Anda di halaman 1dari 36

SISTEM INFORMASI KESEHATAN

SISTEM INFORMASI KESEHATAN DAERAH


(SIKDA)

OLEH :
KELOMPOK 3

DESIARTIN (K111 15 045)

INTAN RAHMAWATI (K111 15 051)

RAHMAWATI (K111 15 053)

NURLIA ZAINAL (K111 15 071)

HEIDY CHRISTY WINARTO (K111 15 082)

ANTRIANI (K111 15 083)

NUR AMILAH ALWI (K111 15 514)

MUH. ASRUL TAUGIK ARIFUDDIN (K111 15 527)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
2

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa Yang telah melimpahkan berkat

hidayah dan rahmat-Nya sehingga kami selaku Anggota Kelompok 3 dapat

meyelesaikan tugas makalah dari mata kuliah Sistem Informasi Kesehatan yaitu

kajian tentang Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA). Dengan adanya

penulisan makalah ini semoga dapat membantu dalam pembelajaran kita dan bisa

mengerti arti, tujuan dan langkah-langkah serta hasil dari Sistem Informasi

Kesehatan Daerah (SIKDA) serta dapat memberikan informasi dan pengetahuan

baru kepada para pembaca serta dapat menambah wawasan bagi para pembaca.

Disamping itu, kami menyadari bahwa mungkin terdapat banyak kesalahan baik

dari penulisan ataupun dalam penyusunannya. Karena itu, kritikan dan saran dari

teman-teman mahasiswa dan dosen pengajar sangat diharapkan demi

penyempurnaan makalah ini.

Makassar, 20 April 2017

Kelompok 3

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 2


3

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................................ 2


Daftar Isi ............................................................................................................................ 3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...................................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah ................................................................................................. 9
C. Tujuan Penulisan ................................................................................................... 9
D. Manfaat Penulisan ................................................................................................. 10
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) ................................... 11
B. Manfaat Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) ....................................... 14
C. Strategi dan Arah Kebijakan Pengembangan SIKDA di Indonesia...................... 15
D. Golongan Sistem Kesehatan di Indonesia............................................................. 16
E. Penyebab Sulitnya Mewujudkan Pertukaran Data Kesehatan Daerah ................. 17
F. Model Pengelolaan Sistem Informasi Kesehatan ................................................ 17
G. Ruang Lingkup ..................................................................................................... 20
H. Tantangan dalam penerapan SIKDA Generik ...................................................... 31
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................................................... 34
B. Saran ..................................................................................................................... 35
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 36

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 3


4

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masalah kesehatan masyarakat didominasi ketidak mampuan masyarakat

dalam menangani kesehatan diri maupun lingkungannya, karena sebagian

besar masyarakat masih tergantung pada peran pemerintah. Kondisi ini

erat hubungannya dengan perkembangan social ekonomi dan transisi

demografi yang berlangsung cepat. Disisi lain desentralisasi memerlukan

paradigm baru dalam pengembangan kebijakan kesehatan masyarakat pada

tingkat kabupaten yang memerlukan ketersediaan data dan informasi

(Departemen Kesehatan RI, 2002).

Salah satu upaya pokok dalam melaksanakan sistem desentralisasi adalah

pengembangan sistem informasi kesehatan yang lebih baik. Saat ini sering

terlihat pengambilan keputusan tidak dilandasi dengan informasi yang

relevan, data yang tidak fleksibel dan terlalu banyak, sehingga pimpinan

tidak memanfaatkannya (Pusat Data dan Informasi, 2011).

Berdasarkan permasalahan tersebut sangat diperlukan perbaikan

manajemen data dan informasi yang terintegrasi melalui pengembangan

system informasi kesehatan secara menyeluruh. Perkembangan bidang

teknologi dan system informasi yang pesat memberi pengaruh di segala

bidang kehidupan manusia termasuk bidang kesehatan. Berbagai aplikasi

dibuat dan dikembangkan untuk menunjang dan membantu operasional

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 4


5

pelayanan kesehatan, aplikasi tersebut diharapkan dapat digunakan dalam

proses pengambilan keputusan yang bermanfaat dibidang kesehatan.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, (2006) telah mengisyaratkan

upaya-upaya yang dilakukan untuk memperbaiki dan memperkuat

sistem informasi dalam bidang kesehatan. Upaya-upaya tersebut tertuang

melalui Rencana Strategis 2005-2009 kemudian dilanjutkan oleh Kementrian

Kesehatan Republik Indonesia, (2010) melalui Rencana Strategis 2010-2014.

Strategi ketiga dalam Rencana Strategis 2010-2014 Kementerian Kesehatan

Repubik Indonesia adalah upaya untuk meningkatkan system surveilans,

monitoring, dan informasi kesehatan yang evidence based di seluruh

Indonesia. Salah satu indikator keberhasilan suatu kegiatan tersebut adalah

pencatatan dan pelaporan.

Keluaran/output dari pencatatan dan pelaporan ini berbentuk informasi

yang sangat berharga bila menggunakan metode pencatatan dan pelaporan

yang tepat. Suatu system dan manajemen yang tepat diperlukan agar data atau

informasi tersebut dapat bermanfaat. Departemen Kesehatan Republik

Indonesia menyadari arti penting dari data-data tersebut, sehingga

memberlakukan Sistem Pencatatan dan Pelaporan terpadu Puskesmas

(SP2TP) pada tahun 1981. SP2T Ptersebut ditetapkan dengan surat

keputusan Menteri Kesehatan RI No.63/Menkes/SK/II/1981 (Departemen

Kesehatan RI, 1992).

