Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PERENCANAAN TAMBANG

BIJIH MANGAN

DISUSUN OLEH

Nama-nama kelompok mangan :


1. Gamaliel Eva Proditus ( DBD 112 064 )
2. Darsono ( DBD 114 039 )
3. Niki pranata ( DBD 114 072 )
4. Sutrisno ( DBD 114 091 )
5. Bekly Apriadi ( DBD 114 098 )
6. Ade A. Saputra ( DBD 114 137 )
7. Kristian Kaharap ( DBD 114 145 )
8. Hendra ( DBD 114 165 )
9. Jupriarto Yahya ( DBD 114 170 )
10. Yallina Eka Priyati ( DBD 114 174 )

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS PALANGKARAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Laporan yang berjudul tentang Bijih Mangan ini dengan lancar.
Penulisan Laporan Perencanaan Tambang Bijih Mangan ini bertujuan untuk
memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pengampu matakuliah Ilmu
Ukur Tambang selaku Bapak Hepryandi L.Dj Usup.,ST.,MT.

Laporan Perencanaan Tambang Bijih Mangan ini ditulis dari hasil


penyusunan data-data yang penulis peroleh dari infomasi dari media massa
elektronik yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan tentang pertambang
terhusus untuk Perencanaan Tambang Bijih Mangan tak lupa penyusun ucapkan
terima kasih kepada pengajar matakuliah Ilmu Ukur Tambang atas bimbingan dan
arahan dalam penulisan Laporan ini. Juga kepada Teman-teman yang telah
mendukung sehingga dapat diselesaikannya makalah ini.

Penulis harap, dengan membaca Laporan Perencanaan Tambang Bijih


Mangan ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dalam hal ini dapat
menambah wawasan kita mengenai Ilmu Pengetahuan tentang perencanaan
tambang, terkhususnya juga bagi penulis. Memang laporan ini masih jauh dari
sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi
perbaikan menuju arah yang lebih baik.

Palangka Raya, , ,2017

Penyusun
DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Maksud dan Tujuan
1.3. Ruang Lingkup dan Metode Studi
1.4. Pelaksana Studi
1.5. Jadwal Waktu Studi
BAB II KEADAAN UMUM
2.1. Lokasi dan Luas Wilayah Kuasa Pertambangan (KP)
2.2. Kesampaian Daerah dan Sarana Perhubungan Setempat
2.3. Keadaan Lingkungan Daerah, Penduduk, Mata Pencaharian
Penduduk, Keadaan Flora, Fauna, Iklim, Sosial Ekonomi
dan lain-lain
2.4. Topografi dan Morfologi

BAB III : GEOLOGI DAN KEADAAN ENDAPAN


3.1. Geologi
3.1.1.. Litologi
3.1.2.. struktur
3.1.3. Geoteknik
3.2. Keadaan Endapan
3.2.1. Bentuk dan Penyebaran Endapan
3.2.2. Sifat dan Kualitas Endapan
3.2.3. Cadangan

BAB IV : RENCANA PENAMBANGAN


4.1. Sistem/Metode dan Tata Cara Penambangan
(dilengkapi bagan alir)
4.2. Tahapan kegiatan Penambangan
(termasuk penanganan tanah penutup).
4.3. Rencana Produksi
(kuantitas, kualitas, cut off grade, stripping ratio)............................
4.4. Peralatan (jenis, jumlah dan kapasitas)
4.5. Jadwal Rencana Produksi dan Umur Tambang.........................
4.6. Rencana Penanganan/Perlakuan Bahan
Galian yang BelumTerpasarkan
(kualitas rendah, belum ekonomis masa sekarang)....................
4.7. Rencana Pemanfaatan Bahan Galian dan Mineral Ikutan........
4.8. Rencana Penanganan/Perlakuan Sisa Cadangan ............................
pada Pasca Tambang
BAB V : RENCANA PENGOLAHAN DAN PEMURNIAN ATAU
PENCUCIAN
5.1. Studi/Percobaan Pengolahan/ Pemurnian .....................................
5.2. Tatacara Pengolahan dan Pemurnian ....................
5.2.1. Tahapan Pengolahan .............................
5.2.2. Bagan Alir .............................
5.2.3. Recovery Pengolahan .......................................
5.3. Peralatan Pengolahan (jenis, jumlah dan kapasitas)..............................
5.4. Hasil Pengolahan dan Rencana Pemanfaatan Mineral Ikutan .........
5.5. Jenis, Jumlah, Kualitas Hasil Pengolahan dan Tailing..................

