Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kolaborasi merupakan istilah umum yang sering digunakan untuk
menggambarkan suatu hubungan kerja sama yang dilakukan pihak tertentu. Sekian
banyak pengertian dikemukakan dengan sudut pandang beragam namun didasari prinsip
yang sama yaitu mengenai kebersamaan, kerja sama, berbagi tugas, kesetaraan, tanggung
jawab dan tanggung gugat. Namun demikian kolaborasi sulit didefinisikan untuk
menggambarkan apa yang sebenarnya yang menjadi esensi dari kegiatan ini. Seperti
yang dikemukakan National Joint Practice Commision (1977) yang dikutip Siegler dan
Whitney (2000) bahwa tidak ada definisi yang mampu menjelaskan sekian ragam variasi
dan kompleknya kolaborasi dalam kontek perawatan kesehatan.
Berdasarkan kamus Heritage Amerika (2000), kolaborasi adalah bekerja bersama
khususnya dalam usaha penggambungkan pemikiran. Hal ini sesuai dengan apa yang
dikemukanan oleh Gray (1989) menggambarkan bahwa kolaborasi sebagai suatu proses
berfikir dimana pihak yang terklibat memandang aspek-aspek perbedaan dari suatu
masalah serta menemukan solusi dari perbedaan tersebut dan keterbatasan padangan
mereka terhadap apa yang dapat dilakukan.
American Medical Assosiation (AMA), 1994, setelah melalui diskusi dan negosiasi yang
panjang dalam kesepakatan hubungan professional dokter dan perawat, mendefinisikan
istilah kolaborasi sebagai berikut ; Kolaborasi adalah proses dimana dokter dan perawat
merencanakan dan praktek bersama sebagai kolega, bekerja saling ketergantungan
dalam batasan-batasan lingkup praktek mereka dengan berbagi nilai-nilai dan saling
mengakui dan menghargai terhadap setiap orang yang berkontribusi untuk merawat
individu, keluarga dan masyarakat.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana konsep kerja tim dalam keperawatan itu?

1.3 Tujuan
Makalah ini di buat untuk memenuhi salah satu tugas keperawatan dasar.

1.4 Manfaat
Makalah ini di buat oleh kami agar kami memahami dan mengaplikasikan
langsung dalam asuhan keperawatan kepada klien tentang konsep kerja tim dalam
keperawatan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Definisi konsep kerja tim.
1. Definisi
Tim ialah kelompok dengan keterampilan yang saling melengkapi dan berkomitmen
untuk mecapai tujuan bersama secara efektif dan efisien (Hunsaker,2001). Kerja tim ialah
kerja berkelompok denganketerampilan yang saling melengkapi untuk mencapai tujuan
bersama secara efektif dan efisien.
2. Manfaat Kerja Tim
a. Kerja tim dapat memberikan manfaat, antara lain:Pekerjaan menjadi lebih ringan karena
dilakukan bersama
b. Dapat menimbulkan semangat kebersamaan.
c. Lebih efektif dan efisien dibandingkan dikerjakan sendiri
d. Kinerja organisasi lebih meningkat.

3. Tahapan Pembentukan Tim


Proses pembentukan tim dapat meliputi serangkaian langkah berikut:
a) Forming: kesadaran akan komitmen bersama untukmembentuk tim dan penerimaan
menjadi anggota tim.
b) Stoming : Muncul badai berupa konflik tentang klarifikasi dan kepemilikan.
c) Norming : Ada usaha untuk bekerja sama berupa keterlibatan dan dukungan membuat
dan mematuhi norma-norma baru.
d) Performing: Meningkatkan produktivitas kerja berupa target pencapaian kinerja dan rasa
bangga.
e) Andjouring: Berpisah memberikan pengakuan dan kepuasan(Hunsaker, 2001)

4. Karakteristik Kerja Tim Efektif


Kerja tim efektif memiliki sejumlah ciri berikut:
a. Misi tim jelas
b. Suasana informal
c. Banyak berdiskusi
d. Banyak mendengar (Pendengan yang aktif)
e. Kepercayaan dan keterbukaan
f. Menerima perbedaan pendapat (saling menghargai)
g. Kritis terhadap isu-isu tim TAS, dan tidak bersifat pribadi
h. Konsensus adalah salah satu norma tim TAS
i. Kepemimpinan efektif
j. Jelas dalam penilaian
k. Mengabungkan nilai dan norma
l. Komitmen (Manning & Curtis, 2003).
2.2 Prinsip kerja tim.
Guna mendukung hal tersebut diperlukan beberapa prinsip untuk kenyamanan tim yang
efektif yaitu : memperoleh bakat terbaik dari masing-masing individu ; mendemonstrasi
dan mengembangkan kepemimpinan ; merangsang komitmen tim ; memberi inspirasi
keamanan dan antusiasme tim ; membangun sikap tim yang kuat ; memberdayakan
individu ; supaya menonjol dilingkungan tim ; menciptakan lingkungan tim atas dasar
saling percaya dan saling menghormati ; membangun suatu pondasi karakter tim dan
individual ; prilaku yang tidak egois dan rela berkorban ; berpikiran terbuka.
Seperti tentara diajari cara untuk beroperasi dan bekerja sebagai sebuah tim dan cara
untuk menyesuaikan diri. Perilaku yang tepat dihargai, sementara perilaku tidak tepat
akan dihukum berat. Jadi dengan mengkondisikan mereka agar bergerak, bertindak, dan
berperilaku sebagai sebuah tim selama pelatihan, mereka mampu bertindak seperti juga
saat sedang berperang. Pelatihan, disiplin, komunikasi, dan umpan balik yang jelas serta
pembatasan, peran yang jelas adalah faktor penting dan diperlukan untuk mencapain
sinergi.
Sebenarnya kerjasama tim yang efektif sering kali merupakan hasil dari disiplin yang
ditentukan oleh masing-masing anggota tim. Mereka memastikan bahwa tidak hanya
perilaku yang diubah, tetapi setiap anggota memiliki sikap yang tepat untuk
mempertahankan kebersamaan dan kepentingan kelompok. Jelasnya perlu waktu untuk
melatih sebuah tim. Diperlukan waktu bertahun-tahun untuk melatih sepasukan tentara
agar siap berperang. Sama hal nya juga kerjasama tim memerlukan waktu beradaptasi,
terampil berkomunikasi, bergaul, penyesuaian karakter, membentuk kompetensi,
ketegasan, visi dan misi.

2.3 Cara kerja secara tim / kolaborasi.


Agar dapat membangun sebuah tim yang bagus dan baik, diperlukan lebih dari sekadar
mengumpulkan orang-orang yang tepat. Sebab, ujian utama darileadership sebenarnya
adalah menciptakan lingkungan dimana setiap individu mau bekerja secara kooperatif
dan kolaboratif.

Tips berikut mungkin bisa membantu kita dalam membangun kerja sama tim yang lebih
baik.

