Anda di halaman 1dari 54

OBAT GANGGUAN SALURAN CERNA

ULKUS

Kelompok 2
Aisyah Nur Saadah 1306480585
Amalia Sitti Khayyira 1306416102
Arini Wulansari 1306413492
Asma Zahidah 1206253836
Cakra Hagai Arparti Sm 1306480774
Clara Jikesya 1306479766
Delvika Yessi Chumala 1306377032
Fatmawati Fadlin 1306376875
Ganesya Rita Putri 1306480446
M. Fridho Damora Harahap 1306480591
Nilam Sartika 1306408454
Nurvita Ulfa Saraswati 1306480263
Siti Syarah Sartika 1306480364

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2015
KATA PENGANTAR

Rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Mahaesa berkat rahmat dan pertolongan-Nya
kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan tepat waktu. Penyusunan makalah
Ulkus ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Obat Ganguan Endokrin dan
Saluran Cerna. Makalah ini berisi penjelasan mengenai fisiologi, patofisiologi,
farmakologi, serta farmakoterapi terkait Ulkus
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada ibu Tri Wahyuni, M.Farm., Apt.
selaku dosen mata kuliah Obat Gangguan Endokrin dan Saluran Cerna yang telah
memberikan bimbingan dan arahan mengenai tugas ini, sehingga penyusunan makalah ini
sesuai dengan konsep yang ditugaskan.
Semoga makalah ini dapat beguna dan bermanfaat bagi penulis dan para pembaca.
Jika terdapat kritik dan saran terhadap makalah baik dari segi isi, penulisan, atau
penyusunan, kami akan mengerimanya dan menjadikan sebagai motivasi untuk lebih baik.
Semoga kami lebih baik dalam penyusunan tugas selanjutnya. Terima kasih.

Depok, 20 November 2015

Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................................................... i
KATA PENGANTAR............................................................................................ . ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... .. iii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................... .. 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2 Tujuan .............................................................................................. 1
BAB 2 ISI ................................................................................................................ 2
2.1 Fisiologi Ulkus ................................................................................. 2
2.2 Patofisiologi Ulkus........................................................................... 18
2.3 Farmakologi Ulkus........................................................................... 23
2.4 Farmakoterapi Ulkus ........................................................................ 36
BAB 3 PENUTUP ................................................................................................... 51
3.1 Kesimpulan ...................................................................................... 51
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 52

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Peptic Ulcer Disease atau tukak adalah kerusakan atau pembentukan tukak
di saluran pencernaan bagian bawah akibat terjadinya erosi yang diawali dari
lapisan mukosa hingga merusak lapisan dinding lainnya. Peptic ulcer biasanya
merujuk pada erosi yang terjadi di lambung (gastric ulcer) dan duodenum
(duodenal ulcer)
Erosi ini dapat terjadi akibat peningkatan asam lambung atau saat menurunnya
daya tahan lapisan mukosa
1.2 Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Obat
Gangguan Endokrin dan Saluran Cerna yang mencakup fisiologi, patofisiologi,
farmakologi dan farmakoterapi terkait ulkus
BAB II
ISI
2.1 Fisiologi Ulkus
LAMBUNG

1. Anatomi Lambung

Lambung terbagi atas tiga bagian berdasarkan anatomi, histologi dan fungsional

Bagian pertama adalah fundus, fundus merupakan bagian paling atas dan pembuka
dari esophageal. Dibagian tengah pada lambung adalah body, merupakan bagian paling
utama dari lambung. Lapisan otot halus pada fundus dan body relative tipis, tetapi pada
bagian antrum cenderung lebih tebal. Pada bagian bawah lambung terdapat sfingter
pylorus, yang merupakan barrier antara lambung dengan bagian atas dari usus halus.

Lambung memiliki 3 peran utama:

1. Menyimpan makanan yang sudah dicerna dan mengantarkannya ke usus halus agar
bisa dicerna dan diserap secara optimal.

2. Lambung mensekresi asam lambung dan enzim untuk memulai pencernaan


protein.

3. Melalui gerakan lambung, makanan yang sudah dicerna dan dihancurkan dengan
sekresi lambung untuk memproduksi cairan kental yang disebut kim.
4.

2. Motilitas Lambung

Terbagi menjadi:

a. Filling
Saat kosong, lambung mempunyai volume sebesar 50 ml, tetapi bisa
mengembang sehingga 1000 ml selama makan. Reflek lambung yang berelaksasi
ketika mendapatkan makanan disebut relaksasi reseptif, reflek ini meningkatkan
kemampuan lambung untuk mengakomodasi volume berlebih pada makanan
dengan tekanan lambung sedikit naik. Jika mengkonsumsi lebih dari seliter
makanan maka lambung akan menggembung dan tercipta tekananan integrastik
dan membuat seseorang tidak nyaman. Relaksasi reseptif dipicu oleh aktivitas
makan dan didorong oleh saraf vagus.
b. Storage
Sekelompok sel intrestisial pada cajal berlokasi di bagian atas fundus pada
lambung, mendorong gelombang kecil potensial yang menyapu bersih lambung
melalui pyloric sphincter dalam tiga kali per menit. Polaritmik dari depolarisasi
spontan (pola elektrikal dasar atau BER) muncul secara terus menerus dan
mungkin bersamaan dengan kontraksi lapisan otot tipis lambung. Berdasarkan
rangsangan lapisan otot halus, dapat membawa kepermulaan dengan aliran ini dan
melalui aksi yang potensial, dimana berubah menjadi gelombang peristaltik yang
menyapu bersih lambung dengan BER setiap tiga kali per menit.
Saat dimulai, gelombang peristaltic menyebar keseluruh fundus dan tubuh
keantrum dan pyloric sphincter. Karna lapisan otot adalah tipis di fundus dan
tubuh, kontraksi peristaltik di bagian ini lemah. Saat gelombang mencapai antrum,
dapat menguat karna lapisan otot disana lebih tebal.
Karna hanya gerakan mix yang lemah terjadi di tubuh dan fundus, makanan
di antarkan ke lambung dari esophagus yang disimpan di dalam tubuh tanpa di
mix. Area fundus biasanya tidak menyimpan makanan namun hanya mengandung
sekantong gas. Secara berangsur angsur member makanan dari badan ke antrum
dimana proses mixing terjadi.
c. Mixing dan Emptying

Faktor-faktor yang meregulasi motilitas lambung dan pengosongan lambung


3. Kantung lambung sebagai sumber sekresi getah lambung
Sel-sel yang bertanggung jawab terhadap sekresi lambung terletak pada lapisan
lambung, mukosa lambung, dibagi menajdi dua bagian:
a. Mukosa oksintik
Melapisi korpus dan fundus.
b. Daerah kelenjar pilorik (PGA; pyloric gland area)
Melapisi antrum.

Pada dinding kantung-kantung mukosa oksintik terdapat tiga jenis sel sekretorik.
Sel leher mukosa (mucous neck cell), yang melapisi pintu masuk atau leher kantung
lambung, mensekresikan mucus yang encer. Sel-sel utama (chief cell) melapisi bagian
kantung lambung yang lebih dalam , yang mengeluarkan precursor enzim pepsinogen.
Dan sel parietal (oksintik) yang mengeluarkan HCl dan factor intrinsic. Sel-sel parietal
terletak di dinding luar kantung lambung dan tidak berkontak dengan lumen kantung.
Sel-sel parietal menyalurkan sekresi HCl ke dalam lumen melalui saluran-saluran
halus, atau kanalikulus yang berjalan di antara sel-sel utama.

Di antara kantung-kantung lambung, mukosa lambung dilapisi oleh sel epitel


permukaan, yang mengeluarkan mucus kental alkalis dan membentuk lapisan setebal
beberapa millimeter menutupi permukaan mukosa. Sel-sel leher mukosa cepat
membelah dan berfungsi sebagai sel induk bagi semua sel baru di mukosa lambung.
Seluruh mukosa lambung diganti setiap sekitar tiga hari.

Kantung-kantung lambung pada daerah kelenjar pilorik mengeluarkan mucus,


sejumlah kecil pepsinogen, dan tidak mensekresikan asam. Sel-sel endokrin di daerah
kelenjar pilorik mengeluarkan hormone gastrin ke dalam darah.

Sekresi Asam Klorida


Sel-sel parietal secara aktif mensekresikan HCl ke dalam kantung lambung,
kemudian mengalirkannya ke dalam lumen lambung. Sekresi HCl menyebabkan pH isi
lumen turun hingga serendah 2. Ion H+ dan ion Cl- secara aktif disekresikan secara aktif
oleh pompa yang berbeda di membrane plasma sel parietal.
Ion H+ yang disekresikan berasal dari proses-proses metabolism di dalam sel
parietal. Apabila sebuah H+ disekresikan, netralisasi interior sel dipertahankan oleh
pembentukan H+ baru dari asam karbonat (H2CO3) untuk menggantikan H+ yang keluar
tersebut. Dengan adanya enzim karbonat anhidrase pada sel-sel parietal, H2O mudah
berikatan dengan CO2, yang diproduksi oleh sel parietal melalui proses-proses
metabolisme atau berdifusi masuk dari darah. Kombinasi H2O dan CO2 menghasilkan
H2CO3, yang secara parsial terurai menjadi H+ dan HCO3-.
Ion H+ yang dihasilkan berfungsi untuk menggantikan H+ yang disekresikan.
HCO3- yang terbentuk dipindahkan ke dalam plasma oleh pembawa yang sama dengan
yang mengangkut Cl- dari plasma ke dalam lumen lambung. Pertukaran HCO3- dengan
Cl- ini mempertahankan netralitas listrik plasma selama sekresi HCl.
Fungsi Asam Klorida:
1. Mengaktifkan precursor enzim pepsinogen menjadi enzim aktif pepsin dan
membentuk lingkungan asam yang optimal untuk aktifitas pepsin.
2. Membantu penguraian serat otot dan jaringan ikat, sehingga partikel
makanan berukuran besar dapat dipecah-pecah menjadi partikel-partikel
kecil.
3. Denaturasi protein.
4. Bersama dengan lisozim air liur, mematikan sebagian besar
mikroorganisme yang mausk bersama makanan.
Aktivasi Pepsinogen
Konstituen pencernaan
utama sekresi lambung adalah
pepsinogen, yaitu molekul
enzim inaktif yang dihasilkan
oleh sel-sel chief. Pepsinogen
disimpan dalam sitoplasma sel
chief dalam vesikel sekretori
yang dikenal sebagai granul-
granul zymogen. Ketika
pepsinogen disekresi ke dalam
lumen lambung, HCl membelah
sebuah fragmen kecil dari
molekul, mengubahnya ke
bentuk aktif dari enzim pepsin
(Gambar 16-10). Setelah
terbentuk, pepsin mengkatalisis
molekul pepsinogen lain untuk
menghasilkan lebih banyak
pepsin. Mekanisme seperti ini,
dimana bentuk aktif dari enzim
mengaktifkan molekul lain dari
enzim yang sama, disebut proses
autokatalitik.
Pepsin memulai pencernaan
protein dengan memisahkan
asam amino tertentu dalam protein untuk menghasilkan fragmen peptida (rantai asam
amino kecil); yang bekerja paling efektif dalam lingkungan asam yang disediakan oleh
HCl.
Karena pepsin dapat mencerna protein, pepsin harus disimpan dalam bentuk inaktif
dan disekresikan dalam bentuk aktif sehingga tidak mencerna protein dari sel-sel di
mana ia terbentuk. Oleh karena itu, pepsin dipertahankan dalam bentuk tidak aktif dari
pepsinogen hingga mencapai lumen lambung.

