Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pankreas merupakan gabungan antara dua organ yaitu jaringan pankreas
dan pulau-pulau langerhans. Pankreas masuk dalam bagian kelenjar-kelenjar
yang berhubungan atau bertalian dengan saluran pencernaan. Pankreas berada
di bagian abdomen dengan panjang 18-25cm dan memiliki bentuk menyerupai
ikan yang panjang. Pankreas memiliki fungsi endokrin dan eksokrin. Fungsi
endokrin dari pankreas yaitu mengeluarkan hormon insulin. Insulin akan
mengikat glukosa dari darah untuk dibawa ke beberapa jaringan di dalam
tubuh agar dapat digunakan sebagai energi. Dan juga penting untuk organ hati,
dimana hati membantu menyerap glukosa dan menyimpan glikogen. Dan
fungsi eksokrin dari pankreas yaitu pankreas menghasilkan enzim yang
berguna untuk memecah makanan sehingga dapat dicerna oleh tubuh.
Misalnya seperti lipase, kemotripsin, tripsin dan amilase.
Dalam pankreas terjadi pembentukan beberapa enzim yang berperan
dalam metabolism tubuh. Selain itu di bentuk juga hormone insulin yang
berperan dalam pengikatan glukosa. Dan ini terjadi pada pankreas yang
normal atau sehat. Namun jika memiliki gangguan, maka produksi enzim
pencernaan dan hormone tidak berjalan dengan baik. Selain itu, juga dapat
menyebabkan penyakit seperti diabetes tipe 1 dan 2, pankreatitis, fibrosis
kistik, kanker pankreas, dan pankreas pseudokista.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana anatomi dan fisiologi dari pankreas?
2. Bagaimana cara pembentukan enzim-enzim dan hormone pada pankreas?
3. Apasaja ganguan yang terjadi pada pankreas?
C. Tujuan
Agar penulis atau mahasiswa mengetahui tentang anatomi dan fisiologi
dari pankreas, cara pembentukan enzim-enzim dan hormon di dalam pankreas,
dan ganguan-ganguan yang terjadi pada pankreas.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Anatomi dan Fisiologi Pankreas


Pankreas adalah organ pipih yang terletak dibelakang dan sedikit di bawah
lambung dalam abdomen. Pankreas merupakan kelenjar retroperitoneal
dengan panjang sekitar 12-15 cm (5-6 inchi) dan tebal 2,5 cm (1 inchi).
Pankreas berada di posterior kurvatura mayor lambung. Pankreas terdiri dari
kepala, badan, dan ekor dan biasanya terhubung ke duodenum oleh dua
saluran, yaitu duktus Santorini dan ampula Vateri. (Anatomi Pankreas dan
Saluran-Salurannya, 2015).
Pankreas merupakan suatu organ retroperitoneal berupa kelenjar dengan
panjang sekitar 15-20 cm pada manusia. Berat pankreas sekitar 75-100 g pada
dewasa, dan 80-90% terdiri dari jaringan asinar eksokrin. Pankreas terbentang
dari atas sampai ke lengkungan besar dari perut dan biasanya dihubungkan
oleh dua saluran ke duodenum terletak pada dinding posterior abdomen di
belakang peritoneum sehingga termasuk organ retroperitonial kecuali bagian
kecil kaudanya yang terletak dalam ligamentum lienorenalis. Strukturnya
lunak dan berlobulus.

Gambar 2.1 Anatomi Pankreas (Pankreas, 2013)


