Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagaimana kita ketahui bahwa salah satu sasaran Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Sasaran
Pembangunan Milenium dahulu (MDGs 2015) adalah menurunnya prevalensi
gizi kurang pada anak balita menjadi di bawah 15% pada tahun 2014 (Depkes
RI, 2012). Dalam bidang perbaikan gizi terdapat 2 (dua) indikator keluaran,
yaitu balita gizi buruk mendapat perawatan sebesar 100% dan cakupan
penimbangan balita di Posyandu sebesar 85%.(1)
Sejak dicanangkan program posyandu pada tahun 1986, berbagai hasil
telah banyak dicapai dintaranya angka kematian ibu dan bayi telah berhasil
diturunkan. Secara kuantitas, perkembangan jumlah posyandu sangat
meningkat yaitu sebanyak 266.867 dari 25.000 posyandu ada tahun 1986.
Namun, dilihat dari segi kualitas, masih ditemukan banyak masalah antara lain
kelengkapan sarana dan ketrampilan kader yang belum memadai.(2)
Kegiatan bulanan di Posyandu merupakan kegiatan rutin yang bertujuan
untuk : memantau pertumbuhan berat badan balita dengan menggunakan Kartu
Menuju Sehat (KMS), memberikan konseling gizi, dan memberikan pelayanan
gizi dan kesehatan dasar. Untuk tujuan pemantauan pertumbuhan balita
dilakukan penimbangan balita setiap bulan. Berdasarkan garis pertumbuhan
pada KMS dapat dinilai apakah berat badan anak hasil penimbangan dua bulan
berturut turut : Naik (N) atau Tidak Naik (T).(3)
Posyandu memiliki beberapa kegiatan, salah satu kegiatan
bulanan(kegiatan rutin) yang dilakukan yaitu memantau pertumbuhan berat
badan balita dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS). Pemantauan
pertumbuhan balita dilakukan karena kelompok umur balita menunjukkan
pertumbuhan badan yang sangat pesat, serta merupakan kelompok yang paling
sering menderita akibat kekurangan gizi. Ibu yang tidak menimbang balitanya
ke Posyandu secara rutin dapat menyebabkan tidak terpantaunya pertumbuhan

1
dan perkembangan balita, sehingga beresiko terjadinya gangguan pertumbuhan
dan mengalami gizi buruk (1,4).
Peran serta masyarakat menjadi begitu penting sejak dikembangkannya
Posyandu sebagai sarana pendidikan dan pelayanan gizi kepada para ibu agar
lebih sadar gizi, karena dengan adanya partisipasi masyarakat akan
berpengaruh besar terhadap peningkatan status gizi balita2.
Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Provinsi seluruh Indonesia cakupan
D/S tahun 2001 mencapai 71,4%.(1) Pada wilayah kerja puskesmas Karang
Taliwang tahun 2015, cakupan D/S telah mencapai target sebanyak >80%,
namun di salah satu wilayah kerja puskesmas karang taliwang, yaitu di
kampung jawa pada bulan februari ini, cakupan D/S kurang dari target yaitu
masih dibawah 80%. Oleh karena itu, perlu dilakukan identifikasi faktor-faktor
penyebab rendahnya kunjungan Posyandu di daerah kampung jawa wilayah
kerja puskesmas karang taliwang tersebut2.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, maka rumusan masalah dalam
kegiatan ini adalah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat kunjungan
balita ke posyandu kampung jawa wilayah kerja puskesmas karang taliwang?

1.3 Tujuan Kegiatan


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi ibu
balita ke Posyandu Kampung Jawa wilayah Puskesmas Karang Taliwang.

1.3.2 Tujuan Khusus


a. Mengetahui gambaran partisipasi ibu balita ke Posyandu Kampung Jawa
wilayah kerja Puskesmas Karang Taliwang
b. Mengetahui gambaran pendidikan ibu balita di lingkungan Kampung Jawa,
kelurahan Cakranegara Barat, Wilayah Kerja Puskesmas Karang Taliwang
dan hubungannya dengan partisipasi ibu balita ke posyandu

2
c. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu balita tentang posyandu di
lingkungan Kampung Jawa, kelurahan Cakranegara Barat, Wilayah Kerja
Puskesmas Karang Taliwang dan hubungannya dengan partisipasi ibu balita
ke posyandu
d. Mengetahui gambaran sikap ibu balita di lingkungan Kampung Jawa,
kelurahan Cakranegara Barat, Wilayah Kerja Puskesmas Karang Taliwang
dan hubungannya dengan partisipasi ibu balita ke posyandu
e. Mengetahui gambaran status bekerja ibu balita di lingkungan Kampung Jawa,
kelurahan Cakranegara Barat, Wilayah Kerja Puskesmas Karang Taliwang
dan hubungannya dengan partisipasi ibu balita ke posyandu
f. Mengetahui gambaran pendapatan keluarga ibu balita di lingkungan Kampung
Jawa, kelurahan Cakranegara Barat, Wilayah Kerja Puskesmas Karang
Taliwang dan hubungannya dengan partisipasi ibu balita ke posyandu
g. Mengetahui gambaran jarak tempuh ibu balita dari rumah ke posyandu di
lingkungan Kampung Jawa, kelurahan Cakranegara Barat, Wilayah Kerja
Puskesmas Karang Taliwang dan hubungannya dengan partisipasi ibu balita
ke posyandu
h. Mengetahui gambaran perilaku kader terhadap kegiatan posyandu di
lingkungan Kampung Jawa, kelurahan Cakranegara Barat, Wilayah Kerja
Puskesmas Karang Taliwang dan hubungannya dengan partisipasi ibu balita
ke posyandu
i. Mengetahui gambaran perilaku petugas kesehatan terhadap kegiatan posyandu
di lingkungan Kampung Jawa, kelurahan Cakranegara Barat, Wilayah Kerja
Puskesmas Karang Taliwang dan hubungannya dengan partisipasi ibu balita
ke posyandu

1.4 Manfaat Kegiatan


1. Bagi Posyandu Kampung Jawa
Sebagai masukan tentang cakupan kunjungan Posyandu balita, partisipasi ibu
balita terhadap kunjungan ke Posyandu dan sebagai masukan untuk perencanaan
kegiatan dimasa mendatang.
2. Bagi Puskesmas Karang Taliwang

3
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam rangka
meningkatkan program pelayanan penimbangan balita.
3. Bagi Instansi Pendidikan
Sebagai bahan bacaan dan referensi bagi perpustakaan di Instansi Pendidikan.
4. Bagi Masyarakat
Memberikan beberapa informasi kepada ibu balita mengenai pentingnya
membawa anak mereka ke Posyandu sehingga akan meningkatkan kesadaran
mengenai kesehatan.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Gambaran Umum Puskesmas Karang Taliwang


2.1.1. DATA GEOGRAFI
Puskesmas Karang Taliwang adalah salah satu Puskesmas dari 11 Puskesmas
yang ada di wilayah Kota Mataram, yang terletak paling tengah dari Kota
Mataram, terletak di Kecamatan Cakranegara yang merupakan pusat
perdagangan/ekonomi berlokasi di Jalan Ade Irma suryani No: 60 Karang
Taliwang Cakranegara.
1. Batas Wilayah
- Sebelah Timur : Kelurahan Selagalas
- Sebelah Barat : Kelurahan Mataram Timur
- Sebelah Utara : Kelurahan Sayang-sayang
- Sebelah Selatan : Kelurahan Abian Tubuh Baru
2. Luas Wilayah Kelurahan dan Jumlah Lingkungan
Tabel 1. Data Demografi/luas wilayah kerja Puskesmas Karang Taliwang
Menurut Kelurahan Tahun 2014

JUMLAH LUAS
NO KELURAHAN TOPOGRAFI
LINGKUNGAN WILAYAH

1 Cakra Barat 9 51.337 Dataran

2 Cilinaya 10 128.941 Dataran

3 Sapta Marga 7 40.000 Dataran

4 Cakra Utara 4 103.475 Dataran

5 Karang Taliwang 3 66.150 Dataran

6 Mayura 7 110000 Dataran

Total 40 499.903 M2

Dari 6 kelurahan yg terdapat di wilayah kerja Puskesmas Karang Taliwang


kelurahan Cilinaya yang paling luas wilayahnya dengan luas 128.941 m2 dan

5
kelurahan Sapta Marga yang paling kecil wilayahnya dengan luas 40.000 m2 ,
dengan total luas wilayah 6 kelurahan sebesar 499.903 m2.

2.1.2. DATA DEMOGRAFI


Jumlah Penduduk dan Kepala Keluarga
Dari 6 kelurahan yang paling padat jumlah penduduknya adalah kelurahan
Cakra Barat dengan jumlah penduduk sebesar 7122 orang dibandingkan luas
wilayahnya yang hanya 51.337 m2 dan kelurahan yang paling sedikit jumlah
penduduknya adalah kelurahan Mayura yang hanya 5602 org dengan luas wilayah
110.000 m2. Gambarannya sebagai berikut.

