Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM

PETROGRAFI

BATUAN SEDIMEN KLASTIK

Disusun Oleh:
Alexandro Christian Damanik
21100116140086

LABORATORIUM SUMBER DAYA MINERAL DAN


BATUBARA
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG
OKTOBER 2017

LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Praktikum Petrografi, acara Batuan Sedimen Klastik yang disusun oleh Alexandro
Christian Damanik, yang disahkan pada :

Hari :

Tanggal :

Pukul :

Sebagai tugas Laporan Prakikum mata Kuliah Petrografi.

Semarang, 18 Oktober 2017

Asisten Acara Praktikan

Astri Yunita Alexandro Christian Damanik

NIM 21100114140061 NIM 21100116140086


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Maksud

Mengetahui tekstur umum pada batuan sedimen klastik


Mengetahui komposisi yang terdapat pada batuan sedimen klastik meliputi fragmen,
matriks, dan semen
Mengetahui penamaan batuan sedimen klastik berdasarkan klasifikasi Pettijohn 1975

1.2 Tujuan

Dapat mengetahui tekstur dan pada batuan sedimen


Dapat mengetahui mineral mineral, jenis semen yang terdapat pada batuan sedimen
klastik
Dapat mengetahui provenance suatu batuan dari komposisi
Dapat menamakan batuan sedimen klastik berdasarkan klasifikasi Pettijohn 1975

1.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Hari/Tanggal : Rabu 4 Oktober 2017 (Pengamatan 1)

Rabu 11 Oktober 2017 (Pengamatan 2)

Waktu : 15.00 15.55

Tempat : Laboratorium Sumber Daya Mineral dan Batubara, Departemen


Teknik Geologi, Universitas Diponegoro
BAB II

HASIL DESKRIPSI
LABORATORIUM PETROGRAFI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS DIPONEGORO

LEMBAR DESKRIPSI
Tanggal Pengamatan 4 Oktober 2017
Pengamat Alexandro Christian Damanik / 21100116140086
No. Sayatan AY 26
Perbesaran 10 x
Jenis batuan Sedimen Klastik
Tekstur umum
Ukuran butir 2 mm
Bentuk butir High Spericity
Kebundaran Rounded
Sortasi Poorlysorted
Kemas Tertutup
Kontak butir Long
Porositas Primer, interparticle
Komposisi

Grains Plagioklas, Rock Fragmen, Biotit, Kuarsa, Mineral Opaq

Matrix Plagioklas

Cement Kalsit
MP 1 Ket : G M C
O : Mineral opa1 20%
L : Lithic 10%
Pl : Plagioklas 15%
Qz : Kuarsa 10% 60% 30% 10%
B : Biotit 5%
M : Matriks 30%
C : Semen Kalsit 10%

MP 2 Ket : G M C
Pl : Plagioklas 20%
Qz : Kuarsa 15%
L : Lithic 10%
O : Mineral opaq 10%
M : Matriks Lempung 30% 55% 30% 15%
C : Semen Kalsit 15%

MP 3 Ket : G M C
Pl : Plagioklas 15%
Qz : Kuarsa 20%
O : Mineral opaq 10%
L : Lithic 15%
B : Biotit 5% 65% 25% 10%
M : Matriks 25%
C : Semen 10%

Total Komposisi 60% 28,3% 11,6%


Nama batuan Quartz Wacke (Pettijohn, 1975)

Diinterpretasikan memiliki keseragaman butir poorly sehingga


terbentuk dengan waktu cukup lama. Butiran yang membentuk
Petrogenesa
memiliki kontak long sehingga sudah mengalami kompkasi. Materiks
sedimen terdapat banyak mineral lempung.

Maturity Immature
LABORATORIUM PETROGRAFI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS DIPONEGORO

LEMBAR DESKRIPSI
Tanggal Pengamatan 4 Oktober 2017
Pengamat Alexandro Christian Damanik / 21100116140086
No. Sayatan IJ / Hermawan Tri Cahyo
Perbesaran 10 x
Jenis batuan Sedimen Klastik
Tekstur umum
Ukuran butir 2 mm
Bentuk butir High spericity
Kebundaran Rounded
Sortasi Wellsorted
Kemas Tertutup
Kontak butir Point
Porositas Primer,Intraparticle
Komposisi

Plagioklas : Warna bening, kembaran Carlsbad-albit


Kuarsa : Warna bening, relief rendah, gelapan bergelombang
Grains
Mineral Opaq : Warna hitam pada PPL, XPL, dan baji kuarsa

Matrix 10%

Kalsit
Cement
Aragonit
MP 1 Ket : G M C
M: Matriks 15%
Qz : Kuarsa 5%
P : Plagioklas : 20%
O : Mineral Opaq : 25%
S : Semen Kalsit : 20% 65% 15% 20%
L : Lithic 15%