Gambar 2.2 Anatomi pankreas (Pankreas, 2013)
Pankreas dapat dibagi ke dalam empat bagian :
a. Caput Pancreatis, berbentuk seperti cakram dan terletak di dalam
bagian cekung duodenum. Sebagian caput meluas di kiri di
belakang arteri dan vena mesenterica superior serta dinamakan
Processus Uncinatus.
b. Collum Pancreatis, merupakan bagian pankreas yang mengecil dan
menghubungkan caput dan corpus pancreatis. Collum pancreatic
terletak di depan pangkal vena portae hepatis dan tempat di
percabangkannya arteria mesenterica superior dari aorta.
c. Corpus Pancreatis,berjalan ke atas dan kiri, menyilang garis tengah.
Pada potongan melintang sedikit berbentuk segitiga
d. Cauda Pancreatis, berjalan ke depan menuju ligamentum
lienorenalis dan mengadakan hubungan dengan hilum lienale.
Selain itu terdapat pula bagian fungsi pankreas yang dibagi menjadi
eksokrin dan endokrin. Untuk fungsi eksokrin, kelenjar eksokrin pada
pankreas disebut acini, yang menghasilkan enzim yang terlibat pada proses
pencernaan ketiga jenis molekul kompleks makanan. Enzim pankreatik
amilase akan mencerna zat pati menjadi maltosa. Kita bisa menyebutnya
enzim cadangan untuk amilase saliva. Lipase akan mengubah lemak yang
teremulsi menjadi asam lemak dan gliserol. Pengemulsifan atau pemisahan
lemak pada garam empedu akan meningkatkan luas permukaan sehingga
enzim lipase akan dapat bekerja secara efektif. Tripsinogen adalah suatu
enzim yang tidak aktif, yang akan menjadi tripsin aktif di dalam duodenum.
Tripsin akan mencerna polipeptida menjadi asam-asam amino rantai pendek.
Cairan enzim pankreatik dibawa oleh saluran-saluran kecil yang kemudian
bersatu membentuk saluran yang lebih besar, dan akhirnya masuk ke dalam
duktus pankreatikus mayor. Duktus tambahan juga bisa muncul. Duktus
pankreatikus mayor bisa muncul dari sisi medial pankreas dan bergabung
dengan duktus koledokus komunis untuk kemudian menuju ke duodenum.
Pankreas juga memproduksi cairan bikarbonat yang bersifat basa. Karena
cairan lambung yang memasuki duodenum bersifat sangat asam, ia harus
dinetralkan untuk mencegah kerusakan mukosa duodenum. Prose penetralan
ini dilaksanakan oleh natrium bikarbonat di dalam getah pankreas, dan pH
kimus yang berada di dalam duodenum akan naik menjadi sekitar 7,5. Sekresi
cairan pankreas dirangsang oleh hormon sekretin dan kolesistokinin, yang
diproduksi oleh mukosa duodenum ketika kismus memasuki intestinum tenue.
Sekretin meningkatkan produksi cairan bikarbonat oleh pankreas, dan
kolesistokinin akan merangsang sekresi enzim pankreas.
Dan komponen endokrin pankreas tersebar di seluruh organ berupa pulau
sel endokrin yang disebut insula pancreatica (pulau Langerhans). Pulau
Langerhans, tersebar di seluruh pankreas dan tampak sebagai massa bundar,
tidak teratur, terdiri atas sel pucat dengan banyak pembuluh darah yang
berukuran 76175 mm dan berdiameter 20-300 mikron tersebar di seluruh
pankreas, walaupun lebih banyak ditemukan di kauda daripada kaput dan
korpus pankreas. Dengan pewarnaan khusus, sel-sel pulau Langerhans terdiri
dari empat macam:
a. Sel Alfa, sebagai penghasil hormon glukagon. Glukagon
meningkatkan kadar glukosa darah dengan mempercepat perubahan
glikogen, asam amino, dan asam lemak di hepatosit menjadi glukosa.
b. Sel Beta, sebagai penghasil hormon insulin. Insulin menurunkan kadar
glukosa darah dengan meningkatkan transpor membran glukosa ke
dalam hepatosit, otot, dan sel adiposa.
c. Sel Delta, mensekresikan hormon somatostatin. Hormon ini
menurunkan dan menghambat aktivitas sekretorik sel alfa dan sel beta
melalui pengaruh lokal di dalam insula pankreatika.
d. Sel F, Mensekresi polipeptida pankreas yang menghambat
pembentukan enzim pankreas dan sekresi alkali. (Pankreas, 2013).

Gambar 2.3. Bagian pulau Langerhans. (Anatomi Pankreas dan Saluran-


Salurannya, 2015)
B. Fungsi Pankreas
1. Mengatur kadar gula dalam darah melalui pengeluaran glucogen, yang
menambah kadar gula dalam darah dengan mempercepat tingkat
pelepasan dari hati.
2. Pengurangan kadar gula dalam darah dengan mengeluarkan insulin yang
mana mempercepat aliran glukosa ke dalam sel pada tubuh, terutama otot.
Insulin juga merangsang hati untuk mengubah glukosa menjadi glikogen
dan menyimpannya di dalam sel-selnya.

