Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH FARMAKOTERAPI

PSORIASIS

Disusun Oleh (Kelompok 4):

1. Yasri Lukita Ningtyas (1720343836)


2. Yoga Andoyo Aji (1720343837)
3. Yos Abdon Kolimon (1720343838)
4. Yuliana Devianti (1720343839)
5. Yulinda Kussukmawaty (1720343840)
6. Aikta Wulan (1720343841)

PROGRAM PROFESI APOTEKER XXXIV


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Psoriasis merupakan sejenis penyakit kulit yang penderitanya mengalami proses


pergantian kulit yang terlalu cepat. Kemunculan penyakit ini terkadang untuk jangka
waktu lama atau timbul/hilang. Berbeda dengan pergantian kulit pada manusia normal
yang biasanya berlangsung selama tiga sampai empat minggu, proses pergantian kulit
pada penderita psoriasis berlangsung secara cepat yaitu sekitar 24 hari, (bahkan bisa
terjadi lebih cepat) pergantian sel kulit yang banyak dan menebal.

Psoriasis dapat dijumpai di seluruh belahan dunia dengan angka kesakitan


(insidens rate) yang berbeda. Psoriasis dapat mengenai semua usia, namun biasanya lebih
kerap dijumpai pada dewasa.Di dunia, penyakit kulit ini diduga mengenai sekitar 2
sampai 3 persen penduduk. Data nasional prevalensi psoriasis di Indonesia belum
diketahui. Tidak ada fakta yang menunjukkan bahwa penyakit ini lebih dominan
menyerang salah satu jenis kelamin. Pria maupun wanita memiliki peluang yang sama
untuk terserang penyakit ini.

Di dunia, penyakit kulit ini diduga mengenai sekitar 2 sampai 3 persen penduduk.
Data nasional prevalensi psoriasis di Indonesia belum diketahui. Namun di RSUPN Dr.
Cipto Mangunkusumo, selama tahun 2000 sampai 2001, insiden psoriasis mencapai
2,3%. Penyakit ini tidak mengenal usia, semua umur dapat terkena. Tapi puncak
insidensinya di usia dua puluhan dan lima puluhan. Tidak ada fakta yang menunjukkan
bahwa penyakit ini lebih dominan menyerang salah satu jenis kelamin. Pria maupun
wanita memiliki peluang yang sama untuk terserang penyakit ini.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

Psoriasis adalah peradangan kulit yang bersifat kronik dengan karakteristik


berupaplak eritematosa berbatas tegas, skuama kasar, berlapis, dan berwarna putih
keperakan terutama pada siku, lutut, scalp, punggung, umbilikus dan lumbal. Psoriasis
adalah penyakit kronik dengan ciri penebalan kulit yang berlebih dan berulang, eritematus
dan terbentuknya plak.

B. EPIDEMIOLOGI

Prevalensi psoriasis bervariasi antara 0,1-11,8% di berbagai populasi dunia.


Insidens di Asia cenderung rendah (0,4%). Tidak ada perbedaan insidens pada pria
ataupun wanita.4 Beberapa variasi klinisnya antara lain psoriasis vulgaris (85-90%) dan
artritis psoriatika (10%).Seperti lazimnya penyakit kronis, mortalitas psoriasis rendah
namun morbiditas tinggi, dengan dampak luas pada kualitas hidup pasien ataupun kondisi
sosioekonominya. Penyakit ini terjadi pada segala usia, tersering pada usia 15-30 tahun.4
Puncak usia kedua adalah 57-60 tahun. Bila terjadi pada usia dini (15-35 tahun), terkait
HLA (HumanLeukocyte Antigen) I antigen (terutama HLACw6), serta ada riwayat
keluarga, lesi kulit akan lebih luas dan persisten.

C. ETIOLOGI

Ada 4 faktor penyebab psoriasis:

