Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem perkemihan merupakan sistem pengeluaran zat-zat metabolisme
tubuh yang tidak berguna lagi bagi tubuh yang harus dikeluarkan (dieliminasi)
dari dalam tubuh karena dapat menjadi racun. proses eliminasi ini dapat dibagi
menjadi eliminasi unrine (buang air kecil) dan eliminasi alvi (buang air besar).
Gangguan saluran kemih adalah gangguan dari kandung kemih atau
uretra. Ginjal, Uretra, kandung kemih adalah organ-organ yang menyusun
saluran kemih. Fungsi utama dari saluran ini adalah untuk membuang air dan
sisa metabolisme dan mengeluarkannnya sebagai urin.
Proses ini berlangsung terus. Hanya pada kasus luka, infeksi atau
penyakit pada organ dari saluran kemih, fungsinya menjadi terganggu dan
karenanya menganggu biokimia dari aliran bawah. Ginjal adalah organ vital
penyangga kehidupan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang pembuatan makalah yang telah disebutkan
diatas, maka rumusan masalahnya adalah :
- Bagaimana asuhan keperawatan pada anak dengan masalah kesehatan
sistem urinaria GNA ?
- Bagaimana asuhan keperawatan pada anak dengan masalah kesehatan
sistem urinaria Nefrotik Sindrom ?
C. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
- Sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Keperawatan Anak II
- Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada anak dengan masalah
kesehatan sistem urinaria GNA dan Nefrotik Sindrom

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1
A. Anatomi Fisiologi
1. Anatomi

Ginjal merupakan salah satu bagian saluran kemih yang terletak


retroperitoneal dengan panjang lebih kurang 11-12 cm, disamping kiri kanan
vertebra. Pada umumnya, ginjal kanan lebih rendah dari ginjal kiri oleh
karena adanya hepar dan lebih dekat ke garis tengah tubuh. Batas atas ginjal
kiri setinggi batas atas vertebra thorakalis XII dan batas bawah ginjal
setinggi batas bawah vertebra lumbalis III.
Pada fetus dan infan, ginjal berlobulasi. Makin bertambah umur,
lobulasi makin kurang sehingga waktu dewasa menghilang.
Parenkim ginjal terdiri atas korteks dan medula. Medula terdiri atas
piramid-piramid yang berjumlah kira-kira 8-18 buah, rata-rata 12 buah.
Tiap-tiap piramid dipisahkan oleh kolumna bertini. Dasar piramid ini
ditutup oleh korteks, sedang puncaknya (papilla marginalis) menonjol ke
dalam kaliks minor. Beberapa kaliks minor bersatu menjadi kaliks mayor
yang berjumlah 2 atau 3 ditiap ginjal. Kaliks mayor/minor ini bersatu
menjadi pelvis renalis dan di pelvis renalis inilah keluar ureter.
Korteks sendiri terdiri atas glomeruli dan tubili, sedangkan pada
medula hanya terdapat tubuli. Glomeruli dari tubuli ini akan membentuk
Nefron. Satu unit nefron terdiri dari glomerolus, tubulus proksimal, loop of
henle, tubulus distal (kadang-kadang dimasukkan pula duktus koligentes).
Tiap ginjal mempunyai lebih kurang 1,5-2 juta nefron berarti pula lebih
kurang 1,5-2 juta glomeruli.
Pembentukan urin dimulai dari glomerulus, dimana pada glomerulus
ini filtrat dimulai, filtrat adalah isoosmotic dengan plasma pada angka 285
mosmol. Pada akhir tubulus proksimal 80 % filtrat telah di absorbsi
meskipun konsentrasinya masih tetap sebesar 285 mosmol. Saat infiltrat
bergerak ke bawah melalui bagian desenden lengkung henle, konsentrasi
filtrat bergerak ke atas melalui bagian asenden, konsentrasi makin lama

2
makin encer sehingga akhirnya menjadi hipoosmotik pada ujung atas
lengkung. Saat filtrat bergerak sepanjang tubulus distal, filtrat menjadi
semakin pekat sehingga akhirnya isoosmotic dengan plasma darah pada
ujung duktus pengumpul. Ketika filtrat bergerak turun melalui duktus
pengumpul sekali lagi konsentrasi filtrat meningkat pada akhir duktus
pengumpul, sekitar 99% air sudah direabsorbsi dan hanya sekitar 1% yang
diekskresi sebagai urin atau kemih (Price,2001 : 785).
2. Fisiologi ginjal
Telah diketahui bahwa ginjal berfungsi sebagai salah satu alat ekskresi
yang sangat penting melalui ultrafiltrat yang terbentuk dalam glomerulus.
Terbentuknya ultrafiltrat ini sangat dipengaruhi oleh sirkulasi ginjal yang
mendapat darah 20% dari seluruh cardiac output.
a. Faal glomerolus
Fungsi terpenting dari glomerolus adalah membentuk ultrafiltrat
yang dapat masuk ke tubulus akibat tekanan hidrostatik kapiler yang
lebih besar dibanding tekanan hidrostatik intra kapiler dan tekanan koloid
osmotik.
Volume ultrafiltrat tiap menit per luas permukaan tubuh disebut
glomerula filtration rate (GFR). GFR normal dewasa : 120 cc/menit/1,73
m2 (luas pemukaan tubuh). GFR normal umur 2-12 tahun : 30-90
cc/menit/luas permukaan tubuh anak.
b. Faal Tubulus
Fungsi utama dari tubulus adalah melakukan reabsorbsi dan sekresi
dari zat-zat yang ada dalam ultrafiltrat yang terbentuk di glomerolus.
Sebagaimana diketahui, GFR : 120 ml/menit/1,73 m2, sedangkan yang
direabsorbsi hanya 100 ml/menit, sehingga yang diekskresi hanya
1 ml/menit dalam bentuk urin atau dalam sehari 1440 ml (urin dewasa).
Pada anak-anak jumlah urin dalam 24 jam lebih kurang dan sesuai
dengan umur :
Umur Jumlah
1-2 hari 30-60 ml
3-10 hari 100-300 ml
10 hari-2 bulan 250-450 ml

3
2 bulan-1 tahun 400-500 ml
1-3 tahun 500-600 ml
3-5 tahun 600-700 ml
5-8 tahun 650-800 ml
8-14 tahun 800-1400 ml

c. Faal Tubulus Proksimal


Tubulus proksimal merupakan bagian nefron yang paling banyak
melakukan reabsorbsi yaitu 60-80 % dari ultrafiltrat yang terbentuk di
glomerolus. Zat-zat yang direabsorbsi adalah protein, asam amino dan
glukosa yang direabsorbsi sempurna. Begitu pula dengan elektrolit (Na,
K, Cl, Bikarbonat), endogenus organic ion (citrat, malat, asam karbonat),
H2O dan urea. Zat-zat yang diekskresi asam dan basa organik.
d. Faal loop of henle
Loop of henle yang terdiri atas decending thick limb, thin limb dan
ascending thick limb itu berfungsi untuk membuat cairan intratubuler
lebih hipotonik.
e. Faal tubulus distalis dan duktus koligentes
Mengatur keseimbangan asam basa dan keseimbangan elektrolit
dengan cara reabsorbsi Na dan H2O dan ekskresi Na, K, Amonium dan
ion hidrogen. (Rauf, 2002 : 4-5).

B. Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Masalah Kesehatan Sistem


Urinaria GNA
1. Pengertian
Glumerulonefritis akut ( GNA ) adalah penyakit yang menyerang
glomeruli dari kedua ginjal, sebagai suatu reaksi imunologi terhadap bakteri
atau virus tertentu. GNA sering ditemukan pada anak umur 3-7 tahun, lebih
sering pada pria. Biasanya didahului oleh infeksi ekstrarenal, terutama di
traktus respiratorius bagian atas dan kulit.