Mukosa Pelindung
Permukaan mukosa lambung ditutupi oleh lapisan mukus yang berasal dari
permukaan sel epitel dan sel mukosa. Mukosa ini berfungsi sebagai pelindung terhadap
beberapa bentuk cedera potensial pada mukosa lambung.
Berdasarkan sifatnya sebagai pelumas, mukus melindungi mukosa lambung
terhadap kerusakan mekanik. Hal ini membantu melindungi dinding lambung dari self-
digestion karena pepsin dihambat ketika kontak dengan lapisan mukus yang melapisi
lapisan lambung. Namun, mukus tidak mempengaruhi aktivitas pepsin dalam
lumen,sehingga hasil pencernaan protein tidak terganggu.
Sebagai basa, mukus membantu melindungi dari kerusakan asam dengan
menetralkan HCl di sekitar lapisan lambung, tetapi tidak mengganggu fungsi HCl
dalam lumen. pH terendah di lumen bisa mencapai 2, sedangkan pH di lapisan mukus
yang berdekatan dengan permukaan sel mukosa adalah sekitar 7.

Faktor intrinsik sangat penting untuk penyerapan vitamin B12


Faktor intrinsik adalah produk sekretori lain dari sel parietal selain HCl. Faktor
intrinsik penting dalam penyerapan vitamin B12. Vitamin ini dapat diserap hanya bila
dikombinasikan dengan faktor intrinsik. Ikatan dari faktor intrinsik-kompleks vitamin
B12 dengan reseptor khusus yang hanya terdapat di terminal ileum, bagian terakhir dari
usus kecil, memicu reseptor endositosis yang dimediasi dari kompleks di lokasi
tersebut. Vitamin B12 sangat penting untuk pembentukan normal sel darah merah. Jika
tidak ada faktor intrinsik, vitamin B12 tidak diserap, sehingga eritrosit yang diproduksi
menjadi cacat dan terjadi anemia pernisiosa. Anemia pernisiosa biasanya disebabkan
oleh serangan autoimun terhadap sel parietal.

Pengendalian sekresi lambung


Tingkat sekresi lambung dapat dipengaruhi oleh faktor yang timbul sebelum
makanan pernah mencapai perut, faktor yang dihasilkan dari adanya makanan di perut
dan faktor dalam duodenum setelah makanan telah meninggalkan perut. Dengan
demikian, sekresi lambung dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase sefalik, fase lambung
dan fase usus.

Fase sefalik
Fase sefalik dari sekresi lambung mengacu pada peningkatan sekresi HCl dan
pepsinogen yang terjadi secara feedforward sebagai respon dalam menanggapi
rangsangan di kepala bahkan sebelum makanan mencapai lambung. Berpikir tentang,
mencicipi, mencium, mengunyah, dan menelan makanan dapat meningkatkan sekresi
lambung oleh aktivitas saraf vagal dalam dua cara. Pertama, stimulasi vagal dari
pleksus intrinsik meningkatkan sekresi Ach, yang pada gilirannya menyebabkan
peningkatan sekresi HCl dan pepsinogen oleh sel-sel sekretori. Kedua, stimulasi vagal
dari sel G dalam PGA menyebabkan pelepasan gastrin, yang pada gilirannya lebih
meningkatkan sekresi HCl dan pepsinogen, dengan efek pada HCl yang potensial
sehingga memicu pelepasan histamin
Fase lambung
Fase lambung dari sekresi lambung dimulai ketika makanan benar-benar mencapai
lambung. Rangsangan yang terdapat dalam lambung yaitu protein, terutama fragmen
peptida; distensi; kafein; dan alkohol meningkatkan sekresi lambung melalui jalur
eferen yang saling tumpang tindih. Sebagai contoh, keberadaan protein di lambung
yang merupakan stimulus terkuat, memulai refleks pendek lokal di pleksus saraf
intrinsik untuk merangsang sel sekretorik. Selain itu, protein memulai refleks-refleks
panjang, sehingga serat vagus ekstrinsik ke lambung diaktifkan. Aktivitas vagus lebih
lanjut meningkatkan stimulasi saraf intrinsik pada sel-sel sekretorik dan memicu
pengeluaran gastrin. Protein juga secara langsung merangsang pengeluaran gastrin.
Gastrin pada gilirannya adalah perangsang kuat bagi sekresi HCl dan pepsinogen dan
juga memicu pelepasan histamin yang dapat meningkatkan sekresi HCl. Melalui jalur-
jalur yang sinergistik dan tumpang tindih tersebut, protein menginduksi sekresi getah
lambung yang sangat asam dan kaya pepsin, selanjutnya melanjutkan pencernaan
protein yang pertama kali dimulai oleh proses tersebut (Gambar 16-4).
Fase usus
Fase usus dari sekresi lambung meliputi faktor-faktor yang berasal dari usus halus
yang mempengaruhi sekresi lambung. Ketika fase lain merangsang, fase usus
menghambat. Fase usus penting dalam membantu mengehentikan aliran getah
lambung sewaktu chyme mulai mengalir ke usus halus.

Sekresi lambung secara bertahap menurun seiring dengan mengalirnya


makanan dari lambung ke dalam usus
Ketika lambung mulai kosong, sekresi lambung secara bertahap berkurang melalui
tiga cara yang berbeda (Tabel 16-5):
Ketika makanan secara bertahap berpindah ke duodenum, stimulus utama untuk
meningkatkan sekresi lambung (adanya protein di lambung) ditarik.
Setelah makanan meninggalkan lambung, cairan getah lambung menumpuk hingga
menyebabkan pH lambung turun sangat rendah. Penurunan pH dalam lumen
lambung terjadi karena protein yang menyangga HCl tidak terdapat di lumen saat
pengosongan lambung. Somatostatin dilepaskan sebagai respon dari tingginya
keasaman lambung (pH kurang dari 3). Dalam umpan balik negatif, sekresi
lambung menurun sebagai akibat dari efek penghambatan somatostatin.
Rangsangan yang sama yang menghambat motilitas lambung (lemak, asam,
hipertonisitas, atau distensi di duodenum yang dibawa oleh pengosongan isi
lambung ke duodenum) juga menghambat sekresi lambung. Refleks enterogastrik
dan enterogastron menekan sel-sel sekretori lambung saat mereka secara
bersamaan mengurangi rangsangan dari sel-sel otot polos lambung. Respon
penghambatan ini merupakan fase intestinal sekresi lambung.
Sawar mukosa lambung melindungi dinding dalam lambung dari sekresi
lambung
Lambung mengandung kadar asam yang kuat dan enzim proteolitik tanpa merusak
dirinya sendiri karena terdapat mukus yang membentuk lapisan pelindung. Permukaan
mukus mensekresikan HCO3- yang terjebak dalam lendir dan menetralkan asam di
sekitarnya.
Membran luminal sel mukosa lambung impermeabel terhadap H+ sehingga asam
tidak dapat menembus lapisan ini. Setiap sel pada lapisan epithelia mukosa ditautkan
dengan suatu tight junction (tautan erat) sehingga menghambat HCl menembus diantara
sel-sel ini. Lapisan mukus diatas mukosa lambung memberi proteksi tambahan
terhadap paparan asam lambung. Bikarbonat yang juga dihasilkan bersama mukus
menetralkan asam yang ada disekitar lapisan mukosa sehingga pH nya naik, jika di
lumen pH nya 2 maka di lapisan mukus ini pH menjadi 7.
Faktanya, seluruh lapisan lambung diganti setiap tiga hari. Karena omset mukosa
cepat, sel-sel biasanya diganti sebelum mereka terkena keausan kondisi lambung yang
keras dan cukup lama yang dapat menyebabkan kerusakan lambung yang parah.
Meskipun terdapat perlindungan, penghalang terkadang mengalami kerusakan sehingga
dinding lambung terluka oleh asam dan konten enzimatik. Hal tersebut menyebabkan
erosi, atau ulkus peptikum pada dinding lambung. Refluks lambung yang berlebihan
ke kerongkongan dan pembuangan isi asam lambung yang berlebihan ke dalam
duodenum dapat juga menyebabkan tukak lambung di lokasi tersebut.
Pencernaan karbohidrat berlanjut di lambung; pencernaan protein dimulai
di antrum

Di dalam lambung berlangsung dua proses pencernaan yang terpisah. Makanan di


korpus lambung berada dalam bentuk semi padat karena kontraksi peristaltik di daerah
ini terlalu lemah untuk proses pencampuran. Karena makanan tidak bercampur dengan
sekresi lambung di korpus lambung, maka sangat sedikit terjadi proses pencernaan
protein. Dalam interior massa, pencernaan karbohidrat terus berlanjut di bawah
pengaruh amilase saliva. Meskipun asam menginaktivasi amilase saliva, interior massa
makanan yang tidak tercampur akan terbebas dari asam. Pencernaan oleh getah
lambung terjadi di dalam antrum lambung. Ketika makanan dicampur dengan HCl dan
pepsin, pencernaan protein dimulai.