1. FOKUS

Jelaskan rencana jangka panjang organisasi dan lakukan follow-up dengan teratur. Orang-
orang sering kali terlalu fokus pada masalah hari ini dan pekerjaan rutinnya, sehingga
kehilangan gambaran dari tujuan utama secara keseluruhan. Jadi, sewaktu anggota
lainnya sedang berkonsentrasi menyelesaikan masalah, anggota lain dapat
mendedikasikan lebih banyak waktunya untuk me-reviewproses dan mengeliminasi
masalah-masalah yang mungkin muncul di masa depan.

2. DEFINISIKAN PERAN

Garis bawahi dengan jelas tanggung jawab dan peran setiap individu dalam suatu tim.
Hal ini sangat penting untuk menjamin kesuksesan tim. Pemahaman tim terhadap tugas
dan tanggung jawab masing-masing akan sangat membantu dalam pelaksanaan kerja
sama tim secara kolaboratif. Dukunglah tim Anda untuk mendefinisikan fungsi mereka.
Para anggota tim akan mampu mengambil lebih banyak tanggung jawab apabila mereka
berada dalam posisi yang cocok, dan salah satu dari mereka mungkin akan dapat
mengeluarkan bakat baru yang tidak disadari sebelumnya.

3. TETAPKAN TUJUAN

Anggota tim perlu memperhatikan tujuan individu maupun tujuan tim. Dukunglah
mereka untuk menentukan tujuan jangka pendek yang dapat diraih dan dapat diukur, serta
tujuan jangka panjang. Dengan tujuan yang jelas dan kode etik atau aturan tertentu, tim
akan mulai bisa mengatur dirinya sendiri untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
Pantauan dari senior sangat dibutuhkan untuk menghilangkan sifat-sifat negatif seperti
kemalasan, keterlambatan, serta suka menunda-nunda pekerjaan. Komunikasikan selalu
setiap tujuan dengan jelas, dan pastikan setiap anggota tim benar-benar memahaminya.

4. BAGIKAN INFORMASI

Informasi yang disembunyikan akan dianggap sebagai gosip atau rumor. Produktivitas
dan moral tim akan menurun bila mereka menemukan banyak informasi yang tidak jelas
berkeliaran, terutama di masa-masa sulit atau peralihan. Bagikan dan sebarkanlah semua
informasi yang memang perlu dikomunikasikan ke semua anggota tim, dan jangan lupa
untuk terus meng-update informasi tersebut sesering mungkin.

5. KEPERCAYAAN

Jadilah orang yang dapat dipercaya dan diandalkan. Hargailah kata-kata Anda sendiri.
Bila Anda seorang pemimpin dan Anda sudah berjanji untuk memberikan sesuatu kepada
anak buah, maka pastikan Anda menepati janji tersebut. Bila Anda salah satu anggota tim
dan pernah berjanji untuk melakukan sesuatu kepada tim atau pemimpin Anda, maka
pastikan juga Anda menepati janji tersebut. Perlakukan setiap anggota tim dengan
perlakuan yang sama. Jangan ada 'anak emas' dan 'orang istimewa'.

6. DENGARKAN

Bersikaplah terbuka terhadap ide-ide dari anggota tim lain. Berikan mereka kesempatan
untuk menyampaikan pendapat dalam rapat atau saat brainstorming. Pertimbangkan
setiap saran mereka. Kita tidak akan pernah benar-benar tahu saran dan pendapat mana
yang terbaik sampai kita sendiri membuktikannya. Banyak organisasi menghabiskan dana
besar untuk menyewa konsultan dari luar, tanpa terlebih dahulu menanyakan pendapat
pegawai dan anak buahnya sendiri. Padahal, seringkali merekalah yang paling tahu
problem apa yang terjadi di dalam. Berikan pujian kepada anggota tim kita dan jadilah
seorang pemimpin dan pendengar yang baik.

7. BERSABAR
Bila tim Anda terlihat bermasalah dan tidak menunjukkan hasil apa pun, bersabarlah.
Beri waktu dan amati perkembangannya. Sering kali mereka bisa mengatasi masalahnya
sendiri, dan Anda perlu mengawasi dan mengamati saja. Bila hal ini tidak terjadi, maka
beraksilah. Pecat dan hire orang lain bila memang diperlukan. Tidak ada gunanya
menyimpan 'benalu' di dalam tim.

8. DUKUNGAN

Setiap anggota tim harus ditantang untuk berkontribusi dalam segala hal. Dorong mereka
untuk ikut training bila memang diperlukan dan beri kesempatan untuk keluar dan
melakukan sendiri tugas-tugasnya. Mereka perlu merasa nyaman dalam melakukan tugas
supaya dapat menemukan potensi unik dalam diri mereka sendiri. Ubahlah tanggung
jawab setiap anggota tim bila memang dianggap perlu. Ketahuilah kekuatan dan
kelemahan dari setiap anggota tim dan berikan dukungan positif terhadap kedua hal itu.

9. TUNJUKKAN ANTUSIASME

Antusiasme mudah menular. Selalulah bersikap positif dan penuh harap. Bila mereka
melihat Anda mengharapkan sesuatu dari mereka, maka ada peluang mereka akan
memberikan yang terbaik dan berusaha tidak mengecewakan Anda. Fokuslah juga pada
hal-hal yang dikerjakan dengan benar, dan tidak selalu melihat kesalahan orang lain saja.

10. HAVE FUN

Bangun semangat yang ada di dalam tim agar bisa selalu memberikan energi yang tinggi
dan spirit persatuan. Sediakan waktu untuk tertawa bersama dan ciptakan suasana yang
sesantai mungkin. Tidak ada tujuan yang dapat dicapai dengan mudah bila suasananya
selalu tegang.

Ilustrasi

11. DELEGASI

Jelaskan apa yang harus dikerjakan dan bagaimana caranya (bila diperlukan), lalu
biarkan. Lebih baik lagi jika Anda dapat menjelaskan masalah yang ada dan seperti apa
hasil yang Anda inginkan. Lalu, biarkan tim Anda mengembangkan cara mereka sendiri
untuk menyelesaikan tugas tersebut sesuai waktu yang telah ditetapkan. Bila
jadwal reviewhari Selasa depan, maka jangan menanyakan hasilnya hari ini. Berilah
kepercayaan kepada tim Anda untuk memenuhi deadline masing-masing.

12. BERIKAN PENGHARGAAN

Rayakan keberhasilan bersama-sama dan berikan penghargaan kepada anggota tim tapi
tidak secara individual. Dalam setiap tim akan mempunyai individu yang menonjol pada
bidang tertentu. Kenalilah hal ini dengan cepat melalui performance review process dan
gunakan untuk mendukung kerja sama tim. Hindari semua tindakan yang bisa
menimbulkan kecemburuan di antara anggota. Selalu bicara positif tentang anggota tim
Anda secara keseluruhan. Promosikan talenta, usaha, dedikasi dan kesuksesan mereka.