BAB VI : PENGANGKUTAN DAN PENIMBUNAN


6.1. Tata Cara .................................................
6.2. Peralatan (jenis, jumlah, kapasitas)...................................

BAB VII : LINGKUNGAN, KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA


7.1. Lingkungan (mengacu kepada dokumen Amdal
atau UKL dan UPL)......................................................
7.1.1. Dampak kegiatan
(tambang, pengolahan dan sarana penunjang).......................
7.1.2. Pengelolaan lingkungan...............................................
7.2. Keselamatan dan Kesehatan Kerja..............................................
7.2.1. Organisasi ...............................
7.2.2. Peralatan ..........................................
7.2.3. Langkah-langkah pelaksanaan K-3 Pertambangan ......................
7.2.4. Rencana Penggunaan dan Pengamanan Bahan
Peledak dan Bahan Berbahaya lainnnya..............................

BAB VIII : LINGKUNGAN, KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA


8.1. Bagan Organisasi................................
8.2. Jumlah dan kriteria Tenaga Kerja Tetap
dan Tidak Tetap dalam Bentuk Tabel ..........................
8.3. Tingkat Gaji dan Upah ...........................
8.4. Sistem Kerja (kontrak, borongan dan lain-lain).....................

BAB IX : PEMASARAN
9.1. Bagan Organisasi ..........................
9.2. ProspekPemasaran...............................
9.2.1. Dalam Negeri....................................
9.2.2. Luar Negeri..............................................

BAB X : INVESTASI DAN ANALISIS KELAYAKAN


10.1. Investasi ........................................................
10.1.1. Modal Tetap.....................................
10.1.2. Modal Kerja .................................
10.1.3. Sumber Dana...................................
10.2. Analisis Kelayakan ..................................................
10.2.1. Biaya Produksi (termasuk biaya pengelolaan
dan pemantauan lingkungan K-3) .........................
10.2.2. Pendapatan Penjualan ...............................
10.2.3. Cash Flow (aliran uang tunai) ...............................
10.2.4. Perhitungan Discounted Cash Flow Rate of Return
Interal Rate of Return (DCFROR/IRR).............................
10.2.5. Perhitungan Break Even Point (BEP) ...........................
10.2.6. Waktu Pengembalian Modal f g. Analisa
Kepekaan dan Resiko....................................................

BAB XI : KESIMPULAN
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kebutuhan barang tambang mangan dewasa ini meningkat seiring dengan
peningkatan teknologi dan kebutuhan akan mangan. Mangan yang merupakan
logam yang digunakan untuk berbagai macam kebutuhan seperti campuran logam
untuk menghasilkan baja, campuran logam untuk kebutuhan baterai, dan untuk
berbagai kebutuhan logam lainnya.
Mangan merupakan salah satu dari 12 unsur terbesar yang terkandung dalam
kerak bumi. Mineral mangan yang diketahui ada sekitar 300 jenis. Namun yang
sering dijumpai dalam cebakan bijih komersial ada 13 jenis. Pirolusit dan
psilcmelan merupakan mineral yang umum menjadi cebakan utama bijih mangan.
Di Indonesia, cadangan mangan cukup besar namun tersebar di banyak
lokasi, yang secara individu umumnya berbentuk kantong atau lensa berukurang
kecil dengan kadar yang bervariasi. Cadangan mangan yang telah diketahui
sekitar 5,35 juta ton, sedangkan cadangan yang sedang ditambang berjumlah 4,90
ton saat ini, terdapat empat usaha pertambangan mangan yang telah berproduksi.
Salah satu diantaranya merupakan tambang mangan tertua yaitu PD Kerta
Pertambangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat, sedang
tiga perusahaan lainnya adalah swasta nasional.
Kegunaan mangan sangat luas, baik untuk tujuan metalurgi maupun non-
metalurgi. Untuk tujuan non-metalurgi, mangan digunakan untuk produksi
baterai, kimia, keramik dan gelas, glasir dan frit, pertanian, proses produksi
uranium, dan lainnya. Di Indonesia, industri hilir pemakai mangan adalah industri
baterai, keramik dan porselein, industri logam, dan industi korek api.
Mangan ditemukan sebagai unsur bebas dalam sifat dasarnya dan sering
dicampur dengan besi, seperti mineral-mineral lainnya. Sebagai unsur bebas,
Mangan adalah logam yang penting dalam penggunaan dengan campuran logam-
logam industri, terutama di dalam baja-baja anti karat.
1.2 maksud dan tujuan
BAB III

