Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

Cara Penyelesaian Sengketa Kesehatan

Disusun Oleh :
Kelompok V
Ari Andriyana
Faizal Yan AS
Muhammad Haryadi
Sefti Nuraeni
Kelas : IIB

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KOTA SUKABUMI


Jalan Babakan Sirna No. 25 Kota Sukabumi
TAHUN 2015
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas berkat berkat dan rahmatnya
sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini terdiri dari pokok
pembahasan mengenai Cara Penyelesaian Sengketa Kesehatan Setiap pembahasan di bahas
secara sederhana sehingga mudah dimengerti.

Makalah ini membahas tentang konsep penyelesaian sengketa kesehatan, alterrnatif


penyelesaian sengketa kesehatan.
Kami sadar, sebagai mahasiswa yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan dalam
makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik
dan saran yang bersifat positif, guna penulisan makalah yang lebih baik lagi di masa yang akan
datang.

Sukabumi, April 2015

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i


DAFTAR ISI.................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 1
C. Tujuan .................................................................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Sengketa ............................................................................. 2
B. Sengketa Medic .................................................................................... 2
C. Dasar Hukum Sengketa Medic ............................................................ 4
D. Konsep Penyelesaian Sengketa Medic................................................. 4

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ......................................................................................... 18
B. Saran ..................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perbedaan antara harapan dan hasil sering menjadi pemicu ketidakpuasan dari pasien atau
keluarga terhadap perawat atau lembaganya. Sengeketa kesehatan ini timbul sebagian besar
karena komunikasi yang tidak efektif yang berakibat mispresepsi bagi para pihak. Penyelesaian
sengketa kesehatan dapat melalui pendekatan litigasi dan non litigasi keduanya memiliki
berbagai keuntungan dan kerugian. Penyelesaian sengeketa melalui litigasi mempunyai sifat
terbuka, memerlukan banyak waktu, mengikuti prosedur beracara yang formal, membutuhkan
pengacara dan berakhir dengan menang atau kalah. Penyelesaian sengketa melalui non litigasi
(mediasi) bersifat tertutup, tidak mengharuskan adanya pengacara dan bersifat fleksibel.
Sengketa kesehatan mempunyai karakter yang berbeda dengan sengketa perdata lainnya,
hal ini dikarenakan sengketa dalam pelayanan kesehatan tidak hanya berdampak pada individu
sebagai subjek hokum saja tetapi juga profesi yang diemban dan atau lembaganya. Karakter dari
profesi dan lembaga akan sangat dirugikan bila proses penyelesaian sengketa kesehatan
dilakukan bersifat terbuka melalui proses litigasi, sifat terbuka akan memberikan peluang
terhadap terjadinya pembunuhan karakter dari profesi yang diembannya. Mediasi merupakan
pendekatan non litigasi dalam penyelesaian sengketa yang diakui oleh hokum positif di
Indonesia, musyawarah untuk mencapai mufakat dengan bantuan mediator dapat ditempuh
melalui pendekatan kekeluaragaan, prinsip kemanusiaan, keadilan dan dalam rangka menjaga
hubungan baik untuk mengakhiri sengketa yang ada. Akhir penyeleisaian sengketa melalui
mediasi dapat berupa nota perdamaian atau akta perdamaian yang bersifat final dan binding.
Berdasarkan akta perdamaian lembaga peradilan dapat melakukan eksekusi bila terjadi
pelanggaran terhadap isi kesepakatan tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana konsep penyelesaian sengketa kesehatan?
Bagaimana alterrnatif penyelesaian sengketa kesehatan?
1.3 Tujuan
Untuk memahami dan mengetahui tentang konsep penyelesaian sengketa kesehatan,
alterrnatif penyelesaian sengketa kesehatan.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Sengketa

Arti kata sengketa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang
menyebabkan perbedaan pendapat; pertengkaran; perbantahan atau bisa juga diartikan sebagai
pertikaian; perselisihan.

Sengketa dalam pengertiannya yang luas (termasuk perbedaan pendapat, perselisihan,


ataupun konflik) adalah hal yang lumrah dalam kehidupan bermasyarakat, yang dapat terjadi saat
dua orang atau lebih berinteraksi pada suatu peristiwa atau situasi dan mereka memiliki persepsi,
kepentingan, dan keinginan yang berbeda terhadap peristiwa atau situasi tersebut (Rapat Kerja
ABH, 2008).