4
2. Etiologi :
Faktor etiologinya banyak dan bervariasi :
- Reaksi imunologi : infeksi lupus erythematosus, streptococus.
- Cedera vaskuler : Hipertensi, DM.
- Koagulasi koagulan yang menyebar ( DIC )
3. Patofisiologi

GNA adalah akibat reaksi antigen antibodi dengan jaringan


glumerulus yang menimbulkan bengkak dan kematian selsel kapiler
( epitel, membran lapisan bawah, dan endotelium.) Reaksi antigen antibodi
mengaktifkan jalur komplemen yang berdampak chemotaksis kepada
polymorfonuklear ( PMN ) lekosit dan mengeluarkan ensim lisosomal yang
menyerang membran dasar glomerolus yang menimbulkan peningkatan
respon pada ketiga jenis sel glomerulus.
Tanda dan gejala yang berefleksi kepada kerusakan glumerulus dan
terjadi kebocoran protein masuk kedalam urin (proteinuri dan
eritrosit/hematuri). Karena proses penyakit berlanjut terjadilah parut yang
berakibat menurunnya filtrasi glumerulus dan berdampak oliguri dan
retensi air, sodium dan produk sisa nitrogen. Kesemuanya ini berdampak
meningkatnya volume cairan, edem, dan asotemia yang yang ditampilkan
melalui napas pendek, edem yang dependen, sakit kepala, lemah dan
anoreksia.
4. Komplikasi
a. Oliguria sampai anuria yang dapat berlangsung 2-3 hari. Terjadi sebagai
akibat berkurangnya filtrasi glomerulus. Gambaran seperti insufisiensi
ginjal akut dengan uremia, hiperfosfatemia, hiperkalemia dan hidremia.

5
Walaupun oliguria atau anuria yang lama jarang terdapat pada anak, jika
hal ini terjadi diperlukan peritoneum dialisis (bila perlu).
b. Ensefalopati hipertensi merupakan gejala serebrum karena hipertensi.
Terdapat gejala berupa gangguan penglihatan, pusing, muntah dan kejang-
kejang. Hal ini disebabkan karena spasme pembuluh darah lokal dengan
anoksia dan edema otak.
c. Gangguan sirkulasi berupa dispnea, ortopnea, terdapatnya ronki basah,
pembesaran jantung dan meningginya tekanan darah yang bukan saja
disebabkan spasme pembuluh darah, tetapi juga disebabkan oleh
bertambahnya volume plasma. Jantung dapat membesar dan terjadi gagal
jantung akibat hipertensi yang menetap dan kelainan di miokardium.
d. Anemia yang timbul karena adanya hipervolemia di samping sintesis
eritopoetik yang menurun.

5. Gambaran Klinik
Gambaran klinik dapat bermacam-macam. Kadang-kadang gejala
ringan tetapi sering juga pasien datang sudah dalam keadaan payah. Gejala
yang sering ditemukan ialah hematuria (kencing berwarna merah seperti air
daging ). Kadang disertai edema ringan di sekitar mata atau dapat juga
diseluruh tubuh. Umumnya terjadi edema berat bila terdapat oliguria dan
gagal jantung.
Hipertensi terdapat pada 60-70% anak dengan GNA pada hari pertama
dan akan kembalinormal pada akhir minggu pertama juga. Jika terdapat
kerusakan jaringan ginjal, tekanan darah akan tetap tinggi selama beberapa
minggu dan menjadi permanen jika keadaan penyakitnya menjadi kronik.
Hipertensi ini timbul karena vasospasme atau iskemia ginjal dan
berhubungan dengan gejala serebrum serta kelainan jantung. Suhu badan
umunya tidak seberapa tinggi, tetapi dapat menjadi tinggi sekali pada hari
pertama. Kadang-kadang gejala panas tetap ada walaupun tidak ada gejala
infeksi lain yang mendahuluinya.
Gejala gastrointestinal seperti muntah, tidak nafsu makan, diare
sering, menyertai pasien GNA. Selama fase akut terdapat vasokontriksi

6
arteriola glomerulus yang mengakibatkan tekanan filtrasi menjadi kurang
dan karena hal ini kecepatan filtrasi glomerulus pun menjadi kurang. Filtrasi
air, garam, ureum, dan zat-zat lainnya berkurang sebagai akibatnya kadar
ureum dan kreatinin dalam darah meningkat. Fungsi tubuluh relatif kurang
terganggu. Ion natrium dan air diresorpsi kembali sehingga diuresis
mengurang (timbul oliguria dan anuria) dan eksresi natrium mengurang,
ureumpun diresorpsi kembali lebih dari biasa. Akibatnya terjadi insufisiensi
ginjal akut dan uremia, hiperfodfatemia, hidremia dan asidosis metabolik.
Reaksi Imunologi

Bengkak & Kematian
Sel-sel Kapiler Glumerolus

Jalur Komplemen Aktif
(chemotaksis)

Enzim Lisosomal Menyerang BGM

Kerusakan Glumerulus
(proteinuri dan hematuri)

Kerusakan Glumerulus
(proteinuri dan hematuri)

Timbul Parut

Fungsi Glumerulus Berkurang

6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan Laboratorium
Laju endapan darah meninggi, kadar Hb menurun sebagai akibat
hipervolemia (retensi garam dan air). Pada pemeriksaan urin didapatkan

7
jumlah urin mengurang, berat jenis meninggi. Hematuria makroskopis
ditemukan pada 50% pasien. Ditemukan pula albumin (+), eritrosit (++),
leukosit (+), silinder leukosit, eritrosit hialin.
Albumin serum sedikit menurun, demikian juga komplemen serum
(globulin beta-IC). Ureum dan kreatinin meningkat. Titer antistreptolisin
umumnya meningkat, kecuali kalau infeksi Streptococcus yang mendahului
hanya mengenai kulit saja. Uji fungsi ginjal normal 50% pasien.
7. Penatalaksanaan
a. Medik
Tidak ada pengobatan yang khusus yang mempengaruhi penyembuhan
kelainan di glomerulus.
1. Istirahat mutlak selama 3-4 minggu. Dahulu dianjurkan selama 6-8
minggu. Tetapi penyelidikan terakhir dengan hanya istirahat 3-4 minggu
tidak berakibat buruk bagi perjalanan penyakitnya.
2. Pemberian penisilin pada fase akut. Pemberian antibiotik ini tidak
mempengaruhi beratnya glomerulonefritis, melainkan mengurangi
menyebarnya infeksi Streptococcus yang mungkin masih ada. Pemberian
penisilin dianjurkan hanya untuk 10 hari. Pemberian profilaksis yang lama
sesudah nefritisnya sembuhterhadap kuman penyebab tidak dianjurkan
karena terdapat imunitas yang menetap. Secara teoritis anak dapat
terinfeksi lagi dengan kuman nefritogen lain, tetapi kemungkinan ini sangat
kecil.
3. Makanan pada fase akut diberikan makanan rendah protein (1g/kgBB/hari)
dan rendah garam (1g/hari). Makanan lunak diberikan pada pasien dengan
suhu tinggi dan makanan biasa bila suhu normal kembali. Bila ada anuria
atau muntah, diberikan IVFD dengan larutan glukosa 10%. Pada pasien
dengan tanpa komplikasi seperti ada gagal jantung,edema, hipertensi dan
oliguria, maka jumlah cairan yang diberikan harus dibatasi.
4. Pengobatan terhadap hipertensi. Pemberian cairan dikurangi, pemberian
sedativa untuk menenangkan pasien sehingga dapat cukup beristirahat.
Pada hipertensi dengan gejala serebral diberikan aserpin dan hidralazin.
Mual-mual diberikan reserpin sebanyak 0,07 mg/kgBB secara

8
intramuskular. Bila terjadi diuresis 5-10 jam kemudian, selanjutnya
pemberianreserpin personal dengan dosis rumat 0,03 mg/kgBB/hari.
Magnesium sulfat parenteral tidak dianjurkan lagi karean memberikan efek
toksisk.
5. Bila anuria berlangsung lama (5-7 hari), makaureum harul dikeluarkan
dari dalam darah. Dapat dengan cara peritoneum dialisis, hemodialisis,
transfusi tukar dan sebagainya.
6. Diuretikum dulu tidak diberikan pada glomerulonefritis akut, tetapiakhir-
akhir ini pemberian furosamid (Laxis) secara intravena (1 mg/kgBB/kali)
salam 5-10 menit tidak berakibat buruk pada hemodinamika ginjal dan
filtrasi glomerulus.
7. Bila timbul gagal jantung, diberikan digitalis, sedativum dan oksigen.

