Anda di halaman 1dari 10

PEMIKIRAN ISLAM

MAKALAH AL-JABARIYAH

Disisin Untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Pemikiran Islam
Semester 3

PEMBIMBING :
Ust. Idris

Penyusun :
Irfan
Sofyan Rumaf
M. Habibbullah
M. Rizal

KOMUNIKASI PENYIAR ISLAM


STAIL LUQMAN AL-HAKIM SURABAYA
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Persoalan Iman (aqidah) agaknya merupakan aspek utama dalam ajaran
Islam yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad. Pentingnnya masalah aqidah ini
dalam ajaran Islam tampak jelas pada misi pertama dakwah Nabi ketika berada di
Mekkah. Pada periode Mekkah ini, persoalan aqidah memperoleh perhatian yang
cukup kuat dibanding persoalan syariat, sehingga tema sentral dari ayat-ayat al-
Quran yang turun selama periode ini adalah ayat-ayat yang menyerukan kepada
masalah keimanan.
Berbicara masalah aliran pemikiran dalam Islam berarti berbicara tentang
Ilmu Kalam. Kalam secara harfiah berarti kata-kata. Kaum teolog Islam berdebat
dengan kata-kata dalam mempertahankan pendapat dan pemikirannya sehingga
teolog disebut sebagai mutakallim yaitu ahli debat yang pintar mengolah kata. Ilmu
kalam juga diartikan sebagai teologi Islam atau ushuluddin, ilmu yang membahas
ajaran-ajaran dasar dari agama. Mempelajari teologi akan memberi seseorang
keyakinan yang mendasar dan tidak mudah digoyahkan. Munculnya perbedaan
antara umat Islam. Perbedaan yang pertama muncul dalam Islam bukanlah masalah
teologi melainkan di bidang politik. Akan tetapi perselisihan politik ini, seiring dengan
perjalanan waktu, meningkat menjadi persoalan teologi.
Perbedaan teologis di kalangan umat Islam sejak awal memang dapat
mengemuka dalam bentuk praktis maupun teoritis. Secara teoritis, perbedaan itu
demikian tampak melalui perdebatan aliran-aliran kalam yang muncul tentang
berbagai persoalan. Tetapi patut dicatat bahwa perbedaan yang ada umumnya
masih sebatas pada aspek filosofis diluar persoalan keesaan Allah, keimanan
kepada para rasul, para malaikat, hari akhir dan berbagai ajaran nabi yang tidak
mungkin lagi ada peluang untuk memperdebatkannya. Misalnya tentang kekuasaan
Allah dan kehendak manusia, kedudukan wahyu dan akal, keadilan Tuhan.
Perbedaan itu kemudian memunculkan berbagai macam aliran,
yaitu Mu'tazilah, Syiah, Khawarij, Jabariyah dan Qadariyah serta aliran-aliran
lainnya.
Makalah ini akan mencoba menjelaskan aliran Jabariyah Dalam makalah ini
penulis hanya menjelaskan secara singkat dan umum tentang aliran Jabariyah .
Mencakup di dalamnya adalah latar belakang lahirnya sebuah aliran dan ajaran-
ajarannya secara umum.
1.2. PERMASALAHAN
Dalam makalah ini penulis mengambil masalah tentang:
Apa Pengertian al jabariyah?
Apa yang melatar belakangi munculnya aljabariyah?
Siapa Tokoh-tokoh al jabariyah?
Sakte-sakte dalam aljabariyah?
Apa saja Pokok-pokok pemikiran al jabariyah?
1.3. TUJUAN

Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui:


Pengertian al jabariyah
lalatar belakang munculnya aljabariyah
Tokoh-tokoh al jabariyah
Sakte-sakte dalam aljabariyah
saja Pokok-pokok pemikiran al jabariyah
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.PENGERTIAN AL JABARIYAH
Nama Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa, sedangkan
menurut al-Syahrafani bahwa Jabariyah berarti menghilangkan perbuatan dari hamba secara
hakikat dan menyandarkan perbuatan tersebut kepada Allah SWT. Oleh karena itu, aliran
Jabariyah ini menganut paham bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam
menentukan kehendak dan perbuatannya. Manusia dalam paham ini betul melakukan
perbuatan, tetapi perbuatannya itu dalam keadaan terpaksa.
Secara bahasa Jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung pengertian
memaksa. Di dalam kamus Munjid dijelaskan bahwa nama Jabariyah berasal dari kata jabara
yang mengandung arti memaksa dan mengharuskannya melakukan sesuatu.

