Anda di halaman 1dari 20

TUGAS REKAYASA TAMBAK

KARAKTERISTIK IKAN TAMBAK

OLEH :

RAHMI AFIFI
1407112595

KELAS PILIHAN

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL S1

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS RIAU

2017
TUGAS REKAYASA TAMBAK

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena rahmat dan hidayahnya
penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat pada waktunya

Tidak lupa ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada dosen pengampu dan pihak
lain yang membantu yang tidak bisa penulis ucapkan namanya satu persatu

Makalah ini masih jauh dari kata kesempurnaan sehingga saran dan kritik yang
membangun sangat ditunggu dan semoga makalah ini bermanfaat pada pembacanya

Pekanbaru , 10 Oktober 2017

Penulis
TUGAS REKAYASA TAMBAK

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................................................... ii
BAB III KARAKTERISTIK IKAN TAMBAK .................................................................................................... 1
3.1 Teknik Budidaya Ikan .............................................................................................................. 1
3.1.1 Wadah Budidaya ............................................................................................................. 1
3.1.2 Pemilihan Benih .............................................................................................................. 2
3.1.3 Penebaran Benih ............................................................................................................. 3
3.1.4 Pola Pemberian Makan ................................................................................................... 3
3.2 Tambak Ikan Bandeng ............................................................................................................. 4
3.3 Tambak Udang ........................................................................................................................ 6
3.4 Pemasaran ............................................................................................................................ 13
3.5 Pengolahan Hasil Perikanan .................................................................................................. 14
TUGAS REKAYASA TAMBAK
BAB III
KARAKTERISTIK IKAN TAMBAK

3.1 Teknik Budidaya Ikan


Pengertian Teknik budidaya ikan adalah ilmu yang mempelajari tentang kegiatan
penumbuhan ikan dari benih sampai ikan konsumsi untuk memenuhi kebutuhan
konsumen. Untuk menguasai kompetensi teknik membesarkan ikan, siswa disamping
menguasai manajemen pembesaran ikan, juga harus mampu mengidentifikasi dan
mengoperasikan peralatan dan bahan yang dibutuhkan. Tahapan-tahapan dalam kegiatan
Budidaya Ikan yang akan di bahas meliputi:
1. Pemilihan desain dan tata letak lokasi wadah pembesaran
2. Pengelolaan wadah dan media pembesaran
3. Perhitungan kebutuhan benih ikan (tradisional, semi intensif dan intensif)
4. Seleksi benih unggul berdasarkan kriteria kualitatif dan kuantitatif
5. Aklimatisasi benih ikan, dan
6. Menerapkan pengelolaan kualitas air wadah pembesaran ikan

3.1.1 Wadah Budidaya


Pengelolaan wadah, media, dan peralatan pembesaran ikan memegang peranan
penting, baik untuk keberhasilan maupun untuk memperlancar kegiatan produksi.
Pengelolaan wadah adalah bagaimana kita mengelola wadah agar bisa berfungsi dengan
optimal untuk digunakan dalam kegiatan pembesaran ikan seperti tidak bocor,
meminimalisir keberadaan hama dan penyakit, meminimalisir keberadaan bahan-bahan
beracun, dan membuat kondisi kualitas air yang sesuai dengan kehidupan ikan.

