Anda di halaman 1dari 5

laporan pendahuluan

BAB. 3
KRITERIA DAN AZAS PERENCANAAN

3.1 PEDOMAN PERENCANAAN


Literatur standar aspek teknis substansial, kebijakan dan peraturan yang terkait dengan persyaratan
teknis perencanaan dan perancangan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan bangunan
gedung, diantaranya :

Undang-Undang Republik Indonesia No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung (UUBG)
Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 68 dan Tambahan Lemberan Negara Republik Indonesia Nomor
4725).
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengolahan Barang
Milik Negara / Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 20 dan
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4609).
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 Tentang Jalan ( Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2006 tentang Jalan Nomor 86 dan Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4655).
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintah Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, Pemerintah Daerah Kabupaten /
Kota ( Lembaran Negara Republuik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82 dan Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4737).
Peraturan Presiden Nomor 73 Tahun 2011, tentang Pembangunan Bangunan Gedung Negara
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 24/PRT/M/2008 tentang Pedoman Pemeliharaan
dan Perawatan Bangunan Gedung
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No : 45/PRT/M/2007 tanggal 27 Desember 2007 tentang
Pedoman Teknis Pembangunan Gedung Negara
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 26/PRT/M/2007 tentang Pedoman Tim Ahli
Bangunan Gedung
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 25/PRT/M/2007 tentang Pedoman Sertifikat Laik
Fungsi Bangunan Gedung
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 24/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Izin
Mendirikan Bangunan Gedung

halaman : 3-1
laporan pendahuluan

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau
Kawasan Perkotaan;
Persyaratan Teknis Bangunan Gedung (KepMen PU No. 441/KPTS/1998).
Persyaratan Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Gedung Umum dan Lingkungan (KepMen PU
No. 468/KPTS/1998).
Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran pada Bangunan Gedung dan
Lingkungan (KepMeneg PU No. 10/KPTS/2000).
Ketentuan Teknis Manajemen Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan (KepMeneg PU No.
11/KPTS/2000).
KepMen Kimpraswil No. 332/KPTS/M/2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan
Gedung Negara.
Petunjuk Teknis Pengelolaan Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara
(CT/TB/BGN/003-98.09 tanggal 17 September 1998).
Peraturan Daerah yang berkaitan dengan kecipta karyaan yang berlaku.
dan yang lainnya.

Peraturan-peraturan yang mendasari perhitungan struktur bangunan diantaranya :


Peraturan Pembebanan Indonesia 1983
Peraturan Beton Bertulang Indonesia (SKSNI) 1992
Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung (SNI:03-1726-
2002)
Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Bangunan Ged. (SNI: 03-1729-2002)
dan yang lainnya.

Hasil survey dan kunjungan lapangan bersama instansi teknis untuk melakukan penelitian/observasi
terhadap lokasi dan daya dukung tanah, termasuk kesiapan lahan untuk dibangun secara teknis.

3.2 TANGGUNG JAWAB PERENCANAAN


Konsultan Perencana bertanggungjawab secara profesional atas jasa perencanaan yang dilakukan
sesuai ketentuan Undang-undang No. 18 tentang Jasa Teknis dan peraturan pelaksanaannya, serta
kode tata laku profesi yang berlaku.

Secara umum tanggung jawab konsultan adalah minimal sebagai berikut:


Hasil karya perencanaan yang dihasilkan harus memenuhi persyaratan standar hasil karya
perencanaan yang berlaku.
Hasil karya perencanaan yang dihasilkan harus telah mengakomodasikan batasan-batasan yang
telah diberikan oleh proyek, termasuk melalui KAK ini, seperti segi pembiayaan, waktu
penyelesaian pekerjaan dan mutu bangunan yang akan diwujudkan.

halaman : 3-2
laporan pendahuluan

Hasil karya perencanaan yang dihasilkan memenuhi persyaratan standar, dan pedoman teknis
bangunan gedung yang berlaku untuk bangunan gedung pada umumnya dan khusus untuk
bangunan gedung negara.

3.3 KRITERIA PERENCANAAN


3.3.1 Kriteria Umum Teknis
a. Persyaratan Tata Bangunan
(1). Persyaratan Peruntukan dan Intensitas
menjamin bangunan gedung didirikan pada lokasi yang sesuai dengan
peruntukannya berdasarkan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang
ditetapkan pada kawasan yang bersangkutan.
menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai KDB dan KLB yang
sesuai dengan ketentuan tata ruang dan tata bangunan yang ditetapkan pada
kawasan yang bersangkutan.
menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai GSB dan jarak bebas
bangunan yang dapat menjamin keselamatan dan kesehatan bagi penghuni dan
lingkungannya.
(2). Persyaratan Arsitektur
menjamin terwujudnya bangunan gedung yang didirikan berdasarkan karakteristik
lingkungan, ketentuan wujud bangunan dan budaya daerah sehingga seimbang
serasi dan selaras dengan lingkungannya (fisik, sosial dan budaya).
menjamin terwujudnya tata ruang hijau yang dapat memberikan keseimbangan dan
keserasian bangunan terhadap lingkungannya.
(3). Persyaratan Struktur Bangunan
persyaratan struktur bangunan terpenuhi, walau kemungkinan sistem strukturnya
diganti dengan sistem teknologi lain.
(4). Persyaratan dampak lingkungan
menjamin bangunan gedung dibangun dan dimanfaatkan dengan tidak menimbulkan
dampak negatif terhadap lingkungan.
(5). Persyaratan Teknis dan Design Plambing
Baik untuk air minum, maupun untuk mengatasi kebakaran.