SP2TP merupakan suatu kegiatan pencatatan dan pelaporan data umum,

sarana, tenaga, dan upaya kesehatan yang dilaksanakan di Pusat Kesehatan

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 5


6

Masyarakat (Puskesmas) dengan tujuan agar semua data hasil kegiatan di

Puskesmas dapat dicatat serta dilaporkan kejenjang diatasnya sesuai

kebutuhan secara benar, berkala, dan teratur guna menunjang pengelolaan

upaya kesehatan masyarakat (Pintauli, 2003).

Seiring dengan perkembangan di bidang kesehatan, pemerintah

menyadari pentingnya data dan informasi yang ada di bidang kesehatan,

sehingga berupaya untuk mengintegrasikan data dan informasi tiap-tiap

program kesehatan maka pemerintah menyusun suatu sistem yang disebut

sebagai Sistem Kesehatan Nasional (SKN). SKN merupakan bentuk dan cara

penyelenggaraan pembangunan kesehatan dalam berbagai upaya guna

menjamin tercapainya pembangunan kesehatan yang sesuai dengan Undang-

undang Dasar 1945 (Departemen Kesehatan RI, 2009).

Pengembangan sistem kesehatan di Indonesia dimulai sejak tahun 1982.

Kemudian dilakukan penyesuaian terhadap SKN 1982 oleh Departemen

Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI), hingga kemudian SKN 2004

diperbaharui lagi oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

(Kemenkes RI), dan pada tahun 2009 dengan SKN 2009 (Trisnantoro, 2011).

Salah satu subsistem dalam SKN adalah manajemen dan informasi

kesehatan. Upaya yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik

Indonesia untuk mendukung subsistem manajemen dan informasi kesehatan

ini adalah dengan mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan nomor 511

mengenai Kebijakan dan Strategi Sistem Informasi Kesehatan Nasional

(SIKNAS) dan Keputusan Menteri Kesehatan nomor 932 tentang

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 6


7

Petunjuk Pelaksanaan Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Daerah

(SIKDA) pada tahun 2002 oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Pusat

Data dan Informasi, 2011).

SIKDA dan SIKNAS dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan

Republik Indonesia sebagai upaya untuk memantau, mengevaluasi, dan

merencanakan upaya atau program kesehatan secara berjenjang dan

berkelanjutan dengan indicator pembangunan kesehatan. SIKDA mencakup

SIK Propinsi dan SIK kabupaten/kota dan system informasi kesehatan yang

dikembangkan diunit- unit pelayanan kesehatan seperti di rumah sakit dan

Puskesmas (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2002).

SIKDA yang ada di kabupaten/kota merupakan subsistem dari SIKDA

Provinsi, dan SIKDA Provinsi merupakan subsistem dari SIKNAS.

Subsistem dari SIKDA kabupaten/kota terdiri atas system informasi di

Puskesmas dan sistem informasi Rumah Sakit. Dengan kebijakan

desentralisasi, maka pengembangan sistem informasi di Puskesmas, system

informasi di Rumah Sakit, dan SIKDA menjadi tanggung jawab pemerintah

daerah (Pusat Data dan Informasi, 2011).

Untuk mendukung pelaksanaan SKN dan sebagai perwujudan dari

SIKNAS dan SIKDA di Puskesmas adalah dengan mengembangkan Sistem

Informasi Kesehatan (SIK) di Puskesmas yang telah terintegrasi dengan

sistem computer dan dikembangkan berdasarkan pada format-format laporan

yang ada di SP2TP. Pengembangan SIK Puskesmas bertujuan untuk

menghasilkan sistem yang mampu memberikan informasi yang dibutuhkan

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 7


8

bagi klien/pasien, petugas pelayanan, Puskesmas dan Dinas Kesehatan yang

berbasis teknologi informasi. Data dan informasi yang akurat dari Puskesmas

menjadi sumber pengambilan keputusan untuk kebijakan daerah dan pusat.

Di masa yang akan datang, Puskesmas dituntut berperan dalam pemanfaatan

teknologi informasi terkait upaya peningkatan pelayanan kesehatan secara

komprehensif dan terpadu.

Teknologi Informasi (TI) yang terus berkembang mendorong Dinas

Kesehatan di daerah melakukan pengelolaan dan pengembangan SIK sesuai

dengan kemampuan masing-masing. Pemerintah Daerah mengembangkan

sistem informasi yang dapat mengintegrasikan dan memfasilitasi proses

pengumpulan data dan pengolahan data sehingga dapat mendukung peranan

system informasi dalam pelayanan kesehatan (Pusat Data dan Informasi,

2011).

Proses pengelolaan data/informasi kesehatan memerlukan standar.

Standar data/informasi di Indonesia, baik standar proses pengelolaan

informasi kesehatan maupun teknologi yang digunakan, belum memadai.

Akses dan sumber daya kesehatan juga tidak merata, lebih banyak dimiliki

oleh daerah-daerah tertentu, terutama di pulau Jawa. Akibatnya setiap

institusi kesehatan mulai dari Puskesmas, rumah sakit, hingga ke dinas

kesehatan kabupaten/kota dan provinsi menerapkan sistem informasi

menurut kebutuhan masing-masing. Hal ini menjadikan sistem yang

digunakan berbeda-beda dan sulit untuk disatukan. Selain itu, kepemilikan

dan keamanan data yang dipertukarkan menjadi penghalang untuk

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 8


9

menyediakan data yang bisa diakses oleh pihak yang membutuhkan (Pusat

Data dan Informasi, 2011).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang dikaji

dalam makalah ini yaitu sebagai berikut :

1. Apakah yang dimaksud dengan SIKDA?

2. Apakah manfaat SIKDA?

3. Bagaimanakah arah dan strategi pengembangan SIKDA di Indonesia?

4. Bagaimanakah golongan sistem kesehatan di Indonesia?

5. Apakah penyebab sulitnya mewujudkan pertukaran data kesehatan

daerah?