Terakhir, yang penting adalah terus-menerus memberi inspirasi kepada semua anggota
tim. Bila Anda berbicara tentang hal apa pun yang berhubungan dengan tim, gunakanlah
kata 'kita' dan bukan kata 'saya'.

2.4 Hambatan kerja tim.


Macam-macam hambatan :

a. Hambatan yang Controlable ialah hubungan dimana kita memiliki wewenang dan
kekuasaan untuk menghilangkannya, seperti :

kurang cukupnya waktu yang dimiliki oleh seorang atasan terhadap bawahannya

kurangnya latihan-latihan yang dilaksanakan atau yang diperoleh bawahan

kurangnya keinginan atau hasrat dari bawahan untuk berpartisipasi

b. Hambatan-hambatan yang kita dapat pengaruhi, untuk meniadakannya ialah :

atasan yang tidak tahu tentang manajemen peran serta

iklim organisasi yang tidak tahu tentang manajemen peran serta

atasan yang tidak mau mencari dan menyediakan waktu untuk mempraktekkan manajemen
peran serta

c. Hambatan yang kita dapat mempengaruhi sedikit sekali atau menguasai untuk
menghilangkannya. Hambatan-hambatan tersebut berupa :

lingkungan eksternal organisasi

struktur organisasi

reputasi organisasi

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan.
Tim ialah kelompok dengan keterampilan yang saling melengkapi dan berkomitmen
untuk mecapai tujuan bersama secara efektif dan efisien (Hunsaker,2001). Kerja tim ialah
kerja berkelompok denganketerampilan yang saling melengkapi untuk mencapai tujuan
bersama secara efektif dan efisien.
prinsip untuk kenyamanan tim yang efektif yaitu : memperoleh bakat terbaik dari masing-
masing individu ; mendemonstrasi dan mengembangkan kepemimpinan ; merangsang
komitmen tim ; memberi inspirasi keamanan dan antusiasme tim ; membangun sikap tim
yang kuat ; memberdayakan individu ; supaya menonjol dilingkungan tim ; menciptakan
lingkungan tim atas dasar saling percaya dan saling menghormati ; membangun suatu
pondasi karakter tim dan individual ; prilaku yang tidak egois dan rela berkorban ;
berpikiran terbuka.

Cara kerja secara tim :


1. FOKUS

2. DEFINISIKAN PERAN

3. TETAPKAN TUJUAN

4. BAGIKAN INFORMASI

5. KEPERCAYAAN

6. DENGARKAN

7. BERSABAR

8. DUKUNGAN

9. TUNJUKKAN ANTUSIASME

10. HAVE FUN

11. DELEGASI

12. BERIKAN PENGHARGAAN

Macam-macam hambatan :

a. Hambatan yang Controlable

b. Hambatan-hambatan yang kita dapat pengaruhi


c. Hambatan yang kita dapat mempengaruhi sedikit sekali atau menguasai untuk
menghilangkannya.
3.2 Saran.
Sebagai mahasiswa keperawatan dan ahli medis tentunya kita harus memahami dan
mengaplikasikan langsung dalam tindakan keperawatan hususnya tentang konsep kerja
tim dalam keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
Maequis, Bessie L. 2010. Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan :teori
&aplikasi.Ed.4.Jakarta.EGC
Kuntoro, agus. 2010. buku ajar menejemen keperawatan. Yogyakarta : nuha medika

http://widiastutidyah.wordpress.com/2011/01/21/makalah-kerjasama-tim-dan-partisipasi-
dalam-meningkatkan-kinerja-karyawan/ (di akses pada tanggal 13 April 2014).
MUTU PELAYANAN KEPERAWATAN

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pelayanan keperawatan merupakan pelayanan utama dari pelayanan


rumah sakit. Hal ini terjadi karena pelayanan keperawatan diberikan selama 24
jam kepada pasien yang membutuhkannya, berbeda dengan pelayanan medis
dan pelayanan kesehatan lainnya yang hanya membutuhkan waktu yang relatif
singkat dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada kliennya. Dengan
demikian pelayanan keperawatan perlu ditingkatkan kualitasnya secara terus-
menerus dan berkesinambungan sehingga pelayanan rumahsakit akan
meningkat juga seiring dengan peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.
(Ritizza, 2013)
Kualitas pelayanan keperawatan sangat dipengaruhi oleh proses, peran
dan fungsi dari manajemen pelayanan keperawatan, karena manajemen
keperawatan adalah suatu tugas khusus yang harus dilaksanakan oleh manajer/
pengelola keperawatan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan serta mengawasi sumber-sumber yang ada, baik sumber daya
maupun sumber dana sehingga dapat memberikan pelayanan keperawatan yang
efektif dan efisien baik kepada klien, keluarga dan masyarakat. (Donny, 2014)
Mengingat pentingnya peranan manajemen pelayanan keperawatan,
maka dalam makalah ini penulis akan menguraikan tentang pengertian, proses,
dimensi, penilaian, strategi, indikator, standar, dan peran dalam menejemen
mutu pelayanan keperawatan sehingga dapat menggambarkan bagaimana
manajemen keperawatan yang bermutu seharusnya dilaksanakan.

B. Tujuan Penulisan
Tujuan Umum
Mahasiswa Mengetahui mengenai Manajemen Mutu dalam Pelayanan
Keperawatan

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Mutu dalam Pelayanan Keperawatan


1. Mutu
Pengertian mutu berbeda diantara tiap orang, ada yang berarti bagus,
luxurious, ataupun paling bagus. Tetapi ada beberapa pengertian mutu menurut
para ahli, sebagai berikut:
Mutu merupakan gambaran total sifat dari suatu produk atau jasa
pelayanan yang berhubungan dengan kemampuannya untuk memberikan
kebutuhan kepuasan.(American society for quality control). Mutu adalah fitness
for useatau kemampuan kecocokan penggunaan.(J.M. Juran, 1989).
Azwar (1996) menjelaskan bahwa mutu adalah tingkat kesempurnaan dari
penampilan sesuatu yang sedang diamati dan juga merupakan kepatuhan
terhadap standar yang telah ditetapkan, sedangkan Tappen (1995) menjelaskan
bahwa mutu adalah penyesuaian terhadap keinginan pelanggan dan sesuai
dengan standar yang berlaku serta tercapainya tujuan yang diharapkan.
Berdasarkan uraian di atas, maka mutu dapat dikatakan sebagai kondisi
dimana hasil dari produk sesuai dengan kebutuhan pelanggan, standar yang
berlaku dan tercapainya tujuan.Mutu tidak hanya terbatas pada produk yang
menghasilkan barang tetapi juga untuk produk yang menghasilkan jasa atau
pelayanan termasuk pelayanan keperawatan.

