Anda di halaman 1dari 31

PAPER

Analisis Kebijakan Moneter dan Capital Flight di Indonesia


Paper ini bertujuan untuk memenuhi tugas dalam perkuliahan
Perekonomian Indonesia (EKU307 A6)
Pengampu : Drs. I Ketut Sutrisna, M.Si.

Disusun oleh :
KELOMPOK 8
Ida Ayu Tari Purnama Sasti (1506305018 / Absen 06)
A.A. Gede Indra Pramana (1506305075 / Absen 24)

PROGRAM REGULER
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
BALI
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur yang tak terhingga penulis panjatkan kehadirat T u h a n


Y a n g M a h a E s a , karena atas berkat dan karunia-Nya sehingga tugas paper
mata kuliah Perekonomian Indonesia dapat diselesaikan tepat waktu.
Tugas paper ini penulis susun dengan mengerahkan segala daya dan
upaya yang ada, termasuk bantuan dan bimbingan serta sumbang saran dari
berbagai pihak baik langsung maupun tidak langsung.
Penulis menyadari tugas paper ini jauh dari kesempurnaan yang
disebabkan oleh keterbatasan dalam pengetahuan, kemampuan mencari
sumber, dan pengalaman. Untuk itu, masukan yang sifatnya konstruktif akan
sangat berguna bagi penyempurnaan (revisi) berikutnya. Semoga tugas paper
ini dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi para pembaca.
Akhirnya penulis berharap semoga tugas paper yang sederhana ini bisa
bermanfaat bagi kita semua. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Denpasar, 31 Maret 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul .................................................................................... i


Kata Pengantar.................................................................................... ii
Daftar Isi ............................................................................................. iii
Bab I Pendahuluan .............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ....................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................. 2
1.3 Tujuan Penulisan .................................................................... 2
1.4 Manfaat Penulisan ................................................................... 2
Bab II Pembahasan............................................................................... 3
2.1 Kebijaksanaan Moneter.................................................................... 3
2.2 Kelembagaan Kebijakan Moneter ........................................... 13
2.3 Analisis Kasus Capital Flight di Indonesia .............................. 19
2.4 Analisis mengenai devaluasi ..................................................... 24
Bab III Penutup.................................................................................... 27
3.1 Kesimpulan
......................................................................... 27
Daftar Pustaka..................................................................................... 28

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini, pembangunan ekonomi merupakan hal yang diupayakan melalui
setiap tindakan dalam suatu negara. Pembangunan ekonomi pada dasarnya
berhubungan dengan setiap upaya untuk mengatasi masalah keterbatasan sumber
daya. Di negara-negara sedang berkembang, keterbatasan sumber daya ini terutama
berupa keterbatasan sumber dana untuk investasi, dan keterbatasan devisa, di samping
itu tentunya keterbatasan sumber daya manusia yang berkualitas.
Dalam rangka mengatasi keterbatasan sumber daya tersebut, pilihan kebijakan
yang diambil pada umumnya berfokus pada dua aspek, yaitu aspek penciptaan iklim
berusaha yang kondusif, terutama berupa kestabilan ekonomi makro, dan aspek
pengembangan infrastruktur perekonomian yang mendukung kegiatan ekonomi.
Kestabilan ekonomi makro tercemin pada harga barang dan jasa yang stabil serta nilai
tukar dan suku bunga yang berada pada tingkat yang memungkinkan pertumbuhan
ekonomi yang berkesinambungan dengan kondisi neraca pembayaran internasional
yang sehat.
Upaya pemeliharaan kestabilan ekonomi makro berada dalam lingkup tugas
kebijakan ekonomi makro, yaiti kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Begitu pula
upaya pengembangan infrastruktur ekonomi berada dalam ruang lingkup tugas
kebijakan ekonomi mikro, seperti seperti kebijakan di bidang industri, perdagangan,
pasar modal, perbankan, dan sektor keuangan lainnya. Dua di antara berbagai
kebijakan tersebut, yaitu kebijakan moneter dan kebijakan di bidang perbankan, saat
ini menjadi cakupan tugas Bank Indonesia.
Lebih lanjut lagi, kebijakan moneter memegang peran penting dalam menjaga
stabilitas nilai rupiah, menstabilkan tingkat bunga, menjaga stabilitas kurs valuta
asing, mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan oleh pemerintah, serta aspek lainnya.
Bahkan, kebijakan moneter ini sangat penting untuk diperhatikan karena selain bisa
membantu pembangunan ekonomi, namun juga bisa memunculkan salah satu
fenomena moneter yaitu capital flight (pelarian modal). Capital flight ini dapat
mengurangi sumber daya untuk mendanai investasi, sehingga menganggu

1
pembangunan ekonomi.
Atas dasar hal tersebut, penulis tergugah untuk mengangkat "Analisis
Kebijakan Moneter dan Capital Flight di Indonesia" sebagai judul paper ini.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang diangkat oleh paper ini yaitu sebagai berikut.
1.2.1 Bagaimana pemahaman mengenai kebijakan moneter ?
1.2.2 Bagaimana aspek kelembagaan pada penerapan kebijakan moneter di
Indonesia ?
1.2.3 Bagaimana analisis mengenai kasus capital flight di Indonesia ?
1.2.4 Bagaimana analisis mengenai devaluasi ?

1.3 Tujuan penulisan


Tujuan penulisan dari paper ini yaitu sebagai berikut.
1.3.1 Untuk mengetahui pemahaman mengenai kebijakan moneter.
1.3.2 Untuk mengetahui aspek kelembagaan pada penerapan kebijakan
moneter di Indonesia.
1.3.3 Untuk mengetahui analisis mengenai kasus capital flight di
Indonesia.
1.3.4 Untuk mengetahui analisis mengenai devaluasi.

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat yang dapat diperoleh dari paper ini yaitu sebagai berikut.
1.4.1 Bagi masyarakat umum, mampu dijadikan pedoman dan panduan
dalam memahami kebijakan - kebijakan yang dikeluarkan oleh
pemerintah dan otoritas moneter lainnya.
1.4.2 Bagi pembuat kebijakan, mampu dijadikan arahan dalam memastikan
bahwa tiap kebijakan yang dikeluarkan sudah kredibel dan
sesuai.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kebijaksanaan Moneter


Kebijaksanaan moneter adalah setiap kebijaksanaan yang diambil oleh
pemerintah atau oleh Bank Indonesia atau bersama-sama di dalam bidang keuangan
atau bidang moneter dengan harapan mempengaruhi sektor riil, khususnya menunjang
pembangunan ekonomi.
2.1.1 Tujuan Kebijaksanaan Moneter
Tujuan kebijaksanaan moneter adalah untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat melalui pembangunan ekonomi. Tujuan akhir tersebut dapat dicapai
dengan berbagai kebijaksanaan, baik di sektor moneter maupun kebijaksanaan di
sektor riil. Kebijaksanaan di sektor moneter itu sendiri dapat berupa mengendalikan
jumlah uang yang beredar (likuiditas perekonomian), atau menjaga stabilitas nilai
rupiah, menstabilkan tingkat bunga, melaksanakan kebijaksanaan untuk mengurangi
atau menghapus pencucian uang (Money Laundering), laju pertumbuhan pendapatan
nasional, stabilitas kurs valuta asing dan sebagainya, di mana Bank Indonesia
memiliki kewenangan untuk menetapkan sasaran-sasaran moneter tersebut
berdasarkan undang-undang.
Tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah ini tercantum
dalam UU tentang Bank Indonesia. Yang dimaksud dengan kestabilan nilai rupiah
adalah kestabilan terhadap harga-harga barang dan jasa yang tercermin pada inflasi.
Untuk mencapai tujuan tersebut, sejak tahun 2005 Bank Indonesia menerapkan
kerangka kebijaksanaan moneter dengan inflasi sebagai sasaran utamanya (Inflation
Targeting Framework) dengan menganut sistem nilai tukar yang mengambang (free
floating). Peran kestabilan nilai rupiah sangat penting dalam mencapai stabilitas harga
dan sistem keuangan. Oleh karenanya, Bank Indonesia juga menjalankan
kebijaksanaan nilai tukar untuk mengurangi perubahan nilai tukar yang berlebihan,
bukan untuk mengarahkan nilai tukar pada level tertentu.
Dalam kerangka inflasi sebagai sasaran utamanya, Bank Indonesia secara
eksplisit mengumumkan sasaran inflasi kepada publik dan kebijaksanaan moneter
diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah tersebut.

