Anda di halaman 1dari 5

A.

International Standard Auditing

International Standard Auditing (ISA) merujuk pada standar profesional yang


menangani tanggung jawab auditor independen sambil melakukan audit keuangan atas
informasi keuangan. Standar ini dikeluarkan oleh International Federation of Accountants
(IFAC) melalui Dewan Standar Audit dan Penjaminan Internasional (IAASB). ISA mencakup
persyaratan dan tujuan bersama dengan aplikasi dan bahan penjelasan lainnya. Auditor
berkewajiban untuk memiliki pengetahuan tentang keseluruhan teks ISA, menghitung
aplikasinya dan materi penjelasan lainnya, untuk mengetahui tujuan dan untuk menerapkan
persyaratan dengan tepat.

Standar utama yang dikeluarkan oleh ISA meliputi:

a. Tanggung jawab masing-masing auditor

b. Perencanaan audit

c. Pengendalian internal

d. Bukti audit

e. Menggunakan keahlian lain

f. Kesimpulan audit dan laporan audit

g. Area khusus

ISA sekarang memiliki struktur baru, di mana informasi disajikan dalam bagian
terpisah: Pendahuluan, Tujuan, Definisi, Persyaratan, dan Aplikasi dan Bahan Penjelasan
Lainnya.

a. Pengantar

Materi pengantar dapat mencakup informasi mengenai tujuan, ruang lingkup, dan pokok
bahasan ISA, selain tanggung jawab auditor dan pihak lainnya dalam konteks ISA
ditetapkan.

b. Objektif

Setiap ISA sekarang berisi pernyataan yang jelas tentang tujuan auditor di area audit yang
ditangani oleh ISA tersebut.
c. Definisi

Untuk pemahaman yang lebih baik tentang ISA, istilah yang berlaku telah didefinisikan di
setiap ISA.

d. Persyaratan

Setiap tujuan didukung oleh persyaratan yang dinyatakan dengan jelas. Persyaratan selalu
dinyatakan dengan ungkapan "auditor harus."

e. Aplikasi dan Bahan Penjelasan Lainnya

Aplikasi dan bahan penjelasan lainnya menjelaskan secara lebih tepatnya persyaratan atau
sarana yang dimaksudkan untuk mencakup, atau mencakup contoh prosedur yang
mungkin sesuai dalam situasi tertentu.

Standar Internasional untuk Audit (ISA) ini berkaitan dengan tanggung jawab auditor
independen selama melakukan audit terhadap laporan keuangan sesuai dengan ISA. Secara
khusus, ini menetapkan keseluruhan tujuan auditor independen, dan menjelaskan sifat dan
ruang lingkup audit yang dirancang untuk memungkinkan auditor independen memenuhi
tujuan tersebut. Ini juga menjelaskan ruang lingkup, wewenang dan struktur ISA, dan
mencakup persyaratan yang menetapkan tanggung jawab umum auditor independen yang
berlaku di semua audit, termasuk kewajiban untuk mematuhi ISA.

ISA tertulis dalam konteks audit laporan keuangan oleh auditor. Mereka harus
disesuaikan sesuai kebutuhan dalam situasi ketika diaplikasikan pada historis audit informasi
keuangan lainnya. ISA tidak menangani tanggung jawab auditor yang mungkin ada dalam
peraturan perundang-undangan, peraturan atau hal lain yang berkaitan dengan, misalnya,
penawaran surat berharga kepada publik. Tanggung jawab semacam itu mungkin berbeda dari
yang ada di ISA. Dengan demikian, sementara auditor dapat menemukan aspek-aspek ISA
yang membantu dalam keadaan seperti itu, adalah tanggung jawab auditor untuk memastikan
kepatuhan terhadap semua kewajiban hukum, peraturan atau profesional yang relevan.

Dalam melakukan audit terhadap laporan keuangan, keseluruhan tujuan auditor adalah:

a. Untuk mendapatkan keyakinan memadai bahwa laporan keuangan secara keseluruhan


bebas dari salah saji material, baik karena kecurangan atau kesalahan, sehingga
auditor dapat mengungkapkan pendapat mengenai apakah laporan keuangan
dipersiapkan, dalam semua hal yang material, sesuai dengan kerangka pelaporan
keuangan yang berlaku; dan

b. Melaporkan laporan keuangan, dan mengkomunikasikannya sebagaimana


dipersyaratkan oleh ISA, sesuai dengan temuan auditor.

