Anda di halaman 1dari 12

TUGAS REKAYASA TAMBAK

ANALISA PASANG SURUT

OLEH :

RAHMI AFIFI
1407112595

KELAS PILIHAN

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL S1

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS RIAU

2017
TUGAS REKAYASA TAMBAK

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena rahmat dan hidayahnya
penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat pada waktunya

Tidak lupa ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada dosen pengampu dan pihak
lain yang membantu yang tidak bisa penulis ucapkan namanya satu persatu

Makalah ini masih jauh dari kata kesempurnaan sehingga saran dan kritik yang
membangun sangat ditunggu dan semoga makalah ini bermanfaat pada pembacanya

Pekanbaru , 17 Oktober 2017

Penulis
TUGAS REKAYASA TAMBAK

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................................................... ii
BAB IV ANALISA PASANG SURUT ............................................................................................................ 1
4.1 Dasar Analisa ........................................................................................................................... 1
4.2 Hubungan Pasut Terhadap Wilayah Potensi Tambak ............................................................. 3
4.3 Rawa........................................................................................................................................ 4
4.3.1 Pengertian ....................................................................................................................... 4
4.3.2 Klasifikasi Rawa ............................................................................................................... 4
4.3.3 Karakteristik Rawa .......................................................................................................... 8
4.3.4 Faktor yang Mempengaruhi Karakteristik Rawa ............................................................. 8
TUGAS REKAYASA TAMBAK
BAB IV
ANALISA PASANG SURUT

4.1 Dasar Analisa


Pasang surut adalah naik turunnya muka air laut secara berkala yang diakibatkan
oleh adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama bulan dan matahari terhadap massa
air di bumi dalam waktu tertentu.
Pemilihan lokasi tambak sehubungan dengan pasang surut air laut harus
diperhitungkan dengan cermat. Lokasi yang baik adalah daerah yang mempunyai sifat
pasang surut pada saat bulan pasang perbani kritis air pasang mencapai 90 cm (25 cm
34 cm diatas MSL hanya untuk 34 jam).
Pada daerah tambak yang perbedaan pasang dan surut yang besar akan kesulitan
dalam sistem pengisian dan pengeringan tambak. Pasang surut yang ideal adalah yang
mempunyai fluktuasi antara 1 m 1,2 m. Selain itu dalam pembuatan pematang tambak
pada daerah yang mempunyai pasang surut yang besar memerlukan tanggul yang
tinggi untuk menghindarkan dari ancaman banjir.
Faktor lokal yang dapat mempengaruhi pasang surut suatu perairan seperti
topografi dasar laut, lebar selat, bentuk teluk dan sebagainya, sehingga berbagai
lokasi memiliki ciri pasang surut yang berlainan. Memilih lokasi tambak perlu
diketahui tinggi dan macam pasang surut yang terjadi. Macam- macam pasang surut
adalah sebagai berikut:
Pasang Surut Harian Tunggal (Diurnal Tide), yaitu bila dalam sehari terjadi satu
kali pasang dan satu kali surut. Biasanya terjadi dilaut sekitar khatulistiwa, antara
lain di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat.
Pasang Surut Harian Ganda (Semi Diurnal Tide), yaitu bila dalam sehari
terjadi dua kali pasang dan dua kali surut yang tinginya hampir sama.
Terjadi di Selat Malaka hingga Laut Andaman, yaitu di Sumatera Utara dan
Kalimantan Timur.
Pasang Surut Campuran Condong Harian Tunggal (Mixed Mainly Diurnal)
yaitu setiap harinya terjadi satu kali pasang dan satu kali surut tetapi terkadang
dengan dua kali pasang dan dua kali surut yang sangat berbeda dalam tinggi dan
waktu. Terdapat di pantai selatan Kalimantan dan pantai utara Jawa Barat.
Pasang Surut Campuran Condong Harian Ganda (Mixed Mainly Semi

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
Diurnal) yaitu pasang surut yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut
dalam sehari tetapi terkadang terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dengan
waktu yang berbeda. Terdapat di pantai selatan Jawa dan Indonesia Bagian Timur.

