Anda di halaman 1dari 17

See

discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/281245803

WAVE PROPAGATION AND RESIDUAL


CURRENT OF TIDE IN MAYALIBIT BAY: 2D
HYDRODYNAMICS MODEL OF TIDE

Article July 2015

CITATIONS READS

0 473

8 authors, including:

Asep Sandra Budiman Alan Frendy Koropitan


Indonesian Institute of Sciences Bogor Agricultural University
2 PUBLICATIONS 0 CITATIONS 27 PUBLICATIONS 34 CITATIONS

SEE PROFILE SEE PROFILE

I Wayan Nurjaya
Bogor Agricultural University
53 PUBLICATIONS 58 CITATIONS

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Coastal Vulnerability View project

Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan View project

All content following this page was uploaded by I Wayan Nurjaya on 26 August 2015.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 7, No. 1, Hlm. 157-172, Juni 2015

PERAMBATAN GELOMBANG DAN ARUS RESIDU PASANG SURUT TELUK


MAYALIBIT: MODEL HIDRODINAMIKA PASANG SURUT 2D

WAVE PROPAGATION AND RESIDUAL CURRENT OF TIDE IN MAYALIBIT BAY:


2D HYDRODYNAMICS MODEL OF TIDE

Asep Sandra Budiman1*, Alan F. Koropitan2, dan I Wayan Nurjaya2


1
Program Studi Ilmu Kelautan, Sekolah Pascasarjana IPB, Bogor
*
E-mail: assandra81@gmail.com
2
Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB, Bogor

ABSTRACT
Study on tidal waves and residual currents in Mayalibit Bay was conducted by constructing the 2D
numerical hydrodynamics to find the characteristics of tide and residual currents inside the Bay. The
2D hydrodynamic equations with non-linier terms were solved by finite difference methods explicitly.
M2 and K1 wave propagations were observed and analyzed at 25 observation points. M2 and K1
residual currents were obtained and described spatially. Simulation results of tidal currents were
validated with field measurements. The validation result showed that the tidal currents between the
model results and field measurements were quite fit. Generally, simulation results showed the
significant differences between the tide inside and outside the Bay. This was strongly explained by the
simulation results of M2 and K1 wave propagations. The M2 and K1 amplitudes were 10 times lower
inside than outside the Bay with the phase lags of about 180(M2) and 160(K1). This result indicated
that the tide inside and outside the Bay were in the opposite conditions. The tide had an ebb inside
while the flood was outside and vice versa. M2 residual currents was flowed into the Bay uniformly,
while K1 residual currents flowed out to the open sea in the Northern part and it flowed into the Bay
in the Southern part of the Bay. Eventually, both of them converged in the middle of the Bay.

Keywords: tide, tide-induced residual current, numerical method

ABSTRAK
Studi dinamika massa air terkait pasut dan arus residu pasut di Teluk Mayalibit telah dilakukan dengan
membangun sebuah model hidrodinamika 2D untuk mengetahui karakteristik pasut dan arus residu di
dalam teluk. Persamaan Hidrodinamika 2D dengan suku non-liniernya diselesaikan secara eksplisit
melalui metode beda hingga (finite difference). Perambatan gelombang M2 dan K1 diamati dan
dianalisis di 25 titik pengamatan. Arus residu M2 dan K1 ditentukan dan digambarkan secara spasial.
Validasi model dilakukan terhadap arus pasut. Hasil validasi menunjukkan bahwa arus pasut antara
hasil model dan pengukuran sudah cukup bersesuaian, baik amplitudo maupun fasanya. Secara
umum, hasil simulasi menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pasang surut di
dalam dan di luar teluk. Hal ini diperkuat dengan hasil simulasi perambatan gelombang pasut M2 dan
K1. Amplitudo M2 dan K1 10 kali lebih rendah di dalam teluk dengan keterlambatan fasa sebesar
180(M2) dan 160(K1). Hasil simulasi model menunjukkan bahwa pasut di dalam dan di luar teluk
berada pada kondisi yang berkebalikan dimana kondisi pasut di dalam teluk akan surut ketika di luar
pasang dan begitupun sebaliknya. Arus residu M2 bergerak ke dalam teluk dengan pola yang seragam
sementara arus residu K1 mengalir ke luar menuju laut terbuka di bagian Utara namun mengalir
masuk ke dalam teluk di bagian Selatan. Namun, pada akhirnya keduanya bertemu di bagian tengah
teluk.

Kata kunci: pasut, arus residu pasut, metode numeric

@Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia dan


Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK-IPB 157
Perambatan Gelombang dan Arus Residu Pasang Surut Teluk . . .

