Anda di halaman 1dari 4

Anatomi Sistem Saluran Kemih

Sistem urogenitalia atau genitourinaria terdiri atas organ reproduksi dan


urinaria. Keduanya dijadikan satu kelompok sistem urogenitalia, karena mereka
saling berdekatan, berasal dari embriologik yang sama, dan menggunakan saluran
yang sama sebagai alat pembuangan, misalkan uretra pada pria.1,2
Sistem urinaria atau disebut juga sebagai sistem eksretori adalah sistem organ
yang memproduksi, menyimpan, dan mengalirkan urin. Pada manusia normal, organ
ini terdiri dari ginjal beserta sistem pelvikalises, ureter, buli-buli atau kandung kemih,
dan uretra. Sistem organ genitalia atau reproduksi pria terdiri atas testis, epididimis,
vas deferens, vesikula seminalis, kelenjar prostat, dan penis. Pada umumnya organ
urogenitalia terletak di rongga retroperitoneal dan terlindung oleh organ lain yang
berada disekitarnya, kecuali testis, epididimis, penis, dan uretra.1,2

1. Ginjal
1.1 Sturktur Ginjal
Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang terletak di rongga
retroperitoneal bagian atas. Bentuknya menyerupai kacang dengan sisi cekungnya
menghadap ke medial. Cekungan ini disebut sebagai hilus renalis, yang di dalamnya
terdapat apeks pelvis renalis dan strukur lain yang merawat ginjal, yakni pembuluh
darah, sistem limfatik, dan sistem saraf.1,2
Besar dan berat ginjal sangat bervariasi, hal ini tergantung pada jenis kelamin,
umur, serta ada tidaknya ginjal pada sisi yang lain. Dalam hal ini, ginjal lelaki relatif
lebih besar ukurannya dari pada perempuan. Pada orang yang mempunyai ginjal
tunggal yang didapat sejak usia anak, ukurannya lebih besar dari pada ginjal normal.
Pada autopsi klinis didapatkan bahwa ukuran rerata ginjal orang dewasa adalah 11,5
cm (panjang) x 6 cm (lebar) x 3,5 cm (tebal). Beratnya bervariasi antara 120-170
gram atau kurang lebih 0,4% dari berat badan.1,2,3
Ginjal dibungkus oleh jaringan fibrous tipis dan mengkilat yang disebut
kapsula fibrosa (true capsule) ginjal, yang melekat pada parenkim ginjal. Diluar
kapsula fibrosa terdapat jaringan lemak yang disebelah luarnya dibatasi oleh fasia
Gerota. Diantara kapsula fibrosa ginjal dengan kapsul Gerota terdapat rongga
perirenal.
Di sebelah kranial ginjal terdapat kelenjar anak ginjal atau glandula adrenal
atau disebut juga kelenjar suprarenal yang berwarna kuning. Kelenjar adrenal
bersama-sama ginjal dan jaringan lemak perirenal dibungkus oleh fasia Gerota. Fasia
ini berfungsi sebagai barier yang menghambat meluasnya perdarahan dari parenkim
ginjal serta mencegah ektravasasi urin pada saat terjadi trauma ginjal. Selain itu fasia
Gerota dapat pula berfungsi sebagai barier dalam menghambat penyebaran infeksi
atau menghambat metastasis tumor ginjal ke organ disekitarnya. Di luar fasia Gerota
terdapat jaringan lemak retroperitoneal yang terbungkus oleh peritoneum posterior.
Rongga di antara kapsula Gerota dan peritoneum ini disebut rongga pararenal.1,2
Di sebelah posterior, ginjal dilindungi oleh berbagai otot punggu yang tebal
serta tulang rusuk ke XI dan XII, sedangkan disebelah anterior dilindungi oleh organ
intraperitoneal. Ginjal kanan dikelilingi oleh hepar, kolon, dan duodenum, sedangkan
ginjal kiri dikelilingi oleh lien, lambung, pankreas, jejenum, dan kolon.1,2
Secara anatomis ginjal terbagi menjadi 2 bagian yaitu korteks dan medula
ginjal. Korteks ginjal terletak lebih superfisial dan didalmanya terdapat berjuta-juta
nefron. Nefron merupakan unit fungsional terkecil ginjal. Medula ginjal yang terletak
lebih profundus banyak terdapat duktuli atau saluran kecil yang mengalirkan hasil
ultrafiltrasi berupa urine. Nefron terdiri atas glomerulus, tubulus kontrotus (TC)
proksimalis, Loop of Henle, tubulus kontrotus (TC) distalis, dan duktus kolegentes.
Darah yang membawa sisa hasil metabolisme tubuh difiltrasi di dalam glomerulus
dan kemudian setelah sampai di tubulus ginjal, beberapa zat yang masih diperlukan
tubuh mengalami reabsorbsi dan zat sisa metabolisme yang tidak diperlukan oleh
tubuh mengalami sekresi membentuk urine.1,2
Setiap hari tidak kurang 180 liter cairan tubuh difiltrasi di glomerulus dan
menghasilkan urine sebanyak 1-2 liter. Urine yang terbentuk di dalam nefron
disalurkan melalui piramida ke sistem pelvikalises ginjal untuk kemudian disalurkan
di dalam ureter. Sistem pelvikalises ginjal terdiri atas kaliks minor, infudibulum,
kaliks major, dan pielum/pelvis renalis. Mukosa sistem pelvikalises terdiri atas epitel
transional dan dindingnya terdiri atas otot polos yang mampu berkontraksi untuk
menalirkan urine sampai ke ureter.1,2

