Anda di halaman 1dari 3

PELAYANAN

PEMBEBASAN PASUNG PASIEN JIWA


No.
:
Dokumen
No. Revisi :
SOP Tanggal
:
Terbit
Halaman : 1-2
UPTD
dr. Henry Mulyono
Puskesmas NIP.19750509 200212 1 012
Poned Balowerti

1. Pengertian Pelepasan pasung pada pasien jiwa. Pemasungan adalah suatu


tindakan yang menggunakan cara pengikatan atau pengisolasian.
Pengikatan merupakan semua metode manual yang menggunakan
materi atau alat mekanik yang dipasang atau ditempelkan pada
tubuh dan membuat tidak dapat bergerak dengan mudah atau
yang membatasi kebebasan dalam menggerakkan tangan, kaki
atau kepala. Pengisolasian merupakan tindakan mengurung
sendirian tanpa persetujuan atau dengan paksa, dalam suatu
ruangan atau area yang secara fisik membatasi untuk keluar atau
meninggalkan ruangan/ area tersebut.

2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk melakukan


pelayanan pembebasan pasien jiwa yang dipasung di UPTD
PuskesmasPesantren I

3. Kebijakan 1. SK Kepala UPTD Puskesmas Pesantren 1 No 019 Tahun


2015 Tentang Penetapan Jenis Pelayanan di UPTD
Puskesmas Pesantren 1
2. SK Kepala UPTD Puskesmas Pesantren 1 No 022 Tahun
2015 Tentang Penaetapan Penanggung Jawab UKM

4. Referensi Pedoman teknis Pembebasan Pasien Pasung tahun 2014

5. Prosedur / 1) Melakukan pendekatan ke perangkat desa dan atau tokoh


Langkah- masyarakat setempat sehingga mereka ikut membantu
langkah meyakinkan keluarga untuk melepas pasien jiwa yang
dipasung.
2) Menjelaskan proses pembebasan pasung kepada keluarga
dan lingkungan.
3) Identifikasi jenis pemasungan (tali, rantai, balok kayu, isolasi).
4) Dokter: Melakukan pemeriksaan keadaan klinis pasien pasung
dengan menggunakan panduan pemeriksaan pasien
gangguan jiwa di UPTD Puskesmas Pesantren 1.
Perawat: Melakukan pengkajian keperawatan (jiwa dan fisik)
pada pasien pasung.
5) Dokter: Menegakkan diagnosis utama gangguan jiwa beserta
komorbid dan komplikasi yang terjadi.
Perawat: Menegakkan diagnosa keperawatan (jiwa dan fisik)
menggunakan panduan diagnosa keperawatan.
6) Dokter: Menyusun langkah-langkah prioritas yang akan
dilakukan dari aspek fisik dan jiwanya lalu menginformasikan
hal tersebut kepada keluarga terkait langkah-langkah yang
akan dilakukan.
Perawat: Menyusun intervensi keperawatan berdasarkan
masalah yang ditemukan.
PELAYANAN
PEMBEBASAN PASIEN JIWA PASUNG
No. Dokumen :V/C.JIWA.04/30201/2015
UPTD
PUSKESMAS No. Revisi : 00 dr. Gretta Hapsari Amalya
PESANTREN I NIP.19800409 200902 2 005
SOP Tanggal Terbit : 22 April 2015