Gambar 1. Wadah budidaya ikan bandeng

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
3.1.2 Pemilihan Benih
Dalam usaha pembesaran ikan pada sistem teknologi budidaya , salah satu faktor
yang menentukan keberhasilannya adalah ketersediaan benih. Dalam penyediaannya,
benih dapat diperoleh dengan dua cara yaitu:
Dari alam
Dari panti-panti pembenihan (Hatchery)
Benih alam adalah benih yang diperoleh oleh petani dengan cara menangkap di
pantai-pantai sekitar kolam/tambak dengan cara menyeser seperti halnya menangkap nener
bandeng, benih kakap, benih belanak, benih kerapu lumpur, benih gabus, benih toman,
benih betok, dan lain sebagainya.
Benih ikan hasil kegiatan pembenihan di panti pembenihan (hatchery), merupakan
benih yang relatif lebih baik, karena melalui suatu tahapan- tahapan yang selektif
seperti pemilihan induk berkualitas, pemijahan induk, pemeliharaan larva dan benih,
pendederan benih, dan panen benih, dari hasil panen diperoleh benih dilakukan sortasi
dan grading sehingga diperoleh benih-benih dengan kriteria ukuran dan biomassa
yang berbeda.
Pertimbangan-pertimbangan dalam memilih benih yang bisa dibesarkan pada
sistem teknologi budidaya yang digunakan, diantaranya adalah:
1. Ketersediaan spesies benih yang akan dibesarkan. Apabila spesies atau jenis
benih yang tersedia banyak, maka kita tidak menemukan masalah dalam
menggunakan sistem teknologi buddidaya (wadah) yang akan kita pakai, namun
apabila spesiesnya terbatas maka sistem teknologi budidaya yang akan dipakai
harus sesuai dengan sifat dan tingkah laku spesies ikan tersebut.
2. Kecocokan spesies benih. Apabila kita sudah memilih sistem teknologi budidaya
tertentu (misalnya kolam), maka kita harus memilih spesies apa yang cocok hidup
dan tumbuh dengan baik di kolam.
3. Daya adaptasi benih ketika dipelihara.
4. Ukuran benih. Ukuran benih merupakan kriteria yang umum menjadi
pertimbangan dalam menentukan benih yang akan ditebar.
5. Harga benih. Harga benih yang terlalu mahal bisa menjadi pertimbangan untuk
tidak memilih benih tersebut untuk dibesarkan, apalagi kalau ikan sudah dipanen
dan ketika dipasarkan harga jualnya tidak sesuai harapan (ekspektasi) maka
pengelola dan pemilik usaha akan merugi.

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
3.1.3 Penebaran Benih

Hal yang perlu diperhatikan saat penebaran benih adalah kepadatan pada tiap meter
persegi wadah. Kepadatan ini ditentukan oleh jenis ikan dan sistem budidaya pembesaran
yang dilakukan (ekstensif, semi intensif dan intensif). Penebaran benih harus dilakukan
dengan hati hati. Lakukan penebaran benih pada pagi atau sore hari. Hal ini dilakukan agar
benih yang ditebar tidak mengalami sress atau tingkat kematian tinggi. Biarkan benih
keluar dengan sendirinya atau dikeluarkan pelan-pelan dari kemasan benih (plastik).
Sebelumnya masukan air kolam ke dalam plastik sedikt demi sedikit agar mudah
beradaptasi dengan kondisi kolam (aklimatisasi).

3.1.4 Pola Pemberian Makan


Pakan sangat menetukan keberhasilan budidaya pembesaran ikan konsumsi karena
makanan ikan yang akan dibudidaya harus disesuaikan dengan jenisnya. Makanan ini juga
harus berkualitas baik agar dapat menjamin tumbuh kembang ikan yang di budidayakan.
Berdasarkan jenis pakan yang digunakan, proses pembesar dikelompokkan menjadi tiga,
yaitu:
a) Pembesaran ikan secara ekstensif
Pembesaran ikan secara ekstensif yaitu teknik pembesaran ikan yang hanya
mengandalkanpakan alami yang terdapat dalam kolam budidaya.Pada pola
pembesaran ini kesuburan perairan akan sangat menentukan tumbuhnya pakan
alami. Pembesaran dapat dilakukan pada kolam tergenang dan disawah.
b) Pembesaran ikan secara semi Intensif
Pembesaran ikan secara Semi Intensif yaitu pembesaran ikan yang lebih
mengutamakan pakan alami yang terdapat pada kolam dan dengan tambahan pakan
tambahan yang tidak lengkap dari kandungan gizinya seperti dedak. Pembesaran
dilakukan di kolam air tenang.
c) Pembesaran ikan secara intensif
Pembesaran ikan secara intensif yaitu teknik pembesaran ikan yang dalam proses
pemeyaitu teknik pembesaran ikan yang dalam proses pemeliharaanya
mengandalkan pakan buatan.

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
3.2 Tambak Ikan Bandeng

Budidaya ikan bandeng di tambak termasuk salah satu jenis usaha yang kian
banyak dicari. Karena ikan bandeng mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan bisa
dikonsumsi berdasarkan kebutuhan domestik maupun kebutuhan ekspor hingga ke negara-
negara luar. Sebenarnya teknik budidaya ikan bandeng di tambak ini sudah dikembangkan
dalam jangka waktu lama. Tentunya dengan dukungan dari potensi SDA yang berkualitas,
terlebih lagi dengan ketersediaan dari benih bandeng yang mudah, namun produksinya
yang cenderung masih rendah. Sehingga membuat peluang budi daya ikan bandeng ini
lebih menggiurkan.
Ikan bandeng dengan nama ilmiah Chanos chanos merupakan sejenis dari ikan laut
yang berasal dari Family bernama Chanidae. Ikan bandeng termasuk jenis ikan yang
tingkat adaptasinya lebih tinggi terutama dari perubahan salinitas, sekitar 0 60 /milnya.