Jadi sengketa adalah perbedaan pendapat yang telah mencapai eskalasi tertentu atau
mengemuka. Pemicu terjadinya sengketa adalah:

1) Kesalahpahaman,
2) Perbedaan penafsiran
3) Ketidak-jelasan pengaturan,
4) Ketidakpuasan,
5) Ketersinggungan,
6) Kecurigaan,
7) Tindakan yang tidak patut, curang atau tidak jujur,
8) Kesewenang-wenangan atau ketidakadilan,
9) Terjadinya keadaan-keadaan yang tidak terduga.

B. Sengketa Medis
Dalam kosa kata inggris terdapat 2 (dua) istilah, yakni conflict dan dispute
yang keduanya mengandung pengertian tentang adanya perbedaan kepentingan di antara
kedua belah pihak atau lebih, tetapi keduanya dapat dibedakan. Conflict sudah
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yakni konflik, sedangkan dispute dapat
diterjemahkan dengan arti sengketa. Konflik adalah sebuah situasi dimana dua pihak atau
lebih diharapkan pada perbedaan kepentingan, tidak dapat berkembang dari sebuah
sengketa apabila pihak yang merasa dirugikan hanya memendam perasaan tidak puas
atau keprihatinannya. Konflik biasanya pihak tertentu belum mengetahui atau menyadari
adanya perselisihan dan hanya disadari oleh pihak yang bertikai. Perselisihan mulai
mengemuka di mana salah satu pihak atau para pihak yang terlibat telah melakukan
tindakan-tindakan yang membuat pihak yang tidak terlibat mengetahui atau menyadari
adanya suatu permasalahan. Konflik berkembang atau berubah menjadi sebuah sengketa
apabila pihak yang merasa dirugikan telah menyakatan rasa tidak puas atau
keprihatinannya, baik secara langsung kepada pihak yang dianggap sebagai penyebab
kerugian atau pihak lain. Ini berarti sengketa merupakan kelanjutan dari konflik. Sebuah
konflik tidak dapat terselesaikan akan menjadi sengketa.
Undang-undang No 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran secara implicit
menyebutkan bahwa sengketa medis adalah sengketa yang terjadi karena kepentingan
pasien dirugikan oleh tindakan dokter atau dokter gigi yang menjalankan praktik
kedokteran. Pasal 66 ayat (1) UU praktik kedokteran yang berbunyi setiap orang yang
mengetahui atau kepentingan dirugikan atas tindakan dokter atau dokter gigi dalam
menjalankan praktik kedokteran dapat mengadukan secara tertulis kepada ketua majelis
Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia. Dengan demikian sengketa medis
merupakan sengketa yang terjadi antara pengguna pelayanan medis dengan pelaku
pelayanan medis dalam rumah sakit dan pasien.
Sengketa medis mengandung pengertian sengketa yang objeknya adalah
pelayanan medis. Pelayanan medis selalu melibatkan health provider (pemberi layanan)
dan health receiver (penerima layanan). Pelayanan medis tersebut dilakukan dengan
tujuan untuk pemeliharan kesehatan, pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan,
pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan. Dalam kaitan ini baik rumah sakit
maupun dokter dan perawat yang berpraktik di rumah sakit dapat menjadi health
provider, sedangkan pemahaman terhadap health receiver secara umum adalah pasien.
C. Dasar Hukum Sengketa Medic

Sengketa medik tidak dimuat secara eksplisit dalam Undang-undang No. 36 tahun
2009 Tentang Kesehatan, tetapi UU tersebut mengatur mengenai ganti rugi akibat
kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan. Pasal 58 Undang-undang No.
36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, menyatakan:
(1) Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang, tenaga kesehatan,
dan/atau penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau
kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang diterimanya.
(2) Tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi tenaga
kesehatan yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau pencegahan kecacatan
seseorang dalam keadaan darurat.
(3) Ketentuan mengenai tata cara pengajuan tuntutan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam Pasal 29
Undang-undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan mengamanatkan
penyelesaian sengketa dilakukan terlebih dahulu dengan mediasi.