Halaman : 2-3

7) Meminta persetujuan tertulis kepada keluarga untuk


melakukan tindakan medis dan keperawatan. Jika setuju
masuk langkah 8, dan jika menolak masuk langkah 9.
8) Melakukan proses pembebasan pasung. Jika pasien
kooperatif (tidak agresif, dapat berkomunikasi) maka:
a) Pasien dibebaskan dari alat pemasungan (tali, kayu,
rantai, kurungan, isolasi) dengan disaksikan keluarga,
perangkat desa, dan instansi terkait.
b) Jika pasien tidak kooperatif maka: Dokter memberikan
terapi psikofarmaka. Bila pasien keadaan fisiknya lemah
maka kondisi fisiknya diperbaiki terlebih dahulu.
Penanganan selanjutnya dikonsultasikan ke RS Rujukan.
Perawat: memberikan asuhan keperawatan fisik (mandi,
makan, berhias, kebutuhan dasar) dan jiwa.
c) Koordinasi dengan keluarga untuk melakukan pengobatan
dan perawatan lanjutan di rumah.
d) Dokter: mendelegasikan perawat agar memberikan
suntikan haloperidol 5mg/ml IM, 1-2x/hari selama 3-5 hari
berturut-turut (atau obat lain yang tersedia sesuai indikasi
medis). Perawat: melakukan observasi tanda-tanda vital,
kemajuan terapi dan efek samping obat untuk dilaporkan
kepada dokter.
e) Dokter: Jika pasien masih tetap tidak kooperatif dan
agresif, lanjutkan pemberian suntikan haloperidol 5 mg/ml
1-2x/hari IM ditambah suntikan diazepam 5 mg/ml 1-
2x/hari IM selama 3 hari berurutan dengan melakukan
konsultasi ke psikiater. Perawat: Melatih keluarga dalam
pemenuhan kebutuhan personal pasien (kebutuhan
nutrisi, perawatan diri, dan kebersihan lingkungan) dan
melatih keluarga meminumkan obat sesuai dengan resep
dokter
f) Jika pasien masih tetap agresif dan tidak kooperatif, ada
kegawatdaruratan psikiatri dan atau terdapat penyakit
penyerta maka dilakukan rujukan ke sarana pelayanan
rujukan
g) Jika kondisi pasien sudah memungkinkan (tidak agresif,
dapat berkomunikasi) maka dilakukan pembebasan
pasung.
h) Pasien dibebaskan dari alat pemasungan (tali, kayu,
rantai, kurungan, isolasi) dengan disaksikan keluarga,
perangkat desa dan instansi terkait.
i) Dokter: Melanjutkan terapi psikofarmaka. Perawat:
Melanjutkan asuhan keperawatan fisik (mandi, makan,
berhias, kebutuhan dasar) dan jiwa.
j) Koordinasi dengan keluarga untuk melakukan pengobatan
dan perawatan lanjutan di rumah.
9) a) Meminta persetujuan tertulis kepada keluarga pasien.
b) Mengajak keluarga menghubungi perangkat desa untuk
PELAYANAN
PEMBEBASAN PASIEN JIWA PASUNG
No. Dokumen :V/C.JIWA.04/30201/2015
UPTD
PUSKESMAS No. Revisi : 00 dr. Gretta Hapsari Amalya
PESANTREN I NIP.19800409 200902 2 005
SOP Tanggal Terbit : 22 April 2015

Halaman : 2-3
3-3

melengkapi persyaratan administratif rujukan (foto copy


KTP, KK, SKTM)
c) Bila sudah ada persetujuan dan kelengkapan administrasi,
dokter Puskesmas menghubungi kembali psikiater untuk
siap menerima rujukan pasien pasung.
d) Mempersiapkan keluarga ikut serta saat merujuk pasien ke
Rumah sakit jiwa.
e) Mengisi cek list kelengkapan form pelepasan pasien pasung
f) 30-60 menit sebelum di rujuk pasien diberikan suntikan
haloperidol 5 mg IM dan diazepam 10 mg IM
g) Selama dalam perjalanan rujukan dokter/perawat dapat
mempertimbangkan untuk melakukan fiksasi kepada pasien.
h) Bila dalam perjalanan pasien menjadi gelisah dan agresif
maka dokter/perawat dapat memberikan suntikan ulang
diazepam 10 mg IM.
i) Setiba di Rumah Sakit Rujukan dokter/perawat melakukan
serah terima pasien dan menyerahkan surat pengantar
rujukan dan kelengkapan administrasi yang lain.
j) Dokter/perawat dan pendamping pasien diijinkan pulang
setelah mendapat persetujuan tertulis dari Rumah Sakit
Rujukan.
10) Apabila keluarga tidak memberikan persetujuan maka keluarga
diminta menandatangani surat penolakan.
a) Dokter/perawat tetap melakukan psiko edukasi kepada
keluarga agar pasien diijinkan untuk di rujuk
b) Bila tetap tidak diijinkan oleh keluarga, maka
dokter/perawat meminta ijin kepada keluarga untuk
memberikan injeksi haldol decanoas/ml IM/ 30 hari (atau
obat lain yang tersedia sesuai indikasi medis)
c) Dokter/perawat melakukan kunjungan rutin untuk
mengevaluasi kondisi pasien dan asuhan keperawatan
minimal 2 minggu sekali.
d) Dokter/perawat melaporkan dan mendiskusikan hasil
kunjungan kepada Kepala UPTD Puskesmas Pesantren 1

6. Diagram Alir -
(Jika
dibutuhkan)
7. Unit Terkait 1. Penanggung Jawab UKM Jiwa
2. Poli Umum