Tabel 2. Data Jumlah Penduduk Wilayah Kerja PKM Karang Taliwang


JUMLAH JUMLAH KEPALA
NO KELURAHAN KET.
PENDUDUK KELUARGA ( KK )
1 Cakra Barat 7122 2151
2 Cilinaya 7018 2116
3 Sapta Marga 7038 1583
4 Cakra Utara 5784 1452
5 Kr Taliwang 6483 1677
6 Mayura 5602 1842

Total 39047 10821

2.1.3. DATA KESEHATAN

Tabel 3. Data Sarana Posyandu wilayah kerja Puskesmas Karang Taliwang


menurut Kelurahan Tahun 2014
JUMLAH KADER STRATA POSYANDU
NO KELURAHAN
POSYANDU AKTIF PRATAMA MADYA PURNAMA MANDIRI
1 Cakra Barat 11 55 0 8 3 0
2 Cilinaya 11 39 8 2 1 0
3 Sapta Marga 9 39 5 2 2 0
4 Cakra Utara 6 30 0 5 0 1
5 Kr Taliwang 4 17 4 0 0 0

6
6 Mayura 7 21 7 0 0 0
TOTAL 48 201 24 17 6 1

Tabel 4. Data Sarana Kesehatan wilayah kerja Puskesmas Karang Taliwang


Menurut Kelurahan Tahun 2014
SARANA KESEHATAN
NO KELURAHAN RUMAH
PUSTU POKESDES PUSKESMAS
SAKIT
1 Cakra Barat 1 - - -
2 Cilinaya - - - 1
3 Sapta Marga - - - -
4 Cakra Utara - 1 - -
5 Kr Taliwang - - 1 -
6 Mayura - - - -
Total 1` 1 1 1

Daftar Fasilitas Kesehatan yang ada di Wilayah Puskesmas Karang Taliwang :


Rumah Sakit : 1 buah
Dokter UmumPraktek Swasta : 5 buah
Dokter Gigi Praktek swasta : 0 buah
Dokter Spesialis Praktek Swasta : 0 buah
Bidan Praktek Swasta : 0 buah
Puskesmas : 1 buah
Puskesmas Pembantu : 1 buah
Posyandu : 41 buah
Pokesdes : 1 buah
Ambulance : 1 buah
Puskel ` : 1 buah

7
2.2. Posyandu
2.2.1 Definisi
Posyandu singkatan dari pos pelayanan terpadu merupakan organisasi
kemasyarakatan ditingkat dusun yang dikelola oleh masyarakat untuk masyarakat
yang memberikan pelayanan KIA, KB, Gizi, Pelayanan kesehatan ringan,
Penanggulangan diare.(5)
2.2.2 Tujuan Penyelenggaraan Posyandu
Posyandu diselenggarakan dengan tujuan sebagai berikut : (6)
1. Menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Ibu (Ibu Hamil,
melahirkan dan nifas).
2. Mempercepat penerimaan Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera
(NKKBS), sebagai salah satu upaya mewujudkan derajat kesehatan
masyarakat yang optimal dan merupakan salah satu unsur kesejahteraan
umum dari tujuan nasional.
3. Meningkatkan peran serta dan kemampuan masyarakat untuk
mengembangkan kegiatan kesehatan dan keluarga berencana (KB) beserta
kegiatan lainnya yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat
sejahtera.
2.2.3 Sasaran Posyandu
Posyandu merupakan program pemerintah dibidang kesehatan, sehingga
semua anggota masyarakat dapat memanfaatkan Pos Pelayanan Terpadu
(Posyandu) terutama 2 :
1. Bayi (dibawah satu tahun)
2. Balita (dibawah lima tahun)
3. Ibu hamil, ibu melahirkan, ibu nifas, dan ibu menyusui
4. Pasangan Usia Subur (PUS)
Program Posyandu ini ditujukan untuk memperbaiki kualitas pertumbuhan
dan kesehatan ibu dan anak.
2.2.4 Penyelenggaraan Posyandu
Kegiatan rutin posyandu diselenggarakan dan diminati oleh kader
posyandu dengan bimbingan teknis dari puskesmas dan sektor terkait, jumlah
minimal kader untuk setiap posyandu adalah 5 orang, jumlah ini sesuai dengan

8
jumlah kegiatan utama yang dilaksanakan oleh posyandu, yakni mengacu pada
sistem 5 meja 2.
Yang bertindak sebagai pelaksana Posyandu adalah kader, kader posyandu
dipilih oleh pengurus dari anggota masyarakat yang tersedia, mampu dan
memiliki waktu untuk menyelenggarakan kegiatan posyandu2.
2.2.5 Kegiatan posyandu
Menurut Depkes RI (2006), kegiatan Posyandu terdiri dari kegiatan utama
dan kegiatan pengembangan/pilihan. Kegiatan utama Posyandu yaitu :2
1. Kegiatan ibu dan anak (KIA)
a. Ibu Hamil
pelayanan yang diselenggarakan untuk ibu hamil mencakup:
- Penimbangan berat badan dan pemberian tablet besi yang dilakukan kader
kesehatan
- Untuk lebih meningkatkan kesehatan ibu hamil, perlu diselenggarakan
kelompok ibu hamil pada setiap hari buka Posyandu atau pada hari lain
sesuai dengan kesepakatan.
b. Ibu nifas dan Menyusui
Pelayanan yang diselenggarakan untuk ibu nifas dan menyusui mencakup
yaitu: penyuluhan kesehatan meliputi (KB, ASI, dan gizi, ibu nifas, perawatan
kebersihan jalan lahir), pemberian vitamin A dan tablet besi, perawatan payudara
dan senam ibu nifas.
c. Bayi dan Anak Balita
Pelayanan Posyandu untuk balita harus dilaksanakan secara
menyenangkan dan memacu kreatifitas tumbuh kembang anak. Jika ruang
pelayanan memadai, pada waktu menunggu giliran pelayanan, anak balita
sebaiknya tidak digendong melainkan dilepas bermain sesama balita dengan
pengawasan orang tua di bawah bimbingan kader. Oleh karena itu, perlu
disediakan sarana permainan yang sesuai dengan umur balita.
Jenis pelayanan yang diselenggarakan Posyandu untuk balita mencakup:
- Penimbangan berat badan
- Penentuan status pertumbuhan
- Penyuluhan

9
- Pemeriksaan kesehatan, imunisasi, deteksi dini tumbuh kembang. Apabila
ditemukan kelainan segera dirujuk ke puskesmas
2. Keluarga Berencana (KB)
Pelayanan KB di posyandu dapat diselenggarakan oleh kader yaitu
pemberian kondom dan pemberian pil ulangan
3. Imunisasi
Pelayanan imunisasi di Posyandu hanya dilaksanakan apabila ada petugas
puskesmas. Jenis imunisasi yang diberikan disesuaikan dengan program, baik
terhadap bayi dan balita maupun terhadap ibu hamil
4. Gizi
Pelayanan gizi di Posyandu dilakukan oleh kader. Sasarannya adalah bayi,
balita, ibu hamil dan WUS. Jenis pelayanan yang diberikan meliputi
penimbangan berat badan, deteksi dini gangguan pertumbuhan, penyuluhan
gizi,pemberian IMT, pemberian vitamin A,dan pemberian sirup Fe.
5. Pencegahan dan penanggulangan diare
Pencegahan diare di posyandu dilakukan dengan penyuluhan Perilaku
Hidup Berssih dan Sehat (PHBS). Sedangkan penanggulangan diare dapat
dengan memberikan penyuluhan, pemberian larutan gula garam yang dapat
dibuat sendiri oleh masyarakat atau pemberian Oralit yang disediakan.

Beberapa kegiatan pengembangan/tambahan Posyandu yang telah


diselenggarakan antara lain:2
a) Bina Keluarga Balita (KBG)
b) kelompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak (KP-KIA)
c) Penemuan dini dan pengamatan penyakit potensial Kejadian Luar Biasa
(KLB) misalnya: ISPA, DBD, gizi buruk, polio, campak, difteri, pertusis,
tetanus neonatorum.
d) Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD)
e) Usaha Kesehatan Gizi Masyarakat Desa (UKGMD)
f) Penyediaan Air Bersih dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PAB-PLP)
g) Program diversifikasi tanaman pangan dan pemanfaatan pekarangan, melalui
Tanaman Obat Keluarga (TOGA)

10
h) Desa Siaga
i) Pos Malaria Desa (Posmaldes)
j) Kegiatan ekonomi produktif, seperti: Usaha Pendapatan Keluarga (UP2K),
usaha simpan pinjam
k) Tabungan Ibu Bersalin (Tabulin), Tabungan Masyarakat (Tabumas)

2.2.6 Kegiatan Posyandu yang mendukung peningkatan status gizi


Kegiatan bulanan di Posyandu merupakan kegiatan rutin yang
bertujuan untuk :memantau pertumbuhan berat badan balita dengan
menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS), memberikan konseling gizi, dan
memberikan pelayanan gizi dan kesehatan dasar. Untuk tujuan pemantauan
pertumbuhan balita dilakukan penimbangan balita setiap bulan. Di dalam
KMS berat badan balita dilakukan penimbangan balita setiap bulan. Di
dalam KMS berat badan balita hasil penimbangan bulan diisikian dengan
titik dan dihubungkan dengan garis sehingga membentuk garis pertumbuhan
anak. Berdasarkan garis pertumbuhan ini dapat dinilai apakah berat badan
anak hasil penimbangan dua bulan berturut turut : Naik (N) atau Tidak
Naik (T) dengan cara yang telah ditetapkan dalam buku panduan Penggunaan
KMS Bagi Petugas Kesehatan. Selain informasi N dan T, dari kegiatan
penimbangan dicatat pula jumlah anak yang datang ke posyandu dan
ditimbang (D), jumlah anak yang tidak ditimbang bulan lalu (O), jumlah anak
yang baru pertama kali ditimbang (B), dan banyaknya anak yang berat
badannya dibawah garis merah (BGM). Catatan lain yang ada di posyandu
adalah jumlah seluruh balita yang ada di wilayah kerja posyandu (S), dan
jumlah balita yang memiliki KMS pada bulan yang bersangkutan.
Data yang tersedia di posyandu dapat dibagi menjadi dua kelompok
sesuai dengan fungsinya, yaitu :
1. Kelompok data yang dapat digunakan untuk pemantauan pertumbuhan
bahwa, baikuntukpenilaian keadaan pertumbuhan individu (N atau T dan
BGM), dan penilaian keadaan pertumbuhan balita di suatu wilayah (% N/D).
2. Kelompok data yang digunakan untuk tujuan pengelolaan
program/kegiatan di posyandu (% D/S dan % K/S).(4)