D. Konsep Penyelesaian Sengketa Medis


bentuk-bentuk penyelesaian sengketa pada umumnya adalah:
1. Berupa proses peradilan atau penghakiman (ajudikasi), yang terdiri dari Litigasi dan
Arbitrase.
2. Berupa proses konsensual atau non-ajudikasi, yaitu Alternatif Penyelesaian Sengketa
(APS) atau yang sering disebut dengan ADR. Selanjutnya bentuk-bentuk ADR
adalah:
1) Negosiasi,
2) Mediasi
3) Konsiliasi,
4) Konsultasi
5) Penilaian atau pendapat ahli,
6) Evaluasi netral dini (early neutral evaluation),
7) Pencarian fakta netral (neutral fact-finding).
a. Peradilan umum (litigasi)
Akan menghasilkan kesepakatan yang bersifat adversarial yang belum tentu
merangkul kepentingan bersama, cenderung menimbulkan masalah baru, lambat dlm
penyelesaiannya, berbiaya mahal, tidak responsif dan menimbulkan permusuhan
diantara para pihak.
Secara teknis fungsi peradilan sebagai memeriksa dan memutus perkara sehingga
dapat mempertajam sengketa karena hakikatnya sengketa tidak pernah terselesaikan
bahkan berpotensi menimbulkan sengketa baru.
Dari seluruh mekanisme yang ada, litigasi dianggap sebagai yang paling tidak
efisien oleh para pelaku dunia ekonomi komersial, berkaitan dengan waktu dan biaya
yang dibutuhkan. Rendahnya kesadaran hukum juga ikut mempengaruhi, di mana
para pihak yang berperkara dipengadilan bukan untuk mencari keadilan melainkan
untuk memenangkan perkara. Beberapa faktor lain yang mengakibatkan pengadilan
bersikap tidak responsif, kurang tanggap dalam merespon tanggapan umum dan
kepentingan rakyat miskin (ordinary citizen). Hal yang paling utama adalah
kemampuan hakim yang sifatnya generalis (hanya menguasai bidang hukum secara
umum tanpa mengetahui secara detil mengenai suatu perkara).
Faktor lain yang mengakibatkan badan pengadilan dianggap tidak kondusif bagi
kepentingan penyelesaian sengketa. Rumitnya proses pemeriksaan perkara di
pengadilan mengakibatkan lambatnya pengambilan keputusan. Maka, dunia
perniagaan modern berpaling pada Alternatif Dispute Resolution (ADR) sebagai
mekanisme alternatif karena keperluan perniagaan modern menghendaki
penyelesaian sengketa yang cepat dan tidak menghambat iklim perniagaan.
Dengan kata lain pengadilan hanya dijadikan pilihan terakhir (last resort) apabila
mekanisme non judikatif (first resort) tidak mampu menyelesaikannya. Pilihan
terhadap lembaga alternatif juga tampaknya didasarkan pada pertimbangan
fleksibilitas, yaitu tidak diharuskannya para pihak untuk mengikuti prosedur yang
baku dalam Alternatif Dispute Resolution (ADR). Pihak ketiga yang dimintakan
bantuannya untuk mnyelesaikan sengketa tidak harus berpedoman pada prosedur
beracara sebagaimana yang terjadi pada badan pengadilan, para pihak bebas
menentukan.
b. Alternative (Non litigasi)

Menurut Pasal 1 angka 10 UU Arbitrase dan APS, Alternatif Penyelesaian


Sengketa adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur
yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara
konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau penilaian ahli.
Arbitrase sendiri adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar
peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis
oleh para pihak yang bersengketa (Pasal 1 angka 1 UU Arbitrase dan APS).
Frans Winarta dalam bukunya (hal. 7-8) menguraikan pengertian masing-
masing lembaga penyelesaian sengketa di atas sebagai berikut:

a. Konsultasi: suatu tindakan yang bersifat personal antara suatu pihak tertentu
(klien) dengan pihak lain yang merupakan pihak konsultan, dimana pihak
konsultan memberikan pendapatnya kepada klien sesuai dengan keperluan dan
kebutuhan kliennya.
b. Negosiasi: suatu upaya penyelesaian sengketa para pihak tanpa melalui proses
pengadilan dengan tujuan mencapai kesepakatan bersama atas dasar kerja sama
yang lebih harmonis dan kreatif.
c. Mediasi: cara penyelesaian sengketa melalui proses perundingan untuk
memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu oleh mediator.
d. Konsiliasi: penengah akan bertindak menjadi konsiliator dengan kesepakatan
para pihak dengan mengusahakan solusi yang dapat diterima.
e. Penilaian Ahli: pendapat para ahli untuk suatu hal yang bersifat teknis dan sesuai
dengan bidang keahliannya

a) Mediasi
Mediasi adalah upaya penyelesaian konflik dengan melibatkan pihak
ketiga yang netral, yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan yang
membantu pihak-pihak yang bersengketa mencapai penyelesaian (solusi) yang
diterima oleh kedua belah pihak.
Mediasi disebut emergent mediation apabila mediatornya merupakan
anggota dari sistem sosial pihak-pihak yang bertikai, memiliki hubungan lama
dengan pihak-pihak yang bertikai, berkepentingan dengan hasil perundingan, atau
ingin memberikan kesan yang baik misalnya sebagai teman yang solider.

