Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ergonomi ialah ilmu yang sistematis dalam memanfaatkan
informasi mengenai sifat, kemampuan, dan keterbatasan manusia untuk
merancang sistem kerja. Dengan Ergonomi diharapkan penggunaan
proyek fisik dan fasilitas dapat lebih efektif serta memberikan kepuasan
kerja. Salah satu definisi ergonomi yang menitikberatkan pada
penyesuaian desain terhadap manusia adalah menerapkan informasi
menurut karakter manusia, kapasitas dan keterbatasannya terhadap desain
pekerjaan, mesin dan sistemnya, ruangan kerja dan lingkungan sehingga
manusia dapat hidup dan bekerja secara sehat, aman, nyaman dan efisien.
Dalam setiap melakukan aktifitas pekerjaan pasti memiliki dampak
terhadap kelelahan pada tubuh seperti mengalami pegal-pegal ataupun
nyeri sendi. Hal tersebut tidak hanya disebabkan oleh jenis pekerjaan yang
dilakukan tetapi juga dapat disebabkan oleh alat bantu kerja yang kita
gunakan seperti kursi atau meja kerja yang kita pakai. Alat bantu kerja
yang di pakai mungkin ukurannya tidak sesuai dengan ukuran tubuh kita
atau tidak ergonomis. Apabila kita ingin membuat suatu alat kerja yang
ergonomis yang dapat dipakai secara aman, nyaman, sehat dan mudah oleh
para penggunanya, maka terlebih dahulu kita harus mengetahui ukuran
dimensi tubuh pemakainya.
Antropometri yaitu ilmu tentang ukuran-ukuran tubuh, baik dalam
keadaan statis atau dinamis. Antropometri statis adalah ilmu dan
penerapan yang berkaitan dengan ukuran-ukuran tubuh manusia. Ukuran-
ukuran tersebut digunakan untuk merencanakan tempat kerja dan
perlengkapannya yang menjamin sikap tubuh paling alamiah dan
memungkinkan dilakukan gerakan-gerakan yang dibutuhkan.
Antropometri dinamis adalah pengukuran kemampuan gerak tubuh untuk
melaksanakan pekerjaan. Pengukuran ini dilakukan sesuai dengan
kemampuan gerakan normal dan maksimal.
Suatu studi menyebutkan bahwa dimensi tubuh seseorang akan
lebih kecil pada saat tua, bila dibanding dengan dirinya pada saat muda. Di
sini jelas terlihat bahwa ukuran memang memegang peranan penting
dalam dimensi tubuh manusia.Faktor sosial ekonomi juga berakibat pada
dimensi tubuh manusia.Ketersediaan sumber makanan dengan gizi yang
baik pada golongan berpendapatan tinggi menyebabkan terhindarnya masa
kanak-kanak dari penyakit yang pada akhirnya berpengaruh pula pada
perkembangan tubuh.Dimensi tubuh manusia yang berpengaruh pada
perancangan ruang terbagi dalam dua jenis dasar, struktural dan
fungsional.
Dengan bantuan dasar-dasar antropometri, maupun aspek-aspek
pandangan dan medan visual, dapat membantu mengurangi beban kerja
dan memperbaiki untuk kerja dengan cara menyediakan tata letak tempat
kerja yang optimal, termasuk postur kerja yang baik serta landasan yang
dirancang dengan baik.

Gambar 1.1 Pengukuran Tubuh


1.2 Perumusan Masalah

1) Bagaimana cara melakukan perhitungan persentil dari data-data


antropometri?
2) Bagaimana cara merancang produkyang ergonomis,dari data-data
dimensi tubuh manusia yang diperoleh?
3) Bagaimana cara membuat produk yang aman, sehat, nyaman
berdasarkan data-data dimensi tubuh manusia yang diperoleh?

1.3 Tujuan Praktikum


1) Mampu melakukan penghitungan berbagai macam persentil dari data-
data antropometri.
2) Mampu melakukan perancangan produk yang ergonomis dengan
menggunakan data-data yang diperoleh dari dimensi tubu h manusia.
3) Mampu membuat produk yang aman, sehat, nyaman berdasarkan data
dimensi tubuh manusia yang di peroleh.