MP 2 Ket : G M C
M: Matriks 25%
Qz : Kuarsa 25%
P: Plagioklas 15%
S: Semen Kalsit 15%
O : Mineral Opaq 15% 60% 25% 15%
L : Lithic 5%

MP 3 Ket : G M C
Qz : Kuarsa 25%
P : Plagioklas 20%
O : Mineral opaq 10%
L : Lithic 5%
M : Matriks 20% 60% 20% 20%
S : Semen Kalsit 15%
Semen Aragonite 5%

Total Komposisi 62% 20% 18,3%


Nama batuan Lithic Wacke (Pettijohn, 1975)

Berdasarkan hasil pengamatan, terdapat kemas terbuka, kebundaran


angular, bentuk butir high spericity dikarenakan terdapat ruang
Petrogenesa diantara fragmen dan matriks. Kontak point dan porositas
intercrystaline. Proses diagenesis cukup intens dan pembentukannya
terdapat aliran turbidit karena sortasi yang buruk dan kemas terbuka

Maturity Immature - Mature


LABORATORIUM PETROGRAFI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS DIPONEGORO

LEMBAR DESKRIPSI
Tanggal Pengamatan 4 Oktober 2017
Pengamat Alexandro Christian Damanik / 21100116140086
No. Sayatan Dini 12100610
Perbesaran 10 x
Jenis batuan Sedimen Klastik
Tekstur umum
Ukuran butir 2 mm
Bentuk butir -
Kebundaran -
Sortasi -
Kemas -
Kontak butir -
Porositas -
Komposisi

Grains -

Matrix 100%

Cement -
MP 1 Ket : G M C

M : Matriks Lempung

100%

MP 2 Ket : G M C

M : Matriks Lempung

100%

MP 3 Ket : G M C

M : Matriks Lempung

100%

Total Komposisi 100%


Nama batuan Mudrock (Pettijohn, 1975)

Berdasarkan pengamatan petrografi, sayatan ini memiliki ukuran


butir <1/256 mm sehingga sulit untuk dideskripsi secara petrografi.
Bentuk butir, kemas, sortasi, kontak butir dan porositas juga tidak
dapat dideskripsi karena terlalu kecil. Batuan ini tersusun atas 100%
matriks lempung. Diinterpretasikan batuan ini mengalami
Petrogenesa
trasnportasi yang jauh dari provenance, mengalami abrasi yang
intens dengan energy erosi tinggi, tertransportasi secara suspensi
dan terendapkan dengan energy yang tinggi. Mengalami diagenesis
hingga tahap kompaksi dan sementasi. Berdasarkan tekstur dan
komposisinya, batuan ini memiliki maturity berupa immature.

Maturity Immature
LABORATORIUM PETROGRAFI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS DIPONEGORO

LEMBAR DESKRIPSI
Tanggal Pengamatan 11 Oktober 2017
Pengamat Alexandro Christian Damanik / 21100116140086
No. Sayatan STA 77 EA Jambi
Perbesaran 10 x
Jenis batuan Sedimen Klastik
Tekstur umum
Ukuran butir 2 mm
Bentuk butir High Sperecity
Kebundaran Angular
Sortasi Poorlysorted
Kemas Terbuka
Kontak butir Long
Porositas Intraparticle
Komposisi

Plagioklas
Kuarsa
Grains
Biotit
Mineral opaq

Matrix Kuarsa 10%

Kalsit
Cement
Dolomit
MP 1 Ket : G M C
Qz : Kuarsa 20%
P : Plagioklas 20%
O : Mineral Opaq 10%
L : Lithic 15% 65% 15% 20%
M : Matriks 15%
C : Semen Kalsit 20%

MP 2 Ket : G M C
Qz : Kuarsa 25%
L : Lithic 20%
O : Mineral opaq 5%
Pl : Plagioklas 10%
M : Matriks Kuarsa 15% 65% 15% 25%
C : Semen Dolomit 20%
Semen Aragonite 5%

MP 3 Ket : G M C
Qz : Kuarsa 15%%
O : Mineral opaq 10%
L : Lithic 5%
M : Matriks 20%
C : Semen 45% 35% 20% 45%
Pl : Plagioklas 5%

Total Komposisi 55% 16,6% 30%


Nama batuan Feldspathic Graywacke (Pettijohn, 1975)
Berdasarkan pengamatan petrografi, sayatan ini memiliki ukuran butir 5
mm, bentuk butir low spherecity, kemas terbuka, sortasi buruk, kontak
butir point dan porositas intercrystal. Batuan ini tersusun atas 55% Grain,
16,6% Matriks, dan 30% Semen. Diinterpretasikan batuan ini mengalami
trasnportasi yang jauh dari provenance, mengalami abrasi yang intens
Petrogenesa dengan energy erosi tinggi, tertransportasi secara saltasi dan terendapkan
dengan energy yang rendah . Mengalami diagenesis hingga tahap
kompaksi, rekristalisasi, sementasi dan authigenesis. Berdasarkan tekstur
dan komposisinya, batuan ini memiliki maturity berupa immature -
submature.

