Anda di halaman 1dari 10

Teknik Analisis Kependudukan Dalam Perencanaan

Pembangunan
TINJAUAN TEORI

Berikut ini adalah penjelasan mengenai beberapa teknik analisis kependudukan yang banyak
dilakukan dalam perencanaan pembangunan :

1. Sebaran Penduduk
Sebaran penduduk berguna untuk melihat daya tampung lahan terhadap jumlah penduduk,
sekaligus untuk mengidentifikasi pemerataan pembangunan, keseimbangan wilayah serta untuk
melihat daya tampung sarana prasarana sosial ekonomi suatu wilayah. Sebaran penduduk dapat
dilihat melalui jumlah penduduk dan kepadatan penduduk di masing-masing kelurahan.

2. Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk juga dapat diartikan sebagai perubahan dalam bilangan penduduk
sepanjang masa, yang boleh dikira sebagai perubahan bilangan individu dalam sebuah populasi
melalui sukatan secara sepanjang suatu tempoh. Walaupun boleh digunakan untuk mana-mana
spesies, namun istilah pertumbuhan penduduk senantiasa melibatkan kaum manusia.

Pertumbuhan penduduk merupakan perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai
perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan "per waktu unit" untuk
pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah
pada manusia, dan sering digunakan secara informal untuk sebutan demografi nilai pertumbuhan
penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk dunia

Indikator tingkat pertumbuhan penduduk sangat berguna untuk memprediksi jumlah penduduk di
suatu wilayah atau negara dimasa yang akan datang. Dengan diketahuinya jumlah penduduk yang
akan datang, diketahui pula kebutuhan dasar penduduk ini, tidak hanya di bidang sosial dan
ekonomi tetapi juga di bidang politik misalnya mengenai jumlah pemilih untuk pemilu yang akan
datang.

Tetapi prediksi jumlah penduduk dengan cara seperti ini belum dapat menunjukkan karakteristik
penduduk dimasa yang akan datang. Untuk itu diperlukan proyeksi penduduk menurut umur dan
jenis kelamin yang membutuhkan data yang lebih rinci yakni mengenai tren fertilitas, mortalitas dan
migrasi.

3. Laju Pertumbuhan Penduduk


Pertumbuhan penduduk merupakan produk dari pola keseimbangan yang bersifat dinamis antara
kekuatan-kekuatan yang menambah dan mengurangi jumlah penduduk. Pertumbuhan penduduk
dipengaruhi oleh empat komponen, yaitu kelahiran (fertilisasi), kematian (mortalitas), migrasi
masuk (in-migration) dan migrasi keluar (out-migration). Selisih antara kelahiran dan kematian
disebut perubahan reproduktif (reproductive change) atau pertumbuhan alamiah, sedangkan
selisih antara migrasi masuk dan migrasi keluar disebut net-migration (migrasi netto).

Laju pertumbuhan penduduk adalah kecapatan pertumbuhan penduduk yang dinilai dalam persen
(%). Laju pertumbuhan penduduk dapat dihitung dengan membandingkan selisih jumlah penduduk
dengan jumlah penduduk tahun dasar. Laju pertumbuhan penduduk dapat diformulasikan sebagai:
Keterangan:
Pt : Penduduk tahun ke-n (jiwa)
Po : Penduduk tahun dasar (jiwa)
t : Jangka waktu
r : Laju pertumbuhan penduduk

4. Fertilitas
Fertilitas sebagai istilah demografi diartikan sebagai hasil reproduksi yang nyata dari seorang wanita
atau kelompok wanita. Dengan kata lain fertilitas ini menyangkut banyaknya bayi yang lahir hidup.
Fertilitas mencakup peranan kelahiran pada perubahan penduduk.

Istilah fertilitas adalah sama dengan kelahiran hidup (live birth), yaitu terlepasnya bayi dari rahim
seorang perempuan dengan ada tanda-tanda kehidupan; misalnya berteriak, bernafas, jantung
berdenyut, dan sebagainya (Mantra, 2003:145).

Crude Birth Rate (CBR) atau angka kelahiran kasar adalah angka yang menunjukkan banyaknya
kelahiran pada tahun tertentu per 1000 penduduk pada pertengahan tahun yang sama. Kegunaan
angka kelahiran kasar yaitu sebagai parameter tingkat kelahiran yang terjadi di suatu daerah
tertentu pada waktu tertentu.