1.4 Manfaat Praktikum


Agar mahasiswa dapat memahami langkah-langkah dalam
pengukuran bagian-bagian tubuh manusia serta mengetahui cara
menggunakan alat Antropometri dan cara pengukuran Antropometri statis
dan dinamis, sehingga diketahui ukuran tubuh yang ideal yang akan
digunakan dalam merancang suatu produk atau alat bantu kerja yang
ergonomis.

1.5 Batasan dan Asumsi


1.5.1 Batasan
Permasalahan yang ingin diselesaikan dalam modul anthropometri
ini adalah bagaimana cara melakukan pengukuran dimensi tubuh manusia
untuk diaplikasikan kedalam sebuah sistem kerja yang ergonomis.
Pembuatan laporan ini memerlukan pembatasan masalah agar hal-hal yang
dibahas pada laporan ini tidak menyimpang dari materi yang diberikan
pada saat praktikum. Batasan-batasan masalah tersebut meliputi:
1) Pengambilan data berupa pengukuran dimensi tubuh dilakukan di
Laboratorium Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi Universitas
Tanjungpura, Pontianak.
2) Data dimensi tubuh diambil menggunakan kursi anthropometri, alat
ukur anthropometri dinamis, meteran kain, timbangan badan, jangka
sorong, dan mistar.
3) Pengambilan data hanya dilakukan pada tanggal 3 oktober 2017 mulai
pukul 9.30 WIB 13.00 WIB.

1.5.2 Asumsi
1) Pada saat pengambilan data, peralatan yang digunakan lengkap dan
dalam keadaan baik.
2) Operator yang melakukan percobaan diasumsikan dalam keadaan
normal dan sehat.
3) Operator diasumsikan paham dan mengerti mengenai prosedur yang
dilakukan dalam praktikum.
4) Data di asumsikan cukup.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Antropometri
2.1.1 Definisi Antropometri

Menurut Nurmianto (2003), antropometri adalah satu kumpulan


data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia,
ukuran, bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk
penanganan masalah desain. Sedangkan Menurut Sutalaksana
(1996).Istilah Antropometri berasal dari kata Anthro yang berarti
manusia dan metri yang berarti ukuran.Secara definitive antropometri
dapat dinyatakan sebagai suatu studi yang berkaitan dengan pengukuran
bentuk, ukuran (tinggi, lebar) berat dan lain-lain yang berbeda satu dengan
lainnya.Antropometri secara lebih luas digunakan sebagai pertimbangan
ergonomis dalam proses perencanaan produk maupun sistem kerja yang
memerlukan interaksi manusia. Data antropometri yang berhasil diperoleh
akan diaplikasikan secara lebih luas antara lain dalam hal perancangan
areal kerja (work station), perancangan alat kerja seperti mesin, equipment,
perkakas (tools), perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian,
kursi, meja, dan perancangan lingkungan fisik. Berdasarkan hal tersebut
maka menurut Nurmianto (2003) dapat disimpulkan bahwa data
antropometri akan menentukan bentuk, ukuran, dan dimensi yang tepat
berkaitan dengan produk yang akan dirancang sesuai dengan manusia yang
akan mengoperasikan atau menggunakan produk tersebut.