Maturity Submature - Mature


BAB III
PEMBAHASAN

Praktikum Petrografi acara Batuan Sedimen Klastik dilaksanakan pada Hari Senin, 2
Oktober 2017 dan di Ruang 302 Gedung Pertamina Sukowati Teknik Geologi Universitas
Diponegoro. Praktikan diberikan beberapa sayatan batuan yang kemudian diamati dibawah
mikroskop polarisasi. Pengamatan sayatan batuan dilaksanakan pada 2 kali pertemuan yaitu
pada Rabu 4 Oktober 2017, dan 11 Oktober 2017. Praktikan mengamati tiap sayatan
sebanyak 3 medan pandang meliputi pengamatan secara nikol sejajar, nikol bersilang dan baji
kuarsa dengan mendeskripsikan tekstur umum, tekstur khusus, dan komposisi batuan.
Kemudian praktikan mengintepretasi petrogenesa dan mengidentifikasi nama batuan
berdasarkan klasifikasi Pettijohn 1975 yang dilihat komposisi penyusun batuan. Adapun
sayatan batuan yang diamati antara lain dengan kode peraga AY 26, IJ Hermawan, Dini, dan
STA 77 EA Jambi

3.1 Sayatan STA 77

Berdasarkan pengamatan secara mikroskopis perbesaran 4 kali dengan 3 medan


pandang yang masing-masing meliputi pengamatan PPL, XPL, dan Baji Kuarsa, sayatan
STA77 merupakan batuan sedimen klastik. Sayatan STA77 memiliki ukuran butir 2mm
dengan perbesaran 10x. Memiliki butir penyusun yang berbentuk kecil dan menyudut
atau high spherecity dengan tepi yang relative meruncing sehingga kebundarannya
Angular. Memiliki pemilahan butir yang tidak seragam atau poorly sorted dengan butir-
butir yang kurang berhimpitan sehingga kemasnya terbuka. Butirnya berhimpitan pada
satu titik dan memanjang sehingga kontak butir long. Terdapat rongga-rongga diantara
grain dengan grain sehingga memiliki porositas interparticle. Batuan ini tersusun atas 3
komponen yaitu grains, matrix, dan semen. Grains pada sayatan ini terdiri dari beberapa
jenis, grain pertama memiliki kenampakan warna hijau tua, tersusun atas mineral afanit,
dan memiliki batas yang jelas atau disebut Lithic. Grain kedua memiliki warna hitam
pada PPL, XPL, dan baji kuarsa, yang diinterpretasikan Mineral Opaq. Grain ketiga
memiliki warna bening, relief rendah, gelapan bergelombang, yang diinterpretasikan
Kuarsa. Komponen yang kedua yaitu matriks berukuran sangat halus (< 1/256 mm) yang
memiliki warna coklat pada PPL, berwarna hitam pada XPL, dan berwarna merah muda
pada Baji kuarsa, diinterpretasikan matriks ini adalah lempung. Komponen ketiga yaitu
semen yang berfungsi mengikat grains dan matriks. Pada sayatan ini memiliki semen
dengan gelapan gelombang pada XPL, yang diinterpretasikan semen kalsit. Selain itu
juga terdapat semen dengan ciri-ciri terdapat fibrous sehingga semen itu adalah
aragonite. Berikut adalah table komposisi dan kenampakan sayatan
Tabel 3.3 Komposisi sayatan STA 77
MP1 MP 2 MP 3 Rata-rata
Kuarsa 20% 25% 20% 21,67%
Feldspar 20% 10% 5% 11,67%
Mineral Opaq 10% 5% 10% 8,33%
Lithic/Rock 15% 20% 5% 13,33%
Fragmen

Tabel 3.4 Kenampakan Petrografi Sayatan STA 77


Medan PPL XPL Baji Kuarsa
Pandang
Medan
Pandang I STA
77

Medan
Pandang II

Medan
Pandang III

Berdasarkan komposisinya, batuan ini dapat diberi penamaan berdasarkan


Klasifikasi Pettijohn, 1975. Batuan ini memiliki matriks dengan kelimpahan 16,6%
sehingga menggunakan segitiga Wacke. Memiliki Lithic dengan kelimpahan 28,2%,
Kuarsa dengan kelimpahan 45,6%, dan feldspar 23,9% Sehingga batuan ini memiliki
nama Feldspathic Graywacke (Pettijohn,1975)

