Anda di halaman 1dari 23

ISOLASI MINYAK ATSIRI BUNGA CENGKEH

MENGGUNAKAN METODE DESTILASI UAP AIR

Oleh:
NI KADEK SARIATI NIM. 1413031002
NI LUH YUNI ARI PRATIWI NIM. 1413031012
KADEK DELITA LIANI NIM. 1413031021

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2017
ISOLASI MINYAK ATSIRI BUNGA CENGKEH MENGGUNAKAN
METODE DESTILASI UAP AIR

Oleh:
Ni Kadek Sariati, Ni Luh Ari Yuni Pratiwi, Kadek Delita Liani

Jurusan Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,


Universitas Pendidikan Ganesha

ABSTRAK

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui jumlah rendemen minyak
atsiri bunga cengkeh yang diperoleh dengan metode destilasi uap. Percobaan ini
merupakan percobaan kuantitatif dengan subjek bunga cengkeh dan jumlah
minyak bunga cengkeh yang diperoleh. Teknik pengumpulan data menggunakan
teknik pengamatan dan pengukuran terhadap jumlah minyak atsiri yang dihasilkan
destilasi uap bunga cengkeh kering dan halus sebanyak 250 gram. Hasil
percobaan menyatakan jumlah minyak atsiri yang diperoleh dari 250 gram bunga
cengkeh kering dan halus adalah sebesar 6,57 gram dengan rendemen sebesar
2,628 %. Hasil percobaan menunjukkan bahwa rendemen yang diperoleh berbeda
dengan peneliti lain yang menggunakan bunga cengkeh dari daerah berbeda dan
lama waktu yang digunakan dalam proses destilasi. Percobaan selanjutnya perlu
dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi isolasi ekstrak
bunga cengkeh.
Kata kunci : bunga cengkeh, minyak atsiri, dan metode destilasi uap

