Anda di halaman 1dari 15

PEMILIHAN UMUM 1955

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Sejarah Ketatanegaraan Indonesia


Dosen Pengampu: Dr. Dyah Kumalasari, M.Pd

Disusun oleh:
Paulinus Yanto
17718251002

JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, sehingga
saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat dipergunakan
sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi pendidikan
dalam profesi keguruan.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, sehingga memotivasi saya untuk lebih mengembangkan tulisan ini. Makalah
ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki masih kurang. Oleh
kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat
membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

i
Daftar Isi

Kata Pengantar .............................................................................................................................i


Daftar Isi ......................................................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan .....................................................................................................................1
A. Latar Belakang .......................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................................................1
C. Tujuan ....................................................................................................................................2
BAB II Pembahasan .....................................................................................................................3
A. Landasarn Hukum Pemilu 1955.............................................................................................3
B. Pelaksanaan Pemilu 1955 ......................................................................................................4
C. Hasil Pemilu 1955 ..................................................................................................................7
BAB III Penutup ..........................................................................................................................10
Daftar Pustaka ..............................................................................................................................12

ii
BAB I
PEDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sarana dari demokrasi adalah pemilihan umum yang ditujukan untuk menampung
aspirasi rakyat dalam pemerintahan. Pemilihan Umum adalah mekanisme politik yang
berhubungan erat dalam sistem politik demokrasi dengan harapan aspirasi politik yang berbeda
akan menyalurkan aspirasi mereka lewat partai-partai politik atau calon-calon yang mereka
dukung.1
Pemilihan Umum 1955 merupakan tonggak demokrasi pertama di Indonesia.
Keberhasilan menyelenggarakan pemilu ini menandakan telah berjalannya demokrasi di
kalangan rakyat. Rakyat telah menggunakan hak pilihnya untuk memilih wakil-wakil mereka.
Banyak kalangan yang menilai bahwa pemilu 1955 merupakan pemilu yang paling demokratis
di Indonesia.
Pemilu 1955 merupakan pemilihan umum pertama dalam sejarah bagsa Indonesia.
Tujuan dari pelaksanaan pemilihan umum 1955 bertujuan untuk memilih wakil-wakil rakyat
yang akan duduk dalam parlemen dan dewan Konstituante yang akan menyusun konstitusi
yang tetap untuk menyempurnakan undang-undang yang masih bersifat sementara.2 Pemilihan
umum 1955 sudah dirancang sejak kabinet Ali Sastroamijoyo I (31 Juli 1953 12 Agustus
1955) dengan membentuk Panitia Pemilihan Umum Pusat dan Daerah pada 31 Mei 1954.
Namun pemilihan umum tidak dilaksanakan karena kabinet ini terlanjur jatuh. Kabinet
pengganti Ali I berhasil melaksanakan pemilihan umum yakni kabinet Burhanuddin Harahap.3

1
Ahmad Syafii Maarif, Islam dan Politik: Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965), Jakarta:
Gema Insani Press, 1996, hlm. 41.
2
Mohamad Roem, Tinjauan Pemilihan Umum I dan II dari Sudut Hukum, Bandung: Hudaya Dokumenta, 1971, hlm.
8
3
Imam Suhadi, Pemilihan Umum 1955, 1971, 1977; Cita-cita dan Kenyataan Demokrasi, Yogyakarta: Fakultas
Hukum Universitas Islam Indonesia, 1981, hlm. 6.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa landasan hukum pemilihan umum tahun 1955?
2. Bagaimana pelaksanaan pemilihan umum tahun 1955?
3. Bagaimana hasil pemilihan umum tahun 1955?
C. Tujuan
1. Mengetahui landasan hukum pemilihan umum tahun 1955.
2. Mengetahui sistem pemilu tahun 1955.
3. Mengetahui pelaksanaan pemilihan umum 1955.
4. Melihat hasil pemilihan umum 1955.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Landasan Hukum pemilu 1955


