Anda di halaman 1dari 85

NO SOAL &JAWABAN

6 Sebutkan pembagian radang berdasarkan perlangsungannya, jelaskan


masing-masing!
Klasifikasi radang berdasarkan perlangsungannya adalah sebagai berikut:
a. Radang akut : respon awal terhadap gangguan, merupakan reaksi non
spesifik, dan berlangsung kurang dari 4 minggu. Durasi biasanya pendek,
umumnya terjadi sebelum respon immun menjadi jelas dan ditujukan
terutama untuk menghilangkan agen penyebab gangguan dan membatasi
jumlah jaringan yang rusak. Menurut Celloti dan Laufer (2001), peradangan
akut ditandai dengan adanya warna merah (rubor), sebagai hasil peningkatan
aliran darah pada daerah radang/hiperemi; panas (kalor) sebagai hasil
hiperemis vaskuler; bengkak (tumor), sebagai hasil eksudasi seluler dan
cairan; sakit (dolor) disebabkan oleh adanya iritasi akibat tekanan dan
adanya produk metabolisme serta; kehilangan fungsi (functio laesa), karena
fungsi jaringan berjalan secara tidak normal.
b. Radang sub akut : suatu proses peradangan yang berlangsung > 4 minggu -
< 3 bulan.
c. Radang kronis : Radang kronis bisa merupakan hasil perkembangan radang
akut, yang berlangsung lebih dari 3 bulan. Ciri radang kronis adalah adanya
infiltrasi sel mononuklear (makrofag), limfosit, dan proliferasi fibroblas.
Agen penyebab biasanya merupakan iritan yang mengganggu secara
persisten namun tidak mampu melakukan penetrasi lebih dalam atau
menyebar secara cepat. Contoh penyebab radang kronis adalah benda asing,
talk, silikon, asbes, dan benang jahit operasi.
7 Sebutkan pembagian radang berdasarkan penyebabnya!
a. Fisik : benda-benda tajam, kekerasan
b. Kimia : asam, basa
c. Mikroorganisme : agen bakteri, parasit, jamur, virus
d. Termal : suhu, listrik
8 Sebutkan alat-alat standar pemeriksaan rutin telinga!
Alat yang diperlukan untuk pemeriksaan telinga adalah:
a. Lampu kepala
b. Corong telinga
c. Otoskop
d. Pelilit kapas
e. Pengait serumen
f. Pingset telinga
g. Garputala
h. Ear foreign body remover
i. Pneumatic Otoscop Siegel
j. Audiometer
9 Sebutkan alat-alat standar pemeriksaan rutin hidung!
Alat yang diperlukan untuk pemeriksaan hidung adalah:
a. Lampu kepala
b. Spekulum hidung
c. Spatula lidah
d. Kaca nasofaring
e. Lampu spiritus
f. Nose foreign body remover
10 Sebutkan alat-alat standar pemeriksaan rutin tenggorokan!
Alat yang diperlukan untuk pemeriksaan tenggorok adalah:
a. Lampu kepala
b. Spatula lidah
c. Kaca laring
d. Lampu spiritus
11 Sebutkan bagian-bagian dari tulang temporal dewasa!
Os temporalis (2 buah), terdiri atas:
a. Pars petrossus, terdiri atas:
Pars mastoidea, terletak di posterolateral. Terdapat struktur processus
mastoidea dan cellulae mastoidea
Pars pyramidalis, terdiri dari:
o Facies superior/anterior
o Facies medialis/posterior
o Facies lateral
o Facies inferior
Selain itu, pada pars pyramidalis os temporalis terdapat pula struktur-struktur
sebagai berikut:
o Porus acusticus internus
o Fossa subarcuata
o Apertura externa aqueaductus vestibuli
o Foramen jugulare
o Eminentia arcuata
o Sulcus nervi petrosi superficialis majoris
o Sulcus nervi superficialis minoris
o Foramen / canalis caroticum
o Hiatus canalis facialis
o Apertura superior canaliculi tympanica
b. Pars squamosa, terdapat processus zygomaticus os temporale dan di sebelah
luarnya terdapat fossa mandibularis
c. Pars tympanica, membentuk sebagian besar meatus acusticus externus dan
menghubungkan porus acusticus externus dengan cavum tympani
d. Processus styloideus
12 Sebutkan nama nama tulang yang bersendi dengan tulang temporal dan sebut
pula nama persendiannya
Nama tulang : os. mandibula
Nama persendian : aticulatio temporomandibulare yaitu antara tuberculum
articulare dan bagian anterior fossa mandibulare os temporal di atas dan processus
condylaris mandibulae di bawah.

Nama tulang : os. parietal


Nama persendian : Sutura squamosa (antara os parietale dan os temporale)
13 Sebutkan garis besar pembagian anatomi telinga
Telinga dibagi atas telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Berikut adalah
pembagiannya:
a. Telinga luar : terdiri dari daun telinga (aurikula), liang telinga (meatus
akustikus eksternus) sampai membran timpani
b. Telinga tengah : berbentuk kubus dengan :
i. Batas luar : membran timpani
ii. Batas depan : tuba eustachius
iii. Batas bawah : vena jugularis (bulbus jugularis)
iv. Batas belakang : aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis
v. Batas atas : tegmen timpani (meningen/otak)
vi. Batas dalam : berturut-turut dari atas ke bawah, kanalis semisirkularis
horizontalis, kanalis fasialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap
bundar (round window), dan promontorium
c. Telinga dalam : terdiri atas labirin tulang (vestibuli, kanalis semisirkularis,
koklea) dan labirin membran (duktus koklearis/skala media, utrikulus, sakulus,
duktus semisirkularis, duktus dan sakus endolimfatik
14 Sebutkan bangunan bangunan pada aurikula
Daun telinga atau aurikula terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit

Bangunan aurikula terdiri atas:


a. Helix
b. Antihelix
c. Tragus
d. Antitragus
e. Scapha
f. Tuberculum auriculare
g. Concha auriculae
h. Lobulus auriculae
i. Crura antihelicis
j. Cymba conchae
k. Crus helicis
l. Incisura anterior
m. Cavitas conchae
n. Incisura intertragica
15 Pembagian meatus acusticus externus
a. Pars fibrocartilage
b. Pars osseus
16 Pembagian dan struktur membrane timpani
a. Pembagian
i. Kuadran anterosuperior
ii. Kuadran anteroinferior
iii. Kuadran posterosuperior
iv. Kuadran posteroinferior
b. Struktur
i. Pars tensa
ii. Pars flaccida
iii. Umbo
iv. Core of light
v. Stria mallearis
vi. Prominentia mallearis
17 Pembagian tuba auditiva
a. Pars osseus
b. Pars cartilage
18 Bentuk, ukuran, dan batas cavum timpani
a. Bentuk: bikonkaf
b. Ukuran: diameter anteroposterior 15 mm, diameter transversal 2-6 mm
c. Batas:
Luar: membrane timpani
Depan: tuba auditiva
Bawah: vena jugularis
Belakang: aditus ad antrum, kanalis fascialis pars vertikalis
Atas: tegmentum timpani
Dalam: kanalis semisirkularis
19 Isi cavum timpani
a. Malleus
b. Incus
c. Stapes
d. Tuba auditiva
20 Skema pembagian telinga dalam

21 Saraf telinga luar, tengah, dan dalam


a. Telinga luar: n. fascialis
b. Telinga tengah: n. auriculotemporalis dan n. fascialis
c. Telinga dalam: n. fascialis dan n. Vestibulocochlearis
22 Fungsi telinga
a. Telinga luar: menangkap getaran suara
b. Telinga tengah: meneruskan getaran suara ke telinga dalam dan menjaga
keseimbangan tubuh
c. Telinga dalam: menerima rangsangan bunyi dan mengirimkan ke otak dalam
bentuk impuls
23 Fungsi pendengaran
a. Mengenali getaran bunyi
b. Menjaga keseimbangan tubuh
24 Apa fungsi keseimbangan?
Keseimbangan berfungsi untuk mempertahankan posisi tubuh dalam melawan
gravitasi dan faktor eksternal lain, untuk mempertahankan pusat massa tubuh agar
seimbang dengan bidang tumpu serta menstabilisasi bagian tubuh ketika bagian
tubuh lain bergerak.
25 Bagaimana mekanisme mendengar?
Bunyi ditangkap oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang dihantarkan
melalui udara Getaran tersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ke
telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran (malleus, incus, stapes)
stapes menggerakkan foramen ovale sehingga cairan perilimfe pada skala vestibuli
bergerak. Getaran perilimfe diteruskan melalui membran Reissner mendorong
endolimfe terjadi gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria.
(Proses rangsang mekanik) defleksi stereosilia sel-sel rambut kanal ion
terbuka terjadi penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel depolarisasi
sel rambut sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis
menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus
auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39 - 40) di lobus temporalis.
26 Buatlah bagan sistem keseimbangan!

