Anda di halaman 1dari 13

Green Production

2.1 Definisi Green Production


Green production adalah sebuah paradigma baru dari socio-economic development
yang menyatakan bahwa perkembangan ekonomi dan peningkatan produktifitas sejalan
dengan perlindungan lingkungan.

Green Production (Produksi atau Produktivitas Hijau) adalah suatu strategi untuk
meningkatkan produktivitas bisnis dan kinerja lingkungan pada saat yang bersamaan dalam
pengembangan kinerja lingkungan dan pengembangan sosial ekonomi secara keselutuhan.
Metode ini mengaplikasikan teknik, teknologi dan sistem manajemen untuk menghasilkan
barang dan jasa yang sesuai dengan lingkungan atau ramah lingkungan (APO, 2003).

Green Production merupakan bagian dari program peningkatan produktivitas yang


ramah lingkungan namun tetap berkelanjutan (sustainable development).

Green Production adalah suatu konsep peningkatan produktivitas yang berorientasi


pada perlindungan lingkungan yang didasarkan atas keseimbangan antara peningkatan
produktivitas dan pembangunan berkelanjutan. Hubungan antara produktivitas dan
lingkungan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Hubungan Produktivitas dan Lingkungan

Jadi, Green Production merupakan metode produksi yang meminimalisir kuantitas


limbah dan polusi. Dalam Green Production, strategi bisnis berorientasi keuntungan yang
diterapkan, namun strategi tersebut tetap menekankan proses operasi ramah lingkungan.
Strategi yang dimaksud sering dicapai melalui product and process design.

2.2 Paradigma Baru Produktivitas


Konsep integrasi dari proses produksi menerangkan bahwasanya produktivitas
dipandang dengan dua cara, yaitu sebagai sebuah tujuan dan sebagai sebuah cara.
Produktivitas sebagai sebuah tujuan dijelaskan dari segi konsep sosialnya sedangkan
produktivitas sebagai sebuah cara dijelaskan dari segi teknik, ekonomi dan konsep
manajemen.

Paradigma lama produktivitas terdiri dari dua komponen pokok, yakni:


a) Paradigma tradisional dari sudut industri yang terfokus pada produktivitas untuk
memastikan efisiensi melalui pengurangan biaya produksi
b) Paradigma dari segi konsumer dimana peningkatan kualitas dan kepuasan pelanggan
menjadi fokus selanjutnya.

Dalam green production, fokus produksi tidak hanya terpaku pada peningkatan
produktivitas untuk lebih efisien biaya dan peningkatan kualitas, namun juga memasukkan
unsur kelestarian lingkungan dalam prosesnya (seperti terlihat pada diagram dibawah ini).

Perkembangan mengenai pengertian produktivitas sudah bergeser dari masa ke masa.


Mulai dari tahun 1960an dimana industri tidak mempedulikan lingkungan sampai pada era
tahun 1990an yang sudah mulai memperhatikan lingkungan dalam industri.
2.3 Pemicu Timbulnya Green Production
Berikut ini adalah pemicu timbulnya Green Production:
a) Rio Earth Summit
Inti kegiatan ini adalah timbulnya komitmen bersama terutama dari negara-negara
industri untuk lebih memperhatikan kelestarian lingkungan, terutama untuk mengurangi emisi
dan polutan yang ditimbulkan dari proses industri dan kegiatan lain yang menimbulkan polusi
yang merusak lingkungan. Kemudian dikembangkan konsep Green Production berdasarkan
konsep produktivitas dan peraturan-peraturan perlindungan lingkungan.
b) APO (Asian Productivity Organization)
Konteks dari produktivitas dan perlindungan lingkungan dibuat oleh APO dan
aktivitas Green Production mulai tahun 1993 kedepan, aktivitas ini fokus pada demonstrasi,
diseminasi dan promosi terutama kegiatan yang lebih memperhatikan kelestarian lingkungan.
Dengan demikian, definisi Green Production lebih lengkap dijabarkan sebagai Green
Productivity atau Green Production (GP) adalah strategi untuk meningkatkan produktivitas
dan performa lingkungan sekaligus untuk pengembangan ekonomi secara utuh.

Green Production adalah aplikasi dari produktivitas yang sebenarnya dan sebagai alat
manajemen lingkungan, teknik dan teknologi untuk mengurangi dampak lingkungan dari
aktivitas organisasi barang dan jasa.