3.1. Geologi
3.1.1. Litologi
Singkapan mangan ini ditemukan dalam bentuk pengisian rekahan,
pergantian matriks batuan serta dalam bentuk fragmen mangan di
lapangan. Singkapan mangan ini berasosiasi dengan batuan vulkanik
yang terdiri dari batuan andesit hingga andesit basaltik yang disebut
sebagai batuan induk, dimana batuan tersebut menjadi sumber
pengkayaan mangan pada daerah penelitian. Secara geokimia batuan
induk pembawa endapan mangan ini berasal dari seri magma yang
berafinitas calc-alkali yang berasosiasi dengan zona subduksi tepatnya
di busur kepulauan (island arc). Endapan mangan di daerah penelitian
secara mineralogi tersusun dari mineral manganit (MnO(OH)) dan
mineral rodokrosit (MnCO3) sebagai mineral primer sedangkan mineral
pirolusit (MnO2) sebagai mineral yang terbentuk akibat oksidasi dan
dekomposisi mineral manganit dan rodokrosit. Alterasi yang dijumpai
pada daerah penelitian berupa alterasi propilitik. Tipe alterasi ini
dicirikan dengan kehadiran mineral klorit dan epidot, yang
menunjukkan tipe endapan hidrotermal dari temperatur pembentukan
mineral tersebut yang berkisar antara 200oC - 300oC yang merupakan
tipe endapan epitermal. Berdasarkan perbandingan unsur Si, Al, Mn
dan Fe pada sampel bijih mangan menunjukkan bahwa mangan yang
terbentuk pada daerah penelitian ini berasal dari proses hidrotermal
yang berasosiasi dengan zona subduksi tepatnya di busur kepulauan
(island arc). Model endapan mangan di daerah penelitian dibuat
berdasarkan kondisi geologi setempat dengan menggunakan data
mineralogi dan geokimia bijih mangan. Model endapan mangan
tersebut menjelaskan bahwa kontrol struktur seperti kekar dan sesar
yang ada pada daerah penelitian membantu proses pengkayaan mangan
di daerah penelitian dengan proses berupa pencucian dan pelarutan
unsur Mn yang ada pada batuan induk oleh fluida hidrotermal dan
fluida meteorik.

3.1.2. Struktur Mangan

Perlu dilakukan penelitian struktur bijih mangan yang dipreparasi dari


daerah Sumatra Barat. Salah satu cara mendapatkan mangan oksida
dengan melakukan proses pemanasan atau sintering. sintering dapat
merubah struktur mineral. Mineral yang sama di setiap kawasan
memiliki struktur yang berbeda. Tatanan geologi dan proses
mineralisasi disetiap wilayah menyebabkan perbedaan struktur mangan
oksida yang terbentuk. Sifat-sifat fisis material padat salah satunya
ditentukan oleh struktur kristal material tersebut. Struktur kristal dapat
ditentukan menggunakan metode difraksi sinar-x. Data mentah dari
hasil difraksi di analisis dengan software sehingga didapatkan struktur
senyawa penyusun sampel tersebut, diantaranya konstanta kisinya dhkl,
sistem kristalnya dan bidang kristal. Semuanya dapat mempengaruhi
sifat bahan. Sifat bahan akan berubah apabila diberikan perlakuan
seperti pemanasan pada sumber daya bijih mangan tersebut. Peristiwa
ini dapat dijelaskan secara fisika, ketika sampel bijh mangan
dipanaskan pada temperatur tertentu maka terjadi perubahan struktur
mineral pada sampel bijih mangan menjadi mineral baru yang juga
bermanfaat bagi industri. Mineral pyrolusite berstruktur tetragonal
dapat menjadi mineral bixbyite berstruktur kubik pada temperatur
sintering diatas 400 . Mineral bixbyite dapat menjadi mineral
hausmannite berstruktur tetragonal pada temperatur sintering 400.
Penelitian lain menemukan mineral bixbyite berupa lapisan tipis
mangan oksida terjadi pada temperatur sintering 400oC. Selain
perbedaan temperatur sintering dalam perubahan struktur juga
dipengaruhi oleh kandungan lain yang terdapat pada bijih mangan.
Seperti mengandung sejumlah kecil Si, Al, Ca, P, K. Ba, Ag, dan unsur
lainnya. Endapan bijih mangan terbentuk dengan berbagai cara yaitu
proses hidrothermal yang dijumpai dalam bentuk sedimenter ataupun
residu. Endapan mangan sedimenter merupakan endapan bijih mangan
yang banyak dijumpai dan mempunyai nilai ekonomis. Salah satu jenis
mangan oksida yang sering dijumpai dalam cebakan bijih yang bernilai
ekonomis yaitu pyrolusite, bixbyite, dan hausmannite. Hasil
penyelidikan menunjukkan bahwa warna bijih mangan yang bervariasi
sesuai dengan jenis masing-masing mineralnya. Kenampakan warna
dari mineral bijih mangan pyrolusite berupa warna hitam, kelabu, hitam
kecoklatan. Kenampakan kilap yaitu seperti kilap kaca, kilap logam
dapat pula suram dan gelap. Pada bijih mangan terdapat jenis mangan
oksida seperti pyrolusite, bixbyite, psilomelane, hausmannite,
rhodokrosit dan rhodonite. Adapun karakteristik komposisi mineral dan
komposisi kimia dari bijih mangan tersebut sebagai berikut. Pyrolusite
berbentuk kristal tetragonal jarang dijumpai sebagai kristal yang
sempurna di alam. Senyawa bijih mangan ini dijumpai dalam bentuk
serat-serat, gumpalan-gumpalan, atau adonan menyerupai lumpur. Sifat
umum dari pyrolusite yaitu sistem kristal tetragonal dengan dimensi sel
a = 4,39 dan c = 2,86 . Pyrolusite mempunyai kekerasan.