27 Sebutkan tanda dan gejala penyakit/kelainan telinga!


a. Gangguan pendengaran (tuli)
b. Suara berdenging dan berdengung (tinitus)
c. Rasa pusing berputar (vertigo)
d. Rasa nyeri dalam telinga ( otalgia)
e. Keluar cairan dari telinga (otore)
28 Sebutkan kelainan kongenital pada telinga luar!
a. Fistula preaurikula : terjadi kegagalan penyambungan tuberkel ke 1 dan ke 2
b. Mikrotia dan Atresia liang telinga : daun telinga lebih kecil dan tidak
sempurna, serta tidak terbentuk lubang telinga
c. Telinga caplang/ jebang (bats ear) : daun telinga lebih besar dan lebih
menonjol
29 Apa definisi, gejala dan tanda, serta terapi othematom maupun
pseudohematom!
a. Definisi : Othematoma merupakan hematoma daun telinga akibat suatu
rudapaksa yang menyebabkan tertimbunnya darah dalam ruangan antara
perikondrium dan kartilago
b. Etiologic : rudapaksa, trauma, cedera fisik yang mengakibatkan akumulasi
darah dan bekuan darah dalam ruangan antara perikondrium dan kartilago
c. Gejala : Pembengkakan, perubahan bentuk telinga (deformitas), perubahan
warna, benjolan di aurikula, dan benjolan terasa kenyal.
d. Talak : aspirasi dan insisi untuk mengeluarkan isi hematom dan mencegah
reakumulasi dari hematoma, penekanan untuk mencegah reakumulasi antara
lain dengan cara : pembalutan seperti pemasangan perban, penekanan lokal
dengan blaster yang dijahit, menggunakan penekanan gips yang dipasang di
depan dan di belakang, menggunakan perban gipsona yang melingkari daun
telinga, dan pemberian antibiotik yang adekuat untuk mencegah terjadinya
infeksi.
30 Sebutkan definisi, sinonim, penyebab, gejala dan tanda, serta terapi otitis
eksterna sirkumskripta!
a. Definisi : Otitis eksterna sirkumskripta (furunkel=bisul) merupakan peradangan
pada sepertiga luar liang telinga mengandung adneksa kulit, seperti folikel
rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar serumen, maka ditempat itu dapat terjadi
infeksi pada pilosebaseus, sehingga membentuk furunkel
b. Etiologi : Staphylococcus aureus atau Staphylococcus albus
c. Gejala : Gejalanya ialah rasa nyeri yang hebat namun tidak sesuai dengan besar
bisul. Hal ini di sebabkan karena kulit liang telinga tidak mengandung jaringan
longgar di bawahnya, sehingga rasa nyeri timbul pada penekanan perikondrium.
Rasa nyeri dapat juga timbul pada saat membuka mulut. Selain itu dapat juga
terjadi ganguan pendengaran bila furunkel besar dan menyumbat liang telinga
d. Talak : Bila sudah menjadi abses, diaspirasi secara steril untuk mengeluarkan
nanahnya. Lokal diberikan salep antibiotik seperti polymixin B atau bacitracin,
atau antiseptik asam asetat 2-5 % dalam alkohol. Kalau dinding furunkel tebal,
dilakukan insisi, kemudian dipasang salir atau drain untuk mengalirkan
nanahnya. Biasanya tidak perlu diberikan antibiotik secara sistemik, hanya
diberikan obat simtomatik seperti analgetik dan obat penenang
31 Sebutkan definisi, sinonim, penyebab, gejala dan tanda serta terapi otitis
eksterna difusa!
a. Definisi : Otitis eksterna difus (swimmers ear) merupakan peradangan pada
kulit liang telinga dua pertiga dalam. Tampak kulit liang telinga hiperemis dan
edema yang tidak jelas batasnya.
b. Etiologic : Pseudomonas, Staphylococcus albus, escherichia coli
c. Gejala : nyeri tekan tergus, liang telinga sangat sempit, kelejar getah bening
regional memebesar dan nyeri tekan. Terdapat sekret yang berbau. Sekret yang
tidak mengandung lendir seperti sekret yang keluar dari kavum timpani pada
otitis media
d. Talak : Pada otitis media difus pengobatannya dengan cara membersihkan
liang telinga, memasukan tampon yang diberikan antibiotik (polymixin B atau
bacitracin) kedalam liang telinga supaya terdapat kontak yang baik antara obat
dan kulit yang meradang. Kadang diperlukan obat antibiotik sistemik seperti
kloramfenikol
32 Sebutkan definisi, sinonim, penyebab, gejala dan tanda serta terapi Otitis
Eksterna Maligna! (Buku Ajar THT FKUI Edisi Kelima)
a. Definisi
Tipe akut dari suatu infeksi yang difus di liang telinga luar, peradangan dapat
meluas secara progresif ke lapisan subkutis dan ke organ sekitarnya. Biasanya
terjadi pada orang tua dengan penyakit diabetes melitus.
b. Sinonim
Otitis Eksterna Nekrotikan
c. Penyebab
Pseudomonas aeroginosa
d. Gejala
Rasa gatal di liang telinga yang dengan cepat diikuti oleh nyeri hebat dan
sekret yang banyak dan pembengkakan liang telinga. Paresis/paralisis nervus
fasial,disfagi, suara serak.
e. Tanda
Apabila saraf fasial terkena, dapat menimbulkan paresis atau paralisis fasial
Otoskopi : otitis eksterna dengan jaringan granulasi (patognomonik) sepanjang
posteroinferior liang telinga luar pada bonycartilagoneus junction disertai
lower cranial neuropathy (n VII, IX, X, XII), eksudat pada liang telinga,
membran timpani intak.
f. Terapi
Antibiotika dosis tinggi terhadap Pseudomonas aeruginosa dikombinasikan
dengan aminoglikosida diberikan secara parenteral 4-6 minggu. Antibiotik
kombinasi yang sering digunakan kabercillin, ticarcillin, pipercillin dengan
gentamicin, tobramicin, colistimethate atau amikacin
Debridemen radikal
33 Sebutkan definisi, sinonim, penyebab, gejala dan tanda serta terapi Herpes
Zoster Otikus!
a. Definisi
Kumpulan gejala yang terdiri dari neuralgia radikuler, erupsi vesikuler yang
mengenai sebagian telinga luar dan kanalis akustikus eksternus disertai
kelumpuhan nervus VII perifer.
b. Sinonim : Sindrom Ramsay Hunt
c. Penyebab : Virus Varicella Zoster
d. Gejala Prodormal : nyeri kepala, nyeri telinga, lesu, demam, sakit kepala,
mual, muntah. Nyeri dan rasa terbakar pada kulit dan sekitarnya
e. Tanda
Paralisis saraf perifer pada wajah, ruam vesikular eritematosa di telinga (oticus
zoster) atau di dalam mulut, bula di antihelix dan atau lobulus. Lesi berada di
telinga luar dan sekitarnya, berupa vesikel berkelompok di atas daerah yang
eritem
f. Terapi
Konservatif
Kortikosteroid
Anti virus
Tindakan operasi
Dekompresi segmen horizontal dan ganglion genikulatum
34 Sebutkan definisi, sinonim, penyebab, gejala dan tanda serta terapi Miringitis
Bulosa! (Buku Ajar Penyakit THT BOIES; Buku Penyakit THT, Kepala dan Leher
Edisi Kedua; www.emedicine.com; Comprehensive otology)
a. Definisi
Miringitis menunjukan peradangan pada membran timpani. Pada miringitis
hemoragik atau bulosa temuan yang paling nyata adalah pembentukan
bula/bleb pada membran timpani dan dinding kanalis di dekatnya.
Miringitis bulosa merupakan suatu miringitis akut yang ditandai oleh adanya
pembentukan bula pada membran timpani
b. Sinonim ??
c. Penyebab
Mycoplasma pneumonia, Streptococcus pneumonia
d. Gejala
Nyeri pada telinga, gangguan pendengaran, riwayat demam, kemungkinan
riwayat trauma akibat membersihkan telinga atau penetrasi benda asing, keluar
cairan dari telinga
e. Tanda
Otoskopi : membran timpani meradang (tanda inflamasi : hiperemis,
deformasi, reflek cahaya memendek atau bahkan menghilang) dengan satu atau
lebih bula, bulla penuh dengan cairan bening, agak kuning, atau perdarahan,
limfadenopati servikal posterior
f. Terapi
Pembersihan kanalis auditorius eksterna
Irigasi liang telinga untuk membuang debris
Bila ada gangguan sistemik, eritromisin merupakan obat pilihan
Bleb/vesikel dapat dipecahkan dengan jarum halus/pisau miringotomi untuk
menghilangkan nyeri
Pemberian analgetik
35 Apa yang anda ketahui tenteang serumen?
Serumen adalah sekret kelenjar sebasea dan apokrin yang terdapat pada bagian
kartilaginosa liang telinga. Ada dua tipe dasar, basah dan kering. Serumen
diketahui memiliki sifat proteksi. Dapat berfungsi sebagai sarana pengangkut debris
epitel dan kontaminan untuk dikeluarkan dari membran timpani. Serumen juga
berfungsi sebagai pelumas dan dapat mencegah kekeringan dan pembentukan fisura
pada epidermis. Serumen memiliki efek bakterisidal. Kumpulan serumen yang
berlebihan bukanlah suatu penyakit. Pada sebagian orang serumen dapat mengeras
dan membentuk sumbat yang padat, pada yang lain sejumlah besar serumen dengan
konsistensi seperti mentega dapat menyumbat liang telinga. Serumen biasanya
diangkat dengan sebuah kuret dibawah pengamatan dan paparan yang memadai.
Irigasi dengan air memakai spuit logam khusus juga sering dilakukan (Buku Ajar
Penyakit THT BOIES)
36 Apa yang anda ketahui Kolesteatotis/kolesteatoma eksterna?
(Buku Ajar THT FKUI Edisi Kelima).
Penumpukan deskuamasi epidermis di liang telinga, membentuk gumpalan dan
menimbulkan rasa penuh serta kurang dengar dan terjadi erosi kulit dan bagian
tulang liang telinga. Disertai rasa nyeri hebat akibat peradangan setempat. Erosi
bagian tulang liang telinga dapat sangat progresif memasuki rongga mastoid dan
kavum timpani. Etiologinya belum jelas , sering terjadi pada pasien dengan
penyakit paru kronik, seperti bronkiektasis, juga pada pasien sinusitis.
37 Sebutkan definisi, sinonim, penyebab, gejala dan tanda serta terapi Otitis
Media! (Buku Ajar THT FKUI Edisi Kelima)
a. Definisi
Peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustaschius,
antrum mastoid, dan sel sel mastoid
b. Klasifikasi
Otitis Media Supuratif
o Otitis Media Supuratif Akut (OMA)
o Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)
Otitis Media Non Supuratif
o Otitis Media Serosa Akut (Barotrauma)
o Otitis Media Serosa Kronis
c. Komplikasi
Klasifikasi komplikasi:
Telinga tengah : perforasi membran timpani persisten, erosi tulang
pendengaran, paralisis nervus fasialis
Telinga dalam : fistula labirin, labirintis supuratif, tuli saraf (sensorineural)
Ekstra dural : Abses ekstradural, trombosis sinus lateralis, petrosis
SSP : Meningitis, abses otak, hidrosefalus otitis
38 Sebutkan definisi, sinonim, penyebab, pathogenesis, stadium, gejala dan tanda
serta terapi OMA!
a. Definisi :
Otitis media akut (OMA) adalah peradangan telinga tengah dengan gejala dan
tanda-tanda yang bersifat cepat dan singkat.
b. Sinonim: Otitis Media Supuratif Akut
c. Penyebab :
Bakteri : Tiga jenis bakteri penyebab otitis media tersering adalah
Streptococcus pneumoniae (40%), diikuti oleh Haemophilus influenzae (25-
30%) dan Moraxella catarhalis (10-15%).
Virus : Virus yang paling sering dijumpai pada anak-anak, yaitu respiratory
syncytial virus (RSV), influenza virus, atau adenovirus (sebanyak 30-40%).
d. Patogenesis :
Pathogenesis OMA pada sebagian besar anak-anak dimulai oleh infeksi saluran
pernapasan atas (ISPA) atau alergi, sehingga terjadi kongesti dan edema pada
mukosa saluran napas atas, termasuk nasofaring dan tuba Eustachius. Tuba
Eustachius menjadi sempit, sehingga terjadi sumbatan tekanan negatif pada
telinga tengah. Bila keadaan demikian berlangsung lama akan menyebabkan
refluks dan aspirasi virus atau bakteri dari nasofaring ke dalam telinga tengah
melalui tuba Eustachius. Mukosa telinga tengah bergantung pada tuba
Eustachius untuk mengatur proses ventilasi yang berkelanjutan dari nasofaring.
Jika terjadi gangguan akibat obstruksi tuba, akan mengaktivasi proses inflamasi
kompleks dan terjadi efusi cairan ke dalam telinga tengah. Akibat dari infeksi
virus saluran pernapasan atas, sitokin dan mediator-mediator inflamasi yang
dilepaskan akan menyebabkan disfungsi tuba Eustachius. Virus respiratori juga
dapat meningkatkan kolonisasi dan adhesi bakteri, sehingga menganggu
pertahanan imum pasien terhadap infeksi bakteri. Jika sekret dan pus bertambah
banyak dari proses inflamasi lokal, perndengaran dapat terganggu karena
membran timpani dan tulang-tulang pendengaran tidak dapat bergerak bebas
terhadap getaran. Akumulasi cairan yang terlalu banyak akhirnya dapat
merobek membran timpani akibat tekanannya yang meninggi.
e. Stadium, Gejala dan Tanda :
1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius
Pada stadium ini, terdapat sumbatan tuba Eustachius yang ditandai oleh
retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan intratimpani negatif di
dalam telinga tengah, dengan adanya absorpsi udara. Retraksi membran
timpani terjadi dan posisi malleus menjadi lebih horizontal, refleks cahaya
juga berkurang. Edema yang terjadi pada tuba Eustachius juga
menyebabkannya tersumbat. Selain retraksi, membran timpani kadang-
kadang tetap normal dan tidak ada kelainan, atau hanya berwarna keruh
pucat. Efusi mungkin telah terjadi tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini
sulit dibedakan dengan tanda dari otitis media serosa yang disebabkan oleh
virus dan alergi. Tidak terjadi demam pada stadium ini
2. Stadium Hiperemis atau Stadium Pre-supurasi
Pada stadium ini, terjadi pelebaran pembuluh darah di membran timpani,
yang ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis, edema mukosa
dan adanya sekret eksudat serosa yang sulit terlihat. Hiperemis disebabkan
oleh oklusi tuba yang berpanjangan sehingga terjadinya invasi oleh
mikroorganisme piogenik. Proses inflamasi berlaku di telinga tengah dan
membran timpani menjadi kongesti. Stadium ini merupakan tanda infeksi
bakteri yang menyebabkan pasien mengeluhkan otalgia, telinga rasa penuh
dan demam. Pendengaran mungkin masih normal atau terjadi gangguan
ringan, tergantung dari cepatnya proses hiperemis. Hal ini terjadi karena
terdapat tekanan udara yang meningkat di kavum timpani. Gejala-gejala
berkisar antara dua belas jam sampai dengan satu hari.
3. Stadium Supurasi
Stadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat purulen atau
bernanah di telinga tengah dan juga di sel-sel mastoid. Selain itu edema
pada mukosa telinga tengah menjadi makin hebat dan sel epitel superfisial
terhancur. Terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani
menyebabkan membran timpani menonjol atau bulging ke arah liang telinga
luar. Pada keadaan ini, pasien akan tampak sangat sakit, nadi dan suhu
meningkat serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Pasien selalu gelisah
dan tidak dapat tidur nyenyak. Dapat disertai dengan gangguan pendengaran
konduktif. Pada bayi demam tinggi dapat disertai muntah dan kejang.
Stadium supurasi yang berlanjut dan tidak ditangani dengan baik akan
menimbulkan iskemia membran timpani, akibat timbulnya nekrosis mukosa
dan submukosa membran timpani. Terjadi penumpukan nanah yang terus
berlangsung di kavum timpani dan akibat tromboflebitis vena-vena kecil,
sehingga tekanan kapiler membran timpani meningkat, lalu menimbulkan
nekrosis. Daerah nekrosis terasa lebih lembek dan berwarna kekuningan
atau yellow spot. Keadaan stadium supurasi dapat ditangani dengan
melakukan miringotomi.
4. Stadium Perforasi
Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga sekret
berupa nanah yang jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga tengah ke
liang telinga luar. Kadang-kadang pengeluaran sekret bersifat pulsasi
(berdenyut). Stadium ini sering disebabkan oleh terlambatnya pemberian
antibiotik dan tingginya virulensi kuman. Setelah nanah keluar, anak
berubah menjadi lebih tenang, suhu tubuh menurun dan dapat tertidur
nyenyak.
5. Stadium Resolusi
Keadaan ini merupakan stadium akhir OMA yang diawali dengan
berkurangnya dan berhentinya otore. Stadium resolusi ditandai oleh
membran timpani berangsur normal hingga perforasi membran timpani
menutup kembali dan sekret purulen akan berkurang dan akhirnya kering.
Pendengaran kembali normal. Stadium ini berlangsung walaupun tanpa
pengobatan, jika membran timpani masih utuh, daya tahan tubuh baik, dan
virulensi kuman rendah.
f. Terapi:
Pada stadium oklusi tuba, pengobatan bertujuan untuk membuka kembali
tuba Eustachius sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang.
Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,5 % dalam larutan fisiologik
untuk anak kurang dari 12 tahun atau HCl efedrin 1 % dalam larutan
fisiologis untuk anak yang berumur atas 12 tahun pada orang dewasa.
Sumber infeksi harus diobati dengan pemberian antibiotik.
Pada stadium hiperemis dapat diberikan antibiotik, obat tetes hidung dan
analgesik. Dianjurkan pemberian antibiotik golongan penisilin atau
eritromisin. Jika terjadi resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam
klavulanat atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin
intramuskular agar konsentrasinya adekuat di dalam darah sehingga tidak
terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa
dan kekambuhan. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Bila pasien
alergi tehadap penisilin, diberikan eritromisin. Pada anak, diberikan
ampisilin 50-100 mg/kgBB/hari yang terbagi dalam empat dosis,
amoksisilin atau eritromisin masing-masing 50 mg/kgBB/hari yang terbagi
dalam 3 dosis.
Pada stadium supurasi, selain diberikan antibiotik, pasien harus dirujuk
untuk melakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh sehingga
gejala cepat hilang dan tidak terjadi ruptur.
Pada stadium perforasi, sering terlihat sekret banyak keluar, kadang secara
berdenyut atau pulsasi. Diberikan obat cuci telinga (ear toilet) H2O2 3%
selama 3 sampai dengan 5 hari serta antibiotik yang adekuat sampai 3
minggu. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup kembali
dalam 7 sampai dengan 10 hari.
Pada stadium resolusi, membran timpani berangsur normal kembali, sekret
tidak ada lagi, dan perforasi menutup.
39 Sebutkan definisi, pathogenesis, pembagian, gejala, dan tanda serta terapi
OMK !
a. Definisi:
Otitis media supuratif kronik ialah infeksi kronik di telinga tengah lebih dari 2
bulan dengan adanya perforasi membran timpani, sekret yang keluar dari
telinga tengah dapat terus menerus atau hilang timbul. Sekret bisa encer atau
kental,bening atau berupa nanah.
b. Patogenesis:
OMSK ditandai dengan keadaan patologis yaitu inflamasi yang ireversibel di
telinga tengah dan mastoid. Disfungsi tuba Eustachius memegang peranan
penting pada otitis media akut dan otitis media kronis. Kontraksi muskulus veli
palatini menyebabkan tuba Eustachius membuka selama proses menelan dan
pada kondisi fisiologik tertentu, mengalirkan sekret dari telinga tengah ke
nasofaring, mencegah sekret dari nasofaring refluks ke telinga tengah dan
menyeimbangkan tekanan antara telinga tengah dengan lingkungan luar.
Bila bakteri memasuki telinga tengah melalui nasofaring atau defek membran
timpani, terjadi replikasi bakteri di dalam efusi serosa. Hal ini diikuti oleh
pelepasan mediator inflamasi dan imun ke dalam ruang telinga tengah.
Hiperemia dan leukosit polimorfonuklear yang mendominasi fase inflamasi
akut memberi jalan pada fase kronis, ditandai dengan mononuklear selular
mediator (makrofag, sel plasma, limfosit), edema persisten dan jaringan
granulasi. Selanjutnya dapat terjadi metaplasia epitel telinga tengah, dimana
terjadi perubahan epitel kuboidal menjadi epitel kolumnar pseudostratified yang
mampu meningkatkan secret mukoid. Jaringan granulasi menjadi lebih fibrotik,
kadang-kadang membentuk adhesi terhadap struktur penting di telinga tengah.
Hal ini akan mengganggu aerasi antrum dan mastoid dengan mengurangi ruang
antara osikel dan mukosa yang memisahkan telinga tengah dari antrum.
Obstruksi kronis menyebabkan perubahan ireversibel di dalam tulang dan
mukosa
c. Pembagian :
1. Tipe tubotimpani = tipe jinak = tipe aman = tipe rhinogen.
Ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars tensa dan gejala klinik yang
bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. Beberapa faktor lain yang
mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius, infeksi saluran
nafas atas, pertahanan mukosa terhadap infeksi yang gagal pada pasien
dengan daya tahan tubuh yang rendah, disamping itu campuran bakteri
aerob dan anaerob, luas dan derajat perubahan mukosa, serta migrasi
sekunder dari epitel skuamous. Sekret mukoid kronis berhubungan
denganhiperplasia goblet sel, metaplasia dari mukosa telinga tengah pada
tipe respirasi dan mukosiliar yang jelek.
Secara klinis penyakit tubotimpani terbagi atas:
1.1. Penyakit aktif
Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli. Biasanya didahului
oleh perluasan infeksi saluran nafas atas melalui tuba eutachius, atau
setelah berenang dimana kuman masuk melalui lia ng telinga luar.
Sekret bervariasi dari mukoid sampai mukopurulen. Ukuran perforasi
bervariasi dari sebesar jarum sampai perforasi subtotal pada pars tensa.
Jarang ditemukan polip yang besar pada liang telinga luas. Perluasan
infeksi ke sel-sel mastoid mengakibatkan penyebaran yang luas dan
penyakit mukosa yang menetap harus dicurigai bila tindakan
konservatif gagal untuk mengontrol infeksi, ataujika granulasi pada
mesotimpanum dengan atau tanpa migrasi sekunder dari kulit, dimana
kadang-kadang adanya sekret yang berpulsasi diatas kuadran
posterosuperior.
1.2. Penyakit tidak aktif
Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering dengan
mukosa telinga tengah yang pucat. Gejala yang dijumpai berupa tuli
konduktif ringan. Gejala lain yang dijumpai seperti vertigo, tinitus,atau
suatu rasa penuh dalam telinga.
Faktor predisposisi pada penyakit tubotimpani :
Infeksi saluran nafas yang berulang, alergi hidung, rhinosinusitis
kronis.
Pembesaran adenoid pada anak, tonsilitis kronis.
Mandi dan berenang dikolam renang, mengkorek telinga dengan
alat yang terkontaminasi.
Malnutrisi dan hipogammaglobulinemia.
Otitis media supuratif akut yang berulang.
1.3. Tipe atikoantral = tipe ganas = tipe tidak aman = tipe tulang
Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya. Penyakit
atikoantral lebih sering mengenai pars flasida dan khasnya dengan
terbentuknya kantong retraksi yang mana bertumpuknya keratin sampai
menghasilkan kolesteatom. Kolesteatom adalah suatu massa amorf,
konsistensi seperti mentega, berwarna putih, terdiri dari lapisan epitel
bertatah yang telah nekrotis. Kolesteatom dapat dibagi atas 2 tipe yaitu :
a. Kongenital
b. Didapat.
d. Gejala dan Tanda:
1. Telinga berair (otorrhoe)
Sekret bersifat purulen ( kental, putih) atau mukoid ( seperti air dan encer)
tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan oleh
aktivitas kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe
jinak, cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali
sebagai reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membran timpani
dan infeksi. Keluarnya secret biasanya hilang timbul. Meningkatnya jumlah
sekret dapat disebabkan infeksi saluran nafas atas atau kontaminasi dari
liang telinga luar setelah mandi atau berenang.
2. Gangguan pendengaran
Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. Biasanya
dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan
pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena
daerah yang sakit ataupun kolesteatom, dapat menghambat bunyi dengan
efektif ke fenestra ovalis.
3. Otalgia (nyeri telinga)
Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK, dan bila ada merupakan
suatu tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena
terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya ancaman
komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau
dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak. Nyeri telinga
mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna sekunder. Nyeri
merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis,
subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis.
4. Vertigo
Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya.
Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin
akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya
akibat perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada panderita yang
sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar membran
timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh
perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan
keluhan vertigo.
e. Terapi
1. OMSK Benigna Tenang
Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan, dan dinasehatkan untuk jangan
mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi, dilarang
berenangdan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. Bila
fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi
(miringoplasti,timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta
gangguan pendengaran.
2. OMSK BENIGNA AKTIF
Prinsip pengobatan OMSK adalah :
Membersihkan liang telinga dan kavum timpani.
Pemberian antibiotika : - topikal antibiotik ( antimikroba) - sistemik.
40 Sebutkan definisi, sinonim, penyebab, tanda, dan gejala aerotitis !
a. Definisi
Aerotitis adalah keadaan dengan terjadinya perubahan tekanan yang tiba-tiba di
luar telinga tengah sewaktu di pesawat terbang atau menyelam, yang
menyebabkan tuba gagal untuk membuka
b. Sinonim
Barotrauma
c. Penyebab
Perbedaan tekanan > 90 mmHg, sehingga otot yang normal aktivitasnya tidak
mampu membuka tuba
d. Tanda dan gejala
Pendengaran menurun
Nyeri di dalam telinga
Autofoni
Perasaan ada air di dalam telinga
Tinnitus
Vertigo
41 Kenapa bayi dan anak lebih sering terkena OMA disbanding dewasa !
42 Sebutkan dengan ringkas N. VII sejak dari porus akustikus internus hingga
foramen stylomastoideum serta sebutkan pula sifat sifat saraf ini !
43 Sebutkan derajat kelumpuhan saraf yang kamu ketahui !
Klasifikasi Klasifikasi Proses
Seddon Sunderland Patologis
Neuropraxia I Gangguan fungsi
Axonotmesis II Kerusakan axon
III Kerusakan axon dan endoneurium
IV Kerusakan axon, endoneurium dan perineurium
Neurotmesis V Kerusakan total
Gradasi fungsi saraf fasialis menurut House-Brackmann
I. Normal
II. Disfungsi Ringan
III. Disfungsi Sedang
IV. Disfungsi Sedang Berat
V. Disfungsi Berat
VI. Paralisis Total
Gradasi Freys fungsi motorik, tonus, sinkinesis dan hemispasme
MENURUT FKUI, 2016 :
Setiap gerakan dari otot yang dipersarafi N facialis dibandingkan kanan dan kiri :
3 = gerakan normal dan simetris
2 = antara 3 dan 1
1 = sedikit gerakan
0 = tidak ada gerakan sama sekali
44 Sebutkan penyebab kelumpuhan N. VII !(FKUI, 2016)
Kongenital (bersamaan dengan anomali telinga dan tulang pendengaran)
Infeksi (Ramsay Hunt, OMSK)
Tumor (intrakranial, intratemporal, ekstratemporal)
Trauma (fraktur temporal)
Gangguan p darah (trombosis arteri karotis, maksilaris, serebri media)
Idiopatik (Bells Palsy)
45 Sebutkan definisi, penyebab, tanda dan gejala Bells palsy!
a. Definisi :Bells palsy adalah suatu kelumpuhan saraf fasialisperifer yang
bersifat unilateral, penyebabnya tidak diketahui (idopatik), akut dan tidak
disertai olehgangguan pendengaran, kelainan neurologi lainnya atau kelainan
lokal.
b. Penyebab :
Kongenital
anomali kongenital (sindroma Moebius)
trauma lahir(fraktur tengkorak, pendarahan intrakanial,dll )
Didapat
trauma
penyakit tulang tengkorak(osteomielitis)
proses intrakranial(tumor, radang, pendarahan dll)
proses di leher yang menekan daerah prosesusstilomastoideus
infeksi tempat lain(otitis media, herpes zoster dll)
sindroma paralisis N. Fasialis familial
c. Tanda dan gejala :
1. Kelumpuhan otot-otot wajah pada satu sisi yang terjadi secara tiba-
tibabeberapa jam sampai beberapa hari (maksimal 7 hari).
2. Nyeri di sekitar telinga
3. Rasabengkak atau kaku pada wajah walaupun tidak adagangguan sensorik.
4. Hiperakusis
5. Berkurangnya produksi air mata,
6. Hipersalivasi
7. Berubahnya pengecapan
Kelumpuhansaraf fasialis dapat terjadi secara parsial atau komplit.Kelumpuhan
parsial dalam 17 hari dapat berubah menjadi kelumpuhan komplit.
46 Apa yang dijadikan standar pendengaran normal?
Telinga orang normal (golden ear) dimana dapat mendengar suara pada rentang 0
140 db dengan frekuensi 20-20.000 hertz
47 Bagaimana pembagian kurang pendengaran?
A. Berdasarkan tipe (kualitas)
Conductive hearing loss (CHL) / tuli konduksi
Sensory neural hearing loss (SNHL) / tuli sensori
Tuli campuran
B. Berdasarkan derajat (kuantitas) berdasarkan ISO
Normal (0-25db)
Tuli ringan ( 25-40db)
Tuli sedang (40-55 db)
Tuli sedang berat (55-70db)
Tuli berat (70-90 db)
Tuli sangat berat (<90db)
C. Berdasarkan jenis
1. Organik (anatomic)
Sentral
perifer
2. Fungsional (psikogenik)
3. Simulasi
D. Berdasarkan waktu
Kongenital
Akuisita
48 Sebutkan macam-macam uji pendengaran!
A. Tanpa alat
Test suara (bisik)
B. Dengan alat
1. Test garpu tala (kualitatif)
Rinne
Weber
Swabach
Bing (tes oklusi)
Stenger
2. Test audiometri (kuantitatif)
49 Apa tujuan uji pendengaran?
Menentukan apakah fungsi pendengaran normal atau terjadi kurang
pendengaran
Menentukan jenis gangguan pendengaran
Menentukan derajat gangguan pendengarna
Menentukan jenis rehabilitasi