6. Bagaimanakah model pengelolaan sistem informasi kesehatan?

7. Bagaimanakah ruang lingkup SIKDA?


C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian Sistem Informasi Kesehatan Daerah.

2. Untuk mengetahui manfaat SIKDA.

3. Pembaca dapat mengetahui arah dan strategi pengembangan SIKDA di

Indonesia.

4. Untuk mengetahui golongan sistem kesehatan di Indonesia.

5. Pembaca dapat mengetahui penyebab sulitnya mewujudkan pertukaran

data kesehatan daerah.

6. Untuk mengetahui model pengelolaan sistem informasi kesehatan.

7. Untuk mengetahui ruang lingkup SIKDA.

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 9


10

D. Manfaat Penulisan

Manfaat dari penulisan makalah ini adalah:

1. Memberikan pengetahuan yang baru tentang Sistem Informasi Kesehatan

Daerah (SIKDA).

2. Mampu memahamai pola berpikir yang ilmiah.

3. Membantu mahasiswa dalam menyelesaikan suatu pokok bahasan, dalam

hal ini tentang Advokasi.

4. Dapat mendapatkan informasi baru tentang pengertian SIKDA, Manfaat,

serta ruang lingkup SIKDA.

5. Membantu mahasiswa agar lebih kritis dan kreatif.

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 10


11

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA)

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) adalah mencakup

subsistem informasi yang dikembangkan di unit pelayanan kesehatan

(Puskesmas, RS, Poliklinik, Praktek Swasta, Apotek, Laboratorium), sistem

informasi untuk Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dan sistem informasi

untuk Dinas Kesehatan Propinsi. Aplikasi SIKDA Generik adalah aplikasi

sistem informasi kesehatan daerah yang berlaku secara nasional yang

menghubungkan secara online dan terintegrasi seluruh puskesmas, rumah

sakit, dan sarana kesehatan lainnya, baik itu milik pemerintah maupun swasta,

dinas kesehatan kabupaten/kota, dinas kesehatan provinsi, dan Kementerian

Kesehatan.

Aplikasi SIKDA Generik dikembangkan dalam rangka meningkatkan

pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan serta meningkatkan

ketersediaan dan kualitas data dan informasi manajemen kesehatan melalui

pemanfaatan teknologi informasi komunikasi. Pemanfaatan teknologi

informasi komunikasi di lingkungan Kementerian Kesehatan sudah dimulai

sejak dekade delapan puluhan. Pada masa itu Departemen Kesehatan RI

melalui Pusat Data Kesehatan (PUSDAKES) memanfaatkan teknologi

informasi dengan system Electronic Data Processing (EDP) namun hal ini

baru diterapkan di tingkat pusat. Komitmen bersama antar pemimpin

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 11


12

birokrasi bidang kesehatan untuk mendayagunakan teknologi informasi dan

komunikasi dalam pengambilan keputusan dan kebijakan, baik di

kabupaten/kota, provinsi, dan pusat menemui berbagai kendala dan hambatan

termasuk kurangnya dana dan tidak adanya payung hukum (PP) membuat

SIK kurang optimal dan belum berdaya guna.

Pada era sembilan puluhan Departemen Kesehatan telah

mengembangkan Sistem Informasi Puskesmas (SP2TP), Sistem Informasi

Rumah Sakit, Sistem Surveilans Penyakit bahkan Sistem Informasi Penelitian

& Pengembangan Kesehatan. Namun masing-masing sistem tersebut belum

terintegrasi dengan baik dan sempurna. Pada tahun 2002 Menteri Kesehatan

mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan No.511 tentang Kebijakan &

Strategi Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS) dan Kepmenkes

No.932 tentang Petunjuk Pelaksanaan &Strategi Sistem Informasi Kesehatan

Nasional (SIKNAS) dan Kepmenkes No.932 tentang Petunjuk Pelaksanaan

Pengembangan Sistem Informasi Daerah (SIKDA).

SIKDA Generik merupakan Sistem Informasi Kesehatan Daerah yang

dirancang untuk dapat memenuhi berbagai persyaratan minimum yang

dibutuhkan dalam kegiatan pengelolaan informasi kesehatan daerah, mulai

dari proses pengumpulan, pencatatan, pengolahan, sampai dengan distribusi

Informasi Kesehatan. SIKDA Generik ini dirancang untuk menjadi standar

bagi Pemerintah Daerah dalam pengelolaan informasi kesehatan di daerah,

meliputi pelaksana kesehatan yang ada didalamnya yaitu Puskesmas, Dinas

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 12


13

Kesehatan Kab/Kota dan Dinas Kesehatan Propinsi. Sehingga SIKDA

Generik terbagi menjadi beberapa sub system sebagai berikut :

1. Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS)

2. Sistem Informasi Manajemen Dinas Kesehatan (SIM DINKES)

Sub Sistem Informasi di Puskesmas memiliki tanggung jawab untuk

melaksanakan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

1. mencatat dan mengumpulkan data baik kegiatan dalam gedung

maupun luar gedung

2. mengolah data

3. membuat laporan berkala ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

4. memelihara BANK DATA

5. mengupayakan penggunaan data dan informasi untuk manajemen

pasien dan manajemen unit Puskesmas, serta

6. memberikan pelayanan data dan informasi kepada masyarakat dan

pihak-pihak berkepentingan lainnya (stakeholders) di wilayah

kerjanya.