3.1.3. Geoteknik Bijih Mangan


Geoteknik adalah salah satu dari banyak alat dalam perencanaan atau
design tambang, data geoteknik harus digunakan secara benar dengan
kewaspadaan dan dengan asumsi-asumsi serta batasan-batasan yang ada
untuk dapat mencapai hasil seperti yang diinginkan.
Dalam penambangan secara tambang terbuka (open pit), sudut
kemiringan adalah satu faktor utama yang mempengaruhi bentuk dari
final pit dan lokasi dari dinding-dindingnya. Dikarenakan dari
perbedaan dari keadaan geologinya, maka kemiringan optimum dapat
beragam diantara berbagai pit dan bahkan dapat beragam pula dalam
satu pit yang sama. Sudut pit pada umumnya dapat dikatakan sebagai
sejumlah waste yang harus dipindahkan untuk menambang bijih.
Peran Geotek di Pertambangan
Peranan Geotek sebenarnya tidak hanya melakukan perhitungan saja
tetapi lebih mengarah kepada memberikan panduan kepada pihak
terkait mengenai potensi bahaya geoteknik yang akan terjadi kepada
pihak terkait (manajemen perusahaan, institusi, mineplanner, dll).
Berikut beberapa contoh aplikasi geotek dalam pertambangan ::
1. Eksplorasi dan mine development. Geoteknik diperlukan untuk
memandu kepada arah pembuatan desain pit yang optimal dan aman
(single slope degree, overall slope degree, tinggi bench,potensi
bahaya longsor yang ada ex: longsoran bidang, baji, topling
busur,dll) sesuai dengan kriteria SFnya. Disini ahli geotek tidak
hanya melakukan analisis namun juga ikut turun memetakan kondisi
geologi (patahan/lipatan/rekahan, dll) dilokasi yang akan dibuka
tambang. Selain itu juga geoteknik diperlukan dalam pembangunan
infrastruktur tambang seperti stockpile, port, jalan hauling diareal
lemah, dll. Disini, peran ahli geotek adalah memberikan analisis
mengenai daya dukung tanah yang aman, cut fill volume, serta
langkah-langkah yang diperlukan untuk memenuhi safety factor
sehingga ketika dilakukan kontruksi dan digunakan tidak terjadi
kegagalan (failure)
2. Operasional Tambang pada kondisi ini ahli geotek berperan dalam
pengawasan kondisi pit dan infrastructur yang ada, sebagai contoh
pengawasan pergerakan lereng tambang, zona-zona potensi longsor
di areal tambang (pit dan waste dump) akibat proses penambangan,
prediksi kapan longsor akan terjadi, apakah berbahaya untuk
operasional di pit atau tidak, langkah apa saja yang harus dilakukan
untuk mengantisipasi longsor seperti mengevakuasi alat, melakukan
push back untuk menurunkan derajat kemiringan lereng, melakukan
penguatan, melakukan pengeboran horizontal untuk mengeluarkan
air tanah,dll. Disini peran ahli geotek memandu tim safety dalam
pengawasn operasional tambang dan ahli geotek bisa melakukan
penyetopan operasional pit jika membahayakan keselamatan
manusia dan alat. Diinfrastruktur juga berlaku hal yang sama.
3. Post mining Setelah kegiatan penambangan selesai, geotek bekerja
sama dengan safety juga berperan untuk memastikan bahwa kondisi
waste dump dan pit dalam kondisi aman dan tidak terjadi longsor
dalam jangka waktu lama, karena setelah tambang selesai lahan
tersebut akan dikembalikan kepada pemerintah dan masyarakat dan
menyangkut masalah citra perusahaan, bagi perusahaan yang
berstatus green company hal ini merupakan harga mati yang tidak
bisa ditawar.
3.2. Keadaan Endapan
3.2.1. Bentuk dan Penyebaran Endapan
Di Bumi, mangan ditemukan dalam sejumlah mineral kimia yang
berbeda dengan sifat fisiknya, tetapi tidak pernah ditemukan sebagai
logam bebas di alam. Mineral yang paling penting adalah pyrolusite,
karena merupakan mineral bijih utama untuk mangan. Mangan terdapat
dalam cebakan sedimen dan residu, juga terdapat dalam
cebakanhidrothermal dan metamnorfosa (malihan). Daerah studi kasus
adalah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur yang terletak
diantara 8 LU - 8.30 LS dan 119, 30 12, 30 BT. Keterdapatan
endapan mangan di Kabupaten Manggarai di jumpai di beberapa lokasi
yang terdapat di Kecamatan Lambaleda dan Kecamatan Sambi Rampas.
Metode yang digunakan dalam pengukuran ini adalah metode
Tachimetri/ Pengukuran Detil dimana hasilnya berupa data koordinat
planimetris (X,Y) dan koordinat Tinggi (Z). Hasil pengukuran volume
di lapangan salah satunya dapat divisualisasikandalam bentuk 3
Dimensi (3D) menggunakan software Autodesk Land Desktop.