Gambar 3.6 Klasifikasi Pettijohn, 1975


Berdasarkan tekstur umum pada sayatan ini, dapat diinterpretasikan proses yang dialami
oleh batuan ini. Berdasarkan ukuran butirnya yang berukuran 2 mm dapat
diinterpretasikan batuan ini sudah mengalami trasnportasi dari provenancenya. Proses
transportasi yang ini menyebabkan batuan mengalami pelapukan dan erosi, sehingga
ukuran butirnya menjadi semakin kecil. Bentuk butir yang high spherecity dengan
kebundaran sub angular menunjukkan batuan ini tertransport lumayan jauh dari
provenancenya. Membutuhkan energy yang tinggi untuk mengerosi batuan menjadi
ukuran butir lebih halus, yang kemudian dapat tertransportasi dengan baik. Butiran
sedimen ini akan terendapkan bila agen transportasi sudah tidak mampu membawanya
lagi, sehingga membutuhkan energy deposisi yang yang rendah. Sortasi yang poorly
sorted serta kemas yang terbuka menunjukkan bahwa terjadi adanya perbedaaan
fluktuasi arus yang sangat signifikan pada proses deposisi. Diinterpretasikan material
penysusun batuan ini terendapakan pada waktu dan dengan energi pengendapan yang
tidak sama, sehingga mengendapkan material dengan ukuran butir yang tidak seragam
dan hubungan antar butir yang relative tidak saling mengikat. Hal ini mengakibatkan
ditemukan ruang antar butir atau porositas pada batuan ini. Kontak butir tipe long
menunjukan bahwa tingkat diagenesis masih rentan. Kompaksi belum dominan
mengakibatkan material penyusun batuan tidak terpadatkan secara sempurna sehingga
masih terdapat fluida dan porositas pada batuan ini, setelah proses pemampatan yang
kurang sempurna maka dengan bantuan tekanan material sedimen terubahkan menjadi
batuan sedimen oleh proses litification. Proses diagenesis dapat terjadi pada kondisi
dengan suhu lingkungan 150 200oC, dengan tekanan < 6 kbar serta dapat terjadi hingga
kedalaman 15 km. Fase diagenesis yang dialamai batuan ini yaitu kompaksi dimana
terjadi pemampatan butiran sedimen satu terhadap yang lain akibat tekanan dari berat
beban diatasnya. Kemudian fase rekristalisasi diama terjadi pengkristalan kembali suatu
mineral dalam suatu larutan kimia yang berasal dari pelarutan material sadimen selama
diagenesa atau jauh sabelumnya. Kemudian fase sementasi, dimana material yang
terendapkan akan tersementasi oleh larutan kimia yang dapat mengikat antar grain, pada
kasus batuan ini tersementasikan oleh mineral lempung, semen biasanya tersusun oleh
material authigenic. Kemudian fase Authigenic yaitu terbentuknya mineral baru di
lingkungan diagenetik, sehingga adanya mineral tersebut merupakan partikel baru dalam
suatu sedimen. Mineral lempung inilah yang berperan mengikat material penysusun
batuan, mineral lempung menunjukan lingkungan pengendapan dengan arus tenang.
Tahapan diagenesis pada sayatan ini tergolong ke dalam tahapan mesogenesis dimana
batuan mengalami pembebanan yang cukup intensif.

(a) (b)

Gambar 3.8 Tahap Diagenesis (a) Kompaksi, (b) Sementasi


Berdasarkan tekstur dan komposisi penyusunnya, dapat diketahui tingkat
kematangan dari batuan ini. Secara tekstural, batuan ini memiliki matriks > 5%, dan
Sortasi buruk sehingga diinterpretasikan memiliki tingkat kematangan submature.
Sedangkan berdasarkan komposisional, batuan ini terususn atas matriks lempung dengan
presentase > 5 % sehinggga memiliki tingkat kematangan immature.

Gambar 3.10 Diagram Maturity


Berdasarkan material penyusun batuan tersebut maka dapat diinterpretasi batuan
asal dari sayatan ini. Batuan ini seluruhnya tersusun atas grain,matriks, dan semen,
dimana ditemukan mineral penyusun kuarsa dan semen kuarsa. Berdasarkan material
penyusun batuan ini dapat diindikasikan bahwa provenance dari batuan sedimen ini
merupakan hasil proses daur ulang pembentukan mineral baru, selain itu terbentuk
masuk diantara lembah palung dan samudera/didaerah orogenik lalu terbentuk dengan
kategori recycled orogen sehingga dari diagram provenance berdasarkan komposisi
terbentuk di daerah recycled orogenic