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 13


14

B. Manfaat Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA)

Manfaat SIKDA elektronik dalam hal adminisntrasi, manfaat tersebut

dapat dirasakan baik oleh masyarakat secara langsung maupun oleh petugas

sebagai penyelenggara kesehatan, karena waktu tunggu pasien berkurang,

alur lebih jelas, dan mengurangi beban administrasi petugas kesehatan

sehingga pelayanan menjadi lebih efektif dan efisien.

SIKDA seharusnya bertujuan mendukung SIKNAS, namun dengan

terjadinya desentralisasi sector kesehatan ternyata mempunyai dampak

negative. Terjadi kemunduran dalam pelaksanaan sistem informasi kesehatan

secara nasional, seperti menurunnya kelengkapan dan ketepatan waktu

penyampaian data SP2TP/SIMPUS, SP2RS dan profil kesehatan.Dengan

desentralisasi, pengembangan sistem informasi kesehatan daerah merupakan

tanggung jawab pemerintah daerah. Akibat keadaan tersebut, data yang

dihasilkan dari masing masing daerah tidak seragam, ada yang tidak lengkap

dan ada data variable yang sama dalam sistem informasi satu program

kesehatan berada dengan di sistem informasi program kesehatan lainnya.

Maka validitas dan akurasi data diragukan, apalagi jika verifikasi data tidak

terlaksana.

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 14


15

C. Strategi dan Arah Kebijakan Pengembangan SIKDA di Indonesia

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) di Kabupaten/kota adalah

sebagai bagian sub sistem SIKDA yang ada di provinsi, sedangkan SIKDA

yang ada di provinsi adalah bagian sub sistem Informasi Kesehatan Nasional

(SIKNAS).

SIKDA seharusnya bertujuan mendukung SIKNAS, namun dengan

terjadinya desentralisasi sector kesehatan ternyata mempunyai dampak

negative. Terjadi kemunduran dalam pelaksanaan sistem informasi kesehatan

secara nasional, seperti menurunnya kelengkapan dan ketepatan waktu

penyampaian data SP2TP/SIMPUS, SP2RS dan profil kesehatan.Dengan

desentralisasi, pengembangan sistem informasi kesehatan daerah merupakan

tanggung jawab pemerintah daerah. Akibat keadaan tersebut, data yang

dihasilkan dari masing masing daerah tidak seragam, ada yang tidak lengkap

dan ada data variable yang sama dalam sistem informasi satu program

kesehatan berada dengan di sistem informasi program kesehatan lainnya.

Maka validitas dan akurasi data diragukan, apalagi jika verifikasi data tidak

terlaksana.

Selain di daerah, di lingkungan Kementerian Kesehatan pun belum

tersusun satu sistem informasi yang standar sehingga masing-masing program

membangun sistem informasinya masing-masing dengan sumber data dari

kabupaten/kota/provinsi. Akibat keadaan di atas, data yang dihasilkan dari

masingmasing daerah tidak seragam, ada yang tidak lengkap dan ada data

variabel yang sama dalam sistem informasi satu program kesehatan berbeda

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 15


16

dengan di sistem informasi program kesehatan lainnya. Maka validitas dan

akurasi data diragukan, apalagi jika verifikasi data tidak terlaksana. Ditambah

dengan lambatnya pengiriman data, baik ke Dinas Kesehatan maupun ke

Kementerian Kesehatan, mengakibatkan informasi yang diterima sudah

tidak up to date lagi dan proses pengolahan dan analisis data terhambat. Pada

akhirnya para pengambil keputusan/ pemangku kepentingan mengambil

keputusan dan kebijakan kesehatan tidak berdasarkan data yang akurat.

D. Golongan Sistem Kesehatan di Indonesia

Sistem kesehatan di Indonesia dapat dikelompokkan dalam beberapa

tingkat sebagai berikut:

1. Tingkat Kabupaten/Kota, dimana terdapat puskesmas dan pelayanan

kesehatan dasar lainnya, dinas kesehatan kabupaten/kota, instalasi

farmasi kabupaten/ kota, rumah sakit kabupaten/kota, serta pelayanan

kesehatan rujukan primer lainnya.

2. Tingkat Provinsi, dimana terdapat dinas kesehatan provinsi, rumah sakit

provinsi, dan pelayanan kesehatan rujukan sekunder lainnya.

3. Tingkat Pusat, dimana terdapat Departemen Kesehatan, Rumah Sakit

Pusat, dan Pelayanan kesehatan rujukan tersier lainnya.

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 16


17

E. Penyebab Sulitnya Mewujudkan Pertukaran Data Kesehatan Daerah

Penyebab sulitnya mewujudkan pertukaran data kesehatan daerah yaitu:

1). Penggunaan platform perangkat keras dan perangkat lunak yang berbeda-

beda di setiap daerah.

