Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dewasa ini banyak sekali kejadian yang menyebabkan tingginya Angka


Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi. Hal ini berhubungan erat dengan proses
kehamilan dan persalinan. Kurangnya pengetahuan akan pemeriksaan kehamilan
pada ibu merupakan salah satu factor yang menyebabkan tingginya AKI dan
AKB. Hal ini mengakibatkan banyaknya kondisi ibu dan bayi berisiko tinggi yang
tidak terdeteksi oleh tenaga medis atau tenaga professional sehingga terkadang ibu
atau bayi atau ibu dan bayi tidak bisa diselamatkan.

Bayi premature atau bayi pre-term adalah bayi yang berumur kehamilan
37 minggu tanpa memperhatikan berat badan. Sebagian besar bayi lahir dengan
berat badan kurang dari 2500 gram adalah bayi premature.

Bayi Post Term adalah bayi yang lahir setelah kehamilan lebih dari 42
minggu, dihitung dari hari pertama haid terakhir tanpa memperdulikan berat
badan bayi pada waktu lahir (Bobak, 2004).

Sindrom gawat napas (respiratory distress syndrome, RDS) adalah istilah


yang digunakan untuk disfungsi pernapasan pada neonates. Gangguan ini
merupakan penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan
maturitas paru (Whalley dan Wong, 1995). Gangguan ini biasanya juga dikenal
dengan nama hyaline membrane disease (HMD) atau penyakit membrane hialin,
karena pada penyakit ini selalu ditemukan membrane hialin yang melapisi alveoli.

Beberapa kondisi bayi di atas merupakan contoh dari bayi beresiko tinggi
yang sering terjadi di masyarakat saat ini. Atas dasar alasan tersebut maka kami
menyusun makalah dengan judul Askep pada Bayi Baru Lahir dengan Masalah
Kesehatan Prematur, Post Matur, dan Respiratory Distress. Kami berharap
semoga makalah ini bisa bermanfaat untuk teman-teman perawat dalam memberi
pengetahuan yang cukup tentang askep yang optimal pada bayi dengan masalah

1
kesehatan tersebut sehingga bayi tidak mengalami masalah kesehatan dan tumbuh
optimal menjadi anak yang sehat.

B. Rumusan Masalah
1. Uraikan mengenai asuhan keperwatan pada Bayi Baru Lahir dengan
Masalah Kesehatan Prematur
2. Uraikan mengenai asuhan keperwatan pada Bayi Baru Lahir dengan
Masalah Kesehatan Post Matur
3. Uraikan mengenai asuhan keperwatan pada Bayi Baru Lahir dengan
Masalah Kesehatan Respiratory Distress
C. Tujuan
1. Mampu meguraikan mengenai asuhan keperwatan pada Bayi Baru Lahir
dengan Masalah Kesehatan Prematur
2. Mampu meguraikan mengenai asuhan keperwatan pada Bayi Baru Lahir
dengan Masalah Kesehatan Post Matur
3. Mampu meguraikan mengenai asuhan keperwatan pada Bayi Baru Lahir
dengan Masalah Kesehatan Respiratory Distress

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Askep pada Bayi Baru Lahir dengan Masalah Kesehatan Prematur


1. Pengertian Bayi Prematur
Menurut WHO, bayi pematur adalah bayi lahir hidup sebelum usia
kehamilan minggu ke-37 (dihitung dari hari pertama haid terakhir). The American
Academy of Pediatric, mengambil batasan 38 minggu untuk menyebut pematur.
Bayi premature atau bayi pre-term adalah bayi yang berumur kehamilan
37 minggu tanpa memperhatikan berat badan. Sebagian besar bayi lahir dengan
berat badan kurang dari 2500 gram adalah bayi premature.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bayi premature ditetapkan
berdasarkan umur kehamilan.

2. Penyebab Kelahiran Prematur


1) Faktor ibu
a. Toksemia gravidarum, yaitu preeklampsi dan eklampsi
b. Kelainan bentuk uterus (mis. Uterus bikornis, inkompeten serviks)
c. Tumor (mis. Mioma uteri, sistoma)
d. ibu yang menderita penyakit antara lain:
Akut dengan gejala panas tinggi (mis. Tifus abdominalis, malaria)
Kronis (mis. TBC, penyakit jantung, gromerulonefritis kronis)
e. trauma pada masa kehamilan antara lain :
Fisik (mis. Jatuh)
Psikologis (mis. Stress)
f. usia ibu pada waktu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
2) Faktor janin
a. kehamilan ganda
b. Hidramnion
c. Ketuban Pecah dini
d. cacat bawaan

3
e. infeksi (mis. Rubeolla, sifilis)
f. insufisiesi plasenta
g. inkompatibilitas darah ibu dan janin (factor Rhessus, golongan darah
ABO)
3) Faktor Plasenta
a. Plasenta Previa
b. Solusio plasenta
3. Patofisiologi
Berbagai sebab dan faktor demografik diduga sebagai penyebab persalinan
preterm, seperti: solusio plasenta, kehamilan ganda, kelainan uterus,
polihidramnion, kelainan kongenital janin, ketuban pecah dini, dan lain-lain.
Penyebab persalinan preterm bukan tunggal tetapi multikompleks, antara lain
karena infeksi. Infeksi pada kehamilan akan menyebabkan suatu respon
imunologik spesifik melalui aktifasi sel limfosit B dan T dengan hasil akhir zat-
zat yang menginisiasi kontraksi uterus. Terdapat makin banyak bukti yang
menunjukkan bahwa mungkin sepertiga kasus persalinan preterm berkaitan
dengan infeksi membran korioamnion.
Dari etiologi factor ibu, janin, dan lingkungan menurut Manuaba IBG,
(1998) dapat menyebabkan gangguan uretro placenta sehingga terjadi insufisiensi
placenta yang dapat mengakibatkan suplay nutrisi dan O2 janin kurang dan
menyebabkan gangguan perubahan intra uterin, maka timbullah premature.
Dari penelitian Lettieri dkk. (1993), didapati 38% persalinan preterm
disebabkan akibat infeksi korioamnion. Knox dan Hoerner (1950) telah
mengetahui hubungan antara infeksi jalan lahir dengan kelahiran prematur.
Bobbitt dan Ledger (1977) membuktikan infeksi amnion subklinis sebagai
penyebab kelahiran preterm. Dengan amniosentesis didapati bakteri patogen pada
+ 20% ibu yang mengalami persalinan preterm dengan ketuban utuh dan tanpa
gejala klinis infeksi (Cox dkk., 1996 ; Watts dkk., 1992).
Cara masuknya kuman penyebab infeksi amnion, dapat sebagai berikut

4
1) Melalui jalur transervikal mesuk kedalam selaput amniokorion dan cairan
amnion. E. coli dapat menenbus membran korioamnion. (Gyr dkk, 1994).
2) Melalui jalur transervikal ke desidua/chorionic junction pada segmen
bawah rahim.
3) Penetrasi langsung kedalam jaringan serviks.
4) Secara hematogen ke plasenta dan selaputnya.
5) Secara hematogen ke miometrium.

Selain itu endotoksin dapat masuk kedalam rongga amnion secara difusi
tanpa kolonisasi bakteri dalam cairan amnion. Infeksi dan proses inflamasi
amnion merupakan salah satu faktor yang dapat memulai kontraksi uterus dan
persalinan preterm. Menurut Schwarz (1976), partus aterm diinisiasi oleh aktivasi
enzim phospholipase A2 yang dapat melepaskan asam arakidonat dari membran
janin sehingga terbentuk asam arakidonat bebas yang merupakan bahan dasar
sintesis prostaglandin.
Bejar dkk (1981) melaporkan sejumlah mikroorganisme mempunyai
kemampuan untuk menghasilkan enzim phospholipase A2 sehingga dapat
menginisiasi terjadinya persalinan preterm. Bennett dan Elder (1992),
menunjukkan bahwa mediator-mediator dapat merangsang timbulnya kontraksi
uterus dan partus preterm melalui pengaruhnya terhadap biosintesis prostaglandin.