C. Pembentukan Enzim-Enzim dan Hormon pada Pankreas


Pankreas memiliki 2 fungsi yaitu :
1. Eksokrin, mensekresi enzim-enzim dan ion-ion yang digunakan untuk
proses pencernaan ke dalam duodenum seperti enzim amilase pankreas,
enzim proteolitik dll
2. Endokrin, terdiri dari pulau-pulau Langerhans yang menghasilkan
beberapa hormone seperti insuli, glukagon, somatosin dan polipeptida
pankreas Lihat tabel di bawah
Tipe sel Jumlah Relatif Hormon yg diproduksi

A (atau ) 25% Glucagon


B (atau ) 70% Insulin
D (atau ) < 5% Somatostatin
F Sangat kecil Polipeptida pankreas

Tabel 1.1 Pembentukan Enzim-Enzim dan Hormon pada Pankreas


1. Insulin
Struktur
Insulin merupakan polipeptida yang terdiri dari 2 rantai, yaitu rantai A
dan rantai B
Rantai A terdiri dari 21 asam amino, rantai B terdiri dari 30 asam
amino
Kedua rantai trsebut dihubungkan oleh jembatan disulfida, yaitu pada
A7 dengan B7 dan pada A20 dengan B19. Ada pula jembatan disulfida
intra rantai pada rantai A yaitu pada A6 dan A11. Posisi ketiga
jembatan tersebut selalu tetap.
Kadang terjadi substitusi asam amino terutama pada rantai A posisi 8,
9, 10 namun tidak mempengaruhi bioaktivitas rangkaian tesebut.
Sintesis
a. sintesis pro insulin
Preprohomon insulin merupakan prekursor yang lebih besar
Terdapat rangkaian pra atau rangkaian pemandu dengan 32 asam
amino bersifat hidrofobik yang mengarahkan molekul tersebut ke
dalam Retikulum Endoplasma kasar.
Di dalam RE kasar dihasilkan molekul proinsulin yamg
memperlihatkan adanya jembatan disulfida pada peptida C rantai A
dan peptida C rantai B.
b. sintesis insulin
Molekul proinsulin yang diproduksi oleh RE kasar kemudian
diangkut ke aparatus golgi.
Di aparatus golgi terjadi proteolisis dan pengemasan ke dalam
bentuk granul sekretorik. 95% proinsulin diubah menjadi insulin
dengan memecah molekul proinsulin pada rantai peptida
penghubung sehingga hanya tersisa rantai A danrantai B beserta
jembatan disulfidanya.
Granul tersebut dibawa ke membran plasma melintasi sitoplasma.
Dengan adanya rangsangan granul yang telah matur akan menyatu
dengan membran plasma dan mengeluarkan isinya ke dalam cairan
ekstrasel melalui proses eksositosis

