Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

FARMASETIKA DASAR I
Sediaan Pil

DOSEN :

RAHMA DONA,M.Si,.Apt

DISUSUN OLEH :

DELLAVIANA ARISKA
NIM : 1601008

KELAS : S1-II C

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU

YAYASAN UNIVERSITAS RIAU

2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga saya bisa menyelesaikan makalah tentang Sediaan
Pil. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Farmasetika
Dasar I pada Semester Genap Tahun Ajaran 2016/2017

Proses penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan,


masukan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini,
saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah turut
membantu dalam penyusunan makalah ini.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, segala kritik dan saran yang
membangun sangat saya harapkan demi menyempurnakan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat memberikan suatu manfaat bagi pembaca serta
dapat memenuhi kriteria tugas sehingga bisa bernilai baik.

Pekanbaru, April 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

Halaman
Cover
Kata Pengantar ..................................................................................................... i
Daftar Isi ................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................ 2
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................................... 2
BAB II ISI
2.1 Pengertian Sediaan Pil ..................................................................................... 3
2.2 Tujuan sediaan pil ............................................................................................. 3
2.3 Bentuk Sediaan Pil ............................................................................................ 3
2.4 Persyaratan Sediaan Pil .................................................................................... 3
2.5 Keuntungan dan Kerugian Sediaan Pil ........................................................... 4
2.6 Komposisi Sediaan Pil .................................................................................... 5
2.7 Tahapan Peracikan Sediaan Pil ........................................................................ 7
2.8 Prinsip Pembuatan Berdasarkan Bahan Obat .................................................. 9
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 14
Daftar Pustaka ..................................................................................................... 16
LAMPIRAN ......................................................................................................... 17

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Obat didefinisikan sebagai suatu zat yang dimaksudkan untuk dipakai


dalam diagnosis, mengurangi rasa sakit, mengobati atau mencegah penyakit
pada manusia atau hewan. Salah satu kualitas obat yang mengherankan ialah
mempunyai beraneka ragam kerja dan efek pada tubuh.

Setiap produk farmasi merupakan formulasi yang unik tersendiri.


Disamping ramuan teraupetik yang aktif, formulasi ini pun masih mengandung
sejumlah unsur-unsur non-teraupetik. Unsur unsur ini pada umumnya
dihubungkan sebagai bahan tambahan farmasetik, bahan pembantu atau bahan
yang dibutuhkan, dan melalui pemakaiannya, suatu formulasi akan
menimbulkan komposisi yang unik dan penampilan fisiknya yang khas,
termasuk kedalam bahan bahan tambahan ini pengisi, pengental, pembawa,
surfaktan, zat penstabil, pengikat pada pil, zat pengawet, zat pemberi rasa, zat
pewarna dan zat pemanis

Pil merupakan salah satu sediaan farmasi yang sudah lama digunakan.
Sedian pil sudah dikenal sebelum keluarnya produk obat modern, dahulu pil
dibuat dengan cara tradisional akan tetapi untuk saat ini pil lebih mudah dibuat
dengan cara yang lebih modern. Masyarakat lebih menggemari obat-obat
tradisional dalam bentuk sedian pil dari pada sedian yang lain seperti jamu cair
dan jamu serbuk, karena pil sangat efisien dikonsumsi tidak berasa pahit dan
cara minum yang sangat mudah dari pada sedian yang lain. Oleh sebab itu
sedian pil masih sangat diterima oleh masyarakat luas.