3.2.2. Sifat dan Kualitas Endapan


Keterbentukan dan Asosiasi Mineral Mangan :
Mangan merupakan salah satu unsur yang paling banyak terdapat
di kerak bumi. Bijih mangan yang utama berasal dari pirolusit
(MnO2) dan psilomelan (Ba,H2O)2Mn5O10. Mangan yang
mengandung oksida lainnya namun berperan bukan sebagai
mineral utama dalam deposit bijih mangan adalah bauksit,
manganit, hausmanit, dan lithiofori. Sumber mangan yang
mengandung karbonat adalah rhodoksit, sedangkan sumber mangan
yang mengandung silika adalah rhodonit. Deposit mangan dapat
dibagi menjadi beberapa tipe, misalnya deposit hidrotermal, deposit
sedimenter, deposit yang berasosiasi dengan aliran lava bawah laut,
deposit motamorfosis, deposit laterit, dan akumulasi residu.
Karakteristik Mangan
Mangan adalah logam berwarna putih keabu-abuan seperti besi
dengan kilap metalik sampai sub metalik, memiliki tingkat
kekerasan 2 - 6, massa jenis 7.21 g/cm3 pada suhu ruang , massif,
reniform, botriodal, stalaktit, serta kadang kadang berstruktur
fibrous dan radial.ogam mangan dan ion-ion biasanya mempunyai
daya magnet yang kuat. Dalam keadaan murni, logam mangan
bersifat keras tapi rapuh (mudah patah).
Jari-jari atom 1.35
Volume atom 7.39 cm3/mol
Massa atom 54.938
Jari-jari kovalensi 1.17
struktur kristal Cubic body center
Massa jenis 7.44 g/cm3
Konduktivitas listrik 0.5x106 Ohm-1cm-1
Konduksivitas kalor 7.82 Wm-1K-1
Konfigurasi elektron [Ar] 3d5 4s2
Entalapi pembentukan 14.64 kJ/mol
Entalapi penguapan 219.74 kJ/mol
Elektronegatifitas (skala Pauling) 1.55
Kapasitas kalor 0.48 Jg-1K-1
Titik lebur 1518K
Titik didih 2235 K
Potensial ionisasi 7.435 V
Bilangan oksidasi 7, 6, 4, 3, 2
Mangan mudah teroksidasi oleh udara, bereaksi lambat dengan air
dan membentuk berbagai macam senyawa dengan tingkat oksidasi
yang paling bervariasi. Mangan sangat reaktif secara kimiawi, dan
terurai dengan air dingin perlahan-lahan. Mangan digunakan untuk
membentuk banyak alloy yang penting. Dalam baja, mangan
meningkatkan kualitas tempaan baik dari segi kekuatan, kekerasan
dan kemampuan pengerasan. Dengan alumunium dan bismut
khususnya dengan sejumlah kecil tembaga, membentuk alloy yang
bersifat ferromagnetik. Logam mangan bersifat ferromagnetik
setelah diberi perlakuan. Logam murninya terdapat sebagai bentuk
allotropik dengan empat jenis. Salah satunya, jenis alfa, stabil pada
suhu luar biasa tinggi sedangkan mangan jenis gamma, yang
berubah menjadi jenis alfa pada suhu tinggi, dikatan fleksibel,
mudah dipotong dan ditempa.