2.4 Konsep Green Production (GP)


Banyak orang berpikir bahwa Green Production hanya melibatkan kontrol polusi atau
program daur ulang pada saat pembuatan barang. Kenyataannya, Green Production juga
berusaha meminimalisir dampak proses manufaktur pada lingkungan untuk setiap tahap.
Northwest Environmental Journal menyebutkan bahwa "pollution prevention can only
deliver half the loaf: Green production also means that firms transform their input (raw
material use) and output (product disposition) processes."

Tumbuhnya kekhawatiran terhadap menipisnya luas hutan dan sumber daya alam
serta degradasi lingkungan yang diciptakan oleh produksi pertambangan dan bahan bakar
fosil mendorong perusahaan untuk memikirkan kembali material dan pengadaan strategi baku
mereka. Sektor-sektor signifikan terutama dari perusahaan dengan bisnis besar seperti kayu
dan energi menyatakan bahwa sumber daya masih berlimpah. Tetapi, banyak bisnis lain
telah mulai membuat perubahan dalam cara pengumpulan bahan baku produk mereka.

Konsep dari Green Production didasari dari dua strategi pengembangan yang penting
yaitu strategi pengembangan kualitas lingkungan dan strategi peningkatan produktivitas.
Dengan gabungan kedua strategi ini, diperoleh kerangka kerja untuk dilakukan dua tahap
pengembangan sekaligus: continuos improvement, sekaligus dengan sustainable
development.
Konsep Green Production ini memiliki beberapa pemikiran didalamnya, seperti:
Pollution prevention
Environmental management system
Pollution control
Occupational safety and health
Cleaner production
Eco-efficiency
Responsible care
Environment standardship
Social accountability
Corporateenvironment response
Eco-design

Konsep dasar Green Production diambil dari penggabungan dua hal penting dalam
strategi pembangunan, yaitu:
Perbaikan produktivitas
Perlindungan lingkungan

2.5 Tujuan Green Production


Tujuan utama Green Production adalah melestarikan sumber daya alam (natural
resources preservation). Tujuan tersebut dapat dicapai dengan:
a) Mengidentifikasi cara untuk menghindari polusi dari sumber atau akarnya
b) Mengurangi level input sumber daya (terutama nonrenewable) melalui
optimasi dan rasionalisasi
c) Meningkatkan efisiensi sumber daya alam dan meningkatkan produktivitas
sekaligus
d) Meminimalisir life-cycle cost suatu barang dan jasa

Produktivitas adalah suatu konsep yang bersifat universal yang bertujuan untuk
menyediakan lebih banyak barang dan jasa untuk lebih banyak manusia, dengan
menggunakan sumber-sumber riil yang makin sedikit. Produktivitas adalah suatu pendekatan
interdisipliner untuk menentukan tujuan yang efektif, pembuatan rencana, aplikasi
penggunaan cara yang produktivitas untuk menggunakan sumber-sumber secara efisien, dam
tetap menjaga adanya kualitas yang tinggi. Produktivitas mengikutsertakan pendayagunaan
secara terpadu sumber daya manusia dan keterampilan, barang modal teknologi, manajemen,
informasi, energi, dan sumber-sumber lain menuju kepada pengembangan dan peningkatan
standar hidup untuk seluruh masyarakat, melalui konsep produktivitas semesta total.
Produktivitas mempunyai pengertiannya lebih luas dari ilmu pengetahuan, teknologi
dan teknik manajemen, yaitu sebagai suatu philosopi dan sikap mental yang timbul dari
motivasi yang kuat dari masyarakat, yang secara terus menerus berusaha meningkatkan
kualitas kehidupan.