1
Tidak menutup kemungkinan sedian pil juga dikembangkan dalam
pembuatan obat-obat sintesis dan obat-obat modern, seperti halnya pil KB, pil
obat magh dan lain-lain. Sediaan pil bisa dibuat dengan cara tradisional dan cara
modern.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa Pengertian Sediaan Pil ?
2. Apa Tujuan Dari Sediaan Pil ?
3. Apa Saja Bentuk Sediaan Pil ?
4. Bagaimana Persyaratan Sediaan Pil ?
5. Apa Keuntungan Dan Kerugian Sediaan Pil ?
6. Apa Saja Komposisi Dari Sediaan Pil ?
7. Bagaimana Tahap Peracikan Sediaan Pil ?
8. Bagaimana Prinsip Pengerjaan Pada Bahan-Bahan Obat Tertentu ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui pengertian sedian pil itu
2. Mengetahui tujuan sediaan pil
3. Mengetahui macam-macam bentuk sediaan pil
4. Mengetahui persyaratan dari sediaan pil
5. Mengetahui keuntunga dan kerugian dari sediaan pil
6. Mengetahui komposisi dari sediaan pil
7. Mengetahui bagaimana tahapan peracikan sediaan pil
8. Mengetahui apa saja yang harus diperhatikan dalam pembuatan sediaan pil

2
BAB II
ISI

2.1 Pengertian Sediaan Pil


Pil adalah suatu sediaan berupa massa bulat, mengandung satu atau
lebih bahan obat ( Farmakope Indonesia edisi 3).
Pil adalah suatu sediaan yang berbentuk bulat seperti kelereng
memgandung satu atau lebih bahan obat (IMO Moh. Hanief)
Pil adalah sediaan kecil, berbentuk bulat atau bulat telur untuk
pemakaian dalam (Eric W. Martin)

2.2 Tujuan Sediaan Pil


1. Mudah digunakan/ditelan
2. Menutup rasa obat yang tidak enak
3. Relatif lebih stabil dibanding bentuk sediaan serbuk dan solutio
4. Sangat baik untuk sediaan yang penyerapannya dikehendaki lambat

2.3 Bentuk Sediaan Pil

1. Boli adalah pil yang lebih besar dengan berat lebih dari 500 mg, biasanya
digunakan untuk pengobatan hewan, seperti sapi, kuda dan lain-lain.
2. Granula adalah pil yang kecil dengan berat 30 mg
3. Pil adalah sediaan dengan berat 100 mg-500 mg
4. Parvul adalah sediaan pil dengan berat kecil dari 20 mg

2.4 Persyaratan Sediaan Pil


1. Homogen (ukuran, bentuk, warna, dosis)
2. Mempunyai kekenyalan, daya rekat dan kekerasan tertentu
3. Bobot pil ideal antara 100, 150 mg, rata-rata 120 mg.

3
4. Pada waktu penyimpanan bentuknya tidak boleh berubah, tidak begitu
keras sehingga dapat hancur dalam saluran pencernaan, dan pil salut enteric
tidak hancur dalam lambung tetapi hancur dalam usus halus.
5. Memenuhi keseragaman bobot. Timbang 20 pil satu -
persatu,hitung bobot rata -rata, penyimpangan terbesar terhadap
bobot rata-rata.

Untuk bobot rata-rata pil Penyimpangan rata-rata


18 pil 2 pil
100mg sampai 250 mg 10% 20%
250 mg sampai 500 mg 7,5% 15%

6. Memenuhi waktu hancur seperti tertera pada compresi yaitu dalam air 36
38 derajat pil selama 15 menit untuk pil tidak bersalut dan 60 menit untuk
pil yang bersalut.
7. Wadah dan penyimpanan. Dalam wadah tertutup baik; disimpan pada suhu
kamar, ditempat kering dan terlindung dari sinar matahari.

2.5 Keuntungan Dan Kerugian Sediaan Pil


A. Keuntungan Sediaan Pil
1) Menutupi rasa obat yang tidak enak.
2) Relatif lebih stabil dibanding sediaan lain yang mudah bereaksi
dengan udara dan cahaya.
3) Baik untuk obat yang dikehendaki memberikan aksi yang lambat.
4) Mudah digunakan atau ditelan.