2.2.LATAR BELAKANG MUNCULNYA ALJABARIYAH


Adapun mengenai latar belakang lahirnya aliran Jabariyah tidak adanya
penjelelasan yang sarih. Abu Zahra menuturkan bahwa paham ini muncul sejak
zaman sahabat dan masa Bani Umayyah. Ketika itu para ulama membicarakan
tentang masalah Qadar dan kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan
kekuasaan mutlak Tuhan.
Pendapat yang lain mengatakan bahwa paham ini diduga telah muncul sejak
sebelum agama Islam datang ke masyarakat Arab. Kehidupan bangsa Arab yang
diliputi oleh gurun pasir sahara telah memberikan pengaruh besar dalam cara hidup
mereka. Di tengah bumi yang disinari terik matahari dengan air yang sangat sedikit
dan udara yang panas ternyata dapat tidak memberikan kesempatan bagi
tumbuhnya pepohonan dan suburnya tanaman, tapi yang tumbuh hanya rumput
yang kering dan beberapa pohon kuat untuk menghadapi panasnya musim serta
keringnya udara.
Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyarakat arab tidak
melihat jalan untuk mengubah keadaan disekeliling mereka sesuai dengan
kehidupan yang diinginkan. Mereka merasa lemah dalam menghadapi kesukaran-
kesukaran hidup. Artinya mereka banyak tergantung dengan Alam, sehingga
menyebabakan mereka kepada paham fatalisme.[[1][8]]
Terlepas dari perbedaan pendapat tentang awal lahirnya aliran ini, dalam Alquran
sendiri banyak terdapat ayat-ayat yeng menunjukkan tentang latar belakang lahirnya
paham Jabariyah, diantaranya:

a. QS ash-Shaffat: 96 yang artinya


Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu".
QS al-Anfal: Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan
tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika
kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk
membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang
mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar
lagi Maha mengetahui.
QS al-Insan: 30 Artinya : Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila
dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha
Bijaksana.
2.3.TOKOH2 ALJABARIYAH
A. Jahm bin Shafwan
Nama lengkapnya adalah Abu Mahrus Jahm bin Safwan. Ia berasal dari
Khurasan, bertempat tinggal di Khufah; ia seorang dai yang fasih dan lincah
(otrator); ia menjabat sebagai sekretaris Harits bin Surais, seorang mawali yang
menentang pemerintah Bani Umayyah di Khurasan.
Adapun doktrin Jahm tentang hal-hal yang berkaitan dengan teologi adalah;

1) Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya, tidak
mempunyai kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan. Pendapat Jahm tentang
keterpaksaan ini lebih terkenal dibanding dengan pendapatnya tentang surga dan
neraka, konsep iman, kalam Tuhan, meniadakan sifat Tuhan, dan melihat Tuhan di
akhirat.
2) Iman adalah marifat atau membenarkan dalam hati. Dalam hal ini,
pendapatnya sama dengan konsep iman yang diajukan kaum Murjiah[2][8].

3) Kalam Tuhan adalah Makhluk. Al-Quran adalah mahluk yang dibuat sebagai
suatu yang baru (hadis). Adapun fahamnya tentang melihat Tuhan, Jaham
berpendapat bahwa, Tuhan sekali-kali tidak mungkin dapat dilihat oleh manusia di
akhirat kelak.

4) Surga dn neraka tidak kekal. tentang keberadaan syurga-neraka, setelah


manusia mendapatkan balasan di dalamnya, akhirnya lenyaplah syurga dan neraka
itu. Dari pandangan ini nampaknya Jaham dengan tegas mengatakan bahwa,
syurga dan neraka adalah suatu tempat yang tidak kekal

B. Jaad bin Dirham


Al-Jad adalah seorang Maulana Bani Hakim, tinggal di Damaskus. Ia dibesarkan di
dalam lingkungan orang Kristen yang senang membicarakan teologi. Semula ia dipercaya
untuk mengajar dilingkungan pemerintah Bani Umayah, tetapi setelah tampak pikiran-
pikirannya yang controversial, Bani Umayyah menolaknya. Kemudian Al-Jaad lari ke Kufah
dan di sana ia bertemu dengan Jahm, serta mentransfer pikirannya kepada Jahm untuk
dikembangkan dan disebarluaskan.

