Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat dan petunjuk, sehingga penulis dapat menyelesaikan Naskah Refleksi
Kasus yang berjudul Skizofrenia Paranoid tepat pada waktunya. Tugas ini
merupakan salah satu prasyarat dalam rangka mengikuti kepaniteraan klinik
madya di bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Mataram
Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma Provinsi NTB.

Tugas ini tidak dapat terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak, baik
dari dalam institusi maupun dari luar institusi Fakultas Kedokteran Universitas
Mataram dan jajaran RSJ Mutiara Sukma. Melalui kesempatan ini penulis
megucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
dr.Azhari Cahyadi Nurdin, Sp.KJ selaku pembimbing dan juga seluruh pihak yang
membantu baik secara langsung maupun tidak langsung. Sekian.

Mataram, 22 Oktober 2017

Penulis

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 1


STATUS PSIKIATRI

2.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Ny. S
Jenis Kelamin : Perempuan
TTL/Usia : 37 tahun
Agama : Islam
Pendidikan Terakhir : SMP
Pekerjaan : Tidak bekerja
Status Pernikahan : Tidak menikah
Alamat : Dusun Tamekan, Taliwang, KSB
Tanggal MRS : 7 Oktober 2017

Pasien dibawa oleh ibu pasien ke IGD Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma
Provinsi NTB pada hari Sabtu, 7 Oktober 2017. Ini adalah kali ke-4 pasien
dirawat inap di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma Provinsi NTB.

2.2 RIWAYAT PSIKIATRI


Data diperoleh dari:
Autoanamnesis pada tanggal 20 Oktober 2017 di Ruang Dahlia RSJ
Mutiara Sukma pukul 15.00 WITA

Alloanamnesis pada kakak perempuan pasien yang dilakukan pada tanggal


21 Oktober 2017
1. Nama keluarga : Ny. B
Umur : 43 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Hubungan : Kakak
Alamat : Dusun Tamekan, Taliwang, KSB

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 2


A. Keluhan Utama:
Mengamuk
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Alloanamnesis
Pasien datang ke IGD RSJ Mutiara Sukma karena keluhan
mengamuk. Mengamuk diartikan oleh keluarga pasien dengan marah-
marah ke ibu pasien dan merusak perabotan di rumah. Keluhan ini sudah
dirasakan sejak 1 bulan, dan semakin memberat sejak 1 minggu terakhir.
Pasien juga diketahui memkul ibunya karena marah sesaat sebelum
dibawa ke RSJ Mutiara Sukma. Pasien mengaku marah kepada ibunya
sebagai pelampiasannya marah kepada intel yang memburu pasien.
Pasien diketahui mengalai keluhan seperti ini sejak tahun 2015, selama 6
bulan setelah psien pulang dari Arab Saudi setelah bekerja sebagai TKW.
Pasien diketahui sering berbicara sendiri semenjak itu, sering melamun,
dan marah-marah. Ketika dirumah, pasien sering berteriak pergi kau
intel tanpa ada orang yang mengajaknya berbicara.
Pasien dibantu pulang ke Indonesia oleh seseorang
berkewarganegaraan Arab setelah mengalami penyiksaan oleh majikannya
dan dugaan adanya pelecehan seksual. Pasien diketahu bekerja di Arab
Saudi selama 3 tahun, dan bekerja sebagai cleaning service asrama berisi
40 kamar, dan pasien diperkerjakan sendiri tanpa diberikan makanan dan
waktu istirahat yang layak menurut keluarga pasien.
Semenjak pulang dari Arab Saudi, keluarga melihat adanya
perubahan dari perilaku pasien, yakni lebih sering mengurung diri, dan
mengobrol sendiri. Pasien juga sering menuturkan bahwa ia takut akan
ditangkap dan digorok lehernya oleh intel dan diperkosa oleh sosok
lelaki yang bernama naluri.
Menurut penuturan keluarga, pasien tidak memiliki riwayat trauma
kepaa sebelumnya, riwayat trauma kepala di Arab Saudi tidak diketahui,
namun pasien pernah bercerita bahwa kepalanya pernah ditendang oleh
majikannya. Riwayat kejang sebelumnya disangkal. Riwayat leher kaku,