4
B. Kerugian Sediaan Pil
1) Obat yang dikehendaki memberikan aksi yang cepat
2) Obat yang dalam keadaan larutan pekat dapat mengiritasi lambung
3) Bahan Obat padat/serbuk yang voluminous dan Bahan Obat cair dalam
jumlah besar
4) Penyimpanan lama sering menjadi keras dan tidak memenuhi waktu
hancur
5) Ada kemungkinan ditumbuhi jamur (dapat diatasi dengan bahan
pengawet)

2.6 Komposisi Sediaan Pil


1. Zat aktif ( zat utama )
Berupa bahan obat padat (luminal, reserpine), setengah padat (ekstak
belladonae, ekstrak hyoscyami), dan cairan ( tingtur opii).

2. Zat tambahan
a. Bahan Pengisi
Berfungsi untuk memperbesar volume dari pil (bila bahan obat
terlalu kecil untuk dibuat pil). Jenis : Radix liquiritiae, Saccharum
album, Bolus alba

Jumlah pemakaian :
Bahan obat jumlah Kecil digunakan Radix 2x bobot Succus
Bahan obat sangat besar digunakan pulvis pro pilulis (Radix
dan Succus sama banyak)
Bahan obat golongan oksidator (garam Pb) digunakan Bolus
alba 100 mg/pil

5
b. Bahan Pengikat
Berfungsi untuk melekatkan massa pil antara yang satu dengan
yang lain.
Jenis :

Succus liquiritiae
PGA (Pulvis Gom Arabici)
Succus dan saccharum album sama banyak
Gliserin cum tragacanth
Oleum cacao
Pulvis gummosus
Adeps lanae/vaselin album qs utk Bahan Obat yg bersifat :
Saling bereaksi dengan adanya air
Terurai dengan air
Oksidator
Garam-garam timbal

c. Bahan Pembasah
Berfungsi untuk membasahi massa agar mudah dibentuk. Jenis :
Air
Gliserol
Sirup
Madu
Campuran bahan tersebut atau bahan lain yang cocok

d. Bahan Penabur
Berfungsi untuk mencegah sediaan pil yang satu dengan lain tidak
melekat. Jenis :
Likopodium
Talk

6
Amylum Oryzae
MgCO3
Liquiritiae Radix

e. Bahan Penyalut
Fungsi : 1. Menjaga stabilitas bahan obat
2. Menutupi rasa dan bau bahan obat yang tidak enak
3. Memperbaiki penampilan pil
4. Mencegah pil pecah di lambung
Jenis :
Penyalut gula : Saccharum album
Penyalut selaput : - CMC-Na
- Balsamum tolatanum
- Carbowax 6000
- Perak
Penyalut enterik : - Salol
- Schellak
- C.A.P

f. Bahan Pemecah
Adanya bahan pengikat membuat pil sukar larut/pecah di lambung,
sehingga butuh bahan pemecah berupa Natrium bikarbonat sama
banyak dengan bahan obat.

2.7 Tahapan Peracikan Sediaan Pil


I. Pembuatan Massa Pil
a. Hitung bobot bahan obat per pil
b. Tentukan macam-macam dan jumlah bahan tambahan
c. Lakukan pencampuran bahan obat dengan bahan pengisi, pengikat, dan
pemecah.

7
d. Tambahkan bahan pembasah sedikit demi sedikit sambil digilas kuat
sampai terbentuk massa pil yang baik (elastis, tidak lengket di lumpang
dan tidak pecah digulung)
Cara mengetahui massa pil yang baik :
Massa pil dipindahkan ke kertas perkamen
Digulung dengan tangan membentuk silinder
Bila silinder masih pecah/retak, ditambah pembasah
Bila silinder terlalu lembek/lengket, ditambah bahan pengisi lagi

II. Pemotongan Pil


a. Massa pil yang sudah jadi dipindahkan ke kertas perkamen, kemudian
dibentuk silinder dengan tangan (ujung silinder harus pipih).
b. Pindahkan ke papan pemotong pil yang sudah diberi penabur, lalu buat
silinder panjang (sesuai jumlah pil yang diminta).
c. Dipotong dengan pemotong pil.

III. Pembulatan Pil


a. Potongan massa pil pindahkan ke alat pembulat pil yang sudah diberi
penabur.
b. Pil dibulatkan dengan gerakan memutar ditambah sedikit penekanan.
c. Setelah bulat, masukkan wadah sambil dihitung.