b. Keperawatan
Pada pasien GNA perlu dirawat di rumah sakit karena memerlukan
pengobatan/pengawasan perkembangan penyakitnya untuk mencegah
penyakit menjadi lebih buruk. Hanya pasien GNA yang tidak terdapat
tekanan darah tinggi, jumlah urin 1 hari paling sedikit 400 ml dan keluarga
sanggup serta mengerti boleh dirawat di bawah pengawasan dokter.
Masalah pasien yang perlu diperhatikan adalah gangguan faal ginjal,
risiko terjadi komplikasi, diet, gangguan rasa aman dan nyaman, dan
kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit.
1. Gangguan faal ginjal
Ginjal diketahui sebagai alat yang salah satu dari fungsinya adalah
mengeluarkan sisa etabolisme terutama protein sebagai ureum, juga kalium,
fosfat, asam urat dan lain sebagainya. Karena terjadi kerusakan pada
glomerulus (yang merupakan reaksi autoimun terhadap adanya infeksi
Streptococcus ekstrarenal) menyebabkan gangguan filtrasi glomerulus dan
mengakibatkan sisa-sisa metabolisme tidak dapat diekskresikan maka di
dalam darah terdapat ureum, dan lainnya lagi yang disebutkan atas
meninggi. Tiap tubulus karena tidak terganggu maka terjadi penyerapan

9
kembali air dan ion natrium yang mengakibatkan banyaknya urin
berkurang., dan terjadinya oliguria sampai anuria.
Untuk mengetahui keadaan ginjal, pasien GNA perlu dilakukan
pemeriksaan darah untuk fungsi ginjal, laju endap darah (LED), urin dan
foto radiologi ginjal. Urin perlu ditampung selama 24 jam, diukur
banyaknya dan berat jenisnya (BJ) dicatat pada catatan khusus (catatan
pemasukan/pengeluaran cairan). Bila dalam 24 jam jumlah urin kurang dari
400 ml supaya memberitahukan dokter. Tempat penampungan urin
sebaiknya tidak dibawah tempat tidur pasien karena selain tidak sedap
dipandang juga menyebabkan bau urin dalam ruangan. Penampungan urin
harus ada tutupnya yang cocok (agar baunya tidak keluar), diberi etiket
selain, nama juga jam dan tanggal mulai urin ditampung. Hati-hati jika
ada nama yang sama jangan tertukar; tuliskan juga nomer tempat tidur atau
nomer register pasien. Tempat penampungan urin harus dicuci bersih setiap
hari ; bila terdapat endapan yang sukar sigosok pergunakan asam cuka,
caranya rendamkan dahulu beberapa saat baru kemudian digosok pakai
sikat. Untuk membantu lancarnya diuresis disamping obat-obatan pasien
diberikan minum air putih dan dianjurkan agar anak banyak minum (ad
libitum) kecuali jika banyaknya urin kurang dari 200 ml. Beberapa banyak
pasien dapat menghabiskan air minum supaya dicatat pada catatan khusus
dan dijumlah selama 24 jam. Kepada pasien yang sudah mengerti sebelum
mulai pencatatan pengeluaran/pemsukan cairan tersebut harus diterangkan
dahulu mengapa ia harus banyak mimum air putih dan mengapa air kemih
harus ditampung. Jika anak akan buang air besar supa sebelumnya berkemih
dulu di tempat penampungan urin baru ke WC atau sebelumnya gunakan pot
lainnya. Dengan demikian bahwa banyaknya urin adalah benar-benar dari
keseluruhan urin pada hari itu.
2. Resiko terjadinya komplikasi
Akibat fungsi ginjal tidak fisiologis menyebabkan produksi urin
berkurang, sisa metabolisme tidak dapat dikeluarkan sehingga terjadi
uremia, hiperfosfatemia, hiperkalemia, hidremia, dan sebagainya. Keadaan
ini akan menjadi penyebab gagal ginjal akut atau kronik (GGA/GGK) jika

10
tidak secepatnya mendapat pertolongan. Karena adanya retensi air dan
natrium dapat menyebabkan kongesti sirkulasi yang kemudian
menyebabkan terjadinya efusi ke dalam perikard dan menjadikan
pembesaran jantung. Jika keadaan tersebut berlanjut akan terjadi gagal
jantung. Keadaan uremia yang makin meningkat akan menimbulkan
keracunan pada otak yang biasanya ditandai dengan adanya gejala
hipertensif ensefalopati, yaitu pasien merasa pusing, mual, muntah,
kesadaran menurun dan bahkan dapat timbul kejang. Atas dasar hal-hal
tersebut untuk mencegah komplikasi lebih parah atau untuk mengenal gejala
komplikasi sedini mungkin pasien memerlukan :
1) Istirahat
Karena adanya kelainan jantung dan tekanan darah yang
meninggi,pasien perlu istirahat mutlak selama 2 minggu. Selama istirahat
mutlak semua keperluan pasien harus ditolong di atas tempat tidur. Jika
tekanan sudah normal selama 1 minggu pasien boleh duduk, kemudian
berjalan di dalam ruangan secara bertahap. Beritahukan pada pasien apa
yang boleh dilakukan.
2) Pengawasan tanda vital
Pengawasan tanda vital secara rutin dilakukan 3 kali sehari. Jika
terdapat suhu tinggi yang mendadak perlu dilakukan pengukuran suhu
ekstra 1 jam kemudian setelah dilakukan usaha menurunkannya misalnya
dengan mengompres. Bila perlu konsultasi ke dokter. Tekanan darah normal
diukur setiap pagi. Jika terdapat tekanan diastole di atas 90 dan sistole di
atas 140 mm Hg tetapi masih di bawah 160 mm Hg, tekanan darah diukur 3
kali sehari. Jika tekanan darah sampai 160 mmHg/ lebih diukur setiap jam
sambil diperhatikan keadaan umumnya. Catatlah pada catatan khusus dan
hubungi dokter setiap perkembangan pasien.
3) Jika terdapat gejala dispnea atau ortopnea dan pasienterlihat lemah, adalah
kemungkinan adanya gejala payah jantung ; segera berikan sikap setengah
duduk berikan O2 dan hubungi dokter. Siapkan alat-alat untuk infus.

11
4) Bila terdapat keluhan pusing sekali, muntah-muntah dan kesadaran
menurun, ukur tekanan darah, periksakan ureum darah dan hubungi dokter
(atau persiapkan saja alat-alat untuk periksa kimia darah)
5) Jika terlihat urin mendadak menjadi berkurang periksalah dahulu apakah
pasien tidak berkemih di tempat lain dan perhatikan keadaan umumnya.
Jika pasien makin lemah dan merupakan gejala gagal ginjal akut segera
menghubungi dokter, persiapkan infus, hentikan pemberian makanan yang
mengandung protein dan garam. Periksakan darah faal ginjal dan ukur
tekanan darahnya.
6) Jika pasien mendapat obat-obatan berikan pada waktunya dan tunggui
sampai obat tersebut berikan pada waktunya dan tunggui sampai obat
tersebut betul-betul diminum (sering terjadi obat tidak diminum dan
disimpan di bawah bantal pasien). Jika hal itu terjadi penyembuhan tidak
seperti yang diharapkan. Selain pengawasan tanda vital dan istirahat
pasien perlu ditimbang berat badannya, setiap hari jika keadaanya
mencurigakan. Jika tidak, ditimbang 2 kali seminggu; tetapi dapat
sewaktu-waktu misalnya jika anak terlihat sembab atau diperlukan untuk
dosis pengobatan maupun untuk pemeriksaan CCT/UCT. Jika berat badan
naik berlebihan dapat dicurigai pasien akan beralih menjadi sindrom
nefrotik, karena ini juga merupakan salah satu komplikasi dari GNA
kronik.
3. Diet
Pasien GNA karena adanya uremia, protein perlu dibatasi ; dan karena
ada retensi garam maka garam juga dikurangi. Di bangsal Anak RSCM
jakarta pasien GNA dietnya diberikan sebagai berikut:
Bila ureum darah melebihi 60 mg% diberikan protein 1g/kgBB/hari dan
garam 1g/hari (rendah garam)
Bila ureum antara 40-60 mg% protein diberikan 2g/kgBB/hari dan masih
rendah garam. Selanjutnya bila ureum makin normal diet kembali dengan
garam ditambah secara berangsur-angsur. Selama pasien mendapatkan diet
nefritis harus diperhatikan apakah pasien dapat menghabiskan porsi yang
dihidangkan, dan apakah pasien tidak memakan makanan lain. Pasien yang