Pembagian zone tambak berdasarkan harga-harga standar untuk variasi muka air laut
selama 1 tahun dibagi menjadi 3 zone terdiri dari:

Zone I : Pemberian air tambak pada zone ini dapat setiap saat dilakukan secara
gravitasi, karena muka air ditambak lebih rendah dari muka air tinggi rata-
rata pada saat neap pengeringannya memakai pompa.
Zone II : Pemberian dan pengeringan air tambak pada zone ini dilakukan secara
gravitasi, hanya kadang-kadang harus memakai pompa yaitu pada saat pasang
perbani/neap tide, pengeringan dengan gravitasi.
Zone III : Pemberian air tambak pada zone ini selalu pakai pompa karena muka
air tambak (MAT) diatas pasang tinggi (pasang purnama/spring tide),
pengeringan selalu dengan gravitasi karena dasar tambak berada diatas muka
air rendah rata-rata (Mean Low Water Level).

Gambar 1. Variasi pasang surut tahunan dan pembagian zone tambak

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
Mengingat elevasi di laut selalu berubah satiap saat, maka diperlukan suatu elevasi
yang ditetapkan berdasar data pasang surut, yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam
perencanaan pelabuhan. Beberapa elevasi tersebut adalah sebagai berikut :
Muka air tinggi (high water level), muka air tertinggi yang dicapai pada saat air
pasang dalam satu siklus pasang surut.
Muka air rendah (low water level), kedudukan air terendah yang dicapai pada saat
air surut dalam satu siklus pasang surut.
Muka air tinggi rerata (mean high water level, MHWL), adalah rerata dari muka air
tinggi selama periode 19 tahun.
Muka air rendah rerata (mean low water level, MLWL), adalah rerata dari muka air
rendah selama periode 19 tahun.
Muka air laut rerata (mean sea level, MSL), adalah muka air rerata antara muka air
tinggi rerata dan muka air rendah rerata. Elevasi ini digunakan sebagai referansi
untuk elevasi di daratan.
Muka air tinggi tertinggi (highest high water level, HHWL), adalah air tertinggi
pada saat pasang surut purnama atau bulan mati.
Muka air rendah terendah (lowest low water level, LLWL), adalah air terendah
pada saat pasang surut purnama atau bulan mati.
Higher high water level, adalah air tertinggi dari dua air tinggi dalam satu hari,
seperti dalam pasang surut tipe campuran.
Lower low water level, adalah air terendah dari dua air rendah dalam satu hari.

4.2 Hubungan Pasut Terhadap Wilayah Potensi Tambak

Arus sangat mempengaruhi penyebaran ikan, Lavastu dan Hayes (1981)


menyatakan hubungan arus terhadap penyebaran ikan adalah arus mengalihkan telur- telur
dan anak-anak ikan petagis dan daerah pemijahan ke daerah pembesaran dan ke tempat
mencari makan. Migrasi ikan-ikan dewasa disebabkan arus, sebagai alat orientasi ikan dan
sebagai bentuk rute alami; tingkah laku ikan dapat disebabkan arus, khususnya arus pasut,
arus secara langsung dapat mempengaruhi distribusi ikan-ikan dewasa dan secara tidak
langsung mempengaruhi pengelompokan makanan.
Ikan bereaksi secara langsung terhadap perubahan lingkungan yang dipengaruhi
oleh arus dengan mengarahkan dirinya secara langsung pada arus. Arus tampak jelas dalam
organ mechanoreceptor yang terletak garis mendatar pada tubuh ikan. Mechanoreceptor

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
adalah reseptor yang ada pada organisme yang mampu memberikan informasi perubahan
mekanis dalam lingkungan seperti gerakan, tegangan atau tekanan. Biasanya gerakan ikan
selalu mengarah menuju arus.

