Anda di halaman 1dari 6

Abstrak

Volume molar parsial dapat didefinisikan sebagai kontribusi pada volume dari
satu komponen dalam sampel terhadap volume total. Percobaan penentuan
volume parsial dilakukan untuk menentukan volume molal parsial larutan natrium
klorida (NaCl) sebagai fungsi rapat masa. Dilakukan variasi konsentrasi dengan
cara mengukur berat jenis larutan NaCl menggunakan piknometer. Konsentrasi
larutan NaCl divariasikan menjadi 4 varian antara lain 3 M ; 1,5 M ; 0,75 M dan
0,375 M. Larutan tersebut kemudian diatur pada suhu 350C dengan merendamnya
dalam thermostat dan ditimbang. Berat larutan NaCl dengan variasi konsentrasi
dibandingkan dengan berat piknometer kosong dan piknometer yang berisi
aquades. Aquades digunakan sebagai larutan pembanding terhadap larutan NaCl.
Data yang didapatkan dari percobaan kemudian diolah dengan menggunakan
perhitungan analitik dan grafik regresi linear volume molar parsial () vs akar
dari molalitas larutan NaCl (n NaCl pada varian konsentrasi. Volume molar
parsial larutan NaCl yang diperoleh antara lain 40,6982 ml/mol untuk konsentrasi
3M ; 41,7580 ml/mol untuk konsentrasi 1.5 M ; 55,2925 ml/mol untuk konsentrasi
0.75 M dan 47,4004 ml/mol untuk konsentrasi 0.375 M.
Kata kunci : konsentrasi, molalitas, volume molal parsial

I. Data Pengamatan
No Konsentrasi m NaCl + m air + m piknometer
No
piknometer NaCl piknometer piknometer kosong
1. a 3M 26,9851 gr 25,8252 gr 15,8258 gr
2. b 1,5 M 29,2021 gr 28,4506 gr 17,9104 gr
3. c 0,75 M 23,1205 gr 22,9690 gr 13,6401 gr
4. d 0,375 M 26,3046 gr 25,9995 gr 16,3557 gr

II. Hasil dan Pembahasan


Volume molar parsial adalah kontribusi pada volume, dari satu komponen
dalam sampel terhadap volume total. Volume molar parsial komponen suatu
campuran berubah-ubah tergantung pada komposisi, karena lingkungan setiap
jenis molekul berubah jika komposisinya berubah dari murni ke b. Perubahan
lingkungan molekuler dan perubahan gaya yang bekerja antara molekul inilah
yang menghasilkan variasi sifat termodinamika campuran juka komposisinya
berubah (Atkins, 1999).

Adapun 3 sifat termodinamika molar parsial utama yaitu volume molar


parsial dari komponen-komponen dalam larutan, entalpi molar parsial, dan energi
bebes molar parsial. Ketiga sifat tersebut akan saling bergantung jika
dihubungkan dengan beberapa metode penentuan volume parsial. Metode yang
digunakan atas dasar ketiga sifat tersebut adalah menggunakan hubungan analitik
yang menunjukkan j dan n, menggunakan metode grafik. Dalam hal ini j dapat
berfungsi sebagai fungsi komponen larutan dengan menjaga jumlah semua konsep
lain tetap (Dogra, dkk, 1990; Rosian, 2005).

Tujuan dari percobaan ini adalah menentukan volume molar parsial larutan
NaCl sebagai fungsi rapat masa. Percobaan ini dilakukan menggunakan
piknometer. Piknometer ditimbang dalam keadaan kosong dan piknometer diisi
dengan larutan NaCl dan akuades sebagai pembanding. Piknometer tersebut
digantung di thermosfat pada suhu 35oC selama 15 menit. Dalam penentuan
volume molarnya digunakan metode grafik digambarkan hubungan NaCl
dengan n NaCl. Pada bidang teknik material, percobaan ini digunakan untuk :
a. Perbandingan beberapa zat, dan untuk mengetahui spesifikasi kemolaran zat
yang dibandingkan dalam suatu paduan atau alloy, supaya terpenuhi struktur
yang diinginkan.
b. Proses coating baja dengan magnesium.