3
Untuk mencapai sasaran inflasi, kebijaksanaan moneter dilakukan secara melihat ke
depan (forward looking), artinya perubahan kebijaksanaan moneter dilakukan melalui
evaluasi apakah perkembangan inflasi ke depan masih sesuai dengan sasaran inflasi
yang telah dicanangkan. Dalam kerangka kerja ini, kebijaksanaan moneter juga
ditandai oleh transparansi dan akuntabilitas kebijakan kepada publik. Secara
operasional, kebijaksanaan moneter dicerminkan oleh penetapan suku bunga
kebijakan (BI Rate) yang diharapkan akan memengaruhi suku bunga pasar uang dan
suku bunga deposito dan suku bunga kredit perbankan. Perubahan suku bunga ini
pada akhirnya akan memengaruhi output dan inflasi.
2.1.2 Jenis - Jenis Kebijaksanaan Moneter
Untuk mengatur kestabilan uang yang beredar di masyarakat, maka
kebijaksanaan moneter dibagi menjadi dua jenis. Berikut ini adalah dua jenis
kebijaksanaan moneter tersebut.:
a) Kebijaksanaan Moneter Ekspansif (Monetary Expansive Policy)
Kebijaksanaan Moneter Ekspansif adalah suatu kebijaksanaan pemerintah
dengan cara menambah jumlah uang yang beredar di masyarakat.
Kebijaksanaan ini dilakukan untuk mengatasi pengangguran dan
meningkatkan daya beli masyarakat (permintaan masyarakat) pada saat
perekonomian mengalami resesi atau depresi. Kebijaksanaan ini disebut juga
kebijaksanaan moneter longgar (easy money policy)
b) Kebijaksanaan Moneter Kontraktif (Monetary Contractive Policy)
Kebijaksanaan Moneter Kontraktif adalah suatu kebijaksanaan pemerintah
dengan cara mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat.
Kebijaksanaan ini dilakukan pada saat perekonomian negara mengalami
inflasi yang mengakibatkan naiknya harga barang di pasaran . Kebijaksanaan
ini disebut juga kebijaksanaan uang ketat (tight money policy).

Secara operasional, pengendalian sasaran kebijaksanaan moneter dapat


menggunakan instrumen-insturmen berikut :
a. Operasi pasar terbuka di pasar uang rupiah maupun valuta asing
b. Penetapan cadangan wajib minimum
c. Penetapan tingkat diskonto
d. Pengaturan kredit atau pembiayaan
e. Kebijaksanaan lain yang dianggap perlu

4
Bank Indonesia juga dapat melakukan cara-cara pengendalian moneter
berdasarkan Prinsip Syariah (prinsip bagi hasil).
a. Operasi Pasar Terbuka (OPT)
Alat kebijaksanaan ini juga dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Open
Market Operation , di mana Bank Indonesia bertindak sebagai pembeli atau
penjual di pasar surat berharga atau di pasar devisa. Instrumen yang digunakan
dalam OPT meliputi : Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan SBI Syariah (SBIS),
Surat-surat berharga, penempatan berjangka (term deposit) oleh Bank dan/atau
pihak lain di BI dan Valuta asing.
Ketika Bank Indonesia atau pemerintah memperkirakan akan terjadi kelebihan
likuiditas perekonomian, yang salah satu indikatornya adalah tingkat bunga di
pasar uang antar bank (PUAB) turun dengan drastis, maka Bank Indonesia akan
melaksanakan operasi pasar terbuka kontraksi, yakni menyerap likuiditas dari
bank dan pihak lain (broker di bursa surat berharga) yang mengalami kelebihan
likuiditas. Kebijaksanaan yang diambil dalam OPT kontraksi ini adalah :
1. Menerbitkan dan kemudian menjual SBI/SBIS kepada peserta bursa (bank
umum atau broker) sehingga likuiditas yang berlebihan terserap ke Bank
Indonesia. Kegiatan ini secara rutin dilaksanakan Mingguan, di mana jangka
waktu SBI bervariasi dari 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan dan maksimum 12 bulan,
sedangkan untuk SBI syariah hanya dengan jangka waktu 1 bulan. Baik SBI
maupun SBIS mempunyai nominal Rp. 100 juta dengan jumlah nominal
minimum yang dikeluarkan oleh BI sebesar Rp. 1.000 juta (atau 10 lembar
SBI/SBIS). Tingkat bunganya sesuai dengan jangka waktunya dan bersifat
wajar (fair) sesuai dengan harga pasar yang ditentukan melalui tender yang
kompetitif untuk SBI dan non kompetitif untuk SBIS.
2. Fine tune kontraksi, yakni kegiatan menarik likuiditas yang berlebihan di bank
umum atau masyarakat namun dilaksanakan harian dan tidak regular dengan
jangka waktu bervariasi dari 1 hari sampai 3 bulan sesuai dengan kelebihan
dana yang dirasakan oleh peserta bursa, nilai nominal minimum adalah Rp.
100 juta dan maksimum yang disimpan di BI Rp. 1000 juta. Tingkat bunganya
bervariasi sesuai dengan jangka waktunya dan bersifat wajar (fair) sesuai
dengan harga pasar yang ditentukan melalui mekanisme tender yang
kompetitif.

5
3. Menerbitkan dan menjual Surat Utang Negara (SUN) atau reverse repo SUN.
Kegiatan ini dilaksanakan secara reguler mingguan, jangka waktu utang
negara adalah bervariasi sampai 12 bulan dengan nominal Rp. 100 juta dan
nominal minimum yang dikeluarkan adalah Rp. 1.000 juta. Tingkat bunganya
sesuai dengan jangka waktunya dan bersifat wajar (fair) sesuai dengan harga
pasar yang ditentukan melalui tender yang kompetitif.
4. Sterilisasi valuta asing dengan membeli USD dalam rupiah di pasar spot USD
dalam rupiah ataupun melakukan swap beli di pasar berjangka valuta asing
(USD dengan rupiah).

Sebaliknya jika Bank Indonesia atau pemerintah memperkirakan akan terjadi


kekurangan likuiditas perekonomian, yang salah satu indikatornya adalah tingkat
bunga di pasar antar bank (PUAB) naik dengan drastis, maka Bank Indonesia
akan melaksanakan operasi pasar terbuka ekspansi, yakni memompakan likuiditas
kepada bank dan pihak lain (broker di bursa surat berharga) yang mengalami
kekurangan likuiditas.
b. Penetapan cadangan wajib minimum
Instrumen lain yang dapat digunakan untuk mempengaruhi likuiditas di pasar
adalah melalui penetapan cadangan wajib minimum dalam bentuk giro sehingga
dikenal juga dengan nama Giro Wajib Minimum (GWM), yang tidak lain
daripada simpanan minimum yang harus dipelihara oleh bank dalam bentuk saldo
rekening giro pada Bank Indonesia yang besarnya ditetapkan oleh Bank
Indonesia. Cara kerja dari alat kebijaksanaan moneter ini adalah sebagai berikut :
apabila Bank Indonesia atau pemerintah memperkirakan akan terjadi kekurangan
likuiditas perekonomian, yang salah satu indikatornya adalah tingkat bunga di
pasar uang antar bank (PUAB) naik dengan drastis, maka Bank Indonesia akan
menurunkan GWM. Dengan turunnya GWM maka bank umum mampu
memberikan kredit lebih besar atau likuiditas perekonomian akan meningkat.
Sebaliknya apabila Bank Indonesia atau pemerintah memperkirakan akan terjadi
kelebihan likuiditas perekonomian, maka bank Indonesia akan meningkatkan
GWM sehingga bank-bank harus menambah gironya dan dengan demikian
kelebihan likuiditasnya terserap.
GWM diatur dalam Peraturan Bank Indonesia No.6/15/PBI/2005 yang
menggantikan Peraturan Bank Indonesia No.6/15/PBI 2004 tentang Giro Wajib

6
Minimum Bank Umum Pada Bank Indonesia Dalam Rupiah dan Valuta Asing.
Semua bank harus mempunyai GWM dalam rupiah sedangkan bank devisa selain
harus mempunyai GWM dalam rupiah juga harus mempunyai GWM dalam valuta
asing. Besar GWM dalam rupiah ditetapkan 5 persen dari DPK (dana pihak
ketiga) dalam rupiah dan hanya 3 persen dari DPK dalam valuta asing untuk
GWM valuta asing. Di samping itu bank wajib memelihara tambahan GWM
dalam rupiah yang ditetapkan berdasarkan besarnya DPK dalam rupiah dan LDR
(loan to deposit ratio). Kalau satu bank memiliki DPK sampai satu triliun rupiah
maka tambahan GWM adalah 0 persen dari DPK. Sedangkan kalau satu bank
memiliki DPK dari 1 sampai 10 triliun rupiah, dari 10 triliun sampai 50 triliun
rupiah, atau di atas 50 triliun rupiah, maka tambahan GWM berturut-turut sebesar
satu, dua, atau tiga persen dari DPK.
Di samping itu bank juga mempunyai kewajiban memelihara tambahan GWM
dalam rupiah berdasarkan besarnya LDR. LDR adalah rasio kredit yang diberikan
kepada pihak ketiga dalam rupiah dan valuta asing, tidak termasuk kredit kepada
Bank lain, terhadap dana pihak ketiga yang mencakup giro, tabungan, dan
deposito dalam rupiah dan valuta asing, tidak termasuk antar bank. Jika LDR satu
bank adalah : di atas 90 persen (tambahan GWM adalah 0 persen dari DPK), dan
selanjutnya berturut-turut untuk LDR 7590 % (tambahannya 1%), untuk LDR
6075 % (tambahannya 2%), untuk LDR 5060 % (tambahannya 3%), untuk
LDR 4050 % (tambahannya 4%), dan untuk LDR di bawah 40% (tambahannya
5% dari dana pihak ke tiga). Persentase GWM dan tambahannya dapat
disesuaikan dari waktu ke waktu dengan mempertimbangkan kondisi
perekonomian dan arah kebijakan Bank Indonesia.
c. Politik Diskonto
Di samping kebijaksanaan pasar terbuka dan GWM, dalam rangka mencapai
sasaran akhir kebijakan moneter, Bank Indonesia juga menerapkan kerangka
kebijakan moneter melalui pengendalian suku bunga (target suku bunga). Suku
bunga yang dikenal dengan istilah BI Rate, ditetapkan melalui Rapat Dewan
Gubernur (RDG) Bank Indonesia setiap bulan. Dalam tataran operasional, BI rate
tercermin dari pergerakan suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) overnight
(O/N). Pergerakan ini diharapkan akan diikuti oleh perkembangan suku bunga
deposito, dan pada gilirannya suku bunga kredit perbankan.

