Anda di halaman 1dari 12

Makalah tentang

MEKANISME SARAF OTONOM


PADA SISTEM RESPIRASI

NAMA : KURNIA ASTRIYATI KARTINI

NIM : 2013-66-029

MATKUL : KARDIOVASKULAR

Universitas Esa Unggul

Fakultas Fisioterapi

Tahun Ajaran

2013-2014
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Dengan memanjatkan piji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa


melimpahkan rahmat dan hidayah Nya kepada kita sekalian, sehingga dalam
kehidupan kita dapat berkarya serta melaksanakan tugas dan kewajiban di bidang
masing masing. Semoga kita semua selalu mendapat petunjuk dan perlindungan
Nya sepanjang masa. Dan dalam pada itu dengan izin Nya, Alhamdulillah niat
dan tekad penyusun untuk menyelesaikan penyusunan Makalah tentang
Mekanisme Saraf Otonom pada Sistem Respirasi dapat tersusun dengan baik.

Makalah ini di susun dengan bahasa yang sederhana berdasarkan berbagai literatur
tertentu dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman mengenai teori yang di
bahas. Kendati demikian, tak ada gading yang tak retak. Penyusun menyadari
bahwa dalam makalah ini terdapat kekurangan dan kelemahan, oleh karena itu
penyusun terbuka dengan senang hati menerima kritik dan saran yang konstruktif
dari semua pihak demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.

Akhirnya, penyusun berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
semua pihak dan sumbangsih untuk kemajuan perkembangan ilmu kardiovaskular.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jakarta, April 2015

Kurnia Astriyati Kartini


BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Manusia dalam bernapas menghirup oksigen dalam udara
bebas dan membuang karbondioksida ke lingkungan. Pernapasan adalah
proses ganda yaitu terjadinya pertukaran gas di dalam jaringan atau
pernapasan dalam dan yang terjadi didalam paru-paru pernapasan luar.
Pernapasan Luar yang merupakan pertukaran antara O2 dan CO2 antara darah
dan udara. Pernapasan Dalam yang merupakan pertukaran O2 dan CO2 dari
aliran darah ke sel-sel tubuh. Sistem pernapasan atau sistem respirasi adalah
sistem organ yang digunakan untuk pertukaran gas. Pada hewan berkaki
empat, sistem pernapasan umumnya termasuk saluran yang digunakan untuk
membawa udara ke dalam paru-paru di mana terjadi pertukaran gas.
Diafragma menarik udara masuk dan juga mengeluarkannya. Berbagai variasi
sistem pernapasan ditemukan pada berbagai jenis makhluk hidup.

1.1.1 Sistem pernafasan terdiri daripada hidung , trakea , peparu , tulang rusuk
,otot interkosta bronkus bronkiol,alveolus dan diafragma.

1.1.2 Udara disedot ke dalam paru-paru melalui hidung dan trakea


1.1.3 Dinding trakea disokong oleh gelang rawan supaya menjadi kuat dan
sentiasa terbuka

1.1.4 Trakea bercabang kepada bronkus kanan dan bronkus kiri yang
disambungkan keparu-paru

1.1.5 Kedua-dua bronkus bercabang lagi kepada bronkiol dan alveolus pada
hujung bronkiol.
1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Jelaskan pengertian sistem pernafasan.


1.2.2 Jenis jenis pernapasan

1.3 Tujuan dan Manfaat

1.3.1 Memahami pengertian sistem pernapasan.


1.3.2 Mengetahui Jenis jenis pernapasan.
1.3.3 Memahami Organ sistem pernapasan beserta fungsinya
1.3.4 Memahami dan mengerti kelainan serta penyakit pada sistem pernapasan dan
cara penanggulangannya.
BAB II PEMBAHASAN