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 3


keluar air liur yang berlebihan diakui pernah terjadi sekitar 1 tahun yang
lalu.
Autoanamnesis
Pasien datang ke IGD RSJ Mutiara Sukma oleh ibu dan kakaknya
setelah marah marah dan memukul ibunya satu hari sebelumnya. Pasien
mengaku melakukan hal tersebut karena kesal dengan intel-intel yang
datang memburunya. Pasien mengaku merasa seperti dikejar oleh intel
yang berwujud seperti ular yang hanya bisa dilihat oleh pasien saja. Sosok-
sosok yang disebut oleh intel ini mengaku membisiki pasien dengan
ajakan berhubungan badan, dan ingin membawanya pergi. Pasien juga
mengaku kadang diperkosa oleh naluri. Sosok naluri ini, pasien mengaku
hanya pasien sendiri yang dapa melihatnya. Pasien mengaku juga bahwa
dirinya adalah seorang artis terkenal yang bermain dalam banyak sinetron
di tv.
Pasien mengaku pernah bekerja selama 3 tahun di Arab Saudi, dan
sering dianiaya oleh majikan nya. Seperti kepalanya pernah ditendang dan
peruntnya pernah diinjak. Pasien dipulangkan ke Indonesia oleh orang
Arab dan tidak digaji oleh majikan nya.
Suara dan bayangan yang sering didengar oleh pasien bersumber
dari telinga (seperti ada yang membisiki) dan hanya pasien yang dapat
mendengar serta melihatnya. Keluhan ini sudah dirasakan sejak 2 tahun
terakhir, semakin berat dirasakan sejak 1 minggu sebelum masuk rumah
sakit.
Selain itu paisen mengeluhkan sakit pada bagian tengkuk,
leher,dan pada perut bagian bawah. Rasa sakit kepala diyakini karena
bekas ditendang oleh majikan nya ketika bekerja di Arab Saudi, kemudian
pasien menunjukkan keyakinan bahwa lehernya ada bekas gorokan oleh
intel, dan rasa sakit pada perut bagian bawah nya diyakini karena
diperkosa oleh intel.

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 4


Wawancara:
DM : Assalamualaikum mbak, saya dokter muda Tannia, boleh
saya minta waktunya sebentar? Kira-kira 20-30 menit. Kita
ngobrol-ngonbrol sebentar boleh ya...
Pasien : Boleh sekali mbak
DM : Halo mbak, boleh tau namanya siapa?
Pasien : Nama saya Suryani (tertawa)
DM : Oh iya mbak Suryani ya. Saya boleh tau ceritanya mbak bisa
ada disini? Gimana?
Pasien : Jadi gini mbak, saya kemarin marah-marah sama ibu saya,
terus jadinya saya pukul karena kesal sekali
DM : Mbak kenapa marah sama ibunya ? Apa yang membuat
kesal?
Pasien : Saya kesal sama intel mbak, sudah 1 minggu dia datang
terus, sebagai penyelamat jalan cinta saya didatangi terus
oleh intel mbak...
DM : Oh begitu, intel itu siapa mbak? Apa saya juga bisa meliat
intelnya kalau memang ada ?
Pasien : (tertawa) Intel itu berwujud seperti ular, dia datang ber 30
sekali datang. Saya takut sekali, katanya datang mau
nangkap saya gitu, ini ni leher saya mau digorok sama intel
(menirukan gerakan pisau di leher). Mareka itu polisi jalan
cinta mbak, mau nangkep saya si penyelamat jalan cinta
DM : Intel itu bukannya baik mbak? Berusaha menangkap
penjahat...
Pasien : Ini berbeda mbak, mereka itu jahat semua, suka bisikin saya
juga suka ajak gitu gitu..ngeseks gitu
DM : Mbak yakin? Siapa yang membisiki mbak?
Pasien : Yakin saya,
Itu mantan pacar saya, ganteng sekali... namanyan naluri.
Saya sampe kesakitan sekali kalo diperkosa sama dia mbak,

