Anda di halaman 1dari 17

TUGAS KEPANITERAAN KLINIK

ILMU KESEHATAN JIWA

JOURNAL READING

Smoking in schizophrenia: cognitive impact of


nicotine and relationship
to smoking motivators

OLEH :
Tannia Rizkyka Irawan
H1A 012 059

PEMBIMBING :
Dr . Danang Nur Adiwibawa, Sp.KJ

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA BAGIAN


ILMU KESEHATAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
RUMAH SAKIT JIWA MUTIARA SUKMA PROVINSI NTB
2017

2017 | JOURNAL READING 1


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Ketergantungan terhadap rokok yang sering terjadi pada pasien


skizofrenia merupakan salah satu dari masalah yang mendapatkan
perhatian dengan sedikitnya modalitas terapi. Individu yang telah
didiagnosis dengan skizofrenia memiliki angka prevalensi merokok
yang meningkat yakni sekitar dua hingga empat kali lebih besar
dibandingkan dengan populasi umum, dan lebih dari tiga peremoat
pasien skizofrenia merokok kretek. Sebagai konsekuensinya, pasien
juga memiliki angka penghentian terhadap rokok yang lebih rendah
dibandingkan populasi umum. Peningkatan prevalensi penggunaan
tembakau pada populasi ini cenderung menjadi perokok berat
dibandingkan populasi umum. Studi menunjukkan bahwa pasien
dengan skizofrenia merokok sebelum onset dari penyakit, dan mulai
merokok lebih awal dibandingkan rerata. Banyak studi yang dilakukan
untuk mencari dampak-dampak penggunaan rokok. Studi terkini
menunjukkan bahwa nikotin yang terdapat pada tembakau dapat
menurunkan gejala positif, seperti halusinasi karena efeknya terhadap
reseptor nikotin di otak yang mengurangi persepsi stimulus luar,
khususnya bising. Disisi lain, kandungan tar dalam rokok membuat
kadar obat antipsikotik bekurang kadarnya di dalam darah. 1,2
Pada penelitian berikut, akan dijelaskan mengenai bagaimana
rokok mempengaruhi fungsi kognitif pasien skizofrenia, sehingga akan
mempengaruhi motivasi merokok yang lebih tinggi dibandingkan
populasi normal.

2017 | JOURNAL READING 2


1.2 TUJUAN PENULISAN

Tujuan dari pembuatan penugasan ini adalah

- Memahami hubungan fungsi kognitif dengan motivasi merokok pada

skizofrenia

2017 | JOURNAL READING 3


BAB II

ISI

2.1 Identitas Jurnal


1. Judul : Smoking in schizophrenia: cognitive impact
of nicotine and relationship to smoking motivators
2. Penulis : Alison K. Beck, Amanda L. Baker, Juanita Todd
3. Penerbit : Elsevier
4. Tahun terbit : 2015
5. Nomor : 1
6. Volume : 2
7. Halaman : 7
8. Jenis jurnal : Research