3.1. Analisis Prosedur


Percobaan diawali dengan mengoven empat piknometer kosong yang
telah bersih dan masing-masing telah diberi label a,b,c,d. Hal ini dilakukan
dengan tujuan untuk menghilangkan kandungan air dalam piknometer
sehingga didapatkan massa piknometer kosong yang sebenarnya. Dalam
percobaan ini, piknometer digunakan sebagai alat pengukur rapat massa.
Pengovenan ini dilakukan dalam oven pada suhu 950oC selama 15 menit. 15
menit adalah waktu maksimum untuk menghilangkan kandungan air dalam
piknometer. Lalu timbang empat piknometer tersebut untuk diketahui berat
awalnya.

Setelah diketahui berat awal piknometer, disi piknometer tersebut


dengan akuades hingga penuh. Disini akuades digunakan sebagai
pembanding dalam penentuan nilai volume molar parsial NaCl. Akuades
(H2O) memiliki sifat-sifat yang khas dan tidak dimiliki oleh senyawa lain.
Karakteristik tersebut adalah sebagai berikut (Effendi, 2003) :
1. Pada kisaran suhu yang sesuai bagi kehidupan, yakni 00 C (320 F)
1000 C, air berwujud cair. Suhu 00 C merupakan titik beku dan suhu
1000 C merupakan titik didih.
2. Perubahan suhu air berlangsung lambat sehingga air memiliki sifat
sebagai penyimpan panas yang sangat baik.
3. Air memerlukan panas yang tinggi dalam proses penguapan.
Penguapan evaporasi) adalah proses perubahan air menjadi uap air.
Proses ini memerlukan energi panas dalam jumlah yang besar.
Sebaliknya, proses perubahan uap air menjadi cairan (kondensasi)
melepaskan energi panas yang besar.
4. Air merupakan pelarut yang baik. Air mampu melarutkan berbagai
jenis senyawa kimia. Sifat ini memungkinkan air digunakan sebagai
pencuci yang baik dan pengencer bahan pencemar (polutan) yang
masuk ke badan air.
5. Air memiliki tegangan permukaan yang tinggi. Tegangan permukaan
yang tinggi menyebabkan air memiliki sifat membasahi suatu bahan
secara baik.
6. Air merupakan satu-satunya senyawa yang merenggang ketika
membeku. Pada saat membeku, air merenggang sehinga es memiliki
nilai densitas (massa/volume) yang lebih rendah dari pada air.

Kemudian, direndam keempat piknometer tersebut dalam thermostat


pada suhu 35oC selama 15 menit. Tujuan digunakan suhu 350C adalah untuk
memperoleh suhu yang konstan sehingga suhu disini tidak menjadi
pengaruh terhadap perhitungan volume molarnya. Perendaman dilakukan
selama 15 menit ditujukan agar suhu yang diperoleh sama di tiap-tiap
piknometer.

Dilakukan perlakuan yang sama untuk larutan NaCl dengan variasi


konsentrasi yaitu 3M; 1,5M; 0,75M dan 0,375M. Larutan NaCl digunakan
untuk mengetahui nilai volume molar parsial larutan NaCl. Penggunaan
NaCl ini dikarenakan sifat NaCl yang tidak higroskopis sehingga
konsentrasinya akan tepat (tidak berubah-ubah) dan nilai volume molar
yang dihasilkan akan tetap konstan. Berbeda halnya jika kita menggunakan
NaOH, dimana NaOH bersifat higroskopis sehingga konsentrasinya
berubah-ubah dan akan mempengaruhi nilai volume molar parsialnya.
Larutan NaCl dibuat variasi konsentrasi dengan tujuan untuk mengetahui
hubungan antara molaritas dan volume molar nyata agar mendapat
konsentrasi yang baik, tepat dan akurat.

3.2. Analisis Hasil


Dalam termodinamika dikenal adanya 2 tipe peubah yaitu tipe peubah
ekstensif yang bergantung pada jumlah fase misalnya volume, entropi,
energy dalam dan entalpi, serta peubah intensif yaitu peubah yang tidak
bergantung pada jumlah fase contohnya tekanan dan suhu (Atkins, 1994:
171).
Volume (V) NaCl adalah termasuk dalam peubah ekstensif, dengan
demikian secara termodinamika dapat dihitung volume molar parsial dengan
persamaan :

Dari persamaan diatas, didapat persamaan untuk menghitung Volume


molar parsial NaCl yaitu :

Ada tiga sifat termodinamika molal parsial utama, yakni volume molal
parsial dari komponen-komponen dalam larutan, entalpi molal parsial (juga
disebut sebagai panas diferensial larutan), dan energi bebas molal parsial
(disebut potensial kimia). Sifat-sifat ini dapat ditentukan dengan bantuan
metode grafik, dengan menggunakan hubungan analitik yang menunjukkan
J dan ni, dan dengan menggunakan suatu fungsi yang disebut besaran molal
nyata yang ditentukan sebagai
0
Ji =
0
dimana Ji adalah harga molal untuk komponen murni dan dengan
menggunakan metode intersep. Satu hal yang harus diingat adalah bahwa
sifat molal parsial dari suatu komponen dalam suatu larutan dan sifat molal
untuk senyawa murni adalah sama jika larutan tersebut ideal (Dogra dan
Dogra, 1990).