USUS HALUS (DUODENUM)

Usus halus merupakan tempat utama pencernaan dan penyerapan makanan, setelah
melewati usus halus, makanan tidak akan diserap lagi, walaupun usus besar dapat
mengabsorpsi beberapa komponen seperti garam dan air dalam jumlah sedikit. Usus halus
terletak di dalam rongga abdomen diantara lambung dan usus besar. Usus halus dibagi
menjadi tiga segmen yaitu duodenum, jejunum, dan ileum.

1. Anatomi
Sebagian besar penyerapan berlangsung di duodenum dan jejunum. Mukosa yang
melapisi lumen usus halus beradaptasi sempurna untuk melaksanakan fungsi
absorptifnya karena: (1) memiliki luas permukaan yang sangat besar, dan (2) sel-sel
epitel di lapisan ini memiliki berbagai mekanisme transportasi khusus.
Permukaan dalam usus halus membentuk lipatan sirkuler yang dapat dilihat
dengan mata telanjang dan meningkatkan luas permukaan tiga kali lipat.
Dari permukaan yang berlipat-lipat tersebut muncul tonjolan-tonjolan
mikroskopik seperti jari yang dikenal sebagai vilus, dan meningkatkan luas
permukaan sepuluh kali lipat. Permukaan setiap vilus dilapisi sel epitel yang
kadang-kadang diselingi oleh sel mukosa.
Dari permukaan luminal sel-sel epitel juga muncul tonjolan-tonjolan seperti
rambut yang dikenal sebagai mikrovilus (brush border) yang meningkatkan luas
permukaan dua puluh lipat. Di dalam membrane brush border inilah enzim-
enzim usus halus melaksanakan fungsi mereka.
Secara keseluruhan, lipatan, vilus, dan mikrovilus menyebabkan usus halus
memiliki luas permukaan luminal 600 kali lebih besar dibandingkan dengan bila usus
halus hanya berupa suatu saluran dengan panjang yang sama tapi permukaannya rata.
Penyerapan di dinding usus halus memerlukan mekanisme transportasi epitel yang
serupa dengan pemindahan menembus tubulus ginjal. Sel-sel epitel yang melapisis
permukaan setiap vilus bersatu di batas lateralnya melalui taut erat (tight junction) yang
membatasi lewatnya isi lumen di antara sel. Inti jaringan ikat darivilus dibentuk oleh
lamina propria. Setiap vilus, di[asok oleh arteriol yang kemudian bercabang-cabang
dan membentuk jaringan kapiler di dalam vilus. Kapiler-kapiler tersebut nantinya akan
kembali menyatu untuk membentuk venula yang keluar dari vilus. Setiap vilus juga
memiliki pembuluh limfe terminal yang disebut sebagai lacteal pusat (central lacteal).
Bahan-bahan yang telah dicerna selama proses penyerapan akan masuk ke dalam
jaringan kapiler atau lacteal tersebut. Penyerapan di usus dapat berupa proses aktif
maupun pasif.
Di antara vilus-vilus terdapat invaginasi dalam permukaan mukosa yang dikenal
sebagai kriptus Lieberkuhn. Kriptus Lieberkuhn tidak mengeluarkan enzim pencernaan,
namun berfungsi sebagai penghasil sel baru. Sel-sel epitel yang melapisi bagian dalam
usus halus terkelupas dan diganti oleh sel baru dengan kecepatan yang tinggi karena
tingginya aktifitas mitotic di kriptus. Sel-sel baru yang terus terbentuk di kriptus akan
bermigrasi ke atas vilus, dan mendorong sel-sel tua di ujung vilus lepas ke dalam
lumen.
Sewaktu bermigrasi, sel-sel mengalami beberapa perubahan. Konsentrasi enzim-
enzim brush border meningkat dan kapasitas menyerap membaik, sehingga sel-sel di
pucak vilus memiliki kapasitas pencernaan dan penyerapan tertinggi.
2. Sekresi Usus Halus
Setiap harinya, sel kelenjar eksokrin usus halus mensekresi hampir 1,5 L aqueous
salt dan mucus solution yang disebut succus entericus (juice of intestine). Sekresinya
akan meningkat setelah makan akibat stimulasi lokal mukosa usus halus yang dihasilkan
oleh keberadaan kimus. Sucus tersebut memiliki fungsi proteksi dan lubrikasi. Selain itu,
sucus dapat menyediakan banyak H2O untuk pencernaan makanan, karena pada
pencernaan terdapat proses hidrolisis. Usus halus mensintesis enzim pencernaan tapi tidak
disekresikan ke lumen saluran pencernaan, karena enzim pencernaan bekerja di dalam
brush-border membrane dari sel epitel usus halus.

Keseimbangan Biokimia pada Usus Halus


Keseimbangan biokimia pada usus halus secara normal akan terjaga. Hal ini
disebabkan oleh cairan yang disekresi akan diabsorpsi kembali ke dalam plasma. Pada
lumen usus halus, HCl yang disekresi oleh sel parietal lambung akan dinetralisir oleh
NaHCO3 yang disekresi oleh sel pancreatic duct.
Produk akhir dari hasil reaksi ini (Na+, Cl-, CO2, dan H2O) akan diabsorpsi kembali oleh
sel epitel usus halus dan akan disalurkan ke darah. melalui rekasi ini, keadaan biokimia
pada tubuh akan dijaga.

Mikroflora Normal di Lambung dan Usus Halus


Usus manusia dalam keadaan steril saat dilahirkan, namun setelah beberapa minggu
kemudian akan terdapat koloni bakteri anaerob yang didapatkan dari makanan. Usus halus
merupakan area transisi antara area dengan jumlah bakteri rendah yaitu lambung dan area
dengan jumlah bakteri tinggi yaitu colon. Pada keadaan normal, bakteri pada duodenum
sekitar 105 bakteri/mL, pada ileum 109 bakteri/mL sedangkan pada lambung hanya sekitar
103 bakteri/mL karena terdapat barrier penting yaitu kondisi pH yang rendah. Kadar asam
lambung dan motilitas yang normal akan menjaga konsentrasi bakteri pada lambung dan
duodenum. Bakteri di usus halus dapat meningkatkan aktivitas pertahanan imunitas usus
(physiological inflammation) dan beberapa aktivitas metaboliknya berguna bagi tubuh
manusia.

Gambar 1. Beberapa Bakteri pada Organ Pencernaan Manusia

Di lambung terdapat bakteri gram positif seperti streptococci, staphylococci, dan


lactobacilli. Pada beberapa pasien saat kondisi fisiologis asam berkurang (saat malam
hari), ditemukan bakteri seperti Enterococcus, Pseudomonas, Streptococcus,
Staphylococcus, dan Rothia. H. pylori merupakan bakteri patogen yang jarang ditemukan
pada usia sebelum 10 tahun, namun dapat meningkat prevalensinya pada orang dewasa
sebesar 80% sebelum umur 50 tahun, tergantung dari lingkungan dan asupan makanan.
Kebanyakan pasien yang terinfeksi H. pylori tidak menunjukkan gejala infeksi, namun
pada beberapa pasien setelah beberapa tahun terinfeksi dapat menimbulkan penyakit
tertentu.
Di usus halus (duodenum, jejunum, dan terutama ileum) bakteri aerob yang ada adalah
Eschericia coli, Klebsiella species, Enterobacter species, enterococci, dan streptococci
sedangkan bakteri anaerob (yang ada dalam jumlah sedikit) contohnya adalah Bacteroides
fragilis.
Bakteri di usus halus dapat bertahan hidup karena mendapatkan nutrisi dari pemecahan
protein menjadi asam amino oleh enzim tripsin. Selain itu, bikarbonat yang terdapat di
usus halus (sekresi dari pancreas) akan membuat kondisi pH lebih basa dibandingkan pH
lambung, sehingga kondisi lingkungan lebih baik untuk pertumbuhan bakteri.
Pertumbuhan bakteri juga dapat ditekan oleh empedu yang memiliki sifat asam. Beberapa
faktor lain yang dapat mengontrol pertumbuhan bakteri adalah:
1. Sel epitel usus halus, tight junction, dan lapisan mukus menjadi mucosal barrier
sehingga menjaga flora normal tetap berada di usus halus, tidak berpindah ke
organ lainnya di tubuh.
2. Immunoglobulin A (IgA) yang terdapat pada mukus berfungsi menetralisasi dan
menginaktivasi bakteri pathogen dan invading viruses
3. Gerakan peristaltik merupakan faktor mekanis yang dapat mencegah pelekatan
bakteri di sel epitel usus halus. Bakteri yang dapat bertahan di usus halus harus
dapat melekat dan memperbanyak diri secara cepat untuk melawan gerakan
peristaltic tersebut.
4. Proses turn-over sel epitel usus halus yaitu penggantian sel epitel usus halus yang
mengandung berbagai molekul termasuk bakteri di permukaannya.