Pengertian produksi hanya melihat dengan perbandingan input dan output, sedangkan
pada Green Production melihat input-ouput sekaligus perbandingan antara input dan output terdiri
dari raw material (bahan mentah), tenaga kerja, pengendalian energi, kesehatan dan keselamatan
kerja, biaya yang timbul karena lingkungan, dan sebagainya.
Dalam rangka meningkatkan kualitas lingkungan dan ekonomi produksi ketika
diimplementasikan pada lantai produksi, Green Engineering atau Green Production
mempunyai empat tujuan umum (Billatos, 1997) yaitu:
1. Pengurangan limbah (Waste Reduction)
2. Manajemen material (Material Management)
3. Pencegahan polusi (Pollution Prevention)
4. Peningkatan nilai produk (Product Enhancement)

2.6 Manfaat Green Production


Green Production akan memberikan manfaat jangka panjang bagi semua pihak
(stakeholder), antara lain:
a) Bagi perusahaan
Penurunan limbah (waste) dengan adanya efisiensi penggunaan sumber daya
Penurunan biaya operasi dan biaya pengolahan lingkungan
Pengurangan atau bahkan eliminasi dari hutang-hutang jangka panjang
Peningkatan produktivitas
Mendukung regulasi pemerintah
Image yang lebih baik di mata masyarakat
Meningkatkan keuntungan bersaing
Meningkatkan profit dan pangsa pasar
b) Bagi karyawan
Meningkatkan partisipasi para pekerja
Meningkatkan kesehatan lebih baik
Kualitas kerja lebih baik
c) Bagi konsumen
Produk dan jasa memiliki kualitas tringgi
Tingkat harga yang terjangkau
Pengiriman barang tepat waktu
2.7 Metodologi Green Production
Bagian penting dari metodologi Green Production adalah pemeriksaan dan evaluasi
ulang dari proses produksi untuk mereduksi beban lingkungan dan jalan terbaik menuju
perbaikan produktivitas serta kualitas produk. Metodologi Green Production terdiri dari
enam tahapan (APO, 2001) sebagai berikut:

a) Tahap 1: Getting Started


Tahap awal dalam penerapan Green Production merupakan proses pengumpulan
informasi dasar dan proses identifikasi ruang lingkup permasalahan. Dimana proses ini perlu
mendapatkan dukungan dari manajemen senior untuk memastikan bahwa sumber daya yang
dimiliki perusahaan telah memadai demi kesuksesan penerapan Green Production. Oleh
sebab itu, diperlukan adanya tim tersendiri dalam penerapan Green Production.

Terdapat dua aktivitas utama pada tahap ini, yaitu:


Membentuk tim Green Production (GP)
Tim GP bertanggungjawab untuk mengatur dan mengkoordinasikan keseluruhan
program Green Production. Tim GP juga bertanggungjawab dalam mengidentifikasi
dengan tepat. Tim harus mampu mengidentifikasikan area-area yang potensial,
mengembangkan solusi dan memfasilitasi dalam mengimplementasikan solusi GP.
Walk through survey
Dilakukan untuk mengidentifikasikan rangkaian proses produksi. Pada tahap ini
ditentukan proses diagram alir, initial layout dan material balance. Kemudian tim GP
harus mengetahui operasi-operasi yang menghasilkan waste termasuk estimasi atau
perkiraan mengenai waste yang dihasilkan dari tiap-tiap proses yang berbeda.

Berikut ini adalah tool yang dipergunakan beserta jenis data yang diperlukan:
Flowchart
Flowchart merupakan diagram yang menjelaskan tentang aktivitas yang
berkelanjutan seperti pengumpulan informasi, analisis, operasi dan membuat
keputusan. Dalam kerja GP ini, flowchart digunakan untuk mengidentifikasikan
proses produksi mulai dari bahan jadi sampai siap dipasarkan.
Material Balance
Berfungsi untuk proses evaluasi kualitatif terhadap material input dan output

Data yang diperlukan antara lain:


Jumlah bahan baku
Jumlah material pendukung
Jumlah sisa hasil produksi

Prinsip dasar dari material balance untuk sebuah sistem produksi adalah sebagai
berikut:

Keterangan:
Input material meliputi raw material, bahan kimia, energi dan lainnya
Produk adalah output akhir dari proses produksi pabrik
Waste meliputi limbah padat, limbah cair, limbah panas, produk cacat, dan sebagainya