3.2 Sayatan Dini 12100610

Berdasarkan pengamatan secara mikroskopis perbesaran 4 kali dengan 3 medan


pandang yang masing-masing meliputi pengamatan PPL, XPL, dan Baji Kuarsa, sayatan
Dini 12100610 merupakan batuan sedimen klastik. Sayatan Dini 12100610 memiliki
ukuran butir <1/256 mm atau lempung (Wentworth, 1922). Bentuk butir, kebundaran,
sortasi, kemas, kontak butir, dan porositas batuan ini tidak dapat diamati karena ukuran
yang sangat halus sehingga tekstur butir tidak tampak jelas meskipun telah menggunakan
mikroskop. Hal ini dikarenakan keterbatasan perbesaran mikroskop. Batuan ini
seluruhnya tersusun oleh matriks yang berukuran sangat halus (< 1/256 mm) yang
memiliki warna coklat pada PPL, berwarna hitam pada XPL, dan berwarna merah muda
pad Baji kuarsa, diinterpretasikan matariks ini adalah lempung dengan kelimpaha 100%
pada batuan. Berikut adalah table komposisi dan kenampakan sayatan TRI TWP 14.
Tabel 3.1 Komposisi sayatan TRI TWP 14
Komposisi MP 1 MP 2 MP 3 Rata-rata
Komposisi Keterangan
Grain - - - - -
Matrix Lempung 100% 100% 100% 100%
Cement

Tabel 3.2 Kenampakan Mikroskopis Sayatan TRI TWP 14


Medan Pandang PPL XPL Baji Kuarsa
Medan Pandang I

Medan Pandang II

Medan Pandang
III

Berdasarkan komposisinya, batuan ini dapat diberi penamaan berdasarkan


Klasifikasi Pettijohn, 1975. Batuan ini seluruhnya tersusun atas matriks lempung 100%,
maka batuan ini memiliki nama Mudrock berdasarkan klasifikasi Pettijohn, 1975.
Klasifikasi ini menggunakan persentasi dari mineral kuarsa, feldspar serta fragmen
batuan dan mempertimbangkan kelimahan matriks pada sayatan tersebut. Batuan ini
seluruhnya tersusun atas matriks lempung 100% sehingga memiliki nama Mudrock
berdasarkan Klasifikasi Pettijohn, 1975
Gambar 3.1 Klasifikasi Pettijohn, 1975
Berdasarkan tekstur umum pada sayatan ini, dapat diinterpretasikan proses yang dialami
oleh batuan ini. Berdasarkan ukuran butir yang sangat halus (< 1/256 mm) dapat
diinterpretasikan batuan ini sudah tertransport jauh dari provenancenya. Proses
transportasi yang jauh ini menyebabkan batuan mengalami pelapukan dan erosi yang
intens, sehingga ukuran butirnya menjadi semakin halus dengan kebundaran rounded-
well rounded. Membutuhkan energy yang tinggi untuk mengerosi batuan menjadi ukuran
butir sangat halus, yang kemudian dapat tertransportasi.
Berdasarkan tekstur dan komposisi penyusunnya, dapat diketahui tingkat
kematangan dari batuan ini. Secara tekstural, batuan ini hanya dapat dideskripsi ukuran
butirnya saja sehingga diinterpretasikan memiliki tingkat kematangan immature.
Sedangkan berdasarkan komposisional, batuan ini terususn atas matriks lempung dengan
presentase > 5 % sehinggga memiliki tingkat kematangan immature.

Gambar 3.5 Diagram Maturity


Berdasarkan material penyusun batuan tersebut maka dapat diinterpretasi batuan
asal dari sayatan ini. Batuan ini seluruhnya tersusun atas matriks lempung, dimana
mineral lempung merupakan mineral ubahan dari plagioklas. Diinterpretasikan
provenance dari batuan sedimen ini berasal dari batuan beku intermediet banyak
dikarenakan mineral plagioklas merupakan mineral pembentuk lempung. Provenance
tersebut dapat berupa Andesit yang terbentuk pada zona hypabisal kemudian tersingkap
dipermukaan oleh intrusi ataupun pengangkatan (uplift), sehingga mengalami pelapukan
dan erosi dan material penyusunnya mengalami proses mekanis pembentukan batuan
sedimen.

3.3 Sayatan IJ

Berdasarkan pengamatan secara mikroskopis perbesaran 4 kali dengan 3 medan


pandang yang masing-masing meliputi pengamatan PPL, XPL, dan Baji Kuarsa, sayatan
IJ merupakan batuan sedimen klastik. Sayatan IJ memiliki ukuran butir 5mm. Memiliki
butir penyusun yang berbentuk membola atau high spherecity dengan tepi yang relative
tumpul sehingga kebundarannya rounded. Memiliki pemilahan butir yang seragam atau
well sorted dengan butir-butir yang saling berhimpitan sehingga kemasnya tertutup.
Butirnya relative berhimpitan dan berukuran sama besar sehingga memiliki kontak butir
point. Terdapat rongga-rongga diantara grain dengan fosil foram dan mineral sehingga
memiliki porositas intraparticle. Batuan ini tersusun atas 3 komponen yaitu grains,
matrix, dan semen. Grains pada sayatan ini terdiri dari beberapa jenis. Grain memiliki
warna bening, dengan kembaran Carlsbad-albit, yang diinterpretasikan plagioklas. Grain
selanjutnya memiliki warna bening, relief rendah, gelapan bergelombang, yang
diinterpretasikan kuarsa. Grain ketiga memiliki warna hitam pada PPL, XPL, dan baji
kuarsa, yang diinterpretasikan mineral opaq. Komponen yang kedua yaitu matriks
berukuran sangat halus (< 1/256 mm) yang memiliki warna coklat pada PPL, berwarna
hitam pada XPL, dan berwarna merah muda pada Baji kuarsa, diinterpretasikan matriks
ini adalah lempung. Komponen ketiga yaitu semen yang berfungsi mengikat grains dan
matriks. Pada sayatan ini memiliki semen dengan gelapan gelombang pada XPL, yang
diinterpretasikan semen kalsit. Berikut adalah table komposisi dan kenampakan sayatan

