Anda di halaman 1dari 18

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Instalasi Listrik Dari Pusat Listrik

5

Generator atau altenator merupakan komponen utama dari suatu pembangkit

listrik,

baik

pembangkit

tersebut

berasal dari

energi

air,

uap,

gas,

angin

dan

sebagainya yang mana generator tersebut berfungsi untuk merubah energi mekanik

menjadi energi listrik. Kapasitas generator dari waktu ke waktu berkembang semakin

besar dengan teknologi konstruksi dan rancang bangun yang semakin maju. Kapasitas

generator dari pembangkit-pembangkit yang ada di Indonesia sangat bervariasi,

karena pembangunannya disesuaikan dengan kebutuhan energi yang harus dilayani

pada saat ini.

Komponen utama generator

1. Casing (frame atau rangka)

2. Stator (inti dan kumparan)

3. Rotor

4. Eksiter

5
5

6

6 Gambar 2.1 Generator Sinkron 2 Kutub 2.2. Rel / Busbar Semua generator dalam pusat listrik

Gambar 2.1 Generator Sinkron 2 Kutub

2.2. Rel / Busbar

Semua generator dalam pusat listrik menyalurkan energinya ke rel pusat

listrik. Demikian pula semua saluran yang mengambil maupun yang mengirim

energy dihubungkan ke rel ini. Berbagai susunan rel yaitu :

2.2.1 Rel Tunggal

Ini adalah susunan rel yang paling sederhana dan paling murah. Keandalan

keandalan serta fleksibilitasn operasinya sangat terbatas. Apabila ada kerusakan dir

el, maka seluruh pusat listrik harus dipadamkan untuk dapat melakukan perbaikan.

Oleh sebab itu, rel tunggal sebaliknya hanya digunakan pada pusat listrik yang tidak

begitu penting perananya dalam sistem.

7

7 Gambar 2.2. Rel Tunggal 2.2.2 Rel Ganda Dengan Satu PMT Rel ganda diperlihatkan pada gambar

Gambar 2.2. Rel Tunggal

2.2.2 Rel Ganda Dengan Satu PMT

Rel

ganda

diperlihatkan

pada

gambar

adalah

rel

dengan

satu

PMT,

selanjutnya hubungan ke rel 1 atau 2 dilakukan melalui PMS. Rel ganda pada

umumnya

dilengkapi

dengan

PMT

beserta

PMS-nya

yang

berfungsi

untuk

menghubungkan rel 1 dan rel 2 seperti ditunjukkan oleh gambar. PMT ini disebut

PMT kopel. Dengan rel ganda, sebagian instalsi dapat dihubungkan ke rel 1 dan

sebagain ke rel 2. Kedua rel 1 dan 2 dapat dihubungkan parallel atau terpisah dengan

dengan cara menutup atau membukan PMT kopel. Dengan cara ini fleksibilitas

operasi akan bertambah terutama sewaktu menghadapi gangguan yang terjadi dalam

sistem.

8

8 Gambar 2.3. Rel Ganda PMT tunggal 2.2.3 Rel Ganda Dengan Dua PMT Rel ganda dengan

Gambar 2.3. Rel Ganda PMT tunggal

2.2.3 Rel Ganda Dengan Dua PMT

Rel ganda dengan 2 PMT ini sama seperti rel ganda dengan satu PMT hanya

saja di sisni semua unsure dapat dihubungkan ke rel 1 atau rel 2 atau dua-duanya

melalui PMT sehingga flaksibilitas manuver menjadi lebih baik. Pemindahan beban

dari rel 1 ke rel 2 dapat dilakukan tanpa pemadaman, tidak seperti pada rel ganda

dengan satu PMT. Hal ini dapat terjadi karena dengan adanya 2 buah PMT (masing-

masing satu PMT untuk setiap rel) pemindahan beban dilakukan dengan menutup

terlebih

dahulu

PMT

rel

yang

dituju,

kemudian

membuka

PMT

rel

yang

ditinggalkan. Sebelum melakukan maneuver ini , harus diyakini terlabih dahulu

bahwa rel 1 dan rel 2 teganganya sama, baik besarnya maupun fasanya. Oelh Karena

itu PMT harus masuk.