a) Faktor Genetik
b) Sistem Imun
c) Faktor Lingkungan
d) Faktor Hormonal
Psoriasis diakibatkan oleh faktor genetik, penyebab sebenar-benarnya masih misteri,
kemungkinan dipicu oleh proses pencernaan protein yang tidak lengkap, fungsi hati yang
tidak normal, kelebihan konsumsi alkohol, kelebihan konsumsi lemak, danstress.
Faktor Predisposisi :
a) Herediter/ genetik
Pada banyak kasus ada pengaruh yang kuat dari faktor genetic, terutama bila
penyakit mulai diderita sejak remaja atau dewasa muda.
b) Imunologi
Defek genetik pada psoriasis dapat diekspresikan pada salah satu dari tiga jenis sel,
yakni limposit T, sel penyaji antigen (dermal), atau keratinosit. Keratinosit psoriasis
membutuhkan stimuli untuk aktivasinya. Lesi psoriasis matang umumnya penuh
dengan sebukan limfosit T pada dermis yang terutama terdiri atas limfosit T CD4
dengan sedikit sebukan limfositik dengan epidermis. Sedangkan pada lesi baru
umumnya lebih banyak didominasi oleh limfosit T CD8. Pada lesi psoriasis terdapat
sekitar 17 sitokin yang produksinya bertambah. Sel langerhans juga berperan pada
c) Obesitas
Obesitas merupakan keadaan tersering dikaitkan dengan psoriasis, menurut
Liendegard yang menerangkan pertama kali pada tahun 1986 kaitannya psoriasis
dengan obesitas. Lingkar pinggang dan body mass index pasien psoriasis lebih tinggi
secara bermakna padapasien psoriasis dibandingkan dengan kontrol. Pengertian
obesitas sebagai keadaan proinflamasi dengan keterlibatan jaringan lemak sebagai
organ imun dan endokrin yang menjelaskan obesitas sebagai faktor predisposisi
psoriasis.
d) Faktor endokrin
Insiden tertinggi pada masa pubertas dan menopause. Psoriasis cenderung membaik
selama kehamilan dan kambuh serta resisten terhadap pengobatan setelah
melahirkan. Kadang-kadang psoriasis pustulosa generalisata timbul pada waktu
hamil dan setelah pengobatan progesteron dosis tinggi.
Faktor Presipitasi:
a) Trauma, Psoriasis pertama kali timbul pada tempat-tempat yang terkena trauma,
garukan, luka bekas operasi, bekas vaksinasi, dan sebagainya. Kemungkinan hal ini
merupakan mekanisme fenomena Koebner. Khas pada psoriasis timbul setelah 7-14
hari terjadinya trauma.
b) Infeksi
Pada anak-anak terutama infeksi Streptokokus hemolitikus sering menyebabkan
psoriasisgutata. Psoriasis juga timbul setelah infeksi kuman lain dan infeksi virus
tertentu, namun menghilang setelah infeksinya sembuh
c) Iklim
Beberapa kasus cenderung menyembuh pada musim panas, sedangkan pada musim
penghujan akan kambuh.
d) Sinar matahari
Walaupun umumnya sinar matahari bermanfaat bagi penderita psoriasis namun
padabeberapa penderita sinar matahari yang kuat dapat merangsang timbulnya
psoriasis. Pengobatan fotokimia mempunyai efek yang serupa pada beberapa
penderita.
e) Obat-obatan
Antimalaria seperti mepakrin dan klorokuin kadang-kadang dapat
memperberatpsoriasis, bahkan dapat menyebabkan eritrodermia.
Pengobatan dengan kortikosteroid topikal atau sistemik dosis tinggi dapat
menimbulkan efek withdrawal. Lithium yang dipakai pada pengobatan
penderita mania dan depresi telah diakui sebagai pencetus psoriasis.
Beta Blocker.
f) Alkohol dalam jumlah besar diduga dapat memperburuk psoriasis.
g) Hipersensitivitas terhadap nistatin, yodium, salisilat dan progesteron dapat
menimbulkan psoriasis pustulosa generalisata.
D. PATOFISIOLOGI

Mekanisme imun yang diperantai oleh sel memainkan peranan penting dalam
perkembangan psoriasis. Aktivasi imun yang diperantai oleh sel T inflamator pada kulit
membutuhkan dua sinyal sel T yang dimediasi oleh interaksi sel-sel antara permukaan
protein dengan APC (antigen-presenting cells), seperti sel dendritik dan makrofag. Sinyal
pertama merupakan interaksi antara reseptor sel T dengan antigen yang diperkenalkan
oleh APC, sedangkan sinyal kedua (disebut sebagai konstimulasi) diperantai oleh
berbagai interaksi permukaan.

Ketika sel T diaktivasi, sel tersebut bermigrasi dari nodus limfa dan aliran darah ke
kulit dan mensekresikan berbagai sitokin, terutama interferon- dan interleukin-2, yang
menginduksi perubahan patologis yang dikenal sebagai psoriasis. Keratinosit lokal dan
neutrofil menginduksi dihasilkannya sitokin lain, seperti TNF- (tumor necrosis factor-)
dan IL-8 (interleukin-8).