Pemilihan Umum yang pertama diselenggarakan dibawah berlakunya UUDS Negara
kesatuan 1950.4 Undang-undang Pemilihan Umum No.7 Tahun 1953 beserta peraturan
pelaksanaannya (PP No. 9/1954) merupakan pelaksanaan demokrasi menurut Undang-Undang
Dasar Sementara tahun 1950 pasal 35 yang berbunyi: Kemauan rakyat adalah dasar
kekuasaan penguasa; kemauan itu dinyatakan dalam pemilihan berkala dan jujur dan dilakukan
menurut hak pilih yang bersifat umum dan berkesamaan, serta dengan pemungutan suara yang
rahasia ataupun menurut cara yang juga menjamin kebebasan mengeluarkan suara. Pasal 135
ayat 2 menyebutkan: Anggota Konstituante dipilih oleh Warga Negara Indonesia dengan
dasar umum dan dengan cara bebas dan rahasia.5
Pasal 35 dan 135 Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950 tersebut merupakan
dasar hukum formil yang mendasari Undang-Undang Pemilihan Umum yang bersifat umum,
dan berkesamaan dalam arti universal dan equal surffrage, langsung dan untuk seluruh
Indonesia, sebab sejak negara kita memakai Undang-Undang 1945, sejak proklamasi
kemerdekaan, bahkan sejak perjuangan Kebangsaan, cita-cita mempunyai pemerintahan
sendiri yang bertanggungjawab kepada rakyat dengan pemilihan umum sudah ada. Negara
Indonesia memaknai kedaulatan rakyat berarti kerakyatan yang menjadi dasar kekuasaan
Negara, dihubungkan ketentuan persidangan Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk selama
lima tahun, sekaligus memilih presiden dan wakil presiden serta menentukan GBHN, demikian
juga konstitusional bahwa harus ada responsible government, ialah pertanggungjawaban
presiden kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat. Hal tersebut menjadi dasar hukum yang
kuat untuk mengadakan pemilihan umum dalam setiap lima tahun sekali.

4
Mohamad Roem, Tindjauan Pemilihan Umum I & II dari sudut hukum, Bandung: Hudaya Documenta, 1971, hlm.
8.
5
Imam Suhadi, Pemilihan Umum 1955, 1971, 1977: Cita-cita dan Kenyataan Demokrasi, Yogyakarta: Bagian
Penerbitan Fakultas Hukum UII, 1981, hlm. 1

3
1. Asas-asas pemilu
a. Umum
Setiap warga negara yang memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan berhak untuk
memilih dan dipilih.
b. Langsung
Untuk memberikan suaranya pemilih harus datang sendiri di tempat pemberian suara yang
sudah ditentukan. Dalam memberikan suaranya setiap orang tidak boleh dengan
perantaraan orang lain atau diwakilkan.
c. Rahasia
Pada waktu pemilih memberikan suaranya, tidak boleh diketahui atau disaksikan orang lain
karena sifatnya sangat rahasia. Para pemilih dijamin kerahasiannya sehingga tidak ada
orang lain yang akan mengetahui apa yang dipilihnya.
d. Bebas
Pemilih memberikan suaranya menurut kehendak atau hati nuraninya sendiri, tidak boleh
dipengaruhi orang lain, baik langsung atau tidak langsung, baik tekanan-tekanan, ancaman-
ancaman pisis maupun fisik.
e. Berkesamaan
Semua wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat harus dipilih melalui pemilihan umum.
Dengan sendirinya setiap warga Negara yang memenuhi syarat-syarat yang telah
ditentukan dan berhak ikut memilih. Jadi tidak ada wakil rakyat yang diangkat, dan tidak
ada sebagian rakyat yang tidak ikut dalam pemilihan umum.6

B. Pelaksanaan Pemilu 1955


Penyelenggaraan pemilihan umum 1955 dibagi menjadi dua tahap yaitu: tahap pertama
untuk memilih anggota DPR yang diselenggarakan pada tanggal 29 September 1955. Tahap
kedua untuk memilih anggota Konstituante yang diselenggarakan pada tanggal 15 Desember
1955. Dasar hukum yang digunakan dalam penyelenggaraan pemilihan umum 1955 adalah
sebagai berikut:

6
Arbi Sanit, Partai, Pemilu dan Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997. Hlm 80-81.

4
1. Undang-undang Dasar Sementara 1950 (UUDS1950).
2. Undang-undang No. 7 Tahun 1953.7
Undang-undang Dasar Sementara 1950 yang mulai berlaku pada tanggal 17 Agustus
1950, merupakan Undang-undang hasil perubahan dari konstitusi RIS. UUDS-1950 terdiri atas
6 bab dan 146 pasal. Tanggal 4 April 1953 ditetapkan Undang-undang pemilihan umum No. 7
tahun 1953.8 Undang-undang tersebut, mengatur tentang penyelenggaraan pemilihan anggota
DPR dan Konstituante yang seluruhnya terdiri dari 16 bab dan 139 pasal.
Asas Penyelenggaraan pemilihan umum 1955 diatur dalam pasal 35 UUDS 1950. Pasal
tersebut menjelaskan pemilihan umum dilakukan dengan cara yang jujur, pemilihan yang jujur
harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, penyelenggara
harus bersikap adil dan tidak memihak salah satu pihak serta berpegang teguh kepada peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Pemilihan harus bersifat umum dan bekesamaan, artinya
semua warganegara yang telah memenuhi persyaratan pemilihan umum boleh memberikan
suaranya, serta semua warganegara yang mempunyai hak pilih (laki-laki/perempuan,
tua/muda, kaya/miskin) mempunyai hak suara yang sama yaitu masing-masing satu suara.
Pemilihan juga harus dilakukan dengan rahasia, artinya bahwa para pemilih dalam
memberikan suara tidak akan diketahui oleh siapapun, dan dengan cara apapun mengenai siapa
yang dipilihnya.
Pemilihan juga dilakukan dengan bebas, artinya bahwa setiap pemilih bebas
menentukan pilihannya menurut hati nuraninya, tanpa ada pengaruh, tekanan atau paksaan dari
siapapun dan dengan cara apapun. Sistem pemilihan yang digunakan dalam penyelenggaraan
pemilihan umum 1955, adalah sistem proporsional.9 Sistem proporsional mempunyai ciriciri
sebagai berikut: jumlah anggota DPR dan Konstituante ditetapkan berdasarkan imbangan
penduduk, tiap daerah pemilihan memilih lebih dari seorang wakil, penetapan jumlah kursi
yang akan diperoleh tiap peserta pemilu, seimbang dengan besarnya dukungan pemilih yaitu
jumlah suara yang diperoleh.
Peserta pemilihan umum 1955 tidak hanya diikuti oleh partai politik, tetapi juga diikuti
oleh organisasi maupun perorangan. Pemilihan umum 1955 untuk memilih anggota Dewan

7
C.S.T. Kansil (a), Memahami Pemilihan Umum dan Referandum. Jakarta: IND-Hill-CO Jakarta, 1986, hlm. 3.
8
C.S.T. Kansil (b), Inti pengetahuan Pemilihan Umum. Pradnya Paramita, 1973, hlm. 58.
9
Sukana, Sistem Politik Indonesia, Bandung: Mandar maju, 1990, hlm. 32

5
Perwakilan Rakyat diikuti: 36 Partai politik, 34 organisasi, dan 48 perorangan, sedangkan
untuk memilih anggota Konstituante diikuti 39 partai politik, 23 organisasi, dan 29
perorangan.10 Berdasarkan Undang-undang Nomor 7 tahun 1953 sebagai dasar
penyelenggaraan pemilihan umum 1955, daerah pemilihan ditetapkan menjadi 16 daerah
pemilihan sebagai berikut: 1. Jawa Timur, 2. Jawa Tengah bersama dengan DI.Yogyakarta, 3.
Jawa Barat, 4. Jakarta raya, 5. Sumatra Selatan, 6. Sumatra Tengah, 7. Sumatra Utara, 8.
Maluku, 9. Kalimantan Barat, 10. Kalimantan selatan, 11. Kalimantan Timur, 12. Sulawesi
Utara/tengah, 13. Sulawesi Tenggara/ Selatan, 14. Sunda Kecil Timur, 15. Sunda kecil Barat,
dan 16. Irian Barat.11 Pendaftaran pemilih dalam pemilihan umum 1955 diseluruh Indonesia,
dilakukan oleh panitia pendaftaran pemilih. Jumlah pemilih diseluruh Indonesia berjumlah
43.104.464 dari 77.987.879 jumlah penduduk di seluruh Indonesia.12
Jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat, ditetapkan berdasarkan imbangan jumlah
penduduk, dengan perhitungan untuk setiap 300.000 penduduk memperoleh seorang wakil.
Berdasarkan ketentuan tersebut, maka jumlah anggota DPR dapat dihitung dengan cara:
Jumlah penduduk diseluruh Indonesia dibagi imbangan jumlah penduduk yaitu 300.000
penduduk. Jadi jumlah anggota DPR diseluruh Indonesia adalah: 77,987,879 : 300.000= 259
sisa=287.879 dibulatkan menjadi 260, sedangkan Jumlah anggota konstituante, ditetapkan
berdasarkan imbangan jumlah penduduk dengan perhitungan untuk setiap 150.000 penduduk,
memperoleh seorang wakil dan apabila ada sisa dibulatkan ketas. Anggota Konstitituante
dipilih oleh warga negara Indonesia, dengan dasar umum dan dengan cara bebas dan rahasia
menurut aturan yang ditetapkan oleh undang-undang.13
Berdasarkan ketentuan tersebut, maka jumlah anggota Konstituante dapat dihitung
dengan cara: Jumlah penduduk diseluruh Indonesia dibagi imbangan jumlah penduduk yaitu:
150.000 penduduk. Jadi jumlah anggota Konstituante di seluruh Indonesia adalah: 77,987,879
: 150.000= 519 sisa= 187,879 dibulatkan menjadi 520. Pemilihan umum 1955 menghasilkan