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 5


ee berdarah darah saya..ini perut saya sampe sakit
(menunjukkan perut bagian bawah)
DM : Naluri itu suka datangin mbak kapan aja? Wah tega sekali ya
Pasien : Iya dia jahat sekali, saya sering ngomon sama dia gausah
datenging saya lagi, tiap malam dia datang...ngajak ngeseks.
DM : Oh begitu ya, mbak di rumah ada yang suka liat naluri juga ?
Pasien : Tidak mbak, saya aja yang bisa lihat dia...
DM : Kalau melihat bayangan-bayangan yang tidak nampak oleh
orang lain gimana Mbak? Mungkin bisa diceritakan.
Pasien : Wah iya, saya suka melihat naluri itu sebagai bayangan
hitam, dia datang sama cewek namanya Asri, cantiiiik sekali
tau mbak
DM : Wah cantik ya, sama dong seperti mbak Suryani cantik juga
Pasien : Jangan salah mbak, saya itu cantik trus tinggi putih dulunya,
saya main sinetron Jalan Cinta di SCTV, banyak saya main
sinetron tau mbak
DM : Oh ya ? hebat ya mbak Suryani... saya belum pernah nonton
Pasien : Iya mbak, wihh semua saya tu main sinetron, ada pacar saya
gantengg bgt kan ya, itu dah saya ketemu naluri disana
DM : Mbak Suryani, kemarin katanya kerja di Arab Saudi, bisa
diceritakan mbak, dulunya mbak kerja apa disana?
Pasien : Saya kerja tiga tahun disana mbak, saya kerja di asrama
majikan saya. Bersihin kamar mandi banyaaaak sekali kamar
mandinya, ndak dikasi makan minum, lelah sekali saya
DM : Pasti berat sekali ya Mbak Suryani. Pernah disiksa sama
majikan selama disana ?
Pasien : Ini kepala saya ditendang mbak sama majikan saya,
makanya sekarang suka pusing sekali
DM : Mbak Suryani di pulangkan oleh siapa ke Indonesia?
Pasien : Saya dipulangkan oleh Syeikh, dia bayarin saya pulang
Mbak

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 6


DM : Mbak dirumah tinggal sama siapa?
Pasien : Sama Ibu, Bapak, sama Kakak saya mbak, saya pingin
pulang... pingin bantu bantu ibu saya
DM : Iya, sabar ya Mbak Suryani, berobat disini dulu supaya
sembuh, nanti bisa bantu ibu lagi
Pasien : Iya Mbak.
DM : Mbak Suryani, tau sekarang lagi dimana ?
Pasien : Di Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma
DM : Kalau rumah sakit jiwa itu biasa nya yang dirawat orang
yang sakit apa mbak Suryani ?
Pasien : Orang gila mbak
DM : Kalau begitu, apa mbak Suryani merasa mbak gila
(gangguan jiwa) ?
Pasien : Gak tuh mbak, saya disini cuma stress aja kok. Gak kayak
orang-orang lain (menunjuk pasien lain). Mereka yang gila,
saya kan engga, saya masih nyambung diajak ngomong.
DM : Oh begitu ya, okedeh mbak. Mbak inget yang mengantar
siapa kemarin saat dibawa kesini? Dan kalau sekarang pagi
siang atau malam mbak?
Pasien : Ingat, ada ibu dan kakak saya. Sekarang ini waktu ashar ya
mbak.
DM : Ya betul mbak, mbak sekarang coba ulangi angka yang saya
sebutkan ya mbak 3..5..8..4..6..2
Pasien : 3..5..8.. aduh saya lupa mbak..gak inget saya
DM : Mbak kalau gambar jam bisa ? Coba gambarkan saya mbak
jam 11.10 WITA
Pasien : (menggambar jam yang tidak tepat jarum dan urutan angka
nya) Benar begini ya, gambar jam nya ?
DM : Iya terimakasih mbak, kalau gambar seperti ini bisa?
(menunjukkan gambar segilima berpotongan)
Pasien : Aduh susah ya mbak (mencoba menggambar dan gagal)