I. PENDAHULUAN masih berupa kajian-kajian yang terpisah


atau tidak terintegrasi seperti penelitian me-
Teluk Mayalibit merupakan sebuah ngenai dinamika pasang surut Laut Jawa oleh
perairan semi-tertutup (hampir tertutup) di Yusuf and Yanagi (2013) melalui model 3D
tengah-tengah pulau Waigeo Kabupaten Raja COHERENS, kajian pola arus dan corange
Ampat, Provinsi Papua Barat yang berada di pasang surut Teluk Benete NTB (Pratama et
posisi koordinat antara 0,01-0,44LS dan al., 2012), dan model hidrodinamika pasang
130,53-131,25BT dengan luas total sekitar surut yang ada di Pulau Baai Bengkulu (Su-
4000 km2. Teluk ini dikelilingi oleh pantai- piyati, 2005). Penelitian-penelitian tersebut
pantai bertebing yang dicirikan dengan relief masih terpisah dan hanya menitikberatkan
sedang-tinggi, batu gamping putih, batuan pada satu aspek pembahasan, pasang surut
beku, basal, masif, dan keras dengan tinggi atau arus residunya saja. Penelitian yang le-
tebing 2-100 m serta kemiringan 20% sampai bih terintegrasi adalah seperti yang dilakukan
terjal (PEMKAB RA, 2006) dan terhubung oleh Fujiie et al. (2002) yang mengkaji pa-
langsung dengan perairan lepas melalui suatu sang surut, arus pasang surut, dan transpor
jalur yang panjang (38 km) dan sempit sedimen di teluk Manila melalui model hi-
(McKenna et al., 2012). drodinamika 2D dan 3D) sementara kajian
Kepulauan Raja Ampat menjadi se- serupa di perairan Teluk Mayalibit belum
buah kabupaten maritim otonom (kabupaten pernah dilakukan. Kajian mengenai sirkulasi
bahari) pada tahun 2003. Kondisi ini mem- massa air dalam kaitannya dengan arus re-
buka peluang untuk pengelolaan lokal yang sidu pasang-surut di Teluk Mayalibit diper-
lebih besar terhadap sumberdaya laut yang lukan untuk memberikan gambaran kemung-
kaya. Di sisi lain, pemanfaatan sumberdaya kinan pola sebaran atau fate dari materi,
alam yang tidak terkendali di daratan dapat polutan, atau zat-zat buangan bilamana ter-
berdampak negatif pada keberlanjutan eko- jadi pencemaran dimana informasinya sangat
sistem laut. Teluk Mayalibit sebagai bagian bermanfaat untuk pemerintah daerah setem-
dari wilayah perairan Raja Ampat mendapat pat agar dapat mengelola wilayah perairan ini
dampak terbesar dengan begitu banyaknya dengan baik. Salah satu metode yang dapat
kegiatan pembangunan di pesisir dan sifat digunakan adalah dengan aplikasi model
teluk yang dangkal dan juga semi tertutup numerik melalui pembangunan sebuah model
(Huffard et al., 2010). hidrodinamika pasang surut 2D. Penelitian
Pola arus yang sangat mempengaruhi ini bertujuan mengkaji perambatan gelom-
distribusi materi-materi di dalam kolom air, bang pasang surut dan arus residu pasang
khususnya arus residu pasang surut. Arus surut di Teluk Mayalibit, Kabupaten Raja
residu pasang surut memiliki peranan yang Ampat, Papua Barat.
sangat penting dalam proses dinamika estuari
dan pesisir (Van Manh and Yanagi, 2000). II. METODE PENELITIAN
Besar dan arah dari aliran arus residu pasang
surut akan menentukan pertukaran massa air 2.1. Waktu dan Tempat Penelitian
dan proses penyebaran serta pengendapan Wilayah kajian dan daerah model
dari berbagai materi, komposisi sedimen dan adalah perairan Teluk Mayalibit, Kabupaten
polutan di wilayah pesisir dan teluk dalam Raja Ampat, Papua yang secara geografis ter-
jangka panjang (Ramming and Kowalik, letak pada posisi koordinat antara 130,52-
1980). 131,25 BT dan 0,01 - 0,44 LS dengan luas
Penelitian mengenai perambatan ge- sebesar 4000 km2 (lebar) (Gambar 1). Pene-
lombang pasang surut dan arus residu di wi- litian yang meliputi pembangunan model dan
layah teluk dan perairan semi tertutup saat ini juga analisis yang dilakukan pada bulan
Maret - Mei 2014.

158 http://itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt71
Budiman et al.

Gambar 1. Wilayah kajian dan daerah model.