Doktrin pokok Jaad secara umum sama dengan pikiran Jahm, yaitu:

1) Al-Quran itu adalah makhluk. Oleh karena itu, dia baru. Sesuatu yang baru itu tidak
dapat disifatkan kepada Allah.

2) Allah tidak memiliki sifat yang serupa dengan makhluk, seperti berbicara, melihat, dan
mengengar.

3) Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya

Kedu tokoh di atas termasuk pada golongan Jabariyah ekstrem, dan adapun perbedaan
yang paling signifikan dari kedua golongan tersebut terletak pada pendapat tentang perbuatan
manusia itu. Kelompok ekstremmemandang bahwa manusia tidak mempunyai daya, tidak
mempunyai kehendak sendiri dan tidak mempunyai pilihan, manusia dalam perbuatan-
perbuatannya adalah dipaksa dengan tidak ada kekuasaan, kemauan dan pilihan
baginya Sedangkan menurut kaum moderat, tuhan memang menciptakan perbuatan manusia,
baik perbuatan jahat maupun baik, tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. Tenaga
yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya.

Yang termasuk pemuka Jabariyah moderat adalah;

a) An-Najjar

Nama lengkapnya adalah Husain bin Muhammad An-Najjar (wafat 230 H). Para pengikutnya
disebut An-Najjariyah atau Al-Husainiyah. Di antara pendapat-pendapatnya adalah;

1) Tidak semua perbuatan manusia bergantung kepada Tuhan secara mutlak artinya
Tuhanlah yang menciptakan perbuatan manusia, baik perbuatan itu positif maupun negative.
Tetapi dalam melakukan perbuatan itu, manusia mempunyai andil. Daya yang diciptakan
dalam diri manusia oleh Tuhan mempunyai aspek, sehingga manusia mampu melakukan
perbuatan itu. Daya yang diperoleh untuk mewujudkan perbuatan-perbuatan inilah yang
disebut dengan kasb/acquisition

2) Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat. Akan tetapi, An-Najjar menyatakan bahwa tuhan
dapat saja memindahkan potensi hati (marifat) pada mata sehingga manusia dapat melihat
Tuhan

b) Adh- Dhirar

Nama lengkapnya adalah Dhirar bin Amr. Pendapatnya tentang perbuatan manusia
sama dengan Husein An-Najjar, yakni bahwa manusia tidak hanya merupakan wayang yang
digerakkan dalang. Manusia mempunyai bagian dalam perwujudan perbuatannya dan tidak
semata-mata dipaksa dalam melakukan perbuatannya. Secara tegas, Dhirar mengatakan
bahwa satu perbuatan dapat ditimbulkan oleh dua pelaku secara bersamaan, artinya perbuatan
manusia tidak hanya ditimbulkan oleh Tuhan, tetapi juga oleh manusia itu sendiri. Manusia
turut berperan dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya.
2.4. SAKTE-SAKTE DALAM ALJABARIYAH
Menurut Syahrastani, terdapat tiga golongan dalam Jabariyah, yaitu :
1.Jahmiyah
Jahmiyah adalah sekte para pengikut Jahm bin Sofwan, salah seotrang yang paling
berjasa besar dalam mengembangkan aliran Jabariyah. Ajaran Jahmiyah yang
terpenting adalah al Bari Taala (Allah SWT Tuhan Maha Pencipta lagi Maha Tinggi)
Allah SWT tidak boleh disifatkan dengan sifat yang dimiliki makhluk-Nya, seperti sifat
hidup (hay) dan mengetahui (alim), karena penyifatan seperti itu mengandung
pengertian penyerupaan Tuhan dengan makhluk-Nya, padahal penyerupaan seperti
itu tidak mungkin terjadi.
2.Najjariyah
Sekte ini dipimpin oleh Al Husain bin Muhammad an Najjar (w. 230 H / 845 M).
Ajaran yang dikemukakan bahwa Allah memiliki kehendak terhadap diri-Nya sendiri,
sebagaimana Allah mengetahui diri-Nya. Tuhan menghendaki kebaikan dan
kejelekan, sebagaimana ia menghendaki manfaat dan mudzarat.

