Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Meningitis adalah infeksi serius yang paling umum pada SSP. Meningitis
biasanya disebabkan oleh bakteri atau virus walaupun jamur , protozoa, dan
toksin juga merupakan penyebabnya. Meningitis sering terjadi akibat penyebaran
infeksi dari tempat lain di tubuh, misalnya sinus, telinga, atau saluran napas
bagian atas. Fraktur tengkorak basilar posterior disertai pecahnya gendang telinga
juga dapat menyebabkan meningitis. Pada meningitis bacterial, toksin yang
dikeluarkan merusak sel meningeal dan menstimulasi reaksi imun dan inflamasi.
Ensefalitis sekunder dapat terjadi . walaupun diobati, sebanyak 40% kasus
meningitis bersifat fatal dan sebanyak 30% individu yang bertahan mengalami
komplikasi neurologis.
Dahulu, kebanyakan kasus meningitis terjadi pada anak yang berusia kurang
dari 5 tahun, dan agen kausatif yang paling sering adalah Haemophilus influenza.
Sejak tahun 1990, faksin terhadap H. influenzae tersedia dan diberikan kepada
sebagian besar anak di Amerika Serikatdan Negara lain sebagai satu seri injeksi,
yang dimulai pada bulan kedua kehidupan. Akibat intervensi yang penting ini,
insiden meningitis pada anak yang berusia 1 bulan sampai 2 tahun menurun 87%.
Karena penurunan dramatis meningitis tipe H.influenzae pada populasi ini, kasus
meningitis bacterial secara keseluruhan di Amerika Serikat menurun 55%.
Meningitis kini terjadi paling sering pada individu dewasa yang berusia 19
sampai 59 tahun. Pada kelompok usia ini, penyebab meningitis bacterial yang
paling sering adalah Streptococcus pneumonia (meningitis pneumokokus).
Insiden terbesar berikutnya adalah anak yang berusia 2 sampai 18 tahun, dan
penyebab yang paling sering adalah Neisseria Meningitides (meningitis
meningokokus). Pada neonatus, penyebab yang paling sering adalah
streptococcus grub B; pada bayi yang berusia 1 sampai 23 bulan, penyebabnya
terbagi hampir sama antara S.pneumoniae dan N. meningitides.
Ketika mahasiswa umumnya tidak cenderung mengalami meningitis
dibandingkan dewasa muda lainnya pada kelompok usia tersebut, subkelompok
mahasiswa mengalami peningkatan resiko. Secara khusus mahasiswa tingkat
pertama yang tinggal di asrama mengalami resiko 6 kali lipat lebih besar untuk
mengalami meningitis meningokokus di bandingkan mahasiswa yang tidak
tinggal di asrama. Ketika kini kebanyakan perguruan tinggi memerlukan
vaksinasi terhadap meningitis meningokokus, vaksinasi tidak efektif melawan
semua strain. (corwin hal253)

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa definisi dari meningitis?
2. Apa etiologi dari meningitis?
3. Bagaimana manifestasi klinis meningitis?
4. Apa klasifikasi dari meningitis?
5. Bagaimana patofisiologi dari meningitis?
6. Bagaimana pencegahan dari meningitis?
7. Apa komplikasi dari meningitis?
8. Bagaimana penatalaksanaan dari meningitis?
9. Apa diagnose banding dari meningitis?
10. Bagaimana konsp asuhan keperawatan meningitis?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa diharapkan memahami tentang konsep teori dan konsep
asuhan keperawatan dari meningitis.
1.3.2 Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu untuk :
1. Untuk mengetahui definisi meningitis
2. Untuk mengetahui etiologi meningitis
3. Untuk mengetahui manifestasi meningitis
4. Untuk mengetahui klasifikasi meningitis
5. Untuk mengetahui patofisiologi meningitis
6. Untuk mengetahui pencegahan meningitis
7. Untuk mengetahui komplikasi meningitis
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari meningitis
9. Untuk mengetahui diagnose banding dari meningitis
10. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan meningitis

1.4 Manfaat
Manfaat yang dapat diambil sebagai berikut :
1. Mahasiswa mengetahui konsep teori meningitis
2. Mahasiswa mengetahui konsep asuhan keperawatan dari meningitis
BAB II
KONSEP TEORI

2.1 Definisi
Meningitis adalah inflamasi dari meninges (membran yang mengelilingi
otak dan medulla spinalis) dan disebabkan oleh organisme bakteri atau jamur.
(Baughman, 2000)
Meningitis merupakan peradangan pada meningea, yang mempunyai
gejala-gejala berupa bertambahnya jumlah dan berubahnya susunan cairan
serebro-spinal (CSF). (Pearce, 2009)
Meningitis adalah infeksi pada meninges yang biasanya disebabkan oleh
invasi bakteri dan hanya sedikit oleh virus. Prognosisnya bergantung pada usia
anak, organisme, dan respon anak terhadap terapi. Kebanyakan kasus terjadi
antara usia 1 bulan dan 5 tahun. Bayi dibawah usia 12 bulan paling rentan
terhadap meningitis bakteri. (Muscari, 2005)