IV. Penyalutan Pil


Bila pil perlu disalut, lakukan penyalutan sesuai jenis bahan penyalut
yang dipakai. Tujuan :
Melindungi Bahan Obat dari pengaruh lingkungan (salut selaput)
contoh : garam-garam ferro disalut tolubalsem.
Menutupi rasa bahan yg tak enak (salut gula), contoh : kloramfenikol,
strychnine
Memperbaiki penampilan pil (salut selaput)

8
2.8 Prinsip Pembuatan Berdasarkan Macam-Macam Bahan Obat
1. Pil yang mengandung obat berupa zat padat ( serbuk )
a. Bahan obat dalam jumlah kecil : menggunakan zat pengisi 2 gram
succus liquiritiae dan zat pengikat 1 gram succus liquiritiae dengan aqua
glycerinate.
b. Bahan obat dalam jumlah banyak : menggunakan gram pulvis
gummosus dngan aqua glycerinate
c. Pil mengandung bahan berkhasiat yang bersifat oksidator digunakan
addeps lanae atau vaselinum 1/6 berat zat berkhasiatnya sebagai zat
pengikat, dan bolus alba 100 mg/pil sebagai zat pengisi.

2. Pil yang mengandung obat berupa ekstrak kental


a. Ekstrak kental direndam dengan spiritus dilutes atau cairan lain yang
digunakan untuk mengstrum ekstrak dan dicampur dengan liquiritae
radix.
b. Dalam jumlah kecil (< 0,5 g / 30 pil) : dengan succus liquiritae sebagai
zat pengikat sebanyak 1 g untuk 30 pil.
c. Dalam jumlah banyak ( > 1 g/ 30 pil ) : succus liquiritae di kurangi,
tetapi dibuat dengan radix liquiritae saja, missal : valerianae exctractum
dan secalis cornuti extractum spissum.

3. Pil yang menggandung bahan obat cairan, bukan sebagai pengikat.


a. Cairan ditambah radix liquiritae biar diserap, kira-kira 2 g/ 30 pil, dan 1
gram succus liquiritae sebagai zat pengikat. Digerus dan dibuat pil, jika
perlu penambahan aqua glycerinate
b. Dalam jumlah banyak : di uapka di atas penangas air, bila obatnya tahan
pemanasan.
c. Pil yang mengandung minyak menguap, balsam, ekstrak eteris ( seperti :
balsam peruvianum, kreosotum, ol.eucalypti) dibuat dengan cara
mengemulsikan terlebih dahulu baru dibuat menjadi pil.

9
4. Pembuatan pil dengan bahan-bahan khusus.
a. Pil yang mengandung senyawa Hydrargyrum,
Dibuat dengan menggerus hydrargyrum, dengan sama berat
Liquiritiae Radix dan air, setelah tidak terlihat butir hydrargyum maka
masa ditambah Liquiritiae Radix dan Succus Liquiritiae secukupnya
sampai mendapat masa pil yang cocok. Bila jumlah Hydrargyrum kecil
maka dapat ditambahkan Succus dan Liquiritiae Radix dalam
perbandingan 1 : 2

b. Pil yang mengandung Ferrosi Carbonas dan Ferrosi Iodium,


Dibuat dengan mereaksikan Ferrosis Sulfas dengan Natrii
Bicarbonas di atas tangas air. Sebagai pereduksi adalah Mel dan sebagai
zat pembasah gliserin dan air sampai berat tertentu. Hal ini dimaksudkan
agar reaksi pembentukan Ferrosis Carbonas berjalan sempurna yaitu gas
CO2 yang terjadi hilang.

c. Pil-pil yang mengandung garam-garam yang dapat menyerap air,


Seperti Natrii Iodium dan natrii bromidum sering terjadi
penggumpalan hingga sulit dibuat masa pil yang baik. Untuk
mencegahnya maka perlu diberi air secukupnya biar larutan setelah itu
baru dibuat masa pil.

d. Pil-pil dengan zat-zat higroskopik,


Seperti Kalii Bromidum, Kalii Iodidum dan Natrii Salicylas supaya
digerus halus dan didalam mortar yang panas . Untuk pil yang
mengandung zat yang higroskopis sebagai zat pembasah jangan
menggunakan Aqua Glycerinata. Penambahan succus liquiritae dan
pulvis liquiritae radices diperlukan 1,5 gram masing-masing untuk 7
gram bahan obat.