9

9 Gambar 2.4. Rel Ganda Dengan 2 PMT 2.2.4 Rel Dengan PMT 1 Pada dasarnya rel

Gambar 2.4. Rel Ganda Dengan 2 PMT

2.2.4

Rel Dengan PMT 1

2.2.4 Rel Dengan PMT 1
2.2.4 Rel Dengan PMT 1

Pada dasarnya rel dengan PMT 1

adalah rel ganda dengan 3 buah PMT di PMT 2.2.4 Rel Dengan PMT 1 Pada dasarnya rel dengan PMT 1 antara dua rel tersebut.
adalah rel ganda dengan 3 buah PMT di

antara dua rel tersebut. Jika rel-rel ini diberi identifikasi sebagai rel A dan rel B,

maka PMT yang dekat dengan rel A diberi identifikasi sebagai PMT 1A, PMT 2A

dan sterusnya. Sedangkan yang dekat dengan rel B deberi identifikasi sebagai PMT

B1, PMT B2, dan seterusnya. PMT yang di tengah disebut PMT diameter dan diberi

identifikasi sebagai PMT AB1, PMT AB2, dan seterusnya.

disebut PMT diameter dan diberi identifikasi sebagai PMT AB1, PMT AB2, dan seterusnya. Gambar 2.5 Rel

Gambar 2.5 Rel Ganda Dengan PMT 1

Gambar 2.5 Rel Ganda Dengan PMT 1
Gambar 2.5 Rel Ganda Dengan PMT 1
Gambar 2.5 Rel Ganda Dengan PMT 1

10

Bagian-bagian dari instalasi dihubungkan pada titik-titik yang letaknya antara PMT

A dengan PMT AB dan pada titik-titik yang letaknya antara PMT B dengan PMT

AB seperti terlihat pada gambar.

Rel dengan PMT 1

mempunyai keandalan paling tinggi. Hal ini dapat dengan PMT AB seperti terlihat pada gambar. Rel dengan PMT 1 dilihat sebagai berikut : -
mempunyai keandalan paling tinggi. Hal ini dapat

dilihat sebagai berikut :

- Apabila rel A mengalami gangguan

Dengan membuka semua PMT bernomor A berserta PMS-nya, daya tetap bisa

disalurkan secara penuh.

- Apabila rel b mengalami gangguan

Dengan membuka semua PMT bernomor B beserta PMS-nya, daya tetap bisa

disalurkan secara penuh.

- Apabila Rel A dan rel B mengalami gangguan

Dengan membuka semua PMT bernomor A dan PMT bernomor B beserta PMS-nya,

daya

tetap

berkurang.

bisa

disalurkan

walaupun

dengan

fleksibilitas

pembebanan

yang

Pembebasan tegangan sebuah bagian instalasi yang terhubung ke rel dengan

PMT 1

mengharuskan pembukaan dua buah PMT beserta PMS-nya, yaitu PMT rel sebuah bagian instalasi yang terhubung ke rel dengan PMT 1 dan PMT diameternya. Apabila pusat listrik
mengharuskan pembukaan dua buah PMT beserta PMS-nya, yaitu PMT rel

dan PMT diameternya. Apabila pusat listrik supaya menghemat pemakaian tanah,

dapat digunakan rel dalam tabung gas SF6 sehingga jarak konduktor-konduktor rel

dapat diperkecil untuk menghemat pemakaian tanah.

2.3. Pemutus Tenaga (PMT)

Konstruksi saklar khusunya pemutus tenaga tegangan tinggi mengandung

teknik pemutusan busur listrik dan teknik pembersihan kontak-kontaknya sendiri.

Berikut jenis-jenis PMT :

11

2.3.1. Pemutus Tenaga Udara

Bentuknya runcing, busur listrik akan timbul (meloncat) pada bagian yang

runcing terlabih dahulu pada saat kontak-kontak saklar terpisah. Karena berat jenis

busur listrik lebih kecil dari pada berat jenis udara, maka busur listrik ini akan

mengapung ke atas sehingga busur listrik tersebut memanjang dan akhirnya putus.