12
sudah mengerti perlu diberi penjelasan dahulu mengenai makanan yang
garamnya dikurangi serta pembatasan protein (hal ini karena pernah terjadi
pasien GNA yang melihat pasien sindrom nefrotik mendapat 1 telur atau
daging lebih besar kemudian meminta kepada ibunya dan orang tua yang
tidak mengerti memberikan sendiri di luar diet RS). Oleh karena itu selain
pasien sendiri juga orang tuanya perlu diberikan penjelasan mengenai diet
anaknya. Bila orang tua melihat anaknya tidak mau makan agar
membujuknya. Jelaskan bahaya yang akan terjadi jika anak makan
makanan yang tidak dibatasi protein dan garamya. Diet ini menentukan
penyembuhan.
Jika pasien tidak makan karena merasa mual atau ingin muntah atau
muntah-muntah segera hubungi dokter, siapkan keperluan infus dengan
cairan yang biasa digunakan ialah glukosa 5-10% dan selanjutnya atas
petunjuk dokter. Jikainfus diberikan pada pasien yang tersangka ada
kelainan jantung atau tekanan darahnya tinggi, perhatikan agar tetesan tidak
melebihi yang telah diperhitungkan dokter, bahayanya memperberat kerja
jantung.
4. Gangguan rasa aman dan nyaman
Gangguan rasa aman dan nyaman dirasakan oleh pasien GNA seperti
pasien lain yang dirawat di rumah sakit. Pada pasien GNA ditambah lagi
dengankeharusan minum air putih sebanyak 1 liter/hari (kecuali jika urin
kurang dari 300ml) dan menampung urinnya, maka harus diet serta istirahat
mutlak selama 4 minggu. Mungkin, setelah istirahat 1 minggu tekanan
darahnya turun, demam sudah hilang, sudah tidak pusing lagi sehingga
keharusan istirahat mutlak tersebut dirasakan sebagai pembatasan aktivitas.,
dan menyebabkan rasa bosan. Oleh karena itu kontak yang sering dan
berkomunikasi akan menyenangkan pasien. Agar pasien tidak terlalu bosan
dan kehilangan kegembiraannya jika tekanan darahnya sudah turun 5-7 hari,
pasien dibolehkan duduk dan melakukan kegiatan-kegiatan yang ringan
misalnya baca buku (anak yang sudah sekolah), melihat-lihat buku gambar
atau bermain dengan kawan yang telah dapat berjalan. Seharusnya ada
seseorang (justru orang yang telah mengetahui ilmu psikologis) yang

13
biasanya mendampingi/mengajak bermain dengan pasien memerlukan
hiburan tersebut agar tidak bosan. Di ruangan pasien ginjal ini karena pada
umumnya terdapat anak-anak yang masih kecil diperlukan tempat untuk
bersama-sama misalnya tempat makan bersama atau bermain bersama, serta
disediakan mainan yang dapat dimainkan sambil duduk. Hal ini perlu untuk
yang sudah dalam masa penyembuhan tetapimasih perlu istirahat di tempat.
Di samping itu juga buku-buku bacaan yang bersifat pendidikan misalnya
mengenai kesehatan. Perawat sesekali harus menyempatkan diri untuk
bergabung dengan mereka. Bila perlu memberikan nasehat tentang
kesehatan pasien masing-masing. Pada permulaan mobilisasi setelah demam
dan tekanan darahnya turun 5 hari pasien bolah berkemih sendiri jika mandi
masih dibantu harus dibantu dan pasien tetap dipantau keadaannya.
5. Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit
Pada umumnya yang mendorong orang tua membawa berobat
anaknya ke dokter/puskesmas ketika melihat urin anaknya berwarna merah
seperti air cucian daging. Biasanya jika hanya demam saja orang tua akn
memberikan obat sendiri yang dapat dibeli di toko-toko. Mereka tidak
mengetahui bahwa demam tersebut merupakan gejala dari penyakit yang
mengenai tenggorokan anaknya yang kebetulan disebabkan oleh
Streptococcus, dan dapat mengakibatkan penyakit ginjal (memang tidak
selalu demam berakibat sakit ginjal). Penjelasa yang perlu disampaikan
kepada orang tua pasien adalah :
a. Bila anak yang sakit demam tinggi disertai sakit menelan atau batuk
dengan demam tinggi hendaknya dibawa berobat ke dokter/pelayanan
kesehatan supaya anak mendapatkan pengobatan yang tepat dan cepat.
Jika anak mendapat antibiotik agar diminum sampai habis. Obat ini
seharusnya diminum sampai demam telah turun 3 hari masih diteruskan,
bukan asal demamnya sudah turun obat dihentikan. Orang tua diberi
penjelasan jika obat habis bersamaan dengan turunnya demam itu hari
harus kembali ke dokter karena akan dilihat apakah anak perlu masih
diberikan tambahan antibiotik (karena ada kemungkinan demam akan
kembali lagi jika kebetulan penyebab penyakit adalah jenis Streptococcus

14
beta hemolitycus akan mengakibatnya terjadinya penyakit ginjal pada anak
atau penyakit jantung jika pengobatan tidak tuntas).
b. Jika anak sudah terlanjur menderita GNA selama dirawat di rumah sakit,
orang tua diharapkan dapat membantu usaha pengobatannya misalnya
untuk pemeriksaan-pemeriksaan atau tindakan, sering memerlukan biaya
yang cukup banyak sedangkan rumah sakit tidak tersedia keperluan
tersebut. Di samping itu dapat membantu memberikan rasa aman pada
anak. Dapat diminta membujuk anaknya jika ia tidak mau makan karena
makanannya rasa kurang enak (karena kurang garam), juga agar anak mau
minum lebih banyak serta mencatatnya jika perawat tidak sempat mencatat
pada saat anak minum (sebelumnya orang tua diberi penjelasan mengenai
perlunya pengumpulan urin dan mencatat minum anak selama 24 jam,
untuk keperluan pengamatanperkembangan penyakit anaknya).
c. Bila pasien sudah boleh pulang di rumah masih harus istirahat cukup.
Walaupun anak sudah diperbolehkan sekolah tetapi belum boleh mengikuti
kegiatan olahraga; dokter akan memberikan surat keterangan tersebut,
makanan, garam masih perlu dikurangi sampai keadaan urin benar-benar
normal kembali (kelainan urin, adanya eritrosit dan sedikit protein akan
masih ditemukan kira-kira 4 bulan lamanya). Jika makanan dan
istirahatnya tidak diperhatikan akan kemungkinan penyakit kambuh
kembali. Hindarkan terjadinya infeksi pada saluran pernapasan terutama
yang mengenai tenggorokan untuk mencegah penyakit berulang.
Kebersihan lingkungan perlu dianjurkan agar selalu diperhatikan
khususnya Streptococcus yang menjadi penyebab timbulnya GNA. pasien
harus kontrol secara teratur untuk mencegah timbulnya komplikasi yang
mungkin terjadi seperti glomerulus kronik atau bahkan sudah terjadi gagal
ginjal akut. Jika petunjuk mengenai kegiatan anak telah boleh dilakukan.

PENGKAJIAN KEPERAWATAN :
1. Tanda-tanda vital
a. Nadi
b. Pernapasan

15
c. Tekanan darah
2. Fungsi ginjal
a. Nyeri tekan pinggang atau suprapubik
b. Disuria
c. Pola berkemih-lancar atau menetes
d. Frekuensi atau inkontinens
e. Urgensi
f. Adanya asites
g. Adanya edema-skrotum, periorbital, tungkai bawah
3. Karakteristik urin dan urinasi
a. Urin tampak bening atau keruh
b. Warna-kuning sawo, merah muda, atau coklat kemerahan
c. Bau-ammonia, aseton, sirup maple
d. Berat jenis
e. Menangis setelah berkemih
4. Pertumbuhan dan perkembangan
a. Anak Usia Sekolah
Karakteristik fisik
Ledakan pertumbuhan dimulai. Berbaai variasi masih normal. Bagan
perkembangan hanya digunakan untuk referensi saja. Anak perempuan
mungkin mulai mengembangkan ciri seks sekundernya dan mulai
menstruasi pada tahap ini. Usia awitan menstruasi telah menurun pada
dekade terakhir ini
1. Berat badan- anak bertambah 2 sampai 4 kg per tahun
2. Tinggi badan- pada usia 8 tahun, secara proporsional lengan lebih panjang
daripada badan; tinggi bertambah pada usia 9 tahun
3. Gigi- mulai menanggalkan gigi susu ; memiliki 10 sampai 11 gigi
permanen saat usia 8 tahun dan kira-kira 26 gigi permanen saat berusia 12
tahun
b. Perkembangan
1. Perkembangan psikoseksual (tahap laten)
a. Fokus tubuh- masalahseksual menjadi kurang disadari