4. Tanda Bayi Prematur


Tanda klinis atau penampilan yang tampak sangat bervariasi, begantung
pada usia kehamilan saat bayi dilahirkan. Makin premature atau makin kecil usia
kehamilan saat dilahirkan makin besar pula perbedaannya dengan bayi yang lahir
cukup bulan.
Tanda dan gejala bayi premature
1) Umur kehamilan sama dengan atau kurang dai 37 minggu
2) Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gr
3) Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm
4) Kuku panjangnya belum melewati ujung jari

5
5) Batas dahi dan rambut kepala tidak jelas
6) Lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm
7) Lingkar dada sama dengan atau kurang dai 30 cm
8) Rambut lanugo masih banyak
9) Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang
10) Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya, sehingga
seolah-olah tidak teraba tulang rawan daun telinga
11) Tumit mengilap, telapak kaki halus
12) Alat kelamin pada bayi laki-laki pigmentasi dan rugae pada skrotum
kuning. Testis belum turun ke dalam skrotum. Untuk bayi perempuan
klitoris menonjol, labia minora belum tertutup oleh labia mayora
13) Tonus otot lemah, sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya lemah
14) Fungsi saraf yang belum atau kurang matang mengakibatkan reflex isap,
menelan dan batuk masih lemah atau tidak efektif dan tangisnya lemah
15) Jaringan kelenjar mamae masih kurang akibat pertumbuhan otot dan
jaringan lemak masih kurang
16) Verniks kaseosa tidak ada atau sedikit

5. Masalah pada Bayi Prematur


Tingkat kematangan fungsi system organ neonates merupakan syarat
untuk dapat beadaptasi dengan lingkungan dalam rahim. Penyakit yang terjadi
pada bayi premature berhubungan dengan belum matangnya fungsi organ-organ
tubuhnya. Hal ini berhubungan dengan umur kehamilan saat bayi dilahirkan.
Makin muda umur kehamilan, makin tidak sempurna organ-ogannya.
Konsekuensi dari anatomi dan fisiologi yang belum matang, bayi premature
cenderung mengalami masalah yang bervariasi. Hal ini harus diantisipasi dan
dikelola pada masa neonatal. Adapun masalah-masalah yang dapat terjadi adalah
sebagai berikut.
1) Hipotermia
Dalam kandungan, bayi berada dalam suhu lingkungan yang normal dan
stabil yaitu 36 sampai dengan 37C. segera setelah lahir bayi dihadapkan pada

6
suhu lingkungan yang umumnya lebih rendah. Perbedaan suhu ini memberi
pengaruh pada kehilangan panas tubuh bayi. Selain itu, hipotermia dapat terjadi
karena kemampuan untuk mempertahankan panas dan kesanggupan menambah
produksi panas sangat terbatas karena pertumbuhan otot-otot yang belum cukup
memadai, lemak subkutan yang sedikitt, belum matangnya system saraf
pengatur suhu tubuh, luas permukaan tubuh relative lebih besar dibanding
dengan berat badan sehingga mudah kehilangan panas.Tanda klinis hipotermia
adalah suhu tubuh dibawah normal, kulit dingin, akral dingin dan sianosis
2) Sindrom gawat Napas
Kesukaran pernapasan pada bayi premature dapat disebabkan belum
sempurnanya pembentukan membrane hialin surfaktan paru yang merupakan
suatu zat yang dapat menurunkan tegangan dinding alveoli paru. Pertumbuhan
surfaktan paru mencapai maksimal pada minggu ke-35 kehamilan
Defisiensi surfaktan menyebabkan gangguan kemampuan paru untuk
mempertahankan stabilitasnya, alveolus akan kembali kolaps setiap akhir
ekspirasi sehingga untuk pernapasan berikutnya dibutuhkan tekanan negative
intatoraks yang lebih besar yang disertai usaha inspirasi yang kuat. Tanda klinis
sindrom gawat napas adalah pernapasan cepat, sianosis perioral, merintih waktu
ekspirasi, retraksi substernal dan intercostal
3) Hipoglikemia
Penyelidikan kadar gula darah pada 12 jam pertama menunjukkan bahwa
hipoglikemia dapat terjadi sebanyak 50% pada bayi matur. Glukosa merupakan
sumber utama energy selama masa janin. Kecepatan glukosa yang diambil janin
tergantung dari kadar gula darah ibu karena terputudnya hubungan plasenta dan
janin menyebabkan terhentinya pemberian glukosa. Bayi atem dapat
mempertahankan kadar gula darah 50-60 mg/dL selama 72 jam pertama,
sedangkan berat bayi badan lahir rendah dalam kadar 40 mg/dL. Hal ini
disebabkan cadangan glikogen yang belum mencukupi. Hipoglikemia bila kadar
gula darah sama dengan atau kurang dari 20 mg/dL. Tanda klinis hipoglikemia
adalah gemetar atau tremor, sianosis, apatis, kejang, apneu intermiten, tangisan
lemah atau melengking, keringat dingin, hipotermia

7
4) Perdarahan intrakranial
Pada bayi premature prmbuluh darah masih sangat rapuh hingga mudah
pecah. Perdarahan intracranial dapat terjadi karena trauma lahir, disseminated
intravascular coagulopathy atau tromboditopenia idiopatik. Matriks germinal
epidimal yang kaya pembuluh darah merupakan wilayah yang sangat rentan
terhadap perdarahan selama minggu pertama kehidupan. Tanda klinis
perdarahan intracranial adalah kegagalan umum untuk bergerak normal. Reflex
moro menurun atau tidak ada, pucat dan sianosis, apnea. Muntah yang kuat,
kejang, kelumpuhan, dll.
5) Rentan terhadap infeksi
Pemindahan subtansi kekebalan dari ibu ke janin terjadi pada minggu
terakhir masa kehamilan. Bayi premature mudah menderita infeksi karena
imunitas humoral dan seluler masih kurang hingga bayi mudah menderita
infeksi. Selain itgu, karena kulit dan selaput lender membrane tidak memiliki
perlindungan seperti bayi cukup bulan.
6) Hiperbilirubinemia
Hal ini dapat terjadi karena belum maturnya fungsi hepar. Kurangnya enzim
glukorinil transfease sehingga konjugasu bilirubin menjadi direk belum
sempurna, dan kadar albumin darah yang berperan dalam transportasi bilirubin
dari jaringan ke hepar kurang. Kadar bilirubin normal pada bayi premature 10
mg/dL. Hiperbilirubin pada premature bila tidak segera diatasi dapat menjadi
kern icterus yang akan menimbulkan gejala sisa yang permanen. Tanda klinis
hiperbilirubinemia adalah sclera, puncak hidung, sekitar mulut, dada, dan
ekstermitas kuning, lateragi, kemampuan mengisap menurun, kejang.
7) Kerusakan integritas kulit
Lemak subkutan kurang atau sedikit. Struktur kulit yang belum matang dan
rapuh. Sensitivitas yang kurang akan memudahkan terjadinya kerusakan
integritas kulit, terutama pada daerah yang sering tertekan dalam waktu lama.
Pemakaian plester dapat mengakibatkan kulit bayi lecet atau bahkan lapisan
atas ikut terangkat.

8
6. Perawatan pada Bayi Prematur
1) Pengaturan Suhu Tubuh Bayi
Pada bayi premature dengan cepat akan kehilangan panas dan menjadi
hipotermi <36,5oC karena pusat pengaturan suhu tubuh belum berfungsi
dengan baik, metabolismenya rendah, dan permukaan tubuh relative luas.
Oleh karena it, bayi perlu dirawat dalam incubator (33oC-35oC) atau
menggunakan metode kangguru.
2) Intake
Alat pencernaan bayi belum matang, masih belum sempurna, lambung
kecil, enzim pencernaan belum matang, sedangkan kebutuhan protein 3-
5gr/kg berat badan da kalori 110Ka/kg berat badan. Reflex menghisap
masih lemah sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit
melalui sonde, sebaiknya diberi ASI karena merupakan nutrisi yang paling
sesuai.
Pemberian cairan perparenteral disesuaikan dengan keadaan bayi sedang
puasa atau tidak. Permulaan cairan diberikan sekitar 10-20cc/kg berat badan
perhari dan terus dinaikkan mencapai sekitar 60-90cc/kg BB perhari.
3) Menghindari Infeksi
Pada bayi premature mudah sekali terjadi infeksi, karena daya tahan
tubuh yang masih lemah, kemampuan leukosit masih kurang dan
pembentukan antibody belum sempurna, maka perawatan butuh isolasi.
Universal Precaution sangat diperhatikan dalam perawatan bayi premature.
4) Observasi Pernafasan
Seperti pada bayi aterm, pengkajian awal dimulai dengan mengkaji
fungsi pernapasan dan mengamati kemampuan bayi untuk melakukan
transisi dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin. Bayi prematur
cenderung mengalami kesulitan dalam melakukan transisi akibat berbagai
penurunan pada sistem pernapasannya.
a. Penurunan jumlah alveoli fungsional.
b. Defisiensi kadar surfaktan.
c. Lumen pada sistem pernapasan lebih kecil.

9
d. Jalan napas lebih sering kolabs dan mengalami obstruksi.
e. Insufiensi klasifikasi tulang toraks.
f. Lemah dan tidak ada refleks gag.
g. Kapiler-kapiler dalam paru mudah rusak dan tidak matur.
Secara berkombinasi, kekurangan ini sangat menghambat usaha napas
bayi dan mengakibatkan gawat napas atau apnea. Petugas kesehatan perlu
menyediakan oksigen dan ventilasi, bila diperlukan.
7. Askep Bayi Prematur
1) Pengkajian

Masalah yang berkaitan dengan ibu,penyakit seperti hipertensi, toksemia,


plasenta previa, abtubsio plasenta, inkompetel servikal, kehamilan kembar,
malnutrisi, dan diabetesmilitus, serta social ekonomi yang rendah, dan tiadanya
perawatan sebelum kelahiran.