10
Pemilihan Umum 1955, Arsip Nasional Republik Indonesia Proyek Pemasyarakatan Dan Diseminasi Kearsipan
Nasional Jakarta 2004.
11
Lihat Undang-undang No. 7 Tahun 1953 pasal 15 tentang daerah pemilihan
12
Komisi pemilihan umum, Nuansa Pemilihan Umum, hlm. 31.
13
Lihat Undang-undang dasar sementara negara repubik indonesia 1950 pasal 135 ayat 1 dan 2 yang berbunyi: 1.
Konstituante terdiri dari sejumlah anggota yang besarnya ditetapkan berdasar atas perhitungan setiap 150.000 jiwa
penduduk warga negara Indonesia mempunyai seorang wakil. 2. Anggota-anggota konstituante dipilih oleh warga
negara Indonesia dengan dasar umum dan dengan cara bebas dan rahasia menurut aturan-aturan yang ditetapkan
dengan undangundang

6
anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante baru hasil pilihan rakyat Inonesia.
Pelantikan untuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat 20 Maret 1956.14 dan pada tanggal 10
November 1956 melantik anggota Konstituante.15

C. Hasil Pemilu 1955


Hasil penghitungan suara dalam Pemilu tahun 1955 menunjukkan bahwa PNI dan
Masyumi mendapatkan jatah kursi yang sama sehingga tidak ada yang menang mutlak dalam
pemilihan umum tahun 1955. Masyumi menjadi partai Islam terkuat, dengan menguasai 20,9
persen suara dan menang di 10 dari 15 daerah pemilihan, termasuk Jakarta Raya, Jawa Barat,
Sumatera Selatan, Sumatera Tengah, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan,
Sulawesi Tenggara Selatan, dan Maluku. Namun, di Jawa Tengah, Masyumi hanya mampu
meraup sepertiga dari suara yang diperoleh PNI, dan di Jawa Timur setengahnya. Kondisi ini
menyebabkan hegemoni penguasaan Masyumi secara nasional tak terjadi dan dikalahkan oleh
PNI. Keseluruhan kursi yang diperoleh adalah sebesar 257 kursi. Tiga kursi sisa diberikan pada
wakil Irian Barat yang keanggotaannya diangkat Presiden.16

Jumlah suara dan kursi (Berdasarkan partai politik)


No. Nama Partai Suara %Suara Kursi
1 Partai Nasional Indonesia (PNI) 8.434.653 22,32 57
2 Masyumi 7.903.886 20,92 57
3 Partai Komunis Indonesia (PKI) 6.955.141 18,41 45
4 Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) 6.179.914 16,36 39
5 Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) 1.091.160 2,89 8
6 Partai Kristen Indonesia (Parkindo) 1.003.326 2,66 8
7 Partai Katolik 770.740 2,04 6
8 Partai Sosialis Indonesia (PSI) 753.191 1,99 5
9 Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) 541.306 1,43 4
10 Pergerakan Tarbiyah Islamiyah (Perti) 483.014 1,28 4
11 Partai Rakyat Nasional (PRN) 242.125 0,64 2
12 Partai Buruh 224.167 0,59 2
13 Gerakan Pembela Panca Sila (GPPS) 219.985 0,58 2
14 Partai Rakyat Indonesia (PRI) 206.161 0,55 2
15 Persatuan Pegawai Polisi (P3RI) 200.419 0,53 2
16 Murba 199.588 0,53 2
17 Baperki 178.887 0,47 1
18 Persatuan Indonesia Raya (PIR) Wongsonegoro 178.481 0,47 1
19 Grinda 154.792 0,42 1