2.1.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Antropometri


Terdapat bermacam-macam faktor yang mempengaruhi
antropometri atau dimensi tubuh manusia, diantaranya adalah:
1) Umur
Menurut Sutalaksana (2006), beberapa kelompok usia telah
menjadi hal yang penting dalam masalah antropometri. Berikut ini
kelompok usia yang digolongkan dalam masalah antropometri, yaitu:
a. Balita
b. Anak-anak
c. Remaja
d. Dewasa, dan
e. Lanjut usia
Hal ini jelas berpengaruh terutama jika desain diaplikasikan untuk
antropometri anak-anak. Antropometri akan cendrung terus meningkat
sampai batas usia dewasa, namun setelah menginjak usia dewasa, tinggi
badan manusia mepunyai kecendrungan untuk menurun yang antara lain
disebabkan oleh berkurangnya elastisitas tulang belakang. Selain itu juga
berkurangnya dinamika gerakan tangan dan kaki.
2) Jenis Kelamin
Menurut Sutalaksana (2006), secara distribusi statistika ada
perbedaan yang signifikan antara dimensi tubuh pria dan wanita. Untuk
kebanyakan dimensi tubuh pria dan wanita ada perbedaan yang signifikan
diantara mean (rata-rata) dan nilai perbedaan ini tidak bisa diabaikan
begitu saja. Pria dianggap lebih panjang dimensi segmen badannya
daripada wanita, oleh karenanya data antropometri untuk dua jenis kelamin
tersebut selalu disajikan terpisah.
3) Suku Bangsa (Etnis)
Menurut Sutalaksana (2006), variasi diantara beberapa kelompok
suku bangsa telah menjadi hal yang tidak kalah pentingnya terutama
karena meningkatnya jumlah angka migrasi dari satu negara ke negara
lain. Suatu contoh sederhana bahwa yaitu dengan meningkatnya jumlah
penduduk yang migrasi dari negara Vietnam ke Australia, untuk mengisi
satuan jumlah angkatan kerja. Maka akan mempengaruhi antripometri
nasional.
4) Pekerjaan
Aktivitas kerja sehari-hari juga menyebabkan perbedaan ukuran
tubuh manusia. Selain faktor-faktor di atas, masih ada beberapa kondisi
tertentu (khusus) yang dapat mempengaruhi variabilitas ukuran dimensi
tubuh manusia yang juga perlu mendapat perhatian, seperti cacat tubuh,
tebal atau tipis pakaian yag dikenakan, dan kehamilan.

2.1.3 Prinsip Antropometri dalam Perancangan Produk


Perencanaan suatu produk perlu mengetahui prisip antropometri
dalam perancangan produk.Beberapa prinsip dalam perancangan produk,
yaitu:
1) Berorientasi pada tujuan
2) Variform yaitu suatu anggapan bahwa terdapat sekumpulan solusi yang
mungkin tidak terbatas, tetapi harus dapat memilih salah satu ide yang
akan diambil.
3) Pembatas, yaitu membatasi solusi pemecahan antara lain:
a. Ekonomis, pembiayaan atau ongkos dalam
merealisisasikanrancangan.
b. Pertimbangan manusia, sifat, keterbatasan dan kemampuan manusia
dalam merancang dan memakainya.
c. Faktor-faktor legalitas, mulai dari model, bentuk sampai dengan hak
cipta.
d. Fasilitas produksi, sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk
menciptakan yang telah dibuat.
e. Evolutif, berkembang terus mengikuti perkembangan zaman.
f. Perbandingan nilai.
2.2 Keseragaman Data

Untuk memastikan bahwa data yang terkumpul berasal dari system


yang sama, maka dilakukan pengujian terhadap keseragaman data. Sebagai
contoh, pada saat penimbangan struktur, ternyata masih
banyak scaffolding yang belum dilepas sehingga masih terkait dan terikat
pada struktur.Ketika dilakukan penimbangan ternyata masih banyak
pekerjaan harus melepas kaitan atau perancah tersebut. Dibandingkan
dengan penimbangan yang tidak ada gangguan terhadap struktur tersebut
jelas hasilnya akan jauh berbeda. Apalagi penimbangan dilakukan pada
saat kecepatan angin terlalu tinggi yang akan mempengaruhi kesetabilan
struktur pada saat pengangkatan tinggi.
Untuk itu diperlukan pengujian keseragaman data guna
memisahkan data yang memiliki karakteristik yang berbeda karena
pengaruh-pengaruh seperti contoh yang disebutkan tadi. Adapun rumus
yang digunakan dalam pengujian keseragaman data adalah:
BKA = x +k
BKB = x -k

rumus standard deviasi


Dimana:
BKA = Batas Kontrol Atas
BKB = Batas Kontrol Bawah
x = Nilai Data Rata-Rata
= Standar Deviasi
k = Tingkat Keyakinan