ABSTRACT

The aimed of this experiment is to know the number of clove oil obtained from
clove flower by using steam distillation method. This experiment was quantitative
experiment with clove flower and number of clove oil obtained as subjects of
experiment. Techniques for collecting data used observation technique and
measurement toward the number of clove oil obtained from 250 grams.
Experiment result revealed the number of clove oil obtained from experiment used
250 grams dried clove flower is 6,57 grams with percentage 2, 628%. The result
indicated that there was a difference percentage of clove oil obtained between the
clove oil from the experiment and the other experiment that used sample from
different are and different time used for steam distillation. The next experiment
was necessary carried out to know the factors affecting the isolation of clove oil
from clove flower.
Key words: clove flower, clove oil, and steam distillation method.
PENDAHULUAN
Morfologi Cengkeh
Pohon cengkeh merupakan tanaman tahunan yang mempunyai daun
berbentuk lonjong yang berbunga pada pucuk-pucuknya. Tangkai buah pada
awalnya berwarna hijau, dan berwarna merah jika bunga sudah mekar. Cengkeh
(Syzygium aromaticum) termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki
batang pohon besar dan berkayu keras. Cengkeh mampu bertahan hidup puluhan
bahkan sampai ratusan tahun, tingginya dapat mencapai 20 -30 meter dan cabang-
cabangnya cukup lebat. Daun cengkeh berwarna hijau berbentuk bulat telur
memanjang dengan bagian ujung dan panggkalnya menyudut. Bunga cengkeh
akan muncul pada ujung ranting daun dengan tangkai pendek. Pada saat masih
muda bunga cengkeh berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kuning kehijau-
hijauan dan berubah lagi menjadi merah muda-merah apabila sudah tua.
Sedangkan bunga cengkeh kering akan berwarna coklat kehitaman dan berasa
pedas (Anonim, 2013).
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Genus : Syzygium
Species : Syzygium aromaticum
Gambar 1. Bunga Cengkeh
Kandungan Bunga Cengkeh
Bunga cengkeh kering mengandung fixed oil (lemak), resin, tannin,
protein, cellulose, pentosan, dan mineral. Karbohidrat terdapat dalam jumlah dua
per tiga dari berat bunga. Komponen lain yang paling banyak adalah minyak atsiri
yang jumlahnya tergantung dari banyak faktor seperti: jenis tanaman, tempat
tumbuh, dan cara pengolahan (Purseglove, 1981). Komposisi kimia bunga
cengkeh dapat dilihat dari Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi Kimia Bunga Cengkeh
Bunga cengkeh basah Bunga cengkeh kering
Komposisi
Eks. Indonesia % Eks. Zansibar %
Kadar air 75.1 5.0 - 8.3
Kadar abu 1.6 5.3 - 7.6
Kadar minyak atsiri 5.2 14.0 - 21.0
Kadar fixed oil &
0.8 5.0 10.0
resin
Kadar protein 0.2 5.0 7.0
Kadar serat kasar 7.6 6.0 9.0
Kadar tannin - 10.0 18.0
(Sumber : Salim dalam Nurdjanah, 2004)
Minyak atsiri bunga cengkeh dapat diperoleh salah satunya dengan
menggunakan metode destilasi uap. Besar minyak atsiri yang diperoleh melalui
destilasi uap dipengaruhi oleh usia bunga cengkeh yang digunakan. Adapun
perbedaan jumlah kandungan minyak atsiri pada umur bunga cengkeh yang
berbeda adalah sebagai berikut.
Tabel 2. Karakteristik Bunga Cengkeh Dari Varietas Zanzibar
Usia Bunga Cengkeh
Bunga
Karakteristik Bunga Bunga Bunga
Terlalu
Jatuh Muda Dewasa
Masak
Kandungan air (%) 12,3 5,0 12,8 6,5
Kandungan minyak (%) 13,9 14,9 16,4 16,1
Kandungan yang masih 4,7 3,8 4,7 6,11
dipertanyakan (%)
Kandungan serat (%) 11,8 10,8 8,5 13,3
Kandungan Si (%) 0,15 0,11 0,11 0,10
(Sumber: Barittro dalam Nurdjannah, 1977)
Destilasi bunga cengkeh dapat dilakukan selama 8 sampai 24 jam untuk
menghasilkan minyak cengkeh yang memenuhi persyaratan mutu SNI (Guenther,
2011). Waktu yang digunakan dalam proses destilasi uap dapat memengaruhi
jumlah rendemen minyak atsiri bunga cengkeh yang diperoleh. Penelitian yang
dilakukan oleh Henny Prianto (2013), yaitu isolasi minyak atsiri bunga cengkeh
menggunakan metode destilasi uap dengan penggunan sampel sebanyak 200 gram
yang berupa bunga cengkeh kering dan utuh (tidak dihaluskan) selama 8 jam
mendapatkan minyak cengkeh sebanyak 17,27 gram dengan rendemen 8,6%.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Wenqiang (2007) menunjukkan bahwa
diperoleh rendemen minyak atsiri bunga cengkeh sebesar 10,1%. Adapun pada
penelitian tersebut, digunakan sampel bunga cengkeh kering sebanyak 100 gram
dengan metode destilasi uap selama 8-10 jam.
Rendemen minyak atsiri bunga cengkeh yang didapatkan melalui destilasi
uap juga sangat dipengaruhi oleh preparasi awal bunga cengkeh dan asal bunga
cengkeh. Penelitian yang dilakukan oleh Faiza Memmou dan Radia Mahboub
(2012) menunjukkan hasil rendemen minyak atsiri bunga cengkeh segar/mentah
yang didapatkan dari tanaman cengkeh yang ditanam di Tlemcen University
adalah sebesar 4,59 %. Adapun jumlah sampel bunga cengkeh segar/mentah yang
digunakan adalah 100 gram dengan isolasi menggunakan metode destilasi uap.
Penelitian yang dilakukan oleh Rizky Farah Megawati, dkk (2010)
menunjukkan bahwa isolasi minyak atsiri bunga cengkeh dari bunga cengkeh
yang berasal dari daerah berbeda dengan menggunakan metode destilasi uap
menghasilkan rendemen minyak atsiri bunga cengkeh yang berbeda-beda. Sampel
bunga cengkeh yang digunakan berasal dari Maluku, Sulawesi, Sumatera, dan
Jawa. Sebelum di destilasi bunga cengkeh dikeringkan terlebih dahulu. Bunga
cengkeh yang telah kering kemudian ditimbang sebanyak 70 gram lalu di
destilasi. Destilasi dilakukan hingga tidak terdapat destilat yang menetes lagi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen yang diperoleh pada penyulingan
minyak bunga cengkeh dari Maluku sebanyak 15,21 0,40, rendemen minyak
bunga cengkeh dari Sumatera sebanyak 15,05 0,40, rendemen minyak bunga
cengkeh dari Sulawesi sebanyak 14,14 0,00 dan rendemen minyak bunga
cengkeh dari Jawa sebanyak 14,09 0,00. Perbedaan rendemen tersebut dapat
dipengaruhi oleh perbedaan daerah dan penanganan bahan. Karakteristik minyak
atsiri kuncup bunga cengkeh yang diperoleh dari keempat daerah adalah kuning
mudajernih, bau khas aromatik, rasa pedas, agak pahit (Rizky Farah Megawati
dkk, 2010).
Penelitian yang dilakukan oleh Liliek Nurhidayati dan Sulistiowati (2013)
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan jumlah minyak atsiri bunga cengkeh dari
varietas bunga cengkeh yang berbeda. Pada penelitian tersebut, diperoleh minyak
bunga cengkeh dari varietas Zanzibar, Sikotok, dan Siputih berturut-turut 75 mL,
71,2 mL, 68 mL. Dengan penggunaan sampel bunga cengkeh segar sebanyak
3000 gram menggunakan metode destilasi uap.
Pada SNI 06-4267-1996 standar mutu minyak atsiri bunga cengkeh yang
diperoleh melalui destilasi uap adalah sebagai berikut sebagai berikut.
Tabel 3. Syarat Mutu Minyak Atsiri Bunga Cengkeh
No Jenis Uji Satuan Persyaratan
1 Berat jenis (BJ) 15o/15 - 1.04 - 1.07
2 Putaran indek () - Sampai -1o35
3 Indeks bias (nD) 20o - 1,529 1,537
4 Eugenol % 80 95
5 Minyak pelikan - Negative
6 Minyak lemak - Negative
7 Kelarutan dalam etanol 70% - 1:2 jernih, seterusnya jernih
8 Warna Tak berwarna-kuning muda
(Sumber: SNI 06-4267-1996)
Minyak atsiri bunga cengkeh yang diisolasi menggunakan metode destilasi uap
selama 8 jam dengan sampel bunga cengkeh kering dan utuh sebanyak 200 gram
mempunyai karakteristik fisik dan kandungan sebagai berikut (Henny Prianto,
2013).
Tabel 4. Karakteristik Minyak Cengkeh Hasil Destilasi Uap
Jenis Uji Hasil Riset
Warna Kuning muda
Bau Khas minyak cengkeh
Indeks Bias (20C) 1,5356
Bobot jenis (15C) 1,0663
(Sumber: Henny Prianto, 2013)