7
PUAB atau Pasar Uang Antar Bank adalah kegiatan pinjam meminjam dana
antara satu bank dengan bank lainnya. Suku bunga PUAB merupakan harga yang
terbentuk dari kesepakatan pihak yang meminjam dan meminjamkan dana.
Kegiatan di PUAB dilakukan melalui mekanisme kesepakatan antara peminjam
dan pemilik dana yang dilakukan tidak melalui lantai bursa dan dikenal dengan
istilah over the counter (OTC). Jangka waktu PUAB yaitu antara satu hari kerja
(overnight) sampai dengan satu tahun.
Dengan mempertimbangkan pula faktor-faktor lain dalam perekonomian,
Bank Indonesia pada umumnya akan menaikkan BI Rate apabila inflasi ke depan
diperkirakan melampaui sasaran yang telah ditetapkan, sebaliknya Bank Indonesia
akan menurunkan BI Rate apabila inflasi ke depan diperkirakan berada di bawah
sasaran yang telah ditetapkan. Agar pergerakan suku bunga PUAB O/N tidar
terlalu melebar atau jauh dari BI Rate, Bank Indonesia selalu berusaha untuk
menjaga dan memenuhi kebutuhan likuiditas perbankan secara seimbang sehingga
terbentuk suku bunga yang wajar dan stabil.
d. Pengaturan kredit atau pembiayaan
Alat kebijaksanaan yang juga dapat dilaksanakan oleh Bank Indonesia adalah
pengaturan kredit. Kredit adalah aktivitas utama dari lembaga keuangan bank,
sehingga manajemen kredit merupakan hal yang sangat penting. Tujuan dari
pengaturan kredit adalah untuk tindakan berhati-hati (prudent banking),
mengindari penyalahgunaan kredit dengan tujuan akhir meminimumkan kredit
macet. Misalnya, kredit atau bantuan likuiditas Bank Indonesia yang dikenal
dengan BLBI dengan bunga yang rendah (karena bersubsidi) diatur sedemikian
rupa sehingga hanya bagian tertentu saja yang boleh disalurkan kepada anak
perusahaan dari bank penerima. Kesulitan yang bagaimana yang dihadapi oleh
bank sehingga dia berhak mendapat bantuan kredit dari Bank Indonesia. Hal-hal
yang demikian ini dan masalah manajemen kredit sehari-hari harus diatur dengan
baik sehingga sistem moneter dapat berjalan dengan baik dan tujuan untuk
menstabilkan nilai uang dapat dicapai.
e. Kebijaksanaan lain
Di samping alat kebijaksanaan di atas masih ada lagi alat kebijaksanaan yang
dapat dan pernah dilaksanakan oleh Indonesia. Alat kebijaksanaan tersebut antara
lain :

8
1. Bujukan moral (moral suasion). Alat kebijaksanaan ini biasa ditemui di
literatur ekonomi uang dan bank atau ekonomi moneter di dunia Barat, dan S.
Grenville, dalam tulisannya yang berjudul Kebijaksanaan moneter dan sektor
keuangan formal dalam buku Ekonomi Orde Baru oleh A. Booth dan
P.McCawley (eds) mengatakan bahwa, karena adanya hubungan pribadi dan
saling kenal antar para manajer bank (terutama antara Bank Indonesia dengan
bank-bank pemerintah lainnya) dan dengan para nasabah besar, bujukan moral
dari Bank Indonesia merupakan alat kebijaksanaan moneter yang efektif pada
waktu itu. Dewasa ini pun masih terdapat hubungan informal yang baik antara
Bank Indonesia dengan manajer bank dan pelanggan besar, sehingga alat
kebijaksanaan moneter bujukan formal masih bisa efektif dan dilaksanakan di
samping saluran-saluran formal.
2. Sanering. Kebijaksanaan ini adalah kebijaksanaan moneter yang dilakukan
pada zaman pemerintahan Sukarno, sekitar tahun 1950. Caranya adalah
dengan menggunting uang kertas yang beredar menjadi dua bagian. Satu
bagian atau setengah dari nilai nominal uang itu diganti dengan uang kertas
baru, sedangkan setengah yang lainnya diganti dengan obligasi Negara
(pinjaman pemerintah jangka panjang dengan bunga tetap). Pada masa itu
bursa surat-surat berharga (efek) belum maju seperti sekarang. Jika tindakan
tersebut dilakukan sekarang ini, barangkali pemerintah hanya mengeluarkan
obligasi Negara, kemudian menjualnya di bursa, sehingga kebijaksanaan
tersebut merupakan kebijaksanaan yang biasa saja.
3. Pergantian uang. Kebijaksanaan ini adalah mengganti uang lama dengan uang
baru dengan perbandingan uang lama dengan nilai Rp.1.000,- diganti dengan
uang baru dengan nominal satu rupiah. Kebijakan ini dilaksanakan pada akhir
pemerintahan Sukarno atau awal pemerintahan Suharto. Pada waktu itu,
masyarakat yang mempunyai uang kertas pecahan sepuluh ribuan merasa
bingung, dan bersedia melepasnya seberapa pun mendapat barang atau jasa
sebagai tukarannya. Akibat dari kebijaksanaan ini bukannya inflasi berkurang,
malah bertambah cepat.
4. Devaluasi. Istilah devaluasi berkaitan dengan kebijaksanaan pemerintah untuk
menurunkan nilai uang dalam negeri (rupiah) terhadap nilai uang luar negeri.
Indonesia telah melaksanakan kebijaksanaan devaluasi berkali-kali, khususnya
pada zaman pemerintahan Sukarno dan Suharto, di mana kurs devisa

9
dipertahankan tetap (harga resmi), sedangkan di pasar kurs tersebut telah
berubah. Misalnya, sampai pada tanggal 25 Agustus 1959 pemerintah telah
mempertahankan harga dolar AS sebesar Rp.11,40 dari sejak Februari 1952.
Namun di pasar, harga dolar Amerika Serikat telah mengalami kenaikan.
Akhirnya, baru pada tanggal 25 Agustus 1959 pemerintah mengumumkan
bahwa harga resmi dolar AS sejak itu menjadi Rp.45,- . Kebijaksanaan
pemerintah menaikkan harga dolar AS pada 25 Agustus 1959 menjadi Rp.45,-
itu dikatakan kebijaksanaan devaluasi.

2.1.3 Sifat Kebijaksanaan Moneter dan Hasilnya


Bekerjanya transmisi kebijakan moneter ini memerlukan waktu (time lag).
Tenggang waktu masing-masing jalur berbeda dengan yang lain. Jalur nilai tukar
biasanya bekerja lebih cepat karena dampak perubahan suku bunga kepada nilai tukar
bekerja sangat cepat. Kebijaksanaan moneter yang kurang kuat memerlukan waktu
yang lebih lama dibandingkan dengan kebijaksanaan yang kuat. Misalnya penurunan
tingkat bunga yang tidak banyak akan memakan waktu yang lebih lama dibandingkan
penurunan tingkat bunga yang besar. Demikian juga misalnya kenaikan bunga yang
hanya 1 persen setahun, akan memakan waktu yang jauh lebih lama dibandingkan
kenaikan tingkat bunga sebesar 80 persen setahun seperti pada akhir pemerintahan
Sukarno, atau sebesar 60 persen setahun pada akhir pemerintahan Suharto.
Kondisi sektor keuangan dan perbankan juga sangat berpengaruh pada
kecepatan transmisi kebijakan moneter. Apabila perbankan melihat risiko
perekonomian cukup tinggi, respons perbankan terhadap penurunan suku bunga BI
rate biasanya sangat lambat. Juga, apabila perbankan sedang melakukan konsolidasi
untuk memperbaiki permodalan, penurunan suku bunga kredit dan meningkatnya
permintaan kredit belum tentu direspons dengan menaikkan penyaluran kredit. Di sisi
permintaan, penurunan suku bunga kredit perbankan juga belum tentu direspons oleh
meningkatnya permintaan kredit dari masyarakat apabila prospek perekonomian
sedang lesu. Kesimpulannya, kondisi sektor keuangan, perbankan, dan kondisi sektor
riil sangat berperan dalam menentukan efektif atau tidaknya proses transmisi
kebijakan moneter. Kesimpulannya adalah bahwa kebijaksanaan moneter yang kurang
kuat mungkin kurang atau tidak efektif sedangkan kebijaksanaan moneter yang kuat
sering bersifat mala petaka bagi perekonomian. Oleh karena itu kebijaksanaan
moneter harus bersifat sedang dan sesuai dengan kondisi perekonomian.