2017 | JOURNAL READING 4


Abstrak
Prevalensi merokok pada skizofrenia secara signifikan meningkat pada
kelompok klinis dibandingkan non klinis. Hipotesis cognitive self medication
memiliki kontribusi dalam manfaat nikotin yang berhubungan dengan fungsi
kognitif. Efek nikotin secara signifikan telah diobservasi pada visual spatial
working memory (VSWM), sustained attention (dengan Continues Performing
Test Identical pairs, CPT-IP) dan prepulse inhibition (PPI).
Untuk mengetahui hubungan diantara efek nikotin dengan motivasi
merokok pada pasien skizofrenia yang perokok dan orang normal yang perokok,
maka digunakan tiga indikator kognitif yang meliputi VSWM, CPT-IP, dan PPI.
Ketiga uji kognitif tersebut kemudian dibandingkan dengan self-reported smoking
motivation dengan menggunakan kuisioner Modified reasons for smoking scale.
Fungsi kognitif diperiksa setelah aktifitas merokok tipikal dan dibandingkan
dengan aktifitas abstinensia semalam. Perokok yang skizofrenia tipikal
menunjukkan sedikit kesalahan pada pemeriksan VSWM dibandingkan kelompok
yang melakukan absitensia semalam. Kelompok kontrol menunjukkan bukti
adanya peningkatan pada CPT-IP dibandingkan kelompok abstinensia semalam.
Berbagai efek nikotin pada fungsi kognitif telah dihipotesiskan
mempengaruhi pola dan presistensi merokok pada skizofrenia. Penelitian ini
adalah penelitian pertama yang menunjukkan bahwa efek neurokognitif merokok
dapat mempengaruhi motivasi merokok pada seseorang.
ISI
Prevalensi merokok pada skizofrenia hingga lima kali lebih tinggi dari
pada kelompok klinis dan non-klinis lainnya. Adanya kesamaan di substrat
neurobiologis pada nikotin dan patologi skizofrenia telah mengarah pada usulan
bahwa nikotin dapat digunakan sebagai self-medication. Skizofrenia ditandai
dengan penyimpangan patologis dalam sistem reseptor bertanggung jawab untuk
menengahi efek nikotin. Hal ini dibuktikan pada penelitian lainnya bahwa
disfungsi Reseptor cholinergic nikotinik (nAChR) telah terlibat dalam patogenesis
disfungsi kognitif, meliputi respon sensorik, mempertahankan perhatian

2017 | JOURNAL READING 5


(sustained attention) dan memori kerja spasial visual (VSWM). Ketiga domain ini
memiliki bukti yang kuat pada modulasi nikotin untuk pasien skizofrenia. Secara
spesifik, nikotin telah diteliti dapat menurunkan halusinasi sensorik, dapat
membuat perhatian pasien menjadi bertahan lama, dan meningkatkan memori
visuospasial. Hal ini menyebabkan, angka ketergantungan rokok pada psien
skizofrenia tinggi.
Tujuan dari penelitian ini adalah menilai kemampuan kognitif dan
membandingkan nya diantara pasien skizofrenia dan sampel tanpa gangguan
psikiatri. Tujuan kedua adalah mengevaluasi motivasi merokok diantara pasien
skizofrenia dan membandingkan nya dengan kelompok kontrol.

1. Metode
Penelitian ini terdiri atas dua sesi eksperimental. Pertama adalah self report
atau laporan harian yang digunakan untuk menilai motivasi merokok diantara
individu-individu yang tidak mau atau menolak untuk berpartisipasi dalam sesi
penelitian. Penelitian ini dipandu oleh pedoman standar etik yang dikeluarkan
oleh American Psycology Association yang tertuang dalam bentuk informed
consent yang ditandatangani oleh pasien.
1.1 Partisipan
Sampel penelitian ini terdiri dari 28 perokok yang merokok lebih atau sama
dengan 15 rokok per hari, 16 pasien yang masuk dalam kriteria DSM-IV yang
terdiri dari 10 pasien skizofrenia dan 6 gangguan skizoafektif, serta 12 orang
kelompok kontrol tanpa adanya riwayat gangguan psikosis atau ganggguan afektif
sebelumnya. Kriteria eksklusi dari penelitian ini adalah kondisi neurologis seperti
stroke dan epilepsi, trauma kepala yang serius, dan adanya penyalahgunaan obat-
obatan serta alkohol dalam 6 bulan terakhir. Kelompok self report atau
pelaporan mandiri terdiri dari 71 orang perokok, dengan 43 orang termasuk ke
dalam kelompok yang mengalami skizofrenia atau skizoafektif serta 28 sampel
kontrol tanpa gejala psikiatri.