Sebagai akibat dari produksi dan aktivasi sel T patogenik, sel epidermal psoriasis
berproliferasi pada laju 7x lebih cepat daripada sel epidermal normal. Proliferasi sel
epidermal rupanya meningkat juga pada kulit normal pasien yang beresiko psoriasis.
Genetik merupakan komponen yang berpengaruh secara signifikan pada psoriasis.
Studi terhadap antigen histokompatibilitas pada pasien psoriasis mengindikasikan
hubungan yang signifikan, terutama HLA-Cw6, yakni psoriasis kemungkinan
berkembang 9-15 kali lebih tinggi apabila terdapat hubungan keluarga.

Iklim, stres, alkohol, merokok, infeksi, trauma, dan obat-obatan tertentu dapat
memperburuk psoriasis pada 80% pasien, sedangkan 90% pasien memburuk pada cuaca
dingin. Lesi psoriasis dapat berkembang pada daerah luka (seperti bekas menggosok,
pengambilan darah, gigitan serangga, operasi) pada kulit yang nampak normal (respon
Koebner). Litium karbonat, inhibitor ACE, tetrasiklin, serta interferon dilaporkan dapat
memperparah psoriasis.

E. KLASIFIKASI
Psoriasis Vulgaris
Psoriasis vulgaris yang paling sering ditemukan pada kurang lebih 90% pasien.
Plakat eritematosa, berbatas tegas, berskuama dan tersebar simetris merupakan
gambaran khas, terdapat di daerah ekstensor ekstermitas (terutama siku dan lutut),
skalp, lumbosakral bawah, bokong dan genital. Daerah lain yang dapat terkena
adalah periumbilikus dan lipatan intergluteal. Luas lesi sangat bervariasi, sedangkan
bentuk dan distribusi setiap plakat hanya sedikit berubah. Skuama dibentuk terus-
menerus. Lesi dapat diawali terbatas di skalp selama bertahun-tahun. Lesi kecil
maupun besar dapat meluas dan berkonfluens membentuk plakat atauplakat lebih
besar sehinga membentuk gambaran khas (psoriasis geografika/girata). Kadang
terdapat penyembuhan sentral parsial sehingga membentuk psoriasis anular, keadaan
ini sering dihubungkan dengan penyembuhan atau prognosis yang baik.
Psoriasis Gutata
Bentuk ini sering timbul pada anak dan dewasa muda, biasanya timbul mendadak,
seringkali setelah infeksi streptokokus. Lesi papular, bulat, atau oval, berdiameter
0.5-1cm, di atasnya terdapat skuama putih, tersebar simetris di badan dan
ekstremitas proksimal,kadang di muka, telinga, dan skalp, jarang di telapak tangan
dan kaki. Lesi biasanya bertahan selama 3-4 bulan dan dapat hilang spontan, tetapi
kadang dapat sampai lebih dari setahun. Sebagian besar dapat kambuh dalam 3-5
tahun. Bentuk ini berhubungan erat dengan HLA-Cw6. Pasien dengan riwayat
psoriasis plakat dapat timbul lesi gutata dengan atau tanpa memburuknya lesi plakat.
Lesi plakat kecil dapat menyerupai psoriasis gutata, tetapi biasanya awitannya pada
usia lanjut, kronik dan lebih tebal dengan skuama lebih banyak daripada psoriasis
gutata.
Psoriasis Inversa
Pada tipe ini muncul di lipatan-lipatan kulit seperti aksila, genitokruris, serta
leher. Lesi biasanya berbentuk eritema mengkilat berbatas tegas dengan sedikit
skuama, disertai gangguan perspirasi pada area yang terkena.
Psoriasis Eksudativa
Bentuk tersebut sangat jarang. Biasanya kelainan psoriasis kering, tetapi pada
bentuk ini kelainannya eksudatif seperti dermatits akut.
Psoriasis Seboroik
Gambaran klinis psoriasis seboroik merupakan gabungan antara psoriasis dan
dermatitis seboroik, skuama yang biasanya kering menjadi agak berminyak dan
agak lunak. Selain berlokasi pada tempat yang lazim, juga terdapat pada tempat
seboroik. Lesi seboroik biasanya di wajah, di bawah payudara, kulit kepala, dan
axilla.
Psoriasis Pustulosa
Ada 2 pendapat mengenai psoriasis pustulosa, pertama di anggap sebagai
penyakitsendiri, kedua dianggap sebagai varian psoriasis. Terdapat 2 bentuk 1
psoriasis pustulosa, bentuk lokalisata dan generalisata. Bentuk lokalisata
