Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

KIMIA DASAR

DISUSUN OLEH :
NAMA : RIZQI OKTAVINA SUNARSO PUTRI
NIM : 14/17064/THP
KELAS : STPK B
JURUSAN : TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
KELOMPOK : IV
ACARA : KINETIKA REAKSI ION
PERMANGANAT DENGAN ASAM
OKSALAT
CO.ASS : MADNUR HARNOGORO

INSTITUT PERTANIAN STIPER


YOGYAKARTA
2014
I. ACARA : Kinetika Reaksi Ion Permanganat dengan Asam Oksalat
II. TANGGAL : 9 Oktober 2014
III. TUJUAN : Menentukan tingkat reaksi MnO4 dengan H2C2O4
IV. DASAR TEORI
Kinetika kimia adalah salah satu cabang ilmu kimia yang
mempelajari bagaimana suatu reaksi kimia berlangsung. Disamping itu
kinetika kimia merupakan pengkajian laju reaksi dan mekanisme reaksi
kimia. Pengertian laju reaksi digunakan untuk menerangkan kecepatan suatu
reaksi berlangsung. Sedangkan mekanisme reaksi dipakai untuk
menerangkan melaui langkah-langkah manakah suatu zat pereaksi berubah
menjadi hasil reaksi (Anonim, 2014).
Laju reaksi (Reaction rate) atau kecepatan reaksi adalah perubahan
konsentrasi pereaksi ataupun produk dalam suatu satuan waktu. Laju suatu
reaksi dapat dinyatakan sebagai laju berkurangnya konsentrasi suatu
pereaksi atau laju bertambahnya konsentrasi suatu produk (Anonim, 2014).
Faktor faktor yang memengaruhi terjadinya laju reaksi yaitu: Sifat dasar
pereaksi ada yang reaktif dan ada juga yang kurang reaktif. Misalnya saja
bensin lebih cepat terbakar daripada minyak tanah. Demikian juga logam
Natrium bereaksi cepat dengan air. Sedangkan logam magnesium lambat
bereaksi dengan air (Reka Ayu Anggraeni, 2012).
Suhu. Apabila suhu suatu reaksi yang berlangsung dinaikkan, maka
menyebabkan partikel aktif bergerak,sehingga tumbukan yang terjadi
semakin sering, menyebabkan laju reaksi semakin besar. Apabila suhu
diturunkan, maka partikel semakin tak aktif,sehinga laju reaksi semakin
kecil. Pada umumnya reaksi akan berlangsung lebih cepat bila suhu
dinaikkan. Dengan menaikkan suhu maka energi kinetik molekul-molekul
zat yang bereaksi akan bertambah sehingga akan lebih banyak molekul yang
memiliki energi sama atau lebih besar dari Ea. Dengan demikian lebih
banyak molekul yang dapat mencapai keadaan transisi atau dengan kata lain
kecepatan reaksi menjadi lebih besar (Reka Ayu Anggraeni, 2012).
Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi kimia pada
suhu tertentu,tanpa mengalami perubahan/terpakai oleh reaksi itu sendiri.
Suatu katalis berperan dalam reaksi tapi bukan sebagai pereaksi atau produk.
Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat/memungkinkan reaksi
pada suhu lebih rendah akibat perubahan yang dipicu terhadap pereaksi.
Katalis menyediakan suatu jalur pilihan dengan energi aktifitas yang lebih
rendah katalis mengurangi energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya
reaksi (Reka Ayu Anggraeni, 2012).
Luas permukaan sentuh memiliki peranan yang sangat penting dalam
laju reaksi. Sebab semakin besar luas permukaan bidang sentuh antar
partikel maka tumbukan yang terjadi semakin banyak sehingga laju reaksi