3.2.3. Cadangan Mangan


Pengertian Cadangan :

Menurut Mc. Kelvey yang dimaksud dengan cadangan (reserves)


adalah bagian dari sumber daya terindikasi dari suatu komoditas
mineral yang dapat diperoleh secara ekonomis dan tidak
bertentangan dengan hukum dan kebijaksanaan pemerintah pada
saat itu. Suatu cadangan mineral biasanya digolongkan berdasarkan
ketelitian dari eksplorasinya. Klasifikasi cadangan di Amerika
menurut US Berau Of Mine and US Geological Survey (USBM
and USGS) dan usulan Mc. Kelvey, 1973 sebagai berikut:

A. Cadangan Terukur

Cadangan terukur adalah cadangan yang kuantitasnya dihitung


dari pengukuran nyata, misalnya dari pemboran, singkapan dan
paritan, sedangkan kadarnya diperoleh dari hasil analisa
contoh. Jarak titik-titik pengambilan contoh dan pengukuran
sangat dekat dan terperinci, sehingga model geologi endpan
mineral dapat diketahui dengan jelas. Struktur, jenis ,
komposisi, kadar, ketebalan, kedudukan, dan kelanjutan
endapan mineral serta batas penyebarannya dapat ditentukan
dengan tepat. Batas kesalahan perhitungan baik kuantitas
maupun kualitas tidak boleh lebih dari 20%.
B. Cadangan Terkira/Teridikasi (indicated)

Cadangan terkira adalah cadangan yang jumlah tonase dan


kadarnya sebagian diperoleh dari hasil perhitungan
pemercontohan dan sebagian lagi dihitung sebagai proyeksi
untuk jarak tertentu berdasarkan keadaan geologi setempat
titik-titik pemercontoh dan pengukuran jaraknya tidak perlu
rapat sehingga struktur, kadar, ketebalan, kedudukan, dan
kelanjutan endapan mineral serta batas penyebarannya belum
dapat dihitung secara tepat dan baru disimpulkan/dinyatakan
berdasar indikasi. Batas kesalahan baik kuantitas maupun
kualitas 20% - 40%.

C. Cadangan Terduga/Tereka (infered)

Cadangan terduga adalah cadangan yang diperhitungkan


kuantitasnya berdasarakan pengetahuan geologi, kelanjutan
endapan mineral, serta batas dari penyebaran. Ini
diperhitungkan dari beberapa titik contoh, sebagian besar
perhitungannya didasarkan kepada kadar dan kelanjutan
endapan mineral yang mempunyai ciri endapan sama.
Toleransi penyimpangan kesalahan terhadap perhitungan
cadangan adalah 60%.

Di Indonesia mengikuti klasifikasi cadangan menurut Mc.


Kelvey, karena dianggap paling detil, mempertimbangkan
keadaan geologi, ekonomi, dan memiliki wawasan luas tentang
klasifikasi cadangan. Klasifikasi cadangan yang diusulkan Mc.
Kelvey ini berdasarkan pada:

a. Kenaikan tingkat keyakinan geologi.

b. Kenaikan tingkat kelayakan ekonomi.

Kriteria keyakinan geologi didasarkan tingkat keyakinan


mengenai endapan mineral yang meliputi ukuran, bentuk,
sebaran, kuantitasnya sesuai dengan tahap eksplorasinya.
Kriteria kelayakan ekonomi didasarkan pada faktor-faktor
ekonomi layak atau tidaknya berdasarkan kondisi ekonomi
pada saat itu. Tingkat kesalahan adalah penyimpangan
kesalahan baik kuantitas maupun kualitas cadangan yang
masih bisa diterima sesuai dengan tahap ekplorasinya.

Selain itu juga Mc. Kelvey membagi cadangan didasarkan


pada kenaikan tingkat pelaksanaan ekonomi dan tingkat
keyakinan geologi yang dapat dilihat pada gambar di bawah
ini.
Perhitungan Cadangan

Setelah kita melakukan ekplorasi pada tahap-tahap kegiatan


penambangan kemudian melakukan analisa dan perhitungan
cadangan seperti terlihat pada Gambar 3.1. Adapun tujuan dari
perhitungan cadangan yaitu agar dapat menentukan jumlah dan
mutu kualitas yang dapat dipertanggung jawabkan untuk
dieksploitasi sesuai dengan kebutuhan. Dengan perhitungan
cadangan akan dapat mengetahui biaya produksi, membantu
perencanaan, efisiensi operasi, control kehilangan dalam
penambangan, unsur produksi tambang, dan sebagainya.