Tabel 5. Komponen Minyak Bunga Cengkeh Hasil Destilasi Uap


No Nama Senyawa Waktu retensi Area (%)
(menit)
1 Eugenol 16,791 81,2
2 trans(beta)-Karyofilen 17,797 3,92
3 Alfa-Humulene 18,255 0,45
4 Eugenil asetat 19,051 12,43
5 Karyofilen oksida 20,039 0,25
6 Trimetoksiasetofenon 21,254 0,53
(Sumber: Henny Prianto, 2013)
Berdasarkan Tabel 4, minyak cengkeh hasil distilasi uap mengandung 6
komponen teridentifikasi yang mewakili 98,78% dari minyak bunga cengkeh.
Dari 6 komponen tersebut, 3 diantaranya memiliki cincin aromatis dengan
persentase area yang besar yaitu eugenol, eugenil asetat, trimetoksiasetofenon,
dan 3 lainnya merupakan senyawa golongan sesquiterpen yaitu trans-karyofilen,
alfa-humulen, dan karyofilen oksida.
Perbedaan asal bunga cengkeh memengaruhi kandungan minyak atsiri
yang diperoleh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rizky Farah
Megawati, dkk (2010) menunjukkan bahwa isolasi minyak atsiri bunga cengkeh
dari bunga cengkeh yang berasal dari daerah berbeda (Maluku, Sulawesi,
Sumatera, dan Jawa) dengan menggunakan metode destilasi uap menghasilkan
kandungan minyak atsiri sebagai berikut.
1) Minyak atsiri bunga cengkeh Maluku mengandung metabolit p-eugenol; 3-
allilguaiakol; trans(beta)-kariofilen; 3,4-dimetilbisiklo[4.3.0]nona-3,8-
dien-7-on; alfa-humulen; eugenol asetat; asam propanedioat,dibromo-
bis(trimetilsilil)ester; 2,3,4-trimetoksiasetofenon dan satu senyawa yang
belum dapat diidentifikasi.
2) Minyak atsiri bunga cengkeh Sumatera mengandung metabolit 3-
allilguaiakol; trans(beta)-kariofilen; 3,4-dimetilbisiklo[4.3.0]nona-3,8-
dien-7-on; alfa-humulen; eugenol asetat; asam propanedioat,dibromo-
bis(trimetilsilil)ester dan etanone, 1-(3,4,5-trimetoksifenil).
3) Minyak atsiri bunga cengkeh Sulawesi mengandung metabolit 3-
allilguaiakol; trans(beta)-kariofilen; 3,4-dimetilbisiklo[4.3.0]nona-3,8-
dien-7-on; alfa-humulen; eugenol asetat dan (-)-a-kopaen.
4) Minyak atsiri bunga cengkeh Jawa mengandung metabolite p-eugenol; 3-
allilguaiakol; trans(beta)-kariofilen; 3,4-dimetilbisiklo[4.3.0]nona-3,8-
dien-7-on; alfa-humulen; eugenol asetat; asam propanedioat,dibromo-
bis(trimetilsilil)ester; etanone,1-(2,4,6-trimetoksifenil) dan 3-
trideuterometoksi-4-asetil-2(5H)-furanon.
Kandungan minyak atsiri bunga cengkeh dari bunga cengkeh yang berasal dari
daerah berbeda secara lengkap dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 6. Profil Kimia dan %Area Komponen Minyak Atsiri Bunga Cengkeh
No Nama Rumus Berat Titik Rt % Area Rata-Rata
Komponen Molekul Molek Didih (menit)
ul (0c) Malu Suma Sulaw J
ku tera esi a
w
a
1. Para- C10H12O2 164 252,00- 11,222 44,53 0 0 62,27
eugenol 253,00
2. 3- C10H12O2 164 252,00- 11,338 16,85 75,21 68,52 11,13
alillguaiakol 253,00
3. Trans-beta- C15H24 204 256,00- 12,202 6,98 4,36 3,86 6,26
kariofilen 259,00
4. 3,4- C11H14O 162 260,00- 12,495 0,06 0,11 0,09 0,15
dimetilbisikl 264,00
o[4.3.0]non
a-3,8-dien-
7-on
5. Alfa- C15H24 204 166,00- 12,604 0,90 0,45 0,43 0,77
humulen 168,00
6. Eugenol C12H1403 206 281,00- 13,268 30,54 19,63 27,01 16,90
asetat 251,00
7. 3- C7H5D3O4 159 73,00- 13,455 0 0 0 0,11
trideuterom 77,00
etoksi-4-
asetil-
2(5H)-
furanon
8. (-)-a-kopaen C16H26 218 246,00- 13,495 0 0 0,13 0
251,00
9. Asam C9H18Br2O 404 91,00- 13,517 0,06 0,08 0 0,15
propanedioa 4Si2 93,00
t
10. Not - - - 13, 794 0,05 0 0 0
identified
11. 2,3,4- C11H14O4 210 295,00- 15,119 0,04 0 0 0
trimetoksias 297,00
etofenon
12. Etanone, 1- C11H14O4 210 320,00- 15,544 0 0,18 0 0
(3,4,5- 322,00
trimetoksife
nil)
13. Etanone, 1- C11H14O4 210 326,00- 15,639 0 0 0 2,20
(2,4,6- 328,00
trimetoksife
nil)
(Sumber: Rizky Farah Megawati dkk, 2010)
Kandungan senyawa kimia yang dominan terdapat pada minyak atsiri
bunga cengkeh adalah eugenol. Eugenol (C10H12O2) merupakan turunan guaiakol
yang mendapat tambahan rantai alil, dikenal dengan nama IUPAC 2-metoksi-4-(2-
propenil) fenol. Eugenol dapat dikelompokkan dalam keluarga alilbenzena dari
senyawa-senyawa fenol. Warnanya bening hingga kuning pucat, kental seperti
minyak. Sumber alaminya dari minyak cengkeh. Terdapat pula pada pala, kulit
manis, dan salam. Eugenol sedikit larut dalam air namun mudah larut pada pelarut
organik. Aromanya menyegarkan dan pedas seperti bunga cengkeh kering,
sehingga sering menjadi komponen untuk menyegarkan mulut. Eugenol memiliki
titik didih 256oC, titik leleh -9oC, densitas 1,06 g/cm3 (Wikipedia, 2016). Berikut
struktur kimia eugenol:
H3CO CH3

HO

Gambar 2. Struktur Kimia Eugenol


Senyawa Turunan Eugenol
Eugenol dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk mensintesis senyawa-
senyawa yang lebih bermanfaat. Hasil dari modifikasi senyawa eugenol akan
menghasilkan senyawa-senyawa turunan eugenol seperti: metileugenol,
polieugenol, isoeugenol, dan sebagainya.
Metileugenol bermanfaat dalam meningkatkan fertilitas pada serangga
(lalat buah) (Widayat dkk, 2013). Ngadiwiyana (2004) melaporkan bahwa alkilasi
eugenol dilakukan melalui dua tahap yaitu dengan membuat garam eugenolat
melalui reaksi antara eugenol dengan NaOH dan dilanjutkan reaksi garam
eugenolat dengan metil iodida. Metil eugenol yang dihasilkan berupa larutan
berwarna kuning dengan rendemen 53%. Adapun sintesis metileugenol melalui
tahapan reaksi berikut.
- +
OH O Na