Sekresi
Insulin disekresikan sekitar 40-50 unit perhari.
Beberapa unsur yang terlibat antara lain:
a. Glukosa
Peningkatan konsentrasi glukosa dalam plasma merupakan faktor
fisiologis penting dalam sekresi insulin
Konsentrasi ambang bagi sekresi insulin tersebut adalah kadar
glukosa puasa plasma (80-100 mg/dL). Pada ambang tersebut
insulin diproduksi minimal.
Peningkatan rasio ATP/ADP dalam metabolisme glukosa membuat
K+ keluar, keadaan ini menyebabkan saluran Ca2+ aktif.
Masuknya Ca2+ menyebabkan sekresi insulin.
b. faktor hormonal
Sejumlah hormon mempengaruhi pelepasan insulin :
epinefrin menghambat pelepasan insulin
agonis -adrenegik merangsang pelepasan insulin, kemungkinan
dengan
cara meningkatkan cAMP intrasel.
Hormon pertumbuhan, kortisol, laktogen plasenta, estrogen,
progestin dapatmeningkatkan sekresi insulin.
Dapat dilihat ketika pada fase akhir kehamilan insulin meningkat
dengan sangat mencolok.
c. preparat farmakologik
Obat yang merangsang sekresi insulin dan paling sering dipakai untuk
terapi
diabetes pada manusia adalah senyawa sulfonilurea.
Tolbutamid, dipakai dalam terapi diabetes melitus tipe II (diabetes
yang tidak tegantung insulin).
Peranan insulin dalam metabolisme
2. Glukagon
struktur
Merupakan polipeptida rantai tunggal terdiri dari 29 asam amino
Disintesis di dalam sel A pulau Langerhans pankreas
Disintesis dari molekul prekursor proglukagon yang berukuran jauh
lebih besar
Glukagon beredar dalam plasma dalam bentuk bebas, tidak terikat
dengan protein
pengangkut.
Karena tidak terikat dengan protein pengangkut maka usia paruh
glukagon dalam
plasma singkat (sekitar 5 menit)
Glukagon diinaktifkan di hati yang mempunyai enzim yang memecah
2 asam amino
Pertama dari ujung terminal amino.
sekresi
Diperkirakan glukosa menghambat sekresi glukagon, mungkin juga
diperantarai
oleh insulin karena hormon ini menghambat langsung pelepasan glukagon.
Faktor lain yang mempengaruhi sekresi glukagon antara lain asam
amino, asam lemak, serta keton, hormon traktus gastrointestinal dan
neurotransmiter.
Mekanisme kerja
secara umum glukagon melawan kerja insulin glukagon merangsang
glikogenolisis dan lipolisis
Hati merupakan sasaran utama kerja glukagon. Glukagon terikat
dengan reseptor spesifik dalam membran plasma sel hati. Peristiwa ini
mengaktifkan enzim adenilil siklase menghasilkan cAMP. Molekul
cAMP yang dihasilkan mengaktifkan enzim fosforilase yang
meningkatkan laju penguraian dan menghambat kerja enzim
glikogen sintase sehingga pembentukan glikogen terhambat.
kenaikan kadar cAMP merangsang konversi asam amino menjadi
glukosa dengan menginduksi sejumlah enzim yang terlibat dalam
lintasan glukoneogenik. Berikutadalah tabel yang memperlihatkan
enzim-enzim yang diinduksi atau direpresi oleh insulin dan glukagon
3. Somatostatin
Struktur
Merupakan peptida siklik disintesis sebagai prohormon somatostatin
yang besar.
disintesis dalam sel D pulau langerhans pankreas
Prohormon tersebut mula-mula diproses menjadi 28 asam amino dan
akhirnya menjadi 14 asam amino
Selain di di pulau Langerhans somatostatin dijumpai di hipotalamus,
jaringan gastrointestinal, dan sistem saraf pusat (mungkin sebagai
neurotransmiter)
Peran
Somatostatin menghambat sekresi hormon pertumbuhan
menghalangi ketosis pada kondisi defisiensi akut insulin (menghambat
kerja
glukagon untuk lipolisis saat kondisi insulin rendah)
mengurangi pengangkutan nutrien dari traktus gastrointestinal ke
dalam sirkulasi darah, karena:
- hormon ini memperpanjang waktu pengosongan lambung
- mengurangi sekresi gastrin, sehingga produksi asam lambung
menurun
- mengurangi sekresi kelenjar eksokrin pankreas (enzim pencernaan)
- mengurangi aliran darah splanknikus
- memperlambat absorbsi gula
4. Polipeptida pankreas (pp)
merupakan suatu peptida dengan 36 asam amino
diproduksi oleh sel af pankreas
Sekresinya ditingkatkan oleh konsumsi protein, puasa, olah raga, serta
hipoglikemia akut dan dikurangi oleh somatostatin dan pemberian
glukosa intravena
Fungsi PP masih belum diketahui, mungkin berkaitan dengan kadar
glikogen hati dan sekresi gastrointestinal.