2.2. Data gaya friksi per unit massa (Ramming and


Posisi stasiun ditentukan dengan GPS Kowalik, 1980; Pond and Pickard, 1983;
GARMIN, arus untuk validasi model diukur Stewart, 2002). Persamaan hidrodinamika
dengan RCM-7 di koordinat 130,9163oBT diturunkan dari Hukum II Newton yang
dan 0,3109oLS dengan penambatan (moor- disebut hukum kekekalan momentum yang
ing) selama 20 jam selama EWIN P2O LIPI menyatakan bahwa perubahan momentum
tahun 2008. Penulisan program untuk pem- terhadap waktu sama dengan total gaya yang
bangunan model dan simulasi dilakukan di bekerja. Hukum ini dijabarkan dalam bentuk
PC OS Windows 7 dengan bahasa pem- persamaan Hidrodinamika 2D sebagai
rograman Fortran 90. Visualisasi output hasil berikut (Ramming and Kowalik, 1980):
model menggunakan Surfer 10 dan Matlab komponen-x:
R2007b. Data yang digunakan untuk masuk-
an model meliputi data batimetri dan pasang u u u 1 p 2u ...........(1)
+u +v = + fv + k 2 + Au
surut. Data batimetri menggunakan peta laut t x y x z
no. 477 tahun 1996 dan no.186 tahun 2001
kepulauan Raja Ampat yang dikeluarkan komponen-y:
DISHIDROS TNI AL. Pasang-surut meng-
gunakan data elevasi dari NAOTIDE/NAO. v v v 1 p 2v
+u +v = fu + k 2 + Av ...........(2)
99b (National Astronomical Observatory, t x y y z
Jepang) (Matsumoto et al., 2000). Suatu
model peramalan pasang surut global dengan dimana: = Laplace operator 2 dimensi
resolusi o x o dan merupakan data asimila-
si dari TOPEX/Poseidon selama 5 tahun de-
2 2
ngan 16 konstanta harmonik (M2, S2, K1, i + j
O1, N2, P1, K2, Q1, M1, J1, OO1, 2N2, x 2
y 2
Mu2, Nu2, L2, T2). Data lain yang dimasuk- = Kecepatan arah-x (m/det)
kan dalam model selengkapnya disajikan
= Kecepatan arahy (m/det)
pada Tabel 1.
T = variabel waktu (det)
2.3. Model f = parameter Coriolis ( f = 2 sin )
^ ^
2.3.1. Persamaan Pembangun i, j = unit vektor pada sumbu x dan y
Terdapat 4 jenis gaya yang bekerja = koefisien viskositas Eddy lateral atau
pada massa air laut, yaitu gaya pada gradien koefisien pertukaran momentum pada
tekanan, gaya coriolis, gaya gravitasi, dan arah horizontal

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 7, No. 1, Juni 2015 159
Perambatan Gelombang dan Arus Residu Pasang Surut Teluk . . .

Tabel 1. Komponen dan nilai hidrodinamika yang digunakan dalam pemodelan.

Komponen Hidrodinamika Nilai


Jumlah sel/grid x 1450
Jumlah sel/grid y 890
Lebar sel/grid x ( ) 50 m
Lebar sel/grid y ( ) 50 m
Langkah Waktu 6 detik
Waktu Simulasi 2,592,618 detik (+/- 30hari)
Percepatan Gravitasi (g) 10 m/s
Koefisien gesekan dasar (r) 0,003
Phi 3,141592654
Selatan dan Timur (elevasi NAOTIDE/NAO99b)
-16 Konstanta harmonik pasang surut untuk kajian
Batas terbuka perambatan gelombang pasang surut
- 4 Konstanta harmonik pasang surut (M2, S2, K1, O1)
untuk kajian arus residu M2, K1, dan M4
Batimetri Peta laut DISHIDROS 1996 dan 2001

= tekanan permukaan air laut (kg/m.det2) terhadap x dan y yaitu sama dengan nol.
= percepatan gravitasi bumi (m/ det2) Pa Pa
= = 0 ....(4)
= densitas air laut (kg/m3) x y
= koefisien viskositas eddy vertikal atau Pengaruh gaya coriolis terhadap gerak pa-
koefisien pertukaran momentum da massa air diabaikan mengingat daerah
arah vertikal model yang relatif kecil dan berada dekat
dengan khatulistiwa.
Air laut diasumsikan sebagai fluida Diasumsikan tidak ada stratifikasi densitas
incompressible sehingga ditambahkan persa- air laut ( konstan).
maan kontinuitas ke dalam sistem persamaan Tidak ada sumber (source) dan kebocoran
yang ada di atas dalam bentuk (Ramming and (sink) air laut yang terjadi di dalam daerah
Kowalik, 1980): model, artinya evaporasi dan presipitasi
diabaikan serta dasar laut bersifat imper-
u v meable.
+ = 0 .....................................(3)
x y Tidak ada sumber momentum (gaya-gaya
luar) yang terjadi pada area, seperti gerakan
kapal, tsunami dan gempa.
2.3.2. Asumsi Model Hidrodinamika
Pasang Surut 2D Batas tertutup tidak bergeser dengan naik-
Asumsi-asumsi yang diterapkan turunnya permukaan air laut.
dalam persamaan model hidrodinamika Pasang surut merupakan gaya pembangkit
pasang surut 2D ini antara lain (Pond and utama di Teluk Mayalibit. Faktor angin di-
Pickard, 1983): abaikan karena pengaruhnya relatif kecil.
Persamaan hidrodinamika laut yang
Tekanan atmosfer permukaan ( Pa ) adalah
digunakan berdasarkan asumsi-asumsi di atas
konstan, sehingga pada turunan parsialnya adalah (Ramming and Kowalik, 1980):

160 http://itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt71
Budiman et al.