10
e. Pil-pil yang mengandung senyawa yang sangat Higroskopis,
Digunakan sebagai larutan seperti Calcii Bromidum, Calcii
Chloridum, Kalii Acetas. Jika didalam resep tertulis garamnya maka yang
diambil sebagai larutannya yang sebanding :
- Solutio Kalii Acetatis mengandung 331 / 3% Kalii Acetas
- Solutio Calcii Bromidi mengandung 25% Calcii Bromidum
- Solutio Calcii Chloridi mengandung 25% Calcii Chloridum
- Solutio Ferri Chloridi mengandung 75% Ferri Chloridum
Larutan tersebut setelah ditimbang diuapkan sampai sisa airnya kira-
kira tinggal kurang dari 1 g untuk 30 pil. Harus diingat jangan
menguapkan Larutan Ferri Chloridum karena garam Ferrinya akan
terurai.

f. Pil-pil yang mengandung senyawa Codeinum base dengan garam


Ammonium atau Ichtammolum,
Karena Codeinum base terhitung mudah larut dalam air dan
merupakan base lebih kuat dari garam Ammonium, maka akan bereaksi
dan timbul gas NH3 yang bebas serta membuat pil jadi pecah.

g. Pil-pil yang dapat pecah Karena zat-zat yang terkandung dapat bereaksi
hingga memimbulkan gas yang memecah pil,
Supaya tidak terjadi jangan menggunakan zat pembasah air yaitu
dengan menggunakan zat pengikat yang lain :
- Pil yang mengandung Ferrosi Carbonas dengan Acidum Citricum akan
menimbulkan gas CO2
- Pil yang mengandung Meditrenum akan timbul gas CO2 karena terjadi
reaksi antara Iodochloroxychinolin Sulfonas dengan Natrii Bicarbonas
- Pil yang mengandung Ferrum Reductum atau pulveratum dengan asam
seperti Acidum Cutricum akan bereaksi dan timbul gas H2 yang akan
memecah pil.

11
h. Pil-pil yang mengandung Hydrargyri Cloridum,
Akan menghilangkan selaput lendir dari lambung dan usus maka
perlu Hydrargyri Chloridum dalam keadaan yang halus. Untuk itu perlu
penambahan Natrii Chloridum untuk memudahkan Hydrargryi
Chloridum larut dalam air. Penambahan Natrii Chloridum adalah
setengah berat Sublimat dan dilarutkan dulu dengan air sama berat

i. Pil-pil yang mengandung Diphantoinum Natrium,


Jangan menggunakan Liquiritiae Radix tetapi menggunakan Succus
Liquiritiae 1 bagian dan Amyilum 3 bagian dan sebagai zat pembasah
digunakan Sirupus Simplex. Hal ini untuk menjaga agar pil lekas hancur
dalam lambung.

j. Pil-pil yang mengandung Quinini Sulfas,


Ada dua macam yaitu yang berwarna coklat dan berwarna putih.
k. Pil-pil yang mengandung zat pengikat yang bereaksi dengan asam,
Seperti Gentianae Extractum, Succus Liquiritiae dan Liquiritiae
Extractum. Bahan tersebut akan bereaksi dengan Ferrum reductum,
Ferrum pulveratum yang menimbulkan gas H2 serta menyebabkan pil
menjadi menggelembung dan pecah. Bahan tersebut akan bereaksi pula
dengan Natrii Bicarbonas, Ferrosi Carbonas yang menimbulkan gas CO2
serta menyebabkan pil menjadi menggelembung dan pecah. Maka itu
Succus Liquiritiae, Liquiritiae Extractum dan Gentianae Extractum harus
dinetralkan dulu dengan MgO 50 mg tiap gram Ekstrak dan Succus.

l. Pil-pil yang mengandung Ekstrak kering,


a. Aloe Extractum Aquosum siccum, Rhamni Frangulae Extractum
Aquosum siccum, Rhamni Phursianae Extractum siccum, Rhei
Extractum dapat dibuat pil cukup dangan Liquiritiae Radix dan zat
pembasah Aqua Glyserinata.