D. Ganguan-Gangguan pada Pankreas


1. Pankreatitis
Pankreatitis adalah suatu penyakit inflamasi pankreas yang identik
menyebabkan nyeri perut dan terkait dengan fungsinya sebagai kelenjar
eksokrin, (meskipun pada akhirnya fungsi sebagai kelenjar endokrin juga
terganggu akibat kerusakan organ pankreas). The Second International
Symposium on The Classification of Pancreatitis, (Marseille,1980)
membuat klasifikasi sebagai berikut:
a. Pankreatitis akut
Pankreatitis akut adalah pankreatitis yang dikarakterisasi oleh nyeri
berat di perut bagian atas dan meningkatnya level enzim pankreas di
dalam darah. Pankreatitis akut bisa ringan ataupun berat tergantung
manifestasi klinis, tes laboratorium, dan diagnosa. Perjalanan penyakit
dari ringan self limited sampai berat yang disertai renjatan gangguan
ginjal dan paru-paru yang bisa berakibat fatal. Pankreatitis yang berat,
enzim-enzim pankreas, bahan-bahan vasoaktif dan bahan-bahan toksik
lainnya keluar dari saluran- saluran pankreas dan masuk ke dalam ruang
pararenal anterior dan ruang-ruang lain seperti ruang-ruang pararenal
posterior, lesser sac dan rongga peritoneum. Bahan ini mengakibatkan
iritasikimiawi yang luas. Bahan-bahan tersebut memasuki sirkulasi
umum melalui saluran getah bening retroperitoneal dan jalur vena dan
mengakibatkan berbagai penyulit sistemik seperti gagal pernapasan,
gagal ginjal dan kolaps kardio-vaskuler.
Patofosiologi
Pankreatitis akut dimulai sebagai suatu proses autodigesti di dalam
kelenjar akibat aktivasi prematur zimogen (prekursor dari enzim digestif)
dalam sel-sel sekretor pankreas (asinar), sistem saluran atau ruang
interstisial. Gangguan sel asini pankreas dapat terjadi karena beberapa
sebab:
1. Obstruksi duktus pankreatikus. Penyebab tersering obstruksi adalah
batu empedu kecil (microlithiasis) yang terjebak dalam duktus. Sebab
lain adalah karena plug protein (stone protein) dan spasme sfingter
Oddi pada kasus pankreatitis akibat konsumsi alkohol,
2. Stimulasi hormon cholecystokinin (CCK) sehingga akan mengaktivasi
enzim pankreas. Hormon CCK terstimulasi akibat diet tinggi protein
dan lemak (hipertrigliseridemia) dapat juga karena alkohol,
3. Iskemia sesaat dapat meningkatkan degradasi enzim pankreas. Keadaan
ini dapat terjadi pada prosedur operatif atau karena aterosklerosis pada
arteri di pankreas.
Gangguan di sel asini pankreas akan diikuti dengan pelepasan enzim
pankreas, yang selanjutnya akan merangsang sel-sel peradangan (makrofag,
neutrofil, sel-sel endotel, dsb) untuk mengeluarkan mediator inflamasi
(bradikinin, platelet activating factor [PAF]) dan sitokin proinflammatory
(TNF-, IL-1 beta, IL-6, IL-8 dan intercellular adhesive molecules (ICAM 1)
dan vascular adhesive molecules (VCAM) sehingga menyebabkan
permeabilitas vaskular meningkat, teraktivasinya sistem komplemen dan
ketidakseimbangan sistem trombo-fibrinolitik. Kondisi tersebut akhirnya
memicu terjadinya gangguan mikrosirkulasi, stasis mikrosirkulasi, iskemia dan
nekrosis sel-sel pankreas. Kejadian di atas tidak saja terjadi lokal di pankreas
tetapi dapat pula terjadi di jaringan/organ vital lainnya sehingga dapat
menyebabkan komplikasi lokal maupun sistemik.
Dengan kata lain pankreatitis akut dimulai oleh adanya keadian yang
menginisiasi luka kemudian diikuti kejadian selanjutnya memperberat luka,
yang dapat digambarkan secara lebih jelas pada skema di bawah ini (Gambar
3.1).

Gambar 3.1 Skema patogenesis Pankreatitis aku


Secara ringkas progresi pankreatitis akut dapat dibagi menjadi 3 fase
berurutan, yaitu:
1. inflamasi lokal pankreas,
2. peradangan sistemik (systemic inflammatory response syndrome [SIRS]),
3. disfungsi multi organ (multiorgan dysfunctions [MODS]).
Berat ringannya pankreatitis akut tergantung dari respons inflamasi sistemik
yang diperantarai oleh keseimbangan sitokin proinflammatory dan
antiinflammatory, dan ada tidaknya infeksi baik lokal maupun sistemik. Pada
keadaan dimana sitokin proinflammatory lebih dominan daripada sitokin
antiinflammatory (IL-10, IL-1 receptor antagonist (IL- 1ra) dan soluble TNF
receptor (sTNFR) keadaan yang terjadi adalah pankreatitis akut berat.