Ikan ini juga lebih tahan pada perubahan suhu yang tinggi sampai 40oC. Untuk ternak dan
budidaya ikan bandeng di tambak membutuhkan pH tanah sekitar 7 - 8, kandungan oksigen
yang terlarutnya mencapai 3,5 ppm. Adapun tahap untuk budidaya ikan bandeng adalah
sebagai berikut :
1) Persiapan Kolam

Untuk persiapan kolam ini, ada beberapa persyaratan yang wajib dipenuhi antara
lain: tanah memiliki ideal terhadap pasang surutnya air sekitar 1,5 - 2,5 meter, tersedianya
air segar agar bisa mengatur komposisi garam untuk perkembangbiakan bandeng, tanah
memiliki tekstur seperti tanah liat yang berpasir agar bisa menahan air dari sumur, dan
lokasi ideal untuk pertumbuhan ikan bandeng berupa hutan mangrove. Persyaratan ini
berlaku untuk kolam yang sudah digunakan secara berkali-kali. Setelah itu, kolam harus
dikeringkan terlebih dahulu agar bisa dilakukan pemupukan dan pengapuran pada dasar
tambak.

Gambar 2. Pengeringan dan pengapuran kolam ikan bandeng

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
2) Tahap Pemupukan
Pada Dasar Tambak Jika bagian dasar tambak sudah retakretak, maka langkah
selanjutnya adalah dengan melakukan pemupukan di bagian dasar tambak. Adapun tahap
pemupukan pada budidaya ikan bandeng di tambak ini bisa menggunakan pupuk
kandang/kompos dengan dosis 13 ton per hektar dengan jumlah kapur sekitar 12 ton per
hektar berdasarkan pH tanah.
Maksud pemupukan adalah untuk mencapai kondisi media yang baik agar pakan
alami dapat tumbuh secara optimal. Jadi tujuan pemupukan itu adalah untuk menyediakan
unsur-unsur hara, memperbaiki struktur tanah, derajat keasaman dan lain-lain.

Gambar 3. Pemupukan kolam ikan bandeng

3) Tahap Pemberian Pakan


Bibit atau benih ikan yang sudah ditebar tentunya membutuhkan pakan yang
cukup, dengan memberikan makanan alami. Jika sudah 2 minggu maka taburkan lagi
pupuk cair organik agar bisa menumbuhkan pakannya secara alami pada ikan. Makanan
buatan disesuaikan dengan kondisi pakan alami di dalam tambak dapat dilakukan setelah 3
bulan di peternakan ikan panen bandeng dalam ukuran yang diharapkan sesuai dengan
kebutuhan pasar.

Gambar 4. Pemberian pakan ikan

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
4) Pemanenan Ikan Bandeng
Panen ikan bandeng dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:
a. Panen Selektif
Yaitu dengan cara mengeringkan/ membuang air dari tambak sebanyak 70%
kemudian menyeser ikan dengan jaring kemudian ikan disortir/ dipilih yang
dipanen adalah ikan yang besar atau ikan telah memenuhi ukuran yang
diharapkan lalu dijual ke pasar atau pedagang.
b. Panen Total
Yaitu panen yang dilakukan serentak atau sekaligus yang besar maupun yang
kecil semuanya dipanen dan dijual ke pasar atau pedagang.

Gambar 5. Panen ikan bandeng

3.3 Tambak Udang


Sistem budi daya udang di Indonesia berkembang dengan cepat, dari sistem
tradisioanal (ekstensif) menjadi semi-intensif, intensif, dan tambak super intensif.
Sayangnya perkembangan teknologi budi daya udang yang cepat ini tidak diimbangi
dengan kesiapan sumber daya manusia dan cara budi daya udang yang benar. Teknologi
budi daya udang intensif benar-benar hanya berkutat pada peningkatan padat penebaran
yang tinggi, penggunaan pakan berkualitas dan cukup, serta pengunaan kincir dan pompa
air. Budi daya udang intensif hanya sebatas upaya meningkatkan produksi maupun
pembukaan lahan baru untuk pertambakan. Karena itu, budi daya udang intensif tidak
hanya merusak ekosistem mangrove yang dikonversi menjadi tambak, tetapi
meningkatkan pencemaran di pantai dan munculnya serangan penyakit udang yang merata
di seluruh kawasan, hingga seluruh dunia.