Ini adalah salah satu teknik memutus busur listrik dengan memanjangkannya terlebih

dahulu.

busur listrik dengan memanjangkannya terlebih dahulu. Gambar 2.6. PMT Dengan Pemadam Minyak 2.3.2 Pemutus Tenaga

Gambar 2.6. PMT Dengan Pemadam Minyak

2.3.2 Pemutus Tenaga Minyak

PMT minyak atau disebut bulk oil cicuit breaker. Kontak kontak direndam

dalam

minyak

yang

berfungsi

sebagai

media

pemutus

busur

listrik.

Minyak

diletakkan dalam tanki sehingga dimensi pemutus tenaga minyak banyak besar.

12

PMT

yang

12 PMT yang Gambar 2.7 PMT 150 kV Minyak menggunakan minyak sedikit ada bagian PMT yang

Gambar 2.7 PMT 150 kV Minyak

menggunakan

minyak

sedikit

ada

bagian

PMT

yang

menghasilkan minyak bertekanan untuk disemprotkan pada busur listrik yang

terjadi, baik pada waktu PMT terbuka maupun pada waktu PMT tertutup. Dengan

menggunakan minyak bertekanan, maka dimensi PMT minyak sedikit menjadi

lebih kecil.

2.3.3 Pemutus Tenaga Gas SF6

Pemutus tenaga gas SF 6 prinsip kerjanya sama dengan prinsip kerja

PMT minyak sedikit, bedanya terletak pada media pemutus busur yang digunakan

yaitu gas SF6. Gas SF 6 mempunyai sifat isolasi yang baik selain sifatnya sebagai

pendingin yang baik. Pada PMT gas SF 6 timbul masalah perapat (sealing) antara

bagian PMT yang bergerak dengan yang diam karena gas dapat menyelinap

(bocor) di antara 2 bagian yang bergeseran ini. Untuk itu diperlukan sealing yang

baik agar dapat meminimalkan kebocoran gas SF6. Pada PMT gas SF 6 tedapat

pengukur tekanan gas sehingga apabila tekanan gas Sf 6 sudah berkurang, maka

dapat dilakukan pengisian gas SF6 kembali. Dibandingkan dengan PMT minyak,

PMT dengan SF6 pemeliharaanya lebih mudah.

13

13 Gambar 2.8 PMT Dengan Pemadam SF6 2.3.4 Pemutus Tenaga Vakuum Pemutus Tenaga vakum merupakan PMT

Gambar 2.8 PMT Dengan Pemadam SF6

2.3.4 Pemutus Tenaga Vakuum

Pemutus Tenaga vakum merupakan PMT yang menggunakan teknologi

mutakhir. Dalam PMT vakum tidak ada media pemutus busur listrik. Oleh sebab

itu, teknik memutus busurlistrik dalam PMT vakum semata-mata tergantung

kepda teknik memperpanjang busur listrik. Pelaksanaan memperpanjang busur

listrik ini dilakukan dengan cara membuat berbagai bentuk kontak di mana setiap

pabrik mempunyai bentuk kontaknya masing-masing. Berbeda dengan PMT gas

SF6, apabila terjadi kebocoran pada PMT vakum, maka tidak dapat dilakukan

pengisian kembali karena prose mebuat vakum tidak dapat dilakukan di lapangan.

Oleh

karena

itu,

sangat

tidak

dikehendaki

terjadinyakebocoran

yang

dapat

mengurangi nilai kevakuman. Konstruksi PMT vakum menghindari adanya celah

udara sehingga pergeseran bagian yang bergerak dengan bagian yang tidak

bergerak (statis) yang dapat menimbulkan celah udara dapat dihindari dan sebagai

penggantinya

digunakan

logam

fleksible

diperpanjang dan diperpendek.

berbentuk

gelombangyang

dapat

14

14 2.4. Pemisah (PMS) Gambar 2.9. PMT Vakum Pemisah adalah suatu alat untuk memisahkan tegangan pada

2.4. Pemisah (PMS)

Gambar 2.9. PMT Vakum

Pemisah adalah suatu alat untuk memisahkan tegangan pada peralatan instalasi

tegangan tinggi. Ada dua macam fungsi PMS, yaitu:

- Pemisah Peralatan ; Berfungsi untuk memisahkan peralatan listrik dari peralatan

lain atau instalasi lain yang bertegangan.

hanya pada rangkaian yang tidak berbeban.