12
b. Chinchonae Extractum siccum dan Colae Extractum siccum
memerlukan Succus Liquiritiae sebagai zat pengikat untuk dapat
dibuat masa pil.
c. Pil dengan ekstrak kering supaya dibuat keras jangan lembek agar
tidak berubah bentuk.

13
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Pil adalah suatu sediaan berupa massa bulat, mengandung satu atau lebih
bahan obat
2. Tujuan sediaan pil :
- Mudah digunakan/ditelan
- Menutup rasa obat yang tidak enak
- Relatif lebih stabil dibanding bentuk sediaan serbuk dan solutio
- Sangat baik untuk sediaan yang penyerapannya dikehendaki lambat
3. Macam-macam bentuk pil : boli, granula, parvul
4. Syarat sediaan pil :
a. Homogen
b. Mempunyai kekenyalan, daya rekat dan kekerasan tertentu
c. Memiliki waktu hancur selama 15 menit untuk pil tidak bersalut dan 60
menit untuk pil yang bersalut.
d. Pada waktu penyimpanan bentuknya tidak boleh berubah
e. Dalam wadah tertutup baik; disimpan pada suhu kamar, ditempat kering
dan terlindung dari sinar matahari
5. Komposisi pil terdiri atas 2, yaitu :
a. Zat aktif, berupa zat paddat, setengah padat dan cairan.
b. Zat tambahan, terbagi atas :
- Bahan pengisi
- Bahan pengikat
- Bahan pembasah
- Bahan penabur
- Bahan pemecah
- Bahan penyalut

14
6. Tahapan pembuatan sediaan pil
a. Pembuatan massa pil
b. Pemotongan pil
c. Pembulatan pil
d. Penyalutan pil
7. bahan-bahan obat yang menghendaki pengerjaan yang khusus.
a. Pil yang mengandung senyawa hydrargyrum
b. Pil yang mengandung Ferrosi Carbonas dan Ferrosi Iodium
c. Pil-pil yang mengandung garam-garam yang dapat menyerap air
d. Pil-pil dengan zat-zat higroskopik
e. Pil-pil yang mengandung senyawa yang sangat Higroskopis
f. Pil-pil yang mengandung senyawa Codeinum base dengan garam
Ammonium atau Ichtammolum
g. Pil-pil yang dapat pecah Karena zat-zat yang terkandung dapat bereaksi
hingga memimbulkan gas yang memecah pil
h. Pil-pil yang mengandung Hydrargyri Cloridum
i. Pil-pil yang mengandung Diphantoinum Natrium,
j. Pil-pil yang mengandung Quinini Sulfas
k. Pil-pil yang mengandung zat pengikat yang bereaksi dengan asam,
l. Pil-pil yang mengandung Ekstrak kering

15
DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. 2010. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : Gajah Madda University
Press

Awwaludin,Fikry. 2011. Sediaan Pil. From


http://rickyrichmoslem.blogspot.co.id/2011/07/sediaan-pil.html. 29 April 2017

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia edisi 3.


Jakarta : Direktorat Jenderal Pengawasan Obat Dan Makanan Departemen
Kesehatan RI

Ginting,Delvina. 2011. Pil (Pilulae). From http://delvina-


vina.blogspot.co.id/2011/11/pil-pilulae.html . 29 April 2017

Nurinda, Anggi. 2011. Sediaan Pil. From


http://angginurindahanum.blogspot.co.id/2011/04/sediaan-pil.html. 29 April 2017

16
LAMPIRAN

Gambar 1 : Alat Pencetak Pil

17