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
A. Syarat Teknis
Lokasi yang cocok untuk tambak udang adalah pada daerah sepanjang pantai (beberapa

meter dari permukaan air laut) dengan suhu ratarata 2628 oC.
Tanah yang ideal untuk tambak udang adalah yang bertekstur liat atau liat
berpasir, karena dapat menahan air. Tanah dengan tekstur ini mudah dipadatkan dan
tidak pecahpecah.
Tekstur tanah dasar terdiri dari lumpur liat berdebu atau lumpur berpasir, dengan
kandungan pasir tidak lebih dari 20%. Tanah tidak boleh porous (ngrokos).
Jenis perairan yang dikehendaki oleh udang adalah air payau atau air tawar tergantung
jenis udang yang dipelihara. Daerah yang paling cocok untuk pertambakan adalah
daerah pasang surut dengan fluktuasi pasang surut 23 meter.

B. Tipe Budidaya
Menurut Kordi (2010) sistem tambak dapat dibagi menjadi:
a) Sistem Ekstensif
Budi daya udang sistem ekstensif atau tradisional masih mendominasi tambak-
tambak rakyat di Indonesia. Sistem ini memang sangat sederhana, sehingga
pengelolaannya tidak rumit namun hasilnya memang sangat rendah, antara 50-500
kg/ha/musim tebar. Pengelolaannya bergantung pada kemurahan alam. Tambak berisi
beragam spesies udang dan ikan laut. Berkembang lebih lanjut, tambak tradisional mulai
diberi pupuk dan udang di tambak diberi pakan tambahan secara tidak teratur. Pengelolaan
tambak tradisional terus mengalami perkembangan yang dikenal sebagai tambak
tradisional plus, dimana persiapan tambak sudah dilakukan dengan pengeringan,
pengapuran, dan pemupukan. Penebaran dengan menggunakan benih berukuran seragam
dengan kepadatan 8-10 ekor/m2. Pemberian pakan dilakukan tidak teratur. Namun,
hasil panen dapat ditingkatkan hingga mencapai 500-600 kg/ha/musim setelah
pemeliharaan 7-8 bulan. Jika predator di tambak dapat dikurangi, maka hasil panen dapat
mencapai 700 kg.

b) Sistem Semi-Intensif
Budi daya udang sistem semi-intensif atau madya merupakan sistem yang sudah
maju. Persiapan tambak mengikuti pola umum yaitu: pengeringan, pembajakan,
pemupukan, dan pengapuran. Padat penaburan antara 15-20 ekor/m2 untuk udang windu

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
dan 25-40 ekor/m2 untuk udang vanname. Untuk pengelolaan air, tambak dilengkapi
dengan pompa air dan kincir. Pemberian pakan dilakukan secara berkelanjutan sebanyak
2-3 kali sehari. Pakan yang diberikan berupa pelet yang mengandung protein 30-40%.
Udang juga diberi pakan tambahan berupa udang rebon dan ikan rucah yang dicacah
secukupnya. Dengan pengelolaan yang lebih baik, hasil panen tambak intensif mencapai 2-
3 ton/ha/musim.

c) Sistem Intensif
Budi daya udang secara intensif menerapkan padat penebaran tinggi dan
pengelolaan optimal. Padat penebaran udang windu antara 30-50 ekor/m2 dan udang
vanname antara 40-100 ekor/m2. Pemberian pakan dilakukan 4-6 kali sehari. Hasil
panen yang diharapkan adalah 4-8 ton/ha/musim untuk udang windu dan 10 ton untuk
udang vanname. Perkembangan budi daya udang intensif di Indonesia dimulai pada
akhir tahun 1980-an. Pada awal tahun 1990-an, tambak intensif di Indonesia sudah
menerapkan padat penebaran antara 30-0 ekor/m2. Namun, padat penebaran yang tinggi
tersebut mulai memunculkan masalah, yaitu pencemaran perairan pantai, penyakit udang,
dan rendahnya kelangsungan hidup (survival rate).
Semakin tinggi padat penebaran makin lambat pertumbuhan udang. Pada padat
penebaran sampai 40.000 ekor/ha belum memerlukan kincir air, padat penebaran sampai
dengan 75.000 ekor/ha cukup 1 kincir air, sedangkan untuk padat penebaran di atas 30.000
ekor/ha perlu 8-10 unit kincir air/ha. Padat penebaran rendah umumnya udang tetap
sehat dan jarang terserang penyakit. Sebaliknya pada padat penebaran di atas
300.000/ha, kasus gangguan fisik dan penyakit sangat tinggi.