2). Arsitektur dan bentuk penyimpanan data yang berbeda -beda

3). Kultur kepemilikan data yang kuat dan possessive

4). Kekhawatiran akan masalah keamanan data

F. Model Pengelolaan Sistem Informasi Kesehatan

Pada saat ini di Indonesia terdapat 3 (tiga) model pengelolaan SIK, yaitu:

1. Pengelolaan SIK manual

Pengelolaan informasi di fasilitas pelayanan kesehatan dilakukan secara

manual atau paper based melalui proses pencatatan pada buku register,

kartu, formulir-formulir khusus, mulai dari proses pendaftaran sampai

denganpembuatan laporan. Hal ini terjadi oleh karena adanya

keterbatasan infrastruktur, dana, dan lokasi tempat pelayanan kesehatan

itu berada. Pengelolaan secara manual selain tidak efisien juga

menghambat dalam proses pengambilan keputusan manajemen dan

proses pelaporan.

2. Pengelolaan SIK Komputerisasi offline

Pada jenis ini, pengelolaan informasi di pelayanan kesehatan sebagian

besar sudah dilakukan dengan menggunakan perangkat komputer, baik

itu dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Manajemen (SIM)

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 17


18

maupun dengan aplikasi perkantoran elektronik biasa, namun masih

belum didukung oleh jaringan internet online ke dinas kesehatan

kabupaten/kota dan provinsi/bank data kesehatan nasional.

3. Pengelolaan SIK Komputerisasi online

Pada jenis ini, pengelolaan informasi di pelayanan kesehatan

sebagian besar sudah dilakukan dengan menggunakan perangkat

komputer, baik itu dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi

Manajemen (SIM) dan sudah terhubung secara online melalui jaringan

internet ke dinas kesehatan kabupaten/kota dan provinsi/bank data

kesehatan nasional untuk memudahkan dalam komunikasi dan

sinkronisasi data. Dalam proses pengelolaan data/informasi kesehatan di

Indonesia, standar-standar yang dibutuhkan, baik standar proses

pengelolaan informasi eksehatan maupun teknologi yang digunakan,

belum memadai.

Akses dan sumber daya kesehatan juga tidak merata, lebih banyak

dimiliki oleh daerah-daerah tertentu, terutama di pulau Jawa. Akibatnya

setiap institusi kesehatan mulai dari puskesmas, rumah sakit, hingga ke

dinas kesehatan kabupaten/kota dan provinsi menerapkan sistem

informasi menurut kebutuhan masing-masing. Hal ini menjadikan sistem

yang digunakan berbeda-beda dan sulit untuk disatukan. Selain itu,

kepemilikan dan keamanan data yang dipertukarkan menjadi penghalang

untuk menyediakan data yang bisa diakses oleh pihak yang

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 18


19

membutuhkan. Penyebab sulitnya mewujudkan pertukaran data

kesehatan di Indonesia yaitu:

1. Penggunaan platform perangkat keras dan perangkat lunak yang

berbeda-beda di setiap daerah.

2. Arsitektur dan bentuk penyimpanan data yang berbeda-beda.

3. Kultur kepemilikan data yang kuat dan possessive.

4. Kekhawatiran akan masalah keamanan data.

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 19


20

G. Ruang Lingkup

Ruang lingkup dan interaksi dari berbagai komponen dalam SIKDA

Generik dapat dilihat dalam bagan berikut:

Gambar1: Ruang Lingkup SIKDA Generik

Gambar 2: Model SIKDA Generik

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 20


21

Keterangan:

1. Fasilitas/institusi kesehatan yang masih manual/paper based, data

dientri di computer entry station Generik yang ada di kantor dinas

kesehatan kab/kota. Data yang dientri bisa berbentuk data

individual maupun agregat. Khusus untuk data puskesmas, data

dientri melalui Sub Sistem SIM Puskesmas pada SIKDA Generik

sehingga data yang diinput adalah data pasien secara individual.

2. Puskesmas yang telah memiliki perangkat komputer tetapi belum

menggunakan aplikasi SIMPUS dapat menggunakan aplikasi

SIKDA Generik, yang terhubung ke database lokal di puskesmas

tersebut atau langsung terhubung ke database SIKDA Generik di

Server SIKDA Generik yang ditempatkan di Kantor Dinkes

kab/Kota melalui jaringan internet online.

3. Puskesmas, rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya

yang sudah menggunakan komputer ataupun aplikasi sistem

informasi manajemen lainnya, dapat melakukan

eksport/sinkronisasi/migrasi file data base secara online melalui

internet melalui Sub Sistem Komunikasi Data pada SIKDA

Generik.

4. Setiap pemangku kepentingan dapat mengakses informasi

kesehatan pada SIKDA Generik melalui Sub Sistem Executive

Information Dashboard, yang berisi indikator-indikator kesehatan

kab/kota yang merupakan rangkuman dari data-data puskesmas,

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 21


22

rumah sakit, dan instalasi farmasi kab/kota. Laporan/informasi

disajikan secara ringkas dalam bentuk grafik, tabel, maupun

statistik, dengan berbagai kriteria yang dapat ditentukan sesuai

keinginan pengguna.

Komunikasi data

Sesuai dengan tujuan dikembangkannya SIKDA Generik, yaitu

untuk membangun suatu database kesehatan Indonesia yang

komprehensif, SIKDA Generik harus mampu menghimpun, mengolah

dan mendistribusikan semua data kesehatan dari berbagai pelaksana

kesehatan di Indonesia, baik pelaksana kesehatan yang telah memiliki

sistem informasi elektronik maupun masih paper based. Dengan

berbagai sistem pengelolaan informasi yang berbeda-beda, maka

SIKDA Generik dituntut untuk dapat berkomunikasi secara interaktif,

memiliki kemampuan interoperabilitas yang tinggi, sehingga dapat

berkomunikasi dan melakukan pertukaran data kesehatan dengan sistem

lainnya yang sudah berjalan.