50 Uraikan dengan singkat tata cara tes bisik serta evaluasinya!


a. Syarat:
1. Tempat :
Ruangan sunyi dan tidak ada echo (dinding dibuat rata atau dilapisi soft
board / gorden) serta ada ajarak sepanjang 6 meter
2. Penderita (yang diperiksa)
Mata ditutup atau dihalangi agar tidak membaca gerak bibir
Telinga yang diperiksa dihadapkan ke arah pemeriksa
Telinga yang tidak diperiksa ditutup (bisa ditutupi kapas yang dibasahi
gliserin)
Mengulang dengan keras dan jelas kata-kata yang dibisikkan
3. Pemeriksa
Kata-kata dibisikkan dengan udara cadangan paru-paru, sesudah
ekspirasi biasa
Kata-kata yang dibisikkan terdiri dari 1 atau 2 suku kata yang dikenal
penderita, biasanya kata-kata benda yang ada di sekeliling kita.
b. Teknik Pemeriksaan
1. Mula-mula penderita pada jarak 6 m dibisiki beberapa kata. Bila tidak
menyahut pemeriksa maju 1 m (5 m dari penderita) dan tes ini dimulai lagi.
Bila masih belum menyahut pemeriksa maju 1 m, demikian seterusnya
sampai penderita dapat mengulangi 8 kata-kata dari 10 kata-kata yang
dibisikkan. Jarak dimana penderita dapat menyahut 8 dari 10 kata disebut
sebagai jarak pendengaran.
2. Cara pemeriksaan yang sama dilakukan untuk telinga yang lain sampai
ditemukan satu jarak pendengaran.
c. Hasil tes
Pendengaran dapat dinilai secara kuantitatif (tajam pendengaran) dan secara
kualitatif (jenis ketulian)

51 Apa kelebihan dan kekurangan tes bisik dibanding tes garpu tala?
Keuntungan :
Tidak membutuhkan alat bantu
Bersifat semi kuantitatif

Kerugian :
Harus berada pada suasana sunyi, dengan nada dan tinggi suara setiap kata
sama
Membutuhkan ruangan yang luas

52 Satu set garpu tala ada berapa buah ? sebutkan frekuensinya dan frekuensi
mana yang paling sering dipakai ?
1 set penala ada 5 buah, frekuensi 128 Hz, 256 Hz, 512 Hz, 1024 Hz, dan 2048 Hz.
Yang sering dipakai 512 Hz. 1024 Hz, dan 2048 Hz. Apabila tidak memungkinkan
menggunkan 3 garputala tersebut, 512 Hz paling mungkin digunakan karena tidak
terlalu dipengaruhi suara bising sekitar
(FKUI)
53 Uraikan tes rinne dan evaluasinya!
Penala digetarkan, tangkainya diletakkan di processus mastoid pasien, setelah tidak
terdengar penala dipegang di depan telinga kira kira 2,5 cm.
Evaluasi bila masih terdengar, rinne (+), bila tidak terdengar rinne (-).
(FKUI)
54 Uraikan tes weber, sebutkan evaluasinya!
Penala digetarkan dan tangkai penala diletakkan di garis tengah kepala pasien
(vertex, dahi, pangkal hidung, tengah-tengah gigi seri atau di dagu).
Evaluasi
Apabila bunyi penala terdengar lebih keras pada salah satu telinga disebut weber
lateralisasi ke telinga tersebut. Bila tidak dapat dibedakan ke telinga mana bunyi
tersebut terdengar, disebut weber tidak ada lateralisasi.(FKUI)
55 Jelaskan dengan singkat tes scwabach dan bagaimana evaluasinya!
Penala digetarkan, tangkai penala diletakkan pada prosesus mastodi pasien sampai
tidak terdengar bunyi. Kemudian tangkai penala segera dipindahkan pada prosesus
mastoid telinga pemeriksa yang pendengaran normal.
Evaluasi
Bila pemeriksa masih dapat mendengar disebut schwabach memendek, bila
pemeriksa tidak dapat mendengar, pemeriksaan diulang dengan cara sebaliknya
yaitu dimulai dengan meletakkan penala di procesus mastoid pemeriksa sampai
tidak terdengar, bila pasien masih dapat mendengar disebut scwabach memanjang.
Bila pasien dan pemeriksa sama mendengar disebut scwabach sama dengan
pemeriksa.(FKUI)
56 Apa saja tujuan tes garpu tala?
a) Tes Rinne : untuk membandingkan hantaran melalui udara dan hantaran
melalui tulang pada telinga yang diperiksa
b) Tes Weber : untuk membandingkan hantaran tulang telinga yang sakit
dengan tulang telinga yang sehat. Untuk membandingkan hantaran tulang
telinga kiri dan kanan
c) Tes Schwabach : untuk membandingkan hantaran tulang telinga orang yang
diperiksa dengan pemeriksa. Syarat pemeriksa harus memiliki pendengaran
yang normal
57 Apa tujuan audiometri ?
a. Untuk mengetahui derajat ketulian dan jenis tuli (tuli konduksi, tuli sensori,
atau tuli campuran (FKUI, 2012).
b. Kegunaan diagnostik penyakit telinga
c. Mengukur kemampuan pendengaran dalam menangkap percakapan sehari-hari.
Atau validitas sosial pendengaran seperti untuk tugas dan pekerjaan, apakah
butuh alat bantu dengar, ganti rugi seperti dalam bidang kedokteran kehakiman
dan asuransi.
d. Skrining pada anak balita dan sekolah dasar
e. Monitor pekerja yang bekerja di tempat bising.
Dhingra PL: Assessment of hearing, Disease of ENT, 4 th edition: Elsevier: 2007
58 Sebutkan bagian pokok audiometer!
a) Peralatan : Audiometer yang tersedia di pasaran terdiri dari enam komponen
utama yaitu;
a. Oksilator yang menghasilkan berbagai nada murni,
b. amplifier untuk menaikkan internsitas nada murni hingga dapat terdengar,
c. pemutus (interrupter) yang memungkinkan pemeriksamenekan dan mematikan
tombol nada murni secara halus tanpa tedengar bunyi lain,
d. attenuator agar pemeriksa dapat menaikkan dan menurunkan intensitas ke
tingkat yang dikehendaki,
e. earphone yang mengubah gelombang listrik menjadi bunyi yang dapat
didengar,
f. sumber suara pengganggu (masking) yang sering diperlukan untuk meniadakan
bunyi ke telinga yang tidak diperiksa. Narrow band masking noise atau garis
selubung suara sempit merupakan suara putih atau white noise (sejenis suara
mirip aliran uap atau deru angin) yang sudah disaring dari enegi suara yang
tidak dubutuhkan uantuk menyelubungi bunyi tertentu yang sedang digarap. Ini
adalah bunyi masking yang paling efektif untuk audiometerik nada murni.
b) Nada murni : bunyi yang hanya mempunyai satu frekuensi dinyatakan dalam
jumlah getaran per detik.
c) Bising : bunyi yang banyak frekuensi (narrow band / spektrum terbatas dan
white noise / spektrum luas)
d) Frekuensi : nada murni yang dihasilkan oleh getaran suatu benda yang sifatnya
harmonis sederhana. Dinyatakan dalam hertz.
e) Intensitas bunyi: dinyatakan dalam desibel (dB), dikenal Dbhl (Hearing level),
Dbsl (sensation level) yang sering digunakan dalam audiometer, untuk Dbspl
(sound pressure level) digunakan untuk mengetahui intensitas bunyi yang
sesungguhnya).
f) Ambang dengar : bunyi nada murni terlemah pada frekuensi tertentu yang dapat
didengar orang.
g) Nilai nol audiometer: intensitas nada murni yang terkecil pada suatu frekuensi
tertettu yang masih didengar orang dewasa muda (18-30 tahun).
h) Notasi pada audiogram: dipakai grafik AC dan BC . telinga kiri biru, telinga
kanan merah.
59 Apa beda audiometri nada murni dan audiometri tutur?
a) Audiometri mada murni : suatu cara pemeriksaan untuk mengukur sensivitas
pendengaran dengan alat audiometer yang menggunakan nada murni (pure
tone). Ambang nada murni diukur dengan intensitas minimum yang dapat
didengar selama satu atau dua detik melalui antaran udara ataupun hantaran
tulang. Frekwensi yang dipakai berkisar antara 125 8000 Hz dan diberikan
secara bertingkat (Feldman dan Grimes, 2007).
b) Audiometri tutur : system uji pendengaran yang menggunakan kata-kata terpilih
yang telah dibakukan, dituturkan melalui suatu alat yang telah dikaliberasi,
untuk mengukur beberapa aspek kemampuan pendengaran. Pasien diminta
untuk mengulangi kata-kata yang didengar melalui kaset tape recorder. Pada
tuli perseptif koklea, pasien sulit untuk membedakan bunyi S, R, N, C, H, CH,
sedangkan pada tuli retrokoklea lebih sulit lagi. Misalnya pada tuli perseptif
koklea, kata kadar didengarnya kasar, sedangkan kata pasar didengarnya
padar.
Pada audiometri tutur ini dikenal dua titik penting, yaitu :
1) Speech Reception Threshold (SRT) batas minimum penerimaan
percakapan untuk mengetahui kemampuan pemdemgaran penderita dalam
percakapan sehari-hari (validitas sosial).
2) Speech Discrimination Score (SDS) kemampuan pendengaran penderita
dalam membedakan macam-macam kata yang didengar.
60 Gambarkan Audiogram nada murni dan audiogram tutur!
a) Audiogram murni
b) Audiogram Tutur