berjalan dengan cepat. Dan bila semakin kecil luas permukaan bidang
sentuh, maka semakin kecil tumbukan dan lajunya semakin lambat.
Karakteristik keping juga berpengaruh, semakin halus kepingan,maka
semakin cepat waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi. Semakin kasar keping
itu,maka semakin lambat. Suatu reaksi melibatkan pereaksi dalam bentuk
padat. Perubahan laju reaksi semata-mata sebagai akibat perbedaan ukuran
kepingan. dalam hal ini, ukuran kepingan kita sebut variabel bebas (variabel
manipulasi), perubahan laju reaksi (waktu reaksi) sebagai variabel terikat
(variabel respons), semua faktor lain yang dibuat tetap disebut variabel
control (Reka Ayu Anggraeni, 2012).
Suatu zat akan bereaksi apabila bercampur dan bertumbukan. Pada
pencampuran reaktan yang terdiri dari dua fase atau lebih, tumbukan
berlangsung pada bagian permukaan zat.Padatan berbentuk serbuk halus
memiliki luas permukaan bidang sentuh yang lebih besar daripada padatan
berbentuk kepingan atau butiran (Reka Ayu Anggraeni, 2012).
Semakin besar knsentrasi zat zat yang bereaksi maka semakin cepat
reaksinya berlangsung.Makin besar konsentrasi makin banyak zat zat yang
bereaksi sehingga semakin besar terjadinya tumbukan dan dapat dikatakan
kemungkinan terjadinya reaksi.Pengaruh konsentrasi pada laju reaksi dapat
dipelajari dengan mengulangi reaksi magnesium dengan asam
klorida.Larutan dengan konsentrasi yang besar (pekat) mengandung partikel
yang lebih rapat jika dibandingkan dengan larutan encer (Reka Ayu
Anggraeni, 2012).
Hubungan kuantitatif perubahan konsentrasi dengan laju reaksi tidak
dapat ditetapkan dari persamaan reaksi, tetapi harus melalui percobaan.
Dalam penetapan laju reaksi ditetapkan yang menjadi patokan adalah laju
perubahan konsentrasi reaktan (Reka Ayu Anggraeni, 2012).
V. ALAT DAN BAHAN
1. Alat :
a. Erlenmeyer : 3 buah
b. Gelas ukur : 2 buah
c. Corong : 1 buah
d. Pipet Gondok : 1 buah
e. Ball Pipet : 1 buah
f. Gelas piala : 1 buah
2. Bahan :
a. Aquades : 72 ml
b. Asam Oksalat : 120 ml
c. Larutan KMnO4 : 24 ml
VI. CARA KERJA
1. Masukkan 10 ml H2C2O4 0,7 M, tambahkan 12 ml aquades, lalu
tambahkan 2 ml KMnO4 0,1 M masukkan ke dalam masing-masing
erlenmeyer.
2. Lakukan pekerjaan sebanyak 3 kali percobaan. Catat masing-masing
waktu dari tiap ulangan hingga warna berubah menjadi orange.
3. Percobaan kedua, masukkan 20 ml H2C2O4 0,7 M, tambahkan 2 ml
aquades, lalu tambahkan 2 ml KMnO4 0,1 M masukkan kedalam
masing-masing erlenmeyer.
4. Lakukan pekerjaan sebanyak 3 kali percobaan. Catat masing-masing
waktu dari tiap ulangan hingga warna berubah menjadi orange.
5. Percobaan ketiga, masukkan 10 ml H2C2O4 0,7 M, tambahkan10 ml
aquades, lalu tambahkan 4 ml KMnO4 0,1 M masukkan kedalam
masing-masing erlenmeyer.
6. Lakukan pekerjaan sebanyak 3 kali percobaan. Catat masing-masing
waktu dari tiap ulangan hingga warna berubah menjadi orange.
7. Cuci dan bersihkan peralatan setelah selesai digunakan.
VII. HASIL PENGAMATAN
1. Tabel Pengamatan