2.3 Kecukupan Data

Uji kecukupan data diperlukan untuk memastikan bahwa yang


telah dikumpulkan dan disajikan dalam laporan penimbangan tersebut
adalah cukup secara obyektif.Idealnya pengukuran harus dilakukan dalam
jumlah banyak, bhakan sampai jumlah yang tak terhingga agar data hasil
pengukuran layak untuk digunakan.Namun pengukuran dalam jumlah
yang tak terhingga sulit dilakukan mengingat keterbatasan-keterbatasan
yang ada; baik dari segi biaya, tenaga, waktu dan sebagainya.
Sebaliknya, pengumpulan data dalam jumlah yang sekedarnya juga kurang
baik karena tidak mewakili keadaan yang sebenarnya.Untuk itu, pengujian
kecukupan data dilakukan dengan berpedoman pada konsep statistic, yaitu
tingkat ketelitian dan tingkat keyakinan.
Tingkat ketelitian dan tingkat keyakinan adalah pencerminan
tingkat kepastian yang diinginkan oleh pengukur setelah memutuskan
tidak akan melakukan pengukuran dalam jumlah yang banyak. Tingkat
ketelitian menunjukkan penyimpangan maksimum hasil pengukuran dari
waktu penyelesian sebenarnya.
Sedangkan tingkat keyakinan menunjukkan besarnya keyakinan
pengukur akan ketelitian data pembacaan beban saat penimbangan dari
mesin tersebut. Pengaruh tingkat ketelitain dan keyakinan adalah; bahwa
semakin tinggi tingkat ketelitian dan semakin besar tingkat keyakinan,
maka semakin banyak banyak pengukuran yang diperlukan.
Tes kecukupan data dapat dilakukan dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:

Rumus Tes Kecukupan Data


Dimana:
k= Tingkat Keyakinan (99% 3, 95% 2)
s = Derajat Ketelitian
N = Jumlah Data Pengamatan
N = Jumlah Data Teoritis
x = Data Pengamatan
Jika N N maka data dianggap cukup, namun jika N > N data tidak
cukup (kurang) dan perlu dilakukan penambahan data.
2.4 Persentil
Data antropometri jelas diperlukan supaya rancangan suatu produk
bisa sesuai dengan orang yang akan mengoperasikannya. Permasalahan
yang akan timbul adalah ukuran ukuran siapakan yang nantinya akan
dipilh sebagai acuan untuk mewakili populasi yang ada? Mengingat
ukuran individu yang berbedabeda satu dengan populasi yang menjadi
target sasaran produk tesebut.
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya problem adanya variasi
ukuran sebenarnya akan lebih mudah diatasi bilamana kita mampu
merancang produk yang memiliki fleksibilitas dan sifat mampu sesuai
(adjustable) dengan suatu rentang ukuran tertentu.

N(X, X) 95%

2,5% 2,5%

1,96X 1,96X

2,5-th percentile X 97,5-th


percentile

Gambar 2.1 Grafik Persentil


Untuk penetapan data antropometri ini, pemakaian distribusi
normal akan umum diterapkan. Dalam statistik, distribusi normal dapat

formulasikan berdasarkan harga ratarata (mean, X ) dan simpangan


standarnya (standa deviation, X) dari data yang ada. Dari nilai yang ada
maka percentiles dapat ditetapkan sesuai dengan tabel probabilitas
distribusi normal.Dengan percentile, maka yang dimaksud disini adalah
suatu nilai yang menunjukan persentase tertentu dari orang yang memiliki
ukuran pada atau dibawah nilai tersebut. Sebagai contoh 95-th percentile
akan menunjukan 95% populasi akan berada pada atau dibawah ukuran
tersebut; sedangkan 5-th percentile akan menunjukan 5% populasi akan
berada pada atau di bawah ukuran itu. Dalam antropometri ukuran 95-th
akan menggambarkan ukuran manusia yang terbesar dan 5-th percentile
sebaliknya akan menunjukan ukuran terkecil. Pemakaian nilainilai
percentile yang umum diaplikasikan dalam perhitungan data antopometri
dapat dijelaskan dalam tabel sebagai berikut :
Table 2.1 Tabel Persentil