Pengertian mediasi menurut Priatna Abdurrasyid yaitu suatu proses damai


dimana para pihak yang bersengketa menyerahkan penyelesaiannya kepada
seorang mediator (seseorang yg mengatur pertemuan antara 2 pihak atau lebih yg
bersengketa) untuk mencapai hasil akhir yang adil, tanpa biaya besar besar tetapi
tetap efektif dan diterima sepenuhnya oleh kedua belah pihak yang bersengketa.
Pihak ketiga (mediator) berperan sebagai pendamping dan penasihat. Sebagai
salah satu mekanisme menyelesaikan sengketa, mediasi digunakan di banyak
masyarakat dan diterapkan kepada berbagai kasus konflik.

b) Dasar Hukum Mediasi

Mediasi sebenarnya terdapat pada banyak peraturan perundang-undangan,


diantaranya:
a. HIR dan Rbg
Mediasi di pengadilan telah lama dipraktekkan sejak lama melalui
lembaga perdamaian (Pasal 130 HIR dan Pasal 154 Rbg). Dimana hakim
wajib terlebih dahulu mendamaikan para pihak yang berperkara sebelum
perkaranya diperiksa.
b. Undang-undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
Mediasi pada Undang-undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
dimuat dalam Pasal 29, yaitu: dalam hal tenaga kesehatan diduga melakukan
kelalaian dalam menjalankan profesinya, kelalaian tersebut harus diselesaikan
terlebih dahulu melalui mediasi.
c. UU kesehatan Pasal 29 yang mengatur bahwa dalam tenaga kesehatan didga
melakukan kelalaian dalam menjalankan profesinya, kelalaian tersebut harus
diselesaikan terlebih dahulu melalui mediasi.
d. peraturan Mahkamah Agung (Perma) No. 1 tahun 2008 tentang mediasi di
pengadilan.
e. Undang-undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen
Mediasi diatur pada Pasal 23 UU ini, yang bunyinya sebagai berikut:
Pelaku usaha yang menolak dan/atau tidak memberi tanggapan
dan/atau tidak memenuhi ganti rugi atas tuntutan konsumen sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), dapat
digugat melalui badan penyelesaian sengketa konsumen atau mengajukan ke
badan peradilan di tempat kedudukan konsumen.

c) Prinsip prinsip dalam bermediasi


Para pihak harus menghindari sikap agresif dan kompetitif (menang- kalah
selama proses mediasi berlangsung)
Peran mediator hanya memfasilitasi
Mediasi dilaksanakan berdasarkan asas keadilan fairness dan
kerahasiaan (confidentiality)
Dalam proses mediasi dimungkinkan sesi private caucusing (individual
session)
Proses mediasi dilaksanakan setelah para pihak menyetujui perjanjian
mediasi dimana hak dan kewajiban para pihak dan mediator diatur secara
jelas, termasuk mengenai agenda mediasi, kerahasiaan, biaya mediasi (jasa
mediator), dsb

d) Perilaku mediator

Perilaku yang harus dilakukan oleh mediator :

Problem solving atau integrasi, yaitu usaha menemukan jalan keluar win-
win solution. Salah satu perkiraan mengatakan bahwa mediator akan
menerapkan pendekatan ini bila mereka memiliki perhatian yang besar
terhadap aspirasi pihak-pihak yang bertikai dan menganggap bahwa jalan
keluar menang-menang sangat mungkin dicapai.
Kompensasi atau usaha mengajak pihak-pihak yang bertikai supaya
membuat konsesi atau mencapai kesepakatan dengan menjanjikan mereka
imbalan atau keuntungan. Salah satu perkiraan mengatakan bahwa
mediator akan menggunakan strategi ini bila mereka memiliki perhatian
yang besar terhadap aspirasi pihak-pihak yang bertikai dan menganggap
bahwa jalan keluar menang-menang sulit dicapai.
Tekanan, yaitu tindakan memaksa pihak-pihak yang bertikai supaya
membuat konsesi atau sepakat dengan memberikan hukuman atau
ancaman hukuman. Salah satu perkiraan mengatakan bahwa mediator
akan menggunakan strategi ini bila mereka memiliki perhatian yang
sedikit terhadap aspirasi pihak-pihak yang bertikai dan menganggap
bahwa kesepakatan yang menang-menang sulit dicapai.
Diam atau inaction, yaitu ketika mediator secara sengaja membiarkan
pihak-pihak yang bertikai menangani konflik mereka sendiri. Mediator
diduga akan menggunakan strategi ini bila mereka memiliki perhatian
yang sedikit terhadap aspirasi pihak-pihak yang bertikai dan menganggap
bahwa kemungkinan mencapai kesepakatan win-win solution.