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 7


DM : Iya gak papa kok mbak Suryani, terimakasih ya. Sekarang
kalau saya tanya persamaan kucing dan harimau apa ?
Pasien : Sama sama mengeong, Mbak
DM : Mba Suryani terakhir sekolah nya apa?
Pasien : Hmm.. saya terakhir sekolah SMP mbak
DM : Coba dibaca ini tulisan nya apa mbak?
Pasien : (terbata) aduh susah mbak, mata saya sakit kalau dipakai
membaca
DM : Mbak Suryani, kalau 5+2 berapa? Terus kalau 9-7 berapa?
Pasien : 5+2 itu tujuh mbak, kalau 9-7 itu lima, hehe
DM : Oke mbak Suryani, terimakasih ya, atas kesediaan nya saya
periksa, kapan kapan kita ngobrol lagi ya. Kalau mau balik
ke kamar, boleh kok.
Pasien : Sama-sama mbak, Assalamualaikum.

A. Riwayat Gangguan Sebelumnya


Pasien sebelumnya pernah dirawat di RSJ Mutiara Sukma pada
tahun 2016. Pasien kemudian dipulangkan. Menurut kakak pasien pasien
sempat sehat dan bekerja normal, awalnya pasien rutin kontrol, namun
lama kelamaan pasien mulai jarang kontrol dan putus berobat. Pasien
diketahui putus berobat selama 2 bulan.
Riwayat cedera kepala, sakit kepala yang lama, demam
tinggi,asma, dan penyakit jantung disangkal. Riwayat leher kaku (+),
Riwayat merokok dan riwayat penggunaan NAPZA disangkal. Riwayat
percobaan bunuh diri disangkal.
B. Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Riwayat prenatal
Pasien merupakan anak ke empat dari 4 bersaudara. Pasien
dikatakan lahir cukup bulan, lahir di rumah di tolong oleh dukun, dan
dikatakan secara umum kelahiran pasien dalam keadaan normal. Pasien

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 8


tidak pernah sakit-sakit selama bayi dan ibu pasien tidak pernah sakit
selama mengandung pasien.
2. Masa kanak-kanak awal (<3 tahun)
Pasien diakui tidak pernah mengalami gangguan dalam pertumbuhan
dan perkembangannya. Secara umum sesuai usia dan seperti anak
lainnya.
3. Masa kanak-kanak pertengahan (3-11 tahun)
Pasien tumbuh dan berkembang seperti anak pada umumnya bergaul
dengan teman-teman sekitar rumah.
4. Masa kanak-kanak akhir dan remaja (11-19 tahun)
Keluarga mengatakan pasien memiliki banyak teman dan sering
melakukan aktivitas bersama teman-temannya. Setelah putus sekolah,
pasien mulai bekerja membantu ibu di rumah dan mencoba menjadi
TKW.
5. Masa dewasa
- Riwayat pendidikan
Pendidikan terakhir pasien adalah SMP.
- Riwayat pekerjaan
Pasien bekerja sebagai TKW.
- Riwayat pernikahan
Pasien belum menikah
- Riwayat kemiliteran dan pelanggaran hukum
Pasien tidak pernah mengkuti bentuk kemiliteran apapun dan belum
pernah melakukan tindakan yang melanggar hukum sampai dipenjara
selama ini.

C. Riwayat Keluarga
Pasien adalah anak ke empat dari empat bersaudara. Pasien memiliki 2
kakak laki-laki, dan stu kakak perempuan. Pasien tinggal bersama Ibu,
Bapak, dan kakak nya. Tidak ada yang pernah mengalami gangguan jiwa
di keluarga pasien.

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 9


Genogram Keluarga

Keterangan :

= Laki Laki = Anggota keluarga laki-laki yang meninggal

= Perempuan = Anggota keluarga perempuan yang meninggal

= Pasien

D. Situasi Sosial-Ekonomi Sekarang


Pasien tinggal bersama ibu, ayah, dan kakak pasien. Ibu dan bapak
pasien bekerja sebagai pedagang. Pasien tidak bekerja sepulang dari Arab
Saudi. Pasien tidak diberikan gaji atau pesangon selama di Arab Saudi,
dan pulang tanpa membawa uang. Pendapatan orang tua pasien kurang
lebih 1 juta perbulan dan menurut kakak pasien pendapatan tersebut
dikatakan kurang untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.
E. Persepsi Pasien Tentang Diri dan Kehidupannya
Pasien merasa dirinya saat ini sudah sembuh dan ingin segera
pulang ke Sumbawa.

