Anda di halaman 1dari 39

TEORI PSIKOANALISA (FRUED DAN ERIKSON), LEARNING

THEORIES (SKINNER DAN BANDURA) DAN HUMANISTIC THEORIS


(CHARLOTTE BUHLER, MASLOW, DAN ROGERS) DAN
PERANANNYA DALAM PERKEMBANGAN

MAKALAH

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH

Perkembangan Peserta Didik

Yang dibina oleh Ibu Vita Ria Mustikasari, S.Pd, M.Pd

Oleh Kelompok 2 :

1. ABDUL FATTAH NOOR (150351605470)


2. NILA FATMASARI (150351600443)
3. SILVA AYU (150351606820)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PRODI PENDIDIKAN IPA

FEBRUARI 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan dan berkat-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah Perkembangan Peserta Didik ini dengan
baik. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Perkembangan
Peserta Didik. Makalah ini menjelaskan lebih mendalam mengenai Teori
Psikoalisa (Frued dan Erikson), Learning theories (Skinner dan Bandura),
Humanistic theoris (Charlotte Buhler, Maslow dan Rogers) dan peranannya
terhadap perkembangan dengan bahasa yang lebih mudah untuk di cerna dan
dipahami.

Makalah ini ditulis dari hasil data-data sekunder yang penulis peroleh dari
buku panduan yang berkaitan dengan Perkembangan Peserta Didik, serta
informasi dari media massa yang berhubungan dengan Teori Psikoalisa (Frued
dan Erikson), Learning theories (Skinner dan Bandura), Humanistic theoris
(Charlotte Buhler, Maslow dan Rogers) dan peranannya terhadap perkembangan.
Penulis berharap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat
bagi kita semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai
Perkembangan Peserta Didik, khususnya bagi penulis. Akhir kata, mungkin dalam
penulisan makalah ini masih banyak kekurangan. Kritik dan saran tentunya sangat
kami harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan. Akhirnya penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini, sehingga makalah ini dapat
terselesaikan.

Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
Judul........................................................................................................................I
Kata
Pengantar....................................................................................................................
...II
Daftar
Isi...............................................................................................................................
III
Bab I
Pendahuluan...............................................................................................................
...1
1.1 Latar
Belakang..................................................................................................
...1
1.2 Rumusan
Masalah.................................................................................................2
1.3 Tujuan.....................................................................................................
..............2
Bab II
Pembahasan....................................................................................................
.............3
2.1Teori
Psikoanalisa..................................................................................................3
2.2 Learning
Theories.................................................................................................7
2.3 Humaristic
Theories............................................................................................11
2.4 Masalah Anak
Pemalas.......................................................................................16
Bab III
Penutup.....................................................................................................................1
7
3.1
Kesimpulan.........................................................................................................19
3.2
Saran...................................................................................................................20
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Banyak teori tentang belajar yang telah berkembang mulai abad ke 19


sampai sekarang ini. Pada awal abad ke-19 teori belajar yang berkembang pesat
dan memberi banyak sumbangan terhadap para ahli psikologi adalah teori belajar
tingkah laku (behaviorisme) yang awal mulanya dikembangkan oleh psikolog
Rusia Ivan Pavlov (tahun 1900-an) dengan teorinya yang dikenal dengan istilah
pengkondisian klasik (classical conditioning) dan kemudian teori belajar tingkah
laku ini dikembangkan oleh beberapa ahli psikologi yang lain seperti Edward
Thorndike, B.F Skinner dan Gestalt. Teori belajar behaviorisme ini berorientasi
pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Pengulangan dan pelatihan digunakan
supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan
dari penerapan teori behavioristik ini adalah terbentuknya suatu perilaku yang
diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku
yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau Penilaian
didasari atas perilaku yang tampak. Dalam teori belajar ini guru tidak banyak
memberikan ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh baik dilakukan
sendiri maupun melalui simulasi.Selain teori belajar behavioristik masih ada
beberapa lagi teori yang lainnya misalkan teori psikoanalisa dan humaristic
theoris yang dikemukakan oleh beberapa tokoh. Untuk itulah disusun makalah
dengan judul Teori Psikoanalisa, Learning Theories, Humaristic Theories Dan
Peranannya Terhadap Perkembangan ini disusun untuk memberikan pemahaman
yang luas mengenai bagaimana teori Psikoanalisa, Learning Theories, Humaristic
Theories Dan Peranannya Terhadap Perkembangan.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Teori psikoanalisa menurut Frued dan Erikson serta peranannya terhadap
perkembangan?
1.2.2 Learning theories menurut Skinner dan Bandura serta peranannya dalam
perkembangan?
1.2.3 Humanistic theories menurut Charlotte Buhler, Maslow dan Rogers dan
peranannya dalam perkembangan?
1.3 Tujuan
1.3.1 Dapat mengetahui teori psikoanalisa menurut Frued dan Erikson serta
peranannya terhadap perkembangan
1.3.2 Dapat mengetahui learning theories menurut Skinner dan Bandura serta
peranannya dalam perkembangan.
1.3.3 Dapat mengetahui humanistic theories menurut Charlotte Buhler, Maslow
dan Rogers dan peranannya dalam perkembangan
BAB II

PEMBAHASAN

Berdasarkan rumusan masalah pada Bab I, maka pembahasan pada Bab II yaitu
(1) teori psikoanalisa dan Pengaruhnya terhadap perkembanagan. (2)learning
theoris dan pengaruhnya terhadap perkembanagan (3)learning theoris dan
pengaruhnya terhadap perkembangan.

2.1.1 Teori Psikoanalisa (Freud dan Erikson) dan peranannya terhadap


perkembangan
Psikoloanalisa dikembangkan oleh Sigmund Freud (1856-1939), seorang
psikiater kebangsaan Australia. Sigmund Freud dilahirkan dikota kecil, Freiberg,
Moravia. Psikoloanalisis merupakan salah satu aliran di dalam disiplin ilmu
psikologi yang memiliki beberapa definisi dan sebutan, adakalanya psikoloanalisa
disefinisikan sebagai metode penelitian, sebagai tehnik penyembuhan dan juha
sebagai pengetahuan psikologi.
Menurut Freud, kepribadian manusia memiliki sesuatu struktur yang
terdiri dari id (da es), ego (das ich), dan super ego (das ueber ich). Struktur
kepribadian tersebut akan saling berinteraksi dan akan menentukan perilaku
seseorang.
a. Id (da es)
Id merupakan sumber energi psikis yang menggerakkan kegiatan psikis
manusia, karena berisi insting-imsting, baik insting hidup (eros) yang
menggerakkan untuk mencapai pemenuhan kebutuhan biologis (seperti
makan, minum, tidur, hubungan seks, dll). Insting kematian, tanatos
menggerakkan tingkah laku agresif. Id bersifar primitif dan tidak logis
atau tidak rasional.
b. Ego (das ich)
Ego merupakan sistem kepribadian yang rasional dan berorientasi pada
prinsip realitas (reality principle). Ego berperan sebagai mediator antara
ide yakni keinginan untuk mencapai kepuasan dan kondisi lingkungan atau
dunia nyata. Dalam proses ini ego bersifat pragmatis dan kurang
memerhatikan atau norma, namun berupaya untuk mencapai tujuan-tujuan
jangka panjang dengan cara menunda kesenangan atau kepuasan sesaat.
Berbeda dengan ide, ego merupakan sistem kepribadian yang
terorganisasi, rasional, dan berorientasi pada prinsip realitas (reality
principle).
c. Super ego
Super ego memiliki beberapa fungsi pertama, merintangi dorongan-
dorongan ide, terutama dorongan seksual. Kedua mendorong ego untuk
menggantikan tujuan-tujuan realistis dengan tujuan moral dan ketiga
mengejar kesempurnaan.
Tahap perkembangan psikoseksual terdiri atas berikut ini.
Tahap oral (0-1 tahun)
Bayi merasakan kenikmatan pada daerah mulut. Mengunyah, menggigit
dan menghisap adalah sumber utama kenikmatan.
Tahap Anal (1-3 tahun)
Kenikmatan terbesar anak terdapat disekitar daerah lubang anus.
Rangsangan pada daerah lubang anus ini berkaitan erat dengan kegiatan
buang air besar.
Tahap Phalik (4-5 tahun)
Kenikmatan berfokus pada alat kelamin, ketika anak menemukan bahwa
manipulasi diri dapat memberi kenikmatan. Anak mulai menaruh perhatian
pada perbedaan-perbedaan anatomic antara lak-laki dan perempuan,
terhadap asal-usul bayi dan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan
kegiatan seks.
Tahap latensi (6-12 tahun)
Anak menekan semua minat terhadap seks dan mengembangkan
ketrampilan social dan intelektual. Kegiatan ini menyalurkan banyak
energi anak kedalam bidang-bidang yang aman secara emosional dan
menolong anak melupakan konflik pada tahap phalic yang sangat
menekan.
Tahap genetika (12-dewasa)
Dorongan-dorongan seks yang ada pada masa phallic kembali
berkembang, setelah berada pada keadaan tenang selama masa latency.
Kematangan fisiologis ketika anak memasuki masa remaja, mempengaruhi
timbulnya daerah-daerah erogen pada alat kelamin sebagai sumber
kenikmatan
2.1.2 Teori Psikoanalisis menurut Erickson
Erickson memberi jiwa baru ke dalam Teori Psikoanalisis, dengan
memberi perhatian yang lebih besar kepada Ego daripada Id dan Superego. Dia
masih menghargai Teori Freud, namun mengembangkan ide-ide khususnya dalam
hubungannya dengan tahap perkembangan dan peran sosial terhadap pembentuk
Ego. Ego berkembang melalui respon terhadap kekuatan dalam dan kekuatan
lingkungan sosial. Ego bersifat adaptif dan kreatif, berjuang aktif (otonomi)
membantu diri menangani dunianya. Erickson masih mengakui adanya kualitas
dan inisiatif sebagai bentuk dasar pada tahap awal, namun hal itu hanya
bisa berkembang dan matang melalui pengalaman sosial dan lingkungan. Dia juga
mengakui sifat rentan Ego,defense yang irasional, efek trauma-anxiety-guilt yang
langgeng, dan dampak lingkungan yang membatasi dan tidak peduli terhadap
individu. Namun menurutnya Ego memiliki sifat Adaptif, Kreatif, dan Otonom
(adaptable, creative, dan autonomy). Dia memandang lingkungan bukan semata-
mata menghambat dan menghukum (Freud), tetapi juga mendorong dan
membentu individu. Ego menjadi mampu-terkadang dengan sedikit bantuan dari
terapis-menangani masalah secara efektif.