e) Hal-hal yang harus dihindari dalam mediasi :

Ketidaksiapan mediator
Kehilangan kendali oleh mediator
Kehilangan netralitas
Mengabaikan emosi

f) Tahapan mediasi

Tahapan-tahapan dalam mediasi :

- Mendefinisikan permasalahan:

Memulai proses mediasi


Mengungkap kepentingan tersembunyi
Merumuskan masalah dan menyusun agenda

- Memecahkan permasalahan:

Mengembangkan pilihan-pilihan (options)


Menganalisis pilihan-pilihan
Proses tawar menawar akhir
Mencapai kesepakatan

g) Teknik Mediasi

1. Mengelola Percakapan

Percakapan merupakan inti komunikasi dimana percakapan dibangun


dalam bingkai komunikasi efektif sehingga pemikiran, ide dan gagasan dari
tiap pihak bisa tersampaikan. Dari percakapan efektif diharapkan kemarahan
dan emosi para pihak bisa dikendalikan dengan baik. Proses identifikasi
masalah antara kedua belah pihak bisa dengan mudah difasilitasi oleh mediator.
Agar percakapan berjalan maksimal diperlukan konsep manajemen
percakapan. Dari manajemen percakapan diharapkan adanya pengendalian diri
terutama yg menyangkut respons terhdp pandangan pihak lain.

Teknis manajemen percakapan adalah :

1. Penentuan strategi percakapan

2. Menentukan konsep hubungan yang baik

3. Komitmen utk mengusung prinsip perdamaian

4. Mengendalikan proses dialog

5. Mengatur suasana percakapan

6. Membangun hubungan yang positif

7. Pemilihan bahasa yangg baik


8. Menjaga muatan pembicaraan

9. Penjaga proses dialog agar berjalan baik

2. Mendengarkan secara reflektif.

Mendengarkan dengan sebaik-baiknya setiap pernyataan yangg muncul


dari kedua belah pihak yangg berkonflik untuk kemudian disikapi sebijak
mungkin, baik melalui feedback, saran, masukan maupun refleksi terhadap
esensi yangg terkandung dalam suatu pernyataan yang keluar dari kedua pihak
yang berkonfilk.

Kemampuan mendengar tidak tercipta begitu saja tapi membutuhkan


banyak pengalaman dan latihan terus menerus.

3. Berkomunikasi secara efektik

Komunikasui efektif akan berlangsung apabila faktor2 pendukungnya


dapat dioptimalkan. Faktor2 pendukung tsb diantaranya :

a. Cara berbicara dan beraspirasi kepada pihak lawan

b. Muatan topik yg dikomunikasikan

Mediasi sebagai salah satu bentuk dari ADR memiliki dasar hukum berupa:

a. dasar filosofi Pancasila yaitu asas penyelesaian sengketa melalui


musyawarah untuk mencapai mufakat,

b. Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif


Penyelesaian Sengketa yang mulai berlaku tanggal 12 Agustus 1999,

c. Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2002 tentang


Pemberdayaan Pengadilan Tingkat Pertama Menerapkan Lembaga
Damai (Eks Pasal 130 HIR dan 154 RBg),

d. Peraturan Mahkamah Agung (PerMA) Nomor 2 Tahun 2003 tentang


Prosedur Mediasi di Pengadilan.
Kalau mediasi berhasil, selain prosesnya lebih cepat, murah, serta dapat
memberikan akses kepada para pihak yang bersengketa untuk memperoleh
keadilan atau penyelesaian yang memuaskan, perkara yang masuk ke
pengadilan jumlahnya juga akan berkurang.
Menurut Pasal 1 angka 6 PerMA Nomor 2 Tahun 2003, mediasi adalah
penyelesaian sengketa melalui proses perundingan para pihak dengan dibantu
oleh mediator. Karakteristik dari mediasi adalah (Rapat Kerja ABH, 2008):

a. perpanjangan atau pengembangan proses negosiasi,

b. intervensi dari pihak ketiga (mediator) yang netral dan dapat diterima
oleh kedua belah pihak,

c. mediator tidak berwenang untuk membuat keputusan,

d. mediator membantu para pihak untuk mencapai atau menghasilkan


kesepakatan yang dapat diterima para pihak.