Pelayanan Keperawatan
a. Pelayanan
Produk yang dihasilkan oleh suatu organisasi dapat menghasilkan
barang atau jasa. Jasa diartikan juga sebagai pelayanan karena jasa itu
menghasilkan pelayanan (Supranto, 2006). Definisi mengenai pelayanan telah
banyak dijelaskan, dan Kottler (2000, dalam Supranto, 2006) menjelaskan
mengenai definisi pelayanan adalah suatu perbuatan di mana seseorang atau
suatu kelompok menawarkan pada kelompok/orang lain sesuatu yang pada
dasarnya tidak berwujud dan produksinya berkaitan atau tidak berkaitan dengan
fisik produk, sedangkan Tjiptono (2004) menjelaskan bahwa pelayanan
merupakan aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual,
sehingga dapat dikatakan bahwa pelayanan itu merupakan suatu aktivitas yang
ditawarkan dan menghasilkan sesuatu yang tidak berwujud namun dapat
dinikmati atau dirasakan.
Kotler (1997, dalam Supranto, 2006) juga menjelaskan mengenai karakteristik
dari pelayanan dengan membuat batasan-batasan untuk jenis-jenis pelayanan
pelayanan sebagai berikut :
pelayanan itu diberikan dengan berdasarkan basis peralatan (equipment based)
atau basis orang (people based) dimana pelayanan berbasis orang berbeda dari
segi penyediaannya, yaitu pekerja tidak terlatih, terlatih atau profesional;
Disampaikan dalam Pelatihan Manajemen Keperawatan beberapa jenis
pelayanan memerlukan kehadiran dari klien (clients precense); pelayanan juga
dibedakan dalam memenuhi kebutuhanperorangan (personal need) atau
kebutuhan bisnis (business need); dan pelayanan yang dibedakan atas
tujuannya, yaitu laba atau nirlaba (profit or non profit) dan kepemilikannya swasta
atau publik (private or public).Berdasarkan dari pendapat-pendapat tersebut,
maka dapat dikatakan bahwapelayanan merupakan salah satu bentuk hasil dari
produk yangmemberikan pelayanan yang mempunyai sifat tidak berwujud
sehinggapelayanan hanya dapat dirasakan setelah orang tersebut
menerimapelayanan tersebut. Selain itu, pelayanan memerlukan kehadiran
ataupartisipasi pelanggan dan pemberi pelayanan baik yang professionalmaupun
tidak profesional secara bersamaan sehingga dampak daritransaksi jual beli
pelayanan dapat langsung dirasakan dan jika pelangganitu tidak ada maka
pemberi pelayanan tidak dapat memberikan pelayanan.
Pengembangan Standar Pelayanan Keperawatan
1. Standar 1
Falsafah dan tujuan Pelayanan keperawatan diorganisasi dan dikelola agar
dapat memberikan asuhan keperawatan yang optimal bagi pasien sesuai dengan
standar yang ditetapkan. Kriteria:
Dokumen tertulis yang memuat tujuan pelayanan keperawatan harus
mencerminkan peran rumah sakit, dan harus menjadi acuan pelayanan
keperawatan serta diketahui oleh semua unit lain. Dokumen ini harus selalu
tersedia untuk semua petugas pelayanan keperawatan
Setiap unit keperawatan dapat mengembangkan sendiri tujuan khusus
pelayanan keperawatan.
Dokumen ini harus disempurnakan paling sedikit setiap 3 tahun.
Bagan struktur organisasi harus memperlihatkan secara jelas garis
Komando, tanggung jawab, kewenangan serta hubungan kerja dalam pelayanan
keperawatan dan hubungan dengan unit lain.
Uraian tugas tertentu yang tertulis harus diberikan kepada setiap petugas hal hal
sebagai berikut :
Kualifikasi yang dibutuhkan untuk jabatan petugas yang bersangkutan garis
kewenangan
Fungsi dan tanggungjawab
Frekuensi dan jenis penilaian kemamapuan staf
Masa kerja dan kondisi pelayanan
2. Standar 2
Administrasi dan pengelolaan Pendekatan sistematika yang digunakan
untuk memberikan asuhan keperawatan yang berorientasi pada kebutuhan
pasien. Kriteria:
Asuhan keperawatan mencerminkan standar praktek keperawatan yang berlaku
dan ditujukan pada pasien atau keluarganya, yang mencakup asuhan
keperawatan dasar, penugasan pasien atau keperawatan terpadu.
Perawat bertanggungjawab terhadap semua aspek asuhan keperawatan
Staff keperawatan senantiasa harus menghormati hak keleluasaan pribadi,
martabat dan kerahasiaan pasien.
Staff keperawatan berpartisipasi pada berbagai pertemuan tentag asuhan
pasien
Penelitian keperawatan
Bila penelitian keperawatan dilakukan, hak asasi pasien harus dilindungi sesuai
dengan pedoman yang berlaku dengan menjunung tinggi etika profesi
3.Standar 3
Staff dan pimpinan Pelayanan keperawatan dikelola untuk mencapai tujuan
pelayanan. Kriteria:
Pelayanan keperawatan dipimpin oleh seorang perawat yang mempunyai
kualifikasi manager.
Kepala keperawatan mempunyai kewenangan atau bertanggungjawab bagi
berfungsinya pelayanan keperawatan ; sebagai anggota pimpinan harus aktif
menghadiri rapat pimpinan.
Apabila kepala perawatan berghalangan harus ada seorang perawat pengganti
yang cakap dapat diserahi tanggungjawab dan kewenangan.
Setiap perawat harus mempunyai izin praktek perawat yang masi berlaku dan
berkualifikasi professional sesuai jabatan yang didudukinya.
Jumlah dan jenis tenaga keperawatan disesuaikan dengan kebutuhan
pasien fasilitas dan peralatan
4. Standar 4
Fasilitas dan peralatan harus memadai untuk mencapai tujuan peayanan
keperawatan. Kriteria:
Tersedianya tempat dan peralatan yang sesuai untuk melaksanakan tugas
Bila digunakan peralatan khusus, peralatan tersebut dijalankan oleh staf yang
telah mendapatkan pelatihan.
5. Standar 5
Kebijakan dan prosedur Adanya kebijakan dan prosedur secara tertulis
yang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan prinsip praktek
keperawatan yang konsisten dengan tujuan pelayanan keperawatan. Kriteria:
Kepala keperawatan bertanggung jawab terhadap perumusan dan pelaksanaan
kebijakan dan prosedur keperawatan.
Staf keperawatan yang aktif terlibat dalam asuhan langsung kepada pasien
harus diikut sertakan dalam perumusan kebijakan dan prosedur keperawatan.
Ada bukti bahwa staf keperawatan bertindak berdasarkan ketentuan hukum
yang mengatur standar pratek keperawatan dan berpedoman pada etika profesi
yang berlaku.
Ada kebijakan mengenai ruang lingkup dan batasan tanggung jawab serta
kegiatan staf keperawatan Pengertian: Sebagai contoh kebijakan ialah
penyuntikan/ pengobatan pada terapi intravena, pemberian darah dan produk
darah, menerima pesan melalui telepon, pemberian informasi kepada mass
media dan polisi, pencatatan dan pelaporan, pelaksanaan prosedur kerja.
Tersedianya pedoman praktek keperawatan yang meliputi:
Prinsip-prinsip yang mendasari prosedur
Garis besar prosedur
Kemungkinan perawat menyesuaikan prosedur terhadap kebutuhan pasien.
(Etika LavleeHongki, 2012)
6.Standar 6
Pengembangan staf dan program pendididkan Harus ada program
pengembangan dan pendidikan berkesinambungan agar setiap keperawatan
dapat meningkatkan kemampuan profesionalnya. Kriteria:
Program pengembangan staf dikoordinasi oleh seorang perawat terdaftar
Tujuan program orientasi dan pelatihan harus mengacu pada efektifitas program
pelayanan.
Tersedianya program orientasi bagi smua staf keperawatan yang baru dan bagi
perawat yangbaru ditempatkan pada bidang khusus, meliputi :
Informasi tentang hubungan antara pelayana keperawatan dengan rumah sakit
Penjelasan mengenai kebijakan dan prosedur kerja dirumah sakit dan pelayanan
keperawatan
Penjelasan mengenai metode penugasan asuhan keperawatan dan standar
praktek keperawatan.
Prosedur penilaian terhadap staf keperawatan
Penjelasan mengenai tugas dan fungsi khusus , garis kewenangan, dan ruang
lingkup tanggung jawab
Cara untuk mendapatkan bahan sumber yang tepat
Identifikasi kebutuhan belajar bagi tiap individu
Petunjuk mengenai prosedur pengamanan yang harus diikuti
Pelatihan mengenai tekhnik pertolongan hidup dasar (basic life support).
7.Standar 7
Evaluasi dan pengendalian mutu Pelayanan keperawatan menjamin
adanya asuhan keperawatan yang mutu tinggi dengan terus menerus melibatkan
diri dalam program pengendalian mutu dirumah sakit. Kriteria:
Adanya rencana tertulis untuk melaksanakan program pengendalian mutu
keperawatan.
Program pengendalian mutu keperawatan meliputi:
Pelayanan keperawatan terhadap standar yang telah ditetapkan.
Penampilan kerja semua tenaga perawat.
Proses dan hasil pelayanan keperawatan.
Tersedianya pendayagunaan sumber daya dari rumah sakit.
b.Indikator Mutu Keperawatan
Indikator Mutu Keperawatan menurut ANA
Kategori Ukuran
Ukuran 1 Angka kematian pasien karena komplikasi operasi
berfokus 2 Angka decubitus
outcomes 3 Angka pasien jatuh
pasien 4 Angka psien jatuh dengan cidera
5 Angka restrain
6 ISK karena pemasangan cateter di ICU
7 Blood stream infection karena pemasangan cateter line
central di ICU dan HDNC
8 VAP di ICU dn HDNC
Ukuran 9 Konseling berhenti merokok pada kasus AMI
berfokus 10 Konseling berhenti merokok pada kasus Gagal jantung
pada 11 Konseling berhenti merokok pada kasus Peneumonia
intervensi
perawat
Ukuran 12 Perbandingan antara RN, LVN/LPN, UAP dan kontrak
berfokus 13 Jam perawatan pasien per hari oleh RN,LPN/LPN dan UAP
pada system 14 Practice Environment ScaleNursing Work Index
15 Turn over