komponen x: komponen x:

u u u U U U
+u +v fv = +U +V = gH
t x y ............. (5) t x y dx ................(10)
s( x ) b( x ) (U 2 + V 2 )1 / 2
g + + Au rU + AU
x H + H + H2
komponen y: komponen y:

v v v V V V
+u +v + fu = +U +V = gH
t x y ..............(6) t x y dy ..........................(11)
s( y ) ( y) (U 2 + V 2 )1 / 2
g + b + Av rV + AV
y H + H + H2
(5)
dimana = elevasi (m), s = gaya gesekan persamaan kontinuitas:
permukaan, dan b = gaya gesekan dasar.
U V
Persamaan (7) dan (8) selanjutnya di- + + =0 ...............................(12)
x y t
integrasikan terhadap kedalaman secara ver-
tikal dari dasar (z = -H) sampai ke permuka-
an (z = ) untuk mendapatkan persamaan
dimana: U = uz
H0
;V = vz =
H0
transpor massa sehingga diperoleh persaman kecepatan tranpor arah sumbu-x dan y
kecepatan rata-rata dalam bentuk transpor : elevasi muka air laut dari muka air laut
pada massa air 2D adalah sebagai berikut
rata-rata (MSL)
(Ramming and Kowalik, 1980).
H : kedalaman total perairan
r : Koefisien gesekan dasar
komponen-x:
Diskritisasi Persamaan Kontinuitas adalah :
U U U
+U +V = gH + ................(7)
t x y dx in, +j 1 = in, j t
(U + V )
2 2 1/ 2
Wx Wx2 + Wy2 rU + AU
H2 U in, j U in, j 1 Vin, j Vin1, j .....................(13)
+
komponen-y: x y

V V V
+U +V = gH + ..............(8)
t x y dx dimana U = H ; V = H adalah kecepatan
W y W x2 + W y2 rV
(U + V )
2 2 1/ 2
+ AV transport arah-x,y (m2/dt). Suku-suku Non-
H2 Linier didiskritisasi dengan metode finite dif-
ference menggunakan skema 2 langkah wa-
persamaan kontinuitas memiliki bentuk: ktu (two-time level scheme) (model GF2 oleh
Crean et al., 2008 dalam Kowalik and Murty,
U V 1993). Seluruh proses diskritisasi numerik
+ + = 0 ................................... (9)
x y t persamaan hidrodinamika 2 dimensi secara
eksplisit tersebut harus memenuhi kriteria
Suku gaya tekanan angin dalam kajian stabilitas Courant-Freiderichs-Lewy (CFL)
mengenai pasang surut dapat diabaikan sebagai berikut:
(Bowden, 1983). Persamaan Hidrodinamika L
2D pasang surut pada akhirnya memiliki t
2gH max
bentuk: (14)

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 7, No. 1, Juni 2015 161
Perambatan Gelombang dan Arus Residu Pasang Surut Teluk . . .

Dimana: L= min [x,y] dan H max = max sut serta menggambarkannya secara spasial
[d+]. Kriteria kestabilan dipenuhi dengan (Gambar 2).
membuat model hidrodinamika teluk Maya- Validasi dilakukan di titik validasi
libit ini memiliki ukuran sel 55 m x 55 m dengan koordinat 130,92oBT dan 0,31oLS
dengan langkah waktu sebesar 6 detik. (bulatan hitam pada Gambar 3) dengan mem-
bandingkan komponen-komponen harmonik
2.4. Analisis Data arus pasang surut antara hasil model dan pe-
Penelitian ini secara garis besar terba- ngukuran yang melalui metode least square
gi atas beberapa tahap yaitu tahap uji kesta- dengan bantuan yaitu perangkat lunak Ttide
bilan dan validasi model, tahap menggambar- (Pawlowicz et al., 2002).
kan perambatan gelombang pasut secara
spasial, dan tahap penentuan arus residu pa-

Gambar 2. Diagram alir pembangunan model.

162 http://itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt71
Budiman et al.

surut M2, K1, M4, M6, M8, dan M10 di-


peroleh melalui analisis Ttide terhadap hasil
simulasi elevasi selama 20 hari. Amplitudo
dan fasa masing-masing komponen harmonik
pada 25 titik grid kemudian diinterpolasi dan
digambarkan secara spasial sehingga dapat
diketahui pola perambatannya.
Pola pergerakan arus residu M2 dan K1
diperoleh dengan mensimulasikan model se-
lama 30 hari dimana yang menjadi tenaga
penggerak arus (forcing) adalah 4 komponen
pasut yaitu M2, S2, K1, dan O1. Arus residu
Gambar 3. Titik validasi model. ditentukan dengan merata-ratakan hasil ke-
luaran model yang berupa arus pada selang
Arah arus dominan saat pasang dan 10 periode yang terakhir yaitu untuk masing-
surut dibandingkan dengan bantuan grafik masing komponen M2 dan K1. Arus residu
pencar arus untuk melihat inklinasi atau M2 dan K1 yang telah diperoleh kemudian
sudut kemiringan antara hasil model dan digambarkan secara spasial dengan bantuan
pengukuran. Perambatan gelombang pasang Surfer 10 agar dapat diketahui pola-pola per-
surut pada Teluk Mayalibit dilakukan dengan gerakannya. Pola arus residu yang terjadi
menggambarkan amplitudo dan juga fasa dari akan menentukan fate materi-materi di dalam
komponen harmonik semidiurnal M2 sebagai teluk.
komponen yang dominan di wilayah ini be- Arus residu dari 4 komponen pasang
serta komponen diurnal K1 yaitu secara spa- surut (M2, S2, K1, dan O1) ditentukan mela-
sial pada 25 titik grid di dalam domain model lui persamaan-persamaan (Ramming and
(Gambar 4). Komponen harmonik pasang Kowalik, 1980):

Gambar 4. Titik-titik grid untuk pengamatan perambatan gelombang pasang surut.