16
b. Tugas perkembangan- integrasi bertahap dari pengalaman dan reaksi
seksual yang lalu ( pada tahun-tahun terakhir ini terdapat makin banyak
laporan bahwa masa laten ini bukanlah periode netral dalam
perkembangan seksualitas)
c. Krisis perkembangan- makin banyak laporan tentang masalah seksual
praremaja, yang dimulai saat kira-kira usia 10 tahun
d. Keterampilan koping umum- menggigit kuku, ketergantungan,
keterampilan pemecahan masalah bertambah, penyangkalan, humor,
fantasi, dan identifikasi.
e. Peran orang tua- peran utama dalam pendidikan anak tentang aturan dan
norma yang mengatur prilaku seksual dan seksualitas dan dalam
mempengaruhi perilaku spesifik kelamin
2. Perkembangan Psikososial ( industri vs inisiatif)
a. Tugas perkembangan- belajar mengembangkan rasa keadekuatan terhadap
kemampuan dan kompetensi pada saat kesempatan untuk belajar dan
interaksi sosial bertambah, anak berusaha agar berhasil di sekolah
b. Krisis perkembangan- anak dalam bahaya akibat perkembangan rasa
rendah diri jika ia tidakmerasa kompeten dan keberhasilan mencapai tugas.
c. Bermain- anak menikmati aktivitas santai bersama teman sebaya (mis.
Kasti); permainan cenderung memisahkan kedua lawan jenis; mainan
rough and tumble adalah ciri khas permainan luar rumah yang tidak
terstruktur; minat pribadi, aktivitas, dan hobi berkembang pada saat ini
d. Peran keluarga dan orang tua- prang tua menjadi figur yang kurang
bermakna yang berarti sebagai agens untuk sosialisasi; hubungan dengan
teman sebaya cenderung mengurangi pengaruh dominan dari orang tua
yang ada sebelumnya ; orang tua masih merasa dan berespon sebagai
otoritas utama; harapan dari guru, pelatih, dan para tokoh keagamaan
memberi dampak terhadap perilaku anak
3. Perkembangan kognitif
a. Pemikiran anak menjadi sangat abstrak dan simbolik; kemampuan
membentuk representasi mental dibantu oleh kepercayaan pada akal sehat
penglihatan

17
b. Mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam menemukan pemecahan
terbaik
c. Dapat membalikan cara kerja; dapat melacak urutan kejadian kembali
sejak awal
d. Memahami konsep dulu, sekarang dan yang akan datang
e. Dapat menyebutkan waktu
f. Dapat menggolongkan objek sesuai golongan dan subgolongan
g. Memahami konsep tinggi, berat, dan volume
h. Dapat berfokus pada lebih dari satu aspek dari situasi
4. Perkembangan moral (tahap konvesional)
a. Pengertian moralitas anak ditentukan oleh aturan dan tata tertib dari luar.
b. Hubungan dan kontak soaial anak dengan figur otoritas mempengaruhi
pengertian benar dan salah
c. Pengertian benar dan salah anak ketat dan kaku.
5. Perkembangan kepercayaan (tahap dongeng harfiah)
a. Kepercayaan anak sangat dipengaruhi oleh figur otoritas
b. Anak belajar membedakan yang natural dan supernatural
c. Anak mulai membentuk pengertian pribadi tentang tuhan.
5. Genitalia
6. Hidrasi
a. Iritasi
b. Sekret
7. Aktivitas atau istirahat
Gejala keletihan, kelemahan, malaise

Tanda kelemahan otot, kehilangan tonus otot

8. Sirkulasi
Tanda hipertensi, distrimia jantung, nadi lemah atau halus, hipertensi
ortostatik (hipovolemia), 0edema jaringan umum, pucat, kecenderungan
perdarahan

9. Eliminasi
Gejala perubahan pola berkemih

18
Disuria, ragu-ragu, dororngan dan retensi (inflamasi/obastruksi, infeksi)

Obdomen kembung, diare/konstipasi

Tanda perubahan warna urine ex : kuning pekat, merah, coklat,


berawan

Oliguria (12 - 21 hari) , poliuria (25 L/ hari)

10. Makanan/cairan
Gejala peningkatan BB ( oedema),

Muaql, muntah, anoreksia

Penggunaan diuretic

Tanda perubahan turgo kulit/kelembaban, oedeam (umum, bagian


bawah)./

11. Neurosensori
Gejala sakit kepala, penglihatan kabur

Tanda penurunan tingkat kesadaran., kejang, faskikulasi otot aktivitas


kejang

12. Nyeri / kenyamanan


Gejala nyeri tubuh, sakit kepela

Tanda perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah

13. Pernapasan
Gejala nafas pendek

Tanda takipnea, dfispnea, batu produktif dengan sputum kental merah


mudah (Oedema paru)

14. Keamanan
Gejala adanya reaksi tranfusi

Tanda demam (sepsi, dehidrasi)

19
Petekie, area kulit ekimosis

Pruritis, kulit kering

DIAGNOSA

Kelebihan volume cairan


Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
Kurang pengetahuan

INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Pertahankan tirah baring, dan jaga agar anak nyaman sampai terjadi
diuresis; setelah diuresis, anjurkan aktivitas yang tenang.
2. Pantau dengan cermat tanda-tanda vital (khususnya tekanan darah).
3. Bila ada hipertensi, batasi asupan natrium dan beri obat yang
diinstruksikan.
4. Pantau urin terhadap protein dan adanya darah.
5. Tingkatkan asupan nutrisi yang adekuat : ajurkan makan tinggi
karbohidrat, sajikan makanan kesukaan, dan sajikan sedikit tapi sering.
6. Batasi asupan kalium jika terhadi hiperkalemia.
7. Catat berat badan harian serta catat asupan dan haluran cairan dengan
cermat.
8. Pantau adanya komplikasi perubahan nyata pada tanda-tanda vital,
perubahan tampilan atau volume urin, peningkatan berat badan berlebihan,
gangguan penglihatan, gangguan motoris, aktivitas kejang, nyeri hebat,
atau perubahan perilaku.
Perencanaan Pulang dan Perawatan di Rumah
1. Bekali keluarga dengan pengetahuan tentang penyakit anak dan rencana
pengobatannya.
2. Instruksikan tentang pengobatan anak selama di rumah.
3. Instruksikan orang tua dan anak tentang bagaimana memantau tekanan
darah dan berat badan, dan mendapatkan urinalisis untuk beberapa bulan ;
perjanjian pemeriksaan tindak lanjut juga harus diatur.

20
4. Minta orang tua menghubungi dokter jika terdapat perubahan kondisi
anak, seperti adanya tanda-tanda infeksi, edema, perubahan kebiasaan
makan, nyeri abdomen, sakit kepala, perubahan tampilan atau jumlah urin,
atau letargi.
5. Jelaskan batasan-batasan diet pada orang tua.

C. Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Masalah Kesehatan Sistem


Urinaria Sindrom Nefrotik
1. Definisi
Merupakan suatu kondisi dimana terjadi perubahan fungsi ginjal yang
bercirikan hipoproteinemia, oedema, hiperlipidemia, proteinuri, ascites dan
penurunan keluaran urine.
Sindrom Nefrotik adalah penyakit dengan gejala edema, proteinuria,
hipoalbunemia dan hiperkolesterolemia (Rusepno, H, dkk. 2000, 832).
Sindrom Nefrotik adalah status klinis yang ditandai dengan
peningkatan permeabilitas membran glomerulus terhadap protein, yang
mengakibatkan kehilangan protein urinaris yang massif (Donna L. Wong,
2004).
Sindrom Nefrotik merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh
injuri glomerular yang terjadi pada anak dengan karakteristik; proteinuria,
hipoproteinuria, hipoalbuminemia, hiperlipidemia, dan edema (Suriadi dan
Rita Yuliani, 2001).
Sindrom nefrotik merupakan sekumpulan gejala yang terdiri dari
proteinuria masif (lebih dari 50 mg/kgBB/24 jam), hipoalbuminemia
(kurang dari 2,5 gram/100 ml) yang disertai atau tidak disertai dengan
edema dan hiperkolesterolemia. (Rauf, 2002).