c. Audit internal
Audit internalmerupakan suatu penilaian atas keyakinan, independen,
obyektif dan aktivitas konsultasi yang dirancang untuk menambah nilai dan
meningkatkan operasi organisasi. Ini membantu organisasi mencapai tujuannya
dengan membawa pendekatan yang sistematis dan disiplin untuk mengevaluasi
dan meningkatkan efektivitas proses manajemen risiko, pengendalian, dan tata
kelola. Audit internal adalah katalis untuk meningkatkan efektivitasorganisasi dan
efisiensi dengan memberikan wawasan dan rekomendasi berdasarkan analisis
dan penilaian data dan proses bisnis. Dengan komitmen untuk integritas dan
akuntabilitas, audit internal yang memberikan nilai kepada mengatur badan dan
manajemen senior sebagai sumber tujuan saran independen.Profesional yang
disebut auditor internal yang digunakan oleh organisasi untuk melakukan
kegiatan audit internal.
Audit keperawatan internal dilakukan oleh organisasi profesi di dalam
institusi tempat praktik keperawatan, audit keperawatan eksternal dilakukan oleh
organisasi profesi di luar institusi.Kebijakan audit medis di Rumah Sakit
didasarkan pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
496/Menkes/SK/IV/2005 tanggal 5 April 2005 tentang Pedoman Audit Medis di
RS, sedangkan untuk audit keperawatan belum ada kebijakan yang mengatur.
Pelaksana Audit Keperawatan di Rumah Sakit :
Tim pelaksana dapat merupakan tim atau panitia yg dibentuk di bawah Komite
Keperawatan atau panitia khusus untuk itu pelaksana audit keperawatan di RS
dapat dilakukan oleh Komite Keperawatan, Sub Komite (Panitia) Peningkatan
Mutu Keperawatan atau Sub Komite (Panitia) Audit Keperawatan
Pelaksana audit keperawatan wajib melibatkan bagian rekam keperawatan
Pelaksana audit wajib melibatkan SMF mulai dari pemilihan topik, penyusunan
standar & kriteria serta analisa hasil audit keperawatan
Apabila diperlukan dapat mengundang konsultan tamu atau organisasi profesi
terkait untuk melakukan analisa hasil audit keperawatan & memberikan
rekomendasi khusus
Langkah-langkah (Proses Audit)
1. Identifikasi masalah
Hal-hal yang dapat dipertimbangkan dalam pemilihan topik adalah :
Adanya standar nasional dan pedoman yang menjadi rujukan praktik klinis yang
lebih efektif
Area yang menjadi masalah dapat dijumpai di lahan praktik
Rekomendasi dari pasien dan masyarakat
Berpotensi jelas untuk meningkatkan pemberian pelayanan Kaitan dengan
volume, risiko dan biaya tinggi jika upaya perbaikan diterapkan
2. Menetapkan kriteria dan standar
Kriteria adalah pernyataan eksplisit yang didefinisikan sebagai elemen
representatif dari pelayanan yang dapat diukur secara objektif.
Standar adalah aspek pelayanan yang dapat diukur, yang selalu didasarkan
pada hasil penelitian yang terbaik (ekspektasi tiap kriteria)
Standar & kriteria wajib (Must Do) merupakan kriteria minimum yg absolut
dibutuhkan utk menjalankan kegiatan sesuai kebutuhan & harus dipenuhi oleh
setiap dokter
Standar kriteria tambahan (Should do) merupakan kriteria-2 dari hasil riset yg
dapat dibuktikan dan penting