contohhnya psoriasis pustulosa paloplantar(barber). Sedangkan bentuk generalisata
contohnya psoriasis pustulosa generalisata akut (von Zumbusch).
Eritroderma
Eritroderma psoriatik dapat disebabkan oleh pengobatan topikal yang terlalu kuat
atau oleh penyakitnya sendiri yang meluas. Biasanya lesi yang khas untuk psoriasis
tidak tampak lagi karena terdapat eritema dan skuama tebal universal. Ada kalanya
lesi psoriasis masih tampak samar-samar, yakni lebih eritematosa dan kulitnya lebih
meninggi.
F. MANIFESTASI KLINIS
Ada 2 tipe utama lesi dari psoriasis yaitu :
a) Tipe inflamatori : manifestasi yang timbul yaitu adanya inflamasi, eruptif, yang
kecil. Lesi bisa berbentuk gutata (seperti tetesan air) atau nummular (seperti koin).
b) Tipe plak yang stabil. Gejala lain yang timbul pada kulit diantaranya gatal
(pruritus)terutama di daerah kepala dan anogenital, akantosis, parakeratosis, dan
lesi biasanyaditutupi oleh plak berwarna keperakan.
Gejala dari psoriasis antara lain:
a) Mengeluh gatal ringan
b) Bercak-bercak eritema yang meninggi, skuama diatasnya.
c) Terdapat fenomena tetesan lilin
d) Menyebabkan kelainan kuku
Lesi klasik psoriasis biasanya berupa plak berwarna kemerahan yang berbatas
tegas dengan skuama tebal berlapis yang berwarna keputihan pada permukaan lesi.
Ukurannya bervariasi mulai dari papul yang berukuran kecil sampai dengan plak
yangmenutupi area tubuh yang luas. Lesi pada psoriasis umumnya terjadi secara
simetris, walaupun dapat terjadi secara unilateral. Dibawah skuama akan tampak
kulit berwarna kemerahan mengkilat dan tampak bintik-bintik perdarahan pada saat
skuama diangkat. Hal ini disebut dengan tanda Auspitz. Psoriasis juga dapat timbul
pada tempat terjadinya trauma, hal ini disebut dengan fenomena Koebner.
Penggoresan skuama utuh dengan mengggunakan pinggir gelas objek akan
menyebabkan terjadinya perubahan warna lebih putih seperti tetesan lilin.Selain dari
presentasi klasik yang disebutkan diatas terdapat beberapa tipe klinis psoriasis.
Psoriasis vulgaris yang merupakan tipe psoriasis yang paling sering terjadi,
berupa plak kemerahan berbentuk oval atau bulat, berbatas tegas, dengan skuama
berwarna keputihan. Lesi biasanya terdistribusi secara simetris pada ekstensor
ekstremitas, terutama di siku dan lutut, kulit kepala, lumbosakral, bokong dan
genital. Bentuk lainnya yaitu psoriasis inversa (fleksural), psoriasis gutata, psoriasis
pustular, psoriasis linier, dan psoriasis eritroderma. Makula eritema berbatas tegas
dan diatasnya didapati skuama yang mempunyai sifat-sifat khas. Warnanya putih
seperti perak atau mika, transparan, kering, kasar, dan berlapis-lapis. Apabila skuama
ini digores dengan benda tajam akan tampak sebuah garis putih kabur dan skuama
menjadi pecah-pecah mirip gambaran setetes lilin yang digores dengan benda tajam.
Fenomena ini disebut fenomena tetesan lilin. Apabila skuama ini dikupas lapis demi
lapis, pada lapisan yang terbawah tampak kulit berwarna merah dan terlihat bintik-
bintik merah. Tanda seperti ini disebut tanda Auspitz.Vasodilatasi pembuluh darah
subepidermal dan kapiler kulit menyebabkan pelepasan panas yang berlebihan dan
penderita akan mengeluh merasa kedinginan. Kadang-kadang dapat timbul gejala
yang lebih serius, seperti kegagalan jantung, akibat pengalihan darah di dalam kulit
yang meningkat.
G. DIAGNOSIS
Diagnosis dilakukan berdasarkan penemuan lesi psoriasis pada pemeriksaan fisik.
Riwayat medis pasien psoriasis seharusnya meliputi informasi mengenai onset dan
durasi lesi, adanya riwayat keluarga psoriasi, adanya faktor pemicu, riwayat terapi
antipsoriosis terdahulu yang dilengkapi dengan data efikasi serta efek samping, paparan
tehadap senyawa kimia dan toksin serta riwayat alergi. Biopsi kulit terhadap lesi juga
berguna dalam mengkonfirmasi diagnosis.