b) Tahap 2: Planning
Pada tahap planning ini terdapat dua langkah utama yaitu sebagai berikut:
Identifikasi masalah dan penyebabnya
Data dan informasi yang didapatkan dari proses walk through survey kemudian
digunakan untuk mengidentifikasi permasalahan dan penyebabnya. Hal ini dilakukan
dalam tahap planning ini, dimana tools yang digunakan adalah brainstorming dan
diagram sebab akibat (cause effect diagram).
Brainstorming
Brainstorming merupakan tool yang sering digunakan untuk
memunculkan ide-ide dimana dilakukan pertukaran pikiran atau ide. Tool ini
dilaksanakan dan digunakan oleh anggota tim untuk mengidentifikasikan
akar penyebab suatu permasalahan atau untuk menemukan solusi dari
permasalahan tersebut.
Diagram sebab akibat (cause effect diagram)
Diagram sebab akibat adalah suatu pendekatan terstruktur yang
memungkinkan dilakukan suatu analisis lebih terperinci dalam menemukan
penyebab-penyebab suatu masalah, ketidaksesuaian, dan kesenjangan yang
ada.
Bentuk umum diagram sebab akibat ditunjukkan pada gambar berikut.
c) Tahap 3: Menentukan Tujuan dan Target
Setelah akar permasalahan dan penyebabnya diketahui, maka berikutnya
ditentukan tujuan dan target yang ingin dicapai perusahaan sebagai petunjuk bagi tim
GP untuk memilih alternatif yang dapat mengurangi penyebab permasalahan.
Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan antara lain adalah:
Tujuan harus didasarkan pada masalah yang telah teridentifikasi
Tujuan mungkin akan menghasilkan lebih dari satu target
Target yang diinginkan harus sesuai dengan kebutuhan
Harus ada indikator yang dipakai untuk mengetahui pencapaian target dan tujuan
dalam suatu satuan waktu

d) Tahap 4: Pelatihan dan Pelaksanaan


Untuk dapat menjamin pelaksanaan solusi terpilih, maka perlu dilakukan pelatihan
bagi tenaga kerja untuk memberikan gambaran mengenai konsep GP serta mengerti peran
serta masing-masing.

e) Tahap 5: Monitoring and Review


Pada tahapan ini dilakukan beberapa aktivitas seperti berikut :
Memonitor dan mengevaluasi hasil kinerja dari solusi yang dilaksanakan harus
dimonitor agar dapat dibandingkan dengan target dan tujuan yang telah ditentukan
pada tahap awal, sehingga pihak manajemen dapat melakukan perbaikan-perbaikan
yang diperlukan untuk meminimalkan deviasi.
Management review. Hal ini dilakukan untuk menentukan apakah seluruh metodologi
GP ini dilaksanakan dengan efektif. Review tersebut meliputi efektifitas pelaksanaan
GP, benefit yang diperoleh, cost savings yang dicapai, kesulitan-kesulitan yang
dihadapi selama pelaksanaan dan identifikasi untuk perbaikan selanjutnya.

f) Tahap 6: Sustaining Green Production


Dalam tahapan ini terdapat dua hal penting yang harus dilakukan, yaitu:
Menggabungkan perubahan-perubahan dalam sistem manajemen organisasi GP harus
diintegrasikan menjadi bagian-bagian dari manajemen harian. Tim GP harus
membentuk sistem terstruktur agar sistem tersebut berjalan efektif, maka perlu untuk
terus memperbarui kebijakan, target, tujuan, dan prosedur saat diperlukan.
Identifikasi permasalahan baru untuk continuos improvement
Saat siklus pertama selesai dilakukan maka permasalahan dapat muncul karena
beberapa faktor antara lain perubahan harga dan ketersediaan resources, kompetisi baru,
adanya produk dan pasar baru, dan sebagainya. Oleh sebab itu akan ada kesempatan baru
dalam perbaikan produktivitas dan penurunan dampak limbah.

Environmental Performance Indiator (EPI)