Tabel 3.7 Komposisi sayatan IJ


MP1 MP 2 MP 3 Rata-rata
Kuarsa 5% 30% 25% 30%
Feldspar 20% 15% 20% 18,3%
Mineral Opaq 25% 20% 10% 18,33%
Lithic/Rock 15% 5% 5% 8,33%
Fragmen
Tabel 3.6 Kenampakan Petrografi Sayatan IJ
Medan Pandang PPL XPL Baji Kuarsa
Medan Pandang I
1J

Medan Pandang II

Medan Pandang
III

Berdasarkan komposisinya, batuan ini dapat diberi penamaan berdasarkan


Klasifikasi Pettijohn, 1975. Batuan ini memiliki matriks dengan kelimpahan 20%
sehingga menggunakan segitiga Wacke. memiliki Lithic dengan kelimpahan 14,28%,
Kuarsa dengan kelimpahan 53,5%, dan Feldspar dengan kelimpahan 32,14%. Sehingga
batuan ini memiliki nama Lithic Wacke(Pettijohn,1975)

Gambar 3.11 Klasifikasi Pettijohn, 1975


Berdasarkan tekstur umum pada sayatan ini, dapat diinterpretasikan proses yang dialami
oleh batuan ini. Berdasarkan ukuran butirnya yang berukuran 2 mm dapat
diinterpretasikan batuan ini sudah mengalami trasnportasi dari provenancenya. Proses
transportasi yang ini menyebabkan batuan mengalami pelapukan dan erosi, sehingga
ukuran butirnya menjadi semakin kecil. Bentuk butir yang high spherecity dengan
kebundaran sub rounded menunjukkan batuan ini tertransport relative jauh dari
provenancenya. Membutuhkan energy yang tinggi untuk mengerosi batuan menjadi
ukuran butir lebih halus, yang kemudian dapat tertransportasi dengan mekanisme saltasi
dengan energy trasnsportasi yang tinggi sehingga membutuhkan arus yang kuat untuk
membawa batuan ini.

Gambar 3.12 Mekanisme transportasi Saltasi

Butiran sedimen ini akan terendapkan bila agen transportasi sudah tidak mampu
membawanya lagi, sehingga membutuhkan energy deposisi yang yang rendah. Sortasi
yang well sorted serta kemas yang tertutup menunjukkan bahwa tidak terjadi adanya
perbedaaan fluktuasi arus yang sangat signifikan pada proses deposisi. Diinterpretasikan
material penysusun batuan ini terendapakan pada waktu dan dengan energi pengendapan
yang relatif sama, sehingga mengendapkan material dengan ukuran butir yang seragam
dan hubungan antar butir yang relative saling mengikat. Hal ini mengakibatkan
ditemukan ruang antar butir atau porositas pada batuan ini. Kontak butir tipe point
menunjukan bahwa tingkat diagenesis yang dominan. Kompaksi belum dominan
mengakibatkan material penyusun batuan tidak terpadatkan secara sempurna sehingga
masih terdapat fluida dan porositas pada batuan ini, setelah proses pemampatan yang
kurang sempurna maka dengan bantuan tekanan material sedimen terubahkan menjadi
batuan sedimen oleh proses litification. Proses diagenesis dapat terjadi pada kondisi
dengan suhu lingkungan 150 200oC, dengan tekanan < 6 kbar serta dapat terjadi hingga
kedalaman 15 km. Fase diagenesis yang dialamai batuan ini yaitu kompaksi dimana
terjadi pemampatan butiran sedimen satu terhadap yang lain akibat tekanan dari berat
beban diatasnya. Kemudian fase rekristalisasi diama terjadi pengkristalan kembali suatu
mineral dalam suatu larutan kimia yang berasal dari pelarutan material sadimen selama
diagenesa atau jauh sabelumnya. Kemudian fase sementasi, dimana material yang
terendapkan akan tersementasi oleh larutan kimia yang dapat mengikat antar grain, pada
kasus batuan ini tersementasikan oleh mineral lempung, semen biasanya tersusun oleh
material authigenic. Kemudian fase Authigenic yaitu terbentuknya mineral baru di
lingkungan diagenetik, sehingga adanya mineral tersebut merupakan partikel baru dalam
suatu sedimen. Mineral lempung inilah yang berperan mengikat material penysusun
batuan, mineral lempung menunjukan lingkungan pengendapan dengan arus tenang.
Tahapan diagenesis pada sayatan ini tergolong ke dalam tahapan mesogenesis dimana
batuan mengalami pembebanan yang cukup intensif.
Berdasarkan tekstur dan komposisi penyusunnya, dapat diketahui tingkat
kematangan dari batuan ini. Secara tekstural, batuan ini memiliki matriks > 5%, dan
Sortasi baik serta kebundaran yang sub-rounded diinterpretasikan memiliki tingkat
kematangan mature. Sedangkan berdasarkan komposisional, batuan ini terususn atas
matriks lempung dengan presentase > 5 % sehinggga memiliki tingkat kematangan
immature.