2.1.3 Perkembangan kepribadian dalam teori psikoanalisis Erickson


1.Trust VS Mistrust (0-1/1,5 tahun).
Perkembangan basic trust, essensial. Dalam derajat tertentu diperlukan
juga perkembangan ketidakpercayaan (mistrust) untuk mendeteksi suatu bahaya
atau suatu yang tidak menyenangkan & membedakan orang-orang yang dapat
dipercaya / tidak.
2. Otonomi VS Rasa Malu dan Ragu ( early chilhood : 1/1,5-3 tahun).
Mulai mengembangkan kemandirian. Bisa timbul kegelisahan, ketakutan
dan kehilangan rasa pencaya diri apabila suatu kegagalan terjadi.
3. Inisiatif VS Rasa Bersalah (late chilhood:3-6th).
Komponen positif adalah berkembangnya inisiatif. Modalitas dasar
psikososialnya : membuat, campur tangan, mengambil inisiatif , membentuk,
melaksanakan pencapaian tujuan dan berkompetisi
4. Industri VS Inferiority ( usia sekolah:6-12 tahun).
Dimulai industrial age. Pengalaman berhasil memberikan rasa produktif,
menguasai dan kompetitif. Kegagalan menimbulkan perasaan tidak adekuat &
inferioritas merasa diri tidak tidak berguna.
5. Identitas dan Penolakan VS difusi Identitas ( masa remaja: 12-20 tahun).
Tahap perkembangan sebelumnya memberi kontribusi yang berarti pada
pembentukkan Identitas dapat terjadi krisis identitas. Fungsi dasar remaja :
mengintegrasikan berbagai identifikasi yang mereka dapat pada masa kanak-
kanak untuk melengkapi proses pencarian identitas.
6. Intimasi dan Solidaritas VS Isolasi (Early adulthood : 20-35 th).
Perkembangan identitas mendasari perkembangan keakraban indvidu
dengan orang lain. Kemampuan mengembangkan hubungan dengan sejenis/lawan
jenis. Salah satu aspek keintiman adalah solidaritas. Jika keintiman gagal dicapai,
individu cenderung menutup diri.
7. Generativitas VS Stagnasi/ mandeg ( middle adulthood : 35-65 th ).
Generativitas bertitik tolak pada pentingnya dan pengarahan generasi
berikutnya. Penting menumbuhkan upaya-upaya kreatif dan produktif . Bila
generativitas gagal, terjadi stagnasi.
8. Integritas VS Keputusasaan (later years: diatas 65 th).
Secara ideal telah mencapai integritas Integritas : menerima keterbatasan
hidup, merasa menjadi bagian dari generasi sebelumnya, memiliki rasa kearifan
sesuai bertambahnya usia, merupakan integrasi akhir dari tahap-tahap
sebelumnya. Bila integritas gagal : timbul keputusasaan, penyesalan terhadap apa
yang telah dan belum dilakukannya, ketakutan dalam menghadapi kematian.
2.1.4 Perbedaan Teori menurut Freud dan menurut Erikson

Freud Erikson

Perenan/fungsi id dan ketidaksadaran Peran/fungsi ego lebih ditonjolkan, yang


sangat penting berhubungan dengan tingkah laku yang nyata.

Hubungan segitiga antara anak, ibu Hubungan-hubungan yang penting lebih luas,
dan ayah menjadi landasan yang karena mengikutsertakan pribadi-pribadi lain
terpenting dalam perkembangan yang ada dalam lingkungan hidup yang langsung
kepribadian. pada anak. Hubungan antara anak dan orang tua
melalui pola pengaturanbersama (mutual
regulation).

Orientasi patologik, mistik karena Orientasinya optimistik, kerena kondisi-kondisi


berhubungan dengan berbagai dari pengaruh lingkungan sosial yang ikut
hambatan pada struktur kepribadian mempengaruhi perkembang kepribadian anak
dalam perkembangan kepribadian. bisa diatur.

Timbulnya berbagai hambatan dalam Konflik timbul antara ego dengan lingkungan
kehidupan psikisnya karena konflik sosial yang disebut: konflik sosial.
internal, antara id dan super ego.

2.2.1 Learning Theories (Skinner dan Bandura) dan peranannya terhadap


perkembangan
Menurut Skinner, belajar adalah proses perubahan tingkah laku
yang harus dapat diukur. Bila pembelajar (peserta didik) berhasil belajar,
maka respon bertambah, tetapi bila tidak belajar banyaknya respon
berkurang, sehingga secara formal hasil belajar harus bisa diamati dan
diukur.

Menurut Skinner (J.W. Santrock, 272) unsur yang terpenting


dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement) dan hukuman
(punishment). Penguatan dan hukuman. Penguatan (reinforcement) adalah
konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan
terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang
menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.

Menurut Skinner penguatan berarti memperkuat, penguatan dibagi menjadi


dua bagian yaitu :
Penguatan positif
Penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons
meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung
(rewarding).Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa
hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum,
menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan,
mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1
dsb).
Penguatan negative
Penguatan berdasarkan prinsif bahwa frekuensi respons
meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang
merugikan (tidak menyenangkan). Bentuk-bentuk penguatan
negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan,
memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak
senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).