11
2.2.7 Indikator Dalam Kegiatan Posyandu
Ada beberapa indikator dalam kegiatan posyandu antara lain :
1. Liputan Program (K/S)
Merupakan indikator mengenai kemampuan program untuk
menjangkau balita yang ada di masing-masing wilyah. Diperoleh dengan cara
membagi jumlah balita yang ada dan mempunyai Kartu Menuju Sehat
(KMS) dengan umlah keseluruhan balita dikalikan 100%.
2. Tingkat Kelangsungan Penimbangan (K/D)
Merupakan tingkat kemantapan pengertian dan motivasi orang tua
balita untuk menimbang setiap bulannya.Indikator ini dapat dengan cara
membagi jumlah balita yang ditimbang (D) dengan jumlah balita yang
terdaftar dan mempunyai KMS (K) dikalikan 100 %.
3. Hasil Penimbangan (N/D)
Merupakan indikator keadaan gizi balita pada suatu waktu (bulan) di
wilayah tertentu. Indikator ini didapat dengan membagi jumlah balita yang
naik berat badannya (N) dengan jumlah balita yang ditimbang bulan ini (D).
4. Hasil Pencapaian Program (N/S)
Indikator ini di dapat dengaan cara membagi jumlah balita yang
naik berat badannya (N) dengan jumlah seluruh balita (S) dikalikan 100 %.
5. Partisipasi Masyarakat (D/S)
Indikator ini merupakan keberhasilan program posyandu, karena
menunjukkan sampai sejauh mana tingkat partisipasi masyarakat dan orang
tua balita pada penimbangan balita di posyandu. Indikator ini di peroleh
dengan cara membagi jumlah balita yang ditimbang (D) dengan jumlah
seluruh balita yang ada (S) dikaikan 100%.(4)
Tinggi rendahnya indikator ini dipengaruhi oleh aktif tidaknya bayi
dan balita ditimbangkan tiap bulannya.
Istilah dalam Posyandu :
N : Naik
T : Turun / tetap
O : Absen, bulan lalu absen bulan ini datang ke posyandu

12
B : Baru, bayi/balita yang datang pertama kali di posyandu(4)

2.3. Partisipasi Masyarakat


2.3.1 Definisi
Secara umum partisipasi masyarakat merupakan suatu bentuk keterlibatan
secara aktif dari masyarakat dalam segala bisang kehidupan. Hal ini berkaitan
dengan pengertian partisipasi yang dikemukakan dalam Kamus Besar Bahasa
Insonesia tahun 2005 yang menyatakan partisipasi sebagai hal turut berperan serta
dalam suatu kehiatan.
Menurut Notoatmodjo (2007), partisipasi masyarakat adalah ikut sertanya
seluruh anggota masyarakat dalam memecahkan permasalahan-permasalahan
masyarakat tersebut. Partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan berarti
keikutsertaan seluruh anggota masyarakat dalam memecahkan masalah kesehatan
yang mereka hadapi sendiri baik masalah keluarga maupun masyarakat itu
sendiri7.
Partisipasi masyarakat umumnya dipandang sebagai suatu bentuk perilaku.
Salah sayu bentuk perilaku kesehatan adalah partisipassi ibu balita dalam program
posyandu,yang diwujudkan dengan membawa anak mereka untuk ditimbang berat
badannya ke posyandu secara teratur setiap bulan, karena perilaku keluarga sadar
gizi (keluarga yang mampu mengenal, mencegah dan mengatasi masalah gizi
setiap anggotanya) salah satunya dapat dilihat dari indikator menimbang berat
badan balita secara teratur ke Posyandu. Penimbangan balita dikatakan baik
apabila minimal empat kali ditimbang ke Posyandu secara berturut-turut dalam
enam bulan dan dikatakan tidak baik jika kurang dari empat kali secara berturut-
turut ke Posyandu dalam enam bulan 2.
Mengingat pentingnya partisipasi masyarakat atau peran serta masyarakat
sehingga diatur UU nomor 36 2009 Bab XVI, dicantumkan tentang peran serta
masyarakat dan salah satu pasalnya yaitu pasal 174 ayat (1) yang menyatakan
bahwa masyarajat memilikikesempatan untuk berperan serta dalam rangka
membantu mempercepat pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya, artinya peran serta masyarakat atau partisipasi masyarakat khususnya
dalam pembangunan dilindungi oleh undang-undang.

13
2.3.2 Dasar-Dasar Filosofi Partisipasi
Dalam hubungannya dengan fasilitas dan tenaga kesehatan, pasrtisipasi
masyarakat dapat diarahkan untuk mencukupi kelangkaan tersebut. Dengan kata
lain, pasrtisipasi masyarakat dapat menciptakan fasilitas dan tenaga kesehatan.
Pelayanan kesehatan yang diciptakan dengan adanya partisipasi masyarakat
didasarkan kepada idealisme7:
1. Community felt need
Apabila pelayanan itu diciptakan oleh masyarakat sendiri, ini berarti bahwa
masyarakat itu memerlukan pelayanan tersebut. Sehingga adanya pelayanan
kesehatan bukan karena diturunkan dari atas, yang belum dirasakan perlunya,
tetapi tumbuh dari bawah yang diperlukan masyarakat dan untuk masyarakat.
2. Organisasi pelayanan kesehatan masyarakat yang berdasarkan partisipasi
masyarakat adalah salah satu bentuk pengorganisasian masyarakat.Hal ini
berarti bahwa pelayanan kesehatan itu timbul dari masyarakat sendiri.
3. Pelayanan kesehatan tersebut akan dikerjakan oleh masyarakat sendiri.
Artinya tenaganya dan penyelenggaraannya akan ditangani oleh anggota
masyarakat itu sendiri yang dasarnya sukarela.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa filosofi partisipasi masyarakat


dalam pelayanan kesehatan masyarakat adalah terciptanya suatu pelayanan untuk
masyarakat, dari masyarakat oleh masyarakat.

2.3.3 Tahap-Tahap Partisipasi


Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengajak atau menumbuhkan partisipasi
masyarakat, yaitu dengan dua cara 7:
1. Partisipasi dengan paksaan
Artinya memaksa masyarakat untuk berkontribusi dalam suatu program, baik
melalui perunadang-undangan, peraturan-peraturan maupun dengan perintah
lisan saja. Cara ini akan lebih cepat hasilnya dan mudah. Tetapi masyarakat
akan takut, merasa dipaksa dan kaget karena dasarnya bukan kesadaran tetapi
ketakutan. Akibatnya masyarakat tidak akan mempunyai rasa memiliki
terhadap program.

14
2. Partisipasi dengan persuasi dan edukasi
Yaitu suatu partisipasi yang didasari pada kesadaran, sukar ditumbuhkan dan
akan memakan waktu yang lama. Tetapi bila tercapai hasilnya akan
mempunyai rasa memiliki dan rasa memelihara. Partisipasi ini dimulai dengan
penerangan, pendidikan, dan sebagainya, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Persyaratan utama masyarakat untuk berpartisipasi adalah motivasi.
Tanpa motivasi, masyarakat sulit untuk berpartisipasi disegala program.
Timbulnya motivasi harus dari masyarakat itu sendiri dan pihak luar hanya
merangsangnya saja. Untuk itu, pendidikan kesehatan sangat diperlukan dalam
rangka merangsang tumbuhnya motivasi.

2.4. Perilaku Kesehatan


Perilaku kesehatan adalah semua aktivitas atau kegiatan seseorang, baik
yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati, yang berkaitan dengan
pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. pemeliharaan kesehatan ini mencakup
mencegah atau melindungi diri dari penyakit dan masalah kesehatan lain,,
meningkatkan kesehatan dan mencari penyembuhan apabila sakit atau terkena
masalah kesehatan. Salah satu bentuk perilaku kesehatan disini adalah partisipasi
ibu balita dalam program Posyandu, yang diwujudkan dengan membawa anak
balita mereka untukditimbang berat badannya ke Posyandu secara teratur setiap
bulan.7
Perilaku manusia adalah sangat kompleks, dilihat dari berbagai sudut
pandang.Perilaku seseorang atau subjek dipengaruhi atau ditentukan oleh faktor-
faktor baik dari dalam maupun dari luar subjek. 8
Menurut teori Lawrence Green (1980) yang dikutip dalam Notoatmodjo (2005),
dalam mendiagnosa perilaku kesehatan seseorang dipengaruhi oleh tiga faktor
utama, yaitu:7,8
1. Faktor Predisposisi (Predisposing Factors)
Faktor yang mendahului terhadap perilaku yang menjadi dasar atau motivasi
perilaku, juga sebagai faktor yang mempermudah terjadinya perilaku seseorang
antara lain: pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai, budaya dan
lain-lain berkenaan dengan motivasi seseorang atau kelompok untuk bertindak.