Fishing ground yang paling baik biasanya terletak pada daerah batas antara dua arus
atau di daerah upwelling dan divergensi. Batas arus (konvergensi dan divergensi) dan
kondisi oseanografi dinamis yang lain (seperti eddies), berfungsi tidak hanya sebagai
perbatasan distribusi lingkungan bagi ikan, tetapi juga menyebabkan pengumpulan ikan
pada kondisi ini. Pengumpulan ikan-ikan yang penting secara komersil biasanya berada
pada tengah-tengah arus eddies. Akumulasi plankton, telur ikan juga berada di tengah-
tengah antisiklon eddies. Pengumpulan ini bisa berkaitan dengan pengumpulan ikan
dewasa dalam arus eddi (melalui rantai makanan). (Reddy, 1993).

4.3 Rawa
4.3.1 Pengertian
Rawa adalah wadah air beserta air dan daya air yang terkandung di
dalamnya, tergenang secara terus menerus atau musiman, terbentuk secara alami di lahan
yang relatif datar atau cekung dengan endapan mineral atau gambut, dan
ditumbuhi vegetasi, yang merupakan suatu ekosistem (Peraturan Pemerintah Nomor 73
Tahun 2013 tentang Rawa). Menurut ketentuan Peraturan Pemerintah tersebut, rawa
dikuasai oleh negara dan hal ini mengandung makna negara menjamin hak setiap orang
dalam pemanfaatan rawa sebagai sumber daya air dan
lahan bagi pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari.

4.3.2 Klasifikasi Rawa


Rawa dapat dibedakan menjadi dua penggolongan, yaitu berdasarkan lokasi
terjadinya dan berdasarkan rasa airnya.
1. Berdasarkan Lokasi Terjadinya
Rawa pantai, yakni rawa yang terdapat di pinggir pantai. Rawa ini selalu
dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Proses terjadinya karena bagian- bagian
rendah di pinggir laut selalu digenangi air laut. Tanaman yang dapat tumbuh antara
lain pohon bakau. Contoh: rawa-rawa pantai di teluk Bone Sulawesi Selatan.
Rawa payau, yakni rawa yang terdapat di muara sungai dan dipengaruhi oleh
pasang surutnya air laut. Rawa payau terjadi karena bagian rendah di sekitar muara
sungai selalu tergenang akibat peluapan air sungai dan pasang surutnya air laut.

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
Rawa seperti ini banyak ditumbuhi rumput- rumputan dan pohon-pohon yang tahan
air seperti kayu ulin, bakau, dan sebagainya. Di Kalimantan Selatan dan Kalimantan
Tengah, rawa seperti ini banyak dijadikan oleh penduduk dan pemerintah sebagai
wilayah persawahan pasang surut.
Rawa sungai, yakni rawa yang terjadi karena di bagian sisi kiri-kanan sungai
terdapat daerah-daerah yang rendah di mana air sungai selalu menggenanginya.
Rawa seperti ini banyak terdapat pada wilayah- wilayah pedalaman sungai di
Kalimantan dan bagian timur pulau Sumatera. Contoh: rawa-rawa di sungai Musi
antara Kota Palembang sampai Kota Sebayu (Sumatera Selatan), rawa-rawa sungai
Mahakam antara Muara Kaman sampai Muara Amuntai dan Kahala di Kalimantan
Timur.
Rawa cekungan, yakni rawa yang terdapat pada daerah-daerah cekungan tertentu
yang selalu terisi air. Terjadinya cekungan karena penurunan atau pengangkatan
oleh kekuatan endogen di sekeliling cekungan. Contoh, rawa Pening di Jawa
Tengah.
Rawa danau, yakni rawa yang terjadi akibat pasang surut-nya air danau. Pada
musim hujan, danau menggenangi daerah sekitarnya dan pada musim kemarau air
danau surut. Di daerah sekeliling danau yang mengalami pasang surut itulah
terbentuk rawa danau. Contoh, rawa di sekitar danau Tempe.