2.2 Patofisiologi Ulkus

Penurunan Produksi Mukus

Ulkus sebagian besar berkembang ketika sel mukosa di lambung tidak


memproduksi mucus secara adekuat. Penyebab menurunnya produksi mucus dapat
disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya adalah penggunaan obat NSAID, penurunan
aliran darah ke lambung, dan infeksi bakteri Helicobacter pylori.
Gambar 2.1 Proses produksi mukus

Penggunaan obat NSAID

Presentasi terjadinya ulkus peptikum akibat penggunaan NSAID teratur adalah


sebanyak 15% hingga 30%. Setiap tahunnya, setidaknya 16.500 orang meninggal dan
107.000 orang dirawat di rumah sakit karena menggunakan obat-obatan NSAID non
selektif seperti aspirin, indometasin, diklofenak, dan lain-lain. Secara klinis, gangguan
pada saluran cerna bagian atas terjadi 3% hingga 4,5% pasien artritis yang menkonsumsi
NSAID dan 1,5% mengalami komplikasi serius (perdarahan saluran cerna, perforasi, atau
obstruksi). Biasanya yang berpotensi menyebabkan kerusakan pada saluran cerna adalah
NSAID yang nonselektif (menghambat enzim siklooksigenase 1 dan 2). Perdarahan
lambung bagian subepitel terjadi dalam waktu 15 hingga 30 menit setelah dicerna dan
berkembang menjadi erosi lambung setelah pencernaan dilanjutkan. Lesi ini akan sembuh
setelah beberapa hari penggunaan NSAID yang berkelanjutan dan tidak menyebabkan
komplikasi saluran cerna.

Penggunaan NSAID yang menyebabkan ulkus terjadi dengan 2 mekanisme yaitu


berdasarkan efek local dan efek sistemik. Efek local yaitu dengan langsung mengiritasi
epitel lambung karena asam NSAID serta kemampuannya menurunkan hidrofobisitas dari
lapisan mukosa lambung. Sedangkan efek sistemik dengan menghambat COX-1. Dengan
dihambatnya COX-1 akan menurunkan sintesis prostaglandin PGE2 dan PGI2.
Prostaglandin berguna untuk meningkatkan sekresi mucus dan sekresi HCO3-,
menghambat sekresi asam lambung, dan meningkatkan aliran darah di GIT.

Gambar 2.2 Sintesis prostaglandin dan mekanisme aksi Cox-2 inhibitor

Resiko komplikasi penggunaan NSAID meningkat sebanyak 14 kali lipat pada


pasien dengan riwayat sakit maag dan perdarahan terkait ulkus. Seiring dengan
meningkatnya usia, maka resikonya juga semakin meningkat. Tingginya
kejadian komplikasi ulkus pada orang tua dapat dijelaskan oleh perubahan yang berkaitan
dengan usia dalam pertahanan mukosa lambung. Resiko ulkus karena induksi NSAID dan
komplikasinya berkaitan juga dengan dosis yang digunakan, meskipun keduanya dapat
terjadi dengan NSAID yang tidak diresepkan dosis rendah dan dosis rendah aspirin untuk
kardioprotektif (81-325 mg/hari. Resiko terjadinya perdarahan meningkat ketika NSAID
digunakan bersama dengan antikoagulan.

Penurunan aliran darah

Intergritas mukosa lambung terjadi akibat penyediaan glukosa dan oksigen secara
terus menerus dan aliran darah mukosa mempertahankan mukosa lambung melalui
oksigenasi jaringan yang memadai dan sebagai sumber energi. Dengan menurunnya aliran
darah, jaringan akan kekurangan oksigen dan mengalami hipoksia sehingga tidak bisa
mensekresikan mukus, ulkus jenis ini disebut ulkus iskemik. Selain itu fungsi aliran darah
mukosa adalahuntuk mengurangi ion H+dan menurunkan sekresi HCO3-.
Patogenesis Ulkus oleh Infeksi Helicobacter pylori

Setelah diingesti oleh manusia, H. pylori menyerang aktivitas bakterisida dari


lumen lambung dan memasuki lapisan mukosa. Pada tahap infeksi ini, produksi urease
dan motilitas bakteri sangat berperan penting, dimana urease akan menghidrolisis urea
menjadi karbon dioksida dan amonia sehingga menyebabkan H. pylori mampu bertahan
dalam lingkungan asam. Sedangkan motilitas bakteri penting untuk kolonisasi dan adanya
flagela memudahkan H. pylori bertahan pada relung lambung. H. pylori dapat berikatan
kuat pada sel epitel oleh keberadaan komponen permukaan bakterinya, terutama BabA
yang dianggap sebagai adhesin terkarakterisasi terbaik dan signifikan dalam keparahan
penyakit ulkus.

Mayoritas dari H. pylori mensekresi eksotoksin VacA. Toksin ini masuk ke dalam
membran sel epitel dan membentuk kanal selektif anion heksamerik yang sensitif voltase
sehingga bikarbonat dan anion-anion organik dapat dilepaskan dan kemungkinan
digunakan sebagai sumber nutrisi bakteri. VacA juga bertarget pada membran mitokondria
dan menyebabkan pelepasan sitokrom C dan menginduksi apoptosis pada sel epitel.

Infeksi H. pylorimenyebabkan inflamasi lambung secara kontinu. Respon


inflamasi umumnya terdiri atas pelepasan neutrofil, diikuti limfosit T dan B, sel plasma,
dan makrofag, serta kerusakan sel epitel. Respon hospes terhadap H. pyloridipicu oleh
pelekatan bakteri pada sel epitel. Senyawa patogen dapat berikatan pada molekul MHC II
pada permukaan sel epitel lambung dan memicu terjadinya apoptosis. Perubahan pada sel
epitel juga dapat disebabkan oleh protein yang dikode oleh CagA. Urease dan porin yang
diproduksi H. pyloridapat berkontribusi pada ekstravasasi dan kemotaksis dari neutrofil.
Epitel lambung pada pasien yang terinfeksi H. pylori memiliki kadar interleukin-1,
interleukin-2, interleukin-6, interleukin-8, dan TNF yang tinggi dengan interleukin-8
sebagai kemokin utama yang berperan mengaktivasi neutrofil dan dapat berakibat pada
aktivasi fagosit.

Infeksi H. pylori mennginduksi respon sistemik dan humoral mukosa. Produksi


antobodi ini tidak berdampak pada penghilangan infeksi namun dapat berakibat pada
kerusakan jaringan. Beberapa pasien terinfeksi H. pylori menunjukkan respon
autoantibodi terhadap H+/K+ATPase pada sel parietal lambung yang menyebabkan
peningkatan atropi pada korpus.

Selain oleh mekanisme di atas, infeksi H. pylori juga dapat menyebabkan


kerusakan epitel oleh beberapa mekanisme lain, diantaranya oleh oksigen reaktif atau
nitrogen yang diproduksi oleh neutrofil teraktivasi dan inflamasi kronis yang
menyebabkan pergantian sel epitel dan apoptosis. (Suerbaum & Michetti, 2002)

Gambar 2.3 Skema mekanisme infeksi Helicobacter pylori

Sekresi Asam Lambung Berlebih


Sekresi asam lambung berlebih dapat disebabkan oleh perilaku dari individu
tersebut. Umumnya, penggunaan nikotin, kafein dan alkohol berlebihan, dan juga kondisi
stress psikologis.

Pemakaian alkohol, kafein akan menginduksi sel parietal yang menghasilkan asam
lambung. Sel parietal merespon stimulasi berlebihan yang diakibatkan konsumsi kafein,
nikotin, dan alkohol. Hal ini mengakibatkan terjadinya sekresi asam lambung yang
berlebih. Sekresi asam lambung yang berlebih dapat menyebabkan erosi dinding mukosa
dari lambung. Jika hal ini terus berlanjut akan menyebabkan terjadinya ulkus pada dinding
lambung.

Jika seseorang memiliki kondisi psikologis yang berada dalam tekanan tinggi akan
menyebabkan adanya rangsangan kepada korteks adrenal untuk mengeluarkan kortisol.
Kortisol berfungsi sebagai penginduksi sel parietal untuk meningkatkan sekresi asam
lambung. Tingginya asam lambung akan meningkatkan risiko terjadinya ulkus peptikum.
Selain stress psikologis, stress jaringan seperti luka bakar, syok, sepsis berat, dan trauma
akan meningkatkan perluasan ulkus yang terjadi.

Peningkatan penyaluran asam menyebabkan ulkus duodenal

Ulkus duodenal adalah ulserasi pada mukosa duodenal yang disebabkan oleh
peningkatan jumlah asam hidroklorik dalam duodenum. Selain itu, perpindahan muatan
lambung yang terlalu cepat ke duodenum dapat memperberat kerja lapisan protective
mucus di duodenum. Hal ini terjadi pada iritasi lambung yang disebabkan oleh makanan
tertentu atau mikroorganisme, dan juga sekresi gastrin yang berlebihan atau distensi yang
abnormal. Beratnya kerja lapisan protective mucus di duodenum ini dapat menyebabkan
rusaknya lapisan mukosa tersebut, sehingga menyebabkan ulkus duodenal (Corwin, 2008).

Pergerakan muatan lambung yang cepat ke intestinal juga muncul pada kondisi
yang disebut dengan dumping syndrome. Dumping syndrome terjadi ketika kemampuan
lambung untuk menahan dan secara lambat melepaskan chime ke duodenum terganggu.
Salah satu penyebab dumping syndrome adalah pengambilan secara bedah suatu bagian
besar dari lambung. Dumping syndrome bukan hanya menyebabkan penyaluran asam
yang cepat ke intestinal, tetapi dapat juga menyebabkan hipotensi kardiovaskular.
Hipotensi muncul karena penghantaran berbagai partikel makanan ke lambung sekaligus
menghasilkan sejumlah besar air berpindah dari sirkulasi ke usus dengan osmosis
(Corwin, 2008).

Adapun gejala gejala umum ulkus antara lain rasa seperti ditusuk tusuk atau
rasa terbakar pada lambung tengah atau atas ketika sedang makan atau saat malam hari,
kembung, rasa terbakar pada jantung, berdebar debar, mual atau muntah. Pada kejadian
lebih lanjut, gejala yang dapat muncul berupa dahak berdarah atau menghitam, muntah
darah yang berbentuk seperti golongan kopi, berat badan yang menurun, sakit yang tidak
tertahankan pada perut bagian tengah atau atas.