Perlakuan T1 (s) T2 (s) T3 (s) T Rata-rata (s) Perubahan


Warna
I 405 456 449 436,6 Ungu-Orange
II 301 301 249 283,6 Ungu-Orange
III 462 444 410 438,6 Ungu-Orange

2. Perhitungan Molaritas
V1 x M1 = V2 x M2
a. Perlakuan I
1 1 10 0,7
M2 (c1) = = = 0.318 M
2 22

b. Perlakuan II
1 1 20 0,7
M2 (c2) = = = 0,636 M
2 22

c. Perlakuan III
1 1 10 0,7
M2 (c3) = = = 0,35 M
2 20

3. Menghitung Tingkat Reaksi


a. c1 versus 1/t
(c1)
1
= (0,318)1 = 0,318
(c2)
1
= (0,636)1 = 0,636
(c3)
1
= (0,35)1 = 0,35
b. c2 versus 1/t
(c1)
2
= (0,318)2 = 0,10
(c2)
2
= (0,636)2 = 0,40
(c3)
2
= (0,35)2 = 0,12
c. c3 versus 1/t
(c1)
3
= (0,318)3 = 0,03
(c2)
3
= (0,636)3 = 0,26
(c3)
3
= (0,35)3 = 0,04

VIII. PEMBAHASAN
Bidang kimia yang mengkaji kecepatan, laju, atau terjadinya reaksi
kimia dinamakan kinetika kimia. Kata kinetik menyiratkan gerakan atau
perubahan; yang telah didefinisikan sebagai energi yang tersedia karena
gerakan suatu benda. Disini kinetika merujuk pada laju reaksi, yaitu
perubahan konsentrasi reaktan atau produk terhadap waktu (m/s) (Fuatz
Virkill, 2012).
Laju reaksi menyatakan perubahan konsentrasi zat-zat yang terlibat
dalam suatu reaksi. Hubungan antara laju reaksi secara keseluruhan dalam
suatu reaksi kimia dan konsentrasi zat-zat yang terlibat dalam reaksi dapat
dituliskan dalam bentuk persamaan laju reaksi. Persamaan laju reaksi hanya
dapat dinyatakan berdasarkan data hasil percobaan. Berdasarkan data
tersebut, anda dapat menghitung atau menentukan orde reaksi dan konstanta
laju reaksi. Persamaan laju reaksi dihitung berdasarkan konsentrasi awal
setiap zat dipangkatkan orde reaksinya. Orde reaksi bukan merupakan
koefisien reaksi (walaupun keduanya mungkin memiliki harga yang sama)
melainkan bilangan yang diperoleh dari percobaan (Fuatz Virkill, 2012).
Pada percobaan kali ini adalah menentukan orde reaksi ion
permanganat (MnO4) dengan asam oksalat (H2C2O4), sebelum kedua larutan
tersebut dicampurkan asam oksalat di encerkan dengan akuades terlebih
dahulu, fungsi penambahan akuades ini adalah agar molekul-molekul asam
oksalat dan kalium permanganat terurai saat terjadi reaksi, sehingga ukuran
partikel gesekan untuk jadi reaksi (bereaksi) banyak. Karena jika asam
oksalat dan kalium permanganat langsung dicampur tanpa diberi akuades
maka yang bergesekan dan bereaksi kemungkinan hanyalah sisi-sisi partikel
yang bergesekan, sehingga molekul-molekul tidak akan bertemu secara
langsung semuanya dan antara molekul-molekul tersebut tidak akan
bereaksi.
Saat reaksi berlangsung larutan mengalami perubahan warna dari
ungu menjadi merah bata, hal tersebut karena adanya perubahan bilangan
oksidasi pada Mn yaitu dari +7 menjadi +2.
Perlakuan pada praktikum ini adalah pencampuran antara kalium
permanganat dengan asam oksalat dan ditambahkan dengan aquades sebagai
pelarut. Pertama larutan asam oksalat dicampur dengan aquades kemudian
ditambahkan dengan larutan kalium permanganat. Ada tiga perlakuan yang
dilakukan yaitu dengan perbedaan volume masing masing larutan pada
setiap perlakuan. Pada perlakuan pertama, volume asam oksalat yang
digunakan adalah 10 ml dicampur dengan aquades 12 ml dan ditambahkan
dengan kalium permanganat 2 ml, maka warna mula-mula yang terjadi
adalah warna ungu pekat kemudian membutuhkan waktu (3x pengulangan)
405, 456 dan 449 detik untuk berubah warna (warna ungu menghilang).
Rata rata waktu yang diperlukan adalah 436,6 detik.
Perlakuan kedua dilakukan dengan campuran asam oksalat 20 ml,
aquades 12 ml dan ditambahkan 2 ml larutan kalium permanganat. Waktu
yang dibutuhkan untuk bereaksi adalah 301, 301 dan 249 detik. Rata rata
waktu yang diperlukan adalah 283,6 detik. Sedangkan pada perlakuan ketiga