Riwayat kelahiran prematur atau aborsi, penggunaan obat-obatan, alcohol,


roko, dan kafein. Riwayat ibu : umur di bawah 16 tahun atau di atas 35 tahun dan
latar belakang pendidikan rendah : kehamilan kembar : status social ekonomi
yang rendah, tiadanya perawatan sebelum kelahiran, dan rendahnya gizi:
konsultasi genetic yang pernah dilakukan: kelahiran prematur sebelumnya dan
jarak kehamilan yang berdekatan: infeksi seperti TORCH atau penyakit hubungan
seksual lain: keadaan seperti toksemia, abrupsio plasentae, plasenta plevia, dan
prolapsus tali pusar: konsumsi kafein, roko, alkoho, dan obat-obatan: golongan
darah, factor RH.

Bayi pada saat kelahiran

Umur kehamilan biasanya antara 24 sampai 27 minggu, rendahnya berat


badan pada saat kelahiran. SGA atau terlalu besar dibanding umur kehamilan:
berat biasanya kurang dari 2500 gram: kurus, lapisan lemak subkutan sedikit atau
tidak ada : kepala relatif lebih besar disbanding badan, 3 cm lebih besar dibanding
lebar dada: kelainan fisik yang mungkin terlihat: nilai afgat pada 1 sampai 5 menit

10
sampai 3 menunjukan kegawatan yang parah, 4 sampai 6 kegawatan sedang, dan
7 sampai 10 normal.

Kardiovaskuler

Denyut jantung rata-tara 120 sampai 160 permenit pada bagian apical
dengan ritme yang teratur : pada saat kelahiran, kebisingan jantung terdengar
pada seperempat bagian, interkostal, yng menunjukan aliran darah dari kanan ke
kiri karena hipertensi atau atelektasi paru.

Gastrointestinal

Penonjolan abdomen: pengeluaran mekonium biasanya terjadi dalam


waktu 12 jam: reflek menelan dan mengisap yang lemah: ada atau tidak ada anus:
ketidaknormalan komunital lain.

Integument

Kulit yang berwarna merah muda atau merah, kekuning-kuningan,


sianosin, atau campuran semacam warna: sedikit vernik kasenosa, dengan rambut
kanugo disekujur tubuh: kurus, kulit tampak transparan, halus dan mengkilap:
edema yang menyeluruh atau dibagian tertentu yang terjadi pada saat kelahiran :
kuku pendek belum melewati ujung jari, rambut jarang atau mungkin tidak ada
sama sekali; patekie atau ekimosis

Muskuloskeletal

Tulang kartilago telinga belum tumbuh sempurna, lembut dan lunak:


tulang tengkorak dan tulang rusuk lunak: gerakan lemah dan tidak aktif atau
retargik.

Neurologis

11
Reflek dan gerakan pada tes neutologis tampak tidak resisten, gerak reflek
hanya sebagian: menelan, mengisap, dan batuk sangat lemah atau tidak efektif,
tidak ada atau menurunya tanda neurologis: mata mungkin tertutup atau mengatup
apabila umur kehamilan belum sampai25 sampai 26 minggu: suhu tubuh tidak
stabil, biasanya hipotermia: gemetar, kejang dan mata berputar-putar, biasanya
bersifat sementara tetapi mungkin juga ini mengidentifikasikan adanya kelainan
neurologis.

Paru

Jumlah pernafasan rata-rata 40-60/menit diselingi dengan periode apnea:


pernafasan yang tidak teratur, dengan plaring nasal (nasal melebar), dengkyran,
retraksi(interkosta, suptasternal, substernal) : terdengar suara gemerisik.

Ginjal

Berkemih terjadi setelah 8 jam kelahiran : ketidak mampuan untuk


melarutkan eksresi kedalam urin.

Reproduksi

Bayi perempuan : klitoris yang menonjol dengan labia mayora yang belum
berkembang: bayi laki-laki: skrotum yang belum berkembang sempurna dengan
ruga yang kecil, testis tidak turun kedalam skrotum.

2) Diagnosa keperawatan dan asuhan keperawatan

Diagnose keperawatan : resiko tinggi gawat pernafasan yang behubungan


dengan ketidak matangan paru karena kurang produksi surfaktan.

Tujuan : menjaga dan memaksimalkan fungsi paru

Intervensi :

a. Kumpulkan data penilaian yang berkaitan dengan kegawatan pernafasan.


Terasuk data-data yang berkaitan dengan

12
a) Riwayat ibu atas penggunaan obat atau kondisi tidak normal selama
kehamilan dan proses kelahiran
b) Kondsi bayi saat kelahiran, nilai afgar, resusitasi (dilakukan atau
tidak)
c) Pernafasan : frekuensi, kedalaman, kemudahan, takipnea dengan
angka lebih dari 60/menit
d) Dengkuran ekspirasi, pernaassan cuping hidung atau retraksi dengan
penggunaan obat-obat taksesoris ( interkostal, supstrasternal, atau
substernal)
e) Sianosis : ketika menghirup udara kamar, penurunan suara nafas.
b. Waspadai episode apnea, yang berlangsung lebih dari 20 detik catat hal-
hal berikut ini.
a) Bradikardia
b) Letargi, posisi dan aktifitas sebelum dan sesudah episode apnea
c) Distensi abdomen
d) Suhu dan sianosis
e) Pemalikan nafas yang spontan
f) Pelunya stimulasi, jenis dan banyaknya
g) Lamanya episode apnea
h) Penyebab apnea, seperti setres, demam, sepsis, kegagalan pernafasan
atau kelahiran premature
i) Hasil hitung sel darah, kultur darah, sinar X dada, dan kajian analisa
gas darah jika ada.
c. Hindari menempatkan bayi kontak dengan sumber panas dan sumber
dingin. Hindari juga udara panas maupun dingin. Lkukan juga
perlindungan untuk menjaga panas tubuh, seperti menjaga agar kulit bayi
tetap kering dan menjaga agar kepala bayi tertutup.
d. Awasi bayi terhadap perubahan yang mengindikasikan adanya stress
dingin

13
Diagnose keperawatan : Gangguan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuhyang
berhubungan dengan simpanan gikogen, zat besi dan kalsium yang tidak cukup,
dan penipisan persediaan karena metabolic yang tinggi, tingginya kebutuhan,
asupan kalori yang tidak mencukupi, dan hilangnya kalori.

Tujuan : Meningkatkan dan menjaga asupan kalori dan status gizi bayi.

Intervensi :

a. Awasi reflex mengisap dan kemampuan menelan bayi, pemberian


makanan melalui mulut dimulai ketika bayi sudah dalam keadaan stabil
dan pernafsan terkendali dengan baik.
b. Awsi dan hitung kebutuhan kalori bayi
c. Mulai pemberian ASI atau susu dengan botol 2-6 jam setelah kelahiran,
mulai dengan 3-5 Ml. setiap emberian denga interval tiga jam. pemberian
ditambah bila bayi menunjukan toleransi yang baik. Pemberian ASI jangan
dihentikan sampai bayi menunjukan bawa ia dapat makan melalui botol
susu dan berat badan bayi bias bertambah..
d. Timbang bayi setiap hari, bandingan berat badan dengan asupan kalori
yang diberikan. Ini dilakukan untuk menentukan jumlah asuan yang tepat
atau keutuhanan penngkatan asupan.
e. sediakan dekstrosa 10%

Diagnosa keperawatan : Kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan


pengeluran yang disebabkan oleh imaturitas, pemanas cudiun (pancaran) atau
pengeluran melalui kulit atau paru.

Tujuan : Menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit

Intervensi :

a. Awasi dan hitunglah kebutuhan kebutuhan cairan bayi

14
b. Berikan cairan 150-180 ml/kg jika diperlukan dpat dimasukan sampai
200ml /kg
c. Timbang bayi setiap hari
d. Pantau dan catat asupan dan pengeluaran cairan bayi setiap jam.
Dibandingkan jumlahnya untuk mengetahui bila terjadi ketidak
seimbangan. Selain itu, yang perlu dicatat juga adalah sumber asupan dan
pengeluarann cairan.
e. Periksa berat jenis urine dan glikosuris
f. Jaga suhu lingkungan netral, berikan bayi pakaian yang tepat untuk
menghindari kemungkinan kehilangan cairan.
g. Kaji bayi dari tanda yang mengindikasikan meningkat nya kebutuhan
cairan, seperti kenaikan suhu tubuh, syok hipervolemik dengan
peningkatan tekanan darah, jantung, penurunan denyut nadi perifer, kaki
tangan yang dingin, dan pengerutan kulit, sepsis, asfiksia dan hipoksia.