2. Berdasarkan Rasa Airnya


Rawa air asin, yakni rawa yang kandungan airnya terdiri atas air asin atau air laut.
Rawa ini banyak terdapat di daerah pantai di Indonesia, antara lain rawa-rawa di
pantai barat dan pantai timur Aceh, di sekitar pantai teluk Bone Sulawesi Selatan,
dan sebagainya.
Rawa air payau, yakni rawa yang terbentuk karena adanya percampuran antara air
asin (air laut) dan air tawar. Rawa ini rasa airnya payau. Rawa air payau banyak
terdapat di muara sungai-sungai di Kalimantan dan muara sungai di pantai timur
pulau Sumatera.
Rawa air tawar, yakni rawa yang airnya dipengaruhi oleh air sungai, air hujan, dan
air tanah. Rawa ini rasa airnya tawar. Rawa seperti ini banyak terdapat di daerah-
daerah pedalaman sungai-sungai di Kalimantan dan pedalaman sungai-sungai di
pantai timur pulau Sumatera serta rawa-rawa di daerah cekungan dan rawa danau.

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
Secara umum rawa diklasifikasikan menjadi 2 (dua) macam yaitu :
a. Rawa Pasang Surut adalah rawa yang terletak di pantai atau dekat pantai, di muara
atau dekat muara sungai sehingga dipengaruhi oleh pasang surut.
b. Rawa Lebak (rawa pedalaman) adalah rawa yang terletak di lahan yang tidak
terkena pengaruh pasang surut.

Berdasarkan hidro-topografi nya, rawa pasang surut dibagi menjadi 4 kategori :


Kategori A : Merupakan areal lahan rawa yang dapat terluapi air pasang, baik di
musim hujan maupun di musim kemarau. Lahan dapat diluapi oleh air pasang paling
sedikit 4 atau 5 kali selama 14 hari siklus pasang purnama, baik musim hujan maupun
musim kemarau. Permukaan lahan umumnya masih lebih rendah jika dibandingkan
elevasi air pasang tinggi rata-rata. Umumnya areal ini terletak di lahan cekungan atau
dekat dengan muara sungai. Lahan ini potensial untuk ditanami dua kali padi sawah
setahun, karena ada jaminan suplai air pada setiap musim.
Kategori B : Merupakan areal lahan rawa yang hanya dapat terluapi air pasang di
musim hujan. Permukaan lahan umumnya masih lebih tinggi dari elevasi air pasang
tinggi rata-rata di musim kemarau, namun masih lebih rendah jika dibandingkan
elevasi air pasang tinggi rata-rata di musim hujan. Lahan dapat diluapi oleh air pasang
paling sedikit 4 atau 5 kali selama 14 hari siklus pasang purnama hanya pada musim
hujan saja. Lahan ini potensial ditanami padi sawah di musim hujan, sedangkan di
musim kemarau ditanami palawija.
Kategori C : Merupakan lahan rawa yang tidak dapat terluapi oleh air pasang
sepanjang waktu (atau hanya kadang-kadang saja). Permukaan lahan umumnya relatif
lebih tinggi jika dibandingkan kategori A dan B, sehingga air pasang hanya
berpengaruh pada muka air tanah dengan kedalaman kurang dari 50 cm dari
permukaan lahan. Karena lahan tidak dapat terluapi air pasang secara reguler, akan
tetapi air pasang masih mempengaruhi muka air tanah. Elevasi lahan yang relatip
tinggi dapat mengakibatkan banyaknya kehilangan air lewat rembesan. Lahan ini
cocok untuk sawah tadah hujan/tegalan, dan ditanami padi tadah hujan atau palawija.
Kategori D : Merupakan lahan rawa yang cukup tinggi sehingga sama sekali tidak
dapat terjangkau oleh luapan air pasang (lebih menyerupai lahan kering). Permukaan
air tanah umumnya lebih dalam dari 50 cm dari permukaan lahan. Variasi kapasitas
drainase tergantung perbedaan antara muka tanah di lahan dan muka air di sungai

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
terdekat dengan lahan. Lahan cocok diusahakan untuk lahan kering/tegalan, ditanami
padi gogo/palawija dan tanaman keras.

