Anda di halaman 1dari 8

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.

id

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan cara, alat, prosedur, dan teknik yang dipilih

dalam melaksanakan penelitian. Metode adalah cara untuk mengamati atau

menganalisis suatu fenomena, sedangkan metode penelitian mencakup kesatuan

dan keserangkaian atau perumusan masalah, penentuan populasi, penentuan

sampel, teknik pemerolehan data dan analisis data (Subroto, 1992: 31). Metode

penelitian dalam penelitian ini akan dijelaskan sebagai berikut.

A. Taraf (Tingkatan) Penelitian

Pada penelitian ini taraf (tingkatan) penelitiannya merupakan penelitian

deskripktif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif, yaitu peneliti mencatat

dengan teliti dan cermat data yang berwujud kata-kata, kalimat-kalimat, wacana,

gambar/ foto, catatan harian, memorandum, video tape (Subroto, 1992: 7). Dalam

penelitian kualitatif studi kasusnya mengarah pada pendeskripsian secara rinci dan

mendalam mengenai potret kondisi tentang apa yang sebenarnya terjadi menurut

apa adanya di lapangan studinya (Sutopo, 2002:111).

B. Data dan Sumber Data

Data adalah bahan penelitian (Sudaryanto, 1990: 3). Jenis data yang

diambil dalam penelitian ini berupa data tulis dan data lisan. Data tulis dalam

penelitian ini berupa kata-kata yang mengandung antonim. Data lisan berupa kata

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

maupun kalimat yang memuat antonimi yang diperoleh dari para informan dengan

mengadakan pemancingan terhadap informan.

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data tulis

dan lisan. Sumber data tulis berupa kata-kata bahasa Jawa yang mengandung

pengertian yang berlawanan, diambil dari buku Pepak Basa Jawa karya Abi

Kusno (1989), Kawruh Basa Jawa Pepak karya Daryanto (1990), Kunci Pinter

Basa 5 karya Soetarno, dkk. (1994), dan Kunci Pinter Basa 6 karya Soetarno, dkk.

(1994), KBJ karya Tim Penyusun (2009), KBJ karya anonim (2011), Sari-sari

Kawruh Basa Jawi Pepak karya M. Abi Tofani, Pepak Basa Jawa karya JB.

Baswara.

Sumber data lisan dengan cara penentuan informan diperoleh dari

informan yang terdiri atas siswa SMP kelas 2 dan 3, SMA kelas 3, dan

mahasiswa.

Alasan peneliti menggunakan kedelapan sumber data tulis yaitu buku

Pepak Basa Jawa karya Abi Kusno (1989), Kawruh Basa Jawa Pepak karya

Daryanto (1990), Kunci Pinter Basa 5 karya Soetarno, dkk. (1994), dan Kunci

Pinter Basa 6 karya Soetarno, dkk. (1994), KBJ karya Tim Penyusun (2009), KBJ

karya anonim (2011), Sari-sari Kawruh Basa Jawi Pepak karya M. Abi Tofani,

Pepak Basa Jawa karya JB. Baswara, karena di dalam sumber data ditemukan

data yang sangat produktif sesuai dengan masalah dan tujuan dalam penelitian ini,

sedangkan alasan peneliti menggunakan data lisan adalah untuk memenuhi

kelengkapan data. Karena data lisan kering, maka dengan cara pemancingan

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

terhadap informan data lisan sudah akan terpenuhi. Para informan itu sudah

dianggap pendukung terhadap sumber data lisan.

C. Alat Penelitian

Alat penelitian meliputi alat utama dan alat bantu. Alat utama dalam

penelitian ini adalah peneliti sendiri. Peneliti sebagai alat utama riset, kelenturan

sikap peneliti mampu menggapai, menilai makna dari berbagai interaksi (Sutopo,

2002: 35- 36).