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 7, No. 1, Juni 2015 163
Perambatan Gelombang dan Arus Residu Pasang Surut Teluk . . .

Perbedaan kecepatan yang relatif besar ini


..(15) dapat diakibatkan karena posisi titik validasi
yang berada di kanal atau jalur sempit de-
ngan topografi yang rumit dimana faktor-
atau faktor non-linier seperti turbulen atau gesek-
an sangat intens sehingga mengakibatkan
perubahan kecepatan arus yang cepat dalam
.(16) ruang dan waktu (Pond and Pickard, 1983).
Perbedaan kecepatan arus pasang surut yang
relatif besar juga dapat diakibatkan karena
dimana: adalah arus residu (m/s), u dan perbedaan interval waktu yang digunakan
v adalah komponen kecepatan arah-x dan dalam analisis Ttide dimana hasil simulasi
arah-y (m/s), T adalah periode suatu kompon- model yang dianalisis adalah arus pasang
en pasut (detik), H adalah kedalaman per- surut selama 20 hari sedangkan hasil pengu-
airan (m), adalah elevasi (m), dan t adalah kuran hanya 20 jam saja karena keterbatasan
waktu (detik). data yang dimiliki. Validasi hasil model dan
pengukuran melalui analisis harmonik sudah
III. HASIL DAN PEMBAHASAN sangat mencukupi karena proses ini merupa-
kan bagian terpenting dalam validasi sebuah
3.1. Hasil Validasi Arus Pasang Surut model dan karena hasilnya dapat menunjuk-
Hasil validasi model pada umumnya kan presisi suatu model (Bernardes, 2007).
masih belum mendekati hasil pengukuran di Titik validasi yang berada di dalam jalur
lapangan. Hal ini dapat dilihat terutama dari teluk (Gambar 2) yang menyebabkan sulit
selisih kecepatan arus pasang surut antara ke- memperoleh hasil model yang benar-benar
duanya yang masih relatif besar yaitu antara mendekati kondisi di lapangan karena efek-
5,95-54,45 cm/s dengan beda fasa berkisar efek non-linier yang relatif intens di titik ini.
antara 1,53-88,51 atau memiliki beda waktu Validasi dilanjutkan dengan membuat
sebesar 0,6 menit - 3 jam (Tabel 2). Hasil ini grafik pencar (Scatter plot) arus pasang surut
menunjukkan bahwa model belum cukup hasil model dan pengukuran (Gambar 5).
mendekati kondisi di lapangan.

Tabel 2. Perbandingan komponen harmonik arus pasut hasil model dan pengukuran

Fasa Selisih Arus Beda Beda


Konstanta Arus (cm/s)
(derajat) (cm/s) Fasa() Waktu
Pengukuran *M2 81,29 270,21 54,45 88,51 3 jam 3
Model 26,84 181,7 menit
Pengukuran *M4 16,6 178,84 15,99 49,02 51
Model 0,61 129,82 menit
Pengukuran *M6 19,15 332,1 18,99 12,87
9 menit
Model 0,16 319,23
Pengukuran *M8 8,16 241,37 8,04 1,53 0.6
Model 0,12 242,9 menit
Pengukuran *M10 6,19 63,81 5,95 21,1
9 menit
Model 0,24 42,71
Pengukuran *MS4 16,76 341,97 16,31 9,44 9 menit
Model 0,45 332,53 36 detik

164 http://itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt71
Budiman et al.

Gambar 5. Scatter plot arus pasang surut hasil model dan pengukuran.

Arus bergerak ke Barat Laut sampai komponen tersebut saja yang tersedia. Grafik
Utara saat pasang atau masuk ke dalam teluk dibuat dalam orientasi Utara-selatan karena
dan bergerak ke Tenggara sampai Selatan posisi titik validasi tepat berada di dalam
saat surut. Perbedaan kemiringan grafik yang kanal dalam arah tersebut (Gambar 6).
dihasilkan antara model dan pengukuran ter- Perbedaan kemiringan pada scatter
jadi karena perbedaan komponen arus yang plot arus pasang surut antara hasil model dan
digunakan. Scatter plot arus hasil model di- pengukuran di titik validasi ini masih dapat
plot yang berdasarkan komponen-v (meri- ditolerir karena nilainya masih relatif kecil
dional: Utara-Selatan) dan komponen-v (zo- yaitu sebesar 12,85. Selisih kecepatan arus
nal: Timur-Barat) sedangkan scatter plot saat pasang dan surut antara hasil model dan
arus pada pengukuran diplot berdasarkan pengukuran masih relatif besar (Tabel 3).
komponenv saja karena hanya data dalam

Gambar 6. Titik validasi yang berada di kanal dengan orientasi utara-selatan.

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 7, No. 1, Juni 2015 165
Perambatan Gelombang dan Arus Residu Pasang Surut Teluk . . .

Tabel 3. Perbandingan arus hasil model dan pengukuran di titik validasi.