Kegiatan lapangan untuk memperoleh data guna perhitungan


cadangan adalah sebagai berikut:

A. Observasi Lapangan

Merupakan gambaran praktis kondisi dan keadaan dilapangan


meliputi pengambilan data geografi dan demografi.

B. Pemetaan

Tidak mutlak dilaksanakan, untuk pengambilan topografi,


bentang alam, dan lereng awal jika peta telah tersedia maka
hanya dilakukan ploting.

C. Pengambilan Contoh

Dapat berupa air, tanah, endapan, singkapan sesuai dengan


metodenya.

D. Pengambilan Data Geologi

Dapat dilakukan dengan studi literatur dan pengecekkan


langsung dilapangan.

E. Pengolahan Data
Dilakukan di lapangan (pengecekkan mudah) atau dikirim ke
kantor termasuk pekerjaan studio, uji laboratorium dan analisa.

Untuk Estimasi cadangan tidak lepas dari metode yang akan


digunakan, adapun metode perhitungan cadangan dapat
dikategorikan menjadi:

1. Metode Konvesional

a. Tertua dan paling umum digunakan.

b. Mudah diterapkan, dikomunikasikan, dan dipahami.

c. Mudah di adaptasi dengan semua edapan mineral.

d. Kelemahannya sering menghasilkan perkiraan salah,


karena cendrung menilai kadar tinggi saja.

e. Kadar suatu luasan diasumsikan konstan sehingga tidak


optimal secara matematika.

f. Untuk endapan yang terpencar dapat terjadi penafsiran


yang salah.

2. Metode Non Konvensional.

a. Pengembangan teori matematik dan statistik.

b. Secara teoritis akan lebih optimal.

c. Kelemahannya rumit data terbatas tidak optimal.

Metode Perhitungan Cadangan


Dalam melakukan metode perhitungan cadangan haruslah ideal dan
sederhana, cepat dalam pengerjaan dan dapat dipercaya sesuai
dengan keperluan dan kegunaan. Metode perhitungan harus dipilih
secara hati-hati dan rumusan yang dipilih harus sederhana dan
mempermudah perhitungan sehingga dapat menghasilkan tingakat
ketepatan yang sama dengan metode yang komplek. Maka tingkat
kebenaran perhitungan cadangan tergantung pada ketepatan dan
kesempurnaan pengetahuan atas endapan mineral seperti asumsi-
asumsi yang digunakan untuk menginterprestasikan variabel-
veriabel pada batas-batas endapan dan pada perumusan
matematika.

Pemilihan metode untuk perhitungan cadangan tergantung pada:

A. Keadaan Geologi dari Endapan Mineral

Topografi daerah penelitian berupa perbukitan bergelombang.

B. Ketersediaan Data

Tidak adanya data lubang bor yang menunjukkan ketebalan


endapan bijih mangan sehingga data merupakan indikasi secara
geologi saja.

C. Jenis Bahan Galian.

Bijih mangan merupakan jenis bahan galian golongan B yang


mempunyai bentuk dan geometri yang sederhana, dan memiliki
assosiasi dengan mineral-mineral lainnya. Secara umum endapan-
endapan bahan galian dapat dikategorikan atas sederhana (simple)
atau kompleks (complex) tergantung dari distribusi kadar dan
bentuk geometrinya. Kriteria untuk mengkategorikan endapan
bahan galian ini didasarkan atas pendekatan geologi. Untuk
kategori kompleks dicirikan dengan kadar pada batas endapan dan
pada tubuh bijihnya sangat bervariasi serta bentuk geometrinya
yang kompleks, sedangkan untuk kategori sederhana dicirikan
dengan bentuk geometri yang sederhana dan kadar pada batas
endapan maupun pada badan bijih relatif homogen.

Metode Penampang Tegak (Cross Section)


Prinsip dari metode ini yaitu pembuata sayatan pada badan bijih,
dalam hal ini adalah mangan. Kemudian dihitung luasan masing-
masing badan bijih tersebut, dan untuk menghitung volumenya
digunakan jarak antar penampang.