10
Dari berbagai kebijaksanaan moneter yang disebutkan di atas, ada yang
dilaksanakan reguler mingguan, harian, dan ada juga yang tidak reguler, hasil yang
diperoleh mengenai pengumpulan dana masyarakat berupa giro (rupiah dan valuta
asing), deposito (rupiah dan valuta asing) dan tabungan adalah seperti pada Tabel 2.1
berikut.
Tabel 2.1: Penghimpunan Dana oleh Bank Umum1) (miliar rupiah)

Giro Deposito
Tahu Dalam Dala Sub Dalam Dalam Sub Tabunga
Jumlah
n Rupiah m Total Rupiah Valas Total n
2)
Valas
2002 130.87 73.18 204.06 365.77 447.48 193.468
7 9 7 1 81.710 0 845.015
2003 155.89 68.86 224.75 356.28 433.12 244.440
8 1 9 7 76.840 7 902.326
2004 171.66 75.48 247.14 352.72 421.29 296.647
1 2 3 3 68.567 0 965.080
2005 194.53 88.12 282.65 456.73 112.93 569.67 281.757 1.134.08
3 2 5 9 5 4 6
2006 251.21 88.56 339.78 511.35 113.23 624.59 334.380 1.298.75
9 8 7 6 4 0 7
2007 311.03 96.24 407.28 543.28 138.24 681.53 439.371 1.528.18
7 7 4 5 5 0 5
1)
Termasuk dana milik pemerintah dan bukan penduduk
2)
Termasuk sertifikat deposito
Sumber : BI LPI, 2007 Tabel 32 (diolah)

Tabel 2.1 menunjukkan bahwa dana masyarakat yang masuk perbankan selalu
mengalami kenaikan dari sekitar 850 triliun rupiah pada tahun 2002 menjadi lebih
dari 1500 triliun rupiah pada tahun 2007, atau hampir dua kali lipat dalam periode
enam tahun. Perkembangan giro dalam valuta asing jauh lebih lamban dibandingkan
dengan perkembangan deposito dalam valuta asing, sedangkan tidak ada tabungan
dalam valuta asing. Di antara ketiga komponen dana yang masuk ke perbankan
tersebut tabungan dan giro hampir sama dalam jumlah dan perkembangannya,

11
sedangkan deposito adalah yang terbesar dan namun berkembang dengan kecepatan
yang lebih lamban.
Dana yang masuk ke sistem perbankan bukanlah untuk diendapkan, melainkan
untuk disalurkan ke berbagai sektor ekonomi baik berupa kredit modal kerja maupun
berupa kredit investasi atau keduanya seperti terlihat pada Tabel 2.2
Tabel 2.2: Kredit Bank Umum dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Jenis
Penggunaan dan Sektor Ekonomi1) miliar rupiah
Kegunaan + sektor 2002 2003 2004 2005 2006 2007
Modal Kerja 282.486 343.626 436.684 557.207 638.264 811.347
Pertanian 10.336 11.703 18.889 21.104 25.804 31.924
Pertambangan 2.497 2.951 3.575 4.239 8.503 14.693
Perindustrian 89.555 92.045 106.948 130.374 141.670 159.118
Perdagangan 55.804 70.147 91.548 112.072 137.103 185.623
Jasa-jasa 35.307 54.718 64.777 83.120 99.414 138.041
Lain-lain 88.98 112.062 150.947 206.388 225.770 281.948
Kredit Investasi 82.924 94.316 116. 864 132.463 148.872 183.764
Pertanian 11.996 12.604 13.487 15.664 19.199 23.982
Pertambangan 3.598 2.110 4.155 3.635 5.393 10.647
Perindustrian 31.480 31.080 36.655 39.304 40.763 44.690
Perdagangan 10.174 14.110 19.486 22.036 25.293 30.046
Jasa-jasa 25.676 34.412 43.081 51.824 58.224 74.399
Lain-lain - - - - - -
M.Kerja + Investasi 365.410 437.942 553.548 689.670 787.136 995.111
Pertanian 22.332 24.307 32.376 36.678 45.003 55.906
Pertambangan 6.095 5.061 7.730 7.874 13.896 25.340
Perindustrian 121.035 123.125 143.603 169.678 182.433 203.808
Perdagangan 65.978 84.257 111.035 134.108 162.396 215.669
Jasa-jasa 60.983 89.130 107.858 134.944 157.638 212.440
Lain-lain 88.987 112.062 150.947 206.388 225.770 281.948
1)
Tidak termasuk pinjaman antarbank, pinjaman kepada pemerintah pusat dan
bukan penduduk, serta nilai lawan valuta asing pinjaman investasi dalam
rangka bantuan proyek.
Sumber: BI LPI 2007 Tabel 40.
Tabel 2.2 menunjukkan bahwa baik kredit untuk investasi maupun untuk
modal kerja keduanya mengalami kenaikan, di mana kredit untuk modal kerja
meningkat dari sekitar 280 triliun rupiah (2002) menjadi lebih dari 800 triliun rupiah
(2007) atau telah meningkat hampir tiga kali lipat dalam enam tahun, sedangkan
kredit untuk investasi meningkat dari sedikit di atas 82 triliun rupiah (2002) menjadi
sekitar 180 triliun rupiah (2007), atau hanya meningkat 2,2 kali dalam enam tahun.
Secara keseluruhan kredit modal kerja meliputi 80 persen dari jumlah kredit,
sedangkan sisanya hanya 20 persen untuk investasi. Sektor perindustrian merupakan

12
sektor yang paling besar menyerap kredit, yakni sekitar 23 persen dari kredit modal
kerja dan sekitar 30 persen untuk kredit investasi.
Jika dibandingkan antara tabel 2.1 dengan 2.2, maka tampak bahwa tidak
semua dana pihak ketiga yang masuk bank umum (giro, deposito dan tabungan)
diserap kembali oleh masyarakat untuk pembiayaan berbagai sektor ekonomi berupa
kredit modal kerja dan kredit investasi. Selama periode enam tahun dana masyarakat
yang masuk ke bank-bank umum adalah sejumlah 6.673 triliun rupiah dan yang
diserap kembali oleh masyarakat hanyalah sebesar 3.829 triliun rupiah, atau dengan
kata lain LDR perbankan umum dalam periode tersebut hanyalah sekitar 57 persen.
Dari kalkulasi yang bersifat makro ini dengan periode waktu cukup lama dapat
kiranya disimpulkan bahwa LDR seluruh bank umum sebesar 57 persen ini tidaklah
begitu menggembirakan. Kiranya terlalu banyak dana masyarakat yang mengendap di
bank-bank umum, perlu lebih digiatkan perekonomian, misalnya dengan menurunkan
tingkat bunga sehingga perekonomian secara keseluruhan lebih bergairah dan
menyerap dana masyarakat yang masih ke sistem perbankan.

2.2 Kelembagaan Kebijaksanaan Moneter


Sektor perbankan atau sektor keuangan formal di Indonesia dalam tahun-tahun
pertama kemerdekaan terdiri dari sebuah bank sentral (yang juga beroperasi sebagai
bank umum), 5 bank umum yang besar (4 di antaranya bank-bank dagang warisan
jaman penjajahan dan yang kemudian dinasionalisasi dalam tahun 1950-an), sebuah
bank pembangunan (investment bank) milik Negara, sekitar 100 bank-bank swasta
domestic kecil dan 4 buah bank asing. Orientasi perbankan pada waktu itu terutama
tertuju pada pembiayaan dan kelancaran perdagangan internasional, di samping
terbuka kesempatan untuk memperluas ruang lingkup kegiatan perbankan. Misalnya
pada tahun 1952, telah ada perdagangan saham-saham luar negeri, meskipun dalam
jumlah yang kecil, dan selama tahun 1950an pemerintah mengeluarkan obligasi-
obligasi. Namun, lembaga-lembaga keuangan hanya dapat berkembang dengan baik
dalam keadaan harga-harga yang relatif stabil. Dengan terjerembabnya Indonesia ke
dalam keadaan hiperinflasi, lembaga-lembaga keuangan yang ada mengalami masa
surut. Menjelang tahun 1965, bank-bank umum tidak dapat lagi menjalankan fungsi-
fungsinya yang normal : inflasi telah merongrong kemampuan bank umum menarik
dana dari masyarakat, dan akibatnya kegiatan perbankan di bidang peminjaman
menjadi tidak berarti. Seluruh sektor perbankan hanya berperan sebagai saluran