2017 | JOURNAL READING 6


1.2 Prosedur Umum
Pasien yang direkrut dalam penelitan ini wajib menghadiri dua pertemuan
yang saling terpaut satu minggu. Pertemuan pertama adalah kelompok yang
merokok terakhir pukul 11 malam satu hari sebelumnya, serta satu kelompok
lainnya tetap merokok seperti biasa, tanpa abstinensia. Kemudian dalam rentang
waktu dua pertemuan ini akan diukur kemampuan kognitif masing-masing pasien
dan dibandingkan antar kelompok.
1.3 Instrumen Penelitian
1.3.1 Rokok dan Pengukuran Zat yang di Gunakan
Self reported smoking status baik itu kelompok abstinensia dan
yang bukan, terverifikasi di awal penelitian menggunakan
pengukuran gas CO yang dihembuskan pada sekali tarikan napas.
Contohnya adalah dengan menggunakan Bedfont Micro
Smokerlyzer. Tingkat abstinensia nikotin biasanya menunjukkan
angka rendah jika hasil pembacaan gas karbon monooksida nya
adalah sebesar <12 ppm.
1.4 Motivasi Merokok
Motivasi merokok dinilai dengan menggunakan MRSS (Modified Reason
for Smoking Scale. Sampel dapat menilai masing-masing poin penilaian, skala 1
untuk tidak pernah, dan 5 untuk selalu.
1.5 Penilaian Fungsi Kognitif
1.5.1 Visuo Spatial Working Memory (VSWM)
VSWM dianalisa dengan menggunakan serangkaian tes berbasis
komputer. Sampel penelitian akan diinstruksikan untuk
memindahkan kursor ke lokasi dimana titik sebelumnya beerada,
namun dalam jarak yang dekat dalam cm. Nilai tinggi pada
pemeriksaan ini mengindikasikan performa yang buruk.
1.5.2 Sustained Attention
Sustained attention bisa diartikan dengan durasi pasien
mempertahankan perhatian. Hal berikut dalam penelitian ini

2017 | JOURNAL READING 7


diukur menggunakan Continous Performance Task-Identical Pair
version (CPT-IP). Pengukuran tersebut berdasarkan jumlah
respon yang benar terhadap target, percobaan catch and fill, tes
diskriminasi, tes berhitung pada dua tugas yang berbeda untuk
mengetahui tingkat sensitivitas pasien terhadap perubahan selama
periode pengetesan.
1.5.3 Pre Pulse Inhibitor
Pemeriksaan ini dilakukan dengan adanya stimulus auditorik yang
diberikan melalui headphone. Respon berikutnya atas adanya
rangsangan auditorik ini kemudian dinilai melalui gerak kedipan
mata yang cepat menggunakan aktifitas elektromiografi.
2. Hasil
Penelitian ini menggunakan uji analilsis statistik SPSS versi 16.0.
2.1 Karakteristik Klinis dan Demografi
Tabel 1 dan 2 menunjukkan hasil uji T independen yang membandingkan
skizofrenia dengan kelompok kontrol dalam hal demografi, dan variabel merokok.
Partisipan dengan skizofrenia menunjukkan adanya tingkat IQ yang lebih rendah
dibandingkan kelompok kontrol dan tingkat ketergantungan terhadap nikotin yang
lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.

2017 | JOURNAL READING 8


Tabel 1. Karakteristik klinis dan demografis kelompok percobaan (EXP) dan
kelompok self-report.

Tabel 2. Variabel merokok pada kelompok percobaan (EXP) dan kelompok


kontrol.
2.2 Penilaian Kognitif
Penilaian kognitif pada penelitian ini meliputi uji visuo spasial working
memory (VSWM), CPT-IP, PPI, dan MRSS-R.

2.2.1 VSWM (Visual Spatial Working Memory)


Uji T berpasangan menunjukkan bahwa pada skizofrenia,
menunjukkan hasil permorma VSWM yang lebih baik saat
merokok sepanjang hari dibandingkan dengan abstinensia jangka
pendek (fig 1).

2017 | JOURNAL READING 9


Fig 1. Pencapaian tes VSWM pada kelompok Skizofrenia dan kelompok
kontrol
2.2.2 CPT-IP
Blok percobaan (pertama dan kedua) serta status merokok
(abstinensia vs merokok tipikal) dimasukkan dalam pengolahan
RMANOVA untuk setiap pemeriksaan CPT-IP yang meliputi jumlah hit,
proporsi false alarm, dan kemampuan untuk membedakan benda. Pada
pasien dengan skizofrenia yang merokok, jumlah hit relatif lebih stabil,
serta adanya kemampuan membedakan benda yang lebih baik
dibandingkan keolmpok abstinensia. (fig 2). Namun, data yang masuk ke
dalam domain penelitian kognitif ini tidak menunjukkan adanya
signifikansi diantara blok pertama maupun blok kedua (p>0.08).