3. Pengumpulan data
Untuk menjamin pengumpulan data tepat dan teliti, dan hanya informasi
penting yang dikumpulkan, tentunya detail dari hal-hal yang akan di audit
ditetapkan sejak awal. Diantaranya adalah :
Kelompok yang termasuk pengguna pelayanan, dengan tanpa perkecualian
Profesional kesehatan yang termasuk pemberi pelayanan
Periode penerapan dari kriteria. Ukuran sampel dapat ditentukan menggunakan
statistik, data dapat dikumpulkan baik dengan sistem informasi komputer
maupun secara manual. Yang terpenting adalah data apakah yang akan
diambil?, dimanakah data dapat ditemukan? Dan siapakan yang akan
mengambil data?
4.Membandingkan hasil pengumpulan data dengan standar.
Tahap ini merupakan tahap analisis, dimana hasil dari pengumpulan data
dibandingkan dengan kriteria dan standar.Hasil akhir dari analisis adalah apakah
standar sudah sesuai, jika dapat diaplikasikan, identifikasi alasan
ketidaksesuaian standar dengan kasus.
5.Melakukan upaya perbaikan (Melakukan analisa kasus yg tidak sesuai dgn
standar & kriteria).
Setelah hasil audit dipublikasikan dan didiskusikan, kesepakatan
sebaiknya dibuat sebagai rekomendasi perbaikan. Rencana kegiatan dilaporkan
untuk menentukan siapa yang akan menyetujui, apa yang akan dilakukan dan
kapan akan dimulai. Tiap-tiap poin sebaiknya didefinisikan dengan jelas
termasuk nama-nama individu yang akan bertanggung jawab dan target waktu
pencapaian.
6. Tindakan korektif
7. Rencana re-audit
Aspek struktur, proses dan hasil pelayanan dipilih dan dievaluasi secara
sistematis berdasarkan kriteria eksplisit. Jika diindikasikan, upaya-upaya
perbaikan diterapkan pada tim individu atau tingkat pelayanan dan monitoring
selanjutnya digunakan untuk memberi konfirmasi adanya perbaikan dalam
pemberian pelayanan.Audit klinik adalah suatu kegiatan berkesinambungan
penilaian mutu pelayanan yang dilakukan para pemberi jasa pelayanan
kesehatan langsung (oleh dokter, perawat, dan atau profesi lain) suatu Rumah
Sakit untuk menghasilkan perbaikan-perbaikan jika hasil penilaian menunjukkan
bahwa mutu pelayanan mereka ternyata dibawah optimal. Pengertian klinik
dalam konteks ini meliputi kelompok medik dan keperawatan, dengan demikian
audit klinik dapat merupakan audit medik, audit keperawatan, atau gabungan
antara audit medik dan keperawatan.Menurut Elison, audit keperawatan secara
khusus merujuk pada pengkajian kualitas keperawatan klinis yang merupakan
upaya evaluasi secara profesional terhadap mutu pelayanan keperawatan yang
diberikan kepada pasien, dengan menggunakan rekam keperawatan dan
dilaksanakan oleh profesi keperawatan.