2. Etiologi
Secara etiologi sindroma nefrotik dibedakan atas :
a. Primary renal disease ( Sebagian besar tidak diketahui
penyebabnya)
b. Secondary renal disesase
- Kelainan genetik : Alport syndrome, sindrom nefrotik congenital
- Penyakit metabolik : DM, Amyloidosis

21
- Penyakit autoimmun : SLE, purpura Henoch-Schonlein
- Penyakit keganasan : Multiple myeloma, leukemia, lymphoma
- Penyakit infeksi : Endokarditis, HIV, Hepatitis
- Penyebab lain : Obat-obatan, Kehamilan, dan kegagalan transplantasi.
Peristiwa awal pada kebanyakan kasus merupakan reaksi antigen-
antibodi pada glomerulus yang menyebabkan peningkatan permeabilitas
membrana basalis glomerulus, proeinuria masif dan hipoalbuminemia. Pada
sindroma nefrotik sebagian besar eksresi protein adalah albumin.
Hipoalbuminemia terjadi melalui penurunan tekanan koloid osmotik,
cenderung menimbulkan transudasi cairan dari ruang vaskuler ke dalam
intertisium. Hal ini merupakan penyebab langsung terjadinya edema. Selain
itu, hipovolemia akibat penurunan aliran plasma ginjal dan GFR
(Glomerulus Filtrating Rate) mengaktifkan mekanisme renin-angiotensin.
Akibatnya terjadi peningkatan kadar aldoateron serta peningkatan produksi
ADH (Anti Diuretik Hormon). Garam dan air diretensi oleh ginjal, sehingga
memperberat edema. Hiperlipidemia terjadi oleh karena beberapa
mekanisme yang belum jelas, tetapi diduga peningkatan produksi
lipoprotein oleh hati memegang peranan utama, walaupun penurunan
katabolisme lipis mungkin ikut berperan. Hati meningkatkan sintesis LDL,
VLDL dan lipoprotein (a) oleh adanya hipoalbuminemia.

3. Klasifikasi
Penyebab umum penyakit tidak diketahui; akhir-akhir ini sering
dianggap sebagi suatu bentuk penyakit autoimun. Jadi merupakan reaksi
antigen-antibodi. Umumnya dibagi menjadi 4 kelompok :
a. Sindroma nefrotik bawaan
b. Sindroma nefrotik sekunder
c. Sindroma nefrotik idiopati
d. Glumerulosklerosis fokal segmental
4. Patofisiologi

22
Adanya peningkatan permiabilitas glomerulus mengakibatkan
proteinuria masif sehingga terjadi hipoproteinemia. Akibatnya tekanan
onkotik plasma menurun karean adanya pergeseran cairan dari intravaskuler
ke intestisial.
Volume plasma, curah jantung dan kecepatan filtrasi glomerulus
berkurang mengakibatkan retensi natrium. Kadar albumin plasma yang
sudah merangsang sintesa protein di hati, disertai peningkatan sintesa lipid,
lipoprotein dan trigliserida.
a. Meningkatnya permeabilitas dinding kapiler glomerular akan berakibat
pada hilangnya protein plasma dan kemudian akan terjadi proteinuria.
Lanjutan dari proteinuria menyebabkan hipoalbuminemia. Dengan
menurunnya albumin, tekanan osmotik plasma menurun sehingga cairan
intravaskuler berpindah ke dalam interstitial. Perpindahan cairan tersebut
menjadikan volume cairan intravaskuler berkurang, sehingga
menurunkan jumlah aliran darah ke renal karena hypovolemi.
b. Menurunnya aliran darah ke renal, ginjal akan melakukan kompensasi
dengan merangsang produksi renin - angiotensin dan peningkatan sekresi
anti diuretik hormon (ADH) dan sekresi aldosteron yang kemudian
terjadi retensi kalium dan air. Dengan retensi natrium dan air akan
menyebabkan edema.
c. Terjadi peningkatan kolesterol dan trigliserida serum akibat dari
peningkatan stimulasi produksi lipoprotein karena penurunan plasma
albumin dan penurunan onkotik plasma
d. Adanya hiper lipidemia juga akibat dari meningkatnya produksi
lipopprtein dalam hati yang timbul oleh karena kompensasi hilangnya
protein, dan lemak akan banyak dalam urin (lipiduria)

23
e. Menurunya respon imun karena sel imun tertekan, kemungkinan
disebabkan oleh karena hipoalbuminemia, hiperlipidemia, atau defesiensi
seng. (Suriadi dan Rita yuliani, 2001 :217)

Pathway
Infeksi, toksik, keganasan, kelainan genetic, idiopatik

Peningkatan permeabilitas glomerulus

Penurunan Albumin Plasma

Proteinuria massif

Proteinuria massif

Hipopoteinemia

Penurunan Tekanan Onkotik Plasma

Interstisial

Pergeseran Cairan Intravaskuler

Penurunan Volume Plasma

Penurunan Volume Urine

Penurunan Curah Jantung

Penurunan Kecepatan Filtrasi Glomerulus

Edema Anasarka

24

Retensi Na+

Gangguan Integritas Kuliat

Lipoprotein, peningkatan sinteza lipid, trigliserida.
Lipoprotein, peningkatan sinteza lipid, trigliserida.

Komplikasi pnemonia diare celulitis sepsis

Penurunan Nafsu Makan

Mudah Lelah
Mudah Lelah

Iritabilitas

Peningkatan kebutuhan cairan

Gangguan Keseimbangan Nutrisi

Gangguan ADL

Gangguan Kebutuhan Hidup

Gangguan Keseimbangan Cairan

5. Manifestasi Klinis
- Berat badan meningkat
- Pembengkakan pada wajah, terutama disekitar mata
- Edema anasarka
- Pembengkakan pada labia / skotum
- Asites

25
- Diare, nafsu makan menurun, absorbsi usus menurun edema pada
mukosa usus
-
Volume urine menurun, kadang kadang berwarna pekat dan berbusa
-
Kulit pucat
-
Anak menjadi iritabel, mudah lelah / letargi
-
Celulitis, pneumonia, peritonitis atau adanya sepsis
-
Azotemia
-
TD biasanya normal / naik sedikit
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
- Urine
Biasanya kurang dari 400 ml/24 jam (fase oliguria). Warna urine
kotor, sediment kecoklatan menunjukkan adanya darah, hemoglobin,
mioglobin, porfirin.
- Darah
Hemoglobin menurun karena adanya anemia. Hematokrit menurun.
Natrium biasanya meningkat, tetapi dapat bervariasi. Kalium
meningkat sehubungan dengan retensi seiring dengan perpindahan
seluler (asidosis) atau pengeluaran jaringan (hemolisis sel darah
merah). Klorida, fsfat dan magnesium meningkat. Albumin.
- Biosi ginjal dilakukan untuk memperkuat diagnosa.
7. Komplikasi
- Infeksi sekunder mungkin karena kadar imunoglobulin yang rendah
akibat hipoalbuminemia.
- Shock : terjadi terutama pada hipoalbuminemia berat (< 1 gram/100ml)
yang menyebabkan hipovolemia berat sehingga menyebabkan shock.
- Trombosis vaskuler : mungkin akibat gangguan sistem koagulasi
sehingga terjadi peninggian fibrinogen plasma.
- Komplikasi yang bisa timbul adalah malnutrisi atau kegagalan ginjal.
(Rauf, .2002 : .27-28).

8. Penatalaksanaan
a. Istirahat sampai edema tinggal sedikit. Batasi asupan natrium sampai
kurang lebih 1 gram/hari secara praktis dengan menggunakan garam
secukupnya dan menghindar makanan yang diasinkan. Diet protein 2
3 gram/kgBB/hari.
b. Bila edema tidak berkurang dengan pembatasan garam, dapat
digunakan diuretik, biasanya furosemid 1 mg/kgBB/hari. Bergantung