14
Bibit Suprapto, Perkembangan kabinet dan pemerintahan di Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1998, hlm 171
15
Ibid., hlm. 173
16
Feith, Herbert, Pemilihan Umum 1955 di Jakarta, Jakarta: Gramedia, 1999, hlm: 84-86

7
20 Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia (Permai 149.287 0,40 1
21 Persatuan Daya (PD) 146.054 0,39 1
22 PIR Hazairin 114.644 0,30 1
23 Partai Politik Tarikat Islam (PPTI) 85.131 0,23 1
24 AKUI 81.454 0,22 1
25 Persatuan Rakyat Desa (PRD) 77.919 0,21 1
26 Partai Republik Indonesia Merdeka (PRIM 72.523 0,19 1
27 Angkatan Comunis Muda (Acoma) 64.514 0,17 1
28 R.Soedjono Prawirosoedarso 53.306 0,14 1
29 Lain lain 1.022.433 2,71
Jumlah 37.785.299 100 257

Penghitungan suara untuk pemilihan umum bulan September selesai pada tanggal 29
November 1955, dengan hasil yang memunculkan banyak kejutan bagi para pemimpin politik
maupun masyarakat. Dari sekitar tiga puluhan partai yang ikut, ternyata hanya ada empat partai
yang mendapat perolehan suara lebih dari 16 persen. Partai-partai lain hanya mendapat kurang
dari 3 persen. Partai-partai yang masuk kategori empat besar untuk perolehan suara adalah:
PNI memperoleh 22,3 persen. Masyumi memperoleh 20,9 persen, NU memperoleh 18,4 persen
dan PKI diluar dugaan mendapatkan 16,4 persen.Empat partai lain yang mendapat suara 2
persen atau lebih adalah PSII, Parkindo, Partai Katholik dan PSI. Partai-partai yang lain hanya
mendapat suara yang jauh lebih kecil, termasuk Nasution (IPKI) yang hanya memperoleh 1,4
persen suara.17
Jumlah kursi anggota Konstituante dipilih sebanyak 520, tetapi di Irian Barat yang
memiliki jatah 6 kursi tidak ada pemilihan. Maka kursi yang dipilih hanya 514. Hasil pemilihan
anggota Dewan Konstituante menunjukkan bahwa PNI, NU dan PKI meningkat dukungannya,
sementara Masyumi, meski tetap menjadi pemenang kedua, perolehan suaranya merosot
114.267 dibandingkan suara yang diperoleh dalam pemilihan anggota DPR. Peserta pemilihan
anggota Konstituante yang mendapatkan kursi itu adalah sebagai berikut:

17
Baskara T. Wardaya, Membuka Kotak Pandora Pemilu 1955, Jurnal Basis Edisi No. 03-04 Maret-April 2004,
Yogyakarta, 2004, hlm. 13

