- muntah (-) Look: -terbungkus
- BAK lancar oleh tensocrap dan
- BAB terakhir kasa

10
kemarin Feel:- nyeri tekan (-),
- Ma/mi cukup avn distal (+),
bleeding sampai
merembes ke
tensocrap (-)
Movement: ROM
genu (+), ROM jari
kaki (+)
Kamis, - nyeri pada luka KU : cukup Post internal -Rawat luka
13-6-2013 sudah berkurang KS : CM fiksasi Open Ceftriaxon 2x1
- sudah belajar TTV : fraktur 1/3 -Ketorolac 3x1
berjalan dengan -tensi: 120/70 mmHg distal cruris -Ranitidin 3x1
dibopong -nadi: 100 x/menit dextra -Ondansetron
- pusing (-) -suhu: 35,6 C 3x1
- mual (-) -RR : 22x/menit
- muntah (-) Status lokalis cruris
- BAK lancar dextra 1/3 distal :
- BAB terakhir 2hr Look: -terbungkus
yll oleh tensocrap dan
- Ma/mi cukup kasa
Feel :- nyeri tekan (-)
, avn distal (+),
bleeding sampai
merembes ke
tensocrap (-)
Movement: ROM
genu (+), ROM jari
kaki (+)

11
(Gambar 5,6 luka jahitan post debridement)

12
DISKUSI KASUS

A. DEFINISI
Fraktur cruris dextra 1/3 medial adalah terputusnya kontinuitas tulang yang terjadi pada
os tibia dan fibula pada 1/3 bagian yang jauh dari tubuh. [1]

B. ANATOMI
Regio Cruris
Regio cruris terletak di tungkai bawah dan terdiri dari 2 tulang yaitu tibia dan
fibula. Fascia profunda membungkus tungkai bawah dan di atas menyatu dengan fascia
profunda tungkai atas. Dibawah condylus tibia, fascia melekat pada margo anterior dan
medial dari tibia, disini fascia ini akan bergabung dengan periosteum. Dua septum
intermusculorum berjalan dari aspek profundanya untuk melekat pada fibula. Septum ini
bersama dengan membrana interossea membagi tungkai bawah menjadi tiga ruang yaitu
ruang anterior, lateral dan posterior. [2]
Ruang anterior tungkai bawah berisi :
Otot : m. tibialis anterior, m. extensor digitorum longus, m.peroneus
tertius, dan m.extensorum hallucis longus
Vascularisasi : a. tibialis anterior
Persarafan : n.peroneus profundus
Ruang Lateral tungkai bawah berisi :
Otot : m. peroneus longus, m. peroneus brevis
Vascularisasi : cabang a.peronea
Persarafan : n. peroneus superficialis
Ruang Posterior tungkai bawah berisi :
Otot superficial: m.gastrognemius, m.plantaris, dan m.soleus
Otot profundus: m. popliteus, m.flexor digitorum longus, m.hallucis longus, dan
m. tibialis posterior.
Vascularisasi : a.tibialis posterior

13
Persarafan : n. tibialis [2]

(Gambar.7 ruang anterior cruris) (Gambar.8 ruang lateral cruris)

Membrana interossea adalah membrane tipis tapi kuat yang menghubungkan


margo interosseus tibia dan fibula. Kebanyakan serabut berjalan miring kebawah dan
lateral. Terdapat lubang besar dibagian atas membran untuk tempat lewatnya arteri dan
vena tibialis anterior menuju ke ruang fascia anterior tungkai bawah. Lubang kecil
terdapat pada bagian bawah membrane untuk ramus perforans arteri peronea masuk ke
ruang fascia anterior. Di distal membrane ini berhubungan dengan ligamentum

14
interosseus dari articulation tibiofibularis. Membrana interossea menyatukan tibia dan
fibula serta menyediakan tempat untuk perlekatan otot-otot yang ada disekitarnya.[2]

(Gambar.9 Tulang pada regio cruris)

Os Tibia
Tibia merupakan tulang medial tungkai bawah yang besar dan berfungsi
menyanggah berat badan. Tibia bersendi di atas dengan condylus femoris dan caput
fibulae, dibawah dengan talus dan ujung distal fibula. Tibia mempunyai ujung atas yang
melebar dan ujung bawah yang lebih kecil. [AK]
Periosteum yang melapisi tibia agak tipis terutama pada daerah depan yang hanya
dilapisi kulit, sehingga tulang ini mudah patah dan biasanya fragmen frakturnya bergeser.
Karena berada langsung dibawah kulit sering ditemukan juga fraktur terbuka. [3]