Diagnosa keperawatan : Perubahan persepsi sensori pengelihatan, pendengaran,


kinestetik, gustatori, taktil, dan olfaktori yng disebabkan oleh kekurangan atau
kelebihan rangsngan lingkungan perawatan.

Tujuan : Memastikan tingkat respons terhadap rangsangan sensori.

Intervensi :

a. Kaji kemampuan bayi dalam merespons stimulus atau rangsangan .


Amati tanda respons neurologis yang kurang, respons balik seperti
apatis; respon yang tidak tepat pada hidung, kontak mata atau pemberi
makanan yang tidak adanya reflek yang normal; pengaruh medikasi
terhadap tingkah laku.
b. Lakukan stimulasi visul : lampu redup dan terang; gantungkan benda
bergerak hitam putih dengan bentuk- bentuk geometis yang berjarak 7-
9 inci dari mata bayi; letakan bayi setinggi mata kita untuk

15
berpandangan mata, letakan tegak lurus di atas punduk bila
memungkinkan
c. Beri stimulasi pendengaran : bicara pada bayi, gunakan nada yang
rendah, kemudian ubah nadanya; panggil namanya bicara padanya
sambil memperhatikannya, bernyanyi atau putarkan kaset atau radio,
hindari suara yang terlalu keras atau bercakap-cakap disekitar bayi;
kurangi suara monitor jik memungkinkan.

Intervensi :

a. Kaji adanya fluktasi suhu tubuh, letargi, apnea, malas minum, gelisah dan
ikterus.
b. Kaji riwayat ibu, kondisi bayi selama ehamilan, dan epidemic infeksi
diruang perawatan
c. Ambil sampel darah
d. Pantau ulang hasil penelitian eritrosit, leukosit diferensiasi, imunolglobin.
e. Upayakan pencegahan infeksi dari lingkungan : uci tangan sebelum dan
sesudah memegang bayi; isolasi bayi bila perlu; lakukan prosedur tindkan
secara steril; cegah kontak dengan orang tua yang menderta penakt infeksi;
ajarkan orang tua untuk melakukan tindakan pencegahan infeksi silang
atau perpindahan mikro-organisme.

B. Askep pada Bayi Baru Lahir dengan Masalah Post Matur


1. Pengertian Bayi Post Matur
Bayi Post Term adalah bayi yang lahir setelah kehamilan lebih dari 42
minggu, dihitung dari hari pertama haid terakhir tanpa memperdulikan berat
badan bayi pada waktu lahir (Bobak, 2004).
Postmatur menunjukan atau menggambarkan keadaan janin yang lahir
telah melampaui batas waktu persalinannya, sehingga dapat menyebabkan
beberapa komplikasi. (Buku Pengantar Kuliah Obsetri: hal 450).

16
2. Etiologi
Penyebab pasti kehamilan lewat waktu sampai saat ini belum diketahui.
Tetapi diperkirakan karena ketidakpastian tanggal haid terakhir, terdapat kelainan
kongenital anensefalus, terdapat hipoplasia kelenjar adrenal, primigravida dan
riwayat kehamilan lewat bulan, jenis kelamin janin laki-laki juga merupakan
pedisposisi, dan faktor genetik.
Menjelang persalinan terdapat penurunan progesteron, peningkatan
oksitosin tubuh dan reseptor terhadap oksitosin sehingga otot rahim semakin
sensitif terhadap rangsangan. Pada kehamilan lewat waktu terjadi sebaliknya, otot
rahim tidak sensitif terhadap rangsangan, karena ketegangan psikologis atau
kelainan pada rahim (Manuaba, 1998).
Menurut Sujiyatini (2009), etiologinya yaitu penurunan kadar esterogen
pada kehamilan normal umumnya tinggi. Faktor hormonal yaitu kadar
progesterone tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga
kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang. Factor lain adalah hereditas, karena
post matur sering dijumpai pada suatu keluarga tertentu.
Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu, kemudian
menurun setelah 42 minggu, terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen
plasenta. Terjadi juga spasme arteri spiralis plasenta. Akibatnya dapat terjadi
gangguan suplai oksigen dan nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin
intrauterin. Sirkulasi uteroplasenta berkurang sampai 50%. Volume air ketuban
juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi. Keadaan-keadaan ini merupakan
kondisi yang tidak baik untuk janin. Risiko kematian perinatal pada bayi
postmatur cukup tinggi, yaitu 30% prepartum, 55% intrapartum, dan15%
postpartum.
Penyebab terjadinya kehamilan postterm/ postmature sampai saat ini
masih belum diketahui secara jelas. Menurut (Sarwono,2010) beberapa teori yang
diajukan di antaranya:
1) Pengaruh Progresteron
Penurunan hormon progresteron dalam kehamilan dipercaya merupakan
kejadian perubahan endokrin yang penting dalam memacu prose biomolekuler

17
pada persalinan dan meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin, sehingga
terjadinya kehamilan postterm adalah karena masih berlangsungnya pengaruh
progresteron.
2) Teori Oksitosin
Pemakaian okstitosin untuk induksi persalinan pada kehamilan dipercaya
bahwa oksitosin secara fisiologis memgang peranan penting dalam menimbulkan
persalinan dan pelepasan okstitosin dari neurohipofisis ibu hamil yang kurang
pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu penyebab kehamilan
postterm.
3) Teori Kortisol/ ACTH Janin
Dalam teori ini diajukan bahwa sebagai pemberi tanda untuk dimulainya
persalinan adalah janin, diduga akibat peningkatan tiba-tiba kadar kortisol plasma
janin. Kortisol janin akan memperngaruhi plasenta sehingga prosuksi progresteron
berkurang dan memperbesar sekresi esterogen, selanjutnya berpengaruh terhadap
meningkatnya produksi prostaglandin. Pada cacat bawaan janin seperti anesefalus,
hipoplasia adrenal janin, dan tidak adanya kelenjar hipofisis pada janin akan
menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan
dapat berlangsung lewat bulan.
4) Saraf Uterus
Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus Frankenhauser akan
membangkitkan kontraksi uterus. Pada keadaan dimana tidak ada tekanan pada
pleksus ini, seperti pada kelainan letak, tali pusat pendek dan bagian bawah masih
tinggi kesemuanya diduga sebagai penyebab terjadinya kehamilan postterm.
5) Herediter
Beberapa penulis menyatakan bahwa seorang ibu yang mengalami kehamilan
posterm mempunyai kecenderungan untuk melahirkan lewat bulan pada
kehamilan berikutnya. Mogren menyatakan bahwa bilamana seorang ibu
mengalami kehamilan posterm saat melahirkan anak perempuan, maka besar
kemungkinan anak perempuan akan mengalami kehamilan posterm.
3. Manifestasi Klinis

18
1) Gerakan janin jarang ( secara subjektif kurang dari 7x / 20 menit atau
secara objektif kurang dari 10x / menit.
2) Pada bayi ditemukan tanda lewat waktu yang terdiri dari:
a. Stadium I : kulit kehilangan vernix caseosa dan terjadi maserasi
sehingga kulit menjadi kering, rapuh dan mudah terkelupas.
b. Stadium II : seperti stadium I, ditambah dengan pewarnaan
mekoneum (kehijuan di kulit)
c. Stadium III : seperti stadium I, ditambah dengan warna kuning
pada kuku, kulit dan tali pusat.
3) Berat badan bayi lebih berat dari bayi matur.
4) Tulang dan sutura lebih keras dari bayi matur
5) Rambut kepala lebih tebal.
4. Patofisiologi

Pada kehamilan lewat waktu terjadi penurunan oksitosin sehingga tidak


menyebabkan adanya his, dan terjadi penundaan persalinan. Permasalahan
kehamilan lewat waktu adalah plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan
pertukaran CO2/O2 sehingga janin mempunyai resiko asfiksia sampai kematian
dalam rahim (Manuaba, 1998).

Sindroma postmaturitas yaitu kulit keriput dan telapak tangan terkelupas,


tubuh panjang dan kurus, vernic caseosa menghilang, wajah seperti orang tua,
kuku panjang, tali pusat selaput ketuban berwarna kehijauan. Fungsi plasenta
mencapai puncaknya pada kehamilan 34-36 minggu dan setelah itu terus
mengalami penurunan. Pada kehamilan postterm dapat terjadi penurunan fungsi
plasenta sehingga bisa menyebabkan gawat janin.

Bila keadaan plasenta tidak mengalami insufisiensi maka janin postterm


dapat tumbuh terus namun tubuh anak akan menjadi besar (makrosomia) dan
dapat menyebabkan distosia bahu.