2017 | JOURNAL READING 10


Fig 2. Proporsi hit, false alarm, dan kemampuan untuk membedakan benda (DL)
pada kelompok skizofrenia dan kelompok kontrol.

2.2.3 PPI (Pre Pulse Inhibition)


Pemeriksaan PPI ini mencakup interval pre pulse. RMNANOVA
menunjukkan tidak adanya efek yang signifikan pada status merokok pada
seluruh kelompok. Pada kelompok kontrol, PPI menunjukkan angka
terbesar pada mili second ke 60 dan 120. (fig 3)

2017 | JOURNAL READING 11


Fig 3. Presentasi rerata pre pulse inhibition pada kelompok (A) kontrol dan (B)
skizofrenia pada status merokok.

2.3 MRSS-R (Modified Reason for Smoking Scale)

Sebanyak 98 partisipan yang terdiri dari 58 pasien skizofrenia dan 40 orang


kontrol masuk ke dalam MRSS-R kemudian dilakukan uji terhadap fungsi
kognitif, adiktif, stimulasi, sedatif, sensorimotor, fungsi sosial, dan otomatisasi.
(fig 4). Didapatkan adanya frekuensi tertinggi padak elompok kontrol, dimana
merokok menyebabkan adanya aktifitas sedatif yang tersering dikelompok
tersebut. Tiak jauh berbeda, padakelompok kontrol dan skizofrenia, tidak
didapatkan adanya signifikansi. Korelasi FTND dan MRSS-R dapat dilihat di
tabel 3.

Fig 4.
Rerata
skala
MRSS-R
pada (A)
kovariat
FTND dan
(B)
analisis
dari FTND

2017 | JOURNAL READING 12


Tabel 3. Korelasi non parametric diantara self reported nicotine dependence
(FTND) dan MRSSR pada kelompok skizofrenia dan kelompok kontrol

2.4 Hubungan fungsi kognitif dan motivasi merokok

Diantara kelompok kontrol, terdapat adanya signifikansi pada CPT-IP.


Dimana didapatkan adanya jumlah hit yang tepat sasaran pada kelompok kontrol
dibandingkan kelompok skizofrenia. (Fig 5)

Fig 5. Scattergram skor CPT-IP pada kelompok kontrol

2017 | JOURNAL READING 13


DISKUSI

Berdasarkan pengetahuan peneliti, penelitian ini adalah penelitian pertama


yang membahas efek kognitif di multilevel terhadap penggunaan nikotin. Adanya
defisit pada ketiga domain pemeriksaan kognitif yang telah digunakan dalam
penelitian ini adalah defisit tersering dan sangat khas pada skizofrenia (penanda
endofenotip). Konsisten terhadap penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
Sacco., et al pada tahun 2003 menunjukkan bahwa merokok memiliki signifikansi
terhadap hasil pemerikaan VSWM pada perokok yang mengidap skizofrenia. Pada
kelompok abstinensia semalam, kesalahan dapat terjadi, namun dalam taraf yang
lebih kecil dibandingkan kelompok yang tidak merokok sama sekali dibandingkan
pada pertemuan pertama. Pada kelompok kontrol yang tidak merokok sama sekali,
didapatkan adanya tes VSWM yang konstan.

Sustained attention pada pasien skizofrenia tidak ditentukan dari statusnya


yang merokok atau tidak. Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa pada
kelompok kontrol, jumlah hits dan kemampuan pasien untuk membedakan benda
secara signifikan lebih tinggi dibandingkan pasien perokok skizofrenia. Hal ini
diduga oleh peneliti, karena dalam penelitian sebelumnya, pemeriksaan yang
dilakukan adalah Conners CPT yang mana lebih digunakan untuk memeriksa
pusat perhatian yang selektif, berbeda dengan CPT-IP test yang digunakan dalam
penelitian ini lebih spesifik dan berpusat pada pemeriksan pemusatan perhatian
dan working memory.