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 10


F. Persepsi dan Harapan Keluarga
Kakak pasien mengatakan, seluruh keluarga telah mengetahui
pasien mengalami gangguan jiwa. Diakui olehnya, keluarga dapat
menerima kondisi pasien dan menginginkan pasien dapat beraktivitas
normal kembali. Keluarga juga menginginkan pasien dapat berobat rutin.

PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


Pemeriksaan status mental dilakukan pada tanggal 20 Oktober
2017 di Ruang Dahlia Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma.

A. Deskripsi Umum

1) Penampilan
Penampilan tampak sesuai usia, tampak tidak rapi.

2) Kesadaran

Jernih (Compos Mentis)

3) Psikomotor
Normoaktif

4) Sikap terhadap Pemeriksa


Kooperatif

5) Pembicaraan
Spontan, volume suara normal, dan artikulasi cukup jelas.
B. Alam perasaan dan emosi
Mood : eutim
Afek : luas
Keserasian : Serasi
C. Gangguan Persepsi
Halusinasi auditorik (+) halusinasi visual (+)
D. Pikiran
Bentuk pikir : non-realistik
Arus pikir : koheren

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 11


Isi pikir : waham kejar (+) waham somatik (+)
E. Fungsi Intelektual

a. Taraf pendidikan pengetahuan dan kecerdasan

Pasien menempuh pendidikan sampai SMP. Tingkat pengetahuan


dan kecerdasan pasien kesannya sesuai dengan taraf pendidikan.

b. Orientasi :
Waktu kesan baik. Pasien mengetahui waktu saat
dilakukan wawancara adalah siang hari
Tempat kesan baik. Pasien mengetahui bahwa saat ini
dirinya berada di RSJ Mutiara Sukma di ruang Mawar.
Orang kesan baik. Pasien mengenali nama orang yang
mengantarnya ke RSJ.

c. Daya Ingat :
Jangka panjang kurang baik. Pasien tidak dapat mengingat
tahun lahir dan umur.
Jangka sedang baik. Pasien dapat mengingat
pengantarnya.
Jangka pendek kesan baik. Pasien dapat mengingat menu
sarapan yang dikonsumsi.
Jangka segera kesan baik. Pasien dapat mengulang benda
yang disebutkan oleh pemeriksa.

d. Konsentrasi dan Perhatian

Kesan baik. Pasien tampak memusatkan perhatian pada pemeriksa


saat wawancara.

e. Kemampuan Berhitung
Kesan cukup baik pasien dapat menguasai penjumlahan, tidak
menguasai pengurangan dan perkalian.

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 12


f. Kemampuan Membaca dan Menulis
Kesan cukup baik, pasien dapat membaca namun tidak lancar
menulis.
g. Kemampuan Visuospasial
Kesan tidak baik, pasien tidak dapat meggambar jam yang
menunjukkan pukul 10.11

h. Pikiran Abstrak
Kesan kurang baik, pasien tidak dapat memberikan persamaan
antara kucing dan harimau.
i. Pengetahuan Umum

Kesan baik, pasien mengetahui nama Presiden saat ini.

F. Pengendalian Impuls
Selama wawancara, pasien dapat mengendalikan diri dengan baik.

G. Daya Nilai dan Tilikan


Daya Nilai Sosial : normal
Uji Daya Nilai : normal
Penilaian Daya Realita (RTA) : terganggu
Tilikan : derajat I
H. Taraf Dapat Dipercaya
Secara umum, informasi lain yang disampaikan oleh pasien dapat
dipercaya.

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 13


I. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 20 Oktober 2017 di Ruang
Dahlia Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma, Provinsi NTB.