13
pembiayaan defisit APBN. Banyak bank-bank umum swasta tutup, dan hanya bank-
bank milik pemerintah yang masih dapat bertahan karena telah berubah fungsinya
menjadi salah satu saluran penciptaan uang; mereka sesungguhnya hanya menjadi
semacam cabang dari bank sentral dan diawasi langsung oleh penguasa moneter. Pada
tahun 1964 semua bank asing ditutup.
Struktur perbankan yang demikian inilah yang diwarisi oleh Pemerintah Orde
Baru pada tahun 1965. Menyadari adanya kegagalan kebijaksanaan yang
mengandalkan campur tangan langsung pemerintah di masa lalu, Pemerintah Orde
Baru berusaha untuk mengurangi peran negara di dalam kehidupan ekonomi, dengan
lebih mengandalkan kekuatan-kekuatan pasar dan memberi kesempatan kepada sektor
swasta untuk mengambil peranan lebih besar di dalam perekonomian. Pada jaman itu
konglomerasi bank milik negara yang merupakan peleburan bank-bank pemerintah ke
dalam satu unit administrasi dihapuskan, dan satu tingkat kebebasan bertindak
tertentu dikembangkan kepada masing-masing bank pemerintah. Pemberian izin
usaha bank baru diberhentikan sejak tahun 1971.
Bank-bank pemerintah ini merupakan unsur pokok dari sistem perbankan di
Indonesia pada saat itu. Dengan sekitar 600 cabangnya di seluruh Indonesia, bank-
bank ini merupakan satu jaringan luas yang diharapkan dapat menjadi wadah
perkembangan sistem keuangan selanjutnya. Bank-bank ini mempunyai hubungan
khusus dengan bank sentral sehingga simpanan-simpanan yang ada pada mereka
terjamin, dan kadang-kadang dengan hubungan ini mereka dapat menawarkan bunga
deposito yang cukup tinggi karena memperoleh subsidi. Selain itu, mereka dapat
memperoleh dana murah untuk disalurkan ke bidang-bidang lain yang
menguntungkan mereka. Sebagai imbalan dati fasilitas-fasilitas khusus ini bank-bank
pemerintah diwajibkan memberi pinjaman kepada proyek-proyek khusus dan sektor-
sektor yang dirprioritaskan oleh pemerintah, menyediakan fasilitas-fasilitas perbankan
sampai ke tingkat desa, dan menyerahkan kepada pemerintah hak untuk menentukan
tingkat bunga, baik untuk simpanan/deposito yang mereka terima maupun untuk
pinjaman-pinjaman yang mereka berikan. Dengan makin berkembangnya bank-bank
umum, Bank Indonesia (yang sebelumnya bertindak sebagai bank sentral dan
sekaligus sebagai bank umum) menghentikan fungsi bank umumnya. Perubahan ini
secara resmi dicantumkan dalam Undang-undang Bank Sentral tahun 1968
Di samping kebijaksanaan baru diberlakukan terhadap bank-bank pemerintah
tersebut, bank-bank umum milik swasta dan cabang-cabang bank asing juga

14
menikmati iklim usaha yang lebih baik setelah 1968. Banyak bank swasta tidak
berfungsi sebagai bank dalam arti yang sesungguhnya dan hanya merupakan alat
perusahaan swasta untuk memperlancar kegiatan keuangannya. Namun sejak awal
1970an, bank-bank ini muncul sebagai bank dalam arti sesungguhnya, dan menerima
simpanan dari perusahaan perusahaan nasabah mereka dan juga memberikan kredit
kepada mereka. Setelah 1972 bank-bank asing telah membuka kantor perwakilan dan
kantor-kantor bank asing ini juga membawa pengaruh-pengaruh positif terhadap
perkembangan sektor keuangan di Indonesia, dengan makin eratnya hubungan
Indonesia pusat-pusat keuangan internasional, para peminjam kredit yang bonafide
(misalnya perusahaan negara dan perusahaan patungan) mulai menyadari bahwa
mereka dapat memperoleh dana yang lebih murah di luar negeri. Perkembangan
kelembagaan ini telah memperlancar aliran modal dalam jumlah yang besar ke dalam
negeri.
Mengingat derasnya aliran modal dalam jumlah yang besar ke dalam negeri di
satu pihak, dan di lain pihak kemampuan system perbankan yang dianggap kurang
memadai dalam menyerap dana masyarakat, maka baru pada tahun 1983 pemerintah
mengeluarkan deregulasi perbankan untuk pertama kalinya, yang dikenal Paket Juni
(Pakjun) 1983. Paket ini memberikan kemudahan bagi bank untuk menentukan
sendiri suku bunga deposito dan dihapuskannya campur tangan Bank Indonesia
terhadap bank dalam penyaluran kredit. Dalam paket ini juga diperkenalkan adanya
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan juga Surat Berharga Pasar Uang (SPBU). Pakjun
tersebut berhasil menarik dana masyarakat ke bank secara drastis, dan diharapkan
bisa merangsang pertumbuhan perbankan.
Lima tahun setelah Pakjun itu, pemerintah mengeluarkan Paket 27 Oktober
1988 yang dikenal dengan Pakto 88. Paket ini adalah aturan paling liberal sepanjang
sejarah perbankan Indonesia. Hanya dengan modal Rp 10 miliar, siapa saja dapat
mendirikan bank baru. Dan kepada bank-bank asing lama dan yang baru masuk pun
diizinkan membuka cabangnya di enam kota. Bahkan bentuk patungan antar bank
asing dengan bank swasta nasional diizinkan. Reserve Requirement bank local
diturunkan dari 15% menjadi 2%. Pakto 88 dianggap telah banyak mengubah
kehidupan perbankan nasional.
Jumlah bank tumbuh dari 111 bank pada Maret 1989 menjadi 176 bank pada
Maret 1991. Pada tahun 1992 tercatat jumlah bank 17 ribu buah, 8400 di antaranya
adalah BPR (bank perkreditan rakyat). Banyak dana-dana luar negeri yang masuk

15
lewat pasar modal, yang dipakai untuk mendirikan bank di Indonesia. Akibatnya
adalah menjamurnya bank-bank gelap. Pemerintah juga telah mengizinkan dibukanya
lembaga-lembaga keuangan non bank. Lembaga-lembaga ini dimaksudkan sebagai
alat untuk memobilisasi dana-dana jangka panjang (baik yang berasal dari dalam
negeri maupun dari luar negeri) untuk membiayai investasi dari perusahaan-
perusahaan. Lembaga-lembaga ini biasanya didirikan dalam bentuk kongsi antara
mereka yang mempunyai kepentingan perbankan di dalam negeri dan di luar negeri.
Dalam praktek, lembaga-lembaga ini berfungsi seperti bank meskipun mereka tidak
menerima giro dan cenderung untuk mempunyai nasabah perusahaan-perusahaan
besar. Bursa efek dihidupkan kembali dan disempurnakan. Pertumbuhan lembaga
sektor moneter, khususnya bank baru, terus berlanjut dan tampaknya tidak terkendali.
Banyaknya jumlah bank membuat kompetisi pencairan tenaga kerja,
monilisasi dana deposito dan tabungan juga semakin kompetitif. Kebijaksanaan yang
terlalu bebas tersebut menyebabkan banyak pihak yang dirugikan karena tidak
profesionalnya bank (terutama dalam memberikan pinjaman kredit). Pertimbangan
pemerintah adalah tahun 1988 dijadikan tahun ekspansi dan tahun 1991-1994 untuk
menguatkan perbankan Indonesia.
Pada tahun 1991 pemerintah meluncurkan paket kebijaksanaan yang mengatur
syarat bahwa modal sendiri dari sebuah bank seharusnya sebesar 8% dari seluruh aset,
akrena diyakini bahwa pada saat itu banyak bank yang mempunya kecukupan modal
(dikenal dengan istilah capital adequacy ratio atau CAR, perbandingan antara modal
sendiri dengan aset) sangat rendah, di bawah 5 persen malah ada yang negative.
Aturan ini membuat bank-bank memperkuat modalnya sendiri. Kemudian Maret
1992, pemerintah mengeluarkan Undang-undang Perbankan No.7 yang mengatur
berbagai syarat untuk mendirikan bank baru, seperti susunan organisasi, pemodalan,
kepemilikan, keahlian di bidang perbankan, kelayakan kerja dan lain-lainnya. Dan
pada tahun itu juga pemerintah menaikkan modal minimum pendirian bank, dari Rp
10 miliar menjadi Rp 50 miliar. Meskipun syarat permodalan dan lainnya dalam
mendirikan bank diperketat, pertumbuhan bank baru masih berlanjut hingga tahun
1994. Banyak bank dikuasai para konglomerat, yang ternyata menyuburkan praktek
pemberian kredit untuk kelompok usaha mereka sendiri. Beberapa bank berubah
menjadi bank devisa karena syaratnya dianggap masih terlalu lunak.
Meledaknya jumlah bank itu diikuti dengan kompetisi sengit dalam
perekrutan tenaga kerja, terjadi heboh pembajakan karyawan bank. Kompetisi sengit