2.3 Farmakologi

Terapi Non Farmakologis

Terapi dari tukak lambung terdiri dari dua yaitu terapi farmakologis dan terapi non
farmakologis. Tujuan umum diberikannya terapi adalah untuk mengurangi rasa sakit,
menyembuhkan tukak, mencegah tukak muncul kembali, dan mengurangi komplikasi
yang disebabkan tukak. Untuk Pasien positif infeksi Helicobacter Pylori terapi ditujukan
untuk menghilangkan organisme, menyembuhkan tukak, dan menyembuhkan penyakit
dengan kombinasi obat yang ekonomis. Terapi non farmakologis (tanpa menggunakan
obat) bagi penderita tukak lambung dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Istirahat yang cukup. Diusahakan pada malam hari dapat tidur 8 jam, dan pada
siang hari dapat beristirahat dengan berbaring atau duduk rileks selama 1 jam.

Makan secara teratur pada jam tertentu. Makan diatur tiga kali makan lengkap dan
tiga kali makanan ringan. Tiap tiga jam sekali lambung harus diisi dengan
makanan.

Menghindari makanan yang dapat menstimulasi produksi asam, seperti makanan


pedas, asam, alkohol dan kafein (kopi, teh, cola) dan berhenti merokok.

Makan dengan tenang, tidak terburu-buru dan dikunyah sampai lembut sehingga
dapat membantu meringankan kerja lambung.

Menghindari pemakaian obat yang dapat menimbulkan iritasi lambung misalnya


vitamin C, dan obat-obat golongan NSAID (ibuprofen, aspirin, meloxicam,
piroxicam dan sebagainya).

Mengurangi atau menghilangkan stres. Pola hidup harus tenang dengan


menjauhkan dari kesibukan, kegelisahan dan faktor-faktor stres lainnya.
Penderita yang tidak memberikan respon terhadap terapi medik atau mengalami
komplikasi lain seperti perforasi perdarahan atau obstruksi diobati secara
pembedahan.

Berhenti merokok

Mengurangi konsumsi alkohol

Terapi Farmakologis

Golongan antasida

Salah satu jenis obat-obat tukak peptik yang digunakan adalah Golongan Antasida, Zat
penghambat sekresi asam, dan zat pelindung mukosa(Anwar,2000;Dirjen POM, 2000 ;
Goodman dan Gilman ,2003; Ansel, 1989)

Fungsi antasida:

1. Menetralkan asam lambung

2. Menginaktifkan pepsin

3. Mengikat garam empedu

4. Antasid yang mengandung alumunium dapat meningkatkan pertahanan mukosa


dan menekan Helicobacter Pylori

Tabel 1. Komposisi dan Kapasitas Penetralan Berbagai Antasida


Efek Samping
Magnesium, alumunium diare
Alumunium konstipasi
Hypophosphatemia (pasien dengan kadar phospat rendah p)
Hypercalcemia lebih dari 20 g/ hari dengan fungsi ginjal normal
Alkalosis
Interaksi Obat

Tetrasiklin , warfarin, digoxin, quinidine, isoniazid, ketokonazol, fluoroquinolon

Dosis

Pada ulkus non komplikasi 1 dan 3 jam setelah makan atau pada saat tidur
setara 120 mEq kombinasi Mg-Al per dosis yang diharapkan dapat sama efektif
seperti obat antagonis reseptor H2 konvensional

Perhatian

Pada ulkus non komplikasi 1 dan 3 jam setelah makan atau pada saat tidur
setara 120 mEq kombinasi Mg-Al per dosis yang diharapkan dapat sama efektif
seperti obat antagonis reseptor H2 konvensional

Obat Penghambat Pompa Proton


Penekan sekresi asam lambung yang paling poten adalah obat-obat yang bekerja
dengan menghambat enzim lambung H+, K+-ATPase atau pompa proton. Terdapat lima
inhibitor pompa proton yang dapat digunakan dalam pengobatan yaitu omeprazol
(PRILOSEC, RAPINEX, ZEGERID) dan S-isomernya yakni esomeprazol, lansoprazol,
rabeprazol, dan pantoprazol (Brunton, L.L., Lazo, J.S., dan Parker K.L., 2006).
Inhibitor pompa proton merupakan prodrug yang membutuhkan aktivasi dalam
lingkungan asam. Setelah absorpsi ke dalam sirkulasi sitemik, prodrug berdifusi ke sel
parietal lambung dan berkumpul dalam kanalikuli asam sekretori. Disinilah prodrug
diaktivasi oleh formasi proton-terkatalisasi dari sulfenamida tetrasiklik, memerangkap
obat sehingga obat tidak dapat berdifusi kembali ke membran kanalikular. Bentuk
teraktivasi kemudian berikatan secara kovalen dengan golongan sulfidril sistein pada H+,
K+-ATPase, dan secara irreversibel menginaktivasi pompa molekul. Sekresi asam
berlanjut setelah pompa molekul disintesis dan dimasukkan ke dalam membran luminal,
menekan sekresi asam dengan durasi yang lebih panjang (sampai 24-48 jam) dibanding
waktu paruh plasma senyawa induk (0,5 sampai 2 jam). Inhibitor pompa propon
merupakan penekan asam yang efektif karena bekerja dengan memblok tahap akhir dari
produksi asam (Brunton, L.L., Lazo, J.S., dan Parker K.L., 2006).
PPIs umumnya merupakan obat pilihan untuk ulkus duodenal dan lambung, GERD
dengan esofagitis erosif, dan sindrom Zollinger-Ellison. Dosis obat-obat PPIs
diperhitungkan sesuai dengan tujuan pemakaian. Umumnya, obat PPIs menurunkan
aktivitas obat-obat yang kerja dan absorpsinya sangat dipengaruhi pH lambung. Beberapa
obat yang termasuk PPIs yang akan dibahas adalah omeprazol, lansoprazol, dan
pantoprazol.
Omeprazol
Omeprazol merupakan obat PPIs yang diindikasikan untuk pengobatan penyakit
ulkus duodenum, infeksi Heliobacter pylori, ulkus lambung, dan GERD
(gastroesophageal reflux disease). Omeprazol dapat meningkatkan kerja warfarin,
meningkatkan efek fenitoin, dan menghambat metabolisme diazepam. Dosis omeprazol
untuk ulkus duodenum adalah penggunaan per oral 20 mg sehari selama 4-8 minggu.
Sedangkan untuk ulkus lambung adalah 40 mg sehari selama 4-8 minggu. Omeprazol
tidak diperuntukkan untuk pasien dengan hipersensitif terhadap omeprazol.
Lansoprazol
Lansoprazol merupakan PPIs yang diindikasikan untuk pengobatan tukak atau
ulkus lambung, tukak duodenum, dan GERD. Interaksi obat yang terlaporkan terkait
lansoprazol antara lain; antasida dan sukralfat dapat menurunkan bioavailabilitas
lansoprazol sehingga penggunaan antasida dan sukralfat diberikan satu jam setelah
pemberian lansoprazol. Dosis untuk pengobatan tukak lambung yaitu 30 mg sehari pada
pagi selama 8 minggu, sedangkan untuk tukak duodenum yaitu 30 mg sehari pada pagi
selama 4 minggu atau 15 mg sehari untuk dosis pemeliharaan. Lansoprazol tidak
diperuntukkan untuk pasien dengan hipersensitivitas lansoprazol.
Pantoprazol
Pantoprazol diindikasikan sebagai pengobatan untuk terapi ulkus lambung akut
dan perawatan ulkus lambung dan duodenum. Pantoprazol yang merupakan PPIs dapat
mengganggu penyerapan obat-obat yang absorpsinya dipengaruhi pH lambung seperti
ketokonazole, ampisilin, dan zat besi. Dosis pantoprazol untuk ulkus duodenum adalah 40
mg sehari selama 2 minggu, sedangkan untuk ulkus lambung 40 mg sehari selama 4
minggu. Pantoprazol tidak diperuntukkan untuk ibu hamil dan menyusui karena dapat
melewati ASI serta tidak dapat digunakan untuk pasien dibawah 5 tahun.

Analog Prostaglandin: Misoprostol


Prostaglandin E2 (PGE2) dan prostasiklin (PGI2) merupakan prostaglandin mayor
yang disintesis oleh mukosa lambung. PGE2 dan PGI2 berikatan dengan reseptor EP3
pada sel parietal dan menstimulasi jalur Gi, menurunkan siklus AMP intraselular dan
sekresi asam lambung. PGE2 juga mencegah luka lambung dengan efek sitoprotektif yang
meliputi stimulasi mucin dan sekresi bikarbonat dan meningkatkan aliran darah mukosal.
Obat-obat AINS dapat mengurangi pembentukan prostaglandin dengan
menghambat siklooksigenase. Dalam hal ini, analog prostaglandin sintetis dapat
mengurangi kerusakan mukosa yang diinduksi oleh obat-obat AINS.
Misoprostol (1,5-deoksi-16-hidroksi-16-metil-PGE1) merupakan analog sintesis
dari prostaglandin E1. Modifikasi strukturalnya meliputi tambahan golongan metil ester
pada C1 yang meningkatkan potensi dan durasi dari efek antisekretori, dan transfer
golongan hidroksil dari C15 ke C16 dan tambahan golongan metil meningkatkan
bioaktivitas oral, durasi aksi antisekretori, dan keamanan (Brunton, L.L., Lazo, J.S., dan
Parker K.L., 2006).
Misoprostol digunakan untuk mengurangi resiko ulkus lambung terutama pada
pasien yang mengkonsumsi obat-obat AINS. Efektivitas misoprostol diturunkan oleh Al
karbonat (basa), Al hidroksida, Al fosfat, magaldrat, Mg karbonat, Mg hidroksida, Mg
oksida, Mg trisilikat. Misoprostol akan meningkatkan kejadian nyeri lambung dan diare
jika diberikan bersama diklofenak dan indometasin. Sebagai profilaksis ulkus terinduksi
obat-obat AINS, misoprostol diberikan 200 mcg per 6 jam bersama makanan dan dapat
dikurangi hingga 100 mcg jika dosis tinggi tidak dapat ditoleransi. Hampir sama seperti
obat-obat PPIs, efek samping misoprostol diantaranya yaitu diare dan sakit perut.
Misoprostol dikontraindikasikan untuk ibu hamil dan menyusui, alergi misoprostol atau
prostaglandin.