Percentile Perhitungan

1-st - 2.325 X

2.5-th - 1.96 X

5-th - 1.645 X

10-th - 1.28 X

50-th

90-th + 1.28 X

95-th + 1.645 X

97.5-th + 1.96 X

99-th + 2.325 X

2.5 Allowance
Setelah pengukuran berlangsung, pengukur harus mengamati
kewajaran kerja yang ditunjukkan operator.Ketidakwajaran dapat saja
terjadi misalnya bekerja tanpa kesungguhan, sangat cepat seolah-olah
diburu waktu, atau karena menjumpai kesulitan-kesulitan seperti karena
kondisi ruangan yang buruk.Penyebab seperti tersebut di atas,
mempengaruhi kecepatan kerja yang berakibat terlalu singkat atau terlalu
panjangnya waktu penyelesaian. Hal ini jelas tidak diinginkan karena
waktu baku yang dicari adalah waktu yang diperoleh dari kondisi dan cara
kerja baku yang diselesaikan secara wajar.
Kelonggaran diberikan untuk tiga hal yaitu untuk kebutuhan
pribadi, menghilangkan rasa fatigue, dan hambatan-hambatan yang tidak
dapat dihindarkan.Ketiganya ini merupakan hal-hal yang secara nyata
dibutuhkan oleh pekerja dan yang selama pengukuran tidak diamati,
diukur, dicatat, ataupun dihitung.Oleh karena itu, sesuai pengukuran dan
setelah mendapatkan waktu normal, kelonggaran perlu ditambahkan 2-5%.
2.6 Korelasi

Sering kali kita ingin mengetahui bagaimanakah hubungan antara


satu variabel dengan variabel lainnya. Apakah variabel X mempunyai
hubungan dengan variabel Y ? Apakah nilai Matematika siswa mempunyai
hubungan dengan tingkat kecerdasannya (IQ) ? Apakah terdapat
kesepakatan antara para juri dalam menilai para pesertanya dimana dalam
penilaianya skor tertinggi adalah 10 dan terendah adalah 1 ?
Koefisien korelasi adalah nilai yang menunjukan kuat/tidaknya
hubungan linier antar dua variabel.Koefisien korelasi biasa dilambangkan
dengan huruf r dimana nilai r dapat bervariasi dari -1 sampai +1. Nilai r
yang mendekati -1 atau +1 menunjukan hubungan yang kuat antara dua
variabel tersebut dan nilai r yang mendekati 0 mengindikasikan lemahnya
hubungan antara dua variabel tersebut. Sedangkan tanda + (positif) dan
(negatif) memberikan informasi mengenai arah hubungan antara dua
variabel tersebut. Jika bernilai + (positif) maka kedua variabel tersebut
memiliki hubungan yang searah. Dalam arti lain peningkatan X akan
bersamaan dengan peningkatan Y dan begitu juga sebaliknya. Jika bernilai
(negatif) artinya korelasi antara kedua variabel tersebut bersifat
berlawanan. Peningkatan nilai X akan dibarengi dengan penurunan Y.
Koefisien korelasi pearson atau Product Moment Coefficient of
Correlation adalah nilai yang menunjukan keeratan hubungan linier dua
variabel dengan skala data interval atau rasio. Rumus yang digunakan
adalah
Koefisien korelasi rangking Spearman atau Spearman rank correlation
coeficient merupakan nilai yang menunjukan keeratan hubungan linier
antara dua variabel dengan skala data ordinal. Koefisien Spearman biasa
dilambangkan dengan . Rumusnya yang digunakan adalah

Dimana di=selisih dari pasangan ke-i atau Xi Yi ;


n = banyaknya pasangan rank
Jika variabel X dan Y independen maka nilai r = 0, akan tetapi jika nilai
r=0, X dan Y tidak selalu independen. Variabel X dan Y hanya tidak
berasosiasi.
Perlu diketahui bahwa hasil dari koefisien koefisien korelasi hanya
bisa digunakan sebagai indikasi awal dalam analisa. Nilai dari koefisien
korelasi tidak dapat menggambarkan hubungan sebab akibat antara
variabel X dan Y. Untuk sampai pada adanya hubungnan sebab dan akibat
diperlukan penelitian yang lebih intensif atau dapat didasarkan pada teori
yang ada dimana X mempengaruhi Y atau Y yang mempengaruhi X.

2.7 Jenis Antropometri


Berdasarkan posisi tubuh antropometri dibagi menjadi dua bagian,
berikut ini merupakan kedua bagian posisi tersebut:
1) Antropometri Statis
Pengukuran dilakukan pada saat tubuh dalam keadaan diam atau tidak
bergerak. Dimensi yang diukur pada posisi ini antara lain meliputi berat
badan, tinggi badan dalam posisi berdiri maupun duduk, ukuran kepala,
dan lain-lain.
2) Antropometri Dinamis
Pengukuran dimensi tubuh yang diukur dalam berbagai posisi tubuh yang
sedang bergerak. Hal pokok yang ditekankan pada pengukuran dinamis
adalah mendapatkan ukuran tubuh yang nantinya akan berkaitan erat
dengan gerakan-gerakan nyata yang diperlukan tubuh untuk melaksanakan
kegiatan.

