Anda di halaman 1dari 5

Nama : Shara Zetiara (123.14.

00005)
T5 : Inventarisasi permasalahan dalam tahap implementasi dan pengendalian penataan
ruang

Permasalahan Dalam Tahap Implementasi dan Pengendalian Penataan Ruang

Tahapan Perencanaan
Perencanaan merupakan proses penentuan tujuan organisasi (perusahaan) dan kemudian
menyajikan (mengartikulasikan) dengan jelas strategi-strategi (program), taktik-taktik (tata
cara pelaksanaan program) dan operasi (tindakan) yang diperlukan untuk mencapai tujuan
secara menyeluruh (Erly Suandy, 2001:1). Dari definisi tersebut menjelaskan bahwa
perencanaan merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan secara menyeluruh. Dari definisi
tersebut dapat diketahui bahwa tahapan perencanaan terdiri dari beberapa tahap yaitu:
1. Tahap 1: menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan
Perencanaan dimulai dengan keputusan-keputusan tentang keinginan atau kebutuhan
organisasi atau kelompok kerja. Tanpa rumusan tujuan yang jelas, organisasi akan
menggunakan sumber daya-sumber dayanya secara tidak efektif.
2. Tahap 2: merumuskan keadaan saat ini
Pemahaman akan posisi perusahaan sekarang dari tujuan yang hendak dicapai atau sumber
daya-sumber daya yang tersedia untuk pencapaian tujuan, adalah sangat penting, karena
tujuan dan rencana menyangkut waktu yang akan datang. Hanya setelah keadaan
perusahaan saat ini dianalisa, rencana dapat dirumuskan untuk menggambarkan rencana
kegiatan lebih lanjut. Tahap kedua ini memerlukan informasi, terutama keuangan dan data
statistik yang didapatkan melalui komunikasi dalam organisasi.
3. Tahap 3: Mengidentifikasikan segala kemudahan dan hambatan
Segala kekuatan dan kelemahan serta kemudahan dan hambatan perlu di identifikasikan
untuk mengukur kemampuan organisasi dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu, perlu
diketahui faktor-faktor lingkungan intern dan ekstern yang dapat membantu organisasi
mencapai tujuannya, atau yang mungkin menimbulkan masalah. Walaupun sulit
dilakukan, antisipasi keadaan, masalah, dan kesempatan serta ancaman yang mungkin
terjadi diwaktu mendatang adalah bagian esensi dari proses perencanaan.
4. Tahap 4: Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk pencapaian tujuan
Tahap terakhir dalam proses perencanaan meliputi pengembangan berbagai alternatif
kegiatan untuk pencapaian tujuan, penilaian alternatif-alternatif tersebut dan pemilihan
alternatif terbaik (paling memuaskan) diantara berbagai alternatif yang ada.

Permasalahan Dalam Tahap Implementasi Penyusunan Rencana Tata Ruang


Dalam penyusunan rencana tata ruang, pasti terdapat kendala atau permasalahan yang dihadapi.
Berikut merupakan permasalahan yang terdapat dalam tahap-tahap penyusunan RTRW.
1. Akurasi Data dan SDM
Data-data yang diperlukan dalam proses penyusunan rencana tata ruang sudah seharusnya
akurat sesuai dengan kondisi eksisting. Namun, masalah yang dihadapi daerah saat ini adalah
dalam penyusunan rencana tata ruang karena masih minimnya ketersediaan data yang akurat
dan minimnya tenaga ahli konsultan perencanaan kota yang sesuai dengan kopetensi di
bidangnya.
Dokumen RTR belum selaras dengan dokumen rencana pembangunan. Dokumen RTR adalah
arahan bagi pemanfaatan ruang di suatu wilayah. Sementara itu, dokumen rencana
pembangunan berfungsi mengisi matra spasial dari wilayah tersebut, sekaligus sebagai dasar
bagi proses penganggaran. Dibanyak daerah, kedua dokumen tersebut belum serasi dan masih
berjalan sendiri sendiri.
Masih kurang data dan informasi bidang penataan ruang. Data dan informasi, khususnya terkait
informasi spasial masih belum tersedia secara lengkap. Bila pun sudah tersedia, data-data yang
digunakan masih beragam antar sektor maupun antar daerah.