Pada kehamilan lewat waktu terjadi penurunan oksitosin sehingga tidak


menyebabkanadanya his, dan terjadi penundaan persalinan. Permasalahan

19
kehamilan lewat waktu adalah plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan
pertukaran CO2/O2 sehingga janin mempunyai resiko asfiksia sampai kematian
dalam rahim (Manuaba, 1998).

Sindroma postmaturitas yaitu kulit keriput dan telapak tangan terkelupas,


tubuh panjang dan kurus, vernic caseosa menghilang, wajah seperti orang tua,
kuku panjang, tali pusat selaput ketuban berwarna kehijauan. Fungsi plasenta
mencapai puncaknya pada kehamilan 34-36 minggu dan setelah itu terus
mengalami penurunan. Pada kehamilan postterm dapat terjadi penurunan fungsi
plasenta sehingga bisa menyebabkan gawat janin. Bila keadaan plasenta tidak
mengalami insufisiensi maka janin postterm dapat tumbuh terus namun tubuh
anak akan menjadi besar (makrosomia) dan dapat menyebabkan distosia bahu.

20
WOC (WEB OF CAUSATION) POSTMATUR

Faktor hormonal :
Kadar progesteron
Kortisol
Faktor herediter

Kehamilan > 42 minggu

Placenta mengkerut

Fungsi placenta

Suplay O2 ber <

Nutrisi ber < janin mengkompensasi lemak


dan karbohidrat sendiri

Lemak sub cutis gawat janin, cedera


Gangguan nutrisi
otak , dan organ lain
nya
kulit mengelupas
kehilangan lemak sub cutan
Mengeluarkan mekonium

aspirasi mekonium
Gangguan
pertumbuhan Hipotermia Integritas Asfiksia
BB kulit

Sianosis
Hipoglikemi

21
5. Komplikasi

Komplikasi dapat mengenai ibu dan janin. Pada ibu meliputi distosia
karena aksi uterus yang tidak terkoordinir, janin besar, dan moulding kepala
kurang, sehingga sering dijumpai partus lama, kesalahan letak, inersia uteri,
distosia bahu, dan perdarahan postpartum.

Sedangkan komplikasi pada janin meliputi :

1) Oligohidramnion. Air ketuban normal usia 34-37 minggu adalah 1000 cc,
aterm adalah 800 cc, di atas 42 minggu adalah 400 cc. Akibat dari
oligohidramnion adalah amnion kental, mekonium diaspirasi oleh janin,
asfiksia, gawat janin intrauterin. Pada in partu, aspirasi air ketuban, nilai
Apgar rendah, sindrom gawat janin, dan bronkus paru tersumbat yang
menimbulkan atelektasis.
2) Janin diwarnai mekonium. Mekonium keluar karena refleks vagus terhadap
usus. Peristaltik usus dan terbukanya sfingter ani membuat mekonium keluar.
Aspirasi air ketuban serta mekonium dapat menimbulkan gangguan
pernapasan janin, gangguan sirkulasi bayi setelah lahir, dan hipoksia
intrauterin sampai kematian janin.
3) Makrosemia. Dengan plasenta masih baik terjadi tumbuh kembang janin
dengan berat 4500 gram disebut makrosemia. akibat kondisi ini pada
persalinan dapat menyebabkan kematian bayi dan trauma jalan lahir ibu.
4) Dismaturitas bayi. Usia kehamilan 37 minggu luas plasentanya 11 m.
Selanjutnya trjadi penurunan fungsi akibat tidak berkembangnya atau
terjadinya kalsifikasi dan aterosklerosis pembuluh darah. Penurunan
kemampuan nutrisi plasenta menimbulkan perubahan metabolisme menuju
anaerobik. Pada keadaan ini terjadi badan keton dan asidosis, gejala Clifford,
pada kulit terjadi substanfet berkurang, otot makin lemah, dan berwarna
mekonium. Kuku tampak tajam dan kulit keriput. Tali pusat lembek, mudah
tertekan dengan disertai oligohidramnion.

22
6. Pemeriksaan Penunjang
1) USG : untuk mengetahui usia kehamilan, derajat maturitas plasenta.
2) Kardiotokografi : untuk menilai ada atau tidaknya gawat janin.
3) Amniocentesis : pemeriksaan sitologi air ketuban.
4) Amnioskopi : melihat kekeruhan air ketuban.
5) Uji Oksitisin : untuk menilai reaksi janin terhadap kontraksi uterus.
6) Pemeriksaan kadar estriol dalam urine.
7) Pemeriksaan sitologi vagina.
7. Penatalaksanaan
1) Setelah usia kehamilan lebih dari 40- 42 minggu, yang terpenting adalah
monitoring janin sebaik baiknya.
2) Apabila tidak ada tanda tanda insufisiensi plasenta, persalinan spontan
dapat ditunggu dengan pengawasan ketat.
3) Lakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan kematangan cervik,
apabila sudah matang, boleh dilakukan induksi persalinan.
4) Persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa partus lama akan sangat
merugikan bayi, janin postmatur kadang kadang besar dan
kemungkinan disproporsi cephalopelvix dan distosia janin perlu
diperhatikan. Selain itu janin post matur lebih peka terhadap sedative dan
narkosa.
5) Tindakan operasi section caesarea dapat dipertimbangkan bila pada
keadaan onsufisiensi plasenta dengan keadaan cervix belum matang,
pembukaan belum lengkap, partus lama dan terjadi gawat janin,
primigravida tua, kematian janin dalam kandungan,pre eklamsi,
hipertensi menahun, anak berharga dan kesalahan letak janin.
8. Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kehamilan
yang teratur, minimal 4 kali selama kehamilan, 1 kali pada trimester pertama
(sebelum 12 minggu), 1 kali pada trimester ke dua (antara 13 minggu sampai 28
minggu) dan 2 kali trimester ketiga (di atas 28 minggu). Bila keadaan
memungkinkan, pemeriksaan kehamilan dilakukan 1 bulan sekali sampai usia 7

23
bulan, 2 minggu sekali pada kehamilan 7 8 bulan dan seminggu sekali pada
bulan terakhir. Hal ini akan menjamin ibu dan dokter mengetahui dengan benar
usia kehamilan, dan mencegah terjadinya kehamilan serotinus yang berbahaya.
Perhitungan dengan satuan minggu seperti yang digunakan para dokter
kandungan merupakan perhitungan yang lebih tepat.. Untuk itu perlu diketahui
dengan tepat tanggal hari pertama haid terakhir seorang (calon) ibu itu.
Perhitungannya, jumlah hari sejak hari pertama haid terakhir hingga saat itu
dibagi 7 (jumlah hari dalam seminggu). Misalnya, hari pertama haid terakhir Bu A
jatuh pada 2 Januari 2011. Saat ini tanggal 4 Maret 2011. Jumlah hari sejak hari
pertama haid terakhir adalah 61. Setelah angka itu dibagi 7 diperoleh angka 8,7.
Jadi, usia kehamilannya saat ini 9 minggu.

9. Askep pada Bayi dengan masalah Post Matur


a. Pengkajian
1. Identitas bayi atau ibu
2. Riwayat penyakit
a. Riwayat penyakit sekarang
Bayi lahir dengan usia kehamilan ibu lewat dari 42 minggu
dan tidak merasakan tanda-tanda bayi mau lahir.
b. Riwayat penyakit dahulu
Kemungkinan ibu pernah mengalami kehamilan kehamilan
lama seperti yang dialami sekarang, riwayat haid ibu, penyakit
yang diderita ibu berkaitan dengan kehamilannya.
c. Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada dalam keluarga yang pernah melahirkan bayi
postmatur.
3. Pemerikaaan fisik
a. Umumnya bayi memiliki tengkorak normal, tetapi dimensinya
yang lebih kecil dari pada badannya membuat besar tengkorak
tidak sesuai.

24
b. Waktu lahir kulit kering, pecah-pecah (deskuamasi) seperti
kertass kulit.
c. Kuku keras dan panjang di ujung-ujung jari.
d. Rambut kulit kepala lebat
e. Lapisan lemak subkutan hilang, sehingga kulit tampak longgar
dan memberi penampilan seperti orang tua.
f. Kultur tubuh panjang dan kurus
g. Verniks tidak ada
h. Sering terdapat mekonium (berwarna kuning emas atau hijau)
pada kulit kuku dan tali pusat.
i. Memiliki mata lebar, gejala simtomatik hipoksia, intrauterin
kronis.
b. Diagnosa dan Intervensi
1) Diagnosa : Gangguan pemenuhan kebutuhan O2 berhubungan dengan
asfiksia berat/ringan, pernafasan tidak teratur, pernafasan cuping
hidung, cyanosis, ada lendir pada hidung dan mulut.
NOC :
Kebutuhan O2 bayi terpenuhi
Kriteria:
a. Pernafasan normal 40-60 kali permenit.
b. Pernafasan teratur.
c. Tidak cyanosis.
d. Wajah dan seluruh tubuh
e. Berwarna kemerahan (pink variable).
f. Gas darah normal (PH = 7,35 7,4, PCO2 = 35 mm Hg, PO2 = 50 90
mmHg)
NIC :
a. Letakkan bayi terlentang dengan alas yang data, kepala lurus, dan leher
sedikit tengadah/ekstensi dengan meletakkan bantal atau selimut diatas
bahu bayi sehingga bahu terangkat 2-3 cm 1.
b. Bersihkan jalan nafas, mulut, hidung bila perlu.