OCH 3 OCH 3

+ NaOH + H 2O

H2C H2C
CH CH
CH2 CH2
Eugenol garam Eugenolat

Gambar 3. Pembentukan Garam Eugenolat


H H
H +
C
+
-
-d d
-
Na O C I O H
O
H H3CO H H3CO
OCH3 +
H
C d I
+ + NaI
H H

H2C H2C
H2C CH
CH CH
CH2 CH2
CH2
Metileugenol
garam Eugenolat

Gambar 4. Mekanisme Pembentukan Metileugenol


Senyawa turunan eugenol yang lain adalah polieugenol. Polieugenol dapat
dimanfaatkan sebagai carrier dalam metode pemisahan logam dengan
menggunakan teknik Bulky Liquid Membrane (BLM). Logam-logam yang akan
dipisahkan dengan polieugenol sebagai senyawa pembawa adalah Cr 3+ , Cu2+ , dan
Cd2+ (Nindya, 2005 dalam Widayat dkk, 2013). Sintesis polieugenol telah
dilakukan oleh I Wayan Suirta, dkk (2012) dari eugenol dengan katalis asam
nitrat pekat dan media natrium klorida. Rendemen polieugenol yang diperoleh
dengan media NaCl sebesar 42,97 % dengan bentuk fisik berupa gel berwarna
hitam kemerahan dan titik lebur 114,6 150C. Untuk polieugenol tanpa media
NaCl diperoleh rendemen sebesar 47,77 % dengan bentuk fisik berupa padatan
berwarna merah bata dan titik lebur sebesar 87-89C. Adapun polimerisasi
eugenol melalui tahapan sebagai berikut.

+
CH CH2 H2C CH CH3
H2C

-
+ HNO 3 + NO 3

OCH 3 OCH 3

OH OH

Gambar 5. Tahap Inisiasi


Tahap inisiasi ditandai dengan terjadinya perubahan warna larutan menjadi merah.
Pada tahap ini terjadi reaksi adisi pada monomer (I Wayan Suirta dkk, 2012).
+ + H
HC HC CH3 HC CH3 H2C
CH2 CH3
H2
CH2 CH2 CH2 CH2

+
OCH3 OCH3 OCH3 OCH3

OH OH OH OH

Gambar 6. Tahap Propagasi


Tahap propagasi terjadi ikatan kovalen antara kation dengan monomer. Pada tahap
ini kation yang terbentuk menangkap elektron dari ikatan rangkap yang dimiliki
eugenol. Proses propagasi akan menentukan panjang rantai polimer yang akan
terbentuk (I Wayan Suirta dkk, 2012).
+ H + H CH2
HC CH3 H2C H3CO C CH3 C H3C CH CH3
CH3 CH3
H2 H2
CH2 CH2 CH2 CH2 CH2

- +
+ CH3O + H

OCH3 OCH3 OCH3 OCH3 OCH3


OH OH OH OH OH
n

Gambar 7. Tahap Terminasi


Tahap terminasi merupakan penghentian proses polimerisasi, yaitu dengan
menambahkan ion negatif (I Wayan Suirta dkk, 2012).
Selain metileugenol dan polieugenol, senyawa bermanfaat yang dapat
dibuat dengan bahan dasar eugenol adalah isoeugenol. Isoeugenol nantinya dapat
dijadikan bahan dasar dalam pembuatan vanili.
Vanilin merupakan bahan serbaguna yang banyak digunakan sebagai
flavor (82 %) oleh industri makanan dan minuman (es krim, cokelat, gula-gula,
permen, puding, kue dan soft drink), produk farmasi (13 %) dan produk
wewangian (5 %) (Tidco, 2005 dalam Widayat dkk, 2013). Vanilin dapat dipakai
sebagai bahan baku pembuatan obat, antara lain L-dopa yaitu suatu asam amino
untuk pengobatan penyakit Parkinson, keracunan mangan dan distonia muskulari
juga dipakai untuk sintesis trimethapriim, suatu chemoterapeutikum untuk
penanggulangan infeksi saluran kencing dan saluran pernafasan (Sastrohamidjojo,
2002 dalam Widayat dkk, 2013).
Widajanti Wibowo, dkk (2002) mensintesis vanili dengan memanfaatkan
katalis heterogen. Sintesis vanili dari eugenol membutuhkan dua tahap reaksi,
yaitu reaksi isomerisasi eugenol menjadi isoeugenol dan dilanjutkan dengan reaksi
oksidasi isoeugenol menjadi vanili. Katalis heterogen yang digunakan adalah (1)
padatan superbasa, yang digunakan untuk studi katalisis heterogen pada reaksi
isomerisasi eugenol, dan (2) katalis transfer fase [18]-crown ether-6, yang
digunakan untuk reaksi oksidasi isoeugenol menjadi vanili. Padatan superbasa
dibuat dari - dan -alumina yang diberi perlakuan NaOH dan logam Na. Studi
katalisis reaksi oksidasi isoeugenol dengan oksidator KMnO 4 menggunakan
katalis transfer fase [18]-crown ether-6 memberikan indikasi bahwa senyawa
vanili yang terbentuk masih bercampur dengan senyawa-senyawa lain. Rendemen
vanili hasil oksidasi isoeugenol dalam suasana asam (pH 2) adalah 0,021%, dalam
suasana netral (pH 7) adalah 0,028% dan dalam suasana basa (pH 9) adalah
0,015%. Adapun tahapan reaksi dalam sintesis vanili adalah sebagai berikut.
OH OH OH
OH
H3CO H3CO H3CO H3CO
K a ta lis h e te ro g e n O k s id a s i
+
CHO
CH2 H H
H H Vanili
Eugenol H H
trans-Isoeugenol
cis-Isoeugenol