H. TATALAKSANA

Tujuan pengobatan pada psoriasis adalah minimalkan atau hilangkan lesi kulit,
meringankan pruritus, kurangi Frekuensi suar-up, mengobati kondisi komorbid, hindari
efek pengobatan yang merugikan.

Algoritma
Terapi Farmakologi

Terapi Topikal Lini Pertama


1. Keratolik
Asam salisilat merupakan salah satu senyawa keratolitik yang paling sering
digunakan. Senyawa tersebut menyebabkan kerusakan pada kohesi antar
korneosit-korneosit yang berada pada lapisan kulit pasien psoriasis yang keras
dan abnormal. Efek keratolitik tersebut meningkatkan penetrasi dan efikasi
beberapa zat topikal lain, seperti kortikosteroid.
Keratolitik Agen keratolitik biasanya digunakan untuk menghilangkan
pengelupasan, menghaluskan kulit, dan mengurangi hiperkeratosis.
Mekanisme kerja asam salisilat, sebagai salah satu keratolitik yang biasa
digunakan, ialah mengganggu kohesi antara korneosit-korneosit pada lapisan
kulit abnormal dan pasien psoriasis. Secara khusus, asam salisilat bermanfaat
pada area dimana terdapat sisik yang tebal.
Ketika diaplikasikan pada area inflamasi yang luas, asam salisilat dapat
menginduksi reaksi salisilism. Pada reaksi tersebut, terjadi nausea, muntah,
tinitus, dan hiperventilasi. Keracunan salisilat pada anak kecil berpotensi jauh
lebih serius dibandingkan apabila terjadi pada orang yang lebih tua sebab anak
kecil beresiko lebih besar mengalami metabolik asidosis. Kasus fatal mengenai
keracunan salisilat secara perkutan telah dilaporkan terjadi baik pada anak
maupun dewasa.
2. Kortikosteroid topikal
Dapat menghentikan sintesis dan mitosis DNA pada sel epidermal dan
diperkirakan menginhibisi fosfolipase A sehingga menurunkan jumlah asam
arakidonat, prostaglandin, dan leukotrien di kulit. Efek tersebut, apabila
digabungkan dengan vasokontriksi lokal, mengurangi eritema, pruritis dan
pengelupasan. Sebagai zat antipsoriasis, kortikosteroid topikal sangat baik apabila
digunakan bersamaan dengan produk yang secara spesifik berfungsi menormalkan
hiperproliferasi epidermal. Produk yang berpotensi rendah, seperti hidrokortison
1%, memiliki efek antiinflamasi yang lemah dan merupakan sediaan yang paling
aman untuk penggunaan jangka panjang, untuk penggunaan pada wajah, daerah
lain yang mudah bergesekan, serta untuk bayi dan anak-anak kecil. Produk yang
berpotensi medium dapat digunakan untuk dermatosis inflamasi yang sedang.
Produk tersebut dapat digunakan pada daerah wajah bagian lain yang mudah
bergesekan.
Sediaan yang berpotensi tinggi khususnya digunakan sebagai alternatif untuk
kortikosteroid sistemik selama terapi lokal dapat dilakukan.Produk yang
berpotensi sangat tinggi dapat digunakan untuk lesi psoriasis yang tebal dan
kronis, tetapi hanya untuk waktu yang singkat dan pada area permukaan yang
kecil.Salep merupakan formulasi yang paling efektif untuk psoriasis sebab sediaan
tersebut memiliki fase minyak yang oklusif yang memberikan efek hidrasi dan
meningkatkan penetrasi kortikosteroid ke kulit. Produk tersebut tidak cocok untuk
penggunaan di ketiak, selangkangan, atau daerah lain mudah bergesekan, tempat
dimana maserasi dan folikulitis dapat berkembang menjadi efek oklusif sekunder.
Krim merupakan sediaan yang paling disukai oleh beberapa pasien sebab
produk tersebut dapat digunakan pada area yang bersentuhan meskipun
kandungan minyak yang rendah membuat krim lebih kering daripada
salep.Kortikosteroid topikal digunakan 2-4 x sehari selama terapi jangka
panjang.Efek samping meliputi atropi jaringan lokal, degenerasi kulit serta striae.
Jika dideteksi secara dini, efek samping tersebut dapat reversibel dan hilang.
Penipisan epidermis dapat menyebabkan kapiler tampak menggelembung
(telangiectasias) serta purpura. Telah dilaporkan adanya erupsi akneiform dan
gejala menyerupai infeksi kulit akibat bakteri atau jamur. Efek sistemik meliputi
supresi dari hipotalamus-pituitari-adrenal aksis, hiperglikemi dan berkembangnya
gejala cushingoid. Takifilaksis dan munculnya kembali lesi psoriasis setelah
penghentian terapi tiba-tiba dapat terjadi.
3. Analog vitamin D
Vitamin D dan analognya menginhibisi diferensiasi dan proliferasi keratinosit
serta memiliki efek antiinflamasi dengan mengurangi IL-8 dan IL-2.
Penggunaan vitamin D itu sendiri dibatasi sebab adanya kecenderungan untuk
menyebabkan hiperkalsemia.
Kalsipotrien (Dovonex) merupakan analog vitamin D sintetik yang digunakan
untuk plak psoriasis yang ringan hingga sedang. Perbaikan biasanya nampak
dalam 2 minggu setelah terapi dan kurang lebih 70% pasien menunjukkan
perbaikan yang signifikan setelah 8 minggu. Efek samping terjadi pada kurang
lebih 10% pasien dan meliputi lesi dan sensasi terbakar serta pedih di
sekeliling lesi. Kalsipotrien 0,005% baik dalam krim, salep atau larutan
digunakan 1-2 kali sehari, tetapi tidak lebih dari 100 gram/minggu.
Calcitriol dan Tacalcitol merupakan derivat vitamin D yang lain.
Kalsipotriol, Kalsitriol dan Takalsitol biasa digunakan untuk pengobatan plak
psoriasis. Penggunaannya sebaiknya dihindari pada pasien dengan kelainan
metabolisme kalsium dan digunakan dengan hati-hati pada psoriasis
eksfoliatik eritrodermik atau pustular yang tergeneralisasi (peningkatan resiko
hiperkalsemia). Reaksi kulit lokal (gatal, eritema, rasa terbakar, parestesia dan
dermatitis) biasa terjadi. Tangan sebaiknya dicuci dengan bersih setelah
penggunaan untuk menghindari perpindahan ke lokasi tubuh yang lain.
Perburukan psoriasis juga dilaporkan.
Contoh sediaan Kalsipotriol : Daivonex, Daivobet.
4. Tazaroten
Tazaroten (Tazorac) ialah retinoid sintetik yang dihidrolisis menjadi metabolit
aktif, yakni asam tazarotenat, yang kemudian memodulasi proliferasi dan
diferensiasi keratinosit. Tersedia sebagai gel dan krim 0,05% atau 0,1% dan
digunakan sekali sehari (biasanya di sore hari) untuk plak psoriasis yang ringan
hingga sedang. Gel 0,1% sedikit lebih efektif, tetapi gel 0,05% lebih sedikit
menyebabkan iritasi. Tazaroten sering digunakan bersamaan dengan
kortikosteroid topikal untuk menurunkan efek samping lokal serta meningkatkan
efikasi.