Angka kelahiran kasar dapat dihitung dengan membagi jumlah kelahiran pada tahun tertentu (B)
dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang sama (P).
Keterangan:
CBR : Angka kelahiran kasar
B : Jumlah kelahiran (jiwa)
P : Jumlah penduduk (jiwa)
k : Konstanta (1000)

Kebaikan dari perhitungan CBR ini adalah perhitungan ini sederhana, karena hanya memerlukan
keterangan tentang jumlah anak yang dilahirkan dan jumlah penduduk pada pertengahan tahun.
Sedangkan kelemahan dari perhitungan CBR ini adalah tidak memisahkan penduduk laki-laki dan
penduduk perempuan.

5. Mortalitas
Mortalitas (Kematian) adalah keadaan menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara
permanen, yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup (Death). Mortalitas dapat terjadi
setiap saat setelah kelahiran hidup. Kematian yang dimaksud dapat diakibatkan oleh lanjut usia,
penyakit (kronis dan akut), bencana alam (gempa bumi, erupsi gunung api, tsunami, dan angin
kencang), perang, limbah industri atau akibat lainnya yang menyebabkan seseorang meninggal
dunia.
Crude Death Rate (CDR) atau angka kematian kasar adalah angka yang menunjukkan berapa
besarnya kematian yang terjadi pada suatu tahun tertentu di wilayah tertentu untuk setiap 1000
penduduk. Angka ini disebut kasar karena belum memperhitungkan umur penduduk. Penduduk tua
memiliki resiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk yang masih muda.

Angka kematian kasar merupakan indikator sederhana yang tidak memperhitungkan pengaruh umur
penduduk. Tetapi jika tidak ada indikator kematian yang lain angka ini berguna untuk memberikan
gambaran mengenai keadaan kesejahteraan penduduk pada suatu tahun yang bersangkutan.
Apabila dikurangkan dari angka kelahiran kasar akan menjadi dasar perhitungan pertumbuhan
penduduk alamiah.

Angka kematian kasar dapat dihitung dengan membagi jumlah kematian pada tahun tertentu (D)
dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun yang sama (P).

Keterangan:
CDR : Angka kematian kasar
D : Jumlah kematian (jiwa)
P : Jumlah penduduk (jiwa)
k : Konstanta (1000)

6. Migrasi Penduduk
Secara sederhana migrasi didefenisikan sebagai aktivitas perpindahan. Sedangkan secara formal,
migrasi didefenisikan sebagai perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu
tempat ke tempat lain yang melampaui batas politik/negara ataupun batas administrasi/batas bagian
suatu negara. Bila melampaui batas negara maka disebut dengan migrasi internasional (migrasi
internasional). Sedangkan migrasi dalam negeri merupakan perpindahan penduduk yang terjadi
dalam batas wilayah suatu negara, baik antar daerah ataupun antar propinsi. Pindahnya penduduk
ke suatu daerah tujuan disebut dengan migrasi masuk. Sedangkan perpindahan penduduk keluar
dari suatu daerah disebut dengan migrasi keluar (Depnaker, 1995).

Menurut BPS (1995) terdapat tiga jenis migran antar propinsi, yaitu :

A. Migran semasa hidup (life time migrant) adalah mereka yang pindah dari tempat lahir ke
tempat tinggal sekarang, atau mereka yang tempat tinggalnya sekarang bukan di wilayah propinsi
tempat kelahirannya
B. Migran risen (recent migrant) adalah mereka yang pindah melewati batas propinsi dalam kurun
waktu lima tahun terakhir sebelum pencacahan
C. Migran total adalah orang yang pernah bertempat tinggal di tempat yang berbeda dengan tempat
tinggal pada waktu pengumpulan data.

Berdasarkan tiga jenis migran tersebut, maka jenis migran yang digunakan dalam penelitian ini
adalah jenis migran semasa hidup (life time migrant).Dalam keputusan bermigrasi selalu terkandung
keinginan untukmemperbaiki salah satu aspek kehidupan, sehingga keputusan seseorang
melakukan migrasi dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor. Menurut Lee (1987) ada empat
faktor yang perlu diperhatikan dalam studi migrasi penduduk, yaitu :

Faktor-faktor daerah asal


Faktor-faktor yang terdapat pada daerah tujuan
Rintangan antara
Faktor-faktor individual
Pada masing-masing daerah terdapat faktor-faktor yang menahan seseorang untuk tidak
meninggalkan daerahnya atau menarik orang untuk pindah ke daerah tersebut (faktor +), dan ada
pula faktor-faktor yang memaksa mereka untuk meninggalkan daerah tersebut (faktor -). Selain itu
ada pula faktor-faktor yang tidak mempengaruhi penduduk untuk melakukan migrasi (faktor o).