2.2 Etiologi
Meningitis disebabkan oleh berbagai macam organisme, tetapi
kebanyakan pasien dengan meningitis mempunyai factor predisposisi seperti
fraktur tulang tengkorak, infeksi, operasi otak atau sum-sum tulang belakang.
Seperti disebutkan diatas bahwa meningitis itu disebabkan oleh virus dan bakteri,
maka meningitis dibagi menjadi dua bagian besar yaitu : meningitis purulenta dan
meningitis serosa. Macam-macam penyebab meningitis :
1. Meningitis bakteri
Bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis diantaranya:
Haemophillus influenza, Nesseria meningitides(meningococcal), Diplococcus
pneumonia(pneumococcal), streptococcus (grup A), Streptococcus
haemolyticuss, Streptococcus pneumonia, Sthaphylocaccus aureus,
Escherichia coli, Klebsiella, Pseudomonas aeruginosa, dan
Mycobacteriumtuberculosa. Tubuh akan merespon terhadap bakteri sebagai
benda asing dan merespon dengan terjadinya peradangan dengan adanya
neutrofil, monosit dan limfosit. Cairan eksudat yang terdiri dari bakteri fibrin
dan lekosit terbentuk di ruangan subarachnoid ini akan terkumpul di dalam
cairan otak sehingga dapat menyebabkan lapisan yang tadinya tipis menjadi
tebal. Dan pengumpulan cairan ini akan menyebabkan peningkatan
intracranial. Hal ini akan menyebabkan jaringan otak akan mengalami infark.
2. Meningitis virus
Merupakan penyebab sering lainnya selain bakteri. Infeksi karena virus ini
biasanya bersifat self-limitting, diamana akan mengalami penyembuhan
sendiri dan penyembuhan bersifat sempurna. Tipe dari meningitis ini sering
disebut aseptic meningitis. Ini biasanya disebabkan oleh berbagai jenis
penyakit yang disebabkan oleh virus seperti : Coxsacqy, virus herpes simplek
dan herper zoster, Arbo virus, Campak dan varicela, Toxoplasma gondhi dan
Ricketsia. Eksudat yang biasanya terjadi pada meningitis bakteri tidak terjadi
pada meningitis virus dan tidak ditemukan organism pada kultur cairan otak.
Peradangan terjadi pada seluruh koteks cerebri dan lapisan otak. Mekanisme
atau respon dari jaringan otak terhadap virus bervariasi tergantung pada jenis
sel yang terlibat.
3. Meningitis jamur
Meningitis Cryptococcal adalah infeksi jamur yang mempengaruhi sistem
saraf pusat pada klien dengan AIDS. Gejala klinisnya bervariasi tergantung
dari system kekebalan tubuh yang akan berefek pada respon inflamasi Respon
inflamasi yang ditimbulkan pada klien dengan menurunnya sistem imun
antara lain: bisa demam/tidak, sakit kepala, mual, muntah dan menurunnya
status mental.
4. Factor maternal : rupture membran fetal, infeksi maternal pada minggu
terakhir kehamilan
5. Factor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi immunoglobulin
2.3 Manifestasi klinis
2.3.1 Tanda dan gejala meningitis secara umum :
1. Aktivitas / istirahat : malaise, aktivitas terbatas, ataksia, kelumpuhan,
gerakan involunter, kelemahan, hipotonia
2. Sirkulasi : riwayat endokarditis, abses otak, TD meningkat, nadi
menurun, takikardi dan disritmia pada fase akut
3. Eliminasi : adanya inkontinensia atau retensi urin
4. Makanan / cairan : anorexia, kesulitan menelan, muntah, turgor kulit
jelek, mukosa kering
5. Higine : tidak mampu merawat diri
6. Neurosensori : sakit kepala, parsetesia, kehilangan sensasi, kejang,
gangguan penglihatan, diplopia, fotofobia, ketulian, halusinasi,
kehilangan memori, refleks abdominal menurun, refleks kremasterik
hilang pada laki-laki
7. Nyeri / kenyamanan: sakit kepala hebat, kaku kuduk, nyeri gerak
okuler, fotosensitivitas, nyeri tenggorokan, gelisah.
8. Pernafasan : riwayat infeksi sinus atau paru
9. Keamanan : riwayat mastoiditis, otitis media, sinusitis, infeksi pelvis,
pungsi lumbal, pembedahan, fraktur cranial,
2.4 Klasifikasi
2.5 Patofisiologi
2.6 Pathway
2.7 Pencegahan
2.8 Komplikasi
2.9 Penatalaksanaan
2.10 Diagnosa Banding