Proses respirasi dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara dalam rongga dada
dengan tekanan udara di luar tubuh. Jika tekanan di luar rongga dada lebih besar
maka udara akan masuk. Sebaliknya, apabila tekanan dalam rongga dada lebih
besar maka udara akan keluar. Menurut tempat terjadinya pertukaran gas maka
respirasi dapat dibedakan atas 2 jenis, yaitu: respirasi internal dan respirasi
ekternal. Respirasi internal adalah pertukaran gas antara aliran darah (pembuluh
darah kapiler) dan sel tubuh di dekatnya. Selama respirasi ini darah akan
memberikan 5 7 % volume oksigen yang dikandungnya dan mengambil 4
6 % volume karbon dioksida dari sel tubuh. Semakin tinggi suhu tubuh, jumlah
oksigen yang dilepas ke dalam sel tubuh semakin besar. Di dalam darah oksigen
berkombinasi dengan hemoglobin membentuk oxyhemoglobin dalam sel darah
merah, dan berfungsi dalam proses metabolisme tubuh. Karbon dioksida sebagai
sisa metabolisme akan bereaksi dengan air (H2O) di dalam tubuh untuk
membentuk asam karbon (H2CO3), yang kemudian terurai menjadi H+ dan
bikarbonat (HCO-3) dan diangkut sel darah merah menuju paru-paru. Di dalam
paru paru, H+ dan HCO-3bercampur lagi membentuk air (H2O) dan CO2.
Proses ini ditunjukkan dalam gambar 6.1. Gambar 6.1. Reaksi kimia dalam proses
respirasi Sedang respirasi eksternal adalah pertukaran gas antara paru paru
dengan aliran darah.

Respirasi ini terjadi karena pengaruh kimiawi pada aktifitas syaraf tidak sadar.
Ada dua macam otot mekanis yang mempengaruhi proses respirasi yaitu musculo
membranous diaphragm yang memisahkan rongga dada dengan rongga perut
(bergerak atas bawah) dan otot intercostal (mengelilingirongga dada) yang
menyebabkan dada mengembang mengempis. Aktifitas syaraf tadi akan
menimbulkan kontraksi otot yang mengubah volume rongga dada. Aktifitas syaraf
sadar juga mungkin menyebabkan
respirasi meskipun hanya terjadi kadang-kadang, dan dibatasi oleh internal body
homeostasis. Ada dua macam respirasi eksternal yaitu inspirasi ( memasukkan
udara luar ke dalam paru paru), dalam kondisi normal terdiri atas 79% nitrogen,
20.96% oksigen, 0.04% karbondioksida), dan ekspirasi (mengeluarkan udara dari
paru paru), dalam kondisi normal terdiri atas 79% nitrogen, 17% oksigen, 4%
karbondioksida). Pusat respirasi ada dalam medulla and pons pada batang otak. Sel
pada otak akan memberikan impuls yang akan menstimulasi otot diaphragma dan
otot intercostal untuk berkontraksi. Terjadilah inspirasi. Membesarnya rongga
dada menyebabkan tekanan dalam dada berkurang (-3 mm Hg), udara dari luar
akan masuk ke dalam paru-paru. Karena paru-paru merupakan organ pasif (tanpa
otot), maka paru-paru akan mengembang menurut rongga dada. Pusat
pneumotaxicdalam pons menerima impuls dari pusat inspiratori dalam medulla
bahwa inspirasi telah mencapai puncak. Informasi ini diteruskan ke pusat
ekspiratori (dalam medulla), dan kemudian segera mengirim impuls untuk
mengakhiri inspirasi. Otot inspirasi ( diaphragma dan intercostal ) mengalami
relaksasi, proses ekspirasi mulai berlangsung. Tekanan dalam rongga dada
meningkat (+ 3 mm Hg) sehingga udara akan didorong keluar, dan paru paru
akan menyempit. Kecepatan dan kedalaman respirasi selain dikontrol oleh sistem
syaraf dan konsentrasi oksigen dan karbon dioksida dalam darah., juga dipengaruhi
proses kimia dan suhu darah yang melewati otak. Selama kondisi normal, respirasi
dilakukan dengan tenang ( eupnea ), rata rata kecepatan respirasi (respiratory
rate = RR) sekitar 12-14 siklus per menit. Bertambahnya konsentrasi
CO2(penurunan konsentrasi O2) dalam darah akan meningkatkan kecepatan
respirasi yang artinya permintaan udara segar yang kaya oksigen semakin
meningkat. Keseimbangan asam basa darah (pH 7.4) akan meningkat karena
adanya reaksi kimia antara air dalam plasma darah dengan CO2 hasil metabolisme.
Sehingga kecepatan respirasi akan meningkat. Jika CO2 sudah dilepaskan,
konsentrasi akan berkurang dalam darah. Terjadi negatif feedback loop dan pH
darah kembali normal.

