Anda di halaman 1dari 5

PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA

DINAS KEHUTANAN
Jl. Tebao Nunggu No.7 Telp. 0401-321446 Fax.0401-322335 Kendari 93111

TERM OF REFERENCE (TOR)

Pemerintah : Provinsi Sulawesi Tenggara

Unit Eselon II : Dinas Kehutanan Prov. Sulawesi Tenggara

Bidang : Perlindungan Hutan dan KSDAE

Seksi : Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan

Kegiatan : Pengadaan Sarpras Dalkarhutla

Indikator Kinerja : Tersedianya Sarpras Dalkarhutla

Output Tersedianya 1 unit kendaraan roda 4 (empat), 1 unit mobil


Slip on, 5 unit kendaraan roda 2 (dua) dan peralatan
pendukung lainnya
Outcame : Terlaksananya Dalkarhutla secara optimal di wilayah rawan
kebakaran
Satuan ukur dan Jenis : Laporan
Keluaran
Volume : 1 unit kendaraan roda 4 (empat), 1 unit mobil Slip on, 5 unit
kendaraan roda 2 (dua) dan peralatan pendukung lainnya

A. Latar Belakang
Dasar Hukum, Rencana Strategis dan Kebijakan
1. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2001 Tentang Pengendalian
Kerusakan Dan Atau Pencemaran Lingkungan Hidup Yang Berkaitan Dengan Kebakaran
Hutan Dan Atau Lahan;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan;
5. Instruksi Presiden Nomor 11 Tahun 2015 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran
Hutan dan Lahan;
6. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.32/MenLHK/Setjen/Kum.1/3/2016 tentang
Pengendalian Kebakaran Hutan.

TOR Pengadaan Sarpras Dalkarhutla Tahun 2018 Page 0


B. Gambaran Umum
Hutan merupakan sumberdaya alam yang tidak ternilai karena didalamnya
terkandung keanekaragaman hayati sebagai sumber plasma nutfah, sumber hasil
hutan kayu dan non-kayu, pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta
kesuburan tanah, perlindungan alam hayati untuk kepentingan ilmu pengetahuan,
kebudayaan, rekreasi, pariwisata dan sebagainya. Karena itu pemanfaatan hutan
dan perlindungannya telah diatur dalam Undang-Undang No. 41 tahun 1999
tentang Kehutanan, Undang-Undang No 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Perusakan Hutan, Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2009
tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang
Perlindungan Hutan, Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2011 tentang
Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup Yang Berkaitan
Dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan, Instruksi Presiden No 11 Tahun 2015
tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan dan Peraturan
Menteri Kehutanan Nomor: P.32/MenLHK/Setjen/Kum.1/3/2016 tentang Pengendalian
Kebakaran Hutan dan Lahan.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 465/Kpts-II/2011
Tanggal 09 Agustus 2011 dan digitasi peta kawasan hutan bahwa luas Kawasan
Hutan Provinsi Sulawesi Tenggara adalah seluas 2.382.451,30 Ha yang terdiri dari
12 % Kawasan Konservasi, 45,43% Hutan Lindung, 19,89% Hutan Produksi
Terbatas, 17, 73% Hutan Produksi, serta 4,94% Hutan Produksi Konversi.
Titik hotspot kebakaran hutan periode 2013 2016 menunjukkan bahwa
pada Tahun 2013 terdapat 256 titik hotspot, Tahun 2014 sebanyak 700 Titik
hotspot, Tahun 2015 sebanyak 423 titik hotspot dan Tahun 2016 sebanyak 35 titik
hotspot (Satelit NOAA 19). Titik hotspot yang terdeteksi oleh tiga satelit (NOAA,
NPP-LAPAN, TERRA-AQUA) pada Tahun 2016 sebanyak 110 titik dan titik hotspot

TOR Pengadaan Sarpras Dalkarhutla Tahun 2018 Page 1


sampai dengan Tanggal 11 September 2017 sebanyak 34 titik. Adapun wilayah
yang terdeksi kebakaran hutan dan lahan adalah Kabupaten Bombana, Kabupaten
Kolaka, Kabupaten Kolaka Timur, Kabupaten Kolaka Utara, Kabupaten Konawe,
Kabupaten Konawe Utara, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Buton Utara,
Kabupaten Buton dan Kabupaten Muna.
Hambatan dalam pelaksanaan pengendalian kebakaran hutan dan lahan di
wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara adalah tidak tersedianya sarana dan prasarana
yang mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut. Banyaknya titik hotspot yang
terdeteksi dan luasnya kebakaran hutan dan lahan pada wilayah Provinsi Sulawesi
Tenggara yang memiliki topografinya sulit dijangkau karena tidak adanya sarana
dan prasarana, oleh karena itu diperlukan kendaraan operasional patroli
pencegahan dan pemadaman kebakaran hutan dan lahan serta sarana pendukung
lainnya. Dengan demikian, perlunya kegiatan pengadaan sarana dan prasarana
pengendalian kebakaran hutan dan lahan Provinsi Sulawesi Tenggara.

C. Sasaran
Sasaran kegiatan pengadaan sarana dan prasaran Dalkarhutla adalah untuk
kebutuhan operasional Satgas pengendali kebakran hutan dan lahan Dinas
Kehutanan Provinsi

D. Kebutuhan Sapras
Adapun kebutuhan sapras yang diperlukan untuk menunjang kegiatan
operasional satgas Pengendali kebakaran hutan dan lahan Dinas kehutanan Provinsi
Sulawesi Tenggara adalah sebagai berikut :
a. Mobil Operasional Patroli kebakaran hutan dan lahan 1 (satu) unit
b. Mobil Slip ON
c. Motor Operasional Patroli kebakaran hutan dan lahan 5 (lima) unit

TOR Pengadaan Sarpras Dalkarhutla Tahun 2018 Page 2


d. Peralatan Pendukung Regu yaitu Pompa jinjing 2 (dua) unit, pompa apung 1
(satu) unit, GPS 3 (tiga) unit, HT 6 (enam) unit
e. PC 2 (dua) unit, printer 1 (satu) unit.
f. Perlengkapan pribadi Satgas Dalkarhutla 20 (dua puluh) paket

E. Biaya Yang Diperlukan


Biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan Pengadaan Sarpras
Dalkarhutla Tahun Anggaran 2018 adalah sebesar Rp. 1.159.600.00,- (satu
milyar seratus lima puluh sembila juta enam ratus ribu Rupiah rincian biaya
sesuai dengan RAB terlampir.

Demikianlah Term Of Reference (TOR) Kegiatan Pengadaan Sarpras Dalkarhutla


Tahun Anggaran 2018 ini dibuat, kiranya dapat bermanfaat dalam pelaksanaan
kegiatan.

Kepala Bidang Perlindungan Hutan dan KSDAE

DR. YASIR SYAM HUSAIN, SP., MM


NIP. 19731117 199903 1 001

TOR Pengadaan Sarpras Dalkarhutla Tahun 2018 Page 3


TOR Pengadaan Sarpras Dalkarhutla Tahun 2018 Page 4