Kemampuan interoperabilitas adalah kemampuan sistem untuk

saling tukar menukar data atau informasi dan saling dapat

mempergunakan data atau informasi tersebut. Interoperabilitas bukan

berarti penentuan atau penyamaan penggunaan platform perangkat

keras, atau perangkat lunak semisal operating system tertentu, bukan

pula berarti penentuan atau penyeragaman database. Namun berupa

penyamaan format pertukaran data yang digunakan, misalnya dengan

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 22


23

menggunakan format data dalam bentuk data base SQL, Access, Excell,

maupun dalam format XML.

Format Data

Ada beberapa bentuk format standar yang dapat digunakan untuk

melakukan pertukaran data, yang umum digunakan adalah XML. XML

atau eXtensible Markup Language merupakan format data yang sering

digunakan dalam dunia world wide web. XML terdiri atas sekumpulan

tag yang terdiri dari data. Satu set data dalam XML dimulai dengan tag

pembuka dan diakhiri dengan tag penutup. XML adalah sebuah format

dokumen yang mampu menjelaskan struktur dan semantik (makna) dari

data yang dikandung oleh dokumen tersebut.

Berbeda dengan HTML yang lebih berorientasi pada tampilan

(appearance), XML lebih fokus pada substansi data, sehingga lebih

cocok digunakan sebagai media pertukaran data. Kelebihan XML

dibandingkan format teks biasa adalah struktur data yang ditransfer

tidak hilang, demikian juga deskripsi tentang semantik datanya.

Dengan karakteristik demikian XML telah menjadi standar de-facto

bagi pertukaran data antar aplikasi komputer. Spesifikasi format telah

distandarkan untuk menjadi referensi yang sama bagi tiap aplikasi

komputer yang memerlukan.

Konten Data

Selain format data, konten data yang dipertukarkan juga harus

seragam, misalnya dalam penulisan kode dan penamaan variabel data

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 23


24

dan definisi operasionalnya, sehingga pada saat proses import dan

eksport data, semua data dapat tersinkronisasi dengan baik dan lengkap

serta sesuai dengan yang diinginkan. Misalnya dalam proses

sinkronisasi data individu pasien puskesmas, mulai dari penomoran

rekam medik pasien, kode jenis kunjungan, nama poliklinik, kode dan

penamaan penyakit, kode obat dan atributnya, sampai dengan jenis

tenaga kesehatan yang menangani pasien tersebut, harus mengikuti

aturan yang telah ditetapkan. Contoh variable data dan aturan

penomoran/penulisan seperti yang ditunjukan pada tabel 9.1.

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 24


25

Tabel 9.1: Contoh variable data dan aturan penomoran/penulisan

Desain Sistem

Berdasarkan ruang lingkup Sistem Kesehatan Daerah, maka

SIKDA Generik dirancang mengikuti komponen pelaksana kesehatan

yang ada didalamnya yaitu Puskesmas, Dinas Kesehatan Kab/Kota dan

Provinsi. Sehingga SIKDA Generik terbagi menjadi beberapa subsistem

sebagai berikut:

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 25


26

a. Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIM Puskesmas)

b. Sistem Informasi Manajemen Dinas Kesehatan (SIM Dinkes)

c. Sistem Informasi Eksekutif

d. Sistem Komunikasi Data

1. Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIM Puskesmas)

Aplikasi SIM Puskesmas digunakan di puskesmas dalam

kegiatan pencatatan berbagai kegiatan pelayanan, baik itu kegiatan

dalam gedung maupun kegiatan luar gedung, dan dapat dilakukan

koneksi data base secara oline melalui jaringan internet ke Server

SIKDA Generik di dinas kesehatan, maupun ke database lokal yang

ada di puskesmas. Kegiatan puskesmas yang mampu ditangani oleh

SIM Puskesmas adalah:

a. Pengelolaan informasi riwayat medis pasien per individu.

b. Pengelolaan informasi kunjungan pasien ke puskesmas.

c. Pengelolaan informasi kegiatan pelayanan kesehatan dalam

gedung, meliputi:

1) Pelayanan rawat jalan (poliklinik umum, gigi, KIA,

imunisasi, dll)

2) Pelayanan UGD

3) Pelayanan rawat inap

d. Pengelolaan informasi pemakaian dan permintaan obat/farmasi

di puskesmas, pos obat desa, pos UKK.

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 26


27

e. Pengelolaan informasi tenaga kesehatan puskesmas

f. Pengelolaan informasi sarana dan peralatan (inventaris)

puskesmas

g. Pengelolaan informasi kegiatan luar gedung yang meliputi:

1) Kegiatan puskesmas pembantu, puskesmas keliling, bidan

desa, posyandu, polindes, poskesdes, poskestren.

2) Pengelolaan informasi pembiayaan kesehatan masyarakat

dan keuangan puskesmas

3) Pengelolaan informasi gizi masyarakat

4) Pengelolaan informasi surveilans (pengendalian penyakit)

5) Pengelolaan informasi promosi kesehatan

6) Pengelolaan informasi kesehatan lingkungan

h. Pengelolaan pelaporan internal dan ekternal.

