Anda di halaman 1dari 6

Kewajiban Hukum (Legal Liability)

A. Kondisi Hukum dalam Praktik Akuntan Publik


Para profesional audit bertanggung jawab untuk memenuhi apa yang telah dinyatakan
dalam kontrak dengan klien.
Apabila auditor gagal memberikan jasa atau tidak cermat dalam pelaksanaannya, mereka
secara hukum bertanggung jawab kepada klien atas kelalaian dan/atau pelanggaran kontrak, dan
dalam situasi tertentu, kepada pihak selain klien mereka.

B. Perbedaan antara Kegagalan Bisnis, Kegagalan Audit, dan Risiko Audit


Penyebab utama tuntutan hukum kepada kantor akuntan publik adalah kurangnya
pemahaman para pemakai laporan keuangan atas dua konsep :
1. Perbedaan antara kegagalan bisnis dan kegagalan audit;
2. Perbedaan antara kegagalan audit dan risiko bisnis.
Kegagalan bisnis (business failure) terjadi apabila bisnis tersebut tidak mampu
mengembalikan pinjamannya atau memenuhi harapan para investor karena keadaan ekonomi
atau bisnis, seperti resesi, keputusan manajemen yang buruk, atau persaingan yang tak
terduga dalam industri itu.
Kegagalan audit (audit failure) terjadi apabila auditor mengeluarkan pendapat audit yang
tidak benar karena gagal memenuhi persyaratan standar audit.
Risiko audit (audit risk) merupakan kemungkinan bahwa auditor akan menyimpulkan,
setelah melaksanakan audit yang memadai, bahwa laporan keuangan telah dinyatakan secara
wajar, sedangkan dalam kenyataannya mengandung salah saji yang material.

C. Konsep Hukum yang Mempengaruhi Kewajiban


1. Prudent Person Concept
Kesepakatan antara profesi akuntan dan pengadilan bahwa auditor bukan penjamin atau
penerbit laporan keuangan. Auditor hanya diharapkan melaksanakan audit dengan kemahiran,
dan tidak diharapkan untuk 100% benar. Standar kemahiran (due care) itulah yang sering disebut
konsep orang bijak (prudent person concept).
2. Kewajiban atas tindakan pihak lain
Biasanya para partner atau para pemegang saham korporasi profesional memiliki tanggung
jawab bersama untuk mengambil tindakan perdata (civil action) terhadap setiap pemilik.
3. Tidak adanya komunikasi istimewa
Akuntan publik tidak berhak menyembunyikan informasi dari pengadilan dengan
menyatakan bahwa informasi tersebut rahasia.
4. Syarat-syarat hukum yang mempengaruhi kewajiban akuntan publik:
a. Syarat yang berkaitan dengan kelalaian dan penipuan. Kelalaian biasa, kelalaian besar,
penipuan konstruktif, dan penipuan.
b. Syarat yang berkaitan dengan hukum kontrak. Pelanggaran kontrak, manfaat pihak ketiga.
c. Syarat-syarat lain. Common law, UU statute, kewajiban bersama dan tertentu,kewajiban
terpisah dan proporsional.
5. Sumber-sumber kewajiban hukum auditor :
1. Kewajiban kepada klien.
2. Kewajiban kepada pihak ketiga menurut common law.
3. Kewajiban sipil menurut UU sekuritas federal.
4. Kewajiban kriminal.
Sumber tuntutan hukum yang paling umum terhadap akuntan publik adalah dari klien.

D. Kewajiban Akuntan Terhadap Klien


Kewajiban terhadap klien timbul karena kegagalan untuk melaksanakan tugas audit sesuai
waktu yang disepakati, pelaksanaan audit yang tidak memadai, gagal menemukan kesalahan, dan
pelanggaran kerahasiaan oleh akuntan publik.
Pembelaan auditor terhadap tuntutan klien :
1. Tidak ada tugas. Tidak ada tugas yang harus dilaksanakan jasa berarti bahwa kantor
akuntan publik mengklaim bahwa tidak ada kontrak yang tersirat ataupun yang
dinyatakan secara jelas.
2. Pelaksanaan kerja tanpa kelalaian. Kantor audit mengklaim bahwa audit dilaksanakan
sesuai dengan standar auditing. Meskipun ada salah saji yang tidak terungkap, auditor
tidak bertanggung jawab jika audit telah dilakukan secara tepat. Diperkuat dengan adanya
konsep orang bijak.
3. Kelalaian kontribusi. Auditor mengklaim bahwa tindakan klien telah mengakibatkan
baik kerugian yang menjadi dasar denda atau pun campur tangan dalam pelaksanaan
audit dengan cara sedemikian rupa sehingga auditor tidak menemukan penyebab
kerugian.
4. Ketiadaan hubungan sebab akibat.