8
Anggota Konstituante18 19
No Nama Partai Jumlah Suara Prosentase Jumlah
Kursi
1. Partai Nasional Indonesia (PNI) 9.070.218 23,97 119
2. Masyumi 7.789.619 20,59 112
3. Nahdlatul Ulama (NU) 6.989.333 18,47 91
4. Partai Komunis Indonesia (PKI) 6.232.512 16,47 80
5. Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) 1.059.922 2,80 16
6. Partai Kristen Indonesia (Parkindo) 988.810 2,61 16
7. Partai Katolik 748.591 1,99 10
8. Partai Sosialis Indonesia (PSI) 695.932 1,84 10
9. Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia 544.803 1,44 8
10. Pergerakan Tarbiyah Islamiyah (Perti) 465.359 1,23 7
11. Partai Rakyat Nasional (PRN) 220.652 0,58 3
12. Partai Buruh 332.047 0,88 2
13. Gerakan Pembela Panca Sila (GPPS) 152.892 040 2
14. Partai Rakyat Indonesia (PRI) 134.011 0,35 2
15. Persatuan Pegawai Polisi RI (P3RI) 179.346 0,47 3
16. Murba 248.633 0,66 4
17. Baperki 160.456 0,42 2
18. Persatuan Indonesia Raya (PIR) 162.420 0,43 2
Wongsonegoro
19. Grinda 157.976 0,42 2
20. Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia Permai 164.386 0,43 2
21. Persatuan Daya (PD) 169.222 0,45 3
22. PIR Hazairin 101.509 0,27 2
23. Partai Politik Tarikat Islam (PPTI) 74.913 0,20 1
24. AKUI 84.862 0,22 1
25. Persatuan Rakyat Desa (PRD) 39.278 0,10 1
26. Partai Republik Indonesis Merdeka (PRIM) 143.907 0,38 2
27. Angkatan Comunis Muda (Acoma) 55.844 0,15 1
28. R.Soedjono Prawirisoedarso 38.356 0,10 1
29. Gerakan Pilihan Sunda 35.035 0,09 1
30. Partai Tani Indonesia 30.060 0,08 1
31. Radja Keprabonan 33.660 0,09 1
32. Gerakan Banteng Republik Indonesis (GBRI) 39.874 0,11 1
33. PIR NTB 33.823 1,09 1
34. L.M.Idrus Effendi 31.988 0,08 1
35. Lain-lain 426.856 1,13 1
Jumlah 37.837.105 100,00 514

18
Feith, Herbert, Pemilihan Umum 1955 di Jakarta, Jakarta: Gramedia, 1999, hlm: 86-87
19
H. A. Hafiz Anshary AZ, dkk, Pemilu Untuk Pemula, Jakarta: Komisi Pemilihan Umum, 2010, hlm 37

9
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Pemilihan umum merupakan wujud dari demokrasi yang diselenggarakan oleh
pemerintah guna kepentingan rakyat. Dengan adanya pemilihan umum, rakyat turut serta
memberikan aspirasi politiknya yang diperuntukan memilih para wakilnya di pemerintahan.
Pemilihan umum adalah langkah yang tepat dilakukan oleh pemerintah untuk melaksanakan
asas kedaulatan rakyat yang telah tercantum dalam undang-undang dasar sementara. Untuk
menyempurnakan undangundang dasar yang masih bersifat sementara dan untuk memilih
wakil-wakil yang akan duduk di Parlemen, maka pemerintah Indonesia melaksanakan
pemilihan umum yang pertama di tahun 1955.
Pemilihan umum yang pertama dilaksanakan di Republik Indonesia ini berlangsung
dalam dua tahap, yakni tanggal 29 September 1955 untuk memilih para wakil rakyat yang akan
duduk di Dewan Perwakilan Rakyat dan tanggal 15 Desember untuk memilih Konstituante
yang bertugas untuk menyusun undang-undang dasar pengganti undang-undang dasar
sementara. Penyelenggaraan pemilihan umum dilakukan dalam tiga tahap kabinet yang
berbeda. Pengesahan undang-undang dilakukan pada masa kabinet Wilopo yaitu Undang-
Undang Pemilihan Umum No.7 Tahun 1953 beserta peraturan pelaksanaannya PP No. 9/1954
kemudian masa kampanye dilakukan pada masa kabinet Ali Sastroamidjojo sedangkan hari
pemungutan suara dilakukan pada masa kabinet Burhanuddin Harahap. Setelah dibubarkannya
RIS atau sejak 1950, Indonesia melaksanakan demokrasi liberal atau demokrasi parlementer
dengan meniru gaya barat. Selama 10 tahun pelaksanaan demokrasi parlementer ada tujuh
kabinet yang berkuasa atau rata-rata satu kabinet hanya berumur satu setengah tahun hal ini
dikarenakan sistem mulitipartai atau partai oposisi yang duduk di parlemen saling
mengeluarkan mosi tidak percaya sehingga meruntuhkan kabinet.
Pemilu 1955 tidak hanya diikuti oleh partai politik saja, tetapi juga oleh organisasi
maupun perorangan. Dalam pemilihan umum anggota DPR diikuti peserta sebanyak 118
peserta pemilu yang terdiri atas: partai politik 36, organisasi 34, perorangan 48. Sementara itu
peserta pemilihan umum anggota Konstituante terdiri atas: partai politik 39, organisasi 23,