d.Audit manajemen personalia


Audit manajemen personalia adalah perencanaan, pengembangan,
pembagian kompensasi, penginterprestasian, dan pemeliharaan tenaga keraja
dengan maksud untuk membantu mencapai tujuan perusahaan, individu dan
masyarakat (Ranupandojo dan Husnan, 2002).
Manajemen personalia adalah ilmu seni untuk melaksanakan antara lain
perencanaan, pengorganisasian, pengawasan, sehingga efektivitas dan efisiensi
personalia dapat ditingkatkan semaksimal mungkin dalam mencapai tujuan
(Nitisemito, 1996:143).
TujuanManajemen Personalia
Tujuan manajemen personalia berhubungan dengan tujuan perusahaan
secara umum.Hal ini dikarenakan manajemen perusahaan berusaha untuk
menimbulkan efisiensi dalam bidang tenaga kerja sebagai efisiensi keuntungan
dan kontinuitas.
Tujuan manajemen personalia ada dua macam, yaitu (Manullang, 2001:165) :
1. Production Minded (efisiensi dan daya guna);
2. People Minded (Kerja sama).
Karena itu manajemen personalia ini menyangkut usaha untuk
menciptakan kondisi dimana setiap karyawan didorong untuk memberikan
sumbangan sebaik mungkin bagi majikannya, karena tidak dapat mengharapkan
efisiensi yang maksimal tanpa kerjasama yang penuh dari para karyawan.
Fungsi Manajemen Personalia
Fungsi audit manajemen personalia terdiri dari :
1. Perencanaan. Perencanaan berarti menentukan program
personalia yang akan membantu mencapai tujuan perusahaan yang telah
ditetapkan. Tujuan ini memerlukan partisipasi aktif dari manajer
personalia.
2. Pengorganisasian. Jika perusahaan telah menentukan fungsi-
fungsi yang harus dijalankan oleh karyawannya, maka manajer personalia
harus membentuk organisasi dengan merancang susunan dari berbagai
hubungan antara jabatan personalia dan faktor-faktor fisik. Organisasi
merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan.
3. Pengarahan. Apabila manajer sudah mempunyai rencana dan
sudah mempunyai organisasi untuk melaksanakan rencana tersebut,
fungsi selanjutnya adalah mengadakan pengarahan terhadap pekerjaan.
Fungsi itu berarti mengusahakan agar karyawan bekerja sama secara
efektif.
4. Pengawasan. Pengawasan adalah mengamati dan
membandingkan pelaksanaan dengan rencana dan mengoreksinya
apabila terjadi penyimpangan. Dengan kata lain pengawasan adalah
fungsi yang menyangkut masalah pengaturan berbagai kegiatan sesui
dengan rencana personalia yang dirumuskan sebagi dasar analisis dari
tujuan organisasi fundamental.
Fungsi audit manajemen personalia secara operasionalnya terdiri dari :
1. Pengadaan adalah menyediakan sejumlah tertentu karyawan dan
jenis keahlian yang diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan. Tujuan
tersebut menyangkut masalah pemenuhan kebutuhan tenaga kerja,
proses seleksi dan penempatan kerja.
2. Pengembangan karyawan yang telah diperoleh dengan malalui
pelatihan dengan tujuan untuk mengembagkan ketrampilan.
3. Pemberian kompensasi adalah pemberian penghargaan yang adil
dan layak terhadap para karyawan sesuai dengan sumbangan mereka
dalam mencapai tujuan perusahaan.
4. Pengintegrasian adalah menyangkut penyesuaian keinginan dari
individu dengan keungan pihak perusahaan dan masyarakat.
5. Pemeliharaan adalah mempertahankan dan meningkatkan kondisi
yang telah ada.
e. keselamatan
yang dimaksud dengan keselamatan pasien (patien safety) adalah proses
dalam suatu Rumah Sakit yang memberikan pelayanan pasien yang lebih aman.
Termasuk di dalamnya asesmen risiko, identifikasi, dan manajemen risiko
terhadap pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan untuk belajar dan
menindaklanjuti insiden, dan menerapkan solusi untuk mengurangi serta
meminimalisir timbulnya risiko. Standar keselamatan pasien tersebut menurut
Pasal 43 ayat (2) dilaksanakan melalui pelaporan insiden, menganalisa, dan
menetapkan pemecahan masalah dalam rangka menurunkan angka kejadian
yang tidak diharapkan.Yang dimaksud dengan insiden keselamatan pasien
adalah kesalahan medis (medical error), kejadian yang tidak diharapkan
(adverse event), dan nyaris terjadi (near miss).Untuk meningkatkan mutu
pelayanan Rumah Sakit, Menteri Kesehatan menurut Pasal 3 ayat (1) Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 1691/Menkes/Per/VIII/2011 tentang Keselamatan
Pasien Rumah Sakit, membentuk Komite Nasional Keselamatan Pasien Rumah
Sakit.Komite Nasional tersebut merupakan organisasi nonstruktural dan
independen dibawah koordinasi direktorat jenderal yang membidangi rumah
sakit, serta bertanggung jawab kepada Menteri.
Standar keselamatan pasien menurut Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 1691/Menkes/Per/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit,
Pasal 7 ayat (2) meliputi:
1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga;
3. Keselamatan pasien dalam kesinambungan pelayanan;
4. Penggunaan metode peningkatan kinerja untuk melakukan
evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien;
5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien;
6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien;dan
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai
keselamatan pasien.
Selanjutnya Pasal 8 Peraturan Menteri Kesehatan tersebut diatas
mewajibkan setiap Rumah Sakit untuk mengupayakan pemenuhan Sasaran
Keselamatan Pasien yang meliputi tercapainya 6 (enam) hal sebagai berikut:
1. Ketepatan identifikasi pasien;
2. Peningkatan komunikasi yang efektif;
3. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai;
4. Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi;
5. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan;dan
6. Pengurangan risiko pasien jatuh.
Dalam rangka menerapkan Standar Keselamatan Pasien, menurut Pasal
9 Peraturan Menteri Kesehatan tersebut diatas, Rumah Sakit melaksanakan
Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit yang terdiri dari:
1. Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien;
2. Memimpin dan mendukung staf;
3. Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan risiko;
4. Mengembangkan sistem pelaporan;
5. Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien;
6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien;dan
7. Mencegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan
pasien.
Melalui penerapan tujuh langkah tersebut diharapkan hak pasien yang
dijamin dalam Pasal 32 Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah
Sakit, terpenuhi. Hak tersebut antara lain untuk memperoleh layanan kesehatan
yang bermutu sesuai dengan standar profesi dan standar prosedural operasional
serta layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian
fisik dan materi.Asosiasirumahsakitan dan organisasi profesi kesehatan menurut
Pasal 10 Peraturan Menteri Kesehatan tentang Keselamatan Pasien Rumah
Sakit, wajib berperan serta dalam persiapan penyelenggaraan Program
Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
f.Pengertian Kepuasan Pasien
Kepuasan pelanggan adalah indikator utama dari standar suatu fasilitas
kesehatan dan merupakan suatu ukuran mutu pelayanan kepuasan pelanggan
yang rendah akan berdampak terhadap jumlah kunjungan yang akan
mempengaruhi provitabilitas fasilitas kesehatan tersebut, sedangkan sikap
karyawan terhadap pelanggan juga akan berdampak terhadap kepuasan
pelanggan dimana kebutuhan pelanggan dari waktu ke waktu akan meningkat,
begitu pula tuntutannya akan mutu pelayanan yang diberikan (Atmojo, 2006)
Menurut Irawan (2003), kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa
dari seseorang yang mendapat kesan dari membandingkan hasil pelayanan
kinerja denganharapan-harapannya. kepuasan atau ketidakpuasan merupakan
respon pelanggan sebagai hasil dan evaluasi ketidaksesuaian kinerja/tindakan
yang dirasakan sebagai akibat dari tidak terpenuhinya harapan.
Hal ini juga dinyatakan oleh Sugito (2005) yang menyebutkan bahwa
tingkat kepuasan merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang
dirasakan dengan harapan, apabila kinerja di bawah harapan maka pelanggan
akan kecewa Pada dasarnya harapan klien adalah perkiraan atau keyakinan
klien tertang pelayanan yang diterimanya akan memenuhi harapannya.
Sedangkan hasil kinerja akan dipersepsikan oleh klien.
Kesimpulan yang dapat diambil dari beberapa pengertian di atas terdapat
kesamaan pandangan bahwa kepuasan pelanggan/klien merupakan ungkapan
perasaan puas apabila menerima kenyataan / pengalaman pelayanan memenuhi
harapan klien.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Klien
Menurut Kotler & Amstrong (dalam Huriyati,2005&Rangkuti, 2006) faktor-
faktor yang mempengaruhi kepuasan berhubungan dengan tingkah laku
konsumen yaitu
a.Faktor Kebudayaan
Faktor budaya memberi pengaruh yang paling luas dan mendalam
terhadap perilaku pelanggan/klien.Faktor budaya terdiri dari beberapa komponen
yaitu budaya, sub-budaya dan kelas sosial.Budaya merupakan penentu
keinginan dan perilaku yang mendasar dalam mempengaruhi keinginan atau
kepuasan orang. Sub-budaya terdiri atasnasionalitas, agama,kelompok, ras, dan
daerah geografi. Sedangkan kelas sosial adalah sebuah kelompok yang relatif
homogen mempunyai susunan hirarki dan anggotanya memiliki nilai, minat dan
tingkah laku. Kelas sosial tidak hanya ditentukan oleh satu faktor melainkan
diukur sebagai kombinasi dari pekerjaan, pendapatan,dan variabel lainnya.
b.Faktor Sosial
Faktor sosial terbagi atas kelompok kecil, keluarga, peran dan status.
Orang yang berpengaruh kelompok/lingkungannya biasanya orang yang
mempunyai karakteristik ,keterampilan, pengetahuan,kepribadian. Orang ini
biasanya menjadi panutan karena pengaruhnya amat kuat.
c.Faktor Pribadi
Faktor pribadi merupakan keputusan seseorang dalam menerima
pelayanan dan menanggapi pengalaman sesuai dengan tahap-
tahap kedewasaannya. Faktor pribadi klien dipengaruhi oleh usia dan tahap
siklus hidup, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, gaya hidup,
dan kepribadian/konsep diri. Usia mempunyai dimensi kronologis dan intelektual,
artinya berdimensi kronologis karena bersifat progres berjalan terus dan tidak
akan kembali sedangkan usia berdimensi intelektual berkembang melalui
pendidikan dan pelatihan. Usia merupakan tanda
perkembangankematangan/kedewasaan seseorang untuk memutuskan sendiri
atas suatu tindakan yang diambilnya. Usia juga dapat meningkatkan
kemungkinan terjadinya penyakit misal penyakit kardio vaskuler dengan
peningkatan usia.Pendidikan merupakan proses pengajaran baik formal maupun
informal yang dialami seseorang.
Hasilnya akan mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang dalam
mendewasakan diri. Selain itu.pendidikan juga berkaitan dengan harapan.
Seseorang yang tingkat pendidikannya tinggi akan mengharapkan pelayanan
yang lebih baik dan lebih tinggi. Pekerjaan merupakan aktifitas jasa seseorang
untuk mendapat imbalan berupa materi dan non materi.Pekerjaan dapat menjadi
faktor risiko kesehatan seseorang dan berdampak pada sistem imunitas
tubuh.Pekerjaan ada hubungannya dengan penghasilan seseorang untuk
berperilaku dalam menentukan pelayanan yang diinginkan. Status perkawinan
sementara diduga ada kaitannya dengan gaya hidup dan kepribadian.
d. Faktor Psikologi
Faktor psikologi yang berperan dengan kepuasan yaitu motivasi, persepsi,
pengetahuan, keyakinan dan pendirian.Motivasi mempunyai hubungan erat
dengan kebutuhan.Ada kebutuhan biologis seperti lapar dan haus, ada
kebutuhan psikologis yaitu adanya pengakuan, dan penghargaan. Kebutuhan
akan menjadi motif untuk mengarahkan seseorang mencari kepuasan (Sutojo,
2003).
Menurut Kotler (200 dalam Wijono 1999) menyebutkan bahwa kepuasan
pasien dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain : pendekatan dan perilaku
petugas, perasaan klien terutama saat pertama kali datang, mutu informasi yang
diterima, outcomes pengobatan dan perawatan yang diterima, prosedur
perjanjian, waktu tunggu. Oleh karena itu kepuasan pasien merupakan respon
kebutuhan pasien terhadap keistimewaan suatu kualitas produk jasa atau
pelayanan.