Terapi Topikal Lini Kedua

1. TER (batu bara)


Ter (batu bara) mengandung banyak senyawa hidrokarbon yang terbentuk dari
distilasi bitumen batu bara. Sinar UV-B (ultraviolet B) mengaktivasi fotoaduksi
antara ter batu bara dengan epidermal DNA serta menginhibisi sintesis DNA.
Penormalan laju replikasi epidermal dapat mengurangi peningkatan jumlah
plak.Formulasi ter (batu bara) tersedia dalam bentuk losion, krim, shampoo, salep,
gel, dan larutan dengan konsentrasi 2-5%. Sediaan tersebut biasanya diaplikasikan
secara langsung di atas lesi pada sore hari dan dibiarkan sepanjang malam. Dapat
juga digunakan dalam air mandi.
2. Antralin
Antralin memiliki aktivitas antiproliferasi terhadap keratinosit, menginhibisi
sintesis DNA dengan menyisipkan dirinya diantara helai DNA. Karena Antralin
memberikan efek klinik pada konsentrasi selular yang rendah, terapi biasanya
bermula dari konsentrasi rendah (0,1-0,25%) dengan peningkatan secara bertahap
ke konsentrasi yang lebih tinggi, yakni 0,5-1%. Formulasi krim dan salep biasanya
digunakan pada sore hari dan dibiarkan semalaman.Sebagai alternatif, terapi
antralin kontak singkat (SCAT = short-contact antralin therapy) dengan durasi
penggunaan selama 10-20 menit pada konsentrasi yang lebih tinggi (1-5%) dalam
pembawa yang larut air merupakan pilihan yang efektif dengan efek samping
lokal yang lebih kecil.