61 Apakah yang dimaksud Timpanometri?


Timpanometri merupakan pemeriksaan untuk menilai fungsi telinga tengah dengan
mengukur besarnyta tekanan intra timpani tanpa mencoblos membran timpani (non
invasif), serta mendeteksi adanya carina pada telinga tengah, tekanan negatif telinga
tengah, kerusakan tulang-tulang pendegaran, perforasi membran timpani, dan
otosklerosis.
(Kolegium Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok, Bedah Kepala, dan Leher.
Modul Telinga, Gangguan pendegeran Edisi 1.2008 h18-23.)
62 Bagaimana cara uji pendengaran pada bayi dan anak?
Terdapat 2 kebijakan deteksi dini KP yaitu universal newborn hearing screening
(UNHS) dilakukan pada semua bayi baru lahir sebelum meninggalkan rumah sakit
dan targeted newborn hearing screening (TNHS) dilakukan hanya pada bayi yang
baru lahir dengan faktor resiko KP.Pemeriksaan KP yang digunakan yaitu OAE dan
AABR. Diagnosis sebaiknya ditegakkan sebelum anak berusia 3 bulan dan proses
intervensi sejak usia 6 bulan.
a) Automated Audiotry Brainstem Response (AABR)
Test ini digunakan untuk mengetahui bagiamana saraf-saraf pendengaran
merespon suara. Nada yang lembut dibunyikan melalui earphones yang
terpasang pada telinga bayi/. Lalu terpasang 3 elektroda di kepala bayi untuk
mengetahui respon saraf pendengaran.
b) Otoacoustic Emissions (OAE)
Test ini digunakan untuk memperkirakan gelombang suara yang diproduksi
pada telinga dalam. Prob yang ukurannya kecil diletakan pada lubang telinga
bayi yang digunakan untuk merespon pantuan suara ketika nada dibunyikan
pada telinga bayi.
63 Apa itu alat bantu dengan jenis KP apa yang responsif terhadap ADS?
Alat bantu dengar (hearing aids)
Suatu alat elektronik yang dioperasikan dengan batere, yang berfungsi
memperkuat dan merubah suara sehingga komunikasi bisa berjalan dengan
lancar. Alat bantu dengar sangat membantu proses pendengaran dan pemahaman
percakapan pada penderita penurunan fungsi pendengaran sensorineural.
KP (Kekurangan Pendengaran)
Kurang pendengaran adalah ketidakmampuan secara parsial atau total untuk
medengarkan suara pada salah satu telinga, sehingga dibedakan menjadi KP
sebagian (hearing impaired) dan KP total (deaf). Kurang pendengaran sebagian
adalah keaadaan kondisi pendengaran yang berkurang namun dapat dimanfaatkan
untuk berkomunikasi dengan atau tanpa bantuan ABD (Alat Bantu Dengar). KP
total adalah keadaan fungsi pendengaran sehingga tidak dapat berkomunikasi
sekalipun menggunakan pengerasan bunyi dengan bantuan ABD.
64 Apa definisi , macam, dan indikasi meastoidektomi?
a. Definisi :
Prosedur yang dilakukan untuk menghilangkan sel-sel udara pada mastoid.
b. Jenis:
Radical mastoidectomy
Canal wall Down Mastoidectomy
Canal Wall Up Mastoidectomy
Cortical Mastoidectomy
Modified Radical Mastoidectomy
c. Indikasi : Otitis Media Kronik dengan atau tanpa cholesteatoma, Neoplasma,
meningomas, Epidermoids.
Cummings CW, Flint PW, Haughey BH, et al. Otolaryngology: Head & Neck
Surgery. 4th ed. St Louis, Mo; Mosby; 2005:30193020.
65 Apa definisi macam dan indikasi Timpanoplastik?
a. Definisi : Prosedur operasi yang digunakan untuk rekonstruksi dari membran
timpani dan atau tulang - tulang yang terdapat pada telinga tengah. Menurut
Horst Ludwig Wullstein terdapat 5 tipe
Tipe 1 : Terkait perbaikan dari membran timpani bisa disebut juga
myringoplasty
Tipe 2 : Terkait perbaikan membran timpani dan tulang telinga tengah yang
terkena defek
Tipe 3 : Terkait pengangkatan tulang telinga tengah dan epitimpani bila
terjadi defek yang luas terhadap malleus dan incus. Perbaikan membran
timpani tetap dilakukan kemudian disambungkan langsung dengan Stapes
Tipe 4 : Perbaikan bila stapes dapat digerkan tetapi crura menghilang. Hasil
dari tipe 4 ini hanya terdapat tuba eustasius dan hipotimpanum
Tipe 5 : Perbaikan yang berkatian dengan stapes yang tidak dapat bergerak.
b. Indikasi : Untuk mengembalikan fungsi dan anatomi tubuh dari telinga tengah.
Tymapno or myringoplasty .Surgerynet. Retrieved 13 August 2012
66 Sebutkan tulang-tulang pembentuk rongga hidung!
Os vomer
Lamina perpendicularis ossis ethmoidalis
Os maxilla dan os palatum
Lamina kribiformis ossis ethmoidalis
Os sphenoid
67 Sebutkan tulang rawan yang ikut membentuk rongga hidung!
cartilago septum nasi
cartilago nasalis
68 Sebutkan tulang dan tulang rawan pembentuk sekat hidung!
Anterior : cartilago septum nasi
Posterior : Os vomer
Superior : Lamina perpendicularis ossis ethmoidalis
( Sumber : Anatomi Klinik Snell)
Kalau dari BOIES ada tambahan, struktur tulang dan tulang rawan pembentuk
septum nasi disokong di bagian bawahnya oleh krista maksila dan krista palatina
69 Sebutkan pembagian hidung dan rongga hidung!
Hidung atau nasal dibagi menjadi dua yaitu hidung luar (nasus eksternus) dan
rongga hidung (cavum nasi)
Hidung luar berbentuk pyramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke
bawah:
1. Pangkal hidung
2. Batang hidung (dorsum nasi)
3. Puncak hidung (tip)
4. Ala nasi
5. Kolumela
6. Lubang hidung (nares anterior)
Penyusun hidung luar ada kerangka tulang yaitu :
1. Os nasal
2. Processus frontalis os maxilla
3. Processus nasalis os frontal
Sedangkan untuk tulang rawan yang menyusun hidung luar :
1. 1 pasang kartilago nasalis lateralis superior
2. 1 pasang kartilsgo nasalis lateralis inferior/ kartilago ala mayor
3. tepi anterior kartilago septum
Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang,
ditengahnya dipisahkan oleh septum nasi menjadi kavum nasi dextra dan kavum
nasi sinistra.
Kavum nasi terdiri dari :
1. Lubang masuk kavum nasi bagian depan nares anterior
2. Lubang belakang nares posterior/ koana yang menghubungkan kavum
nasi dengan nasofaring.
3. Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi tepat di
belakang nares anterior vestibulum (yang dilapisi oleh kulit yang banyak
kelenjar sebase dan rambut panjang/ vibrise)
4. Bagian dinding kavum nasi
Dinding medial : septum nasi
Dinding lateral : Konka (Concha nasalis superior, media, inferior)
dan meatus ( meatus nasi superior, media, inferior)
Dinding inferior dibentuk oleh os maksila dan os palatum
Dinding superior dibentuk oleh lamina kribiformis
5. Di bagain posterior, atap rongga hidung dibentuk oleh os sphenoid
(SUMBER : THT FKUI)
70 Sebutkan sinus2 pada nasal dan dimana muaranya!
Tempat muara Sinus/ ductus
Recessus sphenoethmoidalis Sinus sphenoidalis
Meatus nasi superior Sinus ethmoidalis posterior
Meatus nasi media Sinus maxillaris
Sinus frontalis
Sinus ethmoidalis anterior
Sinus ethmoidalis media
Meatus nasi inferior Ductus nasolacrimalis
( Sumber : Anatomi Klinik Snell)
71 Sebutkan fungsi hidung!
(Sumber : THT FKUI)
Fungsi respirasi mengatur kondisi udara, penyaring udara, humidifikasi,
penyeimbang dalam pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik local.
Fungsi penghidu karena terdapat mukosa olfaktorius dan reservoir untuk
menampung stimulus penghidu
Fungsi fonetik untuk resonansi suara, membantu proses bicara dan
mencegah hantaran suara sendiri melalui konduksi tulang
Fungsi static dan mekanik untuk meringankan beban kepala, proteksi
terhadap trauma dan pelindung panas
Refleks nasal mukosa hidung merupakan reseptor reflex yang berhubungan
dengan sal. Cerna, kardiovaskuler dan pernapasan. Iritasi mukosa hidung akan
menyebabkan bersin, rangsang bau menyebabkan sekresi kelenjar air liur, lambung
dan pancreas.
72 Sebutkan gejala dan tanda penyakit kelainan hidung!
Gejala penyakit kelainan hidung secara umum dapat berupa gejala lokal atau gejala
manifestasi jauh. Gejala lokal :
1. Kongesti atau sumbatan hidung
2. Rinore
3. Perdarahan
4. Nyeri
5. Anosmia
6. Sekret post nasal
Tanda penyakit kelainan hidung biasanya ditemukan pada saat pemeriksaan fisik,
seperti :
1. Edema mukosa yang dapat menyebabkan nyeri kepala
2. Massa berwarna pucat yang berasal dari meatus medius dan mudah
digerakkan, tanda yang dapat ditemukan pada penyakit polip hidung saat
pemeriksaan rinoskopi anterior
3. Pada rhinitis alergi, rinoskopi anterior tampak mukosa edema, basah,
berwarna pucat atau livid disertai secret yang banyak.
(Sumber : BOIES dan THT FKUI)
73 Sebutkan beberapa kelainan kongenital pada hidung!
A. Nasal Dermoid
B. Choanal atresia
C. Epignathus
D. Polyrhinia
E. Arhinia
F. Nasal Cleft
G. Proboscis lateralis
H. Encephaloceles
74 Apa gejala dan tanda fraktur os nasal, dengan apa diagnosis pastinya,apa
bahayanya, bagaimana terapinya?
A. Gejala dan tanda
- Bengkak pada hidung atau muka
- Nyeri pada hidung
- Sulit bernapas
- Deformitas dan krepitasi
- Memar pada hidung atau bawah kelopak mata
- Keluar darah dari hidung (epistaksis), rinore CSF
- Riwayat trauma, kecelakaan
- Anosmia
B. Diagnosis pasti
Inspeksi (deformitas, rinoskopi anterior : edema mukosa hidung, deviasi septum,
hematoma septum, bekuan darah, robekan mukosa septum) Palpasi (krepitasi,
nyeri tekan, depresi os nasal). PP : Foto os nasal lateral, foto cranium AP, foto
sinus paranasal posisi Waters, CT Scan tanpa kontras
C. Bahaya fraktur
- Hematom septum nasal : akumulasi darah pada ruang subperikondrial yang
menekan kartilago dibawahnya menyebabkan nekrosis septum irreversible
- Obtruksi jalan napas
- Mengenai lamina cribriformis : predisposisi mengeluarkan CSF yg dpt
menyebabkan meningitis, encepalitis, abses serebri
D. Terapi
1. Konservatif :
- Dekongestan : untuk megurangi edema mukosa
- Vasokontriktor topikal
- Balut tampon
- Antibiotik
- Analgetik
2. Operatif
Reduksi tertutup patah tulang hidung tanpa komplikasi baik dilakukan
dengan anestesi lokal. Untuk patah tulang moderat complexnasal, fraktur
terbuka, atau hematoma septum, konsultasi bedah harus dicari. Sementara
itu , patah tulang hidung dapat dikelola melalui reduksi tertutup, beberapa
luka pada akhirnya mungkin memerlukan reduksi terbuka melalui
septorhinoplasty. Ini biasanya dilakukan pada 6 sampai 12 bulan setelah
bekas luka post-trauma melunak.
75 Apa gejala dan tanda khas corpus alineum hidung?
d. Anamnesis
Diagnosis klinis benda asing di saluran napas ditegakkan berdasarkan
anamnesis adanya riwayat tersedak sesuatu, tiba-tiba muncul choking (rasa
tercekik), gejala, dan tanda lainnya. Anamnesis yang cermat perlu ditegakkan
karena kasus aspirasi benda asing sering tidak segera dibawa ke dokter saat
kejadian. Perlu diketahui macam benda atau bahan yang teraspirasi dan telah
berapa lama tersedak benda asing itu.
e. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisis hidung, dapat digunakan rhinoskopi anterior. Namun,
kadang-kadang edema dan granulasi mukosa menutupi benda asing tersebut.
Pada beberapa kasus, diperlukan penyemprotan agen vasokonstriktor untuk
memperkecil mukosa pada saat pemeriksaan. Seringkali, tindakan ini
memperjelas penampakan badan asing tersebut. Pada anak-anak kecil dan
kurang kooperatif, kadang diberikan anestesi umum untuk mempermudah
dalam menemukan benda asing. Pemeriksaan fisis di rongga hidung dapat
ditemukan destruksi luas pada mukosa membran, tulang, dan kartilago. Mukosa
hidung menjadi lunak dan mudah berdarah. Selain itu, pada pemeriksaan
tampak pula edema dengan inflamasi mukosa hidung unilateral dan dapat
terjadi ulserasi. Benda asing biasanya tertutupi oleh mukopus, sehingga
disangka sinusitis. Dalam hal demikian, bila akan menghisap mukopus haruslah
hati-hati supaya benda asing tersebut tidak terdorong ke arah nasofaring yang
kemudian dapat masuk ke laring, trakea, dan bronkus. Pada kasus rhinolith,
pemeriksaan fisis kadang ditemukan pada kavum nasi massa berwarna keabu-
abuan yang irregular, di sepanjang dasar rongga hidung yang bertulang, keras,
dan terasa berpasir pada pemeriksaan.
76 Apa yang dimaksud dengan epistaksis, apa penyebab, dan bagaimana
terapinya?
A. Definisi
Epistaksis berasal dari bahasa Yunani yaitu epistazo, yang artinya
perdarahan dari hidungyang dapat berupa perdarahan anterior dan
perdarahan posterior. Perdarahan dari hidung inidapat terjadi akibat sebab
lokal atau sebab umum (kelainan sistemik).
B. Penyebab
1. Faktor Lokal
Beberapa faktor lokal yang dapat menyebabkan terjadinya epistaksis,
antara lain :
a.Trauma nasal
b. Obat semprot hidung (nasal spray)
c. Kelainan anatomi: adanya spina, krista dan deviasi septum.
d. Tumor intranasal atau sinonasal. Sering ditandai dengan adanya
riwayat epistaksis yang berulang.
e. Iritasi zat kimia, obat-obatan atau narkotika. Seperti dekongestan
topikal dan kokain. Iritasi karena pemakaian oksigen: Continuous
Positive Airway Pressure (CPAP)
f. Kelainan vaskuler seperti kelainan yang dikenal dengan Wageners
granulomatosis (kelainan yang didapat) Infeksi lokal infeksi
hidung dan sinus paranasal, rinitis, sinusitis serta
granulomaspesifik,seperti lupus, sifilis dan lepra dapat menyebabkan
epistaksis
2. Sistemik
a. Hipertensi
b. Sindrom Rendu Osler Weber (hereditary hemorrhagic
telangectasia) merupakankelainan bawaan yang diturunkan secara
autosom dominan. Trauma ringan padamukosa hidung akan
menyebabkan perdarahan yang hebat. Hal ini disebabkanoleh
melemahnya gerakan kontraktilitas pembuluh darah serta
terdapatnya fistulaarteriovenous
c. Infeksi sistemik akut Demam berdarah, demam typhoid,
influenza, morbili,demam tifoid.
d. Efek sistemik obat-obatan golongan antikoagulansia
(heparin, warfarin) danantiplatelets (aspirin, clopidogrel).
e. Kegagalan fungsi organ seperti uremia dan sirosis hepatis
f. Hormonal : Seperti kelebihan hormon adrenokortikosteroid atau
hormon mineralokortikoid,pheochromocytoma, hyperthyroidism
atau hypothyroidism, kelebihan hormonpertumbuhan dan
hyperparathyroidism
C. Tatalaksana
Untuk dapat menghentikan pendarahan perlu dicari
sumbenrnya dan penyebabnya, setidaknya dilihatapakah perdarahan
dari anterior atau posterior. Sumber perdarahan dicari untuk
membersihkan hidung dari darah dan bekuan darahdengan bantuan alat
penghisap. Kemudian pasang tampon sementara yaotu kapas yang telahdi
basahi oleh adrenalin 1/5000 1/10.000 dan pantokain atau lidokain 2%
di masukankedalam rongga hidung untuk menghentikan perdarahan dan
mengurangi rasa nyeri pada saatdi lakukan tindakan selanjutnya, tampon
di biarkan selama 10-15 menit. Setelah terjadivasokonstriksi biasanya
dapat di lihat apakah perdarahan dari bagian anterior atau
posteriorhidung.
Perdarahan anterior
- Metode Trotter
- Kauterisasi
- Tampon anterior
Perdarahan Posterior
- Tampon posterior : tampon bellocq, Balloon tamponade, Ligasi arteri
77 Apa definisi, penyebab, gejala dan tanda, diagnosis serta terapi polip nasi?
A. Definisi
Polip hidung adalah masa lunak yang mengandung banyak cairan di dalam
rongga hidung, berwarna putih keabu-abuan, yang terjadi akibat inflamasi
mukosa
B. Gejala
Keluhan utama penderita polip hidung adalah rasa tersumbat dari yang ringan
sampai yang berat, rinore dari yang jernih sampai purulen, hiposmia atau
anosmia. Mungkin disertai bersin-bersin, rasa nyeri di hidung disertai sakit
kepala di daerah frontal. Bila disertai infeksi sekunder mungkin didapati post
nasal drip dan rinore purulen. Gejala sekunder yang dapat timbul adalah
bernafas melalui mulut, suara sengau, halitosis, gangguan tidur dan penurunan
kualitas hidup. Polip yang besar kadang-kadang mengganggu pernapasan di
malam hari dan menyebabkan obstructive sleep apnea. Selain itu harus
ditanyakan riwayat rinitis alergi, asma, intoleransi terhadap aspirin dan alergi
obat lainnya serta alergi makanan.5 Polip hidung hampir selalu bilateral dan jika
unilateral perlu dilakukan pemeriksaan histologi untuk menyingkirkan
keganasan atau patologi lain sepeti inverted papilloma. Polip hidung tidak
sensitif terhadap palpasi dan jarang berdarah.
C. Penyebab
Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif atau reaksi
alergi pada mukosa hidung
1. Alergi terutama rinitis alergi.
2. Sinusitis kronik.
3. Iritasi.
4. Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum dan hipertrofi
konka.
D. Tanda dan Diagnosis
Polip hidung yang masif dapat menyebabkan deformitas hidung luar sehingga
hidung tampak mekar karena pelebaran batang hidung. Pada pemeriksaan
rinoskopi anterior terlihat sebagai masa yang berwarna pucat yang berasal dari
meatus media dan mudah digerakkan.1 Pembagian stadium polip menurut
Mackay dan Lund (1997)1,6,7
1. Stadium 1 : Polip masih terbatas di meatus media
2. Stadium 2 : Polip sudah keluar dari meatus media, tampak di rongga
hidung tapi belum memenuhi rongga hidung
3. Stadium 3 : Polip yang masif
E. Terapi
1. Oral, misalnya prednison 50 mg/hari atau deksametason selama 10 hari,
kemudian dosis diturunkan perlahan-lahan (tappering off).
2. Suntikan intrapolip, misalnya triamsinolon asetonid atau prednisolon 0,5 cc,
tiap 5-7 hari sekali, sampai polipnya hilang.
3. Obat semprot hidung yang mengandung kortikosteroid, merupakan obat untuk
rinitis alergi, sering digunakan bersama atau sebagai lanjutan pengobatn
kortikosteroid per oral. Efek sistemik obat ini sangat kecil, sehingga lebih aman.
Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang
sangat masih dipertimbangkan untuk terapi bedah. Dapat dilakukan ekstraksi polip
(polipektomi)
78 Apa definisi, penyebab, gejala dan tanda, diagnosis, serta terapi angiofibroma
nasofaring?
a. Definisi
Angiofibroma nasofaring (angiofibroma nasopharynx/ nasopharyngeal
angiofibroma) adalah suatu tumor jinak nasofaring yang secara histologik jinak
namun secara klinis bersifat ganas karena dapat mendestruksi tulang dan meluas
ke jaringan sekitarnya, seperti ke sinus paranasalis, pipi, mata dan tengkorak
(cranial vault), serta sangat mudah berdarah yang sulit dihentikan.
b. Penyebab
- sex steroid-stimulated hamartomatous tissue yang terletak di turbinate cartilage.
- reseptor seks-hormon muncul pada angiofibroma dengan menggunakan teknik
sensitive immunocytochemical
- faktor pertumbuhan yang memediasi proliferasi agresif sel stromal dan
angiogenesis. Transforming Growth Factor-1 (TGF-1)
c. Tanda dan gejala
1. Obstruksi nasal (80-90%) dan ingus (rhinorrhea). Ini merupakan gejala
yang paling sering, terutama pada permulaan penyakit.
2. Sering mimisan (epistaxis) atau keluar cairan dari hidung yang berwarna
darah (blood-tinged nasal discharge). Mimisan, yang berkisar 45-60% ini,
biasanya satu sisi (unilateral) dan berulang (recurrent).
3. Sakit kepala (25%), khususnya jika sinus paranasal terhalang.
4. Pembengkakan di wajah (facial swelling), kejadiannya sekitar 10-18%.
5. Tuli konduktif (conductive hearing loss) dari obstruksi tuba eustachius.
6. Melihat dobel (diplopia), yang terjadi sekunder terhadap erosi menuju ke
rongga kranial dan tekanan pada kiasma optik.
7. Gejala lainnya yang bisa juga terjadi misalnya: keluar ingus satu sisi
(unilateral rhinorrhea), tidak dapat membau (anosmia), berkurangnya
sensitivitas terhadap bau (hyposmia), recurrent otitis media, nyeri mata
(eye pain), tuli (deafness), nyeri telinga (otalgia), pembengkakan langit-
langit mulut (swelling of the palate), kelainan bentuk pipi (deformity of
the cheek), dan rhinolalia.
d. Diagnosis
1. Tampak massa merah keabu-abuan yang terlihat jelas di faring nasal
posterior; nonencapsulated dan seringkali berlobus (lobulated); dapat tidak
bertangkai (sessile) atau bertangkai (pedunculated). Angka kejadian massa di
hidung (nasal mass) ini mencapai 80%.
2. Mata menonjol (proptosis), langit-langit mulut yang membengkak (a
bulging palate), terdapat massa mukosa pipi intraoral (an intraoral buccal
mucosa mass), massa di pipi (cheek mass), atau pembengkakan zygoma
(umumnya disertai dengan perluasan setempat). Angka kejadian massa di rongga
mata (orbital mass) ini sekitar 15%, sedangkan angka kejadian untuk mata
menonjol (proptosis) sekitar 10-15%.
3. Tanda lainnya termasuk: otitis serosa karena terhalangnya tuba eustachius,
pembengkakan zygomaticus, dan trismus (kejang otot rahang) yang merupakan
tanda bahwa tumor telah menyebar ke fossa infratemporal. Juga terdapat
penurunan penglihatan yang dikarenakan optic nerve tenting, namun hal ini
jarang terjadi. (1, 6)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Biopsi
2. Foto polos
3. CT Scan
4. Angiografi
e. Terapi
1. EMBOLISASI
Tujuan embolisasi pada pembuluh darah tumor supaya tumor menjadi
jaringan parut dan menghentikan perdarahannya. Embolisasi dilakukan dengan
memasukkan suatu zat dalam pembuluh darah untuk membendung aliran darah.
Biasanya agen embolisasi dimasukkan melalui arteri karotis eksterna lalu ke
arteri maksilaris interna.
2. OPERASI
Terjadi pembesaran yang terbatas ke arah lateral. Untuk lesi dengan
pembesaran terbatas ini, operator lain mungkin memilih pendekatan transfacial
melalui lateral rhinotomy dan medial maxillectomy. Teknik midfacial degloving
bisa juga digunakan. Lesi dengan penyebaran yang luas ke luar nasofaring akan
memerlukan kombinasi dari pendekatan-pendekatan pembedahan basis cranii
untuk mendapatkan pembukaan yang cukup untuk mengeluarkan lesi.
3. HORMONAL
4. RADIOTERAPI
79 Apa sinonim, definisi, penyebab, gejala dan tanda, terapi, serta komplikasi
rhinitis akut simplek?
a. Sinonim
Rinitis simpleks disebut juga pilek, salesma, common cold, dan coryza
b. Definisi
Rhinitis akut adalah peradangan pada mukosa hidung yangberlangsung akut(<12
minggu). Hal ini dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, ataupun iritan.
Radang sering ditemukan karena manifestasi dari rhinitis simpleks (common cold),
influenza, penyakit eksantem (seperti morbili, variola, varicella, pertusis), penyakit
spesifik, serta sekunder dari iritasi lokal atau trauma.
c. Penyebab
Klasifikasi berdasarkan etiologi:
1. Rhinitis Virus
a. Rhinitis simplek (pilek, Selesema, Comman Cold, Coryza)
Rhinitis simplek disebabkan oleh virus. Infeksi biasanya terjadi melalui
droplet di udara. Beberapa jenis virus yang berperan antara lain,
adenovirus, picovirus, dan subgrupnya seperti rhinovirus, coxsakievirus,
dan ECHO. Masa inkubasinya 1-4 hari dan berakhir dalam 2-3 minggu.
b. Rhinitis Influenza
Virus influenza A, Batau C berperan dalam penyakit ini. Tanda dan
gejalanya mirip dengan common cold. Komplikasi berhubungan dengan
infeksi bakteri sering terjadi.
c. Rhinitis Eksantematous
Morbili, varisela, variola, dan pertusis, sering berhubungan dengan
rhinitis, dimana didahului dengan eksantema sekitar 2-3 hari. Infeksi
sekunder dan komplikasi lebih sering dijumpai dan lebih berat.
2. Rhinitis Bakteri
a. Infeksi non spesifik
1. RhinitisBakteri Primer. Infeksi ini tampak pada anak dan biasanya
akibat dari infeksi pneumococcus, streptococcus atau staphylococcus.
Membran putih keabuabuan yang lengket dapat terbentuk di rongga
hidung, dan apabila diangkat dapat menyebabkan
pendarahan/epistaksis.
2. RhinitisBakteri Sekunder merupakan akibat dari infeksi bakteri pada
rhinitis viral akut.
b. Rhinitis Difteri
Penyakit ini disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae. Rhinitis difteri
dapat berbentuk akut atau kronik dan bersifat primer pada hidung atau
sekunder pada tenggorokan. Dugaan adanya rhinitis difteri harus
dipikirkan pada penderita dengan riwayat imunisasi yang tidak lengkap.
Penyakit ini semakin jarang ditemukan karena cakupan program
imunisasi yang semakin meningkat.
3. Rhinitis Iritan
Tipe rhinitis akut ini disebabkan oleh paparan debu, asap atau gas yang
bersifat iritatif seperti ammonia, formalin, gas asam dan lain-lain. Selain itu,
dapat juga disebabkan oleh trauma yang mengenai mukosa hidung selama
masa manipulasi intranasal, contohnya pada pengangkatan corpus alienum.
Pada rhinitis iritan terdapat reaksi yang terjadi segera yang disebut dengan
immediate catarrhal reaction bersamaan dengan bersin, rinore, dan hidung
tersumbat. Gejalanya dapat sembuh cepat dengan menghilangkan faktor
penyebab atau dapat menetap selama beberapa hari jika epitel hidung telah
rusak. Pemulihan akan bergantung pada kerusakan epitel dan infeksi yang
terjadi.
D. Gejala dan Tanda
Keluhan
Pasien datang dengan keluhan keluar ingus dari hidung (rinorea), hidung
tersumbat disertai rasa panas dan gatal pada hidung.
- Rhinitis simpleks: gejala berupa rasa panas di daerah belakang hidung pada
awalnya, lalu segera diikuti dengan hidung tersumbat, rinore, dan bersin yang
berulang-ulang. Pasien merasa dingin, dan terdapat demam ringan. Pada infeksi
bakteri ingus menjadi mukopurulen, biasanya diikuti juga dengan gejala sistemik
seperti demam, malaise dan sakit kepala.
- Rhinitis influenza: gejala sistemik umumnya lebih berat disertai sakit pada otot.
- Rhinitis eksantematous: gejala terjadi sebelum tanda karakteristik atau ruam
muncul.
- Rhinitis iritan: gejala berupa ingus yang sangat banyak dan bersin.
- Rhinitis difteria: gejala berupa demam, toksemia, terdapat limfadenitis, dan
mungkin ada paralisis otot pernafasan.
Pemeriksaan Fisik
Dapat ditemukan adanya demam.
Pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak kavum nasi sempit, terdapat sekret
serous atau mukopurulen dan mukosa udem dan hiperemis.
Pada rhinitis difteri tampak ada ingus yang bercampur darah. Membran keabu-
abuan tampak menutup konka inferior dan kavum nasi bagian bawah,
membrannya lengket dan bila diangkat dapat terjadi perdarahan.
Komplikasi
1. Otitis media akut.
2. Sinusitis paranasalis.
3. Infeksi traktus respiratorius bagian bawah seperti laring, tracheobronchitis,
pneumonia.