Untuk perhitungan volume dapat menggunakan rumus sebagai


berikut:

A. Rumus Luas rata-rata

1. Volume penampang yang sejajar

V : Volume Cadangan

S1 : Luas Penampang Satu

S2 : Luas Penampang Dua

L : Jarak Antar Penampang

2. Untuk menghitung tonase digunakan rumus

T = V x BJ

Dimana: T = Tonase (ton)

V = Volume (m3)

BJ = Berat Jenis Material (ton/ m3)


Rumus Prismoida
V = (S1 + 4M + S2)x(6/L)

Dimana:
S1, S2 = Luas
Penampang Ujung
M = Luas Penampang
Tengah
L = Jarak Antar S1
dan S2
V = Volume
Cadangan

3. Rumus Kerucut Terpancung

Dimana:
S1 : Luas Penampang Atas
S2 : Luas Penampang Bawah
L : Jarak Antara S1 dan S2
V : Volume Cadangan

Metode Daerah Pengaruh


Perhitungan cadangan menggunakan metode daerah pengaruh
(Area Of Influence) merupakan salah satu metode estimasi
cadangan secara konvensional, metode ini mempunyai luas daerah
pengaruh yang sama dengan luas daerah pengaruh dari titik-titik
contoh terdekat. Dalam hal ini pola luasan yang dibentuk segi
empat sama sisi dengan luas 625m2. Sedangkan kadar dari masing-
masing 40 titik contoh bervariasi, dan luas daerah pengaruh setiap
titik dihitung dengan membagi jarak antara dua titik contoh yang
berdekatan menjadi dua.

Metode ini umumnya menggunakan nilai titik contoh yang berada


dipusat blok sebagai pengganti terbaik nilai rata-rata luas tertentu
didalam blok tersebut tanpa mempertimbangkan pengaruh,
hubungan letak, dan ruang titik contoh di sekelilingnya. Pada
metode daerah pengaruh ini semua faktor ditentukan untuk titik
tertentu pada endapan mineral, diekstensikan (perluasan) sejauh
setengah jarak dari titik-titik sekitarnya yang membentuk daerah
pengaruh.

Ukuran blok yang ditentukan oleh tiap-tiap titik contoh dipengaruhi


langsung oleh spasi contoh. Jika spasi rapat maka ukuran blok akan
semakin kecil begitu juga sebaliknya, maka ukuran blok dibatasi.
Ukuran blok dapat ditentukan secara subyektif berdasarkan
pengalaman dan perhitungan cadangan sejenis yang pernah
dilakukan sebelumnya.

Dengan demikian pengaruh dari tiap-tiap titik akan membentuk


suatu poligon tertutup, dimana bagian dari endapan yang akan
diestimasi cadangannya diganti oleh beberapa prisma poligon,
setiap prisma poligon atau blok menggambarkan volume daerah
pengaruh suatu titik contoh.

Dengan demikian untuk mengestimasi volume daerah pengaruh


tiap-tiap poligon, dilakukan dengan cara mengkalikan luas daerah
pengaruh tiap-tiap poligon dengan tebal bijih pada daerah pengaruh
tersebut (tebal pada tiap-tiap poligon).

Volume dari masing-masing daerah pengaruh dapat diestimasi


dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:

V=axt

Keterangan:

V = Volume Daerah Pengaruh (m3)

a = Luas Daerah Pengaruh (m2)

t = Tebal Bijih (m)

Sedangkan untuk mengestimasi volume total dari masing-masing


poligon digunakan persamaan sebagai berikut:

Vtotal = V1 + V2 + V3 + + Vn, atau

= a1 x t1 + a2 x t2 + a3 x t3 + + an x tn

Keterangan:

V1, V2, V3, Vn = Volume masing-masing poligon (m3)

a1, a2, a3, an = Luas daerah pengaruh dari masing-masing


poligon (m2)

t1, t2, t3, tn = Tebal bijih dari masing-masing poligon


(m)

Untuk estimasi tonase bijih total digunakan persamaan sebagai


berikut:

T = T1 + T2 + T3 + + Tn

= (V1 x x C1) + (V2 x x C2) + (V3 x x C3) + (Vn x x


Cn)

Sedangkan rata-rata diestimasi dengan menggunakan persamaan


sebagai
berikut:

CAV = C1V1 + C2V2 + C3V3 + + CnVn

V1 + V2 + V3 + Vn

Keterangan:

T = Tonase bijih total dari cadangan


(WMT)

T1, T2, T3, ,Tn = Tonase bijih dari masing-masing


poligon (WMT)

= Densitas Batuan (Ton/m3)

V1, V2, V3, ,Vn = Volume dari masing-masing


poligon

C1, C2, C3,. ,Cn = Kadar dari masing-masing poligon


(%)