10
perorangan sebanyak 29. Kampanye dilakukan pada masa kabinet Ali Sastroamidjojo dalam
dua tahap, yaitu tahap pertama yaitu ketika disahkannya undangundang pemilihan umum pada
tanggal 4 April 1953 kemudian tahap kedua ketika tanda gambar partai disahkan oleh Panitia
Pemilihan Indonesia tanggal 31 Mei 1954. Sangat beragam metode dan teknik kampanye yang
digunakan dari partai-partai dan dari daerah-daerah seperti pertemuan pertemuan yang
diselenggarakan di semua tingkat, di alun-alun kota atau di balai desa dengan para pembicara
dari Jakarta atau tokoh partai setempat, rapat umum atau rapat anggota, pertemuan perempuan
atau pemuda, ceramah umum, pemutaran film, perayaan ulang tahun atau pawai, perayaan hari
besar agama, dan pertemuan yang diramaikan teater rakyat. Hasil pemungutan suara
menempatkan empat partai besar pemenang pemilihan umum yang pertama ini yakni Partai
Nasional Indonesia (PNI), Masyumi, Nahdatul Ulama dan Partai Komunis Indonesia (PKI).

B. Saran
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas sejarah ketatanegaraan
Indonesia dan untuk menambah wawasam tentang pemilihan umum tahun 1955. Semoga
makalah ini dapat berguna bagi para pembaca untuk bahan acuan dalam pengembangan
makalah ini.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini karena
keterbatasan waktu, tenaga, dana dari penulis. Maka penulis mengharapkan kritik dan saran
dari para pembaca yang sifatnya membangun agar penyusunan makalah ini bisa lebih baik lagi.

11
Daftar Pustaka

Buku
Ahmad Syafii Maarif. 1996. Islam dan Politik: Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin
(1959-1965). Jakarta: Gema Insani Press.
Arbi, Sanit. 1997. Partai, Pemilu dan Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Baskara T. Wardaya, Membuka Kotak Pandora Pemilu 1955, Jurnal Basis Edisi No. 03-04 Maret-April
2004, Yogyakarta, 2004, hlm. 13
Bibit Suprapto. 1985. Perkembangan Kabinet dan Pemerintahan di Indonesia. Jakarta: Ghalia
Indonesia
Bibit Suprapto. 1998. Perkembangan kabinet dan pemerintahan di Indonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia.
C.S.T. Kansil (a). 1986. Memahami Pemilihan Umum dan Referandum. Jakarta: IND-Hill-CO
Jakarta.
C.S.T. Kansil (b). 1973. Inti pengetahuan Pemilihan Umum. Pradnya Paramita.
Feith, Herbert. 1999. Pemilihan Umum 1955 di Jakarta. Jakarta: Gramedia.
H. A. Hafiz Anshary AZ, dkk. 2010. Pemilu Untuk Pemula, Jakarta: Komisi Pemilihan Umum.
Imam, Suhadi. 1981. Pemilihan Umum 1955, 1971, 1977: Cita-cita dan Kenyataan Demokrasi.
Yogyakarta: Bagian Penerbitan Fakultas Hukum UII.
Mohamad, Roem. 1971. Tindjauan Pemilihan Umum I&II dari Sudut Hukum. Bandung: Hudaya
Documenta.
Sukana. 1990. Sistem Politik Indonesia. Bandung: Mandar Maju.

Arsip
Komisi Pemilihan umum. Nuansa Pemilihan Umum di Indonesia
Pemilihan Umum 1955, Arsip Nasional Republik Indonesia Proyek Pemasyarakatan Dan
Diseminasi Kearsipan Nasional Jakarta 2004
Undang-Undang No. 7 Tahun 1950, tentang perubahan Konstitusi Sementara Republik Indonesia
Serikat menjadi Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia.
Undang-Undang No. 7 Tahun 1953, tentang penyelenggaraan pemilihan umum 1955.

Koran
Kedaulatan Rakyat, 27 September 1955, hlm. 1

12