Hal yang berbeda dari penelitian sebelumnya juga ditemukan pada PPI.
Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa PPI pada perokok skizofrenia tidak
dipengaruhi oleh status merokok. Hal ini terjadi karena pada penelitian yang
dilakukan oleh Adler et al pada tahun 1993 menggunakan EMG mata kiri atau
mata kanan saja. Hal ini menurut Cadenhead, et al, 2000 sangat berpengaruh
terhadap perbedaan hasil PPI. Dari penelitian nya didapatkan bahwa PPI pada
mata kanan lebih tinggi ditemukan daripada mata kiri. Efek nikotin pada mata

2017 | JOURNAL READING 14


kanan dan matak kiri ini menarik sebagai ide penelitian selanjutnya, dimana
dapat ditemukan keterlibatan asimetrisitas hemisfer pada pasien skizofrenia
perokok.

Dapat disimpulkan bahwa merokok dapat menyebabkan adanya perubahan


kognitif terkuat pada ketiga domain kognitif tersebut, dimana VSWM memegang
peranan terbesar yang dapat dipengaruhi oleh rokok. Adanya penggunaan nikotin
sebagai self medication membuat pasien dengan skizofrenia dapat memiliki
keterikatan dengan rokok yang tinggi.

Kekurangan dalam penelitian ini adalah karena pasien dengan skizofrenia


memiliki kemampuan untuk bertahan terhadap perhatian lebih rendah
dibandingkan kelompok normal, hal ini membuat kesulitan dalam mengambil data
saat ditengah proses pasien kehilangan kemampuan nya untuk mempertahankan
perhataian. Hal ini dapat menjadi bias dalam data penelitian. Selain itu, penelitian
ini menggunakan sampel yang terbatas dan jumlahnya kecil, dan kurang
menggambarkan populasi yang luas. Selain itu, pada penelitian ini yang masuk ke
dalam kriteria abstinensia adalah mereka yang setelah dilakukan pemeriksaan gas
karbon monoksida menunjukkan kadar <12 ppm, hal ini tentumembutuhkan
pemeriksaan yan g lebih spesifik untuk penelitian selanjutnya, misalnya dilakukan
pemeriksaan kadar nikotin plasma.

Penelitian ini selain bertujuan untuk mengetahui hubungan antara fungsi


kognitif dalam merokok dengan motivasi untuk merokok, juga untuk mengetahui
efek nikotin terhadap neurofisiologi dan neurokognitif sehingga dapat digunakan
sebagai pedoman untuk merumuskan strategi berhenti merokok di kemudian hari.

2017 | JOURNAL READING 15


BAB III

KESIMPULAN

Terdapat tiga domain kognitif yang menandakan secara fenotip pada


pasien skizofrenia. Ketiga domain tersebut salah satunya ialah Visuo Spatial
Working Memory. Merokok pada pasien skizofrenia dapat mengakibatkan
peningkatan kinerja VSWM (Visual Spatial Working Memory). Merokok pada
skizofrenia selain itu juga dapat lebih memusatkan perhatian namun tidak
signifikan terhadap kontrol, hal tersebut juga terjadi pada domain kognitif lainnya.

2017 | JOURNAL READING 16


DAFTAR PUSTAKA

1. Widhidewi W. 2012. Hubungan antara Ketergantungan Tembakau dan

Skizofrenia. Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar. Available

on https://ojs.unud.ac.id/index.php/eum/article/view/7899/5982

Accessed on 8th October 2017

2. Kaplan, Harold I MD, dkk. Skizofrenia. Ilmu pengetahuan perilaku

psikiatri klinis, Jilid 2, edisi Ketujuh, Hal 149.

3. Alison K. Beck, Amanda L. Baker, Juanita Todd. Smoking in

schizophrenia: cognitive impact of nicotine and relationshipto smoking

motivators. 2015. Journal of Schizophrenia Research: Cognition ed 2.

Elsevier:26-32. available on

http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2215001314000286

Accessed on 8th October 2017

4. Brunelin, J et al. Nicotine Smoking Prevents the Effects of

Frontotemporal Transcranial Direct Current Stimulation (tDCS) in

Hallucinating Patients With Schizophrenia. 2015. Journal of Brain

Stimulation Vol 8, Issue 6 Pages 1225-1227. Available on

http://www.brainstimjrnl.com/article/S1935-861X(15)01095-5/pdf

2017 | JOURNAL READING 17