d) Sistem Super Intensif


Sistem super intensif merupakan sistem budi daya yang menerapkan padat
penebaran sangat tinggi. Pada sistem ini udang windu dapat ditebar 50-80 ekor/m2,
sedangkan udang vanname antara 100-150 ekor/m2. Hasil panen yang diharapkan adalah
6-10 ton untuk udang windu dan 12-16 ton untuk udang vanname. Namun dengan
pengelolaan yang optimal, pada udang vanname padat penebarannya dapat ditingkatkan
hingga mencapai 500 ekor/m2. Budi daya udang super intensif membutuhkan pengelolaan
yang super dan penggunaan teknologi yang memadai. Kontrol kualitas air dilakukan super
ketat dengan menggunakan peralatan-peralatan laboratorium yang maju. Perkerjaan

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
tersebut harus dilakukan oleh tenaga-tenaga terlatih dan berpengalaman.

C. Benur (Pembibitan)
Benur yang baik mempunyai tingkat kehidupan (Survival Rate/SR) yang tinggi,
daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang tinggi, berwarna tegas/tidak pucat baik
hitam maupun merah, aktif bergerak, sehat dan mempunyai alat tubuh yang lengkap. Uji
kualitas benur dapat dilakukan secara sederhana, yaitu letakkan sejumlah benur dalam
wadah panci atau baskom yang diberi air, aduk air dengan cukup kencang selama 1-3
menit. Benur yang baik dan sehat akan tahan terhadap adukan tersebut dengan berenang
melawan arus putaran air, dan setelah arus berhenti, benur tetap aktif bergerak.
Tebar benur dilakukan setelah air jadi, yaitu setelah plankton tumbuh yang ditandai
dengan kecerahan air kurang lebih 30-40 cm. Penebaran benur dilakukan dengan hati-hati,
karena benur masih lemah dan mudah stress pada lingkungan yang baru. Tahap penebaran
benur adalah :
Adaptasi suhu. Plastik wadah benur direndam selama 15 30 menit, agar terjadi
penyesuaian suhu antara air di kolam dan di dalam plastik.
Adaptasi udara. Plastik dibuka dan dilipat pada bagian ujungnya. Biarkan terbuka
dan terapung selama 15 30 menit agar terjadi pertukaran udara dari udara bebas
dengan udara dalam air di plastik.
Adaptasi kadar garam/salinitas. Dilakukan dengan cara memercikkan air tambak ke
dalam plastik selama 10 menit. Tujuannya agar terjadi percampuran air yang
berbeda salinitasnya, sehingga benur dapat menyesuaikan dengan salinitas air
tambak.
Pengeluaran benur. Dilakukan dengan memasukkan sebagian ujung plastik ke air
tambak. Biarkan benur keluar sendiri ke air tambak. Sisa benur yang tidak keluar
sendiri, dapat dimasukkan ke tambak dengan hati-hati/perlahan

D. Pengolahan Lahan

Pengolahan ini meliputi beberapa macam antara lain :


a. Pengeringan Tambak
Pengeringan dasar tambak bertujuan untuk memperbaiki kualitas tanah dasar
tambak maupun untuk mematikan hama dan penyakit di dasar tambak. Pengeringan
dilakukan sampai tanah dasar terlihat pecah-pecah/retak-retak (kandungan air 20%),

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
warna cerah dan tidak berbau; atau bila dilakukan pemeriksaan laboratorium
kandungan bahan organik kurang dari 12%. Jika terdapat endapan lumpur hitam di
dasar tambak, harus diangkat dan dibuang ke luar petakan tambak. Untuk
menghilangkan sisa bau lumpur dapat digunakan cairan molase (tetes tebu).