25
c. Observasi gejala kardinal dan tanda-tanda cyanosis tiap 4 jam
d. Kolaborasi dengan team medis dalam pemberian O2 dan pemeriksaan
kadar gas darah arteri.
2) Diagnosa : Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan
dengan Keadaan umum lemah, reflek menghisap lemah, masih terdapat
retensi pada sonde.
NOC
Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria :
a. Bayi dapat minum pespeen / personde dengan baik.
b. Berat badan tidak turun lebih dari 10%.
c. Retensi tidak ada.
NIC
a. Lakukan observasi BAB dan BAK jumlah dan frekuensi serta konsistensi.
b. Monitor turgor dan mukosa mulut.
c. Monitor intake dan out put.
d. Beri ASI/PASI sesuai kebutuhan.
e. Lakukan control berat badan setiap hari.

3) Diagnosa : Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan suhu tubuh diatas


normal, tali pusat layu, ada tanda-tanda infeksi, abnormal kadar leukosit,
kulit kuning, riwayat persalinan dengan ketuban mekonical.
NOC
Selama perawatan tidak terjadi komplikasi (infeksi)
Kriteria :
a. Tidak ada tanda-tanda infeksi.
b. Tidak ada gangguan fungsi tubuh.
NIC
a. Lakukan teknik aseptik dan antiseptik dalam memberikan asuhan
keperawatan.
b. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.

26
c. Pakai baju khusus/ short waktu masuk ruang isolasi (kamar bayi).
d. Lakukan perawatan tali pusat dengan triple dye 2
e. Jaga kebersihan (badan, pakaian) dan lingkungan bayi.
f. Observasi tanda-tanda infeksi dan gejala cardinal.
g. Hindarkan bayi kontak dengan sakit.
h. Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian antibiotik.
i. Siapkan pemeriksaan laboratorat sesuai advis dokter yaitu pemeriksaan
DL, CRP.
4) Diagnosa : Gangguan hubungan interpersonal antara ibu dan
bayi berhubungan dengan Bayi dirawat di dalam inkubator di ruang intensif,
belum ada kontak antara ibu dan bayi.
NOC
Terjadinya hubungan batin antara bayi dan ibu
Kriteria:
a. Ibu dapat segera menggendong dan meneteki bayi.
b. Bayi segera pulang dan ibu dapat merawat bayinya sendiri.
NIC
a. Jelaskan para ibu / keluarga tentang keadaan bayinya sekarang.
b. Bantu orang tua / ibu mengungkapkan perasaannya.
c. Orientasi ibu pada lingkungan rumah sakit.
d. Tunjukkan bayi pada saat ibu berkunjung (batasi oleh kaca pembatas).
e. Lakukan rawat gabung jika keadaan ibu dan bayi jika keadaan bayi
memungkinkan.

C. Askep pada Bayi Baru Lahir dengan Masalah Respiratory Distress


1. Pengertian Sindrom Gawat Napas (respiratory distress syndrome, RDS)
Sindrom gawat napas (respiratory distress syndrome, RDS) adalah istilah
yang digunakan untuk disfungsi pernapasan pada neonates. Gangguan ini
merupakan penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan
maturitas paru (Whalley dan Wong, 1995). Gangguan ini biasanya juga dikenal

27
dengan nama hyaline membrane disease (HMD) atau penyakit membrane hialin,
karena pada penyakit ini selalu ditemukan membrane hialin yang melapisi alveoli.
RDS sering ditemukan pada bayi premature. Insidens berbanding ternalik
dengan usia kehamilan dan berat badan artinya semakin muda usia kehamilan
ibum semakin tinggi kejadian RDS pada bayi tersebut, sebaliknya semakin tua
usia kehamilan, semakin rendah kejadian RDS.
Presentase kejadian menurut usia kehamilan adalah 60-80% terjadi pada
bayi yang lahir dengan usia kehamilan kurang dari 28 minggu, 15-30% pada bayi
antara 32-36 minggu dan jarang sekali ditemukan pada bayi cukup bulan (matur).
Insidens pada bayi premature kulit putih lebih tinggi daripada kulit hitam dan
lebih sering terjadi pada bayi laki-laki daripada bayi perempuan (Nelson, 1999).
Selain itu, kenaikan frekuensi juga ditemukan pada bayi yang lahir dari ibu yang
menderita gangguan perfusi darah uterus selama kehamilan, misalnya ibu
penderita diabetes, hipetensi, hipotensi, seksio serta pendarahan antepartum.

2. Patifisiologi
Bayi premature lahir dengan kondisi paru yang belum siap sepenuhnya
untuk berfungsi sebagai organ pertukaran gas yang efektif. Hal ini merupakan
factor kritis dalam terjadinya RDS, ketidaksiapan paru menjalankan fungsinya
tersebut terutama disebabkan oleh kekurangan atau tidak adanya surfaktan.
Surfaktan adalah substansi yang merendahkan tegangan permukaan
alveolus sehingga tidak terjadi kolaps pada akhir ekspirasi dan mampu menahan
sisa udara fungsional (kapasitas residu fungsional (Ilmu Kesehatan Anak, 1985).
Surfaktan jugga menyebabkan ekspansi yang merata dan menjaga ekspansi paru
pada tekanan intraalveolar yang rendah. Kekurangan atau ketidakseimbangan
fungsi surfaktan menimbulkan ketidakseimbangan inflasi saat inspirasi dan kolpas
alveoli saat ekspirasi. Tanpa surfaktan, janin tidak dapat menjaga parunya tetap
mengembang. Oleh karena itu, perlu usaha yang keras untuk mengembangkan
parunya pada setiap hembusan nafas (eskpirasi) sehingga untuk pernapasan
berikutnya dibutuhkan tekanan negative intratoraks yang lebih besar dengan
disertai usaha inspirasi yang lebih kuat. Akibatnya, setiap kali bernapas menjadi

28
sukar seperti saat pertama kali bernapas (saat kelahiran). Sebagai akibatnya, janin
lebih banyak menghabiskan oksigen untuk menghasilkan energi ini daripada yang
ia terima dan ini menyebabkan bayi kelelahan. Dengan meningkatnya kelelahan,
bayi akan semakin sedikit membuka alveolinya. Ketidakmampuan
mempertahankan pengembangan paru ini dapat menyebabkan ateletaksis.
Tidak adanya stabilitas dan ateletaksis akan meningkatkan pulmonary
vascular resistance (PVR) yang nilainya menurun pada ekspansi paru normal.
Akibatnya terjadi hipoperfusi jaringan paru dan selanjutnya menurunkan aliran
darah pulmonal. Disamping itu, peningkatan PVR juga menyebabkan pembalikan
parsial sirkulasi darah janin dengan arah aliran dari kanan ke kiri melalui duktus
arteriosus dan foramen ovale.
Kolaps paru (ateletaksis) akan menyebabkan gangguan ventilasi pulmonal
yang menimbulkan hipoksia. Akibat dari hipoksia adalah oksigenasi jaringan dan
selanjutnya menyebabkan metabolism anaerob. Metabolism anaerobic
menghasilkan timbunan asam laktat sehingga terjadi asidosis metabolic pada bayi
dan penurunan curah jantung yang menurunkan perfusi ke organ vital. Akibat lain
adalah kerusakan endotel kapile dan epitel duktus alveolus yang menyebabkan
terjadinya transudasi ke dalam alveoli dan terbentuknya fibrin. Fibrin bersama-
sama dengan jaringan epitel yang nekrotik membentuk suatu lapisan yang disebut
membrane hialin. Membrane hialin ini melapisi alveolus dan menghambat
pertukaran gas.
Ateletaksis menyebabkan paru tidak mampu mengeluarkan
karbondioksida dari sisa pernapasan sehingga terjadi asidosis respiratorik.
Penurunan pH menyebabkan vasokontriksi yang makin berat. Dengan penurunan
sirkulasi paru dan perfusi alveolar, PaO2 akan menurun tajam, pH juga akan
menurun tajam serta materi yang diperlukan untuk produksi surfaktan tidak
mengalir ke dalam alveoli.
Sintesis surfaktan dipengaruhi sebagian oleh pH, suhu, dan perfusi normal.
Asfiksia, hipoksemia, dan iskemia paru terutama dalam hubungannya dengan
hipovolemia, hipotensi, dan stress dingin dapat menekan sintesis surfaktan.
Lapisan epitel paru dapat juga terkena trauma akibat kadar oksigen yang tinggi

29
dan pengaruh penatalaksanaan pernapasan yang mengakibatkan penurunan
surfaktan lebih lanjut. RDS adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri dan
mengikuti masa deteriorasi (kurang lebih 48 jam) dan jika ada komplikasi paru
akan membaik dalam 72 jam. Proses perbaikan ini, terutama dikaitkan dengan
meningkatkan produksi dan ketersediaan materi surfaktan.