Fungsi saraf otonom pada system respirasi

Sistem saraf otonom juga dikenal sebagai sistem saraf visceral atau tak sadar yang
mengendalikan gerakan otot yang paling penting untuk mempertahankan
kehidupan binatang. Kontraksi otot jantung untuk berdetak semua-penting untuk
jantung, sebagian besar saluran pencernaan, pengaturan fungsi pernapasan,
pemeliharaan ukuran pupil, dan rangsangan seksual adalah beberapa fungsi utama
diatur oleh sistem saraf otonom tersebut. Terlepas dari kenyataan bahwa sistem
saraf otonom mengatur tindakan disengaja, respirasi dapat dikontrol dengan
beberapa kesadaran. Berdasarkan fungsi sistem saraf otonom, ada dua subsistem
utama yang dikenal sebagai aferen (sensorik) dan eferen (motorik). Kehadiran
kedua sinapsis rangsang dan penghambatan mengatur fungsi yang tepat dari sistem
saraf otonom dalam tubuh hewan. Sistem saraf simpatik dan parasimpatik adalah
dua modul fungsional utama dalam sistem saraf otonom tersebut. Modul simpatik
penting untuk respon fight or flight, karena mendorong pasokan darah yang
sangat tinggi untuk otot rangka, meningkatkan denyut jantung, dan menghambat
gerak peristaltik dan pencernaan. Sistem saraf parasimpatis mendorong fenomena
istirahat dan mencerna'; pelebaran pembuluh darah pada saluran pencernaan
adalah salah satu hal yang dikelola oleh subsistem ini.

Sistem saraf otonom ini tidak berada di bawah kendali kesadaran. Ada beberapa
pusat yang berperan dalam mengendalikan sistem saraf otonom:
Korteks serebral daerah korteks serebral mengendalikan homeostasis
dengan mengatur sistem saraf simpatik, sistem saraf parasimpatik dan
hipotalamus.
Sistem limbik -sistem limbik terdiri dari hipotalamus, amydala, hipokampus,
dan daerah lain di dekatnya. Struktur ini terletak di kedua sisi talamus, tepat
di bawah otak besar.
Hipotalamus sel-sel yang mendorong sistem saraf otonom terletak di medula
lateral. Hipotalamus bekerja ke daerah ini, yang meliputi inti vagal
parasimpatis, dan juga untuk sekelompok sel yang mengarah pada sistem
simpatis di sumsum tulang belakang. Dengan berinteraksi dengan sistem ini,
hipotalamus mengendalikan pencernaan, detak jantung, berkeringat dan
fungsi lainnya.
Batang otak batang otak bertindak sebagai penghubung antara sumsum
tulang belakang dan otak besar. Neuron sensorik dan motorik berjalan
melalui batang otak, menyampaikan pesan antara otak dan sumsum tulang
belakang. Batang otak mengontrol banyak fungsi otonom dari sistem saraf
parasimpatik, termasuk respirasi, denyut jantung dan tekanan darah.
Sumsum tulang belakang- dua rantai ganglia yang terletak di kedua sisi
tulang belakang. Rantai luar membentuk sistem saraf parasimpatik,
sedangkan rantai paling dekat dengan sumsum tulang belakang membentuk
unsur simpatik.

Mekanisme kerja saraf otonom pada respirasi

Pengaturan pernapasan oleh persarafan dilakukan oleh korteks cerebri, medulla


oblongata, dan pons . Saat bernapas dalam-dalam, mekanisme umpan balik
negative mencegah paru-paru agar tidak membesar secara berlebihan, sensor
peregangan mengirimkan impuls saraf kembali ke medula yang akan menghambat
pusat kontrol pernapasannya.

Pons

Pada pons terdapat 2 pusat pernapasan yaitu pusat apneutik dan pusat
pnumotaksis. Pusat apneutik terletak di formasio retikularis pons bagian bawah.
Yang berfungsi untuk mengkoordinasi transisi antara inspirasi dan ekspirasi
dengan cara mengirimkan rangsangan impuls pada area inspirasi dan menghambat
ekspirasi. Sedangkan pusat pneumotaksis terletak di pons bagian atas. Impuls dari
pusat pneumotaksis adalah membatasi durasi inspirasi, tetapi meningkatkan
frekuensi respirasi sehingga irama respirasi menjadi halus dan teratur, proses
inspirasi dan ekspirasi berjalan secara teratur pula.