Gambar 2. Hidro-topografi rawa pasang surut

Adapun pembagian rawa lebak berdasarkan hidro-topografi, dibagi menjadi 3


kategori:
a. Lebak pematang, yaitu rawa lebak dengan genangan relatif agak dangkal dengan
priode waktu genangan pendek;
b. Lebak tengahan, yaitu lahan dengan genangan relatif agak dalam dengan periode
waktu genangan agak lama;
c. Lebak dalam, yaitu rawa lebak dengan genangan relatif dalam dengan periode waktu
genangan lama atau terus menerus sepanjang tahun.

Gambar 2. Hidro-topografi rawa non-pasang surut

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
4.3.3 Karakteristik Rawa
Beberapa ciri rawa untuk dapat membedakan rawa dan sungai. Yang pasti ciri
khusus dari rawa ini menandakan bahwasannya rawa berbeda dengan sungai. Rawa ini
mempunyai beberapa ciri khusus. Beberapa ciri khusus dari rawa antara lain:
Dilihat dari segi air, rawa memiliki air yang asam dan berwarna coklat, bahkan
sampai kehitam- hitaman.
Berdasarkan tempatnya, rawa- rawa ada yang terdapat di area pedalaman daratan,
namun banyak pula yang terdapat di sekitar pantai.
Air rawa yang berada di sekitar pantai sangat dipengaruhi oleh pasang surutnya iar
laut.
Ketika air laut sedang pasang, maka permukaan rawa akan tergenang banyak,
sementara ketika air laut surut, daerah ini akan nampak kering bahkan tidak ada air
sama sekali. (baca : manfaat pasang surut air laut)
Rawa yang berada di tepian pantai banyak ditumbuhi oleh pohon- pohon bakau,
sementara rawa yang berada di pedalaman banyak ditumbuhi oleh pohon- pohon
palem atau nipah.

4.3.4 Faktor yang Mempengaruhi Karakteristik Rawa


1) Pelapukan (dekomposisi) zat organik
Air yang ada di rawa-rawa biasanya berwarna sehingga tidak layak
dimanfaatkan secara langsung sebelum diolah untuk keperluan domestik dan
industri. Penyebab warnanya adalah pelapukan (dekomposisi) zat organik seperti
daun, kayu, binatang mati dan lain-lain. Asam humat yang berasal dari dekomposisi
lignin inilah penyebab warna air, selain besi dalam wujud ferric humat. Secara
umum dapat dikatakan, penyebab warna air ialah kation Ca, Mg, Fe, Mn. Oksida
besi ini menyebabkan air berwarna kemerahan, oksida mangan menyebabkan air
berwarna coklat kehitaman.
Berkaitan dengan warna tersebut, jenisnya dapat dibedakan menjadi dua.
Yang pertama disebut warna asli (true color), disebabkan oleh materi organik
berukuran koloid dan terlarut (dissolved solid). Contohnya air gambut. Dari hasil
penelitian diketahui bahwa warna air gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi
dapat dihilangkan dengan kombinasi koagulan alum sulfat, besi sulfat (ion trivalent)
atau PAC dengan tanah liat setempat. Yang kedua ialah warna palsu (apparent

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
color). Jenis ini disebabkan oleh zat tersuspensi dan zat terendapkan (coarse solid,
partikel kasar) dan dapat dihilangkan dengan proses sentrifugasi, sedimentasi dan
filtrasi.
2) Pengendapan sedimen
Pengendapan sedimen membuat wilayah rawa sudah cukup dangkal
sehingga tumbuhan rawa sudah bisa tumbuh.
3) Proses pembusukan
Wilayah yang tergenang air tersebut ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan
rawa, pembusukan sisa tanaman dan organisme lainnya terjadi di tempat tanpa ada
sirkulasi air yang berarti. Proses pembusukan menghasilkan asam (asam humus)
sehingga air rawa memiliki pH yang rendah (bersifat asam), dan berwarna coklat

RAHMI AFIFI (1407112595)