Pasang Surut
(dalam cm/s) Model Pengukuran Model Pengukuran
Min 10 8,07 10 2,26
Max 57 151,92 59 54,28
Arah Utara Barat Laut-Utara Tenggara-Selatan Selatan

Hal ini dapat diakibatkan oleh posisi surut) dengan keterlambatan sekitar 3 jam
titik validasi yang berada di kanal dimana dari hasil pengukuran. Arus pengukuran me-
dapat terjadi perubahan yang cepat terhadap miliki kecepatan antara 8,07 151,92 cm/s
nilai kecepatan arus disamping data hasil (saat pasang) dan antara 2,26 54,28 cm/s.
pengukuran yang diplot pada kondisi pasang Hal ini menunjukkan bahwa hasil model le-
purnama (10-11 Nopember 2011), sedangkan bih mendekati hasil pengukuran ketika diplot
hasil model diplot selama 20 hari dimana pada waktu yang sama meskipun masih
kondisi pasang purnama dan pasang perbani memiliki keterlambatan fasa. Namun demi-
masuk dalam perhitungan. Validasi kemudi- kian, hasil ini dinilai yang terbaik yang dapat
an dilanjutkan dengan menggambarkan arus diperoleh setelah melalui berbagai proses
pasang surut hasil model dan pengukuran penyesuaian komponen-komponen hidrodi-
dalam bentuk stick plot dimana waktu) dan namika (koefisien gesekan dasar, batimetri
interval dibuat sama (10-11 Nopember 2011, smoothing). Vektor kecepatan hasil model
interval data 20 jam per-30 menit) dengan tampak lebih miring dalam arah Barat Laut
orientasi Utara-Selatan (Gambar 7). dan arah Selatan karena adanya komponen-u
Arus pasang surut pada hasil model sedangkan pada pengukuran tidak digunakan
memiliki kecepatan antara 5 89,4 cm/s karena hanya pada komponen-v saja yang
(saat pasang) dan antara 4,5 75 cm/s (saat ada.

Gambar 7. Stick plot arus hasil model dan pengukuran di titik validasi selama 20 jam.

166 http://itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt71
Budiman et al.

3.2. Pola Perambatan Gelombang M2 ini. Komponen M2 dan K1 diolah dan Diana-
dan K1 lisis lebih lanjut untuk dapat diketahui peri-
Hasil analisis Ttide terhadap data pa- laku atau pola perambatannya di Teluk
sang surut perairan Teluk Mayalibit menun- Mayalibit. Pola perambatan gelombang pasut
jukkan bahwa pada komponen semidiurnal M2 dan K1 dapat dilihat pada Gambar 8. dan
M2 merupakan komponen yang paling do- 9 di bawah ini.
minan (amplitudo paling tinggi) di wilayah

Gambar 8. Hasil simulasi co-amplitude M2.

Gambar 9. Hasil simulasi co-phase M2.

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 7, No. 1, Juni 2015 167
Perambatan Gelombang dan Arus Residu Pasang Surut Teluk . . .

Pada umumnya, hasil simulasi co- dan begitupun sebaliknya.


amplitude M2 yang menunjukkan bahwa Gelombang K1 yang dapat merambat
amplitudo M2 di dalam teluk mengalami masuk ke dalam teluk memiliki pola yang re-
reduksi sekitar 10 kali (Gambar 8). Gelom- latif sama dengan gelombang M2 dimana
bang M2 mengalami reduksi atau pengurang- amplitudonya menjadi 10 kali lebih rendah di
an ketika masuk ke dalam teluk akibat kanal dalam teluk dan mengalami keterlambatan
atau jalur teluk yang panjang, sempit dan fasa sebesar 160 atau juga sekitar 12 jam
berkelok. Gelombang pasut yang datang dari (Gambar 10 dan 11). Hasil simulasi fasa pe-
luar teluk tersebut mula-mula tertahan dan rambatan gelombang K1 (Gambar 11) se-
terakumulasi di titik 4 yang memiliki topo- makin memperkuat terjadinya kondisi pasut
grafi berupa belokan atau tikungan yang beserta pola arus yang berkebalikan antara di
tajam sehingga mengakibatkan tingginya ele- dalam dan di luar teluk. Keberadaan jalur
vasi dititik tersebut. Gelombang terus me- teluk yang panjang dan sempit diduga kuat
rambat hingga masuk ke dalam teluk namun memiliki peranan yang besar dalam mem-
amplitudonya kini lebih rendah dari se- pengaruhi sirkulasi massa air di dalam teluk
belumnya. Gelombang M2 di dalam teluk terkait kondisi pasang surut dan arus. Hasil
mengalami keterlambatan fasa sebesar 180 simulasi ini belum dapat dibuktikan kebena-
atau sekitar 6 jam 12 menit (Gambar 9). Hal rannya karena tidak adanya data pengukuran
ini menunjukkan bahwa terjadi kondisi yang lapangan untuk elevasi dan arus di dalam dan
berkebalikan antara pasut di dalam dan di di luar teluk disamping kajian mengenai ele-
luar teluk, ketika elevasi di luar teluk sedang vasi dan arus Teluk Mayalibit ini terbilang
pasang maka pada saat yang sama di dalam baru karena belum adanya penelitian yang
teluk sedang surut dan begitupun sebaliknya. serupa sehingga tidak ada referensi yang
Hal ini akan mengakibatkan perbedaan juga dapat dijadikan acuan untuk menjelaskan ke-
pada pola arus di dalam dan juga di luar benaran hasil simulasi model. Data elevasi
teluk, terutama arahnya. Di luar teluk, arus dan arus di dalam dan di luar teluk dengan
akan bergerak masuk ketika pasang, namun interval waktu yang lebih panjang (minimal
pada saat yang sama di dalam teluk arus akan 2-3 minggu) diperlukan untuk validasi model
bergerak ke luar karena saat itu sedang surut yang lebih baik.