g. Kenyamanan
Kenyamanandidefinisikan sebagai kondisi yang dialami oleh resipien
berdasarkan pengukuran kenyamanan.Ada tiga tipe kenyamanan (dorongan,
ketentraman dan transcendence) serta empat konteks pengalaman (fisik,
psikospiritual, sosial dan lingkungan).
Tipe-tipe kenyamaman didefiniskan sebagai berikut :
Dorongan (relief): kondisi resipien yang membutuhkan penanganan yang
spesifik dan segera.
Ketenteraman (ease): kondisi yang tenteram atau kepuasan hati.
Transcendence: kondisi dimana individu mampu mengatasi masalahnya (nyeri).
Empat konteks kenyamanan
Fisik : berkaitan dengan sensasi jasmani.
Psikospiritual : berkaitan dengan kesadaran diri, internal diri, termasuk
penghargaan, konsep diri, seksual dan makna hidup; berhubungan dengan
perintah yang terbesar atau kepercayaan.
Lingkungan : berkaitan dengan keadaan sekitarnya, kondisi-kondisi, dan
pengaruhnya.
Sosial : berkaitan dengan hubungan interpersonal, keluarga, dan sosial.
Teori kenyamanan meliputi tiga tipe alasan logis:
A.Induction
Induksi terjadi setelah terjadi proses generalisasi dari pengamatan
terhadap objek yang spesifik (Bishop & Hardin, 2006). Ketika perawat mendalami
tentang praktek keperawatan dan keperawatan sebagai disiplin, perawat
menjadi familiardengan konsep implisit atau eksplisit, term, proposisi, dan
asumsi yang mendukung praktik keperawatan.

B.Deduction
Deduksi merupakan proses penyimpulan prinsip atau premis yang bersifat
general menjadi kesimpulan yang lebih spesifik (Bishop & Hardin, 2006).
Tahapan deduktif dari perkembangan teori menghasilkan
hubungan comfortdengan konsep lain untuk menghasilkan sebuah teori.
Pendapat dari ketiga theoristdisertakan dalam teori comfort, oleh karena itu
Kolcaba mencari bentuk dasar yang dibutuhkan untuk menyatukan ketiga
konsep dasar: relief, ease, dan transcendence.Sesuatu hal yang diinginkan
adalah suatu kerangka konsep general yang mampu
menjelaskan comfort menjadi istilah yang lebih mudah dipahami dan mengurangi
tingkat abstraksinya (Tomey & Alligood, 2010).
C.Retroduction
Retroduction digunakan untuk menyeleksi fenomena yang sesuai untuk
dikembangkan lebih luas untuk kemudian diuji kembali. Tipe ini diaplikasikan
dalam area yang hanya memiliki beberapa teori (Bishop & hardin, 2006).. Hasil
yang diharapkan dari pemberian intervensi keperawatan adalah diperolehnya
kenyamanan pasien yang dapat dilihat dari persepsi yang dikemukakan oleh
pasien.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Manajemen Mutu dalam Pelayanan Keperawatan merupakan suatu
pelayanan keperawatan yang komprehensif meliputi bio-psiko-sosio-spiritual
yang diberikan oleh perawat profesional kepada pasien (individu, keluarga
maupun masyarakat) baik sakit maupun sehat, dimana perawatan yang
diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien dan standar pelayanan. Secara
sederhana proses kendali mutu ( Quality Control ) dimulai dari menyusun
strandar standar mutu, selanjutnya mengukur kinerja dengan membandingkan
kinerja yang ada dengan standar yang telah ditetapkan. Apabila tidak sesuai,
dilakukakn tindakan koreksi.Bila diinginkan peningkatan kinerja perlu menyusun
standar baru yang lebih tinggi dan seterusnya
Dalam Manajemen Mutu dalam Pelayanan Keperawatan ada beberapa
Dimensi mutu yang mencerminkan segala pelayanan keperawatan tersebut
diantaranya yaitu Dimensi Tangible atau bukti fisik, Dimensi Reliability atau
keandalan, Dimensi Responsiveness atau ketanggapan, Dimensi Assurance
atau jaminan dan kepastian, dan Empati.

B. Saran
Adapun saran yang diharapkan penulis kepada pembaca agar pembaca
dapat mulai menerapkan manajemen mutu di kehidupan sehari-hari.Mulai
meningkatkan manajemen mutu dan dapat menjaga kualitas mutu dengan
sebaik mungkin.Terutama manajemen mutu dalam pelayanan keperawatan yang
diberikan kepada klien maupun pasien sehingga dapat menjadi perawat yang
professional.

DAFTAR PUSTAKA

Maequis, Bessie L.2010.Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan:teori


&aplikasi.Ed.4.Jakarta.EGC
Kuntoro, agus. 2010. buku ajar menejemen keperawatan. Yogyakarta : nuha
medika
Nursalam.2002.Manajemen Keperawatan; Aplikasi pada praktek perawatan profesional.Jakarta:
Salemba Medika
Handoko, T.(1997). Manajemen.Yogyakarta : BPFE
Swansburg, R., (2000) , Pengantar kepemimpinan dan manajemen keperawatan untuk
perawat klinis. Jakarta :EGC
Menurut Kotler & Amstrong (dalam Huriyati,2005&Rangkuti, 2006)

Wijono, Djoko. 1999. Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan Vol.1. Surabaya :


Airlangga University Press.