h) Prosedur mediasi di pengadilan


Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2003 tentang Prosedur
Mediasi di Pengadilan terdiri dari enam bab dan delapan belas Pasal. Bab I
berisikan tentang ketentuan umum, Bab II tentang tahap pra mediasi, Bab III
tentang tahap mediasi, Bab IV tentang tempat dan biaya, Bab V tentang lain-lain
dan Bab VI tentang Penutup (Puslitbang Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung
RI, 2003).
a. Pra Mediasi
Sesuai dengan Pasal 130 HIR atau 154 Rbg bahwa sebelum perkara
diperiksa oleh majelis hakim, maka terlebih dahulu diupayakan perdamaian
diantara para pihak oleh majelis hakim tersebut. Dalam Pasal 2 ayat 1 disebutkan
bahwa semua perkara perdata yang diajukan ke pengadilan tingkat pertama wajib
untuk terlebih dahulu diselesaikan melalui perdamaian dengan bantuan mediator.
Pada sidang pertama yang dihadiri kedua belah pihak, hakim yang
mengadili perkara tersebut mewajibkan para pihak yang berperkara agar lebih
dahulu menempuh mediasi (Pasal 3 ayat 1). Selanjutnya, hakim tersebut wajib
menunda proses persidangan perkara itu untuk memberi kesempatan kepada para
pihak menempuh proses mediasi (Pasal 3 ayat 2). Dengan adanya PerMA yang
menentukan bahwa lamanya proses mediasi 30 hari (Pasal 5 ayat 1 dan 2) atau 22
hari sejak pemilihan atau penetapan penunjukan mediator (Pasal 9 ayat 5), maka
hakim sebaiknya melakukan penundaan sidang selama 32 hari, dengan ketentuan
dapat dipercepat apabila tercapai kesepakatan secara dini atas laporan dari
mediator ke hakim tersebut. Pada sidang pertama, hakim juga diwajibkan untuk
memberikan penjelasan kepada para pihak tentang prosedur dan biaya mediasi
(Pasal 3 ayat 3). Kemudian dalam waktu paling lama satu hari kerja setelah sidang
pertama, para pihak dan atau kuasa hukum mereka wajib berunding guna memilih
mediator dari daftar mediator yang dimiliki oleh pengadilan atau mediator di luar
daftar pengadilan (Pasal 4 ayat 1). Jika dalam waktu satu hari kerja para pihak
atau kuasa hukum mereka tidak dapat bersepakat tentang penggunaan mediator di
dalam atau di luar daftar pengadilan, para pihak wajib memilih mediator dari
daftar mediator yang disediakan oleh pengadilan tingkat pertama (Pasal 4 ayat 2).
Apabila para pihak tetap juga tidak dapat bersepakat dalam menentukan
seorang mediator dari daftar yang telah disediakan, maka ketua majelis
berwenang untuk menunjuk seorang mediator dari daftar mediator dengan
penetapan (Pasal 4 ayat 3). PerMA ini juga menegaskan bahwa para pihak wajib
mengikuti prosedur penyelesaian sengketa melalui mediasi yang telah diatur
didalam PerMA ini (Pasal 7).
b. Mediasi
Dalam tahap mediasi ini, dinyatakan bahwa dalam waktu paling lama
tujuh hari kerja setelah pemilihan atau penunjukan mediator, para pihak wajib
menyerahkan fotocopy dokumen yang memuat duduk perkara, fotocopy surat-
surat yang diperlukan dan hal-hal yang terkait dengan sengketa kepada mediator
dan para pihak (Pasal 8). Mediator wajib menentukan jadwal pertemuan untuk
penyelesaian proses mediasi (Pasal 9 ayat 1). Apabila dianggap perlu, mediator
dapat melakukan kaukus (pertemuan antara mediator dengan salah satu pihak
tanpa dihadiri oleh pihak lainnya) (Pasal 9 ayat 3). Atas persetujuan para pihak
atau kuasa hukum, mediator dapat mengundang seorang atau lebih ahli dalam
bidang tertentu untuk memberikan penjelasan atau pertimbangan yang dapat
membantu para pihak dalam penyelesaian perbedaan (Pasal 10 ayat 1). Jika
mediasi menghasilkan kesepakatan, para pihak dengan bantuan mediator wajib
merumuskan secara tertulis kesepakatan yang dicapai dan ditandatangani oleh
para pihak (Pasal 11 ayat 1). Proses mediasi pada asasnya tidak bersifat terbuka
untuk umum, kecuali para pihak menghendaki lain. Proses mediasi untuk
sengketa publik terbuka untuk umum (Pasal 14 ayat 1 dan 2).
c. Pasca (Post) Mediasi
Untuk mediasi yang menggunakan mediator diluar daftar mediator yang
dimiliki pengadilan, dinyatakan bahwa setelah waktu 30 (tiga puluh) hari kerja
terpenuhi, para pihak wajib menghadap kembali pada hakim pada sidang yang
ditentukan (Pasal 5 ayat 2). Pada persidangan tersebut jika para pihak mencapai
kesepakatan, mereka dapat meminta penetapan dengan suatu akta perdamaian
(Pasal 5 ayat 3). Jika para pihak berhasil mencapai kesepakatan namun tidak
dimintakan penetapannya sebagai suatu akta perdamaian, pihak penggugat wajib
menyatakan pencabutan gugatannya (Pasal 5 ayat 4). Dalam hal mediasi dengan
mempergunakan mediator yang terdaftar di pengadilan, maka jika gagal mencapai