Skinner menghasilkan suatu sistem ringkas yang dapat diterapkan


pada dinamika perubahan tingkah laku baik di laboratorium maupun di
dalam kelas. Belajar, yang digambarkan oleh makin tingginya angka
keseringan respons, diberikan sebagai fungsi urutan ketiga unsure (SD)-
(R)-(R Reinsf). Skinner menyebutkan praktek khas menempatkan binatang
percobaan dalam kontigensi terminal. Maksudnya, binatang itu harus
berusaha penuh resiko, berhasil atau gagal, dalam mencari jalan lepas dari
kurungan atau makanan. Bukannya demikian itu prosedur yang mengena
ialah membentuk tingkah-laku binatang itu melalui urutan Sitimulus-
respon-penguatan yang diatur secara seksama.
Skinner menggambarkan praktek tugas dan ujian sebagai suatu
contoh menempatkan pelajar yang manusia itu dalam kontigensi terminal
juga. Skinner menyarankan penerapan cara pemberian penguatan
komponen tingkah laku seperti menunjukkan perhatian pada stimulus dan
melakukan studi yang cocok terhadap tingkah laku. Hukuman harus
dihindari karena adanya hasil sampingan yang bersifat emosional dan tidak
menjamin timbulnya tingkah laku positif yang diinginkan. Analisa yang
dilakukan Skinner tersebut diatas meliputi peran penguat berkondisi dan
alami, penguat positif dan negative, dan penguat umum.
Skinner (1958) memberikan definisi belajar Laerning is a process
of progressive behavior adaptation. Dari definisi tersebut dapat
dijelaskan bahwa belajar itu merupakan suatu proses adaptasi perilaku
yang bersifat progresif. Ini berarti bahwa sebagai akibat dari belajar
adanya sifat progresifitas, adanya tendensi kearah yang lebih baik dari
keadaan sebelumnya. Konsep yang dikemukakan oleh Skinner tentang
belajar mampu mengungguli konsep-konsep lain yang dikemukakan oleh
para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara
sederhana, namun dapat menunjukan konsepnya tentang belajar secara
lebih komprehensif.Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan
respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang
kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah
sesederhana yang digambarkan oleh para tokoh sebelumnya. Dikatakan
bahwa respon yang dinerikan oleh seseorang/siswa tidaklah sesederhana
itu. Sebab, pada dasarnya stimulus-stimulus yang diberikan kepada
seseorang akan saling berinteraksi dan interaksi antara stimulus-stimulus
tersebut akan mempengaruhi bentuk respon yang akan diberikan.

2.2.2 Sejarah Munculnya Teori Kondisioning Operan B.F Skinner


Asas pengkondisian operan B.F Skinner dimulai awal tahun 1930-an, pada
waktu keluarnya teori S-R. Pada waktu keluarnya teori-teori S-R. Pada waktu itu
model kondisian klasik dari Pavlov telah memberikan pengaruh yang kuat pada
pelaksanaan penelitian. Istilah-istilah seperti cues (pengisyaratan), purposive
behavior (tingkah laku purposive) dan drive stimuli (stimulus dorongan)
dikemukakan untuk menunjukkan daya suatu stimulus untuk memunculkan atau
memicu suatu respon tertentu. Skinner tidak sependapat dengan pandangan S-R
dan penjelasan reflex bersyarat dimana stimulus terus memiliki sifat-sifat
kekuatan yang tidak mengendur.
Menurut Skinner penjelasan S-R tentang terjadinya perubahan tingkah
laku tidak lengkap untuk menjelaskan bagaimana organisme berinteraksi dengan
lingkungannya. Bukan begitu,banyak tingkah laku menghasilkan perubahan atau
konsekuensi pada lingkungan yangmempunyai pengaruh terhadap organisme dan
dengan begitu mengubah kemungkinan organisme itu merespon nanti. Asas-asas
kondisioning operan adalah kelanjutan dari tradisi yang didirikan oleh John
Watson. Artinya, agar psikologi bisa menjadi suatu ilmu, maka studi tingkah laku
harus dijadikan fokus penelitian psikologi. Tidak seperti halnya teoritikus-
teoritikus S-R lainnya, Skinner menghindari kontradiksi yang ditampilkan oleh
model kondisioning klasik dari Pavlov dan kondisioning instrumental dari
Thorndike. Ia mengajukan suatu paradigma yang mencakup kedua jenis respon itu
dan berlanjut dengan mengupas kondisi-kondisi yang bertanggung jawab atas
munculnya respons atau tingkah laku operan

a.Eksperimen Skinner
Dalam eksperimen Skinner (Muhibbin Syah, 2003: 99), Skinner
menggunakan seekor tikus yang ditempatkan dalam sebuah peti yang kemudian
terkenal dengan Skinner Box. Peti sangkar ini terdiri atas dua komponen yaitu:
manipulandum dan alat pemberi reinforcement yang antara lain berupa wadah
makanan. Manipulandum adalah komponen yang dapat dimanipulasi dan
gerakannya berhubungan dengan reinforcement. Komponen ini terdiri dari
tombol, batang jeruji, dan pengungkit. (Rober, 1988).
Dalam eksperimen ini, mula-mula tikus mengeksplorasi pati sangkar
dengan berlari-lari atau mencakari dinding. Aksi ini disebut emitted behavior
(tingkah laku yang terpancar tanpa mempedulikan stimulus tertentu). Sampai pada
suatu ketika secara kebetulan salah satu emitted behavior tersebut dapat
menekan pengungkit yang menyebabkan munculnya butir-butir makanan ke
dalam wadahnya sehingga tikus dapat mendapatkan makanan.Butir-butir makanan
ini merupakan reinforce bagi penekanan pengungkit. Penekanan pengungkit inilah
yang disebut tingakah laku operant yang akan terus meningkat apabial diiringi
dengan reinforcement, yakni pengauatan berupa butir-butir makanan yang
muncul.
b. Analisa Perilaku terapan dalam pendidikan