3. Manifestasi Klinis
Berat atau ringannya gejala klinis pada penyakit RDS ini sangat
dipengaruhi oleh tingkat matuasi paru. Semakin rendah berat badan dan usia
kehamilan, semakin berat gejala klinis yang ditunjukkan. Gejala dapat Nampak
beberapa jam setelah kelahiran. Bayi RDS yang mampu bertahan hidup sampai 96
jam pertama mempunyai prognosis lebih baik. Gejala umum RDS diantaranya :
Takipnea (>60 kali/menit), pernapasan dangkal, mendengkur, sianosis, pucat,
kelelahan. Apnea dan pernapasan tidak teratur, penurunan suhu tubuh, retraksi
suprasternal dan substernal, pernapasan cuping hidung.

4. Pemeriksaan Diagnostik
Penentuan factor komplikasi perlu dilakukan dengan tes spesifik, seperti
darah, urine, dan glukosa darah (untuk mengetahui hipoglikemia). Kalsium serum
(untuk menentukan hipokalsemia), analisis gas darah untuk menentukan pH serum
(asidosis) dan PaO2 (tes untuk hipoksia).
Oksimetri nadi adalah komponen penting untuk menentukan hipoksia.
Pemeikasaan khusus lain mungkin dilakukan untuk mendiagnosis atau mencegah
komplikasi (Whalley dan Wong, 1995). Temuan radiografik yang merupakan
karakteristik RDS meliputi granulitas parenkim reticular halus dan bronkogram
udara yang sering lebih menonjol pada awal lobus bawah kiri karena
penumpangan (supperimposis) bayangan jantung.

Diagnosis Prenatal
Untuk menentukan maturasi paru dilakukan pemeriksaan (tes cairan
amnion) yang disebut rasio L/S (lesitin banding spingomielin). Rasio L/S ini

30
berguna untuk menentukan maturitas paru. Fosfolipid disintesis di sel alveolar dan
konsentrasi dalam cairan amnion selalu berubah selama kehamilan. Pada mulanya
spingomielin lebih banyak, tetapi kira-kira pada usia kehamilan 32-33 minggu
konsentrasi menjadi seimbang kemudian spingomielin berkurang dan lesitin
meningkat secara berarti sampai usia kehamilan 35 minggu dengan rasio 2:1 .
1) Pelaksanaan
Pengobatan terhadap RDS meliputi tindakan pendukung yang sama
dengan pengobatan pada bayi premature dengan tujuan mengoreksi
ketidakseimbangan. Pemberian minum per oral tidak diperbolehkan selama fase
akut penyakit ini karena dapat menyebabkan aspirasi. Pemberian minuman dapat
diberikan melalui parenteral.
Tindakan pendukung yang krusial yaitu
a. Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekuat
b. Mempertahankan keseimbangan asam basa
c. Mempertahankan suhu lingkungan netral
d. Mempertahankan perfusi jaringan adekuat
e. Mencegah hipotermia
f. Mempertahankan cairan dan elektrolit adekuat

Penatalaksanaan medis
Pengobatan yang biasa diberikan selama fase akut penyakit RDS adalah :
a. Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder
b. Furosemide untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan menurunkan
cairan paru
c. Fenobarbital
d. Vitamin E untuk menurunkan produksi radikal bebas oksigen
e. Metilksantin (teofilin dan kafein) untuk mengobati apnea dan untuk
pemberhentian dan pemakaian ventilasi mekanik (Cusson, 1992).

Salah satu pengobatan terbaru dan telah diterima penggunanya dalam


pengobatan RDS adalah pemberian surfaktan eksogen. Surfaktan eksogen adalah

31
derivate dari sumber alami misalnya manusia (didapat dari cairan amnion atau
parru sapi, tetapi bisa juga berbentuk surfaktan buatan).

5. Pertimbangan Keperawatan
Dalam merawat bati RDS perawat harus melakukan observasi cermat dan
intensif. Masalah kompleks yang berhubungan denganterapi pernapasan harus
diperhatikan terutama pengobatan yang kontinu terhadap hipoksemia dan
asidosis. Seorang perawat harus memahami peralatan terapi pernapasan sehingga
dapat segera mengenali bila alat tersebut tidak dapat berfungsi. Walaupun hal ini
merupakan tanggung jawab ahli terapi pernapasan. Fungsi keperawatan yang
peling penting adalah mengamati respons bayi terhadap terapi. Mucus mungkin
terkumpul di saluran pernapasan yang akan menghambat saluran dan selang
endotrakea (ET). Pengisapan hanya dilakukan bila diperlukan dan berdasarkan
pertimbangan terhadap bayi tersebut. Pertimbangan terhadap pengisapan
termasuk auskultasi dada, pembuktian bahwa oksigenasi rendah, kelebihan
kelembapan pada selang ET dan kepekaan bayi.
Pada saat melakukan pengisapan mucus, perawat harus menyadari dan
waspada tentang hal berikut.
1) Pengisapan bukan prosedur yang aman karena dapat menyebabkan spasme
bronkus, bradikardia karena stimulasi saraf vhipoksia dan peningkatan
tekanan intracranial sehingga mendorong bayi pada keadaan hemoragi
intraventrikular. Tindakan ini tidak boleh dilakukan secara rutin. Teknik
pengisapan yang tidak tepat dapat menyebabkan infeksi, kerusakan jalan
napas bahkan pneumotoraks
2) Penting diperrhatikan bahwa pengisapan yang terus menerus akan ikut
mengeluarkan udara bersamaan dengan keluarnya mucus. Oleh karena itu,
sekali pengisapan tidak boleh lebih dari 5 detik (pengisapan menyebabkan
saluran udara terhambat).
3) Tujuan pengisapan jalan napas buatan adalah menjaga terbukanya jalan
napas, bukan bronkus. Pengisapan yang dilakukan di luar ET dapat
menyebabkan lesi trauma pada trakea

32
4) Awasi oksigenasi atau oksimeter denyut nadi sebelum, selama, dan
sesudah pengisapan untuk memberi penilaian yang terus menerus terhadap
status oksigenasi dan untuk menghindari hipoksemia.
6. Tindakan Pencegahan
Tindakan pencegahan yang harus dilakukan untuk mencegah komplikasi
pada bayi berisiko tinggi adalah mencegah kelahiran premature, mencegah
tindakan seksio sesarea yang tidak sesuai dengan indikasi medis, melaksanakan
manajemen yang tepat terhadap kehamilan dan kelahiran bayi berisiko tingg, dan
pada penatalaksanaan kelahiran dengan usia kehamilan 32 minggu atau kurang
dianjurkan memberi deksametason atau betametason 48-72 jam sebelum
persalinan. Pemberian glukokortikoid juga dianjurkan karena berfungsi
meningkatkan perkembangan paru janin.

7. Askep pada bayi dengan RDS


Tahapan asuhan keperawatan pada bayi RDS sama dengan asuhan
keperawatan pada bayi risiko tinggi lain. Tahapan tersebut dimulai dengan
pengkajian yang dilanjutkan dengan dignosa keperawatan, intervensi, dan diakhiri
dengan evaluasi. Pengkajian pada bayi RDS meliputi riwayat keperawatan,
pemeriksaan fisik, auskultasi, dan pemeriksaan dignostik.
Pengkajian
Data yang dicari dalam riwayat keperawatan adalah kelahiran praterm,
riwayat kehamilan sekarang (apakah selama hamil ibu menderita hipotensi atau
perdarahan), riwayat neonates (lahir asfiksia akibat hipoksia akut, terpajan pada
keadaan hipotermia), riwayat keluarga positif, nilai Apgar rendah (termasuk
tindakan resusitasi yang dilakukan pada bayi).
Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan tanda dan gejala RDS. Gejala
tersebut dapat terjadi pada saat kelahiran atau antara waktu dua jam.
Perkembangan penyakit terjadi dengan cepat yang dimulai dengan takipnea
(>60x/menit), pernapasan mendengkur, atau retraksi subcostal/intercostal, diikuti
oleh pernapasan cuping hidung, sianosis dan pucar, peningkatan gejala lapar udara
(serangan apnea, hipotonus), gerakan beirama, sulit bernapas dan sentakan dagu.