Gambar 10. Hasil simulasi co-amplitudo K1.

168 http://itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt71
Budiman et al.

Gambar 11. Hasil simulasi co-amplitudo K1.

3.3. Arus Residu S2, K1, dan O1. Arus residu M2 dan K1
Arus residu komponen pasut M2 dan ditentukan dengan merata-ratakan arus hasil
K1 ditentukan dengan mensimulasikan mo- simulasi selama 10 periode terakhir M2 dan
del selama 30 hari dengan menggunakan 4 K1. Hasil simulasi arus residu untuk masing-
komponen pasut di batas terbuka sebagai masing komponen M2 dan K1 dapat dilihat
forcing atau penggerak arusnya, yaitu M2, pada Gambar 12 dan 13 di bawah ini.

Gambar 12. Hasil simulasi arus residu M2 (cm/s).

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 7, No. 1, Juni 2015 169
Perambatan Gelombang dan Arus Residu Pasang Surut Teluk . . .

Gambar 13. Hasil simulasi arus residu K1 (cm/s).

Arus residu M2 di dalam teluk ber- sedimen dan polutan di wilayah pesisir dan
kisar antara 0,01 0,2 cm/s dan pada umum- teluk dalam jangka panjang (Ramming and
nya lebih mengarah ke dalam teluk dengan Kowalik, 1980).
pola yang seragam (Gambar 12). Pola arus
residu M2 seperti ini dalam jangka waktu IV. KESIMPULAN
lama akan membawa masuk materi-materi di
perairan semakin jauh ke dalam teluk. Arus Pada umumnya validasi model terha-
residu K1 di dalam teluk berkisar antara 0,01 dap pengukuran melalui perbandingan kons-
0,15 cm/s dengan pola yang berbeda antara tanta harmonik dan scatter plot belum me-
bagian Utara dan Selatan (Gambar 13). Arus nunjukkan hasil yang cukup baik dan men-
residu K1 mengalir ke luar teluk menuju laut dekati kondisi di lapangan karena perbedaan
terbuka di sebelah Utara namun bergerak interval data yang digunakan, namun validasi
masuk ke dalam teluk di sebelah Selatan melalui stick plot lebih menunjukkan bahwa
hingga keduanya bertemu di bagian tengah model cukup baik dan mendekati pengukur-
teluk. Pola arus K1 ini akan semakin men- an karena selisih rentang kecepatan antara
jaga materi-materi tetap berada di dalam keduanya yang sangat relatif kecil (model: 5-
teluk dan terakumulasi terutama di bagian te- 89,4 cm/s; pengukuran: 8,07-151,92 cm/s)
ngah teluk. Keberadaan arus residu M2 dan meskipun masih terdapat keterlambatan fasa
K1 ini harus diwaspadai bilamana terjadi sekitar 3 jam.
pembuangan materi atau polutan yang ber- Hasil simulasi menunjukkan perbeda-
lebihan akibat aktifitas manusia di sekitar an signifikan antara kondisi pasang surut
teluk karena akan membuat pencemaran yang beserta arus di dalam dan di luar teluk. Jalur
semakin parah di dalam teluk. Hal ini di- teluk yang panjang, sempit, dan berkelok di-
karenakan besar dan arah dari aliran arus re- duga kuat menjadi penyebab perbedaan ini.
sidu pasang surut akan menentukan pertu- Kesimpulan ini diperkuat dengan hasil simu-
karan massa air dan proses penyebaran serta lasi perambatan gelombang pasang surut M2
pengendapan dari berbagai materi, komposisi dan K1 yang datang dari perairan terbuka

170 http://itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt71
Budiman et al.