Gambar 3.15 Diagram Maturity


Berdasarkan material penyusun batuan tersebut maka dapat diinterpretasi batuan
asal dari sayatan ini. Batuan ini seluruhnya tersusun atas grain,matriks, dan semen,
dimana ditemukan mineral penyusun kuarsa dan plagioklas. Diinterpretasikan
provenance dari batuan sedimen ini telah mengalami up-lift, selain itu material yang
dibawa tererosi oleh arus hingga tersedimentasi, proses ini berlangsung berulang-ulang
kali hingga membentuk material baru. Proses ini juga tergolong pada Magmatic Arc
sehingga berdasarkan diagram provenance, diinterpretasikan terbentuk di daerah
Dissected Arc
3.4 Sayatan AY 26

Berdasarkan pengamatan secara mikroskopis perbesaran 10 kali dengan 3 medan


pandang yang masing-masing meliputi pengamatan PPL, XPL, dan Baji Kuarsa, sayatan
AY 26 merupakan batuan sedimen klastik. Sayatan AY 26 memiliki ukuran butir 2mm.
Memiliki butir penyusun yang berbentuk membola atau high spherecity dengan tepi yang
relative tumpul sehingga kebundarannya Sub rounded. Memiliki pemilahan butir yang
tidak seragam atau poorly sorted dengan butir-butir yang berhimpitan sehingga kemas
tertutup. Butirnya relative berhimpitan dengan ukuran tidak sama besar sehingga kontak
butirnya long. Terdapat rongga-rongga diantara grain dengan grain sehingga memiliki
porositas interparticle. Batuan ini tersusun atas 3 komponen yaitu grains, matrix, dan
semen. Grains pada sayatan ini terdiri dari beberapa jenis, grain pertama memiliki
kenampakan warna hijau tua, tersusun atas mineral afanit, dan memiliki batas yang jelas
atau disebut Lithic. Grain kedua memiliki warna bening, dengan kembaran Carlsbad-
albit, yang diinterpretasikan plagioklas. Grain ketiga memiliki warna bening, relief
rendah, gelapan bergelombang, yang diinterpretasikan kuarsa. Grain keempat memiliki
warna hitam pada PPL, XPL, dan baji kuarsa, yang diinterpretasikan mineral opaq.
Komponen yang kedua yaitu matriks berukuran sangat halus (< 1/256 mm) yang
memiliki warna coklat pada PPL, berwarna hitam pada XPL, dan berwarna merah muda
pada Baji kuarsa, diinterpretasikan matriks ini adalah lempung. Komponen ketiga yaitu
semen yang berfungsi mengikat grains dan matriks. Pada sayatan ini memiliki semen
dengan gelapan gelombang pada XPL, yang diinterpretasikan semen kalsit. Berikut
adalah table komposisi dan kenampakan sayatan
Tabel 3.7 Komposisi sayatan AY 26
MP1 MP 2 MP 3 Rata-rata
Kuarsa 10% 15% 20% 15%
Feldspar 15% 20% 15% 16,6%
Mineral Opaq 20% 10% 10% 13,33%
Lithic/Rock 10% 10% 15% 11,67%
Fragmen