Analisis Perilaku terapan adalah penerapan prinsip pengkondisian operan untuk


mengubah perilaku manusia. Ada tiga penggunaan analisis perilaku yang
penting dalam bidang pendidikan yaitu :
Meningkatkan perilaku yang diharapkan
Ada lima strategi pengkondisian operan dapat dipakai untuk meningkatkan
perilaku anak yang diharapkan yaitu:
a. Memilih Penguatan yang efektif
Tidak semua penguatan akan sama efeknya bagi anak. Analisis perilaku
terapan menganjurkan agar guru mencari tahu penguat apa yang paling
baik untuk anak, yakni mengindividualisasikan penggunaan penguat
tertentu. Untuk mencari penguatan yang efektif bagi seorang anak,
disarankan untuk meneliti apa yang memotivasi anak dimasa lalu, apa
yang dilakukan murid tapi tidak mudah diperolehnya, dan persepsi anak
terhadap manfaat dan nilai penguatan. Penguatan alamiah seperti pujian
lebih dianjurkan ketimbang penguat imbalan materi, seperti permen,
mainan dan uang.
b. Menjadikan penguat kontingen dan tepat waktu
Agar penguatan dapat efektif, guruharus memberikan hanya setelah murid
melakukan perilaku tertentu. Analisis perilaku terapan seringkali
menganjurkan agar guru membuat pernyataan jikamaka. penguatan
akan lebih efektif jika diberikan tepat pada waktunya, sesegera mungkin
setelah murid menjalankan tindakan yang diharapkan. Ini akan membantu
anak melihat hubungan kontingensi antar-imbalan dan perilaku mereka.
Jika anak menyelesaikan perilaku sasaran (seperti mengerjakan sepuluh
soal matematika) tapi guru tidak memberikan waktu bermain pada anak,
maka anak itu mungkin akan kesulitan membuat hubungan kontingensi.
c. Memilih jadwal penguatan terbaik
Menyusun jadwal penguatan menentukan kapan suatu respons akan
diperkuat. Empat jadwal penguatan utama adalah
1). Jadwal rasio tetap: suatu perilaku diperkuat setelah sejumlah respon.
2). Jadwal rasio variabel : suatu perilaku diperkuat setelah terjadi
sejumlahrespon, akan tetapi tidak berdasarkan basis yang dapat
diperidiksi.
3). Jadwal interval tetap : respons tepat pertama setelah beberapa waktu
akan diperkuat.
4). Jadwal interval variabel : suatu respons diperkuat setelah sejumlah
variabel waktu berlalu.
d. Menggunakan Perjanjian (contracting)
Adalah menempatkan kontigensi penguatan dalam tulisan. Jika muncul
problem dan anak tidak bertindak sesuai harapan, guru dapat merujuk anak
pada perjanjian yang mereka sepakati. Analisis perilaku terapan
menyatakan bahwa perjanjian kelas harus berisi masukan dari guru dan
murid. Kontrak kelas mengandung pernyataan jika maka dan di
tandatangani oleh guru dan murid, dan kemudian diberi tanggal.
e. Menggunakan penguatan negatif secara efektif
Dalam penguatan negatif, frekuensi respons meningkat karena respon
tersebut menghilangkan stimulus yang dihindari seorang guru mengatakan
Fika, kamu harus menyelesaikan PR mu dulu diluar kelas sebelum kamu
boleh masuk kelas ikut pembelajaran ini berarti seorang guru
menggunakan penguatan negatif.
Menggunakan dorongan (prompt) dan pembentukkan (shaping).
Prompt (dorongan) adalah stimulus tambahan atau isyarat tambahan yang
diberikan sebelum respons dan meningkatkan kemungkinan respon
tersebut akan terjadi. Shapping (pembentukan) adalah mengajari perilaku
baru dengan memperkuat perilaku sasaran.
Mengurangi perilaku yang tidak diharapkan.
Ketika guru ingin mengurangi perilaku yang tidak diharapkan (seperti
mengejek, mengganggu diskusi kelas, atau sok pintar) yang harus
dilakukan berdasarkan analisis perilaku terapan adalah
a. Menggunakan Penguatan Diferensial.
b. Menghentikan penguatan (pelenyapan)
c. Menghilangkan stimuli yang diinginkan.
d. Memberikan stimuli yang tidak disukai (hukuman).
2.2.3 Kelebihan dan kekurangan Teori B.F. Skinner
1. Kelebihan
Pada teori ini, pendidik diarahkan untuk menghargai setiap anak
didiknya. hal ini ditunjukkan dengan dihilangkannya sistem
hukuman. Hal itu didukung dengan adanya pembentukan
lingkungan yang baik sehingga dimungkinkan akan meminimalkan
terjadinya kesalahan.
2. Kekurangan
Tanpa adanya sistem hukuman akan dimungkinkan akan dapat
membuat anak didik menjadi kurang mengerti tentang sebuah
kedisiplinan. hal tersebuat akan menyulitkan lancarnya kegiatan
belajar-mengajar. Dengan melaksanakan mastery learning, tugas
guru akan menjadi semakin berat..Beberapa Kekeliruan dalam
penerapan teori Skinner adalah penggunaan hukuman sebagai salah
satu cara untuk mendisiplinkan siswa. Menurut Skinner hukuman
yang baik adalah anak merasakan sendiri konsekuensi dari
perbuatannya. Misalnya anak perlu mengalami sendiri kesalahan
dan merasakan akibat dari kesalahan. Penggunaan hukuman verbal
maupun fisik seperti: kata-kata kasar, ejekan, cubitan, jeweran
justru berakibat buruk pada siswa.Selain itu kesalahan dalam
reinforcement positif juga terjadi didalam situasi pendidikan seperti
penggunaan rangking Juara di kelas yang mengharuskan anak
menguasai semua mata pelajaran. Sebaliknya setiap anak diberi
penguatan sesuai dengan kemampuan yang diperlihatkan sehingga
dalam satu kelas terdapat banyak penghargaan sesuai dengan
prestasi yang ditunjukkan para siswa: misalnya penghargaan di
bidang bahasa, matematika, fisika, menyanyi, menari atau olahraga.
2.2.4 Aplikasi Teori Skinner Terhadap Pembelajaran
Dari penjelasan terperinci diatas tentang operant conditioning dapat
diambil kesimpulan bahwa operant conditioning merupakan teori belajar
yang menjelaskan bahwa sesuatu yang diikuti oleh konsekuensi yang
menyenangkan akan cenderung diulang-ulang. Beberapa aplikasi teori
belajar Skinner dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.
2. Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah
dibetulkan dan jika benar diperkuat.
3. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
4. Materi pelajaran digunakan sistem modul.
5. Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
6. Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
7. Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
8. Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk
mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.
9. Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
10. Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu)
2.2.5 Teori Pembelajaran sosial (Albert Bandura)
Albert Bandura sangat terkenal dengan teori pembelajaran sosial,
salah satu konsep dalam aliran behaviorisme yang menekankan pada
komponen kognitif dari fikiran, pemahaman dan evaluasi.Teori
Pembelajaran Sosial yang dikemukakan oleh Bandura telah memberi
penekanan tentang bagaimana perilaku manusia dipengaruhi oleh
persekitaran melalui peneguhan (reinforcement) dan pembelajaran
peniruan (observational learning), dan cara berfikir yang kita miliki
terhadap sesuatu maklumat dan juga sebaliknya, yaitu bagaimana tingkah
laku kita mempengaruhi persekitaran dan menghasilkan peneguhan
(reinforcement) dan peluang untuk diperhatikan oleh orang lain
(observational opportunity).
Menurut Bandura proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap
orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Teori Bandura
menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang
berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan.
Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar
sosial jenis ini. Contohnya, seorang yang hidupnya dan dibesarkan di
dalam lingkungan judi, maka dia cenderung untuk memilih bermain judi,
atau sebaliknya menganggap bahwa judi itu adalah tidak baik.Teori belajar
ini juga dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana seseorang belajar
dalam keadaan atau lingkungan sebenarnya. Bandura menghipotesiskan
bahwa tingkah laku, lingkungan dan kejadian -kejadian internal pada
pelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi adalah merupakan hubungan
yang saling berpengaruh atau berkaitan. menurut Albert Bandura lagi,
tingkah laku sering dievaluasi, yaitu bebas dari timbal balik sehingga
boleh mengubah kesan-kesan personal seseorang. Pengakuan sosial yang
berbeda mempengaruhi konsepsi diri individu.
Albert Bandura yang oleh banyak ahli dianggap sebagai seorang
behavioris masa kini yang moderat. Salah satu asumsi awal dan dasar teori
kognisi sosial Bandura adalah bahwa manusia cukup fleksibel dan mampu
mempelajari berbagai sikap, kemampuan, dan perilaku, serta cukup
banyak dari pembelajaran tersebut yang merupakan hasil dari pengalaman
tidak langsung. Tidak seperti rekan-rekannya sesama penganut aliran
behaviorisme, Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-
mata refleks otomatis atas stimulus (S-R bond) melainkan juga akibat
reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema
kognitif manusia itu sendiri.
Menurut aliran behaviorisme, setiap siswa lahir tanpa
warisan/pembawaan apa-apa dari orang tuanya, dan belajar adalah
kegiatan refleks-refleks jasmani terhadap stimulus yang ada (S-R theory)
serta tidak ada hubungannya dengan bakat dan kecerdasan atau warisan/
pembawaan. Menurut aliran kognitif, setiap siswa lahir dengan bakat dan
kemampuan mentalnya sendiri. Faktor bawaan ini memungkinkan siswa
untuk menentukan merespon atau tidak terhadap stimulus, sehingga
belajar tidak bersifat otomatis seperti robot. Pendekatan teori sosial
terhadap proses perkembangan sosial dan moral siswa ditekankan pada