Gambar 6. Pengeringan Tambak Udang

b. Perbaikan PH lahan Tambak


Mengukur pH tanah pada beberapa titik yang berbeda menggunakan alat ukur
pH (pH soil tester). Pengapuran dilakukan untuk menaikkan pH minimal 6. Agar
lebih akurat, dapat menggunakan pH fox (penambahan hidrogen peroksida
sebanyak 5 tetes). Untuk memperbaiki pH tanah dapat digunakan kapur CaOH
untuk pH tanah kurang dari 6 atau menggunakan CaCO3 jika pH telah lebih dari
6. Pada tambak yang kandungan besinya tinggi (sulfat masam), tidak perlu
melakukan pembalikan dan pengeringan tanah dasar tambak, karena berpotensi
membongkar dan menaikkan kadar besi pada air yang berasal dari lapisan tanah di
bawahnya. Pencucian tanah dasar tambak perlu dilakukan secara berulang. Jika
pencucian tidak sempurna, zat besi akan tetap berada dalam tambak meskipun
tambak telah berisi air.
Dosis yang tepat untuk menetralisir kondisi pH tanah :
Jika pH tanah kurang dari 4, gunakan kapur tohor (CaO) sebanyak 500 - 1000
kg/ha.
Jika pH tanah antara 5 - 6, gunakan kapur tohor (CaO) sebanyak 250 - 500
kg/ha.
Jika pH tanah lebih besar dari 6, gunakan kapur tohor (CaO) sebanyak 100 -
250 kg/ha.

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK

Gambar 7. Pengapuran tambak udang

c. Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk memperbaiki kualitas air, meningkatkan suplai
pakan alami berupa plankton (mengurangi ransum pakan buatan). Pemupukan
tambak dilakukan sebagai berikut :
Tambak dengan dasar berpasir sebaiknya menggunakan pupuk organik
(kompos atau komersial).
Pemupukan dengan pupuk nitrat (N) dan fosfat (P) dilakukan secara langsung
ke tanah dasar tambak. Perbandingan kandungan N : P rasio (nitrogen dan
fosfat) yaitu 1 : 4 atau 1 : 6, dosis pemupukan minimal 1 ppm untuk pupuk
Sp36.
jika air tambak berkadar garam rendah (kurang dari 15 ppt) perlu
ditambahkan KCL sebanyak 1 ppm dengan frekuensi pemberian seminggu
sekali.

d. Pemasukan Air
Kualitas air harus diperiksa dahulu di saluran pemasukan sebelum
dimasukkan ke petakan tambak. Air tersebut diendapkan terlebih dahulu dalam
tandon untuk perbaikan kualitas air.
Pemasukan air dilakukan dengan membuka pintu air yang telah dilengkapi
dengan saringan minimal dua lapis, untuk mencegah masuknya hama berupa bibit
predator, ikan liar, dan pembawa inang penyakit. Tinggi air dari dasar tambak
minimal 80 cm. Bila terdapat banyak lumut di air, dapat dikendalikan dengan
aplikasi silikat dengan dosis 3 ppm. Silikat dilarutkan ke dalam air tawar dahulu

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
kemudian ditebar merata ke seluruh permukaan air tambak pada area yang banyak
ditumbuhi lumut.

Gambar 8. Pemasukan Air

E. Pemeliharaan dan Pemberian Pakan

Pakan diberikan pada hari pertama penebaran, menyesuaikan dengan kebiasaan


udang yang telah diberi pakan secara teratur setiap hari di hatchery. Pemberian pakan
disesuaikan dengan ketersediaan pakan alami di tambak dan kondisi kesehatan udang.
Pemberian pakan pada hari-hari awal, menggunakan takaran tetap (blind feeding).
Untuk populasi udang sebanyak 100.000 ekor PL, dosis pemberian pakan pada hari
pertama penebaran sebanyak dua kilogram; selanjutnya jumlah pakan ditambah sekitar 400
gram (20 persen) perhari sampai umur 30 hari.
Pemberian pakan dilakukan dengan ketentuan :
Semua kincir dimatikan 15 menit sebelum dilakukan penebaran pakan,
Pakan berbentuk tepung harus dibasahi terlebih dahulu agar tidak terbawa angin,
Pakan ditebar secara merata
Hindari penebaran pakan pada daerah penumpukan bahan organik (titik mati).

Gambar 9. Pemberian Pakan

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
F. Panen

Udang dapat dipanen setelah memasuki ukuran pasar (100 30 ind./kg). Untuk
mendapatkan kualitas udang yang baik, sebelum panen dapat dilakukan penambahan
dolomit untuk mengeraskan kulit udang dengan dosis 6 - 7 ppm. Selain dolomit juga dapat
menggunakan kapur CaOH dengan dosis 5 20 ppm sehari sebelum panen untuk
menaikkan pH air hingga 9 agar udang tidak molting.
Panen udang dapat dilakukan secara parsial atau panen total. Panen parsial
dilakukan pada pagi hari untuk menghindari udang molting dan DO rendah. Udang telah
mencapai ukuran 100 ind./kg (dipanen sebanyak 20 - 30% dari jumlah udang).