15
Misalnya, seorang ibu mau membawa anaknya ke Posyandu, karena tahu bahwa
di Posyandu anaknya akan dilakukan penimbangan untuk mengetahui
pertumbuhannya. Tanpa adanya pengetahuan ini, ibu tersebut mungkin tidak
akanmembawa anaknya ke posyandu.
Dalam arti umum, dapat dikatakan faktor predisposisi sebagai preferensi
(pribadi) yang dibawaseseorang atau kelompok ke dalam suatu pengalaman
belajar. Preferensi ini mungkin mendukung atau menghambat perilaku sehat, dan
dalam setiap kasus faktor ini mempunyai pengaruh. Meskipun berbagai faktor
demografis seperti umur, jenis kelamin, juga sangat penting sebagai faktor
predisposisi.
2. Faktor Pemungkin (Enabling Factors)
Faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas (yang
memfasilitasi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat). Pengetahuan dan
sikap saja tidak menjamin terjadinya perilaku, maka masih diperlukan sarana atau
fasilitas untuk memungkinkan atau mendukung perilaku tersebut. Dari segi
kesehatan masyarakat, agar masyarakat mempunyai perilaku sehat harus terakses
(terjangkau) sarana dan prasarana atau fasilitas pelayanan kesehatan. Misalnya
seorang ibu mau membawa anaknya ke Posyandu tidak hanya karena ia tahu dan
sadar akan manfaat melainkan juga ibu tersebut dapat dengan mudah memperoleh
sarana dan fasilitas, misalnya KMS dan gedung posyandu. Fasilitas ini hakikatnya
mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan, maka faktor-
faktor ini disebut faktorpendukung atau pemungkin.
3. Faktor Penguat (Reinforcing Factors)
Untuk berperilaku sehat, terkadang masyarakat tidak hanya memerlukan
pengetahuan dan sikap positif serta dukungan fasilitas saja, melainkan juga
diperlukanperilaku contoh (acuan) dari para petugas terlebih lagi petugas
kesehatan, kader dan tokoh masyarakat.
Faktor penguat adalah faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya
perilaku, juga sebagai faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan
memperoleh dukungan atau tidak. Faktor yang termasuk disini yaitu faktor sikap
dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan, kader dan tokoh
masyarakat. Disamping itu undang-undang, peraturan-peraturan, baik dari pusat

16
maupun pemerintah daerah, yangterkait dengan kesehatan juga diperlukan untuk
memperkuat perilaku masyarakat tersebut.
2.5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Ibu ke Posyandu
2.5.1 Umur Ibu
Umur dapat mempengaruhi seseorang berperilaku. Kematangan dalam
mengambil keputusan salah satunya dipengaruhi oleh faktor umur, semakin
bertambah umur secara psikologis maka kedewasaan seseorang dalam bertindak
semakin baik. Hurlock (1998) dalam Yamin 2003) menggambarkan bahwa umur
ibu yang memiliki balita dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu usia muda
(<20 tahun), dewasa dini (20-29tahun) dan dewasa madya (30-40 tahun). Dengan
kata lain bahwa semakin dewasa umur seseorang, maka akan semakin baik
perilakunya. Demikian juga dengan umur ibu, semakin dewasa umurnya maka
akan semakin meningkat motivasinya dalam memanfaatkan Posyandu 7,8.
Umur berpengaruh terhadap terbentuknya kemampuan, karena kemampuan
yang dimiliki dapat diperoleh melalui pengalaman sehari-hari di luar faktor
pendidikannya . Umur orang tua terutama ibu yang relatif muda, cenderung untuk
mendahulukan kepentingan sendiri. Sebagian besar ibu yang masih muda
memiliki sedikit sekali pengetahuan tentang gizi dan pengalaman dalam
mengasuh anak 4.
Ibu yang relatif muda cenderung kurang memiliki pengetahuan dan
pengalaman dalam mengasuh anak sehinnga umumnya mereka mengasuh dan
merawat anak didasarkan pada pengalaman orang tuanya terdahulu 4.
Sebaliknya pada ibu yang lebih berumur cenderung akan menerima dengan
senang hati tugasnya dan sebagai ibu yang lebih berumur cenderung akan
menerima dengan senang hati tugasnya sebagai ibu sehingga akan mempengaruhi
pula terhadap kualitas dan kuantitas pengasuhan anak 4.
Umur akan berpengaruh terhadap perilaku seseorang seiring dengan
perkembangan fisik dan mental orang tersebut sehingga perilakunya akan semakin
matang dengan bertambahnya umur (Gunarsa,2000). Penelitian Anderson dan
Andersen (1972). Mc Kinlay (1972) dan Aday Eichhorn (1972) mengenai
penggunaan atau pemanfaatan pelayanan kesehatan menunjukkan bahwa

17
pelayanan kesehatan lebih banyak dimanfaatkan oleh orang yang berusia sangat
muda (anak-anak) dan berusia tua 9.
Berdasarkan hasil penelitian Yamin (2003) menunjukkan adanya hubungan
bermakna antara umur ibu dengan pemanfaatan pelayanan Posyandu Balita. Dari
hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ibu balita yang berusia > 30 tahun
memiliki tingkat pemanfaatan posyandu baik dibandingkan dengan kelompok usia
ibu 30 tahun9.
2.5.2 Pendidikan Ibu
Pendidikan adalah suatu proses penyampaian bahan atau materi oleh
pemberi bahan atau materi kepada sasaran guna mencapai perubahan tingkat lalu.
7,8,9

Tingkat pendidikan seseorang dapat dilihat berdasarkan lamanya atau jenis


pendidikan yang dialami seseorang. Pendidikan dapat berfungsi sebagai dasar
seseorang untuk berperilaku sesuai dengan tingkatan dan jenis pendidikan yang
diikutinya. Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam
tumbuh kembang anak, karena dengan pendidikan yang baik, orang tua dapat
menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang
baik, bagaimana menjaga kesehatan anaknya, pendidikannya dan sebagainya.
Menurut Phenix dalam Harianto (1992) bahwa pendidikan adalah suatu proses di
mana manusia membina perkembangan manusia lain secara sadar dan berencana.
Sebagaimana di kemukakan oleh Spencer 1859 dalam Harianto (1992), orang tua
yang berpendidikan rendah akan sulit beradaptasi dengan situasi dan kondisi dari
kegiatan yang dilaksanakan sehingga dapat mempengaruhi dalam kegiatan
pelaksanaan Posyandu. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Harianto (1992)
yang menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pendidikan
responden dengan partisipasi masyarakat (D/S). Dalam penelitian Anderson and
Andersen (1972) dan Aday and Eichhorn (1972) bahwa seseorang yang mendapat
pendidikan formal biasanya lebih banyak mengunjungi ahli kesehatan9.
2.4.3 Status Bekerja Ibu
Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Kebutuhan itu bias
nermacam-macam, berkembang dan berubah, bahkan seringkali tidak disadari
oleh pelakunya. Seseorang bekerja karena ada sesuatu yang hendak dicapainya

18
dan orang berharap bahwa aktivitas kerja yang dilakukannya akan membawanya
kepada sesuatu keadaan yang lebih memuaskan dari pada keadaan sebelumnya.
Sebuah penelitian oleh Tuti Pradianto tantang faktor-faktor yang
mempengaruhi ketidakhadiran Ibu Balita dan Penggunaan Posyandu di
Kecamatan Bogor Barat (1989) membuktikan bahwa ada faktor pekerjaan (status
pekerjaan) ibu berhubungan signifikan dengan penggunaan Posyandu9.
Pekerjaan memilki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta
berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan
dengan faktor lain seperti kesehatan. Hal ini sesuai menurut Khomsan (2007)
bahwa pekerjaan termasuk ke dalam salah satu sumber pendapatan dalam
keluarga.. dengan adanya pekerjaan tetap dalam suatu keluarga, maka keluarga
tersebut relatif terjamin pendapatannya setiap bulan. Jika keluarga tidak memiliki
pekerjaan tetap, maka pendapatan keluarga setiap bulannya juga tidak dapat
dipastikan 9,10.
Seseorang yang mempunyai pekerjaan dengan waktu yang cukup padat akan
mempengaruhi ketidakhadiran dalam pelaksanaan Posyandu. Pada umumnya
orang tua tidak mempunyai waktu luang, sehingga semakin tinggi aktivitas
pekerjaan orang tua semakin sulit datang ke Posyandu. Hal ini sesuai dengan
penelitian Sambas (2002) yang menyatakan bahwa ibu balita yang tidak bekerja
berpeluang baik untuk berkunjung ke Posyandu dibandingkan dengan ibu yang
bekerja. Hasil penelitian kualitatif di Kota Denpasar yang dilakukan Widiastuti
(2006) juga ditemukan bahwa ibu yang bekerja menyebabkan tidak membawa
anaknya ke Posyandu untuk di timbang 9,10.
2.4.4 Tingkat Pengetahuan Ibu
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu seseorang melakukan pengideraan
terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat
penting dalam membentuk tindakan seseorang.
Perilaku yang dilakukan dengan berdasarkan pada pengetahuan akan
bertahan lebih lama dan kemungkinan menjadi perilaku yang melekat pada
seseorang dibandingkan jika tidak berdasarkan pengetahuan (Notoatmodjo, 2007).
Penelitian yang dilakukan Rogers (1974) yang dikutip (Notoatmodjo, 2007)
mengungkapkan bahwa sebelum seseorang melakukan perilaku yang baru bagi

19
dirinya, lebih dahulu dalam diri orang tersebut akan terjadi proses yang berurutan,
yaitu 7,8:
1. Awerness (kesadaran), yakni kesadaran seseorang dalam arti mengetahui
stimulus (objek) terlebih dahulu.
2. Interest, yaitu mulai tertarik kepada stimulus.
3. Evaluation, proses menimbang baik dan buruk stimulus bagi pribadi
4. Trial, mencoba perilaku baru dari hasil evaluasi stimulus
5. Adoption,seseorang telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,
kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
Perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut diatas.
Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ni,
dimana didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif, maka
perilaku tersebut akan bersifat langgeng. Sebaliknya apabila perilaku tidak
didasari oleh pengetahuan dan kesadaran tidak berlangsung lama 9.
2.4.5 Jarak Tempuh dari Rumah ke Posyandu
Yang dimaksud dengan jarak dalam penelitian ini adalah ukuran jauh
dekatnya dari rumah atau tempat tinggal seseorang ke Posyandu dimana adanya
kegiatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayahnya. Letak Posyandu
sebaiknya berada di tempat yang mudah didatangi oleh masyarakat, ditentukan
lokal sendiri, atau dapat dilaksanakan di rumah penduduk, balai rakyat, pos rukum
tetangga (RT) atau rukun warga (RW) atau pos lainnya. Hal ini agar jarak
Posyandu tidak terlalu jauh sehingga tidak menyulitkan masyarakat untuk
menimbang anaknya9.
Dari beberapa hasil penelitian, bahwa faktor jarak ternyata memberikan
kontribusi terhadap seseorang dalam melakukan suatu tindakan, seperti yang
dikemukakan dalam hasil penelitian Sambas (2002) bahwa responden yang jarak
tempuhnya dekat dari rumah ke Posyandu (<10 menit) berpeluang baik untuk
berkunjung ke Posyandu dibandingkan yang jarak tempuhnya jauh ( 10 menit).
2.4.6 Perilaku Kader Kesehatan
Kader adalah anggota masyarakat yang dipilih untuk menangani masalah
kesehatan, baik perseorangan maupun masyarakat, serta untuk bekerja dalam
hubungan yang amat dekat dengan tempat pelayanan kesehatan dasar. Jadi, kader