perlunya conditioning (pembiasaan merespons) dan imitation (peniruan).
Conditioning,
prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku sosial dan moral pada
dasarnya sama dengan prosedur belajar dalam mengembangkan
perilaku-perilaku lainnya, yakni dengan reward (ganjaran/memberi
hadiah atau mengganjar) dan punishment (hukuman/ memberi
hukuman) untuk senantiasa berfikir dan memutuskan perilaku sosial
mana yang perlu ia perbuat.
Imitation,
proses imitasi atau peniruan. Dalam hal ini, orang tua dan guru
seyogianya memainkan peran penting sebagai seorang model atau
tokoh yang dijadikan contoh berperilaku sosial dan moral bagi siswa.
Sebagai contoh, seorang siswa mengamati gurunya sendiri menerima
seorang tamu, lalu menjawab salam, menjabat tangan, beramah tamah,
dan seterusnya yang dilakukan guru tersebut diserap oleh memori
siswa.
Semakin piawai dan berwibawa seorang model, semakin tinggi
pula kualitas imitasi perilaku sosial dan moral siswa tersebut. Mengimitasi
model merupakan elemen paling penting dalam hal bagaimana si anak
belajar bahasa, berhadapan dengan agresi, mengembangkan perasaan
moral dan belajar perilaku yang sesuai dengan gendernya. Analisis
perilaku terapan (applied behaviour analysis) merupakan kombinasi dari
pengkondisian dan modeling, yang dapat membantu menghilangkan
perilaku yang tidak diinginkan secara sosial. Definisi belajar pada asasnya
ialah tahapan perubahan perilaku siswa yang relative positif dan menetap
ssebagai hasil interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses
kognitif. Proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku
kognitif, afektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Belajar
memiliki arti penting bagi siswa dalam melaksanakan kewajiban
keagamaan, meningkatkan derajat kehidupan, mempertahankan dan
mengembangkan kehidupan.
Teori pembelajaran terbaru Bandura disebut dengan teori kognitif sosial.
Perubahan dari satu nama ke nama yang lain ini merefleksikan
meningkatnya penekanan Bandura atas respon kognitif terhadap persepsi
sebagai sesuatu yang mendasar dalam perkembangan.
Sementara itu, beberapa fase teori belajar sosial, diantaranya :
1) Fase Memperhatikan (attentional phase)
Fase ini merupakan dasar dari suatu proses pengamatan. Tidak adanya
perhatian yang terpusat, sulit bagi individu untuk melakukan
pengamatan dan pembelajaran secara intensif. Berkembangnya
perhatian individu terhadap suatu obyek berkaitan dengan daya
ingatnya. Bagi remaja tertarik dan menaruh perhatian terhadap perilaku
model tertentu, karena model tersebut dipandangnya sebagai yang
hebat, unggul, berkuasa, anggun, berwibawa. Selain itu,
berkembangnya perhatian oleh adanya kebutuhan dan minat pribadi.
Untuk menarik perhatian para peserta didik, guru dapat
mengekspresikan suara dengan intonasi khas ketika menyajikan pokok
materi atau bergaya dengan mimik tersendiri ketika menyajikan contoh
perilaku tertentu. Semakin erat hubungannya antara kebutuhan dan
minat dengan perhatian, semakin kuat daya tariknya terhadap perhatian
tersebut dan demikian pula sebaliknya.
2) Fase Menyimpan (retention phase )
Setelah fase memperhatikan, seorang individu akan memperlihatkan
tingkah laku yang sama dengan model tersebut ini berarti individu
mengingat dan menyimpan stimulus yang diterimanya dalam bentuk
simbol-simbol. Menurut Bandura bentuk-bentuk simbol tersebut tidak
hanya diperoleh melalui pengamatan visual, tetapi juga verbalisasi.
Pada anak-anak yang kekayaan verbalnya terbatas, maka kemampuan
menirunya terbatas pada kemampuan untuk melakukan simbolisasi
melalui pengamatan visual.
3) Fase Mereproduksi (reproduction phase)
Pada tahap reproduksi, segala bayangan/citra mental (imagery) atau
kode-kode simbolis yang berisi informasi pengetahuan dan perilaku
yang telah tersimpan dalam memori para peserta didik itu diproduksi
kembali. Untuk mengidentifikasi tingkat penguasaan para peserta didik,
guru dapat menyuruh mereka membuat atau melakukan lagi apa-apa
yang telah mereka serap misalnya dengan menggunakan sarana post-
test.
4) Fase Motivasi (motivation phase)
Tahap terakhir dalam proses terjadinya peristiwa atau perilaku belajar
adalah tahap penerimaan dorongan yang berfungsi sebagai
reinforcement penguatan bersemayamnya segala informasi dalam
memori para peserta didik. Pada tahap ini, guru dianjurkan untuk
memberi pujian, hadiah, atau nilai tertentu kepada para peserta
didikyang berkinerja memuaskan. Sementara itu, kepada mereka yang
belum menunjukkan kinerja yang memuaskan perlu diyakinkan akan
arti penting penguasaan materi atau perilaku yang disajikan model
(guru) bagi kehidupan mereka. Seiring dengan upaya ini ada baiknya
ditunjukkan bukti-bukti kerugian orang yang tidak menguasai materi
atau perilaku tersebut.
2.2.6 Sejarah Munculnya Teori Pembelajaran Sosial
Albert Bandura dan Richard Walters (1959, 1963)10, telah melakukan
eksperimen lain yang juga berkenaan dengan peniruan. Hasil eksperimen mereka
mendapati, peniruan boleh berlaku hanya melalui pengamatan terhadap perilaku
model (orang yang ditiru) meskipun tanpa sebarang peneguhan. Proses belajar
semacam ini disebut "observational learning" atau pembelajaran melalui
pengamatan. Bandura, kemudian menyarankan agar teori pembelajaran sosial
diperbaiki memandangkan teori pembelajaran sosial yang sebelumnya hanya
mementingkan perilaku tanpa memberi pertimbangan terhadap proses mental
seseorang.Menurut Bandura, perlakuan seseorang adalah hasil interaksi faktor
dalam diri (kognitif) dan persekitaran. Bagi menjelaskan pandangan ini, beliau
telah mengemukakan teori pembelajaran peniruan, dalam teori ini beliau telah
menjalankan kajian bersama Walter (1963) ke atas kesan perlakuan kanak-kanak
apabila mereka menonton orang dewasa memukul, mengetuk dengan tukul besi
dan menumbuk sambil menjerit-jerit dalam video. Setelah menonton video kanak-
kanak ini diarah bermain di bilik permainan dan terdapat patung seperti yang
ditayangkan dalam video. Setelah kanak-kanak tersebut melihat patung tersebut,
mereka meniru aksi-aksi yang dilakukan oleh orang yang mereka tonton dalam
video (Ramlah Jantan & Mahani Razali 2004).
1. Eksperimen Albert bandura
Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang
menunjukkan kanak-kanak meniru seperti perilaku agresif dari orang dewasa
disekitarnya.Albert Bandura, seorang tokoh mazhab sosial ini menyatakan bahawa
proses pembelajaran akan dapat dilaksanakan dengan lebih berkesan dengan
menggunakan pendekatan permodelan. Beliau menjelaskan lagi bahwa aspek
pemerhatian pelajar terhadap apa yang disampaikan atau dilakukan oleh guru dan
juga aspek peniruan oleh pelajar akan dapat memberikan kesan yang optimum
kepada kefahaman pelajar.
Eksperimen Pemodelan Bandura
Disuruh memerhati sekumpulan orang dewasa memukul,
menumbuk, menendang dan menjerit ke arah patung besar Bobo.
Hasil = Meniru apa yang dilakukan orang dewasa malahan lebih agresif,
2. Kelebihan Teori Albert Bandura
Teori Bandura lebih lengkap dibandingkan teori belajar sebelumnya
karena itu menekankan bahwa lingkungan dan perilaku seseorang dihubungkan
melalui sistem kognitif orang tersebut. Bandura memandang tingkah laku manusia
bukan semata - mata refleks atas stimulus (S-R bond), melainkan juga akibat
reaksi yang timbul akibat interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif
manusia itu sendiri.Pendekatan teori belajar sosial lebih ditekankan pada perlunya
conditioning (pembiasaan merespon) dan imitation (peniruan). Selain itu
pendekatan belajar sosial menekankan pentingnya penelitian empiris dalam
mempelajari perkembangan kanak-kanak. Penelitian ini berfokus pada proses
yang menjelaskan perkembangan kanak-kanak, faktor sosial dan kognitif.Contoh
aplikasi teori belajar Bandura adalah ketika seorang anak belajar untuk
mengendarai sepeda. Ditahap perhatian, si anak akan tertarik mengamati para
pengendara sepeda dibanding dengan orang yang melakukan aktifitas lain yang
diaanggap kurang menarik. Oleh karena itu, ia akan mengamati bagaimana
seseorang mengayuh sepeda. Selanjutnya pada tahap penyimpanan dalam ingatan
si anak akan tersimpan bahwa bersepeda itu menyenangkan dan suatu saat jika
waktunya tepat ia akan meminta ayahnya (semisal) untuk mengajarinya
mengendarai sepeda. Semuanya itu kemudian dilaksanakan pada tahap reproduksi
di mana si anak kemudian benar-benar belajar mengendarai sepeda bersama sang
ayah. Ketika anak itu sudah berhasil, di sinilah tugas sang ayah untuk memberi
reward sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan sang anak sekaligus merupakan
tahap motivasi.
3. Kelemahan/Kritikan Teori Albert Bandura
Teori pembelajaran social Albert bandura sangat sesuai jika diklsifikasikan
dalam teori behavioristik. Ini karena, teknik pemodelan albert bandura adalah
mengenai peniruan tingkah laku dan adakalanya cara peniruan tersebut
memerlukan pengulangan dalam mendalami sesuatu yang ditiru.Selain itu juga,
jika manusia belajar atau membentuk tingkah lakunya dengan hanya melalui
peniruan (modeling), sudah pasti terdapat sesetengah individu yang menggunakan
teknik peniruan ini juga akan meniru tingkah laku yang negatif termasuklah
perlakuan yang tidak diterima dalam masyarakat
2.3.1 Humanistic Theories (charlotte buhler, maslow, dan rogers) dan
peranannya dalam perkembangan

