Anda di halaman 1dari 3

Kelompok 2

Djody Tyas S. 14102035

Fanny Damayanti 14102037

Inne Nur Islami A. 14102039

Mutiara Rachmawaty 14102041

1. Opsi saham pada umumnya dibentuk dengan maksud agar setiap karyawan dan para
eksekutif yang memiliki kinerja yang baik dalam pekerjaannya dapat memperoleh
kesempatan untuk membeli beberapa saham dari perusahaan untuk mereka miliki selama
jangka waktu yang telah ditetapkan. Tarif yang ditetapkan untuk saham tersebut sesuai
dengan harga pasar saat waktu pemberian opsi. Dan sebenarnya dengan adanya hal
tersebut dapat diperuntukkan pula sebagai motivasi baik karyawan maupun para
eksekutif. Hanya saja sangat disayangkan ada beberapa tindakan tidak jujur yang banyak
dilakukan oleh para eksekutif. Tindakan tersebut mereka lakukan demi mendapatkan
keuntungan bagi dirinya sendiri. Juga terjadi ketika harga saham naik diatas harga opsi
yang diberikan, yang diharapkan oleh manajer yaitu merealisasi opsi mereka dan menjadi
saham besar diperusahaan. Dengan kata lain, pemilik eksekutif terus mengambil
keuntungan dari paket gaji yang besar sementar karyawan dan investor menderita dari
melemahnya nilai portofolio saham mereka. Oleh karenanya menurut saya opsi saham ini
tidak dapat dijadikan sebagai pemicu bagi karyawan dalam melakukan pekerjaan. Dan
juga jika pilihan bagi para eksekutif tingkat tinggi mengalami repricing, sementara
karyawan tingkat bawah tidak, seseorang bisa melihat perlakuan diskriminatif ini sebagai
perlakuan yang tidak etis, mengingat eksekutif harus bertanggung jawab atas penurunan
laba.

2. Ya, dengan adanya opsi saham yang diberikan untuk para eksekutif, akan menyebabkan
para eksekutif melakukan praktik-praktik akuntansi yang tidak baik, salah satunya adalah
dengan melakukan manipulasi laporan keuangan (meningkatkan laba perusahaan) yang
akan berdampak pada meningkatnya harga opsi saham para eksekutif, yang nantinya akan
dapat dijual kembali oleh para eksekutif. Dikarenakan tindakan ini mementingkan
kepentingan pribadi (para eksekutif) dan tidak mempertimbangkan kepentingan
perusahaan, dan bahkan merugikan perusahaan, hal ini merupakan permasalahan etika
dan termasuk tindakan yang tidak etis.

3. Saya setuju dengan empat argument etis dalam artikel Raiborn, Massoud, Morris dan
Pier. Karena disitu disebutkan bahwa tindakan repricing opsi yang membedakan antara
eksekutif dan pemangku kepentingan lainnya berbeda untuk berbagai kelompok penerima
hibah tersebut sebagai tindakan yang tidak etis. Karena pemangku kepentingan organisasi
merasa tidak diikut sertakan dalam pertimbangan tersebut atau sedang ditipu dengan
tindakan tersebut. Disebutkan juga dalam artikel tersebut bahwa teori etika menuntut
keadilan yang setara harus diperlakukan sama dengan cara yang sama pula dengan tidak
membedakan satu sama lainnya. Dalam OECD menyatakan bahwa dewan harus
memperlakukan semua harus memperlakukan semua pemegang saham perusahaan
dengan adil dan memastikan bahwa hak-hak semua investor dilindungi. Dapat dinilai
juga jika adanya repricing dan backdating itu melihat siapa yang berhak terhadap sesuatu.
Sedangkan investor dan kreditor yang telah memberikan dana kepada organisasi memiliki
hak untuk menerima laporan keuangan yang akurat, dapat diandalkan dan transparan.
Padahal ini, backdating dan repricing opsi telah mengabaikan atau tidak
mempertimbangkan bahwa hak para investor maupun kreditor, sehingga teknik maupun
tindakan ini dianggap tidak etis untuk digunakan. Dari perspektif Teori Kantian juga
disebutkan bahwa apabila backdating dan repricing opsi saham ini dimaksudkan untuk
memanipulasi atau menipu pemangku kepentingan maka bahwa bisa dikatakan tindakan
itu akan dianggap berbohong dan dianggap sangat tidak etis atau wajar.

4. Dewan direksi seharusnya tidak menyetujui hal tersebut, repricing secara efektif dapat
menjadi hadiah bagi para eksekutif, untuk masalah masalah perusahaan dan bukannya
membuat para eksekutif dapat bertanggug jawab. Namun, semakin tinggi harga saham
setelah repricing maka akan semakin besar penurunan laba di masa depan. Sedangkan
backdating memang dapat menjadi hal yang menguntungkan bagi para eksekutif dan
backdating juga diatur secara ketat dalam pelaksanaannya, namun hal tersebut dapat
merugikan berbagai pihak dan dapat membuat dampak negatif pada citra perusahaan
yang buruk akibat backdating. Dan insentif yang bisa diberikan kepada para eksekutif
yaitu dengan memberikan eksekutif bonus uang tunai untuk jumlah yang hilang karena
repricing, ini juga bisa didebut sebagai hadiah tambahan untuk eksekutif. Eksekutif
pantas mendapatkan kompensasi yang memberikan manfaat, baik itu kompensasi jangka
pendek maupun motivasi jangka panjang guna meniingkatkan nilai organisasi untuk para
pemangku kepentingan.