E. Kewajiban terhadap Pihak Ketiga


Pihak ketiga meliputi pemegang saham aktual dan calon pemegang saham, pemasok, bankir
dan kreditor lain, karyawan, serta pelanggan.
Kasus audit utama yang mengawali kewajiban terhadap pihak ketiga sehingga terbentuk:
1. Doktrin ultramers. Dalam kasus ini, pengadilan menyatakan bahwa meskipun para akuntan
lalai, mereka tidak bertanggung jawab kepada para kreditor karena kreditor bukan penerima
manfaat utama.
2. Foreseen users. Merupakan anggota dari golongan pemakai terbatas yang mengandalkan
laporan keuangan. Pendekatan utama yang diberlakukan:
o Credit alliance
o Restatement of torts
o Foreseeable users
Pembelaan auditor terhadap pihak ketiga sama halnya dengan pembelaan auditor
terhadap klien. Yaitu, tidak ada kewajiban untuk melaksanakan jasa, pelaksanaan kerja tanpa
kelalaian, dan ketiadaan hubungan sebab akibat. Kelalaian kontribusi biasanya tidak berlaku
karena pihak ketiga bukan penyebab terjadinya salah saji dalam laporan keuangan.

F. Kewajiban Perdata menurut Hukum Sekuritas Federal


1. Securities Act tahun 1933, persyaratan pelaporan untuk perusahaan yang mengeluarkan efek-
efek baru. Peraturan membolehkan pihak ketiga menggugat auditor jika laporannya
menyesatakan dan tidak mempunyai beban pembuktian hal tersebut, sementara auditor dapat
membela jika audit telah memadai dan pemakai laporan tidak menderita kerugian.
2. Securities Exchange Act tahun 1934, persyaratan penyampaian laporan tahunan setiap
perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa. Akibat tuntutan ini SEC dapat
mencabut ijin praktek dari KAP yang yang melakukan kesalahan.
3. Racketeer Influenced and Corrupt Organization Act 1970, peraturan ini ditujukan untuk
kriminalitas tetapi auditor sering dituntut berdasarkan peraturan ini.
4. Foreign Corrupt Practice Act tahun 1977, larangan pemberian uang suap kepada pejabat di
luar negeri untuk mendapatkan pengaruh dan mempertahankan hubungan usaha.

G. Kewajiban Kriminal
Beberapa undang-undang seperti Uniform Securities Acts, Securuties Acts 1933 dan 1934,
Federal Mail Fraud Statute dan Federal False Statement Statute menyebutkan bahwa menipu
orang lain dengan sadar terlibat dalam laporan keuangan yang palsu adalah perbuatan kriminil.
Kewajiban hukum auditor kepada klien adalah mencegah penipuan dan/atau pelanggaran
kontrak yang bisa mempengaruhi hasil-hasil pekerjaan.

H. Tanggapan Profesi Terhadap Kewajiban Hukum


AICPA dan profesi mengurangi resiko terkena sanksi hukum dengan langkah-langkah
berikut:
1. Riset dalam auditing
2. Penetapan standar dan aturan
3. Menetapkan persyaratan untuk melindungi auditor
4. Menetapka persyaratan penelaahan sejawat
5. Melawan tuntutan hukum
6. Pendidikan bagi pemakai laporan
7. Memberi sanksi kepada anggota karena hasil kerja yang tak pantas
8. Perundingan untuk perubahan hukum .
Tanggapan Akuntan Publik Terhadap Kewajiban Hukum dalam meringankan kewajibannya
auditor dapat melakukan langkah-langkah berikut :
1. Hanya berurusan dengan klien yang memiliki integritas
2. Mempekerjakan staf yang kompeten dan melatih serta mengawasi dengan pantas
3. Mengikuti standar profesi
4. Mempertahankan independensi
5. Memahami usaha klien
6. Melaksanakan audit yang bermutu
7. Mendokumentasikan pekerjaan secara memadai
8. Mendapatkan surat penugasan dan surat pernyataan
9. Mempertahankan hubungan yang bersifat rahasia
10. Perlunya asuransi yang memadai; dan
11. Mencari bantuan hukum