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)


Penatalaksanaan
1. Istirahat yang cukup.
2. Mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat.
3. Rhinitis akut merupakan penyakit yang bisa sembuh sendiri secara spontan
setelah kurang lebih 1 - 2 minggu. Karena itu umumnya terapi yang diberikan lebih
bersifat simptomatik, seperti analgetik, antipiretik, dan nasal dekongestan disertai
dengan istirahat yang cukup. Terapi khusus tidak diperlukan kecuali bila terdapat
komplikasi seperti infeksi sekunder bakteri, maka antibiotik perlu diberikan.
- Antipiretik dapat diberikan parasetamol.
- Dekongestan oral dapat mengurangi sekret hidung yang banyak, membuat pasien
merasa lebih nyaman, seperti pseudoefedrin, fenilpropanolamin, atau fenilefrin.
- Antibiotik diberikan jika terdapat infeksi bakteri, seperti amoxicillin, eritromisin,
cefadroxil.
- Pada rhinitis difteri terapinya meliputi isolasi pasien, penisilin sistemik, dan
antitoksin difteri.
80 Apa definisi pembagian gejala dan tanda diagnisus terapi rhinitis alergi
menurut ARIA WHO
Klasifikasi rinitis alergi berdasarkan terdapatnya gejala:
1. Intermitten, bila gejala terdapat:
o Kurang dari 4 hari per minggu
o Atau bila kurang dari 4 minggu
2. Persisten, bila gejala terdapat:
o Lebih dari 4 hari per minggu
o Dan bila lebih dari 4 minggu

Berdasarkan beratnya gejala:


1. Ringan, jika tidak terdapat salah satu dari gangguan sebagai berikut:
Gangguan tidur
Gangguan aktivitas harian
Gangguan pekerjaan atau sekolah
2. Sedang-berat, bila didapatkan salah satu atau lebih gejala-gejala tersebut
diatas.
81 Apa definisi, sinomim, penyebab, gejala, dan tanda terapi rhinitis vasomotorik
a. Definisi :
Rinitis vasomotor adalah suatu inflamasi mukosa hidung yang bukan
merupakan proses alergi, bukan proses infeksi, menyebabkan terjadinya
obstruksi hidung dan rinorea. Keadaan idiopatik yang didiagnosis tanpa adanya
infeksi, alergi, eosinophilia, perubahan hormonal (kehamilan, hipertiroid) dan
pajanan obat (kontrasepsi oral, antihipertensi, beta blocker, aspirin,
klorpromazin, dan obat topical hidung dekongestan)
b. Etiologi :
terganggunya keseimbangan saraf autonom mukosa hidung yang menyebabkan
terjadinya vasodilatasi dan hipersekresi.
Etilogi pasti rinitis vasomotor belum diketahui dan diduga akibat
gangguankeseimbangan sistem saraf otonom yang dipicu oleh zat-zat
tertentu.Beberapa faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor :
1. Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis,
sepertiergotamin, chlorpromazin, obat anti hipertensi dan obat vasokonstriktor
topikal.
2. Faktor fisik, seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin, kelembaban udara
yangtinggi dan bau yang merangsang.
3. Faktor endokrin, sepeti keadaan kehamilan, pubertas, pemakaian pil
kontrasepsi dan hipotiroidisme.
4. Faktor psikis, seperti stress, ansietas dan fatigue
c. Tanda dan gejala antara kain rhinorrhea, hidung tersumbat. Pruritus jarang
tetapi refleks bersin dapat ada sebagai mekanisme pertahanan host otonom.
Berdasarkan gejala yang menonjol, rinitis vasomotor dibedakan dalam 2
golongan, yaitu golongan obstruksi ( blockers ) dan golongan rinore (runners /
sneezers ).
d. Tata laksana dibagi dalam :
1. Menghindari penyebab / pencetus (Avoidance therapy )
2. Pengobatan konservatif (Farmakoterapi) :
-Dekongestan atau obat simpatomimetik digunakan untuk mengurangi
keluhan hidung tersumbat. Contohnya : Pseudoephedrine,
Phenylpropanolamine (oral), Phenylephrine dan Oxymetazoline (semprot
hidung).
- Anti histamin
- Kortikosteroid topikal : Budesonide,Fluticasone, Flunisolide atau
Beclomethasone
- Anti kolinergik : Ipratropium bromide
3. Terapi operatif (dilakukan bila pengobatan konservatif gagal) :
- Kauterisasi konka hipertrofi
82 Uraiakan dengan singkat bagaimana tes alergi!
Tes cukit kulit (prick test)
Tes ini dilakukan dengan membubuhkan beberapa tetes alergen berbeda, larutan
histamin (kontrol positif), dan pelarut (kontrol negatif) pada daerah volar lengan
bawah. Jarum ditusukkan ke epidermis. Hasil reaksi dibaca dalam 15 menit.
Kriteria pembacaan (ARIA) :
(+1) apabila indurasi berdiameter 1 mm lebih besar dari diameter kontrol
negatif
(+2) indurasi berdiameter 1-3 mm lebih besar dari diameter kontrol negatif
(+3) indurasi berdiameter >3 mm lebih besar dari diameter kontrol negatif
disertai flare
(+4) indurasi berdiameter >5 mm dari diameter kontrol negatif disertai flare
83 Sebutkan dan uraikan secara singkat tipe-tipe reaksi alergi!
Reaksi alergi atau hipersensistivitas terbagi menjadi 4 tipe
Tipe I (reaksi cepat) yang terjadi segera setelah terpapar alergen. Tipe ini
diperantarai oleh Ig E yang terikat pada permukaan sel mast atau basofil dan
menyebabkan dilepaskannya mediator kimia seperti bradikinin,histamine,
prostaglandin.
Tipe II diperantarai Ig G, reaksi yang menyebabkan kerusakan pada sel tubuh
oleh karena antibodi melawan/menyerang secara langsung antigen yang
berada pada permukaan sel.
Tipe III merupakan reaksi alegi yang dapat terjadi karena deposit yang
berasal dari kompleks antigen antibody berada di jaringan. Reaksi ini dapat
disebabkan oleh antigen ekstrinsik dan intrinsic/internal (self). Reaksi ini
melibatkan sel-sel imunokompeten, seperti makrofag dan sel T.
Tipe IV merupakan reaksi yang disebabkan oleh antigen ekstrinsik dan
intrinsic/internal (self). Reaksi ini melibatkan sel-sel imunokompeten,
seperti makrofag dan sel T
84 Sebutkan sinonim, definisi, penyebab, gejala serta tanda, stadium2 serta terapi
ozeana! (Asnir, Rizalina Arwinati. Rinitis Atrofi, Cermin Dunia
Kedokteran 2004;144: 5 7)
a. Sinonim
Ozena disebut juga rinitis atrofi, rinitis sika, rinitis kering, sindrom
hidung-terbuka, atau ozaena
b. Definisi
Rinitis atrofi adalah penyakit hidung kronik yang ditandai atrofi
progresif mukosa hidung dan tulang penunjangnya disertai
pembentukan sekret yang kental dan tebal yang cepat mengering
membentuk krusta, menyebabkan obstruksi hidung, anosmia, dan
mengeluarkan bau busuk.
c. Penyebab
Etiologi rinitis atrofi dibagi menjadi primer dan sekunder. Rinitis atrofi
primer adalah rinitis atrofi yang terjadi pada hidung tanpa kelainan
sebelumnya, sedangkan rinitis atorfi sekunder merupakan komplikasi
dari suatu tindakan atau penyakit. Rinitis atrofi primer adalah bentuk
klasik dari rinitis atrofi dimana penyebab pastinya belum diketahui
namun pada kebanyakan kasus ditemukan klebsiella ozaenae.1
Rinitis atrofi sekunder kebanyakan disebabkan oleh operasi sinus,
radiasi, trauma, penyakit infeksi, dan penyakit granulomatosa atau.
Operasi sinus merupakan penyebab 90% rinitis atrofi sekunder.
d. Gejala dan tanda
Gejala :
1) obstruksi hidung (buntu)
2) sakit kepala
3) epistaksis pada pelepasan krusta
4) bau busuk pada hidung (foeter ex nasi) yang dikeluhkan oleh orang
lain yang ada di sekitarnya. Bau ini tidak diketahui oleh pasien
karena atrofi dari mukosa olfaktoria.
5) Faringitis sikka
6) Penyumbatan yang terjadi karena lepasnya krusta dari nasofaring
masuk ke orofaring.
Tanda :
1) foeter ex nasi
2) krusta dihidung berwarna kuning, hijau, atau hitam
3) pelepasan kusta akan memperlihatkan ulserasi dan perdarahan
mukosa hidung
e. Stadium
Tingkat I : Atrofi mukosa hidung, mukosa tampak kemerahan dan
berlendir, krusta sedikit.
Tingkat II : Atrofi mukosa hidung makin jelas, mukosa makin kering,
warna makin pudar, krusta banyak, keluhan anosmia belum jelas.
Tingkat III : Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak
sebagai garis, rongga hidung tampak lebar sekali, dapat ditemukan
krusta di nasofaring, terdapat anosmia yang jelas.
f. Terapi
1) Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman, dengan dosis
adekuat sampai tanda-tanda infeksi hilang. Qizilbash dan Darf
melaporkan hasil yang baik pada pengobatan dengan Rifampicin oral
600 mg 1 x sehari selama 12 minggu.
2) Obat cuci hidung, untuk membersihkan rongga hidung dari krusta
dan sekret dan menghilangkan bau. Antara lain :
a. Betadin solution dalam 100 ml air hangat atau
b. Larutan garam dapur
c. Campuran : ( NaCl + NH4Cl + NaHCO3 aaa 9 + Aqua ad 300 cc
1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat)
d. Campuran : (Na bikarbonat 28,4 g + Na diborat 28,4 g + NaCl
56,7 g dicampur 280 ml air hangat )
Larutan dihirup ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan
menghembuskan kuat-kuat, air yang masuk ke nasofaring
dikeluarkan melalui mulut, dilakukan dua kali sehari. Pemberian
obat simptomatik pada rinitis atrofi (Ozaena) biasanya dengan
pemberian preparat Fe.
3) Obat tetes hidung , setelah krusta diangkat, diberi antara lain :
glukosa 25% dalam gliserin untuk membasahi mukosa, estradiol
dalam minyak Arachis 10.000 U / ml, kemisetin anti
ozaena solution dan streptomisin 1 g + NaCl 30 ml. diberikan tiga
kali sehari masing-masing tiga tetes.
4) Vitamin A 3 x 10.000 U selama 2 minggu.
85 Sebutkan penyebab, patogenesis, gejala dan tanda, diagnosis serta terapi
sinusitis maksilaris akut! (Internet)

a. Etiologi
Penyebabtersering sinus maksilaris akut adalah infeksi saluran nafas atas karena
virus, seperti rhinovirus, virus influenza A dan B, coronavirus, adenovirus,
enterovirus dan virus parainfluenza dan respiratory syncitial virus. Karena pada
infeksi virus akan terjadi edema dan hilangnya fungsisilia yang normal, maka
akan terjadi suatu lingkungan ideal untuk perkembangan infeksi bakteri
(Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenza, bakteri anaerob).
b. Patogenesis
Virus Bakteri Jamur

Menginfeksi ostium sinus & mukosiliar
(KOM)