Pms ini

boleh dibuka atau ditutup

- Pemisah Tanah (Pisau Pentanahan/Pembumian) ; Berfungsi untuk mengamankan

dari arus tegangan yang timbul sesudah saluran tegangan tinggi diputuskan atau

induksi

tegangan

dari

penghantar

atau

kabel

lainnya.Hal

ini

perlu

untuk

keamanan bagi orang-orang yang bekerja pada peralatan instalasi.

kabel lainnya.Hal ini perlu untuk keamanan bagi orang-orang yang bekerja pada peralatan instalasi. Gambar 2.10. Pemisah

Gambar 2.10. Pemisah

15

2.4.1 Penempatan Posisi Pemisah

Sesuai dengan penempatannya di daerah mana Pemisah tersebut dipasang, Pms

dapat dibagi menjadi :

1. Pemisah Penghantar/Line

Pemisah yang terpasang di sisi penghantar

2. Pemisah Rel/Bus

Pemisah yang terpasang di sisi rel

3. Pemisah Kabel

Pemisah yang terpasang di sisi kabel

4. Pemisah Seksi

Pemisah yang terpasang pada suatu rel sehingga rel tersebut dapat terpisah

menjadi dua seksi

5. Pemisah Tanah

Pemisah yang terpasang pada penghantar/line/kabel untuk menghubungkan ke

tanah.

2.5. Gas Insulated Substation (GIS)

Gas Insulated Substation (GIS) didefinisikan sebagai rangkaian beberapa

peralatan yang terpasang di dalam sebuah metal enclosure dan diisolasi oleh gas

bertekanan. Gas Insulated Line (GIL) didefinisikan sebagai konduktor penghantar

yang menghubungkan suatu substation dengan trafo atau substation lainnya dalam

sebuah metal enclosure dan diisolasi oleh gas bertekanan. Pada umumnya gas

bertekanan yang digunakan adalah Sulfur Hexafluoride (SF 6 ). Enclosure adalah

selubung pelindung yang berfungsi untuk menjaga bagian bertegangan terhadap

lingkungan luar.

16

Sifat-sifat gas SF 6 sebagai berikut :

Penghantar panas (thermal conductivity ) yang bersifat dapat mendisipasikan thermal conductivity) yang bersifat dapat mendisipasikan

panas yang timbul pada peralatan.

Isolasi yang sangat baik (excellent insulating ). excellent insulating).

Mampu memadamkan busur api (arc).Isolasi yang sangat baik ( excellent insulating ). Viskositas rendah. Stabil, tidak mudah bereaksi. 2.6.

Viskositas rendah.( excellent insulating ). Mampu memadamkan busur api (arc). Stabil, tidak mudah bereaksi. 2.6. Instalasi Pemakaian

Stabil, tidak mudah bereaksi.). Mampu memadamkan busur api (arc). Viskositas rendah. 2.6. Instalasi Pemakaian Sendiri Setiap pusat listrik

2.6. Instalasi Pemakaian Sendiri

Setiap pusat listrik memerlukan energy listrik untuk pemakaian sendiri, yaitu untuk :

a.

Lampu Penerangan

b.

Penyejuk Udara/AC.

c.

Menjalankan alat-alat bantu unit pembangkit seperti : pompa minyak pelumas,

pompa transfer bahan bakar minyak, mesin pengangkat , dan lai- lain

d.

Alat- alat mesin perbengkelan yang merupakan unsur pendukung pemeliharaan

dan perbaikan pusat listrik.

e.

Pengisian baterai aki yang merupakan sumber arus searah.