Terapi Sistemik Lini Pertama

1. Acitretin
Acitretin (Soriatane) merupakan derivat asam retinoat dan metabolit aktif retinoat.
Senyawa ini diindikasikan untuk psoriasis yang parah, meliputi tipe eritrodermik
dan pustular yang menyebar. Walaupun demikian, senyawa ini akan lebih berguna
apabila dipakai sebagai terapi tambahan dalam penanganan psoriasis. Acitretin
telah menunjukkan hasil yang baik ketika dikombinasikan dengan terapi lain,
seperti PUVA dan UV-B, siklosporin, dan metotreksat. Dosis mula-mula yang
direkomendasikan ialah 25 hingga 50mg, kemudian terapi dilanjutkan hingga lesi
sembuh/hilang.Acitretin merupakan senyawa teratogen sehingga
dikontraindikasikan untuk perempuan yang sedang hamil atau yang merencanakan
kehamilan dalam 3 tahun setelah penghentian obat.

Terapi Sistemik Lini Kedua

1. Siklosporin.
Siklosporin menunjukkan aktivitas imunosupresif dengan mengihibisi fase
pertama aktivasi sel T. Siklosporin juga menginhibisi pelepasan mediator
inflamasi dari sel mast, basofil, dan sel polimorfonuklear Biasanya digunakan
dalam penanganan manifestasi kutan dan artritis akibat psoriasis yang parah.
Terapi secara terus-menerus selama lebih dari 2 tahun dapat meningkatkan resiko
kecacatan yang meliputi kanker kulit dan penyakit limfoproliferatif.
2. Metotreksat
Diindikasikan untuk psoriasis yang sedang hingga parah begitu juga dengan
psoriasis arthritis. Merupakan analog sintetik asam folat yang bertindak sebagai
inhibitor kompetitif dari enzim dihidrofolat reduktase yang bertanggungjawab
dalam konversi dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat. Tetrahidrofolat merupakan
kofaktor penting dalam sintetis nukleotida timidilat dan purin yang dibutuhkan
dalam sintetis DNA dan RNA.Metotreksat menghambat replikasi dan fungsi sel T
dan B serta menekan sekresi berbagai jenis sitokin. Metotreksat juga menekan
pembelahan sel epidermal.Sebaiknya dihindari bagi pasien infeksi aktif sebab
adanya aktivitas imunosupresif dari metroteksat.
3. Takrolimus
Agen imunosupresan yang menginhibisi aktivasi sel T, merupakan obat yang
berguna sebagai alternatif pada psoriasis parah yang membandel.
4. Mikofenolat Mofetil
Mikofenolat mofetil (CellCept) menginhibisi sintesis DNA dan RNA serta telah
menunjukkan memiliki efek anti proliferasi yang spesifik terhadap limfosit.
Digunakan sebagai bagian dalam terapi kombinasi dalam psoriasis sedang hingga
parah dan dermatosis otoimun lainnya.
5. Sulfasalazin
- Agen antiinflamasi yang menginhibisi 5-lipoksigenase.
- Digunakan secara selektif sebagai terapi alternatif, terutama pada pasien yang
mengalami psoriasis artritis.
- Ketika digunakan efektivitasnya tidak sebaik metotreksat, PUVA atau
acitretin, tetapi memiliki tingkat keamanan yang cukup tinggi.
6. 6-Tioguanin
Merupakan analog purin yang digunakan sebagai terapi alternatif untuk psoriasis
ketika terapi konvensional telah gagal. Sifat hepatotoksik obat ini lebih kecil
dibandingkan metotreksat sehingga lebih berguna pada pasien psoriasis parah
dengan gangguan liver.
7. Hidroksiurea
Menginhibisi sintesis sel pada fase S dalam siklus DNA. Digunakan secara
selektif pada penanganan psoriasis terutama pada pasien dengan penyakit liver,
yang beresiko efek samping pada penggunaan agen lain. Walaupun demikian,
hidroksiurea kurang efektif apabila dibandingkan dengan metotreksat.
Fototerapi dan Fotokemoterapi
- Fototerapi terdiri dari radiasi elektromagnetik nonionizing, baik ultraviolet A
(UVA) atau ultraviolet B (UVB), sebagai terapi ringan untuk lesi psoriatis. UVB
diberikan sendiri baik berupa broadband maupun narrowband (NB-UVB).
Broadband UVB juga diberikan sebagai photochemotherapy dengan agen topikal
seperti tar batubara kasar (rejimen Goeckerman) atau anthralin (rejimen Ingram)
untuk meningkatkan khasiatnya. UVA umumnya diberikandengan photosensitizer
seperti psoralen oral untuk meningkatkan khasiat; rejimen ini disebut pengobatan
PUVA (psoralen + UVA).
- Efek samping dari fototerapi meliputi eritema, pruritus, xerosis, hiperpigmentasi,
dan terik. Pasien harus diberi perlindungan mata selama dan untuk 24 jam setelah
perawatan PUVA. Terapi PUVA juga bisa menyebabkan mual atau muntah, yang
bisa diminimalisir dengan mengonsumsi psoralens oral dengan makanan atau
susu. Jangka panjang Penggunaan PUVA bisa menyebabkan photoaging dan
katarak. PUVA juga dikaitkan dengan doserelated risiko karsinogenesis
Terapi Kombinasi
Terapi kombinasi dapat digunakan untuk meningkatkan khasiat atau meminimalkan
toksisitas. Kombinasi dapat mencakup dua agen topikal, agen topikal plus fototerapi,
agen sistemik plus terapi topikal, agen sistemik plus fototerapi, dua agen sistemik
yang digunakan dalam rotasi, atau agen sistemik dan BRM (lihat Gambar 17-1 dan
17-2).
Terapi Non Farmakologi
- Emolien
Emolien sering digunakan selama periode terapi bebas untuk meminimalkan
kekeringan kulit yang dapat menyebabkan kekambuhan dini. Agen ini
melembabkan stratum korneum dan meminimalkan transepidermal kulit yang
kehilangan air (penguapan). Hidrasi menyebabkan stratum korneum membengkak
dan merata pada kontur permukaannya. Emolien efektif sebagai pelembab,
menurunkan kekuatan mengikat dalam lapisan tanduk, meningkatkan deskuamasi,
dan menghilangkan scaling. Emolien juga dapat meningkatkan kelenturan kulit,
memiliki aktivitas antipruritus, dan memiliki vasokonstriktor ringan aktivitas.
- Balneotheraphy
Balneotherapy (dan climatotherapy) adalah pendekatan terapi yang dapat
dilakukan dengan mandi di air yang mengandung garam tertentu, sering
dikombinasikan dengan paparan sinar matahari alami.