Untuk mencapai keseluruhan tujuan auditor, auditor harus menggunakan tujuan yang
dinyatakan dalam ISA yang relevan dalam merencanakan dan melaksanakan audit, dengan
memperhatikan keterkaitan antar ISA, untuk:

a. Tentukan apakah setiap prosedur audit selain yang dipersyaratkan oleh ISA diperlukan
sesuai dengan tujuan yang ditetapkan dalam ISA; dan

b. Evaluasi apakah cukup bukti audit yang tepat telah diperoleh.

B. Audit Berbasis Risiko

Risiko audit adalah risiko memberikan opini audit yang tidak tepat atas laporan
keuangan yang disalah sajikan secara material. Tujuan audit adalah menekan risiko audit ini
ke tingkat rendah yang dapat diterima auditor. Risiko audit terdiri dari dua unsur utama:

a. Inherent Risk

Sifat risiko ini adalah bahwa terdapat kemungkinan laporan keuangan berpotensi
mengandung salah saji material. Sumbernya berasal dari tujuan/operasi entitas dan
rancangan/implementasi pengendalian internal oleh manajemen.

b. Detection Risk

Sifat risiko ini adalah bahwa terdapat kemungkinan auditor gagal mendeteksi salah
saji yang material dalam laporan keuangan. Sumber risiko ini dari sifat dan luasnya
prosedur audit yang dilaksanakan auditor.

Dalam melaksanakan audit berbasi risiko terdapat tiga langkah yang harus dilakukan:

a. Risk assessment

Melaksanakan prosedur penilaian risiko untuk mengidentifikasi dan menilai risiko


salah saji material dalam laporan keuangan.
b. Risk response

Merancang dan melaksanakan prosedur audit selanjutnya yang menanggapi risiko


(salah saji yang material) yang telah diidentifikasi dan dinilai, pada tingkat laporan
keuangan dan asersi.

c. Reporting

Tahap melaporkan meliputi:

i. Merumuskan pendapat berdasarkan bukti audit yang diperoleh

ii. Membuat dan menerbitkan laporan yang tepat, sesuai kesimpulan yang ditarik

Manfaat audit berbasis risiko

a. Fleksibilitas waktu

Karena prosedur penilaian risiko tidak menguji transaksi dan saldo secara rinci,
prosedur itu dapat dilaksanakan jauh sebelum akhir tahun (dengan asumsi, tidak dapat
perubahan operasional yang besar). Ini dapat menyeimbangkan beban kerja audit
secara merata sepanjang tahun. Ini juga memberi waktu yang cukup bagi klien untuk
menanggapi temuan mengenai kelemahan pengendalian internal dan permintaan
bantuan sebelum dimulainya pekerjaan lapangan pada akhir tahun. Namun, kalau
informasi keuangan interim (bulanan) tidak tersedia, prosedur penilaian risiko
analitikal, terpaksa dilaksanakan lebih lambat.

b. Upaya tim audit terfokus pada area kunci

Dengan memahami dimana risiko salah saji material bisa terjadi dalam laporan
keuangan, auditor dapat mengarahkan tim audit ke hal-hal berisiko tinggi dan
mengurangi pekerjaan pada lower-risk areas. Dengan demikian sumber daya/staf
audit dimanfaatkan sebaiknya-sebaiknya.

c. Prosedur audit terfokus pada risiko

Prosedur audit selanjutnya dirancang untuk menanggapi risiko yang dinilai. Oleh
karena itu, uji rincian (test of details) yang hanya menanggapi risiko secara umum,
akan dapat dikurangi secara signifikan atau bahkan sama sekali dihilangkan.
d. Pemahaman atas pengendalian internal

Pemahaman terhadap pengendalian intern (yang diwajibkan ISA) memungkinkan


auditor mengambil keputusan yang tepat, untuk menguji/tidak menguji efektifnya
pengendalian intern.

e. Komunikasi tepat waktu

Pemahaman terhadap pengendalian intern yang meningkat, memungkinkan auditor


mengidentifikasi kelemahan dalam pengendalian intern, yang sebelumnya tidak
diketahui. Mengkomunikasikan kelemahan dalam pengendalian intern kepada
manajemen secara tepat waktu memungkinkan entitas mengambil tindakan yang
tepat, dan yang menguntungkan entitas. Hal ini juga dapat menghemat waktu
pelaksanaan audit.

Sumber:

International Standard On Auditing 200, Overall Objectives of the Independent Auditor and
the Conduct of an Audit in Accordance with International Standards on Auditing.

https://www.iaasb.org/clarity-center/clarified-standards

Tuanakotta, M. Theodorus. 2013. Audit Berbasis ISA. Jakarta: Salemba Empat.