16
juga terjadi dalam hal mobilisasi dana masyarakat (giro, deposito, tabungan) dan
usaha untuk menguurkan kredit dan pinjaman. Yang terjadi adalah tindakan hati-hati
dan keamanan dalam menyulurkan kredit menjadi terabaikan, tingkat bunga
membubung tinggi, yang akhirnya diikuti oleh kredit macet yang menggunung.
Banyak bank mengalami kesulitan likuiditas dan para konglomerat pemilik bank
terjun ke dunia politik untuk memperkuat status-quo kesenjangan penguasaan sumber
daya ekonomi, yang berujung pada skandal Likuiditas Bank Indonesia (LBI),
maksudnya tidak sedikit bantuan likuiditas yang disalahgunakan dan diselewengkan.
Pembenahan dan penguatan sistem perbankan masih terus dijalankan,
misalnya melonggarkan aturan soal CAR (yang membolehkan seluruh laba tahun
sebelumnya dimasukkan ke dalam komponen modal sendiri), pemberian kredit bagi
grup usahanya (diturunkan dari 50 persen menjadi 20 persen dari total kredit yang
disalurkan), pengaturan kredit usaha kecil, cadangan wajib minimum bagi perbankan
(diubah dari 3 persen menjadi 5 persen) dan lain-lain. Pada bulan Juli 1997 ditentukan
pembatasan pemberian kredit oleh bank umum kepada perusahaan pengembang
properti dan kebijaksanaan penundaan terhadap mega proyek, karena banyaknya
kredit macet di bidang tersebut. Kemelut perbankan ini akhirnya berujung pada
pengumuman pemerintah pada 1 November 1997 untuk melikuidasi 16 bank secara
serentak dan 22 April 1998 mengumumkan 54 bank dimasukkan ke dalam program
penyehatan di bawah BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional). Sejumlah bank
lain akan melakukan merger, termasuk bank milik pemerintah.
Krisis perbankan yang terjadi di Indonesia tergolong yang paling parah
dibandingkan yang terjadi di negara lain, Malaysia, Korea Selatan, dan Thailand.
Babak berikutnya secara alamiah adalah bahwa jumlah bank kian menyusut. Lalu
muncul sosok bank-bank besar yang jumlahnya relatif sedikit, jumlah bank swasta
nasional terpangkas dari 160 buah sebelum krisis menjadi hanya 81 buah per Juni
2000. Penguatan dan pembenahan perbankan tidak berhenti di sini, melainkan baru
membuka lembaran baru menuju sistem perbankan (keuangan) yang sehat. Banyak
peraturan Bank Indonesia yang telah dikeluarkan, misalnya saja pada tahun 2005
dikeluarkan peraturan Bank Indonesia mengenai perubahan Giro Wajib Minimum
Bank Umum pada Bank Indonesia dalam rupiah dan valuta asing. Perkembangan
jumlah bank dari 2002 sampai 2007 disajikan pada Tabel 2.3. Dari tabel tersebut
ternyata bahwa dalam kurun waktu enam tahun (2002-2007) jumlah bank mengalami
penurunan dari 302 buah (2002) menjadi hanya 260 buah (2007), yang berarti ada

17
penurunan sekitar 14 persen. Bank yang mengalami penurunan dalam jumlah adalah
bank umum (-21 buah), bank umum swasta nasional (BUSN) devisa (-3 buah) dan
non devisa (-7 buah), dan bank campuran (-12 buah), sedangkan jumlah bank persero
tetap (5 buah) dan BPD tetap 26 buah. Satu-satunya bank yang mengalami
peningkatan jumlah adalah bank asing, dari 10 buah (2002) menjadi 11 buah (2007).
Sedangkan jika dilihat dari jumlah kantor bank, tampaknya semua jenis bank
melakukan penambahan jumlah kantornya, sehingga secara keseluruhan jumlah
kantor bank meningkat dari sekita 13 ribu (2002) menjadi lebih dari 19 ribu (2007)
atau sekitar 50 persen dalam kurun waktu enam tahun. Melihat angka-angka ini,
mungkin secara umum dapat dikatakan bahwa system perbankan di Indonesia belum
begitu sehat, masih terdapat terlalu banyak bank sebagai akibat dari Pakto 88, masih
akan terjadi pengurangan jumlah bank. Hal ini juga ditunjukkan oleh dana masyarakat
yang masuk ke sistem perbankan yang terlalu banyak dibandingkan dengan
kemampuan menyalurkannya, sehingga LDR bank secara keseluruhan hanya
mencapai 57 persen, seperti yang ditunjukkan sebelumnya.
Tabel 2.3: Perkembangan Jumlah Bank dan Kantor Bank*, 2000-2007
Rincian 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007
Bank Umum
Jumlah Bank 151 145 141 138 133 131 130 130
Jumlah Kantor 6510 6765 7001 7730 7939 8238 9110 9680
Bank Persero
Jumlah Bank 5 5 5 5 5 5 5 5
Jumlah Kantor 1736 1807 1885 2072 2112 2171 2548 2765
BPD
Jumlah Bank 26 26 26 26 26 26 26 26
Jumlah Kantor 826 857 909 1003 1604 1107 1257 1205
BUSN Devisa
Jumlah Bank 38 38 36 36 34 34 35 35
Jumlah Kantor 3302 3432 3565 3829 3947 4113 4395 4694
BUSN Non
Devisa 43 42 40 40 38 37 36 36
Jumlah Bank 535 556 528 700 688 709 759 778
Jumlah Kantor

18
Bank Campuran
Jumlah Bank 29 24 24 20 19 18 17 17
Jumlah Kantor 58 53 53 57 59 64 77 96
Bank Asing
Jumlah Bank 10 10 10 11 11 11 11 11
Jumlah Kantor 53 60 61 69 69 72 114 142
*tidak termasuk BRI Unit Desa
Sumber : BPS seperti pada BI LPI 2007, Tabel 9.1

2.3 Analisis Kasus Capital Flight di Indonesia sebagai Salah Satu Fenomena
Moneter

Capital Flight atau pelarian modal sebenarnya bukan hal baru dikalangan para
ekonom. Secara teoritis capital flight telah banyak dibicarakan. Namun sampai saat
ini belum ada definisi capital flight yang dapat diterima secara umum. Tetapi
beberapa tahun ini penggunaan kata capital flight sering dikaitkan pada negara-negara
berkembang, di mana terjadi sejumlah besar modal keluar (capital outflow) yang
diiringi oleh adanya peningkatan utang luar negeri.
Pendapat mengenai capital flight dikemukakan oleh Mohsin Khans-Ulhaque
(1987) yang mendefinisikan capital flight sebagai semua arus modal keluar (capital
outflow) dari negara berkembang dengan tidak memperhatikan latar belakang
terjadinya arus modal tersebut dari dalam negeri dan jenis modal tersebut. Diartikan
sebagai capital flight karena pada umumnya modal di negara sedang berkembang
kurang (langka), sehingga arus modal keluar dapat berarti menghilangkan potensi
sumber daya modal yang tersedia, serta pada gilirannya menghilangkan pula potensi
pertumbuhan ekonomi. Sementara Cuddington (1986) mengartikan capital flight
sebagai semua arus modal keluar jangka pendek (short term capital outflow) baik
yang tercatat mauipun yang tidak tercatat. Arus modal keluar jangka pendek itu dapat
disebabkan oleh adanya ketidakpastian situasi ekonomi, atau politik di dalam negeri
maupun untuk tujuan spekulasi.
Broad definition (definisi yang paling luas) mendefinisikan capital flight
hanya dari satu sisi aliran modal, yakni aliran modal keluar. Dalam definisi ini
dimasukkan seluruh peningkatan aset asing baik dari sektor domestik dan publik serta
seluruh nilai yang tercatat maupun yang tidak tercatat dalam perekonomian.
Sedangkan definisi lain menyebutkan bahwa capital flight terjadi sebagai respon

19
terhadap perlakuan yang diskriminatif terhadap modal domestik. Definisi ini
menunjukkan bahwa pergerakan modal terjadi sebagai respon dari kondisi perubahan
dan ketidakpastian. Varman-Schneider, B. (1991) mengemukakan hal yang sama
bahwa pergerakan modal keluar terjadi karena pemegang domestic asset memandang
adanya suatu risiko dan return profile yang kurang menguntungkan sebagai dampak
dari kondisi ketidakpastian yang ditimbulkan oleh adanya konflik kepentingan antara
pemegang aset dengan pemerintah di suatu Negara.
Hampir tidak mungkin memastikan jumlah capital flight dari suatu negara,
terutama bagi negara-negara yang menganut sistem devisa bebas. Bahkan untuk
negara yang menganut devisa ketat sekalipun, seperti Taiwan, arus modal tetap saja
keluar tanpa diketahui oleh otoritas moneter negara tersebut. Oleh karena itu, metode
yang lebih tepat untuk menggrafikkan besarnya capital flight dari suatu negara adalah
dengan melakukan estimasi. Tetapi karena, seperti yang telah dijelaskan di atas,
terdapat perbedaan pendapat dari para ahli, maka tidak menghenrankan jika terdapat
perbedaan pula dalam metode estimasi capital flight dari suatu negara. Secara garis
besar terdapat tiga konsep pendekatan yang berbeda terhadap pengukuran capital
flight, yaitu :
1. Pendekatan Komputasi Neraca Pembayaran
Pendekatan ini merupakan pendekatan tradisional yang memfokuskan pada
komponen neraca pembayaran. Pendekatan ini digunakan oleh Cuddington
dalam mengestimasi capital flight, yang mendefinisikan pelarian modal
sebagai arus modal keluar swasta non bank jangka pendek pada balance of
payment statistics digunakan untuk mencatat estimasi arus modal keluar
jangka pendek yang tercatat sedangkan untuk mencatat estimasi arus modal
keluar jangka pendek yang tidak tercatat digunakan komponen Net Error and
Omission. Rumusnya secara sistematis sebagai berikut :
CF = G - C
di mana,
CF = Capital flight
G = Error and Omission
C = Arus modal jangka pendek
2. Pendekatan Residual
Pendekatan ini mengestimasi capital flight sebagai residual. Bank Dunia
dalam salah satu bagian dari World Development Report mengestimasikan

20
capital flight dengan cara mencari selisih antara arus modal masuk dengan
defisit transaksi berjalan ditambah perubahan cadangan devisa otoritas
moneter pada periode tertentu. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :
CF = H + B + A + F
di mana,
CF = Capital Flight
H = Investasi langsung swasta bersih
A = Surplus transaksi berjalan
F = Perubahan cadangan devisa
3. Pendekatan Deposito Bank
Pendekatan ini merupakan arus modal keluar yang meliputi pengukuran
terhadap kenaikan dalam deposito perbankan luar negeri yang tercatat
(recorded foreign bank deposits) yang dimiliki oleh penduduk dalam negeri.