Panen parsial berikutnya pada ukuran 80 hingga 60 ind/kg. Panen parsial dilakukan
menggunakan jala kantong yang baik sehingga udang yang tertangkap tidak mudah
terlepas; dasar tempat penjalaan harus keras serta tidak berlumpur agar lumpur tidak
mudah teraduk. Untuk memancing udang berkumpul, maka dilakukan pemberian pakan
pada tempat penjalaan.
Panen total biasanya ketika udang telah mencapai ukuran 40 ind./kg. Panen total
dilakukan dengan menggunakan jaring kantong yang dipasang pada pintu air, kemudian
dilanjutkan dengan jaring tarik (jaring arad). Udang yang masih tersisa dapat diambil
menggunakan tangan. Pengeringan air untuk panen total dilakukan dengan cepat untuk
menghindari udang molting.Waktu pemanenan maksimal 3 jam, lebih dari itu udang akan
stress.

Gambar 10. Panen Udang

3.4 Pemasaran
Perkembangan Produksi Udang selama lima tahun terakhir, produksi udang
nasional relatif stabil. Kondisi ini menunjukkan usaha tambak udang memberikan nilai
ekonomi yang layak dan menguntungkan. Sentra-sentra produksi utama tambak udang

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
adalah Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Lampung dan Jawa Barat. Perkembangan produksi
udang nasional lihat tabel berikut :

Di bidang pemasaran, udang khususnya udang windu dan lobster merupakan salah
satu komoditas perikanan yang mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap
perekonomian nasional. Pada tahun 1997, volume ekspor udang tercatat 92,1 ton dengan
nilai US$ 1.015,7 atau US$ 11.028 per ton atau US$ 11,28 per kg.
Meski demikian pada tahun selanjutnya, khususnya sejak tahun 2000, sebagai
akibat menurunnya harga udang di pasaran internasional menjadi US$ 6.888 per ton atau
US$ 6,08 per kg, nilai ekspor udang pada tahun 2001 mengalami penurunan menjadi US$
940 dengan volume ekspor sebesar 122,1 ton. Negara-negara tujuan ekspor utama udang
Indonesia adalah Jepang, AS, Hong Kong, Singapura, Belanda, Inggris dan Belgia dan
Luksemburg.
Pada masa datang, jika kualitas udang nasional terus ditingkatkan dan memenuhi
standar mutu produk yang dibutuhkan oleh negara-negara konsumen khususnya Jepang
dan AS. Prospek pemasaran udang nasional diperkirakan membaik. Kedua negara itu,
sangat ketat terhadap produk makanan yang masuk ke negaranya. Untuk itu standar
manajemen mutu harus mampu dipenuhi oleh pengusaha tambak udang nasional, agar
mampu memiliki nilai kompetitif dengan produk udang negara-negara lain.

3.5 Pengolahan Hasil Perikanan


Pengolahan ikan, dilakukan dengan tujuan untuk menghambat atau menghentikan
zat-zat (reaksi enzim) dan pertumbuhan mikroorganisme (mahluk hidup ) yang dapat
menimbulkan proses pembusukan pada ikan. Dasar pengawetan secara umum adalah :
1. Untuk menghambat perkembangan organisme pembusuk

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
2. Menghancurkan organisme pembusuk

Pengolahan ikan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu :


a. Pengolahan tradisional
Pengolahan tradisional memanfaatkan hasil tangkapan nelayan + 50 % , tetapi
jarang menghasilkan produk dengan kualitas baik. Oleh sebab itu peningkatan
pengetahuan tentang praktek pengolahan yang baik melalui program pendidikan,
penyuluhan dan pembinaan kelompok yang sering dilakukan dewasa ini diharapkan dapat
meningkatkan wawasan para nelayan dan para pengolah perikanan untuk menghasilkan
produk yang lebih baik, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah (added value) pada
produk tersebut. Pengolahan hasil perikanan secara tradisional mempunyai berbagai ciri
antara lain :
Usahanya bersifat rumah tangga
Lokasi umumnya dekat dengan sumber bahan baku (daerah pesisir )
Skala usaha rata-rata kecil
Pengetahuan pengolahan rendah
Ketrampilan yang diperoleh secara turun temurun
Modal usaha kecil
Peralatan yang digunakan sederhana
Sanitasi dan higienis kurang diperhatikan.