15
Os Fibula
Fibula adalah tulang lateral tungkai bawah yang langsing. Tulang ini tidak ikut
berartikulasi pada artikulatio genus, tetapi dibawah tulang ini membentuk malleolus
lateralis dari artikulatio talocruralis. Tulang ini tidak berperan dalam menyalurkan berat
badan, tetapi merupakan tempat melekat otot-otot. Fibula mempunyai ujung atas yang
melebar, corpus dan ujung bawah.[2]

C. PATOFISIOLOGI

Tabrakan High-energy dari mobil atau motor umumnya sebagai penyebab dari
fraktur cruris. Dalam kasus seperti ini, fragmen tulang dapat dibagi menjadi beberapa
bagian (fraktur comminuted). Patah tulang ini biasanya disebabkan oleh kekuatan
memutar dan hasil dalam tipe miring atau spiral fraktur. Pada cidera tak langsung, salah
satu dari fragmen tulang dapat menembus kulit. Pada cidera langsung akan menembus
atau merobek kulit di atas fraktur. [1]

D. GEJALA KLINIS
Pemeriksaan lokal pada open fraktur cruris:
1. Look
16
- kelainan bentuk (deformitas)
- ketidakmampuan untuk berjalan atau menanggung berat pada kaki
2. Feel
- terdapat nyeri tekan
- pemeriksaan avn distal lemah
3. Movement
- ada pergerakan tapi menurun[4]

Tanda open fraktur :


1. Fat bublle (tanda pasti)
2. Secara radiologi
3. False movement
4. Krepitasi

Kaki dapat memar dan bengkak. Nadi dipalpasi untuk menilai sirkulasi dan jari
kaki diraba untuk menilai sensasi. Pada fraktur, gerakan tidak boleh dicoba tetapi pasien
diminta untuk menggerakkan jari kakinya.[1]
Untuk fraktur terbuka digunakan penentuan tingkat menurut Gustoli (Gustilo,
Merkow dan Templeman, 1990). Klasifikasi fraktur terbuka menurut Gustilo, Merkow
dan Templeman[2] :
Klasifikasi Luas luka Jenis fraktur Kontaminasi Kerusakan
Jaringan
Lunak
Tipe I < 1 cm Tidak ada fraktur Bersih Sedikit
kominutif
Tipe II > 1 cm Fraktur kominutif Sedikit Sedang
sedang
Tipe III > 1 cm Fraktur kominutif Kontaminasi hebat Luas
hebat
Tipe IIIA > 1 cm Fraktur kominutif Kontaminasi hebat Kerusakan luas
hebat
tapi masih dapat
ditutup dengan

17
jaringan lunak
Tipe IIIB > 1 cm Fraktur kominutif Kontaminasi hebat Kerusakan luas,
hebat
tidak dapat
ditutup oleh
jaringan lunak
Tipe IIIC > 1 cm Fraktur kominutif Kontaminasi hebat Kerusakan
hebat
pembuluh darah
arteri

E. TERAPI
Penanganan fraktur terbuka yang berat diwujudkan dalam : 1. Antibiotika 2. Debridement
dan irigasi 3. Stabilisasi 4. Penundaan penutupan 5. rehabilitasi.
Antibiotika dimulai dengan segera. Dilakukan debridemen dengan prinsip
mengubah luka kotor menjadi luka bersih dan setelahnya luka dibersihkan dan diirigasi
dengan beberapa liter salin. Fraktur perlu distabilkan dilakukan dengan menempatkan
tulang kembali ke dalam keselarasan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada
jaringan lunak. Kemudian dilakukakn pembebatan pada tungkai bawah dengan melewati
dua sendi untuk melindungi dan menjaga dari pergerakan sampai dilakukan operasi.
Karena terjadi open fraktur yang didalamnya terdapat kerusakan jaringan dan
mungkin bisa disertai dengan cedera tambahan, diperlukan waktu sebelum operasi fiksasi
internal dapat dilakukan secara aman.
Pertama fragmen tulang direposisi ke posisi normal kemudian diikat dengan
sekrup khusus dengan melampirkan pelat logam ke permukaan luar tulang. Pada
fragmennya juga dapat disisipkan batang bawah melalui ruang sumsum pada bagian
tengah tulang.