33
Pada awalnya suara napas mungkin normal. Kemudian dengan menurunnya
pertukaran udara napas menjadi parau dan pernapasan dalam.
Pemeriksaan diagnostic untuk menentukan maturitas paru-paru meliputi
pemeriksaaan :
a. Lesitin/spingomielin, rasio 2:1 mengindikasikan bahwa paru sudah matur
b. Fosfatidgliserol, meningkat pada usia kehamilan 33 minggu
c. Gas darah arteri (indikasi gagal pernapasan), Pa)2 kurang dari 50 mmHg
dan PCO2 diatas 60 mmHg
d. Peningkatan kadar kalium (kalium dikeluarkan dari trauma sel alveolar)
e. Sinar-x menunjukkan adanya ateletaksis
f. Pemeriksaan dekstrostik
Perjalanan klinis memburuk dalam 24-48 jam pertama setelah kelahiran
dan menetap lebih dari 24 jam.
Analisis data pengkajian
Setelah didapat data berdasarkan pengkajian diatas, data tersebut
dianalisis. Selanjutnya semua masalah yang ditemui dirumuskan menjadi
diagnose keperawatan untuk kebutuhan intervensi keperawatann
Intervensi keperawatan
Intervensi keperawatan sebaiknya disertai rasionalisasi agar tim anggota
perawatan dapat mengerti alasan intervensi keperawatan
Evaluasi
Sebagai langkah terakhir evaluasi menetapkan kondisi klien disesuaikan
dengan tujuan keperawatan artinya masalah yang diungkapkan sebagai diagnose
keperawatan dinilai sebagai berhasil atau gagal.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN RDS


1. Pengkajian
1) Identitas bayi dan keluarga
2) Keluhan utama : klien biasanya susah bernapas disertai dengan sianosis
pada ekstrimitas pada saat lahir

34
3) Riwayat Penyakit Sekarang : biasanya bayi akan sianosis, retraksi dinding
dada berlebihan, suhu tubuh meningkat
4) Riwayat Persalinan : kaji bagaimana ibu melahirkan bayi, bagaimana
proses persalinan terjadi
5) Riwayat Perinatal
Pengkajian Fisik :
a. Reflek
a) Refleks moro : yaitu reflek memeluk pada saat bayi dikejutkan dengan
tangan.
b) Refleks menggenggam
c) Refleks menghisap
d) Refleks rooting
e) Refleks babynsky
b. Tonus otot.
c. Keadaan Umum dan TTV
d. Gejala Umum RDS

2. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan


Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada klien dengan RDS
adalah :
a. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan imatur paru dan
dinding dada atau kurangnya cairan jumlah surfaktan.
b. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi
atau pemasangan intubasi trekea yang kurang adekuat dan adanya
penumpukan secret.
c. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidaksamaan nafas
bayi dan ventilator, tidak berfungsinya ventilator, dan posisi
bantuan ventilator yang kurang tepat.
d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidak- mampuan menelan, motilitas gastik menurun, dan
kurangnya penyerapan.

35
Dx I : Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan imatur paru dan
dinding dada atau kurangnya cairan jumlah surfaktan.
Tujuan : Pertukaran gas adekuat Kriteria : mempertahankan oksigenasi
yang adekuat dengan menunjukkan adanya :
- ABG Pa O2 80-100 mmHg, PCO2 35-45mmHg
- Suara nafas vesikuler
Intervensi :
1. Monitor atau observasi perubahan status pernafasan R/ Deteksi dini
status pernafasan dan pengenalan diri perubahan perjalananpenyakit.
2. berikan O2 tidak lebih dari 40% hangatkan dan lembabkan dengan krap.
R/ mencegah turunnya kosentrasi O2 dan menurunkan kebutuhan-
kebutuhan air.
3. Observasi apnea dan cyanosis R/ Deteksi dini status pernafasan dan
mempertahankan gas darah optimal
4. Bantu posisi anak untuk ekspansi paru maksimal. R/ Memberikan rasa
nyaman dan agar ada upaya untuk bernafas
5. Observasi respon anak untuk ekspansi paru maksimal R/ Mencegah
turunnya kosentrasi mekanik dan kemungkinan-kemungkinan terjadi
komplikasi.
6. Suction jika diperlukan R/ Mengurangi penumpukan sekret
7. Monitor efek samping obat R/ mengetahui reksi obat untuk dilanjutkan
atau dihentikan therapy.

Dx II : Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi


atau pemasangan intubasi trekea yang kurang adekuat dan adanya penumpukan
secret.
Tujuan : kepatenan jalan nafas dapat dipertahankan
Kriteria hasil : Suara nafas vesikuler dan tidak adanya penumpukan secret
dan Oksigenasi adekuat

36
Intevensi
1. Kaji dada bayi apakah bunyi nafas bilateral dan adanya inspirasi saat
ekspansi selama inspirasi. R/ Menejemen komplikasi dan pengenalan
dini perubahan perjalanan penyakit.
2. Atur posisi bayi R/ Untuk memudahkan drainase
3. Lakukan penghisapan lender (suction) R/ Mengurangi
penumpukan sekret
4. Kaji kepatenan jalan nafas tiap jam R/ Mendeteksi perubahan
perjalanan penyakit
5. Cegah prosedur rutin penghisapan, pemegangan dan auskultasi. R/
Mencegah penurunan PaO2
Dx III : Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidaksamaan nafas
bayi dan ventilator, tidak berfungsinya ventilator, dan posisi bantuan ventilator
yang kurang tepat.
Tujuan : pola nafas efektif
Kriteria hasil : - Mempertahankan pola nafas efektif - Irama nafas,
kedalaman nafas normal - Oksigenasi adekuat
Intervensi :
1. Analisa monitor serial gas darah sesuai program R/ Mempertahankan gas
darah optimal dan mengetahui perjalanan penyakit
2. Gunakan alat bantu nafas sesuai instruksi R/ Memudahkan memelihara
jalan nafas atas
3. Panatau ventilator tiap jam R/ Mencegah turunnya kosentrasi mekanik dan
kemungkinan terjadinya komplikasi.
4. Berikan lingkungan yang kondusif R/ Supaya bayi dapat tidur dan
memberikan rasa nyaman.
5. Auskultasi irama jantung, suara nafas dan lapor bila ada penyimpangan. R/
Mendeteksi dan mencegah adanya komplikasi

37
Dx IV : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidakmampuan menelan, motilitas gastrik menurun, dan kurangnya
penyerapan.
Tujuan : Kebutuhan intake nutrisi dapat dipertahankan
Kriteria hasil :
a. Mencapai status nutrisi normal dengan berat badan yang sesuai
b. Mencapai kadar gula darah normal
c. Mencapai keseimbangan intake dan output
d. Bebas dari adanya komplikasi GI : Lingkaran perut stabil dan Pola
eliminasi normal

Intervensi :
1. Timbang BB tiap hari R/ Mendeteksi adanya penurunan dan peningkatan
berat badan
2. Berikan glukosa 5-10% banyaknya sesui umur dan berat badan R/
diperlukan keseimbangan cairan dan kebutuhan kalori secara parsial.
3. Monitor adanya hipoglikemi R/ Masukan nutrisi inadekuat menyebabkan
penurunan glukosa dalam darah.
4. Monitor adanya komplikasi GI : Distress, Konstipasi / diare, Frekuensi
muntah R/ Mempertahankan nutrisi cukup energi dan keseimbangan intake
dan output

38
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Bayi premature atau bayi pre-term adalah bayi yang berumur kehamilan
37 minggu dengan berat badan kurang dari 2500 gram, masalah-masalah yang
dapat terjadi adalah Hipotermia, Sindrom gawat Napas, Hipoglikemia.
Bayi Post Term adalah bayi yang lahir setelah kehamilan lebih dari 42
minggu, dihitung dari hari pertama haid terakhir tanpa memperdulikan berat
badan bayi pada waktu lahir, Pada kehamilan lewat waktu terjadi penurunan
oksitosin sehingga tidak menyebabkan adanya his, dan terjadi penundaan
persalinan. Permasalahan kehamilan lewat waktu adalah plasenta tidak sanggup
memberikan nutrisi dan pertukaran CO2/O2 sehingga janin mempunyai resiko
asfiksia sampai kematian dalam Rahim.
Sindrom gawat napas (respiratory distress syndrome, RDS) adalah istilah
yang digunakan untuk disfungsi pernapasan pada neonates. Gangguan ini
merupakan penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan
maturitas paru,

B. Saran

Diharapkan kita sebagai mahasiswa calon perawat dapat mendalami teori


dan keterampilan yang dimiliki agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang
tepat terutama pada bayi lahir dengan masalah kesehatan premature, postmatur
dan RDS.

39