Korteks Cerebri

Berperan dalam pengaturan pernapasan yang bersifat volunter sehingga


memungkinkan kita dapat mengatur napas dan menahan napas. Misalnya pada saat
bicara atau makan.

Medulla oblongata

Terletak pada batang otak, berperan dalam pernapasan automatik atau spontan.
Pada kedua oblongata terdapat dua kelompok neuron yaitu Dorsal Respiratory
Group (DRG) yang terletak pada bagian dorsal medulla dan Ventral Respiratory
Group (VRG) yang terletak pada ventral lateral medula. Kedua kelompok neuron
ini berperan dalam pengaturan irama pernapasan.

Pengaruh konsentasi CO2 terhadap penurunan pH

Konsentrasi CO2 muncul pada perubahan pH darah dan cairan jaringan


(cairan sererospinal) yang mengenai otak. CO2 bereaksi dengan air untuk
membentuk asam karbonat, yang akan menurunkan pH.

Ketika pusat kontrol mendeteksi penurunan pH (peningkatan CO2) cairan


serebrospinal atau darah, pusat kontrol tersebut akan meningkatkan
kedalaman dan laju pernapasan serta kelebihan CO2 dibuang di dalam udara
yang dihembuskan.
Pengaruh konsentrasi O2 dalam darah

konsentrasi O2 dalam darah umumnya mempunyai sedikit pengaruh


pada saat pusat kontrol pernapasan. Akan tetapi, ketika kadar O2 turun
sangat hebat, misalnya sensor O2 di aorta dan arteri karoid di leher akan
mengirimkan sinyal peringatan ke pusat kontrol pernapasan, dan pusat itu
merespons dengan cara meningkatkan kedalaman dan laju pernapasan.
Peningkatan konsentrasi CO2 indikasi kuat mengenai adanya penurunan
konsentrasi O2, karena O2 yang dihasilkan melalui proses respirasi
seluler.

pernapasan yang dalam dan cepat secara berlebihan mengeluarkan


banyak sekali CO2 dari darah sehingga pusat pernapasan untuk
sementara waktu berhenti mengirimkan impuls ke otot rusuk dan
diafragma. Pernapasan akan berhenti menghidupkan kembali pusat
pernapasan.

pusat pernapasan merespons terhadap berbagai ragan sinyal saraf dan


kimiawi, menyesuaikan laju dan kedalaman pernapasan. Akan tetapi,
kontrol pernapasan hanya akan efektif jika dikoordinasikan dengan
kontrol sistem sirkulasi.
BAB III PENUTUP

Kesimpulan

Manusia dalam bernapas menghirup oksigen dalam udara bebas dan


membuang karbondioksida ke lingkungan. Pernapasan adalah proses ganda yaitu
terjadinya pertukaran gas di dalam jaringan atau pernapasan dalam dan yang
terjadi didalam paru-paru pernapasan luar. Pernapasan Luar yang merupakan
pertukaran antara O2 dan CO2 antara darah dan udara. Pernapasan Dalam yang
merupakan pertukaran O2 dan CO2 dari aliran darah ke sel-sel tubuh. Sistem
pernapasan atau sistem respirasi adalah sistem organ yang digunakan untuk
pertukaran gas. Pada hewan berkaki empat, sistem pernapasan umumnya
termasuk saluran yang digunakan untuk membawa udara ke dalam paru-paru di
mana terjadi pertukaran gas. Diafragma menarik udara masuk dan juga
mengeluarkannya. Berbagai variasi sistem pernapasan ditemukan pada berbagai
jenis makhluk hidup.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/5366296/BAB_VI_PARU_PARU_DAN_SISTEM_RE
SPIRASI_MANUSIA

https://ikaeliza.files.wordpress.com/2011/01/kontrol-otonom1.pptx

http://informasitips.com/kontrol-pernapasan-oleh-sistem-saraf

http://kliksma.com/2014/10/peran-fungsi-sistem-saraf-otonom.html

http://budisma.net/2015/01/perbedaan-sistem-saraf-somatik-dan-otonom.html