Status Internus

a. Status Generalis

Keadaan umum : Baik


Kesadaran/GCS : E4V5M6
Tanda vital
Tekanan darah : 120/70 mmHg
Nadi radialis : 88x/mnt
Pernapasan : 18 x/mnt
Suhu axila : 36,2C (suhu aksila)

b. Pemeriksaan Kepala dan Leher

Pucat : (-)
Sianosis : (-)
Konjungtiva anemis : (-)/(-)
Ikterus : (-) /(-)
Leher : pembesaran kelenjar getah bening
(-)
Telinga : normal
c. Pemeriksaan Thorax

Inspeksi :Pergerakan dada simetris (+/+), retraksi (-/-)


Palpasi : Gerakan dinding dada simetris
Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi : Cor: S1S2 tunggal reg/ murmur(-),
gallop (-)
Pulmo: vesikuler+/+,
ronki(-/-), wheezing(-/-)

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 14


d. Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi : jejas (-), distensi (-)
Auskultasi : bising usus normal
Perkusi : timpani di seluruh lapang abdomen
Palpasi : nyeri tekan abdomen (-)
e. Ekstremitas
Superior : hangat
Inferior : hangat
Status Neurologis
Pupil: bentuk bulat, isokor (+/+), refleks cahaya (+/+).
Gejala rangsangan selaput otak: tidak ditemukan.
Gejala peningkatan tekanan intrakranial: tidak didapatkan.
Motorik: Normal.
Tonus: Normal.
Koordinasi: Baik.
Turgor: Normal.
Refleks: Tidak dievaluasi.
Tanda efek ekstrapiramidal
o Tremor tangan : negatif
o Akatisia : negatif
o Bradikinesia : negatif
o Cara berjalan : normal
o Keseimbangan : baik
o Rigiditas : negatif

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 15


II. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
Dilaporkan seorang pasien perempuan usia 37 tahun, agama Islam, asal
Sumbawa Barat, bekerja sebagai TKW, pendidikan SMP, status belum
meikah, dibawa ke IGD RSJ Mutiara Sukma pada tanggal 7 Oktober 2017
karena mengamuk dan memukul ibunya. Hal tersebut berlangsung kurang
lebih satu bulan sebelum MRS dan memberat 1 minggu terakhit. Pasien sudah
pernah dirawat di RSJ Mutiara Sukma satu tahun yang lalu, dan ini merupakan
kunjungan yang empat. Pasien diakui sempat putus berobat selama 2 bulan.
Pada pemeriksaan fisik umum ditemukan kelainan bermakna, masih dalam
batas normal. Pada pemeriksaan status mental didapatkan penampilan tidak
terawat. Perilaku pasien normoaktif dan sikap terhadap pemeriksa koperatif.
Bicara pasien spontan, volume suara kecil dan artikulasi cukup jelas. Mood
pasien eutim dengan afek luas, serasi. Pada proses pikir tidak ditemukan
kelaianan dan isi pikir terdapat riwayat waham kejar dan waham somatik.
Ditemukan gangguan persepsi yakni halusinasi auditorik dan halusinasi visual.
Orientasi terkesan cukup baik dan daya ingat cukup baik. Atensi terkesan
cukup baik. Kemampuan membaca dan menulis cukup baik, kemampuan
visuospasial kurang dan kemampuan berpikir abstrak kurang. Uji daya nilai
dan RTA baik, serta tilikan derajat I.

III. FORMULASI DIAGNOSTIK


Berdasarkan PPDGJ III seseorang yang mengalami suatu gangguan jiwa
akan ditemukan adanya suatu hendaya perilaku, pikiran, dan perasaan yang
secara klinis bermakna pada fungsi baik psikososial maupun aktivitas sehari-
hari. Berdasarkan anamnesis dan riwayat perjalanan penyakit, serta status
mental, pasien ini dapat dikatakan mengalami suatu gangguan jiwa.1,2
Dari hasil anamnesis didapatkan bahwa pasien tidak memiliki riwayat
penyakit medis tertentu yang dapat menyebabkan disfungsi otak sebelum
gejala muncul. Maka dari itu, diagnosis gangguan mental organik dapat
disingkirkan dari pasien. Pasien juga tidak pernah menggunakan NAPZA,