EPI merupakan tolak ukur kerja atau performansi lingkungan suatu perusahaan.
Indikator dapat diartikan sebagai parameter atau jumlah terukur yang didasarkan pada jumlah
yang diteliti atau dihitung. Sebuah indikator lingkungan merupakan suatu hal yang
diperkirakan dapat menggambarkan berbagai dampak dari suatu aktivitas pada lingkungan
serta usaha untuk mereduksinya. EPI menggambarkan efisiensi lingkungan dari proses
produksi dengan melibatkan jumlah input dan output. Secara umum indikator dapat
dievaluasi dari dua kategori sesuai dengan ruang lingkupnya. Kategori Fisik adalah
menghubungkan performasi terhadap jumlah meterial input yang digunakan, aliran limbah,
konsumsi energi, kualitas udara dan air. Kategori Finansial adalah meliputi penilaian
keuangan terhadap dampak fisik atau aktivitas keseluruhan proses.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk mereduksi limbah:
1. Mendapatkan dukungan dari top manajemen
2. Mengkomunikasikan rencana secara tertulis dan lisan kepada karyawan
3. Menggambarkan proses untuk mengetahui sumber limbah
4. Menentukan peluang potensial pengurangan limbah
5. Menghitung biaya yang timbul akibat adanya limbah saat ini dan membangun sistem
pembebanan biaya akibat limbah tersebut secara proporsional untuk departemen
penghasil limbah tersebut
6. Memilih alternatif terbaik dan melaksanakannya
7. Mengevaluasi program pengurangan limbah tersebut
8. Memelihara dan mengembangkan terus-menerus program pengurangan limbah
tersebut.

2.8 Green Production Memastikan Peningkatan Keuntungan dan Kualitas Hidup


Konvensional produksi atau manufaktur memiliki langkah kerja antara lain sebagai berikut.
a) Dengan input berupa raw material, energi, air, dan tenaga kerja. Peningkatan
produktivitas dapat dilakukan dengan cara mengurangi input
b) Memasuki proses
c) Menghasilkan produk seiring dengan limbah yang ditimbulkan

Sementara itu, untuk Green Production, dipikirkan langkah kerja mulai dari
pengurangan input material, pemilihan material dan alat yang lebih hemat energi, dan lebih
efisien tenaga kerja. Setelah itu, ketika memasuki produktivitas, proses produksi GP akan
lebih efisien hasilnya karena diproduksi barang-barang yang lebih aman terhadap konsumen
dan lebih aman terhadap pengguna sekaligus lebih aman terhadap lingkungan karena lebih
ramah lingkungan.
Perlindungan Lingkungan dengan Green Production

Contoh nyata Green Production terlihat pada terbatasnya kuantitas bahan bakar fosil
yang mengarah pada ditemukannya metode-metode alternatif seperti dengan menggunakan
sumber daya terbarukan. Sebagai contoh, bahan bakar fosil untuk pembuatan plastik dapat
diganti dengan tumbuhan. Ini dilakukan melalui penggunaan jagung yang difermentasikan
menjadi polyhydroxyalkanoates (PHA). Hasil akhir proses ini akan menghasilkan final
product yang tersintesis secara biologis dan sepenuhnya dapat diuraikan (biodegradable).
Aplikasi lain Green Production dapat dilihat pada industri makanan cepat saji dan industri
packaging dimana PHA juga digunakan karena memiliki karakteristik yang mirip dengan
polystyrene. Adapun tahap pembuatan PHA adalah dengan penggunaan jagung yang matang
yang kemudian ditransportasikan ke manufacturing plant. Kemudian glukosa jagung
diekstraksi dan difermentasi. Sel kemudian dicuci dan diputar menggunakan sentrifugasi
selama dua kali. Hasilnya kemudian dikonsentratkan dan dikeringkan sehingga didapat bubuk
PHA.
Daftar Pustaka
Darnay. Tanpa Tahun. Green Production Law & Legal Definition. Online:
http://definitions.uslegal.com/g/green-production/ (Diakses pada tanggal 5 Juni 2015)
Jeffry. 2011. Green Manufacturing-Masa Depan Kita. Online:
http://fti.uajy.ac.id/2011/03/16/green-manufacturing-masa-depan-kita/ (Diakses pada
tanggal 5 Juni 2015)
Manufacturing Skill Standards Council. 2011. MSSC Green Production Module (GPM).
Online: http://www.nwf.org/pdf/Greenforce-
Initiative/GPM%20Overview%2011%2016%2011.pdf (Diakses pada tanggal 5 Juni
2015)
Manahan, Stanley E. 2005. Green Chemistry and the Ten Commandments of Sustainability.
Online: http://www.asdlib.org/onlineArticles/ecourseware/Manahan/GreenChem-
2.pdf (Diakses pada tanggal 5 Juni 2015)
Nurcahyanie, Yunia Dewi dan Rusdiyantoro. 2013. Analisis Produktivitas Hijau dalam
Rangka Keberlanjutan Produk Industri. Surabaya: Adibuana Press