Anda di halaman 1dari 4

1.1.

1 Mekamisme Kerja
Miconazole nitrat merupakan anti jamur azol turunan imidazole. Obat ini
bekerja dengan menghambat bioseintesis egosterol pada membran sel jamur yang
menyebabkan terjadinya kerusakan pada dinding sel jamur, sehingga terjadi
peningkatan permeabilitas membran, dan pada akhirnya menyebabkan sel jamur
kehilangan nutrisi selulernya. Mekanisme kerja lainnya adalah mengganggu
sintesis asam nukleat atau penimbunan peroksida dalam sel yang merusak sel
jamur.
Obat ini biasanya bersifat fungistatik dan dapat bersifat fungsidal pada
konsentrasi yang tinggi atau pada jamur yang rentan terhadap obat ini seperti
Candida. Obat ini memiliki aktivitas anti jamur dengan spektrum luas mencakup
banyak jamur termasuk dermatofit dan ragi seperti Candida albicans, Candida
guilliermondii, Candida tropicalis, Epidermophyton floccosum, Microsporum
canis, Trichophyton mentagrophytes, dan Trichophyton rubrum. Selain itu obat ini
juga memiliki aktivitas bakterisidal terhadap bakteri gram positif seperti
Staphylococcus aureus. Obat ini dapat mengalami resistensi silang dengan anti
jamur golongan azol lainnya.

1.1.2 Indikasi
Obat ini diberikan kepada pasien dengan keadaan sebegai berikut.

1. Pengobatan penyakit kulit tinea corporis (kurap tubuh), tinea cruris (gatal atlet)
dan tinea pedis (kutu air) yang disebabkan oleh Epidermophyton floccosum,
Trichophyton mentagrophytes, atau Trichophyton rubrum.
2. Pengobatan penyakit kulit tinea versikolor atau panu yang disebabkan oleh
Malassezia furfur atau Pityrosporum ovale.
3. Pengobatan penyakit kandidiasis kulit yang disebabkan oleh Candida albicans.
4. Pengobatan penyakit kandidiasis vulvovaginal tanpa komplikasi yang
kemungkinan besar disebabkan oleh Candida albicans.
5. Pengobatan penyakit kandidiasis oral yang disebabkan oleh Candida albicans.
1.1.3 Kontraindikasi
Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien yang memiliki riwayat
hipersensitif pada miconazole atau obat golongan imidazole lainnya.

1.1.4 Sediaan
1. Miconazole cream yang mengandung miconazole nitrat 2 %.
2. Miconazole salep yang mengandung miconazole nitrat 2 %.
3. Miconazole oral gel yang mengandung miconazole nitrat 2 %.
4. Sediaan kapsul vagina yang mengandung miconazole nitrat 200 mg.
5. Miconazole tablet mulut yang mengandung miconazole nitrat 50 mg.
6. Sediaan infus.

1.1.5 Dosis
1. Berdasarkan penyakit
1) Untuk mengobati penyakit kulit dapat dilakukan dengan cara mengoleskan
miconazole cream atau miconazol salep dengan secukupnya pada bagian
kulit yang terinfeksi sebanyak 2 sampai 3 kali sehari.
2) Untuk mengobati kandidiasis oral dapat dilakukan dengan cara
mengoleskan miconazole oral gel dengan secukupnya pada bagian mulut
yang terinfeksi sebanyak 4 kali sehari setelah makan atau dengan
menggunakan satu tablet miconazole buccal 50 mg.
3) Untuk mengobati kandidiasis vulvovaginal dapat dilakukan dengan
menggunakan satu kapsul miconazole 200 mg yang dimasukkan ke dalam
vagina yang diberikan selama 7 sampai 14 hari.
2. Berdasarkan sediaan
1) Krim dan salep (dewasa): oleskan secukupnya pada bagian yang terinfeksi
dua sampai tiga kali sehari.
2) Bedak (dewasa): taburi secukupnya bagian yang terinfeksi dua kali sehari.
3) Oral gel (dewasa): oleskan ke bagian mulut yang mengalami infeksi empat
kali sehari setelah makan.
4) Kapsul untuk infeksi jamur di vagina (wanita di atas 18 tahun): masukkan 1
kapsul ke dalam vagina satu kali sehari menjelang tidur malam (1 kapsul
biasanya mengandung 1200 mg miconazole).
5) Infus untuk meningitis akibat jamur dan infeksi kadung kemih oleh jamur
(dewasa): IV 600-3600 mg/hari, dosis tebagi 3, infus IV selama 30-60
menit.

1.1.6 Efek Samping


1. Efek samping sediaan oral (tablet hisap/lozenge) misalnya mual, muntah, gatal,
sensasi tidak menyenangkan pada mulut dan pruritus.
2. Penggunaan sediaan oral juga dilaporkan menyebabkan terjadinya hasil tes
fungsi hati yang abnormal. Tingkat SGOT tinggi dilaporkan terjadi pada
sekitar 15% pasien dalam uji klinis.
3. Efek samping sediaan cream, suppositoria atau tablet vagina misalnya sensasi
terbakar pada vagina, poliuria, gatal vulva, nyeri, dan edema.
4. Sediaan cream dan supositoria mengandung minyak yang dapat melemahkan
kondom lateks dan diafragma.
5. Sediaan cream yang digunakan pada kulit umumnya mempunyai efek samping
seperti rasa panas, eritema, edema, gatal, rasa seperti terbakar, pedih, urtikaria,
dan kejadian iritasi umum lain.

1.1.7 Interaksi Obat


Tidak ada interaksi obat yang signifikan untuk sediaan topikal. Namun,
untuk sediaan oral yaitu tablet hisap (lozenge/troche), ada beberapa interaksi
dengan obat lain :
1. Miconazole dapat meningkatkan konsentrasi serum phenytoin dan
fosphenytoin.
2. Dapat mengurangi efek terapi Saccharomyces boulardii. Kombinasi kedua obat
ini sebaiknya tidak dilakukan.
3. Dapat meningkatkan efek hipoglikemik obat-obat golongan sulfonilurea.
4. Meningkatkan konsentrasi antikoagulan warfarin sehingga tidak baik jika
digunakan secara bersamaan.

1.1.8 Penulisan Resep


Pada kasus dituliskan bahwa pasien, Ibu Jamilah, diberikan myconazole
nitrat cream 2% dioleskan pada sudut bibir untuk mengatasi angular cheilitis.
Penulisan resep untuk obat tersebut adalah seperti gambar di bawah ini,

Keterangan

cr. Tube No. I artinya obat sediaan krim dalam 1 tabung


u.e (usus externum) artinya untuk obat luar
applic part dol artinya oleskan pada daerah yang sakit
m.et.v (mane et vespere) artinya digunakan pagi dan malam

Anda mungkin juga menyukai