Oedem

Mukosa yang berhadapan bertemu

Silia tidak dapat bergerak & ostium tersumbat

Tekanan negatif di rongga sinus

Terjadinya transudasi atau penghambatan drainase sinus

Sinusitis
c. Gejala dan tanda
Gejala muncul < 12 minggu:
- Hidung tersumbat
- Pilek
- Nyeri tekan pada wajah
- Penurunan penghidu
d. Diagnosis
Anamnesis
Adanya alergi hidung, dengan gejala yang paling banyak adalah bersin-bersin
lebih dari 5 kali setiap serangan atau hidung gatal, rinore serous dan hidung
tersumbat.
Pemeriksaan Fisik
1. Tampak pembengkakan di daerah pipi dan kelopak mata bawah sisi yang
terkena.
2. Pada rinoskopi anterior, mukosa konka tampak hiperemis dan edema.
3. Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di nasofaring.
Pemeriksaan Penunjang
1. Dengan pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit takan terlihat suram
atau gelap. Bermakna bila hanya salah satu sinus saja yang mengalami
gangguan.
2. Pemeriksaan radiologi yaitu foto Waters, PA dan lateral.
Tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau air fluid level pada
sinus yang mengalami gangguan
3. CT scan sinus
Gold standard diagnosis sinusitis karena mampu menilai anatomi hidung .
e. Terapi
Terapi medikamentosa berupa antibiotik empirik (2x24 jam). Antibiotik yang
diberikan lini I yakni golongan penisilin atau kotrimoksazoldan terapi tambahan
yakni obat dekongestan oral dan topikal, mukolitik untuk memperlancar
drainase dan analgetik untuk menghilangkan rasa nyeri.Pada pasien atopi,
diberikan antihistamin atau kortikosteroid topikal.
86 Sebutkan penyebab, patogenesis, gejala dan tanda, diagnosis serta terapi
sinusitis maksilaris kronis! (BUKU SAKU OP3OS dan jurnal fk unair)
Sinusitis maksilaris kronis adalah sinusitis maksilaris yang berlangsung lebih dari 3
bulan. Sinusitis kronis berbeda dari sinusitis akut dalam berbagai aspek, umumnya
sukar disembuhkan dengan medikamentosa saja. Harus dicari faktor penyebab dan
faktor predisposisinya.Polusi bahan kimia menyebabkan silia rusak, sehingga
terjadi perubahan mukosa hidung. Perubahan mukosa hidung dapat juga disebabkan
oleh alergi dan defisiensi imunologik.
a. Penyebab
1) Asma
2) Penyakit alergi (misalnya rinitis alergika).
3) Gangguan sistem kekebalan atau kelainan sekresi maupun
pembuangan lendir.
b. Patogenesis
Siklus patologis rinosinusitis kronik, perubahan pada salah satu faktor
akan mengakibatkan terjadinya proses yang berkelanjutan dengan hasil
akhirnya adalah sinusitis kronik.
c. Gejala dan tanda
1) Pilek berbau, kental, biasanya satu sisi
2) Rasa kering pada tenggorokan, tenggorokan berlendir
3) Batuk Batuk
4) Nyeri kepala jarang ada
5) Badan tidak panas.
d. Diagnosis
1) Anamnesis
- Obstruksi nasal
- Sekret / discharge nasal
- Abnormalitas penciuman
- Nyeri / tekanan fasial. Nyeri tekan tidak terlokalisir
2) Pemeriksaan Fisik
Rinoskopi anterior dapat dilihat kelainan rongga hidung yang
berkaitan dengan sinusitis kronik seperti udem konka, hiperemi, sekret
(nasal drip), krusta, deviasi septum, tumor atau polip.
3) Pemeriksaan Penunjang
Transiluminasi, merupakan pemeriksaan sederhana terutama
untuk menilai kondisi sinus maksila. Pemeriksaan dianggap bermakna
bila terdapat perbedaan transiluminasi antara sinus kanan dan kiri
e. Terapi
1) Jika ditemukan faktor predisposisinya, maka dilakukan tatalaksana
yang sesuai dan diberi terapi tambahan. Jika ada perbaikan maka
pemberian antibiotik mencukupi 10-14 hari.
Jika ada obstruksi kompleks osteomeatal maka dilakukan tindakan bedah
yaitu BSEF atau bedah konvensional.
87 87. Sebutkan sebab2 rinolalia!
rhinolalia aperta (udara dan semua bunyi lewat hidung, sengau-sengauan
karena tidak dapat menutup anggota hidung)
Ukuran nasofaring yang besar (large nasopharynx), post adenoidectomy,
fistula oronasal, paralysis of soft palate, dan sub mucous palate.
rhinolalia clausa (udara dan huruf hidung tidak dapat lewat hidung,karena
rongga mulut/rongga hidung tertutup)
FLU (common cold), alergi pada hidung (nasal allergi), polip hidung (nasal
polypi) , adenoid, massa pada nasofaringeal (nasopharyngeal mass).
88 88. Sebutkan penyebab fetor eks nasi!
1. Pembusukan sel-sel mati (benda-benda organik) atau korpus alienum oleh
kuman saprofit.
2. Pembusukan sel-sel jaringan yang nekrotis, sebagai akibat dari :
a. Trauma, mengakibatkan kerusakan jaringan sampai matinya jaringan
karena tidak mendapat suplai darah. Terjadilah nekrosis dan infeksi
sekunder sehingga timbul foetor.
b. Radang oleh iritasi fisik atau kimiawi.
c. Toksin bakteri.
d. Neoplasma maligna dengan bagian-bagian yang nekrotik.
89 89. Apa yang dimaksud dengan tampon belloque, SR/SK, NAW, CWL, FESS,
rinotomi lateral, rinoplasti, konkotomi, ethmoidektomi, anstostomi?
Tampo bellocq : tampon yang mempunyai 3 utas benang, 1 utas di tiap ujung
dan 1 utas di tengah. Tampon harus dapat menutup koana (nares posterior).
Tampon dibuat dari kasa padat berbentuk bulat atau kubus dengan diameter
sekitar 3 cm.
SR/SK : Submucousa Ressection
Pada operasi ini mukoperikondrium dan mukoperiostium kedua sisi dilepaskan
dari tulang rawan dan tulang septum. Bagian tulang atau tulang rawan dari
septum kemudian diangkat, sehingga mukoperikondrium dan mukoperiosteum
sisi kiri dan kanan akan lansung bertemu di garis tengah.
Reseksi submukosa dapat menyebabkan komplikasi seperti terjadinya hidung
pelana (saddle nose) akibat turunnya puncak hidung, oleh karena bagian atas
tulang rawan septum terlalu banyak diangkat.
NAW : Naso Antral Window
Nasoantral window adalah sebuah antrostomi yang dilakukan dengan cara
membuat lubang antara sinus maksilaris dan anteroinferior hidung. Kemudian
sinus maksilaris di pungsi pada daerah ini dengan menggunakan trokar begkok
CWL : Caldwell-Luc
Caldwell-Luc adalah sebuah antrostomi yang dilakukan melalui fossa kanina
melalui insisi pada sulkus gingivobukal. Dimana pada prosedur ini meliputi
pengangkatan seluruhnya mukosa antrum dan pembukaan jendela nasoantral
melalui meatus inferior.
FESS : Functional Endoscopic Sinus Surgery
FESS (Functional Endoscopic Sinus Surgery) adalah sebuah prosedur dengan
menggunakan endoskopi nasal ( menggunakan tekonologi lensa Hopkin )
melewati kavum nasi untuk menghindari sayatan pada kulit. Endoskopi ini
memiliki diameter 4mm ( untuk orang dewasa ) dan 2,7 mm ( untuk anak-anak )
dan memiliki sudut yang bervariasi dari 0, 30, 45, 70, 90 dan 120.
Memberikan iluminasi yang baik di dalam kavum nasi dan sinus.
Rinotomi lateral
Reseksi neoplasma hidung dan sinus paranasal adalah tindakan pembedahan
pengangkatan neoplasma hidung dan sinus paranasal, yaitu maksilektomi
medial rinotomi lateral, reseksi radikal maksila dengan eksenterasi orbita dan
sebagian etmoid, reseksi maksila termasuk dasar orbita dengan
mempertahankan bola mata dan maksilektomi parsial (maksilektomi
infrastruktur dan maksilektomi suprastruktur).
Rinoplasti
Rinoplasti adalah sebuah prosedur pembentukan hidung dengan membentuk
tulang dan tulang rawan hidung. Dengan rinoplasti, hidung dapat dibentuk lebih
besar atau lebih kecil dengan menambah atau mengurangi tonjolan tulang
hidung; hidung yang lebih lurus atau lebih tipis juga dapat diperoleh dengan
membentuk tulang rawannya.
Konkotomi
Konkotomi atau dikenal juga dengan istilah turbinektomi merupakan tindakan
operasi yang dilakukan untuk mengatasi sumbatan atau hambatan dari aliran
udara yang melewati hidung. Sumbatan pada hidung dapat menjadi sumber
infeksi dan diperberat jika adanya bahan alergi atau iritan yang masuk bersama
udara yang dihirup. Pembengkakan hebat pada konka akan menghambat aliran
udara sehingga memerlukan intervensi operatif. konka yang memegang
perananan terpenting adalah konka inferior dan paling sering mengalami
permasalahan.
Operasi ini dapat dilakukan dengan pengangkatan secara partial atau total.
Lapisan dinding yg mandasari konka (mukosa) akan diusahakan agar dapat
dipertahankan semaksimal mungkin sekalipun konka harus diangkat
seluruhnya. Partial atau total bergantung dari kondisi konka dan hambatan yang
terjadi.
Ethmoidektomi
Ethmoidektomi adalah salah satu jenis operasi sinusitis yang diterapkan pada
bagian etmoid dengan cara mengikis gumpalan lendir yang mengeras di bagian
etmoid atau mengikis jaringan etmoid yang mengalami pertumbuhan abnormal
(tumor)
Antrostomi
Antrostomi yaitu membuat hubungan atau lubang di bawah pangkal konka
inferior, sehingga ada hubungan langsung antara sinus maksilaris dengan cavum
nasi agar pengaliran lendir atau sekret menjadi lebih baik.
90 90. Sebutkan persarafan dan pendarahan rongga hidung!
a. Persarafan hidung
1) Saraf motorik
Untuk gerakan otot-otot pernafasan pada hidung luar mendapat persarafan
dari cabang nervus fasialis.
2) Saraf sensoris
Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari
nervus etmoidalis anterior, merupakan cabang dari nervus nasosiliaris, yang
berasal dari nervus ophtalmika (N. V-I). rongga hidung lainnya sebagian
besar mendapat persarafan sensoris dari nervus maksila melalui ganglion
sfenopalatina
3) Saraf otonom
Ganglion sfenopalatinum, selain memberikan persarafan sensoris, juga
memberikan persarafan vasomotor atau otonom mukosa hidung. Ganglion
ini menerima serabut parasimpatis dari nervus petrosus profundus. Ganglion
sfenopalatinum terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka
media.
4) Nervus olfaktorius (penciuman)
Nervus olfaktorius turun melalui lamina kribriformis dari permukaan bawah
bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir pada sel-sel reseptor penghidu
pada mukosa olfaktorius di daerah sepertiga atas hidung

b. Pendarahan hidung
1) Bagian atas rongga hidung mendapat pendarahan dari a.etmoid
anterior dan posterior yang merupakan cabang dari a.oftalmikus, sedangkan
a.oftalmikus berasal dari a.karotis interna.
2) Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari cabang
a.maksila interna.
3) Bagian depan hidung mendapat pendarahan dari a.fasialis.
4) Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang-cabang
a.sfenopalatina, a.etmoidalisanterior, a.labialis superior dan a.palatina
mayor, yang disebut pleksus kiesselbach. Pleksus kiesselbach letaknya
superficial dan mudah cedera oleh trauma, sehingga sering menjadi sumber
epistaksis
5) Vena-vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan
berdampingan dengan arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar
hidung bermuara ke vena ophtalmika superior yang berhubungan dengan
sinus kavernosus.

DIKTAT + BLOGSPOT
91 91. Apa yang dimaksud dengan vestibulitis, gejala dan tanda serta terapinya?
a. Definisi
Vestibulitis adalah suatu peradangan atau infeksi pada kulit vestibulum.
Biasanya terjadi karena iritasi dari sekret dari rongga hidung (rinore) akibat
inflamasi mukosa yang menyebabkan hipersekresi sel goblet dan kelenjar
seromusinosa bisa juga akibat trauma.
b. Tanda dan gejala
Gejala gejala yang dapat ditemukan antara lain ditemukan antara lain adanya
rasa nyeri, kemerahan, atau benjolan pada lubang hidung bagian depan. Jika
infeksi menyebar, maka kulit bisa menjadi sangat merah, membengkak, dan
panas. Infeksi yang mengenai sinus kavernosus bisa menyebabkan
pembengkakan atau penonjolan mata, penglihatan ganda, atau penurunan
penglihatan.
c. Penatalaksanaan
1) Non medikamentosa
a) Menghindari kebiasaan mengorek hidung
b) Menjaga higiene
c) Tidak memencet atau melakukan insisi bila ada bisul
2) Medikamentosa
a) Pemberian antibiotik topikal, seperti pemberian salep antibiotik
bacitrasin dan polmiksin B serta antibiotik oral. Antibiotik diberikan
dalam 7-10 hari, dengan pemberian Amoxicilin 500mg, 3x/hari,
Cephalexin 250 500 mg, 4x/hari, atau Eritromisin 250 500 mg,
4x/hari.
b) Insisi dilakukan pada bisul yang besar untuk mengeluarkan isinya.
92 92. Sebutkan sintopi dan skletopi faring!
a. Sintopi
Cavum nasi atau rongga hidung memiliki syntopi sebagai berikut :
1) Di bagian Superior berbatasan dengan sinus frontalis, fossa crania
inferior, sinus sphenoidalis, dan fossa crania media
2) Di bagian Inferior berbatasan dengan cavitas oris yang dipisahkan
oleh palatum durum.
3) Di bagian Anterior berhubungan dengan dunia luar melalui nares
anterior / nosethrill
4) Di bagian Posterior behubungan dengan nasopharynx melalui nares
posterior / aperture posterior / coanae. Coanae memiliki batas2 yakni :
a) Batas medial : os.vomer
b) Batas inferior : lamina horizontalis os. Palatinum
c) Batas lateral : lamina pterygoidea
d) Batas superior : corpus os. Sphenoidale
5) Di sebelah Anterolateral dibatasi oleh nasus externus
6) Di sebelah Posterolateral dibatasi oleh Orbita, sinus maxillaris, sinus
ethmoidales, fossa pterygopalatina, fossa pterygoidea.
b. Skletopi
1) Di bagian atap dibentuk oleh cartilagines nasi, os. Nasale, proc.
nasalis os. Frontalis, lamina et foramina cribosa os. Ethmoidale, dan corpus
os.sphenoidale
2) Di bagian dasar dibentuk oleh processus palatines os.maksillare dan
lamina horizontalis os.palatinum yang membentuk palatum durum yang
memisahkan cavum nasi dengan cavum oris.
3) Dinding medial atau septum nasi dari anterior ke posterior tersusun
atas cartilage septi nasi, lamina perpendicularis os. Ethmoidale dan os.vomer
4) Dinding lateral cavum nasi dibentuk oleh os.nasale, os. Maxilla, os.
Lacrimale, labyrinthus et conchae os. Ethmoidale, concha nasalis inferior,
dan lamina pterygoideus medialis os. Sphenoidale
93 93. Sebutkan pembagian faring dan batas masing2 bagian!
a. Syntopi Nasopharynx(Nasofaring)/ Epifaring (Epipharynx)
Nasopharynx memiliki syntopi :
1) ventral : choanae (nares posterior), menghubungkan pharynx dg
cavum nasi
2) superior : bassis crania
3) belakang : vertebrae cervical yg dipisahkan oleh fascia prevertebrae
dan m. capitis
4) lateral : dinding medial leher
5) inferior : palatum mole
b. Syntopi Oropharynx
Oropharynx memiliki syntopi sbg berikut :
1) superior : nasopharynx (isthmus nasopharynx, palatum mole)
2) ventral : cavum oris propia dg arcus palatopharynx dan uvulae
3) dorsal : Vertebrae Cervical II III
4) Lateral : dinding medial leher
5) Inferior : tepi atas epiglottis, basis linguae
c. Syntopi Laringofaring (Laringopharynx)/ Hipofaring (Hipopharynx)
Laringopharynx memiliki syntopi :
1) Superior : oropharynx (setinggi tepi atas epiglottis)
2) Ventral : tepi belakang epiglottis, additus laryngis
3) Dorsal : vertebrae cervical III VI
4) Lateral : dinding lateral leher
5) Inferior : portae esophagus
94 Sebutkan otot-otot faring!
a. M. Constrictor pharyngis superior
b. M. Constrictor pharyngis media
c. M. Constrictor pharyngis inferior
d. M. Levator pharyngis
(Sobotta)
95 Sebutkan pembuluh darah dan saraf faring!
Pembuluh darah :
a. Pharyngea ascendens
b. Palatina ascendens
c. Thyroidea inferior
d. Vv. Pharyngeae
e. Vv. Meningeae
Saraf :
a. Plexus pharyngealis
b. N. Pharyngeus
c. N. Maxillaris
d. N. Glossopharyngeus
e. N. Vagus
(Sobotta)
96 Sebutkan komponen penyusun cincin waldayer!
a. Tonsila pharingeus
b. Tonsila pallatina
c. Tonsila lingualis
(Sobotta)
97 Sebutkan fungsi faring!
a. Respirasi pada waktu menelan
b. Resonansi suara
c. Artikulasi
(Sherwood)
98 Bagaimana proses menelan?
a. Fase oral
Pada fase oral ini akan terjadi proses pembentukan bolus makanan yang
dilaksanakan oleh gigi geligi, lidah, palatum mole, otot-otot pipi dan
saliva untuk menggiling dan membentuk bolus dengan konsistensi dan
ukuran yang siap untuk ditelan. Proses ini berlangsung secara di sadari.
b. Fase faringeal
Fase ini dimulai ketika bolus makanan menyentuh arkus faring anterior
(arkus palatoglosus) dan refleks menelan segera timbul. Pada fase
faringeal ini terjadi :
1) M. Tensor Veli Palatini (N.V) dan M. Levator Veli Palatini (N.IX,
N.X dan N.XI) berkontraksi menyebabkan palatum mole terangkat,
kemudian uvula tertarik keatas dan ke posterior sehingga menutup
daerah nasofaring.
2) M. Genioglosus (N. XII, Servikal 1), M. Ariepiglotika (N. IX, N. X)
M. Krikoaritenoid Lateralis (N. IX, N. X) berkontraksi menyebabkan
aduksi pita suara sehingga laring tertutup.
3) Laring dan tulang hioid terangkat keatas ke arah dasar lidah karena
kontraksi M. Stilohioid, (N.VII), M. Geniohioid, M. Tirohioid (N.
XII dan N. Servikal I).
4) Kontraksi M.Konstriktor Faring Superior (N.IX, N.X, N.XI), M.
Konstriktor Faring Inermedius (N. IX, N. X, N. XI) dan M.
Konstriktor Faring Inferior (N. X, N. XI) menyebabkan faring
tertekan kebawah yang diikuti oleh relaksasi M. Kriko Faring (N. X)
5) Pergerakan laring ke atas dan ke depan, relaksasi dari introitus
esofagus dan dorongan otot-otot faring ke inferior menyebabkan
bolus makanan turun ke bawah dan masuk ke dalam servikal
esofagus. Proses ini hanya berlangsung sekitar satu detik untuk
menelan cairan dan lebih lama bila menelan makanan padat
c. Fase esofageal
Pada fase esofageal proses menelan berlangsung tanpa disadari. Bolus
makanan turun lebih lambat dari fase faringeal yaitu 3-4 cm/ detik.
Fase ini terdiri dari beberapa tahapan :
1) Dimulai dengan terjadinya relaksasi m.kriko faring. Gelombang
peristaltik primer terjadi akibat kontraksi otot longitudinal dan otot
sirkuler dinding esofagus bagian proksimal. Gelombang peristaltik
pertama ini akan diikuti oleh gelombang peristaltik kedua yang
merupakan respons akibat regangan dinding esofagus.
2) Gerakan peristaltik tengah esofagus dipengaruhi oleh serabut saraf
pleksus mienterikus yang terletak diantara otot longitudinal dan otot
sirkuler dinding esofagus dan gelombang ini bergerak seterusnya
secara teratur menuju ke distal esofagus.
(Sherwood)
99 Sebutkan definisi, penyebab dan tanda serta gejala faringitis akut!
Definisi :
Faringitis akut adalah sindroma inflamsi yang terjadi pada faring yang
disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme. Faringitis dapat merupakan
gejala infeksi umum dari saluran nafas bagian atas atau merupakan suatu
infeksi lokal yang spesifik di faring
Penyebab :
Viral
- Rhinovirus (100 types and 1 subtype)
- Coronavirus (3 or more types)
- Adenovirus (types 3, 4,7, 14 and 21)
- Herpes simplex virus (types 1 and 2)
- Parainfluenza virus (types 1-4)
- Influenzavirus (types A and B)
- Coxsackivirus A (types 2, 4-6, 8 and 10)
- Epstein-Barr virus
- Cytomegalovirus
- Human immunodeficiency virus type I
Bacterial
- Streptococcus pyogenes (group A b-hemolytic streptococci)
- Group C b-hemolytic streptococci
- Neisseria gonorrhoeae
- Corynebacterium diphtheria
- Arcanobacterium haemolyticum
Chlamydial
- Chlamydia penumoniae
Tanda dan Gejala :
- Gatal dan kering pada tenggorokkan
- Suhu tubuh naik sampai mencapai 40 0 C
- Rasa lesu dan nyeri disendi
- Tidak nafsu makan (anoreksia)
- Rasa nyeri ditelinga (otalgia)
- Bila laring terkena suara menjadi parau atau serak
- Faring hiperemis,dan menjadi kering
- Jaringan limpoid membengkak
(Permenkes)
100 Sebutkan definisi, penyebab, dan tanda gejala faringitis kronik!
Definisi : Perdangan kronik pada faring
Penyebab : (faktor predisposisi) rinitis kronik, sinusitis, iritasi kronik oleh
rokok/alkohol/debu, kebiasaan pasien bernapas melalui mulut e.c hidung tersumbat
Tanda Gejala : Faringitis kronik terbagi menjadi 2 bentuk (Hiperplastik & Atrofi)
a. Faringitis Kronik Hiperplastik : awal gejala berupa tenggorokan kering,
gatal, akhirnya batuk berdahak, mukosa dinding posterior tidak rata dan
bergranular
b. Faringitis Kronik Atrofi : tenggorokan kering, rasa tebal, dan mulut berbau,
mukosa faring ditutupi oleh lendir yang kental dan bila diangkat tampak
mukosa kering
(FKUI)
101 Sebutkan definisi, penyebab, dan tanda gejala tonsilitis akut!
Definisi : peradangan akut pada tonsila palatina yang dapat disebabkan oleh bakteri
ataupun virus
Penyebab :Virus (Epstein Barr, Hemofilus Influenzae, coxschakie), Bakteri
(Streptokokus beta hemoliticus grup A, pneumokokus, streptokokus viridan,
streptokokus piogenes)
Tanda Gejala :
a. Viral menyerupai common cold disertai rasa nyeri tenggorok, pada
coxschakie pada rongga mulut tampak luka luka kecil pada palatum dan
tonsil yang sangat nyeri
b. Bakterial nyeri tenggorokan, sulit menelan, demam, (38-40) C, nyeri alih
ke telinga, malaise, tampak bercak putih kekuningan / detritus detritus
jelas (tonsilitis folikularis), detritus menjadi satu membentuk alur (tonsilitis
lakunaris)
(FKUI)
102 Sebutkan definisi, penyebab, dan tanda gejala tonsilitis kronik!
Definisi : Peradangan kronik dari tonsila palatina
Penyebab : (faktor predisposisi) iritasi menahun dari rokok, jenis makanan,
higine mulut buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik, pengobatan tonsilitis akut
tidak adekuat. (etilogi) bakteri penyebab sama dengan tonsilitis akut
Tanda Gejala : disfagia, rasa mengganjal di tenggorok, tenggorokan kering, napas
bau, tonsil membesar permukaan tidak rata/ berbenjol-benjol dan kripte melebar,
kripte melebar dan terisi detritus
(FKUI)
103 Apa beda antara tonsilitis akut, tonsilitis akut berulang, tonsilitis kronik,
tonsilitis eksaserbasi akut?
Tonsilitis Akut Tonsilitis Akut Tonsilitis Kronik Tonsilitis
Berulang Eksaserbasi Akut
Tonsil hiperemis Sama dengan Tonsil Tonsil hiperemis
dan edema gejala tonsilitis membesar/mengecil dan edema
Kripti tidak akut, tetapi tidak hiperemis Kripti melebar
melebar memiliki Kripti melebar Destruitus +
Destruitus +/- riwayat serupa Destruitus + Perlengketan +
Perlengketan sebelumnya. Perlengketan + Pembesaran KGB
(Merupakan +
gejala yang
dialami pertama
kali)
(Campur2)
104 Apa indikasi dan kontraindikasi tonsilektomi?
Indikasi :
a. Obstruksi (sumbatan jalan napas, sleep apneu, gangguan menelan, gangguan
berbicara, cor pulmonale)
b. Infeksi (serangan tonsilitis berulang >3x / tahun walaupun dengan terapi
adekuat, rinitis kronis, sinusitis kronis, peritonsilitis, abses peritonsil,
peningkatan asto, otitis media)
c. Keganasan (hipertrofi lateral/ pembesaran yang tidak normal melebihi T4,
kripte mengecil, tonsil licin, terdapat ulkus)
Kontraindikasi :
a. Gangguan perdarahan
b. Risiko anestesi yang besar atau penyakit berat
c. Anemia
d. Infeksi akut yang berat
(FKUI)
105 Sebutkan pengertian, penyebab, gejala dan tanda serta terapi abses peritonsil!
Pengertian : merupakan penumpukan pus pada ruang peritonsil dan biasanya
bersifat unilateral
Penyebab : komplikasi tonsilitis akut atau infeksi yang bersumber dari kelenjar
mukus weber di kutub atas tonsil. Kuman penyebab biasanya sama dengan
penyebab tonsilitis, dapat juga kuman aerob/anaerob
Gejala dan Tanda : demam, nyeri kepala, malaise, mual/muntah, odinofagia hebat,
mulut berbau, suara bergumam, nyeri telinga pada sisi sama, trismus e.c spasme
m.pterygoideus interna, palatum mole edem dan menonjol ke depan, tonsil
bengkak, hiperemis, banyak detritus terdorong ke tengah/depan/bawah, uvula
bengkak terdorong ke sisi kontralateral
Terapi :
a. Stadium infiltrasi antibiotik golongan penisilin/klindamisin
b. Simptomatik analgetik/antipiretik
c. Operatif jika terbentuk abses (pungsi daerah abses, lalu di insisi untuk
mengeluarkan nanah), kemudian diberi anjuran operasi tonsilektomi.
(FKUI)
106 Kapan tonsilektomi pada abses peritonsil dapat dilakukan?
Secara umum tonsilektomi dilakukan sesudah infeksi tenang yaitu 2-3
minggu setelah drainase abses. Berikut pembagian tonsilektomi pada abses
peritonsil berdasarkan waktunya :
a. Tonsilektomi a chaud dilakukan saat drainase abses
b. Tonsilektomi a tiede dilakukan 3-4 hari setelah drainase abses
c. Tonsilektomi a froid dilakukan 4-6 minggu setelah drainase abses
(FKUI)
107 Sebutkan insidens, penyebab, gejala dan tanda, diagnosis serta terapi NPC!
a. Insidens
Di Indonesia merupakan keganasan terbanyak ke4 setelah kanker payudara,
kanker rahim dan kanker paru. Berdasarkan GLOBOCAN 2012 terdapat
87000 kasus baru muncul setiap tahunnya dan terdapat 51000 kematian
akibat kanker nasofaring. KNF terutama ditemukan pada pria usia produktif
dan 60% pasien berusia diantara 25 hingga 60 tahun. Angka kejadian
tertinggi di provinsi cina tenggara yaitu sebesar 40-50 kasus / 100.000
penduduk. Kanker nasofaring jarang ditemukan di daerah eropa dan amerika
utara dengan angka kejadian sekitar <1/100.000 penduduk.
b. Penyebab
- Infeksi virus Epstein-Barr
- Ras Asia
- Usia 30-50 tahun
- Makanan yang diawetkan
- Jenis kelamin laki laki
- Riwayat keluarga
- Faktor gen HLA
- Merokok dan minuman alkohol
c. Gejala dan tanda
- Gejala nasofaring
Epistaksis dan hidung tersumbat
- Gejala telinga
Tinitus, otalgia, rasa tidak nyaman ditelinga
- Gejala mata dan saraf
Diplopia, neuralgia trigeminal, sindrom Jackson, sindrom unilateral
- Gejala leher dan metastasis
Benjolan di leher
d. Diagnosis
Diagnosis pasti dengan menggunakan hasil pemeriksaan biopsi
histopatologi, yaitu:
- Karsinoma sel squamosa berkeratin
- Karsinoma sel tidak berkeratin
Berdiferensiasi
Tidak berdiferensiasi
- Karsinoma basalooid squamosa
e. Stadium
Untuk penentuan stadium digunakan sistem TNM (UICC 2002):
- TUMOR
Tx : Tumor tidak dapat dinilai
T0 : Tidak ada tumor
Tis : Tumor in situ
T1 : Tumor di orofaring/kavum nasi
T2 : Tumor di parafaring
T3 : Tumor menginvasi struktur tulang dan atau sinus paranasal
T4 : Tumor dengan perluasan intrakranial dan atau terdapat
keterlibatan saraf kranial, fossa infratemporal, hipofaring,
orbita, atau ruang mastikator