26
pada beratnya edema dan respon pengobatan. Bila edema refrakter,
dapat digunakan hididroklortiazid (25 50 mg/hari), selama
pengobatan diuretik perlu dipantau kemungkinan hipokalemi,
alkalosis metabolik dan kehilangan cairan intravaskuler berat.
c. Pengobatan kortikosteroid yang diajukan Internasional Coopertive
Study of Kidney Disease in Children (ISKDC), sebagai berikut :
- Selama 28 hari prednison diberikan per oral dengan dosis 60
mg/hari luas permukaan badan (1bp) dengan maksimum 80
mg/hari.
- Kemudian dilanjutkan dengan prednison per oral selama 28 hari
dengan dosis 40 mg/hari/1bp, setiap 3 hari dalam satu minggu
dengan dosis maksimum 60 mg/hari. Bila terdapat respon selama
pengobatan, maka pengobatan ini dilanjutkan secara intermitten
selama 4 minggu.
d. Cegah infeksi. Antibiotik hanya dapat diberikan bila ada infeksi.
e. Pungsi asites maupun hidrotoraks dilakukan bila ada indikasi vital
(Arif Mansjoer,2000)
D. Asuhan Keperawatan Pada Anak dengan Gangguan Sistem
Perkemihan Sindrom Nefron
Pengkajian Pengkajian
Pengkajian yang perlu dilakukan pada klien anak dengan sindrom nefrotik
(Donna L. Wong,2004 : 550) sebagai berikut :
a. Lakukan pengkajian fisik termasuk pengkajian luasnya edema
b. Dapatkan riwayat kesehatan dengan cermat, terutama yang berhubungan
dengan penambahan berat badan saat ini, disfungsi ginjal.
c. Observasi adanya manifestasi sindrom nefrotik :
1) Penambahan berat badan
2) Edema
3) Wajah sembab :
Khususnya di sekitar mata
Timbul pada saat bangun pagi
Berkurang di siang hari
4) Pembengkakan abdomen (asites)
5) Kesulitan pernafasan (efusi pleura)

27
6) Pembengkakan labial (scrotal)
7) Edema mukosa usus yang menyebabkan :
Diare
Anoreksia
Absorbsi usus buruk
8) Pucat kulit ekstrim (sering)
9) Peka rangsang
10) Mudah lelah
11) Letargi
12) Tekanan darah normal atau sedikit menurun
13) Kerentanan terhadap infeksi
14) Perubahan urin :
Penurunan volume
Gelap
Berbau buah
Bantu dengan prosedur diagnostik dan pengujian, misalnya analisa
urine akan adanya protein, silinder dan sel darah merah; analisa
darah untuk protein serum (total, perbandingan albumin/globulin,
kolesterol), jumlah darah merah, natrium serum.
d. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan.
Prasekolah (3 sampai 6 tahun)
- Karakteristik Fisik
1. Berat Badan
- Penambahan berat badan anak prasekolah kurang dari 2 kg per
tahun.
- Berat rata-rata adalah 18 kg
2. Tinggi badan
- Pertumbuhan tinggi badan anak 5 sampai 7 cm per tahun
- Tinggi rata-rata adalah 108 cm.
- Postur-tidak ada lordosis lagi
- Gigi- gigi susu mulai tanggal
- Perkembangan psikoseksual : anak berada pada fase oedipal/falik
dengan ciri meraba-raba dan merasakan kenikmatan dari beberapa
daerah erogennya, senang bermain dengan anak berjenis kelamin
beda, oedipus kompleks untuk anak laki-laki lebih dekat dengan

28
ibu, elektra kompleks untuk anak perempuan lebih dekat dengan
ayah.
- Perkembangan psikososial : anak berada pada fase pre school
(inisiative vs rasa bersalah) yaitu memiliki inisiatif untuk belajar
mencari pengalaman baru. Jika usahanya diomeli atau dicela anak
akan merasa bersalah dan menjadi anak peragu.
- Perkembangan kognitif : masuk tahap pre operasional yaitu mulai
mempresentasekan dunia dengan bahasa, bermain dan meniru,
menggunakan alat-alat sederhana.
- Perkembangan fisik dan mental : melompat, menari, menggambar
orang dengan kepala, lengan dan badan, segiempat, segitiga,
menghitung jari-jarinya, menyebut hari dalam seminggu, protes
bila dilarang, mengenal empat warna, membedakan besar dan kecil,
meniru aktivitas orang dewasa.
- Perkembangan moral : anak prasekolah melihat aturan sebagai
sesuatu yang kaku dan tidak fleksibel
Konsekuensi negatif dilihat sebagai hukuman terhadap kelakuan
buruk, orang yua dilihat sebagai otoritas tertinggi untuk
menetapkan benar dan salah, anak memulai proses mendalami
pengertian benar dan keliru.
- Perkembangan kepercayaan : praktik keagamaan,
perhiasan kecil, dan simbol mulai memiliki arti praktis bagi anak
prasekolah, tuhan dilihat dalam istilah manusia, tuhan dipahami
sebagai dari alam, seperti halnya pohon, bunga, dan sungai,
kejahatan dapat dibayangkan dengan istilah menyeramkan, seperti
monster atau setan.
- Respon hospitalisasi : sedih, perasaan berduka, gangguan
tidur, kecemasan, keterbatasan dalam bermain, rewel, gelisah,
regresi, perasaan berpisah dari orang tua, teman.
Riwayat nutrisi.
Usia pre school nutrisi seperti makanan yang dihidangkan dalam
keluarga. Status gizinya adalah dihitung dengan rumus (BB terukur
dibagi BB standar) X 100 %, dengan interpretasi : < 60 % (gizi
buruk), < 30 % (gizi sedang) dan > 80 % (gizi baik).
Riwayat Persistem

29
- Sistem pernapasan.
Frekuensi pernapasan 15 - 32 X/menit, rata-rata 18 X/menit, efusi
pleura karena distensi abdomen
- Sistem kardiovaskuler.
Nadi 70 - 110 X/mnt, tekanan darah 95/65 - 100/60
mmHg,hipertensi ringan bisa dijumpai.
- Sistem perkemihan.
Urine/24 jam 600-700 ml, hematuri, proteinuria, oliguri.
- Sistem pencernaan.
Diare, napsu makan menurun, anoreksia, hepatomegali, nyeri
daerah perut, malnutrisi berat, hernia umbilikalis, prolaps anii.
- Sistem integumen.
Edema periorbital, ascites.
- Persepsi orang tua
Kecemasan orang tua terhadap kondisi anaknya.
Diagnosa Keperawatan
a. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status
metabolik.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan malnutrisi
sekunder terhadap kehilangan protein dan penurunan napsu makan.
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara
suplai dan kebutuhan oksigen.
d. Gangguan pola tidur berhubungan dengan urgency berkemih.
e. Resiko ketidakseimbangan volume cairan berhubungan dengan resiko
penurunan, peningkatan, perpindahan secara cepat cairan intravaskuler,
interstisial dan intraselular satu ke yang lain.
Intervensi Keperawatan
a. Resiko kerusakan integritas kulit berhuungan dengan perubahan status
metabolik
Tujuan :
- Klien dapat mengidentifikasi intervensi yang berhubungan dengan
kondisi spesifik
- Berpartisipasi dalam pencegahan komplikasi dan percepatan
penyembuhan
INTERVENSI RASIONAL

30
a. Kaji integritas kulit untuk melihat a. Memberikan informasi untuk
adanya efek samping therapi kanker, perencanaan asuhan dan
amati penyembuhan luka. mengembangkan identifikasi awal
terhadap perubahan integritas
kulit.
b. Anjurkan klien untuk tidak b. Menghindari perlukaan yang dapat
menggaruk bagian yang gatal. menimbulkan infeksi.
c. Ubah posisi klien secara teratur. c. Menghindari penekanan yang
terus menerus pada suatu daerah
tertentu.
d. Berikan advise pada klien untuk d. Mencegah trauma berlanjut pada
menghindari pemakaian cream kulit, kulit dan produk yang kontra
minyak, bedak tanpa rekomendasi indikatif
dokter.

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan malnutrisi


sekunder terhadap kehilangan protein dan penurunan napsu makan.
Tujuan: Kebutuhan nutrisi terpenuhi, ditandai dengan
Kriteria Hasil:
- Berat badan klien bertahan/bertambah dari keadaan sebelumya
- Klien menyatakan keinginan mengikuti diet.
- Klien menunjukkan toleransi terhadap diet yang dinajurkan
- Nilai laboratoorium (misalnya: transferin, albumin, dan elektrolit)
dalam rentang normal.
- Klien nampak segar dan tidak lemas.
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji status nutrisi 1. Mengetahui kodnsisi pasti
status nutrisi
2. Kaji/catat pola dan pemasukan 2. Kebiasaan makan klien sangat
diet perlu untuk diketahui dalam
rangka penyesuaian dalam
pemberian diet.
3. Motvasi klien untuk mengubah 3. Dengan motivasi, diharapkan
kebiasaan makan klie terpacu untuk
meningkatkan asupan
makannya.
4. Berikan makanan sedikit tapi 4. Sebagai antisipasi mual

31
sering muntah yang dialami klien.

5. Berikan makanan dalam kondisi 5. Makanan yang hangat


hangat meningkatkan nadsu makan
melalui rangsangat indra
penciuman dan pengecapan
6. Berikan makanan sesuai kesukaan, 6. Membantu meningkatka
kecuali jika kontra indikasi. asupan makanan.