Sukralfat
Sukralfat merupakan polisakarida tersulfasi yang mengandung oktasulfat sukrosa
dengan penambahan Al(OH)3. Pada suasana asam (pH <4), Sukralfat mengalami
memproduksi polimer yang kental dan lengket, yang menempel pada sel epitelial dan
lubang ulkus selama 6 jam setelah pemberian dosis tunggal. Sukralfat bekerja dengan
menghambat proses erosi mukosa dan ulserasi akibat hidrolisis protein mukosal termediasi
pepsin sehingga dapat melindungi mukosa dari serangan pepsin asam. Selain itu sukralfat
mempunyai efek sitoprotektif dan juga efek stimulasi produksi lokal prostaglandin dan
faktor pertumbuhan epidermal (Brunton, L.L., Lazo, J.S., dan Parker K.L., 2006).
Sukralfat dapat menurunkan absorbsi siprofloksasin, norfloksasin, tetrasiklin,
fenitoin, ketokonazol, dan tiroksin. Sukralfat diberikan untuk pengobatan ulkus duodenum
dengan dosis 1 gram per 6 jam atau 1 gram per 12 jam untuk dosis pemeliharaan.
Sedangkan untuk profilaksis ulkus stres, dapat diberikan 1 gram per 8 jam selama 4-8
minggu, diminum saat perut kosong atau 1 jam sebelum atau 2 jam setelah makan. Efek
samping yang paling umum terjadi adalah konstipasi (sekitar 2%) (Brunton, L.L., Lazo,
J.S., dan Parker K.L., 2006).

ANTAGONIS RESEPTOR H2 (H2RA)


Antagonis reseptor H2 diindikasikan untuk mencegah dan menginduksi penyembuhan
ulkus lambung dan duodenum, serta untuk mengobati ulkus yang diinduksi oleh golongan
NSAID. H2RA dapat menghambat sekresi asam pada malam hari dan sekresi yang
dirangsang oleh makanan, insulin, kafein, pentagastrin, dan betazole, serta mampu
menekan sekresi asam lambung 24 jam sekitar 70%. Namun, H2RA kurang poten dari
pada golongan penghambat pompa proton bila digunakan pada pasien dengan ulkus yang
sudah parah (Goodman & Gilman, 2006).

Gambar 1. Mekanisme Kerja Antagonis Reseptor H2.


(Sumber: Lullmann, H., Mohr, K., et al. (2000). Color Atlas of Pharmacology. ed. 2.
New York: Thieme.)
Ada 3 zat yang dapat meningkatkan sekresi asam lambung, yaitu asetilkolin, hormon
gastrin, dan histamin. Asetilkolin merupakan neurotransmiter yang dihasilkan dari saraf
vagus. Asetilkolin ini selanjutnya berikatan di reseptor M1 pada ECL (enterochromaffin-
like) sel. Hormon gastrin juga berikatan pada ECL sel. Adanya asetilkolin dan hormon
gastrin ini menginduksi ECL sel untuk melepaskan histamin ke sel parietal. Di sel parietal,
histamin berikatan dengan reseptor H2 dan menginduksi pelepasan ion H+ dari sel parietal
ke lambung, sehingga asam lambung pun meningkat. H2RA bekerja secara kompetisi
dengan histamin untuk berikatan dengan reseptor H2 pada sel parietal, agar histamin tidak
dapat berikatan dengan reseptor H2 dan ion H+ tidak dapat dilepaskan ke lambung
(Lullman, et al., 2000).
Obat-obat yang termasuk golongan H2RA, yaitu cimetidine, famotidine, nizatidine,
dan ranitidine (Goodman & Gilman, 2006).
Gambar 2. Rumus Bangun Obat-obat Golongan H2RA.
(Sumber: Goodman & Gilman. (2006). The Pharmacological Basis of
Therapeutics. ed. 11. USA: The McGraw-Hill.
H2RA diabsorpsi cepat setelah pemberian per oral, konsentrasi plasma puncak antara
1-3 jam, dan absorpsi meningkat dengan makanan tetapi menurun dengan antasida.
Didistribusikan hanya sedikit yang berikatan dengan protein plasma. Kurang dari 10-35%
yang dimetabolisme di hati. H2RA diekskresikan melalui ginjal, dosis harus dikurangi
untuk pasien yang memiliki penurunan klirens kreatinin (Kluwer, 2007).

Gambar 3. Farmakokinetik Obat-obat Golongan H2RA.


(Sumber: Dipiro, Joseph T. dkk. (2009). Pharmacotherapy Handbook. ed. 7. USA:
The McGraw-Hill.)
Gambar 4. Dosis Obat-obat Golongan H2RA.
(Sumber: Dipiro, Joseph T. dkk. (2009). Pharmacotherapy Handbook. ed. 7. USA:
The McGraw-Hill.)
Efek samping yang ditimbulkan meliputi diare, sakit kepala, kelelahan, nyeri otot, dan
konstipasi (Linn, et al., 2009).
Cimetidine dosis tinggi dalam jangka panjang dapat menurunkan ikatan testosteron
dengan reseptor androgen dan menghambat hidroksilasi estradiol menyebabkan
galactorrhea pada wanita, gynecomastia (pembesaran payudara pada pria) dan impotensi.
Efek reversibel pada SSP berupa halusinasi, depresi, kecemasan akibat cimetidine
terutama pada pasien sakit parah atau berusia lanjut >50 tahun. Cimetidine mengurangi
metabolisme hepatik obat lain via jalur sitokrom P450 sehingga mengurangi eliminasi dan
meningkatkan konsentrasi plasma obat-obat lain tersebut. Contoh: karbamazepin,
benzodiazepin, lidokain, Ca2+ channel blocker, dan theofilin (Linn, et al., 2009).
Dapat terjadi cedera hepatoseluler oleh nizatidine karena terjadi peningkatan enzim
hati (AST, ALT, atau alkali fosfatase). Hepatitis dan ikterus terjadi dengan ranitidine.
Ranitidine, famotidine, dan nizatidine tidak menghambat sitokrom P450 yang terkait
dengan sistem enzim oksigenase dalam hati (Linn, et al., 2009).
Obat golongan H2RA ini perlu perhatian khusus pada:
Hipersensitivitas seperti bronkospasme, edema laring, ruam
Pasien dengan gangguan fungsi ginjal
Pasien dengan gangguan fungsi hati
Lansia
Ibu hamil (kategori B) dan menyusui
Penggunaan tidak dianjurkan pada anak < 12 tahun karena masih terlalu sensitif
terhadap efek samping yang ditimbulkan, terutama pada hati.

BISMUTH SUBSALISILAT (BSS)


Bismuth bertindak sebagai antibakteri untuk membasmi H. pylori, subsalisilat
bertindak sebagai antisekretori. Memiliki efek topikal yaitu BSS mengikat ke dasar ulkus,
membatasi sekresi dalam saluran pencernaan, mengurangi peradangan pada lambung dan
usus (Drugs.com, 2015).

Gambar 5. Struktur Bismuth Subsalisilat.


BSS diabsorpsi cepat melalui pemberian per oral dan diekskresi melalui ginjal dalam
bentuk utuh sebanyak 90% (Drugs.com, 2015).
Dosis yang dianjurkan (Drugs.com, 2015):
Dewasa 2 tablet atau 30 mL
Anak 9-12 tahun 1 tablet atau 15 mL
Anak 6-9 tahun 2/3 tablet atau 10 mL
Anak 3-6 tahun 1/3 tablet atau 5 mL
Anak < 3 tahun tanya dokter
Ulangi dosis setiap 30 menit-1 jam, jika diperlukan, hingga 8 dosis dalam 24 jam.
Efek samping yang ditimbulkan berupa kecemasan, kebingungan, diare, konstipasi,
pusing, berkeringat, kelemahan otot, gangguan penglihatan dan pendengaran, serta nyeri
perut (Drugs.com, 2015).
Dapat terjadi interaksi obat antara BSS dengan obat lain, seperti (Drugs.com, 2015):
Insulin, metotrexat, atau asam valproat aksi dan efek sampingnya ditingkatkan oleh
BSS
ACE Inhibitor atau sulfinpirazon efeknya menurun karena BSS
Antikoagulan (contoh: warfarin) risiko pendarahan ditingkatkan oleh BSS
Salisilat (contoh: aspirin) efek samping dan toksisitas ditingkatkan oleh BSS
Mengganggu pemeriksaan radiologis dari saluran pencernaan karena bismuth bersifat
radiopaque.
BSS dapat diekskresikan melalui ASI, sehingga perlu perhatian khusus bagi ibu hamil
dan menyusui. Penggunaan pada anak-anak juga perlu perhatian khusus karena anak-anak
sensitif terhadap efek sampingnya. BSS dikontraindikasikan untuk anak-anak dan remaja
yang terinfeksi virus (Drugs.com, 2015).
Antimikroba

Obat pembasmi mikroba khususnya mikroba yang merugikan ( patogen ). Obat yang
digunakan untuk membunuh mikroba dan penyebab infeksi pada manusia harus memiliki
sifat toksisitas yang sangat tinggi pada mikroba.