b. Persyaratan Keandalan Bangunan


(1). Persyaratan Keselamatan
menjamin terwujudnya bangunan gedung yang dapat mendukung beban yang
timbul akibat perilaku alam dan manusia, termasuk gempa, angin, dan petir.

halaman : 3-3
laporan pendahuluan

menjamin terwujudnya bangunan gedung mampu memproteksi secara pasif dan


aktif terhadap bahaya kebakaran, sehingga :
cukup waktu penghuni melakukan evakuasi secara aman.
cukup waktu bagi pasukan pemadam kebakaran memasuki lokasi untuk
memadamkan api.
dapat menghindari kerusakan pada properti lainnya.

(2). Persyaratan Kesehatan


menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai sirkulasi udara yang
mencukupi dan sehat bagi penghuninya.
menjamin terpenuhinya kebutuhan pencahayaan yang cukup dan sehat, baik alami
maupun buatan dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan
rumah dinas.
menjamin tersedianya sarana sanitasi yang memadai dalam menunjang
terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya.
menjamin terwujudnya kebersihan kesehatan dan memberikan kenyamanan bagi
penghuni bangunan dan lingkungan.
menjamin upaya beroperasinya peralatan dan perlengkapan sanitasi dengan baik.

(3). Persyaratan Kemudahan/Aksesibilitas


menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai aksesibilitas horisontal
dan vertikal yang efisien, nyaman, dan memadai yang dapat menunjang
terselenggaranya kegiatan di dalam rumah dinas.
menjamin tersedianya akses evakuasi bagi penghuni yang dalam keadaan darurat
dapat menyelematkan diri apabila terjadi bencana kebakaran, gempa, atau bencana
lainnya.
menjamin tersedianya prasarana dan sarana bangunan gedung yang dapat
menunjang terselenggaranya fungsi rumah dinas sebagai tempat peristirahatan,
termasuk pertandaan di dalam dan di luar bangunan.

(4). Persyaratan Kenyamanan


menjamin terwujudnya bangunan gedung yang mempunyai ruang gerak dan
hubungan antar ruang yang efektif, efisien, nyaman, dan memadai yang dapat
menunjang terselenggaranya kegiatan di dalam rumah dinas.
menjamin tersedianya instalasi listrik secara cukup dan aman dalam menunjang
terselenggaranya kegiatan di dalam bangunan gedung sesuai dengan fungsinya.

halaman : 3-4
laporan pendahuluan

menjamin terpenuhinya kebutuhan udara yang cukup, baik alami maupun buatan
dalam menunjang terselenggaranya kegiatan dalam bangunan gedung sesuai
dengan fungsinya.
menjamin terwujudnya kehidupan yang nyaman dari gangguan suara dan getaran
yang tidak diinginkan.

3.3.2 Kriteria Khusus


Kriteria khusus dimaksudkan untuk memberikan syarat-syarat yang khusus, spesifik berkaitan
dengan bangunan rumah dinas yang direncanakan, meliputi:

a. Bangunan yang direncanakan merupakan bagian dari kesatuan lingkungan yang ada di
sekitarnya (fisik, alam dan sosial budaya) dalam rangka implementasi penataan bangunan
dan lingkungan;
b. Bangunan yang direncanakan diharapkan mencerminkan identitas setempat pada wujud
arsitektur bangunan tersebut;
c. Desain bangunan hendaknya fungsional dan efisien dalam pemanfaatan, pengelolaan dan
pemeliharaannya.
d. Rancangan penataan bangunan adalah berupa bangunan tunggal, lengkap dengan fasilitas
pendukungnya.
e. Kreatifitas desain bangunan mencakup aspek fungsional; arsitektural; keandalan bangunan
yang mempunyai nilai arsitektural yang baik dan sehat (healthy building); penataan bangunan
dan lingkungan; sosial budaya;

3.4 ASAS PERENCANAAN


Selain dari kriteria di atas dalam melaksanakan tugasnya konsultan perencana hendaknya
memperhatikan asas-asas sebagai berikut :

a. Bangunan rumah dinas hendaknya fungsional, efisien, menarik tetapi tidak berlebihan.
b. Kreatifitas desain hendaknya tidak ditekankan kepada kemewahan material, tetapi pada
kemampuan mengadakan sublimasi antara fungsi teknik dan fungsi sosial bangunan.
c. Dengan batasan tidak mengganggu produktifitas kerja, biaya investasi dan pemeliharaan
bangunan sepanjang umurnya, hendaknya biaya diusahakan serendah mungkin.
d. Desain bangunan hendaknya dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat dilaksanakan dalam
waktu yang pendek dan dimanfaatkan secepatnya.
e. Bangunan gedung hendaknya mendukung peningkatkan kualitas lingkungan di sekitarnya.

f. Disamping fungsional, dalam keterbatasan luas ruang dalam tata ruang dalam hendaknya
mempertimbangkan tata perletakan bukaan, dan tata letak perabot yang efisien.

halaman : 3-5