17

17 Gambar 2.11. Gambar Instalasi Pemakaian Sendiri Pembangkit Gambar di atas berikut menampilkan instalsi pemakaian

Gambar 2.11. Gambar Instalasi Pemakaian Sendiri Pembangkit

Gambar di atas berikut menampilkan instalsi pemakaian sendiri dari pusat

listrik baik pembangkit dengan kapasitas kecil misal di bawah 5 MW maupun

pembangkit dengan kapasitas sedang antara 5 MW sampai 15 MW. Pada setiap unit

pembangkit

yang

memilki kapasitas besar, setiap unit pembangkit

mempunyai

transformator pemakaian sendiri (PS) yang dipasok langsung oleh generator (G).

tetapi pada saat start generator belum berputar dan belum menghasilkan tegangan.

Sedangkan pada saat itu sudah diperlukan daya untuk menjalankan alat-alat bantu,

maka daya terlebih dahulu diambil dari transformator pemakaian sendiri bersama.

Setelah generator menghasilkan daya listrik, maka pasokan daya akan dipindah/

transfer dari keluaran generator.

Besarnya energy yang diperlukan untuk pemakaian sendiri berkisar antara

1-10%

dari produksi energy listrik yang dihasilkan. Hal ini tergangtung dari pusat

listriknya, dimana yang paling kecil umumnya PLTA dan yang besar umumnya

PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara.

18

2.7. Tranformator

Dalam pusat listrik yang besar (di atas 100 MW) biasanya terdapat banyak

transformator daya yang digunakan yaitu :

2.7.1 Transformator Utama (Generator Transformer)

Karena teknologi membuat kumparan generator sinkron 3 fasa sampai

saat ini paling tinggi baru 23 kV, apabila rel dalam pusat listrik menggunakan

tegangan

dinaikkan

di

atas

terlebih

tegangan

dahulu

dihubungkan ke rel tersebut.

generator,

maka

tegangan

dari

generator

perlu

melaui

transformator

penaik

tegangan

sebelum

2.7.2 Unit Auxiliary Transformer (UAT)

Setiap unit pembangkit yang besar umumnya mempunyai transformator

unit

pembangkit,

yaitu

tranfsormator

yang

mengambil

daya

langsung

dari

generator untuk memasok alat-alat bantu unit pembangkit yang bersangkutan

seperti : Motor pompa pendingin, motor poma pengisi ketel, dam lain-lain.

2.7.3 Station Service Transformer (SST)

Transformator ini mendapat pasokan daya dari rel pusat listrik kemudian

memasok daya ke rel pemakaian sendiri. Rel pemakaian sendiri digunakan untuk

memasok

intalasi

penerangan,

baterai

aki,

mesin-mesin

bengkel,

mesin

pengangkat dan alat pembangkit selama periode start unit atau selama pembangkit

sedang perbaikan.

2.8. Sistem Proteksi

19

Jaringan tenaga listrik secara garis besar terdiri dari pusat pembangkit,

jaringan transmisi (gardu induk dan saluran transmisi) dan jaringan distribusi. Dalam

usaha untuk meningkatkan keandalan penyediaan energi listrik, kebutuhan sistem

proteksi yang memadai tidak dapat dihindarkan.

sistem proteksi yang memadai tidak dapat dihindarkan. Gambar 2.12. Sitem Proteksi Sistem proteksi terdiri dari

Gambar 2.12. Sitem Proteksi

Sistem proteksi terdiri dari peralatan CT, PT, PMT, Catu daya DC / AC,

relai proteksi, tele proteksi yang diintegerasikan dalam suatu rangkaian wiring.

Disamping itu, diperlukan juga peralatan pendukung untuk kemudahan operasi dan

evaluasi seperti sistem recorder, sistem scada dan indikasi relai (annunciator).

Secara sederhana salah satu Relay proteksi adalah suatu perangkat kerja proteksi

yang mempunyai fungsi dan peranann :

a.

Memberikan sinyal alarm atau melepas pemutus tenaga (circuit breaker)

dengan tujuan mengisolir gangguan atau kondisi yang tidak normal seperti

adanya : beban lebih, tegangan lebih, kenaukan suhu, beban tidak seimbang,

 

20

daya

kembali,

frekwensi

rendah

,

hubung

singkat

dan

kondisi

tidak

normalm lainnya.

b. Melepas / mentrip peralatan yang berfungsi tidak normal untuk mencegah

timbulnya kerusakan.

c. Melepas / mentrip peralatan yang terganggu secara cepat dengan tujuan

mengurangi kerusakan yang lebih berat.

d. Melepas peralatan / bagian yang terganggu secara cepat dengan maksud

menjaga stabilitas sistem, kontinuitas pelayanan dan unjuk kerja sistem.