Diantara keempat faktor tersebut, faktor individu merupakan faktor yang sangat menentukan dalam
pengambilan keputusan untuk migrasi. Penilaian positif atau negatif terhadap suatu daerah
tergantung kepada individu itu sendiri. Besarnya jumlah pendatang untuk menetap pada suatu
daerah dipengaruhi besarnya faktor penarik (pull factor) daerah tersebut bagi pendatang. Semakin
maju kondisi sosial ekonomi suatu daerah akan menciptakan berbagai faktor penarik, seperti
perkembangan industri, perdagangan, pendidikan, perumahan, dan transportasi. Kondisi ini diminati
oleh penduduk daerah lain yang berharap dapat memenuhi kebutuhan dan keinginannya.

Pada sisi lain, setiap daerah mempunyai faktor pendorong (push factor) yang menyebabkan
sejumlah penduduk migrasi ke luar daerahnya. Faktor pendorong itu antara lain kesempatan kerja
yang terbatas jumlah dan jenisnya, sarana dan prasarana pendidikan yang kurang memadai,
fasilitas perumahan dan kondisi lingkungan yang kurang baik. Todaro (1998) menyatakan migrasi
merupakan suatu proses yang sangat selektif mempengaruhi setiap individu dengan ciri-ciri
ekonomi, sosial, pendidikan dan demografi tertentu, maka pengaruhnya terhadap faktor-faktor
ekonomi dan non ekonomi dari masing-masing individu juga bervariasi. Variasi tersebut tidak hanya
terdapat pada arus migrasi antar wilayah pada negara yang sama, tetapi juga pada migrasi antar
negara.

Beberapa faktor non ekonomis yang mempengaruhi keinginan seseorang melakukan migrasi adalah
:

a. Faktor-faktor sosial, termasuk keinginan para migran untuk melepaskan dari kendala-kendala
tradisional yang terkandung dalam organisasi-organisasi sosial yang sebelumnya mengekang
mereka.

b. Faktor-faktor fisik, termasuk pengaruh iklim dan bencana meteorologis, seperti banjir dan
kekeringan.

c. Faktor-faktor demografi, termasuk penurunan tingkat kematian yang kemudian mempercepat laju
pertumbuhan penduduk suatu tempat.

d. Faktor-faktor kultural, termasuk pembinaan kelestarian hubungan keluarga besar yang berada
pada tempat tujuan migrasi

e. Faktor-faktor komunikasi, termasuk kualitas seluruh sarana transportasi, sistem pendidikan yang
cenderung berorientasi pada kehidupan kota dan dampak-dampak modernisasi yang ditimbulkan
oleh media massa atau media elektronik.

Migrasi netto adalah selisih antara jumlah migrasi masuk dan jumlah migrasi keluar pada suatu
daerah dalam waktu satu tahun. Tingkat migrasi netto dapat dihitung menggunakan rumus berikut
ini:

Keterangan:
Mn : Jumlah migrasi netto
Mi : Migrasi masuk (jiwa)
Mo : Migrasi keluar (jiwa)
P : Jumlah penduduk (jiwa)
k : Konstanta (1000)

7. Kepadatan Penduduk Bruto


Kepadatan penduduk bruto (crude density population) adalah hasil perhitungan dari jumlah
penduduk tahun tersebut dalam satuan jiwa dibagi dengan luas lahan yang ada dalam satuan
kilometer persegi. Kepadatan penduduk bruto dapat diformulasikan sebagai berikut :

Keterangan:
KPK : Kepadatan penduduk kasar (jiwa/km2)
P : Jumlah penduduk (jiwa)
L : Luas wilayah (km2)

8. Kepadatan Penduduk Netto


Kepadatan penduduk netto adalah hasil perhitungan dari jumlah penduduk tahun tersebut dalam
satuan jiwa dibagi dengan luas lahan terbangun dalam satuan hektar. Kepadatan penduduk netto
berguna untuk mengetahui penggunaan lahan untuk pembangunan. Kepadatan penduduk netto
secara matematis dapat ditulis dengan persamaan:

Keterangan:
KPB : Kepadatan penduduk bersih (jiwa/Ha)
P : Jumlah penduduk (jiwa)
Lterbangun : Luas lahan terbangun (Ha)