2. Pendanaan
Pendanaan dalam aplikasi rencana tata ruang merupakan masalah yang klasik di Indonesia,
antara lain permasalahan - permasalahan seperti : dana yang tidak tersedia, meskipun tersedia
tapi tidak tepat pada waktunya, ataupun dana tersedia tapi tidak dialokasikan sesuai rencana
tata ruang. Masalah - masalah tersebut timbul karena :
Dalam proses penyusunan rencana belum dimasukkan komponen biaya pelaksanaan
rencana. Hal ini disebabkan perencanaan yang masih terlalu detail atau disusun tidak
berdasarkan standar kebutuhan pada umumnya
Perkiraan peningkatan pendapatan daerah yang akan diperoleh bila rencana tersebut
terlaksana karena adanya peningkatan pajak tidak dilakukan sehingga penerapan rencana
tata ruang menjadi kurang menarik bagi pihak eksekutif dan legislatif;
Rencana Tata Ruang belum digunakan sebagai acuan penyusunan Anggaran Tahunan
(APBD/APBN);
Masyarakat yang memiliki dana kurang informasi terhadap Rencana Tata Ruang sehingga
mereka ragu - ragu dalam melakukan investasi atau melakukan pada areal yang tidak sesuai
rencana tata ruang;
Perencanaan alokasi dana yang tidak tepat sasaran atau setengah-setengah. Yang tidak
mencapai sasaran biasanya hal ini terjadi pada proyek yang direncanakan dengan sistem top
- down sehingga apa yang direncanakan merupakan yang tidak dibutuhkan masyarakat
setempat. Yang penting bagi pelaksana kegiatan adalah pencapaian target tanpa peduli
manfaatnya. Hal ini mengakibatkan proyek yang dibangun cuma setengah jadi. Hasilnya
adalah pembangunan prasarana yang tidak dapat digunakan atau terbengkalai.

3. Legalisasi
Legalisasi Rencana Tata Ruang sangat penting untuk segera dilakukan. Keterlambatan
pengesahan atau legalitas Rencana Tata Ruang Wilayah menyebabkan sangat terhambatnya
pembangunan disuatu daerah tersebut.
Rencana yang sudah dibuat harus di legalisasi agar menjadi sah dimata hukum. Namun, untuk
menuju perda banyak kendala atau permasalahan yang dihadapi tetapi lebih kepada
birokrasinya. Proses pembahasan untuk mencapai legalitas dimulai dari konsultasi publik
(kab/kota). Sebenarnya permasalahan terlambatnya legalisasi Rencana Tata Ruang Wilayah
disebabkan oleh pemerintah atau DPR. Masih banyak pejabat yang belum mengetahui dengan
baik tentang perencanaan. Sepertinya pemerintah hanya berfokus kepada bagaimana mereka
mendapatkan keuntungan dari proses pembuatan Rencana Tata Ruang. Banyak keputusan tata
ruang yang ternyata sudah terpengaruh unsur politik dan kekuasaan.

4. Penegakan Hukum
Masih kurangnya pengawasan dan penindakan terhadap pelanggaran atas RTRW = Masih
banyak hal yang perlu di persiapkan untuk menegakkan implementasi RTRW tersebut
dilapangan, termasuk pelatihan Penyidikan Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Bidang Penataan
Ruang.

5. Kekuatan Politik
a. Sistem politik yang tidak demokratis
Kondisi politik yang otokratik, sentralistik atau fanatisme akan menghasilkan
perencanaan yang tidak demokratis.
b. Stabilitas Politik
Arah politik yang tidak tetap atau sering berubah akan mengakibatkan perencanaan yang
tidak konsisten. Perencanaan yang tidak konsisten dapat mengakibatkan penggunaan
sumberdaya yang tidak efektif dan efisien serta tidak terjadinya pembangunan yang
berkesinambungan.
c. Dominasi sistem politik
Sistem politik yang terlalu mendominasi perencanaan tata ruang mengalahkan
pertimbangan teknis maupun ekonomis. Hasil keputusan menjadi kurang obyektif, hanya
menguntungkan kelompok tertentu dan kurang berkeadilan.
d. Kesadaran politik yang rendah, antara lain :
Tidak mau mengalah;
Emosional;
Tidak rasional;

6. Partisipasi masyarakat masih kurang


Belum difektifkannya peran serta masyarakat dalam setiap tahapan penyusunan rencana tata
ruang sampai kepada pelaksanaan/pengetrapan di lapangan. Konsep Participatory Planning
mutlak di terapkan di dalam sistem perencanaan saat ini.

7. Kurangnya koordinasi penataan ruang


Koordinasi perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang baik secara
instansional maupun dengan lembaga masyarakat belum berjalan secara baik. Misalnya,
pengaspalan jalan tidak terpadu dengan penanaman kabel telepon, kabel listrik atau pipa air
minum. Disamping itu, antar lembaga/instansi pemerintah yang melakukan pengendalian
kadang - kadang juga terjadi konflik dan tidak sejalan di dalam pengendalian pemanfaatan
ruang. Misalnya, pada daerah - daerah yang telah ditetapkan sebagai jalur hijau atau
pendudukan tanah secara liar (squatters) tetap saja pelayanan fasilitas kota tetap diadakan.

Sumber : http://dokter-kota.blogspot.com/2012/10/masalah-tata-ruang-pendanaan-dan-hukum.html
Pembahasan Tugas 5 Kuliah
implementasi = perwujudan
Masalah :
- ketidakjelasan aturan
- status lahan (kepemilikan)
- akurasi data dan SDM (proses/tahap perencanaan)
- konflik politik RTRW
- kelembagaan pengendali