Teori humanistic berkembang pada tahun 1950-an sebagai teori


yang menentang teori-teori psikoanalisis dan behavioristik. Serangan
humanistic terhadap dua teori ini, adalah bahwa kedua-duanya bersifat
dehumanizing (melcehkan nilai-nilai manusia). Teori freud dikritik,
karena memandang tingkah laku manusia didominasi atau ditentukan
oleh dorongan yang bersifat primitive, dan animalistic (hewani).
Sementara behavioristic dikritik, karena teori ini terlalu asyik dengan
penelitiannya terhadap binatang, dan menganalisisa kepribadian secara
pragmentaris. Kedua teori ini dikritik, karena memangdang manusia
sebagai bidak atau pion yang tak berdaya dikontrol oleh lingkungan dan
masa lalu, dan sedikit sekali kemampuan untuk mengarahkan diri.
Teori humanistik adalah teori belajar berusaha memahami perilaku
belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang
pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu peserta
didik untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing
individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik
dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri
mereka.
Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si
pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Peserta didik
dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu
mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini
berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya,
bukan dari sudut pandang pengamatnya. (Uno, 2006: 13).
Selanjutnya Gagne dan Briggs mengatakan bahwa pendekatan
humanistik adalah pengembangan nilai-nilai dan sikap pribadi yang
dikehendaki secara sosial dan pemerolehan pengetahuan yang luas
tentang sejarah, sastra, dan pengolahan strategi berpikir produktif
Pendekatan sistem bisa dapat di lakukan sehingga para peserta didik
dapat memilih suatu rencana pelajaran agar mereka dapat mencurahkan
waktu mereka bagi bermacam-macam tujuan belajar atau sejumlah
pelajaran yang akan dipelajari atau jenis-jenis pemecahan masalah dan
aktifitas-aktifitas kreatif yang mungkin dilakukan.pembatasan praktis
dalam pemilihan hal-hal itu mungkin di tentukan oleh keterbatasan
bahan-bahan pelajaran dan keadaan tetapi dalam pendekatan sistem itu
sendiri tidak ada yang membatasi keanekaragaman pendidikan ini. (Uno,
2006: 13).
Tujuan utama para pendidik adalah membantu si peserta didik
untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu
untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan
membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri
mereka. Jadi, teori belajar humanistik adalah suatu teori dalam
pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia
serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya.
Teori-teori Maslow
Abraham Maslow adalah tokoh penting kedua dalam psikologi
humanistik. Tidak seperti Rogers, Maslow bukan ahli terapi. Karinya
dimulai sebagai teori perilaku, tetapi setelah kelahiranputri pertamanya,
dia menolak gagasan bahwa misteri perkembangan anak bisa dijelaskan
lewatproses belajar sederhana. Seperti Rogers,Maslow berusaha
menemukan penjelasan mengenai perkembanganmanusia seutuhnya.
Maslow (1954) mengembangkan teori motivasi manusia yang
tujuannya menjelaskan segala jenis kebutuhan manusia dan
mengurutkannya menurut tingkat prioritas manusia dalam
pemenuhannya. Maslow membedakan D-needs atau deficiency
needsyang muncul dari kebutuhan akan pangan, tidur, rasa aman, dan
lan-lain, serta B-needs atau being needs seperti keinginan untuk
memenuhi potensi diri. Kita baru dapat memenuhi B-needs jika D-needs
sudah terpenuhi. Hirarki kebutuhan menurut Maslow:
Kebutuhan fisiologi
Kebutuhan akan rasa aman
Kebutuhan sosial
Kebutuhan untuk dihargai
Kebutuhan intelektual
Kebutuhan estetis
Aktualisasi diri
Jika kebutuhan tersebut telah terpenuhi kita akan mencari rasa aman
(safety). Saat kita sudah merasa aman, maka kebutuhan tersebut yang kita
cemaskan adalah kebutuhan sosial yaitu menjadi bagian dari
kelompokdan menjalin hubungan dengan orang lain. Jika kebutuhan
sosial sudah terpenuhi, kebutuhan berikutya yang terpenting adalah
kebutuhan untuk dihargai (esteem needs). agar kebutuhan itu terpenuhi,
kita harus berprestasi, menjadi kompeten, dan mendapat pengakuan
sebagai orang yang berprestasi dan kompeten.
Teori-teori rogers
Carl Rongers seorang ahli terapi yang dididik secara
psikodinamika dan peneliti psikologi yang dididik secara teori perilaku,
tetapi dia tidak sepenuhnya merasa nyaman dengandua aliran tersebut
(Thorne, 1992). Seperti Freud dan Winnicott, teori-teori Rongers
diperoleh secara klinis (clinically derived), yaitu berdasarkan apa yang
dikatakan pasien terapi. Meskipun begitu, pendekatan Rongers terhadap
perkataan pasien itu sangat berbeda. Banyak yang menyakini pendapat-
pendapat Rongers diilhami oleh seorang pasien diRochester Society fer
the Prevention of Cruelty to Chidren, perkumpulan Rochester untuk
pencegahan kekejaman terhadap anak. Rogers sedang menemui ibu dari
seorang anak laki-laki pelakukejahatan. Dia menemui wanita itu untuk
memberikan terapi, dan seperti yang diajarkan kepadanya, dia membuat
tafsiran perihal perilaku wanita ituterhadap anak laki-lakinya
berdasarkanteori psikodinamika. Wanita itu selalu menolak setiap
tafsiran dan Rogers angkat tangan. Kemudian,wanita itu bertanya apakah
Rogers menerima orang-orang dewasa untuk konseling. Ketika Rogers
mengiyakan,wanita itu (untuk pertama kalinya) menceritakan
masalahnya dengan gamblang. Kejadian itu menyakinkan Rogers bahwa
tujuan terapi harus memungkinkan pasien (atau klien seperti istilah ahli
psikologi humanistik menyebut mereka) berbicara dengan leluasa tanpa
gangguan. Berikut ini adalah beberapa pemikiran Rogers yang diperoleh
secara klinis: (teori-teori psikologi, penerbit nusamedia dan penerbit
nuansa, bandung,2000, matt Jarvis, hal 86)
a) Kecenderungan untuk mengaktualisasi
Rogers (1959) percaya, manusia memiliki satu motif dasar,
yaitu kecenderungan untuk mengaktualisasi diri. Kecenderungan
ini adalah keinginan untuk memenuhi potensi yang dimiliki dan
mencapai tahap human-beingness yang setinggi-tingginya.
Seperti bunga yang tumbuh sepenuh potensinya jika kondisinya
tepat, tetapi masih dikedalikan oleh lingkungan, manusia juga
akan tumbuh dan mencapai potensinya jika lingkungannya
cukup bagus. Namun, tidak seperti bunga, potensi yang dimiliki
manusia sebagaiindividu bersifat unik. Kita ditakdirkan untuk
berkembang dengan cara-cara yang berbeda sesuai kepribadian
kita. Proses penilaian (valuing process) bawah sadar memandu
kita menuju perilaku yang akanmembantukita mencapai potensi
yang kita miliki. Proses penilaian bisa terganggu oleh aturan-
aturan sosial yang terlalu keras dan konsep diri yang buruk.
Rogers percaya manusia pada dasarnya baikhati dan kreatif.
Mereka menjadi destruktif hanya jika konsep diri yang buruk
atau hambatan-hambatan eksternal mengalahkan proses
penilaian.
b) Pengembangan konsep diri
Rogers mengingatkan agar selama terapi, klien membuat
rujukan pada dirinya sendiri, misalnya dengan berkata, Aku
bukanlah diriku yang sebenarnya atau Aku ingin tahu siapa
sesungguhnya diriku. Roger mulai menekankan pentingnya
pengunaan kata Aku. Ingat Freud juga menggunakan istilah
Aku atau ego, tetapi Freud lebih tertarik pada aspek-aspek lain
dalam diri manusia. Rogers sebaliknya, ia tertarik pada
pengungkapan manusiatentang cara-cara pandangnya terhadap
diri sendiri secara sadar.
Rogers (1961) mengemukakan, aspek terpenting dalam
konsep diri adalah harga diri (self-esteem). Harga diri dapat
didefinisikan sebagai seberapa besar kita menyukai diri kita
sendiri. Rogers menyakini bahwa kita memiliki citradiri dalam
pikiran kita seperti keadaan kita sekarang, sekaligus citra diri
yang ideal (ideal-self), yaitu citra diri yang kita inginkan. Jika
kedua citra itu kongruen atau sama, kita akan mengembangkan
harga diri bergantung pada penghargaan positif tak bersyarat.
(unconditional positif regard) dari orang lain berupa
penerimaan, cinta, kasih sayang. Pentingnya harga diri
ditunjukkan dalam studi klasik yang dilakukan coopersmith
(1967).
Studi Coopersmits jelas-jelas mendukung pendapat rogers
bahwa harga diri berperan penting dalam perkembangan
psikolgis yang sehat dan penghargaan positif dari orangtua
merupakan faktor utama dalam pembentukan harga diri. (teori-
teori psikologi, penerbit nusamedia dan penerbit nuansa,
bandung,2000, matt Jarvis, hal 90)
Teori Buhler
Teori Tahap Perkembangan Charlotte Buhler, seorang psikolog Wina,
adalah ketua pertama dariAsosiasi Psikologi Humanistik. Buhler menolak
anggapan dari para psikoanalisbahwa pemulihan homeostasis psikologis
(keseimbangan) melalui pelepasanketegangan merupakantujuan dari
manusia. Menurut teori Buhler, tujuanriil/nyata dari manusia adalah
pemenuhan yang dapat mereka capai denganpencapaian/prestasi dalam diri
mereka dan di dunia.(Rice, 2001)
Kecenderungan dasar manusia adalah aktualisasi diri, atau realisasi
diri,sehingga pengalaman puncak darikehidupan muncul melalui
kreativitas. Buhlermenekankan peran aktif yang manusia mainkan melalui
inisiatif mereka sendiridalam memenuhi tujuan. Tabel 1 menjelaskan fase
yang diuraikan oleh Buhler. Dalam tahap terakhir dari kehidupan, banyak
manusia mengevaluasi totaleksistensi mereka dalam hal pencapaian atau
kegagalan.
Aplikasi Teori Belajar Humanistik
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit
selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang
diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi
fasilitator bagi para peserta didik sedangkan guru memberikan motivasi,
kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan peserta didik. Guru
memfasilitasi pengalaman belajar kepada peserta didik dan mendampingi
peserta didik untuk memperoleh tujuan pembelajaran. (Sumanto, 1998:
235).
Peserta didik berperan sebagai pelaku utama (student center) yang
memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan peserta didik
memahami potensi diri, mengembangkan potensi dirinya secara positif dan
meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini tepat untuk
diterapkan. Keberhasilan aplikasi ini adalah peserta didik merasa senang
bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir,
perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Peserta didik diharapkan menjadi
manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan
mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi
hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin atau etika yang
berlaku.
Peran terhadap Perkembangan.
Teori ini mengajarkan orang untuk percaya pada diri sendiri dan
menerima tanggungjawab untuk pengembangan potensi penuhnya.
Humanis juga menekankan bahwa orang memiliki kebutuhan manusia
yang nyata yang harus terpenuhi untuk pertumbuhan dan perkembangan.
2.4.1 Pengertian Anak Nakal
Anak Nakal Dalam Pengertian Sosiologi, tidak harus merupakan produk dari
kondisi kemiskinan tetapi merupakan kondisi keluarga yang tidak cocok bagi
perkembangan si anak, misal keluarga yang broken home, orang tua yang selalu
sibuk sehingga tidak memperhatikan kebutuhan si anak, tidak ada kasih saying
yang dirasakan anak. Ketidak kondusifan tersebut memicu anak mencari
kehidupan diluar rumah, apa yang tidak mereka temukan dalam keluarga. Mereka
hidup di jalan-jalan dan melakukan aktivitas yang dipadanng negatif oleh
masyarakat.
Rata-rata mereka membentuk komunitas dan kelompok sosial tersendiri di luar
kelompok masyarakat. Komunitas dan kelompok sosial tersendiri itu biasanya
berbentuk Geng. Geng tersebut berfungsi sebagai keluarga bayangan bagi anak-
anak yang bermasalah. Mereka merasa mnedapatkan apa yang tidak didapat dalam
keluarga. Kelompok sosial tersebut juga melahirkan sebuah strata sendiri. Anak
nakal dari golongan elite biasanya melakukan aktivitas kebut-kebutan dengan
mobil dan corat-coret di dinding. Kemudian dari golongan lapisan menengah
biasanya melakukan aktivitas kebut-kebutan dengan sepeda motor dan juga corat-
coret di dinding. Dan produk lapisan bawah biasanya sering melakukan aktivitas
nongkrong di jalan-jalan dan tidak jarang mengganggu orang yang sedang lewat.
Fenomena anak nakal bukan hanya merupakan monopoli negara-negara
berkembang, tetapi di negara-negara maju juga banyak bermunculan fenomena
tersebut. Dalam istilah sosiologi, gejala tersebut sering dinamakan dengan deviant
behavior atau perilaku yang menyimpang dari tataran masyarakat. (Nugroho,
2000:77).
Pengertian anak yang terdapat dalam Pasal 45 Kitab Undang-undang Hukum
Pidana (selanjutnya disingkat dengan KUH Pidana) yaitu: Jika seseorang yang
belum dewasa dituntut karena perbuatan yang dikerjakannya ketika umurnya
belum enam belas tahun, hakim boleh memerintahkan supaya si tersalah itu
dikembalikan kepada orang tuanya, walinya, atau pemeliharanya, dengan tidak
dikenakan suatu hukuman; atau memerintahkan supaya si tersalah diserahkan
kepada pemerintah dengan tidak dikenakan suatu hukuman.
Secara garis besar hak-hak anak menurut Konveksi Hak Anak (KHA) yang terdiri
dari 45 pasal dapat dibagi dalam 4 fokus kajian, yaitu:
1. Hak atas kelangsungan hidup