sepakat, para pihak wajib menghadap kembali pada hakim pada hari sidang yang
telah ditentukan untuk memberitahukan kegagalan tersebut kepada hakim (Pasal
11 ayat 4). Jika dalam waktu seperti yang ditetapkan dalam Pasal 9 ayat 5 mediasi
tidak menghasilkan kesepakatan, mediator wajib menyatakan secara tertulis
bahwa proses mediasi telah gagal dan memberitahukan kegagalan kepada hakim
(Pasal 12 ayat 1). Pasal 12 ayat 1 ini hanya menjelaskan jika gagal mencapai
sepakat saja, sedangkan jika tercapai kesepakatan tidak disebut. Lepas dari itu,
baik tercapai maupun tidak kesepakatan, para pihak tetap harus hadir pada
persidangan yang telah ditetapkan hakim, dan menyampaikan segala sesuatunya
tentang mediasi kepada hakim tersebut.
Seterusnya hakim dapat mengukuhkan kesepakatan sebagai suatu akta
perdamaian (Pasal 11 ayat 5). Apabila setelah diterima pemberitahuan kegagalan
mencapai kesepakatan dari mediator itu, hakim melanjutkan pemeriksaan perkara
sesuai ketentuan Hukum Acara yang berlaku (Pasal 12 ayat 2).
d. WaktuProses
mediasi yang menggunakan mediator di luar daftar mediator yang
dimilki oleh pengadilan berlangsung paling lama 30 hari kerja (Pasal 5 ayat 1).
Dalam hal menggunakan mediator yang terdaftar di pengadilan, dinyatakan
bahwa dengan hasil akhir tercapainya kesepakatan atau tidak kesepakatan, proses
mediasi berlangsung paling lama 20 hari kerja sejak pemilihan atau penetapan
penunjukan mediator (Pasal 9 ayat 5).
e. Mediator
Dalam melaksanakan fungsinya, mediator wajib menaati kode etika
mediator (Pasal 2 ayat 2). Seorang mediator juga tidak diperbolehkan merangkap
sebagai hakim yang memeriksa dan mengadili perkara tersebut (Pasal 4 ayat 4).
Mediator pada setiap pengadilan dapat berasal dari kalangan hakim dan bukan
hakim yang memiliki sertifikat sebagai mediator (Pasal 6 ayat 1). Setiap
pengadilan memilki sekurang-kurangnya dua orang mediator (Pasal 6 ayat 2) dan
setiap pengadilan wajib memiliki daftar mediator beserta riwayat hidup dan
pengalaman kerja mediator dan mengevaluasi daftar tersebut setiap tahun (Pasal 6
ayat 3).
Mediator wajib mendorong para pihak untuk menelusuri dan menggali
kepentingan mereka dan mencari berbagai pilihan penyelesaian yang terbaik bagi
para pihak agar tecapai kesepakatan yang bersifat win-win solution (Pasal 9 ayat
4). Proses mediasi pada asasnya bersifat rahasia dan juga terpisah dari litigasi,
maka setiap mediator tidak dapat diminta menjadi saksi dalam proses persidangan
perkara yang bersangkutan (Pasal 13 ayat 3).
f. Kuasa Hukum
PerMA ini hanya mengatur dua ketentuan tentang kuasa hukum yaitu:
1) dalam hal para pihak memberikan kuasa kepada kuasa hukum, setiap keputusan
yang diambil kuasa hukum wajib memperoleh persetujuan tertulis dari para pihak
(Pasal 3 ayat 4), 2) dalam proses mediasi para pihak dapat didampingi oleh kuasa
hukumnya dalam arti bahwa kuasa hukumnya haruslah bertindak pasif saja (Pasal
9 ayat 2).
g. Isi Kesepakatan
Kesepakatan dibuat secara tertulis (Pasal 11 ayat 1) dan wajib memuat
klausula pencabutan perkara atau pernyataan perkara telah selesai (Pasal 11 ayat
2). Sebelum para pihak menandatangani kesepakatan, mediator wajib memeriksa
materi kesepakatan untuk menghindari adanya kesepakatan yang bertentangan
dengan hukum (Pasal 11 ayat 3). Dari ketentuan ini dapat disimpulkan bahwa
mesti ada kesepakatan dari para pihak terlebih dahulu, yang dibuktikan dengan
tanda tangan, dan kesepakatan ini haruslah tidak bertentangan dengan hukum dan
ketertiban umum.
h. Tempat dan Biaya
Mediasi dapat diselenggarakan di salah satu ruang pengadilan tingkat
pertama atau tempat lain yang disepakati oleh para pihak (Pasal 15 ayat 1). Semua
biaya jasa seorang ahli atau lebih ditanggung para pihak berdasarkan kesepakatan
(Pasal 10 ayat 2). Penyelenggaraan mediasi disalah satu ruang pengadilan tingkat
pertama tidak dikenakan biaya (Pasal 15 ayat 2). Jika para pihak memilih
penyelenggaraan mediasi di tempat lain, pembiayaan dibebankan kepada para
pihak berdasarkan kesepakatan (Pasal 15 ayat 3). Penggunaan mediator hakim
tidak dipungut biaya (Pasal 15 ayat 4). Biaya mediator bukan hakim ditanggung
oleh para pihak berdasarkan kesepakatan kecuali terhadap pihak yang tidak
mampu (Pasal 15 ayat 4).
i. HalHal Lain
Jika para pihak gagal dalam mencapai kesepakatan, pernyataan dan
pengakuan para pihak dalam proses mediasi tidak dapat digunakan sebagai alat
bukti dalam proses persidangan perkara yang bersangkutan atau perkara lainnya
(Pasal 13 ayat 1). Fotocopy dokumen dan notulen atau catatan mediator wajib
dimusnahkan untuk menjaga kerahasiaan proses mediasi (Pasal 13 ayat 2).