20
Posyandu sebagai penyelenggaraan utama kegiatan Posyandu mempunyai tugas
dan tanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan Posyandu2.
Keterampilan kader merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam sistem
pelayanan di Posyandu, karena dengan pelayanan kader yang terampil akan
mendapat respon positif dari ibu-ibu yang mempunyai balita, sehingga terkesan
ramah dan baik serta pelayanannya teratur. Hal ini mendorong para ibu-ibu rajin
berkunjung ke Posyandu 2.
Berdasarkan hasil penelitian Eddy (2000) menyatakan bahwa kemampuan
ataupun keterampilan kader mempunyai hubungan paling kuat dengan cakupan
penimbangan balita. Penelitian Sambas (2002) juga ditemukan terdapat hubungan
yang bermakna antara pembinaan dari kader dengan kunjungan ibu-ibu anak
balita ke Posyandu. Sebuah penelitian oleh Tuti Pradianto (1989) tentang Faktor-
faktor Yang mempengaruhi Ketidakhadiran Ibu Balita dalam Penggunaan
Posyandu di Kecamatan Bogor Barat, membuktikan bahwa persepsi ibu tentang
perilaku kader merupakan faktor yang memudahkan ibu dalam menimbangkan
anaknya ke Posyandu 9.

21
BAB III
METODE DAN LANGKAH- LANGKAH

Kegiatan pada mini project ini meliputi pengambilan data dengan


menggunakan kuesioner yang disebarkan ke seluruh ibu balita di lingkungan
kampung jawa.
Kegiatan ini mengambil periode waktu antara bulan Februari sampai Maret.
Dari data-data yang diambil akan dilakukan analisa data secara deskriptif analitik.
Desain studi yang digunakan yaitu cross sectional karena pengambilan data
variabel independen dan variabel dependen dilakukan dalam waktu bersamaan.
Desain dalam kegiatan ini digunakan untuk mengetahui dan mempelajari
hubungan antara variabel independen yaitu umur ibu, pendidikan ibu, tingkat
pengetahuan ibu, sikap ibu, status bekerja ibu, pendapatan keluarga, jarak tempuh
dari rumah ke posyandu, perilaku kader dan perilaku petugas kesehatan dengan
variabel dependen yaitu partisipasi ibu balita ke posyandu.
Lokasi dan Waktu
Kegiatan mini project ini dilakukan bulan Februari - Maret tahun 2016 di
lingkungan kampung Jawa, kelurahan cakranegara Barat, Karang taliwang.
Populasi dan Sampel
Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari unit di dalam pengamatan yang akan dilakukan
(Sabri, 2008). Populasi dalam penelitian mini projec ini adalah seluruh ibu yang
memiliki anak balita yang tinggal di lingkungan kampung Jawa yang berjumlah
24 orang balita.
Sampel
Pada mini project ini digunakan total sampling, dimana seluruh populasi dijadikan
sebagai sampel penelitian yang berjumlah 24.
Tempat Kegiatan
Untuk kegiatan pengambilan data kuesioner dilakukan di rumah masing-masing
ibu di lingkungan Kampung Jawa.

22
Pengumpulan Data
Data dalam mini project ini menggunakan data primer yang diperoleh langsung
dari responden dengan menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan tertutup
tentang variabel independen dan variabel dependen yang diteliti. Pengumpulan
data dilakukan dengan cara mendatangi ibu balita satu persatu yang terpilih
sebagai sampel penelitian.

Analisis Data
Analisis ini menggunakan uji statistik Chi Square. Melalui uji statistik Chi-Square
akan diperoleh nilai p, dimana dalam penelitian mini project ini digunakan tingkat
kemaknaan sebesar 0,05. Penelitian antara dua variabel dikatakan bermakna jika
mempunyai nilai p 0,05 dan dikatakan tidak bermakna jika mempunyai nilai
p>0,05.

23
Definisi Operasional
No. Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur
1. Partisipasi Ibu Peran serta ibu dalam membawa anak Wawancara Kuesioner 0 = Tidak aktif, jika <4 kali berturut-
balita < 5 tahun secara teratur setiap turut
Balita ke Posyandu
bulan ke Posyandu untuk ditimbang 1 = Aktif, jika 4 kali berturut-turut
berat badannya dalam 6 bulan
terakhir

2. Umur Ibu Bilangan usia ibu saat dilakukan Wawancara Kuesioner 0 = Beresiko, jika umur ibu <20 tahun
penelitian dihitung berdasarkan atau >29 tahun
tanggal lahir 1 = Tidak beresiko, jika umur ibu 20-
29 tahun
3. Pendidikan Ibu Jenjang pendidikan terakhir yang Wawancara Kuesioner 0 = Rendah, jika responden tamat SMP
pernah ditempuh oleh ibu atau lebih rendah
1 = tinggi, jika responden tamat SMA
atau lebih tinggi
4. Tingkat Penguasaan ibu mengenai Posyandu Wawancara Kuesioner 0 = Kurang, jika total skor < median
Pengetahuan Ibu yaitu frekuensi pelaksaan kegiatan, 1 = Baik, jika total skor>= median
program, manfaat dan sasaran
kegiatan Posyandu
5. Sikap Ibu Respon ibubalita terhadap stimulus Wawancara Kuesioner 0 = tidak baik, jika total skor < median
dari luar yang terlihat dari perilaku 1 = Baik, jika total skor median
mereka
6. Status bekerja ibu Keadaan ibu bekerja atau tidak untuk Wawancara Kuesioner 0 = Bekerja, jika ibu memiliki kegiatan
mendapatkan penghasilan (uang) rutin untuk menghasilkan uang
1 = tidak bekerja, jika ibu tidak

24
memiliki kegiatan rutin untuk
mengkasilkan uang
7. Pendapatan Penghasilan keluarga yang diperoleh Wawancara Kuesioner 0 = cukup, jika pendapatan keluarga
Keluarga ayah dan atau ibu selama satu bulan Rp.1.117.245
1 = kurang, jika pendapatan keluarga <
Rp.1.117.245
8. Jarak tempuh dari penilaian ibu balita mengenai jarak Wawancara Kuesioner 0 = jauh, jika 10 menit
rumah ke posyandu dari rumahnya ke posyandu 1 = dekat, jika <10 menit
berdasarkan waktu yang dipakai
9. Perilaku kader Tindakan kader dalam melaksanakan Wawancara Kuesioner 0 = tidak baik, jika total skor < median
kegiatan pelayanan kesehatan di 1 = baik, jika total skor median
Posyandu berdasarkan penilaian ibu
balita terhadap kader
10. Perilaku petugas Tindakan petugas kesehatan dalam Wawancara Kuesioner 0 = tidak baik, jika total skor < median
kesehatan melaksanakan kegiatan pelayanan 1 = baik, jika total skor median
kesehatan di Posyandu berdasarkan
penilaian ibu balita terhadap petugas
kesehatan

25
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Hubungan Antara Umur Ibu dengan Partisipasi Ibu ke Posyandu
Kampung Jawa
Hasil analisis bivariat antara umur ibu dengan partisipasi ibu balita ke
posyandu dapat dilihat pada tabel 5.1 berikut ini:
Tabel 4.1.1 Hubungan antara umur ibu dengan partisipasi ibu balita ke posyandu
kampung jawa
keaktifan partisipasi ibu
aktif tidak aktif Total
Usia beresiko Count 8 6 14
Expected Count 7.0 7.0 14.0
tidak beresiko Count 4 6 10
Expected Count 5.0 5.0 10.0
Total Count 12 12 24
Expected Count 12.0 12.0 24.0

Tabel 4.1.2 Hasil uji chi square


Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-
Value df sided) sided) sided)
Pearson Chi-Square .686a 1 .408
Continuity Correctionb .171 1 .679
Likelihood Ratio .689 1 .406
Fisher's Exact Test .680 .340
Linear-by-Linear
.657 1 .418
Association
N of Valid Casesb 24

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu berada pada usia beresiko


sebanyak 14 orang dan ibu balita yang usianya tidak beresiko sebanyak 10 orang.
Berdasarkan hasil uji statistik chi square diperoleh nilai P value 0,408. Hal ini
menunjukkan Pvalue > 0,05, artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara
umur ibu dengan keaktifan partisipasi ibu ke posyandu.