Metode ini digunakan untuk patah tulang dimana intramedullary nailing tidak
mungkin atau tidak optimal bila dilakukan. Metode-metode pengobatan ini dapat
mereposisi fragmen fraktur dengan tepat.[1,5]

F. PROSES PENYEMBUHAN
Tahap proses penyembuhan fraktur :

18
1. Kerusakan jaringan dan pembentukan hematoma
Pembuluh darah robek terbentuk hematoma tulang pada permukaan fraktur
tidak mendapat darah jaringan tersebut mati 1-2 milimeter
2. Radang dan proliferasi seluler
8 jam setelah fraktur reaksi radang akut, proliferasi sel dibawah periosteum
dan didalam saluran medulla yang tertembus ujung sel dikelilingi jaringan sel
yang menghubungkan tempat fraktur hematoma yang membeku perlahan
diabsorbsi kapiler baru terbentuk.
3. Pembentukan kalus
- terbentuknya kalus pada permukaan periosteal dan endosteal
- tulang fibrosa yang imatur lebih padat
- gerakan pada tempat fraktur berkurang
- 4 minggu setelah cedera, fraktur akan menyatu
2. Konsolidasi
- anyaman tulang berubah menjadi tulang lamelar
- osteoblas mengisi celah tersisa antara fragmen dengan tulang yang baru
- berjalan beberapa bulan
3. Remodeling
- telah dijembatani oleh manset tulanng yang padat
- pengelasan kasar dibentuk oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang
terus menerus
- lamela yang lebih tebal diletakkan pada tempat yang tekananya tinggi
- dinding yang tak dikehendaki dibuang
- rongga sumsum dibentuk
- tulang memperoleh bentuk yang mirip bentuk normalnya [3]

Waktu penyatuan rerata setelah imobilisasi berkisar antara 10 minggu untuk


fraktur kecil, (terbuka atau tertutup) sampai 20 minggu untuk cedera yang berat
(Ellis,1988). Tetapi angka ini cenderung mengaburkan fakta bahwa banyak fraktur tibia
memerlukan waktu 6 bulan atau lebih untuk menyatu. [1]

19
Menurut Perkins, lama suatu fraktur dapat menyatu dan berkonsolidasi tergantung
dari umur, konstitusi, persediaan darah, jenis fraktur dan faktor-faktor lainnya. Fraktur
spiral pada tungkai atas bersatu dalam 3 minggu, untuk konsolidasi kalikan dengan 2,
untuk tungkai bawah kalikan dengan 2 lagi, untuk fraktur melintang kalikan dengan 2.
Rumus yang lebih canggih adalah berikut. Fraktur spiral pada tungkai atas memakan
waktu 6-8 minggu untuk konsolidasi, tungkai bawah perlu dua kali lebih lama.
Tambahkan 25% kalau fraktur tidak bersifat spiral atau kalau fraktur melibatkan femur.[1]

G. KOMPLIKASI
Komplikasi dini :
1. Infeksi
Fraktur terbuka selalu menghadapi resiko. Perforasi yang kecil sekalipun harus diterapi
dengan seksama dan debridemen harus dilakukan sebelum luka ditutup.
2. Cedera vascular
3. Sindroma kompartemen
Gips yang ketat pada kaki yang bengkak dapat menyebabkan iskemia otot. Dekompresi
lewat operasi pada semua kompartemen perlu dilakukan. Fraktur itu kemudian diterapi
seperti fraktur terbuka tingkat III yang memerlukan fiksator luar dan penundaan
penutupan luka.

Komplikasi Lanjut :
1. Malunion
Sedikit pemendekan (sampai 1,5cm) biasanya tidak banyak membawa akibat. Tetapi
rotasi dan deformitas angulasi, selain buruk akan mengakibatkan cacat karena lutut dan
pergelangan kaki tidak lagi bergerak pada bidang yang sama. Dalam jangka panjang
deformitas dapat menyebabkan predisposisi untuk osteoartritis pada lutut atau
pergelangan kaki.
2. Penyatuan lambat
Penyatuan akan lambat jika fraktur terbuka (terutama jika disertai infeksi), jika
pergeseran awal banyak, jika tibia mengalami fraktur pada dua tempat atau jika faktur
bersifat komintif.