Jika dibandingkan dengan proses litigasi (pengadilan), mediasi memiliki


keuntungan:

a. Bersifat luwes, sukarela, cepat, murah, sesuai, kebutuhan, netral, rahasia,


didasari hubungan baik (http://hukbis.files.wordpress.com / 2008 / 05 /
mediasi.ppt.).
b. Memperbaiki komunikasi antara para pihak yang bersengketa
c. Membantu melepaskan kemarahan terhadap pihak lawan.
d. Meningkatkan kesadaran akan kekuatan dan kelemahan posisi masing-
masing pihak.
e. Mengetahui hal-hal atau isu-isu yang tersembunyi yang terkait dengan
sengketa yang sebelumnya tidak disadari.
f. Mendapatkan ide yang kreatif untuk menyelesaikan sengketa (Rapat Kerja
ABH, 2008).

Sedangkan kekurangan litigasi jika dibandingkan dengan mediasi adalah (Rapat


Kerja ABH, 2008):

a. Proses yang berlarut-larut atau lama untuk mendapatkan suatu putusan yang
final dan mengikat.
b. Menimbulkan ketegangan atau rasa permusuhan di antara para pihak.
c. Kemampuan dan pengetahuan hakim yang terbatas dan bersifat umum.
d. Tidak dapat dirahasiakan.
e. Kurang mampu mengakomodasikan kepentingan pihak asing.
f. Sistem administrasi dan birokrasi peradilan yang lemah.
g. Putusan hakim mungkin tidak dapat diterima oleh salah satu pihak karena
memihak salah satu pihak atau dirasa tidak adil.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Sengketa dalam pengertiannya yang luas (termasuk perbedaan pendapat,


perselisihan, ataupun konflik) adalah hal yang lumrah dalam kehidupan
bermasyarakat, yang dapat terjadi saat dua orang atau lebih berinteraksi pada suatu
peristiwa atau situasi dan mereka memiliki persepsi, kepentingan, dan keinginan yang
berbeda terhadap peristiwa atau situasi tersebut (Rapat Kerja ABH, 2008).

Bentuk-bentuk penyelesaian sengketa pada umumnya adalah berupa proses


peradilan atau penghakiman (ajudikasi), yang terdiri dari Litigasi dan Arbitrase. Dan
berupa proses konsensual atau non-ajudikasi, yaitu Alternatif Penyelesaian Sengketa
(APS) atau yang sering disebut dengan ADR.

Mediasi adalah upaya penyelesaian konflik dengan melibatkan pihak ketiga yang
netral, yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan yang membantu pihak-
pihak yang bersengketa mencapai penyelesaian (solusi) yang diterima oleh kedua
belah pihak.

B. Saran

Mediasi merupakan upaya utama dalam penyelesaian kasus sengketa medis dengan
proses mediasi diharapkan pihak yang bersengketa mencapai kesepakatan perdamaian.