26
4.1.2 Hubungan Antara Pendidikan Ibu dengan Partisipasi Ibu Balita ke
Posyandu Kampung Jawa
Hasil analisis bivariat antara pendidikan ibu dengan partisipasi ibu balita
ke posyandu dapat dilihat pada table 5.16 , berikut ini:
Tabel 4.1.3 Hubungan Antara Pendidikan Ibu dengan Partisipasi Ibu Balita ke
Posyandu Kampung Jawa
keaktifan partisipasi ibu
aktif tidak aktif Total
Pendidikan tinggi Count 4 12 16
Expected Count 8.0 8.0 16.0
rendah Count 8 0 8
Expected Count 4.0 4.0 8.0
Total Count 12 12 24
Expected Count 12.0 12.0 24.0

Tabel 4.1.4 Hasil Uji chi square

Asymp. Sig. Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value Df (2-sided) sided) sided)
Pearson Chi-Square 12.000a 1 .001
Continuity Correctionb 9.188 1 .002
Likelihood Ratio 15.276 1 .000
Fisher's Exact Test .001 .001
Linear-by-Linear
11.500 1 .001
Association
N of Valid Casesb 24

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang berpendidikan rendah


sebanyak 8 orang dan selalu aktif mengikuti pelayanan posyandu, sedangkan ibu
yang berpendidikan tinggi sebanyak 16 orang, 12 orang diantaranya tidak aktif
berpartisipasi dalam kegiatan posyandu dan hanya 4 orang yang aktif mengikuti
posyandu. Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai Pvalue 0,01. Hal ini
menunjukkan Pvalue < 0,05, artinya pada =5% ada hubungan yang signifikan
antara pendidikan ibu dengan keaktifan partisipasi ibu balita ke posyandu.

4.1.3 Hubungan Antara Status Bekerja Ibu dengan Partisipasi Ibu Balita ke
Posyandu Kampung Jawa

27
Hasil analisis bivariat antara status bekerja Ibu dengan Partisipasi Ibu Balita
ke Posyandu Kampung Jawa dapat dilihat pada table 5.17 , berikut ini:
Tabel 4.1.5 Hubungan Antara Status Bekerja Ibu dengan Partisipasi Ibu Balita ke
Posyandu Kampung Jawa
keaktifan partisipasi ibu
aktif tidak aktif Total
Status Pekerjaan bekerja Count 3 8 11
Expected Count 5.5 5.5 11.0
tidak bekerja Count 9 4 13
Expected Count 6.5 6.5 13.0
Total Count 12 12 24
Expected Count 12.0 12.0 24.0

Tabel 4.1.6 Hasil Uji Chi-Square

Asymp. Sig. Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df (2-sided) sided) sided)
Pearson Chi-Square 4.196a 1 .041
Continuity Correctionb 2.685 1 .101
Likelihood Ratio 4.332 1 .037
Fisher's Exact Test .100 .050
Linear-by-Linear
4.021 1 .045
Association
N of Valid Casesb 24

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang memiliki status bekerja


sebanyak 11 orang, 8 diantaranya tidak aktif berpartisipasi membawa balitanya ke
posyandu, dan hanya 3 orang yang aktif berpartisipasi ke posyandu. Sedangkan
yang tidak bekerja sebanyak 13 orang, 9 di antaranya aktif berpartisipasi ke
posyandu dan 4 orang tidak aktif. Berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai
Pvalue 0,041. Hal ini menunjukkan Pvalue < 0,05, artinya pada =5% ada
hubungan yang signifikan antara status bekerja ibu dengan partisipasinya ke
Posyandu.

4.1.4 Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Partisipasi Ibu


Balita ke Posyandu

28
Hasil analisis bivariat antara tingkat pengetahuan ibu dengan partisipasi ibu
balita ke posyandu dapat dilihat pada tabel 5.18 , berikut ini:
Tabel 4.1.7 Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan mengenai Posyandu dengan
Partisipasi Ibu ke Posyandu

keaktifan partisipasi ibu


aktif tidak aktif Total
pengetahuan ibu baik Count 12 12 24
Expected Count 12.0 12.0 24.0
Total Count 12 12 24
Expected Count 12.0 12.0 24.0

Tabel 4.1.8 Hasil uji Chi-Square

Value
Pearson Chi-Square .a
N of Valid Cases 24
a. No statistics are computed because pengetahuan
ibu is a constant.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua ibu yang menjadi sampel
memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai posyandu, sehingga uji statistic
tidak menunjukan hasil karena data yang konstan. Artinya tidak ada hubungan
yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dengan partisipasinya ke
Posyandu.

4.1.5 Hubungan Antara Pendapatan Keluarga dengan Partisipasi Ibu Balita


ke Posyandu Kampung Jawa
Hasil analisis bivariat antara pendapatan keluarga dengan keaktifan
partisipasi ibu dapat dilihat pada tabel 5.19 , berikut ini:
Tabel 4.1.9 Hubungan Antara Pendapatan Keluarga dengan Partisipasi Ibu Balita
ke Posyandu Kampung Jawa
keaktifan partisipasi ibu
aktif tidak aktif Total
Pendapatan cukup Count 5 9 14
Expected Count 7.0 7.0 14.0

29
kurang Count 7 3 10
Expected Count 5.0 5.0 10.0
Total Count 12 12 24
Expected Count 12.0 12.0 24.0

Tabel 4.1.10 Hasil uji Chi-Square

Asymp. Sig. Exact Sig. Exact Sig.


Value df (2-sided) (2-sided) (1-sided)

Pearson Chi-Square 2.743a 1 .098


Continuity Correctionb 1.543 1 .214
Likelihood Ratio 2.805 1 .094
Fisher's Exact Test .214 .107
Linear-by-Linear
2.629 1 .105
Association
N of Valid Casesb 24

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang memiliki pendapatan


keluarga yang cukup sebanyak 14 orang, 5 diantaranya aktif berpartisipasi
membawa balitanya ke posyandu, dan hanya 9 orang tidak aktif berpartisipasi ke
posyandu. Sedangkan berpendapatan kurang sebanyak 10 orang, 7 di antaranya
aktif berpartisipasi ke posyandu dan 3 orang tidak aktif. Berdasarkan hasil uji
statistik diperoleh nilai Pvalue 0,098. Hal ini menunjukkan Pvalue > 0,05, artinya
pada =5% tidak ada hubungan yang signifikan antara pendapatan keluarga
dengan partisipasi ibu ke Posyandu.

4.1.6 Hubungan Antara Sikap Ibu dengan Keaktifan Partisipasinya ke


Posyandu Kampung Jawa
Hasil analisis bivariat antara sikap ibu dengan keaktifan partisipasi ibu dapat
dilihat pada tabel 5.19 , berikut ini:
Tabel 4.1.11 Hubungan Antara Sikap Ibu dengan Keaktifan Partisipasinya ke
Posyandu Kampung Jawa

30
keaktifan partisipasi ibu
aktif tidak aktif Total
sikap ibu baik Count 12 12 24
Expected Count 12.0 12.0 24.0
Total Count 12 12 24
Expected Count 12.0 12.0 24.0

Tabel 4.1.12 Hasil Uji Chi-Square

Value

Pearson Chi-Square .a
N of Valid Cases 24

a. No statistics are computed because sikap ibu is a constant.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua ibu yang menjadi sampel
memiliki sikap yang baik mengenai posyandu, sehingga uji statistic tidak
menunjukan hasil karena data yang konstan. Artinya tidak ada hubungan yang
signifikan antara sikap ibu dengan partisipasinya ke Posyandu.

4.1.7 Hubungan Antara Jarak Tempuh ke Posyandu dengan Partisipasi Ibu


Balita ke Posyandu Kampung Jawa
Hasil analisis bivariat antara jarak tempuh ke Posyandu dengan keaktifan
partisipasi ibu dapat dilihat pada tabel 5.19 , berikut ini:
Tabel 4.1.13 Hubungan Antara Jarak Tempuh ke Posyandu dengan Partisipasi Ibu
Balita ke Posyandu Kampung Jawa
keaktifan partisipasi ibu
aktif tidak aktif Total
jarak tempuh dekat Count 12 12 24
Expected Count 12.0 12.0 24.0
Total Count 12 12 24
Expected Count 12.0 12.0 24.0

Tabel 4.1.14 Hasil Uji Chi-Square

Value

31
Pearson Chi-Square .a
N of Valid Cases 24

a.No statistics are computed because jarak tempuh is a


constant.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua ibu yang menjadi sampel
memiliki rumah yang berjarak tempuh dekat dari posyandu, sehingga uji statistic
tidak menunjukan hasil karena data yang konstan. Artinya tidak ada hubungan
yang signifikan antara jarak tempuh dengan partisipasi ibu ke Posyandu.

4.1.8 Hubungan Antara Perilaku Kader dengan Partisipasi Ibu Balita ke


Posyandu Kampung Jawa
Hasil analisis bivariat antara jarak tempuh ke Posyandu dengan keaktifan
partisipasi ibu dapat dilihat pada tabel 5.19 , berikut ini:
Tabel 4.1.15 Hubungan Antara Perilaku Kader dengan Partisipasi Ibu Balita ke
Posyandu Kampung Jawa
keaktifan partisipasi ibu
aktif tidak aktif Total
perilaku kader baik Count 12 12 24
Expected Count 12.0 12.0 24.0
Total Count 12 12 24
Expected Count 12.0 12.0 24.0

Tabel 4.1.16 Hasil Uji Chi-Square

Value

Pearson Chi-Square .a
N of Valid Cases 24

a. No statistics are computed because perilaku kader is a


constant.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua ibu yang menjadi sampel
menyatakan perilaku kader kesehatan di posyandu kampung jawa baik. Sehingga
uji statistic tidak menunjukan hasil karena data yang konstan. Artinya tidak ada

32
hubungan yang signifikan antara perilaku kader dengan partisipasi ibu ke
Posyandu kampung jawa.

4.1.9 Hubungan Antara Perilaku Petugas Kesehatan dengan Partisipasi Ibu


Balita ke Posyandu Kampung Jawa
Hasil analisis bivariat antara jarak tempuh ke Posyandu dengan keaktifan
partisipasi ibu dapat dilihat pada tabel 5.19 , berikut ini:
Tabel 4.1.17 Hubungan Antara Perilaku PetugasKesehatan dengan Partisipasi Ibu
Balita ke Posyandu Kampung Jawa
keaktifan partisipasi ibu
Aktif tidak aktif Total
perilaku petugas baik Count 12 12 24
Expected Count 12.0 12.0 24.0
Total Count 12 12 24
Expected Count 12.0 12.0 24.0

Tabel 4.1.18 Hasil Uji Chi-Square

Value

Pearson Chi-Square .a
N of Valid Cases 24

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua ibu yang menjadi sampel


menyatakan perilaku petugas kesehatan di posyandu kampung jawa baik.
Sehingga uji statistic tidak menunjukan hasil karena data yang konstan. Artinya
tidak ada hubungan yang signifikan antara perilaku kader dengan partisipasi ibu
ke Posyandu kampung jawa.