Salah satu sifat molal parsial yakni volume molal parsial yang dibahas
pada percobaan ini memiliki hubungan dengan konsentrasi. Hubungan yang
terjadi yakni berbanding lurus. Jadi, semakin kecil konsentrasi larutan,
maka semakin kecil volume molal parsialnya. Begitu juga sebaliknya
semakin besar konsentrasi larutan, maka semakin besar nilai molar
parsialnya.

Data yang didapatkan dari percobaan kemudian diolah dengan


menggunakan metode perhitungan analitik dan metode grafik regresi linear
volume molar nyata () vs akar dari molalitas larutan NaCl (n NaCl) pada
varian konsentrasi. Volume molar parsial larutan NaCl yag diperoleh antara
lain 40,6982 ml/mol untuk konsentrasi 3M ; 41,7580 ml/mol untuk
konsentrasi 1.5 M ; 55,2925 ml/mol untuk konsentrasi 0.75 M dan 47,4004
ml/mol untuk konsentrasi 0.375 M.

III. Penutup
3.1. Kesimpulan
Kesimpulan dari percobaan ini adalah diperoleh volume molar parsial
NaCl antara lain 40,6982 ml/mol untuk konsentrasi 3M ; 41,7580 ml/mol
untuk konsentrasi 1.5 M ; 55,2925 ml/mol untuk konsentrasi 0.75 M dan
108.6 ml/mol untuk konsentrasi 47,4004 M. Grafik yang diperoleh
mengalami penurunan secara linier.

3.2. Saran
Saran untuk percobaan selanjutnya adalah mengganti NaCl dengan
KCl, mengingat sifat garan yang sama-sama berasal dari basa kuat (K+) dan
asam kuat (Cl-). Dan sifat dari garam KCl yang tidak higroskopis membuat
KCl cocok digunakan sebagai pengganti NaCl.

Daftar Pustaka
Atkins, P.W., 1994. Kimia Fisik. Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Dogra, S.K.dan Dogra S.1990. Kimia Fisika dan Soal-soal. Jakarta: UI-Press.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. Cetakan Kelima. Yogyakarta : Kanisius
Poisson, Alain. Partial mold volumes of some major ions in seawater. Laboratoirc
doceanographie Physique, Universite Pierre et Marie Curie, Tour 24, 4
place Jussieu 75230 Paris Cedex 05 France.
Jawaban Pertanyaan
1. Mengapa dalam penentuan volume molar parsial dengan menggunakan
piknometer harus menggunakan termostat ?
Jawaban:
Dalam menentukan volume molar parsial, diperlukan perhitungan massa
jenis zat dan pelarut dengan menggunakan piknometer. Densitas suatu zat
tergantung pada temperatur zat. Tujuan dari direndamnya piknometer dalam
termostat adalah untuk mengatur suhu termostat dan menjaga suhu tersebut
tetap konstan. Hal ini dilakukan supaya data yang diperoleh akurat dan
perhitungan bisa mendekati nlai sesungguhnya (memperkecil nilai
kesalahan).

2. Selama piknometer direndam di dalam termostat selama kurang lebih 15


menit, mengapa anda harus melakukan penambahan larutan ke dalam
piknometer?
Jawaban:
Piknometer adalah suatu alat yang terbuat dari kaca berbentuk menyerupai
botol parfum atau sejenisnya dan digunakan untuk mengukur nilai massa
jenis atau densitas fluida. Larutan yang akan diukur massa jenisnya
dimasukkan ke dalam piknometer samapi penuh dan diusahakan kapiler
piknometer juga terisi larutan. Kemudian piknometer direndam di dalam
termostat, hal ini bertujuan untuk mengatur suhu piknometer dan larutan.
Selama pekinkan rendaman ini dimungkinkan ada larutan yang tumpah oleh
sebab itu harus ditambah dengan larutan lagi. Hal ini dilakukan agar volume
larutan didalam piknometer tetap dan data yang diperoleh akan lebih akurat
lagi.