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 16


oleh sebab itu gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat
psikoaktif juga dapat disingkirkan.1
Dari hasil anamnesis, baik autoanamnesis maupun alloanamnesis
ditemukan adanya halusinasi auditorik,halusinasi visual dan riwayat waham
kejar. Gejala ini dapat digolongkan sebagai gejala psikotik yang
mempengaruhi fungsi global pasien dan dapat memenuhi kriteria Skizofrenia
(F.20). Dari pemeriksaan status mental juga didapatkan gangguan persepsi
yaitu halusinasi auditorik yang mengatakan bahwa diri pasien gila yang
membuat pasien kesal dan mengamuk. Sehingga karena gejala-gejala tersebut
menonjol, berdasarkan PPDGJ III pada aksis I dapat didiagnosis Skizofrenia
Paranoid (F.20).1
Dari hasil alloanamnesis, pasien tidak didapatkan gangguan kepribadian,
sehingga pada aksis II dapat dikatakan tidak ada diagnosis. Pada pasien juga
ditemukan tidak adanya gangguan medis umum. Pada aksis IV, masalah
dalam keluarga dan lingkungan (psikososial) dapat dicurigai sebagai faktor
pencetus gangguan pada pasien. Pada aksis V GAF (Global Assessment of
Functioning) yang sesuai yaitu 60-51 (disabilitas sedang).1,2

IV. EVALUASI MULTI AKSIAL


Aksis I : F20.0 Skizofrenia Paranoid
Aksis II : Tidak ada diagnosis
Aksis III : Tidak ada diagnosis
Aksis IV : Masalah keluarga dan lingkungan (psikososial)
Aksis V : GAF Scale saat diperiksa 51-60

V. DAFTAR MASALAH
A. Organobiologik : Ketidakseimbangan neurotransmiter

B. Psikologi :
Halusinasi Auditorik
Halusinasi Visual

C. Lingkungan dan Sosioekonomi :

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 17


Keluarga tidak mengerti bahwa gangguan jiwa yang dialami pasien
memerlukan pengobatan lama dan rutin. Pasien dituduh sebagai penyebab
temannya meninggal.

VI. RENCANA PENATALAKSANAAN


A. Psikofarmaka :
Risperidone 2x2 mg, PO

B. Psikoterapi dan Psikoedukasi :


Psikoterapi Suportif
Kepada pasien dilakukan psikoterapi suportif dengan cara mendukung
pasien. Sistem pendukung pasien harus kuat, tidak terlalu mencampuri
maupun menjauhi pasien. Pasein juga diberikan edukasi mengenai
penyakitnya, gejala, penyebab, pengobatan, bagaimana dampak bila
tidak kontrol atau tidak minum obat dan bagaimana jika keluhan
kembali muncul.

Psikoedukasi

a. Edukasi terhadap pasien :


- Memberi informasi dan edukasi pada pasien mengenai
gangguan yang diderita, mulai gejala, dampak, faktor resiko,
tingkat kekambuhan, dan tata cara dan manfaat pengobatan
agar pasien tetap taat meminum obat, dan segera berobat bila
mulai timbul gejala serupa.
- Memberikan penjelasan kepada pasien bahwa suara-suara itu
tidak nyata, dan mendorong pasien untuk belajar mengabaikan
suara yang timbul.
- Memberi edukasi mengenai keuntungan pengobatan sehingga
pasien termotivasi untuk minum obat secara teratur.
- Menjelasakan kepada pasien bahwa obat yang diberikan bisa
memberikan efek samping bagi pasien namun dapat diatasi.

b. Edukasi kepada keluarga :

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 18


- Memberikan penjelasan tentang penyakit pasien (penyebab,
gejala, hubungan antara gejala dengan perilaku, perjalanan
penyakit, serta prognosis). Pada akhirnya diharapkan keluarga
bisa menerima dan memahami keadaan pasien serta
mendukung proses penyembuhannya dan mencegah
kekambuhan.
- Menjelaskan bahwa sakit yang diderita oleh pasien merupakan
penyakit yang membutuhkan dukungan dan peran aktif
keluarga dalam membantu proses penyambuhan penyakit.
- Memberikan penjelasan mengenai terapi yang diberikan pada
pasien (kegunaan obat terhadap gejala pasien serta efek
samping yang mungkin muncul pada pengobatan). Selain itu
juga ditekankan pentingnya pasien kontrol dan minum obat
secara teratur.
-