7. Lakukan perawatan mulut, berikan 7. Kebersihan mulut akan


penyegar mulut. meningkatkan kenyamanan
dan mengguggah naffsu
makan.
8. Timbang berat berat badan klien 8. Sebagai monitor
setiap hari. perkembangan status nutrisi
dan efek terapi yang telah
diberikan.
9. Kolaborasi pemberian jenis diet 9. Masing-masing kondisi
dengan team gizi penyakit mempunnyai jenis
kebutuhan akan nutrisi yang
berbeda-beda.
10. Kolaborasi pemberian terapi 10. Meningkatkan asupan
tambahan nutrici dan cairan kebutuhan cairan.
11. Kolaborasi pemantauan hasil 11. Mengetahui
biokimia status gizi dengan team perkembangan kebutuha gizi
laboratoorium dari segi biokimia.

12. Kolaborasi pemberikan obat 12. Penanganan penyebab


sesuai indikasi : sediaan besi; gangguan nutrisi bermanfaat
Kalsium; Vitamin D dan B untuk mengatasi/membatasi
kompleks; Antiemetik masalah yang muncul akibat
kekurangan asupan nutrisi.

c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai


dan kebutuhan oksigen.
Tujuan:

32
Mentoleransi AKSI yang biasa dilakukan dan ditunjukkan dengan
daya tahan, penghematan energi, dan perawatan diri AKSI, ditandai
dengan
Kriteria Hasil:
- Penghematan energi
- Perawatan diri AKSI
- Menyeimbangkan aktivitas dengan istirahat
- Klien berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang ringan( AKS) walau
dengan beberapa bantuan.

INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji tingkat kelelahan, Pada klien dengan gangguan tidur,
tidur, istirahat biasanya akan muncul berbagai
gejala, antara lain kelemahan.
2. Kaji kemampuan toleransi Dengan mengetahui tingkat
aktivitas toleransi aktivitas klien, dapat
memudah kan dalam penentuan
aktivitas yang dapat dianjurkan dan
yang tidak dapat dilakukan oleh
klien.
3. Identifikasi factor yang Dengan mengetahui penyebab lain
menimbulkan keletihan adanya keletihan, dapat
meminimalkan pengeluaran energi
tersebut.
4. Rencanakan periode Istirahat yang adekuat, selain dapat
istirahat adekuat mempercepat kesembuhan, juga
dapat memulihkan keletihan.
5. Berikan bantuan ADL dan Dibutuhkan untuk aktivitas yang
ambulasi tidak dapat ditolerir dan
meminimlakan penggunaan energi.
6. Tingkatkan aktivitas sesuai Meningkatkan harga diri klien,
toleransi, anjurkan aktifitas sehingga tidak menambah beban
alternative sambil istirahat yang memicu muncullnya stressor
baru. Karena tekanan secara
kejiwaan akan banyak menguras

33
energi klien.

d. Gangguan pola tidur berhubungan dengan urgency berkemih.


Tujuan: Klien dapat mencapai kebutuhan tidurnya baik secara kualitas
dan kuantitasnya, ditandai dengan:
Kriteria hasil:
- Jam tidur 8-9 jam/ hari (sesuaikan dengan kebiasann jumlah jam tidur
klien sebelumnya).
- Klien melaporkan perasaan segar setelah bangun tidur.
- Klien melaporkan waktu terjaga dengan waktu yang sesuai (seperti
biasa).
- Klien tidak mengalami gangguan psikologis (peningkatan emosi,
perubahan mood ).
- Klien mampu berkonsentrasi.
- Tidak terdapat gambaran hitam pada kelopak mata bagian bawah.

Intervensi:
- Kaji kebiasaan sebelum, selama dan setelah klien bangun dari tidur.
- Bantu klien untuk mengidentifikasi hal-hal yang mungkin
menyebabka kurang tidur, seperti ketakutan, masalah yang tidak
terselesaikan, atau konflik.
- Fasilitasi siklus tidur/bangun yang teratur.
- Ciptakan suasana yang nyaman dan tenang.
- Anjurkan keluarga untuk mempertahankan suasana yang nyaman dan
tenang.
- Yakinkan klien bahwa irritabilitas dan perubahan mood adalah
konsekwensi umum yang menyebabkan deprivasi tisur.
- Ajarkan klien untuk menghindari makan dan minum pada waktu jam
tidur.
- Berikan pijatan yang nyaman, pengaturan posisi, dan sentuhan afektif
- Anjurkan klien untuk mengurangi tidur di siang hari an aktivitas 2 jam
sebelum tidur.
- Anjurkan klien untuk minum susu sebelum tidur.
- Ajarka klien dan keluarga tentang faktor-faktor (misalnya fisiologis,
psikologis, gaya hidup, perubahan sihft kerja, perubahan zona awaktu,
kerja berlebih, dll) dapat berpengaruh pada gangguan pola tidur.
- Kolaborasikan pemberian obat dengan dokter.

34
e. Resiko ketidakseimbangan volume cairan berhubungan dengan resiko
penurunan, peningkatan, perpindahan secara cepat cairan intravaskuler,
interstisial dan intraselular satu ke yang lain.
Tujuan: Defisit volume cairan akan dicegah, ditandai dengan
Kriteria Hasil:
a. Status nutrisi adekuat:asupan makanan dan cairan antara intake dan
output
b. Keseimbangan elektrolit dan asam-basa
c. Nadi perifer teraba
d. TTV dalam batas normal

INTERVENSI RASIONAL
1. Observasi TTV 1. sebagai gambaran keadaan umum
klien
2. Ukur intake dan output cairan, 2. Pemasukan oral yang tidak
hitung IWL yang akurat adekuat dapat menyebabkan
hipovolemia.
3. Berikan cairan sesuai indikasi 3. Kelebihan atau kekurang cairan,
serta kesalahan pemilihan jenis
cairan akan memperberat kondidi
klien.
4. Awasi tekanan darah, 4. Tanda-tanda hipovolemia segera
perubahan frekuensi jantung, diketahui dengan adanya takikardi,
perhatikan tanda-tanda hipotensi dan suhu tubuh yang
dehidrasi meningkat berhubungan dengan
dehidrasi.
5. Control asupan makanan tinggi 5. Peningkatan suhu lingkungan akan
natrium & suhu lingkungan meningkatkan kehilangan cairan,
sehingga akan memperparah
kekurangan cairan yang terjadi.
Peningkatan jumlah Na+ akan
meningkatkan retensi cairan
sehingga memperparah terjadinya
edema.
6. Monitor hasil lab. 6. Mengetahui perubahan yang

35
terjadi dan efek terapi.
7. Kolaborasi pemberian terapi 7. Memenuhi kebutuhan cairan yang
cairan penggati jika diperlukan kurang.

3. Evaluasi
Hal-hal yang perlu dievaluasi dalam pemberian asuhan keperawatan
berfokus pada kriteria hasil dari tiap-tiap masalah keperawatan dengan
pedoman pembuatan SOAP, atau SOAPIE pada masalah yang tidak
terselesaikan atau teratasi sebagian.

36
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Gangguan saluran kemih adalah gangguan dari kandung kemih atau
uretra. Ginjal, Uretra, kandung kemih adalah organ-organ yang menyusun
saluran kemih. Fungsi utama dari saluran ini adalah untuk membuang air dan
sisa metabolisme dan mengeluarkannnya sebagai urin.
Proses ini berlangsung terus. Hanya pada kasus luka, infeksi atau
penyakit pada organ dari saluran kemih, fungsinya menjadi terganggu dan
karenanya menganggu biokimia dari aliran bawah. Ginjal adalah organ vital
penyangga kehidupan.
Glumerulonefritis akut ( GNA ) adalah penyakit yang menyerang
glomeruli dari kedua ginjal, sebagai suatu reaksi imunologi terhadap bakteri
atau virus tertentu.
GNA sering ditemukan pada anak umur 3-7 tahun, lebih sering pada pria.
Biasanya didahului oleh infeksi ekstrarenal, terutama di traktus respiratorius
bagian atas dan kulit.
Sindrom nefrotik merupakan sekumpulan gejala yang terdiri dari
proteinuria masif (lebih dari 50 mg/kgBB/24 jam), hipoalbuminemia (kurang
dari 2,5 gram/100 ml) yang disertai atau tidak disertai dengan edema dan
hiperkolesterolemia. (Rauf, 2002).

37