Di Indonesia pernah mengalami kasus capital flight. Bahkan jika diteliti lebih
jauh, keadaan yang sebenarnya adalah Indonesia setiap tahun mengalami capital flight
dengan estimasi besaran yang tidak dapat diketahui secara pasti. Capital flight
biasanya merupakan gejala dan bukan penyebab dari adanya krisis ekonomi. Aliran
modal keluar dari Indonesia dipengaruhi antara lain oleh tinggi rendahnya suku bunga
aset finansial luar negeri, tingkat inflasi domestik, dan perubahan nilai tukar mata
uang domestik (Cuddington : 1986).
Kasus capital flight yang pernah diteliti adalah pada tahun 1996 sampai
dengan 2009. Penelitian capital flight ini dilakukan oleh Kus Virgantari dari
Universitas Indonesia dengan menggunakan data yang ada pada tahun 1996 s/d 2009.
Dari penelitian tersebut, diketahui bahwa Indonesia mengalami capital flight
tertinggi pada tahun 1997 menuju ke tahun 1998 dikarenakan terjadinya krisis
ekonomi di Asia Tenggara. Krisis ekonomi yang terjadi di wilayah Asia Tenggara dan
melanda Indonesia berdampak pada kondisi perekonomian dalam negeri yang tidak
kondusif dan sarat risiko diduga mendorong investor lebih memilih memindahkan
aset/modal yang dimiliki ke luar dari Indonesia. Krisis mata uang yang terjadi di
Indonesia, dimana mata uang Rupiah mengalami depresiasi nilai makin memperkuat
kenyataan bahwa investasi di Indonesia kurang menguntungkan dibandingkan
memegang mata uang lainnya, misalnya USD yang pada saat itu terapresiasi terhadap
Rupiah. World Development Report (Bank Dunia, 1998) menyebutkan pula bahwa

21
krisis ekonomi yang terjadi di Asia Tenggara diyakini menjadi penyebab terjadi
pelarian modal besar - besaran ke luar negeri mulai kuartal keempat tahun 1997
hingga pertengahan kuartal kedua tahun 1998. Dalam kurun waktu periode setelah
tahun 1997, kondisi perekonomian dibayangi oleh kondisi ketidakpastian sebagai
akibat tingginya risiko politik, ekonomi dan finansial pada saat itu. Pada tahun 1998
pelarian modal (capital flight) meningkat hal ini disebabkan terutama oleh kondisi di
dalam negeri yang kurang kondusif dalam menciptakan keuntungan bagi para
pemegang dana, dan pada saat itu juga terjadi depresiasi rupiah sebesar 80 % dan
inflasi melonjak 82,6 %.
Pada tahun 1999 pelarian modal (capital flight) mulai menurun karena arus
ekonomi positif dan perekonomian Indonesia bergerak cepat. Pada tahun 2000 juga
pelarian modal menurun dikarenakan adanya persepsi positif investor bahwa iklim
investasi di Indonesia semakin kondusif karena didukung oleh kebijakan yang diambil
pemerintah bersama - sama dengan Bank Indonesia untuk melakukan rekapitulasi
perbankan dalam rangka program penyehatan perbankan. Program ini meliputi
penjaminan pemerintah bagi bank umum & BPR, restrukturisasi kredit perbankan,
pemulihan fungsi intermediasi bank, pengembangan infrastruktur, penerapan good
governance serta penyempurnaan sistem pengaturan dan pengawasan bank.
Pada kuartal pertama tahun 2004 merupakan tonggak bersejarah dalam
kehidupan politik dan bernegara bagi Indonesia di mana pada saat itu Indonesia
berhasil menyelenggarakan PEMILU presiden secara langsung untuk pertama
kalinya. Kondisi sosial politik dalam negerti seperti ini memberikan keyakinan bagi
investor untuk menanamkan dananya di Indonesia karena prospektif memberikan
keuntungan di masa mendatang.
Kemudian capital flight kembali terjadi pada tahun 2005 karena terjadinya
kasus Bom Bali 2 yang membawa citra buruk atas kondisi keamanan dalam negeri
dan juga kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia yang memicu
kenaikan berbagai harga kebutuhan pokok dan memicu terjadinya peningkatan inflasi
dalam negeri. Sektor - sektor perekonomian yang dalam kegiatan produksinya sangat
bergantung pada minyak semakin terpuruk. Berbagai hal inilah yang direspon secara
negatif oleh pemilik dana dengan pemindahan aset ke luar negeri (capital outflow).
Setahun kemudian pada tahun 2006 kembali terjadi kasus capital flight karena
penurunan suku bunga SBI dari 11,25% menjadi sekitar 9,75%. Penurunan suku
bunga ini mengindikasikan bahwa return penanaman modal di dalam negeri menjadi

22
relatif kurang menguntungkan dibandingkan kondisi investasi di luar Indonesia.
Investor dalam negeri cenderung membeli aset di luar negeri dan investor non residen
cenderung memindahkan dananya atau kepemilikan SBI ke luar negeri.
Hingga pada tahun 2008 pelarian modal (capital flight) terus meningkat
bersamaan dengan isu krisis ekonomi global yang berawal dari kasus subprime
mortgage di Amerika dan menyebabkan resesi ekonomi US telah merambat ke
seluruh dunia termasuk Indonesia. Krisis ini telah membawa dampak pada
perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dan mempengaruhi pertumbuhan di
Indonesia. Dari sisi ketersediaan dana investasi, semakin sulit untuk memenuhi
kebutuhan pendanaan yang diperlukan untuk menggerakan roda perekonomian karena
keringnya likuiditas hampir di sebagian besar pasar keuangan dunia. Kalaupun ada
modal yang masuk ke Indonesia sifatnya hanya sementara atau jangka pendek untuk
menarik keuntungan saja dan bukan investasi yang dapat dijadikan modal
pembangunan dalam negerti. Keterpurukan pasar keuangan di luar negeri berimbas
pula pada pasar keuangan domestik. Sentimen negatif pasar atas kondisi krisis
keuangan global mendorong harga saham di bursa Indonesia turut mengalami
penurunan nilai hingga pemerintah mengambil kebijakan penutupan sementara Bursa
Efek Indonesia untuk melindungi kepentingan emiten dan mencegah semakin
anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai akibat keluarnya investor
asing dari bursa saham dalam negeri. Kepanikan di pasar keuangan inilah yang
kemungkinan besar memicu capital outflow yang terjadi di Indonesia pada kurun
waktu kuartal keempat tahun 2008.
Pelarian modal (capital flight) merupakan salah satu masalah yang dihadapi
oleh Indonesia dan penting untuk dipecahkan. Ketika fenomena pelarian modal ini
terjadi secara terus menerus dampak jangka panjangnya dapat mengurangi sumber
daya yang tersedia untuk mendanai investasi. Hal ini pada gilirannya akan
berpengaruh terhadap pembentukan modal domestik bruto dan akan mempengaruhi
laju pertumbuhan ekonomi, dan juga dapat mengurangi kemampuan pemerintah untuk
memungut pajak pendapatan dari masyarakat. Ini mengakibatkan penerimaan
pemerintah mengalami penurunan dan mengurangi kapasitas pembayaran beban utang
luar negeri pemerintah, akibat lain adalah terjadinya erosi dalam basis pajak (tax
base), dimana hal ini dapat mengakibatkan terjadinya kenaikan utang luar negeri dan
pada gilirannya dapat memperparah krisis utang di suatu negara. Hal ini akan
mengancam iklim perekonomian nasional, dan secara langsung ataupun tidak

23
langsung akan mengganggu investasi dalam negeri, dan akan menghambat masuknya
arus modal asing ke Indonesia serta menghambat juga munculnya kesempatan kerja
baru (Andi Irawan: 2001).
Untuk mengatasi masalah capital flight tersebut, dapat dilakukan beberapa
cara agar capital flight dapat diredam di Indonesia. Jika capital flight tidak dapat
diredam lajunya, maka Indonesia akan menjadi terpuruk karena kurangnya investasi
yang terjadi. Cara yang dapat dilakukan adalah:
1. Kebijakan yang tidak terlalu mengontrol tingkat suku bunga tetapi menjamin
kepemilikan modal dan aset milik orang asing.
2. Kebijakan yang menjamin stabilitas politik dan makroekonomi secara umum.
(inflasi yang terkendali, pengangguran rendah, pertumbuhan ekonomi yang
tinggi dan nilai tukar yang stabil).
3. Penetapan pajak yang tidak terlalu tinggi dan adanya asuransi bagi investor

2.4 Analisis mengenai Devaluasi


Devaluasi mata uang adalah suatu tindakan penyesuaian nilai tukar mata uang
terhadap mata uang asing lainnya yang dilakukan oleh Bank Sentral atau Otoritas
Moneter yang mengadopsi sistem nilai tukar tetap. Devaluasi tersebut biasanya
dilakukan apabila rezim yang mengadopsi sistem nilai tukar tetap tersebut menilai
bahwa harga mata uangnya dinilai terlalu tinggi dibandingkan nilai mata uang negara
lain dimana nilai mata uang tersebut tidak didukung oleh kekuatan ekonomi negara
yang bersangkutan. Sistem kurs lain tidak dapat menggunakan kebijakan ini karena
telah menyerahkan intervensi untuk mengendalikan nilai kurs ke pasar, jadi kuat
lemahnya kurs tergantung dari permintaan dan penawaran kurs di pasar.
Mata uang suatu negara dikatakan mengalami kelebihan nilai dapat dilihat dari
perbedaan inflasi kedua negara. Negara yang inflasinya tinggi seharusnya akan segera
mengalami penurunan nilai namun dalam sistem nilai tukar tetap proses penyesuaian
tersebut tidak berlaku secara otomatis karena penyesuaian nilai tukar tersebut harus
melalui penetapan pemerintah. Tanda-tanda suatu mata uang yang mengalami
kenaikan nilai antara lain ekspor yang terus menurun dan industri manufaktur mulai
mengalami penurunan kinerja. Adapun tujuan dari devaluasi adalah :
1. Mendorong ekspor dan membatasi impor. Hal ini bertujuan untuk
memperbaiki posisi balance of payment, BOP dan balance of trade, BOT agar
menjadi equilibrium atau setidaknya mendekati equilibrium.