2.8 Penggunaan Antropometri


Antropometri menyajikan data ukuran dari berbagai macam
anggota tubuh manusia dalam bentuk persentilyang akan dimanfaatnya
pada saat perancangan produk ataupun fasilitaas kerja. Agar rancangan
suatu produk nantinya bisa sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang akan
mengoperasikannya, maka prinsip -prinsip apa yang harus diambil di
dalam aplikasi data antropometri tersebut harus ditetapkan terlebih dahulu
seperti diuraikan berikut ini :
1) Prinsip perancangan produk bagi individu dengan ukuran yang ekstrim.
Disini rancangan produk dibuat agar bisa memenuhi dua sasaran
produk, yaitu :
a. Bisa sesuai dengan ukuran tubuh manusia yang mengikuti klasifikasi
ekstrim dalam arti terlalu besar atau kecil bila dibandingkan dengan
rataratanya.
b. Tetap bisa digunakan untuk memenuhi ukuran tubuh yang lain
(mayoritas dari populasi yang ada).
Agar bisa memenuhi kebutuhan pokok tersebut maka ukuran yang
diaplikasikan ditetapkan dengan cara :
a. Untuk dimensi minimum yang harus ditetapkan dari suatu rancangan
produk umumnya didasarkan pada nilai persentill yang terbesar
seperti persentil ke-95.
b. Untuk dimensi maksimum yang harus ditetapkan diambil
berdasarkan nilai persentilyang paling rendah (persentil ke-5) dari
distribusi data antropometri yang ada.Secara umum aplikasi data
antropometri untuk perancangan produk ataupun fasilitas kerja akan
menetapkan nilai pesentil ke-5 untuk dimensi maksimum, dan
persentil ke-95 untuk dimensi minimumnya.
2) Prinsip perancangan produk yang bisa dioprasikan di antara rentang
ukuran tertentu.
Disini rancangan bisa dirubahrubah ukurannya sehingga cukup
fleksibel dioperasikan oleh setiap orang yang memiliki berbagai macam
ukuran tubuh.Dalam kaitannya untuk mendapatkan rancangan yang
fleksibel, semacam ini maka data antropometri yang umum
diaplikasikan adalah dalam rentang nilai persentil ke-5 sampai dengan
persentil ke-95.

3) Prinsip Perancangan Produk dengan Ukuran RataRata


Dalam hal ini rancangan produk didasarkan terhadap ratarata
ukuran manusia.Problem pokok yang dihadapi dalam hal ini justru
sedikit sekali mereka yang berbeda dalam ukuran ratarata. Berkaitan
dengan aplikasi data antropometri yang diperlukan dalam proses
perancangan produk ataupun fasilitas kerja, maka ada beberapa
rekomendasi yang bisa diberikan sesuai dengan langkahlangkah
sebagai berikut :
a. Pertama kali terlebih dahulu harus ditetapkan anggota tubuh yang
mana nantinya akan difungsikan untuk mengoperasikan rancangan
tersebut.
b. Tentukan dimensi tubuh yang penting dalam perancangan tersebut.
c. Tentuka populasi terbesar yang harus di antisipasi, diakomodasikan
dan menjadi target utama pemakai rancangan produk tersebut.
d. Tetapkan prinsip ukuran yang harus diikuti semisal apakah
rancangan tersebut untuk individual yang ekstrim, rentang ukuran
yang fleksibel, ataukah ukuran ratarata.
e. Pilihlah persentase populasi yang harus diikuti ; 5%, 50% 95%
f. Untuk setiap dimensi tubuh yang telah diidentifikasikan selanjutnya
tetapkan nilai ukurannya dari tabel data antropometri yang sesuai.
BAB III
METODOLOGI
3.1 Peralatan Praktikum
Berikut ini adalah alat-alat dan bahan yang digunakan dalam
paktikum pengukuran antropometri adalah sebagai berikut.
1) Kursi antropometri duduk.
2) Alat ukur antropometri dinamis.
3) Meteran kain.
4) Timbangan badan.
5) Vernier caliper / jangka sorong.
6) Mistar.
7) Lembar pengamatan.