Gambar 8. Semi-sintesis Vanili dari Eugenol melalui Isoeugenol


Manfaat Cengkeh
Minyak atsiri bunga cengkeh memiliki aktivitas biologis seperti
antibakteri, antijamur, insectisida dan antioksidan, dan digunakan sebagi sumber
aroma dan bahan antimikroba dalam makanan (Huang et al. 2002; Velluti et al.
2003 dalam Luluk Pratiwi, 2016). Minyak cengkeh merupakan sumber agen
antimikrobial melawan bakteri dalam mulut yang biasanya dihubungkan dengan
penyakit karies gigi dan periodontal. Minyak cengkeh memiliki aktivitas biologi,
antara lain sifat antibakteri, antijamur, pemberantas serangga, dan anti-oksidan,
dan secara tradisional digunakan sebagai agen flavor dan bahan antibakteri dalam
pangan (Suryanto dalam Juvensius R. Andries dkk, 2014). Selain itu ekstrak
cengkeh memiliki efek antibakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri
Streptococcus mutans secara in vitro (Juvensius R. Andries dkk, 2014).
Destilasi Uap Air
Destilasi adalah proses pemisahan yang paling sering digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Destilasi sangat baik untuk memisahkan bahan-bahan alam
yang berupa zat cair atau untuk memurnikan cairan yang mengandung pengotor
(Wonorahardjo, 2013). Metode destilasi uap digunakan untuk memurnikan
zat/senyawa cair yang tidak larut dalam air, dan titik didihnya cukup tinggi.
Sedangkan sebelum zat cair tersebut mencapai titik dihdihnya zat cair sudah
terurai, teroksidasi atau mengalami reaksi pengubahan. Maka zat cair tersebut
tidak dapat dimurnikan secara destilasi sederhana atau destilasi bertingkat
melaikan harus didestilasi dengan destilasi uap. Destilasi uap adalah istilah yang
secara umum digunakan untuk destilasi campuran air dengan senyawa yang tidak
larut dalam air, dengan cara mengalirkan uap air kedalam campuran sehingga
bagian yang dapat menguap berubah menjadi uap pada temperatur yang lebih
rendah daripada dengan pemanasan langsung. Untuk destilasi uap labu yang berisi
senyawa yang akan dimurnikan dihubungkan dengan labu pembangkit uap.
Adapun uap yang biasa digunakan dalam destilasi uap adalah air, yang
mana dikenal dengan destilasi uap air. Destilasi uap air adalah suatu metode
destilasi yang bertujuan untuk memisahkan suatu substansi dari campurannya
dengan pertolongan uap air. Uap air yang dialirkan kedalam labu yang berisi
senyawa yang akan dimurnikan dimaksudkan untuk menurunkan titik didih
senyawa tersebut, karena titik didih suatu campuran lebih rendah daripada titik
didih komponen-komponennya. Agar suatu substansi dapat dipisahkan dari
campurannya dengan destilasi uap air, maka beberapa persyaratan harus dipenuhi,
yaitu : (1) substansi tersebut tidak/hampir tidak larut di dalam air, (2) tidak
mengalami peruraian karena kontak dengan air panas, (3) mempunyai tekanan uap
yang relatif tinggi pada 1000 C (minimal 5 mm Hg).
Pada destilasi uap air berlaku Hukum Dalton tentang Tekanan Parsial yang
menyatakan bahwa : Bila dua atau lebih gas atau uap yang satu sama lain tidak
bereaksi kimia dicampur pada suhu yang tetap, maka tiap gas menimbulkan
tekanan yang sama seolah-olah gas itu berada sendirian dan jumlah tekanan-
tekanan parsial gas-gas itu sama dengan tekanan total yang ditimbulkan oleh
sistem campuran gas-gas itu.
Jadi:
Ptotal = Porganik + Pair
Porganik dan Pair disebut sebagai tekanan parsial masing-masing gas penyusun
campuran gas. Apabila masing-masing gas ini memenuhi hukum gas ideal maka
dapat dicari dengan rumus:

Porganik =

Pair =
Ptotal = +

Apabila V dan T dari Porganik dan Pair adalah sama, maka dapat dicari hubungan
massaorganik dan Massaair dengan tekanannya.

Pada proses destilasi uap,uap air akan membantu membawa minyak atsiri
bahan yang akan diisolasi ke kondensor. Pada kondensor akan terjadi perubahan
fase gas minyak atsiri menjadi fase cair. Temperatur steam harus dikontrol agar
cukup untuk memaksa bahan melepas minyak atsirinya dan tidak membakar
bahan. Uap yang dipakai bertekanan > 1 atm dan bersuhu > 100 oC, sehingga
waktu destilasi bisa lebih cepat dan dapat mengurangi kemungkinan rusaknya
minyak atsiri. Cara ini menghasilkan minyak atsiri dengan mutu yang tinggi.
Keuntungan daripada destilasi uap yaitu, baik untuk simplisia basah atau kering
yang rusak pada pendidihan secara langsung, peralatan mudah didapat dengan
hasil yang baik dan kualitas minyak lebih baik, karena tidak terjadi hidrolisa
(Bahti , 1998).
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui rendemen minyak atsiri
bunga cengkeh yang diisolasi menggunakan metode destilasi uap air.