Mampu tidaknya si peneliti membagi data secara baik menjadi beberapa

unsur mula-mula bergantung pada ketajaman intuisinya, kemudian penggunaan

jeda tertentu. Intuisi kebahasaan dapat dimengerti sebagai kesadaran penuh

terhadap apa dan bagaimananya kenyataan lingual (Sudaryanto, 1993: 31-32).

Peneliti dengan intuisi lingual atau kebahasaan, peneliti bisa bekerja secara

sertamerta menghayati bahasa yang diteliti secara utuh (Subroto, 1990: 23).

Alat bantu dalam penelitian ini berupa buku-buku referensi, alat tulis,

komputer, flashdisk, dan alat pendukung lainnya.

D. Populasi dan Sampel

Pada penelitian linguistik, populasi pada umumnya ialah keseluruhan

individu dari segi-segi tertentu bahasa (Subroto, 1992: 32). Populasi pada

penelitian ini adalah kata-kata bahasa Jawa yang mengandung pengertian yang

berlawanan.

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Sampel adalah sebagian dari populasi yang dijadikan objek penelitian

langsung yang mewakili atau dianggap mewakili secara keseluruhan (Subroto,

1992: 32). Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling,

yaitu pengambilan sampel secara selektif, sumber data, data mengarah produktif

disesuaikan dengan permasalahan dan tujuan dalam penelitian ini.

Sampel dalam penelitian ini berupa kata-kata bahasa Jawa yang

mengandung pengertian yang berlawanan berkategori verba, nomina, dan ajektiva

yang terdapat dalam buku Pepak Basa Jawa karya Abi Kusno (1989), Kawruh

Basa Jawa Pepak karya Daryanto (1990), Kunci Pinter Basa 5 karya Soetarno,

dkk. (1994), dan Kunci Pinter Basa 6 karya Soetarno, dkk. (1994), KBJ karya Tim

Penyusun (2009), KBJ karya anonim (2011), Sari-sari Kawruh Basa Jawi Pepak

karya M. Abi Tofani, Pepak Basa Jawa karya JB. Baswara. Sampel data lisan

adalah kata atau kalimat yang mengandung antonimi yang diperoleh dari

informan.

E. Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Metode merupakan cara mendekati, mengamati, menganalisis, dan

menjelaskan suatu fenomena (Kridalaksana, 2001: 136). Pengumpulan data tulis

pada penelitian ini menggunakan metode simak atau penyimakan karena memang

berupa penyimakan: dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa. Teknik

dasarnya menggunakan teknik simak dilakukan dengan cara membaca dan

menyimak langsung kata-kata yang mempunyai pengertian yang berlawanan yang

terdapat dalam sumber data. Teknik lanjutannya menggunakan teknik catat yang

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

dilakukan langsung ketika teknik pertama atau kedua selesai digunakan, dan

dengan menggunakan alat tulis tertentu.

Pengumpulan data lisan dilakukan dengan teknik cakap, yaitu dilakukan

dengan menyimak penggunaan bahasa. Teknik dasarnya menggunakan teknik

pancing yaitu si peneliti ikut serta dalam pembicaraan dengan cara memancing

lawan tutur untuk memperoleh data. Teknik yang terakhir menggunakan teknik

catat yang dilakukan langsung ketika teknik pertama atau kedua selesai

digunakan, dan dengan menggunakan alat tulis tertentu. Dengan adanya kemajuan

teknologi, pencatatan itu dapat memanfaatkan flasdisk (Sudaryanto, 1993: 133-

135).

F. Metode dan Teknik Analisis Data

Metode yang digunakan dalam menganalisis data adalah metode padan

dengan teknik dasar PUP (pilah unsur penentu), teknik lanjutannya berupa teknik

hubung banding memperbedakan (HBB). Alat penentunya referen berupa hal-hal,

keadaan di luar bentuk lingual yang mempunyai makna keberlawanan. Contoh

antonimi: adoh >< cedhak , peneliti menyepadankan bentuk lingual

adoh yaitu keadaan yang menyatakan

jauh, begitu juga dengan cedhak menyepadankan keadaan jarak

yang tidak jauh.