20
3. Non-union
Dapat terjadi setelah kehilangan tulang atau infeksi dalam tetapi penyebabnya sering
merupakan akibat kesalahan terapi, karena penyatuan lambat tak diketahui, dan
pembebatan dihentikan terlalu awal atau karena pasien dengan fraktur yang baru saja
menyatu telah berjalan dengan pergelangan kaki ekuinus yang kaku.
4. Kekakuan sendi
Sering diakibatkan oleh kelalaian terapi pada jaringan lunak. Tetapi bila pembebatan
yang lama diperlukan, dan terutama bila terdapat sepsis, kekakuan mungkin tak dapat
dihindari. Keterbatasan gerak pada pergelangan kaki dapat berlajut selama 6-12 bulan
setelah gips dilepas meskipun telah dilakukan latihan aktif.
5. Osteoporosis pada fragmen distal dan kadang-kadang juga tulang tarsal.
Demikian sering menyertai semua bentuk terapi sehingga dianggap sebagai penyerta
yang normal pada fraktur tibia. Pembebanan aksial pada tibia diperlukan dan penahanan
berat harus dilakukan secepat mungkin. Setelah fiksasi luar yang lama, perawatan khusus
harus dilakukan untuk mencegah fraktur tekanan distal.
6. Algodistrofi
Pada fraktur sepertiga bagian distal algodistrofi sering terjadi. Harus dilakukan latihan
disepanjang masa terapi.[1]

PEMBAHASAN KASUS

21
Dari anamnesis pasien mengeluhkan :
- Adanya luka terbuka pada kaki kanan 7cm dibawah lutut yang tampak tulang.
- Pada lengan atas kiri bagian belakang sampai siku, pada pergelangan tangan kiri bagian
kanan, serta pada punggung kiri sampai pinggul kiri terdapat luka lecet
- Pasien tidak pingsan, tidak muntah

Dari pemeriksaan fisik ditemukan :


Status Generalis :
1. Kepala Leher
- kepala : bentuk simetris, deformitas (-)
- mata : konjungtiva : anemis (-). sclera : ikterus (-)
- leher : pembesaran KGB (-)
2. Thorax : bentuk simetris, jejas (-), sikatrik (-)
Jantung
- inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
- palpasi : iktus kordis tidak teraba
- perkusi : batas jantung : kesan normal
- auskultasi : S1S2 tunggal regular, murmur (-), gallop (-)
Paru
- inspeksi : gerakan nafas : simetris, retraksi (-)
- palpasi : fremitus suara : simetris
- perkusi : sonor diseluruh lapang paru
- auskultasi : suara nafas : vesikuler, wheezing (-/-), rhonki (-/-)
3. Abdomen
- inspeksi : distensi (-)
- palpasi : defans muscular (-), nyeri tekan (-), hepar-lien : tidak
teraba
- perkusi : hepar, lien redup ; usus timpani
- auskultasi : bising usus (+) normal
4. Ekstremitas

22
edema -/- sianosis -/-

Status Lokalis cruris dextra 1/3 medial (3/6/2013)


Look : - terbungkus oleh tensocrap dan kasa
- tidak terlihat darah yang merembes pada tensocrap
Feel : - nyeri tekan (-)
- avn distal normal
Movement : ROM genu (+), ROM jari kaki (-)

Untuk menunjang diagnosa pasien diatas, dilakukan pemeriksaan penunjang :


1. Pemeriksaan darah lengkap :
- Leukosit : 15.000/cmm ()
- Diff.count : 3/-/11/62/21/3 % ()
Pemeriksaan faal hemostasis :
- PTT : 15,7 det ()
2. Foto rontagen cruris dextra AP & lateral :

Fraktur os tibia 1/3 distal dan os fibula 1/3 medial

23
Dari gejala klinis dan pemeriksaan yang dilakukan dapat diambil kesimpulan
bahwa diagnosa pasien adalah Open Fraktur 1/3 Distal Cruris Dextra
.

DAFTAR PUSTAKA

24
1. Graham, A.Apley & Louis Solomon. 1995. Ortopedi dan Farktur Sistem Apley.
Jakarta : Penerbit Widya Medika.

2. Snell, Richard S. 1619. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Jakarta :


EGC.

3. Sjamsuhidajat, de Jong. 1921. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC

4. Rasjad, Prof.Chairuddin, MD.,Ph.D. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi.


Jakarta : Yarsif Watampone.

5.AAOS. 2011. Open Fractures. (online),


(http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=A00582, diakses 11 Juli 2013)

6.AAOS. 2010. Tibia (Shinbone) Shaft Fractures. (online),


(http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=A00582, diakses 11 Juli 2013)

25

Anda mungkin juga menyukai