Pengolahan secara tradisional dapat dilakukan dengan cara

Penggaraman dan Pengeringan


Penggaraman dan Perebusan
Pemindangan
Pengasapan
Fermentasi

b. Pengolahan modern
Indonesia merupakan salah satu negara dengan wilayah perairan terluas di dunia.
Bahkan, luas daerah perairan di Indonesia jauh lebih luas dibandingkan dengan luas daerah
daratan Indonesia, yaitu sekitar 2/3 dari total luas wilayah kekuasaan Indonesia.
Dengan luas daerah perairan sebesar ini, sudah sepantasnya Indonesia menjadi
salah satu sentra usaha perikanan dunia. Sayangnya, sedikitnya jumlah pengusaha

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
perikanan di Indonesia, menyebabkan Indonesia masih kalah dengan beberapa negara
sentra perikanan lainnya. Agar hasil perikanan dapat dimanfaatkan sebaik mungkin maka
digunakanlah sistem pengolahan secara modern seperti dibawah ini.
Cooling

Cooling merupakan teknologi pengolahan hasil perikanan modern yang digunakan


untuk menjaga kesegaran ikan. Normalnya teknologi ini diterapkan oleh para nelayan yang
menjalankan usaha perikanan tangkap skala kecil yang berlayar dalam kurun waktu yang
tidak terlalu lama, yaitu hanya dalam hitungan hari saja. Dalam penerapannya, nelayan
perikanan tangkap biasanya menggunakan campuran air dan es batu.

Freezing

Sama seperti halnya teknologi pengolahan hasil perikanan cooling, freezing juga
dilakukan untuk tetap menjaga kesegaran ikan. Hanya saja, jika aktivitas cooling dilakukan
dengan mengandalkan campuran air dan es batu, aktivitas freezing dilakukan dengan
mengandalkan peralatan yang lebih canggih yaitu dengan menggunakan freezing unit yang
berukuran besar, atau pun dengan menggunakan bantuan gas pembeku. Normalnya metode
pengolahan freezing hanya dilakukan jika skala usaha perikanan yang dijalankan sudah
cukup besar. Dan karena biaya yang dibutuhkan untuk menerapkan teknologi ini tergolong
tidak murah, metode ini biasanya hanya diterapkan untuk hasil perikanan yang memiliki
harga jual yang tinggi saja.

Canning (Pengalengan)

Hampir sama dengan dua metode yang sebelumnya, aktivitas canning sejatinya
juga dilakukan untuk meningkatkan jangka waktu kelayakan ikan untuk dikonsumsi.
Hanya saja, jika dua metode pengolahan yang sebelumnya dilakukan pada ikan segar,
metode pengolahan canning biasanya cenderung hanya dilakukan pada ikan ikan yang
telah diolah sebelumnya. Aktivitas canning pada dasarnya sudah bisa dilakukan baik di
lautan (di dalam kapal tentunya), mau pun di daratan (dengan menggunakan pabrik
pengolahan ikan). Hanya saja, kebanyakan perusahaan pengolahan ikan cenderung lebih
banyak yang menerapkan aktivitas canning di daratan, yaitu di pabrik pabrik pengolahan
ikan milik mereka. Hal ini dikarenakan, biaya penerapan metode canning di daratan
cenderung jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya yang dibutuhkan untuk
menerapkan metode canning secara langsung di kapal. Disamping itu, angka produksi

RAHMI AFIFI (1407112595)


TUGAS REKAYASA TAMBAK
metode canning di daratan biasanya juga jauh lebih besar dibandingkan dengan angka
produksi metode canning di kapal secara langsung.

Filleting

Teknologi pengolahan hasil perikanan paling modern yang terakhir adalah filleting.
Metode pengolahan filleting dilakukan untuk menambah jangka waktu kelayakan ikan
untuk dikonsumsi, untuk mempermudah aktivitas distribusi dan pemasaran, untuk
mempermudah aktivitas konsumsi, dan juga untuk meningkatkan nilai jual produk ikan.
Berbeda dengan tiga aktivitas pengolahan ikan yang sebelumnya, dimana mayoritasnya
cenderung lebih banyak diterapkan dalam aktivitas perikanan tangkap, selain diterapkan
dalam aktivitas perikanan tangkap, metode pengolahan filleting juga banyak diterapkan
dalam aktivitas pengolahan ikan hasil budidaya.

RAHMI AFIFI (1407112595)