- NODUL (Kelenjar Getah Bening Regional)


Nx : Tidak dapat dinilai
N0 : Tidak ada metastasis KGB
N1 : Metastasis unilateral, ukuran 6 cm, diatas fossa supraklavikula
N2 : Metastasis bilateral, ukuran 6 cm, diatas fossa supraklavikula
N3 : Metastasis bilateral, ukuran 6 cm, didalam fossa supraklavikula

- METASTASIS
Mx : Tidak dapat dinilai
M0 : Tidak ada metastasis
M1 : Metastasis jauh
Tis T1 T2 T3 T4
N0 0 I II III IVA
M0 N1 II II III IVA
N2 III III III IVA
N3 IVB IVB IVB IVB
M1 IVC IVC IVC IVC
f. Terapi
- Stadium I : Radioterapi
- Stadium II & III : Kemoradiasi
- Stadium IV dengan N 6 cm : Kemoradiasi
- Stadium IV dengan N 6 cm : Kemoterapi dosis penuh lanjut
kemoradiasi
108 Gambarkan potongan sagital (melalui sekat hidung) hidung, mulut, faring,
laring (sebagai satu kesatuan)!

109 Sebutkan sintopi/skeletopi dan ukuran laring dewasa!


Laring terletak dibawah lidah dan os. Hyoid, diantara pembuluh pembuluh darah
besar leher dan terletak setinggi vertebrae cervicalis keempat, kelima dan keenam.
Bagian atas laring berbatasan dengan : laringofaring
Bagian bawah laring berbatasan dengan : trachea
Bagian depan laring berbatasan dengan : otot otot innfrahyoid
Bagian lateral laring berbatasan dengan : glandula thyroidea
110 Sebutkan rangka penyusun laring!
Laring tersusun atas kartlago laring, membrana laring da lgiamentum:
a. Kartilago laring
Thyroidea
Cricoidea
Corniculata
Cuneiforme
Arytenoidea
Epiglotis
b. Membran laring
Membrana thyrohyoidea
Membrana quadrangularis
c. Ligamentum
Ligamentum cricotracheale
Ligamentum cricothyroideum
111 Sebutkan otot penyusun laring dan fungsinya!
a. Otot Ekstrinsik
berfungsi untuk menarik laring keatas dan kebawah selama proses menelan
- Otot elevator
m. digastricus, m. Stylohyoideus, m. Mylohyoideus, m. Geniohyoideus,
m. Stylopharingeus, m. Salphingopharingeus, m. Palatopharyngeus
- Otot depresor
m. sternothyroideus, m. Sternohyoideus, m. omohyoideus
b. Otot Intrinsik
112 Sebutkan pembuluh darah dan saraf laring!
a. Perdarahan
Laring mendapat perdarahan dari cabang A. Tiroidea Superior dan Inferior
sebagai A. Laringeus Superior dan Inferior.
- Arteri Laringeus Superior Berjalan bersama ramus interna N.
Laringeus Superior menembus membrana tirohioid menuju ke
bawah diantara dinding lateral dan dasar sinus pyriformis.
- Arteri Laringeus Inferior Berjalan bersama N. Laringeus Inferior
masuk ke dalam laring melalui area Killian Jamieson yaitu celah
yang berada di bawah M. Konstriktor Faringeus Inferior,
Universitas Sumatera Utara di dalam laring beranastomose dengan
A. Laringeus Superior dan memperdarahi otototot dan mukosa
laring.
- Darah vena dialirkan melalui V. Laringeus Superior dan Inferior ke
V. Tiroidea Superior dan Inferior yang kemudian akan bermuara ke
V. Jugularis Interna.
b. Persarafan
Laring dipersarafi oleh cabang N. Vagus yaitu Nn. Laringeus Superior dan Nn.
Laringeus Inferior (Nn. Laringeus Rekuren) kiri dan kanan.
- Nn. Laringeus Superior
Meninggalkan N. vagus tepat di bawah ganglion nodosum,
melengkung ke depan dan medial di bawah A. karotis interna dan
eksterna yang kemudian akan bercabang dua, yaitu :
Cabang Interna ; bersifat sensoris, mempersarafi vallecula, epiglotis,
sinus pyriformis dan mukosa bagian dalam laring di atas pita suara
sejati.
Cabang Eksterna ; bersifat motoris, mempersarafi m. Krikotiroid
dan m. Konstriktor inferior.
- N. Laringeus Inferior (N. Laringeus Rekuren)
Berjalan dalam lekukan diantara trakea dan esofagus, mencapai
laring tepat di belakang artikulasio krikotiroidea. N. laringeus yang
kiri mempunyai perjalanan yang panjang dan dekat dengan Aorta
sehingga mudah terganggu. Merupakan cabang N. vagus setinggi
bagian proksimal A. subklavia dan berjalan membelok ke atas
sepanjang lekukan antara trakea dan esofagus, selanjutnya akan
mencapai laring tepat di belakang artikulasio krikotiroidea dan
memberikan persarafan :
Sensoris, mempersarafi daerah sub glotis dan bagian atas trakea
Motoris, mempersarafi semua otot laring kecuali M. Krikotiroidea
113 Sebutkan fungsi laring !
Proteksi
Batuk
Respirasi
Sirkulasi
Menelan
Emosi
Fonasi

114 Bagaimana mekanisme bersuara?


Ada 2 teori yang mengemukakan bagaimana suara terbentuk :
- Teori Myoelastik Aerodinamik.
Selama ekspirasi aliran udara melewati ruang glotis dan secara tidak langsung
menggetarkan plika vokalis. Akibat kejadian tersebut, otot-otot laring akan
memposisikan plika vokalis (adduksi, dalam berbagai variasi) dan
menegangkan plika vokalis. Selanjutnya, kerja dari otot-otot pernafasan dan
tekanan pasif dari proses pernafasan akan menyebabkan tekanan udara ruang
subglotis meningkat, dan mencapai puncaknya melebihi kekuatan otot sehingga
celah glotis terbuka. Plika vokalis akan membuka dengan arah dari posterior ke
anterior. Secara otomatis bagian posterior dari ruang glotis yang pertama kali
membuka dan yang pertama kali pula kontak kembali pada akhir siklus getaran.
Setelah terjadi pelepasan udara, tekanan udara ruang subglotis akan berkurang
dan plika vokalis akan kembali ke posisi saling mendekat (kekuatan myoelastik
plika vokalis melebihi kekuatan aerodinamik). Kekuatan myoelastik bertambah
akibat aliran udara yang melewati celah sempit menyebabkan tekanan negatif
pada dinding celah (efek Bernoulli). Plika vokalis akan kembali ke posisi
semula (adduksi) sampai tekanan udara ruang subglotis meningkat dan proses
seperti di atas akan terulang kembali.
- Teori Neuromuskular
Teori ini sampai sekarang belum terbukti, diperkirakan bahwa awal dari getaran
plika vokalis adalah saat adanya impuls dari sistem saraf pusat melalui N.
Vagus, untuk mengaktifkan otot-otot laring. Menurut teori ini jumlah impuls
yang dikirimkan ke laring mencerminkan banyaknya / frekuensi getaran plika
vokalis. Analisis secara fisiologi dan audiometri menunjukkan bahwa teori ini
tidaklah benar (suara masih bisa diproduksi pada pasien dengan paralisis plika
vokalis bilateral).

115 Sebutkan gejala dan tanda penyakit/kelainan laring!


Suara serak
Batuk
disfagia
Sensasi nyer di bagian tenggorokan
Rasa ada sesuatu di tenggorok
Kesulitan bernapas
116 Sebutkan 5 contoh kelainan kongenital laring beserta gejala dan tandanya!
Laringomalasi
Pada stadium awal ditemukan epiglottis lemah, sehingga pasa saat
inspirasi epiglottis tertarik ke bawah dan menutup rima glotis, dengan
demikian bila pasien bernapas, napasnya berbunyi stridor. Stridor ini
merupakan gejala awal, dapat menetap dan mungkin pula hilang timbul. Tanda
sumbatan dapat terlihat dengan adanya retraksi di bagian suprasternal,
epigastrium, intercostal, dan supraklavikular.
Stenosis subglotik
Gejala stenosis sbuglotik adalah stridor, dyspnea, retraksi di
suprasternal, epigastrium, intercostal, dan supraklavikula. Pada stadium lebih
berat akan ditemukan sianosis dan apnea akibat sumbatan jalan napas.
Selaput di laring
Suatu selaput transparan yang tumbuh daerah glotis, supraglotik atau
sublotik. Selaput ini paling banyak tumbuh di daerah glotis (75%). Terdapat
gejala sumbatan laring.
Hemangioma
Biasanya timbul di daerah subglotik. Gejalanya ialah terdapat
hemoptysis dan bila tumor itu besar terdapat juga gejala sumbatan laring.
Fistel langotrakea-esofagal
Kelainan ini terjadi akibat kegagalan penutupan dinding posterior
kartilago krikoid. Terdapat gejala pneumonia oleh karena aspirasi cairan dari
esophagus, dan kadang terdapat gejala sumbatan laring
117 Sebutkan pembagian radang laring!
Radang laring akut
Radang laring kronis

118 Sebutkan penyakit yang termasuk radang laring akut, sebut pula masing2
penyebab, gejala, dan tanda serta terapinya!
Laryngitis akut
Radang laring akut, pada umumnya merupakan kelanjutan dari rinofaringitis.
Pada anak laryngitis akut ini dapat menyebabkan sumbatan jalan napas.

Etiologi
Penyebab radang ini adalah bakteri yang menyebabkan radang local atau virus
yang menyebabkan peradangan sistemik

Gejala dan tanda


Pada laryngitis akut terdapat gejala radang umum, seperti demam, malaise, serta
gejala local, seperti suara parau sampai tidak bersuara sama sekali ( afoni ), dan
nyeri ketika menelan.