METODE PENELITIAN
1. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan yaitu seperangkat alat destilasi uap, statif dan klem,
pipet tetes, spatula, kaca arloji, gelas ukur, gelas kimia, neraca analitik, pemanas,
erlenmeyer, blender, pisau, dan corong pisah. Sedangkan bahan-bahan yang
digunakan antara lain bunga cengkeh, aquades, diklorometana (DCM), Na2SO4,
dan aluminium foil.
2. Prosedur Kerja
Cengkeh yang sudah kering dan halus ditimbang sebanyak 250 gram dan
dimasukkan ke dalam labu destilasi uap air. Kemudian dirangkai alat destilasi uap.
Labu dihubungkan dengan generator uap air, uap air dialirkan terus-menerus
sampai destilasi uap selesai. Destilasi dilakukan selama 6 jam. Hasil destilasi
ditampung dalam erlenmeyer dan dibiarkan selama seminggu. Destilat berupa
campuran minyak dan air. Campuran tersebut ditambahkan DCM sebanyak 50 mL
selanjutnya dipisahkan menggunakan corong pisah. Proses pemisahan ini
dilakukan berulang kali menggunakan pelarut yang sama sampai tidak terbentuk
dua lapisan lagi pada campuran. Hasil dari pemisahan dengan corong pisah
kemudian ditambahkan zat anhidrous (Na2SO4) lalu didekantasi. Minyak yang
diperoleh selanjutnya didiamkan beberapa minggu sampai pelarut DCM menguap
semua. Minyak atsiri bunga cengkeh kemudian ditimbang hingga didapatkan berat
yang konstan.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Percobaan isolasi minyak atsiri bunga cengkeh melalui metode destilasi
uap air dilaksanakan di Laboratorium Kimia Organik Jurusan Pendidikan Kimia,
Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, pada tanggal 6 dan 13 Oktober 2016
mulai pukul 13.00-21.00 WITA. Adapun dalam melakukan isolasi minyak atsiri
bunga cengkeh menggunakan metode destilasi uap air melalui beberapa tahapan
yaitu perlakuan bahan/sampel, proses isolasi minyak atsiri bunga cengkeh,
pemisahan minyak atsiri bunga cengkeh dengan pelarut air, dan penimbangan
hasil/produk.
Pada percobaan ini, sampel didapat dari penjual bunga cengkeh yang
berlokasi di Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali. Sampel dibeli
pada bulan september 2016 sebanyak 1000 gram dengan harga Rp. 30.000.
Sampel yang dibeli berupa bunga cengkeh segar yang berwarna merah dan hijau.
Bunga cengkeh yang di beli merupakan campuran bunga cengkeh muda, dewasa,
dan tua. Hal ini disebabkan oleh sulitnya mencari bunga cengkeh yang
perawakannya rata muda/dewasa/tua karena musim cengkeh pada bulan
september di Desa Ambengan sudah akan berakhir.
Bunga cengkeh yang sudah dibeli, selanjutnya diberikan perlakuan awal.
Sampel berupa bunga cengkeh dipotong kecil-kecil kemudian dikeringkan pada
udara terbuka selama dua minggu, lalu bunga cengkeh yang telah kering
dihaluskan menggunakan blender. Penggunaan bahan yang kering bertujuan agar
kadar air dalam bunga cengkeh berkurang sehingga pada isolasi minyak atsiri
bunga cengkeh dapat menghasilkan minyak yang relatif lebih banyak. Adapun
sampel bunga cengkeh yang sudah kering diperoleh sebanyak 444,6 gram. Bahan
dibuat halus dengan alasan agar minyak dapat terambil sempurna pada proses
destilasi. Adapun berat bunga cengkeh kering dan halus yang diperoleh adalah
sebesar 432,8 gram. Sampel ini kemudian ditimbang sebanyak 250 gram
kemudian di destilasi uap untuk didapatkan minyak atsirinya.
Proses isolasi minyak atsiri bunga cengkeh digunakan metode berupa
destilasi uap air dengan alasan minyak cengkeh mudah menguap dan mudah
teroksidasi dengan adanya pemanasan, sehingga isolasi minyak cengkeh tidak
menggunakan pemanasan langsung, melainkan dengan mengalirinya dengan uap
air secara terus-menerus. Selain itu, metode ini mudah dan aman bagi lingkungan
karena tidak menggunakan pelarut berbahaya, serta isolasi dengan distilasi uap
menghasilkan minyak cengkeh dengan kandungan eugenol lebih tinggi. Proses
destilasi dilakukan dengan menguapkan air secara kontinyu sampai destilat
pertama menetes, kemudian dilanjutkan selama 6 jam. Setelah 6 jam, diperoleh
destilat berupa campuran air dan minyak atsiri bunga cengkeh.
Destilat berupa campuran air dan minyak atsiri bunga cengkeh kemudian
didiamkan selama seminggu untuk memisahkan air dengan minyak. Setelah
seminggu, destilat yang berupa campuran air dan minyak terlihat terpisah. Hal ini
dibuktikan dengan adanya dua lapisan pada campuran tersebut. Lapisan atas
berupa minyak atsiri bunga cengkeh dan lapisan bawah merupakan air. Namun
pemisahan tidak terjadi secara sempurna, terdapat butir-butir minyak atsiri bunga
cengkeh yang terjebak pada air dalam kata lain ada minyak atsiri bunga cengkeh
yang masih bercampur dengan air. Hal ini disebabkan oleh kecilnya perbedaan
antara massa jenis air dan massa jenis minyak atsiri bunga cengkeh. Massa jenis
minyak atsiri bunga cengkeh pada adalah 1.04 - 1.07 gram/liter (SNI 06-4267-
1996). Sedangkan massa jenis air adalah 1,00 gram/liter (Wikipedia, 2016).
Minyak cengkeh yang memiliki massa jenis lebih besar daripada air, seharusnya
berada pada lapisan bawah destilat dan air berada pada lapisan atas. Tetapi yang
terjadi adalah kebalikannya. Hal ini disebabkan karena jumlah air pada destilat
sangat besar sedangkan jumlah minyak cengkeh sangat kecil, menjadikan air akan
menekan minyak cengkeh untuk berada di atas.
Destilat yang berupa campuran minyak atsiri bunga cengkeh dengan air
perlu ditambahkan pelarut DCM dengan tujuan untuk melarutkan minyak atsiri ke
dalam fasa organik (DCM) sehingga minyak yang masih bercampur dengan air
dapat mudah dipisahkan menggunakan corong pisah. Penggunaan DCM sebagai
pelarut disebabkan karena DCM merupakan pelarut non polar yang dapat
melarutkan minyak atsiri dan DCM tidak larut dengan air.
DCM sebanyak 50 mL ditambahkan pada destilat yang telah ditampung
dalam corong pisah. Kemudian campuran dikocok beberapa saat agar minyak
atsiri dapat larut sempurna ke dalam pelarut DCM. Selanjutnya campuran
didiamkan beberapa saat. Ketika didiamkan campuran membentuk dua lapisan.
Lapisan atas berupa larutan berwarna keruh yang merupakan air dan lapisan
bawah berupa larutan tak berwarna yang merupakan minyak atsiri bunga cengkeh
yang larut dalam DCM. Pemisahan menggunakan corong pisah dilakukan
berulang kali dengan pelarut yang sama bertujuan agar seluruh minyak atsiri yang
terdapat pada destilat dapat terambil semua.
Hasil pemisahan menggunakan corong pisah yaitu berupa minyak atsiri
yang larut dalam DCM ditambahkan zat anhidrous (Na2SO4) untuk
menghilangkan air yang mungkin masih tersisa pada campuran tersebut.
Campuran ini didiamkan beberapa saat, kemudian dipisahkan zat anhidrous
dengan minyak atsiri yang larut dalam DCM dengan cara dekantasi. Minyak yang
diperoleh selanjutnya didiamkan beberapa minggu sampai pelarut DCM menguap
semua. Minyak bunga cengkeh kemudian ditimbang hingga didapatkan berat yang
konstan. Minyak atsiri bunga cengkeh yang diperoleh sebanyak 6,57 gram yang
berupa minyak berwarna kuning muda.
Dari percobaan yang telah dilakukan dihasilkan rendemen minyak atsiri
bunga cengkeh menurut perhitungan adalah sebagai berikut :