Mekanisme kerja antimikroba dalam menghambat pertumbuhan/membunh mikroba


yaitu dengan:
1. Inhibitor sintesis dinding sel
2. Menghlangkan permeabilitas selektifnya
3. Menghambat replikasi atau transkripsi DNA/RNA
4. Inhibitor sinteseis protein pada 30s dan 50s
5. Menghambat proses metabolisme
Selain itu, antimikroba juga terbagi menjadi bakteriostatik(menghambat aktivitas)
dan bakterisid( mematikan mikroba)

Pada gambar di atas tertulis bahwa yang sering digunakan pada pengobatan adalah
klaritomisin, tetrasiklin dan amoxicilin. Akan tetapi , antimikroba ini digunakan
karena efek resistent dari antimikroba itu sendiri sehingga kurang aman.
Contoh antimikroba:
Tetrasiklin

Indikasi : infeksi Gram positif dan negatif


Mekanisme Kerja : hambat sintesis protein dengan berikatan pada ribosomal
subunit 30S sehingga menghambat ikatan aminoasil-tRNA ke sisi A pada
kompleks ribosomal
Kontra indikasi : ibu hamil dan menyusui, gangguan fungsi ginjal (akan sebabkan
eksaserbasi penyakit ginjal), gangguan fungsi hati
Efek samping :
- Pada pemberian lama atau berulang-ulang, terjadi superinfeksi bakteri atau jamur
seperti: enterokolitis dan kandidiasis.
- Gangguan gastrointestinal seperti: anoreksia, pyrosis, vomiting, flatulen dan
diare.
- Reaksi hipersensitif seperti: urtikaria, edema, angioneurotik, atau anafilaksis.
- Jarang terjadi seperti: anemia hemolitik, trombositopenia,neutropenia dan
eosinophilia.
Dosis : Dewasa: 4 kali sehari 250 mg - 500 mg
Anak-anak : sehari 25 - 50 mg/kg b/b dibagi dalam 4 dosis, maksimum
1g. Diberikan 1 jam sebelum atau 2 jam setelah makan

2.4 FARMAKOTERAPI

1. Tujuan Pengobatan

Tujuan dari pengobatan ulkus adalah mengobati rasa sakit karena ulkus,
menyembuhkan ulkus, mencegah terjadinya kembali ulkus, dan mengurangi komplikasi
yang disebabkan ulkus.

Pengobatan dari ulkus bervariasi, disesuaikan dengan etiologi dari ulkus itu sendiri
(HP atau AINS)

2. Diagnosis Ulkus Peptikum

Ulkus peptikum memiliki gejala yang tidak spesifik, sehigga terkadang sulit
dibedakan dari penyakit pencernaan lainnya. Gejala dari ulkus peptikum dapat berupa
rasa tidak nyaman dan sakit padai bagian perut, dan mual.
Pasien biasanya menjelaskan gejalanya seperti rasa terbakar atau menggigit pada
bagian perut, atau ketika lapar akan perlahan terasa sakit 1-2 jam yang kemudian akan
perlahan menghilang. Penggunaan antasid akan melegakan gejala. Pasien dengan
ulkus pada lambung biasanya akan merasa sakit dengan adanya makanan, sementara
pasien dengan ulkus duodenal akan merasa lega dari gejala dengan adanya makanan.
Hal ini menyebabkan pasien dengan ulkus lambung biasanya mengalami penurunan
berat badan sementara pasien dengan ulkus duodenal tidak.
Untuk menentukan penyakit ulkus dengan tepat, biasanya dilakukan diagnosis
lebih lanjut seperti test radiologi, test laboratorium dan endoskopi.

2.1. Diagnosis Radiologi

Diagnosis secara radiologi dengan cara meminum larutan barium dan malakukan
x-ray. Larutan barium akan terlihat pada hasil x-ray, hal ini akan memperlihatkan
bentuk dari lambung dan duodenum pasien. Dari hasil x-ray bisa terlihat bentuk dari
ulkus baik pada lambung maupun duodenum. Meskipun cara ini lebih tidak invasive
dari endoskopi, tapi cara ini lebih tidak sensitive dan akurat untuk mendiagnosis,
teruama untuk pasien yang mengalami perubahan anatomi karena operasi sebelumnya
atau karena adanya luka karna inflamasi kronik, karena itu lebih akurat jika
menggunakan endoskopi.
2.2. Tes Laboratorium

Salah satu test laboratorium adalah test untuk menentukan apakah ada infeksi dari
Helicobacter pylori dengan cara test nafas urea (Urea Breath Test) karena H. pylori
memproduksi enzim urease dengan jumlah yang cukup banyak.

Pasien akan meminum larutan yang mengandung 13C- atau 14C-labeled urea dan
kemudian akan
menghembuskan nafas
untuk dicek isotope-
labeled CO2 yang
dilepaskan oleh
aktivitas urease dari
intragastrik H, pylori.
Test hanya perlu
waktu 29 menit, dan
sangat sensitive dan
spesifik.

Selain test nafas urea bisa juga dilakukan test serologi, dengan cara menghitung
level dari IgG dan IgA dengan test ELISA (Eznyme-linked immunosorbent assay) atau
dengan test antigen dari feses.

2.3. Diagnosa Endoksopik

Endoskopi gastroinstestinal dapat memperlihatkan kondisi dalam lambung dan


sekitar 50% dari usus halus, termasuk jejeum dan sedikit ileum. Sebelum dilakukan
endoskopi, pasien harus diberikan obat yang dapat mencegah reflek muntah ketika
endoskopi dimasukan melalui mulut. Analgesik dan sedative dapat diadministrasikan juga
sebelum dilakukannya endoskopi. Pasien kemudian dibaringkan menghadap kiri seperti
pada gambar.

Endoskop kemudian dimasukan melalui mulut dan faring ke esophagus untuk


kemudian menuju lambung dan duodenum. Endoskopi ini memiliki kamera pada ujungnya
sehingga dapat memberikan video yang akan ditampilkan pada layar didekat kita. Selain
kamera, pada ujung endoskopi ada juga saluran udara yang berguna untuk
menghembuskan udara kedalam lambung agar lambung dapat mengembang dan membuka
lipatan-lipatannya, sehingga pemeriksaan bisa lebih akurat dan menyeluruh. Ujung
endokop juga disertai sumber cahaya untuk memberikan penerangan pada bagian dalam
organ.

Esophagogastroduodenoscopy (EGD) merupakan metode paling akurat dalam


menegakan diagnosis penyakit ulkus peptikum. EGD dapat mengidentifikasi adanya
ulkus, beserta lokasi dan ukurannya.

Endoskopi juga dapat dilengkapi dengan alat untuk mengambil biopsi jaringan
lambung. Dari jaringan lambung ini juga dapat diteliti keberadaan H.pylori pada lambung
degnan test histologi.
3. Terapi Nonfarmakologi

Terapi dari tukak lambung terdiri dari dua yaitu terapi farmakologis dan terapi non
farmakologis.

1. Menghindari faktor-faktor lingkungan yang dapat menyebabkan ulkus


Menghilangkan atau mengurangi tekanan psikologi (Psychological stress) dengan
cara menghilangkan kesibukan, kegelisahan dan faktor stress lainnya
Makan secara teratur pada jam tertentu. Makan diatur tiga kali makan lengkap dan
tiga kali makanan ringan. Setiap tiga jam sekali lambung harus diisi dengan
makanan.
Makan dengan tenang, tidak terburu-buru dan dikunyah sampai lembut sehingga
dapat membantu meringankan kerja lambung.
Menghindari makanan yang dapat menstimulasi produksi asam, seperti makanan
pedas, asam, alkohol dan kafein (kopi, teh, cola)
Berhenti merokok. Nikotin dapat menstimulasi naiknya sekresi asam lambung
Berhenti atau mengurangi penggunaan obat-obatan AINS (termasuk aspirin)
Menghindari makanan yang dapat menyebabkan dyspepsia atau yang dapat
memperparah gejala ulkus seperti

2. Operasi
Untuk terapi ulkus peptikum, penggunaan PPI sudah efektif sehingga tidak perlu
dilakukan pembedahan. Pembedahan hanya ditujukan kepada pasien yang tidak dapat
mengonsumsi obat, pasien dengan obat-obatan yang tidak memberikan efek pada
mereka, dan pasien yang menderita komplikasi mayor. Contohnya adalah jika ulkus
yang diderita menyebabkan penghambatan lambung atau duodenum sehingga
menghambat terjadinya pencernaan yang normal atau jika lambung/duodenum
mengalami perforasi (berlubang). Pembedahan
sekarang sudah sangat jarang dilakukan.
Pembedahan dilakukan sebagai pilihan terakhir.
Pembedahan mungkin dilakukan apabila benar-
benar dibutuhkan untuk memperbaiki
permasalahan sebagai berikut

Perforasi ulkus .
Jika ulkus terus berkembang, maka dapat menyebabkan terbentuknya lubang pada
lambung atau dinding usus, yang disebut perforasi ulkus. Pembedahan untuk perforasi
ulkus biasanya diatasi dengan jahitan pada lubang.

Pendarahan ulkus
Pendarahan ulkus biasanya diatasi dengan laser pada saat endoskopi. Jika laser
tersebut tidak efektif untuk mengontrol pendarahan, maka gastrektomi parsial dapat
dilakukan dengan mengambil bagian dari lambung.

Asam lambung yang tidak terkontrol


Kadangkala, ulkus tidak sembuh dengan terapi-terapi yang sudah diupayakan.
Merupakan kejadian yang sangat jarang, obat-obatan yang diberikan tidak dapat
mengontrol asam lambung yang menyulitkan penyembuhan ulkus, sehingga
pembedahan menjadi pilihan untuk manajemen asam lambung
Gambar 1. Perforasi ulkus
o Gastrektomi parsial : untuk mengontrol tingkat asam lambung, maka
dilakukan pengambilan sebagian lambung yang menstimulasi pelepasan
asam untuk menjaga tingkat asam lambung yang rendah.
o Vagotomi : secara selektif memotong saraf vagus atau cabang yang lebih
kecil yang menstimulasi produksi asam.
o Piloroplasti : vagotomi dapat dilakukan dengan mengombinasikannya
dengan piloroplasti, pembedahan yang melebarkan bagian bawah lambung.
Pembedahan-pembedahan ini dilakukan untuk pengosongan lambung yang
terhambat karena adanya ulkus jaringan parut atau inflamasi.