dimana amplitudonya menjadi 10 kali lebih laut Indonesia No. 477. Jakarta.
rendah di dalam teluk dan mengalami keter- 186hlm.
lambatan fasa sebesar 180(M2) dan juga Fuji-Ie, W., T. Yanagi, and F.P. Siringan.
160(K1). Hasil simulasi fasa gelombang M2 2002. Tide, tidal current, and sedi-
dan K1 tersebut menunjukkan bahwa terjadi ment transport in Manila bay. J. La
kondisi yang berkebalikan antara pasut di Mer., 40(1):137-145.
dalam dan di luar teluk, yaitu ketika elevasi Huffard, C.L., J. Wilson, C. Hitipeuw, C. Ro-
di luar teluk pasang maka pada saat keadaan tinsulu, S. Mangubhai, M.V. Erdman,
yang sama di dalam teluk surut dan begitu- W. Adnyana, P. Barber, J. Manu-
pun sebaliknya. Hal ini mengakibatkan kon- putty, M. Mondong, G. Purba, K.
disi yang berkebalikan juga antara pola arus Rhodes, dan H. Toha. 2010. Pengelo-
di dalam dan di luar teluk. laan berbasis ekosistem di bentang
Hasil simulasi arus residu M2 pada laut kepala burung Indonesia: mengu-
umumnya memperlihatkan pola arus yang bah ilmu pengetahuan menjadi tin-
bergerak seragam ke dalam teluk dan dalam dakan. Ecosystem based management
jangka waktu yang lama akan membawa ma- program: conservation international,
suk materi-materi semakin jauh ke dalam te- the nature conservancy, and WWF
luk. Arus residu K1 di dalam teluk memiliki Indonesia. 10hlm.
pola yang berbeda antara bagian Utara dan Kowalik, Z. and T.S. Murty. 1993. Numeri-
Selatan. Arus residu K1 mengalir ke luar te- cal modeling of ocean dynamics.
luk menuju laut terbuka di sebelah Utara World Scientific Publishing Co. Pte.
namun bergerak masuk ke dalam teluk di Ltd. London. 481p.
sebelah Selatan hingga keduanya bertemu di Matsumoto, K., T. Takanezawa, and M. Ooe.
bagian tengah teluk. Pola arus K1 ini akan 2000. Ocean tide models developed
semakin menjaga materi-materi tetap berada by assimilating TOPEX/POSEIDON
di dalam teluk dan terakumulasi terutama di altimeter data into hydrodynamical
bagian tengah teluk. Keberadaan arus residu model: a global model and a regional
M2 dan K1 harus diwaspadai sebagai faktor model around Japan. Oceanography,
yang dapat memperparah kondisi pencemar- 56:567-581.
an di dalam teluk bilamana terjadi pem- McKenna, S.A., GR. Allen, and S. Suryadi.
buangan materi atau polutan yang berlebihan 2002. A marine rapid assesment of
akibat aktifitas manusia. the Raja Ampat island, Papua Provin-
ce, Indonesia. RAP Bulletin of Biolo-
UCAPAN TERIMA KASIH gical Assesment 22. Conservation In-
ternational, Washington. 18p.
Penulis mengucapkan terima kasih ke- Nugraha, R.B.H. dan H. Surbakti. 2004.
pada Dr. Gentio Harsono, M.Si (DISHID- Simulasi pola arus dua dimensi di
ROS TNI AL) atas penyediaan data batimetri perairan teluk pelabuhan ratu pada
Teluk Mayalibit, Kab. Raja Ampat Provinsi bulan September 2004. J. Kelautan
Papua Barat. Nasional, 40(1):48-55.
Pawlowicz, R., B. Beardsley, and S. Lentz.
DAFTAR PUSTAKA 2002. Classical tidal harmonic analy-
sis including error estimates in MAT-
Bowden, K.F. 1983. Physical oceanography LAB using T_TIDE. J. of Computa-
of coastal waters. Ellis Horwood Li- tional Geosciences, 28:929-937.
mited. New York. 302p. Pemerintah Kabupaten Raja Ampat. 2006.
Dinas Hidro Oseanografi TNI AL. 1996. Peta Atlas sumberdaya pesisir kabupaten
Raja Ampat. Papua Barat. 6hlm.

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 7, No. 1, Juni 2015 171
Perambatan Gelombang dan Arus Residu Pasang Surut Teluk . . .

Pokavanich, T., I. Polikarpov, A. Lennox, F. physical processes. Oceanography


Al-Hulail, T. Al-Said, E. Al-Enezi, F. Series 26. Amsterdam. 381p.
Al-Yamani, N. Stokozov, dan B. Shu- Stewart, R. 2003. Introduction to physical
haibar. 2013. Comprehensive inves- oceanography. Department of Oce-
tigation of summer hydrodynamics anography. A and M University.
and water quality characteristic of Texas. 352p.
desertic shallow water body: Kuwait Supiyati. 2005. Model hidrodinamika pasang
bay. J. of Coastal Dynamics, 12(2): surut di perairan Pulau Baai Bengku-
1253-1264. lu. J. Gradien, 1(2):51-55.
Pond, S. and G.L. Pickard. 1983. Introdutory Van Manh, D. and T. Yanagi. 2000. A study
dynamical oceanography. 2nd ed. Per- on residual flow in the gulf of tong-
gamon Press Ltd. Oxford. 329p. king. Oceanography, 56:59-68.
Pratama, T.R., E. Indrayanti, dan I.B. Praset- Yusuf, M. dan T. Yanagi. 2013. Numerical
yawan. 2012. Kajian pola arus dan modelling of tidal dynamics in the
co-range pasang surut di teluk Benete Java Sea. J. of Coastal Marine Scien-
Nusa Tenggara Barat. Oceanography, ce, 36(1):1-12.
1(1):111-120.
Ramming, H.G. and Z. Kowalik. 1980. Nu- Diterima : 29 Maret 2015
merical modelling of marine hydro- Direview : 25 Mei 2015
dynamics: applications to dynamics Disetujui : 13 Juni 2015

172 http://itk.fpik.ipb.ac.id/ej_itkt71

View publication stats

Anda mungkin juga menyukai