Sistem Proteksi harus memenuhi syarat sebagai berikut :

a. Peka (Sensitif)

yaitu Dapat merasakan sekecil apapun besaran-besaran

listrik yang dikenakan padanya.

b. Andal (Reliable) yaitu Pada keadaan normal, relay tidak bekerja walaupun

dalam waktu yang lama, tetapi bila terjadi gangguan, maka relay harus

bekerja dan tidak boleh salah atau gagal.

c. Selektif

yaitu

Mampu

mendeteksi

gangguan

yang

ada

pada

daerah

pengamanannya serta mampu memerintah PMT lepas dari bagian sistem

yang terganggu, sedangkan yang tidak terganggu dapat beroperasi normal.

d. Cepat

yaitu Cepat dalam menerima besaran-besaran listrik yang telah

ditentukan, akan tetapi dapat ditunda waktunya sesuai koordinasi yang

diperlukan.

21

21 Gambar 2.13. Jaringan Sistem Tenaga Listrik Jaringan tenaga listrik terdiri dari banyak peralatan yang berbeda

Gambar 2.13. Jaringan Sistem Tenaga Listrik

Jaringan tenaga listrik terdiri dari banyak peralatan yang berbeda jenis dan

karakteristik dan secara fisik dipisahkan oleh pemutus tenaga (PMT). PMT

berfungsi untuk memisahkan/menghubungkan satu bagian jaringan dengan bagian

lain, baik jaringan dalam keadaan normal maupun dalam keadaan terganggu.

Bagian-bagian jaringan tersebut dapat terdiri dari satu PMT atau lebih.

2.8.1. Gangguan Sistem dan Non Sistem

Jaringan tenaga listrik yang terganggu harus dapat segera diketahui dan

dipisahkan dari bagian jaringan lainnya secepat mungkin dengan maksud agar

kerugian yang lebih besar dapat dihindarkan. Gangguan pada jaringan tenaga

listrik dapat terjadi diantaranya pada pembangkit, jaringan transmisi atau di

jaringan distribusi.

2.8.1.1 Gangguan Sistem

Gangguan sistem adalah gangguan yang terjadi di sistem tenaga listrik

seperti pada generator, trafo, SUTT, SKTT dan lain sebagainya. Gangguan sistem

dapat dikelompokkan sebagai gangguan permanen dan gangguan temporer.

Gangguan temporer adalah gangguan yang hilang dengan sendirinya bila

PMT terbuka, misalnya sambaran petir yang menyebabkan flash over pada isolator

SUTT. Pada keadaan ini PMT dapat segera dimasukan kembali, secara manual

22

atau otomatis dengan AutoRecloser. Gangguan permanen adalah gangguan yang

tidak hilang dengan sendirinya, sedangkan untuk pemulihan diperlukan perbaikan,

misalnya kawat SUTT putus.

2.8.1.2. Gangguan Non Sistem

PMT terbuka tidak selalu disebabkan oleh terjadinya gangguan pada

sistem, dapat saja PMT terbuka oleh karena relai yang bekerja sendiri atau kabel

kontrol yang terluka atau oleh sebab interferensi dan lain sebagainya. Gangguan

seperti ini disebut gangguan bukan pada sistem, selanjutnya disebut gangguan

nonsistem.

Jenis gangguan non-sistem antara lain :

Kerusakan komponen relai.non – sistem . Jenis gangguan non-sistem antara lain : Kabel kontrol terhubung singkat. Interferensi /

Kabel kontrol terhubung singkat.– sistem . Jenis gangguan non-sistem antara lain : Kerusakan komponen relai. Interferensi / induksi pada

Interferensi / induksi pada kabel kontrol.non – sistem . Jenis gangguan non-sistem antara lain : Kerusakan komponen relai. Kabel kontrol terhubung