Terapi
Istirahat berbicara dan bersuara selama 2-3 hari. Menghirup udara lembab.
Menghindari iritasi pada laring dan faring, pemberian antibiotika, bila terdapat
sumbatan laring dilakukan pemasangan pipa endotrakea atau trakeostomi

Soepardi , E.A., Iskandar, N., Bashiruddin, J., Restuti , R.D 2014. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher, Edisi VII, FKUI, hal 209-
231.
119 Sebutkan penyakit2 yang termasuk radang laring kronik, sebut pula masing-
masing penyebab, gejala dan tanda serta terapinya!
Radang Laring / Laringitis Kronik dibagi menjadi 2
1. Radang kronik non spesifik : sinusitis kronik, brokitis kronik, dan vocal
abuse
a. Sinusitis Kronik
1) Penyebab : Polip Hidung, alergi, septum hidung menyimpang,
trauma wajah, infeksi saluran napas.
2) Gejala : Drainase tebal, debit kuning atau kehijauan dari hidung
atau bawah bagian belakang tenggorokan, penyumbatan
hidung hingga kesulitan bernapas, nyeri di sekitar hidung, pipi,
mata, penurunan kepekaan rasa dan bau
3) Terapi: Antibiotik yang sesuai untuk kuman gram negatif dan
anaerob. Tindakan operatif meliputi :
i. Pembedahan radikal : sinus maksila -> Coldwell-Luc,
sinus etmoid -> Etmoidektomi
ii. Pembedahan tidak radikal : Bedah sinus endoskopik
fungsinal (BSEF)
b. Bronkitis Kronik
1) Penyebab : merokok dan polusi udara
2) Gejala : batuk yang sangat produktif, mukus yang sangat banyak,
dyspnea
3) Terapi : non medikamentosa : berhenti merokok, Medikamentosa
: mukolitik dan ekspektoran, methyxanthines and short acting b-
Adrenergik Receptor Agonists (SABA), long-Acting b-
Adrenergic Receptor Agonists, antikolinergik, glukokortikoid,
phospodiestrease-4 inhibitors, antioksidan, antibiotik
c. Vocal Abuse
2. Radang kronik spesifik : tuberkulosis dan laringitis luetika
a. Tuberculosis
1) Penyebab : infeksi yang disebabkan oleh bakteri,
Mycrobacterium tuberculosis.
2) Gejala : batuk berdahak, mukus banyak, keringat malam,
penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, malaise, lemah,
demam tidak terlalu tinggi, wheezing, nyeri dada
3) Terapi : Kategori 1 = 2HRZE/4HR = Penderita TB Paru BTA
Positive dan TB Ekstra Paru berat 2 bulan : Isoniazid,
Rifampisin, Pirazinamid, Etambutol 4HR = 4 bulan Isoniazid dan
Rifampisin. Kategori 2 = HRZE/5HRE = Penderita kambuh,
penderita gagal terapi, penderita lalai minum obat. Kategori 3 =
2HRZ/4HR. Kategori 4 = RHZES
b. Laringitis luetika
1) Gejala : suara parau, batuk kronik, disfagia
2) Gambaran klinik : Apabila guma pecah, maka timbul ulkus.
Ulkus ini mempunyai sifat yang khas, yaitu sangat dalam, bertepi
dengan dasar yang keras, berwarna merah tua serta mengeluarjan
eksudat yang berwarna kekuningan. Ulkus tidak nyeri dan
menjalar sangat cepat.
3) Terapi : penisilin dosis tinggi, pengangkatan skuester, bila
terdapat sumbatan laring karena stenosis dilakukan trakeostomi
120 Sebutkan pembagian neoplasma laring!
jinak yaitu chondroma, fibroma, dan lipoma
ganas yaitu carsinoma laring.
121 Sebutkan penyebab, gejala, tanda serta terapi papiloma laring!
Papiloma laring adalah tumor jinak yang sering dijumpai pada anak-anak, papiloma
laring biasanya terletak di saluran nafas atas yang sering menimbulkan sumbatan
jalan nafas yang dapat menyebabkan kematian.
Etiologi papiloma faring hingga kini belum diketahui secara pasti, tetapi
dari penelitian diduga bahwa virus HPV (Human Papiloma Virus) tipe 6 dan 11
berperan terhadap terjadinya papiloma laring.
Gejala papiloma laring pada awalnya adalah berupa gangguan fonasi berupa
suara yang serak pada anak, gejala bisa lebih berat sehingga suara tangisan anak
dapat terdengar tidak normal hingga anak tidak bisa bersuara sama sekali. Bila
papiloma sangat berat dapat menyebabkan gangguan pada system pernapasan yaitu
batuk, sesak, ngorok saat menghirup nafas.
Tatalaksana untuk papiloma laring memiliki prinsip yang sama yakni
menghilangkan papiloma dan menghindari kejadian berulang, beberapa terapi yang
dapat digunakan adalah terapi bedah dan terapi medikamentosa. Terapi
medikamentosa seperti anti virus, hormone, steroid, dan podofilin topikal.
122 Sebutkan penyebab, gejala, dan tanda serta terapi ca laring!
Karsinoma Laring adalah suatu keganasan yang terjadi pada organ laring.
Karsinoma sel skuamosa meliputi 95-98% dari semua tumor pada laring dengan
derajat diferensiasi yang berbeda-beda.
Etiologi karsinoma laring antara lain asap rokok, alkohol, karsinogen
lingkungan (asbes, arsen, gas mustar, serbuk nikel, polisiklik hidrokarbon, viral
klorida, nitrosamin), infeksi laring kronik, Human Papiloma Virus (HPV), dan
genetika.
Gejala serak, suara bergumam, dispnea dan stidor, nyeri tenggorokan,
disfagia, batuk dan hemoptisis, dan nyeri tekan laring.
Tatalaksana untuk karsinoma laring secara umum ada 3 jenis
penanggulangan karsinoma laring yaitu pembedahan (laringektomi parsial/total atau
diseksi leher radikal), radiasi, dan sitostatika, ataupun kombinasi, tergantung pada
stadium penyakit dan keadaan umum pasien.
123 Sebutkan sebab suara parau!
Penyebab suara parau adalah batuk secara terus-menerus, iritasi saluran nafas,
kerusakan pada vocal cord, vocal abuse, vocal nodule, polip pita suara, kista pita
suara, kanker pita suara, GERD, gangguan tiroid, stroke, paparan asap rokok,
konsumsi kafein berlebih, konsumsi alkohol berlebih, alergi, Karsinoma Pulmo.
124 Sebutkan indikasi trakeostomi, apa pula kontra indikasinya!
Indikasi Trakeostomi
1. Mengatasi obstruksi laring
2. Mengurangi ruang rugi (dead air space) di saluran napas bagian atas seperti
daerah rongga mulut, sekitar lidah dan faring. Dengan adanya stoma maka seluruh
oksigen yang dihirupnya akan masuk ke dalam paru, tidak ada yang tertinggal di
ruang rugi itu. Hal ini berguna pada pasien dengan kerusakan paru, yang kapasititas
vitalnya berkurang.
3. Mempermudah penghisap sekret dari bronkus pada pasien yang tidak dapat
mengeluarkan sekret secara fisiologik, misalnya pada pasien dalam koma.
4. Untuk memasangkan respirator (alat bantu pernapasan)
5. Untuk mengambil benda asing dari subglotik, apabila tidak mempunyai
fasilitas untuk bronkoskopi

Kontraindikasi Trakeostomi
1. Infeksi pada tempat pemasangan
2. Gangguan pembekuan darah : hemofili
125 Sebutkan alat2 dan tehnik treakeostomi secara singkat!
Alat : spuit yang berisi analgesia (novokain), pisau (skapel), pinset anatomi, gunting
panjng yang tumpul, sepasang pengait tumpul, klem arteri, gunting kecil yang tajam
serta kanul traea yang ukurannya cocok dnegan pasien (referansi : buku UI)
Teknik :
Pasien diposisikan tidur telentang, dengan bahu diganjal oleh bantal sehingga
kepala ekstensi.
Suntikkan obat novokain pada pertengahan krikoid dengan fosa suprasternal
secara infiltrasi.
Buat sayatan vertical di tengah leher mulai dari dibawah krikoid sampai
suprasternal atau jika membuatsayatan vertika, maka buatlah pada pertengahan
jarak antara kartilago krikid dengan fosa suprastrenl atau kira2 2 jari dibawah
krikoid org dewasa. Buat sayatan kira2 5 cm.
Pisahkan jaringan2 yang sudah disayat dengan gunting panjang dan pisahkan
engan pengait kearah lateral sehingga keliatan cincin-cncin tulang rawan
berwarn putih.
Bebaskan ismus, dengan menarik keatas dengan menggunakan pengait. Jika
susah, maka potong ismus dengan mengklem kedua sisi ismus kemudian di
potong tengahnya, jika terdapat perdarahan maka ikat perdarahannya.
Jika sudah keliatan, lakuka aspirasi dengan cara memasukkan jarum diantara
cincin trakea, jika tepat maka nanti akan terasa ringan jika ditarik.
Buat stoma dengan memotong cincin trakea ke tiga dengan gunting yang tajam
Pasang kanul trakea dan fiksasi dengan menggunakan tali dibeakang leher
pasien.
Tutup dengan kasa.
126 Apa yang dimaksud dengan laringoskop direk?
Pemeriksaan laring secara langsung dengan menggunakan teleskop atau
monitor video.
127 Apa yang dimaksud dnegan bronkoskopi, apa indikasinya?
Bronkoskopi adalah tindakan medis yang bertujuan untuk melakukan
visualisasi trakea dan bronkus, melalui bronkoskop, yang berfungsi dalam prosedur
diagnostik dan terapi penyakit paru.
Indikasi :
- menegakkan dx : hemoptisis, batuk kronik, mengi, kelinan radiologic,
kelainan ekstra torakal.
- Tindakan terapi : benda asing, menghisap secret yang ada di bronkus,
penyumbatan bronkus oleh secret kental, menyemprotkan obat kedalam
lumen bronkus pada kasus bronkiektasis setelah secret dihisap keluar,
melebarkan brnkus (businase), mengeluarkan tumor jinak endobronkial.
128 Apa yang dimaksud dengan esofaguskopi, apa indikasinya indiksinya?
Esofaguskopi adalah pemeriksaan lumen esophagus secara angsung dengan
menggunakan alat esofagoskop. Tujuan tindahakan ini adalah untuk meliht lumen
esophagus, keadaan dinding atau mukosa esophagus seta bentuk lumen esophagus.
Bila diperlukan untuk mengabil bahan px sitologi dan biopsy tumor.
Indikasi :
diagnostic :
o untuk mengevaluasi keluhan disfagia, odinofagia, nyeri di
dada, rasa panas didada dan pedarahan yang menetap.
o Mengevaluasi perjalanna enyakit atau kelainan esophagus
antara lain esofagitis, luka bakar korosif, akalasia, spasme
difus esophagus dan tumor esophagus
o Mengealuasi kelainan speerti divertukulm, varises, stenosis,
kelainan mukosa esophagus, dan hiatus hernia
o Mengvaluasi pasien pasca oprasi esophagus, mencari sumber
perdarahan, kemungkinan penyebab disfagia, menilai tanda2
tumor ganas.
Terapi :
o Dilatasi striktur esophagus
o Mengeluarkan benda asing
o Skleroterapi untuk varises esophagus
o Koagulasi diatermi
o Pemasangan prosthesis esofaguus
o Miotomi endoskopik
129 Apa yang dimaksud laringektomi?
Laringektomi adalah prosedur bedah untuk mengangkat laring atau kotak
suara. Jenis laringektomi yang dibutuhkan pasien akan ditentukan berdasarkan
kondisinya. Ada dua jenis, yaitu laringektomi Tergantung pada kondisinya, pasien
mungkin memerlukan laringektomi total (seluruh bagian laring diangkat) atau
laringektomi parsial (hanya sebagian laring yang diangkat).
130 Apa penyebab, gejala, tanda serta terapi duktus/kista tireoglosus?
Kista duktus tiroglosus adalah suatu kantung berisi cairan yang terdapat saat
lahir pada garis tengah leher. Suatu kista tiroglosus adalah malformasi kongenital
(suatu defek lahir). Hal ini terjadi akibat penutupan yang tidak komplit dari suatu
segmen duktus tiroglossus, suatu struktur seperti tabung yang normalnya menutup
saat perkembangan embrio. Juga disebut kista duktus tiroglossus atau kista
tirolingual.
Gejala :
Massa bulat, licin, kecil di bagian depan tengah leher
Pembukaan kecil di kulit dekat massa, dengan drainase mucus dari kista
Sulit bernafas atau menelan
Lembek dan kemerahan
Terapi : insisi dan drainase, aspirasi perkutan, eksisi sederhana, reseksi dan injeksi
dengan bahan sklerotik.
131 Sebutkan keuntungan dan kerugian trakoetomi disbanding intubasi!
Keuntungan :
bersifat permanen jika dibandingkan dengan intubasi, karena intubasi
dianjurkan hanya boleh kurang dari 6 hri pemakaian.
Mengeluarkan sekret jauh lebih mudah lewat suatu pipa trakeostomi, dan
kemungkinan terjadinya obstruksi pipa lebih kecil.
Pasien sangat sulit menelan dengan adanya pipa endotrakea.
Membersihkan pipa endotrakea pada posisinya sulit dan untuk mengganti
pipa diperlukan laringoskopi berulang.
Intubasi lama endolaring menimbulkan ulserasi mukosa yang akhirnya
dapat menjadi granuloma, adhesi dan stenosis laring.
Trakeostomi kurang menyebabkan rangsangan refleks batuk, yang
mungkin penting pada pasien dengan kelainan saraf dan pasca bedah.
Dengan trakeostomi pasien yang sadar dapat berbicara.
Kerugian :
Filtrasi udara tidak sempurna
Humidifikasi kurang sempurna
Sering menimbulkan jaringan parut di leher
132 Sebutkan 4 penyempitan esophagus dan ukuran panjangnya diukur dari
incisivus pada orang dewasa dan anak?
Terdapat empat penyempitan fisiologis pada esofagus yaitu, penyempitan sfingter
kriko faringeal, penyempitan pada persilangan aorta (arkus aorta), penyempitan
pada persilangan bronkus kiri, dan penyempitan diafragma (hiatus esofagus).
Pada orang dewasa, panjang esophagus apabila diukur dari incivus superior ke otot
krikofaringeus sekitar 15-20 cm, kearkus aorta 20-25 cm, ke v. pulmonalis inferior,
30-35 cm, dan ke kardioesofagus joint kurang lebih 40-45 cm. Pada anak, panjang
esophagus saat lahir bervariasi antara 8 dan 10 cm dan ukuran sekitar 19 cm pada
usia 15 tahun.

133 Sebutkan dan jelaskan tentang proses fase menelan?


Fase oral
Pada fase oral ini akan terjadi proses pembentukan bolus makanan yang
dilaksanakan oleh gigi geligi, lidah, palatum mole, otot-otot pipi dan saliva untuk
menggiling dan membentuk bolus dengan konsistensi dan ukuran yang siap untuk
ditelan. Proses ini berlangsung secara di sadari. Bolus menyentuh bagian arkus
faring anterior, uvula dan dinding posterior faring sehingga menimbulkan refleks
faring.
Fase faringeal
Fase ini dimulai ketika bolus makanan menyentuh arkus faring anterior (arkus
palatoglosus) dan refleks menelan segera timbul.Padafasefaringealiniterjadi: uvula
tertarik keatas dan ke posterior sehingga menutup daerah nasofaring, aduksi pita
suara sehingga laring tertutu, Laring dan tulang hioid terangkat keatas ke arah
dasar lidah, faring tertekan kebawah yang diikuti oleh relaksasi m. Kriko faring.
Pergerakan laring ke atas dan ke depan, relaksasi dari introitus esofagus dan
dorongan otot-otot faring ke inferior menyebabkan bolus makanan turun ke
bawah dan masuk ke dalam servikal esofagus. Proses ini hanya berlangsung sekitar
satu detik untuk menelan cairan dan lebih lama bila menelan makanan padat.
Fase esophageal
Pada fase esofageal proses menelan berlangsung tanpa disadari. Bolus makanan
turun lebih lambat dari fase faringeal yaitu 3-4 cm/ detik yang dipengaruhi oleh
gerakan peristaltik.
134 Apa yang dimaksud dengan disfagia dan jenis penyebabnya?
Disfagia berasal dari bahasa Yunani yang berarti gangguan makan. Disfagia
biasanya merujuk kepada gangguan dalam makan sebagai gangguan dari proses
menelan.
Penyebab disfagia: Stroke atau cedera otak traumatik (TBI), Motor neuron disease
(amyotrophic lateral sclerosis [ALS]), Parkinson disease dan penyakit degenerative
lainnya (apraxia), Poliomyelitis, Multiple sclerosis, Myasthenia gravis, Myopathy
(dermatomyositis, myotonic dystrophy), Laryngectomy, Faringectomy,
esophagectomy rekonstruksi dengan penarikan gastric, Pembedahan kepala dan
leher, Collar Cervical, spondilosis cervical, Ventilator-dependent patient, Pasientua,
Cerebral palsy, esophageal-faringeal backflow, tracheoesophageal [T-E] fistula,
Zenker diverticulum, reflux.
135 Apa yang dimaksud dengan LPR (laryngopharyngealrefluc), penegakan
diagnosis, terapi, dan perbedaannya dengan GERD?
-Definisi: aliran balik cairan lambung kelaring, faring, trakea dan bronkus
-Penegakan dx:
a. Anamnesis
nilai> 13 dicurigai penyakit refluks laringofaring
b. pemeriksaan nasofaringolaringoskopi serat optik lentur

RFS > 7 yang dianggap tidak normal


c. Pemeriksaan PH
d. Tes PPI
-Terapi:
a. Perubahan pola hidup: menghentikan kebiasaan merokok dan minum-
minuman beralkohol, mengurangi berat badan yang berlebih, membatasi
konsumsi makanan yang mengandung coklat, lemak, citrus, minum-
minuman bersoda, anggur merah, kafein, atau waktu makan malam yang
berdekatan dengan waktu tidur
b. Medikamentosa: Terapi farmakologi yang dianjurkan berupa PPI seperti
omeprazole, esomeprazole, lansoprazole, pantoprazole dan rabeprazole.
Obat lain yang sering digunakan dalam pengobatan refluks laringofaring
adalah antagonis H2 receptor seperti cimetidine, ranitidine, nizatidine,
famotidine yang berfungsi mengurangi sekresi asam lambung. Prokinetik
agen seperti cisapride, metoclopramide yang berfungsi mempercepat
pembersihan esophagus serta meningkatkan tekanan sfingter bawah
esofagus. Mucosal cytoprotectan seperti sucralfate yang berfungsi
melindungi mukosa dari asam dan pepsin. Antasida juga dapat diberikan
seperti alumunium hidroksida, magnesium hidroksida atau sodium
bikarbonat yang dapat berfungsi mengurangi gejala refluks
c. Pembedahan: Intervensi pembedahan perlu segera dipertimbangkan bila
dalam pemberian terapi tidak memberikan respon yang signifikan.
Pendekatan yang biasa digunakan seperti partial atau complete
fundoplication
-Perbedaan dengan GERD: ketika terjadinya reflux gastroesophageal (GERD), isi
lambung dapat naik sepanjang esofagus, bahkan melewati sfingter esophagus
bagian atas (sebuah otot berbentuk cincin di bagian atas esofagus), dan masuk
kebelakang tenggorokan dan bahkan dapat sampai kebelakang hidung. Ini dikenal
sebagai refluks laryngopharyngeal (laryngopharyngeal reflux : LPR).

*Salah kurangnya silakan dicari atau ditanyakan ke pemegang soal masing - masing ya
*Semangat menulis!