Selain itu, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

distribusional (agih). Metode distribusional (agih) yaitu metode analisis data yang

alat penentunya unsur dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri (Sudaryanto,

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

1993: 15). Metode distribusional (agih) digunakan untuk menganalisis bentuk

antonimi, tipe antonimi, dan kelas kata antonimi dalam bahasa Jawa.

Teknik dasarnya yaitu teknik bagi unsur langsung (BUL). Teknik ini

digunakan untuk membagi satuan lingual data menjadi beberapa unsur

(Sudaryanto, 1993: 31). Teknik lanjutannya adalah teknik perluas. Apapun tuturan

yang dikenai perluasan, perluasan itu hanya dua macam: ke kiri (ke depan) atau ke

kanan (ke belakang). Hal itu sesuai dengan sifat bahasa yang linear (Sudaryanto,

1993:55). Dalam hal itu, hasilnya sama dengan penggunaan teknik yang lain, ada

dua macam: yang dapat diterima (gramatikal) dan yang tidak (tidak gramatikal).

Contoh antonimi bentuk tunggal dalam konteks kalimat: Omahe Joko adoh

Omahe Joko cedhak . Contoh bentuk

kompleks dalam konteks kalimat: nggeret kanthi rosa

nyurung kanthi rosa

G. Metode Penyajian Hasil Analisis Data

Metode yang digunakan untuk memaparkan hasil analisis data adalah

menggunakan metode informal, yaitu dengan bentuk penyajian data berupa uraian

berwujud kalimat-kalimat yang diikuti pemerian secara terperinci (Sudaryanto,

1993: 145).

Dengan teknik perluasan, bentuk-bentuk yang mengandung keberlawanan

arti bisa diperluas dalam bentuk konteks, sehingga lebih mudah memahami

maknanya. Keberlawanan makna dalam aspek bentuk, bisa disajikan dalam

contoh, sebagai berikut:

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

1. Contoh bentuk antonimi:

(a) Bentuk tunggal (morfem bebas): cendhak >< dawa .

Contoh dalam kalimat: Rambute Sinta cendhak ambut ><

Rambute Sinta dawa ambut . Contoh kata tersebut

merupakan keberlawanan arti sekaligus termasuk dalam bentuk tunggal

(bebas), karena kata tersebut tidak bisa dicari lagi bentuk yang lebih kecil,

dan mampu berdiri sendiri.

(b) Bentuk kompleks (morfem kompleks): nggeret >< nyurung

. Bentuk terkecil dari kata nggeret geret

nyurung surung Contoh dalam

kalimat: Nggeret kanthi rosa Nyurung kanthi

rosa Contoh kata tersebut merupakan

keberlawanan arti sekaligus termasuk dalam bentuk kompleks (morfem

kompleks), karena kata tersebut masih bisa dicari lagi bentuk yang lebih

kecil. Bentuk antonimi nggeret >< nyurung

termasuk kelas kata verba (kata kerja), karena antonimi itu bisa diikuti

dengan kata kanthi dan kata sifat, sehingga antonimi tersebut

termasuk kelas kata verba (kata kerja).

2. Contoh tipe antonimi:

(a) Keberlawanan arti tipe komplementer, dapat dicontohkan lanang laki-

laki >< wadon perempuan

ungradable

dalam kalimat: Bocah lanang kuwi sregep nak laki-

commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

Bocah wadon kuwi sregep

termasuk tipe komplementer karena pada antonimi lanang laki-laki ><

wadon perempuan

(b) Tipe gradability

Maksudnya, antara pasangan yang berlawanan itu dapat dibuat tataran.

Misalnya, dawa panjang >< cendhak pendek dapat dibuat tataran

seperti: rada dawa panjang >< rada cendhak pendek .

Contoh dalam kalimat: Rambute Sinta cendhak ambut ><

Rambute Sinta dawa ambut

dalam tipe arti yang berciri gradability karena

pada antonimi dawa panjang >< cendhak pendek

seperti rada dawa panjang >< rada cendhak pendek

commit to user