Hak ini mencakup hak-hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dengan


stndar tinggi, imunisasi terhadap beberapa penyakit yang menimbulkan kematian.
2. Hak atas perlindungan (protection)

Yang termasuk kedalam hak ini adalah perlindungan terhadap adanya


diskriminasi, kekerasan, pengabaian, dan eksploitasi. Selainitu perlindungan
terhadap anak tanpa keluarga.
3. Hak untuk berkembang (development)

Hak ini mencakup semua segi kehidupannya baik segi fisik, mental, dan social
budaya yang harus disesuaikan dengan perkembangan usianya.
4. Hak untuk Berpartisipasi dalam Kehidupan Masyarakat (participation)

Anak memilih sudut andang sendiri dalam melihat suatu masalah,namun sering
kali hal tersebut tidak diakui orang dewasa. KHA menjamin apabila anak itu
mampu, maka ia dapt mengungkapkan suatu hal, dan ia dapat menyebarluaskan
pandangan nya itu (Suryanto,2001:8).

D. Faktor-faktot Penyebab Anak Menjadi Nakal


Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak menjadi nakal dan melakukan
tindak kriminalitas, seperi yang dijelaskan (Kartini & Kartono, 1998: 59) :
1. Anak kurang mendapatkan perhatian, pengawasan, kasih sayang, dan tuntunan
pendidikan orang tua, terutama bimbingan aya, karena ayah dan ibunya masing-
masing sibuk mengurusi permasalahan serta konflik batin sendiri.

2. Kebutuhan fisik maupun psikis anak-anak remaja menjadi tidak terpenuhi.


Keinginan dan harapan anak-anak tidak bisa tersalur dengan memuaskan, atau
tidak mendapatkan kompensasinya.

3. Anak-anak tidak pernah mendapatkan latihan fisik dan mental yang sangat
diperlukan untuk hidup susila. Mereka tidak dibiasakan dengan disiplin dan
kontrol diri yang baik.

4. Ketidakmampuan para remaja menemukan pengalam hidup eksistensial yang


memberikan bobot dan arti bagi kehidupannya.

5. Keluarga yang berantakan atau broken home.


Adapun beberapa faktor lain yang menyebabkan anak menjadi nakal yaitu:
D.1 Faktor Eksternal:
1. Lingkungan keluarga yang kurang harmonis atau pecah, kurang
perhatian,kurang kasih sayang sesama anggota keluarga, egoisme, karena masing-
masing sibuk dengan urusanya masing-masing.

2. Situasi (sekolah, lingkungan) yang menjemukan dan membosankan, padahal


tempat-tempat tersebut mestinya dapat merupakan factor penting untuk
mencegah kenakalan bagi anak-anak (termasuk lingkungan yang kurang rekreatif.