24
2. Mendorong peningkatan penggunaan produksi dalam negeri. Hal ini dapat
dicapai karena nilai barang impor menjadi lebih mahal dibanding barang lokal,
atau domestik.
3. Dengan tercapainya kesetimbangan BOP diharapkan nilai kurs valuta
asing dapat menjadi relatif stabil.
Tindakan Devaluasi yang diambil oleh pemerintahan dapat mempengaruhi
aktivitas perekonomian baik dalam jangka pendek, jangka menengah maupun jangka
panjang. Dalam jangka pendek, tindakan devaluasi dapat menggeser pengeluaran atau
expenditure switching dari konsumsi produk luar negeri kepada konsumsi produk
dalam negeri. Pergeseran konsumsi ini dapat berakibat terhadap kenaikan harga
barang dan jasa dalam negeri. Kenaikan harga ini akan berpengaruh terhadap
konsumsi masyarakat. Konsumsi masyarakat cenderung turun.
Penurunan konsumsi dapat menyebabkan turunnya aktivitas ekonomi yang
dapat mendorong terjadinya deflasi. Kondisi ekonomi ini dapat mengakibatkan
terjadinya resesi ekonomi. Dalam jangka menengah, tindakan devaluasi dapat
memperbaiki posisi balance of payment, atau BOP dan balance of trade, atau BOT
melalui mekanisme elastisitas permintaan ekspor dan impor sesuai dengan Marshall-
Lerner-Condition. Selain itu, devaluasi dapat juga memperbaiki posisi BOP melalui
mekanisme moneter.
Dampak jangka panjang merupakan akibat dari dampak yang terjadi pada
jangka pendek dan menengah. Dalam jangka pendek terjadi perubahan harga produk
dan pergeseran konsumsi diikuti dengan peningkatan aliran modal atu devisa pada
jangka menengah. Dampak ini menyebabkan terjadinya pergeseran produksi atau
production switching, baik yang menyangkut tradeable goods maupun nontradeable
good. Pergeseran produksi ini dapat menyebabkan terjadinya perubahan struktur
ekonomi secara nasional.
Ada beberapa pengaruh dari devaluasi:
1. Efek terhadap aliran barang (komoditi)
2. Efek terhadap harga luar negeri
3. Efek terhadap harga dalam negeri
4. Efek terhadap kuantitas nilai tukar yg diminta
5. Efek terhadap kuantitas nilai tukar yang ditawarkan
6. Efek terhadap Term of Trade (TOT)
7. Efek terhadap Balance Of Trade (BOT)

25
8. Efek terhadap konsumsi domestik dan produksi domestik
Berkaitan dengan kurs mata uang asing, di samping kurs itu dipengaruhi oleh
permintaan dan penawaran terhadap mata uang asing yang bersangkutan, pemerintah
juga sering mengambil kebijakan penentuan kurs. Kebijakan tersebut bisa berupa
devaluasi maupun revaluasi.
Devaluasi adalah kebijakan menurunkan nilai mata uang dalam negeri atas
mata uang asing. Misalnya, semula US$ 1= Rp 400,00 lalu menjadi US$ = Rp 650,00,
sebaliknya revaluasi adalah kebijakan menaikkan nilai mata uang dalam negeri atas
mata uang asing.
Perlu di cacat bahwa penurunan nilai rupiah terhadap mata uang asing pada
masa krisis moneter di Indonesia (sejak 1997) tidaklah termasuk devaluasi, sebab
bukan merupakan kebijakan pemerintah. Penurunan nilai akibat tarik menarik antara
permintaan dan penawaran terhadap mata uang rupiah di pasar internasional dan
nasional.
Dengan devaluasi, nilai mata uang asing terhadap Rupiah menjadi naik.
Akibatnya, harga barang-barang impor menjadi sangat tinggi jika dinilai dengan
rupiah. Harapan pemerintah, dengan kebijakan ini impor dapat dikurangi. Sebaliknya,
barang-barang yang kita ekspor ke luar negeri menjadi turun nilainya jika mata uang
importirnya bukan rupiah Karena nilai barang-barang ekpor di luar negeri lebih
rendah maka diharapkan volume ekspor bisa naik (bisa bersaing di pasar
internasional).
Dengan adanya kenaikan ekspor dan penurunan impor, diharapkan
perusahaan-perusahaan di dalam negeri bisa berkembang. Akibatnya, akan dapat
menyerap tanaga kerja yang menganggur dan meningkatkan perekonomian
masyarakat.
Namun, devaluasi juga mempunyai dampak negatif. Adanya devaluasi
membuat harga-harga di dalam negeri mejadi naik. Selain itu, orang-orang Indonesia
yang mempunyai utang luar negeri dalam bentuk mata uang asing menjadi terpukul
sebab utang tersebut menjadi membengkak jika dilihat dari Rupiah.

Contoh :
Utang Adi US$1 juta. Apabila ia bayar utangnya sebelum terjadinya
devaluasi, ia harus membeli US$ dengan kurs US$ 1 = Rp 400,00. jadi Adi harus
herus mengeluarkan Rp 400 juta. Namun, apabila ia harus membayar utangnya

26
setelah terjadinya devaluasi, Adi harus mengeluarkan Rp 650 juta ini berarti,
devaluasi mengakibatkan utang Adi bertambah dalam nilai Rupiah sebesar Rp250
juta. tambahan utang ini dapat mendorong Adi untuk menaikkan harga barang.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik oleh penulis berdasarkan pembahasan di atas
yaitu sebagai berikut.
3.1.1 Kebijaksanaan moneter adalah setiap kebijaksanaan yang diambil oleh
pemerintah atau oleh Bank Indonesia atau bersama - sama di dalam
bidang keuangan atau bidang moneter dengan harapan mempengaruhi
sektor riil, khususnya menunjang pembangunan ekonomi. Jenis - jenis
kebijaksanaan moneter yaitu operasi pasar terbuka di pasar uang rupiah
maupun valuta asing, penetapan cadangan wajib minimum, penetapan
tingkat diskonto, pengaturan kredit atau pembiayaan, serta
kebijaksanaan lain yang dianggap perlu.
3.1.2 Aspek kelembagaan kebijaksanaan moneter
3.1.3 Capital flight merupakan semua arus modal keluar dari negara
berkembang karena pemegang domestic asset memandang adanya
suatu risiko sebagai dampak dari kondisi ketidakpastian dalam suatu
negara. Kasus capital flight yang pernah diteliti adalah pada tahun
1996 sampai dengan 2009 dengan capital flight tertinggi terjadi pada
tahun 1997 menuju tahun 1998 karena krisis ekonomi di Asia
Tenggara. Cara yang dapat dilakukan untuk mencegah capital flight
yaitu melalui kebijakan yang tidak terlalu mengontrol tingkat suku
bunga tetapi menjamin kepemilikan modal dan aset milik orang asing,
kebijakan yang menjamin stabilitas politik dan makroekonomi, serta
penetapan pajak yang tidak terlalu tinggi dan adanya asuransi bagi
investor.
3.1.4 Devaluasi mata uang adalah suatu tindakan penyesuaian nilai tukar
mata uang terhadap mata uang asing lainnya dalam negara yang

27
mengadopsi sistem nilai tukar tetap. Tujuan dari devaluasi yaitu
mendorong ekspor dan membatasi impor, mendorong peningkatan
penggunaan produksi dalam negeri, serta menstabilkan nilai kurs
valuta asing. Kebijakan devaluasi berpengaruh secara jangka pendek,
jangka menengah, dan jangka panjang.
DAFTAR PUSTAKA

Nehen, Ketut. 2016. Perekonomian Indonesia. Denpasar : Udayana University Press.


Rahardja, Prathama dan Mandala Manurung. 2008. Teori Ekonomo Makro : Suatu
Pengantar - Edisi 5. Jakarta : Salemba Empat.
Virgantari, Kus. 2010. Analisis Faktor yang Menentukan Pelarian Modal (Capital
Flight) dan Dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia. Jakarta : Tesis
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Istikomah, Navik. 2003. Analisis Faktor - faktor yang Mempengaruhi "Capital
Flight" di Indonesia. Bandung : Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.
PP.13 - 31.

28