4.2 Pembahasan
Partisipasi masyarakat adalah ikut sertanya seluruh anggota masyarakat
dalam memecahkan perasalahan-permasalahan masyarakat. Partisipasi masyarakat
dalam bidang kesehatan berarti keikutsertaan seluruh anggota masyarakat dalam

33
memecahkan masalah kesehatan yang mereka hadapi sendiri baik masalah
keluarga ataupun masyarakat itu sendiri (Notoatmodjo, 2007).
Partisipasi masyarakat umumnya dipandang sebagai satu bentuk perilaku.
Salah satu bentuk perilaku kesehatan adalah partisipasi ibu balita dalam kegiatan
di Posyandu, yang diwujudkan dengan membawa anaknya untuk ditimbang berat
badan ke Posyandu secara teratur setiap bulan. Target yang ingin dicapai oleh
Nasional adalah 80% dapat berpartisipasi dengan aktif ke Posyandu.
Pada hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ibu balita yang berpartisipasi
tidak aktif sama jumlahnya dengan yang berpartisipasi aktif. Ibu balita yang
berpartisipasi aktif ke Posyandu di lingkungan kampungjawa sebesar 50%, angka
ini belum mencapai target yang sudah ditetapkan Nasional yaitu 80%. Hal ini
menunjukkan masih rendahnya tingkat partisipasi masyarakat untuk membawa
anak balitanya dating ke Posyandu. Padahal, menurut Khomsan (2007),
kunjungan balita secara rutin ke Posyandu sangat dianjurkan karena di Posyandu
setiap balita akan dimonitor berat badannya melalui penimbangan, sehingga akan
diperoleh trend berat badan dari bulan ke bulan. Apabila terjadi trend yang
menurun atau berat badan balita di bawah dibawah garis merah, maka Posyandu
diharapkan dapat memberikan nasihat gizi atau memberikan makanan tambahan,
sehingga trend berat badan yang menurun dapat dicegah.
Dari pengambilan data yang telah dilakukan di lingkungan kampung jawa
puskesmas Karang taliwang, didapatkan hasil yang bermakna pada factor
pendidikan dan status bekerja yang mempengaruhi keaktifan partisipasi ibu balita
ke posyandu.
Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting dalam
tumbuh kembang anak karena dengan pendidikan yang baik orang tua dapat
menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang
baik, bagaimana menjaga kesehatan anaknya, pendidikannya dan sebagainya
(Soetjiningsih(1995) dalam Khalimah (2007).
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa presentasi ibu balita yang
berpartisipasi tidak aktif ke Posyandu lebih banyak pada ibu balita yang
berpendidikan tinggi dibanding dengan ibu balita yang berpendidikan rendah.

34
Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara
pendidikan ibu dengan partisipasinya ke Posyandu dengan nilai p= 0,001 (p <
0,05). Ibu yang memiliki pendidikan tinggi kemungkinan akan mempunyai
pekerjaan di luar rumah sehingga akan mempengaruhi ketidak hadiran dalam
pelaksanaan Posyandu secara Rutin.
Sebagaimana hal tersebut diperkuat oleh Marsigit (2004) yang menyatakan
bahwa tingkat pendidikan memberikan peluang kepada ibu rumah tangga untuk
mendapatkan pekerjaan sehingga waktunya di dalam rumah akan semakin sedikit
dan berdampak negatif pada pemeliharaan kesehatan anak dan keluarga.

Selain itu pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku


seseorang. Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka akan semakin banyak pula
pengetahuan yang mereka miliki. Sebaliknya, jika pendidikan rendah, maka akan
menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan, informasi, dan
nilai-nilai baru yang diperkenalkan. Tetapi dari hasil yang didapatkan, ternyata
ibu balita yang berpendidikan tinggi lebih banyak yang tidak memanfaatkan
Posyandu, berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, ibu balita yang
berpendidikan tinggi akan cenderung
memiliki pekerjaan di luar rumah, sehingga tidak sempat membawa anaknya
ke Posyandu melainkan membawa anaknya ke rumah sakit, rumah sakit ibu dan
anak (RSIA) atau klinik untuk menimbang anaknya bersamaan dengan waktu
imunisasi pada hari ibu tidak bekerja.
Intervensi yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan perhatian lebih
pada ibu balita yang berpendidikan rendah agar mereka dapat lebih mudah
memahami manfaat datang ke Posyandu sehingga timbul perilaku yang lebih baik
dalam pemanfaatan pelayanan gizi di Posyandu untuk mengetahui perkembangan
dan pertumbuhan balitanya.

Selain factor pendidikan, factor status bekerja ibu juga memiliki hasil yang
signifikan mempengaruhi partisipasi ibu balita ke posyandu kampung jawa.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa presentase ibu balita yang

35
berpartisipasi tidak aktif ke Posyandu lebih banyak pada ibu balita yang bekerja
dibanding dengan ibu balita yang tidak bekerja.
Adanya hubungan kemungkinan disebabkan oleh ibu balita yang bekerja
tidak mempunyai waktu luang sehingga semakin tinggi aktivitas pekerjaan ibu
maka semakin sulit ibu datang ke Posyandu. Asumsi lain kemungkinan karena
Posyandu diselenggarakan pada hari kerja dan jam kerja yaitu diselenggarakan
mulai jam 09.00 hingga 12.00 WIB pada hari kerja sehingga ibu yang bekerja
tidak dapat membawa anaknya ke Posyandu.

36
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan
Gambaran keaktifan partisipasi ibu balita ke posyandu di kampung Jawa hanya
50%, masih jauh dari target keberhasilan posyandu D/S > 80%
Ada pengaruh antara pendidikan dan status bekerja terhadap partisipasi ibu balita
ke Posyandu Kampung Jawa Kelurahan cakranegara Barat, Puskesmas Karang
Taliwang. Faktor-faktor lain seperti usia, pengetahuan terhadap posyandu,
pendapatan keluarga, jarak tempuh, sikap ibu, sikap kader, dan sikap petugas
kesehatan setelah dianalisa dan diuji statistic ternyata tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap partisipasi ibu balita ke posyandu.

Saran

a. Perlu meningkatkan pembinaan kader dan motivasi kepada kader agar


menjalankan perannya, terutama pada sasaran yang tidak datang ke Posyandu
melalui kunjungan rumah dan pemberian informasi kepada sasaran di luar hari
Posyandu
b. Selain kader, petugas kesehatan juga perlu melakukan kunjungan rumah
kepada sasaran yang tidak aktif datang ke posyandu, melakukan pemberian
informasi dan diskusi untuk meningkatkan kesadaran sasaran akan pentingnya
posyandu
c. Perlu ditelaah lebih lanjut waktu buka Posyandu yang sesuai jika ada ibu
balita ditempat tersebut yang lebih banyak bekerja di pagi hari, misalnya
membuka Posyandu di sore hari atau di hari libur

37
38
DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes RI, 2011. Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk. Kementerian


Kesehatan Republik Indonesia. Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan
Ibu dan Anak : Jakarta.
2. Depkes RI, 2010. Buku Pedoman Posyandu. Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia. Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan
Anak : Jakarta.
3. Depkes RI, 2011. Strategi Peningkatan Penimbangan Balita di Posyandu.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Direktorat Jenderal Bina Gizi
dan Kesehatan Ibu dan Anak : Jakarta.
4. Depkes R, 2002. Pedoman Pemantauan Status Gizi Posyandu. Direktorat
Gizi Masyarakat Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
5. Sedioetama, Achmad Djaeni. Imu Gizi Jilid untuk Mahasiswa dan Profesi
Jilid II. Dian rakyat, Jakarta, 2006.
6. Sembiring, Nasab. Posyandu Sebagai Sarana Peran Serta Masyarakat dalam
Usaha Peningkatan Kesehatan Masyarakat. Jurnal: Bagian Kependudukan
dan Biostatistik FKM UI. 2004
7. Notoatmodjo, 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rhineka
Cipta.
8. Notoatmodjo, 2005. Promosi Kesehatan, Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT.
Rhineka Cipta
9. Sudarti, Kresno. 2008. Laporan Penelitian Study Pemanfaatan Posyandu di
Kelurahan Cipinang Muara Kecamatan Jatinegara Kodya Jakarta Timur
Tahun 2007. Tesis Program Studi Kesehatan Masyarakat Pasca Sarjana UI
10. Khomsan, Ali. 2000. Tehnik Pengukuran Pengetahuan Gizi. Jurusan Gizi
Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Fakultas Pertanian IPB Bogor

39
LAMPIRAN 1
Data hasil pengisian kuesioner

Partisipasi Perilaku
No. ke Status Tingkat Pendapatan sikap jarak kepemilikan Perilaku petugas
responden posyandu Umur Pendidikan bekerja pengetahuan keluarga ibu tempuh KMS kader kesehatan
tidak
1 aktif beresiko Tinggi bekerja baik cukup baik dekat tidak baik baik
tidak
2 aktif beresiko Tinggi bekerja baik cukup baik dekat tidak baik baik
tidak tidak
3 aktif beresiko Rendah bekerja baik kurang baik dekat ya baik baik
tidak
4 aktif beresiko Rendah bekerja baik kurang baik dekat ya baik baik
tidak
5 aktif beresiko Rendah bekerja baik kurang baik dekat ya baik baik
tidak
6 aktif beresiko Rendah bekerja baik kurang baik dekat ya baik baik
tidak
7 tidak aktif beresiko Tinggi bekerja baik cukup baik dekat ya baik baik
tidak
8 tidak aktif beresiko Tinggi bekerja baik cukup baik dekat ya baik baik
tidak tidak
9 aktif beresiko Rendah bekerja baik kurang baik dekat ya baik baik
tidak tidak
10 aktif beresiko Tinggi bekerja baik cukup baik dekat ya baik baik
tidak
11 aktif beresiko Rendah bekerja baik kurang baik dekat ya baik baik