3. Lingkungan masyarakat yang kurang menentu bagi prospek kehidupan yang


akan datang, seperti masyarakat yang penuh spekulasi, korupsi, manipulasi,
gossip, isu-isu negative, perbedaan yang trelalu mencolok antara sikaya dan
simiskin, perbedaan kultur, ras dan adat. Bisa juga karena memang mereka hidup
di atas binaan orang-orang jahat (lingkungan preman, Bandar narkoba, perampok
dan lain-lain).
4. Salah pergaulan, jika para remaja salah dalam pergaulan (bergaul dengan
orang-orang yang tidak bertanggung jawab) maka mereka akan meniru orang
tersebut, dan inilah salah satu akibat dari pergaulan bebas. Tetapi tidak berarti
anak remaja tidak di perbolehkan bergaul dengan orang lain. Dalam pengertian ini
hanya sebatas menjaga jarak dalam pergaulan.
D.2 Faktor Internal:
1. Kurang memiliki disiplin dan kontrol diri, yang ependapat dengan Kartini
kartono (1998, 58) pada umumnya adalah dari kegagalan sistem pengontrol diri,
yaitu gagal mengawasi dan mengatur perbuatan instinktif mereka.

2. Merasa diabaikan dan dianggap lemah oleh yang lebih tua.

3. Kurangnya rasa percaya diri pada anak, sehingga menjadikan mereka malu
untuk terbuka dan melaukan hal yang menyimpang untuk melakukan apanya yang
menjadi keinginan mereka yang terpendam.

4. Hasrat untuk mendapatkan sesuatu dengan cara yang instan yang selama ini
mereka dapat kan dengan bersusah payah.

5. Kekecewaan hebat karena merasa tidak diterima oleh lingkungan sekitar.


Dari berbagai faktor penyebeb kenakalan remaja yang telah dipaparkan dapat kita
ketahui bahwa kenakalan dan kejahatan remaja baik yang dilakukan secara
personal maupun komunitas/kelompok merupakan masalah serius yang harus
diminimalisir tingkat kriminalliats nya. Dampak dari kenakalan para remaja ini
tidak hanya merugikan masa depan meraka tetapi juga menjadikan bobrok nya
moral anak bangsa yang merupakan generasi muda yang akan meneruskan
perjuanagan dan perjalanan bangsa ini.
Hukum yang memiliki fungsi sebagai sosial kontrol didalam masyarakat, dan
fungsi hukum sebagai alat untuk mengubah masyarakat, diharapkan dapat
menjalan fungsiya dengan baik dalam menangani dan menindak kenakalan remaja
yang marak terjadi dalam berbagai tindak kriminalitas.

E. Upaya Atau Treatmen yang Dilakukan Untuk Mencegah Kenakalan Anak


E.1 Upaya Orang Tua dalam Mencegah Kenakalan Anak Remaja
1. Memberikan pendidikan formal dengan menyekolahkan anak disekolah yang
baik dalam proses pembentukan karakter anak diluar dari pendidikan yang didapat
dari keluarga.

2. Memberikan pendidikan spiritual atau keagamaan serta pendidikan mengenai


nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.

3. Meningkatkan kesejahteraan keluarga dengan memberikan kebutuhan yang


cukup bagi anak-anak.

4. Memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak sehingga merasa dekat
dan nyaman dengan keluarga.

5. Mengajarkan bagaimana cara bersosialisasi dengan baik terhadap masyarakat


dan lingkungan sekitar.

6. Mengenalkan pada anak tentang kegiatan-kegiatan yang positif yang dapat


memberikan manfaat untuk hidup mereka.
E.2 Upaya Masyarakat dan Pemerintah Setempat dalam Mencegah
Kenakalan Anak Remaja
1. Mendirikan suatu organisasi atau wadah sebagai tempat menampung aspirasi
anak-anak remaja tersebut serta dapat membantu mereka bagaimana
bermasyarakat dikehidupan social.

2. Mengadakan kegiatan yang dapat memberikan manfaat positif bagi anan-anak


remaja dengan memberi mereka peranan yang sesuai dengan kemampuan dan
karakter mereka.

3. Pemberian peranan sosial terhadap anak-anak remaja tersebut dikehidupan


bermasyarakat juga dapat membantu agar anak-anak remaja tersebut tidak merasa
dikecilkan dan termarjinalisasikan oleh orang dewasa.
4. Mengadakan pertemuan rutin dengan memberikan penyuluhan-penyuluhan
mengenai perilaku menyimpang dan bagaimana cara mengantisipasi agar tidak
terjerumus didalamnya.

5. Mengajak anak-anak remaja tersebut untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan-


kegiatan sosial seperti menggalang dana yang legal serta memberikan barang-
barang yang tidak terpakai untuk disumbangkan kepanti-panti sosial atau orang
yang tidak mampu.

6. Menyediakan tempat untuk mengasah kemampuan dan keahlian anak-anak


remaja tersebut agar bisa menjadi modal mereka dalam mencari pekerjaan

yang sesuai dengan keahloan mereka tersebut, dan tentunya harus mendapat
dukungan dan bantuan dari masyarakat dan pemerintah setempat.

7. Mendirikan panti rehabilitasi bagi anak-anak remaja yang pernah berkonflik


dengan hukum atau yang pernah melakukan tindak kriminalitas dengan membantu
mereka agar tidak melakukan hal yang serupa dikemudian hari dan dapat menjadi
seorang anak remaja yang tumbuh dengan normal.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada bab II, maka kesimpulan sebagai berikut.


1. Teori Psikoanalisa menurut Freud, Psikoloanalisis merupakan salah
satu aliran di dalam disiplin ilmu psikologi yang memiliki beberapa
definisi dan sebutan, adakalanya psikoloanalisa disefinisikan
sebagai metode penelitian, sebagai tehnik penyembuhan dan juha
sebagai pengetahuan psikologi.
2. Menurut Skinner, belajar adalah proses perubahan tingkah laku
yang harus dapat diukur. Bila pembelajar (peserta didik) berhasil
belajar, maka respon bertambah, tetapi bila tidak belajar banyaknya
respon berkurang, sehingga secara formal hasil belajar harus bisa
diamati dan diukur.
3. Teori humanistic berkembang pada tahun 1950-an sebagai teori
yang menentang teori-teori psikoanalisis dan behavioristik.
Serangan humanistic terhadap dua teori ini, adalah bahwa kedua-
duanya bersifat dehumanizing (melcehkan nilai-nilai manusia)
3.2 Saran
Sebagai tenaga pendidik, maka sangat penting untuk mengupayakan
memahami bagaimana teori belajar yang dikemukakan para tokoh serta menyadari
bagaimana pengaruhnya terhadap perkembangan. Sehingga dalam proses
pembelajaran, dapat diaplikasikan dan dapat memberikan pengaruh positif
terhadap proses belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Alwisol, 2009, Psikologi Kepribadian, UMM Press, Malang.


Dakir, Dasar-dasar Psikologi. Jakarta: Pustaka Pelajar.1993.
Dalyono,M. Psikologi Pendidikan.Jakarta:Rineka Cipta.2012.
Gunarsa,Singgih D.1990.Dasar dan Teori Perkembangan Anak, Gunung Mulia,
Jakartax
Hurlock, Elizabeth B.1993. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan
Sepanjang Rentang Kehidupan. Penerbit Erlangga. Jakarta
John W. Satrock, 2007. Psikologi Pendidikan. edisi kedua. PT Kencana Media
Group: Jakarta Kartono, 2010. Psikologi. Bandung:Rineka Cipta.
Margaret E. Bell Gredler, 1994. Belajar dan pembelajaran. PT Raja Grafindo
Persada: Jakarta.
Prasetya Irawan, dkk, 1997. Teori belajar. Dirjen Dikti: Jakarta
Prayitno, Elida 1991/1992. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Depdikbud
Rice, P. 2001. Human Development. New Jersey : Prentice Hall
Salkind, Neil J. 200). An Introduction to Theories of Human Development.
Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage Publications.
International Education and Publisher
Wahab, Rohmat dan Solohuddin, 1998/1999. Perkembangan dan Belajar Peserta
Didik. Jakarta: Depdikbud
.
Prof. DR. Kusdwiratri Setiono, Psi.2008. Psikologi Perkembangan. Padjajaran:
widya. Halaman

Matt Jarvis.2000. Teori-teori psikologi.Bandung: Nusamedia dan Nuansa

Prof. DR. Syamsu Yusuf LN, M.Pd., Dr. A. Juntika Nurihsan, M.pd. 2007. Teori
Kepribadian.Bandung: PT. Remaja rosdakarya

Rahmat Hidayat, Dede. 2011. Teori dan Aplikasi PSIKOLOGI KEPRIBADIAN


DALAM KONSELING. Jakarta: Ghalia Indonesia