campuran antara asam oksalat, aquades dan kalium permanganat masing
masing 10 ml,10 ml, dan 4 ml, membutuhkan waktu (sampai warna ungu
menghilang) 462, 444 dan 410 detik. Jika dirata rata perlakuan ketiga
membutuhkan waktu 438,6 detik.
Dalam percobaan ini hasil pengamatan disajikan dalam bentuk
grafik. Grafik menunjukkan bahwa kelajuan reaksi paling cepat berturut-
turut terjadi pada percobaan kedua, pertama, dan yang terakhir percobaan
ketiga berurutan 283,6 detik, 436,6 detik, dan 438,6 detik. Perlakuan kedua
bereaksi paling cepat, hal itu dikarenakan campurannya diberi perlakuan
penambahan volume aquadest yang paling sedikit (2ml) dan juga volume
asam oksalat terbanyak (2ml), sedangkan untuk perlakuan pertama dan
ketiga ditambahakan aquadest dengan volume yang lebih banyak yaitu 12
dan 10ml, sedangkan volume asam oksalatnya sama (10ml). Pada perlakuan
kedua memiliki waktu yang lebih cepat untuk bereaksi disebabkan
konsentrasi reaksi yang lebih tinggi, sedangkan pada perlakuan yang lain
mengalami pengenceran yang cukup besar sehingga dapat memperlambat
reaksi. Penambahan volume kalium permanganat pada setiap perlakuan
tidak memberikan pengaruh yang terlalu besar, hal itu dikarenakan
penambahannya yang masih tidak terlalu besar selain itu juga ada volume
campuran lainnya yang juga lebih berpengaruh. Hal itu ditunjukkan pada
perlakuan pertama dan ketiga yang diberi perlakuan penambahan volume
yang berbeda (2ml dan 4ml) tidak terlalu banyak perbedaan waktu yang
terjadi untuk bereaksi, justru pada perlakuan kedua yang memiliki waktu
yang lebih cepat meskipun volume kalium permanganat yang digunakan
sama dengan perlakuan 1 (2ml), tetapi volume yang mempengaruhi
kecepatan reaksinya adalah asam oksalat dan aquadest.
Tingkat reaksi yang tertinggi ada pada perlakuan kedua, sesuai
dengan laju reaksi yang tercepat juga. Pada tingkat 1, 2 dan 3 perlakuan
kedua tetap yang terbesar, disusul oleh perlakuan pertama dan ketiga.
Selanjutnya dilakukan penggambaran grafik tingkat reaksi, grafik ini
menunjukkan tingkat reaksi pada setiap perlakuan dengan satu persatuan
waktu (detik).
IX. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil praktikan setelah melakukan
kegiatan praktikum Kinetika Reaksi Ion Permanganat dengan Asam Oksalat
antara lain :
1. Kinetika kimia merupakan pengkajian laju reaksi dan mekanisme reaksi
kimia.
2. Laju reaksi dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni sifat dasar pereaksi,
suhu, ada tidaknya zat katalitik, luas permukaan, dan konsentrasi
pereaksi.
3. Ion permanganat merupakan oksidator yang baik yang digunakan
untuk bereaksi dengan reduktor asam oksalat dalam suasana asam.
4. Perubahan warna yang dihasilkan yaitu dari ungu menjadi orange.
Disebabkan karena perubahan bilangan oksidasi pada Mn yaitu dari +7
menjadi +2.
5. Molaritas kedua yang dihasilkan tiap perlakuan berbeda-beda yakni
0,318 M (C1), 0,636 M (C2), dan 0,35 M (C3) disebabkan karena
berbedanya volume aquades yang ditambahkan dan berbedanya volume
asam oksalat dalam setiap percobaan.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2014. Buku Petunjuk Praktikum Kimia Dasar. Institut Pertanian


Stiper, Yogyakarta.
Anggraeni, Reka Ayu, 2012. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Laju
Reaksi. http://ablulebul.blogspot.com/2012/12/jurnal-kimia-laju-reaksi.html.
Diakses pada tanggal 17 Oktober 2014, pukul 1:13 WIB.
Virkill, Fuatz, 2012.Kinetika Kimia. Sumber : http://fuatzvirkill.wordpress.com.
Diakses pada tanggal 10 Oktober 2014, pukul 13:17 WIB.

Yogyakarta, 13 Oktober 2014


Mengetahui,
Co.Ass Praktikan

(Madnur Harnogoro) (Rizqi Oktavina Sunarso Putri)