Tabel 3.6 Kenampakan Petrografi Sayatan AY 26


Medan Pandang PPL XPL Baji Kuarsa
Medan Pandang I
165

Medan Pandang II

Medan Pandang
III

Berdasarkan komposisinya, batuan ini dapat diberi penamaan berdasarkan


Klasifikasi Pettijohn, 1975. Batuan ini memiliki matriks dengan kelimpahan 28,3%
sehingga menggunakan segitiga Wacke. Memiliki Lithic dengan kelimpahan 11,6%,
Kuarsa dengan kelimpahan 15%, dan Feldspar dengan kelimpahan 16,6%. Sehingga
batuan ini memiliki nama Quarts wacke (Pettijohn,1975)
Gambar 3.11 Klasifikasi Pettijohn, 1975
Berdasarkan tekstur umum pada sayatan ini, dapat diinterpretasikan proses yang dialami
oleh batuan ini. Berdasarkan ukuran butirnya yang berukuran 2 mm dapat
diinterpretasikan batuan ini sudah mengalami trasnportasi dari provenancenya. Proses
transportasi yang ini menyebabkan batuan mengalami pelapukan dan erosi, sehingga
ukuran butirnya menjadi semakin kecil. Bentuk butir yang high spherecity dengan
kebundaran sub rounded menunjukkan batuan ini tertransport relative jauh dari
provenancenya. Membutuhkan energy yang tinggi untuk mengerosi batuan menjadi
ukuran butir lebih halus, yang kemudian dapat tertransportasi dengan mekanisme saltasi
dengan energy trasnsportasi yang tinggi sehingga membutuhkan arus yang kuat untuk
membawa batuan ini.

Gambar 3.12 Mekanisme transportasi Saltasi

Butiran sedimen ini akan terendapkan bila agen transportasi sudah tidak mampu
membawanya lagi, sehingga membutuhkan energy deposisi yang yang rendah. Sortasi
yang poorly sorted serta kemas yang tertutup menunjukkan bahwa terjadi adanya
perbedaaan fluktuasi arus yang sangat signifikan pada proses deposisi. Diinterpretasikan
material penysusun batuan ini terendapakan pada waktu dan dengan energi pengendapan
yang tidak sama, sehingga mengendapkan material dengan ukuran butir yang tidak
seragam dan hubungan antar butir yang relative tidak saling mengikat. Hal ini
mengakibatkan ditemukan ruang antar butir atau porositas pada batuan ini. Kontak butir
tipe long menunjukan bahwa tingkat diagenesis masih rentan. Kompaksi belum dominan
mengakibatkan material penyusun batuan tidak terpadatkan secara sempurna sehingga
masih terdapat fluida dan porositas pada batuan ini, setelah proses pemampatan yang
kurang sempurna maka dengan bantuan tekanan material sedimen terubahkan menjadi
batuan sedimen oleh proses litification. Proses diagenesis dapat terjadi pada kondisi
dengan suhu lingkungan 150 200oC, dengan tekanan < 6 kbar serta dapat terjadi hingga
kedalaman 15 km. Fase diagenesis yang dialamai batuan ini yaitu kompaksi dimana
terjadi pemampatan butiran sedimen satu terhadap yang lain akibat tekanan dari berat
beban diatasnya. Kemudian fase rekristalisasi diama terjadi pengkristalan kembali suatu
mineral dalam suatu larutan kimia yang berasal dari pelarutan material sadimen selama
diagenesa atau jauh sabelumnya. Kemudian fase sementasi, dimana material yang
terendapkan akan tersementasi oleh larutan kimia yang dapat mengikat antar grain, pada
kasus batuan ini tersementasikan oleh mineral lempung, semen biasanya tersusun oleh
material authigenic. Kemudian fase Authigenic yaitu terbentuknya mineral baru di
lingkungan diagenetik, sehingga adanya mineral tersebut merupakan partikel baru dalam
suatu sedimen. Mineral lempung inilah yang berperan mengikat material penysusun
batuan, mineral lempung menunjukan lingkungan pengendapan dengan arus tenang.
Tahapan diagenesis pada sayatan ini tergolong ke dalam tahapan mesogenesis dimana
batuan mengalami pembebanan yang cukup intensif.

(a) (b)

Gambar 3.13 Tahap Diagenesis (a) Kompaksi, (b) Sementasi


Berdasarkan tekstur dan komposisi penyusunnya, dapat diketahui tingkat
kematangan dari batuan ini. Secara tekstural, batuan ini memiliki matriks > 5%, dan
Sortasi buruk sehingga diinterpretasikan memiliki tingkat kematangan submature.
Sedangkan berdasarkan komposisional, batuan ini terususn atas matriks lempung dengan
presentase > 5 % sehinggga memiliki tingkat kematangan immature.

Gambar 3.15 Diagram Maturity


Berdasarkan material penyusun batuan tersebut maka dapat diinterpretasi batuan
asal dari sayatan ini. Batuan ini seluruhnya tersusun atas grain,matriks, dan semen,
dimana ditemukan mineral penyusun kuarsa dan plagioklas. Diinterpretasikan
provenance dari batuan sedimen ini berasal dari batuan beku intermediet banyak
dikarenakan mineral plagioklas merupakan mineral pembentuk lempung. Selain itu,
mineral tersebut mengalami uplift dengan komposisi mineral lebih dominan kuarsa dan
fragmen sehingga diinterpretasikan terbentuk dengan kategori continental block dan dari
diagram provenance terbentuk di daerah transitional continental