- Paparan terhadap sinar UV-B dengan panjang gelombang 290-320 nm. Namun
Tabir surya (lebih disukai faktor perlindungan matahari [SPF] 30 atau lebih
tinggi) harus digunakan saat berada di luar ruangan.
- Pengurangan tekanan dengan menggunakan citra terpandu dan manajemen stres
dapat memperbaiki tingkat dan tingkat keparahan psoriasis.
BAB III
KESIMPULAN
1. Psoriasis adalah peradangan kulit yang bersifat kronik dengan karakteristik berupaplak
eritematosa berbatas tegas, skuama kasar, berlapis, dan berwarna putih keperakan
terutama pada siku, lutut, scalp, punggung, umbilikus dan lumbal.
2. Klasifikasi psoriasis yaitu psoriasis vulgaris, psoriasis gutata, psoriasis inversa, psoriasis
eksudativa, psoriasis seboroik, psoriasis pustulosa, dan eritroderma.
3. Terapi farmakologi pada psoriasis adalah terapi topikal lini pertama yaitu keratolik,
kortikosteroid topikal, analog vitamin d, dan tazaroten. Terapi topikal lini kedua yaitu ter
(batu bara), dan antralin. Terapi sistemik lini pertama yaitu acitretin. Terapi sistemik lini
kedua yaitu siklosporin, metotreksat, takrolimus, mikofenolat mofetil, sulfasalazin, 6-
tioguanin, dan hidroksiurea.

DAFTAR PUSTAKA

Dipiro JT et al. 2012. Pharmacotherapy a phatofisiology Approach 9th edition.


McGraw-Hill Companies, Manufactured in the United States of America.
Yuliastuti Dwinidya. 2015. RS Meilia, Cibubur, Depok, Indonesia
Dipiro, dkk, 2015, Pharmacotherapy Handbook 9th edition, United State : McGraw-Hill
Education.
Sukandar, dkk, 2011, Iso Farmakoterapi Buku 2, Jakarta : isfi Penerbitan