Tanggung Jawab Terhadap Kerahasiaan


Sebagai seorang profesional, tentu seorang Akuntan Independen harus bermasyarakat.
Untuk kegiatan diluar pekerjaan harus memberikan dampak positif pada profesinya. Apabila dia
ditunjuk untuk menduduki jabatan dalam organisasi lain, maka pertama-tama yang harus diingat
adalah menjaga kerahasiaan klien.
Selain itu juga, Anggota KAP yang terlibat dalam penyidikan dan review, tidak boleh
memanfaatkan untuk kepentingan diri pribadi atau mengungkapkan informasi klien yang
diketahuinya dalam pelaksanaan tugasnya
Sebagai anggota KAP, tidak diperkenankan mengungkapkan informasi / data klien yang
rahasia, tanpa persetujuan dari klien, dalam bentuk apapun.
Kerahasiaan informasi harus dijaga selama tugasnya, AP tidak boleh terlibat dalam
pengungkapan fakta, bila tidak mendapat izin khusus dari klien; kecuali jika dihendaki
oleh hukum, negara atau profesinya
Dalam rangka pengendalian mutu satu KAP yang direview oleh KAP lain/Badan
Pengawasan Keuangan & Pembangunan (BPKP) maka informasi auditor dapat
diungkapkan.
Setiap anggota tidak boleh menghindari / menghalangi penyelidikan Badan Pengawas
Profesi (Reviewer IAI) terhadap keluhan-keluhan yang disampaikan baik oleh klien
maupun oleh pihak lain.
Setiap anggota bertanggung jawab atas mutu hasil pekerjaannya. Oleh karena itu, pada
saat bersamaan dengan pelaksanaan pekerjaannya ia tidak boleh terlibat dalam
usaha/pekerjaan yang menyebabkan penyimpangan dari obyektivitas/ketidak-konsistenan
nya dalam pekerjaan.
Data tidak boleh digunakan untuk keuntungan sendiri, maupun keuntungan pihak ketiga.
Informasi tidak boleh terungkap jika auditor menggunakan jasa tenaga ahli lain. Untuk
klien yang go public, inside information tidak boleh diberikan kepada pihak ketiga.
Auditor boleh mengungkapkan nama-nama klien kepada pihak ketiga, kecuali bila
pengungkapan nama + informasi rahasia klien; contoh: nama klien yang sedang
mengalami kesulitan.
Auditor pendahulu harus bersedia memperlihatkan kertas kerja sebelumnya kepada
auditor pengganti berdasarkan permintaan klien.
Auditor yang menarik diri dari penugasannya karena menemukan pelanggaran terhadap
undang-undang / peraturan pemerintah harus memperhatikan aspek hukum atas status &
kewajibannya, bila auditor penggantinya ingin mengetahui alasan penarikan dirinya; dan
pengganti ini dapat meminta izin klien untuk membicarakan secara bebas tentang segala
masalah yang ada.
Menjaga rahasia informasi juga merupakan kewajiban semua staf yang berkerja di KAP

REFERENSI
Faktor-faktor pokok yang mendorong kewajiban hukum terhadap Akuntan Publik antara lain :
Kesadaran pengguna laporan keuangan akan tanggung jawab akuntan publik
Kesadaran divisi-divisi SEC untuk melindungi kepentingan stockholder
Auditing dan akuntansi yang semakin kompleks sehubungan dengan peningkatan ukuran
bisnis, globalisasi, dan intrik operasi bisnis
Konsep kewajiban deep pocket
Pengadilan kesulitan memahami dan menafsirkan masalah teknis akuntansi dan audit.