40
12 aktif beresiko Tinggi bekerja baik cukup baik dekat ya baik baik
tidak
13 aktif beresiko Rendah bekerja baik kurang baik dekat ya baik baik
tidak
14 Tidak aktif beresiko Tinggi bekerja baik cukup baik dekat ya baik baik
tidak
15 tidak aktif beresiko Tinggi bekerja baik cukup baik dekat ya baik baik
tidak Tidak
16 tidak aktif beresiko Tinggi bekerja baik kurang baik dekat ya baik baik
tidak Tidak
17 tidak aktif beresiko Tinggi bekerja baik kurang baik dekat ya baik baik
18 tidak aktif beresiko Tinggi bekerja baik kurang baik dekat ya baik baik
tidak
19 tidak aktif beresiko Tinggi bekerja baik cukup baik dekat ya baik baik
20 aktif beresiko Rendah bekerja baik cukup baik dekat ya baik baik
21 tidak aktif beresiko Tinggi bekerja baik cukup baik dekat ya baik baik
22 tidak aktif beresiko Tinggi bekerja baik cukup baik dekat ya baik baik
tidak
23 tidak aktif beresiko Tinggi bekerja baik cukup baik dekat ya baik baik
24 tidak aktif beresiko Tinggi bekerja baik cukup baik dekat ya baik baik

41
LAMPIRAN 2

(Kegiatan wawancara kepada ibu balita, penyebaran kuesioner dan diskusi)

42
LAMPIRAN 3
KUESIONER
No:___________

INFORMED CONSENT

Kepada Yth.
Ibu Balita subjek penelitian Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat
kunjungan Ibu Balita ke Posyandu Kampung Jawa, Kelurahan Cakranegara Barat,
Wilayah Kerja Puskesmas Karang Taliwang".
Saya Baiq Trisna Satriana dokter internsip Puskesmas Karang Taliwang,
sedang melakukan penelitian yang bertujuan untuk mencari faktor-faktor yang
mempengaruhi tingkat kunjungan balita ke posyandu kampung jawa, kelurahan
cakranegara barat, wilayah kerja puskesmas karang taliwang. Untuk itu saya
memohon kesediaan ibu untuk mengisi kuisioner ini. Kejujuran ibu dalam
menjawab sangat saya harapkan. Informasi yang didapat dari hasil penelitian ini
bersifat rahasia dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian. Ibu berhak
menolak untuk memberikan informasi atau menolak untuk berpartisipasi dalam
penelitian ini.
Dengan menandatangani pernyataan yang berkaitan dengan penelitian ini,
Ibu telah memahami maksud dan tujuan penelitian ini dan setuju untuk
berpartisipasi.
Atas perhatian dan kerja sama ibu, saya ucapkan terima kasih.
Cakranegara, ... 2016

Tanda tangan :

43
A. IDENTITAS RESPONDEN
a. Nama :
b. Usia :
c. Alamat :
d. No. Telepon :
e. Pendidikan terakhir yang diselesaikan :
1. Tidak sekolah
2. Tamat SD
3. Tamat SMP
4. Tamat SMA
5. Tamat Perguruan Tinggi
f. Pekerjaan ibu :
1. Ibu Rumah Tangga
2. Pedagang
3. PNS/TNI
4. Petani/buruh tani
5. Lainnya.
g. Jumlah anak balita ibu :
B. IDENTITAS ANAK BALITA
a. Nama :
b. Tanggal lahir :
c. Umur :
d. Jenis kelamin :
C. PENGETAHUAN IBU TENTANG POSYANDU (Pilihlah salah satu
jawaban di bawah ini yang menurut anda benar)
1. Kepanjangan dari POSYANDU adalah
a. Pos pelayanan kesehatan ibu dan balita
b. Pos pelayanan terpadu

2. Manfaat dari kegiatan di posyandu adalah


a. Memberi pelayanan kesehatan kepada ibu dan balita
b. Hanya untuk melakukan penimbangan anak balita

44
3. Biasanya anak balita rutin ditimbang di posyandu setiap
a. Seminggu sekali
b. Sebulan sekali
4. Menurut ibu, kegiatan apa saja yang dilakukan di posyandu? (Jawaban
boleh lebih dari satu)
a. Penimbangan balita
b. Pemberian vitamin A
c. Pelayanan KB
d. Pemberian imunisasi
e. Pemeriksaan ibu hamil
5. Menurut ibu, anak umur berapa yang perlu ditimbang?
a. Anak umur 0-5 tahun
b. Bayi saja (umur 0-1 tahun)
c. Semua anak
6. Apa tujuan ibu dating ke posyandu selain menimbang berat badan dan
imunisasi anak?
a. Memeriksa kesehatan anak
b. Bertemu dengan ibu balita lain
7. Bila anak balita ibu terlihat sudah sehat dan gemuk, apakah masih perlu
ditimbang di posyandu
a. Ya
b. Tidak
8. Menurut ibu program apa yang dilakukan di posyandu agar anak balita
tidak mudah sakit
a. Menimbang berat badan anak balita secara rutin
b. Imunisasi
9. Menurut ibu, kapan sebaiknya anak pertama kali ditimbang?
a. Sejak lahir
b. Kapan saja
10. Apa tujuanutama pemberian makanan tambahan pada anak balita di
posyandu?

45
a. Agar anak tidak rewel
b. Mencukupi kebutuhan gizi anak

D. PENDAPATAN KELUARGA
1. Berapa penghasilan keluarga (ayah dan atau ibu) dalam sebulan
a. Kurang dari Rp. 1.117.245,-/bulan
b. Lebih dari Rp. 1.117.245,-/bulan
E. SIKAP IBU
Petunjuk pengisian jawaban:
SS artinya anda Sangat Setuju dengan pernyataan
S artinya anda Setuju dengan pernyataan
TS artinya anda Tidak Setuju dengan pernyataan
STS artinya anda Sangat Tidak Setuju dengan pernyataan
Isilah pernyataan berikut dengan member tanda silang (X) pada pilihan
No Pernyataan SS S TS STS
1. Saya tidak membawa anak saya ke
posyandu karena sibuk bekerja
2. Anak balita saya harusnya secara rutin
dibawa ke posyandu
3. Saya ke posyandu ketika ada pemberian
vitamin A secara gratis dari kader
4 Saya ke posyandu ketika ada pemberian
makanan tambahan secara gratis dari kader
5. Menurut saya, posyandu adalah salah satu
tempat yang cocok bagi masyarakat untuk
mengetahui pertumbuhan dan
perkembangan anak balita
6. Saya jarang ke Posyandu karena takut anak
saya akan demam atau sakit setelah di
imunisasi
7. Menurut saya, kegiatan yang ada di

46
posyandu dapat membantu ibu dan balita
dalam memelihara kesehatannya
8. Saya hanya ke posyandu ketika ada teman
yang mengajak

F. JARAK RUMAH KE POSYANDU


1. Menurut ibu jauhkan jarak rumah ibu dari posyandu?
a. Dekat
b. Jauh
2. Berapa menit kira-kira waktu perjalanan dari rumah ibu ke posyandu?
a. Kurang dari 10 menit
b. Lebih dari 10 menit
3. Biasanya ibu datang ke posyandu menggunakan apa?
a. Berjalan kaki
b. Memakai kendaraan
G. PARTISIPASI KE POSYANDU
1. Berapa kali anak ibu dibawa ke posyandu dalam 6 bulan terakhir?
a. 0 kali (tidak pernah),
alasan...
b. 1-3 kali (tidak teratur),
alasan....
c. 4-6 kali (teratur),
alasan.

H. PERILAKU KADER
Petunjuk pengisian jawaban:
SS artinya anda Sangat Setuju dengan pernyataan
S artinya anda Setuju dengan pernyataan
TS artinya anda Tidak Setuju dengan pernyataan
STS artinya anda Sangat Tidak Setuju dengan pernyataan
Isilah pernyataan berikut dengan member tanda silang (X) pada pilihan

47
No Pernyataan SS S TS STS
1. Menurut saya, kader bersikap
ramah/senyum hanya pada kelompok ibu
tertentu di posyandu
2. Kader selalu mengajak ibu balita ke
posyandu untuk menimbang balita
3. Menurut saya, tidak semua kader ikut dalam
kegiatan di posyandu
4. Kader sering menanyakan ketidak hadiran
ibu balita dalam kegiatan posyandu
5. Kader bersikap ramah ketika memberikan
penyuluhan kepada ibu-ibu di posyandu
6. Kader tidak peduli ketika ada anak balita
yang berat badannya tidak naik dari bulan
yang lalu

I. PERILAKU PETUGAS KESEHATAN


No Pernyataan SS S TS STS
1. Menurut saya, petugas kesehatan selalu
hadir ketika kegiatan Posyandu
berlangsung
2. Menurut saya, petugas kesehatan tidak
menanyakan alasan mengapa ibu balita
tidak hadir ke posyandu
3. Menurut saya, petugas kesehatan bersikap
ramah ketika memberikan pelayanan
kesehatan
4. Menurut saya, petugas kesehatan yang
datang ke posyandu selalu memperhatikan
semua ibu balita
5. Menurut saya, petugas kesehatan yang
datang ke posyandu kurang akrab dengan

48
semua ibu balita

TERIMAKASIH ATAS KERJASAMANYA

49