Gambar 2. Selektif vagotomi


Gambar 1. Gastrektomi parsial dan dengan
vagotomi trunkal untuk ulkus duodenal dg
Billroth I

Gambar 3. Piloroplasti dan vagotomi


trunkal
Untuk ulkus tipe I, II, dan III gastrektomi parsial yang paling umum
dilakukan, dan kontinuitas gastrointestinal dipulihkan ke salah satu duodenum
proksimal ( rekonstruksi Billroth I), loop jejunum proksimal (rekontruksi
Billroth II), atau anggota tubuh yang ditrasnformasikan dari jejunum yang
diisolasi dari sekresi biliopankreatik (rekonstruksi Roux-en-Y).
Untuk ulkus tipe IV kemungkinan memerlukan gastrektomi total dengan
rekonstruksi Roux-en-Y

Tabel 1. Klasifikasi Johnson untuk ulkus lambung

Gambar 4. Pembedahan pada lambung

Pembedahan lambung ini dapat menyebabkan hilangnya refleks akomodasi


yang meningkatkan gradient tekanan dari lambung ke usus halus, tidak adanya
keseimbangan di antrum dan pylorus, dan pengosongan lambung ke usus halus
tidak lagi dihambat. Ketiga hal tersebut dapat memicu terjadinya pengosongan
lambung yang terlalu cepat. Dimana konsekuensi pengosongan lambung yang
terlalu cepat ini adalah dumping syndrome (Silbernagl & Lang, 2000).

3. Terapi Endoskopik
Endoskopik merupakan terapi yang paling disukai baik untuk diagnosis maupun
terapi pengobatan karena sangat akurat dan rendah komplikasinya. Terapi ini
dilakukan dengan banyak cara, dengan memasangkan alat yang diingkan pada
instrument port pada endoksop. Beberapa metode yang dapat digunakan pada terapi
endoskopik adalah;
1. Thermally Active Methods
2. Electrocoagulation
3. Heater Probe
4. Injection Therapy
5. Mechanical Therapyx`

4. Terapi Radiologi
Terapi ini dilakukan dengan cara memberikan material-material yang akan
menyebabkan emboli seperti absorbable gelatin sponge, tissue adhesice atau agen
oklusi lainnya yang dapat dimasukan melalui katater ke area pendarahan pada GI
untuk menghentikan pendarahan tersebut.
4. Terapi Farmakologi

Seperti yang sebelumnya telah disebutkan, bahwa pengobatan ulkus bervariasi


tergantung dari etiologi ulkus itu sendiri. Namun secara garis besar, mengobatan baik
secara farmakologi dan nonfarmakologi bertujuan untuk;

1. Mengurangi keasaman asam lambung dengan menginhibisi atau menetralisasi


sekresi asam
2. Melapisi ulkus untuk mencegah asam dan pepsin mempenetrasi dasar ulkus
3. Menyediakan analog prostaglandin
4. Menghilangkan faktor-faktor lingkungan seperti obat-obat AINS dan merokok
5. Mengurangi stress emosional
Dibawah ini merupakan algoritma lengkap mengenai pemilihan obat untuk
penyembuhan ulkus;
Setelah memilih obat menggunakan alur alogaritme diatas, dapat dilihat obat dan
dosisnya pada tabel dibawah ini;

1. Obat dan dosis obat ulkus karena Helicobacter Pylori


Regiman Proton pump inhibitor-based three-drug merupakan kombinasi dari satu
obat PPI dan dua obat antibiotik. Obat ini merupakan terapi lini pertama untuk
pembasmian Helicobacter pylori. Obat ini dimakan 15 sampai 30 menit sebelum makan.
Untuk lama terapi, ada kontroversi antara 7 hari dan 10-14 hari. Pengobatan 14 hari lebih
efektif dalam membasmi Helicobacter pylori, namun menyebabkan lebih tingginya
resistensi antimikroba.

Ketika percobaan pengobatan pertama gagal, maka pengobatannya akan lebih sulit
karna laju pengeliminasiannya akan memiliki variable yang luas. Biasanya
penanganannya akan berbasis case-by-case. Pengobatannya biasanya dengan
menggunakan antibiotik yang sebelumnya tidak digunakan pada terapi awal, antibiotik
yang tidak memiliki masalah resistensi, dan obat yang memiliki efek topical seperti
bismuth. Durasi pengobatan juga perlu diperpanjang menjadi 10-14 hari. Pengobatan lini
kedua jika lini pertama gagal adalah dengan menggunakan bismuth-based four-drug
regimens, yaitu pengobatan dengan satu obat PPI, bismuth subsalicylate dan dua
antibiotik lainnya.

Gagalnya pembasmian Helicobacter pylori bisa disebabkan oleh beberapa faktor


yaitu: ketaatan pasien yang buruk, organismenya resisten terhadap obat, pH intragastrik
yang rendah, dan tingginya jumlah bakteri.

2. Obat dan dosis obat untuk terapi dan pemeliharaan untuk ulkus karena induksi
AINS
Penggunaan AINS yang tidak selektif harus dihentikan (jika memungkinkan) jika
telah dikonfirmasi adanya ulkus. Jika AINS dihentikan, kebanyakan ulkus tanpa
komplikasi akan sembung dengan pengobatan standar dengan H2RA (H2-receptor
antagonist), PPI (Proton Pump Inhibitor), or sucralfate. Penggunaan obat PPI biasanya
lebih disukai karena PPI dapat mengobati ulkus lebih cepat dibandingkan dengan H2RA
dan sukralfat.

Jika pengobatan dengan obat AINS harus tetap dilanjutkan meskipun


menyebabkan terjadinya ulkus, maka harus dipertimbangkan penurunan dosis obat AINS
atau penggantian obat AINS dengan obat AINS yang parisal selektif atau selektif COX-2
Inhibitor. Pada keadaan obat AINS tetap diteruskan, biasanya obat yang digunakan adalah
PPI, karena perlu supressi asam yang poten untuk mempercepat penyembuhan ulkus.
Pengobatan dengan H2RA kurang efekif dan sulfakrat tidak efektif jika pengobatan
dengan AINS tetap dilanjutkan.

3. Obat untuk pengobatan SRMB (Stress Related Mucosal Bleeding)


Pilihan terapetik untuk pencegahan SRMB dapat berupa antacid, obat antisekretori
(H2RA dan PPI), sukralfat dan mucosal protectant (Misoprostol, prostaglandin E1 sintetis,
menginhibisi sekresi asam dan meningkatkan pertahanan mukosa).
Penggunaan obat H2RA seperti pemberian intravena ranitidine lebih disukai untuk
profilaksis SRMB, tetapi pemberian oral sulfakrat juga dapat mencegah terjadinya SRMB.
PPI lebih baik digunakan sebagai alternative dari H2RA dan sulfakrat, karena
keefektifannya hanya baru sedikit studi yang membuktikan keefektifannya. Jika pasien
sudah membaik terapi profilaksis ini bisa dihentikan.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Tukak adalah kerusakan atau pembentukan tukak di saluran pencernaan bagian


bawah akibat terjadinya erosi yang diawali dari lapisan mukosa hingga merusak lapisan
dinding lainnya. Terapi pada ulkus meliputi terapi farmakologi dan non farmakologi, pada
terapi non farmakologi dapat dilakukan pembedahan, memperbaiki gaya hidup,
endoskopi, dan radiologi sementara pada terapi farmakologi dapat dlakukan dengan
pemilihan algoritma pemilihan obat yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Dipiro, Joseph T. dkk. (2009). Pharmacotherapy Handbook. ed. 7. USA: The McGraw-
Hill.
Drugs.com. Bismuth Subsalicylate. Retrieved 12 November 2015, from
http://www.drugs.com/cdi/bismuth-subsalicylate.html.
Goodman & Gilman. (2006). The Pharmacological Basis of Therapeutics. ed. 11. USA:
The McGraw-Hill.
Kluwer, Wolters. (2007). Drug Fact and Comparison. ed. 11.
Linn, D.W., Wofford, M.R., et al. (2009). Pharmacotherapy in Primary Care.
USA:McGraw-Hill.
Lullmann, H., Mohr, K., et al. (2000). Color Atlas of Pharmacology. ed. 2. New York:
Thieme.
Karpa, K. (2003). Bacteria for breakfast: Probiotics for Good Health. Victoria, B.C.:
Trafford.
Ouwehand, A., & Vaughan, E. (2006). Gastrointestinal microbiology. New York: Taylor
& Francis.
Sherwood, Lauralee. (2010). Human physilogy: fromcell tosystems 7th ed.USA:
Books/Cole Cengage Learning.
Wilson, M., Henderson, B., & McNab, R. (2002). Bacterial disease mechanisms.
Cambridge: Cambridge University Press.

Corwin, E. (2008). Handbook of Pathophysiology (3rd ed.). Lippincott Williams &


Wilkins.

Silbernagl, S., & Lang, F. (2000). Color Atlas of Pathophysiology. New York: Thieme.

Suerbaum, S., & Michetti, P. (2002). Helicobacter Pylori Infection. N Engl J Med,
347(15), 1175-1186.

Lawrence, P., Bell, R., & Dayton, M. (2012). Essentials of General Surgery. Lippincott
Williams & Wilkins.
Roses, R. (2009). Gowned and Gloved Surgery : Introduction to Common Procedures.
Elsevier Health Sciences.

Vann, M. (2009). When Ulcer Surgery Is Required. EverydayHealth.com. Retrieved 16


November 2015, from http://www.everydayhealth.com/ulcer/surgery-for-ul
cers.aspx

DiPiro, J. T., (2005). Pharmacotherapy in Pathofisiologic Approach. Amerika Serikat:


The McGraw-Hill

Gi.jhsps.org,. Peptic Ulcer Disease: Therapy. Retrieved 18 November 2015, from


https://gi.jhsps.org/GDL_Disease.aspx?CurrentUDV=31&GDL_Cat_ID=AF793A59
-B736-42CB-9E1F-E79D2B9FC358&GDL_Disease_ID=80ad1118-6659-4b04-
b560-71b95e3b7fa9

Gi.jhsps.org,. Peptic Ulcer Disease: Diagnosis. Retrieved 18 November 2015, from


https://gi.jhsps.org/GDL_Disease.aspx?CurrentUDV=31&GDL_Cat_ID=AF793A59
-B736-42CB-9E1F-E79D2B9FC358&GDL_Disease_ID=80ad1118-6659-4b04-
b560-71b95e3b7fa9