VII. PROGNOSIS
Hal yang meringankan prognosis :
1. Pasien memiliki jaminan kesehatan
2. Keluarga mendukung pengobatan pasien

Hal yang memperburuk prognosis :


1. Pemahaman keluarga masih kurang
2. Onset terjadinya penyakit
3. Pasien tidak jarang kontrol dan putus pengobatan
Prognosis Pasien :
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam

VIII. PEMBAHASAN KASUS DAN CLINICAL REASONING


Diagnosis skozifrenia dapat tegak pada pasien ini karena didapatkan
gejala-gejala utama yaitu adanya riwayat waham dan halusinasi auditorik.. Hal

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 19


tersebut menyebabkan pasien mengalami hendaya fungsi secara global. Gejala-
gejala ini juga telah berlangsung lebih dari 1 bulan.1
Pencetus terjadinya gangguan jiwa pada pasien diduga karena masalah
yang terjadi pada keluarga pasien dan juga di lingkungan pekerjaan pasien
(lingkungan social). Hal ini didukung pula dari tingkat kepatuhan pasien yang
buruk dan tidak pernah kontrol serta minum obat rutin. Keluarga juga kurang
memahami bahwa pasien memerlukan pengobatan dalam jangka waktu yang
panjang. Hal ini dapat diatasi dengan komunikasi yang baik dengan keluarga
terkait dukungan dalam pengobatan pasien.

Pada pasien ditemukan gejala psikotik yang muncul adalah gejala positif
seperti waham dan halusinasi. Obat antipsikotik memiliki 2 golongan yaitu
golongan tipikal dan atipikal. Golongan tipikal disebut juga sebagai Dopamin
Antagonis (DA) karena hanya memblok reseptor dopamin, sedangkan golongan
atipikal disebut juga sebagai Dopamin Serotonin Antagonis karena memblok
reseptor dopamin dan serotonin.
Risperidone merupakan obat golongan atipikal yang bekerja meningkatkan
reseptor dopamin pada jalur mesokortikal dan memblok reseptor dopamin pada
jalur mesolimbik sehingga gejala yang dialami pasien dapat berkurang. Obat
antipsikotik atipikal juga memiliki efek samping ekstrapiramidal yang lebih
minimal.2,3 Pada pasien diberikan dosis awal 2 x 2 mg dan diberikan selama
kurang lebih 8-12 minggu hingga memasuki tahap stabilisasi, kemudian dapat di
tappering off hingga mencapai dosis maintenance.
Terapi lain yang dapat diberikan pada pasien selain terapi farmakologi
adalah terapi non farmakologi yaitu psikoterapi suportif dan psikoedukasi.
Psikoterapi suportif bertujuan agar pasien merasa aman, diterima dan dilindungi.
Psikoedukasi terutama pada keluarga penting dilakukan agar keluarga mengetahui
tentang penyebab, gejala, pentingnya pengobatan, dan pentingnya dukungan
keluarga bagi pasien.

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 20


IX. REFLEKSI KASUS
Dari masalah-masalah pada pasien, hal yang menarik sehingga saya
mengangkat kasus ini karena adanya gejala psikotik pasien yang menonjol
sehingga dapat mudah didiagnosis. Gejala yang menonjol tersebut adalah adanya
halusinasi auditorik. Kasus ini membuat saya dapat mengenali gejala pasien
dengan skizofrenia. Sehingga nantinya dapat memberikan tatalaksana awal pada
pasien dengan kondisi tersebut.

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 21


GRAFIK PERJALANAN PASIEN

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 22


DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim, R. Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III.


Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. 2013.
2. Kusumawardhani A, Husain AB, dkk. Buku Ajar Psikiatrik. Jakarta: Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2010.
3. Perhimpunan Dokter Spesialis Jiwa Indonesia. Konsensus
Penatalaksanaan Gangguan Skizofrenia. Jakarta : PDSKJI. 2011

2017 |REFLEKSI KASUS PSIKIATRI 23