Jumlah rendemen minyak atsiri yang diperoleh berbeda dengan hasil yang
diperoleh dari penelitian-penelitian yang relevan terkait percobaan ini. Penelitian
yang dilakuakn oleh Henny Prianto (2013), yaitu isolasi minyak atsiri bunga
cengkeh menggunakan metode destilasi uap dengan penggunan sampel sebanyak
200 gram yang berupa bunga cengkeh kering dan utuh (tidak dihaluskan) selama 8
jam mendapatkan minyak cengkeh sebanyak 17,27 gram dengan rendemen 8,6%.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Wenqiang (2007) menunjukkan bahwa
diperoleh rendemen minyak atsiri bunga cengkeh sebesar 10,1%. Adapun pada
penelitian tersebut, digunakan sampel bunga cengkeh kering sebanyak 100 gram
dengan metode destilasi uap selama 8-10 jam. Selain itu, penelitian yang
dilakukan oleh Faiza Memmou dan Radia Mahboub (2012) menunjukkan hasil
rendemen minyak atsiri bunga cengkeh segar/mentah yang didapatkan dari
tanaman cengkeh yang ditanam di Tlemcen University dengan sampel bunga
cengkeh segar/mentah yang digunakan sebanyak 100 gram melalui metode
destilasi uap adalah sebesar 4,59 %. Rendemen tertinggi minyak atsiri bunga
cengkeh yang pernah diperoleh melalui metode destilasi uap dan menggunakan
bunga cengkeh yang bermutu tinggi adalah 17%. (Nurdjannah, 2004).
Perbedaan hasil rendemen yang diperoleh disebabkan oleh beberapa hal
antara lain: jumlah sampel yang digunakan, lama waktu destilasi, asal sampel
bunga cengkeh yang digunakan, usia bunga cengkeh, preparasi bahan/sampel
bunga cengkeh, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh
Nurdjannah (2004) bahwa rendemen dan mutu dari minyak yang dihasilkan
dipengaruhi oleh asal tanaman, varietas, mutu bahan, penanganan bahan sebelum
penyulingan, metode penyulingan serta penanganan minyak yang dihasilkan.
Hasil rendemen bunga cengkeh yang diperoleh dipengaruhi oleh lamanya
proses destilasi uap. Proses destilasi uap yang dilakukan dalam percobaan ini
hanya 6 jam. Menurut Nurdjannah (2004), proses destilasi uap untuk mengisolasi
bunga cengkeh dilakukan 8-24 jam tergantung dari bahan dan kandungan
minyaknya. Oleh sebab itu, hasil rendemen minyak atsiri bunga cengkeh yang
didapatkan pada percobaan ini tergolong sedikit. Bunga cengkeh memiliki
kandungan minyak atsiri yang paling tinggi dibandingkan bagian pohon cengkeh
lainnya, sehingga memerlukan waktu destilasi yang paling lama.
Hasil rendemen bunga cengkeh yang diperoleh dipengaruhi oleh umur
bunga cengkeh yang digunakan. Rendemen minyak atsiri cengkeh terbanyak
diperoleh dari bunga cengkeh yang berasal dari bunga dewasa dan bunga yang
terlalu masak yaitu berturut-turut sebesar 16,4% dan 16,1%, sedangkan minyak
cengkeh yang terkandung dalam bunga muda lebih sedikit yaitu 14,9 %
(Nurdjannah, 1977). Pada percobaan ini, bunga cengkeh yang digunakan sebagai
sampel adalah campuran bunga cengkeh muda dan dewasa. Hal itu menyebabkan
hasil minyak atsiri yang diperoleh relative sedikit. Sampel yang digunakan juga
berbeda dari penelitian-penelitian sebelumnya, yaitu berasal dari Desa Ambengan,
Buleleng. Sampai saat ini, belum terdapat penelitian mengenai kandungan minyak
atsiri bunga cengkeh yang berasal dari desa Ambengan, Buleleng.
Menurut Gildemeister dan Hottman dalam Guenther (1950), destilasi dari
bunga cengkeh utuh menghasilkan minyak dengan kadar eugenol tinggi dan bobot
jenis di atas 1,06 sedangkan bunga cengkeh yang mengalami pengecilan ukuran
(digiling) menghasilkan minyak dengan kadar eugenol lebih rendah dan bobot
jenis di bawah 1,06. Hal ini disebabkan karena terjadinya penguapan minyak
selama proses penggilingan dan selang waktu antara penggilingan dan
penyulingan. Karena itu untuk mencegah penguapan, proses destilasi harus
dilakukan segera setelah proses penggilingan. Penguapan minyak atsiri
kemungkinan terjadi pada percobaan ini, karena preparasi sampel bunga cengkeh
dilakukan satu minggu sebelum proses destilasi uap dilakukan.
Hasil minyak atsiri bunga cengkeh yang dihasilkan dalam percobaan ini
memiliki warna kuning muda dan memiliki bau khas bunga cengkeh. Hal ini
sesuai dengan syarat mutu minyak cengkeh pada SNI 06-4267-1996 dan
penelitian Henny Prianto (2013) tentang karakteristik minyak cengkeh hasil
destilasi uap.

KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa presentase
rendemen minyak atsiri bunga cengkeh dari percobaan isolasi minyak atsiri bunga
cengkeh dengan metode destilasi uap sebanyak 2,628%. Minyak atsiri berwarna
kuning muda dan memiliki bau khas bunga cengkeh.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2013. Klasifikasi dan Morfologi Tanaman. Tersedia pada
http://www.petanihebat.com/2013/06/klasifikasi-dan-morfologi-
tanaman.html. Diaskes pada 30 November 2016

Badan Standar Nasional. 1996. Minyak Bunga Cengkeh. SNI 06-4267-1996

Andries, Juvensius R. dkk. 2014. Uji Efek Anti Bakteri Ekstrak Bunga Cengkeh
Terhadap Bakteri Streptococcus mutans Secara In Vitro. Jurnal e-GIGI,
Volume 2, Nomor 2

Bahti . 1998 . Teknik Pemisahan Kimia dan Fisika. Universitas Padjajaran.


Bandung.

Faiza Memmou dan Radia Mahboub. 2012. Composition of Essensial Oil from
Fresh Flower of Clove. Journal of Scientific Research In Pharmacy 2012.
Hal 33-35.

Guenther, E. 2011. Minyak Atsiri Jilid I diterjemahkan oleh Ketaren, 1987.


Jakarta, UIPress

Ibrahim, Sanusi, dkk. 2013. Teknik Laboratorium Kimia Organik. Yogyakarta:


Graha Ilmu.

Ngadiwiyana. 2004. Sintesis Metil Eugenol Dan Benzil Eugenol Dari Minyak
Daun Cengkeh. JKSA Vol. VII. No. 3

Megawati, Rizky Farah dkk. 2010. Analisis Mutu Minyak Atsiri Bunga Cengkeh
(Syzygium Aromaticum (L.) Meer. & Perry) Dari Maluku, Sumatera,
Sulawesi Dan Jawa Dengan Metode Metabolomic Berbasis GC-MS.
Pharmacon, Vol. 11, No. 2

Nurdjannah, Nanan. 2004. Diversifikasi Penggunaan Cengkeh. Perspektif, No. 2,


Vol. 3, Hal. 61-70

Nurdjannah N., Yuliani S. dan Yanti L. 1997. Pengolahan dan Diversifikasi Hasil
Cengkeh. Monograf Tanaman Cengkeh. Balai Penelitian Tanaman Rempah
dan Obat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Nurhidayati, Liliek dan Sulistiowati. 2013. Penetapan Kadar Eugenol Dalam


Minyak Atsiri Dari Tiga Varietas Bunga Cengkeh (Syzygium
aromaticum(L.,) Merr. & L.M. Perry) Secara Kromatografi Gas. Artikel
Disampaikan Pada Seminar Nasional Dalam Rangka Rangka Lustrum X
Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, pada 28-29 Juni 2013

Pratiwi, Luluk. 2016. Ektraksi Minyak Atsiri Dari Bunga Cengkeh Dengan
Pelarut Etanol Dan n-Heksana. Surakarta: The 3rd Universty Research
Colloquium 2016. ISSN 2407-9189

Prianto, Henny. 2013. Isolasi Dan Karakterisasi Dari Minyak Bunga Cengkeh
(Syzigium Aromaticum) Kering Hasil Distilasi Uap. Kimia. Student
Journal, Vol. 1, No. 2, pp. 269-275. Malang: Universitas Brawijaya
Malang

Purseglove, J.W, E B. Brown, C. L green and S.R. J. Robbins. 1981. Spices. Vol 1.
Longman, London and Newyork P. 229-285

Suirta, I Wayan, dkk. 2012. Sintesis Polieugenol Dari Eugenol Dengan Katalis
Asam Nitrat Pekat Dan Media Natrium Klorida. Jurnal Kimia 6 (1). ISSN
1907-9850

Wonorahardjo, Surjani. 2013. Metode-Metode Pemisahan Kimia. Jakarta:


Akademia Permata.

Wenqiang, Guan, Shufen, Li., Ruixiang, Yan., Shaoukun, Tang., Can, Quan.
2007. Comparison of Essential Oils of Clove Buds Extracted with
Supercritical Carbon Dioxide and Other Three Traditional Extraction
Methods. Food Chemistry, 101, 1558-1564.

Widayat, dkk. 2013. Diversifikasi Minyak Cengkeh Menjadi Fine Chemical.


Seminar Rekayasa Kimia dan Proses 2013. ISSN 1411-4216

Wibowo, Widajanti. 2002. Aplikasi Reaksi Katalisis Heterogen Untuk Pembuatan


Vanili Sintetik (3-hidroksi-2-metoksibenzaldehida) Dari Eugenol (4-allil-
2-metoksifenol) Minyak Cengkeh. MAKARA, SAINS Vol. 6, No. 3
Wikipedia. 2016. Cengkih. Tesedia pada https://id.wikipedia.org/wiki/Cengkih.
Diakses pada 02 Desember 2016

Wikipedia. 2016. Massa Jenis. Tersedia pada


https://id.wikipedia.org/wiki/massa_jenis. Diaskes pada 20 Desember
2016

LAMPIRAN

Gambar 1. Bunga Cengkeh Kering Gambar 2. Rangkaian Alat Destilasi


dan Halus Ditimbang Sebanyak 250 Uap
gram

Gambar 3. Proses Isolasi Minyak Atsiri


Bunga Cengkeh Melalui Destilasi Uap
Gambar 5. Berat Minyak Cengkeh
Sebesar 6,57 gram