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 27


28

2. Sistem Informasi Manajemen Dinas Kesehatan (SIM Dinkes)

Aplikasi ini berfungsi untuk menangani pencatatan dan

pengelolaan data yang berasal dari:

a. Pengelolaan data puskesmas, berfungsi untuk mencatat dan

mengelola data manual dari puskesmas yang ada dalam

wilayah kerja dinkes kabupaten/kota, yang bersifat agregat.

b. Pengelolaan data rumah sakit tingkat kabupaten/kota, berfungsi

untuk mengentri data manual yang berasal dari rumah sakit,

baik pemerintah maupun swasta, yang berada dalam wilayah

kerja dinkes kabupaten/kota yang bersifat agregat.

c. Pengelolaan data rumah sakit tingkat provinsi, berfungsi untuk

mengentri data manual yang berasal dari rumah sakit, baik

pemerintah maupun swasta, yang berada dalam wilayah kerja

dinkes provinsi yang bersifat agregat.

d. Pengelolaan data apotek/instalasi farmasi, berfungsi untuk

mencatat dan mengelola data manual yang berasal dari

apotek/instalasi farmasi baik pemerintah maupun swasta, yang

berada dalam wilayah kerja dinkes kabupaten/kota, yang

bersifat agregat.

e. Pengelolaan data penunjang, berfungsi untuk mencatat dan

mengelola data manual, yang bersifat agregat, yang berasal

dari laboratorium/radiologi/fasilitas penunjang lainnya, baik itu

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 28


29

milik pemerintah maupun swasta yang berada dalam wilayah

kerja dinkes kabupaten/kota.

f. Pengelolaan data kesehatan lainnya, yang berfungsi untuk

mencatat dan mengelola data kesehatan yang berasal dari

fasilitas kesehatan selain puskesmas, rumah sakit,

apotek/instalasi farmasi, dan laboratorium penunjang, yang

berada dalam wilayah kerja dinas kesehatan, misalnya dari

lembaga lintas sektor (institusi non kesehatan), praktik dokter

dan klinik, lembaga survei, dan organisasi kesehatan lainnya,

yang berada dalam wilayah kerja dinas kesehatan.

g. Pengelolaan data SDM, yang berfungsi untuk mencatat dan

mengelola data SDM kesehatan di kabupaten/kota/provinsi.

Pengelolaan data aset, berfungsi untuk mencatat dan mengelola

data aset pada dinkes kabupaten/kota dan dinkes Provinsi.

Pada SIM Dinkes, data yang dientri bersifat agregat.

3. Sistem Informasi Eksekutif

Sistem Informasi Eksekutif, berfungsi untuk menampilkan

profil kesehatan daerah, yang di dalamnya berisi indikator

kesehatan daerah yang merupakan rangkuman dari data- data

pusk\esmas, rumah sakit, dan gudang farmasi kabupaten/kota.

Informasi disajikan secara ringkas dalam bentuk grafik, tabel,

maupun statistik, yang dapat diakses oleh jajaran pimpinan

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 29


30

misalnya bupati, gubernur, kepala dinas kesehatan, dan pemangku

kepentingan lainnya.

4. Sistem Komunikasi Data Kesehatan

Sistem Komunikasi Data Kesehatan, berfungsi untuk

menangani proses sinkronisasi/ migrasi data yang berbentuk soft

copy yang berasal dari dinas kesehatan kabupaten/kota, puskesmas,

rumah sakit, laboratorium, apotek/farmasi, dan institusi kesehatan

lainnya yang telah menggunakan perangkat komputer, aplikasi

sistem informasi manajemen dan telah terhubung secara online

melalui jaringan internet ke database SIKDA Generik dalam proses

pengelolaan data. Jenis data yang dikomunikasikan adalah sebagai

berikut :

1. Data umum fasilitas pelayanan kesehatan

2. Data pasien baru

3. Data kunjungan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan

4. Data morbiditas

5. Data pengelolaan obat dan alat kesehatan

6. Data pengelolaan sarana dan prasarana fasilitas pelayanan

kesehatan

7. Data pengelolaan tenaga kesehatan dan non kesehatan

8. Data statistik daerah

Dalam rangka penyelenggaraan SIK di tingkat Kabupaten/Kota perlu

juga dibentuk Tim SIKDA. Tim SIKDA terdiri dari:

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 30


31

1. Penanggung jawab: Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

2. Koordinator: Pejabat Eselon III yang bertanggung jawab terhadap

data dan informasi

3. Sekretaris: Pejabat Eselon IV yang bertanggung jawab terhadap

data dan informasi

4. Anggota: Semua pemangku kepentingan di tingkat

kabupaten/kota

H. Tantangan dalam penerapan SIKDA Generik

Di Indonesia terdapat 138 kabupaten/kota (kondisi tahun 2009/2010)

yang termasuk daerah bermasalah kesehatan (DBK) dan/atau daerah

terpencil, perbatasan dan kepulauan (DTPK) yang pada umumnya merupakan

daerah yang masih kurang dalam ketersediaan infrastrukur dan SDM. Hal ini

menjadi suatu tantangan dan perlu persiapan dan perencanaan khusus dalam

penerapan SIKDA Generik di daerah-daerah tersebut. Oleh karena itu untuk

penerapan SIKDA Generik dan pengembangan SIK secara umum, telah

diupayakan penyediaan sebagian kebutuhan dana dari Global Fund. Persiapan

dan perencanaan tersebut digunakan untuk:

1. Pengadaan hardware, pengiriman dan instalasi (USD 952,531 1.10

dana GF)

2. Sub-contract penerapan di lapangan (USD 2,331,000 1.09 dana GF)

a. 1 vendor 1 wilayah atau 1 vendor untuk semua

b. Vendor harus mempunyai:

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 31


32

1 tim di setiap kabupaten

Training classroom (ruang pelatihan)

Rotasi Pendampingan rutin (1 hari kunjungan ke puskesmas

setiap minggu)

3. Manajemen proyek SIKDA (oleh Pusdatin)

a. Vendor Performance

b. Contract Manajemen

Perlu dipikirkan pula adanya kabupaten/kota atau puskesmas yang sudah

menerapkan SIK komputerisasi online dan telah memiliki bank data yang

telah terisi data. Untuk daerah tersebut harus terus diberikan dorongan dan

monitoring, serta disediakan koneksi agar data yang ada dapat masuk ke bank

data nasional. Untuk program kesehatan yang selama ini telah memiliki

sistem informasi yang terpisah-pisah, perlu dilakukan advokasi agar sejalan

dengan penerapan SIKDA Generik, sistem informasi program-program yang

terpisah mulai diakhiri. Dengan demikian akan mengurangi fragmentasi.

Dalam pengembangan aplikasi biasanya menggunakan jasa pihak ketiga

(vendor), Mengingat SIK dikembangkan menuju ke sistem komputerisasi

online, perlu adanya jaminan interoperabilitas dan konektivitas dari aplikasi

yang dikembangkan. Oleh karena itu perlu dilakukan kegiatan semacam

connectathon. Connectathon adalah kegiatan untuk menguji interoperabilitas

dan konektivitas dari suatu sistem teknologi informasi, mengikuti spesifikasi

yang telah ditentukan oleh IHE (Integrating the Healthcare Enterprise,

inisiatif bersama dari profesional kesehatan dan industry untuk meningkatkan

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 32


33

metode sistem komputer dalam berbagi informasi kesehatan) a joint initiative

of healthcare professionals and industry to improve the way computer

systems in healthcare share information.

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 33


34

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Saat ini sedang dikembangkan SIKDA Generik, yaitu aplikasi sistem

informasi kesehatandaerah yang berlaku secara nasional yang

menghubungkan secara online dan terintegrasi seluruh puskesmas, rumah

sakit, dan sarana kesehatan lainnya, baik itu milik pemerintah maupun

swasta, dinas kesehatan kabupaten/kota, Dinas Kesehatan Provinsi, dan

Kementerian Kesehatan.

Aplikasi SIKDA Generik dikembangkan untuk menindaklanjuti

permasalahan SIK di Indonesia yang belum mampu mendukung

penetapan kebijakan serta kebutuhan pemangku kebijakan.

Aplikasi SIKDA Generik dikembangkan dalam rangka meningkatkan

pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan serta meningkatkan

ketersediaan dan kualitas data dan informasi manajemen kesehatan

melalui pemanfaatan teknologi informasi komunikasi.

SIKDA Generik terbagi menjadi beberapa sub sistem sebagai berikut:

Sistem Informasi Manajemen Puskesmas

Sistem Informasi Manajemen Dinas Kesehatan

Sistem Informasi Eksekutif

Sistem Komunikasi Data

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 34


35

Penerapan SIKDA Generik:

1) Penyediaan koneksi agar data yang ada di kabupaten/kota atau

puskesmas yang sudah menerapkan SIK komputerisasi online dan

telah memiliki bank data yang telah terisi data dapat masuk ke bank

data nasional.

2) Advokasi untuk program kesehatan yang selama ini telah memiliki

sistem informasi yang terpisah-pisah, agar mulai diakhiri sejalan

dengan penerapan SIKDA Generik, untuk mengurangi fragmentasi.

3) Connecthathon untuk menguji interoperabilitas dan konektivitas dari

aplikasi yang dikembangkan

B. SARAN

Dengan adanya makalah ini tentang Sistem Informasi Kesehatan Daerah

(SIKDA), kami selaku kelompok 3 berharap pembaca selain memberikan

pengetahuan yang baru tentang SIKDA dan bentuk-bentuknya juga dapat

lebih memahami secara mendalam mengenai materi ini dan dapat

mempraktikkannya ke dalam kehidupannya.

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 35


36

DAFTAR PUSTAKA

Isnawati, dkk., 2016. Implementasi Aplikasi Sistem Informasi Kesehatan


Daerah (Sikda) Generik Di Upt. Puskesmas Gambut Kabupaten Banjar.
Vol. 1, No. 1, April 2016.

Ramadhan, Rizky. 2014. SIKDA (Sistem Informasi Kesehatan Daerah).


Diakses pada tanggal 15 April 2017.
http://www.rizkyfkm.ml/2014/01/sikda-sistem-informasi-kesehatan-
daerah.html?m=1.

Riana, Eka. 2015. Sikda Generik. Diakses pada tanggal 15 April 2017.
http://sisteminformasikesehatanbidan.blogspot.co.id/2015/10/sikda-
generik.html?m=1.

Toeng. 2012. Makalah Informasi Farmasi (SIKDA). Diakses pada tanggal 15


April 2017. http://toeng-toengapt.blogspot.co.id/2012/05/makalah-
informatika-farmasi.html?m=1.

KementerianKesehatan RI, Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 46


Tahun 2014 tentang Sistem Informasi Kesehatan, Jakarta, 2014.

KementerianKesehatan RI, Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 75


Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat, Jakarta, 2014.

Depkes RI, Peraturan Menkes RI No.511 tahun 2007 tentang Kebijakan dan
Strategi Pengembangan SIK Nasional (SIKNAS) 2007.

Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) | 36