1.2 Vaskularisasi Ginjal


Suplai darah ke ginjal diperankan oleh arteri dan vena renalis. Arteri renalis
merupakan cabang langsung dari aorta abdominalis dan vena renalis yang bermuara
langsung ke dalam vena kava inferior. Vena dan arteri renalis keduanya membentuk
pedikel ginjal, Arteri memasuki ginjal dan vena keluar dari ginjal di dalam area yang
disebut hilus renalis. Pada sisi kanan vena terletak di sebelah anterior arteri renalis.
Pada sisi kiri, vena renalis lebih panjang dari pada arteri. Di belakang dari kedua
pedikel ini terdapat pelvis renalis.1,2
Arteri renalis bercabang menjadi anterior dan posterior. Cabang posterior
merawat segmen medius dan posterior. Cabang anterior merawat kutub (pole) atas,
bawah, dan seluruh segmen anterior ginjal. Arteri renalis bercabang menjadi arteri
inrlobaris, yang berjalan di dalam kolumna Bertini (diantara piramida renalis)
kemudian membelok membentuk busur mengikuti basis piramida sebagai arteri
arkuata, dan selanjutnya menuju korteks sebagai arteri lobularis. Arteri ini bercabang
kecil menuju ke glomeruli sebagai arteri afferen, dan dari glomeruli keluar arteri
efferen yaitu arteri yang tidak mempunyai anastomosis dengan cabang dari arteri lain
sehingga jika terdapat kerusakan pada salah satu cabang arteri ini berakibat timbulnya
iskemia/nekrosis pada daerah yang dilayaninya. Sistem cairan lmfe ginjal dialirkan ke
dalam limfonodi yang terletak di dalam hilus ginjal. Seperti halnya pada sistem
pembuluh darah dan persarafan, sistem limfatik berada di dalam rongga
retroperitoneum.1,2
1.3 Persarafan Ginjal
Ginjal mendapat persarafan melalui pleksus renalis yang seratnya berjalan
bersama dengan arteri renalis. Input dari sistem simpatetik yang menyebabkan
vasokontriksi yang menghambat aliran darah ke ginjal. Ginjal diduga tidak mendapat
persarafan parasimpatetik. Impuls sensorik dari ginjal berjalan menuju korda spinalis
segmen T10-11, dan memberikan sinyal sesuai dengan level dermatomnya. Oleh
karena itu dapat dimengerti bahwa nyeri di daerah di pinggang (flank) merupakan
nyeri referal dari ginjal.1,2

2. Ureter
Ureter adalah organ berbentuk tabung kecil yang berfungsi mengalirkan urine
dari pielum (pelvis) ginjal ke dalam buli-buli. Pada orang dewasa panjangnya lebih
kurang 25-30 cm dan diameternya 3-4 mm. Dindingya terdiri atas mukosa yang
dilapisi oleh sel transional, otot polos sirkuler, dan otot polos longitudinal. Kontraksi
dan relaksasi kedua otot polos itulah yang memungkinkan terjadinya gerakan
peristaltik uruter guna mengalirkan urine ke dalam buli-buli. Jika karena suatu sebab
terdapat sumbatan pada lumen ureter sehingga menyumbat aliran urin, otot olos
ureterakan berkontraksi secara berlebihan yang bertujuan untuk
mendorong/mengeluarkan sumbatan itu dari saluran kemih, Kontraksi itu dirasakan
sebagai nyeri kolik yang datang secara berkala sesuai dengan irama peristaltik
ureter.1,2
Ureter membentang dari pielum hingga buli-buli dan secara anatomis terdapat
beberapa tempat yang ukuran diameternya relatif lebih sempit dari pada di tempat
lain. Tempat penyempitan itu antara lain adalah pada perbatasan antara pelvi