3.Dirariyah
Sekte ini dipimpin oleh Dirar bin Amr dan Hafs al Fard. Kedua pemimpin tersebut
sepakat meniadakan sifat sifat Tuhan dan keduanya juga berpendirian bahwa
Allah SWT itu Maha Mengetahui dan Maha Kuasa, dalam pengertian bahwa Allah itu
tidak jahil (bodoh) dan tidak pula ajiz (lemah).
Dari ketiga golongan ini, syahrastani mengklarifikasikan menjadi dua bagian besar.
Pertama, Jabariyah murni yang berpendapat bahwa baik tindakan maupun
kemampuan manusia melakukan seutu kemauan atau perbuatannya tidak efektif
sama sekali. Kedua Jabariyah moderat yang berpandangan bahwa manusia
mempunyai sedikit kemampuan untuk mewujudkan kehendak dan perbuatannya.

2.5.POKOK-POKOK PEMIKIRAN ALJABARIYAH


a. Manusia tidak mampu berbuat apa-apa. Bahwa segala perbuatan manusia
merupakan paksaan dari Tuhan dan merupakan kehendak-Nya yang tidak bisa
ditolak oleh manusia. Manusia tidak punya kehendak dan pilihan. Ajaran ini
dikemukakan oleh Jahm bin Shofwan.
b. Surga dan neraka tidak kekal, begitu pun dengan yang lainnya, hanya Tuhan yang
kekal.
c. Iman adalah marifat dalam hati dengan hanya membenarkan dalam hati. Artinya
bahwa manusia tetap dikatakan beriman meskipun ia meninggalkan fardhu dan
melakukan dosa besar. Tetap dikatakan beriman walaupun tanpa amal.
d. Kalam Tuhan adalah makhluk. Allah SWT Mahasuci dari segala sifat keserupaan
dengan makhluk-Nya, maka Allah tidak dapat dilihat meskipun di akhirat kelak, oleh
karena itu Al-Quran sebagai makhluk adalah baru dan terpisah dari Allah, tidak
dapat disifatkan kepada Allah SWT.
e. Allah tidak mempunyai sifat serupa makhluk seperti berbicara, melihat, dan
mendengar.
f. Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia berperan dalam
mewujudkan perbuatan itu. Teori ini dikemukakan oleh Al-Asyari yang disebut teori
kasab, sementara An-Najjar mengaplikasikannya dengan ide bahwa manusia tidak
lagi seperti wayang yang digerakkan, sebab tenaga yang diciptakan Tuhan dalam
diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya.
BAB III
PENUTUP
2.6.KESIMPULAN
Paham Jabariyah memandang manusia sebagai makhluk yang lemah dan tidak
berdaya. Manusia tidak sanggup mewujudkan perbuatan-perbuatannya sesuai
dengan kehendak dan pilihan bebasnya. Pendeknya, perbuatan-perbuatan itu
hanyalah dipaksakan Tuhan kepada manusia. Pa-ham Jabariyah terpecah ke dalam
dua kelompok, ekstrim dan moderat. Ja'ad ibn Dirham dan Jahm ibn Shafwan
mewakili kelompok eksirim. Sedang Husain al-Najjar dan Dirar ibn 'Amr mewakii
kelompok moderat.
Jabariyah berarti menghilangkan perbuatan dari hamba secara hakikat dan
menyandarkan perbuatan tersebut kepada Allah SWT. Tokoh pemikirnya adalah al-
Ja'ad ibn Dirham aliran Jabariyah ini menganut paham bahwa manusia tidak
mempunyai kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Manusia
dalam paham ini betul melakukan perbuatan, tetapi perbuatannya itu dalam keadaan
terpaksa.

DAFTAR PUSTAKA
Nata, Abudin. 2001. Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawwuf. Jakarta: Rajawali Pers
Haris, Murtafi. Aqidah Islamiyah.
DR. Abdul Razak, M.Ag, Ilmu Kalam, Pustaka Setia, Bandung : 2009
Harun Nasution, Teologi Islam, UI-Press, Jakarta : 1986
www.scribd.com/doc/38617460/Jabariah-Dan-Qodariah
bara-aliranjabariyah.blogspot.com/
15 Nov 2009
http://cakrowi.blogspot.com/.../kajian-ilmu-kalam-qadariah-dan-jabariah.ht...
15 Mei 2010 Sabtu, Mei 15, 2010